You are on page 1of 82

SKEMA DAN CARA KERJA

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA
AIR (PLTA)
Posted on 30 Juni 2015 by Rizky Agusta

Skema dan Cara Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
Berikut skema dan cara kerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA),

Keterangan gambar:

1. Sungai/Kolam Tandon, untuk tempat penampungan air
2. Intake, pintu masuk air sungai/tandon
3. Katup pengaman, berfungsi sebagai katup pengatur intake
4. Headrace tunnel, pipa antara tandon dan sebelum masuk penstock
5. Penstock (pipa pesat), untuk mengalirkan dan mengarahkan air ke turbin serta untuk
mendapatkan tekanan hidrostatis yang besar.
6. Surge tank, berfungsi sebagai pengaman tekanan air yang tiba-tiba naik saat katup
pengatur ditutup
7. Main stop valce, berfungsi sebagai katup pengatur turbine
8. Turbine, mengubah energi potensial air menjadi energi gerak
9. Generator, menghasilkan energi listrik dari energi gerak
10. Main transformer, untuk transfer energi listrik antar dua sirkuit dengan induksi
elektromagnetik.
11. Transmission line, penyalur energi listrik ke konsumen
Sistem kerja PLTA
Pertama-tama, ada air yang masuk dari sungai/ waduk/ bisa juga disebut dengan
tandonke turbin melalui suatu alat yang dinamakan penstock. Kemudian ada suatu
katup pengaman yang berguna untuk memberikan atau mengatur aliran air dari tempat
semula dan masuk ke headrace di tunnel yang berfungsi juga untuk menghentikan
aliran dari air tersebut.

Kedua, energi yang dihasilkan dari air potensial tersebut mampu menggerakkan turbin
dan menghasilkan suatu energi gerak yang dikonversikan juga menjadi energi listrik
oleh bantuan generator. Cara kerja pembangkit listrik tenaga air sederhana yang
selanjutnya yaitu energi listrik dari generator tersebut kemudian diatur lalu ditransfer
dengan alat yang dinamakan main transformer supaya sesuai dengan kapasitas dari
transmission line yang meliputi tegangan, daya dan lainya untuk didistribusikan ke
rumah-rumah warga

Turbin dan Generator
Komponen pokok pada PLTA adalah turbin dan generator yang mengubah energi
potensial air menjari energi gerak, menjadi energi listrik. Pada prakteknya turbin dan
generator ini menjadi satu alat seperti gambar dibawah,

Menghitung Daya PLTA
Untuk menghitung daya PLTA, bisa digunakan rumus sebagai berikut :

dimana,
 P adalah daya dalam Watt,
 \rho adalah densitas (masa jenis) air (~1000 kg/m3),
 h tinggi air (intake terhadap generator),
 r adalah flow rate dalam cubic meters per second,
 g adalah gravitasi 9.8 m/s2,
 k koefisien efisiensi dari 0 sampai 1. Energi lebih besar dapat diperoleh dengan
menambah turbin atau menggunakan turbin yang lebih besar.
-Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)

1. PLTA Angkup – Propinsì Nangroe Aceh Darussalam
PLTA Cìbadak – Propinsi Jawa Barat
3. PLTA Cirata – Propinsi Jawa Barat
4. PLTA Garung – Propinsi Jawa Tengah
5. PLTA Jatiluhur – Propinsi Jawa Barat
6. PLTA Karangkates – Propinsi Jawa Timur
7. PLTA Lodaya – Propinsi Jawa Timur
8. PLTA Maninjau – Propinsi Sumatera Utara
9. PLTA Paiton – Propinsi Jawa Timur
10. PLTA Moh. Nor – Propinsi Kalimantan Timur
11. PLTA Riam Kanan – Propinsi Kalimantan Selatan
.12. PLTA Sadang – Propinsi Sulawesi Selatan
13. PLTA Saguling – Propinsi Jawa Barat
14. PLTA Selorejo – Propinsi Jawa Timur
15. PLTA Sempor – Propinsi Jawa Tengah
.16. PLTA Sengguruh – Propinsi Jawa Timur
17. PLTA Sentani – Propinsi Papua
18. PLTA Sigura-gura – Propinsi Sumatera Utara
19. PLTA Soroako – Propinsi Sulawesi Tenggara
20. PLTA Tes – Propinsi Bengkulu
21. PLTA Tonsea – Propinsi Sulawesi Utara
22. PLTA Tuntang – Propinsi Jawa Tengah
23. PLTA Wlingi Raya – Propinsi Jawa Timur
24. PLTA Wonogiri – Propinsi Jawa Tengah.

Contoh soal :

Bagaimana menghitung debit air yang mengalir pada pipa pesat pada PLTA?

Jawab :
Debit adalah besaran yang menyatakan banyaknya air yang mengalir selama 1 detik
yang melewati suatu penampang luas.

Aliran fluida yang melalui sebuah pipa yang panjangnya L dengan kecepatan v. Luas
penampang pipa adalah A. Selama t detik volume fluida yang mengalir adalah V =
AL, sedang jarak L ditempuh selama t = L/v detik maka debit air adalah :

Q = V / t =(A.L) / (L/v) = A.v

dimana :

V = volume fluida yang mengalir (m3)
t = waktu (detik)

A = luas penampang (m2)
v = kecepatan aliran (m/detik)

Q = debit aliran fluida (m3/detik)
Contoh : Air mengalir dalam pipa pesat yang mempunyai diameter 85 cm (0.85 m)
dengan kecepatan 25 m/detik. Berapa laju (debit) aliran volumenya?

Q = A.v = ¼ . π . D². v

Q = ¼ . π. 0.85² m² . 25 m/detik = 14, 2 m3/detik
Pembahasan Soal Pembangkit Energi Listrik

1. Bagaimana cara menghitung daya yang terkandung dalam suatu air terjun? Bagaimana
penurunan rumusnya?
Jawab :
Kita tinjau bahwa di puncak air terjun massa air memiliki tenaga potensial yang besarnya :
Ep = W = m. g. h, dimana massa air (m) adalah ρV
Daya yang dibangkitkan suatu air terjun merupakan perubahan tenaga potensial air menjadi
tenaga untuk penggerak turbin di bawahnya.

P = Q .ρ. g. h
dimana :
P = daya (watt)
Q = debit air (m3/detik)
g = percepatan gravitasi (m/detik² )
h = tinggi air terjun (m)
ρ = massa jenis air (kg/ m3)

Contoh : Suatu air terjun dengan ketinggian 10 m mengalirkan air dengan debit 20 m 3/detik
Berapa daya yang dapat dibangkitkan oleh air terjun tersebut jika ρair = 1000 kg/ m3?
Dengan demikian kita dapat menghitung daya yang ditimbulkan oleh air terjun.
P = 20 m3/detik x 1000 kg/ m3 x 10 m/detik² x 10 m
P = 2 x 106 Watt

2. Bagaimana prinsip kerja PLTA pompa dan apa manfaatnya?
Jawab :
Pada PLTA pompa terdapat dua buah waduk, yaitu waduk bawah dan waduk atas. Pada saat
kebutuhan beban dalam sistem tenaga listrik rendah, maka kelebihan daya yang tidak diserap
oleh konsumen dipakai untuk memompa air dari waduk bawah ke waduk atas untuk digunakan
kembali saat dibutuhkan. Sedangkan pada saat beban puncak, air yang terkumpul pada waduk
atas akan dialirkan ke waduk bawah untuk memutar turbin dan menghasilkan daya listrik untuk
memenuhi kebutuhan beban puncak.
Pada saat beban puncak, PLTA pompa bertindak sebagai generator dan membangkitkan energi
listrik. Pada saat beban minimal, PLTA pompa bertindak sebagai beban dimana generator
menjadi motor dan turbin menjadi pompa. Secara skematis prinsip kerja PLTA pompa seperti
gambar berikut.
Manfaat PLTA pompa antara lain :
- Pembangkit ini bermanfaat untuk menyimpan energi listrik sisa yang dibangkitkan. Pada saat
malam hari, semua orang serempak menggunakan listrik sehingga beban melonjak secara
seketika. Sehingga PLTA pompa cocok digunakan untuk memikul beban puncak pada malam
hari.
- Mengurangi masalah pemindahan penduduk, karena PLTA pompa hanya memerlukan luas
genangan waduk yang sedikit. Waduk hanya bersifat tando harian, bukan waduk tahunan seperti
pada PLTA skala besar pada umumnya.
- Mengurangi luas daerah genangan waduk yang harus dibebaskan tanahnya. Sehingga biaya pembuatan bendungan jauh
lebih rendah dibanding PLTA konvensional. Karena untuk menampung air yang volumenya sedikit, maka tinggi dan
volume bendungan juga jauh lebih rendah.

·
3. Bagaimana menghitung debit air yang mengalir pada pipa pesat pada PLTA?
Jawab :
Debit adalah besaran yang menyatakan banyaknya air yang mengalir selama 1 detik yang
melewati suatu penampang luas.
Aliran fluida yang melalui sebuah pipa yang panjangnya L dengan kecepatan v. Luas penampang
pipa adalah A. Selama t detik volume fluida yang mengalir adalah V = AL, sedang jarak L
ditempuh selama t = L/v detik maka debit air adalah :

Q = V / t =(A.L) / (L/v) = A.v
dimana :
V = volume fluida yang mengalir (m3)
t = waktu (detik)
A = luas penampang (m2)
v = kecepatan aliran (m/detik)
Q = debit aliran fluida (m3/detik)

Contoh : Air mengalir dalam pipa pesat yang mempunyai diameter 85 cm (0.85 m) dengan
kecepatan 25 m/detik. Berapa laju (debit) aliran volumenya?

Q = A.v = ¼ . π . D². v
Q = ¼ . π. 0.85² m² . 25 m/detik = 14, 2 m3/detik
Posted by Isti Nasichah at 12:24 AM
Email This
Prinsip Kerja Bagian-bagian PLTA
BY ROHMATTULLAH · SEPTEMBER 30, 2015
PLTA merupakan salah satu tipe pembangkit yang ramah lingkungan, karena
menggunakan air sebagai energi primernya. Energi primer air dengan
ketinggian tertentu digunakan untuk menggerakkan turbin yang dikopel
dengan generator. Pembangkit Listrik Tenaga Air merupakan pusat
pembangkit tanaga listrik yang mengubah energi potensial air ( energi
gravitasi air ) menjadi energi listrik. Mesin penggerak yang digunakan adalah
turbin air untuk mengubah energi potensial air menjadi kerja mekanis poros
yang akan memutar rotor pada generator untuk menghasilkan energi listrik.
Air sebagai bahan baku PLTA dapat diperoleh dapat diperoleh dengan
berbagai cara misalnya, dari sungai secara langsung disalurkan untuk
memutar turbin, atau dengan cara ditampung dahulu ( bersama – sama air
hujan ) dengan menggunakan kolam tando atau waduk sebelum disalurkan
untuk memutar turbin.

Prinsip Kerja PLTA
1. Aliran sungai dengan jumlah debit air sedimikian besar ditampung dalam
waduk yang ditunjan dalam betuk bangunan bendungan
2. Air tersebut dialirkan melalui saringan power intake

3. Kemudian masuk ke dalam pipa pesat (penstock)

4. Untuk mengubah energi potensial menjadi energi kinetik. Pada ujung pipa
dipasang katup utama (Main Inlet Valve)

5. Untuk mengalirkan air ke turbin ,katub utama akan diutup secara otomatis
apabila terjadi gangguan atau di stop atau dilakukan perbaikan/pemeliharaan
turbin. Air yang telah mempunyai tekanan dan kecepatan tinggi (energi
kinetik) dirubah menjadi energi mekanik dengan dialirkan melalui sirip –
sirip pengarah (sudu tetap) akan mendorong sudu jalan/runner yang terpasang
pada turbin
6. Pada turbin , gaya jatuh air yng mendorong baling – baling menyebabkan
turbin berputar . turbin air kebanyakan seperti kincir angin, dengan
menggantikan fungsi dorong angin untuk memutar baling – baling digantikan
air untuk memutar turbin. Selanjutnya turbin merubah energi kinetic yang
disebabkan gaya jatuh air menjadi energy mekanik

7. Generator dihubungkan dengan turbin melalui gigi – gigi putar sehingga
ketika baling – baling turbin berputar maka generator ikut berputar.
Generator selanjutnya merubah energy mekanik dari turbin menjadi energy
elektrik. listrik pada generator terjadi karena kumparan tembaga yang diberi
inti besi digerakkan (diputar) dekat magnet. bolak-baliknya kutub magnet
akan menggerakkan elektron pada kumparan tembaga sehingga pada ujung-
ujung kawat tembaga akan keluar listriknya.Yang kemudian menhasilkan
tenaga lisrik. Air keluar melalui tail race.

8. Selanjutnya kembali ke sungai

9. Tenaga listrik yang dihasilkan oleh generator masih rrendah, maka dari itu
tegangan tersebut terlebih dahulu dinaikan dengan trafo utama

10. Untuk efisiensi penyaluran energi dari pembangkit ke pusat beban ,
tegangan tinggi tersebut kemudian diatur / dibagi di switch yard 11. Dan
selanjutnya disalurkan /interkoneksi ke sistem tenaga listrik melalui kawat
saluran tegangan inggi . lisrtrik kemudian dapat disalurkan

Bagian-bagian PLTA Beserta Fungsinya
1. Waduk ,berfungsi untuk menahan air

2. Main gate, katup prmbka

3. Bendungan, berfungsi menaikkan permukaan air sungai untuk
menciptakan tinggi jatuh air. Selain menyimpan air, bendungan juga
dibangun dengan tujuan untuk menyimpan energi.

