You are on page 1of 42

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kecelakaan lalu lintas merupakan masalah kesehatan diseluruh dunia,
khususnya di negara berkembang. Kecelakaan lalu lintas dapat dialami oleh
siapa saja dan kapan saja. Berdasarkan prevalensi data menurut World Health
of Organisation (WHO) menyebutkan bahwa 1,24 juta korban meninggal tiap
tahunnya di seluruh dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Menurut Departemen
Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) tahun 2013 menyebutkan bahwa
kejadian kecelakaan lalu lintas di Indonesia setiap tahunnya mengalami
peningkatan yaitu 21,8% dalam jangka waktu 5 tahun. Kecelakaan lalu lintas
dapat mengakibatkan kerusakan fisik hingga kematian.
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) tahun
2013 menyebutkan bahwa dari jumlah kecelakaan yang terjadi, terdapat 5,8%
korban cedera atau sekitar delapan juta orang mengalami fraktur dengan jenis
fraktur yang paling banyak terjadi yaitu fraktur pada bagian ekstremitas atas
sebesar 36,9% dan ekstremitas bawah sebesar 65,2%. Hasil Riset Kesehatan
Dasar tahun 2013 juga menyebutkan bahwa kejadian kecelakaan lalu lintas di
daerah Jawa Tengah sebanyak 6,2% mengalami fraktur.
Menurut Desiartama & Aryana (2017) di Indonesia kasus fraktur femur
merupakan yang paling sering yaitu sebesar 39% diikuti fraktur humerus
(15%), fraktur tibia dan fibula (11%), dimana penyebab terbesar fraktur femur
adalah 2 kecelakaan lalu lintas yang biasanya disebabkan oleh kecelakaan
mobil, motor, atau kendaraan rekreasi (62,6%) dan jatuh (37,3%) dan
mayoritas adalah pria (63,8%). 4,5% puncak distribusi usia pada fraktur femur
adalah pada usia dewasa (15-34 tahun) dan orang tua (diatas 70 tahun).
Fraktur femur disebut juga sebagai fraktur tulang paha yang disebabkan akibat
benturan atau trauma langsung maupun tidak langsung (Helmi, 2012).
Pada korban yang mengalami cedera fraktur harus dilakukan evaluasi dan
ditangani dengan cara yang sistematis, dengan menekankan penentuan

1

prioritas penanganan berdasarkan sifat dan beratnya cedera. Penilaian awal
berupa survei primer secepatnya pada jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi
(Airway, Breathing, Circulation), kemudian tahap selanjutnya adalah
penanganan terhadap cedera yang dialami.
Pertolongan pertama yang harus diberikan pada patah tulang adalah
berupaya agar tulang yang patah tidak saling bergeser (mengusahakan
imobilisasi), apabila tulang saling bergeser akan terjadi kerusakan lebih lanjut.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memasang bidai yang
dipasang melalui dua sendi. Dengan prosedur yang benar, apabila dilakukan
dengan cara yang salah akan menyebabkan cedera yang lebih parah.
Pembebatan dan pembidaian memegang peranan penting dalam
manajemen awal dari trauma muskuloskeletal, seperti fraktur ekstremitas,
dislokasi sendi dan sprain (terseleo). Pemasangan bebat dan bidai yang
adekuat akan menstabilkan ekstremitas yang mengalami trauma, mengurangi
ketidaknyamanan pasien dan memfasilitasi proses penyembuhan jaringan.
Tegantung kepada tipe trauma atau kerusakan, pembebatan atau pembidaian
dapat menjadi satu-satunya terapi atau menjadi tindakan pertolongan awal
sebelum dilakukan proses diagnostik atau intervensi bedah lebih lanjut.

B. Rumusan Masalah
1. Apa anatomi dan fisiologi pada muskuloskeletal?
2. Apa penjelasan dari trauma muskuloskeletal?
3. Bagaimana penilaian awal trauma muskuloskeletal?
4. Apa definisi fraktur?
5. Apa saja etiologi fraktur?
6. Apa tanda dan gejala farktur?
7. Apa saja jenis fraktur?
8. Apa saja tipe fraktur?
9. Bagaimana prinsip penatalaksanaan fraktur?
10. Bagaimana pengelolaan pasien fraktur?
11. Bagaimana konsep asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien fraktur?

2

12. Bagaimana asuhan keperawatan gawat darurat pada tn. J dengan fraktur
tertutup clavikula dextra di IGD RSUD Undata Palu?

3

C. TUJUAN
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memahami:
1. Anatomi dan fisiologi pada muskuloskeletal.
2. Trauma muskuloskeletal.
3. Penilaian awal trauma muskuloskeletal.
4. Pengertian fraktur.
5. Etiologi fraktur.
6. Tanda dan gejala fraktur.
7. Jenis fraktur.
8. Tipe fraktur.
9. Prinsip penatalaksanaan fraktur.
10. Pengelolaan pasien fraktur.
11. Konsep asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien fraktur.
12. Asuhan keperawatan gawat darurat pada tn. J dengan fraktur tertutup
clavikula dextra di IGD RSUD Undata Palu.

4

sistem rangka. sistem peredaran darah. sistem pencernaan. Tendon. dan sistem syaraf. Peran mereka dalam muskuloskeletal sistem keseluruhan sangatlah penting sehingga tulang 5 . Akan tetapi dalam ergonomi. kartilago. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. ligamen. sistem pernafasan. Sedangkan tulang sendi diperlukan untuk pergerakan antara segmen tubuh. dan untuk menyerap reaksi dari gaya serta beban kejut. 2008). Rangka manusia terdiri dari tulang-tulang yang menyokong tubuh manusia yang terdiri atas tulang tengkorak. pengganti sel-sel yang rusak. diantaranya adalah sistem rangka. sistem yang paling berpengaruh adalah sistem otot. Ketiga sistem ini sangat berpengaruh dalam ergonomi karena manusia yang memegang peran sebagai pusat dalam ilmu ergonomi/person centered ergonomics (Moore. a. Sistem Muskuloskeletal Kerangka merupakan dasar bentuk tubuh sebagai tempat melekatnya otot-otot. penentuan tinggi. Anatomi dan Fisiologi Muskuloskeletal Tubuh manusia terdiri dari berbagai sistem. tulang sendi dan otot. tulang badan. masing-masing substruktur harus berfungsi dengan normal. sistem otot. fascia dan otot sering disebut sebagai jaringan lunak. Fungsi utama sistem muskuloskeletal adalah untuk mendukung dan melindungi tubuh dan organ-organnya serta untuk melakukan gerak. Enam substruktur utama pembentuk sistem muskuloskeletal antara lain: tendon. memberikan sistem sambungan untuk gerak pengendali. fascia (pembungkus). sistem penginderaan. Trauma Muskuloskeletal 1. pelindung organ tubuh yang lunak. Agar seluruh tubuh dapat berfungsi dengan normal. sistem syaraf. dan tulang anggota gerak. Sistem-sistem tersebut saling terkait antara satu dengan yang lainnya dan berperan dalam menyokong kehidupan manusia. ligamen. dll.

