You are on page 1of 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam keperawatan perawat memberikan asuhan kepada klien secara holistic, karena
perwat memandang manusia adalah makhluk yang utuh dan unik terdiri dari aspek
psikososial – kultur – spiritual. Status kesehatan klien akan mempengaruhi respons klien
yang dapat dikaji dari aspek bio – psikososial – kultural – spiritual.
Penyusun akan membahas respons klien yang kehilangan, baik kehilangan fungsi
tubuh yang terdapat pada berbagai gangguan fisik, atau kehilangan peran pada mereka
yang harus terbaring dirumah sakit. Kemarahan merupakan reaksi klien yang sering
terjadi, walaupun ini merupakan respons yang wajar terjadi pada orang yang kehilangan,
tapi respons ini perlu penangan, terutama oleh perawat yang sering berhubungan dengan
klien. Hal ini untuk menghindari terjadinya perilaku kekerasan untuk itu perawat perlu
mengetahui rentang dan proses terjadinya kemarahan, perawat akan mengarahkan klien
mengatasi kemarahannya secara konstruktif.

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana Konsep Dasar Perilaku Kekerasan?
1.2.2 Apa Etiologinya?
1.2.3 Bagaimana Rentang respon marah?
1.2.4 Apa Tanda dan gejalanya?
1.2.5 Apa Akibat dari Perilaku Kekerasan?
1.2.6 Bagaimana Penatalaksanaannya?
1.2.7 Bagaimana Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Jiwa pada Klien dengan
Perilaku Kekerasan?

1

1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengetahui tentang perilaku kekerasan akibat kemarahan
dan asuhan keperawatan pada klien dengan perilaku kekerasan.
1.3.2 Tujuan Khusus
Mahasiswa dapat menjelaskan tentang perilaku kekerasan mulai dari
pengertian, etologi, rentang respons marah, tanda dan gejala, akibat dan
penatalaksanaan sampai asuhan keperawatan.

2

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Perilaku Kekerasan
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang
dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun
lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah
yang tidak konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1999).
Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan
untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Berkowitz, 2000).
Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respons terhadap
kecemasan/kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman (Stuart dan
Sundeen, 1995).

2.2 Etiologi
Perilaku kekerasan atau kemarahan menurut Stearen bisa disebabkan adanya gangguan
harga diri: harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri
dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan
harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang
kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.
a. Frustasi, sesorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan/keinginan yang
diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa terancam dan cemas. Jika
ia tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan
orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan.
b. Hilangnya harga diri pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan yang sama
untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya individu tersebut
mungkin akan merasa rendah diri, tidak berani bertindak, lekas tersinggung, lekas
marah, dan sebagainya.
c. Kebutuhan akan status dan prestise ; Manusia pada umumnya mempunyai keinginan
untuk mengaktualisasikan dirinya, ingin dihargai dan diakui statusnya.

3

3 Rentang respon marah Perasaan marah normal bagi tiap individu. keras dan menuntut. Umumnya klien masih dapat mengontrol perilaku untuk tidak melukai orang lain. 3. 5. 2. Klien tidak mampu mengendalikan diri. 4. yaitu: 1. Pasif Individu tidak dapat mengungkapkan pearasaannya. 4 . Perilaku yang ditampakkan dimulai dari yang rendah sampai tinggi. memberi kata-kata ancaman tanpa niat melukai. dan yang paling berat adalah melukai/merusak secara serius. Asertif Individu dapat mengungkapkan marah tanpa menyalahkan orang lain dan memberi ketenangan.2. Frustasi Individual gagal mencapai tujuan kkepuasan saat marah dan tidak dapat menemukan alternatif. Kekerasan Sering juga disebut gaduh-gelisah atau amuk. disertai melukai pada tingkat ringan. mendekati orang lain dengan ancaman. Agresif Memperlihatkan permusuhan. memberi kata-kata ancaman melukai. Rentang respon Marah Respons pasif dan melarikan diri atau respons melawan dan menantang. namun perilaku yang dimanifestasikan oleh perasaan marah dapat berfluktuasi sepanjang rentang adaptif dan maladaptive Respon adaptif Respon Maladaptif Asertif Frustasi Pasif Agresif Perilaku kekerasan Gambar 1. Respons melawan dan menantang merupakan respons yang maladaptif yaitu agresif – kekerasan. Perilaku kekerasan ditandai dengan menyentuh orang lain secara menakutkan.

mual. orang lain dan lingkungan. a. orang lain dan lingkungan. mengamuk. Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan) k. nada suara keras dan kasar. refleks tendon tinggi. kadang-kadang konstipasi. c. ekspresi wajah nampak tegang.2.5 Akibat dari Perilaku Kekerasan Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi mencederai diri. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadappenyakit (rambut botak karena terapi) h. Gangguan hubungan sosial (menarik diri) j. 5 . sinis. frustasi. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri.4 Tanda dan gejala a. menarik diri.mungkin klien akan mengakiri kehidupannya) Gejala-gejala atau perubahan-perubahan yang timbul pada klien dalam keadaan marah diantaranya adalah . Perubahan emosional : Mudah tersinggung . bermusuhan. frekuensi buang air besar meningkat. pupil dilatasi. Pandangan tajam c. Otot tegang d. Perubahan perilaku : Agresif pasif. Berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan kehendak f. denyut nadi dan pernapasan meningkat. curiga. Perubahan fisiologik : Tekanan darah meningkat. tonus otot meningkat. 2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri) i. tidak sabar. Nada suara tinggi e. Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram. Memukul jika tidak senang g. Muka merah b. b. bila mengamuk kehilangan kontrol diri.

