You are on page 1of 17

LAPORAN PENDAHULUAN

POST PARTUM SECTIO CAESARIA

A. Konsep Dasar Sectio Caesaria
1. Pengertian Sectio Caesaria
Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan
melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat
rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram.
Sectio Caesaria ialah tindakan untuk melahirkan janin dengan berat
badan diatas 500 gram melalui sayatan pada dinding uterus yang utuh.
Sectio caesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan
membuka dinding perut dan dinding rahim (Sarwono, 2011).

2. Indikasi
a. Riwayat SC
Uterus yang memiliki jaringan parut dianggap sebagai kontraindikasi untuk
melahirkan karena dikhawatirkan akan terjadi rupture uteri. Risiko ruptur uteri
meningkat seiring dengan jumlah insisi sebelumnya, klien dengan jaringan perut
melintang yang terbatas disegmen uterus bawah, kemungknan mengalami robekan
jaringan parut simtomatik pada kehamilan berikutnya. Wanita yang mengalami
ruptur uteri berisiko mengalami kekambuhan, sehingga tidak menutup
kemungkinan untuk dilakukan persalinan pervaginam tetapi dengan beresiko
ruptur uteri dengan akibat buruk bagi ibu dan janin.
b. Indikasi Ibu :
1) Panggul sempit
2) Tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi
3) Stenosis serviks uteri atau vagina
4) Plassenta praevia
5) Disproporsi janin panggul
6) Rupture uteri membakat
7) Partus tak maju
8) Incordinate uterine action

Tidak menyebabkan komplikasi kandung kemih tertarik 3. Kelebihan : 1. Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10cm. Tujuan Sectio Caesarea Tujuan melakukan sectio caesarea (SC) adalah untuk mempersingkat lamanya perdarahan dan mencegah terjadinya robekan serviks dan segmen bawah rahim. Mengeluarkan janin lebih memanjang 2. Jenis . Indikasi Janin 1) Kelainan Letak : a) Letak lintang b) Letak sungsang ( janin besar. 4. Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal . c.Jenis Operasi Sectio Caesarea (SC) a.kepala defleksi) c) Letak dahi dan letak muka dengan dagu dibelakang d) Presentasi ganda e) Kelainan letak pada gemelli anak pertama 2) Gawat Janin 3) Indikasi Kontra(relative) a) Infeksi intrauterine b) Janin Mati c) Syok/anemia berat yang belum diatasi d) Kelainan kongenital berat 3. Abdomen (SC Abdominalis) 1) Sectio Caesarea Transperitonealis a) Sectio caesarea klasik atau corporal : dengan insisi memanjang pada corpus uteri.

Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan isi uterus ke rongga perineum 4. sedangkan pada luka bekas SC profunda biasanya baru terjadi dalam persalinan. Perdarahan kurang 5. Keluhan utama pada kandung kemih post operatif tinggi. Sekurang -kurangnya dapat istirahat selama 2 tahun. Ruptura uteri karena luka bekas SC klasik lebih sering terjadi dibandingkan dengan luka SC profunda. Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada reperitonial yang baik. . Rasionalnya adalah memberikan kesempatan luka sembuh dengan baik. Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan lebih kecil Kekurangan : 1. Penutupan luka dengan reperitonialisasi yang baik 3. 3. ke kanan dan bawah sehingga dapat menyebabkan arteri uteri putus yang akan menyebabkan perdarahan yang banyak. b) Sectio caesarea profunda(Ismika Profunda) : dengan insisi pada segmen bawah uterus. 2. 2. Untuk tujuan ini maka dipasang akor sebelum menutup luka rahim. 4. Luka dapat melebar ke kiri. Untuk mengurangi kemungkinan ruptura uteri. Penjahitan luka lebih mudah 2. Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan.Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10cm Kelebihan : 1. dianjurkan supaya ibu yang telah mengalami SC jangan terlalu lekas hamil lagi. Kekurangan : 1. Ruptur uteri karena luka bekas SC klasik sudah dapat terjadi pada akhir kehamilan.

