You are on page 1of 16

LAPORAN KASUS

TRIKUSPID REGURGITASI

Disusun oleh :

dr. Bobby Adhitya Prabowo

Pembimbing :

dr. Syamsul Ma’arif

dr. Bintari Wuryaningsih

DPJP :

dr. Nelly Mulyaningsih, Sp.JP

RUMAH SAKIT ISLAM FATIMAH BANYUWANGI

2018
LAPORAN KASUS

I. Identitas
Nama : Ny. Nurma Maria Ulfa
Usia : 36 tahun 11 bulan 1 hari
Tanggal Lahir : 30 Juli 1981
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Borobudur No.18 2/3 Tamanbaru, Banyuwangi
Agama/Suku : Islam / Jawa
Masuk Rumah Sakit : 22 Juli 2018
No. Register : 133999

II. Anamnesis
a. Keluhan Utama
Sesak nafas

b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD mengeluh sesak nafas sejak sejak H-1 hari
sebelum MRS, pasien juga mengeluh batuk, sering tidur menggunakan
3 bantal, riwayat kaki sering bengkak, riwayat sesak saat aktivitas (+).

c. Riwayat Penyakit Dahulu
 Trikuspid Regurgitasi berat
 DCFC II

d. Riwayat Pengobatan
 Pasien riwayat opname ± 2 minggu yang lalu karena keluhan yang
sama
 Furosemide 20mg 1-0-0
 Spironolacton 25 mg 1-0-0
 CPG 1x75 mg
 Micardis (Telmisartan) 1x40mg

2
III. Pemeriksaan Fisik (22 Juli 2018 – IGD)
Keadaan  GCS 456, compos mentis
Umum  Napas spontan
 Lemah
Tanda-Tanda  Tekanan Darah : 70/40 mmHg
Vital  Denyut jantung : 108x/menit, lemah
 Laju napas : 36x/menit
 Suhu aksila : 36,5oC
 SpO2 : 96% NRM 10 lpm
Kepala  Bentuk : mesosefal, simetris, tidak ada
benjolan dan massa
 Ukuran : normosefal
 Rambut : warna hitam, sulit dicabut
 Wajah : simetris, deformitas (-), sianosis (-)
 Mata : konjungtiva anemis (-), sklera
ikterik (-), edema palpebra (-/-), mata cowong (-),
pupil bulat isokor 3mm/3mm, reflek cahaya +/+
 Telinga : bentuk dan ukuran normal, posisi
normal, secret (-)
 Hidung : bentuk simetris, deviasi (-), sekret (-
), septum nasi simteris, epistaksis (-), hiperemi(-),
pernapasan cuping hidung (-)
 Mulut : mukosa bibir basah, sianosis (+),
dyspnea (+)
Leher  Inspeksi : simetris, pembesaran kelenjar
getah bening leher (-), massa (-)
 Palpasi : pembesaran kelenjar limfe leher (-
/-), trakea ditengah

3
Thorax  Inspeksi : bentuk dada simetris, retraksi
dinding dada (-), deformitas (-), jaringan parut (-)
 JANTUNG
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : ictus cordis teraba di ICS V mid
clavicular line sinistra
Auskultasi : bunyi jantung S 1 S2 normal
reguler, murmur (+), gallop (-)
 PARU
Inspeksi : gerak napas simteris kedua sisi
Palpasi : pergerakan dinding dada saat
bernapas simetris, stem fremitus normal
Perkusi :
Suara napas Ronki Wheezing
kanan Kiri kanan kiri kanan kiri
vesikuler vesikuler - - - -
vesikuler vesikuler - - - -
vesikuler vesikuler - - - -
Lapang Paru Kanan Kiri
Atas sonor sonor
Tengah sonor sonor
Bawah sonor sonor

Auskultasi :
Abdomen  Inspeksi : distensi abdomen (-), kulit
abdomen normal
 Auskultasi : bising usus (+) normal
 Perkusi : timpani
 Palpasi : soefl, nyeri tekan (-), hepar
tidak teraba, lien tidak teraba, undulasi (-)

