You are on page 1of 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehamilan merupakan proses yang diawali dengan keluarnya sel telur
matang pada saluran telur yang bertemu dengan sperma, lalu keduanya
menyatu membentuk sel yang akan tumbuh (Anna, 2012). Kehamilan dapat
menimbulkan perubahan fisik, psikologi maupun sosial bagi seorang wanita
karena pertumbuhan dan perkembangan alat reproduksi dan janinnya. Namun
tidak semua kehamilan dapat berjalan dengan lancar, tetapi ada beberapa
komplikasi yang dapat terjadi sehingga mengancam jiwa ibu, salah satunya
adalah perdarahan yang terjadi pada trimester pertama pada kehamilan,
perdarahan tersebut apabila tidak diatasi dengan segera dapat berakibat fatal
bagi ibu dan janin yang dikandung.salah satu dampak tersebut adalah abortus.
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan
sel dan sel sperma) pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat
janin kurang dari 500 gram, sebelum janin dapat hidup diluar kandungan.
(Nugroho,Taufa 2012:128). Macam-macam abortus meliputi abortus
imminens, insipien, komplitus (keguguran lengkap), missed, habitualis, septik
dan inkompletus (keguguran bersisa) (Setiyaningrum, Erna 2013:46).
Kejadian abortus menurut data World Health Organization (WHO)
memperkirakan di seluruh dunia, dari 46 juta kelahiran pertahun terdapat 20
juta kejadian abortus, dan sekitar 800 wanita diantaranya meninggal karena
komplikasi abortus serta sekurangnya 95% diantaranya terjadi di negara
berkembang (Mustik,.A. et al. 2014).
Menurut Mahdiyah, Dede. (2013) angka kejadian abortus di Indonesia
mencapai 10%-15% dari 6 juta kehamilan setiap tahunnya. Komplikasi
abortus yang dapat terjadi adalah perdarahan, perporasi, infeksi, payah ginjal
akut dan syok yang disebabkan oleh perdarahan yang banyak (hemoragik)
dan infeksi berat atau sepsis (syok septik atau endoseptik). Salah satu jenis
abortus yang menyebabkan terjadi pendarahan yang banyak adalah abortus
inkomplit. Abortus inkomplit merupakan hanya sebagian dari hasil konsepsi

1
yang dikeluarkan yang tertinggal adalah desidua atau plasenta. Pada abortus
inkomplit perdarahan terjadi dalam desidua basalis, diikuti oleh nekrosis
jaringan sekitarnya, kemudian sebagian atau seluruh hasil konsepsi terlepas,
karena dianggap benda asing, maka uterus berkontraksi untuk
mengelarkannya, sehingga sebagian keluar dan sebagian lagi akan tertinggal,
sehingga dapat menyebebkan perdarahan yang banyak (Sofian, A. 2012:
115).
Abortus inkomplit sering ditandai dengan adanya tanda dan gejala
seperti perdarahan sedikit/banyak, adanya fetus atau jaringan yang keluar,
tetapi jika perdarahan belum berhenti karena konsepsi belum keluar semua
akan menyebabkan syok (Nurararif, A.H.& Kusuma, H.2015: 2). Berdasarkan
uraian diatas, terdapat banyak komplikasi akibat dari abortus inkomplit,
sehingga harus dilakukan tindakan keperawatan dengan cepat dan tepat untuk
mengatasi masalah yang mungkin terjadi pada abortus inkomplit.
Menurut data yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H.
Moch. Ansari Saleh Banjarmasin, angka kejadian abortus pada tahun 2013
sebanyak 175 orang dari 2.343 orang ibu hamil, pada tahun 2013 angka
kejadian abortus sebanyak 247 orang dari 3.874, pada tahun 2015 angka
kejadian abortus menurun menjadi 239 orang dari 4.875 orang ibu hamil.
Pada tahun 2015 abortus menempati urutan ketiga dari sepuluh basar kasus
obstetri dan genikologi diruang Mutiara (Rekam Medik RSUD Dr. H. Moch.
Ansari Saleh Banjarmasin). Berdasarkan dari uraian latar belakang diatas dan
didasari oleh data yang didapatkan, maka penulis tarik membuat laporan
Karya Tulis Ilmiah yang judul “Asuhan Keperawatan Abortus Inkomplit Pada
Klien Ny.S di Ruang Mutiara RSUD Dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin”
secara konprehensif meliputi biopsikososial dan spiritual dengan
menggunakan metode asuhan keperawatan, sehingga dapat membantu klien
dalam mengatasi masalah yang timbul dan menurunkan resoko komplikasi
pada klie dengan abortus inkomplit.

2
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan masalah
betapa pentingnya mengetahui tentang abortus inkomplit tentang komplikasi
pada kehamilan yang kemungkinan dapat terjadi pada masa kehamilan seperti
abortus inkomplit yang di sebabkan oleh perdarahan yang banyak dan nyeri
perut.

