You are on page 1of 12

Tujuan dan Visi Misi Dakwah Ditinjau dari Hadits Nabi

Muhammad SAW

Oleh: Sovie Dina Kumala
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Moralitas umat semakin hari semakin merosot. Problematika masyarakat modern
semakin menumpuk sejalan dengan tuntutan hidup yang kian kompleks. Baik menyangkut
sosial ekomomi, budaya, politik maupun sosial keamanan.
Dalam masalah ekonomi misalnya, budaya masyarakat cenderung liberal (bebas), kurang
memperhatikan aspek halal-haram. Padahal dampak dari barang haram ini bisa
mempengaruhi pola kehidupan seseorang. Begitu pula di sektor budaya dan politik, semakin
menjauhkan individu muslim terhadap aturan agama.
Maka dari itu, Islam memberikan penekanan, betapa pentingnya gerakan dakwah,
menyuruh yang ma’ruf mencegah yang munkar. Setiap invidu muslim memiliki tanggung
jawab dakwah. Tidak ada alasan untuk menghindar dari tugas ini, sebagaimana sabda
Rasulullah SAW: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (H.R Bukhari).
Dakwah merupakan suatu rangkaian kegiatan atau proses, dalam rangka mencapai suatu
tujuan tertentu.1 Tujuan yang dimaksudkan yakni untuk pemberi arah atau pedoman bagi
gerak langkah dakwah, sebab tanpa tujuan yang jelas seluruh aktivitas dakwah akan sia-sia.
Pentingnya menyampaikan pesan dakwah berdasarkan Al-Qur’an dan hadits ini,
berkaitan dengan materi mata kuliah Ilmu Dakwah yang membahas tentang tujuan dan visi
misi dakwah. Maka, penyusun makalah ini akan mengkaji tujuan dan visi misi dakwah yang
terkandung hadits, guna terpahami hakikat dakwah bagi semua kalangan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa tujuan, visi dan misi dakwah dalam hadits?
2. Bagaimana penjelasan hadits terhadap tujuan, visi dan misi dakwah

BAB II

1
Asmuni Syukir, Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983) h. 49
PEMBAHASAN

A. Tujuan Dakwah
Abdul Rosyid Saleh membagi tujuan dakwah menjadi dua bagian, yakni:
1. Tujuan utama dakwah
Tujuan utama dakwah adalah nilai atau hasil akhir yang ingin dicapai atau diperoleh
oleh seluruh tindakan dakwah. Untuk tercapainya tujuan ini, maka semua penyusunan
rencana dan tindakan dakwah harus ditujukan dan diarahkan. Pada intinya, menurut
Abdul Rosyid Saleh, tujuan utama dakwah yaitu terwujudnya kebahagiaan dan
kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat yang diridhai Allah SWT.
2. Tujuan departemental (sebagai perantara)
Tujuan departemental berintikan nilai-nilai yang dapat mendatangkan kebahagiaan
dan kesejahteraan yang diridhai Allah, masing-masing sesuai segi dan bidangnya.

Dengan demikian, tujuan utama dan departemental merupakan dua hal yang berkaitan
dan tidak dapat dipisahkan. Tujuan utama merupakan muara akhir dari tujuan
departemental, sedangkan tujuan departemental merupakan sarana bagi tercapainya
tujuan utama.

Jamaluddin Kafie mengatakan bahwa akhlak seseorang akan membentuk akhlak
masyarakat, negara dan seluruh umat manusia. Maka, menurutnya, membangun akhlak
inilah yang sangat diutamakan dalam dakwah sebagai tujuan utamanya.2

Dari paparan tersebut, maka tujuan dakwah menurut Jamaluddin Kafie:

1. Tujuan hakiki, yakni mengenal, mempercayai, sekaligus mengikuti jalan petunjuk
Tuhan.
2. Tujuan umum, yakni menyeru manusia kepada mengindahkan seruan Alah dan Rasul-
Nya, serta memenuhi panggilan Allah di dunia dan akhirat.
3. Tujuan khusus, yakni dakwah menginginkan dan berusaha bagaimana membentuk
satu tatanan masyarakat Islam yang utuh.3

Didin Hafidhuddin menjelaskan bahwa tujuan dakwah secara umum adalah
mengubah perilaku sasaran dakwah agar menerima ajaran Islam dan mengamalkannya
dalam kehidupan sehari-hari, baik yang bersangkutan dengan masalah pribadi, keluarga,

