You are on page 1of 30

Kata Penghantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat
menyelesaikan penulisan makalah biologi ini. Terima kasih kami ucapkan kepada Bapak/Ibu selaku
dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu dan kesempatan membimbing dan mengarahkan
dalam penulisan makalah ini. Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih sangat jauh dari
kesempurnaan.Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah kami selanjutnya. Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua,khususnya kami sendiri, Amin.

20 November 2015

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman judul i

Kata pengantar ii

Daftar isi iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Tujuan 1

1.3 Manfaat 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Jaringan Tumbungan 2

a. Jaringan Embrionik 3
b. Jaringan Dewasa 7

2.2 Akar 21

2.3 Batang 23

2.4 Daun 24

2.5 Biji 25

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 29

3.2 Daftar Pustaka 29

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada awal perkembangan tumbuhan, semua sel melakukan pembelahan diri. Akan tetapi, pada
pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya, pembelahan sel menjadi terbatas hanya di bagian khusus
dari tumbuhan. Jaringan khusus tersebut tetap bersifat embrionik dan selalu membelah diri. Jaringan
embrionik ini disebut meristem. Pada dasarnya, pembelahan sel dapat pula berlangsung pada jaringan
lain selain meristem, seperti pada korteks batang, tetapi pembelahannya sangat terbatas. Pada proses
pembelahan, sel-sel meristem akan tumbuh dan mengalami spesialisasi membentuk berbagai macam
jaringan yang tidak lagi mempunyai kemampuan membelah diri. Jaringan inilah jaringan dewasa.

1.2 Tujuan

1. Mengetahui apa pengertian jaringan tumbuhan.

2. Mengetahui macam-macam jaringan.

3. Mengetahui jenis jaringan pada tumbuhan

4. Mengetahui sifat dan fungsi jaringan pada tumbuhan.
1.3 Manfaat

Manfaat mempelajari jaringan timbuhan adalah kita dapat mengetahui macam-macam jaringan
tumbuhan dan fungsinya, dapat mendeteksi ikatan pembuluh batang pada tumbuhan.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Jaringan Tumbuhan

Gambar 1. Jaringan pada tumbuhan

Jaringan tumbuhan adalah kumpulan sel-sel yang mempunyai struktur dan fungsi yang sama serta
mengadakan hubungan dan koordinasi satu dengan yang lainya yang mendukun pertumbuhan pada
tumbuhan (Mukhtar, 1992). Jaringan adalah kumpulan sel-sel yang berhubungan erat satu sama lain dan
mempunyai struktur dan fungsi yang sama. Tumbuhan berpembuluh matang dapat dibedakan menjadi
beberapa tipe yang semua dikelompokkan menjadi jaringan (Kimball, 1992). Jaringan adalah kumpulan
struktur, fungsi, cara pertumbuhan, dan cara perkembangan (Brotowidjoyo, 1989).

Jaringan didefinisikan sebagai kelompok sel yang memiliki fungsi, asal, dan struktur yang sama. Jaringan
secara khusus dalam ilmu histologi. Dalam arti sempit, pengertia jaringan tumbuhan adalah apabila sel-
sel berkumpul pada tumbuhan. Jaringan sering dikatan sebagai sekumpulan sel-sel yang masing-masing
selnya aktif dalam segala proses hidupnya, yaitu aktif berfotosintesis, aktif mengadakan metabolisme,
aktif berkembang biak.

Tumbuhan perkembangannya, semua sel-sel tumbuhan melakukan pembelahan diri, tetapi degan
adanya pertumbuhan dan perkembangan lebih lanjut, pembelahan sel tumbuhan menjadi terbatas
dibagian khusus dari tumbuhan. Jaringan ini tetap bersifat embrionik dan selalu membelah diri.
Tumbuhan embrionik tumbuhan disebut meristem. Pembelahan sel pada dasarnya dapat berlangsung
pada jaringan selain meristem, contohnya pada jaringan korteks batang, namun jumlah pembelahan ini
sangat terbatas.

Sel-sel meristem tumbuhan akan tumbuh dan mengalami spesialisasi secara morfologi dan fisiologi
membentuk berbagai macam jaringan dan tidak mempunyai kemampuan untuk membelah diri, jaringan
ini disebut jaringan dewasa.

Macam-Macam Jaringan Pada Tumbuhan

a. Jaringan Embrionik (Meristem) Tumbuhan

Gambar 2. Jaringan Embrionik (Meristem) Tumbuhan
Jaringan meristem adalah jaringan yang disusun oleh jaringan yang masih muda. Jaringan meristem
terdiri dari sekelompok sel yang tetap dalam fase pembelahan. berfungsi sebagai pembelahan, dan
terletak pada titik tumbuh akar dan titik tumbuh batang. Jaringan meristem mempunyai sifat-sifat
sebagai berikut:

1). Terdiri dari sel-sel muda dalam fase pembelahan dan pertumbuhan

2). Biasanya tidak ditemukan adanya ruang antar sel diantara sel-sel meristem

3). Sel-selnya bisa berbentuk bulat, lonjong, atau poligonal dengan dinding sel yang tipis

4). Masing-masing sel mengandung banyak sitoplasma dan mengandung satu atau lebih inti sel ciri-ciri
jaringan meristem sebagai berikut:

1). Memiliki dinding sel yang tipis,

2). Bentuk selnya isodiametris,

3). Kaya akan protoplasma,

4). Tidak mengandung makanan cadangan,

5). Vakuolanya sangat kecil atau mungkin tidak ada,

6). Ukuran selnya kecil,

7). Mempunyai nukleus yang relatif besar,

8). Banyak mengandung sitoplasma,

9). Selnya berbentuk kubus.

Jaringan Meristem tumbuhan dikelompokkan berdasarkan berbagai kiteria yaitu posisinya dalam tubuh
tumbuhan, asal-usulnya, jaringan tumbuhan yang dihasilkan, strukturnya, dan fungsi.

Berdasarkan letaknya dalam tubuh tumbuhan, jaringan meristem dibedakan menjadi:

1). Meristem apikal, terdapat di ujung pucuk utama dan pucuk lateral serta ujung akar,

2). Meristem interkalar, terdapat di antara jaringan dewasa, contohnya: meristem pada pangkal ruas
tumbuhan anggota suku rumput-rumputan

3). Meristem lateral, terletak sejajar dengan permukaan organ tempat ditemukannya, contohnya:
kambium dan kambium gabus (felogen).
Gambar 3. Meristem apical, Meristem interkalar, Meristem lateral

Berdasarkan asal-usulnya, meristem dikelompokkan menjadi:

1). Promeristem adalah jaringan meristem yang telah ada ketika tumbuhan masih berada dalam masa
embrional.