C. Tujuan
1. Tujuan umum
Mahasiswa dapat mengetahui masalah tentang abortus
inkomplit dan asuhan kebidanan pada klien dengan abortus inkomplit.
2. Tujuan Khusus
Secara khusus “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dengan
Abortus Inkomplit” ini disusun agar:
a. Mahasiswa dapat mengetahui tentang pengertian, etiologi, gejala,
patofisiologi, komplikasi, penatalaksanaan, pemeriksaan penunjang,
serta proses perawatan.
b. Mahasiswa dapat mengidentifikasi asuhan kebidanan pada klien
dengan abortus inkomplit.
c. Mahasiswa dapat mengidentifikasi pendidikan kesehatan yang
diperlukan pada pasien yang dirawat dengan keluhan abortus
inkomplit.
d. Agar laporan kasus ini dapat menjadi bahan ajar bagi mahasiswa
lainnya tentang berbagai hal yang berhubungan dengan abortus
inkomplit.

D. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Dapat menerapkan teori yang diperoleh dari pendidikan secara
nyata di lapangan dalam hal melaksanakan asuhan kebidanan pada Ibu
hamil dengan abortus inkomplit.

3
2. Bagi Instansi
Sebagai metode untuk mengevaluasi seberapa jauh mahasiswa
nenerapkan teori yang di peroleh di bangku kuliah dan mempraktekannya
di lahan.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Abortus Inkomplit
1. Pengertian
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram,
sebelum janin mampu hidup diluar kandungan (Nugroho,2010).
Abortus inkomplit adalah dimana sebagian jaringan hasil konsepsi
masih tertinggal di dalam uterus dimana perdarahannya masih terjadi dan
jumlahnya bisa banyak atau sedikit bergantung pada jaringan yang tersisa,
yang menyebabkan sebagian placental site masih terbuka sehingga
perdarahan berjalan terus (Sujiyatini dkk,2009)
Abortus inkomplit adalah perdarahan pada kehamilan muda dimana
sebagaian dari hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri melalui kanalis
servikal yang tertinggal pada desidua atau plasenta ( Ai Yeyeh, 2010).
2. Macam – macam Abortus
Abortus dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:
a. Abortus Spontan (terjadi dengan sendiri, keguguran): merupakan±20
% dari semua abortus.
Abortus spontan adalah setiap kehamilan yang berakhir secara
spontan sebelum janin dapat bertahan. WHO mendefinisikan sebagai
embrio atau janin seberat 500 gram atau kurang, yang biasanya sesuai
dengan usia janin (usia kehamilan) dari 20 hingga 22 minggu atau
kurang. Abortus spontan terjadi pada sekitar 15%-20% dari seluruh
kehamilan yang diakui, dan biasanya terjadi sebelum usia kehamilan
memasuki minggu ke-13 (Fauziyah, 2012: 37). Gejala abortus spontan
adalah kram dan pengeluaran darah dari jalan lahir adalah gejala yang

5
paling umum terjadi pada abortus spontan. Kram dan pendarahan
vagina yang mungkin tejadi sangat ringan, sedang, atau bahkan berat.
Tidak ada pola tertentu untuk berapa lama gejala akan berlangsung.
Selain itu gejala lain yang menyertai abortus spontan yaitu nyeri perut
bagian bawah, nyeri pada punggung, pembukaan leher rahim dan
pengeluaran janin dari dalam rahim.
Berdasarkan gambaran klinisnya, abortus dibagi menjadi:
1) Abortus Imminiens (keguguran mengancam).
Abortus ini baru mengancam dan masih ada harapan untuk
mempertahankannya. Pada 22 abortus ini terjadinya pendarahan
uterus pada kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu, janin
masih dalam uterus, tanpa adanya dilatasi serviks. Diagnosisnya
terjadi pendarahan melalui ostium uteri eksternum disertai mual,
uterus membesar sebesar tuanya kehamilan. Serviks belum
membuka, dan tes kehamilan positif.
2) Abortus incipiens (keguguran berlangsung).
Abortus ini sudah berlangsung dan tidak dapat dicegah lagi. Pada
abortus ini peristiwa peradangan uterus pada kehamilan sebelum
usia kehamilan 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks.
Diagnosisnya rasa mulas menjadi lebih sering dan kuat,
pendarahan bertambah
3) Abortus incompletes (keguguran tidak lengkap).
Sebagian dari buah kehamilan telah dilahirkan tapi sebagian
(biasanya jaringan plasenta) masih tertinggal di dalam rahim. Pada
abortus ini pengeluaran sebagian janin pada kehamilan sebelum 20
minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Pada
pemeriksaan vaginal, servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba
dalam kavun uteri atau kadang-kadang sudah menonjol dari
ostium uteri eksternum. Pendarahan tidak akan berhenti sebelum
sisa janin dikeluarkan, dapat menyebabkan syok.
4) Abortus komplit (keguguran lengkap).

