You are on page 1of 36

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Banyak orang dewasa ingat akan bintik-bintik cacar air (varicella) yang gatal yang
mereka alami paa masa kanak-kanak. Mereka beranggapan bahwa varicella adalah
penyakit ringan yang tidak perlu dicegah dengan vaksinasi. Mereka bertanya-tanya
mengapa anak-anak tidak boleh terkena infeksinya secara alami.
Penelitian menunjukkan bahwa vaksin varicella 85% efektif dalam mencegah
penyakit tersebut. Jika seseorang yang sudah divaksinisasi terjangkit varicella,
biasanya penyakitnya brsifat ringan sekali. Strategi yang dianjurkan ialah dengan
memberikan vaksinasi pada anak-anak secara rutin pada usia 12-18 bulan dari
memberikan vaksinasi susulan pada anak-anak diatas usia tersebut, remaja, dan orang
dewasa yang belum divaksinasi. Penelitian menunjukkan bahwa kekebalan bertahan
hingga lebih dari 20 tahun setelah vaksinasi.

1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
a. Bagaimana anatomi fisiologi sistem integumen ?
b. Bagaimana konsep medis dari penyakit varicella ?
c. Bagaimana konsep asuhan keperawatan dari penyakit varicella ?
d. Bagaimana cara pencegahan penyakit virus varicella zooster ?
e. Bagaimana jurnal penelitian terkait penyakit vaicella ?

1.3 Tujuan
Dari rumusan masalah di atas dapat diperoleh tujuan sebagai berikut :
a. Pembaca memahami anatomi fisiologi sistem integumen
b. Pembaca memahami konsep medis dari penyakit vaicella
c. Pembaca mengerti konsep asuhan keparawatan dari penyakit varicella
d. Pembaca mengerti cara pencegahan penyakit virus varicella zooster
e. Pembaca mengerti jural penelitian terkait penyakit varicella

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Anatomi dan Fisiologi Sistem Integumen
Sistem integumen (terutama kulit) merupakan suatu massa atau jaringan terbesar
di tubuh. Kulit bekerja melindungi struktur-strktur di bawahnya dan berfungsi sebagai
cadangan kalori. Kulit menceminkan emosi dan stres yang kita alami, serta
bwrdampak pada penghargaan orang lain terhadap kita. Selama hidup, kulit kulit
dapat terpotong, tergigit, mengalami iritasi, terbakar, atau terinfeksi. Akan tetapi, kulit
memiliki kapasitas dn daya tahan yang luar biasa untuk pulih.
Suatu kondisi stres psikologis pada keadaan sakit atau pada berbagai masalah
pribadi, serta keluarga pada umunnya akan bermanifstasi keluar sebagai masalah
sistem integumen. Pada kondisi klinik pasien yang drawat di rumah sakit dapat secara
tiba-tiba mengalami gatal-gatal dan ruam yang terjadi sekunder akibat
pengobayannya. Pada kondisi sistemik tertentu, seperti hepatitis dan kanker,
manifeatasi gengguan integumen dapay menjadi tanda pertama kelainan tersebut.
Sebagai sistem organ tubuh yang paling luas, kulit tidak bisa terpisahkan dari
kehidupan manusia. Kulit membangun sebuah barier yang memisahkan organ-organ
internal dengan lingkungan luat dan turut berpartisipasi dalam banyak fungsi tubuh
yang vital. Kulit tersambung dengan membran mukosa pada ostium eksternal siatem
gastrointestinal, respiratorius, dan urogenitalis. Oleh karena itu kelainan kulut mudah
terlihat, jeluhan sistem integumen dapat menjadi alasan utama mengapa pasien
mencari pelayanan kesehatan.
Kulit terdiri atas tiga lapisan, yang masing-masing memiliki berbagai jenis sel dan
memiliki dungsi bermacam-macam. Ketiga lapisan tersebut adalah epidermis, dermis,
dan subkutis.

2
1. Epidermis
Epidermis merupakan struktur lapisan kuliy terluar. Sel-sel epidermis
menerus mengalami mitosis, dan berganti dengan yang baru sekitar 30 hari.
Epidermis mengandung reseptor-reseptor sensorik untuk sentuhan, suhu, getaran,
dan nyeri.
Komponen utama epidermis adalah protein keratin, yang dihasilkan sel-
sel disebut keratonin. Kreatin adalah bahan-bahan yang kuat dan memiliki daya
tahan tinggi, serta tidak larut dalam air. Keratin mencegah hilangnya air tubuh dan
melindungi epidermis dari iritan atau mikroorganisme penyebab infekai. Keratin
adalah komponen utama ependiks kulit: rambut, dan kuku (Craven:2000)

3
Melanosit (sel pigmen) terdapat di bagian dasar epidermus. Melanosit
menyintesis dan mengeluarkan melanin sebagai respon terhadap rangsangan
hormon hipofisis anterior, hormon perangsang melanosit (melanocyte stimulating
hormone, MSH). Melanosit merupakan sel-sel khusus epidermis yang terutama
terlibat dalam reproduksi pigmen melamin yang mewarnai kulit dan rambut.
Semakin banyak melamin, semakin gelap warnanya. Sebagian besar orang yang
berkulit cerah(misalnya puting susu) mengandung pigmen ini dalam jumlah yang
lebih banyak. Warna kulit yang normal bergantung pada ras dan bervariasi dari
merah muda yang cerah hingga coklat. Penyakit sistemik juga akan
mempengaruhi warna kulit. Sebagai contoh, kulit akan berdampak kebiruan bila
terjadi oksigenasi darag yang tidak mencukupi,bewarna kuning hijau pada
penderita ikterus, atau merah atau terlihat flushing bila terjadi inflamasi atau
deman. Melamin diyakini dapat menyerap cahaya ultraviolet dan dengan
demikian akan melindungi seseorang terhadap efek pancaran cahaya ultraviolet
dalam sinar matahari yang berbahaya.
Sel-sel imun, yang disebut sel Langerhans, terdapat di seluruh epidermis.
Sel Lagerhans mengenali partikel asing atau mikroorganisme yang masuk ke kulut
dan membangkitkan suarmtu serangan imun. Sel Langerhans mungkin
bertanggung jawab mengenal dan menyingkirkan sel-sel kulut dispslastik atau
neoplastik. Sel Lagerhans secara fisik berhubungan dengan saraf-saraf simpatis,
yang mengisyaratkan adanya hubungan antara sistem saraf dan kemampuan kulut
melawan infeksi atau menvegah kenker kulit. Stres dapat memengaruhi fungsi sel
Langerhans dengan meningkatkan rangsang simpatis. Radiasi ultraviolet dapat
merusak sel Langerhans, mengurangi kemamouan mencegah kanker.

2. Dermis
Dermis atau kutan (cutaneus) merupakan lapisan kulut di bawah epidermis
yanh membentuk bagian terbesar kulit dengan mwmberikab kekuatab dan struktur
pada kulit.
Lapisan papila derkis berada langsung di bawah epidermus dan tersusun
terutana dari sel-sel fibroblas yang dapat menghasilkan salah satu bentuk kolagen,
yaitu suatu komponen dari jaringan ikat. Dermis juga tersusun dari pembuluh

4
darah limfe, serabut saraf, asam hialuronat, disekresi oleh sel-sel jaringan ikat.
Bahan ini mengelilingi protein dan menyebabkan kulut menjadi elastis dan
memiliki tugor (tegangan). Pada seluruh dermis dijumpai pembuluh darah, saraf
sensorik dan simpatis, pembuluh limfe, folikel rambut, serta kelenjar keringat dan
Palit (sebasea). Sel mast, yang mengeluarkan histamin selama cedera atau
peradangan dan makrofag, yang memfagositosis sel-sel mati dan mikro-
organisme, juga terdapat di dermis.
Pembuluh darah di dermis, menyuplai makanan dan oksigen pada dermjs
dan epidermis serta membuang produk-produk sisa. Aliran darah dermis
memungkinkan tubuh mengontrol temperaturnya. Pada penurunan suhu tubuh,
saraf-sarag simpatis ke pembuluh dan meningkatkan pelepasan norepinefrin.
Pelepasan neropinefrin menyebabkan konstriksi pembuluh sehingga panas tubuh
dapat dipertahankan. Apabila suhu tubuh terlalu tinggi, maka rangsangan simpatis
terhadap pembuluh darah dermis berkurang sehingga terjadi dilatasi pembuluh
sehingga panas tubuh akan dipindahkan ke lingkungan. Hubungan anteriovena
(AV), yang disebut anastomosis, dijumoai oada sebagian pembuluh darah.
Anastomisis AV mempermudah pengaturan suhu tubuh oleh kulit dengan
memungkinkan darah melewati bagian atas dermis pada keadaan yang sangat
dingin. Saraf simpatis ke dermis juga mempersarafi keringat, kelenjar sebasea,
serta folikel rambut.

