You are on page 1of 7

 Tatalaksana

Tidak jarang memerlukan waktu lama serta harus berulang ulang.


Adapun prinsip terapi Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) tipe aman adalah
konservatif atau dengan medikamentosa.
- Apabila secret yang keluar terus menerus
Maka diberikan obat pencuci telinga yaitu larutan H2O2 3 % Selam 3-5 hari.
- Apabila sekretnya berkurang
Maka terapi dilanjutkan dengan memberikan obat tetes telinga yang mengandung
antibiotika dan kortikosteroid.
Banyak ahli berpendapat bahwa semua obat tetes yang dijual di pasaran saat ini
mengandung antibiotika yang bersifat ototoksik. Oleh sebab itu obat tetes telinga
jangan diberikan terus menerus lebih dari 1 atau 2 minggu atau pada OMSK yang
sudah tenang.
Secara oral diberikan antibiotika dari golongan ampisilin, atau eritromisin (bila
pasien alergi terhadap penisilin), sebelum tes hasil resistensi diterima. Pada infeksi
yang dicurigai karena penyebabnya telah resisten terhadap ampisilin dapat diberikan
ampisilin asm klavulanat.
- Bila Sekretnya telah kering, tetapi perforasi masih ada setelah di observasi selama
2 bulan, maka idealnya dilakukan miringoplasti atau timpanoplasti. Operasi ini
bertujuan untuk menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membrane
timpani yang perforasi, mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan
penedengaran yang lebih berat, serta memperbaiki pendengaran.

Bila terdapat sumber infeksi yang menyebabkan secret tetap ada, atau
terjadinya infeksi berulang, maka sumber infeksi harus diobati terlebih dahulu,
mungkin juga perlu dilakukan pembedahan , misalnya adenoidektomi dan
tonsilektomi (Aflaty Arsyad dkk, 2014 ).
 KOMPLIKASI
Komplikasi OMSK terjadi apabila sawar (barrier) pertahanan telinga tengah yang normal
dilewati, sehingga memungkinkan infeksi menjalar ke struktur di sekitarnya. Pertahanan pertama
ini adalah mukosa kavum timpani yang juga seperti mukosa saluran nafas, mampu melokalisasi
infeksi. Bila sawar ini runtuh, masih ada sawar kedua, yaitu dinding tulang kavum timpani dan sel
mastoid. Bila sawar ini runtuh, maka struktur lunak disekitarnya akan terkena. Runtuhnya
periostium akan menyebabkan terjadinya abses subperiosteal, suatu komplikasi yang relatif tidak
berbahaya. Apabila infeksi mengarah ke dalam, ke tulang temporal, maka akan menyebabkan
paresis nervus fasialis atau labirinitis. Bila ke arah kranial, akan menyebabkan abses ekstradural,
tromboflebitis sinus lateralis, meningitis dan abses otak.
Bila sawar tulang terlampaui, suatu dinding pertahanan ketiga yaitu jaringan granulasi
akan terbentuk. Pada OMSK atau suatu eksaserbasi akut penyebaran biasanya melalui
osteotromboflebitis. Sedangkan pada kasus yang kronis, penyebaran terjadi melalui erosi tulang.
Cara penyebaran lainnya ialah toksin masuk melalui jalan yang sudah ada, misalnya melalui
fenestra rotundum, meatus akustikus internus, duktus perilimfatik dan duktus endolimfatik
(Aflaty Arsyad dkk, 2014 ).

Komplikasi yang Mengancam

Pengenalan yang baik terhadap perkembngan suatu penyakit telinga merupakan prasyarat
untuk mengetahui timbulnya komplikasi. Bila dalam medikamentosa tidak berhasil mengurangi
gejala klinik dengan tidak berhentinya otorea, dan pada pemeriksaan otoskopik tidak
menunjukkan berkurangnya reaksi inflamasi dan pengumpulan cairan maka harus diwaspadai
kemungkinan terjadinya komplikasi. Pada stadium akut, naiknya suhu tubuh, nyeri kepala atau
adanya tanda toksisitas seperti malaise, perasaan mengantuk, somnolen atau gelisah yang
menetap dapat merupakan tanda bahaya. Timbulnya nyeri kepala di daerah parietal atau oksipital
dan adanya keluhan mual, muntah yang proyektil serta kenaikan suhu badan yang menetap
selama terapi diberikan merupakan tanda komplikasi intrakranial.