6
Seluruh buah kehamilan telah dilahirkan dengan lengkap. Pada
abortus ini, ditemukan pendarahan sedikit, ostium uteri telah
menutup, uterus sudah mengecil dan tidak 23 memerlukan
pengobatan khusus, apabila penderita anemia perlu diberi sulfat
ferrosus atau transfusi (Fauziyah, 2012).
5) Missed Abortion (keguguran tertunda)
Missed abortion adalah keadaan dimana janin telah mati sebelum
minggu ke-22. Pada abortus ini, apabila buah kehamilan yang
tertahan dalam rahim selama 8 minggu atau lebih. Sekitar
kematian janin kadang-kadang ada perdarahan sedikit sehingga
menimbulkan gambaran abortus imminiens (Sulistyawati,
2013:123).
6) Abortus habitualis (keguguran berulang-ulang),
adalah abortus yang telah berulang dan berturut-turut terjadi:
sekurang-kurangnya 3X berturut-turut.
7) Abortus infeksiosus,
abortus septik Abortus infeksiosus ialah abortus yang disertai
infeksi pada alat genetalia.Abortus septik ialah abortus yang
disertai penyebaran infeksi pada peredaran darah tubuh (Sarwono,
2014: 467-473).
b. Abortus Provocatus (disengaja, digugurkan): 80 % dari semua abortus
dibagi atas 2 yaitu:
1) Abortus provocatus artificialis atau abortus therapeuticus. Abortus
provocatus artificialis atau abortus therapeuticus ialah pengguguran
kehamilan biasanya dengan alat-alat dengan alasan bahwa kehamilan
membahayakan membawa maut bagi ibu, misalnya karena ibu
berpenyakit beratmisalnya: penyakit jantung, hypertensi essentialis,
carcinoma dari serviks.
2) Abortus Provocatus criminalis Abortus buatan kriminal (abortus
propocatus criminalis) adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan
medis yang sah atau oleh orang yang tidak berwenang dan dilarang
oleh hukum (Feryanto,2014: 41). Abortus provocatus criminalis

7
adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan medis yang sah dan
dilarang oleh hukum. Abortus provokatus dapat dilakukan dengan
pemberian prostaglanding atau curettage dengan penyedotan
(Vacum) atau dengan sendok kuret (Pudiastusi, 2012).

3. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari abortus inkomlpit yaitu:
a. Nyeri hebat
b. Perdarahan banyak
c. Sudah terjadi abortus dengan mengeluarkan jaringan tetapi sebagian
masih berada di dalam uterus
d. Pemeriksaan dalam :
1) Servik masih membuka, mungkin teraba jaringan sisa
2) Perdarahan mungkin bertambah setelah pemeriksaan dalam
e. Pembesaran uterus sesuai usia kehamilan
f. Tes kehamilan mungkin masih positif akan tetapi kehamilan tidak dapat
dipertahankan.
g. Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu.
h. Pada pemeriksaan fisik: keadaan umum tampak lemah atau kesadaran
menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal, atau
cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.\
i. Rasa mulas atau nyeri perut di darerah atas simfisis, sering di sertai nyeri
pinggang akibat kontraksi uterus, kadang nyeri digambarkan menyerupai
nyeri saat persalinan. (Nugroho, 2012)

4. Penyebab
Penyebab abortus inkomplit terjadi karena kondisi janin yang tidak
berkembang sempurna di dalam rahim. Hal ini sering terjadi di usia
kehamilan pada trimester pertama. Pada umumnya, abortus inkomplit hampir
sama dengan keguguran lainnya. Salah satu penyebab yang umum terjadi
yaitu masalah di dalam plasenta. Sedangkan penyebab lain terjadinya abortus

8
inkomplit yaitu karena adanya sel telur dan juga sperma yang mengalami
kerusakan atau karena faktor lain seperti genetik dan juga kromosom.
Keguguran juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti internal
dan juga eksternal. Abortus juga dapat terjadi yang diakibatkan oleh banyak
faktor lainnya dan terjadi dengan spontan. Beberapa faktor tentunya dapat
memicu terjadinya abortus inkomplit seperti pada berikut ini:
1. Faktor Genetik
Faktor yang pertama memang tidak dapat dipisahkan dari genetik
yang berarti seseorang akan mengalami abortus inkomplit jika memang
terdapat riwayat seperti ini pada keluarganya. Faktor genetik ini berasal
dari ibu dan juga bapak yang membentuk janin tersebut berkembang.
Faktor genetik yang paling sering menjadi penyebab abortus spontai ialah
abnormalitas kromosom pada janin. Aneuplodi merupakan suatu
abnormalitas genetik yang sering terjadi dan dapat menyebabkan lebih
dari 50% abortus spontan terjadi. Beberapa faktor genetik lain
diantaranya:
a. Faktor ibu
Faktor genetik ini tentunya seputar permasalahan yang berasal
dari ibu diantaranya kelainan bentuk rahim, faktor kekebalan tubuh,
kelainan endoktrin dan juga kelemahan pada otot leher rahim. Hal ini
juga dapat disebabkan oleh sang ibu yang tengah melakukan abortus
dua kali karena adanya kelainan kromosom.
b. Faktor bapak
Faktor genetik yang kedua berasal dari bapak yang merupakan
salah satu kelainan kromosom. Kelainan ini sering kita jumpai pada
triploid, trisomi, dan juga monosomi. Faktor ini juga dapat
dipengaruhi oleh adanya infeksi pada sperma yang dapat
menyebabkan abortus.
c. Faktor janin
Tentunya, faktor genetik ini menjadi salah satu penyebab
terjadinya keguguran. Pada sekitar 50-60% kasus keguguran, faktor
janin sangat mempengaruhi bertahannya kelangsungan hidup janin.