2008). Bagian ini memungkinkan gerakan fleksi dan ekstensi tubuh dan beberapa gerakan rotasi dengan derajat yang kecil. Kemungkinan beberapa gerakan memutar dapat terjadi pada tulang ini. Procesus spinosus pada tulang ini terhubung dengan tulang rusuk. b. Tulang belakang terdiri dari beberapa bagian yaitu: 1) Struktur Tulang Belakang a) Tulang belakang cervical: terdiri atas 7 tulang yang memiliki bentuk tulang yang kecil dengan spina atau procesus spinosus (bagian seperti sayap pada belakang tulang) yang pendek kecuali tulang ke-2 dan ke-7. b) Tulang belakang thorax: terdiri atas 12 tulang yang juga dikenal sebagai tulang dorsal. Tulang coccyx dan sacrum tergabung menjadi satu kesatuan dan membentuk tulang yang kuat. Tulang ini menghubungkan antara bagian punggung dengan bagian panggul. sendi merupakan pengendali dari semua kegiatan dan aktivitas termasuk gerakan system otot dan rangka (Snell. e) Tulang belakang coccyx: terdiri atas 4 tulang yang juga tergabung tanpa celah antara 1 dengan yang lainnya. c) Tulang belakang lumbal: terdiri atas 5 tulang yang merupakan bagian paling tegap konstruksinya dan menanggung beban terberat dari tulang yang lainnya. 6 . Tulang ini merupakan tulang yang mendukung bagian leher. d) Tulang sacrum: terdiri atas 5 tulang dimana tulang-tulangnya tidak memiliki celah dan bergabung (intervertebral disc) satu sama lainnya. Anatomi Tulang Belakang Tulang belakang merupakan bagian yang penting dalam ergonomi karena rangka ini merupakan rangka yang menyokong tubuh manusia bersama dengan panggul untuk mentransmisikan beban kepada kedua kaki melalui sendi yang terdapat pada pangkal paha.

putus atau robekan (avulsi atau rupture). regangan atau robekan parsial (sprain). Mekanisme Trauma Menentukan mekanisme terjadinya trauma merupakan hal yang penting karena dapat membantu kita dalam menduga kemungkinan trauma yang mungkin saja tidak segera timbul setelah kejadian. Pengertian Trauma merupakan suatu cedera atau rupadaksa yang dapat mencederai fisik maupun psikis. Ada beberapa macam mekanisme trauma diantaranya: 1) Direct injury Dimana terjadi fraktur pada saat tulang berbenturan langsung dengan benda keras seperti dashboard atau bumper mobil. memar (kontusio). 2. Trauma Muskuloskeletal a. Jika terjadi kerusakan pada bagian ini maka tulang dapat menekan syaraf pada tulang belakang sehingga menimbulkan kesakitan pada punggung bagian bawah dan kaki. Dengan adanya bantalan ini memungkinkan terjadinya gerakan pada tulang belakang dan sebagai penahan jika terjadi tekanan pada tulang belakang seperti dalam keadaan melompat (Guyton & Hall. 2008). Pada tulang belakang terdapat bantalan yaitu intervertebral disc yang terdapat di sepanjang tulang belakang sebagai sambungan antar tulang dan berfungsi melindungi jalinan tulang belakang. b. gangguan pembuluh darah dan gangguan saraf. perdarahan. Trauma jaringan lunak muskuloskeletal dapat berupa vulnus (luka). Bagian luar dari bantalan ini terdiri dari annulus fibrosus yang terbuat dari tulang rawan dan nucleus pulposus yang berbentuk seperti jeli dan mengandung banyak air. Struktur tulang belakang ini harus dipertahankan dalam kondisi yang baik agar tidak terjadi kerusakan yang dapat menyebabkan cidera. 7 . Trauma muskuloskeletal bisa saja dikarenakan oleh berbagai mekanisme.

6) Pathologic fracture Dapat dilihat pada pasien dengan penyakit kelemahan pada tulang seperti kanker yang sudah metastase. 3. Persiapan b. sprain. Triase c. Primary survey (ABCDE) 8 . 3) Twisting injury Menyebabkan fraktur. yaitu bagian distal kaki tertinggal ketika seseorang menahan kaki ke tanah sementara kekuatan bagian proksimal kaki meningkat sehingga kekuatan yang dihasilkan menyebabkan fraktur. cepat dan tepat. Waktu berperan sangat penting. Penilaian awal meliputi: a. oleh karena itu diperlukan cara yang mudah. dan dislokasi. Penilaian Awal Trauma Muskuloskeletal Penderita trauma/multitrauma memerlukan penilaian dan pengelolaan yang cepat dan tepat untuk menyelamatkan jiwa penderita. Proses awal ini dikenal dengan Initial assessment (penilaian awal). 5) Fatique fracture Disebabkan oleh penekanan yang berulang-ulang dan umumnya terjadi pada telapak kaki setelah berjalan terlalu lama atau berjalan dengan jarak yang sangat jauh. biasa terjadi pada pemain sepak bola dan pemain sky. 2) Indirect injury Terjadi fraktur atau dislokasi karena tulang mengalami benturan yang tidak langsung seperti frkatur pelpis yang disebabkan oleh lutut membentur dashboard mobil pada saat terjadi tabrakan. 4) Powerfull muscle contraction Seperti terjadinya kejang pada tetanus yang mungkin bisa merobek otot dari tulang atau bisa juga membuat fraktur.

a. Penderita dengan masalah yang mengancam jiwa dan multi trauma akan mendapatkan prioritas penanganan lebih dahulu. mekanisme kejadian dan riwayat penderita. b) Perlengkapan airway sudah dipersiapkan. dicoba dan diletakkan di tempat yang mudah dijangkau. d) Pemberitahuan terhadap tenaga laboratorium dan radiologi apabila sewaktu-waktu dibutuhkan. sebab kejadian. Resusitasi e. c) Pengumpulan keterangan yang akan dibutuhkan di rumah sakit seperti waktu kejadian. 9 . Triase Triase adalah cara pemilahan penderita berdasarkan kebutuhan terapi dan sumber daya yang tersedia. e) Pemakaian alat-alat proteksi diri. c) Cairan kristaloid yang sudah dihangatkan. Persiapan 1) Fase Pra-Rumah Sakit a) Koordinasi yang baik antara dokter di rumah sakit dan petugas lapangan. Dua jenis triase: 1) Multiple Casualties Jumlah penderita dan beratnya trauma tidak melampaui kemampuan rumah sakit. b. 2) Fase Rumah Sakit a) Perencanaan sebelum penderita tiba. Secondary survey Urutan kejadian diatas diterapkan seolah-seolah berurutan namun dalam praktek sehari-hari dapat dilakukan secara bersamaan dan terus menerus. b) Sebaiknya terdapat pemberitahuan terhadap rumah sakit sebelum penderita mulai diangkut dari tempat kejadian. disiapkan dan diletakkan pada tempat yang mudah dijangkau.d.