Pada OMSK, tanda-tanda penyebaran penyakit dapat terjadi setelah sekret berhenti
keluar, hal ini menandakan adanya sekret purulen yang terbendung. Pemeriksaan radiologik dapat
membantu memperlihatkan kemungkinan kerusakan dinding mastoid, tetapi untuk yang lebih
akurat diperlukan pemeriksan CT-Scan. Erosi tulang merupakan tanda nyata komplikasi dan
memerlukan tindakan operasi segera. CT-scan bermanfaat menegakkan diagnosis sehingga terapi
dapat diberikan lebih cepat dan efektif.

Untuk melihat lesi di otak, misalnya abses otak, hidrosefalus dan lain-lain dapat
dilakukan pemeriksaan CT scan otak tanpa dan dengan kontras.

 Komplikasi di Telinga Tengah


 Paresis Nervus Fasialis
Nervus fasialis dapat terkena oleh penyebaran infeksi langsung ke kanalis fasialis
pada otitis media akut. Pada otitis media kronik, kerusakan terjadi oleh erosi tulang
oleh kolesteatom atau oleh jaringan granulasi, disusul oleh infeksi ke dalam kanalis
fasialis tersebut.
Pada otitis media akut operasi dekompresi kanalis fasialis tidak diperlukan. Perlu
diberikan antibiotika dosis tinggi dan terapi penunjang lainnya, serta menghilangkan
tekanan di dalam kavum timpani dengan drenase. Bila dalam jangka waktu tertentu
ternyata tidak ada perbaikan setelah diukur dengan elektrodiagnostik, barulah
dipikirkan untuk melakukan dekompresi.
Pada OMSK, tindakan dekompresi harus segera dilakukan tanpa harus menunggu
pemeriksaan elektrodiagnostik (Aflaty Arsyad dkk, 2014 ).
 Komplikasi di Telinga Dalam
 Fistula labirin dan labirintis
OMSK terutama yang dengan kolesteatoma, dapat menyebabkan terjadinya
kerusakan pada bagian vestibuler labirin, sehingga terbentuk fistula. Pada keadaan ini
infeksi dapat masuk, sehingga terjadi labirinitis dan akhirnya akan terjadi komplikasi
tuli total atau meningitis.
Fistula di labirin dapat diketahui dengan tes fistula, yaitu dengan memberikan
tekanan udara positif ataupun negatif ke liang telinga melalui otoskop siegel dengan
corong telinga yang kedap atau balon karet dengan bentuk elips pada ujungnya yang
dimasukkan ke dalam liang telinga. Balon karet dipencet dan udara di dalamnya akan
menyebabkan perubahan tekanan udara di liang telinga. Bila fistula yang terjadi
masih paten maka akan terjadi kompresi dan ekspansi labirin membrane. Tes fistula
positif akan menimbulkan nistagmus atau vertigo. Tes fistula bisa negatif, bila
fistulanya sudah tertutup oleh jaringan granulasi atau bila labirin sudah mati/ paresis
kanal (Aflaty Arsyad dkk, 2014 ).
Pemeriksaan radiologic tomografi atau CT scan yang baik kadang – kadang dapat
memperlihatkan fistula labirin, yang biasanya ditemukan di kanalis semisirkularis
horizontal. Pada fistula labirin atau labirinitis, operasi harus segera dilakukan untuk
menghilangkan infeksi dan menutup fistula, sehingga fungsi telinga dalam dapat
pulih kembali. Tindakan bedah harus adekuat, untuk mengontrol penyakit primer.
Matriks kolesteatoma dan jaringan granulasi harus diangkat dari fistula sampai bersih
dan daerah tersebut harus segera ditutup dengan jaringan ikat atau sekeping tulang /
tulang rawan.
 Labirinitis
Labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin, disebut labirinitis umum
(general), dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat, sedangkan labirinitis yang
terbatas (labirinitis sirkumskripta) menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saraf
saja.
Labirinitis terjadi oleh karena penyebaran infeksi ke ruang perilimfa. Terdapat
dua bentuk labirinitis yaitu labirinitis serosa dan labirinitis supuratif. Labirinitis
serosa dapat berbentuk labirinitis serosa difus dan labirinitis serosa sirkumskripta.
Labirinitis supuratif dibagi dalam bentuk labirinitis supuratif akut difus dan labirinitis
supuratif kronik difus.
Pada labirinitis serosa toksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel
radang, sedangkan pada labirinitis supuratif, sal radang menginvasi labirin, sehingga
terjadi kerusakan yang ireversibel, seperti fibrosis dan osifikasi.
Pada kedua bentuk labirinitis itu operasi harus segera dilakukan untuk
menghilangkan infeksi dari telinga tengah. Kadang-kadang diperlukan juga drenase
nanah dari labirin untuk mencegah terjadinya meningitis. Pemberian antibiotika yang
adekuat terutama ditujukan kepada pengobatan otitis media kronik dengan/ tanpa
kolesteatoma (Aflaty Arsyad dkk, 2014 ).