9
Faktor janin yang sering kita temui pada abortus seperti adanya
gangguan pertumbuhan pada zigot, embrio, plasenta dan juga janin.
2. Faktor Hormonal
Faktor hormonal juga termasuk ke dalam penyebab terjadinya
abortus inkomplit. Beberapa faktor hormonal diantaranya defisiensi
luetal, abortus berulang karena faktor hormonal dan juga ibu hamil yang
menderita penyakit hormonal seperti gangguan kelenjar tyroid dan
diabetes mellitus.
3. Faktor Endoktrin
Faktor lain yang menyebabkan terjadinya abortus inkomplit yakni
faktor endoktrin. Faktor ini merupakan sebuah gangguan yang terjadi dan
juga terlibat di dalam abortus spontan yang berulang seperti hipo dan
hipertiroid, diabetes mellitus yang tidak terkontrol, penyakit polikistik
ovarium, hiperkresi luteinizing hormone, disfungsi fase luteal atau
insufisiensi korpus luteum. Perkembangan terbaru dalam peranan
hiperprolaktinemia dan juga hiperandrogenemia dapat mengakibatkan
terjadinya abortus yang berulang. Pada sekitar 10-20% kasus, faktor
endoktrin berpotensi sebagai penyebab terjadinya aborsi. Insufisiensi
fase luteal dan juga gangguan sindrom polikistik ovarium juga menjadi
salah satu faktor yang berpotensi menyebabkan keguguran.

4. Faktor Anatomi
Faktor anatomi ini termasuk ke dalam penyebab terjadinya abortus
inkomplit. Anomali uterus seperti malformasi kongenital, leiomioma,
defek uterus dan juga inkompetensia serviks sering dihubungkan ke
dalam abortus spontan yang klasifikasi dan peranannya belum diketahui
dengan pasti.
5. Faktor Imunologi
Faktor ini memang sangat berpengaruh pada penyebab terjadinya
abortus inkomplit. Pada kehamilan normal, sistem imun tubuh tidak
bereaksi pada embrio atau spermatozoa, akan tetapi pada kasus abortus

10
inkomplit sekitar 40% secara imunologis keberadaan fetus tidak dapat
diterima dengan baik.
6. Faktor Infeksi
Faktor ini juga sebagai penyebab terjadinya abortus inkomplit.
Infeksi yang menyerang ibu hamil sudah pasti mengganggu kehamilan.
Virus-virus seperti HIV, malaria, sifilis, parvovirus B19 dan juga
TORCH sangat rentan menyerang ibu hamil.
7. Faktor Penyakit Ibu
Jika seorang ibu menderita suatu penyakit yang cukup berbahaya,
maka akan dipastikan janin akan mengalami gangguan pertumbuhan
sehingga akan menyebabkan keguguran. Penyakit kronis pada ibu hamil
seperti anemia berat, laparotomi, keracunan dan penyakit menahun
lainnya tentu sangat berpotensi menyebabkan terjadinya abortus
inkomplit. Dalam kondisi ini tentu akan melemahkan sistem imun pada
ibu sehingga ibu akan mudah terkena penyakit yang nantinya dapat
mengancam tumbuh kembang janin.

5. Komplikasi
Komplikasi Abortus menurut Sujiyati, ( 2009) antara lain sebagai
berikut :
1. Pendarahan
Diatasi dengan pengosongan uterus dan sisa-sisa hasil konsepsi dan
jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian yang disebabkan oleh
perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada
waktunya.
2. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus
dalam posisi hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa penderita perlu
diamati dengan teliti. Jika ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan
laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk peforasi, penjahitan luka
operasi atau perlu histerektomi. Perforasi uterus pada abortus yang
dikerjakan oleh orang awam menimbulkan persoalan gawat karena

11
perlukaan lebih luas, mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung
kemih atau usus. Dengan adanya dugaan terjadinya perforasi, laparatomi
harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya cidera ,untuk
selanjutnya mengambil tindakan seperlunya guna mengatasi komplikasi.
3. Infeksi
Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi tiap abortus,
tetapi biasanya ditemukan abortus inkomplit yang berkaitan erat dengan
suatu abortus yang tidak aman.
4. Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena pendarahan (shok hemoragik)
dan karena infeksi berat (shok endoseptik).

