You are on page 1of 18

KATA PENGANTAR

Puji syukur dan sembah sujud kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal kegiatan terapi bermain RSUD Cengkareng.
Penulis menyadari bahwa penulisan proposal kegiatan ini tidak akan terselesaikan dengan baik
tanpa bantuan dan sumbangan pemikiran dari berbagai pihak. Maka dalam kesempatan ini
penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang tidak terhingga kepada:
1. Pembimbing klinik yang telah memberikan bimbingan dan arahan sehingga laporan kegiatan
ini dapat tersusun dengan baik;
2. Dosen pembimbing akademik yang telah memberikan motivasi dan bimbingan sehingga
proposal ini dapat tersusun dengan baik;
3. Jajaran perawat dan karyawan Ruang Anak (Melon) RSUD Cengkareng;
Penulis juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan
proposal ini. Penulis berharap, semoga proposal ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Amin.

Jakarta, 31 Juli 2018

Tim Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aktivitas bermain merupakan salah satu stimulasi bagi perkembangan anak secara optimal.
Dalam kondisi sakit atau anak dirawat di rumah sakit, aktivitas bermain ini tetap dilaksanakan,
namun harus disesuaikan dengan kondisi anak. Pada saat dirawat di rumah sakit, anak akan
mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas,
sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak
karena menghadapi beberapa stressor yang ada dilingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan
melakukan permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan stress yang dialaminya karena
dengan melakukan permainan anak akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya
(distraksi) dan relaksasi melalui kesenangannya melakukan permainan. Tujuan bermain di rumah
sakit pada prinsipnya adalah agar dapat melanjutkan fase pertumbuhan dan perkembangan secara
optimal, mengembangkan kreatifitas anak, dan dapat beradaptasi lebih efektif terhadap
stress. Bermain sangat penting bagi mental, emosional, dan kesejahteraan anak seperti kebutuhan
perkembangan dan kebutuhan bermain tidak juga terhenti pada saat anak sakit atau anak di
rumah sakit (Wong, 2009).

Anak yang dikategorikan anak usia prasekolah adalah anak usia 3-5 tahun, seorang ahli
psikologi Hurlock mengatakan bahwa masa usia prasekolah adalah masa emas (the golden age).
Di usia ini anak mengalami perubahan baik fisik dan mental dengan berkembangnya konsep diri,
munculnya egosentris, rasa ingin tahu yang tinggi, imajinasi yang tinggi, belajar menimbang
rasa, dan mengatur lingkungannya. Namun, anak juga dapat berperilaku buruk dengan
berbohong, mencuri, bermain curang, gagap, tidak mau pergi ke sekolah dan takut akan monster
atau hantu. Hal inilah yang membuat anak sulit berpisah dengan orangtua sehingga saat anak
dirawat di rumah sakit ia akan merasa cemas akan prosedur rumah sakit yang tidak dipahaminya
(Elfira, 2011).
B. Tujuan Umum
Setelah diajak bermain, diharapkan anak dapat melanjutkan tumbuh kembangnya,
mengembangkan aktifitas dan kreatifitas melalui pengalaman bermain dan Merangsang
pertumbuhan dan perkembangan sensoris motorics karena penyakit dan di rawat di rumah sakit.

C. Tujuan Khusus
Setelah diajak bermain selama 30 menit, anak diharapkan :
1. Mengurangi kejenuhan anak pada saat menjalani perawatan.

2. Meningkatkan adaptasi efektif pada anak terhadap stress karena penyakit dan dirawat

3. Meningkatkan kemampuan daya tangkap atau konsentrasi anak.

4. Meningkatkan koping yang efektif untuk mempercepat penyembuhan.

5. Merangsang perkembangan intelektual

6. Merangsang perkembangan kreatifitas

7. Merangsang perkembangan moral
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Bermain adalah salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan salah satu alat
paling penting untuk menatalaksanakan stres karena hospitalisasi menimbulkan krisis
dalam kehidupan anak, dan karena situasi tersebut sering disertai stress berlebihan, maka
anak-anak perlu bermain untuk mengeluarkan rasa takut dan cemas yang mereka alami
sebagai alat koping dalam menghadapi stress. Bermain sangat penting bagi mental,
emosional dan kesejahteraan anak seperti kebutuhan perkembangan dan kebutuhan
bermain tidak juga terhenti pada saat anak sakit atau anak di rumah sakit (Wong, 2009).