Diameter pipa udara ±4. Pipa pesat (penstock) ,berfungsi untuk
menyalurkan dan mengarahkan air ke cerobong turbin. Salah satu ujung pipa
pesat dipasang pada bak penenang minimal 10 cm diatas lantai dasar bak
penenang. Sedangkan ujung yang lain diarahkan pada cerobong turbin. Pada
bagian pipa pesat yang keluar dari bak penenang, dipasang pipa udara (Air
Vent) setinggi 1 m diatas permukaan air bak penenang. Pemasangan pipa
udara ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya tekanan rendah (Low
Pressure) apabila bagian ujung pipa pesat tersumbat. Tekanan rendah ini akan
berakibat pecahnya pipa pesat. Fungsi lain pipa udara ini untuk membantu
mengeluarkan udara dari dalam pipa pesat pada saat start awal PLTMH mulai
dioperasikan. ½ inch

5. Katup utama (Main Inlet Valve), berfungsi untuk mengubah energi
potensial menjadi energi kinetik
6. Turbin merupakan peralatan yang tersusun dan terdiri dari beberapa
peralatan suplai air masuk turbin, diantaranya sudu (runner), pipa pesat
(penstock), rumah turbin (spiral chasing), katup utama (inlet valve), pipa
lepas (draft tube), alat pengaman, poros, bantalan (bearing), dan distributor
listrik. Menurut momentum air turbin dibedakan menjadi dua kelompok yaitu
turbin reaksi dan turbin impuls. Turbin reaksi bekerja karena adanya tekanan
air, sedangkan turbin impuls bekerja karena kecepatan air yang menghantam
sudu.

7. Generator, Generator listrik adalah sebuah alat yang memproduksi energi
listrik dari sumber energi mekanis. Generator terdiri dari dua bagian utama,
yaitu rotor dan stator. Rotor terdiri dari 18 buah besi yang dililit oleh kawat
dan dipasang secara melingkar sehingga membentuk 9 pasang kutub utara
dan selatan. Jika kutub ini dialiri arus eksitasi dari Automatic Voltage
Regulator (AVR), maka akan timbul magnet. Rotor terletak satu poros
dengan turbin, sehingga jika turbin berputar maka rotor juga ikut berputar.
Magnet yang berputar memproduksi tegangan di kawat setiap kali sebuah
kutub melewati “coil” yang terletak di stator. Lalu tegangan inilah yang
kemudian menjadi listrik

8. Draftube atau disebut pipa lepas, air yang mengalir berasla dari turbin

9. Tailrace atau disebut pipa pembuangan

10. Transformator adalah trafo untuk mengubah tegangan AC ke tegangan
yang lebih tinggi.

11. .Switchyard (controler)

12. Kabel transmisi

13. Jalur Transmisi, berfungsi menyalurkan energi listrik dari PLTA menuju
rumah-rumah dan pusat industri.
14. Spillway adalah sebuah lubang besar di dam (bendungan) yang
sebenarnya adalah sebuah metode untuk mengendalikan pelepasan air untuk
mengalir dari bendungan atau tanggul ke daerah hilir.
Prinsip Kerja dan Komponen Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Pada dasarnya PLTA
(Pembangkit Listrik Tenaga Air) bekerja dengan cara mengubah energi potensial (dari DAM
atau air rterjun) menjadi energi mekanik (dengan bantuan turbin air), kemudian dari energi
mekanik tersebut dikonversi menjadi energi listrik (dengan bantuan generator). Di wilayah
yang bergunung-gunung dengan banyak sumber air, PLTA sangat ideal. Pembangkit listrik
ini biasanya disatukan dengan waduk yang digunakan untuk pertanian dan penanggulangan
banjir. Berikut skema dan cara kerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA), Skema PLTA
Keterangan gambar: Sungai/Kolam Tandon, untuk tempat penampungan air Intake, pintu
masuk air sungai/tandon Katup pengaman, berfungsi sebagai katup pengatur intake Headrace
tunnel, pipa antara tandon dan sebelum masuk penstock Surge tank, berfungsi sebagai
pengaman tekanan air yang tiba-tiba naik saat katup pengatur ditutup. Penstock (pipa pesat),
untuk mengalirkan dan mengarahkan air ke turbin serta untuk mendapatkan tekanan
hidrostatis yang besar. Main stop valce, berfungsi sebagai katup pengatur turbine Turbine,
mengubah energi potensial air menjadi energi gerak Generator, menghasilkan energi listrik
dari energi gerak Main transformer, untuk transfer energi listrik antar dua sirkuit
dengan induksi elektromagnetik. Transmission line, penyalur energi listrik ke konsumen
Cara kerja PLTA dapat dilihat dari siklus diatas, air dari tandon/sungai masuk pada turbin
melalui penstok untuk memperbesar tekanan hidrostatis. Katup pengaman berguna untuk
mengatur aliran air yang masuk ke headrace tunnel, juga untuk menghentikan aliran air.
Energi potensial air menggerakkan turbin sehingga mengsilkan energi gerak yang dikonversi
menjadi energi listrik oleh generator. Energi listrik dari generator ini diatur dan ditransfer
oleh main transformer agar sesuai dengan kapasitas transmission line(tegangan, daya, dll)
untuk dibagikan ke rumah-rumah. Komponen PLTA dan Cara Kerjanya
1. Dam/Waduk/Bendungan Dam/waduk/bendungan berfungsi untuk menampung air dalam
jumlah besar karena turbin memerlukan pasokan air yang cukup dan stabil. Selain
itu, dam/waduk/bendungan juga berfungsi untuk pengendalian banjir. Kebanyakan
dam/waduk/bendungan ini juga memiliki bagian yang disebut pintu air untuk membuang air
yang tidak diinginkan secara bertahap atau berkelanjutan. 2. Pipa Pesat (Penstock) Pipa
pesat berfungsi untuk menyalurkan dan mengarahkan air ke cerobong turbin. Salah satu
ujung pipa pesat dipasang pada bak penenang minimal 10 cm diatas lantai dasar bak
penenang. Sedangkan ujung yang lain diarahkan pada cerobong turbin. Pada bagian pipa
pesat yang keluar dari bak penenang, dipasang pipa udara (Air Vent) setinggi 1 meter di atas
permukaan air bak penenang. Pemasangan pipa udara ini dimaksudkan untuk mencegah
terjadinya tekanan rendah (Low Pressure) apabila bagian ujung pipa pesat tersumbat.
Tekanan rendah ini akan berakibat pecahnya pipa pesat. Fungsi lain pipa udara ini untuk
membantu mengeluarkan udara dari dalam pipa pesat pada saat start ½ inch. 3. Turbin
Gaya jatuh air yang mendorong baling-baling menyebabkan turbin berputar. Turbin air
kebanyakan seperti kincir angina. Dengan menggantikan fungsi dorong angin untuk memutar
baling-baling digantikan air untuk memutar turbin. Selanjutnya turbin akan mengkonversi
energi potensial yang disebabkan gaya jatuh air menjadi energi kinetik. 4. Generator
Generator dihubungkan dengan turbin melalui gigi-gigi putar sehingga ketika baling-baling
turbin berputar, generator pun akan ikut berputar. Generator memanfaatkan perputaran turbin
untuk memutar kumparan magnet didalam generator sehingga terjadi pergerakan elektron
yang membangkitkan timbulnya arus listrik AC. Generator disambungkan dengan
trasformator Step Up untuk menaikkan tegangan listrik sebelum listrik ditransmisikan.
5. Jalur Transmisi Jalur transmisi berfungsi untuk mengalirkan listrik dari PLTA ke
rumah – rumah atau industri. Sebelum listrik dikonsumsi terlebih dahulu tegangannya di
turunkan dengan transformator Step Down.

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap
FUNGSI WATER WAY PEMBANGKIT PLTA RENUN

01.14.00

I. WATER WAY
I.1 Pendahuluan
PLTA Renun merupakan salah satu pembangkit yang dibangun oleh PT. PLN (Persero) dan
bekerjasama dengan Overseas Economic Coorporation Fun (OECF). PLTA Renun berlokasi di
Kabupaten Dairi, Propinsi Sumatera Utara sekitar 100 km di sebelah selatan kota Medan dan
meliputi bagian hulu Renun dan Danau Toba.

PLTA Renun membangkitkan tenaga listrik dengan mengalihkan aliran sungai Renun dan 11
anak sungainya ke Danau Toba. Dengan debit air rata-rata diharapkan 10,1 m3/det dan tinggi
jatuh air 434,6 m akan dihasilkan energi sebesar 313,5 GWh/tahun.
Data Teknis PLTA Renun :

 Daerah Tangkapan : Sungai Renun 139 km2
 Anak Sungai 124,5 km2
 Debit Rata-rata : 10,1 m3/det
 Tinggi Jatuh (Eff.) : 434,6 m
 Kapasitas Terpasang : 2 × 41 MW
 Produksi Energi : 313,5 GWh/tahun
 Main Intake : Tipe Pengambilan Langsung
 Terowongan UHT : Ø 3,4 m, panjang 8.781 m
 Terowongan DHT : Ø 3,3 m, panjang 11.205 m
 Terowongan Cabang : Ø 2,5 m, panjang 3.381 m
 Regulating Pond : Volume 500.000 m3.
 Pipa Pesat : Ø 3,3 m - Ø 1,2 m , panjang 863,2 m
 Gedung Pembangkit : Diatas Permukaan Tanah
 Turbin : Tipe Francis Vertical (2 × 42.000 kW)
 Generator : Tipe Konvensional (2 × 46.000 kVA)
 Transformer : 3 Fasa Out door (2 × 46.000 kVA)
 Switchgear : 150 kV Outdoor 20/11 indoor
 T/L 150 kV : 75 kms
I.2 Water Way
Water Way merupakan bagian konstruksi dari suatu PLTA yang terdiri dari bangunan
pengambilan (intake tructure) sampai ke saluran pembuangan akhir (Tail Race), yang
merupakan suatu bagian utama dari PLTA. Water Way berfungsi sebagai jalan air dari sumber
air.

Unit PLTA Renun memiliki Water Way sepanjang ± 21 km yang terdiri dari terowongan
Upstream Headrace Tunnel (Penghantar Bagian Hulu) yang berfungsi untuk mengalirkan air
dari Main Intake, beserta Tributary Intake sebanyak 8 unit ke Regulating Pond (Kolam Tando)
sepanjang ± 8,8 km. Lalu terowongan Downstream Headrace Tunnel (Penghantar Bagian Hilir)
yang berfungsi untuk mengalirkan air dari Regulating Pond, beserta Tributary Intake sebanyak 3
unit dengan Penstock (Pipa Pesat) sepanjang ± 11,3 km, dan Penstock yang berfungsi untuk
mengalirkan air dari DHT ke turbin. Simulasi Water Way Unit PLTA Renun

Sumber air di unit PLTA Renun ini bersumber dari Sungai Renun dan 11 anak sungainya. Air
mengalir dari sumber-sumber air melalui UHT, DHT, dan Penstock disebabkan oleh gaya
dorong berupa gaya grafitasi dimana gaya tersebut terjadi karena perbedaan elevasi antara
UHT dengan DHT, dan DHT dengan penstock.

I.2.1 Main Intake
Main Intake adalah bangunan pada PLTA yang berfungsi sebagai pintu utama yang
mengalirkan air menuju Regulating Pond. Sumber utama di Unit PLTA Renun didapat dari
Sungai Renun yang dialirkan melalui Main Intake yang terletak 28 km dari Base Camp PLTA
Renun yaitu di desa Pangaringan. Luas daerah tangkapan air pada Main Intake yang berasal
dari Sungai Renun seluas 139 km2 dengan debit rata-rata air sebesar 5.63 m3/detik.

Bagian-bagian utama pada Main Intake Unit PLTA Renun adalah sebagai berikut:
1. Spillway
Spillway berfungsi untuk mengalirkan air apabila tinggi permukaan air pada Check Dam
melampaui batas maksimum sehingga.
Inlet gate berfungsi sebagai tempat masuknya air pada Check Dam.

 Data Spesifikasi alat:
 Type : Fixed Wheel Gate
 Clear Span : 3,4 m
 Clear Height : 2,8 m
 Quantity : 1 set
 Hoistring/Lowering Speed : 0,5 m/menit ± 10 %
 Gate Weight : 4,1 ton
 Manufacturing years : 2000
 Manufacturer : PT. Boma Bisma Indra

3. Intake Gate
Intake gate berfungsi sebagai pintu saluran air dari Main Intake menuju Regulating Pond
melalui terowongan UHT.
Data spesifikasi alat:

 Type : Fixed Wheel Gate
 Clear Span : 3,4 m
 Clear Height : 3,4 m
 Quantity : 1 set
 Hoistring/Lowering Speed : 0,5 m/menit ± 10 %
 Gate Weight : 3,1 ton
 Manufacturing years : 2000
 Manufacturer : PT. Boma Bisma Indra

4. Sand Flush Upper Sluice Gate
Upper Gate berfungsi sebagai tempat atau saluran pembuangan pasir atau lumpur yang
mengendap (Sendimentasi) pada Intake Struktur sebelum masuk ke Inlet Gate.
Data spesifikasi alat:

 Type : Slide Gate Type Stoplog
 Clear Span : 5 m
 Stoplog Height : 6,3 m (3 Balok)

Quantity

 Stoplog : 1 Set
 Guide Frame : 2 Sets
 Storage Wagon : 1 Set
 Hoisting/Lowering Speed : 4/0,63 m/menit ± 10 %
 Travelling Speed : 20/5 m/menit ± 10 %
 Stoplog Weight : 4,11 ton
 Manufacturing years : 2000
 Manufacturer : PT. Boma Bisma Indra & PT. Brantas Abipraya

5. Bypass Gate
Bypass Gate berfungsi sebagai pintu saluran pintas menuju Intake Gate ketika terjadi
perawatan pada Intake Structure, sehingga proses aliran air tidak terhenti.

