You are on page 1of 11

BIOKIMIA

YODIUM DAN SULFUR

DOSEN PEMBIMBING:
Siti Mas’odah, S.Pd, M.Gizi

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 8

Dafiana Niken
Maulina Putri
Saipul Anwar
Sasmita Sari
Tasya Putriyatna

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANJARMASIN
JURUSAN GIZI PRODI DIII
TAHUN AKADEMIK 2014 – 2015
YODIUM
A. Definisi Yodium

Yodium merupakan zat makanan yang tergolong ke dalam mineral mikro.
Dalam keadaan normal, yodium dikonsumsi hewan melalui air dan tumbuh-
tumbuhan yang menyerap zat tersebut dari tanah. Apabila kandungan yodium
dalam pakan ternak belum tercukupi biasanya peternak memeberikan mineral
yodium dalam bentuk garam dapur pada ransum pakan terak. Yodium ditemui
dalam bentuk inorganik dan organik dalam jaringan tubuh. Yodium berada dalam
satu siklus di alam. Sebagian yodium ada di laut, sebagian lagi merembes dibawa
hujan, angin dan banjir turun ke tanah dan gunung di sekitarnya. Yodium terdapat
di lapisan bawah tanah, sumur minyak dan gas alam. Air berasal dari sumur-
sumur tersebut merupakan sumber yodium. Daerah pegunungan di seluruh dunia
termasuk di Eropa, Amerika, dan Asia kurang mengandung yodium, terutama
pegunungan yang ditutupi es dan mempunyai curah hujan tinggi yang mengalir ke
sungai. Yodium di dalam tanah dan laut terdapat sebagai iodide. Ion iodide
dioksidasi oleh sinar matahari menjadi unsur yodium yang mudah menguap.
Yodium kemudian dikembalikan ke tanah oleh hujan. Pengembalian yodium ke
tanah berjalan lambat dan sedikit dibandingkan dengan kehilangan semula, dan
banjir berulang kali akan menyebabkan yodium yang tersedia di tanah hanyut
terbawa air

Sumber, garam dapur difortifikasi, makanan laut, air dan sayur didaerah
non gondok dan hewanyang makan makanan tersebut. Zat mineral yodium
biasanya terdapat pada garam dapur yang tersedia bebas di pasaran, namun tidak
semua jenis dan merk garam dapur mengandung yodium Sumber Yodium :
Makanan hasil laut, telur, susu, garam beryodium, tiram, dan rumput laut. Untuk
menghindari hal ini, orang dewasa harus mendapatkan antara 120 hingga 150 mcg
yodium sehari. Sumber utama yodium adalah garam. Anda juga bisa
mendapatkannya dari kerang, bawang putih dan biji wijen.

Untuk memenuhi kecukupan yodium sebaiknya di dalam menu sehari-hari
sertakan bahan bahan pangan yang berasal dari laut. Kebutuhan yodium perhari
sekitar 1-2 mikrogram per kg berat badan.
Kebutuhan yodium setiap hari di dalam makanan yang dianjurkan saat ini
adalah:

 50 mikrogram untuk bayi (12 bulan pertama).

 90 mikrogram untuk anak (usia 2-6 tahun).

 120 mikrogram untuk anak usia sekolah (usia 7-12 tahun).

 150 mikrogram untuk dewasa (diatas usia 12 tahun).

 200 mikrogram untuk ibu hamil dan menyusui.

B. Pangan Sumber Iodium

Iodium dapat diperoleh dari berbagai jenis pangan dan kandungannya
berbeda-beda tergantung asal jenis pangan tersebut dihasilkan. Kandungan
iodium pada buah dan sayur tergantung pada jenis tanah. Kandungan iodium
pada jaringan hewan serta produk susu tergantung pada kandungan iodium pada
pakan ternaknya. Pangan asal laut merupakan sumber iodium alamiah. Sumber
lain iodium adalah garam dan air yang difortifikasi (Muchtadi. dkk, 1992). Hal
yang sama juga dikemukakan oleh Sauberlich, (1999) bahwa makanan laut dan
ganggang laut adalah sumber iodium yang paling baik. Penggunaan garam
beriodium di Amerika Serikat diberikan sebagai sumber iodium penting. Di USA
konsumsi garam beriodium per hari per orang mendekati 10 – 12 gram dimana
garam tersebut mengandung 76 mg iodium per gram.