3. Lapisan subkutis
Lapisan subkutis kulit terletak di bawah dermis. Lapisan ini terjadi atas
lemak dan jaringan ikat dimana berfungsi untuk memberikan bantalan antara
lapisan kulit dan struktur internal seperti otot dan tulang, serta sebagai peredam
kajut dan indulator panas. Jaringan ini memungkinkan mobilitas kulit, perubahan
kontur tubuh dan penyekatan panas tubuh (Guyton, 1996). Lemak yang
bertumpuk dan tersebar menurut jenis kelamin seseorang, secara parsial akan
menyebabkan perbedaan bentuk tubuh laki-laki dengan perempuan. Makan yang
berlebihan akan meningkatkan penimbuhan lemak di bawaj kulit. Jarinhan
subkutan dan jumlah lemak yanh tertimbun merupakan faktor penting dalam
pengaturan suhu tubuh.

5
4. Rambut
Rambut dibentuk dari keratin melalui proses diferensiasi yang sudaj ditentukan
sebelumnya, sel-sel epidermis tertentu akan mwmbentuk folikel-folikel rambut.
Folikel rambut ini disokonh oleh matriks kuluy fan akan berdiferensasi menjadi
rambut. Kemudian suatu saluran epitel akan terbenruk, melalui saluran inilah
rambut akan keluar ke purmukaan tubuh. Sama seperti sisik, rambuy terdiri atas
keratin mati dan dibentuk dengan kexepatan tertentu. Sistin dan metionin, yaitu
asam amino yang mengandung sulfur dengan ikatan kovalen yang kuat,
memberikan kekuatan pada rambut.
Pada kulit kepala, kecepayan pertumbuhan rambut biasanya 3 mm per hari
(Price, 1995). Setiap rambuy melewati siklus pertumbuhan (rambut anagen),
stadium intermedia (rambuy katagen), dan inovasi (rambut telogen). Stadium
anagen pada kulit kepala dapat mempertahankan selama kurang lebih 3 tahun,
sedangkan stadium telogen hanya bertahan sekitar 3 bulan saja. Begitu folikel
rambut mencapai stadium telogen, maka ramvut akan rontok. Pada akhirnya
folikel rambut akan mengalami regenerasi stadium anagen dan akan berbentuk
rambut baru. Aktivitas siklus folikel rambut ini satu dengan yang lainnya tidak
saling bergantung. Pola mosaik ini mencegah terjadinya kebotakan sementara
pada kukiy kepala. Bila proses ini berhenti, maka orang tersebut akan mengalami
kebotakan permanen. Sekitar 90% dari 100.000 folikel rambut pada kulit kepala
yang nornal berada dalam fase pertumbuhan pada satu saat. Lima oulug hingga
100 lembar rambut kulit kepala akan rontok setiap harinya (Craven, 2000).
Rambut pada berbagau bagiab tubuh memiliki dungsu yang bermacam-mavam.
Ramvut pada bagiab mata (alis dan bulu mata), hidung, dan telinga menyaring
debu binantang kevil, serta kotoran yang terbawa oleh udara.
Warna rambut ditentukan oleh jumlah melamjn yang beragam dalam
batang rambut. Rambut yang berwarna kelabu atau putih mencerminkan tidak
adanya pigmen tersebut. Pada bagian tubuh tertentu, pertumbuhan rambut
dikontrol oleh hormon-hormon seks. Contoh yang paling nyata adalah rambuy
pada wajah (rambut janggut dan kumis) dan rambuy pada baguan dada, serta
ounggubg yang dikendalikan oleh hormon laki-laki yang dikenal sebagai jormin
androgen. Kuantitas dan distribusi rambut dapay dipengaruhi oleh kondisi

6
endokrin. Aebagai cintoh, sindron Cushing menyebabkan hirautisme
(pertumbuhan rambut yang berlebihan, khususnya pada waniya), hipitiroidisme
(tiroid yang kuranh aktif) menyebabkan perubahan tekstur rambut. Pada banyak
kasus, kemoterapi dan terapi radiasi pada kanker akan menyababkan penipisan
ranbuy atau pelemahan batang rambuy sehingga terjadi alopesia (kerontokan
rambut) yang persial atau tatal dari kulit kepala maupun bagian tubuh yang lain.
5. Kuku
Kuku merupakan lempeng keratin yang dibentuk oleh sel-sel epidermis
matriks kuku. Matriks kuku terletak di bawah bagian proksimal lempeng kuku
dalam dermis. Bagian ini dapag terlihat sebagai suatu daerah putih yang disebut
lunula, yang tertutup oleh lipatan kuku bagian proksimal dan kutikula. Oleh
karena rambut maupun kuku merupakan struktur keratin yang mati, maka rambut
dan kuku tidak mempunyai ujung saraf dan tidak mempunyai aliran darah. Kuku
akan melindungi jari-jari tangan dan kaki dengan menjaga fungsi sensoriknua
yang sangat berkembang, serta meningkatkan fungsi-fungsi halus tertentu seperti
fungsi mengangkat benda-benda kecil. Pertumbuhan kuku berlangsung sepanjang
hidup dengan pertumbuhan rata-rata 0,1 mm perhari.
Pertumbuhan ini berlangsung lebih cepat pada kuku jari tangan dari pada
kuku jari kaki dan cenderung melambat bersamaan dengan proses penuaan.
Pembaruan total kuku jaringan tangan memeelukan waktu sekitar 170
harizsedangkan pembaruan kuku jari kaki membutuhkan waktu 12 sehingga 18
bulan (Smeltzer, 2002).

6. Kelenjar pada kulit
Kelenjar sebasea menyertai folikel rambut. Kelenjar ini mengeluarkan
bahan berminyak yang diaebut sebum ke saluran di sekiyarnya. Untuk setiap
lembar rambuy terdapat sebuat kelenjar sebasea yang sekretnya akan melumasi
rambut dan membuat rambut menjadi lunak, serta lentur. Kelenjar sebasea
terdapay di seluruh tubuh, terutama di wajah, dada, dan punggung. Testosteron
menibgkat pada pria dan waniya selama pubertas.
Kelenjar keringat ditemukan pada kukiy si sebagian besar permukaan
tubuh. Kelenjar ini tertama didapat pada telapak tangan dan kaki. Hanua glans

7
penis, sebagian tepi bibir, telinga luar, dan dasae kuku yang tidak mengandung
kelenjar keringat. Keringat dapat diklasifikasi lebih lanjur menjadi dua kategori
yaitu kelenjar merokrin dan apokrin. Kelenjar merokrin ditemukan pada semua
daerah kulit. Saluran kwluarnya bermuara langsung ke permukaan kulit. Kelenjar
apokrin berukuran lebih besae dan berbeda dengan kelenjar ekrin. Sekret kelenjar
ini mengandunh fragmen sel-sel sekretorik. Kelenjar apikrin terdapat di daerah
aksila, anus, dan labia mayor. Saluran keluarnya pada umumnya bermuara ke
dalam folikel rambut apokrin menjadi aktif pada pubertas.
Kelenjar Apokrin. Memproduksi keringat yang keruh seperti susu dan
diuraikan oleh bakteri untuk menghasilkan bau ketiak yang khas. Kelenjar apokrin
yan khusus dan dinamakan kelenjar seruminosa dijumpai pada telinga luar, tempat
kelenjar tersebut memproduksi serumen ( Lewis, 2000 ). Sekresi apokrin tidak
mempunyai fungsi apapun yang berguna bagi manusia, tetapi kelenjar ini
menimbulkan bau pada ketiak apabila sekresinya mengalami dekomposisi oleh
bakteri ( Price, 1995 ).
Sekret yang encer seperti air yang disebut keringat atau peluh dihasilkan
oleh bagian basal yang berbentuk seperti kumparan pada kelenjar ekrin dan
dilepaskan ke dalam saluran keluarnya yang sempit. Keringat terutama tersusun
dari air dan mengandung sekitar separuh dari kandungan garam dalam plasma
darah. Keringat dilepas dari kelenjar ekrin sebagai reaksi terhadap kenaikan oleh
sistem saraf simpatik. Pengeluaran keringat yang berlebihan pada telapak tangan
dan kaki, aksila, dahi dan daerah – daerah lainnya dapat terjadi sebagai reaksi
terhadap rasa nyeri serta stress.
A. Fungsi Kulit
Secara umum beberapa fungsi kulit adalah sebagai berikut :

