You are on page 1of 8

e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 4 Nomor 2, Agustus 2016

ANALISIS PERBEDAAN RESPONSE TIME PERAWAT TERHADAP PELAYANAN


GAWAT DARURAT DI UNIT GAWAT DARURAT DI RSU GMIM PANCARAN
KASIH DAN DI RSU TK.III ROBERT WOLTER MONGINSIDI
KOTA MANADO

Hakim Abdul
Julia Rottie
Michael Y. Karundeng

Program Studi Ilmu Keperawatan


Fakultas Kedokteran
Email : abdul.hakim2507@gmail.com

Abstract:. Emergency room visits can happen to anyone, anytime, and anywhere, this
condition requires the readiness of health workers to anticipate events. Management of the
state of emergency aid in these areas is still very worrying. Many mortality that occurs in
people who should be prevented if we have a concern about the issue. One indicator of the
success of the medical countermeasures that speed to provide relief. Response time is the
time between the surface demand response or the response time is ≤ 5 minutes. The purpose
of this study to analyze differences in response time to emergency care nurses in the
emergency department at the General Hospital GMIM Pancaran Kasih and in the General
Hospital TK III Robert Wolter Monginsisdi Manado. Research Designe in this research is
observational analytic using cross sectional design. Samples were taken by purposive
sampling technique totaling 30 respondents. Results using the Mann-Whitney test was
obtained p value = 0.011 smaller than α = 0.05. The conclusion of this study is, There are
significant differences between the response time nurse in the handling of emergency patients
at the Emergency Unit of the General Hospital GMIM Pancaran Kasih and General Hospital
TK.III Robert Wolter Monginsidi Manado. Suggestions hoped this research can be used for
the development of further research to researchers - researchers who are interested to
develop research within the scope of the same, namely in the field of emergency nursing
Keywords : Response Time

Abstrak: Kejadian gawat darurat bisa terjadi kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja,
kondisi ini menuntut kesiapan petugas kesehatan untuk mengantisipasi kejadian itu.
Manajemen pertolongan keadaan gawat darurat pada area tersebut sampai saat ini masih
sangat menghawatirkan. Banyak angka kematian yang terjadi di masyarakat yang mestinya
bisa di cegah bila kita punya kepedulian terhadap masalah tersebut. Salah satu indikator
keberhasilan penanggulangan medik yaitu kecepatan memberikan pertolongan. Respons time
merupakan waktu antara dari permulaan permintaan ditanggapi atau waktu tanggap yaitu ≤ 5
menit. Tujuan penelitian ini menganalisis perbedaan response time perawat terhadap
pelayanan gawat darurat di unit gawat darurat di RSU Gmim Pancaran Kasih dan di RSU Tk
iii Robert Wolter Monginsisdi Kota Manado. Desain Penelitian dalam penelitian ini adalah
observasional analitik, dengan menggunakan rancangan Cross Sectional. Sampel diambil
dengan teknik Purposive Sampling yang berjumlah 30 responden. Hasil Penelitian dengan
menggunakan uji Mann-Whitney diperoleh nilai p value = 0,011 yang lebih kecil dari α =
0,05. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu, Tedapat perbedaan yang signifikan antara
response time perawat pada penanganan pasien gawat darurat di UGD RSU. Pancaran Kasih
GMIM dan RSU Tk.III Robert Wolter Monginsidi Manado. Saran diharapkan penelitian ini
dapat digunakan untuk pengembangan penelitian lebih lanjut kepada peneliti - peneliti yang
berminat untuk mengembangkan penelitian dalam bidang keperawatan gawat darurat