tetapi tidak dapat dihilangkan sama sekali. terutama SC klasik dalam hal ini lebih berbahaya daripada SC transperitonealis profunda. Komplikasi-komplikasi lain seperti : 1) Luka kandung kemih 2) Embolisme paru – paru Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak ialah kurang kuatnya perut pada dinding uterus. Perdarahan Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang arteria uterina ikut terbuka atau karena atonia uteri b. Kemungkinan hal ini lebih banyak ditemukan sesudah sectio caesarea klasik . Merupakan sectio caesarea tanpa membuka peritoneum parietalis dan dengan demikian tidak membuka kavum abdominalis. Infeksi post operasi terjadi apabila sebelum pembedahan sudah ada gejala . b. sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. Komplikasi Infeksi Puerperalis Komplikasi ini bersifat ringan. a. Bahaya infeksi dapat diperkecil dengan pemberian antibiotika. Vagina (sectio caesarea vaginalis) Menurut arah sayatan pada rahim. 2) Sectio caesarea ekstraperitonealis. sectio caesaria dapat dilakukan apabila : 1) Sayatan memanjang (longitudinal) 2) Sayatan melintang (tranversal) 3) Sayatan huruf T (T Insisian) 5.gejala infeksi intrapartum atau ada faktor . tindakan vaginal sebelumnya). misalnya peritonitis.faktor yang merupakan predisposisi terhadap kelainan itu (partus lama khususnya setelah ketuban pecah. seperti kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas atau dapat juga bersifat berat. sepsis dan lain-lain.

partus lama. panggul sempit. partus tidak maju. rupture uteri mengancam.6. Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu tindakan pembedahan yaitu Sectio Caesarea (SC). dan malpresentasi janin. misalnya plasenta previa sentralis dan lateralis. disproporsi cephalo pelvic. distosia serviks. Patofisiologi Adanya beberapa kelainan/hambatan pada proses persalinan yang menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal/spontan. pre-eklamsia. .

Hal ini akan merangsang pengeluaran histamin dan prostaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri (nyeri akut). Pemeriksaan Penunjang a. dalam proses pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi pada dinding abdomen sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan. Cairan yang biasa diberikan biasanya DS 10%. dehidrasi. daerah insisi akan ditutup dan menimbulkan luka post op. Pemberian cairan Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi. penyembuhan. dan perawatan post operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada klien. Urinalisis / kultur urine e. Setelah proses pembedahan berakhir. . Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan menyebabkan klien mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan masalah intoleransi aktivitas. b. dan saraf . Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan. waktu pembekuan darah d. lama perdarahan. Hemoglobin atau hematokrit (Hb/Ht) untuk mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan. Tes golongan darah. atau komplikasi pada organ tubuh lainnya. yang bila tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan masalah risiko infeksi. Selain itu. pembuluh darah. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi c. Penatalaksanaan Medis Post SC a.saraf di sekitar daerah insisi. garam fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan tergantung kebutuhan. maka pemberian cairan perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar tidak terjadi hipotermi. Adanya kelumpuhan sementara dan kelemahan fisik akan menyebabkan klien tidak mampu melakukan aktivitas perawatan diri klien secara mandiri sehingga timbul masalah defisit perawatan diri. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi darah sesuai kebutuhan. 7. Pemeriksaan elektrolit 8.

Kateterisasi Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada penderita. dan kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi. Supositoria = ketopropen sup 2x/24 jam 2.10 jam setelah operasi 2) Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini mungkin setelah sadar 3) Hari kedua post operasi. Kateter biasanya terpasang 24 . Pemberian obat-obatan 1) Antibiotik. Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat berbeda- beda setiap institusi 2) Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan 1. c. 4) Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah duduk (semifowler) 5) Selanjutnya selama berturut-turut.48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan keadaan penderita. e.b. Mobilisasi Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi : 1) Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 . hari demi hari. klien dianjurkan belajar duduk selama sehari. belajar berjalan. Pemberian minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 . Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu .10 jam pasca operasi. berupa air putih dan air teh. d. penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya. menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. Diet Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol 3.