6. Diagnosa
Abortus dapat diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi
mengeluh tentang pendarahan pervaginam setelah mengalami haid terlambat,
rasa mules. kecurigaan tersebut diperkuat dengan ditentukannya kehamilan
muda pada pemeriksaan bimanual dengan tes kehamilan secara biologis atau
imunologik. Harus diperhatikan macam dan banyaknya pendarahan,
pembukaan serviks dan adanya jaringan dalam kavum uteri atau vagina (
Sujiyatini, 2009 ).
Abortus inkomplit pendarahan biasanya masih terjadi jumlahnya pun
bisa banyak atau sedikit tergantung pada jaringan yang tersisa dan
membbahayakan ibu. Servik terbuka karena masih ada benda didalam rahim
yang dianggap sebagai benda asing. Oleh karena itu, uterus akan berusaha
mengeluarkannyadengan mengadakan kontraksi sehingga ibu merasakan
nyeri. Besar uterus lebih kecil dari umur kehamilan dan kantong gastasi sudah
sulit dikenali. ( Ika Pantika, 2010 )

7. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Sujiyatini ( 2009 ), pemeriksaan penunjang abortus inkomplit
yaitu USG. USG kehamilan untuk mendeteksi adanya sisa kehamilan. Pada
USG didapatkan endometrium yang tipis.

12
8. Pemeriksaan Ginekologi
1. Inpeksi vulva: pendarahan pervaginam, ada atau tidak jaringan hasil
konsepsi, tercium atau tidak bau busuk dari vulva.
2. Inspekulo: pendarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah
tertutup, ada atau tidak jaringan yang keluar dari ostium, ada atau tidak
cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.
3. Colok vagina: porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak
jaringan dalam kavum uteri, besar uteri lebih kecil dari usia kehamilan,
tidak nyeri saat porsio digoyang. ( Nugroho, 2012 )

9. Penanganan
Menurut Joseph (2010), penanganan abortus inkomplit adalah :
1. Melakukan rujukan ke dokter SPOG untuk penatalaksanaan selanjutnya.
2. Bila terdapat tanda-tanda syok, maka atasi syok dengan pemberian cairan
pengganti dan transfusi darah. Pemberian cairan pada penatalaksanaan
syok hipovolemik :
a. Untuk memulihkan status volume, pasang 2 jalur intravena,berikan
1-2 liter kristaloid seperti NaCL 0,9% atau RL secara intravena
selama 30-60 menit, sambil menentukan tanda-tanda edema paru,
dan teruskan pemberian cairan berdasarkan tanda-tanda vital.
b. Pemberian tranfusi darah bila kadar HB < 8 gr% .
3. Mengeluarkan jaringan secepat mungkin dengan metode digital dan
kuretase.
a. Sebelum kuretase pasien harus mengosongkan kandung kemih
terlebih dahulu lalu diberikan cairan intravena seperti RL dengan
drip oksitosin 20 unit. Oksitosin berguna sebagai membantu
mengurangi kecepatan perdarahan dan merangsang kontraksi uterus
sementara kuretase dilaksanakan.
b. Setelah itu berikan beri obat-obatan uterotonika seperti
metilergometrin maleat 3x1tablet per hari selama 5 hari dan
antibiotika diberikan selama kurang lebih 5 hari.Selalu melakukan

13
observasi perdarahan setelah dilakukan kuretase dan KU serta tanda-
tanda vital ibu Jika tidak ada komplikasi, maka pasien dapat
dipulangkan setelah masa observasi (biasanya 2 sampai 4 jam)
dengan resep obat yang telah diberikan, dan ibu di anjurkan untuk
kunjungan ulang seminggu paska kuretase.

10. Pencegahan
Adapun langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan untuk
memperkecil resiko terjadinya abortus imminens adalah sebagai berikut :
a. Rutin memeriksakan diri ke dokter, berkonsultasi dan menjalani test
USG. 3 cara ini setidaknya dapat membuat ibu, mengetahui gejala
kelainan dalam kandungan sedini mungkin sehingga. Jika terjadi
kelainan, bisa cepat dilakukan tindakan penyelamatan untuk
menghindari resiko yang lebih tinggi.
b. Mempersiapkan kehamilan sebaik-baiknya, semisal mencukupi
asupan nutrisi ibu hamil, mempertebal daya tahan tubuh atau jika
diperlukan, melakukan terapi untuk mengobati penyakit akut (seperti
typhus, malaria, pielonefritis, pneumonia dan lain-lain) atau kronis
(TBC, anemia berat, laparatomi dan lainlain) baik yang diderita calon
bapak maupun calon ibu. Selain dapat menular pada bayi, penyakit-
penyakit tertentu yang diderita calon bapak/ibu juga dapat
menghambat proses kehamilan.
c. Mengurangi aktivitas fisik sejak masa pra-kehamilan hingga
kehamilan.
d. Selektif dalam mengkonsumsi obat dan berkonsultasi terlebih dahulu
apakah sebuah obat aman dikonsumsi ibu hamil atau tidak. (baca juga
: bahaya obat maag untuk ibu hamil)
e. Istirahat yang cukup dan menenangkan pikiran. Salah satu sebab yang
dapat memicu terjadinya abortus imminens adalah tekanan psikologis
seperti trauma, keterkejutan yang sangat atau rasa ketakutan yang luar
biasa. Karena itu, ibu hamil harus mengkondisikan pikirannya agar
sebisa mungkin rileks dan santai. Peran dan dukungan dari orang-