2
Jamaluddin Kafie, Psikologi Dakwah, (Surabaya: Indah, 1993), hal. 66-67
3
ibid
maupun sosial kemasyarakatan, agar mendapat kebaikan dunia dan akhirat serta terbebas
dari azab neraka.4

Amrullah Ahmad dalam buku Prof Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag memaparkan bahwa
tujuan dakwah yakni untuk mempengaruhi cara merasa, berpikir, bersikap dan bertindak
manusia pada dataran individual dan sosiokultural dalam rangka terwujudnya ajaran
Islam dalam semua segi kehidupan.5

Secara khusus, tujuan dakwah dapat dibedakan menjadi beberapa segi, yakni:

a. Mitra Dakwah
- Tujuan perseorangan, yakni terwujudnya pribadi seorang muslim dengan iman
yang kuat, bersikap sesuai hokum-hukum Allah SWT, dan berakhlak karimah.
- Tujuan untuk keluarga, yakni terbentuknya keluarga bahagia, penuh
ketenteraman antar anggota keluarga.
- Tujuan masyarakat, yaitu terbentuknya masyarakat yang sejahtera dengan nilai-
nilai keislaman.
- Tujuan umat manusia di dunia, yaitu terbentuknya masyarakat di dunia yang
penuh dengan perdamaian, ketenangan, keadilan, persamaan hak dan kewajiban,
saling tolong-menolong, menghormati, serta tidak adanya diskriminasi dan
eksploitasi.
b. Segi Pesan
- Tujuan akidah, tertanamnya akidah yang kuat di setiap hati manusia, sehingga
keyakinan terhadap agama islam tidak lagi tercampur dengan keraguan.
- Tujuan hukum, terbentuknya pribadi muslim yang luhur dengan sifat-sifat yang
terpuji dan bersih dari sifat tercela.6

Tujuan dakwah sebagaimana dikatakan Ahmad Ghasully dan Ra’uf Syalaby tersebut
dapat dirumuskan ke dalam tiga bentuk yaitu:

1. Tujuan Praktis
Tujuan praktis dalam berdakwah merupakan tujuan tahap awal untuk
menyalamatkan umat manusia dari lembah kegelapan dan membawanya ke tempat
yang terang-benderang, dari jalan yang sesat kepada jalan yang lurus, dari lembah

4
Didin Hafidhuddin, Dakwah Aktual, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), h.78
5
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (edisi Revisi), (Jakarta: Kencana Pernanda Media Group, 2009), h. 60
6
Wahyu Ilaihi, MA, Komunikasi Dakwah, (Bandung: PT Remaja Bosdakarya, 2010), h. 39
kemusyrikan dengan segala bentuk kesengsaraan menuju kepada tauhid dan
menjanjikan kebahagiaan.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa secara praktis tujuan awal dakwah
adalah menyelamatkan manusia dari jurang yang gelap (kekafiran) yang
membuatnya tidak bisa melihat segala bentuk kebenaran dan membawanya
ketempat yang terang-benderang (cahaya iman) yang dipantulkan ajaran Islam
sehingga mereka dapat melihat kebenaran.
2. Tujuan Realistis
Tujuan realistis adalah tujuan antara, yakni berupa terlaksananya ajaran Islam
secara keseluruhan dengan cara yang benar dan berdasarkan keimanan, sehingga
terwujud masyarakat yang menjunjung tinggi kehidupan beragama dengan
merealisasikan ajaran Islam secara penuh dan menyeluruh.
3. Tujuan Idealistis
Tujuan idealistis adalah tujuan akhir pelaksanaan dakwah, yaitu terwujudnya
masyarakat muslim yang diidam-idamkan dalam suatu tatanan hidup berbangsa dan
bernegara, adil, makmur, damai dan sejahtera di bawah limpahan rahmat, karunia
dan ampunan Allah SWT.7

Dari paparan di atas, dapat diringkas bahwa tujuan dakwah adalah mengubah
manusia ke jalan yang lurus, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-
Nya sesuai Al-Qur’an dan hadits, sehingga terbentuk pribadi muslim yang baik dan tidak
terjerumus ke jalan yang sesat. Obyek dakwah tidak hanya terbatas kepada umat Islam
saja, tetapi semua manusia bahkan untuk semua alam. Dari sudut mana pun dakwah itu
diarahkan, maka intinya adalah amar makruf nahi mungkar yang bertujuan untuk
mengubah sesuatu yang negatif kepada positif, sebagai upaya merealisasikan
kebahagiaan dunia dan akhirat.

