You are on page 1of 22

REFERAT DESEMBER 2015

INTERPRETASI PEMERIKSAAN
DARAH RUTIN

NAMA : BULAN PUTRI PERTIWI
STAMBUK : N 111 15 013
PEMBIMBING : dr. SULDIAH, Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA
PALU
2015

1
BAB I
PENDAHULUAN

Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup, mulai dari binatang
primitive sampai manusia. Dalam keadaan fisiologik, darah selalu berada dalam
pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai: (1) pembawa
oksigen (oxygen carrier); (2) mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi; dan
(3) mekanisme hemostasis. Darah terdiri atas 2 komponen utama: (1) plasma
darah: bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit, dan protein
darah dan (2) butir-butir darah (blood corpuscles), yang terdiri atas eritrosit (sel
darah merah), leukosit (sel darah putih) serta trombosit (platelet).1

Pemeriksaan laboratorium diperlukan sebagai salah satu penunjang untuk
mengetahui penyebab timbulnya suatu penyakit. Karena itu pemeriksaan
laboratorium berperan penting dalam menentukkan diagnosa klinis, salah satu
pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan adalah pemeriksaan hematologi.2

Pemeriksaan laboratorium rutin dilakukan untuk mendapatkan informasi
yang berguna bagi dokter dalam mengambil keputusan klinik. Hasil pemeriksaan
laboratorium merupakan informasi yang berharga untuk membedakan diagnosis,
mengkonfirmasi diagnosis, menilai status klinik pasien, mengevaluasi efektivitas
terapi dan munculnya reaksi obat yang tidak diinginkan. Hasil pemeriksaan
laboratorium dapat dipengaruhi oleh banyak faktor terdiri atas faktor terkait
pasien atau laboratorium. Faktor yang terkait pasien antara lain: umur, jenis
kelamin, ras, genetik, tinggi badan, berat badan, kondisi klinik, status nutrisi dan
penggunaan obat. Sedangkan yang terkait laboratorium antara lain: cara
pengambilan spesimen, penanganan spesimen, waktu pengambilan, metode
analisis, kualitas spesimen, jenis alat dan teknik pengukuran. Pemeriksaan
hematologi rutin terdiri dari hematokrit, hemoglobin, eritrosit dan indeks eritrosit,
leukosit, hitung jenis leukosit, trombosit, retikulosit serta laju endap darah.3

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemeriksaan Hematokrit

Hematokrit (Hct) adalah volume (dalam mililiter) sel darah merah (SDM)
yang ditemukan di dalam 100 ml (1 dl) darah, dihitung dalam persentase. Sebagai
contoh, hematokrit sebesar 36% mengindikasikan terdapatnya 36 ml SDM di
dalam 100 ml darah, atau dinyatakan dengan 36 vol/dl. Tujuan dilakukannya uji
ini adalah mengukur konsentrasi SDM (eritrosit) di dalam darah. 2
Kadar hematokrit yang rendah sering ditemukan pada kasus anemia dan
leukemia, dan peningkatan kadar ditemukan pada dehidrasi (suatu peningkatan
relatif) dan pada polisitemia vera. Hematokrit dapat menjadi indikator keadaan
hidrasi pada pasien. Seperti halnya hemoglobin, peningkatan kadar hematokrit
dapat mengindikasikan hemokonsentrasi, akibat penurunan volume cairan dan
peningkatan SDM. 2
a. Nilai Rujukan2
1) Dewasa
a) Pria : 40 – 54% / 0,40 – 0,54 (satuan SI).
b) Wanita : 36 – 46% / 0,36 – 0,46 (satuan SI).
c) Nilai panik : <15% dan >60%.
2) Anak
a) Bayi baru lahir : 44 – 65%
b) Usia 1 sampai 3 tahun : 29 – 40%
c) Usia 4 sampai 10 tahun: 31 – 43%
b. Masalah Klinis
1) Penurunan Kadar
Kehilangan darah akut, anemia (aplastic, hemolitik, defisiensi asam folat,
pernisiosa, sideroblastik, sel sabit), leukemia (limfositik, mielositi,
monositik), penyakit Hodgkin, limfosarkoma, malignansi organ, myeloma
multipel, sirosis hati, malnutrisi protein, defisiensi vitamin (tiamin,