B. Fungsi Bermain
Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensoris-motorik,
perkembangan sosial, perkembangan kreativitas, perkembangan kesadaran diri, perkembangan
moral dan bermain sebagai terapi Adapun fungsi bermain menurut Sugiyono (2010) :
1). Perkembangan Sensoris-motorik
Pada saat melakukan permainan aktivitas sensoris-motoris merupakan komponen terbesar
yang digunakan anak sehingga kemampuan penginderaan anak dimulai meningkat dengan adanya
stimulasi-stimulasi yang diterima anak seperti: stimulasi visual, stimulasi pendengaran, stimulasi
taktil (sentuhan) dan stimulasi kinetik.
2). Perkembangan Intelektual (Kognitif)
Pada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan memanipulasi segala sesuatu yang ada di
lingkungan sekitarnya, terutama mengenal warna, bentuk, ukuran, tekstur dan membedakan
objek.
3). Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan lingkungannya.
Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan menerima. Bermain dengan orang lain
akan membantu anak untuk mengembangkan hubungan sosial dan belajar memecahkan masalah
masalah dari hubungan tersebut.
1. Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain.
2. Jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit.
C. Kategori Bermain
Bermain harus seimbang, artinya harus ada keseimbangan antara bermain aktif
dan yang pasif yang biasanya disebut hiburan. Dalam bermain aktif kesenangan
diperoleh dari apa yang diperbuat oleh mereka sendiri, sedangkan bermain pasif
kesenangan didapatkan dari orang lain.
a. Bermain aktif
 Bermain mengamati /menyelidiki (Exploratory play)
Perhatikan pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan tersebut.
Anak memperhatikan alat permainan, mengocok-ngocok apakah ada bunyi mencuim,
meraba, menekan, dan kadang-kadang berusaha membongkar.
 Bermain konstruksi (construction play)
Pada anak umur 3 tahun, misalnya dengan menyusun balok-balok menjadi rumah-
rumahan. Dll.
 Bermain drama (dramatik play)
Misalnya main sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan saudara-saudaranya
atau dengan teman-temanny
 Bermain bola, tali, dan sebagainya
b. Bermain pasif
Dalam hal ini anak berperan pasif, antara lain dengan melihat dan mendengar.
Bermain pasif ini adalah ideal, apabila anak sudah lelah bermain aktif dan
membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya. Contohnya:
 Melihat gambar- gambar dibuku- buku/ majalah
 Mendengarkan cerita atau musik
 Menonton televis
 Tertentu. Biasanya dilakukan oleh anak usia sekolah Adolesen.

D. Hal-hal yang Harus Diperhatikan
a. Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.
b. Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.
c. Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada
keterampilan yang lebih majemuk.
d. Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain. Jangan
memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit.

E. Bentuk-bentuk Permainan Menurut Usia
a. Usia 0 – 12 bulan
Tujuannya adalah :
 Melatih reflek-reflek (untuk anak bermur 1 bulan), misalnya mengisap,
menggenggam.
 Melatih kerjasama mata dan tangan.
 Pelatih kerjasama mata dan telinga.
 Melatih mencari obyek yang ada tetapi tidak kelihatan.
 Melatih mengenal sumber asal suara.
 Melatih kepekaan perabaan.
 Melatih keterampilan dengan gerakan yang berulang-ulang.
Alat permainan yang dianjurkan :
 Benda-benda yang aman untuk dimasukkan mulut atau dipegang.
 Alat permainan yang berupa gambar atau bentuk muka.
 Alat permainan lunak berupa boneka orang atau binatang.
 Alat permainan yang dapat digoyangkan dan keluar suara.
 Alat permainan berupa selimut dan boneka.