2). Meristem primer adalah sel-selnya berkembang langsung dari sel-sel embrionik (meristem apikal),
Meristem primer terdapat misalnya pada kuncup ujung batang dan ujung akar. Meristem primer
menyebabkan pertumbuhan primer pada tumbuhan. Pertumbuhan primer memungkinkan akar dan
batang bertambah panjang. Dengan demikian, tumbuhan bertambah tinggi.

3). Meristem sekunder adalah apabila sel-selnya berkembang dan jaringan dewasa yang sudah
mengalami deferensiasi. Contohnya kambium dan kambium gabus (felogen).

Gambar 4. Macam-Macam Jaringan Meristem
Jaringan meristem primer berasal dan sel-sel initial yang disebut promeristem, yang berdasarkan teori
yang dikemukakan oleh Haberlandr akan berkembang menjadi protoderm adalah jaringan yang akan
menjadi epidermis adalah prokambium bagian yang dibentuk untuk menjadi jaringan dasar, dan
Prokambium adalah jaringan yang dibentuk untuk menjadi stele (silinder pusat). dan meristem dasar.

Protoderm akan berdeferensiasi menjadi jaringan epidermis, prokambium akan berdeferensiasi menjadi
sistem jaringan pengankut, sedangkan meristem dasar akan berkembang menjadi parenkim (jaringan
dasar). Hanstein membagi ujung akar menjadi tiga daerah yaitu:

1). Dermatogen, akan berkembang menjadi epidermis,

2). Periblem, akan berkembang menjadi korteks, dan

3) Plerom akan berkembang menjadi stele.
Gambar 5. Dermatogen- Epidermis, Periblem- Korteks, Plerom- Stele.

Sementara, schmidt membagi ujung batang menjadi dua bagian yaitu korpus dan tunika. Korpus
merupakan bagian pusat dan titik tumbuh. Daerah ini mempunyai area yang luas dan sel-selnya relatif
besar. Sel-sel daerah korpus akan membelah secara tak beraturan. Tunika merupakan bagian paling luar
dan titik tumbuh, terdiri dari satu atau beberapa lapis sel, dengan sel-selnya relatif lebih kecil dan
mengalami pembelahan ke samping (ke arah lateral).

Jaringan meristem sekunder tumbuhan sel-sel dewasa yang berubah keadaannya menjadi
meristematik(jaringan pertumbuhan dan lokasi pembelahan sel). Sel-sel meristem sekunder tumbuhan
memiliki bentuk pipih atau prisma yang di bagian tengahnya terdapat vakuola yang besar contohnya
adalah kambium dan kambium gabus. Kambium dapat kita temukan di dalam batang dan akar dari
tumbuhan dan kambium gabus terdapat pada kulit tumbuhan dan dapat membentuk jaringan gabus
yang tidak dapat dilalui air, sel-sel gabus umumnya bersifat mati.

b. Jaringan Dewasa
Gambar 6. Jaringan Dewasa

Jaringan Dewasa adalah jaringan yang sudah mengalami diferensiasi. Sifat-sifat jaringan dewasa sebagai
berikut:

1). Tidak mempunyai aktivitas untuk memperbanyak diri.

2). Mempunyai ukuran yang relatif besar dibanding sel-sel meristem.

3). Mempunyai vakuola besar, sehingga plasma sel sedikit dan merupakan selapuit yang menempel pada
dinding sel.

4). Kadang-kadang selnya telah mati.

5). Selnya telah mengalami penebalan dinding sesuai dengan fungsinya.

6). Di antara sel-selnya, dijumpai ruang-ruang antar sel.

Terbentuknya ruang antar sel pada tumbuhan tingkat tinggi, dapat diakibat oleh:

1). Sisogen, yaitu sel-sel saling memenuhi sehingga terbentuk ruang diantaranya, terjadi pada sel tangkai
daun teratai (Nymphaea).

2). Lisigen, yaitu ruang antar sel yang terbentuk karena sel beserta isinya larut. Dapat anda temukan
pada ruang minyak daun jeruk (Citrus sp).
3). Sisolisigen, apabila ruang yang terjadi berasal dari larutnya sel tertentu diikuti oleh saling menjauhi
sel sel disekitarnya, misalnya ruang antar protoxilem.

4). Reksigen yaitu ruang antar sel yang terbentu karena sel sel mengalami robekan disebabkan oleh
pertumbuhan yang menarik sel tersebut. Dapat anda lihat pada berkat pengangkut batang jagung (Zea
mays).

Menurut asal meristem, jaringan dewasa pada tumbuhan ada dua macam yaitu jaringan primer dan
jaringan sekunder. Jaringan meristem primer apabila sel sel nya berasal dari meristem primer dan
jaringan sekunder apabila sel sel nya berasal dari meristem sekunder.

Jaringan dewasa penyusun organ tumbuhan tingkat tinggi antara lain jaringan pelindung (epidermis),
jaringan dasar (parenkim), jaringan penyokong (penguat), jaringan pengangkut (vaskuler), dan jaringan
sekretoris.

1. Jaringan Pelindung (epidermis)

Gambar 7. Jaringan Pelindung

Jaringan epidermis adalah jaringan tumbuhan yang merupakan lapisan sel yang berada paling luar, pada
permukaan organ-organ tumbuhan primer seperti akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji. Jaringan
epidermis sering disebut jaringan pelindung. Fungsi Jaringan epidermis sebagai berikut:

1). Melindungi bagian dalam tumbuhan dari segala pengaruh luar yang akan merugikan
pertumbuhannya ,

2). Berperan dalam membatasi penguapan, menyokong, penyerapan, dan penyimpanan air.

Ciri khas sel epidermis sebagai berikut :

1). Tidak memiliki klorofil,

2). Sel-selnya rapat satu sama lain membentuk bangunan padat tanpa ruang antar sel.,

3). Dinding sel epidermis ada yang tipis,

4). Terdiri dari satu lapis,

5). Vakuola besar,

6). Mengandung antosianin,
7). Temukan pada biji dan daun pinus,

8). Dinding luar sel epidermis biasanya mengandung kutin, yaitu senyawa lipid yang mengendap di
antara selulosa penyusun dinding sel sehingga membentuk lapisan khusus di permukaan sel yang
disebut kutikula.