3
vitamin C), fistula lambung atau duodenum, ulkus peptikum, gagal ginjal
kronis, kehamilan, SLE, arthritis rheumatoid (terutama anak-anak).
Pengaruh obat: obat antineoplastik, antibiotik (kloramfenikol, penisilin),
obat radioaktif. 2
2) Peningkatan Kadar
Dehidrasi/hipovolemia, diare berat, polisitemia vera, eritrositosis, diabetes
asidosis, emfisema pulmonary (dalam tahap akhir), iskemia serebrum
sementara, eclampsia, pembedahan dan luka bakar. 2
c. Faktor yang Mempengaruhi Temuan Laboratorium
1) Jika darah diambil dari ekstremitas yang terpasang jalur IV, nilai
hematokrit cenderung rendah. Oleh sebab itu, hindari penggunaan
ekstremitas tersebut.
2) Jika darah diambil untuk tujuan pemantauan hematokrit, segera setelah
pengeluaran darah tahap sedang ke berat terjadi dan setelah pemberian
transfusi, hematokrit mungkin berkadar normal.
3) Usia pasien, bayi baru lahir normalnya memiliki kadar hematokrit yang
lebih tinggi karena terjadi hemokonsentrasi. 2

2.2 Pemeriksaan Hemoglobin

Hemoglobin (Hb) merupakan zat protein yang ditemukan dalam sel darah
merah (SDM), yang memberi warna merah pada darah. Hemoglobin terdiri atas
zat besi yang merupakan pembawa oksigen. Kadar hemoglobin yang tinggi
abnormal terjadi karena keadaan hemokonsentrasi akibat dari dehidrasi
(kehilangan cairan). Kadar hemoglobin yang rendah berkaitan dengan berbagai
masalah klinis. 2
Jumlah SDM dan kadar hemoglobin tidak selalu meningkat atau menurun
bersamaan. Sebagai contoh, penurunan jumlah SDM disertai kadar hemoglobin
yang sedikit meningkat atau normal terjadi pada kasus anemia pernisiosa, serta
kadar SDM yang sedikit meningkat atau normal disertai dengan kadan
hemoglobin yang menurun, terjadi pada anemia defisiensi zat besi (mikrositik). 2

4
a. Nilai Rujukan2
1) Dewasa
a) Pria :13,5 – 17 g/dl
b) Wanita : 12 – 15 g/dl
2) Anak
a) Bayi baru lahir : 14 – 24 g/dl
b) Bayi : 10 – 17 g/dl
c) Anak : 11 – 16 g/dl
b. Masalah Klinis
1) Penurunan Kadar
Anemia (defisiensi zat besi, aplastik, hemolitik), perdarahan hebat, sirosis
hati, leukemia, penyakit Hodgkin, sarkoidosis, kelebihan cairan IV, kanker
(usus besar dan usus halus, rectum, hati, tulang), thalassemia mayor,
kehamilan, penyakit ginjal. Pengaruh obat: antibiotik (chloramphenicol
(chloromycetin), penicillin, tetrasiklin), aspirin, obat antineoplastic,
doksapram, derivate hidantoin, hidralazin, indometasin, primakuin,
rifampin, sulfonamide, trimetadion, vitamin A (dosis besar). 2
2) Peningkatan Kadar
Dehidrasi/hemokonsentrasi, polisitemia, daerah daratan tinggi, CHF, luka
bakar yang parah. Pengaruh obat: gentamisin dan metildopa (aldomet). 2
c. Faktor yang Mempengaruhi Temuan Laboratorium
1) Obat dapat meningkatkan atau menurunkan kadar hemoglobin.
2) Mengambil darah dari tangan atau lengan yang terpasang cairan IV, dapat
melarutkan sampel darah.
3) Membiarkan tourniquet terpasang lebih dari satu menit akan menyebabkan
hemostasis, yang dapat menyebabkan temuan palsu kadar hemoglobin.
4) Tinggal di dataran tinggi dapat menyebabkan peningkatan kadar
hemoglobin.
5) Penurunan asupan cairan atau kehilangan cairan akan meningkatkan kadar
hemoglobin akibat hemokonsentrasi, dan kelebihan asupan cairan akan
mengurangi kadar hemoglobin akibat hemodilusi. 2

5
2.3 Pemeriksaan Indeks Sel Darah Merah (MCV, MCH, MCHC, RDW)