e) Evaluasi 2) Breathing dan Ventilasi-Oksigenasi a) Penilaian . c) Fiksasi leher d) Anggaplah bahwa terdapat kemungkinan fraktur servikal pada setiap penderita multi trauma. perlengkapan dan tenaga yang paling sedikit akan mendapatkan prioritas penanganan lebih dahulu. Pasang airway definitif sesuai indikasi. c. . Penderita dengan kemungkinan survival yang terbesar dan membutuhkan waktu. . . Mengenal patensi airway ( inspeksi. ekspansi thoraks simetris atau tidak. Primary Survey 1) Airway dengan kontrol servikal a) Penilaian . b) Pengelolaan airway . dengan tetap memperhatikan kontrol servikal in-line immobilisasi. . terlebih bila ada gangguan kesadaran atau perlukaan diatas klavikula. 2) Mass Casualties Jumlah penderita dan beratnya trauma melampaui kemampuan rumah sakit. 10 . Pasang pipa nasofaringeal atau orofaringeal. palpasi). Tentukan laju dan dalamnya pernapasan. . Buka leher dan dada penderita. Lakukan chin lift dan atau jaw thrust dengan kontrol servikal in-line immobilisasi. auskultasi. Bersihkan airway dari benda asing bila perlu suctioning dengan alat yang rigid. . pemakaian otot-otot tambahan dan tanda-tanda cedera lainnya. Inspeksi dan palpasi leher dan thoraks untuk mengenali kemungkinan terdapat deviasi trakhea. Penilaian secara cepat dan tepat akan adanya obstruksi.

Kenali perdarahan internal. kualitas. Tidak diketemukannya pulsasi dari arteri besar merupakan pertanda diperlukannya resusitasi masif segera. . Cegah hipotermia. kenali tanda-tanda sianosis. Pasang PSAG/bidai pneumatik untuk kontrol perdarahan pada pasien fraktur pelvis yang mengancam nyawa. . pulsus paradoksus. Mengetahui sumber perdarahan eksternal yang fatal. . b) Pengelolaan . Perkusi thoraks untuk menentukan redup atau hipersonor. Ventilasi dengan Bag Valve Mask. Periksa nadi: kecepatan. Beri cairan kristaloid yang sudah dihangatkan dengan tetesan cepat. . Menutup open pneumothorax. . 11 . . c) Evaluasi 3) Circulation dengan Kontrol Perdarahan a) Penilaian . Penekanan langsung pada sumber perdarahan eksternal. . Pasang kateter IV 2 jalur ukuran besar sekaligus mengambil sampel darah untuk pemeriksaan rutin. Auskultasi thoraks bilateral. Pemberian oksigen konsentrasi tinggi (non rebreather mask 11-12 liter/menit). . . kebutuhan untuk intervensi bedah serta konsultasi pada ahli bedah. kimia darah. b) Pengelolaan . tes kehamilan (pada wanita usia subur). . Menghilangkan tension pneumothorax. . Mengetahui sumber perdarahan internal. . Periksa warna kulit. . Periksa tekanan darah. keteraturan. golongan darah dan cross-match serta Analisis Gas Darah (BGA). . . Memasang pulse oxymeter.

Resusitasi 1) Re-evaluasi ABCDE 2) Dosis awal pemberian cairan kristaloid adalah 1000-2000 ml pada dewasa dan 20 mL/kg pada anak dengan tetesan cepat. . 4) Disability a) Tentukan tingkat kesadaran memakai skor GCS/PTS. d. c) Evaluasi. ditambah dengan pemberian darah. . b) Respon sementara . isokor atau tidak. 12 . kesadaran dan produksi urin) serta awasi tanda-tanda syok. Tidak ada indikasi bolus cairan tambahan yang lain atau pemberian darah. ventilasi dan circulation. Pemberian cairan diperlambat sampai kecepatan maintenance. Pemeriksaan darah dan cross-match tetap dikerjakan. a) Respon cepat . oksigenasi. . 3) Evaluasi resusitasi cairan a) Nilailah respon penderita terhadap pemberian cairan awal. b) Nilai pupil: besarnya. Pemberian cairan tetap dilanjutkan. 5) Exposure/Environment 1) Buka pakaian penderita. warna kulit. 4) Pemberian cairan selanjutnya berdasarkan respon terhadap pemberian cairan awal. reflek cahaya dan awasi tanda-tanda lateralisasi. c) Evaluasi dan Re-evaluasi airway. 2) Cegah hipotermia: beri selimut hangat dan tempatkan pada ruangan yang cukup hangat. Konsultasikan pada ahli bedah karena intervensi operatif mungkin masih diperlukan. b) Nilai perfusi organ (nadi.

B. Nyeri tersebut adalah keadaan subjektif dimana seseorang memperlihatkan ketidak nyamanan secara verbal maupun non verbal. atau luka yang disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang. Apabila terjadi fraktur maka tulang harus diimobilisasi untuk mengurangi terjadinya cedera berkelanjutan dan untuk mengurangi rasa sakit pasien. Pemasangan CVP dapat membedakan keduanya. . . c) Tanpa respon . Respon seseorang terhadap nyeri dipengaruhi 13 . . Definisi Fraktur adalah terputusnya kontinuitas korteks tulang menjadi dua bagian atau lebih sehingga menimbulkan gerakan yang abnormal disertai krepitasi dan nyeri. Sedangkan pada orang tua. 2011). pekerjaan. Fraktur 1. Konsultasikan pada ahli bedah. wanita lebih sering mengalami fraktur dari pada laki-laki yang berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon pada monopouse. Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. . baik berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung (Helmi ZN. . Waspadai kemungkinan syok non hemoragik seperti tamponade jantung atau kontusio miokard. Konsultasikan pada ahli bedah. Perlu tindakan operatif sangat segera. Fraktur merupakan ancaman potensial atau aktual kepada integritas seseorang akan mengalami gangguan fisiologis maupun psikologis yang dapat menimbulkan respon berupa nyeri. Respon terhadap pemberian darah menentukan tindakan operatif. Fraktur lebih sering terjadi pada laki- laki dari pada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olah-raga.

c. b. dan kegiatan yang biasa dilakukan. Tenderness Sampai palpitasi biasanya terlokalisir diatasbare trauma skeletal yang dapat dirasakan dengan penekanan secara halus di sepanjang tulang. oleh emosi. Fraktur Stress/Fatique (akibat dari penggunaan tulang yang berulang- ulang). Etiologi a. Deformitas Pada kaki dapat menandakan adanya trauma skeletal. 14 . 2. Fraktur terjadi karena tekanan yang menimpa tulang kebih besar dari pada daya tulang akibat trauma. fraktur adalah trauma yang paling nyata dan dramatis juga hal yang paling serius. konsentrasi. latar belakang budaya. Nyeri mengganggu kemampuan seseorang untuk beristirahat. Apa yang dikatakan pasien merupakan sumber informasi yang akurat. a. Biasanya pasien mengatakan ada yang menggigitnya atau merasakan ada tulang yang patah. Oleh karena itu lakukan primary survey dan lakukan tindakan penanganan trauma dan lakukan stabilisasi jika memungkinkan. Swelling Terjadi karena kebocoran cairan ekstra seluler dan darah dari pembuluh darah yang telah rupture pada fraktur pangkal tulang. Fraktur karena penyakit tulang seperti Tumor Osteoporosis yang disebut Fraktur Patologis. c. Pada pasien dengan multiple trauma. pengalaman masa lalu tentang nyeri dan pengertian nyeri. b. Tanda dan Gejala Gejala yang paling umum pada fraktur adalah rasa nyeri yang terlokalisir pada bagian fraktur. tingkat kesadaran. 3.