b. Usia 13 – 24 bulan
Tujuannya adalah :
 Mencari sumber suara/mengikuti sumber suara.
 Memperkenalkan sumber suara.
 Melatih anak melakukan gerakan mendorong dan menarik.
 Melatih imajinasinya.
 Melatih anak melakukan kegiatan sehari-hari semuanya dalam bentuk kegiatan
yang menarik
Alat permainan yang dianjurkan:
 Genderang, bola dengan giring-giring didalamnya.
 Alat permainan yang dapat didorong dan ditarik.
 Alat permainan yang terdiri dari: alat rumah tangga(misal: cangkir yang tidak
mudah pecah, sendok botol plastik, ember, waskom, air), balok-balok besar,
kardus-kardus besar, buku bergambar, kertas untuk dicoret-coret, krayon/pensil
berwarna.

c. Usia 25 – 36 bulan
Tujuannya adalah ;
 Menyalurkan emosi atau perasaan anak.
 Mengembangkan keterampilan berbahasa.
 Melatih motorik halus dan kasar.
 Mengembangkan kecerdasan (memasangkan, menghitung, mengenal dan
membedakan warna).
 Melatih kerjasama mata dan tangan.
 Melatih daya imajinansi.
 Kemampuan membedakan permukaan dan warna benda.
Alat permainan yang dianjurkan :
 Alat-alat untuk menggambar.
 Lilin yang dapat dibentuk
 Pasel (puzzel) sederhana.
 Manik-manik ukuran besar.
 Berbagai benda yang mempunyai permukaan dan warna yang berbeda.
 Bola.

d. Usia 32 – 72 bulan
Tujuannya adalah :
 Mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan.
 Mengembangkan kemampuan berbahasa.
 Mengembangkan pengertian tentang berhitung, menambah, mengurangi.
 Merangsang daya imajinansi dsengan berbagai cara bermain pura-pura (sandiwara).
 Membedakan benda dengan permukaan.
 Menumbuhkan sportivitas.
 Mengembangkan kepercayaan diri.
 Mengembangkan kreativitas.
 Mengembangkan koordinasi motorik (melompat, memanjat, lari, dll).
 Mengembangkan kemampuan mengontrol emosi, motorik halus dan kasar.
 Mengembangkan sosialisasi atau bergaul dengan anak dan orang diluar rumahnya.
 Memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan, misal : pengertian
mengenai terapung dan tenggelam.
 Memperkenalkan suasana kompetisi dan gotong royong.

Alat permainan yang dianjurkan :
 Berbagai benda dari sekitar rumah, buku bergambar, majalah anak-anak, alat gambar
& tulis, kertas untuk belajar melipat, gunting, air, dll.
 Teman-teman bermain : anak sebaya, orang tua, orang lain diluar rumah.

F. Faktor Yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain
a. Tahap perkembangan, tiap tahap mempunyai potensi / keterbatasan
b. Status kesehatan, anak sakit à perkembangan psikomotor kognitif terganggu
c. Jenis kelamin
d. Lingkungan à lokasi, negara, kultur
e. Alat permainan à senang dapat menggunakan
f. Intelegensia dan status sosial ekonomi

G. Tahap Perkembangan Bermain
a. Tahap eksplorasi
Merupakan tahapan menggali dengan melihat cara bermain
b. Tahap permainan
Setelah tahu cara bermain, anak mulai masuk dalam tahap permainan
c. Tahap bermain sungguhan
Anak sudah ikut dalam permainan
d. Tahap melamun
Merupakan tahapan terakhir anak membayangkan permainan berikutnya.