Indeks sel darah merah meliputi hitung SDM, ukuran SDM (MCV: mean
corpuscular volume/volume korpuskular rerata), berat SDM (MCH: mean
corpuscular hemoglobin/hemoglobin korpuskular rerata), konsentrasi hemoglobin
(MCHC: mean corpuscular hemoglobin concentration/konsentrasi hemoglobin
korpuskular rerata), dan perbedaan ukuran (RDW: RBC distribution width/luas
distribusi SDM). Istilah lain untuk indeks SDM adalah indeks eritrosit serta
indeks korpuskular. Untuk mengidentifikasi jenis anemia, pemberi layanan
kesehatan memerlukan data uji indeks SDM berikut ini: 2
 MCV (mean corpuscular hemoglobin)
MCV mengindikasikan ukuran SDM: mikrositik (ukuran kecil), normositik
(ukuran normal), dan makrositik (ukuran besar). Penurunan MCV, atau
mikrosit, dapat menjadi indikasi terjadinya anemia defisiensi zat besi dan
talasemia. Contoh kasus hasil MCV meningkat atau makrositosis adalah
anemia pernisiosa dan anemia asam folat. Kadar MCV dapat dihitung jika
hitung SDM dan hematokrit (Ht) diketahui.
Ht x 10
𝑀𝐶𝑉 =
Hitung SDM
 MCH (mean corpuscular hemoglobin)
MCH mengindikasikan berat hemoglobin di dalam SDM, tanpa memerhatikan
ukurannya. Pada anemia makrositik, nilai MCH meningkat, dan pada anemia
hipokromik, nilainya menurun. Nilai MCH diperoleh dengan cara mengalikan
hemoglobin (Hb) sebanyak 10 kali, lalu membaginya dengan hitung SDM.
Hb x 10
𝑀𝐶𝐻 =
Hitung SDM
 MCHC (mean corpuscular hemoglobin concentration)
MCHC mengindikasikan konsentrasi hemoglobin per unit volume SDM.
Penurunan nilai MCHC dapat mengindikasikan adanya anemia hipokromik.
Nilai MCHC dapat dihitung dari nilai MCH dan nilai MCV atau dari
hemoglobin dan hematokrit.

6
MCH x 100 Hb x 100
𝑀𝐶𝐻𝐶 = atau 𝑀𝐶𝐻𝐶 =
MCV Ht

 RDW (RBC distribution width)
RDW adalah perbedaan ukuran (luas) dari SDM. RDW adalah pengukuran
luas kurva distribusi ukuran kurva pada histogram. Nilai RDW berguna untuk
memperkirakan terjadinya anemia dini, sebelum nilai MCV berubah dan
sebelum terjadi tanda dan gejala. Peningkatan nilai RDW mengindikasikan
anemia defisiensi zat besi, defisiensi asam folat, dan defisiensi vitamin B12.
Nilai RDW dan MCV digunakan untuk membedakan berbagai gangguan SDM
pada tabel berikut: 2
Gangguan SDM RDW MCV
Defisiensi faktor dini (zat besi, folat, vitamin B12) Tinggi Normal
Anemia defisiensi zat besi Tinggi Rendah
Anemia defisiensi asam folat Tinggi Tinggi
Defisiensi vitamin B12 (anemia pernisiosa) Tinggi Tinggi
Hemolisis (fragmentasi SDM) Tinggi Rendah
Anemia hemolisis (autoimun) Tinggi Tinggi
Anemia sel sabit Tinggi Normal
Sifat sel sabit Tinggi Normal

7
a. Nilai Rujukan2
Dewasa Bayi Baru Lahir Anak
Hitung SDM Pria: 4,6 – 6,0 4,8 – 7,2 3,8 – 5,5
(juta/uL x 1012/I Wanita: 4,0 – 5,0 4,8 – 7,2 x1012L 3,8 – 5,5 x1012L
[unit SI]) 4,6 – 6,0 x 1012L
MCV (um3
[konvensional] atau 80 – 98 96 – 108 82 – 92
fl [satuan SI])
MCH (pg
[konvensional dan 27 – 31 32 – 34 27 – 31
satuan SI])
MCHC (% atau g/dl
32% - 36% 32% - 33% 32% - 36%
[konvensional] atau
0,32 – 0,36 0,32 – 0,33 0,32 – 0,36
satuan SI)
RDW (coulter S) 11,5 – 14,5

b. Masalah Klinis2
Indeks Penurunan Nilai Peningkatan Nilai
Hitung  Perdarahan (kehilangan  Polisitemia vera
SDM
darah)  Hemokonsentrasi/dehidrasi
 Anemia  Dataran tinggi
 Infeksi kronis  Cor pulmonal
 Leukemia  Penyakit kardiovaskular
 Mieloma multiple
 Cairan per intravena
berlebih
 Gagal ginjal kronis
 Kehamilan
 Hidrasi berlebihan
MCV  Anemia mikrositik:  Anemia makrositik: aplastic,
defisiensi zat besi hemolitik, pernisiosa
 Malignansi  Penyakit hati kronis
 Artritis rheumatoid  Hipotiroidisme (miksedema)
 Hemoglobinopati  Pengaruh obat (defisiensi
 Thalasemia vitamin B12, antikonvulsan,
 Anemia sel sabit antimetabolik)