15 . Bahkan pada pasien dengan dislokasi akan menolak untuk menggerakkan ekstremitas yang mengalami dislokasi. Strain dan sprain mungkin akan memberikan gejala seperti fraktur tertutup. 4. Setiap sisi patahan memiliki potensi untuk menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar akibat laserasi pembuluh darah di dekat sisi patahan. Krepitasi Terjadi bila bagian tulang yang patah bergesekan dengan tulang yang lainnya. Dan karena diagnosis pasti terjadinya fraktur hanya dapat dilakukan dengan pemeriksaan radiologi. e. Periksa pulsasi. Fraktur Tertutup (Simple Fracture) Fraktur tertutup adalah keadaan patah tulang tanpa disertai hilangnya integritas kulit. Hal ini dapat dikaji selama pemasangan splin. maka berilah penanganan strain dan sprain seperti penanganan tehadap fraktur tertutup. Jenis a. Fraktur tertutup dapat menjadi salah satu pencetus terjadinya perdarahan internal kekompartemen jaringan dan dapat menyebabkan kehilangan darah sekitar 500 cc tiap fraktur. gerakan dan sensori di bagian distal pada setiap pasien dengan trauma muskuloskeletal. d. Fraktur tertutup biasanya disertai dengan pembengkakan dan hematom. Jangan berusaha untuk mereposisi karena dapat menyebabkan nyeri trauma lebih lanjut. f. Exposed bone ends Didiagnosa sebagai trauma terbuka atau compound fraktur. Disability Disability juga termasuk karakteristik dari kebanyakan trauma skeletal pasien dengan fraktur akan berusaha menahan lokasi trauma tetap pada posisi yang nyaman dan akan menolak menggerakannya.

Fraktur Terbuka (Compound Fracture) Fraktur terbuka adalah keadaan patah tulang yang disertai gangguan integritas kulit. sensasi dan warna kulit harus segera dinilai dan terus dilakukan penilaian ulang secara berkala. kerusakan lebih lanjut pada otot-otot dan saraf serta terjadinya kontaminasi. harus dipertimbangkan sebagai fraktur terbuka dan harus diberikan penanganan seperti fraktur terbuka. Denyut nadi. 16 . Fraktur terbuka dapat ditemukan dengan mudah pada penderita trauma.b. Sangat penting untuk mengenal adanya luka didekat fraktur karena bisa menjadi pintu masuk dari kontaminasi kuman. Hal ini biasanya disebabkan oleh ujung tulang yang menembus kulit atau akibat laserasi kulit yang terkena benda-benda dari luar pada saat cedera. Komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur terbuka adalah perdarahan eksternal. pergerakan. Adanya luka terbuka didekat daerah yang diduga terjadi fraktur.

Fraktur Oblique Garis fraktur melintang pada tulang tegak lurus dan oblik. Tipe a. e.5. Fraktur Spiral Biasanya terjadi karena kecelakaan memutar (terpelintir) dan garis frakturnya tidak rata. Fraktur Comminuted Dimana tulang terbagi menjadi lebih dari dua bagian. d. b. Fraktur Trasversal Garis frakturnya memotong melintang dari arah luar sampai menembus bagian tengah secara tegak lurus dari tulang biasanya disebabkan oleh kecelakaan langsung. Fraktur Greenstick Terjadi pada anak dimana tulang masih bisa dibengkokan seperti dahan yang masih muda dan garis frakturnya melintang lurus pada bagian luar dari tulang perpendicular sampai batas tengah tulang. 17 . c.

meskipun ada beberapa tulang pada fraktur yang dapat diluruskan. 8) Imobilisasi ekstremitas sebelum memindahkan pasien dan imobilisasi sendi bagian atas dan bawah dari tulang yang fraktur. balut luka sebelum melakukan pembidaian dan jangan mendorong kembali tulang yang terlihat. 5) Jika ada fraktur terbuka. meskipun demikian penanganan pada kejadian yang mengancam nyawa telah dilaksanakan sampai kondisi pasien stabil. Jika telah selesai barulah identifikasi dan imobilisasi semua fraktur dan siapkan untuk transportasi. Hal ini mungkin terjadi jika ujung tulang yang fraktur masih dapat bergerak bebas ketika pasien dipindahkan.6. 2) Untuk mencegah kerusakan sekitar nervus. Prinsip Penatalaksanaan Kejadian fraktur jarang yang mengancam nyawa. b. kontrol perdarahan. Pertahankan jalan napas. tutup luka terbuka pada dada dan lakukan resusitasi cairan. 7) Tourniket tidak dianjurkan pada fraktur terbuka kecuali pada trauma amputasi atau anggota gerak yang sudah tidak dapat diselamatkan lagi. a. 6) Jangan pernah berusaha untuk meluruskan fraktur termasuk sendi-sendi. 18 . 3) Tutup sucking chest wound (luka terbuka pada dada). 2) Kontrol perdarahan. Tujuan Imobilisasi 1) Untuk menjaga fraktur tertutup agar jangan menjadi fraktur terbuka. 3) Untuk meminimalkan perdarahan dan bengkak. 4) Resusitasi cairan. pembuluh darah dan jaringan yang lain dari ujung tulang yang fraktur. 4) Untuk mengurangi nyeri. Penatalaksanaan Fraktur 1) Stabilkan jalan napas.

breathing. 2. 19 . riwayat pasien dari mekanisme kejadian dapat menerangkan jenis perlukaan dan beratnya perlukaan. Pengelolaan Pasien Persiapan pasien meliputi dua keadaan berbeda: 1. Tahap Pra-RS Koordinasi yang baik antara dokter di RS dengan petugas lapangan akan menguntungkan pasien. Jangan sampai terjadi bahwa semakin tinggi tingkatan para medik semakin lama pasien berada di TKP. Saat pasien dibawa ke RS harus ada data tentang waktu kejadian. harus diusahan untuk mengurangi waktu tanggap (respons time). sebab kejadian. imobilisasi pasien dan pengiriman ke RS terdekat. Yang harus diperhatikan adalah menjaga airway.7. Fase RS Saat pasien berada di RS segera dilakukan survey primer dan selanjutnya dilakukan resusitasi dengan cepat dan tepat. Sebaiknya RS sudah diberitahukan sebelum pasien diangkat dari tempat kejadian. kontrol pendarahan dan syok.