Pada beberapa jenis tumbuhan, epidermis terdiri atas beberapa lapis sel. Hal ini disebabkan karena sel-
sel protoderm membelah berkali-kali secara periklinal (sejajar permukaan) sehingga terjadi epidermis
berlapis banyak. Contoh sel-sel epidermis velamen pada akar anggrek.

Sel-sel epidermis mempuyai bentuk yang bervariasi, misalnya epidermis berbentuk tubular dapat
dijumpai pada helalan daun dikotil dan berbentuk memanjang dijumpai pada helaian daun Monokotil
Pada helaian daun Aloe cristata sel epidermis berbentuk heksagonal- Sel-sel epidermis memiliki
protoplas hidup dan dapat menyimpan berbagai hasil metabolisme.

Sel-sel inisial epidermis sebagian dapat berkembang menjadi alat-alat tambahan yang sering disebut
derivat epidermis bisa juga disebut modifikasi jaringan epidermis, seperti stoma, trikoma, sel kipas.
sistolit, sel silika, dan sel gabus.

a. Stomata

Pengertian Stoma (Jamak: Stomata) adalah lubang atau celah yang terdapat pada epidermis organ
tumbuhan yang berwarna hijau yang dibatasi oleh sel khusus yang disebut sel penutup. Sel penutup
dikelilingi oleh sel sel yang bentuknya sama atau berbeda dengan sel sel epidermis lainnya dan disebut
sebagai sel tetangga.

Sel tetangga adalah sel yang berperan penting dalam perubahan osmotik yang mengatur dalam lebar
celah dan gerakan sel penutup. Sel penutup pada stomata dapat terletak sama tinggi dengan permukaan
epidermis atau panerofor, atau stomata dapat lebih rendah dari permukaan epidermis (kriptofor).
Stomata dapat juga lebih tinggi dari permukaan epidermis yang sering dikatakan sebagai sel penutup
tipe menonjol.

Fungsi stomata sebagi berikut:

1). Sebagai celah pada tumbuhan dalam pertukaran gas dan penguapan pada tumbuhan. Oleh karena itu
stomata terletak pada permukaan daun dan dibawah permukaan daun. Khusus untuk daun mengapung
stomata lebih banyak pada bagian atas permukaan daun, sedangkan pada tumbuhan darat, stomata
lebih banyak terletak pada bagian bawah daun. Hal ini berfungsi dalam mengurangi penguapan,

2). Mengatur pertukaran gas antara Oksigen dan Karbon dioksida pada daun, hal ini diperlukan dalam
mengatur jalur metabolisme seperti fotosintesis dan respirasi anaerobik dalam sel tumbuhan. Apabila
terdapat air pada sel penjaga. Saat sel penjaga "tergenang" oleh air, akan menekuk dan membuka celah
diantaranya. Celah ini yang kemudian disebut sebagai stomata yang memungkinkan terjadinya
pertukaran gas dan air. Saat sel penjaga terpapar asam absisat yang larut dalam selnya dan mengalami
"kekeringan" , celah yang ada akan tertutup karena sel penjaga merapat satu sama lain.

Tipe-tipe Stomata dikelompokkan berdasarkan susunan sel-sel tetangga. Stomata pada tumbuhan
dicotyledooneae dapat dikelompok kan menjadi 4 tipe berdasarkan letak dan jumlah sel tetangganya
yaitu:

1). Tipe anomositik (Ranuculaceae),adalah tipe sel tatangga yang memiliki kesamaan bentuk dan ukuran
dengan sel epidermis disekitarnya.

2). Tipe anisositik (Cruiferae) yatiu sel penutup dikelilingi oleh tiga buah sel yang tidak berukuran sama.

3). Tipe parasitik (Rubiceae), yaitu tipe sel penutup yang didampingi oleh sel tetangga atau lebih dengan
sumbu panjang sel tetangga senga sumbu sel penutup serta celah.

4). Tipe diasitik yaitu tipe stomata yang dikelilingi oleh dua sel tetangga. Dinding dari dua sel tetangga
tegak lurus terhadap sumbu panjang sel penutup serta celah.

Stomata dapat dikelompokkan berdasarkan asal dari sel tetangga dan sel penutupnya. Tipe-tipe stomata
berdasarkan asal sel tetangga dan sel penutup sebagai berikut:

- Mesogen, yaitu kedua sel berasal sama

- Perigen, apabila sel tetangga tidak mempunyai asal yang sama dengan sel penutup

- Mesoperigen, yaitu apabila sel tetngga sedikitnya satu memliki asala yang sama dengan sel penutup

Tipe stomata berdasarkan pada bentuk dan letak penebalan dinding sel penutup serta arah
membukanya stomata

Hal yang perlu diketahui tentang stomata tumbuhan adalah penyebaran stomata. Pada tumbuhan
monokotil, penyebaran stomata tersusun secara longitudinal sedangkan tumbuhan dikotil letak stomata
tidak beraturan.

b. Trikoma

Trikoma (jamak: trikomata) berasal dari sel-sel epidermis, biasanya berbentuk rambut. Ada juga
trikomata yang berbentuk sisik atau duri. Fungsi trikoma bagi tumbuhan sebagai berikut:

1). Mengurangi penguapan

2). Meneruskan rangsang
3). Melindungi tumbuhan dari gangguan hewan

4). Membantu penyebaran biji

5). Membantu penyerbukan bunga

6). Menyerap air dan garam-garam mineral dari dalam tanah.

macam-macam trikoma dibagi dua sebagai berikut:

1). Trikoma Glandular (berkelanjar) adalah trikoma yang dapat menghasilkan sekret. Trikoma glanduler
dapat bersel satu.

biasanya terdiri dari tangkai dan kepala bersel banyak dinamakan koleter. Trikoma seperti ini
ditemukan berkelompok pada tunas muda, dan sekret yang dihasilkannya menjaga tunas dari
kekeringan. Jenis trikoma kelenjar lain adalah kelenjar cerna yang terdapat pada tumbuhan pemakan
serangga sepertiNephenthes. Tumbuhan yang memiliki trikoma glanduler, contohnya tembakau
(Nicotiana tabacum) terletak pada daun. Macam-macam trikoma galnduler antara lain:

a). Trikoma hidatoda, terdiri atas sel tangkai dan beberapa sel kepala, serta mengeluarkan larutan yang
berisi asam organik.

b). Kelenjar madu, berupa rambut bersel satu atau lebih dengan plasma yang kental dan mampu
mengeluarkan madu ke permukaan sel permukaan sel.

c). Kelenjar garam terdiri atas sebuah sel kelenjar besar dengan tangkai yang pendek.

d). Rambut gatal, berupa sel tunggal dengan pangkal berbentuk kantong dan ujung runcing. Isi sel
menyebabkan rasa gatal.