1
e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 4 Nomor 2, Agustus 2016

PENDAHULUAN Response Time >5 menit sebanyak 17


Kejadian gawat darurat bisa terjadi (56,7%) dengan menunjukan ada hubungan
kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana antara pendidikan, pengetahuan, lama
saja, kondisi ini menuntut kesiapan petugas kerja, dan pelatihan dengan response time
kesehatan untuk mengantisipasi kejadian perawat.
itu.Manajemen pertolongan keadaan gawat Berdasarkan Survey awal yang dilakukan
darurat pada area tersebut sampai saat ini peneliti dengan melakukan wawancara dari
masih sangat mengkhawatirkan. Banyak tiga keluarga pasien di IGD RSU GMIM
kematian-kematian di masyarakat yang Pancaran Kasih Manado, Dua diantaranya
mestinya bisa di cegah bila kita punya menyatakan bahwa saat tiba di IGD sangat
kepedulian terhadap masalah tersebut lambat dan tidak langsung dilayani. Dari
(Rissamdani, 2014). wawancara dengan dua keluarga pasien di
Pelayanan pasien gawat darurat IGD Robert Wolter Monginsidi, mereka
merupakan pelayanan yang memerlukan mengatakan bahwa pelayanan di tempat
pelayanan segera, yaitu cepat, tepat, dan tersebut sangat memuaskan dan serta
cermat untuk mencegah kematian atau langsung di tangani.
kecacatan. Salah satu indikator mutu Berdasarkan penjelasan tersebut membuat
pelayanan berupa response time (waktu penulis tertarik lebih jauh lagi untuk
tanggap), dimana merupakan indikator meneliti mengenai analisis perbedaan
proses untuk mencapai indikator hasil yaitu waktu tanggap (response time) perawat
kelansungan hidup (Depkes 2004). pada pelayanan gawat darurat di unit gawat
Tahun 2007 data kunjungan pasien ke darurat di di IGD RSU. Pancaran Kasih
instalasi gawat darurat di seluruh Indonesia GMIM dan RSU TK III Robert Wolter
mencapai 4.402.205 (13,3% dari total Monginsidi Manado
seluruh kunjungan di Rumah Sakit Umum)
dengan jumlah kunjungan 12% dari METODE PENELITIAN
kunjungan IGD. Jumlah yang signifikan ini Penelitian ini menggunakan desain
kemudian memerlukan perhatian yang penelitian observasional analitik, dengan
cukup besar dengan pelayanan pasien menggunakan pendekatan Cross Sectional
gawat darurat sehingga menteri kesehatan (potong lintang) (Setiadi, 2013). dimana
pada tahun 2009 menetapkan acuan bagi semua data yang menyangkut variabel
rumah sakit dalam mengembangkan penelitian diukur satu kali pada waktu yang
pelayanan gawat darurat khususnya di bersamaan. Penelitian ini dilaksanakan di
Instalasi gawat darurat dimana salah satu Unit Gawat Darurat RSU GMIM Pancaran
prinsip umumnya tentang penanganan Kasih Manado Dan RSU Robert Wolter
pasien gawat darurat yang harus di tangani Monginsidi Manado. Penelitian ini telah
< 5 (lima) menit setelah pasien sampai di dilakukan di bulan 17 Maret 2016.
IGD yang di sebut response time Dalam penelitian ini populasinya adalah
Wilde (2009) telah membuktikan secara seluruh perawat pelaksana yang bekerja di
jelas tentang pentingnya waktu tanggap Unit Gawat Darurat RSU Pancaran Kasih
(response time) bahkan pada pasien selain GMIM Manado dengan jumlah perawat 15
penderita penyakit jantung. Mekanisme perawat Dan di Unit Gawat Darurat RSU
waktu tanggap (response time) disamping TK III Wolter Monginsidi Manado dengan
menentukan keluasan rusaknya organ- jumlah perawat 15 perawat. Instrumen
organ dalam juga dapat mengurangi beban penelitian yang di pakai yaitu kuesioner
pembiayaan. dan lembar observasi untuk mengukur
Dalam penelitian Maatilu (2014) waktu response time perawat sesuai dengan
tanggap pelayanan pada pasien di IGD kriteria perawat.
RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado di- Teknik sampling yang digunakan dalam
dapatkan sebagian besar perawat memiliki penelitian ini adalah purposive sampling,