Pengkajian a.  Distress pernafasan. tetapi tidak boleh mengakibatkan hiperekstensi leher. c. Ibu 20 . Cara melakukan chin lift dengan menggunakan jari-jari satu tangan yang diletakan dibawah mandibula. fraktur mandibula atau maksila. Proses pengkajian terbagi dua: 1) Pengkajian Primer a) Airway A= Airway dengan kontrol servikal Kaji:  Bersihan jalan nafas. Usaha untuk membebaskan jalan nafas harus melindungi vertebra servikal karena kemungkinan patahnya tulang servikal harus selalu diperhitungkan. Keluaran Adanya pengkajian keperawatan yang terdokumentasi untuk setiap pasien gawat darurat. muntahan. fraktur wajah. edema laring. Dalam hal ini dapat dilakukan chin lift. Tanda-tanda perdarahan di jalan nafas. meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang disebabkan benda asing.  Ada/tidaknya sumbatan jalan nafas.C. fraktur laring atau trakea. b. Penilai kelancaran airway pada pasien yang mengalami fraktur. Konsep Asuhan Keperawatan Gawat Darurat pada Pasien Fraktur 1. kemudian mendorong dagu ke anterior. Proses Pengkajian merupakan pendekatan sistematik untuk mengidentifikasi masalah keperawatan gawat darurat. Standar Perawat gawat darurat harus melakukan pengkajian fisik dan psikososial diawal dan secara berkelanjutan untuk mengetahui masalah keperawatan dan secara berkelanjutan untuk mengetahui dalam lingkup kegawatdaruratan.

lalu alat diputar 180o dan diletakan dibelakang lidah. Alat ini tidak boleh mendorong lidah ke belakang. Bila tindakan ini digunakan dengan menggunakan face- mask akan dicapai penutupan sempurna dari mulut sehingga dapat dilakukan ventilasi yang baik. usaha dan pergerakan dinding dada. b) Breathing B= Breathing dan ventilasi Kaji:  Kaji frekuensi nafas. Alat ini dimasukan ke salah satu lubang hidung yang tidak tersumbat secara perlahan dimasukan sehingga ujung terletak di faring. Cara lain dapat dilakukan dengan memasukan guedel secara terbalik sampai menyentuh palatum molle. 21 . harus diperhatikan bahwa tidak boleh dilakukan ekstensi. Pada pasien sadar tidak boleh dipakaikan alat ini karena dapat menyebabkan muntah dan terjadi aspirasi. Tindakan ini dilakukan untuk menggunakan dua tangan masing-masing satu tangan dibelakang angulu mandibula dan menarik rahang ke depan. Naso Pharyngeal airway juga merupakan salah satu alat untuk membebaskan jalan napas.  Suara pernafasan melalui hidung atau mulut. karena dapat menyumbat faring. jari tangan yang sama sedikit menekan bibir bawah untuk membuka mulut dan jika diperlukan ibu jari dapat diletakan dalam mulut dibelakang gigi seri unutk mengangkat dagu. Jika kesadaran pasien menurun pembebasan jalan nafas dapat menggunakan guedel (oro- pharyngeal airway) dimasukan kedalam mulut dan diletakan dibelakang lidah memakai tong spatel dan memasukan alat ke arah posterior. Selama memeriksa dan memperbaiki jalan nafas. Jaw thrust juga teknik untuk membebaskan jalan nafas. Udara yang dikeluarkan dari jalan nafas. fleksi atau rotasi leher. Jika pada pemasangan mengalami hambatan berhenti dan pindah kelubang hidung yang satunya.

Kontrol pendarahan vena dengan menekan langsung pada sisi area pendarahan bersamaan dengan tekanan jari pada area arteri paling dekat dengan area pendarahan. c) Circulation C= Circulation Kaji:  Denyut nadi karotis.  Warna kulit. dimana pasien dengan fraktur biasanya mengalami kehilangan darah. kelembaban kulit . Curigai Hemoragi internal (Pleural. pericardial atau abdomen) pada kejadian syok lanjut atau pada kejadian cedera dada dan abdomen. Perlukaan yang mengakibatkan gangguan ventilasi yang berat adalah Tension Pneumothorax. flail chest dengan kontudio paru. Harus tetap diingat bahwa banyaknya darah yang hilang berkaitan dengan fraktur 22 . Jika terjadi hal yang demikian siapkan pasien untuk intubasi trakea atau trakeostomi. Auskultasi dilakukan untuk memastikan masukannya udara ke dalam paru. lembab dan nadi halus. Atasi syok. Dada pasien harus dibuka untuk melihat pernafasan yang baik. Jalan nafas yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik pertukaran gas yang terjadi pada saat bernafas mutlak untuk pertukaran oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida dari tubuh. Evaluasi kesulitan pernapasan karena edema pada pasien cedera wajah dan leher. Perkusi dilakukan untuk menilai adanya udara atau darah dalam rongga pleura. kulit dingin. open pneumothotax dan hematothorax masif.  Tekanan darah. dinding dada dan difragma. Tanda-tanda perdarahan eksternal dan internal. Kaji tanda-tanda syok yaitu dengan penurunan tekanan darah. Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru. Inspeksi dan palpasi dapat mengetahui kelainan dinding dada yang mungkin mengganggu ventilasi.

Menjelang akhir survei primer dievaluasi keadaan neurologis secara tepat. maka trauma kepitis dianggap sebagai penyebabnya. d) Disability Evaluasi Neurologis D= Disability Kaji:  Tingkat kesadaran. Alkohol dan obat-obatan dapat menganggu tingkat kesadarn pasien. plasma dan plasma ekspander sesuai indikasi. U= unresponsive. Berikan penurunan suplai oksigen pada jaringan dan menyebabkan kolaps sirkulasi.  Gerakan ekstremitas. femur dan pelvis. jika hal tersebut dapat disingkirkan kemungkinan hipoksia dan hipovolemia sebagai sebab penurunan kesadaran. sampai terbukti sebaliknya. e) Exsposure/Kontrol Lingkungan E= Eksposure 23 . Pertahankan tekanan darah dengan infus IV. Berikan tranfusi darah untuk terapi komponen darah sesuai ketentuan setelah tersedia darah. perfusi dan oksigenisasi. P= pain/respon nyeri.  GCS atau pada anak tentukan respon A= alert. Berikan analgesik sesuai ketentuan untuk mengontol nyeri. V= verbal. Perubahan pada kesadaran menuntut dilakukannya pemeriksaan terhadap keadaan ventilasi. GCS (gasglow coma scale) adalah sistem skoring yang sederhana dan dapat meramal tingkat kesadaran pasien. Penurunan kesadaran dapat disebabkan penurunan oksigen atau dan penurunan perfusi ke otak atau disebabkan perlukaan pada otak. yang dinilai adalah tingkat kesadaran. ukuran dan reaksi pupil. Pembebatan ekstermitas dan pengendalian nyeri penting dalam mengatasi syok yang menyertai fraktur. Ukuran pupil dan respon pupil terhadap cahaya.