 Komplikasi ke Ekstradural
 Petrositis
Kira-kira sepertiga dari populasi manusia, tulang temporalnya mempunyai sel-sel
udara sampai ke apeks os petrosum. Terdapat beberapa cara penyebaran infeksi dari
telinga tengah ke os petrosum. Yang sering ialah penyebaran langsung ke sel-sel
udara tersebut.
Adanya petrositis sudah harus dicurigai, apabila pada pasien otitis media terdapat
keluhan diplopia, karena kelemahan nervus VI. Seringkali disertai dengan rasa nyeri
didaerah parietal, temporal atau oksipital, oleh karena terkenanya nervus V, ditambah
dengan terdapatnya otore yang persisten, terbentuklah suatu sindrom yang disebut
sindrom gradenigo.
Kecurigaan terhadap petrositis terutama bila terdapat nanah yang keluar terus
menerus dan rasa nyeri yang menetap pasca mastoidektomi. Pengobatan petrositis
ialah operasi serta pemberian antibiotika protocol komplikasi intracranial. Pada
waktu melakukan operasi telinga tengah dilakukan juga eksplorasi sel-sel udara
tulang petrosum serta mengeluarkan jaringan pathogen (Aflaty Arsyad dkk, 2014 ).

 Tromboflebitis Sinus Lateralis


Invasi infeksi ke sinus sigmoid ketika melewati tulang mastoid akan
menyebabkan terjadinya trombosis sinus lateralis. Komplikasi ini sering ditemukan
pada zaman pra-antibiotik, tetapi kini sudah jarang terjadi.
Demam yang tidak dapat diterangkan penyebabnya merupakan tanda pertama
dari infeksi pembuluh darah. Pada mulanya suhu tubuhturun naik, tetapi setelah
penyakit menjadi berat didapatkan kurve suhu yang naik turun dengan sangat curam
disertai dengan menggigil. Kurve suhu demikian menandakan adanya sepsis.
Rasa nyeri biasanya tidak jelas, kecuali bila sudah terdapat abses perisinus.
Kultur darah biasanya positif, terutama bila darah diambil ketika demam.
Pengobatan haruslah dengan jalan bedah, membuang sumber infeksi di sel-sel
mastoid, membuang tulang yang berbatasan dengan sinus (sinus plate) yang nekrotik,
atau membuang dinding sinus yang terinfeksi atau nekrotik. Jika sudah terbentuk
thrombus harus juga dilakukan drenase sinus dan mengeluarkan thrombus. Sebelum
itu dilakukan dulu ligase vena jugulare interna untuk mencegah thrombus terlepas ke
paru dan ke dalam tubuh lain.
 Abses Ekstradural
Abses ekstradural ialah terkumpulnya nanah diantara durameter dan tulang. Pada
OMSK keadaan ini berhubungan dengan jaringan granulasi dan kolesteatoma yang
menyebabkan erosi tegmen timpani atau mastoid.
Gejalanya terutama berupa nyeri telinga hebat dan nyeri kepala. Dengan foto
rontgen mastoid yang baik, terutama posisi schuller, dapat dilihat kerusakan di
lempeng tegmen yang menandakan tertembusnya tegmen. Pada umumnya abses ini
baru diketahui pada waktu operasi mastoidektomi.
 Abses Subdural
Abses subdural jarang terjadi sebagai perluasan langsung dari abses ekstradural
biasanya sebagai perluasan tromboflebitis melalui pembuluh vena. Gejalanya dapat
berupa demam, nyeri kepala, dan penurunan kesadaran sampai koma pada pasien
OMSK. Gejala kelainan susunan saraf pusat bisa berupa kejang, hemiplegia dan pada
pemeriksaan terdapat tanda kernig positif.
Pungsi lumbal perlu untuk membedakan abses subdural dengan meningitis. Pada
abses subdural pada pemeriksaan likuor serebrospinal kadar protein biasanya normal
dan tidak ditemukan bakteri. Kalau pada abses ekstradural nanah keluar pada waktu
operasi mastoidektomi, pada abses subdural nanah harus dikeluarkan secara bedah