kesulitan dalam miksi.gangguan perasaan dua perilaku aneh yang tidak terkendali .tidak mampu bekerja . Terapi medis Terapi yang menggunakan obat untuk mengurangi gejala gangguan jiwa dan biasanya diberikan untuk meredakan keadaan gelisah dan mengurangi rasa cemas obat-obatan tersebut adalah : 1) Clorpromazine  Bentuk Tablet terdiri dari 25 mg dan 100 mg. Bantu klien latihan relaksasi misalnya latihan fisik maupun olahraga. b. Sedasi .berdaya berat dalam kehidupan sehari-hari . tekanan intra okuler meninggi. diam sebentar.halusinasi. terima marah pasien.hubungan social dan kegiatan rutin.dan gangguan irama jantung. kasur.  Efek samping . deteksi hidung tersumbat.mata kabur. arahkan klien untuk memukul barang yang tidak mudah rusak seperti bantal. Gangguan otomitik ( hypotensi .norma social.  Mekanisme kerja Memblokade dopamine pada reseptor pasca sinap diotak khususnya system extra pyramidal. gunakan humor yang tidak menyakiti orang lain.daya ingat.berdaya berat dalam fungsi –fungsi mental : waham.2.cc dalam kemasan 2 cc. Bantu melalui humor. Berteriak. dalam 1x latihan 10 kali untuk tarikan dan hembusan napas c.cairan (tetes)4% *10 ml (1 mg/tetes) suntikan 25 mg.antikolegenik/parasimpatis ) mulut kering . b.6 Penatalaksanaan a.kesadaran diri terganggu . Tindakan keperawatan Keliat dkk (2002) mengemukakan cara khusus yang dapat dilakukan kelurga dalam mengatasi marah pasien yaitu : a. 6 .daya titik terganggu . menjerit. latihan pernapasan 2x/hari.  Indikasi Untuk syndrome psikosis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realistis.

3) Nomifarsin (Marital)  Bentuk Kapsul terdiri dari 25 mg dan 50 mg  Indikasi Obat diberikan untuk depresi dengan hambatan psikomotrik dan bagi ibu hamil harus hati-hati.  Mekanisme kerja Obat antipsikosis dlam memblokade dopamine pada reseptor paska sinaptiknekron diotak khususnya system limbic dan system ektra pyramidal.  Kontra indikasi 7 .ataksida.  Efek samping . penyakit SSP. hidung tersumbat. gangguan irama jantung.syndrome Parkinson. penyakit SSP.agranulosis. Gangguan otonomik (hipotensi. atau parasimpatis. febris ketergantungan obat. ginekomasti) . penyakit darah. gangguan kesadaran disebabkan CNS Depresan. epilepsy. . penyakit darah.antikilonergik. febris. tekanan intra okuler meninggi. ketergantungan obat. Hematologi. mulut kering.bradilunesia rigidetasi) . Sedasi dan inhibisi psikomotor . epilepsy. 2) Halopropidal(HP)  Indikasi Berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi netral serta dalam kehidupan sehari-hari. gangguan kesadaran.  Kontra indikasi Penyakit hati. kelainan jantung. mata kabur. Gangguan endocrine (amenorrhea.biasanya untuk pemakaian jangka panjang. kelainan jantung.  Kontra indikasi Penyakit hati. Gangguan extrapiramidal (distonia akut. kesulitan miksi dan defekasi.

lobus temporal.  Faktor Presipitasi Faktor presipitasi dapat dibedakan menjadi faktor internal dan eksternal : . dan ketidakseimbangan neurotransmitter turut berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan. Psikologis Kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau amuk. Masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan yaitu perasaan ditolak.kadang konstipasi. dll 8 . krisis.7 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Jiwa pada Klien dengan Perilaku Kekerasan 1. sering mengobservasi kekerasan di rumah atau di luar rumah. dihina. kehilangan orang yang dicintai. dll . Internal adalah semua faktor yang dapat menimbulkan kelemahan. semua aspek ini menstimulasi individu mengadopsi perilaku kekerasan c. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan glaucoma dan pasien hypertropi prostat. Eksternal adalah penganiayaan fisik.  Efek samping Mengantuk. menurunnya percaya diri. hilang kontrol. lobus frontal. b. Sosial Budaya Budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif agresif) dan kontrol sosial yang tidak pasti terhadap perilaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah perilaku kekerasan diterima (permisive) d. 2. Perilaku Reinforcement yang diterima pada saat melakukan kekerasan. artinya mungkin terjadi/mungkin tidak terjadi perilaku kekerasan jika faktor berikut dialami oleh individu: a. Pengkajian  Faktor Predisposisi Berbagai pengalaman yang dialami tiap orang yang merupakan faktor predisposisi. rasa takut sakit. dianiaya. atau saksi penganiayaan. kadang . mual. Bioneurologis Banyak pendapat bahwa kerusakan sistem limbik.

jengkel. konsep rasa percaya dan ketergantungan. Hal yang bertentangan dengan norma yang dimiliki dapat 9 . diklarifikasi.  Aspek intelektual Sebagian besar pengalaman hidup individu didapatkan melalui proses intelektual. Hal ini disebabkan oleh energi yang dikeluarkan saat marah bertambah. tachikardi.  Aspek emosional Individu yang marah merasa tidak nyaman. tangan dikepal. dendam. Ada gejala yang sama dengan kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan. Aspek biologis Respons fisiologis timbul karena kegiatan system saraf otonom bereaksi terhadap sekresi epineprin sehingga tekanan darah meningkat. pupil melebar.  Aspek spiritual Kepercayaan. Emosi marah sering merangsang kemarahan orang lain. bagaimana informasi diproses. dan diintegrasikan. pengeluaran urine meningkat. dan refleks cepat. menjauhkan diri dari orang lain. frustasi. peran panca indra sangat penting untuk beradaptasi dengan lingkungan yang selanjutnya diolah dalam proses intelektual sebagai suatu pengalaman. menolak mengikuti aturan. budaya. Proses tersebut dapat mengasingkan individu sendiri. bermusuhan dan sakit hati. ketegangan otot seperti rahang terkatup. muka merah. mengidentifikasi penyebab kemarahan. menyalahkan dan menuntut. mengamuk. ingin memukul orang lain. nilai dan moral mempengaruhi hubungan individu dengan lingkungan. tubuh kaku. merasa tidak berdaya. Perawat perlu mengkaji cara klien marah.  Aspek social Meliputi interaksi sosial. Klien seringkali menyalurkan kemarahan dengan mengkritik tingkah laku yang lain sehingga orang lain merasa sakit hati dengan mengucapkan kata-kata kasar yang berlebihan disertai suara keras.

meninju tembok dan sebagainya. . . Displacement : Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan. 1998 hal 33) Kemarahan merupakan ekspresi dari rasa cemas yang timbul karena adanya ancaman. Represi : Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk ke alam sadar. Misalnya seorang yang tertarik pada teman suaminya. . menimbulkan kemarahan yang dimanifestasikan dengan amoral dan rasa tidak berdosa. . akan memperlakukan orang tersebut dengan kasar. Sublimasi : Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di mata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya secara normal. Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti meremas adonan kue. pada obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang membangkitkan emosi itu. Misalnya Timmy berusia 4 tahun marah karena ia 10 . 1998. Misalnya seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh Tuhan. tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa marah. dengan melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan. Proyeksi : Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang tidak baik.  Mekanisme koping Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada penatalaksanaan stress. Reaksi formasi : Mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan. mencumbunya. termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri. (Stuart dan Sundeen. hal 83) . berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayu. Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada klien marah untuk melindungi diri antara lain : (Maramis. Misalnya seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang tidak disukainya. sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakannya.