b. Perawatan payudara Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu memutuskan tidak menyusui. biasanya mengurangi rasa nyeri. tekanan darah. Pemindaian CT Untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan. Perawatan luka Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi. perubahan metabolik atau alirann darah dalam otak. Pemindaian positron emission tomography ( PET ) Untuk mengevaluasi kejang yang membandel dan membantu menetapkan lokasi lesi. 9. 3) Obat-obatan lain Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat diberikan caboransia seperti neurobian I vit. h. c.dan pernafasan. bila basah dan berdarah harus dibuka dan diganti g. Pemeriksaan Penunjang a. C f. Uji laboratorium 1) Fungsi lumbal : menganalisis cairan serebrovaskuler 2) Hitung darah lengkap : mengevaluasi trombosit dan hematokrit 3) Panel elektrolit . Elektroensefalogram ( EEG ) Untuk membantu menetapkan jenis dan fokus dari kejang. nadi. Perawatan rutin Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu. berguna untuk memperlihatkan daerah – daerah otak yang itdak jelas terliht bila menggunakan pemindaian CT. Magneti resonance imaging (MRI) Menghasilkan bayangan dengan menggunakan lapangan magnetik dan gelombang radio. pemasangan pembalut payudara yang mengencangkan payudara tanpa banyak menimbulkan kompesi. d. e.

10 jam setelah operasi. Periksa tingkat kesadaran tiap 15 menit sampai sadar 3) Yakinkan jalan nafas bersih dan cukup ventilasi 4) Transfusi jika ada indikasi syok hemorarge 5) Jika tanda vital dan hematokrit turun walau diberikan transfusi. Pemberian minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 . Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah duduk (semifowler) . . . cek tanda vital tiap 15 menit selama 1 jam pertama. penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya. 4) Skrining toksik dari serum dan urin 5) AGD 6) Kadar kalsium darah 7) Kadar natrium darah 8) Kadar magnesium darah 10. Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini mungkin setelah sadar . Perawatan awal 1) Letakan klien dalam posisi pemulihan 2) Periksa kondisi klien. c. kemudian tiap 30 menit jam berikutnya. segera kembalikan ke kamar bedah kemungkinan terjadi perdarahan pasca bedah b. Hari kedua post operasi. Penatalaksanaan a. berupa air putih dan air teh. Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 . Diet Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita platus lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Mobilisasi Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi : .10 jam pasca operasi.

. klien dianjurkan belajar duduk selama sehari.48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan keadaan penderita. Kateter biasanya terpasang 24 . tunggu bising usus timbul 3) Jika klien bisa flatus mulai berikan makanan padat 4) Pemberian infus diteruskan sampai klien bisa minum dengan baik e. angkat jahitan kulit dilakukan pada hari kelima pasca SC g. f. Perawatan fungsi kandung kemih 1) Jika urin jernih. Selanjutnya selama berturut-turut. kateter dilepas 8 jam setelah pembedahan atau sesudah semalam 2) Jika urin tidak jernih biarkan kateter terpasang sampai urin jernih 3) Jika terjadi perlukaan pada kandung kemih biarkan kateter terpasang sampai minimum 7 hari atau urin jernih. Pembalutan dan perawatan luka 1) Jika pada pembalut luka terjadi perdarahan atau keluar cairan tidak terlalu banyak jangan mengganti pembalut 2) Jika pembalut agak kendor . 4) Jika sudah tidak memakai antibiotika berikan nirofurantoin 100 mg per oral per hari sampai kateter dilepas 5) Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada penderita. jangan ganti pembalut. belajar berjalan. tapi beri plester untuk mengencangkan 3) Ganti pembalut dengan cara steril 4) Luka harus dijaga agar tetap kering dan bersih 5) Jahitan fasia adalah utama dalam bedah abdomen. Fungsi gastrointestinal 1) Jika tindakan tidak berat beri klien diit cair 2) Jika ada tanda infeksi . menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. d. dan kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi. Jika masih terdapat perdarahan 1) Lakukan masase uterus . hari demi hari.