2
e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 4 Nomor 2, Agustus 2016

dimana peneliti menentukan sendiri sampel Tabel 3. menunjukan paling banyak yang
sesuai dengan kriteria inklusi yang sudah bekerja lebih dari 5 tahun sebanyak 10
ditentukan (Setiadi, 2013). Kriteria inklusi: responden (66,7%)
1.Seluruh Perawat yang bekerja di Unit Tabel 4. Distribusi Frekuensi Berdasarkan
Gawat Darurat RSU GMIM Pancaran Lama Kerja Perawat di UGD RSU TK III
Kasih dan RSU TK III Wolter Monginsidi Robert Wolter Monginsidi Manado
Manado, 2.Perawat yang bersedia menjadi Lama Kerja n %
responden dan menandatangani lembar ≥ 5 Tahun 8 53.3
persetujuan, tidak sedang cuti. Kriteria < 5 Tahun 7 46.7
Eksklusi dalam penelitian ini yaitu : Total 15 100
1.Perawat yang sedang cuti atau sakit. Sumber: Data Primer 2016
2.Perawat yang masih dalam masa orientasi Distribusi frekuensi berdasarkan
(satu sampai dua bulan) lama kerja pada perawat di UGD RSU
RSU TK III Robert Wolter Monginsidi
HASIL Manado. Paling banyak yang bekerja lebih
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasar- dari 5 tahun sebanyak 8 responden (53.3%).
kan Jenis Kelamin Perawat di UGD RSU Tabel 5. Distribusi Frekuensi Berdasarkan
GMIM Pancaran Kasih Manado
Pelatihan Perawat di UGD RSU GMIM
Jenis Kelamin n %
Pancaran Kasih Manado
Laki – laki 7 46.7
Perempuan 8 53.3 Pelatihan n %
Total 15 100 BLS 4 26.7
Sumber: Data Primer 2016 PPGD 5 33.3
Tabel diatas menunjukan jenis kelamin BTCLS 6 40.0
perawat di UGD RSU GMIM Pancaran Total 15 100
Kasih Manado terbanyak pada perempuan Sumber: Data Primer 2016
sebanyak 8 responden (53.3%) Distribusi frekuensi berdasarkan pelatihan
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan perawat di UGD RSU GMIM Pancaran
Jenis Kelamin Perawat di UGD RSU TK Kasih Manado. Paling banyak pada tingkat
III Robert Wolter Monginsidi Manado pelatihan BTCLS sebanyak 6 responden
Jenis Kelamin n % (40.0%).
Laki-laki 6 40 Tabel 6. Distribusi Frekuensi Berdasarkan
Perempuan 9 60 Pelatihan Perawat di UGD RSU TK.III
Total 15 100 Robert Wolter Monginsidi
Sumber: Data Primer 2016
Pelatihan N %
Tabel 2. di atas menunjukan terbanyak
pada perempuan sebanyak 9 responden BLS 0 0
(60%). PPGD 0 0
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Berdasarkan BTCLS 15 100
Lama Kerja Perawat di UGD RSU GMIM Total 15 100
Pancaran Kasih Manado Sumber : Data Primer 2016
Lama Kerja n % Rata-rata perawat di UGD RSU TK.III
Robert Wolter Monginsidi Manado,
≥ 5 Tahun 10 66.7 Semuanya telah mengikuti pelatihan pada
< 5 Tahun 5 33.3 tingkat BTCLS sebanyak 15 responden
Total 15 100 (100%).
Sumber: Data Primer 2016