Oleh karena itu seorang da`i harus memahami tujuan dakwah, sehingga segala
kegiatannya benar-benar mengarah kepada tujuan seperti dikemukakan di atas. Seorang
da`i harus yakin akan keberhasilannya, jika ia tidak yakin dapat menyebabkan terjadinya
penyelewengan-penyelewengan di bidang dakwah.

7
Awaludin Pimay, Paradigma Dakwah Humanis: Strategi dan Metode Dakwah Prof. KH. Saifuddin Zuhri, (Semarang:
RaSAIL, 2005), h. 35-38
B. Visi dan Misi Dakwah
Dari pemaparan pengertian dakwah, dasar hukum dakwah, dan tujuan dakwah. Dapat
disimpulkan mengenai visi dan misi dakwah, yakni:
Visi: Terciptanya masyarakat yang bertaqwa
Misi: Menanamkan Islam yang rahmatan lil alamin. Misi Nabi Muhammad SAW yakni
membangun manusia yang mulia
Pada tanggal 17 Ramadhan, malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad yang sedang
berkhalwat di Gua Hira. Malaikat Jibril membawa wahyu Allah SWT yang pertama yaitu
Q.S. Al Alaq ayat 1-5. Artinya; “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS, Al Alaq [96]: 1-5)
Ayat ini menandai pengangkatan Muhammad sebagai Rasul Allah. Setelah
menerima risalah kenabian, Nabi Muhammad mulai mengajarkan ajaran Islam di tengah-
tengah kesesatan masyarakat Arab jahiliyah.
Nabi berdakwah dalam masyarakat yang tidak beradab diliputi kebodohan
(jahiliyah) sebab dalam masyarakat itu tidak mengenal aturan yang mencerminkan
keluhuran budi pekerti atau ajaran yang merfleksikan perlindungan terhadap
kemanusiaan. Sebaliknya, yang berlaku adalah hukum dan budaya layaknya orang
primitif. Masyarakat jahiliah pada masa itu mengukur kemuliaan manusia dengan melihat
sejauhmana kekuatan dan kekayaan meskipun keduanya didapat dengan cara yang dhalim
dan tidak manusiawi tetapi kemudian Islam datang dan Nabi Muhammad secara perlahan
memberi pengertian dan memperbaiki akhlaq mereka sebagaimana sabda beliau:

‫ارنممما بلرعخث ل‬
‫ت للتُامممم ممكَا مررمم الخخلْقا‬

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk memperbaiki akhlak manusia”. (HR.
Ahmad)

Nabi memberi contoh bagaimana cara berbicara, bertindak dan berfikir. Nabi juga
memberi contoh bagaimana cara bergaul yang baik, bagaimana cara berdagang yang
benar dan bagaimana seharusnya bermasyarakat.

Nabi sebagai pembawa risalah ajaran Islam telah mengubah visi dan adat orang Arab
menuju ketauhidan, kemanusiaan dan keluhuran akhlak mulia. Di antara keberhasilan
Nabi adalah merubah perilaku orang jahiliyah menjadi orang beradab, diantaranya ialah
budaya menyudutkan wanita. Kemudian Nabi mengangkat derajat wanita dengan
mengatakan bahwa laki-laki mempunyai kewajiban untuk melindungi. Begitu juga Islam
telah menghilangkan kebiasaan membunuh anak perempuan karena dianggap tidak
mempunyai masa depan.

Lambat laun keadaan masyarakat Arab berubah total menjadi masyarakat yang memiliki
ketinggian akhlak, maka bangsa Arab yang semula terbelakang menjadi sebuah kekuatan
baru sehingga dapat mengalahkan kekuatan Romawi dan Persi.

C. Tujuan dan Visi Misi Dakwah dalam Hadits
Dari pemaparan di atas, maka inti dari tujuan dan visi misi dakwah adalah amar ma`ruf
nahy munkar yang bertujuan untuk mengubah dari manusia dari kegelapan menuju jaan
yang terang-benderang, berikut hadits yang mengandung tujuan visi dan misi dakwah:

