You are on page 1of 17

LAPORAN PENDAHULUAN

POST PARTUM SECTIO CAESARIA

A. Konsep Dasar Sectio Caesaria
1. Pengertian Sectio Caesaria
Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan
melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat
rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram.
Sectio Caesaria ialah tindakan untuk melahirkan janin dengan berat
badan diatas 500 gram melalui sayatan pada dinding uterus yang utuh.
Sectio caesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan
membuka dinding perut dan dinding rahim (Sarwono, 2011).

2. Indikasi
a. Riwayat SC
Uterus yang memiliki jaringan parut dianggap sebagai kontraindikasi untuk
melahirkan karena dikhawatirkan akan terjadi rupture uteri. Risiko ruptur uteri
meningkat seiring dengan jumlah insisi sebelumnya, klien dengan jaringan perut
melintang yang terbatas disegmen uterus bawah, kemungknan mengalami robekan
jaringan parut simtomatik pada kehamilan berikutnya. Wanita yang mengalami
ruptur uteri berisiko mengalami kekambuhan, sehingga tidak menutup
kemungkinan untuk dilakukan persalinan pervaginam tetapi dengan beresiko
ruptur uteri dengan akibat buruk bagi ibu dan janin.
b. Indikasi Ibu :
1) Panggul sempit
2) Tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi
3) Stenosis serviks uteri atau vagina
4) Plassenta praevia
5) Disproporsi janin panggul
6) Rupture uteri membakat
7) Partus tak maju
8) Incordinate uterine action

Abdomen (SC Abdominalis) 1) Sectio Caesarea Transperitonealis a) Sectio caesarea klasik atau corporal : dengan insisi memanjang pada corpus uteri. 4.kepala defleksi) c) Letak dahi dan letak muka dengan dagu dibelakang d) Presentasi ganda e) Kelainan letak pada gemelli anak pertama 2) Gawat Janin 3) Indikasi Kontra(relative) a) Infeksi intrauterine b) Janin Mati c) Syok/anemia berat yang belum diatasi d) Kelainan kongenital berat 3. Mengeluarkan janin lebih memanjang 2. Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10cm. Tujuan Sectio Caesarea Tujuan melakukan sectio caesarea (SC) adalah untuk mempersingkat lamanya perdarahan dan mencegah terjadinya robekan serviks dan segmen bawah rahim. Kelebihan : 1. Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal . Jenis . Indikasi Janin 1) Kelainan Letak : a) Letak lintang b) Letak sungsang ( janin besar. Tidak menyebabkan komplikasi kandung kemih tertarik 3.Jenis Operasi Sectio Caesarea (SC) a. c.

sedangkan pada luka bekas SC profunda biasanya baru terjadi dalam persalinan. Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan isi uterus ke rongga perineum 4. Untuk mengurangi kemungkinan ruptura uteri. Keluhan utama pada kandung kemih post operatif tinggi. Kekurangan : 1. Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada reperitonial yang baik.Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10cm Kelebihan : 1. 2. Luka dapat melebar ke kiri. Penjahitan luka lebih mudah 2. Penutupan luka dengan reperitonialisasi yang baik 3. Untuk tujuan ini maka dipasang akor sebelum menutup luka rahim. Perdarahan kurang 5. . Ruptura uteri karena luka bekas SC klasik lebih sering terjadi dibandingkan dengan luka SC profunda. Sekurang -kurangnya dapat istirahat selama 2 tahun. Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan lebih kecil Kekurangan : 1. ke kanan dan bawah sehingga dapat menyebabkan arteri uteri putus yang akan menyebabkan perdarahan yang banyak. b) Sectio caesarea profunda(Ismika Profunda) : dengan insisi pada segmen bawah uterus. 3. 4. Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan. Rasionalnya adalah memberikan kesempatan luka sembuh dengan baik. 2. dianjurkan supaya ibu yang telah mengalami SC jangan terlalu lekas hamil lagi. Ruptur uteri karena luka bekas SC klasik sudah dapat terjadi pada akhir kehamilan.