8
 Hemoglobin C
 Keracunan timbal
 Radiasi
MCH Anemia mikrositik Anemia makrositik
hipokromik
MCHC  Anemia hipokromik
 Anemia defisiensi zat
besi
 Thalasemia
RDW  Anemia defisiensi zat besi
 Anemia defisiensi asam folat
 Anemia pernisiosa
 Homozigos
(hemoglobinopati S, C, H)

c. Faktor yang Mempengaruhi Temuan Laboratorium
Obat (lihat tabel masalah klinis). 2

2.4 Pemeriksaan Total Sel Darah Putih (Leukosit)
Sel darah putih atau leukosit dibagi menjadi dua kelompok: leukosit
polimorfonuklear (neutrofil, eosinofil, dan basophil) dan leukosit mononuclear
(monosit dan limfosit). Leukosit merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh;
sel ini berespons dengan cepat terhadap benda asing yang masuk dengan cara
bergerak kea rah sisi organ yang mengalami gangguan. Peningkatan leukosit
disebut sebagai leukositosis, dan penurunan leukosit disebut leukopenia. 2
a. Nilai Rujukan2
1) Dewasa
Jumlah total leukosit: 4.500 – 10.000 uL (mm3).
2) Anak
a) Bayi baru lahir : 9.000 – 30.000 uL
b) Usia 2 tahun : 6.000 – 17.000 uL
c) Usia 10 tahun: 4.500 – 13.500 uL

9
b. Masalah Klinis
1) Penurunan Kadar
Penyakit hematopoietic (anemia aplastic, anemia pernisiosa,
hipersplenisme, penyakit Gaucher), infeksi virus, malaria, agranulositosis,
alkoholisme, SLE, artritis rheumatoid. Pengaruh obat: antibiotik (penisilin,
sefalotin, kloramfenikol), asetaminofen, sulfonamide, propiltiurasil,
barbiturate, agens kemoterapi kanker, diazepam (valium), diuretic
(furosemide), klordiazepoksid, agens hipoglikemik oral, indomethacin,
metildopa, rifampin, fenotiazin. 2
2) Peningkatan Kadar
Infeksi akut (pneumonia, meningitis, apendisitis, kolitis, peritonitis,
pankreatitis, pielonefritis, tuberculosis, tonsillitis, diverticulitis,
septicemia, demam reumatik), nekrosis jaringan (infark miokardial, sirosis
hati, luka bakar, kanker organ, emfisema, ulkus peptikum), leukemia,
penyakit kolagen, anemia hemolitik dan sel sabit, penyakit parasitik, stress
(pembedahan, demam, kekacauan emosional yang berlangsung lama).
Pengaruh obat: aspirin, heparin, digitalis, epinefrin, litium, histamin,
antibiotik (ampisilin, eritromisin, kanamisin, metisilin, tetrasiklin,
vankomisin, streptomisin), senyawa emas, prokainamid (Pronestyl),
triamterene (Dyrenium), allopurinol, kalium iodida, derivative hidantoin,
sulfonamide (aksi lama). 2
c. Faktor yang Mempengaruhi Temuan Laboratorium
1) Obat yang dapat meningkatkan atau menurunkan hitung SDP.
2) Waktu pengambilan sampel darah. Hitung SDP lebih rendah di pagi hari
daripada di siang hari.
3) Usia individu. Anak dapat memiliki hitung SDP tinggi, terutama selama
usia 5 tahun pertama. 2

10
2.5 Pemeriksaan Hitung Jenis Sel Darah Putih (Leukosit)

