You are on page 1of 56

Textbook Reading

SKIN GRAFT

PPDS I ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
November,2012
Skin Graft

Kulit ditransplantasikan dengan sepenuhnya memisahkan sebagian integumen dari sisi


donor dan memindahkannya ke resipien, di mana ia memperoleh pasokan darah baru untuk
menjamin kelangsungan hidup sel-sel yang ditransplantasikan. Skin Graft terdiri dari epidermis
dan dermis, komponen dermal dapat terdiri dari ketebalan seluruh dermis atau hanya
sebagian.Skin autograph adalah Skin graft yang dipindahkan dari donor kepada resipien yang
sama , Allograft adalah transplantasi graft antara dua individu dengan species yang sama,
Xenograft adalah transpalntasi antara dua individu dg species yang berbeda.
Walaupun bunger pada 1823 pernah malakukan graft dari paha ke hidung, dan Baronia
pada tahun 1804 pernah melakukan percobaan skin graft pada kambing, tindakan skin graft
belum dianggap penting sacara klinik sampai abad ke 19.
Tindakan Split – Thickness skin grafts pertama kali digunakan secara klinis adalah type
thin spilt Thickness.Ollier (1872) adalah salah satu ahli bedah pertama yang beranggapan bahwa
skin graft sangat penting secara klinik.

Vaskularisasi skin graft, autograph, dan allograft


Perkembangan biologi dari skin graft telah dilakukan oleh klinisi dan peneliti sejak teknik
ini pertama kali dilakukan.
Transplantasi dari jaringan hidup termasuk pemindahan secara pembedahan sel hidup dari area
donor dan pemindahan berikutnya menuju daerah resipien. Jika atau tidak sel transplant selamat
dan memacu garis sel hidup pada tempat resipien tergantung factor berikut ini: (1) akses menuju
bahan nutrisi; (2) sumber pembuangan dari produk metabolic; (3) perbedaan anatomi antara
jaringan donor dan resipien; dan (4)taksonomi dan hubungan imunogenetik antara donor dan
resipien.
Karena aksesnya, kulit telah menjadi penelitian yang menarik sebagai model
transplantasi. Model vaskularisasi dan perubahan vascular berikutnya selama kehidupan jaringan
graft telah terus diteliti. Kebanyakan pengertian dasar hukun biologi dari transplantasi jaringan
telah diturunkan secara primer dari penelitian skin graft.
Pada waktu eksisi bedah dari area donor, skin graft secara lengkap rusak dari kulit sekitar dan
yang terletak di bawah lapisan jaringan pengikat; sirkulasi , aliran limfe dan nervus secara
berkelanjutan dirusak secara kasar.
Ketahanan dari skin graft tergantung pada kecepatan mendapatkan aliran darah yang
cukup untuk nutrisi dan pembuangan produk sisa metabolisme . Dalam interval waktu antara
transplantasi dan proses revaskularisasi, ketahanan sel graft anoksik muncul dengan yakin oleh
absorpsi cairan dari host. Proses inhibisi eksudat dari host, pertama kali dicatat oleh Hubscher
pada 1888 dan goldman pada 1890 dan dinamai oleh mereka “Die Plasmatische Zirkulation”
(sirkulasi plasma), muncul sebagai peran penting dalam menjamin periode INTERIM sebelum
pembangunan vascular definitive; ini tidak mampu secara definit mempertahankan ketahanan
skin graft yang mana gagal untuk menjadi tervaskularisasi secara sukses.
Model vaskularisasi skin graft masih merupakan subjek yang diperdebatkan.
Revaskularisasi skin graft telah ditambahkan menjadi satu atau kombinasi tiga proses ini: (1)
hubungan langsung pembuluh darah graft dan host, disebut sebagai inosculation; (2)
pertumbuhan pembuluh darah host ke dalam saluran endothelial graft dan (3) penetrasi pembuluh
darah host ke dalam graft dermis, menciptakan saluran endothelial baru. Data yang tersedia
mendukung peran tiga proses dalam revaskularisasi berbagai tipe dari transplantasi kulit akan
dibahas.

Kondisi yang diperlukan untuk kesuksesan skin graft (1) vaskularisasi host yang baik
(2)imbibisi serum cepat segera setelah grafting; (3) imobilisasi adekuat skin graft dari tempat
host untuk menjamin pertukaran cairan nutrisi dan untuk mengurangi minimum tendensi untuk
menganggu bentukan baru, komunikasi vascular antara donor dan host dan (4) vaskularisasi
cepat dari tempat resipien.

Fase kelangsungan hidup skin graft


Fase imbibisi serum. Hubsher dan Goldmann menyampaikan bahwa graft Thiersch pada
pasien manusia dinutrisi oleh cairan dari host pertama untuk membentuk vascular baru dan
saluran limfa dalam graft. Ini terjadi pada proses awal cairan menutrisi “sirkulasi plasma” graft.

Penggunaan modifikasi teknik runangan jaringan Algire untuk evaluasi skin graft dalam tikus,
Conway, Stark, dan Joslin mengobservasi aliran profuse cairan ekstraselular dari area sekitar host
menuju ruangan transparan selama 24 jam pertama. Mereka menekankan kepentingan sirkulasi
plasma awal yang mana graft mampu dipertahankan selama minggu awal postoperasi.

Observasi oleh Coverse, Ballantyne, Rogers, dan Raisbeck pada perpindahan xenograft
kulit dari kelinci dan ditempatkan di korioalantois embrio wanita mengindikasikan pengambilan
cairan cepat graft. Skin graft kelinci dipindahkan dari permukaan membrane korioalantois pada
waktu interval yang bervariasi dari 1 sampai 20 jam postoperasi. Graft ini dititikberatkan pada
transplantasi dan setelah perpindahan oleh tarikan dari membrane. Penambahan berat progresif
dengan waktu berikutnya diteliti dalam 165 graft, peningkatan rata-rata berat graft yang mana
sepuluh persen setelah 1 jam, progress secara stabil menjadi 38,2 persen setelah 10 jam dan
menjadi 52 persen setelah 20 jam. Ini telah dikatakan bahwa skin graft dapat mengabsorpsi
cairan dari pembuluh darah host karena struktur seperti sponge pada dermis mereka yang mana
dikanalisasi oleh ruangan endothelial dalam tambahan ke lumina yang terkandung pada
pembuluh darah dan limfatik.

Kebanyakan peneliti telah menerima konsep awal Hubscher dari sirkulasi plasma sebagai
factor penting dalam pemberian makan awal dari skin graft sebelum perbaikan suplai darah yang
cukup. Namun, Clemesen percaya bahwa peran penting sirkulasi plasma bukan nutrisi. Dia
merasa itu disediakan untuk mencegah desikasi graft dan untuk menjaga patennya pembuluh
darah graft. Henry, marshall, friedman, dammin, dan merril bekerja dengan skin graft manusia,
melaporkan bahwa donor kulit mengambil nutrisi dan oksigenasi dari proses sirkulasi plasma
dari dua hari pertama postoperasi. Oleh karena itu, cara pemberian makan ini tidak cukup untuk
mempertahankan viabilitas graft full thickness kecuali kalau disumplementasi oleh suplai
vascular yang cukup.

Penelitian biokemikal. Pada beberapa seri penelitian eksperimental termasuk penentuan


biokemikal autograft kulit pada tikus, marckman dan zachariae dan marckmann berusaha untuk
menjelaskan respon graft dermis terhadap trauma dari prosedur transplantasi. Selama lima hari
kritikal pertama, reaksi graft terhadap trauma pembedahan ditunjukkan dengan edema dan
perubahan aktivitas metabolic sulfomukopolisakarida dan kandungan hexosamine,
hikdroksiprolin, asam uronik dan histamine, penulis merangkum gangguan biokemikal di graft
berhubungan dengan suplai darah yang berkurang dan ditemani dengan perubahan keseimbangan
metabolic.

Psillakis dan koleganya setelah mentransplantasi autograft kulit auricular kelinci,


mengukur komposisi air dan elektrolit dalam graft selama lima hari awal. Penemuan
mengindikasikan peningkatan signifikan dalam kandungan air pada hari pertama, sampai hari
kelima, dia mana konsentrasi sodium, telah naik secara signifikan pada hari pertama,
menunjukkan pengecilan progresif. Kandungan potassium secara signifikan berkurang selama
dua hari pertama postoperasi tetapi meningkat setelah hari ketiga. Penulis menilai edema pada
graft terhadap perubahan di air dan kandungan elektrolit yang mana digambarkan oleh respon
kolagen terhadap trauma graft, penemuan yang mirip dicatat dalam jaringan yang terkena
trauma. Sebagai konsekuensi trauma, dermis graft kaya akan makromolekul ekstraselular dapat
menyerap air dan kation dari resipien tanpa vascular berkelanjutan secara langsung dengan suplai
darah host.

Penelitian oleh mikroskopi vital melewati ruangan transparan dan mikroangiografi


Birch dan branemark menggunakan kulit scrotal full thickness autograft ditempatkan
pada resipien perikondrial aurikel kelinci yang mana mereka meneliti melalui ruangan telinga
transparan dengan mikroskopi vital, mengobservasi edema graft langsung setelah dilakukan
graft. Edema dipertahankan maksimal pada hari ketiga postoperasi. Penulis menambhakan
edema ke subtansi dasar depolimerisasi dalam graft dermis, untuk mengabsorpsi cairan jaringan
ke kompartemen ekstraselular graft dan untuk meningkatkan tekanan kapiler dan permeabilitas
host yang terinflamasi. Gradual SUBSIDENCE edema graft karena peningkatan hemodinamis
yang mana hasil dari pembentukan kembali sirkulasi darah dan limfe. Pada penelitian kelinci
menggunakan model transplantasi yang sama sebaik mikroangografi, birch, branemark dan
lundskog mencapai kesimpulan mirip dengan memperhatian edema graft.

Penelitian dalam graft ortotopik eksperimental. Penelitian sirkulasi plasma di bawah kondisi
eksperimental lebih dekat mendekati kejadian selama graft ortotopik yang dilakukan oleh
converse, uhlscmid, dan ballantyne pada tikus. Mereka menemukan 37,34 persen penambahan
berat badan dalam autograft full thickness pada 24 jam postoperasi, diikuti oleh penurunan dalam
berat relative meningkat menjadi 25,69 persen dalam 48 jam. Setelah penurunan ini,
penambahan berat rata-rata meningkat secara bertahap menjadi 30,44 persen dalam 96 jam dan
kemudian kembali secara stabil menjadi berat asalnya dalam hari ke 9. Penulis menyatakan
peningkatan berat badan antara 48 dan 72 jam terjadi dengan perkembangan sirkulasi darah
visible secara stereomikroskopik. Penambahan berat telah dihubungkan terhadap pengisian
sistem vascular graft dan ke vena kurang adekuat dan aliran limfe, mungkin produk
pembengkakan dan edema interstitial. Dengan peningkatan aliran vena untuk membangun aliran
arteri dan vena, graft mempertahankan berat aslinya pada hari ke 8 sampai 9 setelah
transplantasi. Nilai minus dilihat pada hari ke 11 dapat dihubungkan dengan peningkatan vena
dan aliran limfe. Graft pertama difiksasi ke host oleh fibrin, jadi cairan yang penetrasi ke graft
adalah serum, bukan plasma. Ini mengubah dari :sirkulasi plasma menjadi diganti dengan fase
imbibisi serum.

Penelitian oleh suspensi karbon koloid intravena


Kikuchi dan omor menginjeksi suspense karbon koloid intravena ke kelinci pada interval waktu
yang bervariasi setelah autograft kulit full thickness. Mereka melaporkan bahwa selama dua hari
pertama setelah grafting, kebocoran plasma berasal dari venule graft walaupun kapiler, arteriole
terminal dan metarteriole juga bocor. Fenomena pada hubungan graft-host telah dikorelasikan
dengan fase sirkulasi plasma. Namun, pada hari ketiga, pola yang berbeda untuk label karbon,
menjadi lebih pudar atau bahkan menghilang, muncul dan mungkin merefleksikan fase
revaskularisasi graft.

Perubahan warna skin graft


Graft ketika dipotong dari donor menjadi kapur putih. Dalam beberapa jam setelah
transplantasinya diasumsukan berwarna kemerah-merahan, yang mana progress menjadi warna
pink muda selama hari berikut. Douglas mencatat pink muda pada graft selama 8 jam setelah
graft. Mclaughlin mempelajari perubahan warna dalam komposis graft kartilago dan kulit yang
mana ditransfer dari telinga untuk merekonstruksi batas nostril, menggambarkan perubahan putih
menjadi warna kutaneus harmoni dalam 6 jam setelah graft. Hynes mengobservasi bahwa
pembuluh darah yang secara segar dipotong untuk skin graft manusia dari variasi ketebaan dari
split thickness sampai full thickness yaitu kolaps dan kosong. Pembuluh darah graft, mungkin
sebagai hasil pemisahan dari donor, spasme dan mengeluarkan kebanyakan dari elemen hemic
yang terbentuk melewati akhir dari pembuluh darah pada graft di bawah permukaan. Dalam 24
jam setelah transplantasi, pembuluh darah graft kemudian terdilatasi, walaupun mereka hanya
mengandung beberapa elemen hemic. Dalam 48 jam, pembuluh darah menjadi lebih terdilatasi
dan mengandung jumlah besar eritrosit. Berdasarkan hynes, eksudat yang mana berakumulasi
pada garis demarkasi antara graft dan jaringan host mengandung plasma, eritrosit dan leukosit
polimorfonuklear. Eksudat cairan ini, setelah presipitasi fibronogennya dalam bentuk fibrin pada
permukaan host, penetrasi ke pembuluh darah graft sebagai suspense bebas fibrinogen eritrosit,
pemberian nutrisi graft dan menjelaskan perubahan warna cepat yang mana terjadi dalam jam
setelah transplantasi.

Ringkasan fase imbibisi serum


Fase imbibisi serum dapat dideskripsikan, sebagai periode selama pembuluh darah graft terisi
dengan cairan bebas fibrinogen dan sel dari host. Sirkulasi ini sebenarnya merupakan misnomer,
karena cairan diabsorpsi oleh graft dari host secara pasif dijebak dalam graft. Pertumbuhan
endothelial dari host berkembang sampai vascular definitive terbentuk. Cairan stagnan diabsorpsi
oleh graft selama fase awal imbibisi serum mungkin dialirkan oleh sirkulasi darah yang
terbentuk dan sirkulasi limfe. Skin graft pada manusia biasanya muncul edema dan
permukaannya naik di atas kulit host sekitar selama periode postoperasi awal. Dalam beberapa
hari setelah grafting, graft mendatar dan edema, fenomena ini merefleksikan perkembangan
aliran plasma dan hemik dan evakuasi cairan yang awalnya terjebak di graft.

Fase revaskularisasi graft –autigraft dan allograft


Kontroversi telah naik melewati metode penerimaan graft dan model vaskularisasi graft.
Beberapa teknik penelitian telah dikembangkan menjadi fisiologi penelitian pada penerimaan
graft dan vaskularisasi. Ini termasuk observasi gross dan stereomikroskopik graft in situ; analisis
histology dan histokemikal specimen biopsy kulit, ruangan transparan in vivo dan
mikroangiografi; dan injeksi dyes atau isotop radioaktif ke dalam sistem vascular hewan
penerima. Namun, metode ideal penelitian proses ini masih belum ada, fakta ini secara sebagian
menjelaskan kontroversi persisten sekitar model tepat revaskularisasi.

Bert pada 1865 mencatat hubungan awal antara pembuluh darah graft dan host dan menamai
‘abouchement’ untuk mengilustrasikan aposisi pembuluh dari mulut ke mulut. Pada 1874
Thiersch, meneliti seksi histology skin graft full thickness eksperimental menggunakan kata
‘inosculation’ untuk menilai hubungan langsung antara graft dan pembuluh host.