‫ي معخن لحمذخيفمةم خبرن اخليمممارن معخن الننبرمي‬ ‫صارر م‬ ‫ار اخلمخن م‬ ‫محندثممنا قلتمخيبمةل محندثممنا معخبلد اخلمعرزيرز خبلن لممحنمرد معخن معخمرروٍ خبرن أمربي معخمرروٍ معخن معخبرد ن‬
‫ال أمخن يمخبمع م‬
‫ث معلمخيلكَخم رعمقاببا‬ ‫ موٍالنرذي نمخفرسي بريمردره لمتمأخلملرنن رباخلممخعلروٍ ر‬:‫ال معلمخيره موٍمسلنمم مقامل‬
‫ف موٍلمتمخنهملوُنن معخن اخللمخنمكَرر أمخوٍ لمليوُرشمكَنن ن‬ ‫صنلىَّ ن‬
‫م‬
‫ث محمسنن محندثممنا معلريي خبلن لحخجرر أمخخبممرمنا إرخسممرعيلل خبلن مجخعفمرر معخن‬
‫ مقامل أملبوُ رعيمسىَّ هممذا محردي ن‬.‫ب لملكَخم‬
‫رمخنهل ثلنم تُامخدلعوُنمهل فمملْ يلخستممجا ل‬
‫معخمرروٍ خبرن أمربي معخمرروٍ برهممذا ا خ رلخسمنارد نمخحموُهل‬

Qutaibah menceritakan kepada kami, Abdul Aziz bin Muhammad menceritakan
kepada kami dari 'Amr bin Abu 'Amrah dari 'Abdullah Al Anshari dari Hudzaifah
bin Al Yaman dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Demi jiwaku yang
berada di tangan-Nya, perintahkanlah oleh kalian kepada yang makruf dan laranglah
dari kemungkaran. Aku khawatir Allah akan mengirimkan adzab kepada kalian semua
karena kemungkaran, kalian kemudian berdoa kepada-Nya, dan akan tetapi tidak
dikabulkan doa kalian.” (HR. at-Tirmidzi, 2169).8
Mengubah Kemungkaran dengan Tangan, Lisan atau Hati

‫ب مقامل أمنوٍلل ممخن قمندمم اخللخ خ‬
‫طبمةم‬ ‫قا خبرن رشمها ر‬ ‫ي محندثممنا لسخفميالن معخن قمخي ر‬
‫س خبرن لمخسلررم معخن م‬
‫طارر ر‬ ‫محندثممنا بلخنمدانر محندثممنا معخبلد النرخحممرن خبلن ممخهرد ي‬
‫ضىَّ مما‬‫ك فممقامل أملبوُ مسرعيرد أمنما هممذا فمقمخد قم م‬ ‫ك مما هلمنالر م‬ ‫ت اليسننةم فممقامل ميا فلملْلن تُالرر م‬ ‫صملْرة ممخرموٍالن فممقامم مرلجنل فممقامل لرممخرموٍامن مخالمخف م‬
‫قمخبمل ال ن‬
‫ال معلمخيره موٍمسلنمم يملقوُلل ممخن مرمأىَ لمخنمكَبرا فمخليلخنركَخرهل بريمردره موٍممخن لمخم يمخستمرطخع فمبرلرمسانرره موٍممخن لمخم يمخستمرطخع‬
‫صنلىَّ ن‬
‫ار م‬‫ت مرلسوُمل ن‬ ‫معلمخيره مسرمخع ل‬
‫ف ا خ رليممارن‬ ‫ك أم خ‬
‫ضمع ل‬ ‫فمبرقمخلبرره موٍمذلر م‬
8
Muhammad Nasiruddin Al-Albani, Shahih Sunan At-Tirmidzi Jilid 2, terj. Ahmad Taufik Abdurrahman, Shofia
Tidjani, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2014)
Bundar menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi, menceritakan kepada
kami, Sufyan dari Qais bin Muslim, dari Thariq bin Syihab dia berkata,
“Orang yang pertama kali mendahulukan khutbah sebelum shalat (id) adalah Marwan.
Lalu ada seseorang yang berdiri dan berkata kepada Marwan, “Engkau telah menyalahi
sunnah.” Marwan berkata, “Wahai Fulan, biarkan saja.” Abu Sa’id lalu berkata, “Apa ini,
ia telah melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Aku pernah mendengar Rasulullah
bersabda, ‘Siapa saja yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaknya ia
mengingkarinya dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya, Jika tidak
mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman’.” (HR. Tirmidzi,
2098)9 Abu Isa berkata; Ini adalah hadits Hasan shahih
Dalam riwayat lain beliau berkata, “Mengubah (mengingkari) dengan tangan bukanlah
dengan pedang dan senjata.”10 Adapun dengan lisan, yakni memberi nasihat, dengan
menggunakan tulisan yang mengajak kepada kebenaran dan membantah syubuhat
(kerancuan) dan segala bentuk kebatilan. Tingkatan terakhir, mengingkari dengan hati,
artinya membenci kemungkaran-kemungkaran tersebut, ini adalah kewajiban yang tidak
gugur atas setiap individu dalam setiap situasi dan kondisi, oleh karena itu barang siapa
yang tidak mengingkari dengan hatinya maka ia akan binasa.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya maksud dari hadits ini adalah:
Tidak tinggal sesudah batas pengingkaran ini (dengan hati) sesuatu yang dikategorikan
sebagai iman sampai seseorang mukmin itu melakukannya, akan tetapi mengingkari
dengan hati merupakan batas terakhir dari keimanan, bukanlah maksudnya, bahwa
barang siapa yang tidak mengingkari hal itu dia tidak memiliki keimanan sama sekali,
oleh karena itu Rasulullah bersabda, “Tidaklah ada sesudah itu”, maka beliau
menjadikan orang-orang yang beriman tiga tingkatan, masing-masing di antara mereka
telah melakukan keimanan yang wajib atasnya, akan tetapi yang pertama (mengingkari
dengan tangan) tatkala ia yang lebih mampu di antara mereka maka yang wajib atasnya
lebih sempurna dari apa yang wajib atas yang kedua (mengingkari dengan lisan), dan
apa yang wajib atas yang kedua lebih sempurna dari apa yang wajib atas yang terakhir,
maka dengan demikian diketahui bahwa manusia bertingkat-tingkat dalam keimanan