Hitung jenis sel darah putih merupakan bagian dari pemeriksaan hitung
darah lengkap (CBC), terdiri atas lima jenis SDP (leukosit): neutrofil, eosinofil,
basofil, monosit dan limfosit. Hitung jenis SDP dinyatakan dalam milimeter kubik
(mm3, uL) dan persen jumlah total SDP. Neutrofil dan limfosit membentuk 80%
sampai 90% dari SDP total. Hitung jenis SDP memberikan informasi yang lebih
spesifik tentang infeksi dan proses penyakit. 2
 Neutrofil
Neutrofil adalah yang paling banyak terdapat dalam sirkulasi SDP, dan
berespons lebih cepat terhadap inflamasi dan sisi cedera jaringan daripada
jenis SDP yang lainnya. Selama infeksi akut, neutrofil merupakan garis depan
pertahanan tubuh. Segmen adalah neutrofil yang matur, sedangkan batang
adalah neutrofil yang imatur yang dapat bermultiplikasi dengan cepat selama
infeksi akut.
 Eosinofil
Hitung eosinophil meningkat selama alergi dan saat penyakit yang disebabkan
oleh parasitic. Bersamaan dengan peningkatan steroid, baik yang diproduksi
oleh kelenjar adrenal selama stress maupun yang diberikan per oral atau
injeksi, jumlah eosinofil mengalami penurunan.
 Basofil
Hitung basophil meningkat selama proses penyembuhan. Pada peningkatan
steroid, hitung basofil akan menurun.
 Monosit
Monosit adalah pertahanan baris kedua terhadap infeksi bakteri dan benda
asing. Sel ini lebih kuat daripada neutrofil dan dapat mengonsumsi partikel
debris yang lebih besar. Monosit berespons lambat selama fase infeksi akut
dan proses inflamasi, dan terus berfungsi selama fase kronis dari fagosit.
 Limfosit
Peningkatan jumlah limfosit (limfositosis) terjadi pada infeksi kronis dan
virus. Limfositosis berat umumnya disebabkan oleh leukemia limfositis

11
kronis. Limfosit berperan penting dalam sistem respons imun sebagai limfosit
B dan limfosit T. Seperti eosinofil, limfosit mengalami penurunan jumlah
selama terjadinya sekresi hormon adenokortikal atau pemberian terapi steroid
yang berlebih. 2

a. Nilai Rujukan2
Nilai Hitung Jenis Leukosit
Jenis SDP Dewasa Anak
% uL (mm3) Sama dengan dewasa, kecuali
Neutrofil (total) 50 – 70 2500 – 7000 Bayi baru lahir: 61%
Segmen 50 – 65 2500 – 6500 Usia 1 tahun : 32%
Batang 0-5 0 – 500
Eosinofil 1–3 100 – 300
Basofil 0,4 – 1,0 40 – 100
Monosit 4–6 200 – 600 Usia 1 sampai 12 tahun: 4 - 9%
Limfosit 25 – 35 1700 – 3500 Bayi baru lahir: 34%
Usia 1 tahun : 60%
Usia 6 tahun : 42%
Usia 12 tahun: 38%

b. Masalah Klinis2
1) Penurunan Kadar
 Neutrofil : penyakit virus, leukemia (limfositik dan monositik),
agranulositosis, anemia defisiensi zat besi dan anemia aplastic.
Pengaruh obat: terapi antibiotik, agens imunosupresif.
 Eosinofil: stres: luka bakar, syok; hiperfungsi adrenokortikal. Pengaruh
obat: kortison, ACTH.
 Basofil: stres, reaksi hipersensitivitas, kehamilan, hipertiroidisme.
 Monosit: leukemia limfositik, anemia aplastik.

12
 Limfosit: kanker, leukemia, hiperfungsi adrenokortikal,
agranulositosis, anemia aplastik, sclerosis multipel, gagal ginjal,
sindrom nefrotik, dan SLE.
2) Peningkatan Kadar
 Neutrofil: infeksi akut (lokal dan sistemik), penyakit inflamasi (artritis
rheumatoid, gout, pneumonia), kerusakan jaringan (infark miokardial
akut, luka bakar, cedera tabrakan, pembedahan), penyakit Hodgkin,
leukemia mielositik, penyakit hemolitik pada bayi baru lahir,
kolesistitis akut, appendisitis akut, pankreatitis akut. Pengaruh obat:
epinefrin, digitalis, heparin, sulfonamid, litium, kortison, ACTH.
 Eosinofil: alergi, penyakit parasitik, kanker (tulang, ovarium, testis,
otak), flebitis, tromboflebitis, asma, emfisema, penyakit ginjal (gagal
ginjal, sindrom nefrotik).
 Basofil: proses inflamasi, leukemia, tahap penyembuhan infeksi atau
inflamasi, anemia hemolitik didapat.
 Monosit: penyakit virus (mononucleosis infeksius, parotitis, herpes
zoster), penyakit parasitic (demam bitnik Rocky Mountain,
toksoplasmosis, bruselosis), leukemia monositik, kanker (esophagus,
lambung, kolon, hati, tulang, prostat, uterus, otak, kandung kemih),
anemia (sel sabit, hemolitik), penyakit kolagen (SLE), artritis
rheumatoid, kolitis ulseratif.
 Limfosit: leukemia limfositik, infeksi virus (mononucleosis infeksius,
hepatitis, parotitis, rubella, pneumonia virus, pertusis), infeksi kronis,
penyakit Hodgkin, mieloma multipel, hipofungsi adrenokortikal. 2
c. Faktor yang Mempengaruhi Temuan Laboratorium
1) Steroid dapat menurunkan nilai eosinophil dan limfosit.
2) Obat tertentu dapat meningkatkan atau menurunkan kadar dalam darah
(lihat pengaruh obat). 2