1. Proteksi
2. Sensasi
3. Termoregulasi
4. Metabolisme, sintesiv vitamin D
5. Keseimbangan air
6. Penyerapan zat atau obat
7. Penyimpanan nutrisi

8
B. Proteksi
Kulit yang menutupi sebagian besar tubuh memiliki ketebalan sekitar 1
atau 2 mm yang memberikan perlindungan yang sangat efektif terhadap trauma
fisik, kima dan biologis dari invasi bakteri. Kulit telapak tangan dan kaki yang
menebal memberikan perlindungan terhadap pengaruh trauma yang terus –
menerus terjadi di daerah tersebut.
Bagian stratum korneum epidermis merupakan barier yang paling efektif
terhadap berbagai faktor lingkungan seperti zat – zat kimia, sinar matahari, virus,
fungus, gigitan serangga, luka karena gesekan angin, dan trauma. Kulit dapat
mencegah penetrasi zat – zat dari luar yang berbahaya ataupun kehilangan cairan
dan substansi lain yang vital bagi homeostasis tubuh. Lapisan dermis kulit
membersihkan kekuatan mekanis dan keuletan melalui jaringan ikat fibrosa dan
serabut kolagennya. Serabut elastis dan kolagen yang saling berjalin dengan
epidermis memungkinkan kulit untuk berprilaku sebagai satu unit. Dermis
tersusun dari jalinan vaskular, akar rambut tubuh, dan kelenjar peluh , serta
sebasea. Oleh karena epidermis bersifat avaskuler, dermis merupakan barier
transportasi yang efisien terhadap substansi yang dapat menembus stratum
korneum dan epidermis. Faktor – faktor lain yang memengaruhi fungsi protektif
kulit mencakup usia kulit, daerah kulit yang terlibat dan status vaskuler.

C. Sensasi
Ujung – ujung reseptor serabut saraf pada kulit memungkinkan tubuh
untuk memantau secara terus – menerus keadaan lingkunga di sekitarnya. Fungsi
utama reseptor pada kulit adalah untuk mengindra suhu, rasa nyeri, sentuhan yang
ringan dan tekanan ( atau sentuhan yang berat ). Berbagai ujung saraf bertanggung
jawab untuk bereaksi terhadap setiap stimuli yang berbeda ( smeltzer, 2002 ).
Meskipun tersebar di seluruh tubh, ujung – ujung saraf lebih terkonsentrasi pada
sebagian daerah dibandingkan bagian lainnya. Sebagai contoh ujung – ujung jari
tangan jauh lebih terinervasi ketimbang kulit pada bagian pungung tangan.

D. Termoregulasi

9
Peran kulit dalam pengaturan panas meliputi sebagai penyakit tubuh,
vasokontriksi ( yang memengaruhi aliran darah dan hilangnya panas ke kulit ),
dan sensasi suhu ( Potter, 2006 ). Perpindahan suhu dilakukan pada sistem
vaskular, melalui dinding pembuluh, ke permukaan kulit dan hilang ke lingkungan
sekitar melalui mekanisme penghilangan panas. Pada kondisi suhu tubuh rendah,
pembuluh darah akan mengalami konstriksi. Sebaliknya saat suhu tinggi,
hipotalamus menghambat vasokontriksi dan pembuluh dilatasi. Saat kulit menjadi
dingin, sensori mengirim informasi ke hipotalamus, yang mengakibatkan
menggigil, menghambat keringat, dan vasokontriksi.
Pengeluaran dan produksi panas terjadi secara stimulan. Strktur kullit dan
paparan terhadap lingkungan secara konstan, pengeluaran panas secara normal
yaitu melalui

1. Radiasi
Radiasi adalah perpindahan panas dari permukaan suatu objek ke
permukaan objek lain tanpa keduanya bersentuhan. Panas berpindah melalui
gelombang elektromagnetik ( Potter, 2005 ). Adanya aliran darah dari organ
internal inti membawa panas ke kulit dan ke pembuluh darah permukaan.
Variasi jumlah panas yang dibawa ke permukaan bergantung pada tingkat
vasokontriksi dan vasodilatasi yang diatur ole hipotalamus. Penyebaran panas
dari kulit ke setiap objek yang lebih dingin di sekelilinya. Penyebaran
meningkat bila perbedaan suhu antara objek juga meningkat. Vasodilatasi
perifer juga meningkatkan aliran darah ke kulit untuk memperluas penyebaran
yang ke luar. Vasokonstriksi perifer menimbulkan kehilangan panas ke luar.
Sampai 85 % area permukaan tubuh manusia menyebarkan panas ke
lingkungan. Nammun, bila lingkungan lebih hanga dari kulit, tubuh
mengabsorpsi panas melalui radiasi. Perawat meningkatkan kehilangan panas
melaui radiasi dengan melepaskan pakaian atau selimut. Posisi pasien
meningkatan kenhilangam panas melalui radiasi.
2. Konduksi
Konduksi merupakan pengeluaran panas dari satu objek ke objek laim
melalui kontak langsung. Proses pengeluaran atau perpindahan suhu tubuh
terjadi pada saat kulit hangat menyentuh objek yang lain lebih dingin. Ketika

10
pada kondisi suhu dua objek sama, kehilangn pannas konduktif terhenti.
Perpindahan panas tubuh secara konduksi dapa tmelaui padat, gas dan cair.
Penting bagi perawat mengetahui bahwa cara menurunkan panas tubuh secara
konduksi menyebabkan sedikit kehilangan panas. Perawat meningkatkan
kehilanganpanas konduktif ketika merikan kompres es atau memandikan
pasien dengan air dingin. Memberikan beberapa lapis pakaian akan
mengurangi efek konduksi.
3. Konveksi
Konveksi merupakan suatu perpindahan panas akibat adanya gerakan
udara yang secara langsung kontak dengan kulit. Adanya arus udara membses
udara hangat akan menyebabkan kehilangan panas secara konveksi.
Sebaliknya arus uadara dingin meningkatkan pengularan panas secara
konveksi. Pembeliaran pakaian atau selimut akan menurunkan efek konveksi.
Kondisi ini memberikan implikasi pada perawat dalam megatur suhu
lingkungan pada pasien yang mengalami kondisi hipertermi atau hipotermi.
4. Evaporasi
Evaporasi meupakan perpindahan suatu perpindahan energi pansa ketika
cairan berubah menjadi gas. Selama evaporasi, kira-kira 0,6 kaloro panas
hilang untuk setiap gram air yang menguap. Tubuh secara kontinu kehilangan
panas melalui evaporasi. Kiara-kira 600-900 ml sehari menguap dari kulit dan
paru, yang mengakibatkan kehilangan air dan panas. Kehilangan normal ini
dipertimbangkan kehilangan air tidak kasat mata (insensible water loss) dan
tidak memainkan peran utama dalam pengaturan suhu (Guyton, 1999).
Dengan mengatur perpirasi atau berkeringat, tubuh meningkatkan
kehilangan panas evaparatif tambahan. Berjuat – juta kelenjar keringat yang
terletak dalam dermis kulit menyekresi keringat melalui duktus kecil pada
permukaan kilit. Ketika suhu meningkat, hipotalamus anterior memberi sinyal
kelenjar keringat untuk berkeringat untuk melepasakan keringat. Selama
latihan dan stres emosi atau mental, berkeringat adalah satu cara untuk
menghilangkan kelebihan panas yang dibuat melalui peningkatkan laju
metabolik (Potter, 2006).