14
orang terdekat juga amat diperlukan dalam upaya menciptakan
keadaan kondusif
f. Mengatur jarak kehamilan
g. Mengonsumsi vitamin dan nutrisi-nutrisi lain yang diperlukan tubuh
h. Menjalani ANC atau Antenatal Care, yakni perawatan pada ibu hamil
untuk sedini mungkin mengidentifikasi dan mencegah terjadinya
kondisi yang mengancam keselamatan bayi dan ibu. Program ini juga
akan membantu ibu hamil menjalani masa kehamilannya dan
menjadikan momen-momen tersebut tak ubahnya pengalaman yang
menyenangkan

15
BAB III
KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep
1. Subjektif
Data Subjektif merupakan data yang berhubungan / masalah dari
sudut pandang pasien. Ekspresi pasien mengenai kekhawatiran dan
keluhan yang dicatat sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang akan
berhubungan langsung dengan diagnosis. Data subjektif menguatkan
diagnose yang akan dibuat. Tanda gejala subjektif yang diperoleh dari
hasil bertanya dari pasien, suami atau keluarga (identitas umum, keluhan,
riwayat menarche, riwayat perkawinan, riwayat kehamilan, riwayat
persalinan, riwayat KB, penyakit sekarang, riwayat penyakit keluarga,
riwayat penyakit keturunan, riwayat psikososial, pola hidup).
2. Objektif (Data yang diobservasi)
Data objektif merupakan pendokumentasian hasil observasi yang
jujur, hasil pemeriksaan fisik pasien, pemeriksaan laboratorium /
pemeriksaan diagnostic lain . Menggambarkan pendokumetasian hasil
analisa dan fisik klien , hasil lab, dan test diagnostic lain yang
dirumuskan dalam data focus untuk mendukung assessment. Catatan
medis atau data fisiologis, hasil observasi yang jujur, informasi kajian
teknologi (hasil pemeriksaan laboratorium, sinar-X, rekaman CTG, USG
dll). Apa yang dapat diobservasi oleh bidan akan menjadi komponen
yang berarti di diagnose yang akan ditegakkan.
3. Analisa (Diagnosa kebidanan)
Analisa merupakan pendokumentasian hasil analisis dan
interpretasi (kesimpulan) dari data subjektif dan objektif. Karena keadaan
pasien yang setiap saat bisa mengalami perubahan dan akan ditemukan
informasi baru dalam data subjektif maupun objektif, maka proses
pengkajian data akan menjadi sangat dinamis. Analisis yang tepat dan
akurat mengikuti perkembangan data pasien akan menjamin cepat

16
diketahuinya perubahan pada pasien, dapat terus diikuti dan diambil
keputusan / tindakan yang tepat.
4. Penatalaksanaan (Apa yang dilakukan terhadap masalah)
Penatalaksanaan adalah membuat rencana asuhan saat ini dan yang
akan datang untuk mengusahakan tercapainya kondisi pasien yang sebaik
mungkin atau menjaga atau mempertahankan kesejahteraasnnya. Proses
ini termasuk kriteria tujuan tertentu dari kebutuhan pasien yang harus
dicapai dalam batas waktu tertentu., tindakan yang diambil harus
membantu pasien mencapai kemajuan dalam kesehatan dan harus
mendukung rencana dokter jika melakukan kolaborasi.

17
BAB IV
TINJAUAN KASUS

LAPORAN KASUS KELOMPOK IV


ASUHAN KEBIDANAN KEGAWATDARURATAN PADA NY. F UMUR 24
TAHUN G2P1A1 UK 8 MINGGU DENGAN ABORTUS INKOMPLIT
RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG
TAHUN 2018

Hari/Tanggal Pengkajian : Minggu, 07 Oktober 2018


Pukul : 08.00 WIB
Tempat Pengkajian : Ruang VK Anturium
Pengkaji : Kelompok IV

IDENTITAS PASIEN

Nama Ibu : Ny “F”


Umur : 24 Tahun
Agama : Islam
Suku / Bangsa : Sunda / Indonesia
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : IRT
Alamat : Sukapura, Kiaracondong
Bandung

IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB

Nama Suami : Tn “I”


Umur : 34 Tahun
Agama : Islam
Suku / Bangsa : Sunda / Indonesia
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Wiraswasta

18
Alamat : Sukapura, Kiaracondong
Bandung

SUBYEKTIF
a. Keluhan Utama:
Ibu datang dengan mengatakan keluhan keluar darah dari jalan lahir sejak
± 4 jam yang lalu, dengan perdarahan membasahi ± 2 pembalut penuh.
b. Riwayat Perkawinan
 Usia Menikah : 19 tahun
 Lama Menikah : 5 tahun
 Kawin berapa kali : 1x
 Status perkawinan : Sah
c. Riwayat Menstruasi
 Menarche : 14 Tahun
 Sikls : 28 hari
 Teratur/Tidak : Teratur
 Banyaknya : 2x ganti pembalut/hari
 Lamanya : 5 – 6 hari
 HPHT : 5 Agustus 2018
 TP : 12 Mei 2019
d. Riwayat Kesehatan
 Riwayat Kehamilan Sekarang
Ibu mengatakan hamil 8 minggu dan keluar darah dari jalan lahir.
 Riwayat Kesehatan Lalu
Ibu mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit menurun ataupun
menahun seperti riwayat penyakit hipertensi,riwayat penyakit jantung,
riwayat penyakit diabetes.
 Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan keluarga tidak mempunyai riwayat penyakit menurun
ataupun menahun, seperti riwayat penyakit hipertensi, riwayat penyakit
jantung, riwayat penyakit diabetes.