13
2.6 Pemeriksaan Trombosit/Platelet

Trombosit merupakan unsur dasar di dalam darah yang dapat
meningkatkan proses koagulasi. Bentuk trombosit jauh lebih kecil daripada
eritrosit. Trombosit bergerombol dan lengket pada permukaan yang kasar serta di
daerah yang mengalami cedera, saat diperlukan proses koagulasi darah.
Penurunan trombosit yang bersirkulasi sebanyak <50% nilai normal akan
menyebabkan perdarahan; jika penurunan tersebut termasuk kategori berat
(50.000 uL), hemoragi dapat terjadi. 2
Trombositopenia berarti defisiensi trombosit atau hitung trombosit yang
rendah. Biasanya, keadaan tersebut berkaitan dengan leukemia, anemia aplastik
dan ITP. Peningkatan jumlah trombosit (trombositosis) terjadi pada polisitemia,
pada fraktur, dan setelah splenektomi. 2
a. Nilai Rujukan2
1) Dewasa : 150.000 – 400.000 uL (nilai rata-rata 250.000 uL), 0,15 – 0,4 x
1012/L (satuan SI).
2) Anak:
a) Prematur: 100.000 – 300.000 uL.
b) Baru lahir: 150.000 – 300.000 uL.
c) Bayi: 200.000 – 475.000 uL (mm3 atau K/uL dapat digunakan untuk
uL).
b. Masalah Klinis
1) Penurunan Kadar
ITP, mieloma multipel, kanker (tulang, saluran gastrointestinal, otak),
leukemia (limfositik, mielositik, monositik), anemia (aplastik, defisiensi
zat besi, pernisiosa, defisiensi asam folat, sel sabit), penyakit hati (sirosis,
hepatitis aktif kronis), SLE, DIC, penyakit ginjal, eklamsia, demam
reumatik akut. Pengaruh obat: antibiotik (kloromisetin, streptomisin),
sulfonamid, aspirin (salisilat), quinidin, quinin, asetazolamid, amidopirin,
diuretik tiazid, meprobomat, fenilbutazon, tolbutamid, injeksi vaksin,
agens kemoterapeutik. 2

14
2) Peningkatan Kadar
Polisitemia vera, trauma (pembedahan, fraktur), pasca splenektomi,
kehilangan darah akut (memuncak pada 7 sampai 10 hari), karsinoma
metastatic, embolisme pulmonary, dataran tinggi, tuberculosis,
retikulositosis, latihan fisik berat. Pengaruh obat: epinefrin (adrenalin). 2
c. Faktor yang Mempengaruhi Temuan Laboratorium
1) Kemoterapi dan terapi sinar X dapat menyebabkan penurunan hitung
trombosit.
2) Obat (lihat pengaruh obat). 2

2.7 Pemeriksaan Retikulosit

Hitung retikulosit merupakan indikator aktivitas sumsum tulang, dan
digunakan untuk mendiagnosis anemia. Retikulosit merupakan sel darah merah
imatur, dan tidak bernukleasi, yang dibentuk di sumsum tulang dan di edarkan ke
sirkulasi. Normalnya, terdapat sedikit retikulosit di dalam sirkulasi; namun
demikian, bila terjadi peningkatan hitung retikulosit, hal ini menunjukkan
akselerasi produksi SDM. Peningkatan hitung tersebut dapat terjadi akibat
perdarahan, atau hemolysis, atau pengobatan terhadap anemia defisiensi zat besi,
defisiensi vitamin B12, atau anemia defisiensi asam folat. Uji ini juga dilakukan
pada pekerja yang kesehariannya berhubungan dengan bahan radioaktif atau
individu yang sedang menerima radioterapi. Hitung retikulosit rendah terus-
menerus dapat mengindikasikan keadaan hipofungsi sumsum tulang atau anemia
aplastik. 2
Penyajian hasil dalam bentuk presentasi tidak selalu menjadi cara yang
paling akurat untuk menunjukkan hitung retikulosit, terutama jika dihitung total
SDM (eritrosit) tidak berada dalam kisaran normal. Oleh sebab itu, nilai hitung
SDM dan retikulosit harus dilaporkan. 2
Hitung retikulosit = retikulosit (%) x hitung SDM