terutama SC klasik dalam hal ini lebih berbahaya daripada SC transperitonealis profunda. Merupakan sectio caesarea tanpa membuka peritoneum parietalis dan dengan demikian tidak membuka kavum abdominalis. Komplikasi Infeksi Puerperalis Komplikasi ini bersifat ringan. Infeksi post operasi terjadi apabila sebelum pembedahan sudah ada gejala . b. tindakan vaginal sebelumnya). 2) Sectio caesarea ekstraperitonealis.gejala infeksi intrapartum atau ada faktor . misalnya peritonitis. a. sectio caesaria dapat dilakukan apabila : 1) Sayatan memanjang (longitudinal) 2) Sayatan melintang (tranversal) 3) Sayatan huruf T (T Insisian) 5. Bahaya infeksi dapat diperkecil dengan pemberian antibiotika. seperti kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas atau dapat juga bersifat berat.faktor yang merupakan predisposisi terhadap kelainan itu (partus lama khususnya setelah ketuban pecah. Perdarahan Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang arteria uterina ikut terbuka atau karena atonia uteri b. Komplikasi-komplikasi lain seperti : 1) Luka kandung kemih 2) Embolisme paru – paru Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak ialah kurang kuatnya perut pada dinding uterus. sepsis dan lain-lain. Vagina (sectio caesarea vaginalis) Menurut arah sayatan pada rahim. tetapi tidak dapat dihilangkan sama sekali. sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. Kemungkinan hal ini lebih banyak ditemukan sesudah sectio caesarea klasik .

rupture uteri mengancam. misalnya plasenta previa sentralis dan lateralis. panggul sempit. distosia serviks. Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu tindakan pembedahan yaitu Sectio Caesarea (SC). pre-eklamsia. . partus lama. partus tidak maju.6. disproporsi cephalo pelvic. dan malpresentasi janin. Patofisiologi Adanya beberapa kelainan/hambatan pada proses persalinan yang menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal/spontan.

Adanya kelumpuhan sementara dan kelemahan fisik akan menyebabkan klien tidak mampu melakukan aktivitas perawatan diri klien secara mandiri sehingga timbul masalah defisit perawatan diri. Urinalisis / kultur urine e. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi darah sesuai kebutuhan. Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan menyebabkan klien mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan masalah intoleransi aktivitas. dalam proses pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi pada dinding abdomen sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan. Pemeriksaan elektrolit 8. daerah insisi akan ditutup dan menimbulkan luka post op. pembuluh darah. Hemoglobin atau hematokrit (Hb/Ht) untuk mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan. waktu pembekuan darah d. atau komplikasi pada organ tubuh lainnya. b. Setelah proses pembedahan berakhir. dan saraf . Hal ini akan merangsang pengeluaran histamin dan prostaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri (nyeri akut). penyembuhan. dehidrasi.saraf di sekitar daerah insisi. Pemeriksaan Penunjang a. dan perawatan post operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada klien. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi c. 7. maka pemberian cairan perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar tidak terjadi hipotermi. . Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan. Pemberian cairan Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi. yang bila tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan masalah risiko infeksi. garam fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan tergantung kebutuhan. Tes golongan darah. Selain itu. lama perdarahan. Cairan yang biasa diberikan biasanya DS 10%. Penatalaksanaan Medis Post SC a.

Diet Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian obat-obatan 1) Antibiotik.10 jam setelah operasi 2) Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini mungkin setelah sadar 3) Hari kedua post operasi. berupa air putih dan air teh. Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu . Mobilisasi Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi : 1) Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 . penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya. belajar berjalan. Supositoria = ketopropen sup 2x/24 jam 2. hari demi hari.b. e.10 jam pasca operasi. d. 4) Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah duduk (semifowler) 5) Selanjutnya selama berturut-turut. dan kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi.48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan keadaan penderita. Kateter biasanya terpasang 24 . Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat berbeda- beda setiap institusi 2) Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan 1. menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. klien dianjurkan belajar duduk selama sehari. c. Kateterisasi Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada penderita. Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol 3. Pemberian minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 .