Dia mulai bermain perang-perangan dengan temannya. 11 .baru saja mendapat hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding kamarnya.

Bagaimana hasilnya? 12 . Data demografi a. Orang tuanya berusaha menyemangati sdr. T (19 tahun) dibawa oleh keluarganya ke RSJ karena di rumah ia sering menyendiri. tak mau makan minum dan mandi. T mengatakan “aku ini sangat bodoh dan sangat memalukan. Apa yang sudah dilakukan oleh keluarga untuk mengatasi masalah ini? c.1 Pengkajian 1.2. T yang pandai dalam semua bidang pelajaran menerima hasil UJIAN NASIONAL yang menyatakan bahwa dirinya TIDAK LULUS ujian yang sangat membuatnya malu dan merasa sangat bodoh dan membuatnya syok. panggilan perawat. T mengatakan “mengapa ini terjadi padaku? Tuhan tidak adil. waktu. marah-marah dan sering memukul-mukul diri ke tembok. tujuan. topik yang akan dibicarakan. Hal ini terjadi sejak ia mendapat kabar buruk tentang dirinya. tempat pertemuan. panggilan klien. Asuhan Keperawatan 3.T namun ia tak menggubrisnya. Sebelum sdr. Apa yang menyebabkan klien atau keluarga datang ke rumah sakit? b. b. 3. 2 minggu sebelum MRS Sdr T suka menyendiri dikamar. BAB III CONTOH KASUS DAN ASUHAN KEPERAWATAN 3. T pernah dibawa ke psikiater. Usia dan nomor rekam medik c. Contoh kasus Sdr.1. Kepandaianku sebanding dengan kebodohan seekor keledai”. Alasan masuk Tanyakan pada klien atau keluarga: a. Di awal pengkajian Sdr.2. tak mau berinteraksi dengan orang lain. Perawat mengkaji identitas klien dan melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien tentang nama perawat. T dibawa ke RSJ sdr. nama klien. Perawat menuliskan sumber data yang didapat 2. T selalu memukul orang yang menayakan tentang ketidaklulusannya. kadang tatkala orangtuanyapun menjadi sasaran pukulan ataupun lemparan benda-benda yang ada di rumahnya.

6. pandangan tajam. adanya gangguan pikiran. Sistem pendukung yang ada e. Episode-episode perilaku kekerasan di masa lalu d. kehilangan yang baru dialami.2 Analisa Data a) Data subyektif : . 3. dan riwayat penyalahgunaan zat. Stressor saat ini yang mempengaruhi klien. wajah agak merah.2. Rencana bunuh diri. Kaji adanya faktor resiko bunuh diri dan lelalitas perilaku bunuh diri klien a. Tinjau kembali riwayat klien untuk adanya stressor pencetus dan data signifikan tentang: a. b) Data obyektif : . Catat ciri-ciri respon fisiologik. Penyalahgunaan obat dan alkohol f. emosional dan perilaku dari individu dengan gangguan mood 5. Peristiwa hidup yang menimbulkan stress dan kehilangan yang baru dialami c. termasuk amas ah klien memiliki rencana tersebut c. Riwayat pendidikan dan pekerjaan 4. Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang. Keadaan jiwa klien (misal. tingkat kegelisahan. bicara menguasai. termasuk penyakit lain (baik psikiatrik maupun medik). Ekspresi marah saat membicarakan orang. . 3. keparahan gangguan mood) d. Kerentanan genetika-biologik (misal. Riwayat pengobatan e. . . 13 . Mata merah. riwayat keluarga) b. medikasi. Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah. gangguan mood. kognitif. agar terlepas dari stress solusi masalah yang sulit) b. tanda-tanda kekambuhan serta tindakan perawatan sendiri. Nada suara tinggi dan keras. Kaji sistem pendukung keluarga dan kaji pengetahuan dasar klien atau keluarga tentang gejala. Tujuan klien (misal. dan rekomendasi pengobatan.

2 Diagnosa keperawatan : Perilaku Kekerasan/Amuk Tgl PERENCANAAN DX TUJUAN KRITERIA HASIL INTERVENSI 1 2 3 4 5 Perilaku Pasien mampu : Setelah 2 kali SP. tanda kekerasan. penyebab dan mampu : tanda dan gejala serta tanda perilaku .. Terapi 14 .Mengidentifikasi pertemuan pasien . Social/ Verbal 3.Identifikasi penyebab. .Mengontrol perilaku kekerasannya secara : 1. 1 (Tgl..Masukkan dalam jadwal akibat dari perilaku perilaku kekerasan harian pasien kekerasan yang dilakukan .Menyebutkan jenis gejala dan akibat perilaku kekerasan perilaku kekerasan .. .) kekerasan ..Menyebutkan mengontrol .Memperagakkan napas dalam dilakukan cara fisik I untuk .. Fisik 2.Menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan . 3. Merusak dan melempar barang-barang..Latih cara fisik I : Tarik yang pernah .Menyebutkan akibat perilaku kekerasan penyebab.. Spiritual 4...

. 2 (tgl......Latihan fisik II : kegiatan yang .masukkan dalam jadwal untuk harian pasien mengontrol perilaku kekerasan 15 ....Menyebutkan . ... Mengungkapkan kan secara dengan baik social/verbal . Setelah 4 kali SP.....pukul kasur atau bantal sudah dilakukan.. 1 & 2) .Evaluasi kegiatan yang mampu : lalu (SP.... Menolak dengan baik dilakukan 2.. Menyebutka ....Masukkan kedalam ....) pertemuan pasien .Latihan secara n kegiatan social/verbal : yang sudah 1.1) .....psikofarma (patah obat) Setelah 3 kali SP..) Pertemuan pasien .Evaluasi kegiatan yang mampu : lalu (SP.... Meminta dengan baik . 3 (tgl ... Memperagak 3..Memperagakkan jadwal harian pasien cara fisik untuk mengontrol perilaku kekerasan.