 Type : Fixed Wheel Gate
 Clear Span : 3,4 m
 Clear Height : 2,8 m
 Quantity : 1 set
 Hoistring/Lowering Speed : 0,5 m/menit ± 10 %
 Gate Weight : 4,1 ton
 Manufacturing years : 2000
 Manufacturer : PT. Boma Bisma Indra & PT. Brantas Abipraya

6. Sand Drain Gate
Sand drain gate berfungsi sebagai tempat atau saluran pembuangan pasir atau lumpur yang
mengendap pada Intake Structur sebelum masuk ke Intake Gate.

 Type : Fixed Wheel Gate
 Clear Span : 1,5 m
 Clear Height : 1,0 m
 Quantity : 1 set
 Hoistring/Lowering Speed : 0,3 m/menit ± 10 %
 Gate Weight : 0,8 ton
 Manufacturing years : 2000
 Manufacturer : PT. Boma Bisma Indra

7. River Outlet
River Outlet berfungsi untuk menguras kotoran dan endapan sehingga kualitas air yang masuk
terjaga.

8. Mechanical Rackes
Mechanical Rakes berfungsi untuk mengangkut sampah-sampah yang tersaring pada Bar
Screen di Inlet Gate.
Data Spesifikasi alat:
Type : Unguided and Stationary

Quantity

 Rake : 2 Sets
 Conveyor : 1 Lot (3 Sets)
 Storage Hopper : 1 Set
 Width Of Rake : 5 m
 Raking Capacity : 1 ton
 Hoisting/Lowering Speed : 10 m/menit ± 10%
 Hoistring Speed : 0,5 m/menit ± 10 %
 Manufacturing years : 2000
 Manufacturer : PT. Boma Bisma Indra

Beberapa komponen Mechanical Rakes:
a. Belt Conveyor
Adalah alat yang berfungsi untuk membawa sampah-sampah yang telah terangkat ke Storage
Hopper (bak penampung sampah).
b. Bar Screen
Bar screen berfungsi sebagai tempat penyaring sampah yang terbawa oleh air sebelum masuk
pada Inlet Gate.

I.2.2 Upperstream Headrace Tunnel (UHT)
Upperstream Headrace Tunnel (UHT) merupakan terowongan yang menyalurkan air dari Main
Intake menuju Regulating Pond. Terdapat 1-8 Tributary Intake disepanjang UHT. Tributary
Intake adalah saluran anak sungai yang berfungsi untuk menambah debit air. Gambar UHT
dapat dilihat pada gambar 1.1.
Data spesifikasi alat:

 Tipe : Bentuk lingkaran dengan kekuatan permukaan beton dan garis
 lengkung beton dan bagian terbalik kondisi aliran bebas.
 Diameter : 3,4 m
 Panjang : 8,781 km

I.2.3 Tributary Intake
Selain dari sungai Renun, sumber air yang digunakan Unit PLTA Renun diperoleh dari 11 anak
sungai yang disalurkan melalui Tributary Intake. Tributary Intake no. 1-8 terdapat di sepanjang
UHT dan Tributary Intake no. 9-11 di sepanjang Downstream Headrace Tunnel (DHT). Data
Catchment Area (Jangkauan Air)

I.2.4 Regulating Pond
Regulating Pond merupakan suatu kolam yang mengatur aliran air sungai guna keperluan
harian atau mingguan. Regulating Pond juga berfungsi sebagai kolam pengendap lumpur dan
pasir yang terbawa oleh aliran air. Pada saat beban puncak aliran air perlu dapat diatur selama
kira-kira lima sampai enam jam lamanya.

Regulating Pond terletak di Desa Sileuleu dengan luas area 100.000 m2, dengan bentuk
lonjong yang memiliki kedalaman ± 5 m dengan kapasitas air sebanyak 500.000 m3 dengan
elevasi maksimum 1.370 m.
Data spesifikasi Regulating Pond :

 Type : Galian berbentuk lonjong dengan perlindungan galian yang diserong.
 Kapasitas : Volume efektif 500.000 m3 dengan luas area 100.000 m2
 Level Air : Level Air Max 1.370 m
 Level Air Min 1.365 m

Pada Regulating Pond terdapat:
1. Control Room (Ruang Kontrol)
Ruang control berfungsi untuk mengatur operasional dari Intake Gate Regulating Pond, dan
memonitoring ketinggian atau level air di Regulating Pond.
2. Intake Gate Regulating Pond
Pada Regulating Pond, terdapat satu buah Intake Gate Regulating Pond (Pintu Pengatur Kolam
), adapun sepesifikasinya adalah sbb :

 Type : Fixel Wheel Gate
 Clear Span : 3,3 m
 Clear Height : 3,3 m
 Quantity : 3 set
 Hoisting Speed : 0,5 m/menit ± 10 %
 Gate Weight : 6,9 ton
 Tahun Pembuatan : 2000
 Manufacturer : PT. Boma Bisma Indra

3. Spillway
Spillway atau bangunan pelimpah yang terletak disudut bagian utara dari Regulating Pond
berfungsi untuk mengalirkan atau membuang air dari Regulating Pond pada saat ketinggian air
pada Regulating Pond diatas 1.370 m diatas permukaan laut. Tipe bangunan pelimpah pada
Spillway adalah type aliran tanpa pintu dengan lebar 40 m dan Discharge Spillway adalah 24,6
m3/s.
Gambar Regulating Pond

I.2.5 Downstream Headrace Tunnel (DHT)
Downstream Headrace Tunnel (DHT) merupakan terowongan saluran air yang menghubungkan
Regulating Pond dengan Penstock Tunnel (Pipa Pesat).
Tipe : Berbentuk garis lingkaran dengan kekuatan permukaan beton pada kondisi aliran
tekanan.
Diameter : 3,3 m
Panjang : 11.205 m

I.2.6 Penstock Tunnel
Penstock Tunnel merupakan terowongan saluran air yang menghubungkan DHT dengan Power
House serta berfungsi untuk mengalirkan air dari Regulating Pond atau langsung dari Intake
Structur ke turbin.
Tipe : Pipa steel mengelilingi di dalam beton
Diameter ppa : 3,3 m dan 3,0 m di atas sisi horizontal, 2,8 m di atas sisi kemiringan,2,5 m di
tengah sisi horizontal 2,3 m di bawah sisi kemiringan2,0 m dibawah sisi horizonta,1,2 m
sesudah 2,8 m cabang bola

Panjang : Total panjang 852,217 m dengan bagian 19,064 m panjang sisi horizontal.

I.2.7 Surge Tank (Tangki Pendatar)
Surge Tank merupakan suatu bangunan yang berfungsi sebagai peredam tekanan berlebih
yang diakibatkan oleh penutupan Main Inlet valve pada Penstock Tunnel sehingga tidak terjadi
pecahnya Penstock Tunnel akibat tekanan yang berlebih dan juga berfungsi agar Main Inlet
Valve tidak rusak akibat water hammer.
Tipe : Tipe lubang pembatas
Diameter : 8,0 m
Tinggi : 57,55 m
KONSEP PEDOMAN DESAIN PLTA SKALA KECIL

Bagian I : Pendahuluan
Konsep Pedoman desain teknik pembangkit listrik tenaga air skala kecil ini disusun sebagai
salah satu acuan panduan teknik bagi pihak-pihak yang berminat untuk mengembangkan
pembangkit listrik tenaga air skala kecil
Dalam konsep pedoman ini dijelaskan tentang syarat-syarat teknis yang harus dipenuhi dalam
perencanaan, pembangunan dan pengoperasian PLTA Skala Kecil tersebut.
Adapun yang dimaksud dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air Skala Kecil pada konsep ini
adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air yang mempunyai kapasitas daya terpasang netto
maksimal 1.000 kW.
Pemilihan kapasitas terpasang pada pembangkit listrik skala kecil tersebut diserahkan kepada
pihak-pihak yang akan membangunnya, yaitu setelah memperhitungkan faktor-faktor teknis,
ekonomi dan sumber daya tenaga air yang ada.
Mudah-mudahan konsep ini dapat bermanfaat bagi pengembangan pembangkit listrik tenaga
air skala kecil di Indonesia.

Pipa pesat, trafo, power house PLTM

Bagian II : Pembangkit Listrik Tenaga Air
Pada dasarnya Tenaga Air bekerja dengan memanfaatkan energi potensial yang timbul jika air
mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang rendah. Pada PLTA energi air tersebut
dimanfaatkan untuk memutar turbin air yang menggerakkan generator penghasil tenaga listrik.
Untuk dapat memanfaatkan energi potensial air tersebut maka air dari posisi yang lebih tinggi
ke posisi yang lebih rendah tersebut dialirkan melalui pipa yang biasa disebut sebagai pipa
pesat. Besar energi yang dapat dibangkitkan pada pembangkit listrik tenaga air ditentukan oleh
2 (dua) faktor, yaitu :
1. Beda ketinggian antara bagian atas aliran air sebelum masuk pipa pesat dengan
ketinggian air saat keluar pipa pesat, atau lazim disebut sebagai Head. Satuannya meter
(m).
2. Debit aliran air yang mengalir melalui pipa pesat dan menggerakkan turbin.
Satuannya meter kubik per detik (m3/s)
Daya teoritis (P) yang dapat dihasilkan oleh laju aliran air dan ketinggian tertentu berbanding
lurus (proporsional) dengan head H dan laju aliran (Q), sebagai berikut :
P = ρx g x Q x H x η
dimana :
P = daya yang dihasilkan ( kW )
ρ = berat jenis air ( kg / m3 )
g = percepatan gravitasi ( m / s2 )
Q = debit aliran air ( m3 /s )
H = tinggi jatuh, head (m)
η = efisiensi total

Bagian III : Bagian-Bagian PLTA Skala Kecil Sampai 1.000 KW
Susunan Bangunan
Pada dasarnya suatu pembangkit listrik tenaga air berfungsi untuk mengubah potensi tenaga air
yang berupa aliran air (sungai) yang mempunyai debit dan tinggi jatuh (head) untuk
menghasilkan energi listrik. Untuk dapat memanfaatkan potensi alam akan listrik tenaga air
tersebut maka dibangun suatu PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) yang mencakup
bangunan sipil dan peralatan elektromekanikal.
Dalam penerapannya di lapangan antara PLTA besar dengan PLTA Skala kecil perbedaan
utamanya adalah dari segi ukuran atau dimensinya, dimana ukuran atau dimensi PLTA besar
jauh lebih besar, sementara pada PLTA skala kecil sesuai dengan kapasitas daya listrik yang
dihasilkan, maka dimensinya jauh lebih kecil. Disamping itu dari sisi kerumitannya PLTA Skala
Kecil lebih sederhana, misalnya peralatan kontrolnya, ataupun pada bangunan sipil yang
biasanya tidak dilengkapi oleh waduk (reservoir).
Air yang mengalir di sungai dibelokkan alirannya oleh Weir (bendung), sehingga aliran air
tersebut mengalir lewat bangunan sadap (Intake) . Pada intake terdapat bak pengendap
(settling basin) yang berfungsi untuk menghendapkan butir-butir pasir dan lumpur dari air. Dari
bak penenang air dialirkan melewati saluran pembawa (head race) menuju bak penenang.
(forebay).
Bak penenang (forebay) berfungsi untuk menenangkan atau menurunkan kecepatan air
sebelum masuk ke penstock. Bak penenang ini juga biasanya berfungsi sebagai bak
pengendap, yaitu mengendapkan sisa-sisa partikel-partikel pasir dan lumpur yang masih
terbawa lewat saluran penghantar. Dari forebay air mengalir lewat saluran pipa tertutup yang
disebut pipa pesat (penstock).
Pada ujungnya di sebelah bawah pipa pesat disambung dengan turbin yang berfungsi untuk
mengubah energi potensial yang ada pada air menjadi energi mekanik. Poros turbin
dihubungkan dengan generator, baik dikopel secara langsung sehingga putaran turbin dan
generator sama, maupun dengan memakai sistem transmisi mekanik lain jika putaran antara
turbin dan generator tidak sama. Putaran generator tersebut selanjutnya menghasilkan energi
listrik.
Bagian IV : Bangunan Sipil
Bangunan sipil yang ada pada Pembangkit Listrik Skala Kecil kapasitas sampai 1.000 kW
umumnya adalah sebagai berikut :
1. Bendung (weir) dan intake
2. Saluran penghantar
3. Kolam pengendap (settling basin)
4. Bak penenang (forebay tank)
5. Pipa pesat (penstock).
6. Bangunan Power House
7. Saluran Pembuang (tail race)
Namun susunan bangunan sipil seperti di atas tidak merupakan sesuatu yang baku, kolam
pengendap dan kolam penenang misalnya mempunyai fungsi yang hampir sama. Jika kondisi
air yang akan dialirkan ke turbin melalui pipa pesat telah cukup bersih dan tenang, bisa saja
kolam penenang dan bak pengendap tersebut disatukan.
Contoh lain adalah pipa pesat, pada PLTA skala kecil yang mempunyai Head sangat rendah
maka pipa pesat mungkin saja dihilangkan.
Dengan adanya berbagai variasi tersebut maka pengembang PLTA Skala Kecil dapat
memperhitungkan desain bangunan sipil yang cocok dengan mempertimbangkan faktor teknis,
ekonomi, lingkungan dan keselamatan kerja.
Secara umum faktor-faktor teknis yang harus dipertimbangkan / diperhitungkan dalam desain
Pembangkit Listrik Tenaga Air Skala Kecil sampai 1.000 kW, antara lain adalah sebagai berikut
:
1. Pemakaian head yang tersedia,
2. Perubahan/ variasi laju aliran air.
3. Sedimentasi atau pengendapan Lumpur
4. Kondisi air banjir,