1). Trikoma Nonglanduler (tidak berkelenjar) adalah trikoma yang tidak menghasilkan sekret. Macam-
macam trikoma nonglandular antara lain:

a). Rambut sisik yang memipih dan bersel banyak, misalnya pada daun durian(Durio zibethinus)

b). Rambut bercabang bersel banyak. Bentuknya dapat seperti bintang, misalnya pada daun waru
(Hibiscus tiliaceus)

c). Rambut akar merupakan pemanjangan sel epidermis dalam bidang yang tegak lurus permukaan akar
seperti jarum. Sel bebrbentuk bulat panjang, mencapai panjang 80 – 1500 mikrometer dengan garis
tengah 5 – 17 mikrometer. rambut akar memiliki vakuola besar dan biasanya berdinding tipis.

c. Sel kipas (buliform cell)
Sel-sel ini berukuran lebih besar dibandingkan dengan sel epidermis, berbentuk seperti kipas, berdinding
tipis dan mempunyai vakuola yang besar. Dindingnya terdiri dari bahan-bahan selulosa dan pektin,
dinding paling luar mengandung kutin dan diselubungi kutikula. Plasma sel berupa selaput yang melekat
pada dinding sel dan berfungsi menyimpan air. Jika udara panas, air dalam sel kipas akan menguap, sel
kipas akan mengerut sehingga luas permukaan atas daun akan lebih kecil dari luas permukaan bawah.
Oleh karenanya daun akan menggulung dan akan mengurangi penguapan lebih lanjut

d. Lenti Sel

Pada beberapa tumbuhan di permukaan batangnya ada bintik-bintik yang disebut lenti sel. Terjadinya
lenti sel adalah apabila pada permukaan batang dulu dijumpai stoma, setelah stoma tidak berfungsi lagi
maka stoma akan berubah fungsi menjadi lenti sel (pori gabus). Karena lubang stoma diisi oleh sel
koripeloid, yaitu sel-sel yang dindingnya mengandung zat gabus. Sel gabus tersebut berasal dari
kambium gabus yang tidak membentuk felem ke arah luar tetapi membentuk koripeloid. Semakin lama
semakin banyak sehingga dan dapat tersembur keluar, sehingga dari luar tampak sebagai bintik-bintik.

e. Velamen

Velamen merupakan beberapa jenis sel mati yang terdapat disebelah dalam epidermis akar gantung
atau akar udara pada tanaman Anggrek. Velamen berfungsi untuk menyimpan air atau menyimpan
udara.Epidermis beserta velamen ada yang menyatakan sebagai epidermis ganda atau multiple
epidermis.

2. Jaringan Dasar (parenkim)
Gambar 8. Jaringan Dasar

Jaringan parenkim adalah jaringan tumbuhan yang terdapat hampir seluruh organ tumbuhan
membentuk jaringan. Jaringan parenkim memiliki struktur serta fisiologis yang bermacam macam.
Jaringan parenkim masih melakukan segala kegiatan proses fisiologis, hal ini berbeda dengan jaringan
tumbuhan yang lain khususnya jaringan yang dewasa (tua).

Jaringan parenkim disebut juga jaringan dasar tumbuhan karena dijumpai hampir di setiap bagian
tumbuhan. Contohnya pada batang dan akar parenkim ditemukan diantara jaringan epidermis dan
pembuluh angkut, sebagai korteks.

Ciri-ciri jaringan parenkim sebagai berikut:

1. memiliki bentuk bervariasi,

2. banyak terdapat vakuola,

3. dinding sel tipis,

4. ukuran sel besar dan hidup,

5. banyak terdapat ruang antar sel.

6. jaringan parenkim dapat membelah, baik secara meristematik maupun secara embrional.

Berdasarkan fungsinya, jaringan parenkim pada tumbuhan dibedakan menjadi 5 macam yaitu:
1. Jaringan Parenkim air. Jaringan ini dijumpai pada tumbuhan xerofit atau epifit sebagai penimbun air
untuk melewati musim kering.

2. Jaringan Parenkim asimilasi. Jaringan parenkim ini berfungsi dalam proses pembuatan makanan,
terletak pada bagian tumbuhan yang berwarna hijau.

3. Jaringan Parenkim udara. Jaringan ini berfungsi dalam mengapungkan tumbuhan. Jaringan parenkin
ini dapat ditemukan pada tangkai daun Canna sp. sebagai tempat menyimpan udara.

4. Jaringan Parenkim penimbun. Jaringan ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan
makanan. Jaringan parenkim jenis ini dapat anda temukan pada akar rimpang, empulur batang, umbi,
dan umbi lapis. Cadangan makanan dalam jaringan parenkim ini disimpan dalam bentuk gula, tepung,
protein, dan lemak.

5. Jaringan Parenkim angkut. Jaringan in berfungsi sebagai pembuluh angkut baik itu makanan maupun
air. Hal ini terjadi karena sel selnya memanjang menurut arah pengangkutan.

Jaringan parenkim tumbuhan dapat juga dibedakan berdasarkan bentuknya. Berikut pembagiannya:

1. Jaringan parenkim palisade. Merupakan jaringan yang menyusun mesofil pada daun. Jaringan
parenkim ini dapat juga ditemukan pada biji dengan bentu sel panjang, tegak dan mengandung banyak
kloroplas.

2. Jaringan Parenkim lipatan. Jaringan ini dijumpai pada mesofil daun pinus dan padi. Terjadi perlipatan
ke arah dalam pada bagian dinding sel dan mengandung banyak kloroplas.

3. Jaringan parenkim bunga karang. Jaringan ini menyusun mesofil daun dan ukurannya tidak beraturan
serta ruang antar ser yang lebar.

4. Jaringan parenkim bintang (aktinenkim). Jaringan ini dapat ditemukan pada tangkai daun Canna sp.
dengan bentuk seperti bintang bersambungan pada bagian ujung.