.latih secara spiritual : kegiatan 1.latih patuh obat : kegiatan yang 1.Menjelaskan dalam merawat pasien penyebab. menyebutkan . 2.Jelaskan tentang P-K gejala akibat serta dari : mampu 1.... minum obat secara sudah dilakukan teratur dengan prinsip .. shalat dilakukan .) Merawat pasien pertemuan keluarga . 1.Evaluasi kegiatan yang mampu : lalu ( SP....... 3 & 4) .Indentifikasi masalah dirumah mampu : yang dirasakan keluarga .. & 3) .memperagakkan 5B cara patuh obat 2.. penyebab memperagakkan 2..masukkan dalam jadwal . 2... akibat 16 .... 4 (tgl.) pertemuan pasien . tanda. memperagak harian pasien kan cara spiritual Setelah 6 kali SP.masukkan dalam jadwal harian pasien Keluarga mampu : Setelah 2 kali SP..) pertemuan pasien . 1 (tgl.menyebutkan . susun jadwal minum obat secara teratur ..Evaluasi kegiatan yang mampu : lalu (SP. Setelah 5 kali SP....... 1. . 5 (tgl......... berdoa yang sudah 2.

....latih 2 cara merawat . merawat serta . 2 (tgl.Latih (simulasi ) 2 cara ................) pertemuan keluarga ...... 2. 1 mampu : ...Menyebutkan ... 1 & 2 mampu : ...) pertemuan keluarga ..Evaluasi SP.Latih langsung ke dan mampu pasien..Latih langsung ke kegiatan yang pasien sudah dilakukan dan mampu ... 1..Evaluasi SP...Latih langsung ke pasien 17 . 4 (tgl.RTL keluarga atau jadwal untuk merawat pasien Setelah 3 kali SP. 3 ( tgl.RTL keluarga/jadwal merawat serta keluarga untuk merawat dapat membuat pasien RTL Setelah 5 kali SP.) pertemuan keluarga . & 3 mampu : .. cara merawat 3.RTL keluarga/ jadwal dapat membuat keluarga untuk merawat RTL pasien Setelah 4 kali SP.Meyebutkan lain untuk merawat kegiatan yang pasien sudah dilakukan ..Evaluasi SP.... cara merawat .

Tindakan yang harus saudara lakukan dalam rangka membina hubungan saling percayaa dalah: a) Mengucapkan salam terapeutik b) Berjabat tangan c) Menjelaskan tujuan interaksi d) Membuat kontrak topik. b. waktu dan tempat setiap kali bertemu pasien 2) Diskusikan bersama pasien penyebab perilaku kekerasan saat ini dan yang lalu 18 . dan dengan terapi psikofarmaka. Tindakan 1) Bina hubungan saling percaya Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar pasien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan saudara. Tindakan keperawatan untuk pasien a. Follow Up mampu 2. Tujuan 1) Pasien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan 2) Pasien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan 3) Pasien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah dilakukannya 4) Pasien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukannya 5) Pasien dapat menyebutkan cara mencegah atau mengontrol perilaku kekerasannya 6) Pasien dapat mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya secara fisik. sosial.RTL keluarga : rujukan serta 1. . Rujukan menyebutkan kegatan yang sudah dilakukan 3. spiritual.3 Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan 1.Melaksanakan follow up dan .

tarik nafas dalam b) Obat c) Social/verbal: menyatakan secara asertif rasa marahnya d) Spiritual: sholat/berdoa sesuai keyakinan pasien 7) Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara fisik: a) Latihan nafas dalam dan pukul kasur – bantal b) Susun jadwal latihan dalam dan pukul kasur – bantal 8) Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal a) Latih mengungkapkan rasa marah secara verbal: menolak dengan baik. berdoa b) Buat jadwal latihan sholat. berdoa 10) Latih mengontrol perilaku kekerasan dengan patuh minum obat: a) Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip lima benar (benar nama pasien. benar cara minum obat. dan benar dosis obat) disertai penjelasan guna obat dan akibat berhenti minum obat 19 . benar nama obat. benar waktu minum obat. meminta dengan baik.3) Diskusikan perasaan pasien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan a) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara fisik b) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara psikologis c) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara sosial d) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara spiritual e) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara intelektual 4) Diskusikan bersama pasien perilaku kekerasan yang biasa dilakukan pada saat marah secara: a) Verbal b) Terhadap orang lain c) Terhadap diri sendiri d) Terhadap lingkungan 5) Diskusikan bersama pasien akibat perilakunya 6) Diskusikan bersama pasien cara mengontrol perilaku kekerasan secara: a) Fisik: pukul kasur dan batal. mengungkapkan perasaan dengan baik b) Susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal. 9) Latih mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual: a) Latih mengontrol marah secara spiritual: sholat.