Bendung (Weir) Dan Intake
Pada suatu PLTA Skala Kecil, air yang mengalir untuk menggerakkannya haruslah andal dan
dapat dikendalikan, baik pada saat ketinggian air pada sungai tersebut sedang tinggi (banjir)
maupun pada saat sungai airnya berkurang (surut). Bendung (weir) berfungsi untuk menaikkan
permukaan air sungai sehingga pasokan air ke intake dapat terjaga constant. Kadang–kadang
hal tersebut dapat dicapai tanpa membangun bendung. Misalnya kolam permanen pada sungai
dapat berfungsi menggantikan weir.
Bangunan sadap (intake) dirancang untuk membelokkan sebagian aliran sungai baik sebagian
atau sampai 100 % aliran air dipakai untuk menggerakkan Pembangkit Listrik.
Syarat-syarat intake adalah sebagai berikut :
a. Dapat mengalirkan air untuk menggerakkan Pembangkit Listrik.
b. Sedapat mungkin tidak atau sedikit memerlukan pekerjaan pemeliharaan.
c. Harus dapat mencegah masuknya material besar ke saluran.
d. Dapat membuang sediment yang ada secara periodic.
e. Dilengkapi dengan spillway untuk melimpahkan air yang berlebih.
Dari syarat-syarat di atas maka pengembang dapat memilih jenis dan ukuran weir dan intake,
sesuai dengan pertimbangan teknis dan ekonomis, yang antara lain adalah :
1.Side Intake without Weir :
2. Side Intake with Weir
3. Bottom Intake
Kolam Pengendap (Settling Basin)
Air yang mengalir dari sungai untuk mennggerakkan turbin biasanya membawa larut partikel-
partikel kecil. Larutan ini terdiri dari material abrasive seperti pasir yang dapat merusak sudu
turbin. Untuk memisahkan material ini dari air, aliran air harus dipelankan melewati settling
basin sehingga material lumpur (silt) tersebut dapat mengendap (settled) pada dasar kolam.
Tumpukan lumpur yang mengendap secara periodik dapat dicuci / gelontor (flushed away).
Dari ukuran terkecil partikel yang diijinkan masuk ke pipa pesat, maka kecepat air maksimum
yang mengalir pada settling basin dapat dihitung. Semakin kecil kecepatan air pada settling
basin maka semakin sedikit partikel yang masuk ke pipa pesat.

Saluran Terbuka.
Saluran terbuka mengalirkan air dari intake atau kolam pengendap (settling basin) ke bak
penenang (forebay). Panjang saluran bervariasi tergantung lokasi site nya. Pada satu kondisi
kombinasi saluran yang panjang dan pipa pesat yang pendek lebih cocok dan lebih murah.
Sedang untuk PLTA Skala Kecil yang lain lebih cocok kombinasi saluran terbuka yang pendek
dan pipa pesat yang panjang.
Ukuran dan bentuk saluran biasanya merupakan kompromi antara biaya dan berkurangnya
head.

Spillway (Pintu Pelimpah)
Spillway dirancang untuk mengijinkan limpahan (overflow) pada beberapa titik tertentu
bangunan air. Pada PLTA Skala Kecil , spillway dapat dibangun pada beberapa titik sesuai
dengan kebutuhannya, misalnya pada bendung, kolam pengendap, saluran air dan bak
penenang. Spillway harus cukup untuk membuang kelebihan aliran air jika terjadi banjir.

Bak Penenang (Forebay Tank)
Bak penenang (Forebay tank) menghubungkan antara saluran terbuka dengan pipa pesat.
Tujuan utama dari forebay tank ini adalah agar partikel-partikel yang masih ada pada air dapat
turun dan tidak memasuki pipa pesat. Forebay ini juga dapat berfungsi sebagai reservoir
(kolam tando) untuk menyimpan air.
Sebuah pintu air (sluicy gate) biasanya dipasang sehingga dapat menutup aliran sebelum
masuk pipa pesat. Di depan pipa pesat biasanya juga dipasang saringan (trashrack) untuk
mencegah benda-benda besar memasuki pipa pesat.
Bak penenang harus dilengkapi spillway yang dimensinya cukup untuk melimpahkan kelebihan
air.

Pipa Pesat
Pipa pesat (penstock) adalah pipa yang mengalirkan air bertekanan dari bak penenang (forebay
tank) ke turbin.
Untuk memperoleh head yang tinggi sehingga kapasitas PLTA Skala Kecil juga, maka diameter
pipa pesat dapat dinaikkan sehingga losses nya berkurang, namun hal tersebut akan
menaikkan biaya konstruksi khususnya pipa pesat. Dengan demikian maka harus dilakukan
kompromi antara biaya dan kapasitas PLTA Skala Kecil.
Dalam pemilihan material maka pihak Developer / pengembang PLTA Skala Kecil harus
mempertimbangkan persyaratan teknis dan ekonomis, dengan tidak mengorbankan factor
keamanan.

Desain Pipa Pesat
Pipa pesat ditentukan sifat-sifatnya berdasarkan material, diameter , ketebalan serta jenis
penyambungan.
- Material pipa pesat dipilih.
- Diameter pipa pesat dipilih pada diameter yang dapat mengurangi frictional losses aliran air di
dalam pipa pesat sampai pada tingkat yang dapat diterima.
- Tebal dinding pipa pesat dipilih untuk menahan maximum internal hydraulic pressure.
Termasuk transient surge pressure yang terjadi.

Diameter dan Tebal Pipa Pesat
Pada dasarnya untuk menentukan diameter pipa pesat harus dilakukan kompromi atau trade-off
antara harga pipa pesat dengan kehilangan daya hidraulik (losses) pada saat air mengalir
melalui pipa pesat. Karena secara umum jika diameter pipa pesat diperbesar maka akan
berakibat losses menjadi turun, namun pada sisi lain jika diameter diperbesar maka harga pipa
pesat akan naik.
Sedangkan tebal pipa pesat harus diperhitungkan sedemikian rupa sehingga dapat menahan
tekanan air yang ada di dalamnya, baik tekanan statis maupun dinamis.
Pipa pesat dapat berada di permukaan tanah ataupun ditimbun di dalam tanah. Hal tersebut
antara lain tergantung atas material pipa, keadaan / kemiringan permukaan tanah , lingkungan
dan ekonomis.

Rumah Pembangkit (Power House)
Rumah pembangkit atau power house adalah bangunan tempat memasang mesin
pembangkit yaitu turbin, generator, panel kontrol, peralatan pendukung, serta ruang untuk
operator. Power house didesain untuk melindungi mesin pembangkit dan peralatan lainnya dari
perubahan cuaca.
Dalam pembangunan Power House harus diperhatikan kekuatan fondasi, terutama fondasi
turbin yang akan menahan gaya potensial dan kinetik dari air yang mengalir melalui pipa pesat
dan turbin.
Standar minimal bangunan Power house harus dilengkapi dengan ruang mesin, ruang
operator, kantor dan kamar mandi.
Contoh spesifikasi teknik power house adalah :
No. Uraian Spesifikasi
1. Fondasi Batu kali 1 : 2
2. Fondasi turbin Beton bertulang
3. Dinding Pasangan bata merah 1 : 4
4. Rangka Besi
5. Kusen Kayu
6. Lantai Keramik
7. Atap Genting
8. Pintu Kayu profil
9. Jendela Kayu profil dan kaca

Dimensi Power House
Dimensi power house harus memperhitungkan persyaratan-persyaratan teknis, serta
keselamatan kerja dan lingkungan yang ada.

Saluran Pembuang (Tailrace)
Saluran Pembuang (Tail race) adalah saluran tempat menyalurkan air setelah melewati turbin,
yang selanjutnya kembali mengalir ke sungai semula.
Konstruksi tail race : pasangan batu dan beton pada bagian lantai penutup.
Dimensi tailrace harus sedemikian rupa sehingga cukup untuk menampung aliran air maksimal
yang keluar dari turbin sehingga tidak terjadi banjir.

Bagian V : Peralatan Mesin Dan Listrik (Turbin, Transmisi Mekanik, Generator,
Kontrol, Trafo Dan Transmisi)

Turbin
Turbin mempunyai fungsi untuk mengubah energi ketinggian air menjadi daya putaran poros.
Setiap turbin mempunyai daerah operasi sendiri sehingga mampu mengasilkan energi listrik
dengan efisiensi yang memadai. Daerah operasi optimal tersebut ditentukan oleh besar head
operasi turbin air tersebut. Turbin air dapat dibagi atas head tinggi, head menengah dan head
rendah. Disamping itu dari segi beroperasinya turbin air dibedakan atas turbin impuls dan turbin
reaksi.

Head tinggi Head Menengah Head rendah
Turbin Pelton Cross-flow Cross-flow
impuls Turgo Multi-jet pelton
Turgo
Turbin reaksi Francis Propeller
Kaplan
Para pengembang dapat memilih sendiri jenis dan ukuran turbin yang akan dipakai pada PLTM/
PLTMH, dengan memperhitungkan factor teknis, ekonomis.

Pemilihan Jenis Turbin
Faktor-faktor yang mempengaruhi atau menjadi kriteria dalam memilih jenis turbin air yang
dipakai pada tenaga air adalah sebagai berikut :
1. Tinggi jatuh netto (Hnetto).
2. Debit air
3. Daya turbin (P)
4. Kecepatan putar turbin
Pengembang dapat memilih jenis turbin air yang akan dipakai dengan memperhitungkan aspek
teknis dan ekonomis.

Sistem Transmisi / Drive Sistem (System Penggerak)
Sistem penggerak meneruskan daya dari poros turbin ke poros generator atau poros lain yang
dipakai untuk menggerakkan peralatan lain. Sistem transmisi tersebut juga berfungsi untuk
mengubah kecepatan putar dari satu poros ke poros yang lain, jika kecepatan putar turbin
berbeda dengan kecepatan generator atau peralatan lain yang harus diputarnya.
Berikut adalah jenis-jenis system penggerak / transmisi mekanik pada mikrohidro :
1. Penggerak langsung.
2. Flat belt dan pulley
3. V atau wedge belt dan pulley
4. Chain and sprocket
5. Gearbox
Pengembang Pembangkit Listrik Skala Kecil kapasitas sampai 1.000 kW dapat memilih system
transmisi mekanik yang dipakai pada PLTM atau PLTMH yang bersangkutan, dengan
mempertimbangkan factor teknis dan ekonomis.
Peralatan Listrik
Daya mekanik yang dihasilkan oleh turbin air dipakai untuk menghasilkan listrik dengan
menggunakannya untuk menggerakkan generator yang akan mengubah energi mekanik
menjadi enerfi listrik. Type generator yang sering dipakai adalah generator yang menghasilkan
arus bolak balik yang dikenal sebagai alternator.
Mengulang teori listrik sederhana, aliran listrik atau arus (simbolnya I) mempunyai satuan
amper (A), beda tegangan (V) diukur dalam Volt (V). Daya (P) diukur dalam Watt (W) atau lebih
sering dalam kilowatt ( 1 kW = 1000 W).
Tahanan ( R ) dari suatu rangkaian listrik menunjukkan bagaimana baiknya listrik mengalir
(konduktor yang jelek mempunyai tahanan yang tinggi). Tahanan diukur dalam Ohm (W) dan
ekual dengan perbedaan potensial (voltage drop) dibagi arus. Kapasitansi ( C ) menunjukkan
derajat dimana energi disimpan pada medan listrik dibandingkan yang dipakai untuk kerja, dan
induktansi ( L ) sama dengan kapasitansi tetapi mengacu pada medan megnet..

Generator
Generator induksi dan generator sinkron menghasilkan arus bolak-balik (AC). Keunggulan dari
arus bolak-balik (AC) adalah dapat menyalurkan daya listrik pada jarak yang cukup jauh.
Berlainan jika kita menggunakan arus searah yang hanya dapat menghasilkan listrik untuk
penggunaan pada jarak yang sangat dekat atau pada power house. Dengan demikian maka
arus bolak-balik cocok untuk proyek kelistrikan karena beban listrik biasanya tersebar dan
sering jaraknya jauh dari generator.
Generator induksi mempunyai keunggulan dan sering dipakai untuk penyediaan tenaga listrik di
daerah terpencil karena generator tersebut cukup kuat, kompak dan sangat andal.

Generator Sinkron :
Mempunyai rotor eksitasi yang terpisah, dipakai baik pada system terisolasi maupun
interkoneksi dengan system tenaga listrik.

Generator Asinkron (induksi)
Tidak mempunyai rotor exiter, biasanya dipakai pada networks dengan sumber listrik yang lain.
Pada system yang terisolasi atau independent, generator ini harus dihubungkan dengan
kapasitor untuk menghasilkan listrik.