3. Jaringan Penyongkong (penguat)
Gambar 9. Jaringan Penyongkon

Jaringan Penguat tumbuhan berfungsi dalam memberikan kekuatan bagi tubuh tumbuhan sehingga
mampu berdiri tegak. Jaringan penguat tumbuhan dibagi atas dua berdasarkan sifat dan bentuknya
yaitu jaringan kolenkim dan jaringan sklerenkim.

1. Jaringan Kolenkim Tumbuhan

Kolenkim adalah jaringan tumbuhan yang berfungsi sebagai jaringan penguat terutama pada organ
organ tumbuhan yang masih aktif membelah dan tumbuh serta berkembang. Jaringan kolenkim
tersusun atas sel sel yang masih hidup.

Jaringan kolenkim tumbuhan memiliki bentuk sel yang sedikit memanjang, dan hanya memiliki dinding
primer dengan penebalan yang tidak teratur yang lunak serta lentur. Hal ini disebabkan karena jaringan
kolenkim tumbuhan tidak mengandung lignin melainkan kloroplas dan tanin.

Jaringan kolenkim tumbuhan dapat dijumpai ada batang, daun, bunga dan buah. Jaringan tumbuhan ini
dapat juga dijumpai pada akar yang terkena matahari. Jaringan kolenkim pada tumbuhan monokotil
(monocotyledoneae) tidak ditemukan jaringan kolenkim apabila telah terjadi pembentukan sklerenkim
sejak tumbuhan masih muda.

Jaringan kolenkim tumbuhan terbagi atas 4 menurut penebalan dinding selnya yaitu kolenkim anguler,
kolenkim lameler, kolenkim tubular, dan kolenkim tipe cincin.

a. Kolenkim sudut ( angular kolenkim)
Penebalan dinding sel kolenkim ini terjadi pada sudut-sudut sel. Pada penampang melintangnya
penebalan ini tampak terjadi pada tempat pertemuannya tiga sel atau lebih.contohnya yang terdapat
pada batang solanum tuberosum.

b. Kolenkim lamela ( lamelar kolenkim)

Penebalan dinding sel terjadi pada dinding tangesial sel.kolenkim lamela terdapat pada korteks batang
Sabucus nigra dan tangkai Cochlearia armoracia.

c. Kolenkim lakuna ( lacunar kolenkim)

Penebalan dinding sel terjadi pada dinding-dinding yang berbatasan dengan ruang antar sel. Terdapat
pada tangkai salvia

d. Kolenkim cincin ( anular kolenkim)

Pengamatan kolenkim cincin dewasa tampak adanya penebalan dinding sel secara terus menerus
sehingga lumen sel akan kehilangan bentuk sudutnya.

2. Jaringan Sklerenkim Tumbuhan

Sklerenkim adalah jaringan penguat tumbuhan yang memiliki dinding sekunder yang tebal, dan
mengandung zat lignin. Jaringan sklerenkim pada tumbuhan memiliki sel sel yang kenyal dan tidak
mengandung protoplas. Dengan kata lain, jaringan sklerenkim tersusun atas sel sel yang telah mati
dengan dinding sel yang tebal. Hal ini membuat mudah untuk menemukan jaringan sklerenkim yaitu
pada bagian tumbuhan yang tidak lagi mengadakan pertumbuhan dan perkembangan.

Jaringan sklerenkim terbagi atas dua yaitu serabut dan sklereid (sel sel batu).

1. Serabut

Serabut terdapat pada bagian yang berbeda dari tubuh tumbuhan yang mungkin terdapat sebagai
idioblas ( pada daun Cycas) tetapi lebih sering berbentuk pita atau silinder kosong yang tidak terputus.

Menurut tempatnya serabut dikelompokan menjadi dua tipe dasar :

1). Serabut xilem
Merupakan bagian terpadu dari xilem dan berkembang dari jaringan meristem yang sama seperti pada
unsur xilem lain. Serabut ini bentuknya sangat beragam, berdasarkan ketebalan dinding, tipe maupun
jumlah noktah.

2). Serabut ekstraxilem

Serabut kormersial di bedakan menjadi dua tipe :

a. Serabut Keras

Serabut keras adalah serabut yang berisi likmin tinggi dan bersrektur kaku.serabut keras ini terdapat
pada monokotil.serabut keras dari monokotil merupakan bahan mentah dalam pembuatan kertas,yaitu
dari Zea mays, Saccharum officinarum dan Stipa tenacissima

b. Serabut lunak

Sersbut lunak ada yang berisi liknin tetapi ada juga yang tidak,fleksibel,dan elastis.sel lunak terdapat
pada dikotil,misalnya pada Linum usitatissimum,Canabis sativa,Bochmeria nivea,Corchorus capsularis (
jute),Hibiscus canabinus ( kenaf), dan Ceiba pentandra ( kapuk).

Serabut juga dikelompokan berdasarkan penggunaannya yaitu :

1). Serabut Tekstil

Digunakan dalam produksi pabrik. Pada industri tekstil,serabut yang terutama di gunakan adalah
serabut kapas dan sejumlah kecil flaks, rami dan hemp.

2). Serabut Cordage

Untuk tali. Pabrik pemintalan biasanya menggunakan jute,kapas, dan hemp. Utnuk mengurangi
peredangan digunakan flaks dan beberapa serabut keras lain

3). Serabut Sikat

Digunakan dalam produksi sikat dan sapu kebayakan dibuat dari serabut Agave,serabut dari batang dan
daun Palmae, dan karangan bunga dari Sorgum vulgare.

4). Serabut Pengisi

Digunakan untuk perkakas rumah misalnya matras,wall plate. Beberapa serabut pengisi antara lain
serabut kapuk, kapas, jute dan serabut dari Tillandsia usneoides , serta beberapa serabut kasar lain.

2. Sklereida ( sel batu)

Terdapat di tempat yang berbeda dalam tubuh tumbuhan, biasanya sklereida merupskan masa yang
keras dan terdapat di dalam jaringan parenkim yang lunak.
Menurut Tschirch ( 1889) sklereida di bedakan menjadi 4 tipe yaitu :

1. Sel batu ( Brakisklereida)

Sel batu berbentuk isodiametris,biasanya terdapat pada floem.korteks dan kulit kayu batang dan daging
buah pir ( Pyrus communis)

2. Makrosklereida

Sklereida yang berbentuk tangkai,sering membentuk lapisan dalam testa dari biji Leguminosae

3. Osteosklereida

Sklereida berbentuk tulang, ujungnya membesar, berongga bahkan sering kali bercabang. Sklereida ini
sering ditemukan dalam kulit biji dan dalam daun dikotil tertentu, misalnya pada kulit biji kacang merah
( Phaseolus vulgaris)

4. Asterosklereida

Sklereida yang bercabang,sering kali berbentuk bintang. Terdapat pada daun teh ( Camellia sinensis)

3. Jaringan Pengangkut

Gambar 10. Jaringan Pengangkut
Jaringan pengangkut pada tumbuhan ada dua yaitu floem dan xilem. Floem terdiri atas buluh tapisan,
sel penggiring dan parenkim floem. Jaringan pengangkut tipe xilem yaitu trakea dan trakeida serta
serabut dan parenkim xilem.