. panggil saya Suster Desi. identifikasi penyebab perasaan marah.00 WIB. Menurut mas T adakah cara lain yang lebih baik? Maukah mas T belajar cara mengungkapkan kemarahan dengan baik tanpa menimbulkan kerugian?” 20 . mata melotot. akibatnya serta cara mengontrol secara fisik I ORIENTASI: “Selamat pagi mas . dan tangan mengepal?” “Setelah itu apa yang mas T lakukan? O. membanting pintu dan memecahkan barang-barang. orangtua mas jadi takut barang-barang pecah.iya. amas ah ada penyebab lain yang membuat mas T marah” “Pada saat penyebab marah itu ada. saya mahasiswa dari keperawatan Tangerang yang dinas di ruangan 9 ini dari jam 07. perkenalkan nama saya Desi.00- 14. Amas ah sebelumnya mas T pernah marah? Terus. b) Susun jadwal minum obat secara teratur 11) Ikut sertakan pasien dalam terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi mengontrol perilaku kekerasan SP 1 Pasien : Membina hubungan saling percaya. O. tentu tidak. perilaku kekerasan yang dilakukan. amas ah dengan cara ini stress mas T hilang? Iya. penyebabnya apa? Samakah dengan yang sekarang?. Nama mas T siapa. senangnya dipanggil apa?” “Baiklah saya akan panggil mas dengan mas T.iya. jadi mas T marah-marah. Apa kerugian cara yang mas T lakukan? Betul. seperti mas T stress karena pekerjaan atau masalah uang ( misalnya ini penyebab marah pasien). mas? Bagaimana kalau di ruang tamu?” KERJA: “Apa yang menyebabkan mas T marah?. tanda dan gejala yang dirasakan.. Bagaimana perasaan mas T saat ini?. apa yang mas T rasakan?” (tunggu respons pasien) “Amas ah mas T merasakan kesal kemudian dada mas T berdebar-debar. Masih ada perasaan kesal atau marah?” “Baiklah kita akan berbincang-bincang sekarang tentang perasaan marah mas T” “Berapa lama mas T mau kita berbincang-bincang?” Bagaimana kalau 10 menit? “Dimana enaknya kita duduk untuk berbincang-bincang. rahang terkatup rapat.

. mas . Evaluasi latihan nafas dalam b. Ayo coba lagi. bagaimana kalau 2 jam lagi saya datang dan kita latihan cara yang lain untuk mencegah/mengontrol marah.. ingat-ingat lagi penyebab marah mas T yang lalu. (sebutkan) serta akibatnya .... sehingga bila sewaktu-waktu rasa marah itu muncul mas T sudah terbiasa melakukannya” TERMINASI “Bagaimana perasaan mas T setelah berbincang-bincang tentang kemarahan mas T?” ”Iya jadi ada 2 penyebab mas T marah . mas T sudah bisa melakukannya. lalu keluarkan/tiupu perlahan –lahan melalui mulut seperti mengeluarkan kemarahan. sebaiknya latihan ini mas T lakukan secara rutin.” ”Ada beberapa cara... sesuai dengan janji saya tiga jam yang lalu sekarang saya datang lagi” “Bagaimana perasaan mas T saat ini..... Jadi melalui kegiatan fisik disalurkan rasa marah.... adakah hal yang menyebabkan mas T marah?” “Baik. (sebutkan) dan yang mas T rasakan .... Selamat pagi” SP 2 Pasien: Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik ke-2 a. tahan sebentar..... tarik dari hidung. Latih cara fisik ke-2: pukul kasur dan bantal c. bagus. ‘Sekarang kita buat jadwal latihannya ya mas . ”Ada beberapa cara untuk mengontrol kemarahan. lalu tarik napas dari hidung... kalau tanda-tanda marah tadi sudah mas T rasakan maka mas T berdiri.. jam berapa saja mas ?” ”Baik.. lakukan 5 kali. Tempatnya disini saja ya mas . Susun jadwal kegiatan harian cara kedua ORIENTASI “Selamat pagi mas .. berapa kali sehari mas T mau latihan napas dalam?.. Nah.. tahan. (sebutkan) ”Coba selama saya tidak ada. (sebutkan) dan yang mas T lakukan . Bagus sekali.. Bagaimana perasaannya?” “Nah. apa yang mas T lakukan kalau marah yang belum kita bahas dan jangan lupa latihan napas dalamnya ya mas . dan tiup melalui mulut. Salah satunya adalah dengan cara fisik. sekarang kita akan belajar cara mengontrol perasaan marah dengan kegiatan fisik 21 . bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu?” ”Begini mas ..

“Sekarang mari kita latihan memukul kasur dan bantal. Mana kamar mas T? Jadi kalau nanti mas T kesal dan ingin marah. berdebar-debar. Kemudian jangan lupa merapikan tempat tidurnya TERMINASI “Bagaimana perasaan mas T setelah latihan cara menyalurkan marah tadi?” “Ada berapa cara yang sudah kita latih.” “Nah cara inipun dapat dilakukan secara rutin jika ada perasaan marah. mata melotot. coba mas T sebutkan lagi?Bagus!” “Mari kita masukkan kedalam jadwal kegiatan sehari-hari mas T. bagus sekali mas T melakukannya”. Evaluasi jadwal harian untuk dua cara fisik b. Mau jam berapa mas ? Baik.bagaimana mas T setuju?” KERJA “Kalau ada yang menyebabkan mas T marah dan muncul perasaan kesal. “Kekesalan lampiaskan ke kasur atau bantal. selain napas dalam mas T dapat melakukan pukul kasur dan bantal”. langsung ke kamar dan lampiaskan kemarahan tersebut dengan memukul kasur dan bantal. meminta dengan baik. Latihan mengungkapkan rasa marah secara verbal: menolak dengan baik.00 sore. Nah. dan jam jam 15. Sampai jumpa & istirahat y mas ” SP 3 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal: a. mengungkapkan perasaan dengan baik.untuk cara yang kedua” “sesuai janji kita tadi kita akan berbincang-bincang sekitar 20 menit dan tempatnya disini di ruang tamu. pukul kasur dan bantal. mau berapa kali sehari mas T latihan memukul kasur dan bantal serta tarik nafas dalam ini?” “Besok pagi kita ketemu lagi kita akan latihan cara mengontrol marah dengan belajar bicara yang baik. jadi jam 05. Sekarang kita buat jadwalnya ya mas . c. Pukul kasur bantal mau jam berapa? Bagaimana kalau setiap bangun tidur? Baik. Ya. jam 10 pagi ya. coba mas T lakukan. Susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal 22 .00 pagi. Lalu kalau ada keinginan marah sewaktu-waktu gunakan kedua cara tadi ya mas .