4
Ekstremitas Atas Bawah
Pemeriksaan
kanan kiri kanan kiri
Akral Dingin Dingin Dingin Dingin
Edema - - + +
Sianosis + + + +

IV. Pemeriksaan Penunjang

1. Hasil Laboratorium (22 Juli 2018-IGD)

Darah Nilai Satuan Nilai Kesan
Lengkap Normal

Hemoglobin 14,7 G/DL L : 13,5 – Normal
18,0 G/DL

P : 12,0 –
16,0 G/DL

Leukosit 8,300 CMM 4500 - Normal
11000

Hematokrit 46,50 % 40-47 Normal

Trombosit 74.000 150.000 – Menurun
450.000

Hitung jenis Nilai Satuan Nilai Kesan
Normal

Eosinofil 0,0 % 1-4 Menurun

Basofil 0,0 % 0-1 Normal

5
Neutrofil 55 % 36-66 Normal

Limfosit 27 % 22-40 Normal

Monosit 18 % 2-8 Meningkat

Gula Darah 45 mg/dl <200 Menurun
Sewaktu

SGOT 90 U/L L : < 37 Meningkat

P : <31

SGPT 110 U/L L : < 40 Meningkat

P : <31

Ureum 47,00 mg/dl 10,0 – 59 Normal

Kreatinin 0,8 mg/dl L : 0,7 – 1,4 Normal

P : 0,6 – 1,2

3. Hasil EKG

6
4. Hasil Foto Thorax (AP)

7
Kesimpulan : Cardiomegali

5. Hasil Echocardiography
- Dilated Pulmo
- Trikuspid Regurgitasi Berat

VI. Diagnosis Kerja
1. Trikuspid Regurgitasi Berat

2. DCFC II

VII. Rencana Terapi
1. O2 6-10 lpm
2. Inf. PZ 500cc/24jam
3. Pump Dobutamin 5 meq
4. Pump NE (Norepinephrine) 50 nano
5. Inj. Lasix (Furosemide) 3x1 amp/iv
6. Inj. Pumpisel 1x1 vial/iv
7. Inj. Ondansentron 3x4mg/iv
8. Q-ten (Coenzyme-Q10) 100mg 1-0-0/oral
9. Spironolacton 100mg 1-0-0/oral
10. Micardis (Telmisartan) 40 mg 1-0-0/oral
11. Aspilet 80 mg 1x1/oral
12. Dorner (Beraprost sodium) 2x1 tab/oral

VIII. Follow-up

8
1. Tanggal 22 Juli 2018 - ICU
S : Sesak (+), Lemas (+), Nafsu makan menurun
O : KU lemah, GCS 456/CM
TD : 70/40 mmHg RR : 35x/m SpO2 : 98% 10 lpm NRM
HR : 121x/m Tax : 36,5
A : TR Berat + DCFC II
P : - Pump NE (Norepinephrine) dinaikkan 100 nano
- Terapi lain lanjut

2. Tanggal 23 Juli 2018 – ICU
S : Sesak berkurang, batuk kering kadang berdahak, gatal di lipat paha
O : KU lemah, GCS 456/CM
TD : 103/63 mmHg RR : 26x/m SpO2 : 99% 10 lpm NRM
HR : 110x/m Tax : 36,5
Ext : Edema -/- , Akral hangat +/+
UKK Makula hiperpigmentasi tepi aktif regio inguinal
A : TR Berat + DCFC II + Tiinea Cruris
P : - O2 diganti Nasal Kanul 2-4 lpm
- Dobutamin & NE (Norepinephrine) mulai tap off
- N-asetilsistein 3x1 tab/oral
- Licogenta 2x1 ue
- Ketokonazole 2x1 ue
- Terapi lain lanjut