3
e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 4 Nomor 2, Agustus 2016

Tabel 10. Distribusi Frekuensi Berdasarkan


Tabel 7. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Response Time di UGD RSU TK.III
Pendidikan Perawat di UGD RSU GMIM Robert W. Monginsidi
Pancaran Kasih Manado. Response Time n %
Pendidikan N % Cepat 11 73.3
DIII 13 86.7 Lambat 4 26.7
S.Kep, Ns 2 13.3 Total 15 100
Total 15 100 Sumber : Data Primer 2016
Sumber: Data Primer 2016 Pada tabel 10 menyatakan distribusi
Tabel di atas menunjukan bahwa sebagian responden terbanyak pada response time
besar tingkat pendidikan perawat paling cepat yaitu 11 responden (73.3%).
banyak adalah DIII dengan jumlah 13 Tabel 11. Perbedaan response time perawat
responden Distribusi Frekuensi terhadap pelayanan gawat darurat
Median Mean
Berdasarkan Pendidikan Perawat di UGD Rumah
n (Minimum- Mean Rank ρ
Sakit
RSU GMIM Pancaran Kasih Manado maksimum)
RSU GMIM
(86.7%). Pancaran
15 1.0 (1-2) 1.33 12.0
Tabel 8. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kasih
0.011
Pendidikan Perawat di UGD RSU TK.III RSU TK.III
15 2.0 (1-2) 1.80 19.0
Robert Wolter Monginsidi Manado Robert W.
Monginsidi
Pendidikan n % Total 30
SPK 2 13.3 Sumber : Data Primer 2016
DIII 6 40.0 Berdasarkan hasil analisis uji statistik di
S.Kep 2 13.3 atas menunjukan ada perbedaan response
S.Kep, Ns 5 33.4 time antara RSU GMIM Pancaran kasih
Total 15 100 Manado dan RSU TK.III Robert Wolter
Sumber: Data Primer 2016 Monginsidi”.
Distribusi Frekuensi Berdasarkan
Pendidikan Perawat di UGD RSU TK.III PEMBAHASAN
Robert Wolter Monginsidi Manado 1. Jenis Kelamin
menunjukan bahwa sebagian besar tingkat Pekerjaan perawat masih diminati oleh
pendidikan perawat adalah DIII dengan perempuan dibandingkan laki-laki karena
jumlah 6 responden (40%). sebagian masyarakat berpikir bahwa
Tabel 9. Distribusi Frekuensi Berdasarkan keperawatan masih diidentikkan dengan
Response Time di UGD RSU GMIM pekerjaan yang cocok dan sesuai dengan
Pancaran Kasih Manado sifat perempuan yang lebih sabar, lemah
lembut, dan peduli. Jenis kelamin akan
Response n % memberikan dorongan yang berbeda, jenis
Time kelamin laki-laki memiliki dorongan lebih
Cepat 5 33.3 besar dari pada perempuan karena
Lambat 10 66.7 tanggung jawab laki-laki lebih besar (Yanti
&Warsito,2013).
Total 15 100 Berdasarkan hal tersebut menurut
Sumber : Data Primer 2016 peneliti bahwa tidak ada perbedaan
Tabel di atas menyatakan distribusi produktivitas kerja antara perawat laki-laki
responden terbanyak pada response time dan perempuan. Tetapi walaupun demikian
lambat yaitu 10 responden (66.7%). dalam menentukan tempat kerja untuk
perawat laki-laki dan perempuan perlu di
pertimbangkan sesuai dengan tingkat berat
ringannya pekerjaan yang harus di lakukan.