Kecepatan putar dan jumlah kutub Generator
Kecepatan putaran generator tergantung pada frekuensi jaringan tenaga listrik ( 50 atau 60 Hz,
di Indonesia 50 Hz) serta jumlah pole (kutub) generator, sesuai rumus berikut :
Pada PLTA Skala Kecil sampai 1.000 kW ini maka pengembang harus memakai generator
yang frekuensinya 50 Hz. Sedangkan kecepatan putar generator tersebut disesuaikan sesuai
putaran turbin, perbandingan transmisi mekanik dan jumlah kutub (pole) generator.
Peralatan Kontrol
Dalam pengoperasiannya kecepatan turbin akan berubah jika beban listrik yang dilayani oleh
generator berubah. Sebagai contoh jika pada konsumen semakin banyak lampu penerangan
yang dinyalakan, artinya beban konsumen bertambah, maka kecepatan putar turbin akan
turun. Karena adanya perubahan kecepatan tersebut akan menimbulkan pengaruh pada
tegangan dan frekuensi listrik. Untuk menjaga agar tidak terjadi perubahan kecepatan putar
turbin dan generator maka besar beban generator harus dijaga konstan (load control) atau laju
aliran air yang melewati turbin harus diatur (flow control) sesuai dengan perubahan beban yang
ada.
Pengembang Pada PLTA Skala Kecil sampai 1.000 kW dapat memilih sendiri apakah akan
memakai peralatan control dari jenis load control (dummy load) ataupun flow
control (governor), sesuai dengan pertimbangan teknik dan ekonomi masing-masing..

Ballast Load
Ballast load merupakan bagian yang penting dari electronic control system. Ballast load terdiri
dari 2 jenis, yaiti type pemanas udara (air heater) dan type pemanas air (water heater).

Pemanas udara
Pada PLTA skala kecil jenis Pico dengan kapasitas di bawah 10 kW type pemanas udara (air
heater) ini sering dipakai dibandingkan dengan type pemanas air (water heater) karena
biasanya sederhana.

Pemanas air,
Ballast load type pemanas air (water heater) ini sering dipakai untuk PLTA kecil dengan
kapasitas di atas 100 kW.
Speed Governor
Speed governor dipakai agar kecepatan turbin tetap konstan karena kecepat tersebut akan
berubah-ubah jika terjadi perubahan daya, head ataupun debit aliran air.
Fungsi governor adalah mengendalikan laju aliran air secara otomatis dengan pengoperasian
guide-vane sesuai dengan beban yang ada.

Panel PLTA Skala Kecil Sampai 1.000 kW
Peralatan ukur minimum yang harus ada pada panel PLTA Skala Kecil sampai 1.000 kW adalah
sebagai berikut :
a. Pengukur tekanan air pipa pesat
b. Volt meter dengan selector switch untuk mengukur keluaran generator.
c. Volt meter untuk mengukur tegangan ballast load (untuk yang memakai ballast
load).
d. Amperemeter per fasa.
e. Frequensi meter
f. kVA meter
g. Pengukur waktu operasi.

Peralatan Proteksi (Pengaman)
Peralatan pengaman minimum yang harus ada pada Skala Kecil sampai 1.000 kW adalah
sebagai berikut :
a. Pengaman kecepatan lebih dengan deteksi frekuensi (Over speed).
b. Pengaman tegangan kurang (under voltage).
c. Pengaman tegangan lebih (over voltage).
d. Pengaman arus lebih (over voltage).
e. Pengaman terhadap petir.

Trafo Daya
Trafo daya berfungsi untuk menaikkan tegangan dari generator ke tegangan 20 kV untuk
selanjutnya akan menyalurkan energi listrik PLTA Skala Kecil lewat jaringan Distribusi
Tegangan Menengah 20 kV. Trafo daya harus menyesuaikan dengan jaringan Tegangan
Menengah 20 kV yang ada.

Transmisi
Penyaluran listrik dari Trafo Daya ke jaringan 20 kV PLN yang terdekat memakai saluran
tegangan 20 kV. Pengembang PLTA Skala Kecil kapasitas sampai 1.000 kW dapat memilih
apakah memakai Saluran Udara Tegangan Menengah 20 kV atau memakai kabel 20 kV.

Metering
Untuk mengukur jumlah energi listrik (kWH) yang telah disalurkan oleh Pengembang
Pembangkit Listrik Tenaga Air Skala Kecil, maka pihak Pengembang Pembangkit Listrik
Tenaga Air Skala Kecil sampai 1.000 kW wajib menyediakan peralatan kWH meter. Titik
pengukuran kWH meter tersebut berada pada Saluran Transmisi 20 kV terdekat milik PLN.
------------------
Artikel Terkait Lainnya :
Renovasi PLTA Skala Kecil
Turbin Cross-Flow
Membangun PLTA Skala Kecil
Bagian – Bagian Utama PLTA Ketenger
Waduk & Bendungan (Kolam Tando)
Waduk berfungsi sebagai penampung air dari sungai Banjaran dan Surobadak, luas tangkapan hujan 30
km, debit rata-rata tiap tahun yang masuk kekolam Tando adalah 2,1 m3/detik.

Kolam Tando PLTA Ketenger

Bagian ini merupakan komponen utama dari suatu pusat pembangkit hidro yang mana berfungsi sebagai
penyimpan air untuk menggerakan turbin air. Bendungan ini berguna juga sebagai kesinambungan kerja,
pengendali air serta untuk mendapatkan adanya tinggi jatuh air.
Bendungan ini digolongkan atas beberapa jenis menurut struktur, bahan-bahan kontruksinya, tujuan
penggunaannya, prinsip perencanaannya, tinggi maupun untuk katagori lain. Menurut tujuan
penggunaannya, dibedakan atas bendungan penyimpan, bendungan pengaturan. Sedangkan menurut
bahan kontruksinya dan prinsip perencanaannya dibedakan atas bendungan urungan yang terdiri dari
urungan batu, urungan tanah, bendungan beton, bendungan kerangka baja dan bendungan kayu.
Bendungan PLTA Ketenger memiliki ukuran:

a. Luas dasar kolam : 1,768 m2
b. Luas permukaan kolam : 3,536 m2
c. Elevasi air tertinggi : 658 m
d. Elevasi air terendah : 650 m
e. Volume efektif : 20.000 m3

Tangki Surja (Surge Tank)
Pada sutu instalasi pembangkit listrik tenaga air haruslah memperhitungkan kemungkinan bahaya yang
timbul pada saluran pipa pada instalasi tersebut misalnya terjadinya water hammer akibat penutupan
katup secara cepat.

Tangki Surja PLTA Ketenger

Water hammer ini dapat menimbulkan peningkatan tekanan pada saluran pipa sehingga dapat
menyebabkan pecahnya pipa apabila tekanan yang terjadi melebihi kekuatan maksimum dari pipa
tersebut terutama untuk saluran yang relatif panjang dibagi dengan tinggi terjun yang ada. Untuk itulah
perlu dipasang Surge tank Fungsinya terutama untuk: mengurangi water hammer akibat perubahan
beban, menampung air saat beban mendadak turun, mensuplai air pada saat pembebanan mendadak
dan lain-lain.

Rumah Pembangkit (Power House)

Rumah Pembangkit PLTA Ketenger

Bangunan sentral atau rumah pembangkit yang didalamnya terdapat fasilitas-fasilitas atau bagian-bagian
PLTA seperti turbin air, generator, ruang kontrol, ruang tegangan tinggi, ruang bengkel dan sebagainya.
Rumah pembangkit sangat penting sekali karena semua kegiatan pembangkit terpusat disini. Rumah
pembangkit PLTA Ketenger 2 lantai (dua lantai diatas tanah dan dua lantai dibawah tanah).
Pipa Pesat (Penstock)

Pipa pesat adalah saluran yang digunakan untuk mengalirkan air dari kolam tandu ke Rumah
Pembangkit. Pipa pesat (penstock) berfungsi:
1. Untuk mengalirkan dan mengarahkan air ke turbin.
2. Untuk mendapatkan tekanan hidrolistika yang sebesar-besarnya.

Pipa Pesat PLTA Ketenger

Secara mekanis penstock berfungsi sebagai sarana pengubah tenaga kinetis dari hidrostatik pada
reservoir (penampung) menjadi tenaga pontesial. Tenaga air tersebut menjadi tenaga mekanik pada
turbin. Turbin akan menggerakan generator sehingga menimbulkan listrik. Pipa pesat ini memiliki ukuran
1,40 m untuk beton bertulang, dengan diameter 0,85 m dan panjangnya 778,00 m. Sedangkan untuk pipa
baja memiliki ukuran diameter 0,85 dan panjangnya 1910,00 m
« Makalah Sistem Kesetimbangan Dalam Industri
MAKALAH TURBIN AIR-PLTA
Desember 19, 2011 //
0
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Air merupakan sumber energi yang murah dan relatif mudah didapat, karena pada air
tersimpan energi potensial (pada air jatuh) dan energi kinetik (pada air mengalir). Tenaga
air (Hydropower) adalah energi yang diperoleh dari air yang mengalir. Energi yang dimiliki
air dapat dimanfaatkan dan digunakan dalam wujud energi mekanis maupun energi listrik.
Pemanfaatan energi air banyak dilakukan dengan menggunakan kincir air atau turbin air
yang memanfaatkan adanya suatu air terjun atau aliran air di sungai. Sejak awal abad 18
kincir air banyak dimanfaatkan sebagai penggerak penggilingan gandum, penggergajian
kayu dan mesin tekstil. Memasuki abad 19 turbin air mulai dikembangkan.
Aliran sungai dengan sejumlah anak sungainya dibendung dengan sebuah Dam. Airnya
ditampung dalam waduk yang kemudian dialirkan melaui Pintu Pengambilan Air (Intake
Gate) yang selanjutnya masuk ke dalam Terowongan Tekan (Headrace Tunnel). Sebelum
memasuki Pipa Pesat (Penstock), air harus melewati Tangki Pendatar (Surge Tank) yang
berfungsi untuk mengamankan pipa pesat apabila terjadi tekanan kejut atau tekanan
mendadak yang biasa disebut sebagai pukulan air (water hammer) saat Katup Utama (Inlet
Valve) ditutup seketika. Setelah Katup Utama dibuka, aliran air memasuki Rumah Keong
(Spiral Case). Aliran air yang bergerak memutar Turbin dan dari turbin, air mengalir keluar
melalui Pipa Lepas (Draft Tube) dan selanjutnya dibuang ke Saluran Pembuangan (Tail
Race). Poros turbin yang berputar tersebut dikopel dengan poros Generator sehingga
menghasilkan energi listrik. Melalui Trafo Utama (Main Transformer), energi listrik
disalurkan melewati Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 70 kV ke konsumen melalui
Gardu Induk.

B. TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, yakni:

1. Menjelaskan tentang pemanfaatan turbin air dalam Pembangkit Listrik Tenaga Air.
2. Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Thermodinamika

BAB II
PEMBAHASAN

Turbin air dikembangkan pada abad 19 dan digunakan secara luas untuk pembangkit
tenaga listrik.. Turbin air mengubah energi potensial air menjadi energi mekanis. Energi
mekanis diubah dengan generator listrik menjadi tenaga listrik. Berdasarkan prinsip kerja
turbin dalam mengubah energi potensial air menjadi energi mekanis, turbin air dibedakan
menjadi dua kelompok yaitu turbin impuls dan turbin reaksi.

Tabel 1.1 Pengelompokan Turbin

high head medium head low head

cross-flow
Pelton multi-jet Pelton
impulse turbines Turgo Turgo cross-flow

propeller
reaction turbines Francis Kaplan

Air merupakan sumber energi yang murah dan relatif mudah didapat, karena pada air
tersimpan energi potensial (pada air jatuh) dan energi kinetik (pada air mengalir). Tenaga
air (Hydropower) adalah energi yang diperoleh dari air yang mengalir. Energi yang dimiliki
air dapat dimanfaatkan dan digunakan dalam wujud energi mekanis maupun energi listrik.
Pemanfaatan energi air banyak dilakukan dengan menggunakan kincir air atau turbin air
yang memanfaatkan adanya suatu air terjun atau aliran air di sungai. Sejak awal abad 18
kincir air banyak dimanfaatkan sebagai penggerak penggilingan gandum, penggergajian
kayu dan mesin tekstil. Memasuki abad 19 turbin air mulai dikembangkan.
Besarnya tenaga air yang tersedia dari suatu sumber air bergantung pada besarnya head
dan debit air. Dalam hubungan dengan reservoir air maka head adalah beda ketinggian
antara muka air pada reservoir dengan muka air keluar dari kincir air/turbin air. Total energi
yang tersedia dari suatu reservoir air adalah merupakan energi potensial air yaitu :

(1.1)

dengan

m adalah massa air
h adalah head (m)
g adalah percepatan gravitasi
Daya merupakan energi tiap satuan waktu , sehingga persamaan (1.1) dapat dinyatakan
sebagai :

Dengan mensubsitusikan P terhadap dan mensubsitusikan terhadap maka :

(1.2)

dengan

P adalah daya (watt) yaitu
Q adalah kapasitas aliran

adalah densitas air

Selain memanfaatkan air jatuh hydropower dapat diperoleh dari aliran air datar. Dalam hal
ini energi yang tersedia merupakan energi kinetik

(1.3)

dengan

v adalah kecepatan aliran air
Daya air yang tersedia dinyatakan sebagai berikut :
(1.4)

atau dengan menggunakan persamaan kontinuitas maka

(1.5)

dengan

A adalah luas penampang aliran air
Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) merupakan salah satu pembangkit listrik yang
menggunakan energi terbarukan berupa air. Salah satu keunggulan dari pembangkit ini
adalah responnya yang cepat sehingga sangat sesuai untuk kondisi beban puncak maupun
saat terjadi gangguan di jaringan. Selain kapasitas daya keluarannya yang paling besar
diantara energi terbarukan lainnya, pembangkit listrik tenaga air ini juga telah ada sejak
dahulu kala. Berikut ini merupakan penjelasan singkat mengenai pembangkit listrik tenaga
air serta keberadaan potensi energi air yang masih belum digunakan.