Soehardjo (1990) mengatakan bahwa dengan mengkonsumsi pangan yang
kaya iodium dapat menekan atau bahkan mengurangi besarnya prevalensi
gondok. Berikut Gibson (1990) menyebutkan rata-rata kandungan iodium dalam
bahan makanan antara lain : Ikan Tawar 30 mg; Ikan Laut 832 mg; Kerang 798
mg; Daging 50 mg; Susu 47 mg; Telur 93 mg; Gandum 47 mg; Buah-buahan 18
mg; Kacang-kacangan 30 mg dan Sayuran 29 mg.

C. Fungsi Mineral Yodium
Yodium berperan penting untuk membantu perkembangan kecerdasan atau
kepandaian pada anak. Yodium juga dapat membatu mencegah penyakit gondok,
gondong atau gondongan. Yodium berfungsi untuk membentuk zat tirosin yang
terbentuk pada kelenjar tiroid. Disamping untuk produksi hormon tiroid yaitu
hormon yang dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan saraf otot pusat,
pertumbuhan tulang, perkembangan fungsi otak dan sebagian besar metabolisme
sel tubuh kecuali sel otak. Yodium juga dibutuhkan untuk sel darah merah dan
pernafasan sel serta menjaga keseimbangan. metabolisme tubuh Yodium dari
makanan akan diserap dan menjadi bentuk yodida. Yodida adalah bentuk yodium
yang berada dalam tubuh yang merupakan bagian penting dari dua hormon yaitu
triiodothyronine/T3 dan tetraiodothyronine/T4, yang dihasilkan oleh hormone
thyroid. Iodine ini yang berperan mengatur suhu tubuh, reproduksi dan fungsi
iodine lainnya Tubuh yang sehat mengandung 15-20 mg iodium dimana 70-80 %
ada di kelenjar gondok dalam bentuk thyroglobulin. Sisanya di kelenjar air liur,
kelenjar lambung, jaringan dan sebagian kecil beredar di seluruh tubuh.
Umumnya bahan makanan sumber hewani seperti ikan dan kerang mengandung
tinggi yodium. Bahan makanan sumber nabati yang mengandung tinggi yodium
adalah rumput laut. Yodium merupakan bagian integral dari kedua macam
hormon tiroksin triodotironin (T3) dan tetraiodotironin (T4). Fungsi utama
hormon-hormon ini adalah mengatur pertumbuhan dan perkembangan. Hormon
tiroid mengontrol kecepatan tiap sel menggunakan oksigen. Dengan demikian,
hormon tiroid mengontrol kecepatan pelepasan energi dari zat gizi yang
menghasilkan energi. Tiroksin dapat merangsang metabolisme sampai 30 %.
Disamping itu kedua hormon ini mengatur suhu tubuh, reproduksi, pembentukan
sel darah merah serta fungsi otot dan saraf. Yodium berperan pula dalam
perubahan karoten menjadi bentuk aktif vitamin A, sintesa protein dan absorbsi
karbohidrat dari saluran cerna. Yodium berperan pula dalam sintesis kolesterol
darah. Yodium disimpan dalam kelenjar tiroid sebagai tiroglobulin.

Fungsi Yodium :

1. Aktivitas kelenjar tiroid

2. Komponen hormon tiroksin
3. Komponen hormon triyodotironin

Dalam saluran pencernaan, iodium dalam bahan makanan dikonversikan
menjadi Iodida yang mudah diserap dan ikut bergabung dengan pool-iodida
intra/ekstraseluler. Iodium tersebut kemudian memasuki kelenjar tiroid untuk
disimpan. Setelah mengalami peroksidasi akan melekat dengan residu tirosin dari
tiroglobulin. Struktur cincin hidrofenil dari residu tirosin adalah iodinate ortho
pada grup hidroksil dan berbentuk hormon dari kelenjar tiroid yang dapat
dibebaskan (T3 dan T4) (Linder, 1992). Iodium adalah suatu bagian integral dari
hormon tridothyronine tiroid (T3) dan thyroxin (T4). Hormon tiroid kebanyakan
menggunakan, jika tidak semua, efeknya melalui pengendalian sintesis protein.
Efek-efek tersebut adalah efek kalorigenik, kardiovaskular, metabolisme dan efek
inhibitor pada pengeluaran thyrotropin oleh pituitary (Sauberlich, 1999).