Garre meneliti skin graft manusia, melaporkan bukti mitosis endothelial pada host 5 ½ jam
setelah graft, sel inflamatori pada graft pada 9 jam, dan invasi aktif sel darah putih yang
mengembara ke pembuluh darah donor dalam 11 jam. Dia menilai pentingnya proses
inoskulatori dan menggambarkan invasi actual graft oleh kapiler host, yang mana pada hari
ketiga atau keempat, setelah kebanyakan pembuluh graft original telah tertutup. Kesimpulan
garre kebetulan dengan Hubscher dan pendapat sama diekspresikan oleh goldmann. Jungengel
dan enderlen mempertahankan bahwa kebanyakan degenerasi pembuluh graft sebelumnya, tetapi
beberapa sel endothelial dapat bertahan hidup dan membentuk pembuluh baru yang bahkan
berhubungan dengan pembuluh host yang tumbuh.

Braun merangkum bahwa revaskularisasi graft dicapai dengan proses dual dari pembuluh host
yang tumbuh dan anastomosi antara vaskularisasi host dan graft asli. Henle, setelah menginjeksi
variasi dyes ke dalam kelinci resipien pada graft full thickness mencapai pada kesimpulan mirip
dengan garre, sebagai contoh, bukti awal mitosis endothelial diikuti oleh pertumbuhan kapiler
cepat dari resipien. Jaringan vascular ekstensif pada kulit donor tanpa kerjasama pembuluh graft
asal, yang mana secara cepat di bawah perubahan degenerative. Henle merasa bahwa sesekali
waktu kapiler host mungkin penetrasi dan tumbuh sepanjang saluran yang terbentuk oleh
pembuluh graft asal yang mati.

Kebanyakan penelitian sebelumnya berasal dari asal dan perkembangan suplai darah pada skin
graft telah ditemukan dari penelitian pada graft split thickness selama tahun 1888 sampai 1897.
Terdapat banyak laporan yang memperhatikan proses vaskularisasi skin yang terplantasi tetapi
tidak ada usaha serius yang dibuat untuk mempelajari vaskularisasi alami kulit dan ketebalan
bervariasi.

Pada 1925 Davis dan traut menggunakan injeksi intrakardiak dengan tinta china pada anjing,
menggambarkan anastomosis pembuluh graft dan host, yang mana mulai pada awal 22 jam dan
bertahan sampai 72 jam setelah aplikasi graft. Mereka juga menekankan pertumbuhan kapiler
host, terjadi pada hari keempat dan menyimpulkan ini merupakan factor penentu termasuk
perkembangan sistem vascular definitive graft. Mir y mir bereksperimen dengan injeksi dye
postmortem ke aorta mempertimbangkan ketebalan skin graft pada anjing sebagai factor penting
yang mengontrol model vaskularisasi, berdasarkan mir y mir, perbaikan suplai darah pada graft
split thickness thin dicapai terutama dengan membentuj vascular langsung berkelanjutan antara
dua jaringan, diikuti, dengan pertumbuhan vascular host yang pesat. Dari penelitian klasik,
Medawar meneliti revaskularisasi skin graft kelinci yang dicapai empat hari setelah graft dengan
pertumbuhan kapiler dari host, pembuluh graft original, yang mana dia mendesain ;pembuluh
luka’, menghilang antara hari keempat dan kedelapan postoperasi.

Peer dan walker percaya bahwa perbaikan sirkulasi skin graft dicapai terutama oleh hubungan
langsung antara akhir pembuluh darah graft dan jaringan host dan menekankan pentingnya
proses awal anastomosis vascular untuk bertahan hidup dari sel terlokasi di pusat dari jarungan
graft.

Conway, starkm dan joslin menggunakan rungan jarungan transoaran menermukan bahwa
vaskularisasi autograft kulit pada tikus dicapai oleh kapiler host dan dengan pertumbuhan
vascular di bawahnya dari kapiler yang menyebar ke graft. Pada 1952 conway, joslin, ress dan
stark menggunakan teknik ruangan tikus yang mirip, dan ham yang menginjeksi babi dengan
suspense tinta india, menyatakan bahwa allograft kulit tidak menjadi bervaskularisasi,
menawarkan penemuan ini sebagai penjelasan rejeksi allograft. Namun, taylor dan lehrfeld,
dengan metode stereomikroskopi kulit langsung, menemukan bahwa allograft di tikus sukses
bervaskularisasi sebelum adanya reaksi rejeksi, penemuan meraka bahwa autograft dan allograft
kedua divaskularisasi telah dikonfirmasikan oleh converse dan rapoport. Penemuan mereka
konsisten dengan bukti histologist vaskularisasi allograft kulit di manusia, sebagaimana
dilaporkan oleh Gibson dan Medawar dan mcgregor. Setelah menginjeksi tinta india atau
bromophenol blue ke dalam sistem sirkulasi kelinci, scothorne dan mcgregor melihat
membuktikan vaskularisasi dalam allograft tetapi tidak spesifik model actual, mengikuti kritik
scothorne dan mcgroger dan taylor dan lehrfeld, Conway, Griffith, Shannon, dan findley dan
Conway, sedar, dan Shannon memodifikasi teknik tambahan transparent mereka dan
mendeskripsikan bukti sirkulasi darah aktif dalam allograft kulit murin.

Penelitian histology
Henry dan teman kerja, penelitian histologist mereka pada manusia, berhubungan dengan
vaskularisasi auto dan allograft kulit menjadi inoskulasi pada kapiler original paten pada lapisan
yang lebih dalam dari graft dermis dengan loop kapiler dari host. Sebagai konsekuensi dari
beberapa koneksi vascular inisial, kapiler graft superficial, yang mana garis endothelial telah
berdegenerasi selama beberapa hari pertama postoperasi, disuplai dengan darah dan menjadi
berdilatasi. Penulis INFER bahwa gambaran bertahan sampai saluran superficial direkonstitusi
oleh pertumbuhan sel endothelial sepanjang pembuluh yang ada. Penelitian histologist mereka
menunjukkan tidak adanya koneksi vascular antara donor dan kulit host selama dua hari
mengikuti transplantasi, selama waktu ini, kapiler superficial dalam graft kolaps dan sel
endothelial degenerasi, meninggalkan membrane basalis intak. Ketika sistem vascular graft
muncul terdilatasi dan mebengkak dengan darah statis pada hari kedua atau ketiga postoperasi,
pembuluh superficial berlanjut ke membrane basalis yang intak dengan nucleus endothelial baik
piknotik maupun absen, pembuluh darah original yang berlokasi di lapisan dermis dalam di graft
tampak secara histopatologis paten, proses vaskularisasi graft lengkap pada hari keenam atau
hari ketujuh.

Penelitian eksperimental lebih jauh.


Modifikasi ruangan transoaran algire dikembangkan oleh Edgerton dan Edgerton mengevaluasi
aktivitas vascular dari skin graft tikus. Penemuan ini mirip dengan yang dicatat oleh taylor dan
lehrfeld dan converse dan rapaport. Edgerton dan Edgerton mencatat berbagai pertumbuhan
vascular dari host ke graft paling awal hari kedua atau ketiga, mengisi sistem vascular graft
original dengan darag stasis. Selama waktu tersebut, velositas aliran, yang mana lambat setelah
perkembangan beberapa koneksi vascular antara host dan graft, secara progresif meningkat pada
jumlah normal setelah hari ketiga atau keempat post operasi. Mereka menyimpulkan bahwa
kelanjutan vascular antara pembuluh graft original dan pembuluh host memainkan peran penting
dalam perkembangan vascular definitive dengan sirkulasi aktif graft. Pendapat yang mirip
diekspresikan oleh kamrin, yang mana, pada tikus auto dan allograft, pertumbuhan berlebihan
dari resipien mencapai kontak dengan pembuluh original pada hari akhir keempat atau awal dari
hari berikutnya, sebagai bukti adanya penampakan histologist dari kekosongan mendadak
deformasi ertirosit dari sistem vascular graft clotted dan penggantiannya dengan elemen darah
sel host.

Pada penelitian sebelumnya oleh egdahlm good dan varco terpanggil oleh hilangnya fluoresin
diinjeksi secara intradermal selama fase awal vaskularisasi pada allograft tikus full thickness 50
tikus bebas. Pekerja ini menemukan hilangnya fluoresin intradermal pada 12 jam awal sampai
onset sirkulasi darah sebagaimana ditunjukkan dengan metode stereomikroskopik kulit langsung
oleh taylor dan lehrfeld. Pemindahan tes fluoresin dan kapasitas dalam membangun reaksi
shwartzman terlokalisasi pada set pertama allograft dipertimbangkan sebagai bukti kuat
vaskularisasi yang berhasil melalui hubungan langsung antara pembuluh graft dan resipien.
Casterman yang menggunakan metode mikroskop vital untuk autograft kulit dan allograft pada
tikus, mendapatkan hasil mirip dengan yang dilaporkan sebelumnya. Sebagaimana yang dilihat
oleh castermann, kapiler graft memulai dengan mengisi dengan elemen hemik yang terbentuk
dan berdilatasi 24 jam awal setelah graft, diikuti dengan aliran darah inisial pada 48 jam, pada
enam atau tujuh hari postoperasi jaringan kapiler telah terbangun dengan baik serta berfungsi
walaupun masih kurang sempurna.

Dalam usaha untuk mengevaluasi sumber aliran darah dalam transplantasi autolog dan allogenik
pada kulit tikus, rolle, taylor, dan charipper menggunakan kombinasi empat criteria: mikroskopik
kulit langsung, metode histology rutin, injeksi kardia suspense tinta india dalam sistem vascular
dan injeksi intravena dye yang mampu difusi, bromofenol blue. Dalam penelitian graft, banyak
pembuluh graft, kosong pada saat perpindahan dari donor, mulai membutuhkan stagnasi darah
dan tampak distensi pada akhir 24 jam setelah operasi. Pada hari ketiga, sirkulasi darah dalam
vaskularisasi graft dikembalikan dan berlanjut dengan velositas normal dari aliran darah di
kemudian hari, tidak terdapat bukti histology perubahan degeneraasi pada pembuluh graft
original. Rolle dan teman kerja, juga hildeman dan has menyimpulkan bahwa vascular definitive
pada graft yang mampu mendukung sirkulasi aktif tampak tergantung dengan perkembangan
berkelanjutan vascular langsung antara host dan graft, tidak pada pertumbuhan pembuluh darah
yang baru terbentuk dari host.

Penggunaan metode kombinasi stereo mikroangografi dan histology pada interval waktu yang
bervariasi setelah transplantasi dilakukan oleh ljunggvist dan almgard untuk menentukan
perubahan vascular pada kulit auto dan allograt yang ditempatkan pada aurikula kelinci. Hasil ini
mengindikasikan bahw apertumbuhan pembuluh prekapiler dan kapiler dari host yang
bersangkutan, pertama dicatat pada 2 hari setelah post operasi, invasi graft dan meluas
keperpendicular dan bentuk spiral ke arah permukaan dermoepidermal, menggantikan permbuluh
graft yang berdegenerasi. Pertumbuhan pembuluh dari vascular defnitif graft. Ketika terdapat
beberapa bukti hubungan langsung antara sistem darah graft dan host, perubahan degenerative
dengan thrombosis pada pembuluh graft yang telah ada sebagai peran minor dan sementara pada
hubungan vascular ini.

Penelitian histokemikal. Sampai 1961, beberapa metode histokemikal telah dilakukan untuk
mengevaluasi perubahan metabolic yang terjadi dalam transplantasi kulit, dan tidak ada usaha
yang dilakukan untuk menentukan pola vascular graft. Dengan tujuan untuk meneliti masalah di
bawah kondisi eksperimental yang hampir mendekati kejadian yang terjadi dalam graft ortotopik,
autograft kulit, dan allograft pada resipien mamalia diteliti oleh converse dan ballantyne
menggunakan metode enzim biokemikal.

Reagen, NT (neotetrazolium klorida) dan DPNH (nukletoida disfoforidin tereduksi),


mengindikasikan kehadiran dehidrogenasi DPNH pada fresh frozen. Seksi histokemikal autograft
kulit full thickness dan allograft pada tikus telah menunjukkan pertumbuhan kapiler host ke
dalam kulit transplantasi yang penting untuk pembentukan vascular definitive graft. Perbedaan
struktur antara pembuluh graft yang sudah ada dengan yang baru di host yang merupakan
indikasi dari dua tipe vascular. Proses revaskularisasi graft oleh host sangat cepat, kapiler host
telah penetrasi melewati garis demarkasi ke dalam dermis graft dalam 12 jam dan mencapai
junction dermoepidermal dalam 48 jam. Data dalam penelitian ini juga mengindikasikan
penurunan progresif aktivitas enzim, ditemani oleh perubahan degenerative pada vascular graft
original selama empat hari pertama setelah graft. Sebagai kebalikan dengan vascular di sekeliling
jaringan host, pola vascular di graft telah berubah. Pembuluh banyak, mencapai ramifikasi yang
lebih besar dan distensi dan menunjukkan pertumbuhan yang bertujuan dan parallel dalam arah
perpendicular dari resipien ke hubungan dermoepidermal graft. Vascular baru secara progresif
berlanjut menjadi pola yang lebih baik selama hari kemudian. Penemuan ini muncul untuk
menguatkan observasi stereomikroskopik pada distensi progresif pembuluh dan peningkatan
jumlah selama beberapa hari setelah postoperasi. Pembuluh yang berdilatasi berlanjut menjadi
caliber yang baik dan menjadi kurang jumlah selama hari berikutnya, untuk enam hari pertama
post operasi, perubahan vascular berhubungan dengan revaskularisasi oleh host di kedua
autograft kulit full thickness dan allograft adalah mirip. Namun, selama hari berikutnya
perluasan pola vascular dalam allograft tergantung pada wkatu perubahan yang berhubungan
dengan reaksi rejeksi kulit.

Penelitian histokemikal converse dan ballantyne menunjukkan pertumbuhan vascular cepat dari
host ke graft, secara kuat membuktikan bahwa pembuluh baru dapat membntuk sirkulasi darah
cukup dalam graft dalam waktu yang singkat. Walaupun penemuan mereka mengkonfirmasikan
pertumbuhan pembuluh baru dari host terjadi, inoskulasi tidak dilakukan.

Penelitian histokemikal selanjutnya menggunakan variasi enzim hidrolitik dan oksidatif dalam
skin graft split thickness porcine. Wolff dan schellander mengkonfirmasi penemuan enzim
converse dan ballantyne dan original thesis garre yang merupakan vascular skin graft definit
berasal dari pertumbuhan kapiler host.

Pengisian awal pembuluh. Haller dan billingham meneliti asal vascular dalam graft kulit
menggunakan cheek pouch hamster Syrian. Dengan menghindari pigmentasi dan appendages,
jaringan skinlike dengan check pouch tinggi vascular hampir transparan. Ketika
ditransplantasikan ke host yang secara genetic dapat dilakukan, ini menawarkan jendela
melewati observasi serial pada sirkulasi yang sedang terbangun dapat diteliti. Penulis
melaporkan bahwa pembuluh vessel graft mengisi secara cepat setelah transplantasi, tetapi tidak
ada aliran yang dicatat sebelum hari keempat atau kelima, pola aliran darah pada isograft yang
sembuh identik dengan pembuluh graft original. Mereka mencatat bahwa ketika pembuluh ini
dihambat oleh injeksi sebelumnya dengan rubber silicon, graft menjadi nekrosis, menyatakan
secara kuat bahwa pembuluh intrinsic graft berguna untuk ketahanan hidupnya.