3. Tanggal 24 Juli 2018 – ICU
S : Sesak berkurang, batuk kering kadang berdahak, gatal di lipat paha
berkurang
O : KU lemah, GCS 456/CM
TD : 122/56 mmHg RR : 33x/m SpO2 : 99% 10 lpm NRM
HR : 107x/m Tax : 36,2
UKK Makula hiperpigmentasi tepi aktif regio inguinal
A : TR Berat + DCFC II + Tiinea Cruris
P : - Pump NE (Norepinephrine) 50 nano
- Terapi lain lanjut

9
4. Tanggal 25 Juli 2018 – R.Mina
S : Sesak berkurang
O : KU lemah, GCS 456/CM
TD : 80/50 mmHg RR : 28x/m
HR : 86x/m Tax : 36,5
A : TR Berat + DCFC II
P : - O2 diganti nasal 4-6 lpm
- Inj. Ambacim 2x1 gr/iv
- Terapi lain lanjut

5. Tanggal 26 Juli 2018 – R.Mina
S : Sesak berkurang, Nyeri setelah minum N-asetilsistein
O : KU lemah, GCS 456/CM
TD : 80/50 mmHg RR : 30x/m
HR : 84x/m Tax : 36,5
A : TR Berat + DCFC II
P : - N-asetilsistein stop
- NE (Norepinephrine) tap off
- Inj. Lasix (Furosemide) 1-0-0
- Terapi lain lanjut

6. Tanggal 27 Juli 2018 – R.Mina
S : Sesak berkurang
O : KU lemah, GCS 456/CM
TD : 70/50 mmHg RR : 28x/m
HR : 79x/m Tax : 36
A : TR Berat + DCFC II
P : - O2 nasal kanul 2-4 lpm
- NE (Norepinephrine) stop
- Inj. Ambacim stop
- Inj. Ondansentron stop
- Mobilisasi
- Terapi lain lanjut

7. Tanggal 28 Juli 2018 – R.Mina

10
 05.00
S : Sesak,
O : KU lemah, GCS 356
TD : 50/palpasi mmHg RR : 28x/m
HR : 110x/m Tax : 36,2
GDA 30
Pulmo : rh +/+
A : TR Berat + DCFC II
P : - D40 2 fl
- Pump NE (Epinephrine) 100 nano
- Pump Dobutamin 5 meq
- Inj. Lasix (Furosemide) 2 amp/iv  Tunda

 08.00
S : Sesak, nyeri seluruh lapang perut, BAB (-) sejak 2 hari yang lalu, flatus
(+) pagi hari
O : KU lemah, GCS 456
TD : 62/34 mmHg RR : 32x/m SpO2 89% NRM 10 lpm
HR : 132x/m Tax : 36,2
Abd : BU (-), soefl, timpani
A : TR Berat + DCFC II
P : - Konsul dr. Hanan, Sp.B suspek akut abdomen

 08.40
S : Sesak, nyeri seluruh lapang perut
O : KU lemah, GCS 445
TD : 40/palpasi RR : 57x/m SpO2 96% NRM 10 lpm
HR : 128x/m Tax : 36,5
Abd : BU (-), soefl, timpani
A : TR Berat + DCFC II
P : - Pemasangan NGT
- Loading cairan 500-1000cc
- Observasi rhonki dan TTV

11
 09.45
S : Sesak, penurunan kesadaran
O : KU lemah, GCS 344
TD : 25/palpasi RR : 53x/m SpO2 92% NRM 10 lpm
HR : 139x/m Tax : 36,5
Pulmo : Ves +/+, Rh +/+, Wh -/-
A : TR Berat + DCFC II
P : - Pump NE (Norepinephrine) dinaikkan, maks 300 nano
- Pump Dobutamin dinaikkan, maks 12 meq
- KIE Keluarga
 09.45 NE 150 nano | Dobutamin 7 meq
 10.15 NE 200 nano | Dobutamin 9 meq
 10.45 NE 250 nano | Dobutamin 12 meq
 11.15 NE 300 nano | Dobutamin 12 meq
 12.15 Pasien Mengalami Cardiac Arrest
Tx : RJP, Inj. Epinefrin, Inj. SA
 12.30 Irama VT
Tx : Defibrilasi, Inj. Epinefrin, Inj. Amiodaron
 12.45 Irama Bradikardi
Tx : Inj. Epinefrin, Inj. SA, Dopamin Pump 10 meq
 13.10 Pupil Midriasis maksimal, reflek cahaya -/-, reflek kornea -/-, nadi
tak teraba, tidak ada napas
Pasien dinyatakan meninggal dunia