11
E. Metabolisme
Meskipun sinar matahari yang kuat dapat merusak sel-sel epitel dan
jaringan, tetapi sinar dengan jumlah yang dapatditoleransi diperluakn tubuh
menusia. Ketika radiasi sina ultraviolet memberi paparan, maka sel-sel epidermal
di dalam stratum spinosum dan stratum germinativum akan mengonveksi
pelepasan steroid kolestrol menjadi vitamin D, atau kolasiferol. Organ hati
kemudian mengoveksi kolaksiferol menjadi produk yang digunakan organ ginjal
untuj menyitesis hormon kositriol. Kolsitriol merupakan kompoonen yang
penting untuk membantu absorpsi kalsium dan fosfor di dalam usus halus.
Ketidakadekuatan dari penerima kolsitriol akan menghamban pemeliharaan dan
pertumbuhan tulang.

F. Keseimbangan Air
Stratum korneum memiliki kemampuan untuk menyerap air dan dengan
demikian akan mencegah kehilangan air serta elektroit yang berlebihan dari
bagian internal tubuh dan memperthankan kelebapan dalam jaringan subkitan
(Smeltzer,2002)
Apabila kulit mengalami kerusakan, misalnya pada luka baakar, cairan
dan elektroit dalam jumlah yang besar dapat hilang dengan cepat sehingga bisa
terjadi kolaps sirkulasi, syok, serta kematian. Di lain pihak, kulit tidak sepenuhnya
impermeable terhadap air. Sejumlah kecil air akan mengalami evaporasi secara
terus menerus dari permukaan kulit. Evaporasi ini yang dinamakan perspirasi
tidak kasat mata (insensible perspiration) yang berjumlah kuran lebih 600 ml
perhari untuk orang dewasa yang normal. Kehilangan air yang tidak kasat mata
(insesible water loss) bervariasi menurut suhu tubuh. Pada penderita demam,
kehilangan ini dapat meningkat. Ketika terendam dalam air, kulit akan emnimbun
air sampai tiga kali hingga empat kali berat normal (Guyton, 1999). Contoh
keadaan ini yang lazim dijumpai adalah pembengkakan kulit sesudah mandi
berendam untuk waktu yang lama.

12
G. Fungsi Respons Imun
Hasil – hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa beberapa sel dermal
merupakan komponen penting dalam sistem imun. Penelitian yang masih
berlangsung harus mendefiniskan lebih jelas peranan sel -sel dermal ini dalam
fungsi imun.

H. Pertimbang Gerontologik
Secara fisiologi sistem integumen akan mengalami perubahan yang
signifikan akibat proses penuaan. Kondisi utam yang terjadi pada kulit lansia
meliputi kering, keriput, pembentukan pigmentasi yang tidak merata, dan
terbentyknya bergai lesi proliferatif.
Secara struktur terjadi oerubahan seluler dimana terjadi penipisana titik
temu dermis dan epidermis sehingga meningkatkan kondisi kekeringan pada kulit.
Keadaan ini menyebabkan lokasi peningkatan yang lebih sedikit antara dua lapis
kulit tersebut sehingga suatu kondisi cedara atau stres yang ringan pada epidermis
dpat menyebabkan lapisan itu terlepas dari dermis. Kondisi ini memberikan
implikasi pada perawat bahwa fenomena penuaan ini dapat menjadi penyebab
meningkatkan kerentanan kulit yang menua terhadap trauma, misalnya pasien
yang kurang mobilitas akan meningkatkan resiko ulkus tekan yang lebih tinggi
dibanding dewasa muda.
Dengan bertambahnya usia, struktuk dark epidermis dan dermis akan
mengalami penipisan dan pendataran sehingga timbul pengeriputan kulit, kulit
yang menggantung, dan lipatan kulit saling tumpang tindih. Hilangnya subtansi
elastin, kolagen, dan lemak subkutan dala jaringan bawah kulit bertanggung jawa
terhadap penurunan daya perlindungan, pembantalan jaringandan organ di
bawahnya serta menurunkan tonus otot.
Perubahan struktur kulit akibat pergantian sel yang melambat karena
proses penuaan meningkat terbentuknya pigmentasi pada kulit. Dengan
terjadinya penipisan lapisan dermis, kulit menjadi rapuh dan transparan. Pasokan
darah ke kulit juga berubah sejalan dengan bertambahnya usia. Pembuluh darah,
terutama lingkaran kapiler akan menurun jumlah dan ukurannya. Perubahan
vaskular ini turut menghambat penyembuhan luka yang umum terlihat pada

13
pasien-pasien lansia. Selain iti kelenjar keringat dan kelenjar sebasea juga kan
menurun jumlah dan kapasita fungsionlanya sehingga kulit menjadi kering dan
bersisik. Penurunan kadar hormon andrgen diperkirakan turut menyebabkan
berkurangnya fungsi kelenjar sebasea.
Pertumbuhan rambut akan berkuarang secara bertahap, terutama rambut
di tungkai bawah dan dorsum kaki. Penipisan rambut sering terlihat di kulit kepala
aksila, dan pubis. Fungsi lain yang dipengaruhi oleh proses penuaan normal
adalah fungsi barier, persepsi sensorik, dan termogulasi.

2.2 Konsep Medis
A. Pengertian
Varisela adalah infeksi akut primer oleh virus varisela-zoster yang
menyerang kulit dan mukosa, secara klinis terdapat gejala konstitusi, kelainan
kulit polimorfi, terutama berlokasi di bagian sentral tubuh. Disebut juga cacar air,
chichen pox. Tersebar kosmopolit, menyerang terutama pada anak-anak.
Transmisi penyakit ini secara aerogen. Masa penularannya lebih kurang 7 hari
dihitung dari timbulnya gejala kulit.

B. Etiologi
Virus varisela-zoster. Infeksi primer virus ini menyebabkan varisela,
sedangkan reaktivasi menyebabkan herpes zoster.

C. Manifestasi Klinis
Masa inkubasi berlangsung 14-21 hari. Terdapat gejala prodromal berupa
demam tidak terlalu tinggi, malaise, dan nyeri kepala, disusul timbulnya erupsi
kulit berupa papul eritematosa yang dalam waktu beberapa jam berubah menjadi
vesikel dengan bentuk khas berupa tetesan embun (tear drops). Vesikel akan
berubah menjadi kustul kemudian kusta. Sementara proses ini berlangsung,
timbul esikel baru sehingga timbul gambaran polimorfi.
Mula-mula timbul dibadan, menyebar secara sentrifugalke wajah dan
ekstermitas, serta dapat menyerang selaput lender mata, mulut dan saluran napas

14
atas. Pada infeksi sekunder kelenjar getah bening regeional membesar. Penyakit
ini biasanya disertai rasa gatal.
Komplikasi jarang pada anak-anak dan lebih sering pada dewasa, berupa
ensefalitis, pneumonia, glomerulonephritis, karditis, hepatitis, keratitis,
konjungtivitis, otitis, arteritis, dan kelainan darah (beberapa macam purpura).
Infeksi pada trimester pertama kehamilan dapat menimbulkan kelainan
konginetal, sedangkan pada beberapa hari menjelang kelahiran dapat
menyebabkan varisela kongenital pada neonatus.

D. Pemeriksaan Penunjang
Dapat dilakukan percobaan Tzanck dengan membuat sediaan hapus yang
diwarnai dengan giemsa. Bahan diambil dari kerokan dasar vesikel dan akan
didapati sel datia berinti banyak.

E. Penatalaksanaan
Pengobatan bersifat simtomatik dengan antipiretik dan analgesic. Untuk
menghilangkan gatal dapat diberikan sedative. Diberikan bedak mengandung zat
anti gatal (mentol, kamfora) untuk mencegah pecahnya vesikel secar dini dan
menghilangkan gatal. Pada infeksi sekunder dapat diberikan antibiotika berupa
salep dan oral. Dapat pula diberikan obat-obatan anti virus atau imunostimulator.

2.3 Konsep Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian
Pada anamnesa ditemukan adanya kontak dengan penderita varisela atau
herpes zoester. Pada anak-anak gejala prodomal adalah ringan, terdiri atas
malaise, nyeri kepala dan demam timbul sebelum erupsi keluar. Pada orang
dewasa gejala prodromal lebih berat dan lebih lama. Tingginya demam sesuai
dengan luasnya lesi bahkan terkadang mencapai 40-41°C selama 4-5 hari. Pada
beberapa penderita juga sering disertai rasa gatal.
Pada pemeriksaan fisik lokalis lesi menyebar diseluruh tubuh dimulai dari
suatu vesikula dan akan berkembang lebih bangak diseluruh tubuh.