PLTA merubah energi yang disebabkan gaya jatuh air untuk menghasilkan listrik. Turbin
mengkonversi tenaga gerak jatuh air ke dalam daya mekanik. Kemudian generator
mengkonversi daya mekanik tersebut dari turbin ke dalam tenaga elektrik.

Jenis PLTA bermacam-macam, mulai yang berbentuk “mikro-hidro” dengan kemampuan
mensupalai untuk beberapa rumah saja sampai berbentuk raksasa seperti Bendungan
Karangkates yang menyediakan listrik untuk berjuta-juta orang-orang. Photo dibawah ini
menunjukkan PLTA di Sungai Wisconsin, merupakan jenis PLTA menengah yang mampu
mensuplai listrik untuk 8.000 orang.

Tenaga air telah berkontribusi banyak bagi pembangunan kesejahteraan manusia sejak
beberapa puluh abad yang lalu. Beberapa catatan sejarah mengatakan bahwa penggunaan
kincir air untuk pertanian, pompa dan fungsi lainnya telah ada sejak 300 SM di Yunani,
meskipun peralatan-peralatan tersebut kemungkinan telah digunakan jauh sebelum masa
itu. Pada masa-masa antara jaman tersebut hingga revolusi industri, aliran air dan angin
merupakan sumber energi mekanik yang dapat digunakan selain energi yang dibangkitkan
dari tenaga hewan. Perkembangan penggunaan energi dari air yang mengalir kemudian
berkembang secara berkelanjutan sebagaimana dicontohkan pada desain tenaga air yang
menakjubkan pada tahun 1600-an untuk istana Versailles dibagian luar Paris, Prancis.
Sistem tersebut memiliki kapasitas yang sepadan dengan 56 kW energi listrik.

Sistem tenaga air mengubah energi dari air yang mengalir menjadi energi mekanik dan
kemudian biasanya menjadi energi listrik. Air mengalir melalui kanal (penstock) melewati
kincir air atau turbin dimana air akan menabrak sudu-sudu yang menyebabkan kincir air
ataupun turbin berputar. Ketika digunakan untuk membangkitkan energi listrik, perputaran
turbin menyebabkan perputaran poros rotor pada generator. Energi yang dibangkitkan
dapat digunakan secara langsung, disimpan dalam baterai ataupun digunakan untuk
memperbaiki kualitas listrik pada jaringan.
Jumlah daya listrik yang dapat dibangkitkan pada suatu pusat pembangkit listrik tenaga air
tergantung pada ketinggian (h) dimana air jatuh dan laju aliran airnya. Ketinggian (h)
menentukan besarnya energi potensial (EP) pada pusat pembangkit (EP = m x g x h). Laju
aliran air adalah volume dari air (m3) yang melalui penampang kanal air per detiknya
(q m3/s). Daya teoritis kasar (P kW) yang tersedia dapat ditulis sebagai:
Daya yang tersedia ini kemudian akan diubah menggunakan turbin air menjadi daya
mekanik. Karena turbin dan peralatan elektro-mekanis lainnya memiliki efisiensi yang lebih
rendah dari 100% (biasanya 90% hingga 95%), daya listrik yang dibangkitkan akan lebih
kecil dari energi kasar yang tersedia. Gambar 1 menunjukkan pusat pembangkit listrik
tenaga air pada umumnya.

Gambar 1. Pembangkitan listrik tenaga air umumnya

Laju q dimana air jatuh dari ketinggian efektif h tergantung dari besarnya luas penampang
kanal. Jika luas penampang kanal terlalu kecil, daya keluaran akan lebih kecil dari daya
optimal karena laju air q dapat lebih besar. Di lain pihak, ukuran kanal tidak dapat dibuat
besar secara sembarangan karena laju air q yang melalui kanal tergantung dari laju
pengisian air pada reservoir air di belakang bendungan.
Volume air pada reservoir dan ketinggian h yang bersangkutan, tergantung dari laju air
yang masuk ke dalam reservoir. Selama musim kering, ketinggian air pada reservoir dapat
berkurang karena jumlah air dalam reservoir lebih sedikit. Selama musim hujan,
ketinggiannya dapat naik kembali karena air yang masuk dari berbagai aliran air yang
mengisi bendungan. Fasilitas pembangkit listrik tenaga air harus di desain untuk
menyeimbangkan aliran air yang digunakan untuk membangkitkan energi listrik dan jumlah
air yang mengisi reservoir melalui sumber alami seperti curahan hujan, salju, dan aliran air
lainnya.
Pembangkit listrik tenaga air merupakan aplikasi energi terbarukan yang terbesar dan
paling matang secara teknologi, dimana terdapat 678.000 MW kapasitas daya listrik yang
terpasang di seluruh dunia, yang menghasilkan lebih dari 22% listrik dunia (2564
TWh/tahun pada 1998). Dalam hal ini, 27.900 MW merupakan pembangkit skala kecil yang
menghasilkan listrik 115 TWh/tahun. Di eropa barat, pembangkit listrik tenaga air
berkontribusi sebesar 520 TWh listrik pada tahun 1998, atau sekitar 19% dari energi listrik
di Eropa (sehingga menghindari emisi dari sejumlah 70 juta ton CO2 per tahun-nya). Pada
sejumlah negara di Afrika dan Amerika Selatan, pembangkit listrik tenaga air merupakan
sumber listrik yang menghasilkan lebih 90% kebutuhan energi listriknya. Gambar 2
memperlihatkan pembangkitan energi listrik dari air dunia yang meningkat secara dinamis
tiap tahunnya. Di samping pembangkit listrik tenaga air yang berkapasitas besar yang telah
ada, masih terdapat ruang untuk pengembangan lebih jauh dimana diperkirakan hanya
sekitar 10% dari total potensi air di dunia yang telah digunakan.

Gambar 2. Pembangkitan energi listrik tenaga air dunia dalam TWh [5].

Hampir semua proyek pembangkit listrik tenaga air memiliki skala yang besar, yang
biasanya didefinisikan kapasitasnya lebih besar dari 30 MW. Tabel 1 menampilkan
perbandingan antara beberapa ukuran pembangkit listrik tenaga air.

Tabel 1. Kapasitas beberapa pembangkit energi listrik tenaga air

Air yang tersimpan dapat digunakan ketika dibutuhkan, baik secara terus-menerus (jika
ukuran reservoirnya cukup besar) atau hanya saat beban listrik sangat dibutuhkan (beban
puncak). Keuntungan dari pengaturan penyimpanan air ini tergabung dengan kapabilitas
alami dari pembangkit listrik tenaga air yang memiliki respon yang cepat dalam ukuran
menit terhadap perubahan beban. Oleh karena itu, pembangkit jenis ini sangat berharga
karena memiliki pembangkitan listrik yang fleksibel untuk mengikuti perubahan beban yang
terduga maupun yang tak terduga.
Pembangkit listrik tenaga air berskala besar telah berkembang dengan baik dan digunakan
secara luas. Di perkirakan bahwa 20% hingga 25% dari potensi air skala besar di dunia
telah dikembangkan. Pembangkit listrik tenaga air skala besar merupakan sumber energi
terbarukan yang paling diinginkan berdasarkan ketersediaan dan fleksibilitas dari sumber
energinya. Pada tahun 2008 telah dibangun proyek Three Gorges Dam yaitu PLTA dengan
skala 22.5 GW dengan membendung sungai Yangtse di Cina dan merupakan PLTA
terbesar di dunia saat ini. Pembangunan PLTA berskala besar membutuhkan biaya awal
yang besar sementara biaya operasinya sangat kecil. Hal ini berbeda dengan pembangkit
listrik berbahan bakar fosil seperti batu bara dan diesel.

Di Indonesia terdapat banyak sekali potensi air yang masih belum dimanfaatkan. Seperti
sungai-sungai besar maupun kecil yang terdapat di berbagai daerah. Hal ini merupakan
peluang yang bagus untuk pengembangan energi listrik di daerah khususnya daerah yang
belum terjangkau energi listrik. Pengembangan dapat dilakukan dalam bentuk mikrohidro
ataupun pikohidro yang biayanya relatif kecil. Proyek ini dapat dilakukan secara mandiri,
seperti yang telah dilakukan oleh tim PALAPA – HME ITB di kampung Cilutung dan
Awilega, desa Jayamukti kabupaten Garut, Jawa Barat.

A. JENIS-JENIS PLTA
Potensi tenaga air didapat pada sungai yang mengalir di daerah pegunungan. Untuk dapat
memanfaatkan potensi dari sungai ini, maka kita perlu membendung sungai tersebut dan
airnya disalurkan ke bangunan air PLTA. Ditinjau dari cara membendung air, PLTA dapat
dibagi menjadi 2 kategori yaitu :

1. PLTA run off river
2. PLTA dengan kolam tando (reservoir)
Pada PLTA run off river, air sungai dialihkan dengan menggunankan dam yang dibangun
memotong aliran sungai. Air sungai ini kemudian disalurkan ke bangunan
air PLTA.Pada PLTA dengan kolam tando (reservoir), air sungai dibendung dengan
bendungan besar agar terjadi penimbunan air sehingga terjadi kolam tando. Selanjutnya air
di kolam tando disalurkan ke bangunan air PLTA. Dengan adanya penimbunan air terlebih
dahulu dalam kolam tando, maka pada musim hujan di mana debit air sungai besarnya
melebihi kapasitas penyaluran air bangunan air PLTA, air dapat ditampung dalam kolam
tando. Pada musim kemarau di mana debit air sungai lebih kecil daripada kapasitas
penyaluran air bangunan air PLTA, selisih kekurangan air ini dapat diatasi dengan
mengambil air dari timbunan air yang ada dalam kolam tando. Inilah keuntungan
penggunaan kolam tando pada PLTA. Hal ini tidak dapat dilakukan pada PLTA run off river.
Pada PLTA run off river, daya yang dapat dibangkitkan tergantung pada debit air sungai,
tetapi PLTA run off river biaya pembangunannya lebih murah daripada PLTA dengan kolam
tando (reservoir), karena kolam tando memerlukan bendungan yang besar dan juga
memerlukan daerah genangan yang luas.
Jika ada sungai yang mengalir keluar dari sebuah danau, maka dapat dibangun PLTA
dengan menggunakan danau tersebut sebagai kolam tando. Contoh mengenai hal ini yaitu
PLTA Asahan yang menggunakan Danau Toba sebagai kolam tando, karena Sungai
Asahan mengalir dari Danau Toba.

B. PRINSIP PLTA DAN KONVERSI ENERGI
Pada prinsipnya PLTA mengolah energi potensial air diubah menjadi energi kinetis dengan
adanya head, lalu energi kinetis ini berubah menjadi energi mekanis dengan adanya aliran
air yang menggerakkan turbin, lalu energi mekanis ini berubah menjadi energi listrik melalui
perputaran rotor pada generator. Jumlah energi listrik yang bisa dibangkitkan dengan
sumber daya air tergantung pada dua hal, yaitu jarak tinggi air (head) dan berapa besar
jumlah air yang mengalir (debit).

Gambar Skema Konversi Energi PLTA

Untuk bisa menghasilkan energi listrik dari air, harus melalui beberapa tahapan perubahan
energi, yaitu:

1. Energi Potensial

Energi potensial yaitu energi yang terjadi akibat adanya beda potensial, yaitu akibat adanya
perbedaan ketinggian.

Besarnya energi potensial yaitu:

Ep = m . g . h
Dimana:

Ep : Energi Potensial

m : massa (kg)

g : gravitasi (9.8 kg/m2)

h : head (m)

2. Energi Kinetis

Energi kinetis yaitu energi yang dihasilkan akibat adanya aliran air sehingga timbul air
dengan kecepatan tertentu, yang dirumuskan

Ek = 0,5 m . v . v

Dimana:Ek : Energi kinetis

m : massa (kg)

v : kecepatan (m/s)

3. Energi Mekanis

Energi mekanis yaitu energi yang timbul akibat adanya pergerakan turbin. Besarnya energi
mekanis tergantung dari besarnya energi potensial dan energi kinetis. Besarnya energi
mekanis

dirumuskan:

Em = T . ω . t

Dimana:

Em : Energi mekanis
T : torsi

ω : sudut putar

t : waktu (s)

4. Energi Listrik

Ketika turbin berputar maka rotor juga berputar sehingga menghasilkan energi listrik sesuai
persamaan:

El = V . I . t

Dimana:

El : Energi Listrik

V : tegangan (Volt)

I : Arus (Ampere)

t : waktu (s)

C. CARA KERJA PLTA
Aliran sungai dengan sejumlah anak sungainya dibendung dengan sebuah Dam.
Airnya ditampung dalam waduk yang kemudian dialirkan melaui Pintu Pengambilan
Air (Intake Gate) yang selanjutnya masuk ke dalam Terowongan Tekan (Headrace
Tunnel). Sebelum memasuki Pipa Pesat (Penstock), air harus melewati Tangki
Pendatar (Surge Tank) yang berfungsi untuk mengamankan pipa pesat apabila terjadi
tekanan kejut atau tekanan mendadak yang biasa disebut sebagai pukulan air (water
hammer) saat Katup Utama (Inlet Valve) ditutup seketika. Setelah Katup Utama
dibuka, aliran air memasuki Rumah Keong (Spiral Case). Aliran air yang bergerak
memutar Turbin dan dari turbin, air mengalir keluar melalui Pipa Lepas (Draft Tube)
dan selanjutnya dibuang ke Saluran Pembuangan (Tail Race). Poros turbin yang
berputar tersebut dikopel dengan poros Generator sehingga menghasilkan energi
listrik. Melalui Trafo Utama (Main Transformer), energi listrik disalurkan melewati
Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 70 kV ke konsumen melalui Gardu Induk.
Komponen – kompnen dasar PLTA berupa dam, turbin, generator dan transmisi.
Dam berfungsi untuk menampung air dalam jumlah besar karena turbin memerlukan
pasokan air yang cukup dan stabil. Selain itu dam juga berfungsi untuk pengendalian banjir.
contoh waduk Jatiluhur yang berkapasitas 3 miliar kubik air dengan volume efektif sebesar
2,6 miliar kubik.