4
e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 4 Nomor 2, Agustus 2016

2.Lama Kerja membantu perawat mendapatkan keahlian


Menurut Sastrohadiwiryo (2002) dalam di area praktik spesialisasi, seperti
bukunya mengenai manajemen tenaga kerja perawatan intensif dan memberi perawat
Indonesia bahwa semakin lama seseorang informasi yang penting untuk praktik
bekerja semakin banyak kasus yang di keperawatan, sebagai contoh, pemahaman
tanganinya sehingga semakin meningkat mengenai aspek legal dalam keperawatan.
pengalamanny, sebaliknya semakin singkat 4.Pendidikan
orang bekerja maka semakin sedikit kasus Menurut Notoadmodjo (2003) pen-
yang ditanganinya. didikan tetap menjadi indikator penting
Berdasarkan hal tersebut menurut dalam upaya memperbaiki kinerja lebih
peneliti lama kerja dapat memperbaharui baik, perawat dengan tingkat pendidikan
pengalaman seseorang individu tentang yang berbeda mempunyai kualitas
berbagai hal terutama dalam keterampilan, dokumentasi yang dikerjakan berbeda pula
pengalaman tersebut dapat diperoleh dari karena semakin tinggi tingkat pendidikan-
lingkungan seseorang itu tinggal dengan nya maka kemampuan secara kognitif dan
kehidupan di dalam proses perkembangan keterampilan akan meningkat.
misalnya mengikuti kegiatan yang Bedasarkan hasil di atas menurut
mendidik. Hal ini dapat memperluas peneliti bahwa tingkat pendidikan perawat
jangkauan pengalaman karena semakin di rumah sakit tersebut masih perlu di
lama masa kerja perawat akan semakin tingkatkan. Mayoritas tenaga perawat di
banyak pengetahuan, kompetisi dan rumah sakit tersebut adalah DIII
pengalaman yang di dapat oleh perawat. keperawatan. Fenomena yang ada
3.Pelatihan pengetahuan yang sama tidak berarti
Menurut Sastrohadiwiryo (2002) mendorong individu untuk bekerja dalam
semakin tinggi kuantitas tenaga kerja, maka melakukan pendokumentasian asuhan
problem yang timbul akan semakin keperawatan kegawatdaruratan.
kompleks, salah satu jalan yang harus di 4.Response time perawat di UGD RSU
tempuh adalah memberikan pelatihan GMIM Pancaran Kasih Manado
kepada para tenaga kerja ini juga Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dimaksudkan untuk memperoleh nilai dilakukan di UGD RSU GMIM Pancaran
tambah tambah tenaga kerja yang Kasih Manado menunjukan bahwa dari 15
berangkutan, terutama yang berhubungan responden, ada 5 responden (33.3%) yang
dengan meningkatnya dan berkembangnya mendapatkan response time cepat ≤ 5 menit
pengetahuan, sikap, dan keterampilan dari perawat. Hal ini menunjukkan bahwa
tenaga kerja. pasien yang masuk di UGD RSU GMIM
Menurut Maatilu (2014) tidak adanya Pancaran Kasih Manado mendapatkan
hubungan yang bermakna antara pelatihan response time yang lambat dari perawat
perawat dan response time perawat pada dengan pelayanan waktu > 5 menit dan
penanganan pasien gawat darurat. Hal ini keadaan ini menunjukan belum ter-
bisa terjadi dikarenakan kemampuan yang penuhinya standar IGD sesuai Keputusan
didapat perawat dari pelatihan tidak Menteri Kesehatan Republik Indonesia
didukung oleh sarana prasarana ataupun tahun 2009 bahwa indikator response time
lingkungan yang ada. (waktu tanggap) di IGD adalah harus ≤ 5
Berdasarkan hal tersebut peneliti menit.
berasumsi bahwa kemampuan yang didapat Waktu tanggap perawat lambat di-
perawat dari pelatihan walaupun tidak pengaruhi oleh tingginya angka kunjungan
didukung oleh sarana prasarana, akan tetapi pasien baik pasien dengan true emergency
setiap perawat mempunyai kewajiban untuk maupun pasien poliklinik di tangani oleh
memperbaharui perkembangan teknik atau perawat di IGD dalam ruangan yang kecil
informai terbaru guna membantu sehingga mengganggu fokus perawat dalam