Revaskularisasi dari batas bed host, rees, ballantyne, hawthorne, dan Nathan memasukkan rubber
silicon antara autograt kulit suprapannicular dan bed host di kulit. Insersi lembar rubber silicon
gagal untuk mencegah perkembangan suplai darah pada skin graft kecil ini. Penemuan
mendukung konsep bahwa ketika pembuluh di host mungkin merupakan sumber utama
revaskularisasi graft , pertumbuhan pembuluh baru dari batas host bed dapat memainkan peran
penting dalam vaskularisasi tranplantasi kulit.
Penelitian mikrosirkulasi
Modifikasi ruangan transparan kulit tikus oleh merwin dan algire, digunakan oleh zarem,
zwefach, dan mcgehee untuk mengevaluasi perkembangan mikrosirkulasi autograft kulit full
thickness di tikus. Penemuan mikroskopik mengindikasikan pertumbuhan endothelial dari arteri
kecil atau arteriole dan venula. Bud endothelial kemudian progress sepanjang pembeluh graft
original, yang mana menyediakan saluran yang tidak viable, dan berkembang menjadi pleksus
imatur pada dinding tipis, saluran irregular dengan osilasi atau aliran tidak langsung yang
lambat. Pada hari kedelapan post operasi pleksus imatur membedakan arteriole, kapiler, dan
venula. Pada dasar observasi mereka, penulis percaya bahwa pembentukan kembali vascular
graft terjadi secara primer sebagai pertumbuhan vascular dari host.

O donoghue dan zarem menggunkan teknik rahasia yang sama di tikus, mengevaluasi perbedaan
properties angiogenik pada autograft kulit segar, allograft kulit segar, autograft liofilis dan
autograft freese-thawed. Ini dilaporkan bahwa walaupun perbedaan konsisten pada properties
angiogenik dari variasi tipe graft, semua graft mampu mengindukasi hyperemia pad abed host
dan neovaskularisasi, mengandung formasi vascular bud host dan perkembangan pembuluh
bentuk sosis meluas ke graft. Kedua auto dan allograft, hyperemia muncul pada hari ketiga atau
keempat setelah transplantasi, neovaskularisasi pada hari keenam, dan revaskularisasi graft
lengkap pada hari kedelapan. Penulis menyimpulkan bahwa kehadiran jaringan graft memainkan
oeran penting dalam stimulasi bud vascular host, untuk anastomosis dengan pembuluh graft host
atau untuk penetrasi jaringan graft keseluruhan.

Birch dan branemark menempatkan autograft kulit scrotal full thickness di atas vascular bed tipis
dari perikondrium auricular luar dan menggunakan modifikasi ruangan telinga branemark dan
lindstrom untuk evaluasi mikroskopik vital. Secepatnya setelah operasi, penulis mengobservasi
pergerakan shunting to dan fro darah di dalam pembuluh darah yang telah ada sebelumnya.
Antara 24 dan 28 jam postoperasi, lambat, sirkulasi darah irregular muncul dalam pembuluh
graft original. Selama 24 jam berikutnya kebanyakan graft melanjut menjadi pembuluh darah
yang hampir normal. Proliferasi vascular diamati, dimulai segera setelah perkembangan sirkulasi
dan berasal dari pembuluh graft sebelumnya, mencapai puncaknya pada hari keenam sampai hari
kesepuluh setelah graft. Peneliti menyimpulkan bahwa aliran darah dicatat dalam graft
tergantung hubungan vascular antara bed graft dan resipien dan dalam sirkulasi host.

Dalam penelitian Birch, branemark dan lundskog sebelumnya mengulang prosedur transplantasi
autograft kulit scrotal kelinci ke host bed aurikula dengan penelitian mikroangiografi dan
mencapai kesimpulan yang mirip. Mikroangiografi menunjukkan bahwa sirkulasi graft awal
muncul sebagai hasil dari hubungan antara pembuluh pada bed resipien dan pembuluh graft
terdilatasi besar. Antara 48 jam 72 jam setelah transplantasi, kapiler dalam bed host penetrasi
lapisan di bawahnya dari graft, pada graft perifer, invasi kapiler lebih diutamakan. Namun,
penulis menyatakan bahwa invasi host tdak menjelaskan peningkatan jumlah pembuluh darah
kecil dicatat dalam lapisan superfisikal graft. Malahan, pembuluh baru pada lapisan ini berasal
dari pembuluh graft original.

Termografi infrared disuplementasi oleh makrofotografi telag digunakan oleh Birch, branemark
dan nilsson untuk meneliti pola emisi panas oleh pembuluh autograft skin scrotal dan bed
resipien aurikula. Penemuan mengindikasikan emisi panas normal dari pembuluh host di bawah
graft secepatnya setelah transplantasi. Berdasarkan penulis, pembuluh yang berproliferasi
terdilatasi di tempat resipien di dalam beberapa hari pertama setelah operaso, menyediakan emisi
panas yang tidak ditutupi oleh edema graft.

Metode lain untuk menilai kondisi vascular dan sirkulasi pada graft kulit dilakukan oleh
marckmann. Dengan tikus hidup yang diposisikan di bawah mikroskop dan dengan amplifier
layar televisi untuk proyeksi ke monitor, ini mungkin untuk memvisualisasi status aliran darah di
autograft kulit dan untuk mendapatkan cinematografi dan rekaman fotografi. Aliran lambat dapat
dilihat pada beberap area graft pada dua hari postoperasi, menjadi normal dalam velositas aliran
bahwa restorasi mikrosirkulasi dicapai oleh hubungan graft pembuluh darah dengan bed
resipiennya.

Inosculastion: a fortuitous encounter? suatu penelitian yang dilakukan oleh Converse. Smahel,
Ballantyne, dan Harper (1975) mengesankan bahwa inoskulasi antara pembuluh darah dari host
dan graft pada tikus coba adalah spotty dan fortuitous. Graft full-thickness suprapannikular pada
tikus coba dipindahkan dalam beberapa jam setelah pemasangan graft. Daerah permukaan pada
host menunjukkan titik-titik perdarahan setelah 24 jam, dan ini terjadi di area-area yang
bervariasi dari permukaan tubuh host. Observasi ini mengesankan bahwa inoskulasi terjadi
dalam bentuk titik-titik. Data yang ada mengesankan bahwa revaskulerisasi dari skin graft pada
orang dewasa merupakan suatu proses yang berkelanjutan: invasi aktif dari graft dermis dengan
pertumbuhan pembuluh darah kapiler dari host; perkembangan anastomosis antara graft dan
pembuluh darah host; masuknya darah ke dalam graft melalui anastomosis vaskuler dalam waktu
48 jam setelah transplantasi.
Graft split-thickness. Telah banyak diasumsikan bahwa skin graft yang tipis akan mengalami
revaskularisasi yang lebih cepat daripada skin graft yang lebih tebal. Gambaran histologist dari
skin graft yang tipis maupun tebal menunjukkan perubahan degeneratif pada transplant yang
bergantung pada laju vaskularisasi; perubahan degenerative pada transplant muncul yang
berkebalikan dengan kecepatan vaskularisasi. Perubahan ini lebih tidak muncul pada graft split-
thickness, karena invasi pembuluh darah mempunyai jarak melintang yang lebih pendek
dibandingkan dengan seluruh ketebalan dermis donor.
Sebagaimana telah disebutkan dalam bab sebelumnya, Wolff dan Schellander (1965, 1966),
dalam suatu penelitian enzim histokimia, dicatat bahwa pembuluh darah yang sebenarnya pada
skin graft split-thickness pada babi dibentuk seluruhnya oleh pembuluh darah kapiler yang
tumbuh dari host, dan pembuluh darah asalnya. Penelitian ini mengkonfirmasi penelitian
histokimia dari Converse dan Ballantyne (1962), yang meneliti skin graft suprapannikular full-
thickness pada tikus coba. Mereka juga menemukan hal yang serupa dnegan yang ditemukan
oleh Converse, Filler, dan Ballantyne (1965) pada skin graft split-thickness.
Pada tahun 1964, Clemmesen, setelah memperkenalkan suspense tinta India ke dalam system
vaskuler dari babi dengan kondisi di bawah tekanan intrakardiak, menarik kesimpulan dari
penelitian histologisnya bahwa revaskularisasi dari skin autograft full-thickness yang
tipisbergantung pada luasnya saluran seperti sinus di antara pembuluh darah dari jaringan host
yang mendasarinya dengan pembuluh darah graft. Ia menyimpulkan bahwa, selama periode
waktu tersebut, komunikasi seperti sinus terbentuk melalui interstice dalam jarungan fibrin pada
junction host-graft yang bertransformasi menjadi pembuluh darah berdinding tipis, yang
memungkinkan terjadi nya aktivitas aliran darah dalam pembuluh darah graft asal. Berbagai
penelitian (stereomikroskopi, histology, atau histokimia) mengenai karakter dan nasib
transplastasi kulit pada hewan, embrio ayam, dan manusia gagal untuk mengkonfirmasi
penemuan Clemmen mengenai saluran seperti sinus pada junction host-graft. Kemungkinan,
tekanan intrakrdiak yang besar dari tinta India yang diinjeksikan merusak pembuluh darah yang
baru terbentuk pada permukaan area resipien atau pada garis batas antara dua jaringan, sehingga
melepaskan suatu cairan yang akan membentuk area yang dipenuhi oleh tinta (ink-filled area).
Kesimpulan Fase-Fase dari Vaskularisasi Graft
Interpretasi terbaru mengemukakan bahwa pemenuhan awal dari ruang endothelial pada graft
dengan cairan yang mirip serum (sebelumhya diduga sebagai cairan yang mirip plasma) diikuti
dengan infiltrasi eritrosit, sebagai hasil dari anastomosis pembuluh-pembuluh darah graft dengan
pembuluh darah host, ditambah dengan pertumbuhan awal endothelium host. Peristiwa ini dapat
dilihat dengan tampaknya warna pink yang muncul pada kulit manusia dengan 2 jam pertama
setelah transplatasi. Warna tersebut kemudian berubah menjadi cherry-red pada graft yang
tervaskularisasu dengan aliran darah yang baik. Warna sianotik karena revaskularisasi graft yang
lebih lambat, yang merefleksikan oksigenasi hemoglobin yang jelek, dapat disebbakan oleh
kurangnya atau tidak adekuatnya aliran darah yang diakibatkan oleh jeleknya venous return atau
drainase dari graft. Dalam periode waktu dan perkembangan sirkulasi tersebut , warna yang
tampak berubah menjadi cherry-red.

Jenis-jenis Skin Graft


Skin Graft Full-Thickness
Skin Graft Full-Thickness mengandung seluruh ketebalan kulit. Lemak harus dihilangkan dari
lapisan bawah dermis untuk memfasilitasi vaskularisasi dari graft. Karena ketebalannya, graft
full-thickness akan mengalami revaskularisasi yang lebih lambat dibandingkan dengan graft
split-thickness dan membutuhkan kondisi optimal, seperti suplai darah yang adekuat dan
immobilisasi yang sempurna, untuk dapat bertahan hidup.
Karena graft full-thickness mengandung seluruh lapisan dermis, karakteristik tersebut kira-kira
lebih tertutup pada kulit normal tersebut daripada graf split-thickness. Graf full-thickness
memiliki keuntungan yang lebih banyak dibandingkan graft split-thickness, diantaranya : (1)
graft full-thickness memiliki tendensi yang lebih rendah untuk mengkerut, khususnya ketika
graft tersebut ditransplantasikan pada area yang kehilangan jaringan lunak, seperti pada daerah
muka, leher, dan axilla; (2) graft tersebut memiliki tendensi post operatif pada pigmen; (3)
penutuonya secara fungsional lebih superior; dan (4) graft tersebut memiliki tendensi yang lebih
rendah dalam mengembangkan kulit menjadi lembut kemilau, karakteristik dimana bertentangan
dengan penggunaan kosmetika.

Kegunaan Graft Full-Thickness. Graft full-thicness secara umum digunakan untuk


memperbaiki secara definitif dari defek pada wajah dimana hal tersebut diestimasikan menjadi
penampilan yang lebih menarik oleh metode ini bahkan berarti juga pada penutup lokal, atau
ketika penutup lokal tidak didapatkan atau dapat dihasilkan dengan mudah. Graft yang dilakukan
dari area wajah dan leher memberikan perpaduan warna yang bagus pada proses perbikan pada
defek wajah. Graft full-thickness sangat ideal untuk menggantikan kulit kelopak mata bawah,
sebagai contoh, dimana perpaduan warna dan tekstur yang ditransplantasikan secara praktis tak
dapat dibedakan dengan kulit kelopak bawah mata yang normal. Hal ini dapat juga digunakan
sebagai penutup sementara yang mengikuti tindakan eksisi karsinoma sel basal pada wajah,
dimana kegunaan dari penutup adalah sebagai topeng dalam keadaan sakit yang berulang. Pada
banyak pasien-pasien, graft akan bercampur secara baik setelah satu tahun dimana ulasan
penutup selanjutnya tidak diperlukan. Graft kulit full-thickness juga diindikasaikan untuk
pelapisan defek pada bagian volar dari tangan dan jari.

Tempat-tempat donor untuk graft kulit full-thickness


Area Retroaurikula. Bagian besar dari kulit yang menggunakan metode full-thickness
dapat dihilangkan dari aspek posterior dari area helix dan mastoid (Gambar 6-3). Luka biasanya
dapat ditutup secara primer, dan ketika defek pada donor melebihi 3 cm, sulkus retroaurikularis
mungkin dapat terlihat pada penutupan primer. Sulkus tersebut dapat direkonstruksi dengan graft
split-thickness kulit, khususnya jika seluruh area restroaurikula tersebut dari rima heliks sampai
garis rambur dapat di jadikan sebagai area donor. Kulit retroaurikula, setelah periode inisiasi
pada peningkatan vaskularisasi, hal ini jarang dan menyediakan hasil yang pantas pada pelapisan
defek pada wajah.
Area Supraklavikula. Ketika graf kulit dengan metode full-thickness diperlukan, seperti
untuk defek luas pada kepala bagian depan atau bagian estetika bibir atas, area supraklavikula
adalah area yang diprioritaskan. Warna dan teksturnya mendekati kemungkinan diterimanya graf
retroaurikular tersebut. Area supraklavikula adalah area kontraindikasi jika diseksi penutup leher
atau servikal direncanakan pada masa yang akan datang. Area donor supraklavikular secara
kosmetik lebih jarang diinginkan pada wanita.

Gambar 6-3. Area retroaurikula sebagai area donor untuk graft kulit dengan full-thickness, A.
Diusulkan graft, memasukan bagian dari sulkus retroaurikular, B. Defek ini biasanya dapat
menjadi tertutup secara primer.