Turbin berfungsi untuk mengubah energi potensial menjadi energi mekanik. gaya jatuh air
yang mendorong baling-baling menyebabkan turbin berputar. Turbin air kebanyakan seperti
kincir angin, dengan menggantikan fungsi dorong angin untuk memutar baling-baling
digantikan air untuk memutar turbin. Perputaran turbin ini di hubungkan ke generator.
Turbin terdiri dari berbagai jenis seperti turbin Francis, Kaplan, Pelton, dll.

Generator dihubungkan ke turbin dengan bantuan poros dan gearbox. Memanfaatkan
perputaran turbin untuk memutar kumparan magnet didalam generator sehingga terjadi
pergerakan elektron yang membangkitkan arus AC.

Travo digunakan untuk menaikan tegangan arus bolak balik (AC) agar listrik tidak banyak
terbuang saat dialirkan melalui transmisi. Travo yang digunakan adalah travo step up.

Transmisi berguna untuk mengalirkan listrik dari PLTA ke rumah – rumah atau industri.
Sebelum listrik kita pakai tegangannya di turunkan lagi dengan travo step down.

D. KOMPONEN-KOMPONEN PLTA
1. a. BENDUNGAN
Bendungan atau dam adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air menjadi
waduk, danau, atau tempat rekreasi. Bendungan juga digunakan untuk mengalirkan air ke
sebuah Pusat Listrik Tenaga Air. Kebanyakan dam juga memiliki bagian yang disebut pintu
air untuk membuang air yang tidak diinginkan secara bertahap atau berkelanjutan. Jenis
bendungan antara lain:

1. Bendungan Beton

a) Bendungan Gravitasi

b) Bendungan Busur

c) Bendungan Rongga

2. Bendungan Urugan

a) Bendungan Urugan Batu

b) Bendungan Tanah

3. Bendungan Kerangka Baja

4. Bendungan Kayu

1. b. TURBIN
Turbin merupakan peralatan yang tersusun dan terdiri dari beberapa peralatan suplai air
masuk turbin, diantaranya sudu (runner), pipa pesat (penstock), rumah turbin (spiral
chasing), katup utama (inlet valve), pipa lepas (draft tube), alat pengaman, poros, bantalan
(bearing), dan distributor listrik. Menurut momentum air turbin dibedakan menjadi dua
kelompok yaitu turbin reaksi dan turbin impuls. Turbin reaksi bekerja karena adanya
tekanan air, sedangkan turbin impuls bekerja karena kecepatan air yang menghantam
sudu.

Prinsip Kerja Turbin Reaksi yaitu Sudu-sudu (runner) pada turbin francis dan propeller
berfungsi sebagai sudu-sudu jalan, posisi sudunya tetap (tidak bisa digerakkan).
Sedangkan sudu-sudu pada turbin kaplan berfungsi sebagai sudu-sudu jalan, posisi
sudunya bisa digerakkan (pada sumbunya) yang diatur oleh servomotor dengan cara
manual atau otomatis sesuai dengan pembukaan sudu atur. Proses penurunan tekanan air
terjadi baik pada sudu-sudu atur maupun pada sudu-sudu jalan (runner blade). Prinsip
Terja Turbin Pelton berbeda dengan turbin rekasi Sudu-sudu yang berbentuk mangkok
berfungsi sebagai sudu-sudu jalan, posisinya tetap (tidak bisa digerakkan).

Dalam hal ini proses penurunan tekanan air terutama terjadi didalam sudu-sudu aturnya
saja (nosel) dan sedikit sekali (dapat diabaikan) terjadi pada sudu-sudu jalan (mangkok-
mangkok runner).Air yang digunakan untuk membangkitkan listrik bisa berasal dari
bendungan yang dibangun diatas gunung yang tinggi, atau dari aliran sungai bawah tanah.
Karena sumber air yang bervariasi, maka turbin air didesain sesuai dengan karakteristik
dan jumlah aliran airnya. Berikut ini merupakan berbagai jenis turbin yang biasa digunakan
untuk PLTA.

1. c. GENERATOR
Generator listrik adalah sebuah alat yang memproduksi energi listrik dari sumber energi
mekanis. Generator terdiri dari dua bagian utama, yaitu rotor dan stator. Rotor terdiri dari 18
buah besi yang dililit oleh kawat dan dipasang secara melingkar sehingga membentuk 9
pasang kutub utara dan selatan. Jika kutub ini dialiri arus eksitasi dari Automatic Voltage
Regulator (AVR), maka akan timbul magnet. Rotor terletak satu poros dengan turbin,
sehingga jika turbin berputar maka rotor juga ikut berputar. Magnet yang berputar
memproduksi tegangan di kawat setiap kali sebuah kutub melewati “coil” yang terletak di
stator. Lalu tegangan inilah yang kemudian menjadi listrik. Agar generator bisa
menghasilkan listrik, ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu:

1. Putaran
Putaran rotor dipengaruhi oleh frekuensi dan jumlah pasang kutub pada rotor, sesuai
dengan persamaan:

η = 60 . f / P

dimana:

η : putaran

f : frekuensi

P : jumlah pasang kutub
Jumlah kutub pada rotor di PLTA Saguling sebanyak 9 pasang, dengan frekuensi system
sebesar 50 Hertz, maka didapat nilai putaran rotor sebesar 333 rpm.

1. Kumparan
Banyak dan besarnya jumlah kumparan pada stator mempengaruhi besarnya daya listrik
yang bisa dihasilkan oleh pembangkit

1. Magnet
Magnet yang ada pada generator bukan magnet permanen, melainkan dihasilkan dari besi
yang dililit kawat. Jika lilitan tersebut dialiri arus eksitasi dari AVR maka akan timbul magnet
dari rotor.

Sehingga didapat persamaan:

E=B.V.L

Dimana:

E : Gaya elektromagnet

B : Kuat medan magnet

V : Kecepatan putar

L : Panjang penghantar

Dari ketiga hal tersebut, yang bernilai tetap adalah putaran rotor dan kumparan, sehingga
agar beban yang dihasilkan sesuai, maka yang bisa diatur adalah sifat kemagnetannya,
yaitu dengan mengatur jumlah arus yang masuk. Makin besar arus yang masuk, makin
besar pula nilai kemagnetannya, sedangkan makin kecil arus yang masuk, makin kecil pula
nilai kemagnetannya.

Menurut jenis penempatan thrust bearingnya, generator dibedakan menjadi empat, yaitu:

 Jenis biasa – thrust bearing diletakkan diatas generator dengan dua guide bearing.
 Jenis Payung (Umbrella Generator) – thrust bearing dan satu guide bearing
diletakkan dibawah rotor.
 Jenis setengah payung (Semi Umbrella Generator) – kombinasi guide dan thrust
bearing diletakkan dibawah rotor dan second guide bearing diletakkan diatas rotor.
 Jenis Penunjang Bawah – thrust bearing diletakkan dibawah coupling.
Generator yang digunakan di Saguling adalah jenis Setengah Payung.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Komponen – kompnen dasar PLTA berupa dam, turbin, generator dan transmisi.
Dam berfungsi untuk menampung air dalam jumlah besar karena turbin memerlukan
pasokan air yang cukup dan stabil. Selain itu dam juga berfungsi untuk pengendalian banjir.
contoh waduk Jatiluhur yang berkapasitas 3 miliar kubik air dengan volume efektif sebesar
2,6 miliar kubik.
Turbin berfungsi untuk mengubah energi potensial menjadi energi mekanik. gaya jatuh air
yang mendorong baling-baling menyebabkan turbin berputar. Turbin air kebanyakan seperti
kincir angin, dengan menggantikan fungsi dorong angin untuk memutar baling-baling
digantikan air untuk memutar turbin. Perputaran turbin ini di hubungkan ke generator.
Turbin terdiri dari berbagai jenis seperti turbin Francis, Kaplan, Pelton, dll.

Generator dihubungkan ke turbin dengan bantuan poros dan gearbox. Memanfaatkan
perputaran turbin untuk memutar kumparan magnet didalam generator sehingga terjadi
pergerakan elektron yang membangkitkan arus AC.

Travo digunakan untuk menaikan tegangan arus bolak balik (AC) agar listrik tidak banyak
terbuang saat dialirkan melalui transmisi. Travo yang digunakan adalah travo step up.

Transmisi berguna untuk mengalirkan listrik dari PLTA ke rumah – rumah atau industri.
Sebelum listrik kita pakai tegangannya di turunkan lagi dengan travo step down.
Pada sutu instalasi pembangkit listrik tenaga air haruslah memperhitungkan kemungkinan bahaya yang
timbul pada saluran pipa pada instalasi tersebut misalnya terjadinya water hammer akibat penutupan
katup secara cepat.Water hammer ini dapat menimbulkan peningkatan tekanan pada saluran pipa
sehingga dapat menyebabkan pecahnya pipa apabila tekanan yang terjadi melebihi kekuatan maksimum
dari pipa tersebut terutama untuk saluran yang relatif panjangdibagi dengan tinggi terjun yang ada.
Untuk itulah perlu dipasang Surge tank.Fungsi surge tank :

Mengurangi tambahan tekanan akibat water hammer

Memenuhi tambahan debit

menampung air saat beban mendadak turun

Sebelum air masuk ke penstock terlebih dahulu melalui surge tank. Surge tank berfungsi sebagai
pengatur air dari :

Perubahan tekanan karena perubahan ele asi waduk

Perubahan tekanan karena gelombang

Perubahan tekanan karena water hammer
Pembangkit
Listrik Tenaga
Air ( PLTA )
Tes - Lebong -
Bengkulu BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Listrik telah menjadi kebutuhan utama masyarakat saat ini. Listrik memiliki peran penting

dalam peradaban manusia menjadi lebih efisien, mudah, dan produktif. Sejak pertama kali

ditemukan, listrik terus mengalami perkembangan. Dimulai dari pusat – pusat pembangkit

berskala besar hingga saat ini dapat ditemukan dalam keadaan sebesar panel. Adapun pada

pembangkitan energy listrik berskala besar sebagian besar energy listrik didapatkan melalui hasil

konversi dari energy mekanik.
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) adalah salahsatu pembangkit yang memanfaatkan

hasil konversi dari energy mekanik yaitu aliran air yang diubah menjadi energi listrik

.Pembangkit listrik ini bekerja dengan cara merubah energi air yang mengalir (dari bendungan

atau air terjun) menjadi energi mekanik (dengan bantuan turbin air) dan dari energi mekanik

menjadi energi listrik (dengan bantuan generator). Kemudian energi listrik tersebut dialirkan

melalui jaringan-jaringan yang telah dibuat, hingga akhirnya energi listrik tersebut sampai ke

rumah kita.

1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan paper ini adalah sebagai berikut.

a. Memenuhi tugas ujian tengah semester genap mata kuliah Pembangkit Tenaga Litsrik yang

diberikan oleh dosen.

b. Menambah informasi dan pengetahuan mengenai salah satu pembangkit listrik di Indonesia,

yaitu PLTA Tes, Bengkulu.

1.3 Batasan Makalah
Dalam makalah ini hanya membahas mengenai PLTA Tes-Bengkulu, tidak membahas
PLTA secara umum di Indonesia.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 PENGERTIAN PLTA

Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) adalah pembangkit yang mengandalkan energi

potensial dan kinetik dari air untuk menghasilkan energi listrik. Energi listrik yang dibangkitkan

ini biasa disebut sebagai hidroelektrik. Bentuk utama dari pembangkit listrik jenis ini adalah

generator yang dihubungkan ke turbin yang digerakkan oleh tenaga kinetik dari air. Namun,

secara luas, pembangkit listrik tenaga air tidak hanya terbatas pada air dari sebuah waduk atau air
terjun, melainkan juga meliputi pembangkit listrik yang menggunakan tenaga air dalam bentuk

lain seperti tenaga ombak. Hidroelektrisitas adalah sumber energi terbarukan.