15
Sering terdapat vesikula pada permukaan mulut dan kadang-kadang juga
pada mukosa lain seperti pada konjungtiva. Setelah 5 hari biasanya lesi
mengalami krustasi dan lepas dalam waktu 1-3 minggu. Penyakit dianggap dapat
menular sejak 4hari sebelum erupsi timbul sampai 5 hari sesudah erupsi timbul.
Ciri khas infeksi virus pada vesikula adalah terdapat bentukan umbilikasi (delle)
yaitu vesikula dimana bagian tengahnya cekung kedalam.

B. Diagnosa
1. Nyeri b.d respon inflamasi lokal sekunder dari kerusakan saraf perifer kulit
2. Hipertermi b.d. respon inflamasi sistemik
3. Gangguan gambaran diri (citra diri) b.d.perubahan struktur kulit
4. Gangguan pemenuhan istirahat dan tidur b.d. respon nyeri, prognosis
penyakit, dan ketidaktahuan
5. Kebutuhan pemenuhan informasi b.d. tidak adekuat sumber informasi, resiko
penularan, ketidaktahuan program perawatan dan pengobatan

C. Intervensi

Nyeri berhubungan dengan respon inflamasi lokal saraf perifer kulit

Tujuan : dalam waktu 1x24 jam nyeri berkurang/hilang atau teradaptasi.

Kriteria evaluasi :

 Secara subjectif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi. Skala jyeri
0-1 (0-4)
 Dapa mengidentifikasi aktifitas yang meningkatkan atau menerunkan nyeri 0-
1 (0-4)
 Pasien tidak gelisah

Intervensi Rasional

16
kaji nyeri dengan pendekatan PQRST Menjadi parameter dasar untuk.
Mengetahui sejauh mana

Jelaskan dan bantu pasien dengan Pendekatan dengan menggunakan
tindakan pereda nyeri nonfarmakologi relaksasi dan nonfarmakologi lainnya
dan non invasif telah menunjukkan keefektifan dalam
mengurangi nyeri

Lakukan manajemen nyeri keperawatan Posisi fisiologis akan meningkatkan
(atur posisi fisiologis) asupan O2 ke jaringan yang mengalami
iskemik

Istirahatkan klien Istirahat akan menurunkan kebutuhan O2
jaringan perifer dan akan meningkatkan
suplai darah pada jaringan yang
mengalami peradangan

Manajemen lingkungan ( lingkungan Lingkungan tenang akan menurunkan
tenang dan batasi pengunjung) stimulus nyeri eksternal dan pembatasan
pengunjung akan meningkatkan kondisi
O2 ruangan yang akan berkurang apabila
banyak pengunjung yang berada
dilingkungan

Ajarkan teknik relaksasi pernapasan meningkatkan asupan O2 sehingga akan
dalam menurunkan nyeri sekunder dari iskemia
jaringan

Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri Distraksi (pengaliahn perhatian) dapat
menurunkan stimulus internal dengan
mekanisme peningkatan produksi
endorfin dan enkefalin yang dapat
memblok reseptor nyeri untuk tidak
dikirim ke korteksi serebri sehingga
menurunkan persepsi nyeri

17
Lakukan manajemen sentuhan manajemen sentuhan pada saat nyeri
berupa sentuhan dukungan psikologis
dapat membantu menurunkan nyeri.
Masase ringan dapat membantu
meningkatkan aliran darah dan dengan
otomatis membantu suplai darah dan
oksigen ke area nyeri dan menurunkan
sensasi nyeri

Tingkatkan pengetahuan tentang: sebab- Pengetahuan yang akan dirasakan
sebab nyeri dan menghubungkan berapa membantu mengurangi nyerinya dan
lama nyeri akan berlangsung dapat membantu mengembangkan
kepatuhan pasien terhadap rencana
terapeutik

kolaborasi dengan dokter ( pemberian Analgesik memblok lintasan nyeri
analgesik) sehingga nyeri akan berkurang

Hipertermi berhubungan dengan respon inflamasi sistemik

Tujuan : Dalam waktu 1 × 24 jam perawatan suhu tubuh menurun.

Kriteria evaluasi :

Suhu tubuh normal 36-37°C.

Intervensi Rasional

Monitor suhu tubuh pasien Peningkatan suhu tubuh yang
berkepanjangan pada pasien varisela akan
memberikan komplikasi pada kondisi
penyakit yang lebih parah (seperti

18
ensefalitis pascavarisela dan pneumonia
pascavarisela) efek sekunder dari
peningkatan tingkat metabolisme umum
dan dehidrasi akibat dari hipertermi

Hipertermi berhubungan dengan respon inflamasi sistemik

Intervensi Rasional

Beri kompres dingin di kepala dan aksila Memberikan respons dingin pada pusat
pengatur panas dan pada pembuluh darah
besar

Pertahankan tirah baring total selama Mengurangi peningkatan proses
fase akut metabolisme umum

Pertahankan asupan cairan minimal Selain sebagai pemenuhan hidrasi tubuh
2.500 ml sehari. juga akan meningkatkan pengeluaran
panas tubuh melalui sistem perkemihan,
maka panas tubuh juga dapat keluar
melalui urine.

Kolaborasi pemberian analgesik- Analgetik diperlukan untuk penurunan
antipiretik respons nyeri. Antipiretik diperlukan
untuk menurunkan panas tubuh dan
memberikan perasaan nyaman pada
pasien.

Gangguan gambaran diri ( citra diri) berhubungan dengan perubahan struktur kulit

Tujuan : Dalam waktu 1×24 jam citra diri pasien meningkat

19
Kriteria evaluasi:

 Mampu menyatakan atau mengomunikasikan dengan orang terdekat tentang
situasi dan perubahan yang terjadi.
 Mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi

Intervensi Rasional

Kaji perubahan dari gangguan persepsi Menentukan bantuan individu dalam
dan hubungan dengan derajat menyusun rencana perawatan atau
ketidakmampuan pemilihan intervensi

Identifikasi arti dari kehilangan atau Beberapa pasien dapat menerima secara
disfungsi pada pasien. efektif kondisi perubahan fungsi yang
dialaminya, sedangkan yang lain
mempunyai kesulitan dalam menerima
perubahan fungsi yang dialaminya
sehingga memberikan dampak pada
kondisi koping maladaptif.

Anjurkan orang terdekat untuk Menghidupkan kembali perasaan
mengizinkan pasien melakukan hal-hal kemandirian dan membantu
sebanyak-banyaknya untuk dirinya. perkembangan harga dirib, serta
memengaruhi proses rehabilitasi

Dukung perilaku atau usaha seperti pasien dapat beradaptasi terhadap
peningkatan minat atau partisipasi dalam perubahan dan pengertian tentang peran
aktivitas rehabilitasi individu masa mendatang.

Minitorinv gangguan tidur peningkatan Dapat mengindikasikan terjadinya
kesulitan konsentrasi, letergi, dan depresi yang umumnya terjadi dimana
withdrawl. keadaan ini memerlukan intervensi dan
evaluasi lebih lanjut.

20
Kebutuhan pemenuhan informasi berhubungan dengan tidak adekuat sumber
informasi, resiko penularan, ketidaktahuan program perawatan dan pengobatan.

Tujuan : Dalam waktu 1×24 jam pasien mampu melaksanakan apa yang telah
diinformasikan

Kriteria evaluasi:

Pasien terlihat mengalami penurunan potensi menularkan penyakit yang dirunjukkan
oleh kegagalan kontak pasien.

Intervensi Rasional

Indikasi orang lain yang beresiko. Orang yang terpajan ini perlu program
Contoh anggota rumah, sahabat terapi obat untuk mencegah penularan
infeksi

Kaji tindakan. Kontrol infeksi sementara, Dapat membantu menurunkan rasa
contoh kebersihan diri dan kontak terisolasi pasien dengan membuang
langsung kulit. stigma sosial sehubungan dengan
penyakit menular.

Kebutuhan pemenuhan informasi berhubungan dengan tidak adekuat sumber
informasi, resiko penularan, ketidaktahuan programperawatan dan pengobatan.

Tujuan : Dalam waktu 1×24 jam pasien mampu melaksanakan apa yang telah
diinformasikan

Kriteria evaluasi :

Pasien terlihat mengalami penurunan pitensi menularkan penyakit yanv di tunjukan
oleh kegagalan kontak pasien.