12
.

TINJAUAN PUSTAKA

Trikuspid Regurgitasi
Pendahuluan
Dalam pembicaraan katup trikuspid penting diketahui peran sirkulasi paru.
Sistem sirkulasi paru merupakan sirkuit dengan resistensi yang rendah, kira-kira
seperdelapan dari resistensi sistemik. Hal ini disebabkan karena (1) tidak
terdapat arterior muscular yang mempunyai resistensi yang tinggi; (2)
anastomosis kapiler bed yang difus; (3) kapasitas cadangan yang besar, dengan
resistensi yang rendah terhadap distensi pasif akibat kenaikan darah pulmonal.
Daun katup trikuspid yang merupakan bagian dari sirkuit tekanan rendah,
akan mengakibatkan toleransi beban tekanan akan sangat kurang. Selain itu
daun katup trikuspid tidak setebal katup mitral, demikian pula anulus fibrosisnya
tidak sekuat katup mitral. Oleh karena itu sangat mudah melebar pada keadaan
kenaikan beban atau stres.
Definisi
Trikuspid Regurgitasi (TR) adalah insufisiensi katup trikuspid (tidak
menutup dengan sempurna) pada saat sistolik, sehingga menyebabkan aliran
balik ke atrium kanan.
Patofisiologi
Regurgitasi trikuspid adalah keadaan kembalinya sebagian darah ke
atrium kanan pada saat sistolik. Keadaan ini dapat terjadi primer akibat kelainan

13
organic katup, ataupun sekunder karena hipertensi pulmonal, perubahan fungsi
maupun geometri ventrikel berupa dilatasi ventrikel kanan maupun anulus
trikuspid.
Penyakit jantung reumatik, dapat mengenai katup trikuspid secara
langsun walaupun lebih sering disertai dengan katup jantung lain. Biasanya bila
penyebabnya penyakit jantung reumatik, selain regurgitasi disertai pula dengan
stenosis.
Patofisiologi dari TR menyerupai TS, terdapat kongesti vena sistemik dan
penurunan curah jantung. Pada TR dengan hipertensi pulmonal, kongesti paru
berkurang sementara tanda gagal jantung kanan semakin terlihat, Gagal jantung
kanan akan menyebabkan kongesti hepar dan belanjut pada kongesti vena
sistemik.

Anamnesis
- Berdebar
- Bengkak pada tungkai
- Perut kanan terasa sakit
- Sesak napas saat aktivitas
- Cepat Lelah
- Beberapa gejala tidak khas
Pemeriksaan fisik
 Auskultasi :
- Bising pansistolik (high pitch) di batas mid sterna kiri atau area subxiphoid
dengan penjalaran hingga apex.
- Murmur pada lesi katup trikuspid intensitasnya meningkat dengan inspirasi
(Rivero-Carvalosign)
 Tanda-tanda gagal jantung kanan; JVP meningkat, hepatosplenomegali,
ascites, edema perifer
Pemeriksaan Penunjang
Radiologi
Adanya kardiomegali yang mencolok akibat pembesaran ventrikel kanan.
Kadang-kadang akibat tingginya tekanan ventrikel kanan yang akan berlangsung
lama dapat terjadi kalsifikasi pada anulus trikuspidalis.
EKG
Biasanya tidak spesifik, dapat berupa blok cabang bundle kanan, tanda