2.2 PRINSIP KERJA PLTA

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) merupakan pembangkit tenaga listrik yang

mengubah energi potensial air (energi gravitas air) menjadi energi listrik. Mesin penggerak yang

digunakan adalah turbin air untuk mengubah energi potensial air menjadi kerja mekanis poros

yang akan memutar rotor generator untuk menghasilkan energi listrik.
Air sebagai bahan baku PLTA dapat diperoleh dari sungai secara langsung disalurkan

untuk memutar turbin, atau dengan cara ditampung dahulu (bersamaan dengan air hujan) dengan

menggunakan kolam tandon atau waduk sebelum disalurkan untuk memutar turbin. Daya listrik

yang dibangkitkan dapat dihitung menggunakan pendekatan rumus :

P = 9,8 Q x H x ή t x ή g ( kW )

Dimana :

P = Daya yang dihasilkan (kW)
Q = Debit air dalam (m3/detik)

H = Tinggi terjun (m)

ήt = Efisiensi turbin (%)

ήg = Efisiensi Generator (%)

Perencanaan pengoperasian PLTA yang dilakukan berdasarkan pada kondisi hydrologi

yang meliputi :

- - Tahun Basah Sekali
- - Tahun Basah

- - Tahun Normal

- - Tahun Kering

Tahun Kering Sekali Untuk mendapatkan hasil yang optimum dan memudahkan untuk

perencanaan operasional tahunan, maka perencanaan operasi dilakukan berdasarkan pada kondisi

hydrologi tahun normal dan tahun kering, yang kemudian dilakukan penyesuaian tiap bulan

berdasarkan kondisi air masuk. Indonesia hanya mengenal dua musim yaitu musim hujan biasa
dimulai bulan Nopember s.d Maret dan musim kemarau pada bulan April s.d Oktober, sehingga

kondisi ini dipergunakan untuk proses pengisian dan penggunaan air.
2.3 JENIS – JENIS PLTA

2.3.1 PLTA DENGAN WADUK (RESERVOIR)

Air sungai dialirkan ke kolam melalui saluran terbuka atau tertutup dengan disaring

terlebih dahulu dan ditampung di suatu kolam yang berfungsi untuk:

- - Mengendapkan pasir

- - Mengendapkan lumpur
- -

Sebagai waduk (reservoir)

Air dari satu sungai atau lebih ditampung di suatu tempat untuk mendapatkan ketinggian

tertentu dengan jalan dibendung. Air dari waduk tersebut dialirkan melalui saluran terbuka,

melalui pintu air ke saluran tertutup yang selanjutnya melalui pipa pesat menggerakkan turbin

untuk membangkitkan tenaga listrik.
2.3.2 PLTA ALIRAN DANAU

Sumber air dari PLTA ini adalah sebuah danau yang potensinya cukup besar. Untuk

pengambilan air yang masuk ke PLTA dilaksanakan dengan:

- - Pembuatan bendungan yang berfungsi juga sebagai pelimpas yang berlokasi pada mulut sungai.

- - Perubahan duga muka air (DMA) + 4 meter

2.4 KOMPONEN-KOMPONEN PLTA
2.4.1 DAM
Dam, berfungsi untuk menampung air dalam jumlah besar karena turbin memerlukan

pasokan air yang cukup dan stabil. Selain itu dam juga berfungsi untuk pengendalian banjir. Pada

PLTA terdapat 2 jenis penampungan, yaitu:

 Waduk Utama (upper reservoir) seperti dam pada PLTA konvensional. Air dialirkan langsung

ke turbin untuk menghasilkan listrik.

 Waduk cadangan (lower reservoir). Air yang keluar dari turbin ditampung di lower

reservoir sebelum dibuang di sungai.
2.4.2 PIPA PESAT
Pipa pesat (penstock), berfungsi untuk menghubungkan dam dengan turbin. Memiliki

diameter tertentu yang menyesuaikan debit air yang dialirkan.
2.4.3 TURBIN

Turbin, berfungsi untuk mengubah energi potensial menjadi energi mekanik. Air akan

memukul sudu–sudu dari turbin sehingga turbin berputar. Perputaran turbin ini di hubungkan ke

generator. Turbin terdiri dari berbagai jenis seperti turbin Francis, Kaplan, Pelton, dll.
2.4.4 GENERATOR

Generator
berfungsi untuk
mengubah energy
mekanik menjadi
energy listrik.
Generator terbagi
menjadi 2 bagian
utama yaitu rotor
dan stator. Rotor
terdiri dari 18
buah besi yang
dililit kawat dan
dipasang
melingkar
sehingga
membentuk 9
pasang kutub
utara dan selatan.
Jika kutub ini
dialiri arus eksitasi
dari Automatic
Voltage Regulator
(AVR), maka akan
timbul magnet.
Rotor yang
terletak satu poros
dengan turbin
akan beputar jika
turbin berputar.
Magnet yang
berputar
memproduksi
tegangan di kawat
setiap kali kutub
melewati coil yang
terletak di stator.
Lalu tegangan
inilah yang
kemudian menjadi
listrik.
2.4.5 JALUR TRANSMISI

Jalur Transmisi, berguna untuk mengalirkan listrik dari PLTA ke rumah–rumah atau

industri. Sebelum listrik kita pakai tegangannya diturunkan lagi dengan trafo step down.
BAB III
ANALISA DAN PEMBAHASAN PLTA TES
1.1 PENGENALAN PLTA TES
PLTA Tes adalah PLTA yang memiliki air sumber penggerak dari Danau Tes, Lebong,
Bengkulu. PLTA Tes memiliki 2 buah turbin tenaga turbo. PLTA ini terletak didesa Tabah
Anyar dan desa Turan Tiging.
PLTA Tes adalah salah satu PLTA tertua di Indonesia. PLTA Tes merupakan pembangkit
listrik yang memanfaatkan energi potensial air yang pertama yang didirikan di wilayah
Sumatera. Pusat listrik ini menggunakan pola kolam tando dengan gedung pembangkit berada di
permukaan tanah yang memanfaatkan aliran Sungai Ketaun yang dibendung dalam kolam tando
sebelum dialirkan melalui penstock ke turbin. PLTA Tes terdiri dari 2 sentral unit dimana yang
pertama adalah unit PLTA Tes Lama yang mulai dibangun pada tahun 1912-1923 oleh
pemerintahan kolonial Hindia-Belanda dan beroperasi mulai tahun 1923 di Desa Turan Tiging
Kabupaten Rejang Lebong.
Pembangunan PLTA tersebut dilatarbelakangi oleh adanya areal pertambangan emas yang
berada di daerah Lebong Tandai dan Muara Aman sehingga seluruh kebutuhan listrik untuk
pertambangan dipenuhi oleh PLTA tersebut. Kemudian pada tahun 1958 dilakukan renovasi
akibat kerusakan yang diakibatkan oleh pembombardiran sentral pembangkit oleh tentara
Jepang, dimana daya yang terpasang setelah renovasi menjadi 2 X 660 kW. Sedangkan unit
kedua adalah PLTA Tes baru yang dibangun tepat di belakang gedung PLTA lama yang
didirikan antara tahun 1986-1991 dengan daya terpasang 4 X 4410 kW, sehingga daya total
terpasang sejak tahun 1991 di PLTA Tes adalah sebesar 18.960 kW. Saat ini daya listrik yang
dibangkitkan oleh PLTA Tes digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Provinsi Bengkulu
melalui jaringan transmisi 70 kV.
1.2 LETAK SECARA GEOGRAFIS
Secara geografis, PLTA Tes terletak di daerah perbukitan pada 3º16 LU dan 102º25 BT yang
dikelilingi oleh jajaran pegunungan Bukit Barisan dengan cadangan air yang cukup besar. PLTA
Tes berjarak ±180 km sebelah utara kota Bengkulu membujur dari arah timur laut menuju barat
daya tepatnya terletak di Desa Turan Tiging, Kecamatan Tes, Kabupaten Rejang Lebong,
Provinsi Bengkulu, Sumatera.
3.3.1 INTAKE dan INLET DAM

Bendungan atau dam adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air menjadi

waduk, danau, atau tempat rekreasi. Seringkali bendungan juga digunakan untuk mengalirkan air

ke sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air. Kebanyakan dam juga memiliki bagian yang disebut

pintu air untuk membuang air yang tidak diinginkan secara bertahap atau berkelanjutan. Aliran
sungai dengan jumlah debit air sedimikian besar ditampung dalam waduk yang ditunjang dalam

bentuk bangunan bendungan. Proses dimulai dari dibukanya main gate sehingga air yang tadinya

sudah dibendung akan dialirkan ke dalam pipa penstock melalui saringan power intake. Untuk

mengubah energi potensial menjadi energi kinetik, pada ujung pipa dipasang katup utama (Main

Inlet Valve)Berdasarkan ukurannya bendungan PLTA Tes diklasifikasikan menjadi bendungan

mayor dengan ketinggian 150 – 250 m dengan lantai dasar intake : EL 560.2 mdpl. Berdasarkan

bentuknya PTA Tes di klasifikasikan dalam golongan Divertionary Dam. Divertionary
Dam adalah istilah untuk sebuah bendungan yangakan mengalihkan semua atau sebagian dari

aliran sungai dari aliran aslinya. Bendungan pengalihan umumnya tidak menahan air di dalam

reservoir. Sebaliknya air dialihkan ke saluran –saluran lain yang bisa digunakan untuk irigasi,

pembangkit listrik, mengalirkan air ke sungai yang berbeda atau membuat waduk yang

dibendung.
3.3.2 SALURAN PENGHANTAR / PIPA PENSTOCK

Pipa Penstock Berfungsi untuk menyalurkan dan mengarahkan air ke cerobong turbin.

Secara mekanis penstock berfungsi sebagai sarana pengubah tenaga kinetis dari hidrostatik pada
reservoir (penampung) menjadi tenaga pontesial. Tenaga air tersebut menjadi tenaga mekanik

pada turbin. Turbin akan menggerakan generator sehingga menimbulkan listrik. Pipa pesat ini

memiliki ukuran 1,40 m untuk beton bertulang, dengan diameter 0,85 m dan panjangnya 778,00

m. Sedangkan untuk pipa baja memiliki ukuran diameter 0,85 dan panjangnya 1910,00 m.

3.3.3 SURGE TANK
Surge Tank adalah sebuah bangunan pada sistem pembawaantekanan saluranPelindung saluran

tekanan rendah terhadaptekanan-tekanan tinggi (lebih) yang bersifat intern. Fungsi Surge Tank

Antara lain :

-Menghilangkan tambahan tekanan

-Mengurangi tambahan tekanan

-Tambahan debit dapat dipenuhi

3.3.4 POWER HOUSE
Rumah pembangkit atau power house adalah bangunan tempat memasang mesin

pembangkit yaitu turbin, generator, panel kontrol, peralatan pendukung, serta ruang untuk

operator. Power house didesain untuk melindungi mesin pembangkit dan peralatan lainnya dari

perubahan cuaca. Dalam pembangunan Power House harus diperhatikan kekuatan fondasi,

terutama fondasi turbin yang akan menahan gaya potensial dan kinetik dari air yang mengalir

melalui pipa pesat dan turbin.
Standar minimal bangunan Power house harus dilengkapi dengan ruang mesin, ruang operator,

kantor dan kamar mandi.

3.3.5 TAILRACE

Saluran Pembuang (Tail race) adalah saluran tempat menyalurkan air setelah melewati turbin,

yang selanjutnya kembali mengalir ke sungai semula. Konstruksi tail race : pasangan batu dan

beton pada bagian lantai penutup. Dimensi tailrace harus sedemikian rupa sehingga cukup untuk

menampung aliran air maksimal yang keluar dari turbin sehingga tidak terjadi banjir.
1.1 SISTEM OPERASI

PLTA Tes merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Air yang berfungsi untuk menahan beban-

beban dasar diwilayah Bengkulu. Adapun didalam pengoperasian pembangkit tersebut, terdapat

masalah yang menyebabkan ketidak-optimalisasian kinerja dari PLTA Tes .Dimana

permasalahan datang dari sumber tenaga beroperasinya PLTA Tes, yaitu danau Tes.

Danau Tes mendapatkan suplai air terutama dari Air Ketahun dan Air Pau. Kedua sungai ini

bermuara ke danau tes di desa Kota Donok. Vegetasi di pinggiran Air Pau cukup terpelihara,
sehingga daerah aliran sungai Air Pau perlu dijaga dan dipantau secara rutin untuk menjamin

suplai air yang menuju ke danau. Sementara Air Ketahun yang kanan kirinya berupa berbukitan

memungkinkan terjadinya erosi dan pengendapan sedimen yang dibawa ke dalam danau.

Beberapa tahun yang lalu terjadi banjir bandang yang banyak membawa material dan masuk ke

dalam badan air. Sehingga nampak sekali terjadi pendangkalan badan danau. Hal ini dikuatkan

oleh beberapa beberapa orang tua penduduk asli desa Kota Donok. Mereka mengatakan bahwa

sewaktu mereka muda kedalam air cukup dalam mungkin lebih dari 6-10 meter, namun saat ini
kedalam air tidak lebih dari 2 meter. Keadaan ini dapat dilihat sepanjang pinggiran danau sudah

sejak lama terjadi pelebaran pinggiran danau yang sudah ditumbuhi oleh semak, bahkan oleh

penduduk sekitar telah diubah menjadi petak-petak. Dengan terjadinya pendangkalan oleh proses

sedimentasi yang terus-menerus, maka sewaktu-waktu dapat mengancam fungsi Danau Tes

sebagai sumber pembangkit tenaga listrik

BAB IV
KESIMPULAN

4.1 PERBANDINGAN ANTAR PLTA
PLTA CIRATA PLTA TES PLMTH SENGK

Purwakarta, Jawa Barat Lebong, Bengkulu Malang, Jawa Tim

Memanfaatkan potensi air dari waduk. Memanfaatkan Memanfaatkan p
Potensi air tampungan danau.
Francis Vertika Shaft Francis Horizontal Shaft Cross Flow
187,5 rpm 375,0 rpm 200,0 rpm
1008 MW 18,96 MW 100 KW
Citarum Danau Tes Brantas
135 m3/detik 34 m3/S 1 m3/detik
112,5 m 15,2 m
1988 1923 2008
Sistem Jawa-Madura-Bali Provinsi Bengkulu Universitas Muha