21
Intervensi Rasional

Identivikasi faktor resiko individu Pengetahuan tentang faktor ini membantu
terhadap pangaktifan berulang virus pasien untuk mengubah pola hidup dan
menghindari insiden eksaserbasi yang
bisa menyebabkan kondisi herpes zoster

Anjurkan terpai untuk mencegah infeksi Intervensi mencegah infeksi sekunder
sekunder dilakukan untuk menurunkam invasi
bakteri terhadap adanya pintu masuk
kuman melalui lesi kulit varisela.

tekankan pentingnya tidak menghentikan periode singkat 2 sampai 3 hari
terapi obat. sedangkan resiko penyebaran infeksi
dapat berlanjut sampai 1 bulan

2.4 Pencegahan Penyakit Virus Varicella Zooster
A. Pencegahan Primer
1. Untuk mencegah cacar air bisa dilakukan beberapa usaha berikut ini, antara
lain :
a) Menjaga kebersihan tangan dengan rajin mencuci tangan dengan sabun
b) Memotong kuku yang panjang dan mengikir kuku yang tajam
c) Sering mandi atau mencuci kulit dengan sabun anti kuman
d) Memakai pakaian yang telah dicuci bersih dan kering serta nyaman
dipakai
e) Sering mengganti pakaian jika sudah dirasa kotor atau tidak nyaman

2. Pencegahan penyakit cacar air dilakukan dengan memberikan vaksin varisela
pada anak-anak bayi yang berumur antara 12 sampai 18 bulan. Pada orang
dewasa yang belum pernah mengalami cacar serta mempunyai gangguan pada
sistem kekebalan tubuh bisa minta diberikan immunoglobulin zoster atau
immunoglobulin varicella zoster dari dokter karena dikhawatirkan akan terjadi

22
hal buruk ketika terserang penyakit cacar air akibat komplikasi yang bisa
mengakibatkan kematian.

B. Pencegahan Sekunder
Untuk mengatasi gejala-gejala penyakit cacar air bisa dilakukan dengan
melakukan kompres dingin pada kulit yang terkena agar rasa gatal berkurang dan
mengurasi garuk-garuk yang dapat menyebabkan infeksi. Selain kompres dingin
bisa juga dengan memberikan obat topikal, Untuk mengurangi rasa gatal yang
berlebihan bisa diberikan obat pengurang gatal pada kulit. Jika terjadi demam
maka bisa diberikan obat sesuai dengan petunjuk atau resep dokter. Cacar air
nantinya akan hilang dengan sendirinya pada penderita setelah jangka waktu
tertentu.

C. Pencegahan Tersier
Menghindari sumber penularan, memakan makanan yang bergizi untuk
menigkatkan kekebalan tubuh sehingga tidak terkena cacar air lagi.

2.5 Jurnal Penelitian
A. Judul

1. PROFIL VARICELLA ZOSTER DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN
RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO 2011-2013 Dwi H.
Danardono Nurdjannah J. Niode Departemen Ilmu kesehatan Kulit dan
Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi/RSUP Prof. Dr. R.D
Kandou, Manado

2. Terapi Asiklovir pada Anak dengan Varisela Tanpa Penyulit Theresia, Sri
Rezeki S. HadinegoroDepartemen Ilmu Kesehatan Anak, RS Dr Cipto
Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

23
B. Problem
1. Pada penelitian di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari
2006-Desember 2008 menunjukkan varisela pada anak menempati urutan
pertama dengan jumlah penderita 44 orang dan persentase 37,93% diantara
penyakit-penyakit infeksi virus lainnya. Usia 5-14 tahun merupakan
kelompok usia terbanyak yang menderita varisela, dan perempuan lebih
banyak sebagai penderita daripada laki-laki dengan perbandingan 1,75:1 pada
tahun ini.6 Penelitian varisela pada anak tahun 2009- 2011 di RSUP Prof. Dr.
R. D. Kandou yang dilakukan oleh Harahap J ditemukan 16 penderita
(27,12%) varisela diantara 59 penderita penyakit infeksi virus lainnya.

2. Angka kesakitan dan kematian menurun terutama pada kelompok umur 1-4
tahun. Angka kejadian varisela di Indonesia belum pernah diteliti sedangkan
berdasarkan data dari poliklinik

C. Intervention
1. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif bersifat retrospektif dengan
melihat dan mencatat kembali catatan rekam medik pasien varisela yang
tercatat di poliklinik kulit dan kelamin RSUP. Prof. Dr. R.D. Kandou Manado
periode Januari – Desember 2012. Populasi mencakup semua kasus baru yang
tercatat menderita penyakit kulit di poliklinik kulit dan kelamin RSUP Prof.
Dr. R.D Kandou Manado periode Januari – Desember tahun 2012 dan sampel
penelitian yaitu semua kasus baru yang tercatat menderita varisela. Variabel
penelitian yaitu jumlah kasus, umur, jenis kelamin, musim kejadian, sumber
penularan, dan terapi.

2. Uji klinis oleh Balfour HH dkk memperkirakan bahwa manifestasi klinis
varisela pada remaja lebih berat dibandingkan anak yang lebih muda sehingga
pada tahun 1992 Balfour HH dkk melakukan uji klinis acak ganda pada 62
remaja umur 13-18 tahun untuk mengkonfirmasi hipotesis ini. Pada penelitian
ini didapatkan kelompok remaja memiliki gejala yang lebih berat
dibandingkan pada anak, dan sebaiknya diberikan asiklovir oral dengan dosis

24
800mg/kali 4 kali selama lima hari yang terbukti aman dan efektif. Jumlah lesi
baru lebih sedikit dibandingkan kelompok placebo (p<0,001)

D. Comparation
1. Didapatkan terapi antivirus dan antibiotik sebagai terapi terbanyak
menjelaskan bahwa pasien yang datang ditemukan adanya lesi aktif atau
vesikel baru dan kemungkinan disertai dengan infeksi sekunder. Pasien yang
hanya diberikan terapi antivirus menjelaskan bahwa pasien datang tanpa
infeksi sekunder atau lesi yang masih baru. Pasien yang diberikan terapi
antibiotik topikal saja menjelaskan bahwa pasien hanya memiliki lesi-lesi sisa
berupa krusta krusta yang sudah mengering

2. Penularan varisela terutama melalui kontak langsung dari lesi di kulit atau
melalui droplet sekret saluran nafas yang dapat terjadi 24 sampai 48 jam
sebelum timbulnya ruam sampai menjadi keropeng, pada umumnya 5-7 hari
setelah timbulnya ruam. Pada anak sehat, manifestasi klinis varisela umumnya
ringan, dapat sembuh sendiri, dan jarang menimbulkan penyulit yang serius

E. Outcome
1. Hasil penelitian yang telah dilakukan di poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP
Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari-Desember 2012 ditemukan
insidens varisela sebesar 2,68%. Varisela ditemukan terbanyak pada
kelompok umur dewasa muda yaitu 15 sampai 24 tahun, yaitu 9 kasus
(33,3%), kasus pada perempuan lebih banyak dibanding lakilaki, dengan
jumlah 16 kasus (59,3%), musim kejadian tersering adalah musim panas yaitu
bulan April sampai September, dengan jumlah 15 kasus (55,6%), sumber
penularan varisela tidak diketahui (tidak ada data lengkap), dan terapi yang
paling sering diberikan adalah terapi kombinasi antara antivirus dan antibiotik
(topikal atau sistemik), dengan jumlah 15 kasus (55,6%).

25
2. Asiklovir hanya diberikan secara rutin pada pasien imunokompromais dan
tidak dianjurkan diberikan secara rutin pada untuk varisela tanpa penyulit pada
anak sehat. Walaupun terdapat beberapa bukti yang menyatakan bahwa
asiklovir mampu mengurangi lamanya demam dan jumlah maksimum lesi bila
diberikan dalam 24 jam pertama setelah timbulnya ruam serta mengurangi
kerugian ekonomi. Hal ini dengan pertimbangan bahwa pada varisela pada
anak sehat dapat sembuh sendiri dan biasanya ringan, asiklovir tidak
mengurangi terjadinya komplikasi varisela, harga asiklovir yang mahal, dan
belum diketahui secara pasti kemungkinan terjadinya resistensi VZV terhadap
asiklovir. Pemberian asiklovir pada anak dengan varisela tanpa penyulit perlu
pertimbangan yang matang.