Kebanyakan Thyroxine (T4) dan Triidothyronine (T3) diangkut dalam bentuk
terikat-plasma dengan protein pembawa. Thyroxine-terikat protein merupakan
pembawa hormon tiroid utama yang beberapa di antaranya juga terikat dengan
thyroxin-terikat prealbumin (Sauberlich, 1999).

Tingkat bebasnya hormon-hormon tersebut dalam plasma dimonitor oleh
hipotalamus yang kemudian mengontrol tingkat pemecahan proteolitis T3 dan T4
dari tiroglobulin dan membebaskannya ke dalam plasma darah, melalui tiroid
stimulating hormon (TSH). Kadar T4 plasma jauh lebih besar dari pada T3,
tetapi T3 lebih potensial dan “turn overnya” lebih cepat. Beberapa T3 plasma
dibuat dari T4 dengan jalan deiodinasi dalam jaringan non-tiroid. Sebagian
besar dari kedua bentuk terikat pada protein plasma, terutama thyroid-binding-
globulin (TBG), tetapi hormon yang bebas aktivitasnya pada sel-sel target. Dalam
sel-sel target dalam hati, banyak dari hormon tersebut didegradasi dan iodidat
dikonversikan untuk digunakan kembali kalau memang dibutuhkan.

D. Dampak Kelebihan Yodium

Kelebihan yodium di dalam tubuh dikenal juga sebagai hipertiroid.
Hipertiroid terjadi karena kelenjar tiroid terlalu aktif memroduksi hormon
tiroksin.
Kelebihan yodium ditandai gejala mudah cemas, lemah, sensitif terhadap
panas, sering berkeringat, hiperaktif, berat badan menurun, nafsu makan
bertambah, jari-jari tangan bergetar, jantung berdebar-debar, bola mata menonjol
serta denyut nadi bertambah cepat dan tidak beraturan. Jika tidak segera diobati,
sistem pernafasan melemah, penderita mengalami kejang, sehingga aliran darah
ke otak berkurang sampai akhirnya terjadi gagal jantung.

E. Dampak Kekurangan Yodium

Pada ibu hamil, kekurangan hormon tiroid, dikhawatikan bayinya akan
mengalami cretenisma, yaitu tinggi badan di bawah ukuran normal (cebol) yang
disertai dengan keterlambatan perkembangan jiwa dan tingkat kecerdasan.

Pada masa kanak-kanak, terjadi kretinisme atau manusia kerdil yaitu yang
menunjukkan gejala antara lain : misal tinggi badan di bawah normal, kondisi ini
disertai berbagai tingkat keterlambatan perkembangan jiwa dan kecerdasan, dari
hambatan jiwa ringan sampai dengan yang berat disebut debilitas. Pembesaran
gondok yang sangat dikhawatirkan pada anak adalah kemungkinan terjadinya
kretinisme ini. Di India, terkenal sebuah desa bernama the abofe of falls yang
mana di desa tersebut sebagian besar penduduknya menderita gondok dan
menjadikan mereka sebagai orang sinting dan dungu. Kejadian pembesaran
kelenjar gondok terbanyak ditemukan pada usia 9-13 tahun pada anak laki-laki
dan antara usia 12-18 tahun pada anak perempuan.