Anastesi local : cara yang paling aman tidak mempengaruhi janin dan klien . ergometrin 0. Obat-obatan lain Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat diberikan caboransia seperti neurobian I vit. 6) Perhatikan jenis anastesi yang diberikan: .V.V. setiap 6 jam 2) Ditambah gentamisin 5 mg/kg berat badan I.V. Anastesi umum : mempunyai pengaruh pada pusat pernafasan janin .2 mg I. (garam fisiologik atau RL) 60 tetes/menit. 2) Beri oksitosin 10 unit dalam 500 ml cairan I. setiap 8 jam 3) Ditambah metronidazol 500 mg I.M. Pemberian Antibiotik 1) Ampisilin 2 g I. 4) Diusahakan agar penderita tidak batuk atau menangis. setiap 8 jam i. 3) Klien dibaringkan dengan posisi semi fowler (berbaring dengan lutut ditekuk) agar diding abdomen tidak tegang. Analgesik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan 1) Pemberian analgesia sesudah bedah sangat penting 2) Supositoria = ketopropen sup 2x/ 24 jam 3) Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol 4) Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu j.V. Hal – Hal lain yang perlu diperhatikan 1) Paska bedah penderita dirawat dan diobservasi kemungkinan komplikasi berupa perdarahan dan hematoma pada daerah operasi 2) Pasca operasi perlu dilakukan drainase untuk mencegah terjadinya hematoma. 5) Lakukan perawatan luka untuk mencegah terjadinya infeksi. Anastesi Spiral : baik buat janin tapi tekanan darah klien dapat menurun . C k. dan prostaglandin h.

Riwayat kehamilan. - B. keadaan umum tanda vital. status perkawinan. yang mengirim. maksudnya apakah klien pernah mengalami penyakit yang sama (plasenta previa) iii. ruang rawat. umur. alasan masuk. pendidikan. alamat. dan perawatan serta kurangnya mrnjaga kebersihan tubuhnya akan menimbulkan masalah dalam perawatan dirinya 2) Pola Nutrisi dan Metabolisme Pada klien nifas biasanaya terjadi peningkatan nafsu makan karena dari keinginan untuk menyusui bayinya. Pengkajian fokus a. dan cara pencegahan. e. ii. Riwayat kesehatan sekarang Meliputi keluhan atau yang berhubungan dengan gangguan atau penyakit yang dirasakan saat ini dan keluhan yang dirasakan setelah klien operasi. pekerjaan. Keluhan utama c. persalinan. Konsep Asuhan Keperawatan 1. Riwayat kesehatan dahulu Meliputi penyakit lain yang dapat mempengaruhi penyakit sekarang. b. diagnosa medik. penanganan. Riwayat kesehatan keluarga Meliputi penyakit yang diderita klien dan apakah keluarga klien ada juga mempunyai riwayat persalinan yang sama (plasenta previa). Pola-pola fungsi kesehatan 1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat Karena kurangnya pengetahuan klien tentang ketuban pecah dini. Pola-pola fungsi kesehatan f. suku bangsa. dan nifas sebelumnya bagi kien multipara d. agama. Data riwayat penyakit i. . nomor medical record. Identitas klien dan penanggung jawab Meliputi nama. cara masuk.

5) Istirahat dan tidur Pada klien nifas terjadi perubagan pada pola istirahat dan tidur karena adanya kehadiran sang bayi dan nyeri epis setelah persalinan 6) Pola hubungan dan peran Peran klien dalam keluarga meliputi hubungan klien dengan keluarga dan orang lain. 7) Pola penagulangan stres Biasanya klien sering melamun dan merasa cemas 8) Pola sensori dan kognitif Pola sensori klien merasakan nyeri pada prineum akibat luka jahitan dan nyeri perut akibat involusi uteri (pengecilan uteri oleh kontraksi uteri). 4) Pola eleminasi Pada klien postpartum sering terjadi adanya perasaan sering / susah kencing selama masa nifas yang ditimbulkan karena terjadinya odema. pada klien nifas didapatkan keterbatasan aktivitas karena mengalami kelemahan dan nyeri. . tidak membutuhkan tenaga banyak.3) Pola aktifitas Pada klien pos partum klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya. lebih- lebih menjelang persalinan dampak psikologis klien terjadi perubahan konsep diri antara lain dan body image dan ideal diri 10) Pola reproduksi dan sosial Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual atau fungsi dari seksual yang tidak adekuat karena adanya proses persalinan dan nifas. yang menimbulkan infeksi dari uretra sehingga sering terjadi konstipasi karena penderita takut untuk melakukan BAB. terbatas pada aktifitas ringan. pada pola kognitif klien nifas primipara terjadi kurangnya pengetahuan merawat bayinya 9) Pola persepsi dan konsep diri Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan kehamilanya. cepat lelah.