4) Gambaran mekanisme cedera dan penyakit yang ada (nyeri). M (medications): tanyakan obat yang telah diminum pasien untuk mengatasi nyeri. misalnya dapat membuka baju untuk melakukan pemerksaan fisik toraks. Di RS pasien harus dibuka keseluruhan pakaiannya untuk evaluasi pasien. Pengkajian sekunder meliputi obyektif dan subyektif dari riwayat keperawatan (riwayat penyakit sekarang. 2) Lamanya waktu kejadian samapai dengan dibawa ke rumah sakit. 6) Riwayat pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi sakit sekarang. 2) Survai Sekunder Pengkajian sekunder dilakukan setelah masalah ABC yang ditemukan pengkajian primer diatasi. imunisasi tetanus yang dilakukan dan riwayat alergi pasien. posisi saat cedera dan lokasi cedera. Metode pengkajian: 1) Metode yang sering dipakai untuk mengkaji riwayat pasien: SS (signs and symptoms): tanda dan gejala yang diobservasi diobservasi dan dirasakan pasien. A (allergis): alergi yang dipunyai pasien. Setelah pakaian dibuka penting agar pasien tidak kedinginan. Kaji: Tanda-tanda trauma yang ada. a. riwayat pengobatan. riwayat penyakit terdahulu. Pengkajian Riwayat Penyakit: Komponen yang perlu dikaji: 1) Keluhan utama dan alasan pasien datang ke rumah sakit. 5) Waktu makan terakhir. ruangan cukup hangat dan diberikan cairan intervena. Exposure dilakuka di RS tetapi jika perlu dapat membuka pakaian. 24 . 3) Tipe cedera. riwayat keluarga) dan pengkajian dari kepala sampai kaki. Harus diberikan selimut hangat.

3) Irama. T (time): lamanya nyeri sudah dialami pasien. edema dan kesulitan menelan. P (pertinent past medical hystori): riwayat penyakit yang diderita pasien. makan/minum terakhir. ada penurunan atau peningkatan. jenis makanan. perdarahan. b. mulut dan bibir. b) Periksa mata. R (radian): arah penjalaran nyeri. benda asing. jenis makanan. 2) Metode yang sering dipakai untuk mengkaji nyeri: P (provoked): hal yang pencetus nyeri. c. 25 . leher dan wajah a) Periksa rambut. Adakah perdarahan. adakah perdarahan serta benda asing. Nyeri tulang servikal dan tulang belakang. meliputi: 1) Pengkajian kepala. perlukaan atau keluaran lain seperti cairan otak. Q (quality): kualitas nyeri. S (severity): skala nyeri (skala nyeri 1 –– 10). c) Periksa leher. distensi vena leher. telinga. Adakah luka. L (last oral intake solid or liquid ): makan/minum terakhir. E (event leading to injury or illnes): pencetus/kejadian penyebab keluhan. kulit kepala dan wajah. kedalaman dan penggunaan otot bantu pernafasan. 4) Suhu tubuh. Tanda-tanda vital dengan mengukur: 1) Tekanan darah. 2) Irama dan kekuatan nadi. kelainan bentuk. hidung. tanyakan hal yang menimbulkan dan mengurangi nyeri. perubahan tulang kepala. wajah dan jaringan lunak. Pengkajian Head to Toe yang terfokus. trakhea miring atau tidak.

d. d) Sensasi keempat anggota gerak. 3) Pengkajian abdomen dan pelvis. 2) Pengkajian dada. c) Amati penggunaan otot bantu nafas. d) Nadi femoralis. lokasi besarnya. 5) Pengkajian tulang belakang Bila tidak terdapat fraktur. perdarahan. pasien dapat dimiringkan untuk mengkaji: a) Deformitas. f) Distensi abdomen. b) Pergerakan dinding dada. hal yang perlu dikaji: a) Struktur tulang dan keadaan dinding. tipe dan lokasi nyeri (gunakan PQRST). meliputi: 1) Kaji reaksi emosional: cemas. Pengkajian psikososial. c) Laserasi. petekiae. e) Warna kulit. distensi abdomen dan jejas. d) Perhatikan tanda-tanda injuri atau cedera. c) Pergerakan. hal yang perlu dikaji: a) Kelainan bentuk dada. e) Nyeri abdomen. f) Denyut nadi perifer. 26 . d) Luka. adanya luka tusuk. alserasi. abrasi dan laserasi. c) Masa: besarnya. lokasi dan mobilitas. hal yang perlu dikaji: a) Tanda-tanda injuri eksternal. kehilangan. b) Nyeri.sianosis. 4) Pengkajian ekstremitas. b) Jejas. abrasi. b) Tanda-tanda cedera eksternal.

2) Kaji riwayat serangan panik akibat adanya faktor pencetus seperti sakit tiba-tiba.bengkak dan deformitas.sering disertai trauma pada lumbal. meliputi: 1) Radiologi dan Scanning. 3) Trauma pada lengan sering menyebabkan trauma pada siku. e. g. karena penampilan luka kadang tidak sesuai dengan parahnya cedera. tekanan darah meningkat dan hiperventilasi. karena riwayat trauma ini menjadi sangat penting pada trauma ekstermitas. 3) USG dan EKG. kecelakaan. Pada pasien yang geliah usahakan mendapat data riwayat trauma. 3) Kaji adanya tanda-tanda gangguan psikososial yang dimanifestasikan dengan takikardi.inspeksi adanya laserasi. Pemeriksaan penunjang. 2) Trauma pada lutut saat pasien jatuh dengan posisi duduk dapat disertai trauma panggul. kehilangan anggota tubuh ataupun kehilangan anggota tubuh ataupun anggota keluarga. Kaji kemungkinan adanya fraktur multipel 1) Trauma pada tungkai akibat jatuh dari ketinggian. Kaji riwayat trauma Sangat penting untuk mengetahui riwayat trauma. Kaji seluruh tubuh dengan pemeriksaan fisik dari kepala sampai kaki secara sistematis. f. 27 . 2) Pemeriksaan laboratorium. pada beberapa mekanisme yang menyebabkan penting pada trauma ektermitas tidak terlihat pada pemeriksaan awal. Jika ada saksi seseorang dapat menceritakan kejadiannya sementara petugas melakukan penelitian seluruh badan pasien.sehingga lengan dan siku harus dievaluasi secara bersamaan.

c. Gangguan perfusi jaringan b/d diskontiniutas tulang. 3) Kaji kapileri refil setiap 2 jam. Diagnosis Keperawatan a. 5) Amati dan catat pulsasi pembuluh darah dan sensasi (NVD) sebelum dan sesudah manipulasi dan pemasangan splinting. kulit sianosis baal. Kaji adanya sindrom kompartemen. Rencana/Intervensi Keperawatan a. denyut nadi hilang. i. Fraktur terbuka atau tertutup. perestesi dan kelumpuhan. Kaji adanya tanda-tanda vital secara kontinu. Kaji adanya repitasi pada area fraktur. Kaji adanya nyeri pada area fraktur dan dislokasi. 2) Observasi dan periksa pada bagian yang luka atau cedera. pembuluh darah dan kegagalan sirkulasi. 5) Trauma apapun yang mengenai bahu harus diperhatikan secara seksama karena dapat melibatkan leher.dada.terutama pada fraktur femur dan pelvis. Kaji adanya pendarahan dan syok. d. 2. 4) Kaji adanya tanda-tanda gangguan perfusi jaringan. Resiko tinggi terjadi syok hipovolemik b/d pendarahan. h. k. nyeri edema.atau bahu. Gangguan rasa nyaman. Gangguan mobilitas fisik b/d fraktur dan nyeri. keringat dingin pada ekstermitas bawah. j. 28 . Gejala yang dapat dilihat. Gangguan Perfusi jaringan b/d diskontinuitas tulang 1) Kaji tanda-tanda vital setiap 2 jam. l. b. 4) Trauma pada lutut dan proksimal fibula sering menyebabkan trauma pada tungkai bawah. maka lutut dan tungkai bawah harus dilakukan evaluasi bersamaan. 3. nyeri b/d adanya robekan jaringan pada area fraktur. atau kompresi dapat menyebabkan penekanan pada saraf.

2) Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. 4) Kaji tanda-tanda vital setiap 2 jam. 4) Dorong dalam melakukan aktivitas dengan menggunakan alat bantu. 1) Kaji tingkat kemampuan mobilisasi fisik. Gangguan mobilitas fisik b/d fraktur dan nyeri. 7) Apabila ada kemungkinan terjadi fraktur tulang belakang selalu lakukan splinting pada long spineboard. Resiko tinggi terjadinya syok hipovolemik b/d fraktur pada tulang panjang dan pelvis. b. c. Evaluasi Keperawatan a. 2) Atur posisi pasien sesuai kondisi. 3) Ajarkan relaksasi untuk mengurangi nyeri. 5) Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan sehati-hari. Gangguan perfusi jaringan teratasi. Gangguan rasa nyaman. Rasa nyaman pasien terpenuhi. 1) Kaji rasa nyeri pada area disekitar fraktur. 6) Luruskan persendian dengan hati-hati dan seluruh splint terpasang dengan baik. b. 4. pada fraktur ekstermitas bawah sebaiknya posisi kaki lebih tinggi daripada badan. c. 3) Ajarkan secara bertahap dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. nyeri b/d adanya robekan jaringan lunak pada area cedera. d. 29 . 6) Lakukan imobilisasi sendi dibawah atau diatas pada area fraktur. 5) Berikan terapi analgetik untuk mengurangi nyeri. Pasien dapat melakukan mobilitas fisik secara bertahap. d. Syok hipovolemik tidak terjadi/teratasi.

Breathing 1) Spontan 2) Dyspneu 3) RR : 28 x/mnt Circulation 1) Akral dingin 2) Keringat dingin 30 . Pengkajian Primer Airway tidak terdapat sumbatan jalan nafas. Identitas Klien Nama : Tn.laki Pendidikan : SMP Pekerjaan : Petani Agama : Islam Alamat : Desa Bomba. Kec.D. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Tn. J dengan Fraktur Tertutup Clavikula Dextra Di Igd Rsud Undata Palu 1. J Usia : 23 tahun Jenis Kelamin : laki . Pengkajian a. Marawola Tanggal Pengkajian : 23 oktober 2012 No. H Usia : 36 tahun Jenis Kelamin : perempuan Pendidikan : SD Agama : Islam Alamat : Desa Marawola Hubungan dengan klien : Kakak c. Penanggung Jawab Nama : Ny. MR : 51-73-26 b.

luka lecet pada jari telunjuk sampai jari manis. Pasien mengatakan nyeri saat bernafas Q: Pasien mengatakan sakit seperti tertusuk-tusuk pada daerah klavikula. b) Muntah 1 x.00 WIB. Saat jatuh pasien tidak pinsan tetapi merasakan nyeri yang hebat. saat diperjalanan pasien mengalami tabrakan dengan mobil dan terjatuh dengan posisi klavikula terbentur dengan stang. pasien mengendarai sepeda motor sendiri untuk menuju ke rumah. b) Tangan kanan tidak bisa digerakkan/nyeri saat digerakkan. pemberian Ketrolax 1 amp/IV. d) Tangan kanan tidak bisa digerakkan. a) Mual.A (saksi) mengatakan pasien mengalami kecelakaan sepeda motor pada tanggal 23 Oktober 2012 sewaktu pulang kerja jam 19. jejas pada daerah clavicula sebelah kanan (lebam dan bengkak). Setelah itu pasien di bawa ke RSUD Undata Palu. Oleh sebab itu pasien mengalami fraktur. c) Nyeri dada terutama saat bernafas. 2) Riwayat Penyakit Sekarang Tn. terutama pada daerah bahu sebelah kanan. luka lecet pada kiri + 4 cm. O2 Nasal 2 lpm. Disability 1) GCS : E4V5M6 2) Kemampuan motorik dan sensorik: a) Nyeri tekan pada daerah klavikula sebelah kanan. Di IGD pasien mendapat terapi Infus RL 20 tpm. 3) Pengkajian Nyeri P: Pasien mengatakan nyeri bila bergerak. Pengkajian Sekunder 1) Riwayat Penyakit Utama Klien masuk dengan keluhan sakit pada bahu sebelah kanan. 31 . d.

P: Terasa adanya krepitasi pada tulang klavikula. P: Tidak teraba adanya massa. e) Abdomen I: Tampak penggunaan otot-otot perut saat pasien bernafas. R: Pasien mengatakan nyeri pada daerah dada. 32 . A: Simetris antara kedua paru. b) N: 100 x/menit. P: Tidak teraba adanya hematoma. c) RR: 28 x/menit. P: Tidak teraba adanya hematoma. A: Terdengar bising usus. d) S: 360 C. daerah bahu sampai ke seluruh tangan kanannya. S: Pasien mengatakan kualitas nyeri pada skala 8 (skala yang diberikan 1-10). 5) Head to Toe (Pengkajian Fokus) a) Kepala I: Ekspresi wajah meringis. d) Jantung A: Tidak ada BJ tambahan. 4) Tanda-Tanda Vital a) TD: 90/70 mmHg. jejas pada daerah kalavikula sebelah kanan (bengkak dan lebam). konjungtiva anemis. T: Pasien mengatakan nyeri dirasakan sejak dari tempat kejadian kecelakaan +1 jam yang lalu. tidak ada tanda-tanda perdarahan. b) Leher I: Tidak ada kelainan atau luka. nafas cepat dan dangkal. leher nampak tegang saat meringis. tidak kembung. c) Dada I: Tampak luka lecet/jejas pada dada sebelah kiri +4 cm.

P: Berkeringat dingin. nampak  O2 Nasal 2 fraktur pada lpm. tulang  Ketrolax 1 klavikula amp/IV. i) Pemeriksaan Penunjang & Terapi Medis Radiologi Laboratorium Pemeriksaan Terapi/Anjuran Darah Darah Lain Medis Pada hasil HGB: 12 mg/dl  Infus RL 20 foto Thorax. teraba nadi radialis reguler. sebelah  Konsul ahli tulang bedah. gangguan muskuloskeletal. h) Pengkajian Psikososial:  Pasien mengatakan cemas dengan kondisi bahu dan tangan kanannya. P: Teraba dingin pada ujung-ujung ekstremitas. kanan.  Nafas dangkal dan cepat. f) Ekstremitas I: Tampak luka lecet pada jari telunjuk sampai jari manis sebelah kanan. berhubungan dengan adanya  Takipneu. WBC: 4 mg/dl tts/mnt. 2. pasien tidak dapat menggerakkan tangan kanannya. 33 .  Nadi: 100 x/menit. Analisa Data Klasifikasi Data Diagnosa DO: Perubahan pola nafas  Gelisah. g) Integumen I: Tampak pucat.