15
a. Nilai Rujukan2
1) Dewasa : 0,5% – 1,5% dari semua SDM, 25.000 – 75.000 uL.
2) Anak:
a) Bayi baru lahir : 2,5% - 6,5% dari semua SDM.
b) Bayi: 0,5% - 3,5% dari semua SDM.
c) Anak: 0,5% - 2,0% dari semua SDM.
b. Masalah Klinis
1) Penurunan Kadar
Anemia (pernisiosa, defisiensi asam folat, aplastik), terapi radiasi, efek
radiasi sinar X, hipofungsi adrenokortikal, hipofungsi hipofisis anterior,
sirosis hati (alkohol menyupresi retikulosit). 2
2) Peningkatan Kadar
Anemia (hemolitik, sel sabit), thalassemia mayor, perdarahan kronis,
pascaperdarahan (3 sampai 4 hari), pengobatan anemia (defisiensi zat besi,
vitamin B12, asam folat), leukemia, eritroblastosis fetalis (penyakit
hemolitik pada bayi baru lahir), penyakit hemoglobin C dan D,
kehamilan.2
c. Faktor yang Mempengaruhi Temuan Laboratorium
Penggunaan tabung dengan warna yang salah untuk pengumpulan darah vena.
Tabung harus mengandung antikoagulan (EDTA). 2

2.8 Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED)

Laju endap darah (erythrocyte sedimentation rate, ESR) (juga disebut
sebagai laju sedimentasi atau laju endap darah, LED) adalah laju sel darah merah
menetap dalam darah yang belum membeku, dengan satuan milimeter per jam
(mm/jam). LED merupakan uji yang tidak spesifik. Laju dapat meningkat selama
proses inflamasi akut, infeksi akut dan kronis, kerusakan jaringan (nekrosis),
rheumatoid, penyakit kolagen, malignansi dan kondisi stres fisiologi (misalnya
kehamilan). Bagi sebagian ahli hematologi, nilai LED tidak andal karena ini

16
bukanlah uji spesifik, dan dipengaruhi oleh faktor fisiologis yang dapat
menyebabkan temuan yang tidak akurat.2
Uji protein C-reaktif (C-reactive Protein, CRP) dipertimbangkan lebih
berguna daripada LED karena kenaikan kadar CRP terjadi lebih cepat selama
proses inflamasi akut, dan lebih cepat juga kembali ke kadar normal daripada
LED. Namun, beberapa dokter masih mengharuskan uji LED bila ingin membuat
perhitungan kasar mengenai proses penyakit, dan bermanfaat untuk mengikuti
perjalanan penyakit. Jika kadar LED meningkat, uji laboratorium lain harus
dilakukan untuk mengidentifikasi dengan tepat masalah klinis yang muncul. 2
a. Nilai Rujukan2
1) Dewasa :
 Metode Westergen: Pria: <50 tahun: 0-15 mm/jam. Wanita: <50 tahun:
0-20 mm/jam. Pria: >50 tahun: 0-20 mm/jam. Wanita: >50 tahun: 0-30
mm/jam.
 Metode Wintrobe: Pria: 0-9 mm/jam. Wanita: 0-15 mm/jam.
2) Anak:
a) Bayi baru lahir : 0-2 mm/jam.
b) Anak 4 – 14 tahun: 0 – 10 mm/jam.
b. Masalah Klinis
1) Penurunan Kadar
Polisitemia vera, CHF, anemia sel sabit, mononukleosis infeksius,
defisiensi faktor V, artritis degenerative, angina pectoris. Pengaruh obat:
etambutol, kinin, salisilat (aspirin), kortison, prednison.2
2) Peningkatan Kadar
Artritis rheumatoid, demam reumatik, MCI akut, kanker (lambung, kolon,
payudara, hati, ginjal), penyakit Hodgkin, mieloma multipel,
limfosarkoma, endocarditis bacterial, gout, hepatitis, sirosis hati, penyakit
inflamasi panggul akut, sifilis, tuberculosis, glomerulonephritis, SLE,
penyakit hemolitik pada bayi baru lahir (eritroblastosis fetalis), kehamilan
(trimester kedua dan ketiga). Pengaruh obat: dextran, metildopa,
metilsergid, penisilamin, teofilin, kontrasepsi oral, dan vitamin A. 2