5
e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 4 Nomor 2, Agustus 2016

mem-berikan tindakan yang cepat pada Hal ini sesuai dengan Keputusan
pasien. Menteri Kesehatan Republik Indonesia
5.Response time perawat di UGD RSU Tk (2009) mengenai waktu tanggap yang baik
III Robert Wolter Monginsidi Manado bagi pasien yaitu kurang dari sama dengan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah lima menit, dari hasil di atas menunjukan
dilakukan di UGD RSU TK.III Robert terdapat perbedaan yang bermakna antara
Wolter Monginsidi Manado menunjukan waktu tanggap perawat ini dikarenakan ada
bahwa dari 15 responden, ada 11 responden beberapa hal yang mengganggu fokus
(73.3%) yang mendapatkan response time perawat dalam memberikan tindakan yang
cepat ≤ 5 menit dari perawat. Hal ini cepat pada pasien sehingga menimbulkan
menunjukkan bahwa pasien yang masuk di beban kerja dari perawat tersebut.
UGD RSU TK.III Robert Wolter Menurut Widodo (2008) dalam
Monginsidi Manado mendapatkan response penelitiannya tentang Hubungan Beban
time yang cepat dari perawat dengan Kerja Dengan Waktu Tanggap Perawat
pelayanan waktu > 5 menit dan keadaan ini Gawat Darurat Menurut Persepsi Pasien Di
menunjukan terpenuhinya standar IGD IGD RSU Pandan Arang Boyolali yang
sesuai Keputusan Menteri Kesehatan menunjukan bahwa secara deskriptif
Republik Indonesia tahun 2009 bahwa terdapat hubungan antara beban kerja
indikator response time (waktu tanggap) di dengan waktu tanggap perawat gawat
IGD adalah harus ≤ 5 menit. darurat menurut persepsi pasien yakni
Waktu menjadi faktor yang sangat semakin ringan beban kerja, semakin cepat
penting dalam penatalaksanaan keadaan waktu tanggap perawat dan semakin berat
gawat darurat, Menurut Haryatun (2008) beban kerja perawat, semakin lambat waktu
keberhasilan waktu tanggap atau response tanggap perawat.
time sangat tergantung kepada kecepatan Hasil diatas sesuai dengan teori yang
yang tersedia serta kualitas pemberian dikemukakan Sabriyanti (2012), bahwa
pertolongan untuk menyelamatkan nyawa semakin cepat waktu tanggap perawat
atau mencegah cacat sejak di tempat makan akan berdampak positif yaitu dapat
kejadian, dalam perjalanan hingga per- mengurangi beban pembiayaan, tidak
tolongan rumah sakit. terjadi komplikasi, menurunnya angka mor-
Berdasarkan hasil di atas peneliti mem- biditas dan mortalitas karena kinerja
buktikan secara jelas tentang pentingnya perawat yang sangat tinggi dan cepat dalam
waktu tanggap disamping mengurangi memberikan penanganan. Jika waktu
keluasan rusaknya organ-organ sampai tanggap perawat lambat maka akan ber-
menuju pada kecacatan juga dapat dampak negatif yaitu keluasan rusaknya
menurunkan angka kematian. organ-organ dalam dengan maksud akan
Berdasarkan uji statistik Mann-Whitney terjadi komplikasi, kecacatan bahkan
response time perawat terhadap pelayanan menjadi kematian.
gawat darurat di UGD Pancaran Kasih dan Hal ini tidak sejalan dengan hasil
di UGD RSU Tk III Robert Wolter penelitian yang dilakukan oleh Maatilu
Monginsidi menunjukan bahwa 30 (2014) tentang faktor-faktor yang ber-
responden dari dua rumah sakit tersebut hubungan dengang response time perawat
didapatkan 15 reponden di RSU GMIM pada penanganan pasien gawat darurat di
Pancaran Kasih diperoleh perawat ter- IGD RSUP Prof. DR. R. D. Kandou
banyak yang melakukan response time menunjukan tidak ada hubungan antara
lambat > 5 menit yaitu 10 perawat (66.7%), pendidikan, pengetahuan, lama kerja,
dan 15 reponden di RSU Tk III Robert pelatihan dengan response time perawat.
Wolter monginsidi diperoleh perawat Penyebab ketidaktepatan waktu tanggap
terbanyak yang melakukan response time ini diasumsikan berasal dari sistem
cepat ≤ 5 menit yaitu 11 perawat (73.3%). registrasi pasien yang dimiliki. Karena