dan kadang-kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena proses persalinan yang mengalami perdarahan. bagaimana kebersihanya. adanya hemoroid. gerakan dada. Fundus uteri 3 jari dibawa pusat. bunyi jantung apakah ada bisisng usus atau tiak ada. kontribusi rambut. sklera kunuing. adanya hiperpigmentasi areola mamae dan papila mamae 7) Abdomen Pada klien nifas abdomen kendor kadang-kadang striae masih terasa nyeri. 5) Leher Pembesaran kelenjar limfe dan tiroid. Terdapat adanya pembesaran payudara. kebersihan kepala. pengeluaran air ketuban.g. 6) Dada dan payudara Bentuk dada simetris. 8) Ginetelia Pengeluaran darah campur lendir. . konjungtiva. adanya abstensi vena jugularis. 3) Telinga Biasanya bentuk telinga simetris atau tidak. bila terdapat pengeluaran mekomium yaitu feses yang dibentuk anak dalam kandungan menandakan adanya kelainan letak anak. dan apakah ada benjolan. 9) Anus Kadang-kadang pada klien nifas ada luka pada anus karena ruptur. kadang-kadang terdapat adanya cloasma gravidarum. Pemeriksaan Fisik 1) Kepala Bagaimana bentuk kepala. 4) Hidung Adanya polip atau tidak dan apabila pada post partum kadang-kadang ditemukan pernapasan cuping hidung. ada atau tidak adanya edem. 2) Mata Terkadang adanya pembengkakan paka kelopak mata. adakah cairan yang keluar dari telinga. warna rambut.

pernafasan meningkat. nadi cepat. 2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri pada abdomen post operasi SC d. Nyeri akut berhubungan dengan pelepasan mediator nyeri (histamin. Cemas berhubungan dengan koping yang tidak efektif . 11) Tanda-tanda vital Apabila terjadi perdarahan pada pos partum tekanan darah turun. Resiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi c. 10) Ekstermitas Pemeriksaan odema untuk melihat kelainan-kelainan karena membesarnya uterus. karenan preeklamsia atau karena penyakit jantung atau ginjal. suhu tubuh turun. prostaglandin) akibat trauma jaringan dalam pembedahan (section caesarea) b. Diagnosa keperawatan yang sering muncul a.

kemampuan klien untuk . pembedahan (section berkurang yang menghasilkan 2) Tingkat toleransi ansietas adalah caesarea) . Nyeri akut berhubungan Tujuan: Klien akan 1) Kaji lokasi. tergantung pada trauma jaringan dalam dan tegang di perutnya 2) Hilangkan factor-faktor indikasi terhadap prosedur. Rencana Tindakan DIAGNOSA NO TUJUAN TINDAKAN RASIONAL KEPERAWATAN 1. kehilangan individual dan dipengaruhi oleh – 10 ) control). tegang. Skala nyeri 0-1 ( dari 0 ansietas (mis. Suhu : 36.3. Ansietas . 3) Dapat membantu dalam reduksi . Mengungkapkan nyeri sesaris. Kooperatif dengan 3) Instruksikan teknik takut. ketidaknyamanan karena rasa . dan berlebihan pada respon terhadap tindakan untuk anjurkan keberadaan situasi darurat dapat meningkatkan mengurangi nyeri pasangan. sifat dan 1) Menandakan ketepatan pilihan dengan pelepasan mengungkapkan durasi nyeri. normal . TTV dalam batas Gunakan sentuhan mengatasi. khususnya tindakan. ketidaknyamanan. Klien yang menunggu mediator nyeri penurunan nyeri. terapeutik. Kriteria saat berhubungan dengan kelahiran sesaria iminen dapat (histamin. berikan berbagai faktor. hasil: indikasi kelahiran mengalami berbagai derajat prostaglandin) akibat . dan nyeri yang tindakan yang relaksasi. posisikan saling berhubungan dan merubah dilakukan senyaman mungkin. Dapat melakukan informasi akurat.

37°C. RR : 18. 20x/menit. Kriteria hasil luka post operasi : . meningkatkan kenyamanan. Nadi : 80- 100 x/menit 2. Resiko infeksi Tujuan : Tidak ada tanda- berhubungan dengan tanda infeksi. TD : 120/80 ansietas dan ketegangan dan mmHg.