2.6 Prosedur Keperawatan
A. Wound Care
 Pengertian
Merawat luka mencegah trauma (injury) pada kulit, membran mukosa atau
jaringan lain yang disebabkan oleh adanya trauma, fraktur, luka operasi yang
dapat merusak permukaan kulit.
 Tujuan

1. Mencegah infeksi dari masuknya mikroorganisme ke dalam kulit dan
membran mukosa
2. Mencegah bertambahnya kerusakan jaringan
3. Mempercepat penyembuhan
4. Membersihkan luka dari benda asing atau debris
5. Drainase untuk memudahkan pengeluaran eksudat
6. Mencegah perdarahan
7. Mencegah excoriasi kulit sekitar drain
8. Memberikan lingkungan yang memadai untuk penyembuhan luka
9. Absorbsi drainase
10. Menekan dan imobilisasi luka
11. Mencegah luka dan jaringan epitel baru dari cedera mekanis
12. Mencegah luka dari kontaminasi bakteri

26
13. Meningkatkan homostasis dengan menekan dressing
14. Memberikan rasa nyaman mental dan fisik pada pasien

 Bahan yang Digunakan dalam Perawatan Luka
1. Sodium Klorida 0,9 %
2. Larutan povodine-iodine
 Persiapan Alat

1. Set steril yang terdiri atas :
a. Pembungkus
b. Kasa atau kasa untuk membersihkan luka
c. Tempat untuk larutan
d. Larutan anti septic
e. 2 pasang pinset
f. Kasa untuk menutup luka
2. Alat-alat yang diperlukan lainnya seperti : extra balutan dan zalf
3. Gunting, korentang
4. Kantong tahan air untuk tempat balutan lama
5. Plester atau alat pengaman balutan
6. Selimut mandi jika perlu, untuk menutup pasien
7. Kapas alkohol
8. Betadin
9. Cairan infus Sodium Clorida 0,9 %

 Cara Kerja Perawatan Luka Secara Umum
1. Jelaskan kepada pasien tentang apa yang akan digunakan, jawab pertanyaan
pasien
2. Minta bantuan untuk mengganti balutan pada anak kecil
3. Jaga privasi dan tutup jendela/pintu kamar
4. Bantu pasien untuk mendapat posisi yang menyenangkan. Bukan hanya pada
daerah luka, gunakan selimut mandi untuk menutup pasien jika perlu
5. Tempatkan tempat sampah pada tempat yang dapat dijangkau. Bisa dipasang
pada sisi tempat tidur

27
6. Angkat plaster atau pembalut
7. Jika menggunakan plaster angkat dengan cara menarik dari kulit dengan hati-
hati kearah luka. Gunakan alkohol untuk melepaskan jika perlu
8. Keluarkan balutan atau surgipad dengan tangan jika balutan kering atau
menggunakan sarung tangan jika balutan lembab. Angkat balutan menjahui
pasien
9. Tempatkan balutan yang kotor dalam kantong plastik
10. Buka set steril
11. Tempatkan pembungkus steril di samping luka
12. Angkat balutan paling dalam dengan pinset dan perhatikan jangan sampai
mengeluarkan drain atau mengenai luka insisi. Jika gaas dililitkan pada drain
gunakan 2 pasang pinset, satu untuk mengangkat gass dan satu untuk
memegang drain

13. Catat jenis drainnya bila ada, banyaknya jahitan dan keadaan luka
14. Buang kantong pastik Untuk merghindari dari kontaminasi ujung pinset
dimasuken dalam kantong kertas, sesuda memasang balutan pinset
dijauhkan dari daerah steril
15. Mambersihkan luka nenggunakan pinset jaringan atau arteri dan kapas
dilembabkan dengan anti septik, lalu letakkan pinset ujungnya lebih rendah
daripada paganganya Gunakan satu kapas satu kapas satu kali mengoles,
bersihkan dari insisi kearah drain :
a. Bersihkan dari arah atas ke bawah daripada insisi dan dari tengah keluar
b. Bersihkan dari atas ke bawah daripada insisi den dari tengah keluar
c. Bilas luka menggunakan cairan Normal Saline dg tekanan rendah
d. Jika ada drain bersihkan sesudah luka insisi
e. Untuk luka yang tidak teratur seperti dekubitus ulcer bersihkan dari tengah
luka kearah luar gunakan pergerakan melingkar
16. Ulangi pemberihan sampai semua drainage terangkat.
17. Olesi zalf atau powder. Ratakan powder diatas luka dan gunakan alat steril
18. Gunakan satu balutan dengen pester etau pembalut
19. Amnkan balutan dengan plester atau pembalut
20. Bantu pasien dalam pemberian posisi yang nenyenangkan.

28
21. Angkat peralatan dan kantong plastik yang berisi balutan kotor. Bersihkan
alat dan buang sampah dengan baik.
22. Cuci tangan
23. Laporkan adanya perubahan pada luka atau drainage kepada perawat yang
bertanggung jawab.

Catat penggantian balutan, kaji keadaan Iuka dan respon pasien Mumbersihikan
Daerah Drain Daerah drain dibersihkan sesudah insisi Prinsip membersihkan dari
daerah bersih ke daerah yang terkontaminasi karena drainnya yang basah
memudahkan pertumbuhan bakteri dan daerah daerah drain paling banyak
mengalami kontaminasi. Jika letak drain ditengah luka insisi dapat dibersihkan dari
daerah ujung ke daerah pangkal kearah drain. Gunakan kapas yang lain. Kulit sekitar
drain harus dibersihkan dengan antiseptik.

B. Pain Management
 Pengertian
Cara meringankan nyeri atau mengurangi nyeri sampai tingkat
kenyamanan yang dapat diterima klien.
1. Distraksi
Suatu metode untuk menghilangkan nyeri dengan cara mengalihkan
perhatian klien pada hal-hal lain sehingga klien akan lupa terhadap nyeri yang
dialami.
Tipe Distraksi :
1. Distraksi visual
a. Membaca/ menonton TV
b. Menonton pertandingan
c. Imajinasi terbimbing
2. Distraksi Auditori
a. Humor
b. Mendengar musik
3. Distraksi Taktil
a. Bernapas perlahan & berirama

29
b. Masase
c. Memegang mainan
4. Distraksi Intelektual
a. Teka teki silang
b. Permainan kartu
c. Hobi (menulis cerita

2. Relaksasi
Merupakan metode efektif untuk mengurangi rasa nyeri pada klien yang
mengalami nyeri kronis. Rileks sempurna yang dapat mengurangi ketegangan
otot, rasa jenuh, kecemasan sehingga mencegah menghebatnya stimulus nyeri.
Tiga hal utama yag dibutuhkan dalam teknik relaksasi :
a. Posisi klien yang tepat
b. Pikiran istirahat
c. Lingkungan yang tenang

Prosedur pelaksanaan :
1. Atur posisi klien agar rileks, posisi dapat duduk atau berbaring
2. Instruksikan klien untuk menghirup nafas dalam sehingga rongga paru berisi
udara yang bersih
3. Instruksikan klien secara perlahan untuk menghembuskan udara dan
membiarkannya keluar dari setiap anggota bagian tubuh. Bersamaan dengan
ini minta klien untuk memusatkan perhatian ”betapa nikmat rasanya”
4. Instruksikamklien untuk bernafas dengan irama normal beberapa saat (1-2
menit)
5. Instruksikan klien untuk nafas dalam, kemudian menghenbuskan perlahan-
lahan dan merasakan saat ini udara mengalir dari tangan, kaki menuju ke paru
kemudian udara dibuaang keluar. Minta klien memusatkan perhatian pada kaki
dan tangan, udara yan dikeluarkan dan merasakan kehangatannya
6. Instruksikan klien untuk mengulangi prosedur no.5 dengan memusatkan
perhatian pada kaki, tangan, punggung, perut dan bagian tubuh yang lain.

30
7. Setelah klien merasa rileks, minta klien secara perlahan menanbah irama
pernafasan. Gunakan pernafasan dada atau abdomen. Jika nyeri bertambah
gunakan pernafasan dangkal dengan frekuensi yang lebih cepat.