Kelopak Mata Bagian Atas. Area ini menyediakan kulit pada full-thickness dan area
donor sebagai pilihan pada rekonstruksi defek minimal pada kelopak mata.
Abdomen dan Paha. Graft full-thickness mungkin juga dapat dihilangkan dari abdomen
ataupun paha, tetapi perpaduan warna dan tekstur begitu jelek ketika tipe kulit jenis ini dijadikan
graft untuk wajah. Karena kulit ini adalah kulit yang cukup tebal, bagian abdomen atau paha
direkomendasikan sebagai bagian donor untuk graft split-thickness kulit. Graft full-thickness dari
abdomen telah membuat area graft area grafting menjadi predisposisi untuk terjadinya
kontraktur, seperti pada bagian cervical dan axxila. Presensi dari seluruh ketebalan dari dermis
pada graft full-thickness meniadakan tendensi untuk terjadinya kontraksi yang mengikuti
terjadinya kontraktur pada area tersebut. Graft full-thickness hampir seluruhnya dapat
menggantikan untuk metode ini oleh graft split-thickness yang tebal (disebut sebagai graft three-
quarter thickness oleh Padgett); ketebalan graft thick split-thickness memberi banyak keuntungan
yang mendekati dari graft full-thickness dan lebih mudah untuk dihilangkan. Cronin (lihat BAB
34) telah mendemontrasikan bahwa immobilisasi yang lama adalah cara efektif dalam mencegah
kontraktur graft yang dipasang dalam jangka waktu lama. Ketika graft split-thickness begitu
direkomendasikan, sebagai contohnya dalam penatalaksanaan graft pada axilla, area donor graft
split-thickness seharusnya dapat dilakukan graft dengan graft split-thickness yang tebal untuk
menhindari perlambatan penghilangan defek dan skar kulit yang hipertrofi.
Tempat Lain. Lipatan flexor antecubiti, lipatan pergelangan tangan bagian volar, dan
lipatan inguinal dapat dijadikan alternatif area donor. Pembentuk ini dalam keterangan-
keterangan cukup sesuai untuk melapisi kembali defek pada jari-jari atau pada tangan, sejak hal
itu menyingkirkan kebutuhan untuk area operatif kedua.
Kulit preputium pada laki-laki dan labia mayor pada perempuan kadang-kadang
digunakan untuk graft full-thickness. Pembentuk itu digunakan untuk rekonstruksi uretra pada
operasi rekonstruksi pada hipospadia (lihat BAB 95). Kulit labium, karena warna dan pigmentasi
pada kulit tersebut, telah digunakan untuk rekonstruksi areola dan puting mammae. Wexler dan
Oneal (tahun 1973) melakukan hemiseksi dan penghilangan sebagian puting dan areola;
keduanya tersebut kira-kira untuk membentuk kompleks dua puting-areola kecil.
Penghilangan Graft Full-Thickness. Graft full-thickness secara umum memotong pola
defek yang dialkukan graft (gambar 6-4). Pola kain pelanel atau material plastik transparan yang
lembut dapat dilakukan, skema tersebut didesain sebelum dan sesudah eksisi pada lesi atau skar.
Hal ini lebih diprioritaskan untuk membuat pola setelah dilakukannya eksisi, tepi luka yang
retraksi, bahkan pelebaran ukuran dari defek. Mengikuti proses eksisi dan hemostasis, defek
tersebut digaris oleh darah yang keluar yang membuat basah kain katun.
Gambar 6-4. Penghilangan graft full-thickness kulit dari area supraclavikula. Graft telah
dipotong sesuai dengan pola defek pada kepala bagian depan.

Gambar 6-5. Perusakan pada bawah permukaan dari graft full-thickness kulit dengan sepasang
gunting.
Pola dari graft seharusnya diorientasikan secara lebih berarti dengan penandaan tinta atau
potongan kecil yang dibuat oleh gunting. Pola tersebut diberikan untuk daerah donor dan garis
tersebut dibuat oleh tinta. Hal ini biasanya digunakan untuk memasukan injeksi procain dan
epinefrin dengan segera di bawah lapisan kulit dari daerah donor dan balon pada area yang luas
dengan cairan anestetik. Bantuan ini pada separasi lapisan kulit yang dasarnya adalah lemak dan
memfasilitasi penghilangan graft secara pembedahan. Eksisi pada graft full-thickness tanpa
penimbunan lemak adalah prosedur yang membosankan. Hal ini lebih menarik untuk dilakukan
pengeluaran graft secara cepat sesuai dengan situasi yang segera juga di bawah perbatasan dari
dermis dan lemak dan garis lemak dari graft setelah pelepasan graft tersebut. Penghilangan
lemak dari graft seharusnya disempurnakan dengan gunting-gunting sepasang pada perintah
untuk menghindari terjadinya luka pada dasar dari dermis dengan pengguntingan metode tumpul
keras oleh gunting bedah. (gambar 6-5)
Daerah donor ditutup dengan menutup pinggir kulit dan menutupi luka primernya. Untuk
defek yang besar rotasi penutup atau graft split-thickness kulit mungkin disediakan.
Balutan Tekanan. Graft kulit dengan metode fuill-thickness adalah dijahit pada daerah
resepien setelah hemostasis yang sangat cermat dengan elektrokoagulasi. Tentunya jahitan sutura
adalah kiri panjang untuk digunakan pertalian bantal panjang dengan jarum, kain, ataupun kain
wool domba untuk immobilisasi (gambar 6-6). Pertalian dengan bantal panjang ini harus dijaga
dengan lambat dan pada bagian kiri pada tempat tersebut selama lima sampai sepuluh hari,
dimana graft dapat diperiksa setelah empat sampai enam hari oleh pemotongan sedikit pada
daerah yang ditali.
Gambar 6-6. Pemakaian bolus digunakan untuk immobilisasi graft full-thickness kulit. A,
Lapisan dalam dari petrolatum gauze digunakan. Sutura yang dibentuk dijaga panjangnya. B,
lapisan bulu-bulu yang ringan digunakan dan sutura diikat. Asisten lubang pertama
menyimpulkan ikatan untuk mencegah selip. C, tampilan akhir. (Dari Chase, R. A. : Atlas of
Hand Surgery. Philadelphia, W.B.Saunders Company, 1973.)

Hal ini menekankan bahwa pembentukan scar secara sirkumferensial akan terjadi pada
setiap area di mana graft ditempatkan. Jika graft tersebut terlalu panjang dan tidak patut untuk
dilepaskan atau area resepien terlalu dangkal, graft tersebut dapat berlangsung seperti kenaikan
tombol, memberikan efek gambaran seperti batu bulan di jalanan. Fistula arteriovenous,
neuromas, dan skar adalah komplikasi dimana hal ini sudah diobservasi sebelumnya pada daerha
donor. Hal serupa, fistula arteriovenous, efek seperti batu jalanan, dan kekurangan pertumbuhan
rambut pada transfer graft telah membuat catatan komplikasi pada area resepien.
Graft kulit dengan Split-Thickness
Graft split-thickness adalah metode yang digunakan paling banyak dari graft kulit untuk
menutupi kulit yang terbuka hasil dari trauma dan karena terbakar dan dengan segera diganti
dengan defek kutaneus yang mengikuti eksisi untuk kearah keganasan. Graft split-thickness
mungkin diadakan untuk menjadi pengobatan definitif atau graft kulit sementara yang menutupi
untuk digantikan di waktu yang akan datang oleh tipe yang lebih definitif dari graft ataupun
penutup yang digunakan.
Graft kulit split-thickness adalah memotong atas variasi ketebalan (lihat gambar 6-2).
Tipe tipis dari graft split-thickness sering nya diserahkan sebagai graft Thiersch. Hal itu
memperpanjang dari kulit tersebut pada level yang segera dibawah epidermis dan terdiri dari
hanya lapisan tipis dari kulit. Kebanyakan dari graft kulit split-thickness memperpanjang dermis
pada level kira-kira setengah perjalanan pertumbuhan dermis, dan metode split-thickness tebal
ataupun graft three-quarter thickness dihilangkan pada level yang memperpanjang persilangan
pada lapisan yang dalam dari dermis.
Juga selama perang dunia II, ahli bedah muda Amerika, Harry M. Brown, menyusun ide
pembuatan instrument baru, dermatom elektrik (gambar 6-9). Brown telah menjadi tawanan
perang selama Bataan menyerang Philadelphia dan dia menyusun ide baru pembuatan instrumen
baru tersebut selama dia menjadi tawanan. Setelah perang selesai, dia dapat mengembangkan
instrument tersebut, tetapi sialnya tidak ada saksi yang melihat besarnya kontribusi klinis yang
telah dibuatnya, hingga dia meninggal dalam kecelakaan tragis tidak lama setelah dia
menyelesaikan residensi ahli bedahnya. Dermatom elektrik Brown yang asli dan variasi
modifikasinya dikembangkan oleh negara Amerika Serikat, Inggris, Perancis, yang mengizinkan
percepatan penghilangan bidang-bidang panjang pada kulit dengan metode split-thickness,
keterangan manfaat pada graft pada pasien yang mengalami luka bakar. Kegunaan dermatom
Padgett dan Reese, dimana hal ini diminta penggambarannya dari permukaan kulit dengan semen
sebelumnya untuk menghilangkan graft, membutuhkan waktu lebih untuk digunakan ketika
defek tersebut besar, pada seringnya pada pasien-pasien dengan luka bakar. Penghilangan yang
cepat dari graft kulit dibuat mungkin oleh dermatom elektrik yang telah respons untuk
penggunaan rutin dari instrument pada penghilangan graft kulit split-thickness pada pasien-
pasien dengan luka bakar.
Gambar 6-8. Dermatom Padgett-Hood. (diambil dari Dermatom Padgett, Perusahaan
Perkumpulan Kota Kansas, Kota Kansas, Mo.64111)

Gambar 6-9. Dermatom elektrik Brown. (gambar diambil dari Dr.D.Wood-Smith.)

Pengembangan lebih lanjut terkini (gambar 6-10) pada evolusi dari dermatom telah
menjadi perkenalan pada dermatom-dermatom pada perjalanan udara (cairan nitrogen).* mereka
dengan mudah memanajemen dan dapat menghilangkan kerusakan panjang dari kulit dengan
presisi mendekatkan pada dermatom-dermatom Padgett dan Reese.
Dermatom Drum. Sejak perang dunia II, dermatom drum telah menjadi popular dan
nyaman digunakan dan beroperasi ketika graft split-thickness dipotong dengan cermat tersebut
diinginkan.
Dermatom Reese. Dermatom Reese † (gambar 6-11), instrumen mesin yang teliti, adalah
modifikasi dari dermatom Padgett Hood. Set yang mengiringi kecerahannya mengizinkan
kalibrasi yang hati-hati pada ketebalan dari graft. Terdapat hal yang merugikan pada keadaan
tersebut, jika graft yang diberikan terlalu tebal atau tipis, hal ini sulit untuk mengubah kalibrasi
poada pertengahan penghilangan graft kulit.

Gambar 6-10. Dermatom perjalanan udara. Terdapat beberapa salinan tombol untuk mengontrol
lebar dan kedalaman dari graft kulit. Mata pisau sekali pakai juga digunakan.
Gambar 6-11. Dermatom Reese. A, Dermatom di atas stand. B, pegangan dermatom dan kunci
batang klem. C, Membuka kunci. D, Akhir lipatan dari dermatape dimasukan dibawah batang
klem.