saraf, sebelum dilakukan operasi mastoidektomi.
 Komplikasi ke Susunan Saraf Pusat
 Meningitis
Komplikasi otitis media ke susunan saraf pusat yang paling sering ialah
meningitis. Keadaan ini dapat terjadi oleh otitis media akut maupun kronis, serta
dapat terlokalisasi atau umum. Walau secara klinik kedua bentuk ini mirip, pada
pemeriksaan likuor serebrospinal terdapat bakteri pada bentuk yang umum,
sedangkan pada bentuk yang terlokalisasi tidak ditemukan bakteri. Gambaran klinik
meningitis biasanya berupa kaku kuduk, kenaikan suhu tubuh, mual, muntah yang
kadang-kadang muntahnya muncrat, serta nyeri kepala hebat. Pada kasus yang berat
biasanya kesadaran menurun. Pada pemeriksaan klinik terdapat kaku kuduk waktu
difleksikan dan terdapat tanda kernig positif. Biasanya kadar gula menurun dan kadar
protein meninggi di likuor serebrospinal.
Pengobatan meningitis otogenik ini ialah dengan mengobati meningitisnya dulu
dengan antibiotic yang sesuai, kemudian infeksi ditelinganya ditanggulangi dengan
operasi mastoidektomi.
 Abses Otak
Abses otak sebagai komplikasi otitis media dan mastoiditis dapat ditemukan di
serebelum, fosa kranial posterior atau di lobus temporal, di fosa kranial media.
Keadaan ini sering berhubungan dengan tromboflebitis sinus lateralis, petrositis, atau
meningitis. Abses otak biasanya merupakan perluasan langsung dari infeksi telinga
dan mastoid atau tromboflebitis. Umumnya didahului oleh suatu abses ekstradural.
Gejala abses serebelum biasanya lebih jelas daripada abses lobus temporal.
Abses serebelum dapat ditandai dengan ataksia, disdiadokokinetis, tremor intensif
dan tidak tepat menunjuk suatu objek.
Afasia dapat terjadi pada abses lobus temporal. Gejala lain yang menunjukkan
adanya toksisitas, berupa nyeri kepala, demam, muntah serta keadaan latargik. Selain
itu sebagai tanda yang nyata suatu abses otak ialah nadi yang lambat serta serangan
kejang. Pemeriksaan likuor serebrospinal memperlihatkan kadar protein yang
meninggi serta kenaikan tekanan likuor. Mungkin terdapat juga edema papil. Lokasi
abses dapat di tentukan dengan pemeriksaan angiografi, ventrikulografi atau dengan
tomografi komputer.
Pengobatan abses otak ialah dengan antibiotika parenteral dosis tinggi, dengan
atau tanpa operasi untuk melakukan drenase dari lesi. Selain itu pengobatan dengan
antibiotika harus intensif. Mastoidektomi dilakukan untuk membuang sumber infeksi,
pada waktu keadaan umum lebih baik.
 Hidrosefalus Otitis
Ditandai dengan peninggian tekanan likuor serebrospinal yang hebat tanpa
adanya kelainan kimiawi dari likuor itu. Pada pemeriksaan terdapat edema papil.
Keadaan ini dapat menyertai otitis media akut atau kronis.
Gejala berupa nyeri kepala yang menetap, diplopia, pandangan yang kabur, mual,
dan muntah. Keadaan ini diperkirakan disebabkan oleh tertekannya sinus lateralis
yang mengakibatkan kegagalan absorpsi likuor serebrospinal oleh lapisan araknoid
(Aflaty Arsyad dkk, 2014 ).

 PROGNOSIS
Dengan pengobatan local, otore dapat mongering. Tetapi sisa perforasi sentral yang
berkepanjangan memudahkan infeksi dari nasofaring atau bakteri dari meatus
auditorius eksterna khususnya terbawa oleh air, sehingga penutupan membrane
timpani disarankan.

Soepardi, Aflaty Arsyad. 2014. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala & Leher Ed.7. Jakarta : Badan Penerbit FK Universitas
Indonesia