9
Ibid, h. 692-693
10
Al Imam Ibnu Muflih Al Maqdisi, Al Adab Asy Syar'iyyah I, (Damaskus: Risalah Alamiyyah), h. 185
yang wajib atas mereka sesuai dengan kemampuannya beserta sampainya khitab
(perintah) kepada mereka.”11
Dalam riwayat Ibnu Majah (2004, II: 502-503: Nomor 4019), Abdullah bin Umar
bercerita, Rasulillah menghadap kami lalu bersabda:
‫ط حتى ينععللننوُا بها إل‬ ‫شةن في ققعوُمم قق ط‬ ‫س إذا اعبتنلليِتنعم بللهنن قوأقنعوُنذ لبانلل أقعن تنعدلرنكوُنهنن لم تقعظقهعر اعلقفالح ق‬
‫شقر اعلنمقهالجلريقن قخعم س‬ ‫يا قمعع ق‬
‫صوُا اعللمعكقيِاقل قواعللميِقزاقن إل أنلخنذوا‬‫ضعوُا ولم يقعنقن ن‬‫سقلفللهعم النلذيقن قم ق‬‫ضعت في أق ع‬ ‫ع التي لم تقنكعن قم ق‬ ‫طانعوُنن قواعلقعوقجا ن‬
‫شا لفيِلهعم ال ن‬
‫فق ق‬
‫طالن عليِهم ولم يقعمنقنعوُا قزقكاةق أقعمقوُالللهعم إل نمنلنعوُا اعلققعطقر من ال ن‬
‫سقمالء قولقعوُقل اعلبققهائلنم لم‬ ‫سعل ق‬
‫شندلة اعلقمنئوُنقلة قوقجعوُلر ال ط‬
‫سلنيِقن قو ل‬
‫لبال س‬
‫ض ما في أقعيلديلهعم وما لم‬
‫ط ا عليِهم قعند ووا من قغعيِلرلهعم فقأ ققخنذوا بقعع ق‬ ‫سلن ق‬
‫سوُللله إل ق‬
‫ال قوقععهقد قر ن‬ ‫ينعمطقنروا ولم يقعنقن ن‬
‫ضوُا قععهقد ن‬
‫ال قويقتققخيِننروا لمنما أقعنقزقل ا إل قجقعقل ا بقأع ق‬
‫سنهعم بقعيِنقنهعم‬ ‫تقعحنكعم أقئلنمتننهعم بللكقتا ل‬
‫ب ن‬