Xilem berfungsi dalam mengangkut mineral dan air dari akar hingga daun. Floem berfungsi mengangkut
hasil fotosintesis dari daun ke bagian organ yang lain seperti batang, akar dan umbi.

1. Floem

Gambar 11. Floem

Floem berfungsi menyalurkan zat makanan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan.
Pada umumnya elemen floem disusun oleh unsur-unsur tapis, sel pengiris, serabut floem, sklereid, dan
parenkima floem. Unsur utama adalah pembuluh tapis dan parenkima floem. Parenkima floem
berfungsi menyimpan cadangan makanan. Persebaran serabut floem sering kali sangat luas dan
berfungsi untuk memberi sokongan pada tubuh tumbuhan.

Pembuluh tapis terdiri atas sel-sel berbentuk silindris dengan diameter 25 µm dan panjang 100-500 µm.
Pembuluh tapis mempunyai sitoplasma tanpa inti. Dinding sel komponen pembuluh tapis tidak berlignin
sehingga lebih tipis daripada trakea. Pembuluh tapis adalah pembuluh angkut utama pada jaringan
floem. Pembuluh ini bersambungan dan meluas dari pangkal sampai ke ujung tumbuhan.

2. Xilem
Gambar 12. xilem

Xilem berfungsi untuk menyalurkan air dan mineral dari akar ke daun. Elemen xilem terdiri dari unsur
pembuluh, serabut xilem, dan parenkima xilem. Unsur pembuluh ada dua, yaitu pembuluh kayu (trakea)
dan trakeid. Trakea dan trakeid merupakan sel mati, tidak memiliki sitoplasma dan hanya tersisa dinding
selnya. Sel-sel tersebut bersambungan sehingga membentuk pembuluh kapiler yang berfungsi sebagai
pengangkut air dan mineral. Oleh karena pembuluh yang membentuk berkas, maka dikatakan sebagai
berkas pembuluh. Diameter xilem bervariasi tergantung pada spesies tumbuhan, tetapi biasanya 20-700
µm. Dinding xilem mengalami penebalan zat lignin.

Trakea merupakan bagian yang terpenting pada xilem tumbuhan bunga, trakea terdiri atas sel-sel
berbentuk tabung yang berdinding tebal karena adanya lapisan selulosa sekunder dan diperkuat lignin,
sebagai bahan pengikat. Diameter trakea biasanya lebih besar daripada diameter trakeid. Ujung selnya
yang terbuka disebut perforasi atau lempeng perforasi. Trakea hanya terdapat pada Angiospermae
(tumbuhan berbiji tertutup) dan tidak terdapat pada Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka) kecuali
anggota Gnetaceae (golongan melinjo).

Bagian trakeid dapat dibedakan dari trakea karena ukurannya lebih kecil, walaupun dinding selnya juga
tebal dan berkayu. Rata-rata diameter trakeid ialah 30 µm dan panjangnya mencapai beberapa
milimeter. Trakeid terdapat pada semua tumbuhan Spermatophyta. Pada ujung sel trakeid terdapat
lubang seperti saringan.

2.2 Organ Pada Tumbuhan
Tumbuhan memiliki bermacam-macam organ yang tersusun atas beberapa jaringan tumbuhan.
Berdasarkan fungsinya, organ pada tumbuhan dibedakan menjadi organ sebagai alat hara (organa
nutritiaum), dan organ reproduksi (organa reproductikum). Alat hara meliputi akar, batang, dan daun,
sedangkan organ reproduksi berupa putik dan benang sari yang terdapat pada bunga.

Gambar 13. Organ Pada Tumbuhan

1, Akar

Akar merupakan organ tumbuhan yang penting karena berperan sebagai alat pencengkeram pada
tanah/penguat dan sebagai alat penyerap air. Akar memiliki bagian pelindung berupa tudung akar yang
tidak dimiliki oleh organ lain. Berdasarkan asal terbentuknya, akar dapat dibedakan atas akar primer dan
akar adventitif. Akar primer terbentuk dari bagian ujung embrio dan dari perisikel, sedangkan akar
adventitif berkembang dari akar yang telah dewasa selain dari perisikel atau keluar dari organ lain
seperti dari daun dan batang.

Pada kebanyakan tumbuhan dikotil dan gimnospermae, sistem perakaran berupa akar tunggang yang
memiliki satu akar pokok yang besar, sedangkan pada tumbuhan monokotil berupa akar serabut, yang
berupa rambut dan berukuran relatif sama.

Pada irisan membujur akar akan terlihat bagian-bagian akar, mulai dari yang paling ujung disebut ujung
akar. Ujung akar ditutupi oleh tudung akar (kaliptra). Kemudian dari ujung akar ke arah atas, terdapat
zona pembelahan sel, pada daerah ini terdapat meristem apikal dan turunannya yang disebut meristem
primer. Menuju ke atas, zona pembelahan menyatu dengan zona pemanjangan. Pada zona
pemanjangan, sel-sel memanjang sampai sepuluh kali panjang semula, pemanjangan sel ini berguna
untuk mendorong ujung akar (termasuk meristem) ke depan. Semakin keatas , zona pemanjangan akan
bergabung dengan zona pematangan. Pada zona pematangan, sel – sel jaringan akar menyelesaikan dan
menyempurnakan diferensiasinya.

Gambar 14. Akar

Apabila kita membuat irisan melintang akar muda, maka akan terlihat struktur sel dan jaringan
penyusun akar, berturut – turut, yaitu epidermis, korteks, endodermis dan stele (silinder pusat).

Lapisan terluar dari akar adalah epidermis yang tersusun atas sel –sel yang tersusun rapat satu sama lain
tanpa ruang antar sel, berdinding tipis, dan memanjang, sejajar sumbu akar. Dinding sel epidermis
tersusun dari bahan selulosa dan pectin yang menyerap air. Epidermis akar biasanya satu lapis.
Permukaan sel epidermis sebelah luar membentuk tonjolan yaitu berupa rambut atau bulu akar.