17
c. Faktor yang Mempengaruhi Temuan Laboratorium
1) Faktor yang meningkatkan LED: kehamilan (trimester kedua dan ketiga),
menstruasi, obat (lihat pengaruh obat), keberadaan kolesterol, fibrinogen,
dan globulin.
2) Faktor yang mengurangi LED: bayi baru lahir (penurunan kadar
fibrinogen), obat (lihat pengaruh obat), gula darah tinggi, albumin serum,
dan fosfolipid serum.2

2.9 Pemeriksaan I/T Ratio

Immature to Total Neutrophil Ratio (I/T Ratio) adalah salah satu
pemeriksaan, disamping pemeriksaan darah lengkap dan CRP, yang dapat
membantu diagnosis sepsis pada bayi baru lahir. Pemeriksaan ini seperti
pemeriksaan apusan darah biasa, yaitu dengan membuat apusan darah dengan
pengecatan Wright atau Giemsa yang digunakan dalam hitung jenis per 100
leukosit untuk menghitung dari masing-masing jenis leukosit. Perhitungan I/T
Ratio didapat dari pembagian jumlah neutrofil imatur oleh jumlah total seluruh
bentuk neutrofil.4
Yang dimaksud dengan neutrofil imatur adalah bentuk mieloblast,
metamielosit, mielosit dan promielosit sedangkan jumlah total neutrofil adalah
keseluruhan jumlah dari semua bentuk neutrofil baik imatur dengan segmen.
Adanya peningkatan I/T Ratio secara tidak langsung menunjukkan adanya shift to
the left dari sebaran hitung jenis leukosit. 4
Mieloblast + Metamielosit + Mielosit + Promielosit
I/T Ratio =
Segmen + Mieloblast + Metamielosit + Mielosit + Promielosit
Nilai normal dari I/T Ratio adalah <0,2. Nilai diatas 0,2 menunjukkan
kemungkinan adanya infeksi bakteri berat atau sepsis, tentunya ditunjang dengan
pemeriksaan yang lain baik itu pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan
laboratorium yang lain. 4
Pada keadaan sepsis, jumlah leukosit juga dapat meningkat sampai
puluhan ribu. Peningkatan cepat ini dipacu oleh adanya infeksi yang

18
menyebabkan pelepasan leukosit khususnya neutrofil dari sumsum tulang dan
juga oleh karena kontrol granulosit colony stimulating factor (GCSF) yang
dikeluarkan oleh limfosit dan monosit pada saat terjadi infeksi. 4

19
BAB III

KESIMPULAN

Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup. Dalam keadaan
fisiologik, darah selalu berada dalam pembuluh darah sehingga dapat menjalankan
fungsinya sebagai: (1) pembawa oksigen (oxygen carrier); (2) mekanisme
pertahanan tubuh terhadap infeksi; dan (3) mekanisme hemostasis. Pemeriksaan
laboratorium diperlukan sebagai salah satu penunjang untuk mengetahui penyebab
timbulnya suatu penyakit. Karena itu pemeriksaan laboratorium berperan penting
dalam menentukkan diagnosa klinis, salah satu pemeriksaan laboratorium yang
sering dilakukan adalah pemeriksaan hematologi.

Pemeriksaan laboratorium rutin dilakukan untuk mendapatkan informasi
yang berguna bagi dokter dalam mengambil keputusan klinik. Hasil pemeriksaan
laboratorium dapat dipengaruhi oleh banyak faktor terdiri atas faktor terkait
pasien atau laboratorium. Pemeriksaan hematologi rutin terdiri dari hematokrit,
hemoglobin, eritrosit dan indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC, RDW), leukosit,
hitung jenis leukosit (neutrofil, eosinofil, basofil, monosit dan limfosit), trombosit,
retikulosit dan laju endap darah (LED). Serta pemeriksaan I/T ratio yang berguna
untuk pemeriksaan penunjang dalam mendiagnosis kemungkinan adanya infeksi
bakteri berat/sepsis terutama pada bayi baru lahir.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. LeFever, J.K., 2008. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik.
Edisi 6. Jakarta: EGC.
2. Bakta, I.M., 2013. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta: EGC.
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011. Pedoman Interpretasi
Data Klinik. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
4. Richard et al., 2012. Management of Neonates With Suspected or Proven
Early-Onset Bacterial Sepsis. American Academy of Pediatrics. Online:
<www.pediatrics.org/cgi/doi/10.1542/peds2012-0541>. [Diakses pada 29
Desember 2015].

21
REFERAT DESEMBER 2015

INTERPRETASI PEMERIKSAAN
DARAH RUTIN

NAMA : BULAN PUTRI PERTIWI
STAMBUK : N 111 15 013
PEMBIMBING : dr. SULDIAH, Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA
PALU
2015

22