jika ada perlakuan orang lain yang membuat kesal mas T dapat mengatakan:’ Saya jadi ingin marah karena perkataanmu itu’.” Nanti bisa dicoba di sini untuk meminta baju. Bagus” TERMINASI “Bagaimana perasaan mas T setelah kita bercakap-cakap tentang cara mengontrol marah dengan bicara yang baik?” “Coba mas T sebutkan lagi cara bicara yang baik yang telah kita pelajari” “Bagus sekali. Berapa kali sehari mas T mau 23 . Kemarin Mas T bilang penyebab marahnya karena minta uang sama orangtua tidak diberi. Nah kalau tidak dilakukan tulis T. Nah kalau tarik nafas dalamnya dilakukan sendiri tulis M. maka kita perlu bicara dengan orang yang membuat kita marah. saya perlu uang untuk membeli rokok.” “Bagus. sudah dilakukan latihan tarik napas dalam dan pukul kasur bantal?.” 2. Coba praktekkan. jika ada yang menyuruh dan mas T tidak ingin melakukannya. artinya belum bisa melakukan “Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara bicara untuk mencegah marah?” “Dimana enaknya kita berbincang-bincang?Bagaimana kalau di tempat yang sama?” “Berapa lama mas T mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?” KERJA “Sekarang kita latihan cara bicara yang baik untuk mencegah marah. minta obat dan lain-lain. Coba mas T praktekkan. sekarang mari kita masukkan dalam jadwal. Meminta dengan baik tanpa marah dengan nada suara yang rendah serta tidak menggunakan kata-kata kasar. apa yang dirasakan setelah melakukan latihan secara teratur?” “Coba saya lihat jadwal kegiatan hariannya. katakan: ‘Maaf saya tidak bisa melakukannya karena sedang ada kerjaan’. sesuai dengan janji saya kemarin sekarang kita ketemu lagi” “Bagaimana mas. kalau diingatkan suster baru dilakukan tulis B. Menolak dengan baik. ORIENTASI “Selamat pagi mas. Coba mas T praktekkan. dan sudah lega. artinya mandiri. Bagus mas . Coba mas T minta uang dengan baik:”Bu. Mengungkapkan perasaan kesal. Bagus mas ” 3. Kalau marah sudah dusalurkan melalui tarik nafas dalam atau pukul kasur dan bantal. artinya dibantu atau diingatkan. Ada tiga caranya mas : 1.

Buat jadwal latihan sholat/berdoa ORIENTASI “Selamat pagi mas. kalau mas T sedang marah coba mas T langsung duduk dan tarik napas dalam. yang mana mau dicoba? “Nah. Latihan sholat/berdoa c. misalnya meminta obat. Bagus nanti dicoba ya Mas !” “Bagaimana kalau dua jam lagi kita ketemu lagi?” “Nanti kita akan membicarakan cara lain untuk mengatasi rasa marah mas T yaitu dengan cara ibadah. uang. Jika tidak reda juga marahnya rebahkan badan agar rileks. Baik. mas T setuju? Mau di mana Mas ? Di sini lagi? Baik sampai nanti ya” SP 4 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual a. bisa kita buat jadwalnya?” Coba masukkan dalam jadwal latihan sehari-hari. ambil 24 . Diskusikan hasil latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik dan sosial/verbal b. Jika tidak reda juga. latihan apa yang sudah dilakukan? Apa yang dirasakan setelah melakukan latihan secara teratur? Bagus sekali. yang mana yang mau dicoba?” “Bagaimana mas. sesuai dengan janji saya dua jam yang lalu sekarang saya datang lagi” Baik. bagaimana rasa marahnya” “Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara lain untuk mencegah rasa marah yaitu dengan ibadah?” “Dimana enaknya kita berbincang-bincang?Bagaimana kalau di tempat tadi?” “Berapa lama mas T mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit? KERJA “Coba ceritakan kegiatan ibadah yang biasa Mas T lakukan! Bagus. dll. latihan bicara yang baik?.

.. Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip lima benar (benar nama pasien.. Mau jam berapa mas ? Seperti sekarang saja..... “Mas T bisa melakukan sholat secara teratur untuk meredakan kemarahan. Baik kita masukkan sholat . “Mari kita masukkan kegiatan ibadah pada jadwal kegiatan mas T. yaitu dengan patuh minum obat. benar cara minum obat.” “Coba mas sebutkan sholat 5 waktu? Bagus. Mau berapa kali mas T sholat. Susun jadwal minum obat secara teratur ORIENTASI “Selamat pagi mas.. jam 10 ya?” “Nanti kita akan membicarakan cara penggunaan obat yang benar untuk mengontrol rasa marah mas T. 25 . setuju mas ?” SP 5 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan dengan obat a. Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien untuk cara mencegah marah yang sudah dilatih.. sudah dilakukan latihan tarik napas dalam. air wudhu kemudian sholat”... Coba kita lihat cek kegiatannya”. benar waktu minum obat.” TERMINASI Bagaimana perasaan mas T setelah kita bercakap-cakap tentang cara yang ketiga ini?” “Jadi sudah berapa cara mengontrol marah yang kita pelajari? Bagus”. benar nama obat... bicara yang baik serta sholat?. c. Mau coba yang mana? Coba sebutkan caranya (untuk yang muslim). b. sesuai dengan janji saya kemarin hari ini kita ketemu lagi” “Bagaimana mas. (sesuai kesepakatan pasien) “Coba mas T sebutkan lagi cara ibadah yang dapat mas T lakukan bila mas T merasa marah” “Setelah ini coba mas T lakukan jadwal sholat sesuai jadwal yang telah kita buat tadi” “Besok kita ketemu lagi ya mas . dan benar dosis obat) disertai penjelasan guna obat dan akibat berhenti minum obat.. nanti kita bicarakan cara keempat mengontrol rasa marah. dan . pukul kasur bantal. apa yang dirasakan setelah melakukan latihan secara teratur?.