Korteks akar terutama terdiri atas jaringan parenkim yang relatif renggang dan sedikit jaringan
penyokongnya. Di sebelah dalam lapisan epidermis sering terdapat selapis atau beberapa lapis sel
membentuk jaringan padat yang disebut hipodermis atau eksodermis yang dinding selnya mengandung
suberin dan lignin.
Di sebelah dalam korteks terdapat selapis sel yang bersambung membentuk silinder dan memisahkan
korteks dari slinder berkas pengangkut di sebelah dalamnya. Lapisan ini disebut endodermis. Sel-sel
endodermis membentuk pita kaspari, yaitu penebalan dari suberin dan lignin pada sisi radial. Akibat
adanya penebalan ini, larutan tidak bisa menembusnya.

Silinder pusat akar (stele) tersusun atas berkas pengangkut. Bagian ini dipisahkan dari korteks oleh
endodermis. Bagian luar yang berbatasan dengan endodermis adalah perisikel yang tersusun atas sel-sel
parenkim berdinding tipis dan mempunyai potensi meristematik, sehingga sering disebut sebagai
perikambium. Peranan perisikel terutama sebagai awal terbentuknya cabang akar tempat terjadinya
kambium vaskuler, kambium gabus dan berperan dalam proses penebalan akar. Sebelah dalam perisikel
terdapat berkas pengangkut xilem dan floem. Xilem pada tumbuhan dikotil mengumpul di bagian
tengah silinder pusat, tersusun seperti bentuk bintang, sedangkan pada tumbuhan monokotil, xylem dan
floem letaknya berselang seling.

2. Batang

Pada tumbuhan dikotil, berkas pembuluh tersusun dalam suatu lingkaran sehingga korteks terdapat di
bagian luar lingkaran dan empulur di bagian dalam lingkaran. Pada tumbuhan dikotil ini, xilem tersusun
di bagian dalam lingkaran. Di antara floem dan xilem terdapat kambium yang menyebabkan
pertumbuhan sekunder pada tumbuhan dikotil.

Kambium merupakan jaringan meristem lateral yang berfungsi dalam pertumbuhan sekunder.

Dua macam kambium yang menghasilkan jaringan sekunder tumbuhan dikotil, yaitu:

a) kambium pembuluh (vascular cambium) yairg menghasilkan xylem sekunder (kayu) ke arah dalam dan
floem sekunder ke arah luar,

b) kambium gabus (cork cambium) yang menghasilkan suatu penutup keras dan tebal yang
menggantikan epidermis pada batang dan akar.

Empulur batang tersusun atas jaringan parenkim yang mungkin mengandung kloroplas. Empulur
mempunyai ruang antarsel yang nyata dan tersusun atas perikambium yang disebut perisikel.
Perikambium dibatasi oleh floem primer di sebelah dalam dan endodermis di sebelah luarnya. Jari-jari
empulur berupa pita radier yang terdiri atas sederet sel, mulai dari empulur sampai dengan floem.
Fungsi utamanya adalah melangsungkan pengangkutan makanan ke arah radial. Pada tumbuhan dikotil,
jari-jari empulur tampak berupa garis-garis halus yang membentuk lingkaran tahun.
Gambar 15. Batang

3. Daun

Struktur morfologi daun pada setiap jenis tumbuhan berbeda-beda. Oleh karena itu, struktur morfologi
daun dapat digunakan untuk mengklasifikasikan jenis-jenis tumbuhan. Struktur daun dapat dilihat dari:
bentuk tulang daun (menvirip, menjari, melengkung, dan sejajar); bangun daun atau bentuk helaian
daun (bulat, lanset, jorong, memanjang, perisai, jantung, dan bulat telur); tepi daun (bergerigi, beringgit,
berombak, bergiri, dan rata); bentuk ujung daun (runcing,meruncing, tumpul, membulat, rompang/
terbelah, dan berduri); bentuk pangkal daun (runcing, meruncing, tumpul, membulat, rata, dan
berlekuk); dan prmukaan (licin, kasap, berkerut, berbulu, dan bersisik).

Tidak hanya sebagai tempat fotosintesis, daun juga berfungsi untuk transpirasi (penguapan air) dan
respirasi (pernapasan). Bila kita mengamati preparat irisan melintang daun, maka akan kita jumpai
bagian-bagian penyusun struktur anatomi daun yang sesuai dengan fungsi daun tersebut. Daun tersusun
atas jaringan epidermis, jaringan parenkim, dan jaringan pengangkut.

Epidermis berfungsi sebagai pelindung jaringan ini memiliki struktur khusus sebagai adaptasi untuk
berkangsungnya proses fotosintesis, yaitu adanya stoma yang dalam jumlah banyak disebut stomata.
Stomata tersusun atas sel penutup dan sel tetangga yang banyak mengandung kloroplas. Adanya
stomata memungkinkan terjadinya pertukaran gas antara sel – sel fotosintetik dibagian dalam daun
dengan udara disekitarnya. Stomata juga merupakan jalan keluarnya uap air.

Bagian tengah dari struktur anatomi daun juga dapat kita jumpai jaringan parenkim yang menyusun
mesofil daun dan terdiri atas parenkim palisade (parenkim pagar / jaringan tiang) dan parenkim spons
(parenkim bunga karang. Parenkim palisade terdiri atas sel – sel yang memanjang di sel –sel bulat dan
pada bagian ini banyak terdapat ruang antar sel sebagai tempat pertukaran gas selama fotosintesis
berlangsung.
Hamper semua daun memiliki berkas pengangkut yang tampak sebagai tulang daun atau urat daun.
Tulang daun ini berisi pembuluh angkut xylem dan floem. Berkas pengangkut pada daun berfungsi untuk
mengangkut air dan hasil fotosintesis pada daun.

Gambar 16. Daun

4. BIJI

Fase generatif pada tumbuhan diawali dengan proses penyerbukan dan kemudian proses pembuahan.
Pada proses pembuahan bakal buah tumbuh menjadi buah dan bakal biji tumbuh menjadi biji. Di dalam
biji terdapat lembaga atau calon tumbuhan baru. Biji merupakan alat perkembangbiakan utama pada
tumbuhan biji. Biji sendiri terdiri dari beberapa bagian. Apa saja bagian-bagian biji tersebut? Berikut
pembahasannya!