3. Relaksasi Progresif
Teknik relaksasi otot dalam yang tidak memerlukan imajinasi, ketekunan
atau sugesti.
Pelaksanaan Prosedur :
1) Beritahu klien bagaimana cara kerja relaksasi progresif
a. Jelaskan tujuan dan prosedur
b. Demonstrasikan metode menegangkan dan relaksasi otot
2) Cuci tangan
3) Berikan privasi klien
4) Bantu klien ke posisi yang nyaman (pastikan bagian tubuh disangga
dan sendi agak fleksi tanpa ada tegangan atau tarikan otot)
5) Anjurkan klien untuk mengistirahatkan pikiran (meminta klien untuk
memandang sekeliling ruangan secara perlahan)
6) Minta klien untuk menegangkan dan merelaksasi setiap kelompok otot
Lakukan pada setiap kelompok otot, dimulai dari sisi yang dominan :
a. Tangan dan lengan bawah
b. lengan atas
c. Dahi
d. Wajah
e. Leher
f. Dada, bahu dan punggung
g. Abdomen
h. Paha
i. Otot betis
j. Kaki
7) Dorong klien untuk bernapas perlahan dan dalam.
8) Bicara dengan suara tenang yang mendorong relaksasi dan pimpin
klien untuk berfokus pada setiap kelompok otot (missal “ buat kepalan

31
tangan yang kuat, genggam kepalannya dengan sangat kuat, tahan
tegangan 5-7 detik, lepaskan seluruh tegangan dan nikmati perasaan
saat ototmu menjadi relaks dan mengendur)
9) Kerutkan dahi keatas pada saat yang sama, tekan kepala sejauh
mungkin ke belakang, putar searah jarum jam dan kebalikannya,
kemudian anjurkan klien untuk mengerutkan otot muka : cemberut,
mata dikedip-kedipkan, bibir dimonyongkan ke depan, lidah ditekan
ke langit-langit dan bahu dibungkukkan 5-7 detik. Bimbing klien ke
arah otot yang tegang, anjurkan klien untuk memikirkan rasanya, dan
tegangkan otot sepenuhnya kemudian rileks 12-30 detik.
10) Lengkungkan punggung ke belakang sambil menarik nafas dalam,
tekan keluar lambung, tahan lalu rileks. Tarik nafas dalam, tekan
keluar perut, tahan, rileks.
11) Tarik jari dan ibu jari ke belakang mengarah ke muka, tahan, rileks.
Lipat ibu jari secara serentak, kencangkan betis paha dan pantat selama
5-7 detik, bimbing klien ke arah otot yang tegang, anjurkan klien untuk
merasakannya, dan tegangkan otot sepenuhnya, kemudian rileks
selama 12-30 detik
12) Ulangi prosedur untuk kelompok otot yang tidak rileks
13) Akhiri latihan relaksasi
Minta klien untuk menggerakkan badan secara perlahan dari tangan,
kaki, lengan, tungkai, dan terakhir kepala, leher.
14) Dokumentasikan

4. Imajinasi Terbimbing
Persiapan : Sediakan lingkungan yang nyaman dan tenang
Pelaksanaan:
a. Jelaskan tujuan prosedur
b. Cuci tangan
c. Berikan privasi klien
d. Bantu klien ke posisi yang nyaman
 Posisi bersandar dan minta klien untuk menutup matanya

32
 Gunakan sentuhan jika klien terasa nyaman
e. Implementasikan tindakan untuk menimbulkan relaksasi
f. Minta klien untuk memikirkan hal-hal yang menyenangkan atau
pengalaman yang membantu penggunaan semua indra dengan suara
yang lembut
g. Ketika klien rileks, klien berfokus pada bayangannya dan saat itu
perawat tidak perlu bicara lagi
h. Jika klien menunjukkan tanda-tanda agitasi, gelisah atau tidak
nyaman, hetikan latihan dan memulainya lagi ketika klien telah siap.
i. Relaksasi akan mengenai seluruh tubuh. Setelah 15 menit, klien harus
memperhatikan tubuhnya. Biasanya klien rileks setelah menutup mata
atau mendengarkan musik yang lembut sebagai bagroud yang
membantu
j. Catat hal-hal yang digmbarkan klien dalam pikiran untuk digunakan
pada latihan selanjutnya dengan menggunakan informasi spesifik yang
diberikan klien dan tidak membuat perubahan pernyataan klien.

5. Pemijatan (masase)
Pengurutan dan pemijatan yang menstimulasi sirkulasi darah serta
metabolisme dalam jaringan.
Tujuan :
a. Mengurangi ketegangan otot
b. Meningkatkan relaksasi fisik dan psikologis
c. Mengkaji kondisi kulit
d. Meningkatkan sirkulasi/peredaran darah pada area yang dimasase.

Persiapan Alat :

a. Pelumas (minyak hangat/lotion)
b. Handuk

Prosedur pelaksanaan :

a. Siapkan alat-alat yang dibutuhkan

33
b. Identifikasi klien
c. Jelaskan tujuan dan prosedur
d. Cuci tangan
e. Atur klien dalam posisi telungkup. Jika tidak bisa, dapat diatur dengan
posisi miring.
f. Letakkan Sebuah bantal kecil di bawah perut klien untuk menjaga posisi
yang tepat
g. Tuangkan sedikit lotion ke tangan. Usap kedua tangan sehingga lotion
rata pada permukaan tangan.
h. Lakukan masase pada punggung. Masase dilakuka dengan
menggunakan jari-jari dan telapak tangan, dan tekanan yang halus.
i. Metode masase : Selang-seling tangan. Masase punggung dengan
tekanan pendek, cepat, bergantian tangan.

34
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan
Varisela adalah infeksi akut primer oleh virus varisela-zoster yang
menyerang kulit dan mukosa, secara klinis terdapat gejala konstitusi, kelainan
kulit polimorfi, terutama berlokasi di bagian sentral tubuh. Masa inkubasi
varicella zoster berlangsung 14-21 hari. Terdapat gejala prodromal berupa demam
tidak terlalu tinggi, malaise, dan nyeri kepala, disusul timbulnya erupsi kulit
berupa papul eritematosa. Pemeriksaan Tzanck dapat dilakukan untuk menegakan
diagnosa dengan mengambil kerokan dasar vesikel dan akan didapati sel datia
berinti banyak. Untuk pengobatan varicella bersifat simtomatik dengan antipiretik
dan analgesic. Untuk menghilangkan gatal dapat diberikan sedative untuk
mencegah pecahnya vesikel secar dini dan menghilangkan gatal. Pada infeksi
sekunder dapat diberikan antibiotika berupa salep dan oral. Dapat pula diberikan
obat-obatan anti virus atau imunostimulator. Adapun diagnosa keperawatan yang
dapat munculantara lain : nyeri b.d respon inflamasi lokal sekunder dari kerusakan
saraf perifer kulit, hipertermi b.d. respon inflamasi sistemik, gangguan gambaran
diri (citra diri) b.d.perubahan struktur kulit, gangguan pemenuhan istirahat dan
tidur b.d. respon nyeri, prognosis penyakit, dan ketidaktahuan, kebutuhan
pemenuhan informasi b.d. tidak adekuat sumber informasi, resiko penularan,
ketidaktahuan program perawatan dan pengobatan. Terdapat 3 pencegahan
penyakit varicella yaitu : vaksin pada bayi usia 12 hingga 18 bulan, bila sudah
terkena lakukan kompres dingin dan pemberian salep topikal sesuai advis dokter,
menghindari sumber penularan dan memakan makanan yang bergizi untuk
menigkatkan kekebalan tubuh.

3.2 Saran
Dari makalah di atas diharapkan pembaca utamanya mahasiswa keperawatan
dapat mengerti anatomi fisiologi sistem integumen, konsep medis penyakit
varicella dan akhirnya mempu memberi asuhan keperawatan yang tepat pada
pasien varicella. Serta mampu mengedukasi masyarakat unuk dapat mencegah
timbul dan tertularnya penyakit varicella.

35
DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer Arif, 2000, Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga jilid kedua, Jakarta:
Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Muttaqin, Arif dan Kumala Sari.2011.Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem
Integumen.Jakarta: Salemba Medika

Smeltzer, Suxanne C dan Brenda G. Bare.2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal-
Bedah Brunner&Suddart Vol 3 Edisi 8.Jakarta: EGC

https://www.scribd.com/doc/57158425/Buku-Wound-Care

36