Kulit dipersiapkan oleh pemberian antiseptik topikal pada area donor, diikuti oleh agen
perusak, seperti ether. Area donor diwarnai dengan semen dermatom, perawatan menjadi latihan
bahwa lem pada sikat tidak dikuti untuk mengeringkan maka tidak ada penggumpalan pada
persiapan permukaan. Jika lebih sedikit dari drum yang penuh atau pola graft telah disediakan,
keinginan bentuk dapat di garis dengan tinta dan pola tersebut diwarnai dengan lem dermatom.
Minyak Vaseline dapat digunakan untuk mengelilingi pola untuk menghindari pemotongan yang
mengelilingi jaringan dengan dermatom.
Saat mempersiapkan daerah donor adalah mengeringkan (tiga menit harus terlewati),
dermatom tersebut dapat terpasang. Area dermatom terdapat dalam stand dimana bulatan pada
set yang pebuh dari kilauan. (gambar 6-11. A). Batang klem yang mengunci secara berlapis-lapis
dermatape telah dibuka. Dermatape secara hati-hati melipat pada kedua ujung yang mengikuti
garis-garis hitam (gambar 6-11, B, C). Satu ujung dari dermatape dimasukan di bawah batang
klem (gambar 6-11, D) maka pada lipatan tepi yang pantas melebihi margin permukaan dari
drum. Batang klem dikembalikan untuk mengunci dermatape dan terkunci pada posisi tertentu
(gambar 6-11, E, F). Ujung yang sebaliknya dari dermatape dimasukan ke dalam slot pada
kumparan yang mempercepat (gambar 6-11, G).bagian yang aneh kemudian berotasi untuk
menghidupkan kumparan dan mempercepat dermatape berlawanan terhadap permukaan drum
(gambar 6-11, H). Pita tersebut diinsisi mendekati kedua permukaan yang bebas dari drum, dan
penutup sebelah luar mengelupas kembali untuk mengekspos permukaan berbahan perekat dari
dermatape (gambar 6-11, I). Pisau bedah yang sekali pakai dan keinginan penebalan telah
dimasukan ke dalam klem mata pisau. Babak aneh adalah penebalan pada salah satu dari dua
ujung untuk mengunci klem mata pisau (gambar 6-11, J, K). Saat instrument dapat dipasang,
kulit tersebut di cat dengan lem pada coretan tunggal. Tiga menit harus dilalui untuk
mengeringkan daerah yang mengandung perekat tersebut (gambar 6-11, L, M).
Untuk menghilangkan kulit, instrumen ini pertama kali ditekan berlawanan daerah donor
mendekati tepi bebas (gambar 6-11, N) dan kemudian dirotasikan secara pelan-pelan sampai kulit
menjadi rusak pada pinggir dari drum tetapi masih tidak dapat menjadi robek (gambar 6-11, O,
P). Pemotongan dimulai dengan tidak ada kekuatan lebih yang maju dari sekarang ini pada berat
mata pisau. Mata pisau berpindah dari sebelah ke sebelah ketika drum berotasi dengan lambat
(dorsofleksi dari pergelangan tangan) tetapi dipegang dengan mantap; dengan tidak ada waktu
untuk pisau memaksa kedepan (gambar 6-11, Q). Jika terdapat beberapa tendensi untuk kulit
untuk menarik jauh pada margin, drum ditekan lebih kuat pada kulit dan sebagai tambahan
dilingkarkan dengan ringan pada mata pisau pemotong untuk menggulung kulit di hadapan tepi
pemotong. Jika mata pisau cenderung memotong melebihi lebar drum, maka diperbaiki dengan
mengangkat drum secara vertikal dari kulit atau meminta asisten melepaskan kulit dari drum
pada setiap tepi dengan sepasang hemostats. Komplikasi ini juga dapat dihindari dengan
mwngolesi paraffin ointmen atau mineral oil pada tepi drum. Pemotongan selesai dengan
pengangkatan drum dan graft dari donor, dan memotong graft dengan beberapa gerakan terampil
oleh mata pisau; sebagai kemungkinan lain, dermatome dapat dikembalikan dan graft dipotong
dengan pisau.
Peralatan dikembalikan ke tempatnya dan mata pisau dikembalikan pada posisi
terlindung. Mata pisau sekali pakai harus dibuang untuk menghindari perlukaan terhadap
personal operasi yang lain. Dermatape dipindahkan dan ditutupi dengan kasa terendam dalam
larutan saline normal.
Ketika dibutuhkan untuk menggunakan area leher, dada, pinggang, atau area lain dari
tubuh yang merupakan bagian rendah atau terdapat penonjolan tulang, akan sangat berguna
untuk mengisi bagian terendah atau penonjolan dengan injeksi saline normal dengan pengisian
syringe Pitkin otomatis sampai ketinggian yang sama dengan area sekitar. Teknik ini akan
memungkinkan pengambilan graft dari bagian tubuh manapun.
Dermatom Padgett. Dermatom Padgett meskipun kurang cermat dari Dermatom Reese,
namun lebih mudah dan lebih cepat. Dibuat atas dasar prinsip drum kurang kemilau. Jarak antara
mata pisau dan drum dikalibrasi dalam seperseribu inci dan diatur dengan menyalakan sebuah
roda bergigi pada satu sisi dari lengan mata pisau. Saat ini telah tersedia Dermatom Padgett tape
plastik dengan lem pada permukaannya. Penutup pelindung terluar dipindahkan dari tape, dan
bagian yang terlindung digunakan pada drum dari dermatome. Ketebalan potongan harus
ditingkatkan kira – kira 0.004 inci untuk mengimbangi ketebalan tape. Graft dapat diambil dari
outline Reese dermatome, dan graft kulit dapat ditarik dengan mudah dari tape.
Dalam memotong graft dengan Reese atau Dermatom Padgett, penting untuk memotong
bagian secara transversal daripada paralel terhadap permukaan konvek, yaitu secara transversal
melalui paha, abdomen, atau trunkus. Kecenderungan kulit terlepas pada sisi instrumen akan
berkurang, dan jumlah kulit yang lebih besar dapat dipindahkan dengan cara ini.
Dermatom Elektrik. Dermatom Brown adalah elektrik dermatom yang pertama
dikembangkan dan bernilai secara khusus karena sejumlah besar kulit dapat dipotong dengan
cepat. Dermatom elektrik telah menggantikan Vacutome secara luas, dikembangkan oleh Backer
(1948), instrumen lain yang memungkinkan pemindahan skin graft secara cepat. Alat ini tidak
memerlukan penggunaan perekat. Mata pisau disterilkan dengan perendaman dalam Zephiran
atau l arutan sterilisasi lain yang sesuai, sedangkan kepala penggunting dan kabel terlapis karet
menggunakan autoclave. Terbalut secara tersendiri, mata pisau steril juga tersedia.
Mata pisau disisipkan dengan menyesuaikan setelan sekrup mata pisau yang terbuka.
Secara hati – hati mata pisau diselipkan pada tempatnya dan diletakkan di atas tiga rivet sebelum
tiga sekrup pengunci dikencangkan. Kedua setelan sekrup yang dapat disesuaikan kemudian
dikecilkan sekecil mungkin sehingga mencapai nol. Kedua setelan sekrup dibuka secara
bersamaan sesuai dengan ketebalan graft yang diinginkan yang dikalibrasi dalam seperseribu
inci.
Saat ini tersedia sebuah modifikasi air-driven dari Dermatom Brown, yang dapat
mengeliminasi bahaya yang menjadi sifat sebuah instrumen operasi elektrik.
Setelah instrumen disesuaikan dengan setelan yang diinginkan, minyak mineral steril
dioleskan pada sisi donor. Dengan asisten yang memegang ekstrimitas, ahli bedah melakukan
penekanan dengan tangan kiri sementara mendorong maju instrumen dengan tangan kanan.
Seiring dengan dermatom berpindah dan keluar dari jangkauan penekanan, instrumen dihentikan
untuk membiarkan tangan kiri bergerak maju untuk melakukan kembali penekanan. Jika graft
nampak terlalu tebal, kalibrasi diulang tanpa memindahkan instrumen dari sisi donor.
Ketika multiple graft dipindahkan ke atas cellophane steril atau potongan kasa yang
ditutupi dengan lapisan tipis petrolatum, maka multiple graft akan teregang, permukaan dalam
(kulit) nampak. Masing – masing graft baru diambil sedekat mungkin dari sisi donor sebelumnya
dalam rangka memanfaatkan seluruh donor kulit yang tersedia. Graft ditutupi dengan sepon
lembab sampai siap untuk digunakan.
Penting untuk dapat mengenali karakteristik pemotongan instrumen, yang berbeda dari
satu instrumen dengan instrumen lainnya dalam 0.002 hingga 0.005 inci kedalaman dari
penetrasi kulit. Ketebalan graft juga dipengaruhi oleh derajat tekanan yang digunakan oleh
operator. Ketika pemotongan pada area dengan dasar tulang, seperti aspek anterior dari paha atau
tungkai, hanya tekanan rendah yang dibutuhkan atau graft akan menjadi terlalu tebal. Pada
umumnya, pada setelan 0.0018 inci, akan diperoleh graft sekitar 0.0016 inci, yang dinilai
sebagai medium-thick split-thickness graft kulit. Sebuah takik atau iregularitas pada mata pisau
akan menghasilkan robekan longitudinal pada graft; mata pisau selayaknya diinspeksi sebelum
disisipkan dan dari setelan ternilai bahwa potongan akan rata dan tepat.
Sebuah kaidah yang baik membatasi penggunaan instumen ini terhadap ekstrimitas,
kecuali pada individu dengan obesitas. Perawatan harus dilakukan ketika memotong di dalam
paha bayi seiring terdapat kecenderungan instrumen untuk melewati dan meloncati tonjolan
lemak ireguler. Dermatom Brown yang dilakukan dengan sembarangan dan salah dapat membuat
sisi donor tubuh tidak berguna untuk pengambilan graft kulit berikutnya.
Dermatom elektrik untuk menghilangkan scars. Dermatom elektrik dapat juga digunakan
untuk menghilangkan plak scar datar jika tidak terdapat kontraktur. Dengan mengatur instrumen
pada sekitar 0.0025 inci hingga 0.0030 inci, scar dapat diiris bertahap dengan pengulangan
pajanan instrumen sampai tersisa lapisan tipis scar menutupi lemak; lapisan yang dihasilkan
berupa dasar yang halus untuk diaplikasikan graft. Graft dapat diaplikasikan saat eksisi scar jika
homeostatis adekuat dapat didapatkan, atau dapat pula ditunda.
Dermatom elektrik untuk menghilangkan skar luka bakar. Kegunaan lain dari dermatom
elektrik adalah untuk debridemen pada luka bakar derajat tiga (full-thickness). Jika ketebalan
eschar masih dipertanyakan, dermatome diatur pada sekitar 0.0020 inci, dan lapisan terluar
eschar dieksisi. Jika kedalaman luka bakar tidak lagi dipertanyakan, instrumen dapat dibuka pada
0.0030 inci dan seluruh ketebalan eschar dieksisi hingga lapisan lemak normal. Hal ini harus
dilakukan dengan pneumatic tourniquet atau Esmarch bandage steril untuk mengurangi
kehilangan darah. Penggunaan untuk tujuan ini harus dibatasi hanya pada luka bakar ringan
dikarenakan bahaya akan terjadinya hipovolemi sekunder dari kehilangan darah. Penggantian
kehilangan darah adalah konsekuensi yang paing tidak dapat dielakkan. Metod terbaru seperti
eksisi tangensial berkaitan dengan kehilangan darah yang lebih sedikit.
Dermatom elektrik dapat juga digunakan untuk menghilangkan tato, tetapi, jika tepinya
ireguler, akan lebih mudah menggunakan Dermatom Padgett.
Dermatom Hall and stryker rollo turbine. Dermatome Hall dan stryker turbine adalah
sama dengan model elektrik kecuali bahwa digerakkan oleh cairan nitrogen, bekerja dengan
halus dan menghasilkan graft yang rata dengan kontrol ketebalan mendekati Reese drum
dermatom. Teknik yang sama menggambarkan kerja Brown electric dermatom dalam mengambil
graft.
Dermatom Castroviejo. Instrumen ini berguna untuk memotong graft membran mukosa
pada tindakan pada kelopak mata dan kelainan socket. Instrumen ini bertenaga Norelco shaving
motor dan memilki kepala pemotong yang kecil dengan mata pisau khusus dan shims untuk
mengontrol ketebalan potongan. Instrumen ini juga berguna untuk membantu memindahkan tato
setelah eksisi awal diselesaikan dengan Brown atau Padget dermatome. Jika area kecil tato tetap
tersisa, Dermatom Castroviejo dapat digunakan untuk membersihkan area sisa tersebut.

Dermatom sekali pakai. Davol telah memasarkan dermatome sekali pakai yang akan
memotong graft dengan ketebalan hampir 0.15 inci dan luas 1 ½ inci. Kepala pemotong dibuang
dalam kantong plastik steril. Motor merupakan motor sikat gigi Oral B yang dapat diisi ulang
daya yang dapat dimasukkan ke dalam kantongt plastik dan disegel. Kepala pemotong steril
ditekan melalui kantong ke motor untuk menjamin tetap steril.
Pisau Blair dan Humby. Sebelum elektrik Dermatom Padgett dan Reese dikembangkan dan
menjadi populer, seluruh graft dipotong dengan tangan menggunakan pisau yang tajam. Pisau
yang digunakan untuk tujuan ini memiliki mata pisau yang panjang dan tajam, biasanya dengan
adapter diatas pisau untuk memfasilitasi pemotongan graft dan untuk mengontrol ketebalan graft.
Sebuah bagian besar dari kulit dapat terpotong dari paha atau bahkan dari badan setelah
seseorang terbiasa menggunakannya. Alat ini dapat digunakan dengan kotak penghisap yang
dirancang untuk menjaga kulit tetap intak sembari tekanan dipertahankan oleh asisten.
Petrolatum steril atau minyak mineral diaplikasikan pada daerah donor untuk memfasilitasi agar
pisau bisa bergeser.
Diperlukan pisau yang sangat tajam; pisau ini diletakkan sejajar dengan permukaan kulit
dan digerakkan maju mundur dengan sedikit gerakan menggores dan sedikit tekanan. Jika satu
kali percobaan untuk menekan ke depan terlalu cepat, pisau akan memotong kulit dan kontinuitas
graft akan rusak. Semua siswa atau residen bedah plastic harus menyesuaikan diri dalam
memotong graft, dimana terdapat beberapa situasi dimana graft berukuran kecil hingga sedang
harus dipotong saat di kantor, di klinik rawat jalan, atau bahkan di tempat tidur.

Graft mesh. Graft mesh adalah split thickness skin graft tipis dimana dibuat beberapa irisan kecil
sehingga graft dapat ditarik dan diperluas ke dua arah menjadi beberapa kali lipat dari ukuran
aslinya. Graft ini ditempatkan dengan dijahit, perban steril, atau penutup lain, yang diindikasikan
sebagai penutup untuk luka bakar luas dan defek trauma luas yang mengikutinya.
Graft mesh juga dapat digunakan pada luka karena trauma sebagai penutup luka awal, biasanya
sebelum semua kulit terkelupas. Irisan pada mesh dapat memfasilitasi drainase dan digunakan
saat hemostasis pada tempat resipien tidak komplit.

Terdapat dua alat yang tersedia untuk membuat graft ini. Yang pertama dibuat oleh Zimmer; graft
diletakkan di atas alat dan beberapa pisau pada batang melingkar kemudian akan membuat
irisan-irisan (gambar 6-15). Alat yang lain dibuat oleh Padgett (gambar 6-16); graft diletakkan di
atas pisau dan sebuah roll menekan kulit kearah pisau.
Instrumen Zimmer dapat membuat lapisan kulit yang panjang dan tipis (8inchi x 27/8inchi). Graft
harus dijaga agar tetap tipis (0,012 hingga 0,015 inchi) atau jika tidak akan tersumbat di rotor.
Alat Padgett dapat digunakan dengan mudah untuk membuat graft mesh yang luas dan tebal,
tetapi graft harus diangkat dari pisau dan direposisi setiap setelah dipotong.
Instrumen Zimmer mempunyai 4 variasi, dan rasio perluasannya bekisar dari 1,5 – 1 hingga 9-1.
Split thickness sking graft
Saat sebuah defek pada kulit, baik karena trauma, terbakar, atau eksisi pembedahan,
terlalu lebar untuk dilakukan full-thickness graft, maka diindikasikan untuk digunakan split
thickness graft, karena tidak menyebabkan defek full-thickness dan permukaan area donor dapat
membaik dengan adanya epitelisasi sekunder.
Eksisi nevi berpigmen yang besar atau jaringan parut bekas luka bakar atau pelepasan
kontraktur luka bakar, seperti pada tindakan eksisi bedah yang lain, dapat menyebabkan defek
yang tidak dapat menutup secara primer dan harus ditutup dengan menggunakan graft kulit. Saat
defek berukuran kecil dan berlokasi di wajah atau leher atas, maka diindikasikan dilakukan full-
thickness graft. Pada beberapa keadaan, area eksisi primer ditutup dengan flap transposisi dan
defek sekunder ditutup dengan split-thickness skin graft. Jika sebuah keputusan telah ditetapkan
untuk menggunakan split-thickness graft, ahli bedah harus menentukan lokasi donor, alat
pemotong, dan metode penempelannya.
Pemilihan lokasi donor. Pada rata-rata penggunaan graft, abdomen memberikan lokasi
donor yang paling baik kecuali telah terdapat striae. Daerah ini lebih baik daripada paha atau
bokong karena beberapa alasan. Kulit bagian ini tertutup pakaian, dan penggunaannya
memungkinkan ambulasi pasien dengan nyeri yang minimal. Ketika graft ditempatkan di wajah
atau leher, dada atau punggung atas merupakan lokasi donor yang lebih baik karena warna
kulitnya yang mirip.
Ketika melakukan graft pada defek permukaan kulit yang luas yang menyebabkan
hilangnya lapisan kulit, seperti luka bakar, ahli bedah harus memikirkan beberapa lokasi donor.
Daerah yang tidak terbakar pada kaki dapat digunakan untuk memperoleh graft tipis dengan
dermatom turbin dan elektrik. Untuk menutup area flexor, seperti leher, lutut, engkel, axilla, atau
inguinal, maka abdomen, punggung, atau bokong harus digunakan sebagai donor dan dilakukan
split-thickness graft yang tebal. Graft yang tebal ini mengandung dermis yang lebih banyak yang
akan memberikan hasil yang berfungsi lebih baik dengan lebih sedikit kontraktur. Lokasi donor
graft tebal dapat ditutup dengan split-thickness graft tipis.
Graft mukosa. Graft mukosa diperlukan untuk mengganti lapisan konjungtiva dan cavum nasi.
Graft ini juga digunakan untuk rekonstruksi rongga mata.
Split-thickness mukosa terkalibrasi dapat diperoleh di aspek internal dari bibir bawah dengan
dermatom elektrik kecil bertenaga udara.
Graft mukosa full-thickness dapat diambil dari mukosa pipi. Insisi dibuat di atas sulcus
buccal, dan sepotong mukosa full-thickness berukuran 2,5x5 cm dapat diambil dengan tetap
menjaga keutuhan lubang ductus Stensen. Graft kemudian dihilangkan lemaknya seperti pada
graft kulit.
Aplikasi graft kulit. Graft kulit split-thickness yang biasa digunakan pada luka bedah
yang bersih ditempatkan ke lokasinya dan dijahit menggunakan 4-0 atau 5-0 silk atau nylon.
Pada kebanyakan penggunaan, fiksasi yang terbaik adalah dengan penutup tie-over bolus. Jahitan
berjarak sekitar 1,5-2,5 cm dan panjang untuk memfasilitasi jahitan tie-over. Graft menempel
pada batas kulit tanpa adanya overlap; batas kulit dapat overlap jika pertimbangan estetika tidak
penting. Lubang jahitan dihindari pada graft. Dan tidak perlu melakukan jahitan pada graft di
bednya. Sedikit jahitan interuptus cukup untuk mencegah kulit dari retraksi pada tepinya yang
ditempatkan diantara jahitan tie-over.
Material yang ideal untuk digunakan untuk menutup jahitan tie over adalah kasa halus.
Katun, acrilan, wool, jug adapat digunakan. Material yang dipilih kemudian ditekankan dan
digerakkan maju mundur pada graft agar menempel pada bed dan jahitan terikat pada tempatnya.
Disarankan untuk menjaga penutup tie-over agar tidak merusak graft. Penutup ini kemudian
dapat ditutup dengan elastoplasts atau perban Ace.
Penutup bertekanan. Penutup bertekanan memainkan peran penting dalam keberhasilan prosedur
graft. Kini telah terpikir bahwa tujuan utama penutup bertekanan adalah untuk menjaga kontak
antara graft dan bed host.
Setelah graft difiksasi pada posisinya, perawatan harus diberikan untuk membersihkan
darah atau serum yang dapat menghalangi kontak antara graft dan bed. Semakin tipis lapisan
fibrin antara graft dan bed, semakin cepat pembuluh darah host dapat menembus graft. Lebih
lanjut, Polk menunjukkan bahwa tingkat adherence graft paling besar pada 8 jam pertama dan
berlanjut dengan tingkat yang lebih rendah selama 4 hari. Setelah 24 jam, hanya penggantian
penutup yang tidak hati-hati saja yang dapat menyebabkan displacement yang signifikan pada
graft.
Penutup bertekanan memiliki fungsi yang besar pada graft kulit di ekstremitas dengan
memastikan penutup bertekanan di seluruh area graft dan sebagian daerah di distal area graft.
Kongesti vena dan edema dicegah, dan sirkulasi pada area graft membaik. Ekstremitas harus
selalu di elevasikan sebagai precaution tambahan untuk menambah sirkulasi pada anggota tubuh.
Immobilisasi yang adekuat pada area graft harus dilakukan, dan ekstremitas yang digraft harus
dipakaikan plaster splint untuk mencegah gerakan sendi pada area graft. Gerakan fleksi atau
ekstensi dapat menyebabkan perpindahan graft dari bednya dan dapat merobek kapiler yang
sedang tumbuh, dan menyebabkan perdarahan dan hematom yang terbentuk dibawah graft.
Sebelum kompresi dengan penutup dipasang, verifikasi bahwa tidak ada bekuan darah di bawah
graft. Penting utnuk meninggalkan satu area perbatasan graft dengan tepi luka tidak terjahit
untuk memungkinkan pengeluaran bekuan darah dengan menggunakan aplikator berujung katun
atau irigasi dengan syringe karet. Pasien dilakukan kompresi pada graft hingga terjadi adhesi
pada graft, sebelum selesai penjahitan dan pemakaian penutup bertekanan, guna mencegah
bekuan darah dibawah graft.