Bagian-Bagian Biji

Biji atau semen merupakan bakal biji dari tumbuhan yang terbentuk setelah proses penyerbukan dan
pembuahan. Biji merupakan calon tumbuhan baru yang akan tumbuh jika kondisi lingkungan
mendukung. Umumnya biji pada tumbuhan terdiri dari tiga bagian. Bagian-bagian biji tersebut yaitu kulit
biji, tali pusar, dan inti biji.
Gambar 17. Biji

1. Kulit biji (spermodermis)

Bagian-bagian biji yang pertama adalah kulit biji. Kulit biji atau spermodermis berasal dari selaput bakal
biji (integumentum). Umumnya kulit biji pada tumbuhan biji tertutup (Angiospermae) terdiri dari dua
lapisan, yaitu:

• Lapisan kulit luar (testa). Lapisan ini berfungsi sebagai pelindung utama dari bagian dalam biji. Lapisan
ini mempunyai bentuk yang bervariatif, ada yang tipis, kaku seperti kulit, ada juga yang keras seperti
kayu atau batu.

• Lapisan kulit dalam (tegmen). Lapisan ini lebih tipis seperti selapur dan lebih dikenal dengan kulit ari.

Pada tumbuhan biji telanjang (Gymnospermae) terdapat tiga lapisan kulit biji, yaitu:

• Kulit luar (sarcotesta). Kulit yang tebal dan berdaging serta mengalami perubahan warna dari muda
hingga tua.

• Kulit tengah (scleroresta). Kulit yang kuat dan keras, berkayu dan menyerupai kulit dalam
(endocarpium) pada buah batu

• Kulit dalam (endotesta). Lapisan kulit ini biasanya melekat pada bagian bagian biji dan berbentuk
seperti selaput tipis.

2. Tali pusar (funiculus)
Tali pusar atau funiculus adalah bagian bagian biji berbentuk menyerupai tangkai yang menghubungkan
biji dengan tembui. Bila biji masak, biasanya biji akan terlepas dari tali pusarnya ini, dan pada biji hanya
tampak bekasnya saja, atau yang lebih dikenal dengan istilah pusar biji.

3. Inti biji (nucleus seminis)

Bagian-bagian biji yang terakhir adalah inti biji. Inti biji merupakan bagian inti pada biji yang dikelilingi
oleh kulit biji. Inti biji terdiri dari:

a. Lembaga (embrio)

Lembaga merupakan calon individu baru yang akan tumbuh dari biji pada kondisi lingkungan yang
menguntungkan. Pada lembaga ini terdapat calon akar (radicula), daun lembaga (kotiledon), batang
lembaga (cauliculus), dan putih lembaga (albumen).

b. Calon akar (radicula)

Calon akar yang berasal dari biji disebut dengan akar lembaga. Pada tumbuhan dikotil, akar ini akan
tumbuh terus hingga membentuk akar tunggang.

c. Daun lembaga (kotiledon)

Daun lembaga merupakan daun pertama yang tumbuh pada saat perkecambahan setelah keluarnya
akar lembaga. Fungsi dari daun lembaga ini adalah sebagai tempat penimbunan makanan, sebagai alat
untuk melakukan fotosintesis, dan sebagai alat penghisap makanan dari putik lembaga untuk lembaga.

d. Batang lembaga (cauliculus)

Berdasarkan posisinya, batang lembaga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu ruas batang lembaga yang
terletak di atas daun lembaga (internodium epicotylum) dan ruas batang lembaga yang terletak di
bawah daun lembaga (internodium hypocotylum).

e. Putih lembaga (albumen)

Putih lembaga merupakan bagian bagian biji yang berisi cadangan makanan untuk waktu awal
pertumbuhan (pada saat perkecambahan) sebelum dapat membuat makanannya sendiri. Tidak semua
tumbuhan berbiji mempunyai putih lembaga. Misalnya saja pada tumbuhan polong-polongan
(Leguminosae), cadangan makanan disimpan pada daun lembaga (kotiledon).

Berdasarkan jaringan yang menjadi tempat penimbunan cadangan makanan, keberadaan putih lembaga
dapat dibedakan menjadi:

• Putih lembaga dalam (endospermium). Biji dengan putih lembaga dalam biasanya terdapat pada
tumbuhan biji tertutup (Angiospermae). Jaringan ini terdiri dari sel-sel yang berasal dari inti kandung
lembaga sekunder yang setelah dibuahi akan terbelah-belah menjadi jaringan penimbun makanan.
Misalnya biji pada jagung (Zea mays L.), rerumputan (Graminae)
• Putih lembaga luar (perispermium). Bagian ini berasal dari bagian luar biji di luar kandung lembaga.
Misalnya biji pada lada (Piper nigrum L.)

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Struktur utama pada tumbuhan adalah akar, batang, daun, dan bunga/biji. Yang mana organ-organ
tersebut tersusun atas jaringan-jaringan, yaitu jaringan meristem dan jaringan dewasa. Jaringan
meristem adalah jaringan yang selalu mengalami pembelahan sel membentuk jaringan lain pada tubuh
tumbuhan. Jaringan dewasa adalah jaringan yang sudah tidak mengalami pembelahan sel, dan sudah
mengalami diferensiasi dan fungsi tertentu pada tubuh tumbuhan. Jaringan dewasa terbagi menjadi
tiga, yaitu jaringan pelindung (epidermis), jaringan dasar (parenkim), jaringan penyokong, dan jaringan
pengangkut (vaskuler).

3.2 Daftar Fustaka

Prof.Dr.Sri Mulyani E.S, 2006. Anatomi Tumbuhan, Yogyakarta: Kenisius Yogyakarta

Dra.Turrini Yudiarti, MSc, 2004. Buku Ajar Biologi, Semarang: UNDIP Press

Prof.Dr.Issirep Sumardi, 2014. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan, Depok: Penebar Swadaya

Hidayat, esteti b. Anatomi tumbuhan berbiji. Bandung. Itb

Soerokoesoemo,wibisono,dkk. 1993. Anatomi dan fisiologi tumbuhan. Jakarta. Universitas terbuka

Campbell, N.A., J.B. Reece, & L. G. Mitchell. 2005. Biologi. Edisi ke-5. Terj. Dari: Biology. 5th ed. oleh
Manulu, W. Jakarta: Erlangga. Mader, S.S. 2004. Biology. Boston: McGraw-Hill. Pratiwi, D.A., dkk. 2006,
Biologi. Jakarta: Erlangga.