H. Prinsip Bermain Di Rumah Sakit
a. Tidak banyak energi, singkat dan sederhana
b. Tidak mengganggu jadwal kegiatan keperawatan dan medis
c. Tidak ada kontra indikasi dengan kondisi penyakit pasien
d. Permainan harus sesuai dengan tahap tumbuh kembang pasien
e. Jenis permainan disesuaikan dengan kesenangan anak
f. Permainan melibatkan orang tua untuk melancarkan proses kegiatan

I. Hambatan Yang Mungkin Muncul
a. Usia antar pasien tidak dalam satu kelompok usia
b. Pasien tidak kooperatif atau tidak antusias terhadap permainan
c. Adanya jadwal kegiatan pemeriksaan terhadap pasien pada waktu yang bersamaan.

J. Antisipasi hambatan
a. Mencari pasien dengan kelompok usia yang sama
b. Libatkan orang tua dalam proses terapi bermain
c. Jika anak tidak kooperatif, ajak anak bermain secara perlahan-lahan
d. Perawat lebih aktif dalam memfokuskan pasien terhadap permainan
e. Kolaborasi jadwal kegiatan pemeriksaan pasien dengan tenaga kesehatan lainnya.
BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN TERAPI BERMAIN

A. Rancangan bermain
Kegiatan terapi bermain yang kelompok buat untuk mengembangkan
mengembangkan aktifitas dan kreatifitas melalui pengalaman bermain dan beradaptasi
efektif terhadap stres karena penyakit dan dirawat. Kegiatan diawali dengan penjelasan
tatacara permainan dan tujuannya. Tatacara permainan dimulai dengan memberikan anak
kertas dan kerat origami. Anak diminta untuk menempelkan kertas origami di kertas
sehingga terbentuk satu gambar. Kegiatan ini akan diiringi dengan musik anak-anak
untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dan petugas kesehatan harus selalu
memberikan penghargaan positif pada setiap keberhasilan yang dicapai sesuai
kemampuan masing-masing anak.

B. Jenis Permainan
Mencocokan dan menempel gambar buah dari kertas origami ke kertas

C. Media dan Alat
a. Kertas
b. Kertas Origami

D. Sasaran
a. Kelompok usia : anak usia 1-3 tahun
b. Keadaan umum baik
c. Tidak terdapat keterbatasan mobilitas
d. Kooperatif
e. Jumlah peserta :sesuai jumlah pasien pada hari tersebut yang memenuhi persyaratan
F. Waktu Pelaksanaan
a. Hari / Tanggal : Rabu, 1 Agustus 2018
b. Waktu : 30 menit
c. Tempat : Ruang terapi bermain anak

G. Pengorganisasian
Leader : Ristiyanah
Co Leader : Nailalbiri
Observer : Rizkia Dwi Oktaviani
Fasilitator : Anah Nur Hasanah
Lyky Oktasindia
Sisca Putri Utami
Nur Santi
Putri Aulia Rahma
R. Susinta
Raden Dini Herdianti
Risa damayanti
Rosida Yantina Pasaribu
Ismi Nurul Hidayati

H. Pembagian Tugas
1. Leader : Ristiyanah
Peran Leader
a. Katalisator, yaitu mempermudah komunikasi dan interaksi dengan jalan menciptakan
situasi dan suasana yang memungkinkan klien termotivasi untuk mengekspresikan
perasaannya
b. Auxilery Ego, sebagai penopang bagi anggota yang terlalu lemah atau mendominasi
c. Koordinator, yaitu mengarahkan proses kegiatan kearah pencapaian tujuan dengan cara
memberi motivasi kepada anggota untuk terlibat dalam kegiatan
2. Co Leader : Nailalbiri
Peran Co Leader
a. Mengidentifikasi isu penting dalam proses
b. Mengidentifikasi strategi yang digunakan Leader
c. Mencatat modifikasi strategi untuk kelompok pada sesion atau kelompok yang akan
dating
d. Memprediksi respon anggota kelompok pada sesi berikutnya
Fasilitator : Anah Nur Hasanah
Lyky Oktasindia
Sisca Putri Utami
Nur Santi
Putri Aulia Rahma
R. Susinta
Raden Dini Herdianti
Risa damayanti
Rosida Yantina Pasaribu
Ismi Nurul Hidayati
Peran Fasilitator
a. Mempertahankan kehadiran peserta
b. Mempertahankan dan meningkatkan motivasi peserta
c. Mencegah gangguan atau hambatan terhadap kelompok baik dari luar maupun dari dalam
kelompok