Graft kulit inlay (Stent)


Dalam memperbaiki defek pada cavum nasi, oris atau orbita, graft kulit atau mukosa
dapat diamankan dan diimobilisasi dengan cetakan gigi. Alat ini pertama kali ditemukan oleh
Stent, seorang dokter gigi, dan istilah “stent” berarti splint. Teknik ini disebut “epidermic inlay”
oleh Esser (1917) dan digunakan dalam rekonstruksi sulcus vestibularis oral yang terobliterasi
melalui sebuah insisi kutan.
Waldron, yang bekerja dengan Gillies di Sidcup, menemukan teknik graft kulit yang
ditutup stent melalui mulut. Jaringan parut pada sulcus yang terobliterasi diinsisi, dan defek
terjadi dengan ukuran lebih besar dari sulcus normal. Impresi diberikan pada cavitas yang
terbentuk dengan cetakan gigi yang lunak. Cetakan gigi dapat dikeraskan dan ditutup dengan
graft kulit. Dengan bantuan seorang prostodontist, cetakan gigi dapat difiksasi dengan plat logam
yang dipasang ke splint dental cap. Karena terdapat kecenderungan kontraksi, splinting harus
dijaga selama 6 bulan.
Graft kulit outlay. Teknik graft kulit inlay dimodifikasi oleh Gillies dengan cara
melakukan graft kulit setelah koreksi luka bakar ektropion pada kelopak mata. Tepi defek dibuka
dan cetakan gigi ditempatkan dibawah tepi defek. Setelah cetakan mengeras, graft kulit
dilakukan. Teknik ini memberikan kulit yang berlebih untuk mengakomodasi konraksi luka yang
dapat muncul kemudian.

Perawatan graft kulit post operatif


Perawatan post operatif penting dalam proses vaskularisasi pada graft. Dalam 48 jam, dan
lebih baik dalam 24 jam, graft diinspeksi secara keseluruhan. Jahitan yang ada di tengah graft
dan penutup dapat dilepas dengan hati-hati. Untuk mencegah graft sobek dari bednya, jahitan
ditekan secara halus saat penutup diangkat dari area graft. Manuver ini diulang sepanjang tepi
graft hingga penutup dapat dibalik seperti sebuah halaman buku. Inspeksi dapat dilakukan
dengan memotong jahitan hanya pada salah satu sisi. Tidak perlu untuk membuka seluruh
penutup dari bed kecuali perlu dilakukan sesuatu pada graft.
Seroma, hematoma, atau bekuan darah di bawah graft harus diambil segera. Hal
ini dapat dilakukan di kamar pasien. Sebuah insisi pada graft dilakukan pada graft yang
dibawahnya terdapat hematom, bekuan, atau seroma. Alat tetes mata steril disambungkan
dengan alat suction, dan tepi graft diangkat pada insisi; alat tetes mata dimasukkan ke
dalam graft, dan lakukan evakuasi. Jika hal ini dilakukan dalam waktu 24 jam pertama,
graft dapat dibersihkan dan graft dapat dipastikan terjadi 100 persen. Penutup dapat
dilipat kembali di atas graft di ditutup perban. Disarankan untuk menginspeksi graft pada
hari sesudahnya atau dalam 2 hari, tergantung kondisi graft saat penutupan awal.

Graft kulit dengan metode terbuka: graft tanpa penutup. Graft split thickness, saat dilakukan
pada ekstremitas atau bagian tubuh lain, biasanya ditutup dengan penutup bertekanan, dimana
merupakan bagian penting pada prosedur ini. Tujuan utama penutup adalah untuk melindungi
dan menahan graft sehingga tidak terganggu selama hari pertama saat graft mengalami
pertumbuhan pembuluh darah dan menjadi menempel. Perlu dicatat bahwa penutup bertekanan
tidak esensial bagi graft split-thickness agar berhasil, menjasi tervaskularisasi dan menjadi satu
dengan resipien dengan adanya kesatuan kontinuitas vaskuler antara graft dan host.
Pada area tertentu di tubuh, penutup dikontraindikasikan; area tersebut adalah dada, abdomen,
bahu, punggung, dan leher. Area anatomis ini terpengeruh gerakan konstan dari pernapasan dan
gerakan tubuh lainnya, dan mustahil untuk menutup dan tidak menyebabkan friksi dan
pergerakan pada permukaan graft-host. Gerakan konstan pada graft akan menghasilkan seroma,
hematoma, atak hilangnya kontak antara graft dan host. Semua faktor ini mengganggu
vaskularisasi dari graft kulit.
Pada persiapan bed resipien setelah eksisi bedah pada area di atas, bed diinspeksi apakah ada
titik perdarahan. Hal ini dikontrol dengan kombinasi kopmpres saline hangat, tie 5-0 catgut, dan
elektrokoagulasi ujung jarum.
Ketika graft dilakukan dengan teknik ini, diperlukan beberapa jahitan. Graft tidak boleh
digeser, ditarik, atau dipindah dari bednya untuk mencegah perusakan fiksasi awal graft pada
bed. Paling penting untuk menjaga bed host agar kering, dan irigasi di bawah graft tidak boleh
dilakukan. Untuk hasil yang terbaik, graft harus dipotong tipis (0,10 – 0,15 inchi), atau akan
melekuk pada tepi dan tertarik menjauh dari bed. Pernapasan dan gerakan pasien yang minimal
tidak akan menyebabkan pergeseran pada graft dari bednya. Metode apapun yang digunakan
dalam menempelkan graft, tidak ada penutup yang digunakan pada area ini.
Lokasi donor ditutup dengan cara yang disukai, dan pasien dikirim ke ruang pemulihan tanpa
penutup pada area graft.

Delayed skin graft


Istilah delayed skin graft berarti penggunaan graft kulit di atas luka sebagai prosedur
yang tertunda dengan member beberapa waktu agar terjadi perbaikan pada bed resipien.
Penundaan ini memberikan keberhasilan yang lebih besar. Teknik ini diindikasikan setelah eksisi
luka bakar atau eksisi dimana hemostasis tidak terjadi secara semourna. Perlu dipikirkan juga
pada bed resipien yang tertunda.
Kerugian yang jelas pada teknik ini adalah perlunya anesthesia pada pasien. Setelah
penundaan selama 48 jam, maka tidak ada perdarahan aktifpada area resipien. Bed yang
bergranulasi halus, merupakan kondisi yang baik untuk graft. Smahel meneliti bahwa
vaskularisasi graft kulit lebih cepat terbentuk bila dilakukan teknik delayed.

Penyebab kegagalan “take” graft kulit


Penyebab paling penting kegagalan graft adalah perdarahan dan hematoma di bawah
graft. Graft kulit bertahan oleh karena pertumbuhan yang cepat dari pembuluh darah dan
interposisi dari klot darah atau serum yang akan mencegah pertumbuhan ini. Sebagai akibatnya
hemostasis harus bisa selesai sebelum aplikasi dari graft.
Ketika graft dipergunakan di atas lemak, kecuali memungkinkan pada wajah, satu dapat
mengantisipasi perdarahan dibawah graft bersamaan dengan presensi dari area avaskular dimana
lobulus lemak yang besar dapat menjadi nekrosis karena kekurangan pasokan darah. Jika graft
dipergunakan pada waktu pelaksanaan eksisi, satu dapat mengkalkulasikan resiko kehilangan
area graft tersebut. Pelaksanaan graft yang terlambat lebih diinginkan pada siatuasi seperti ini.
Ketika hemostasis adekuat telah diobservasi dengan baik, keunggulan dalam mengambil;
graft dapat diantisipasi dengan graft yang ditempelkan pada facsia yang profundal, otot, dan
lapisan dalam jaringan skar yang de-epitelisasi.
Penyebab keempat dan penyebab umum yang terakhir dari kerusakan graft adalah sebuah
infeksi. Semua terlalu sering sebelumnya, seorang ahli bedah telah melakukan kesalahan pada
kerusakan graft pada infeksi. Hal ini benar bahwa pastinya umpamanya, kehilangan parsial atau
bahkan keseluruhan dari graft telah mengakibatkan cepatnya dan luasnya daerah yang hilang
pada graft. Pada banyak contoh luka masih steril selama 18-24 jam setelah pemberian aplikasi
graft. Tambahannya, satu tidak diharapkan infeksi tipe bersih, dilakukan secara bedah eksisi
luka.
Perawatan Postoperatif Area Donor. Perawatan dari variasi daerah luka dari ahli bedah ke
ahli bedah, tetapitetapi tujuannya untuk menghentikan drainase dan untuk menutup luka kering
dengan sesegera mungkin. Hal ini penting pada daerah dengan kelembaban yang tinggi.
Perhatian yang hati-hati untuk daerah donor adalah penting untuk mencegah hipertrofi skar
terjadi dimana graft salah satunya dengan sengaja atau kurang hati-hati memotong cukup tebal,
meninggalkan residu dermis yang tipis. Seharusnya graft dipotong dengan sangat tebal, hal ini
adalah yang terbaik untuk mengambil graft splint-thickness tipis dan menutupi daerah donor
dengan segera.
Jika bakteri Pseudomonas tumbuh berlebihan pada area donor yang terjadi, hal ini adalah
yang terbaik dimanajemen dengan perubahan yang sering pada penutupan gauze yang direndam
dalam ether 0,5 persen larutan silver nitrat atau 0,25 persen asam asetat. Daerah donor split-
thickness dapat ditutupi menjadi defek full-thickness mengikuti infeksi dari Pseudomonas.
Antusiasme awal untuk penutupan porcine xenograft dari daerah donortelah semakin
berkurang dilaporkan akan peningkatan inflamasinya, kelambatan dari penyembuhan, dan
menggabungkan kolagen porcine xenograft pada lapisan subepitelial dari daerah donor
(Salisbury dan para pekerja, 1973).
Penyembuhan pada Daerah Donor. Pada tahun 1944 Converse dan Robb-Smith,
setelah investigasi dari penyembuhan dari daerah donor graft split-thickness, disimpulkan bahwa
bahan pengencer graft, kecepatan penyembuhan yang lebih cepat dari daerah donor, kualitas
perbaikan sudah cukup proporsional untuk mempercepat penyembuhan; Daerah donor graft tipis
(Thiersch) mengalami penyembuhan sepuluh hari dan bagian kiri yang belaka yang redup terlihat
skar dengan dasar lembut yang lunak. Split-thickness skin graft yang meliputi 70 sampai 90
persen pada dermis. Butuh 3-8 minggu untuk kesembuhannya dan menimbulkan kerusakan yang
permanen dengan bentuk lesi hipertropi. Seperti pengambilan cangkok pada kulit yang tebal
ditemukan secara histologi epithelium yang atropi dan kurang baik. Dibawah epithelium yang
atropi adalah sebuah lapisan yan tebal dari jaringan yang lukanya hampir 5 kali lebih tebal dari
yang normal dan secara pastinya kurang elastic.
Penelitian dari penyembuhan pendonor kulit yang tebal memperlihatkan bahwa
regenerasi epidermis seluruhnya berdiferensiasi dan normalnya hingga 21 – 30 hari. Dermis
memperlihatkan bukti dari regenerasi. Pengambilan dermis diambil dengan pencangkokan yang
memperlihatkan hilangnya bagian dari dermis dari kulit.

Perbandingan antara pendonor cangkok kulit yang tebal dan yang tidak. Tompson
menjelaskan bahwa periode yang diperpanjang untuk penyembuhannya daripada yang tidak
dilakukan pencangkokan dan dihubungkan dengan insidensi yang tinggi pada luka hipertropi.
Berbeda dengan epidermis yang datar dengan peningkatan kedalaman dari jaringan luka
subepidermis. Setelah 20 bulan tanpa jaringan elastic Pendonor pencangkokan akan
memperlihatkan epidermis menjadi normal kembali. Dibawah epithelium ada jaringan epidermis
yang halus dengan jaringan elastic yang normal. Ada juga bukti yang menerangkan regenerasi
dari jaringan elastic pada lapisan intermedia diantara pencangkokan dan kulit aslinya. Hasil tes
dengan sebuah teknik yang dideskripsikan oleh Gutmann, dengan menggunakan quinizarine
powderdengan bagian yang berkeringat yang didemonstrasikan sejak 10 minggu setelah
pencangkokan. Kelenjar keringat pori-pori yang aktif tidak akan pernah ditemukan (Kecuali pada
bagian skar yang hipertrofi, pengeluaran kelenjar keringat tidak ditemukan. Penilaian histology
dari pendonor, bagaimanapun juga memperlihatkan distribusi normal pada sekresi coils pada
bagian dermis dalam pada kulit yang mau didonorkan (host). Mendemosntrasikan aktivitas
enzim intraseluler pada kelenjar keringat untuk proses keselamatan dan fungsi yang baik.
Sekresi kelenjar keringat mungkin diresorbsi secara internal ke dalam sirkulasi local.

Pengambilan yang diulangi pada skin graft dari pendonor yang sama. Pemotongan yang
kedua kali dari kulit yang tebal mungkin diambil dari pendonor yang sama dari 2-3 minggu
setelah pemotongan pertama. Pemotongan yang ke tiga diambil setelah 3 minggu kemudian lagi.
. Gillman , Penn, Brnks, and Roux menjelaskan regenerasi epitel memperbaiki pendonor pada
pengambilan kulit yang tebal ataupun dengan pengambilan ketebalan kulit yang maksimal
membutuhkan waktu 14 sampai 16 hari setelah operasi

Penyimpanan Skin graft


Metode yang paling simple pada pencangkokan kulit yang tebal dengan menjahit hasil
cangkok ke yang didonorkan. Shepard memperlihatkan skin graft dapat dilakukan tanpa
komplikasi pada didonorkan dan tidak membutuhkan anestesi lebih dari 10 hari. Perry sudah
merevie perbedaan metode kriobiologi pada preservasi kulit.