“Bagaimana kalau sekarang kita bicara dan latihan tentang cara minum obat yang benar untuk mengontrol rasa marah?” “Dimana enaknya kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau di tempat kemarin?” “Berapa lama mas T mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit” KERJA (perawat membawa obat pasien) “Mas T sudah dapat obat dari dokter?” Berapa macam obat yang Mas T minum? Warnanya apa saja? Bagus! Jam berapa Mas T minum? Bagus! “Obatnya ada tiga macam mas .” “Sekarang kita masukkan waktu minum obatnya kedalam jadwal ya mas . Jangan lupa laksanakan semua dengan teratur ya”. yang warnanya oranye namanya CPZ gunanya agar pikiran tenang. “Baik. jam berapa saja harus diminum. Apakah benar nama mas T tertulis disitu. yang putih ini namanya THP agar rileks. jam 1 siang. “Bila terasa mata berkunang-kunang. untuk membantu mengatasinya mas T bisa minum air putih yang tersedia di ruangan”. “Bila nanti setelah minum obat mulut mas T terasa kering. Sekarang kita tambahkan jadwal kegiatannya dengan minum obat.” TERMINASI “Bagaimana perasaan mas T setelah kita bercakap-cakap tentang cara minum obat yang benar?” “Coba mas T sebutkan lagi jenis obat yang Mas T minum! Bagaimana cara minum obat yang benar?” “Nah. karena dapat terjadi kekambuhan. Besok kita ketemu kembali untuk melihat sejauhmana mas T melaksanakan 26 . Baca juga apakah nama obatnya sudah benar? Di sini minta obatnya pada suster kemudian cek lagi apakah benar obatnya!” “Jangan pernah menghentikan minum obat sebelum berkonsultasi dengan dokter ya mas . mas T sebaiknya istirahat dan jangan beraktivitas dulu” “Nanti di rumah sebelum minum obat ini mas T lihat dulu label di kotak obat mas. dan jam 7 malam”. sudah berapa cara mengontrol perasaan marah yang kita pelajari?. berapa dosis yang harus diminum. dan yang merah jambu ini namanya HLP agar pikiran teratur dan rasa marah berkurang. Semuanya ini harus mas T minum 3 kali sehari jam 7 pagi.

tanda dan gejala. Sampai jumpa” 2. Nama 27 . perilaku yang muncul dan akibat dari perilaku tersebut) 3) Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi pasien yang perlu segera dilaporkan kepada perawat. tanda dan gejala. Tindakan 1) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien 2) Diskusikan bersama keluarga tentang perilaku kekerasan (penyebab. seperti melempar atau memukul benda/orang lain ORIENTASI “Selamat pagi bu. Tindakan keperawatan untuk keluarga a. seperti melempar atau memukul benda/orang lain 4) Latih keluarga merawat pasien dengan perilaku kekerasan a) Anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan tindakan yang telah diajarkan oleh perawat b) Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada pasien bila pasien dapt melakukan kegiatan tersebut secara tepat c) Diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan bila pasien menunjukkan gejala-gejala perilaku kekerasan 5) Buat perencanaan pulang bersama keluarga SP 1 Keluarga: Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang cara merawat klien perilaku kekerasan di rumah 1) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien 2) Diskusikan bersama keluarga tentang perilaku kekerasan (penyebab. perkenalkan nama saya Desi. Tujuan Keluarga dapat merawat pasien di rumah b. saya yang akan merawat mas T (pasien).kegiatan dan sejauhmana dapat mencegah rasa marah. saya mahasiswa dari keperawatan Tangerang yang bertugas diruangan ini. perilaku yang muncul dan akibat dari perilaku tersebut) 3) Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi pasien yang perlu segera dilaporkan kepada perawat.

Ibu bisa bantu mas T dengan cara mengingatkan jadwal latihan cara mengontrol marah yang sudah dibuat yaitu secara fisik. ibu sudah lihat kan apa yang saya ajarkan kepada mas T bila tanda-tanda kemarahan itu muncul. keinginan tidak terpenuhi. lalu kelihatan gelisah. itu artinya anak ibu sedang marah. orang lain dan lingkungan. Kalau mas T bisa melakukanya jangan lupa di puji ya bu” TERMINASI “Bagaimana perasaan ibu setelah kita bercakap-cakap tentang cara merawat mas T?” “Coba ibu sebutkan lagi cara merawat mas T” “Setelah ini coba ibu ingatkan jadwal yang telah dibuat untuk mas T ya bu” “Bagaimana kalau kita ketemu 2 hari lagi untuk latihan cara-cara yang telah kita bicarakan tadi langsung kepada mas T?” “Tempatnya disini saja lagi ya bu?” SP 2 Keluarga: Melatih keluarga melakukan cara-cara mengontrol Kemarahan a) Evaluasi pengetahuan keluarga tentang marah b) Anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan tindakan yang telah diajarkan oleh perawat 28 . dan biasanya setelah itu ia akan melampiaskannya dengan membanting-banting barang-barang disekitarnya atau memukul atau bicara kasar? Kalau apa perubahan terjadi? Lalu apa yang biasa dia lakukan?” “Nah bu.” “Bu. Kalau Mas T marah biasanya apa penyebabnya Bu?” “Kalau nanti wajah anak ibu tampak tegang dan merah. Saya akan coba jelaskan tentang marah Mas T dan hal-hal yang perlu diperhatikan. spiritual dan obat teratur”. apa masalah yang Ibu hadapi dalam merawat Mas T? Apa yang Ibu lakukan? Baik Bu.ibu siapa. verbal. Yang menyebabkan anak ibu marah dan ngamuk adalah kalau dia merasa direndahkan. Bu? Bagaimana kalau di ruang tamu?” KERJA “Bu. senangnya dipanggil apa?” “Bisa kita berbincang-bincang sekarang tentang masalah yang Ibu hadapi?” “Berapa lama ibu kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 30 menit?” “Di mana enaknya kita berbincang-bincang. marah adalah suatu perasaan yang wajar tapi bisa tidak disalurkan dengan benar akan membahayakan dirinya sendiri.