3. Observer : Rizkia Dwi Oktaviani
Peran Observer
a. Mengamati keamanan jalannya kegiatan terapi bermain
b. Memperhatikan tingkah laku peserta selama kegiatan
c. Memperhatikan ketepatan waktu jalannya kegiatan terapi bermain
d. Menilai performa dari setiap anggota kelompok dalam melakukan terapi bermain
I. Setting Tempat

Keterangan :

: Leader : Klien

: Co Leader : Observer

: Fasilitator

Petunjuk:
Klien duduk melingkar bersama perawat
J. Strategi Pelaksanaan

Kegiatan Kegitan
No Tahap Media Waktu
Terapeutik Subjek Terapis

1. Pembukaan Leader : Membuka 5 menit
proses terapi
bermain dan
mengucapkan
salam,
memperkenalkan
diri dan kontrak
waktu.
 Kertas
2. Pelaksanaan Co Leader :  Anak 20
memperhatik  Kertas Menit
- Menjelaskan
an. Origami
pada anak,
keluarga  Anak
tentang tujuan mengerti.
dan manfaat
bermain.

- Menjelaskan
cara bermain.
3. Penutup Leader :  Menjawab 5 Menit

 Mengevaluasi  Mendengark
respon anak dan an
keluarga.
 Menjawab
 Memberi pujian. salam

 Menyimpulkan.

 Memberi salam.
 Penutup
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Bermain adalah cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial
dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain, anak
akan berkata-kata, belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan apa yang dapat
dilakukan,dan mengenal waktu, jarak, serta suara.

Permainan membuat Mencocokan dan menempel gambar buah dari kertas origami ke
kertasakan merangsang dan meningkatkan kemampuan anak dalam berimajinasi atau
mengingat terhadap gambar sebelum tersusun dan meningkatkan daya kreatifitasan anak
dalam menyusun gambar.

B. Saran

Diharapkan permainan membuat Mencocokan dan menempel gambar buah dari kertas
origami ke kertas ataupun jenis permainan lain dapat dilakukan oleh setiap anak yang di
rawat di RS agar dampak hospitalisasi dalam RS terkurangi dan tumbuh kembang anak tidak
terhambat.
DAFTAR PUSTAKA

Adriana, D. (2011). Tumbuh Kembang dan Terapi Bermain Pada Anak. Jakarta: Salemba
Medika.
Elfira. 2011. Terapi Bermain. http://rereners.blogspot.com/2011/02/terapi-bermain.html. [diakses
18 April 2014].
Wong, Donna L. 2009. Pedoman Klinik Keperawatan Pediatrik Edisi 4. EGC : Jakarta.
Sugiyono. (2010). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta
PROPOSAL
TERAPI BERMAIN
MENCOCOKAN DAN MENEMPEL
GAMBAR BUAH DARI KERTAS ORIGAMI KE KERTAS
PADA ANAK TODLER
DI RUANG MELON RSUD CENGKARENG

Di susun oleh:

1. Nur Santi 8. Rosida Yantina Psaribu
2. Putri Aulia Rahma 9. Sisca Putri Utami
3. R. Susinta 10. Anah Nuhasanah
4. Risa Damayanti 11. Ismi Nurul Hidayati
5. Ristiyanah 12. Nailalbiri
6. Rizkia Dwi Oktaviyani 13. Lyky Oktasindia
7. Raden Dini Herdianti

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
STIKES ICHSAN MEDICAL CENTER
BINTARO
2018