“Wahai sekalian kaum muhajirin, ada lima hal yang apabila kalian diuji dengannya, aku
berlindung kepada Allah Ta'ala jangan sampai kalian: jika perzinahan telah merata. (1)
Tidaklah satu perbuatan keji (zina) yang muncul hingga mereka melakukannya secara
terang-terangan melainkan akan menyebar penyakit tha’un1 dan berbagai penyakit yang
belum pernah muncul di masa sebelum mereka. (2) Tidaklah mereka mengurangi takaran
dan timbangan melainkan mereka akan ditimpa paceklik, kesulitan hidup, dan kezaliman
penguasa terhadap mereka. (3) Tidaklah mereka menahan zakat harta mereka melainkan
akan ditahan pula dari mereka turunnya hujan dari langit. Kalaulah bukan karena
hewan ternak, niscaya hujan tidak akan turun kepada mereka. (4) Tidaklah mereka
membatalkan perjanjian Allah Ta'ala dan Rasul-Nya melainkan Allah lta'alaakan
memberi kekuasaan kepada musuh atas mereka lalu merampas sebagian apa yang
mereka miliki. (5) Tidaklah para pemimpin mereka tidak berhukum dengan kitab Allah l
dan memilah-milah hukum yang diturunkan Allah l melainkan Allah l akan menjadikan
perselisihan di antara mereka sendiri.” (HR. Ibnu Majah no. 4019. Dishahihkan Al-
Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 1/106)

Pemahaman hadits ini berkaitan dengan terjadihnya kemiskinan, kebodohan, kolonisasi,
virus HIV/AIDS di dunia. Seluruhnya memiliki sumber masalah, yaitu kejahatan moral,
ekonomi, sosial, dan hokum. Semua musibah itu akan terjadi berlarut-larut ketika
masyarakat meninggalkan dakwah, dan mengabaikan amar makruf dan nahi mungkar.

11
Ahmad Ibn Taimiyyah, Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam 7, (Beirut: Dar al-Fikr, 1980), h. 427
Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin Hujr, telah mengabarkan kepada kami Isma'il
bin Ja'far dari 'Amr bin Abu 'Amr dengan sanad ini dan dengan hadits semisalnya.

‫اق قوأقعثقنى قعلقعيِله قيا أقطيقها الننا ن‬
‫س إلنننكعم تقعققرنءوقن قهلذله اعليقةق قوتق ق‬
‫ضنعوُنققها قعقلى قغعيِلر‬ ‫ٍ ققاقل أقنبوُ بقعكمر بقععقد أقعن قحلمقد ن‬:‫س‬
‫قععن ققعيِ م‬
ْ{‫ضنل إلقذا اعهتققدعيتنعم‬
‫ضطرنكعم قمعن ق‬ ‫سنكعم قل يق ن‬‫ضلعقها }قعلقعيِنكعم أقعنفن ق‬
‫قمقوُا ل‬
‫ظاللقم فقلقعم يقأعنخنذوا قعقلى يققدعيله أقعو ق‬
‫شقك أقعن‬ ‫س إلقذا قرأقعوا ال ن‬
‫سلنقم يقنقوُنل إلنن الننا ق‬ ‫صنلى ن‬
‫ان قعلقعيِله قو ق‬ ‫ققاقل قععن قخاللمد قوإلننا ق‬
‫سلمععقنا الننبلني ق‬
‫سلنقم يقنقوُنل قما لمعن ققعوُمم ينععقمنل لفيِلهعم‬ ‫صنلى ن‬
‫ان قعلقعيِله قو ق‬ ‫ال ق‬ ‫سوُقل ن‬ ‫ت قر ن‬ ‫شعيِمم قوإلسني ق‬
‫سلمعع ن‬ ‫ب و ققاقل قععمسرو قععن نه ق‬ ‫ان بللعققا م‬‫يقنعنمنهعم ن‬
‫ان لمعنهن بللعققا م‬
‫ب‬ ‫شنك أقعن يقنعنمنهعم ن‬
‫صي ثننم يقعقلدنروقن قعقلى أقعن ينقغيِسنروا ثننم قل ينقغيِسنروا إلنل نيوُ ل‬‫لباعلقمقعا ل‬

Dari Qais, ia berkata, “Setelah memuji Allah dan mengagungkannya, Abu Bakar berkata,
‘Wahai manusia sekalian, sesungguhnya kalian sering membaca firman Allah ini dan
kalian tempatkan pada tempat yang tidak semestinya, “Hai orang-orang yang beriman,
jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila
kamu telah mendapat petunjuk.” (Qs. Al-Maidah [5]: 105)
Sesungguhnya kami telah mendengar Nabi bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang melihat
kezhaliman kemudian ia tidak mencegahnya dengan tangannya sendiri, maka nyaris saja
Allah menimpa adzab kepada mereka semua.’
Dalam sebuah riwayat tersebut: Abu Bakar berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah
bersabda, ‘Tidaklah kemaksiatan dilakukan di sebuah kaum, kemudian mereka
menyadari bahwa mereka mampu untuk mencegahnya, namun mereka tidak
melakukannya, melainkan nyaris saja Allah akan menimpakan adzab kepada mereka
Bersama kaum tersebut’,” (HR. Abu Dawud)12