langsung ke kamar dan lampiaskan kemarahan tersebut dengan memukul kasur dan bantal. “Bagus sekali.?” ”Ya.. mas T berdiri. coba ceritakan kepada Ibu.. bu?” “ Ya. sebentar saya panggilkan mas T supaya bisa berlatih bersama” KERJA ”Nah mas.. dan tiup melalui mulut.. Bagus sekali. Ayo coba lagi. “Sekarang coba kita latihan memukul kasur dan bantal. coba praktekkan langsung kepada ibu cara bicara ini: 29 . latihan yang sudah Mas T lakukan. berdebar- debar.benar.” ”Sekarang kita akan coba latihan bersama-sama ya mas ?” ”Masih ingat mas. mas T dan ibu sudah bisa melakukannya dengan baik”. tarik dari hidung. Nah. coba mas T lakukan sambil didampingi ibu. lalu tarik napas dari hidung.. bagus sekali mas T melakukannya”.. selain napas dalam mas T dapat melakukan pukul kasur dan bantal”. Ya. Nah. mata melotot. Ada tiga caranya mas .” “Bagaimana Bu? Masih ingat diskusi kita yang lalu? Ada yang mau Ibu tanyakan?” “Berapa lama ibu mau kita latihan?“Bagaimana kalau kita latihan disini saja?. tahan. bagus.. betul.... tahan sebentar lalu keluarkan/tiup perlahan –lahan melalui mulut seperti mengeluarkan kemarahan. “Cara yang kedua masih ingat mas. bu kalau tanda-tanda marah sudah mas T rasakan maka yang harus dilakukan mas T adalah. berikan mas T semangat ya bu. kalau ada yang menyebabkan mas T marah dan muncul perasaan kesal. Coba perlihatkan kepada Ibu jadwal harian Mas T! Bagus!” ”Nanti di rumah ibu bisa membantu mas T latihan mengontrol kemarahan Mas T. c) Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada pasien bila pasien dapat melakukan kegiatan tersebut secara tepat d) Diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan bila pasien menunjukkan gejala-gejala perilaku kekerasan ORIENTASI “Selamat pagi bu. sesuai dengan janji kita 2 hari yang lalu sekarang kita ketemu lagi untuk latihan cara-cara mengontrol rasa marah mas T. “Cara yang ketiga adalah bicara yang baik bila sedang marah. lakukan 5 kali. coba ibu temani dan bantu mas T menghitung latihan ini sampai 5 kali”. Mana kamar mas T? Jadi kalau nanti mas T kesal dan ingin marah.

jika ada yang menyuruh dan mas T tidak ingin melakukannya.” 30 . Coba mas T praktekkan. Meminta dengan baik tanpa marah dengan nada suara yang rendah serta tidak menggunakan kata-kata kasar. 2. misalnya: ‘Bu. Bagaimana perasaan ibu setelah kita latihan cara-cara mengontrol marah langsung kepada mas T?” “Bisa ibu sebutkan lagi ada berapa cara mengontrol marah?” “Selanjutnya tolong pantau dan motivasi Mas T melaksanakan jadwal latihan yang telah dibuat selama di rumah nanti. Coba praktekkan. tidurnya juga tenang. “Cara terakhir adalah minum obat teratur ya mas . Saya perlu uang untuk beli rokok! Coba mas T praktekkan. “Mas T bisa melakukan sholat secara teratur dengan didampingi ibu untuk meredakan kemarahan”. Bagus mas ” 3. Jangan lupa berikan pujian untuk Mas T bila dapat melakukan dengan benar ya Bu!” “ Karena Mas T sebentar lagi sudah mau pulang bagaimana kalau 2 hari lagi Ibu bertemu saya untuk membicarakan jadwal aktivitas Mas T selama di rumah nanti. bu agar pikiran mas T jadi tenang. Di ruang ini juga. Bagus mas ”. tidak ada rasa marah” “Mas T coba jelaskan berapa macam obatnya! Bagus. Bagus” “Cara berikutnya adalah kalau mas T sedang marah apa yang harus dilakukan?” “Baik sekali. Jika tidak reda juga marahnya rebahkan badan agar rileks. ambil air wudhu kemudian sholat”. Menolak dengan baik. Apa guna obat? Bagus. mas T coba langsung duduk dan tarik napas dalam. jika ada perlakuan orang lain yang membuat kesal mas T dapat mengatakan:’ Saya jadi ingin marah karena perkataanmu itu’. Jam berapa minum obat? Bagus. Jika tidak reda juga. 1. latihan kita sudah selesai. ibu tolong selama di rumah ingatkan mas T untuk meminumnya secara teratur dan jangan dihentikan tanpa sepengetahuan dokter” TERMINASI “Baiklah bu. katakan: ‘Maaf saya tidak bisa melakukannya karena sedang ada kerjaan’.” “Jam 10 seperti hari ini ya Bu. Apakah boleh mengurangi atau menghentikan obat? Wah bagus sekali!” “Dua hari yang lalu sudah saya jelaskan terapi pengobatan yang mas T dapatkan. Mengungkapkan perasaan kesal.

Apakah sudah dipuji keberhasilannya?” “Nah sekarang bagaimana kalau bicarakan jadwal kegiatan dan perawatan lanjutan di rumah. Saya rasa mungkin cukup sampai disini dan untuk persiapan pulang pasien lainya akan segera saya siapkan” 31 . Sekarang Bagaimana kalau kita berbincang- bincang tentang perawatan lanjutan untuk keluarga Mas T/Ibu. jadwal yang telah dibuat tolong dilanjutkan. karena ibu dan keluarga sudah menetahui cara-cara yang sebelumnya telah kita bicarakanya. tanda atau gejala. bu. baik jadwal aktivitas maupun jadwal minum obatnya. kontrol. Kalau misalnya Mas T menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain.” TERMINASI “ Bagaimana Bu? Ada yang ingin ditanyakan? Coba Ibu sebutkan apa saja yang perlu diperhatikan (jadwal kegiatan. ke rumah sakit). maka mas T konsul kan ke dokter atau di bawa kerumah sakit ini untuk dilakukan pemeriksaan ulang pada mas T. disini saja?” “Berapa lama mas T dan ibu mau kita berbicara? Bagaimana kalau 30 menit?” KERJA “Mas. Mari kita lihat jadwal Mas T!” “Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh mas T selama di rumah.SP 3 Keluarga: Menjelaskan perawatan lanjutan bersama keluarga Buat perencanaan pulang bersama keluarga ORIENTASI “Selamat pagi mas. bu.

BAB IV PENUTUP 4. Perubahan perilaku. 1999).2.Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi mencederai diri. Perasaan marah normal bagi tiap individu. (Stuart dan Sundeen. Sehingga perawat dapat mencapai hasil yang maksimal dalam membuat asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan Jiwa perilaku kekerasan.gejalanya Perubahan fisiologik. Kesimpulan Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri.1. orang lain maupun lingkungan. Perilaku kekerasan atau kemarahan menurut Stearen bisa disebabkan adanya gangguan harga diri: harga diri rendah. namun perilaku yang dimanifestasikan oleh perasaan marah dapat berfluktuasi sepanjang rentang adaptif dan maladaptif. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif. 32 .Gejala . Perubahan emosional. Saran Sebagai perawat kita seharusnya dapat mengetahui dengan cepat gejala-gejala perilaku kekerasan. 4. orang lain dan lingkungan.