14
pembesaran atrium dan ventrikel kanan dan sering juga terjadi fibrilasi atrium
Ekokardiografi
dapat dilakukan untuk menentukan etiologi TR, mengukur dimensi ruang
ventrikel kanan dan vena kava inferior, fungsi serta tekanan sistolik arteri
pulmonal.
Terapi
1. Medikamentosa
a. Penyekat kalsium (hati-hati tensi terlalu turun) sebaiknya gunakan non
dihidropiridin : verampamil 3x40-80mg, diltiazem 3x30-60mg
b. Vasodilator (bila gagal jantung)
- ACE-I : captopril 3x6,25-50mg
- ARB : valsartan 1-2x20-160mg
c. Diuretik (pada kasus dengan gagal jantung)
- Furosemide : drip IV sampai 20mg/jam atau sampai 3x2tab (oral)
- Kalium sparing diuretic : spironolakton sampai 1x100mg
d. Anti-Aritmia
- Amiodaron: dari 3x400mg sampai 1x100 mg
- Digoxin oral : 1x0,125 – 0,25mg tab
e. Beta blocker
- Metoprolol sampai 2x100mg atau
- Bisoprolol sampai 1x1,25-10mg
f. Suplemen elektrolit
- Kalium Chlorida oral sampai 3x2 tab
- KCl drip IV (sesuai rumus koreksi- tidak boleh >20mEq/jam)
g. Antikoagulan/Antitrombositoral
- Warfarin : 1-6mg/hari (target kadar INR 2-3) -
- Aspirin 1x80-160mg (AF usia <65 tahun tanpa riwayat hipertensi atau
gagal jantung)
h. Oksigen terapi
2. Pencegahan
a. Pencegahan sekunder reaktivasi rematik diberikan seumur hidup bila
penyebabnya rematik. Obat dan dosis dibawah ini untuk BB >30kg
- Penisilin Benzatin G injeksi 1,2 juta IUim setiap 4 minggu sekali/
- Penisilin V / Phenoxy Methyl Peniciline oral (Ospen) 2x250 mg setiap
hari atau

15
- Sulfadiazine 1 gr (oral) sekali sehari
b. Pencegahan primer terhadap Endokarditis infektif
3. Pengelolaan intervensi bedah
a. Waktu Operasi
Prinsip penentuan waktu operasi adalah tidak terlalu cepat dan tidak
terlambat, waktu operasi ditentukan oleh :
- Simtomatis
- Disfungsi RV (secara ekokardiografi) TAPSE <1,6m.sec
b. Intervensi Bedah.
Intervensi bedah meliputi reparasi katup atau penggantian katup
bioprostetik/prostetik mekanik

Daftar Pustaka
Gaol, Hasiana Lumban. Pradipta, Adip Pradipta. Wijaya, Ika Prasetya. 2014.
Kelainan Katup Jantung. Kapita Selekta Kedokteran Edisi IV Jilid II. Media
Aesculapius. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Hal
775-776.
Gharie, Ali. 2009. Penyakit Katup Trikuspid. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi
V Jilid II. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI). Jakarta.
Hal 1698-1700.
PERKI. 2016. Stenosis Katup Trikuspid. Panduan Praktik Klinis (PPK) Dan
Clinical Pathway (CP) Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Edisi I.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI).
Jakarta. Hal 63-66.
Rampengan, Starry Homenta. 2014. Penyakit Jantung Katup. Buku Praktis
Kardiologi. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Hal 165-
190
O’Gara, Patrick. Braunwald Eugene. 2010. Valvular Heart Disease. Harrison’s
Cardiovascular Medicine. McGraw-Hill. United States. Hal 237 - 238
John F. Butterworth. David C. Mackey. John D. Wasnick. 2013. Anesthesia for
Patients with Cardiovascular Disease. Morgan & Mikhail’s Clinical
Anesthesiology. McGraw-Hill. United States. Hal 418-419.

16