‫شنك أقعن يقأعتلقي قزقماسن‬‫ف بلنكعم قوبلقزقمامن أقعو نيوُ ل‬ ‫سلنقم ققاقل قكعيِ ق‬ ‫صنلى ن‬
‫ان قعلقعيِله قو ق‬ ‫ال ق‬ ‫سوُقل ن‬ ‫ص أقنن قر ن‬
‫ال عبلن قععملرو عبلن اعلقعا ل‬ ‫قععن قععبلد ن‬
‫س ققعد قملرقجعت نعنهوُندنهعم قوأققماقناتننهعم قواعختقلقنفوُا فققكاننوُا قهقكقذا قو ق‬
‫شبنقك بقعيِقن‬ ‫س لفيِله قغعربقلقةو تقعبققى نحقثالقةس لمعن الننا ل‬
‫ينقغعربقنل الننا ن‬
‫ال ققاقل تقأعنخنذوقن قما تقععلرنفوُقن قوتققذنروقن قما تنعنلكنروقن قوتنعقبلنلوُقن قعقلى أقعملر قخا ن‬
‫صتلنكعم‬ ‫سوُقل ن‬
‫ف بلقنا قيا قر ن‬ ‫أق ق‬
‫صابللعله فقققانلوُا قوقكعيِ ق‬
‫قوتققذنروقن أقعمقر قعانمتلنكعم‬

Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sudah dekat
antara kalian dengan masa (dalam riwayat lain disebutkan: nyaris akan datang kepada
kalian suatu masa) dimana orang-orang yang baik pergi dan tinggallah yang buruk,

12
Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Shahih Sunan Abu Daud Jilid 3, terj. Ahmad Taufik Abdurrahman, Shofia
Tidjani, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2013) h. 57-58
yang tersisa hanya mereka golongan manusia yang buruk perangai. Janji dan amanah
mereka telah hancur, mereka juga saling bersengketa. Mereka akan menjadi seperti ini."
Beliau menjalin antara jari-jemari kedua tangannya. Lantas orang-orang bertanya,
"Bagaimana dengan kondisi kami, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Hendaknya
kalian mengambil hal-hal yang kalian ketahui (kebenarannya), dan menghindari hal-hal
yang kalian ingkari. Hendaknya kalian hanya menerima apa-apa yang menjadi hak
kalian dan meninggalkan apa-apa yang menjadi hak khalayak umum." (HR. Abu Daud)13
Hadist Tentang Larangan Melakukan Kemungkaran
‫ مما رمخن نمبرري بممعثمهل ال رفي ألنمللرة قمخبلرللي ارنل مكللامن لمللهل‬:‫صملىَّ ا لمعلمخيره موٍمسلنمم مقامل‬ ‫ أمنن مرلسخوُمل ار م‬:‫ضمي ال معخنله‬ ‫معخن اخبمن ممخسلعخوُرد مر ر‬
ٍ‫َ مو‬،‫ف يمقلخوُلللخوُمن ممللا مل يمخفمعلللخوُمن‬ ‫َ ثلنم ارننمما تُامخخلل ل‬،‫ب يمأ للخلذخوٍمن برلسننترره موٍيمخقتملدخوٍمن برأ مخمررره‬
‫ف رمخن بمخعردرهخم لخللخوُ ن‬ ‫رمخن النمترره محموُاررييخوُمن موٍام خ‬
‫صمحا ر‬
‫َ موٍممخن مجاهملدهلخم برلرمسارن فمهلموُ لمخؤرمنن موٍممخن مجاهملللدهلخم برقمخلبرللره فمهلللموُ لمللخؤرملن‬،‫َ فمممخن مجاهملدهلخم بريمردره موٍهلموُ لمخؤرمنن‬،‫يمخفمعللخوُمن مما لم يلخؤمملرخوٍمن‬
(‫ك رممن ارلخيممارن محبنةم مخخرمذرل )روٍه مسلم‬
‫س موٍمرامء مذلر م‬
‫لمخي م‬
Dari Ibnu Mas’ud ra. Ia berkata: rasulullah saw bersabda : nabi-nabi yang diutus
sebulumku pasti didampingi sahabat-sahabat yang setia. Mereka mengikuti sunahnya
dan mengerjakan apa yang diperintahkan sesudah mereka, muncullah orang-orang yang
suka berbicara dan tidak suka beramal, mereka membuat sesuatu yang tidak
diperintahkan. Siapa saja yang memerangi mereka dengan tangannya (kekuasaannya),
maka ia adalah orang yang beriman, siapa saja yang memerangi mereka dengan lisan
maka ia adalah orang yang beriman, dan barang siapa yang memerangi dengan hatinya,
maka ia juga orang yang beriman, Selain itu, maka tidak ada lagi iman walaupun
sebesar biji sawi. (HR Muslim)
Perumpamaan Orang yang Mengingkari Kemungkaran