19
e. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang Lalu
Umur Jenis
N Tahun Tempat Penolong Jenis
Kehami Persali BB/PB Hidup/mati
o Lahir Bersalin persalinan Kelamin
lan nan

1 2010 BPM 9 bulan Normal Bidan Laki - laki 3500 gr Hidup

Hamil
2
ini

f. Riwayat KB
Ibu mengatakan pernah menggunakan alat kontrasepsi suntik 1 bulan selama 2
tahun
g. Riwayat Psikososial
Ibu mengatakan memiliki hubungan baik dengan suami, keluarga maupun
tetangga rumah.
h. Pola Kebutuhan Sehari hari
1. Pola Nutrisi
 Makan : 3x/hari, dengan nasi, lauk, sayur
 Minum : 8x/hari, dengan air putih.
2. Pola Eliminasi
 BAB : 2x/hari, konsistensi lembek
 BAK : 5x/hari, warna kuning jernih
3. Personal Hygiene
 Mandi : 2x/hari
 Keramas: 3x/hari
4. Pola Istirahat
 Malam : ± 8 jam
 Siang : ± 1 – 2 jam

5. Pola Aktivitas
Ibu mengatakan hanya melakukan pekerjaan rumah sebelum masuk rumah
sakit.

20
OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda-tanda Vital : TD : 110/80 mmHg
N : 80 x/menit
P : 20 x/menit
S : 360C
BB : 54 kg
TB : 156 cm
2. Pemeriksaan Fisik
Kepala : Rambut hitam,bersih,distribusi merata,tidak ada benjolan,
tidak ada nyeri tekan
Muka : Simetris, tidak pucat, tidak ada closma gravidarum
Mata : Simetris, Konjungtiva pucat, sklera putih
Telinga : Simetris, tidak ada pembengkakan, pendengaran jelas
Hidung : Bersih, Tidak ada pembengkakan polip
Mulut : Bersih, Tidak sianosis, bibir lembab , gusi tidak berdarah
Leher : Tidak ada pembengkakan kelenjar tyroid, kelenjarlimfe,vena
jugularis dan kelenjar getah bening
Dada :  Inspeksi
Simetris, puting susu menonjol, areola berwarna
kehitaman , tidak ada kerutan
 Palpasi
Tidak teraba benjolan , tidak terdapat nyeri tekan , asi
tidak ada pengeluaran .
 Auskultasi
Detak jantung normal, frekuensi detak jantung
80x/menit, irama teratur.
Paru –paru vesikuler.
Abdomen : Datar lembut, Tidak ada kelainan, tidak ada luka bekas
operasi, terdapat linea nigra.

21
Ekstremitas :  Atas : simetris, tidak ada oedema, pergerakan normal
 Bawah : simetris, tidak ada varises, tidak ada odema,
reflek patella (+)
Genetalia : Terdapat pengeluaran darah, tidak ada varises, tidak ada
pembengkakan kelenjar skin dan kelenjar bartolini
Anus : Tidak ada hemoroid
3.
Pemeriksaan

3. Pemeriksaan Dalam
Vulva/vagina : Tidak ada kelainan
Porsio : Pembukaan 1 jari longgar, teraba jaringan
Cavum Uterus : 8 – 10 minggu
Ostium 1 jari longgar, teraba sisa jaringan
Kiri dan kanan uterus : massa (-)

4. Data Penunjang
a. USG
Nampak endometrium yang menipis
b. LAB
 HB : 14,3 gr/%
 Hematokrit : 42,9 %
 Leoukosit : 13.380 /mm3
 Eritrosit : 270.00/mm3
 Pp Test :+

ANALISA
Ny. F umur 24 tahun G2P1A1 Usia kehamilan 8 minggu dengan Abortus
Inkomplit.