bila basah dan berdarah harus dibuka dan diganti g. biasanya mengurangi rasa nyeri. b. C f. h. Pemindaian CT Untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan. Perawatan rutin Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu. Magneti resonance imaging (MRI) Menghasilkan bayangan dengan menggunakan lapangan magnetik dan gelombang radio. berguna untuk memperlihatkan daerah – daerah otak yang itdak jelas terliht bila menggunakan pemindaian CT. tekanan darah. pemasangan pembalut payudara yang mengencangkan payudara tanpa banyak menimbulkan kompesi. Pemeriksaan Penunjang a. c. nadi. e. Elektroensefalogram ( EEG ) Untuk membantu menetapkan jenis dan fokus dari kejang. 3) Obat-obatan lain Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat diberikan caboransia seperti neurobian I vit. Pemindaian positron emission tomography ( PET ) Untuk mengevaluasi kejang yang membandel dan membantu menetapkan lokasi lesi. d. Uji laboratorium 1) Fungsi lumbal : menganalisis cairan serebrovaskuler 2) Hitung darah lengkap : mengevaluasi trombosit dan hematokrit 3) Panel elektrolit .dan pernafasan. perubahan metabolik atau alirann darah dalam otak. Perawatan payudara Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu memutuskan tidak menyusui. 9. Perawatan luka Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi.

Penatalaksanaan a. c. Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah duduk (semifowler) . Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 . Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini mungkin setelah sadar . segera kembalikan ke kamar bedah kemungkinan terjadi perdarahan pasca bedah b. Hari kedua post operasi. Diet Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita platus lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. .10 jam setelah operasi. cek tanda vital tiap 15 menit selama 1 jam pertama. Mobilisasi Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi : . . berupa air putih dan air teh. Periksa tingkat kesadaran tiap 15 menit sampai sadar 3) Yakinkan jalan nafas bersih dan cukup ventilasi 4) Transfusi jika ada indikasi syok hemorarge 5) Jika tanda vital dan hematokrit turun walau diberikan transfusi.10 jam pasca operasi. Pemberian minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 . penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya. 4) Skrining toksik dari serum dan urin 5) AGD 6) Kadar kalsium darah 7) Kadar natrium darah 8) Kadar magnesium darah 10. kemudian tiap 30 menit jam berikutnya. Perawatan awal 1) Letakan klien dalam posisi pemulihan 2) Periksa kondisi klien.

klien dianjurkan belajar duduk selama sehari. dan kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi. Perawatan fungsi kandung kemih 1) Jika urin jernih. d. Jika masih terdapat perdarahan 1) Lakukan masase uterus . tunggu bising usus timbul 3) Jika klien bisa flatus mulai berikan makanan padat 4) Pemberian infus diteruskan sampai klien bisa minum dengan baik e. Fungsi gastrointestinal 1) Jika tindakan tidak berat beri klien diit cair 2) Jika ada tanda infeksi . tapi beri plester untuk mengencangkan 3) Ganti pembalut dengan cara steril 4) Luka harus dijaga agar tetap kering dan bersih 5) Jahitan fasia adalah utama dalam bedah abdomen. 4) Jika sudah tidak memakai antibiotika berikan nirofurantoin 100 mg per oral per hari sampai kateter dilepas 5) Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada penderita. menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. kateter dilepas 8 jam setelah pembedahan atau sesudah semalam 2) Jika urin tidak jernih biarkan kateter terpasang sampai urin jernih 3) Jika terjadi perlukaan pada kandung kemih biarkan kateter terpasang sampai minimum 7 hari atau urin jernih.. Kateter biasanya terpasang 24 . jangan ganti pembalut. angkat jahitan kulit dilakukan pada hari kelima pasca SC g.48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan keadaan penderita. Selanjutnya selama berturut-turut. belajar berjalan. hari demi hari. Pembalutan dan perawatan luka 1) Jika pada pembalut luka terjadi perdarahan atau keluar cairan tidak terlalu banyak jangan mengganti pembalut 2) Jika pembalut agak kendor . f.