Persediaan kulit pada 9O pada salin atau serum. Merangom mereomendasikan


penyediaan autograft kulit pada 10% serum di refrigerator. Skin graft dapat ditempelkan pada
salin dan persediannya harus pada piring petri yang steril. Feller & De wist kulit yang disimpan
pada refrigerator pada suhu 4O dapat digunakan lebih dari 23 hari. Setelah 14 hari penyimpanan
salin, aktivitas respiratori skin graft dibelah 2. Setelah 0 hari respirasi selular kulit telah berhenti.
Dan dengan penurunan yang progresif pada klinikal viabilitas penyimpanan kulit pada suhu 13
derajat setelah periode 3 minggu Lebih.

Pengawetan kulit pada suhu dibawah o derajat.


Pembekuan kulit harus dengan agen perlindungan, pembekuan yang pelan, cepat
dicairkan. Lawrence melaporkan bahwa glycerol lebih dianjurkan daripada DSMO (Dimethyl
Sulfoxyde) sebagai agen krioprotektif Kesuksesan dari pembekuan kulit autograft adalah 40% .
Aktivitas metabolic pada kulit disimpan pada liquid nitrogen adalah 60-70%sebelum
penyimpanan. Tidak ada perbedaan pada periode 1 – 28 hari. Bondoc dan burke memperlihatkan
skin grafted pada liquid nitrogen untuk lebih dari 6 minggu.
Pengawetan pembekuan dan pengeringan ruangan temperature. Vaskularisasi pada
pembekuan dan pengeringan kulit tidak berpengaruh kualitas yang kurang baik. Observasi
stereomikrokopik dibuat oleh Tailor, Gerstner, dan Converst mengikuti pergantian vascular pada
pengawetan transplantasi mamalia pada temperature suhu di bawah titik beku. Perkembangan
pada pembuluh darah tertunda kurang sempurna hingga 5- 7 hari setlah pencangkokan. Berbeda
dengan terjadinya revaskularisasi dalam 3 hari pada skin graft yang tidak ditangani.
Ketidaklayakan pembekuan pada skin graft yang diambil dari bovine embrio dan ditempatkan
pada korioalantois pada embrio anak ayam dipenetrasikan pada pembuluh darah membrane.
Terjadi penurunan tingkat bila dibandingkan dengan kelayakan dan skin xenografted yang tidak
tertangani. Rogers dan Convers (1958) mengobservasi bagian histology yang baik dan
pembekuan kering pada embrio kulit bovin yang dieksperimenkan dengan defek pada laki-laki
endothelial sudah tumbuh dengan pencangkokannya, masih terlihat kurang bagus dalam waktu
10 hari.
Penggunaan gross dan stereomikroskopik . Bergrenn dan Lehr melaporkan beberapa
autograf dan allograf, setelah pengobatan 10 hari dengan dimethyl sufoxide solusio dan
penyimpanan pada pembekuannya vaskularisasinya menjadi lebih efektif. Selai n itu jika
pencangkokan kulit tidak layak, tidak ada bukti yang menghambat vaskularisasi sebagai
konsequensi menjadi lembut, putih dan tidak melekat.
Menurut O’Donoghue dan Zharem dari pemeriksaan langsung dari pembuluh darah pada
transparan tikus, pengawetan isograft dapat menginduksi hiperemi dan neovaskularisasi pada
resipien dan menjadi vaskuler. Hiperemi memperlihatkan pada liopilisasi graft , pembekuan dan
pencairan graft 5 hari setelah transplantasi. Tetapi neovaskularisasi pada hari ke tujuh dan hari ke
8 pada host. Vaskularisasi pada graft secara sempurna terjad pada hari ke 10 atau 11 . Ini
seharusnya diterangkan bahwa liopilisasi graf lebih efektif pada induksi vaskularisasi host dalam
masa tunasnya dan untuk divaskularisasikan. Ketika dibandingkan dengan graf pembekuan
pengeringan graf. Pandya and Zarem tidak dapat mendemontrasikan vaskularisasi baik pada
vakum pengeringan atau pembekuan xenograft pada kulit babi atau tikus.
Secara ringkasannya, Pencarian memperlihatkan bahwa revaskularisasi pada pembekuan
skin graft pembekuan pengeringanyang diaplikasikan pada manusia dan hewan tidak tergantung
pada kelayakan pada original graf pembuluh darah. Pada demonstrasi oleh penelitian
Ballantyne , Howthone, Rees dan Seidman pembuluh darah tumbuh pada host dapat terjadi
setelah pengawetan pada temperature suhu rendah tidak terlalu terorganisasi. Bagaimanapun juga
Blumberg, Song dengan mengerjakan pembekuan pengeringan pada kulit babi xenograft yang
ditransplantasikan ke tikus ditemukan tidak ada bukti revaskularisasi.
Oleh karena itu, aliran darah normalnya akan meningkat 2 kali lipat selama 3 bulan setelah
dilakukan operasi 2 lapis graft di kulit (gambar 6-21). Setelah beberapa bulan operasi berhasil
akan terjadi reduksi pada operasi yang normal (Thompson 1970, Thompson dan Ell
1974).Butcher dan Hoover 1955 menunjukkan bahwa jalur limphatik antara plexus(anyaman )
disekitar kulit yang digraft dan jaringan penerima(host) kemungkinan besar akan
terbentuksetelah bulan ke 2 atau ke 4 skin graft . Setelah penyuntikan Setelah penyuntikan
larutan violet biru isotonik 10% ke dalam jaringan subepithelial,tidak ada anyaman limphatic yg
terlihat. Oleh karena itu, setelah pemberian graft pada permukaan kulit bagian atas, anyaman
limpatic tampak pada jaringan yang di graft, dan limphatic ini akan berhubungan dengan
limphatic disekitar kulit penerima(host).( Gambar 6-21,9)( (hompson,1970 (hompson dan
Ell,1974).
Pada beberapa luka, dasar dermisnya yang merupakan elemen terpenting yang perlu diberi
proteksi dalam pemberian beban, bisa tidak beregenerasi dan pada permukaan epithel yang tipis
dan terdiri dari papil,dapat dengan cepat terlepas dari jaringan fibrous dibawahnya( Brown dan
McDowell,1958). Penerapan dari STSG memperbaiki dasar dermis yang terdiri dari kolagen dan
serabut interlactin elastic dan komponen yang penting untuk menunjang kembalinya jaringan
setelah adanya trauma, bersamaan dengan adanya papil normal dan perlekatan epidermis yang
kuat. Dari pengulangan skin graft, dasar dermis dapat dibangun dari beberapa jaringan tebal yang
tersedia.

Penelitian Histologi dari Graf Dermis


Teknik dari graft mempengaruhi terbentuknya epidermis baru,folikel rambut,dan jaringan
sebasea dan sudorifera. Secara teori mungkin akan terjadi komplikasi yang berulang dan meluas
dari terbentuknya kista epidermoid,dan hal ini menjadi kontraindikasi dalam melakukan graft.
Penanaman elemen epitel secara rutin akan diikuti dengan pembentukan kista epidermoid jika
dilihat secara mikroskopis, hal ini merupakan pemutusan spontan adanya graft pada sebagian
besar kasus( Thompson 1960). Kista ini akan tersebar dengan berbagai ukuran yang terlihat
dalam graft dan tidak terlihat selama 3 hingga 6 bulan. Incisi yang simpel tanpa anestesi akan
mengevakuasi kumpulan dari kelenjar sebacea. Evakuasi pendorongan kelenjar sebasea ini
berguna untuk memperkecil kelenjar sebacea yang mungkin menggerogoti skin graft.
Thompson(1960) telah melakukan penelitian mengenai letak graft pendonor dan melaporkan hal
yg ditemui:
1. Jaringan elastic terlihat pada dermis graft dan host pada penelitian histologi. Diantara lapisan
graft pendonor dan dasar kulit penerima, jaringan elastic terlihat terlambat,tidak akan tampak
pada 3 bulan pertama dan berlimpah pada bulan ke 20.
2. Folikel rambut merupakan bagian terpenting dalam pembentukan kista epidermoid dan
merupakan konsekuensi disintegrasi dari graft donor dan resipien.
3. Sel glandula sebasea ditemukan di hubungan antara kista epidermoid yang dibentuk dari
pilosebasea yang terbentuk paling lambat 6 minggu setelah grafting. Tidak ada yang tetap setelah
waktu 6 minggu ini.
4. Glandula sudorifera terdiri dari unit yang berfungsi hanya jika adanya hubungan yang menetap
dan terus berlangsung antara glandula sudorifera yang superfisial dan bagian dalam. Untuk
diperhatikan pada elemen epithel yang tertanam dibawah STSG akan terbentuk kista epidermoid,
yang terbentuk secara spontan memutus hubungan STSG dan host dalam 1 th pada beberapa
kasus.

Fungsi utama dari epithel memproduksi keratin (Montagna,1956). Beberapa debris


Epitel berkeratin dibuang oleh dinding epithel squamous kedalam lumen kista yang dapat
meningkatkan tekanan didalam rongga kista, yang menyebabkan nekrosis dinding epithel dan
diikuti kontak langsung dengan dermis. Oleh kerena itu menurut Stewart (1912) dan selanjutnya
Peer dan Paddock (1937) mengindikasi untuk adanya kontak debris dengan daerah sekitar
jaringan dermis berakibat berpindahnya kista diganti dengan jaringan granula dan benda asing
seperti sel giant. Ketika phagositosis sel epitel sempurna, mikroskopis kista diganti jaringan
fibrosa dan beberapa sel asing dan sel giant serta sel infiltrat tidak ditemukan.

Teknik: Permukaan epidermis dapat dipindahkan dengan kertas sandpapering( webster


dan pegawainya, 1958),dermabrasi( Serafini, 1962), dermatom( Rees dan Casson 1966) atau
pisau yang bebas atau mata skapel (Hynes,1956). Hal ini penting untuk memindahkan epidermis
dengan teliti dan sempurna. Gambaran yang berbentuk bulat pada incisi dibuat untuk menandai
secara jelas area yang akan dibuka epidermisnya.Pendarahan dari tubuh hos yg bebas dari kepiler
harus dikontrol dengan tekanan dengan mengoleskan larutan salin yang hangat tau diberi larutan
adrenalin topical (1:100000). Sumber pendarahan yang tetap dapat dikontrol dengan baik oleh
elektrokuagulasi, sebelumnya harus dipastikan hemostasis baik sebelum penempelan graft.

Pada STSG dipotong setebalnya, dimana permukaannya dapat melindungi jika ada
beban. Ketebalan dari elemen dermis semakin meningkat jika pemberian graft tanpa adanya
tegangan pada keadaan relaksasi maksimal; hal ini tidak memberikan efek graf yg
menguntungkan dan akan memberikan timbunan jaringan yang signifikan. Dimana nilai
kosmetiknya dipertimbangkan, sehingga pada luka yang luas di wajah, graf dipotong setipisnya.
Beberapa koreksi pada bekas luka yg berkurang merupakan efek pemberian tanda di luar ukuran
dan bentuk luka yg dibutuhkan pada tempat donornya. Pola tempat donor dimanipulasi agar
terdapat hubungan yang sesuai antar permukaan, sehingga pemotongan badan graft dari
pendonor akan tebal, sedangkan pinggirnya setipis mungkin.
Garis graft seakurat mungkin ditempelkan ke garis kulit resipien, dimasukan secara in
situ dan dengan tekanan yang tepat di letakkan; peletakkan graf sangat tepat dan hati-hati disertai
adanya imobilisasi yg tidak dibutuhkan.

Ketika terjadi perlekatan dermis dengan graft bertujuan untuk melindungi dasar dermis,
yang berjarak kurang lebih 1 bulan dari terbentuknya graf sejati.

Komplikasi:
Kegagalan bertahannya graft paling banyak disebabkan karena terbentuknya hematoma
atau
Infeksi. Hal ini tidak jarang, pada minggu-minggu awal dalam beberapa menit akan terbentuk
bermiliaran kista yang tampak pada permukaan graft. Ada beberapa macam kista epidermoid
( gambar 6-22) yang muncul dari apendix epidermis( biasanya folikel rambut) dalam graft atau
di lapisan dermis host dari graft( Thompson,1960). Respon yg simpel ini menutup bagian atas
kista dan tidak adanya kecenderungan untuk kejadian berulang setelah beberapa bulan. Pada luka
dan radiodermatitis, kehilangan element dasar epithel pada resipien mengurangi secara bermakna
kejadian pembentukan kista.
Indikasi untuk Dermal Grafting
1. Meluasnya pigmen tahi lalat jika merencanakan penutupan selama bagian dermis yg terdalam,
kehilangan paling banyak pigmen selnya, sementara dasar kapiler yang sehat pada sisa dermis
host secara adekuat akan memberikan nutrisi ke dermis pada graft.(Hynes,1956). Bagian
belakang terpotong tebal sehingga beberapa bagian pigmen biasanya berhasil menyamarkannya.
Jika pigmennya kecil terpotong kemudian luka terlihat,di eksisi batas lokalnya digunakan untuk
perkembangan graft selanjutnya. Oleh karena area junction dermoepidermal dipindah,
kemungkinan terjadi keganasan dikemudian hari berubah survival ratenya meningkat.
2. Luka yang luas yang tidak stabil , berkontraksi, depresi, berpigmen atau hipertrofi dapat
diterapi dengan cepat dan simpel menggunakan penggantian flap kulit"skin flap replacement".
Tentunya ada juga yg menggunakan skin graft yang diikuti eksisi yang luas dan seluruhnya pada
luka tersebut.( Hynes,1957). Hal ini seharusnya dibatasi oleh luka yang matang karena keaktifan
lukanya,meskipun tentunya graf ini dapat diterima tetapi cenderung akan menebal dan akan
muncul kembali. Luka hipertropi yg matur, dengan bentuk yang bergelombang atau permukaan
yang hiperpigmentasi, dapat dilakukan penyembuhan dengan berbagai cara seperti perlekatan di
tempat yang datar dan menerapkannya di permukaan yang tipis pada STSG. Kepuasan kosmetik
merupakan alasan pada luka bakar di bagian wajah yang luas dengan adanya perluasan membulat
dari area yang dirawat yang meluas hingga garis rambut, garis tulang rahang, sudut nasolabial,
dan alis mata.( Serafini, 1962)