Dari An Nu’man bin Basyir rahiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,

‫َ فممكَامن‬، ‫ضهلخم أمخسفملممها‬‫ضهلخم أمخعلْممها موٍبمخع ل‬ ‫ب بمخع ل‬
‫صا م‬ ‫َ فمأ م م‬، ‫ار موٍاخلموُاقررع رفيمها مكممثمرل قمخوُرم اخستمهملموُا معملىَّ مسرفينمرة‬
‫ممثملل اخلمقائررم معملىَّ لحلدوٍرد ن‬

‫النرذيمن رفىَّ أمخسفملرمها إرمذا اخستمقمخوُا رممن اخلممارء مميروٍا معملىَّ ممخن فمخوُقمهلخم فممقاللوُا لمخوُ أمننا مخمرخقمنا رفىَّ نم ر‬
‫ فمإ رخن‬.‫َ موٍلمخم نلخؤرذ ممخن فمخوُقممنا‬، ‫صيبرمنا مخخربقا‬
‫َ موٍإرخن أممخلذوٍا معملىَّ أمخيرديرهخم نممجخوُا موٍنممجخوُا مجرميبعا‬، ‫يمختلرلكوُهلخم موٍمما أممرالدوٍا هململكَوُا مجرميبعا‬

13
Ibid, h. 59
“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus
dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal.
Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah
kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus
melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang
saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang
berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya
semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah
berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal
itu.” (HR. Bukhari no. 2493).

Ibnu Hajar memberikan beberapa faedah terkait hadits di atas:

a. Hadits tersebut berisi pelajaran bahwa hukuman bisa jadi menimpa suatu kaum
disebabkan meninggalkan ingkarul mungkar atau mengubah kemungkaran.
b. Seorang yang berilmu bisa memberikan penjelasan dengan membawakan permisalan.
c. Wajib bersabar terhadap kelakuan tetangga jika khawatir tertimpa bahaya yang lebih
besar.
d. Hendaknya saling mengingatkan jika ada kekeliruan atau bahaya yang diperbuat oleh
saudara kita seperti orang yang berada di atas perahu melihat orang bawah ingin
melubangi kapal supaya bisa mendapat air.14

KESIMPULAN

Amar ma’ruf nahi munkar itu melekat pada setiap orang Islam, baik laki-laki maupun
perempuan. Tidak ada alasan bagi seseorang, baik yang memiliki pengetahuan sedikit maupun
banyak, mengandung kebenaran dan bermanfaat, untuk menghindar dari tugas dakwah,
sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (H.R
Bukhari).

Kewajiban dakwah ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, di mana pun dan kapan pun, tetapi,
menjalankan tugas dakwah perlu memperhatikan ruang dan waktu, sehingga dakwah bisa
berjalan efektif dan tepat sasaran.

Dinamika kehidupan umat berjalan begitu cepat, seiring dengan pesatnya perkembangan sains
dan teknologi. Ini membuat strategi dakwah yang dulu dan sekarang berbeda, karena situasi dan

14
Ibnu Hajar Al-Asyqalani, Fathul Bari 5, (Beirut: Dar al-Fikr), h. 296
tantangannya berbeda. Namun tujuan dan sasaran dakwah tetap sama, yaitu mengajak kepada
yang makruf dan menjauhi hal-hal yang munkar.

Derasnya informasi yang diterima masyarakat luas (umat), baik melalui media mainstream
maupun media sosial, baik yang berisi nasihat, ajakan kepada yang makruf, maupun caci maki,
kabar bohong (hoax) ikut mempengaruhi strategi dakwah.