setiap 8 jam 3) Ditambah metronidazol 500 mg I. 4) Diusahakan agar penderita tidak batuk atau menangis.V. setiap 8 jam i.V. Hal – Hal lain yang perlu diperhatikan 1) Paska bedah penderita dirawat dan diobservasi kemungkinan komplikasi berupa perdarahan dan hematoma pada daerah operasi 2) Pasca operasi perlu dilakukan drainase untuk mencegah terjadinya hematoma. dan prostaglandin h. Anastesi local : cara yang paling aman tidak mempengaruhi janin dan klien . 5) Lakukan perawatan luka untuk mencegah terjadinya infeksi.M. Anastesi umum : mempunyai pengaruh pada pusat pernafasan janin . Obat-obatan lain Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat diberikan caboransia seperti neurobian I vit.V. setiap 6 jam 2) Ditambah gentamisin 5 mg/kg berat badan I. Pemberian Antibiotik 1) Ampisilin 2 g I. Anastesi Spiral : baik buat janin tapi tekanan darah klien dapat menurun .2 mg I. C k. 3) Klien dibaringkan dengan posisi semi fowler (berbaring dengan lutut ditekuk) agar diding abdomen tidak tegang. Analgesik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan 1) Pemberian analgesia sesudah bedah sangat penting 2) Supositoria = ketopropen sup 2x/ 24 jam 3) Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol 4) Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu j.V. 6) Perhatikan jenis anastesi yang diberikan: . ergometrin 0. (garam fisiologik atau RL) 60 tetes/menit. 2) Beri oksitosin 10 unit dalam 500 ml cairan I.

cara masuk. - B. . dan nifas sebelumnya bagi kien multipara d. e. ii. Riwayat kesehatan dahulu Meliputi penyakit lain yang dapat mempengaruhi penyakit sekarang. umur. yang mengirim. Riwayat kesehatan keluarga Meliputi penyakit yang diderita klien dan apakah keluarga klien ada juga mempunyai riwayat persalinan yang sama (plasenta previa). dan cara pencegahan. Data riwayat penyakit i. suku bangsa. status perkawinan. alasan masuk. diagnosa medik. nomor medical record. agama. alamat. pendidikan. b. Pengkajian fokus a. dan perawatan serta kurangnya mrnjaga kebersihan tubuhnya akan menimbulkan masalah dalam perawatan dirinya 2) Pola Nutrisi dan Metabolisme Pada klien nifas biasanaya terjadi peningkatan nafsu makan karena dari keinginan untuk menyusui bayinya. Riwayat kesehatan sekarang Meliputi keluhan atau yang berhubungan dengan gangguan atau penyakit yang dirasakan saat ini dan keluhan yang dirasakan setelah klien operasi. keadaan umum tanda vital. Pola-pola fungsi kesehatan 1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat Karena kurangnya pengetahuan klien tentang ketuban pecah dini. pekerjaan. Konsep Asuhan Keperawatan 1. Keluhan utama c. Riwayat kehamilan. persalinan. ruang rawat. maksudnya apakah klien pernah mengalami penyakit yang sama (plasenta previa) iii. penanganan. Pola-pola fungsi kesehatan f. Identitas klien dan penanggung jawab Meliputi nama.

terbatas pada aktifitas ringan. 5) Istirahat dan tidur Pada klien nifas terjadi perubagan pada pola istirahat dan tidur karena adanya kehadiran sang bayi dan nyeri epis setelah persalinan 6) Pola hubungan dan peran Peran klien dalam keluarga meliputi hubungan klien dengan keluarga dan orang lain. tidak membutuhkan tenaga banyak. lebih- lebih menjelang persalinan dampak psikologis klien terjadi perubahan konsep diri antara lain dan body image dan ideal diri 10) Pola reproduksi dan sosial Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual atau fungsi dari seksual yang tidak adekuat karena adanya proses persalinan dan nifas. pada klien nifas didapatkan keterbatasan aktivitas karena mengalami kelemahan dan nyeri. 4) Pola eleminasi Pada klien postpartum sering terjadi adanya perasaan sering / susah kencing selama masa nifas yang ditimbulkan karena terjadinya odema. 7) Pola penagulangan stres Biasanya klien sering melamun dan merasa cemas 8) Pola sensori dan kognitif Pola sensori klien merasakan nyeri pada prineum akibat luka jahitan dan nyeri perut akibat involusi uteri (pengecilan uteri oleh kontraksi uteri). cepat lelah.3) Pola aktifitas Pada klien pos partum klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya. yang menimbulkan infeksi dari uretra sehingga sering terjadi konstipasi karena penderita takut untuk melakukan BAB. pada pola kognitif klien nifas primipara terjadi kurangnya pengetahuan merawat bayinya 9) Pola persepsi dan konsep diri Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan kehamilanya. .