Aliran darah pada regio ini berkurang yang kemudian diperbaiki menjadi normal
kembali. Meskipun kapasitas volume proteksi jaringan terbentuk kembali pada bagian terekspos
berkurang dibandingkan pada rekonstruksi skin flap, permukaan ini biasanya secara rutin dan
adekuat mempertahankan aktivitas normalnya. Ketika biasanya lapisan yg menempel pada
dermis diatas graf sukses dilakukan, menurut Webster, Peterson, dan Stein (1958), khususnya
pada area yang diberi beban seperti kaki, jika berbaring berdiri hingga digerakkan lebih bagus
dibandingkan skin flaps dan berkurang kemampuan mobilitasnya dikemudian hari. Sebagai
tambahan, graf dermis merupakan hal yg sederhana dan alternativ yg efektif selain flap
kaki( lihat bab 86),pada trauma dan lesi ulserativ pada anggota gerak bawah, termasuk kasus
yang jaringannya bergranulasi terbentuk setelah berhubungan dg tulang tibia dan terjadi kontak
langsung antara tendon setelah dilakukan penyelamatan bagian yang terekspose.
Stasis Ulkus vena yang kronik memberikan respon yang baik jika skin graf nya diikuti
dengan graft dermis yg luas pada bagian medial regio malleolus yang disertai dengan ligasi vena
yg baik.
Sambungan luka yang tipis dapat di sambungkan dengan epidermis tanpa adanya kontak dengan
tulang atau jaringan dalam yang lain, dan diikuti dengan kematangan dermis selama adanya
perkembangan kelenturan dan mobilitas. Metode ini secara umum dapat diterapkan pada terapi
luka yang berhubungan dengan struktur yang penting( seperti mening yg terbuka, pembuluh
darah besar seperti di leher dan ekstremitas, pleura yg terbuka dan lainnya).
3.Kronik radiodermatitis berhubungan dengan ketidaknyamanan dan iritasi lokal yang diiringi
dengan penyempitan dan pemecahan bagian permukaan epitel yg tidak stabil, pada stadium
selanjutnya dapat terjadi perubahan epithel menjadi ganas. (Lihat bab 20). Seperti pada luka,
pemindahan permukaan epidermis ke daerah yang bebas pembuluh darah kapiler yang
memberikan nutrisi yang efektif seperti pada teknik skin graf lainnya. Kesempatan penyembuhan
cepat pada semua gejala dan karena bagian epithel keseluruhan seluruhnya
terangkat,kemungkinan terjadinya keganasan dapat diubah dieliminasi(Hyanes,1959). Hal ini
sangat menarik bahwa dengan perkembangan vaskularisasi dan pergantian jaringan normal,
histologinya terlihat diantara jaringan terdalam dan permukaan graf secara histologi terlihat
normal.( Gambar 6-24)
4. Ada berbagai macam kegunaan graft. Perpindahan bagian superficial epidermis dapat
digunakan pada inset migrated tube flap dan pada sisi aplikasi graft auricular dengan
menggunakan flange atau graft kulit pada perifer graft ke tepi kulit pada area resipien. Hal ini
akan menambah area permukaan dimana muncul vaskularisasi graft. Overgraft dermal telah
dilakukan dalam memperbaiki kulit pada xeroderma pigmentosum.
5. Tato dapat diterapi dengan berhasil dengan mengelupas STSG tebal pada lokasi tersebut dan
menempelkan overgraft dermal tebal pada defek. Seringkali dimungkinkan untuk mengeksisi
bagian kecil pada host bed sebelum menempelkan overgraft dermal, yang akan meningkatkan
perbaikan pada tampilan akhir.
SKIN ALLOGRAFTS
Reverdin merekomendasikan penggunaan skin allograft pada tahun 1872, dan Brown dkk.
(1953) menganjurkan penggunaannya sebagai pembalut/bebat biologis untuk luka-luka bakar
yang luas dan daerah yang gundul.
Vaskularisasi awal dari skin allograft dan penolakan imunologi utama telah dibahas. Untuk
menghindari respon penolakan, skin allografts, jika digunakan sebagai pembalut biologi, harus
diganti setiap dua sampai tiga hari.
Halangan utama dalam penggunaan skin allografts adalah ketersediaan. Mereka dapat
diperoleh segar, biasanya dari keluarga/kerabat, dan baik digunakan segera atau disimpan setelah
pembekuan cepat, seperti yang sudah didiskusikan diatas. Hasil besar skin allografts juga dapat
diperoleh dari cadaver/mayat yang bebas penyakit.
Ketika digunakan sebagai bebat/pembalut biologi, skin allografts, seperti dicatat oleh Artz,
Rittenbury, dan Yarbrough (1972), dapat melayani beberapa fungsi.
1. Bersihkan daerah granulasi sebelum autografting
2. Proteksi/Lindungi luka-luka terbuka dari air dan kehilangan protein sampai autograf
tersedia
3. Mengurangi nyeri pada tempat luka terbuka
4. Memfasilitasi gerakan awal dari bagian yang sakit
5. Menurunkan jumlah bakteri permukaan
6. Tutup struktur-struktur vital yang terekspose
7. Meningkatkan pertumbuhan dari semua epitel pokok (dipertanyakan)
Skin allografts digunakan terutama sebagai cakupan sementara pada pasien yang telah
menderita luka bakar dengan ketebalan penuh yang besar. Sampai cakupan yang permanen dapat
diperoleh dengan autografting, skin allografts akan berfungsi untuk mengurangi kehilangan air
dan protein dari luka terbuka, meningkatkan kenyamanan pasien, dan menurunkan jumlah
bakteri permukaan.
Pada pasien-pasien luka bakar, kelangsungan hidup skin allografts untungnya panjang
(Rapaport dkk., 1964). Respon-respon alergi dari tipe hipersensitivitas tertunda (delayed
hypersensitivity) juga tertekan oleh cedera termal (Casson dkk., 1966). Kelumpuhan imunologi,
kompetisi antigen, dan kesempatan berbagi dari antigen-antigen histo-kompatibilitas dipilih
secara acak yang tidak berhubungan dengan individu-individu yang mungkin merupakan faktor
perhitungan fenomena-fenomena ini setelah cedera termal.
Batchelor dan Hackett (1970) menunjukkan bahwa ketidakcocokan antigen HL-A dengan
donor graft terbatas pada satu atau kurang, kelangsungan hidup allografts dari dua bulan atau
lebih dapat diharapkan pada pasien dengan luka bakar derajat tiga yang melibatkan lebih dari
40% dari area tubuh dan wajah.
Teknik untuk mengubah skin auto-allografts untuk mendapatkan cakupan kulit pada
area/daerah kehilangan kulit yang luas, seperti yang terjadi pada luka bakar, diusulkan oleh
Mowlem dan dijelaskan oleh Jackson (1954). Teknik ini sebagian besar telah digantikan oleh
aplikasi skin allografts, dimana “benih” dari autograft ditempatkan. Teknik untuk mengubah
autograft dan allografts telah dijelaskan oleh Colson dkk. (1959), yang semuanya telah
mempelajari histologi penempatan progresif allografts oleh autograft.
Orang-orang Cina (Unit Luka Bakar, 1973) melaporkan peningkatan yang luar biasa dalam
tingkat kelangsungan hidup setelah luka bakar besar yang melibatkan lebih dari ? persen dari
permukaan tubuh (derajat tiga, terbakar melebihi 50% BSA). Setelah debridemen dari eskar,
minute-sized autografts diperkenalkan melalui membakar lubang dalam lembaran besar skin
allografts yang menutupi luka bakar. Allografts memberikan kondisi luka yang menguntungkan
bagi penyebaran dan pertumbuhan pulau-pulau skin autografts.
Skin allografts juga direkomendasikan untuk cakupan luka bakar derajat dua (Mills dan rekan-
rekan, 1967; Miller dan White, 1972). Selain memberikan bantuan untuk meredakan nyeri dan
penghambatan (inhibisi) penguapan dan kehilangan cairan eksudatif, skin allografts
mendorong/mendukung penyembuhan dengan hasil kosmetik yang meningkat/lebih baik.
Miller (1974) memperingatkan terhadap cakupan split-thickness pada kulit donor dengan skin
allograft yang layak (viabel), sebagai penolakan terhadap hasil akhir dalam konversi pada donor
dari ketebalan parsial untuk defek (kecacatan) ketebalan penuh.
SKIN XENOGRAFTS
Perilaku Biologi. Modus vaskularisasi dan perubahan pola vaskuler menyusul penerapan
skin xenograft belum diteliti secara luas. Telah umum bahwa waktu kelangsungan hidup
xenografts terlalu dibatasi untuk memungkinkan pembentukan kembali sirkulasi darah yang
sukses/lancar/berhasil. Menurut Ribbert (1905), yang mentransplantasikan kulit manusia dan
babi guinea pada jaringan subkutan kelinci, xenograft-xenograft yang ditampilkan dalam waktu
tiga hari setelah transplantasi. Loeb dan Addison (1909, 1911) melaporkan pada xenograft-
xenograft kulit dipertukarkan antara hewan inklusif dari tikus, tikus, babi guinea, kelinci, anjing,
kucing, dan bahkan merpati akhirnya menjadi nekrotik antara enam dan 11 hari pasca operasi
dan kadang-kadang bahkan lebih cepat. Mereka tidak memberikan informasi mengenai
vaskularisasi dari pola pembuluh darah xenograft-xenograft.
Pada tahun 1917 Kiyono dan Sueyasu tampaknya yang pertama melaporkan jaringan
transplantasi, termasuk kulit pada membran chorioallantoic dari embrio ayam dan
menggambarkan penyerapan cairan nutrisi oleh graft dari jaringan embrio dan tempat masuk
sebenarnya dari pembuluh darah ke graft/cangkokan. Goodpasture, Douglas, dan Anderson
(1938) melaporkan revaskularisasi dan pertumbuhan split-thickness cangkok/graft kulit manusia
ditransplantasikan ke chorioallantois dari embrio ayam, sel darah merah ayam berinti dalam
graft dianggap bukti dugaan vascular ingrowth , pengamatan awalnya digambarkan oleh Murpyh
(1912). Kapiler chorionic menembus permukaan bawah dermis kulit manusia dalam waktu 48
jam setelah grafting/penyambungan, dan tiga atau empat hari jaringan saluran endotel di graft
mengandung eritrosit-eritrosit berinti. Goodpasture, Douglas, dan Anderson (1938) menerima
konsep koneksi langsung dari pembuluh host dan graft vessels, karena bagian histologis mereka
menunjukkan campuran sel darah merah manusia dan sel-sel darah ayam, menunjukkan
hubungan seperti itu. Namun, mereka menyiratkan bahwa, sementara ada bukti yang mendukung
anastomoses antara vasculatures dari transplantasi kulit manusia dan membran unggas serta
ingrowth kapiler dari host ke permukaan bawah dari graft. Nutrisi/Makanan bagi graft karenanya
terutama berasal dari "sirkulasi plasma"melalui komunikasi vaskular temporer antara dua sistem
vaskular.
Upaya lebih lanjut untuk menentukan modus dari vaskularisasi xenografts kulit dari manusia
dan berbagai spesies hewan ditransplantasikan ke permukaan membran chorioallantoic
dilaksanakan. Converse, Ballantyne, Rogers, dan Raisbeck (1958), yang mengadopsi metode
modifikasi Chorioallantois ayam Goodpasture, Douglas, dan Anderson (1938). Perbedaan
struktur antara eritrosit mamalia dan eritrosit unggas berinti memungkinkan untuk menunjukkan
bahwa pembuluh darah definitif full-thickness xenografts kulit kelinci, tikus, dan embrio sapi
diberikan terutama oleh ingrowth kapiler host ke graft, sedangkan pembuluh asli cangkokan
merosot/degenerasi. Ketika kulit manusia dari berbagai ketebalan diaplikasikan pada
chorioallantois dari ayam, pembuluh darah utama definitif mampu mendukung fungsi peredaran
darah aktif antara graft dan host yang sama berasal dari ingrowth progresif sel endotel unggas ke
graft. Ada juga kerusakan yang cepat dari sebagian besar kapiler graft aslinya. Selain itu, studi
histologis oleh Ballantyne dan Convetse (1958) cangkokan/graft komposit diambil dari auricula
kelinci dan ditransfer ke membran chorionic dari embrio ayam menunjukkan bahwa pembuluh
darah embrional membuat kursus berliku-liku di sekitar penghalang tulang rawan dan akhirnya
merambah ke dalam dermis atas tulang rawan. Sementara itu, sebagian besar kapiler yang sudah
ada sebelumnya di cangkokan/graft aurikularis degenerasi/merosot.
Aliran darah diamati dalam pembuluh darah dari xenografts kulit dibuang dari kelinci atau
tikus dan dipindahkan ke tikus penerima (Egdahl dkk, 1957, 1958.), Sedangkan transplantasi dari
babi tikus, atau tikus guinea sampai kelinci tidak pernah menjadi tervaskularisasi efektif.
Menurut penulis, yang menggunakan metode stereomicroscopic in vivo Taylor dan Iehrfeld
(1953) dan teks fluorescein intradermal sebagai kriteria mereka untuk sirkulasi hemic, kulit
donor tikus atau kelinci ditempatkan pada penerima tikus adalah tervaskularisasi lebih lambat
dan memiliki jangka waktu lebih pendek dari fungsi peredaran darah bila dibandingkan dengan
yang biasanya terlihat pada allografts kulit. Aliran darah di xenografts biasanya dimulai pada
hari keempat atau kelima setelah mencangkok, mencapai tingkat maksimal sirkulasi lama
kemudian, berlanjut pada kecepatan ini untuk hanya beberapa jam, dan tiba-tiba berhenti pada
atau sekitar hari keenam. Ia telah mengemukakan bahwa pembuluh darah dari xenografts mampu
menghasilkan aliran darah yang tidak dibentuk secara baru tetapi mewakili sistem vaskuler graft
asli yang telah membentuk hubungan langsung dengan tuan rumah/host.
Rolle, Taylor, and Charipper (1959) exchanged skin grafts between mice and rats and found
that the early sequence of vascular events occurring in the xenografts is similar to that in
autografts and allografts. As shown by stereomicroscopy, histology, and the injection
Rolle, Taylor, and Charipper (1959) mengganti/menukar cangkok kulit/skin grafts antara
mencit dan tikus dan menemukan bahwa urutan awal dari kejadian-kejadian vaskuler yang
terjadi di xenografts mirip dengan yang terjadi di autografts dan allografts. Seperti ditunjukkan
oleh stereomicroscopy, histologi, dan injeksi pewarna, onset dan restorasi sirkulasi seperti
perubahan vaskuler lain sebelum reaksi rejeksi yang identik dengan yang terlihat pada allograft
tikus dan mencit.
Penulis menyimpulkan bahwa supali darah pada xenografts dipulihkan dengan pembentukan
kontinuitas antara tuan rumah/host dan pembuluh-pembuluh/vessels graft.
Woodruff (1960) menyatakan bahwa xenografts menunjukkan sedikit atau tidak ada bukti
dari vaskularisasi dan iskemia daripada penolakan bertanggungjawab atas kurangnya
keberhasilan xenografts. Meskipun kepatuhan terhadap luka dan infiltrasi sel inflamasi minimal
ke dalam jaringan bawah kulit kolagen fibril graft. baik babi segar maupun kulit manusia tidak
menunjukkan bukti vaskularisasi dengan teknik injeksi tinta India. (Silverstein dkk., 1971).
Bromberg, Song, and Mohn (1965) menginjeksi Evans pewarna biru ke dalam vena
femoralis mencit penerima/resipien setelah babi split-thickness cangkok/graft kulit telah
diterapkan pada defek/cacat dari ekstremitas bawah/inferior. Berdasarkan pengorbanan dari
binatang-binatang, studi histologis gagal untuk menunjukkan bukti revaskularisasi dari
xenografts. Sebaliknya, autografts dan allografts kulit murine menunjukkan revaskularisasi
fungsional pada hari ketiga.
Penulis menyimpulkan bahwa supali darah pada xenografts dipulihkan dengan pembentukan
kontinuitas antara tuan rumah/host dan pembuluh-pembuluh/vessels graft.
Woodruff (1960) menyatakan bahwa xenografts menunjukkan sedikit atau tidak ada bukti
dari vaskularisasi dan iskemia daripada penolakan bertanggungjawab atas kurangnya
keberhasilan xenografts. Meskipun kepatuhan terhadap luka dan infiltrasi sel inflamasi minimal
ke dalam jaringan bawah kulit kolagen fibril graft. baik babi segar maupun kulit manusia tidak
menunjukkan bukti vaskularisasi dengan teknik injeksi tinta India. (Silverstein dkk., 1971).
Bromberg, Song, and Mohn (1965) menginjeksi Evans pewarna biru ke dalam vena
femoralis mencit penerima/resipien setelah babi split-thickness cangkok/graft kulit telah
diterapkan pada defek/cacat dari ekstremitas bawah/inferior. Berdasarkan pengorbanan dari
binatang-binatang, studi histologis gagal untuk menunjukkan bukti revaskularisasi dari
xenografts. Sebaliknya, autografts dan allografts kulit murine menunjukkan revaskularisasi
fungsional pada hari ketiga.