6
e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 4 Nomor 2, Agustus 2016

menurut alur registrasi pasien UGD tempat rata lambat yaitu >5 menit. Terdapat
penelitian dilakukan, registrasi pasien di- perbedaan antara response time perawat
lakukan sebelum pasien seleksi tingkat pada penanganan pasien gawat darurat di
kegawatanya oleh dokter yang bertugas. UGD RSU. Pancaran Kasih GMIM dan
Hal ini mengakibatkan waktu tanggap RSU Tk.III Robert Wolter Monginsidi
pasien menjadi panjang. Meskipun de- Manado.
mikian, ada pasien yang tetap ditanggapi Saran
oleh petugas walaupun belum melakukan Setelah dilakukan penelitian dan diperoleh
registrasi. suatu kesimpulan, maka peneliti
Berdasarkan hasil penelitian yang ada memberikan beberapa saran yaitu :
maka peneliti berpendapat bahwa per- 1. Keilmuan
bedaan waktu tanggap atau response time Hasil penelitian ini diharapkan dapat
sangat berpengaruh terhadap implementasi digunakan sebagai tambahan referensi dan
keperawatan disetiap instalasi gawat bahan masukkan bagi perkembangan dan
darurat rumah sakit, hal ini dikarenakan kajian ilmu pendidikan manajemen
masih ada beban perawat yang meng- kegawatdaruratan.
hambat waktu tanggap seperti ruangan 2. Aplikatif
yang kecil dan kurang memadai, minimnya Perlu ditingkatkan lagi kecepatan waktu
ketersediaan stecher dan sarana kegawat- tanggap dalam melakukan penanganan di
daruratan yang lainnya Upaya pelayanan gawat darurat untuk memperkecil
pada pasien gawat darurat pada awalnya kerusakan organ-organ tubuh sampai
mencakup suatu rangkaian kegiatan yang menuju pada kecacatan juga dapat
harus dikembangkan sedemikian rupa menurunkan angka kematian.
sehingga mampu mencegah kematian atau 3. Metodologi
cacat yang mungkin terjadi. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk
pengembangan penelitian lebih lanjut
SIMPULAN kepada peneliti-peneliti yang berminat
Berdasarkan hasil analisis yang telah mengembangkan penelitian dalam bidang
diuraikan, maka dapat diambil kesimpulan keperawatan gawat darurat.
sebagai berikut: Karakteristik di UGD RSU
GMIM Pancaran Kasih untuk jenis kelamin DAFTAR PUSTAKA
didominasi oleh perempuan berkisar 8 Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
(53%) reponden perawat, lama kerja ≥5 (2004). Pedoman Sistem Penang-
tahun sebanyak 10 (66.7%) responden, dan gulangan Gawat Darurat Terpadu
pelatihan kegawatdaruratan lanjutan 11 (SPGDT). Jakarta: Departemen
(73,3%) responden perawat serta Kesehatan Republik Indonesia.
pendidikan DIII mendominasi atau berkisar Haryatun, N. (2008). Perbedaan Waktu
13 (86,7%). Karakteristik di UGD RSU Tanggap Tindakan Keperawatan
TK.III Robert Wolter Monginsidi untuk Pasien Cedera Kepala Kategori I-V
jenis kelamin didominasi oleh perempuan Di Instalasi Gawat Darurat RSUD
berkisar 9 (60%) reponden perawat, lama Dr. Moewardi. Jurnal Berita Ilmu
kerja ≥ 5 tahun sebanyak 8 (53.3%) Keperawatan..
responden, dan semua perawat mengikuti Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
pelatihan kegawatdaruratan lanjutan serta 856/Menkes/SK/IX/2009. Instalasi
pendidikan DIII mendominasi atau berkisar Gawat Darurat (IGD).
6 (40%). Response time di UGD RSU
Tk.III Robert Wolter Monginsidi Manado
rata-rata cepat yaitu ≤5 menit. Response
Time perawat di UGD RSU GMIM
Pancaran Kasih Manado menunjukan rata-

7
e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 4 Nomor 2, Agustus 2016

Maatilu. (2014). Faktor-Faktor Yang


Berhubungan Dengan Response Time
Perawat Pada Penanganan Pasien
Gawat Darurat Di IGD RSUP. Prof.
Dr. R. D. Kandou Manado.
Universitas Sam Ratulangi : Manado.
Notoatmodjo, S. (2003). Pendidikan dan
Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta:
Jakarta
Rissamdani. 2014. Hubungan Penatalak-
sanaan Penanganan Gawat Darurat
Dengan Waktu Tanggap (Respon
Time) Keperawatan Di Ruang
Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit
Permata bunda. Univesitas Sumatera
Utara : Medan.
Sabriyanti, (2012). Faktor-Faktor Yang
Berhubungan Dengan Ketepatan
Waktu Tanggap Penanganan Kasus
Pada Response Time I Di Instalasi
Gawat Darurat Bedah Dan Non-
Bedah RSUP DR.Wahidi Sudiro-
husodo, Universitas Hasanudin :
Makassar
Sastrohadiwiryo. S. B. 2002. Manajemen
Tenaga Kerja Indonesia ; Pendekatan
Adminitrasi dan Operasional. Jakarta
: Bukit Aksara.
Setiadi. (2013). Konsep dan Praktik
Penulisan Riset Keperawatan. Edisi
2. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Widodo. P, 2008. Hubungan Beban Kerja
Dengan aktu Tanggap Perawat
Gawat Darurat Menurut Persepsi
Pasien Di Instalasi Gawat Darurat
RSU Pandan Arang Boyolali. FIK
UMS : Boyolali
Wilde, E. T, 2009. Do Emergency Medikal
System Response Times Matter For
Health Outcomes?. Colombia
University :New York.
Yanti, R. & Warsito B, 2013. Hubungan
karakteristik perawat, motivasi, dan
supervisi dengan kualitas
dokumentasi proses asuhan
keperawatan Universitas Diponegoro:
Semarang.