bunyi jantung apakah ada bisisng usus atau tiak ada. kebersihan kepala. adakah cairan yang keluar dari telinga. 4) Hidung Adanya polip atau tidak dan apabila pada post partum kadang-kadang ditemukan pernapasan cuping hidung. bagaimana kebersihanya. kontribusi rambut. warna rambut. 3) Telinga Biasanya bentuk telinga simetris atau tidak. ada atau tidak adanya edem. bila terdapat pengeluaran mekomium yaitu feses yang dibentuk anak dalam kandungan menandakan adanya kelainan letak anak. .g. kadang-kadang terdapat adanya cloasma gravidarum. adanya hiperpigmentasi areola mamae dan papila mamae 7) Abdomen Pada klien nifas abdomen kendor kadang-kadang striae masih terasa nyeri. 9) Anus Kadang-kadang pada klien nifas ada luka pada anus karena ruptur. sklera kunuing. 8) Ginetelia Pengeluaran darah campur lendir. dan kadang-kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena proses persalinan yang mengalami perdarahan. gerakan dada. 6) Dada dan payudara Bentuk dada simetris. adanya abstensi vena jugularis. Terdapat adanya pembesaran payudara. 2) Mata Terkadang adanya pembengkakan paka kelopak mata. dan apakah ada benjolan. pengeluaran air ketuban. 5) Leher Pembesaran kelenjar limfe dan tiroid. adanya hemoroid. konjungtiva. Pemeriksaan Fisik 1) Kepala Bagaimana bentuk kepala. Fundus uteri 3 jari dibawa pusat.

suhu tubuh turun. pernafasan meningkat. 10) Ekstermitas Pemeriksaan odema untuk melihat kelainan-kelainan karena membesarnya uterus. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri pada abdomen post operasi SC d. 2. Cemas berhubungan dengan koping yang tidak efektif . prostaglandin) akibat trauma jaringan dalam pembedahan (section caesarea) b. Resiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi c. karenan preeklamsia atau karena penyakit jantung atau ginjal. Nyeri akut berhubungan dengan pelepasan mediator nyeri (histamin. nadi cepat. 11) Tanda-tanda vital Apabila terjadi perdarahan pada pos partum tekanan darah turun. Diagnosa keperawatan yang sering muncul a.

TTV dalam batas Gunakan sentuhan mengatasi. ketidaknyamanan karena rasa . Kriteria saat berhubungan dengan kelahiran sesaria iminen dapat (histamin. Rencana Tindakan DIAGNOSA NO TUJUAN TINDAKAN RASIONAL KEPERAWATAN 1. khususnya tindakan. 3) Dapat membantu dalam reduksi . Skala nyeri 0-1 ( dari 0 ansietas (mis. Klien yang menunggu mediator nyeri penurunan nyeri. Suhu : 36. posisikan saling berhubungan dan merubah dilakukan senyaman mungkin. Dapat melakukan informasi akurat. Kooperatif dengan 3) Instruksikan teknik takut. dan nyeri yang tindakan yang relaksasi. Ansietas . kehilangan individual dan dipengaruhi oleh – 10 ) control). kemampuan klien untuk . Mengungkapkan nyeri sesaris. hasil: indikasi kelahiran mengalami berbagai derajat prostaglandin) akibat . tergantung pada trauma jaringan dalam dan tegang di perutnya 2) Hilangkan factor-faktor indikasi terhadap prosedur. terapeutik. berikan berbagai faktor. dan berlebihan pada respon terhadap tindakan untuk anjurkan keberadaan situasi darurat dapat meningkatkan mengurangi nyeri pasangan. tegang. ketidaknyamanan. sifat dan 1) Menandakan ketepatan pilihan dengan pelepasan mengungkapkan durasi nyeri. pembedahan (section berkurang yang menghasilkan 2) Tingkat toleransi ansietas adalah caesarea) . normal .3. Nyeri akut berhubungan Tujuan: Klien akan 1) Kaji lokasi.

meningkatkan kenyamanan. Resiko infeksi Tujuan : Tidak ada tanda- berhubungan dengan tanda infeksi. 37°C. TD : 120/80 ansietas dan ketegangan dan mmHg. RR : 18. Nadi : 80- 100 x/menit 2. Kriteria hasil luka post operasi : . 20x/menit.