22
PENATALAKSANAAN
1. Melakukan infrom consent pada ibu dan keluarga serta meminta persetujuan
sebelum melakukan tindakan
Evaluasi : ibu mengerti dan menyetujui tindakan yang akan dilakukan
2. Mengobservasi keadaan umum dan tanda – tanda vital pasien
K/U : Baik
Kesadaran: Compos mentis
TD : 110/80 mmhg
N : 80x/menit
P : 20x/menit
S : 360 C
Evaluasi : Ibu mengetahui kondisinya saat ini
3. Menjelaskan kepada ibu tentang penyebab perdarahan dari jalan lahir yaitu
karena sebagian hasil konsepsi telah keluar dari jalan lahir sehingga
menyebabkan perdarahan. Untuk itu akan dilakukan tindakan kuretase yang
bertujuan untuk mengeluarkan jaringan/janin dalam rahim ibu dan
menghentikan sumber perdarahan.
Evaluasi : Ibu mengerti dari penjelasan yang diberikan dan menyetujui
tindakan yang akan dilakukan.
4. Pasien telah terpasang infus RL ditangan kiri, mengontrol dan megatur
tetesan infus.
Evaluasi : Tetesan infus telah diatur dengan 20 tpm
5. Memberikan motivasi dan support mental kepada ibu
Evaluasi : Ibu merasa sedikit tenang
6. Melakukan persiapan pelaksanaan tindakan kuretase yakni berupa persiapan
alat, penolong dan persiapan pasien
a. Persiapan alat kuret
1) Handscoen 2 pasang
2) Kain kasa secukupnya
3) Duk steril 1 buah
4) Kateter 1 buah
5) Speculum anterior dan posterior

23
6) Tampongtan
7) Tenakulum
8) Sonde uterus
9) Abortus tang
10) Kuret tajam dan kuret tumpul.
11) Kapas deteksi tingkat tinggi (DTT).
b. Persiapan penolong
1) Masker
2) Celemek
3) Kacamata
4) Tutup kepala
5) Sepatu boot
c. Persiapan alat-alat lain
1) Tempat darah
2) Tempat sampah
3) Larutan klorin
4) Lampu sorot
5) Tabung oksigen
d. Persiapan pasien: klien dianjurkan untuk istrahat dan berpuasa
Evaluasi : Persiapan sudah dilakukan
7. Dilakukan tindakan kuretase oleh dokter
Evaluasi : Tindakan kuretase sudah dilakukan
8. Membersihkan ibu setelah dilakukan kuretase dan melakukan dekontaminasi
semua alat – alat yang telah digunakan.
Evaluasi : Ibu telah dibersihkan
9. Mengobservasi tanda – tanda vital setelah kuretase
TD : 110/70 mmhg
N : 80x/menit
P : 20x/menit
S : 37.30 C
Evaluasi : Ibu mengetahui kondisinya dalam keadaan baik
10. Pemberian terapi setelah kuretase sesuai anjuran dokter

24
 Amoxilin 3x500 mg PO
 Asam Mefenamat 3x500 mg PO
 Methergin tab 3x0,125 mg PO
11. Meganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup
Evaluasi : Ibu bersedia untuk istirahat
12. Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebtuhan nutrisi dengan menghabiskan
porsi makanan dan minuman yang telah disediakan agar ibu cepat pulih
Evalusi : Ibu mengerti dan bersedia mengikuti anjuran
13. Menganjurkan ibu untuk menjaga personal hygiene dengan mengganti
pembalut jika penuh / terasa lembab.
Evaluasi : Ibu mengerti dan bersedia mengikuti anjuran
14. Melakukan dokumentasi

25
BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Seorang Nyonya berusia 24 tahun, datang dengan keluhan perdarahan
pervaginam sejak ± 4 jam SMRS. Darah yang keluar bergumpal dan
membasahi ± 2 pembalut penuh diikuti dengan keluarnya gumpalan-
gumpalan seperti daging, tanpa rasa nyeri. Pasien sudah tidak mengalami
menstruasi sejak ± 3 bulan terakhir. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan penunjang ditegakkan diagnosis pasien ini yaitu
G2P1A1 usia kehamilan 8 minggu dengan Abortus Inkomplit. Tatalaksana
yang dilakukan adalah kuretase.
Secara umum, penegakan diagnosis, alur penatalaksanaan pada kasus ini
sudah sesuai dengan literatur yang ada.
B. Saran
Berikan penjelasan yang jelas kepada pasien dan tentang penyakitnya.
Penatalaksanaan yang efektif dan efisien pada pasien untuk mendapatkan
hasil yang maksimal dan mencegah terjadinya komplikasi. Kepada
mahasiswa atau pembaca disarankan agar dapat mengambil pelajaran dari
laporan ini sehingga apabila terdapat tanda bahaya. Maka kita dapat
melakukan tindakan yang tepat agar penyakit tersebut tidak berlanjut ke arah
yang buruk.

26
DAFTAR PUSTAKA

Fadlun, 2012. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta : Salemba Medika

Prawirohardjo, Sarwono. 2011. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT. Bina Pustaka

Saputra, Lyndon. 2000. Kegawatdaruratan Medik : Pedoman Penatalaksanaan

Praktis. Jakarta : Binarupa Aksara

Sofian, Amru. 2012. Rustam Mochtar Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisilogi &

Obstetri Patologi Edisi 3 Jilid I. Jakarta : EGC

Wiknjosastro, H. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono

Prawirohardjo.

Yeyeh Rukiah, Ai. 2010. Asuhan Kebidanan IV ( Patologi Kebidanan ). Jakarta :

Trans Info Media

27