Pada orang dewasa, kekurangan yodium menimbulkan keadaan lemas dan
cepat lelah, produktivitas dan peran dalam kehidupan sosial rendah, serta gondok
pada leher. Selain disebabkan oleh kekurangan yodium murni, penyakit gondok
juga bisa timbul akibat zat goiterogen. Zat tersebut ditemukan dalam sayuran dari
jenis Brassica seperti kubis, lobak, dan kol kembang. Zat ini juga ditemukan
dalam kacang kedelai, kacang tanah, dan obat-obatan tertentu. Zat goiterogen
dapat menghalangi pengambilan yodium oleh kelenjar gondok sehingga
konsentrasi yodium dalam kelenjar gondok sangat rendah. Selain itu, zat tersebut
juga dapat menghambat perubahan yodium dari bentuk anorganik menjadi bentuk
organik sehingga menghambat pembentukan hormon tiroksin.
F. Metabolisme Yodium
Yodium diabsorbsi dalam bentuk iodida. Konsumsi normal sebanyak 100-
150 µg/hari. Ekskresidilakukan melalui ginjal dan jumlahnya berkaitan dengan
yang dikonsumsi. Dalam bentuk ikatan organikdalam makanan hewani hanya
separuh dari yodium yang dikonsumsi dapat diabsorbsi. Di dalam darah, yodium
terdapat dalam bentuk bebas ddan terikat protein. Manusia dewasa sehat
mengandung 15-20 mg yodium, 70-80%diantaranya berada dalam kelenjar tiroid
(Ismail SD, 1993). Di dalam kelenjar ini yodium digunakan untuk mensintesis
hormon-hormon triiodothyronin (T3) dan tiroksin atau tetraiodothyroni (T4) bila
diperlukan. Kelenjar tiroid harus menangkap 60 µg yodium sehari untuk
memelihara persediaan tiroksin yang cukup. Penangkapan yodin oleh kelenjar
tiroid dilakukan melalui transfor aktif yang dinamakan pompa yodium.
Mekanisme ini diatur oleh hormon yang merangsang tiroid (Thyroid Stimulating
Hormone/TSH) dan hormon Thyrotropin Releasing Hormonel/ TRH yang
dikeluarkan oleh hipotalamus yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitari untuk
mengatur sekresi tiroid. Hormon tiroksin kemudian di bawa darah ke sel-sel
sasaran dan hari, selanjutnya dipecah dan bila diperlukan yodium kembali
digunakan (Greenspan, 2001).
Kelebihan yodium dikeluarkan melalui urine dan sedikitnya melalui fese
yang berasal dari cadangan empedu. Yodium bagian integral dari T3 dan T4
berfungsi untuk mengatur pertumbuhan dan perkembangan. Hormon tiroid
mengontrol kecepatan tiap sel menggunakan oksigen. Hormon tyroid mengontrol
kecepatan pelepasan energi dari zat gizi yang dihasilkan energi. Tiroksin
merangsang metabolisme sampai 30%. Kedua hormon tersebut mengatur suhu
tubuh, reprodusi, pembentukan sel darah merah, fungsi otot dan syaraf. Yodium
berperan pula dalam perubahan karotin menjadi bentuk aktif vitamin A, sintesin
kolesterol darah (Almatsier, 2002).
Tiroglobulin disintesis dalam sel folikel, masuk ke koloid dengan proses
eksositosis dari granula. Di dalam granula terdapat enzim tiroid peroksidase.
Tiroglubulin yang telah menjadi hormon tiroid masuk lagi ke dalam sel. Ikatan
peptida dalam tiroglobulin terhidrolisis melepas asam amino, T3 dan T4. Semua
proses dibantu oleh TSH (Ismail SD, 1993).
Hormon tiroid disintesis dalam kelenjar tiroid dari thyroglobulin, suatu
glikoprotein iodinasi terkandung dalam koloid folikel tiroid. Setelah iodinasi,
thyroglobulin terkena enzim proteolitik pada kelenjar tiroid yang memecahnya
terutama untuk melepaskan T4 dan beberapa T3 ke dalam darah.

Produksi T3 dan T4 pada tiroid dikontrol oleh tingkat thyroid-stimulating
hormone (TSH)-juga dikenal sebagai "Thyrotropin"-dalam sirkulasi. Ketika
tingkat sirkulasi T3 dan T4 yang memadai, ada umpan balik pada hipofisis, yang
mengatur produksi TSH. Jika tingkat sirkulasi T4 dalam darah turun karena
kekurangan yodium ringan, maka sekresi TSH meningkat, yang pada gilirannya,
mendorong penyerapan yodium oleh tiroid dan meningkatkan output dari T4 ke
dalam sirkulasi. Pada defisiensi yodium moderat, bagaimanapun, tingkat sirkulasi
T4 akan jatuh, tetapi tingkat TSH tetap tinggi. Dalam kondisi kekurangan yodium
sangat parah, tingkat T3 juga dapat menurun. Oleh karena itu, tingkat kedua T4
dan TSH dapat digunakan untuk mendiagnosa hipotiroidisme akibat defisiensi
yodium (Clugston dan Hetzzel, 1994).