lebam klavikula sebelah kanan. R: Pasien mengatakan nyeri pada daerah dada.  Tampak jejas pada daerah klavikula sebelah kanan.  Pasien mengerang kesakitan. daerah bahu sampai ke seluruh tangan kanannya. DS:  Pasien mengatakan sesak. T: Pasien mengatakan nyeri dirasakan sejak dari 34 . pergeseran fragmen tulang. Q: Pasien mengatakan sakit seperti tertusuk-tusuk pada daerah klavikula. lebam dan bengkak. RR: 28 x/menit.  Nyeri saat bernafas.  Terdapat krepitasi pada daerah fraktur. terutama pada daerah bahu sebelah kanan. Pasien mengatakan nyeri saat bernafas. S: Pasien mengatakan kualitas nyeri pada skala 8 (skala yang diberikan 1-10). DS: P: Pasien mengatakan nyeri bila bergerak. DO: Nyeri akut berhubungan dengan  Ekspresi wajah meringis.

tempat kejadian kecelakaan +1 jam yang lalu. 35 .

pernafasan yang pasien. gangguan jam. berkuran. l. dangkal dan dengan adanya keperawatan 1x24 tanda vital. A:  Memasang Tujuan tercapai.  RR: 20 teratur dan dan  Memberikan O2 x/menit.Nama : Tn. pasien akan  Mengatur posisi  nampak tenan  RR: 28 muskuloskeleta menunjukkan pola sesuai keinginan g. Perubahan pola Tujuan:  Memantau pola S: mengatakan  Takipneu.  Dyspne. kanul 2 Lpm. x/menit. Pasien sesaknya 20. O: cepat. J Usia : 23 Tahun Jenis Kelamin :L No. nafas Setelah dilakukan nafas pasien.00 sesak.  Nafas berhubungan tindakan  Mengkaji tanda. reguler./JAM SUBJEKTIF OBJEKTIF DIAGNOSA PLAN IMPLEMENTASI EVALUATION 23-10-2012  Pasien  Gelisah. Kriteria Hasil: infus dengan  Pasien akan cairan RL 20 mengatakan P: 36 . MR : 51-73-26 Diagnosa Medis : Fraktur Tertutup Clavicula Dextra TGL.

) mungkin.. tenang.. Intervensi:  Pantau pola Ttd pernafasan....  Kolaborasikan pemberian therapy......  Atur posisi pasien senyaman (..  Kaji tanda-tanda vital..  Lanjutkan  RR dalam batas pemberian O2 normal.. sesak berkurang...... 23-10-2012  Pasien  Ekspresi Nyeri akut Tujuan:  Mengkaji skala S: 37 ..... tts/menit  Pertahankan  Pasien tampak posisi pasien. nasal....

 Tampak berkurang. nyeri akan pasien. meringis. skala 8.  Kaji skala nyeri. nafas dalam saat kesakitan. yang dirasakan dirasakan sampai tangan kesakitan.  Pasien sesekali kecelakaan. Tujuan tercapai.00 seperti tertusuk. pada daerah 38 .  Pasien 20. tulang. daerah Kriteria Hasil: tidak menggerak hilang timbul. mengatakan skala bengkak.  Berkolaborasi P:  Jelaskan pemberikan  Lanjutkan penyebab nyeri.  Nyeri bila jejas pada pasien agar  Nyeri dirasakan bergerak.  Mengajarkan masih meringis  Pasien lebam dan  Skala nyeri 7. berkurang.  Nyeri dirasakan klavikula  Pasien akan kan bahu dan O: dari tempat sebelah mengatakan nyeri tangan kanannya. kanan. berkurang.  Menganjurkan  Skala nyeri 7. pasien merasakan A: nyerinya pada Intervensi: sensasi nyeri. dengan tindakan  Menjelaskan mengatakan tusuk pada  Pasien pergeseran keperawatan penyebab nyeri nyeri yang daerah kalivikula mengerang fragmen selama 1x24 jam. mengatakan wajah berhubungan  Setelah dilakukan nyeri. kanannya. injeksi Ketrolak 1 immobilisasi  Lakukan amp/I.

..... immobilisasi bahu sampai pada daerah bahu tangan kanan. ....... sampai tangan  Ingatkan pasien kanan...  Kolaborasikan  Kaji skala nyeri.. Ttd (.. tentang  Ajarkan tehnik teknik relaksasi relaksasi..) 39 ..... pemberian analgesik.....

 Terpasang Infus dengan cairan RL 20 tetes/menit. Lanjutkan untuk delegasi ke Ruang Bedah. 40 .  Terpasang O2 nasal 2 liter/menit.  Nyeri dirasakan hilang timbul. Evaluasi Diagnosa Medis: Fraktur Tertutup Clavicula Dextra Keadaan umum pasien saat pindah ruangan:  Keadaan umum: Baik  Tanda-tanda vital: TD : 120/80 mmHg NN : 64 x/menit RR : 22 x/menit S : 360 C  Pasien sesekali masih tampak meringis. 3.

Kami selaku penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. reposisi secara nonoperatif diikuti dengan pemasangan fiksasi dalam pada tulang secara operatif. rotasi. diskrepansi. Terima Kasih. tulang rawan. Kesimpulan Trauma muskuloskletal biasanya menyebabkan disfungsi struktur disekitarnya dan struktur pada bagian yang dilindungi atau disangganya. baik yang bersifat total maupun sebagian. imobilisasi dengan fiksasi. dan rehabilitasi. gangguan fungsi muskuloskeletal akibat nyeri. baik infeksi umum maupun infeksi lokal pada tulang yang bersangkutan. reposisi secara operatif dikuti dengan fiksasi patahan tulang dengan pemasangan fiksasi interna. Oleh karena itu. deformitas (angulasi. rasa nyeri dan bengkak di bagian tulang yang patah. 41 . Penanganan ortopedi adalah proteksi tanpa reposisi dan imobilisasi. B. Pada fraktur terbuka harus diperhatikan bahaya terjadi infeksi. reposisi dengan traksi. Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang. dan gangguan neurovaskuler. kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca agar makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi. Saran Demikianlah makalah ini kami buat untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan kita tentang asuhan keperawatan pasien dengan trauma muskuloskeletal. biasanya disebabkan oleh trauma. retaining (mempertahankan. BAB III PENUTUP A. dan eksisi fragmen fraktur dan menggantinya dengan prosthesis. Gejala klasik fraktur adalah adanya riwayat trauma. reposisi diikuti dengan imobilisasi dengan fiksasi luar. reduksi (mengembalikan). putusnya kontinuitas tulang. Prinsip penanggulangan cedera muskuloskeletal adalah rekognisi (mengenali). reposisi dengan cara manipulasi diikuti dengan imobilisasi.

Basic Trauma Cardiac Life Support.Dr. Keperawatan Medikal Bedah. Doengoes. Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan(Edisi 3) Jakarta: EGC. 2011. Brunner & Suddart. 42 . Jakarta: AGD Dinkes Provinsi DKI Jakarta. Jakarta: EGC. DAFTAR PUSTAKA Andri Andreas. Jakarta: Salemba Medika. 2008. 2011. Helmi ZN. Buku Ajar GANGGUAN MUSKULOSKELETAL. 2012. Marylin E.