Setelah dalam sirkulasi, T4 dan T3 dengan cepat menempel pada protein
yang mengikat beberapa, khususnya transthyretin, tiroksin mengikat globulin dan
albumin. Hormon terikat kemudian memindahkan T3 ke jaringan target adalah T4
dan deiodinated bentuk T3, aktif secara metabolik. Iodine yang dilepaskan
kembali ke kolam yodium serum atau diekskresikan dalam urin.

Deiodination dikendalikan oleh deiodinases iodothyronine (EC 3.8.1.4),
enzymess yang membutuhkan selenocysteine di saat aktif berfungsi (Arthur,
1999). Oleh karena itu, seperti disebutkan sebelumnya, defisiensi selenium dapat
mengganggu aksi konversi hormon T4 secara biologis aktif ke T3.

TSH adalah hormon perangsang tiroid yang dikenal dengan thyrotropin.
TSH meningkatkan pertumbuhan sel tiroid yang menyebabkan pembentukan
gondok. TRH yang dilepaskan oleh hipotalamus, membawa thyrotrop di dalam
anterior pituitary (otak) untuk mensintesis dan melepaskan TSH. TSH disintesis
dan dilepaskan dengan cara pulsatile, yang berpuncak setiap 100 menit. TSH
terikat dengan receptor TSH membran pada sel-sel kelenjar tiroid (Elmer, 2005).
SULFUR

A. Definisi Sulfur
Sulfur merupakan bagian dari zat-zat gizi esensial, seperti vitamin tiamnin
dan biotin serta asam amino metionin dan sistein.
Rantai samping molekul sistein yang mengandung sulfur berkaitan satu
sama lain sehingga membentuk jembatan disulfide yang berperan dalam
menstabilkan molekul protein.
Sulfur terdapat dalam tulang rawan, kulit, rambut dan kuku yang banyak
mengandung jaringan ikat yang bersifat kaku.
Sumber sulfur adalah makanan yang mengandung berprotein.

B. Fungsi Sulfur

Sulfur berasal dari makanan yang terikat pada asam amino yang
mengandung sulfur yang diperlukan untuk sintesis zat-zat penting. Berperan
dalam reaksi oksidasi-reduksi, bagian dari tiamin, biotin dan hormone insuline
serta membantu detoksifikasi. Sulfur juga berperan melarutkan sisa metabolisme
sehingga bias dikeluarkan melalui urin, dalam bentuk teroksidasi dan
dihubungkan dengan mukopolisakarida.

C. Dampak Kelebihan dan Kekurangan (AKG)

Kecukupan sehari sulfur tidak ditetapkan dan hingga sekarang belum
diketahui adanya kekurangan sulfur bila makanan yang kita konsumsi cukup
mengandung protein. Dampak kekurangan sulfur bisa terjadi jika kekurangan
protein.
Kelebihan sulfur bisa terjadi jika konsumsi asam amino berlebih pada
hewan yang akan menghambat pertumbuhan.
Jadi, AKG untuk orang dewasa dicukupi oleh asam amino esensial yang
mengandung sulfur.

D. Pencernaan dan Metabolisme
Sulfur diabsorpsi sebagai bagian dari asam amino atau sebagai sulfat
anorganik. Sulfur juga merupakan bagian dari enzim glutation serta berbagai
koenzim dan vitamin, termasuk koenzim A. Sebagian besar sulfur dieksresi
melalui urin sebagai ion bebas. Sulfur juga merupakan salah satu elektrolit
intraseluler yang terdapat dalam plasma berkonsentrasi rendah.
DAFTAR PUSTAKA

http://reninutrisionist.wordpress.com/2009/05/21/makromineral/

http://maraparashigo-maraparapa.blogspot.com/2011/11/mineral-mikro.html

DEPKES RI,Gangguan Akibat Kekurangan Yodium, Jakarta 1996.

Lisdiana, Ir, Waspada Terhadap Kelebihan dan Kekurangan Gizi, Trubus
Agriwidaya, Bandar Lampung 1998.

Notoatmodjo Soekidjo,Prof.Dr, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta,Jakarta
1996.

Nyoman I Dewa dkk, Penilaian Status Gizi,EGC Jakarta 2002.

Sr.Alfonsine C.B, B.Sc, Pengantar Ilmu Gizi, Intan, Jakarta 1984.