You are on page 1of 21

BAB I

PENDAHULUAN

Tatalaksana jalan napas adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk membebaskan jalan
napas dengan tetap mempertahankan kontrol servikal yang bertujuan untuk menjamin jalan
masuknya udara ke paru secara normal sehingga menjamin kecukupan oksigen di dalam tubuh.
Jalan napas berfungsi dalam mengantarkan antara gas atmosfir dan alveolus. Tatalaksana jalan
napas yang efektif menjaga jalan napas bebas dari sekret, kontaminasi dan obstruksi sambil
meminimalisir komplikasi.
Tatalaksana jalan napas merupakan suatu keterampilan yang mendasar dan krusial yang
digunakan tenaga medis dalam menangani masalah kegawatdaruratan. Kegagalan untuk
menjaga jalan napas yang adekuat dapat menyebabkan kematian. Keenan dan Boyan
melaporkan kelalaian dalam memberikan ventilasi yang adekuat menyebabkan 12-27 pasien
yang sedang di operasi mengalami mati jantung (cardiac arest)). Salah satu penyebab utama
dari hasil akhir tatalaksana pasien buruk yang di data oleh American society of anesthesiologist
(ASA) berdasarkan studi tertutup terhadap episode pernapasan yang buruk, terhitung sebanyak
34% dari 1541 pasien dalam studi tersebut. Tiga kesalahan mekanis yang terhitung terjadi
sebanyak 37% pada saat tatalaksana jalan napas yaitu: ventilasi yang tidak adekuat (38%),
intubasi esofagus (18%), dan kesulitan intubasi trakea (17%). Sebanyak 85% pasien yang
didapatkan dari studi kasus mengalami kematian dan kerusakan otak. Sebanyak 300 pasien
(dari 1541 pasien di atas), mengalami masalah sehubungan dengan tatalaksana jalan napas yang
minimal. Menurut Cheney et al menyatakan beberapa hal yang menjadi komplikasi dari
tatalaksana jalan napas yang salah yaitu: trauma jalan napas, pneumothoraks, obstruksi jalan
napas, aspirasi dan spasme bronkus.

Berdasarkan data-data berikut telah jelas bahwa tatalaksana jalan napas yang baik
sangat penting bagi keberhasilan proses operasi sehingga diperlukan keterampilan yang baik
dalam penatalaksanaan jalan napas.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Saluran napas


Tatalaksana jalan napas merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh tenaga
medis, karena itu perlu menguasai anatomi jalan napas atas secara baik dan benar agar dapat
melakukan penatalaksanaan jalan napas

Jalan nafas yang normal secara fungsional dimulai dari hidung. Udara lewat melalui
hidung yang berfungsi sangat penting yaitu penghangatan dan melembabkan (humidifikasi).
Hidung adalah jalan utama pada pernafasan normal jika tidak ada obstruksi oleh polip atau
infeksi saluran nafas atas. Selama bernafas tenang , tahanan aliran udara yang melewati hidung
sejumlah hampir dua per tiga dari total tahanan jalan nafas. Tahanan yang melalui hidung
adalah hampir dua kali bila dibandingkan melalui mulut. Ini menjelaskan mengapa pernafasan
mulut digunakan ketika aliran udara tinggi dibutuhkan seperti pada saat aktivitas berat.Inervasi
sensoris pada mukosa berasal dari dua divisi nervus trigeminal. Nervus ethmoidalis anterior
menginervasi pada septum anterior, dinding lateral, sedangkan pada area posterior di inervasi
oleh nervus nasopalatina dari ganglion sphenopalatina. Anestesi lokal dengan topikal cukup
efektif memblokade nervus ethmoidalis anterior dan nervus maksila bilateral.

Faring meluas dari bagian belakang hidung turun ke kartilago krikoid berlanjut sampai
esofagus. Bagian atas atau nasofaring dipisahkan dengan orofaring dibawahnya oleh jaringan
palatum mole. Lidah adalah sumber dari obstruksi pada laringofaring (hipofaring), biasanya
karena menurunnya tegangan muskulus genioglosus, yang bila berkontraksi berfungsi
menggerakkan lidah kedepan selama inspirasi dan berfungsi sebagai dilatasi faring.

Gambar 1. Anatomi saluran napas


Laring adalah tulang rawan yang dikelilingi oleh ligamen dan otot .Laring terbentang
pada level servikal 3 sampai 6 vertebra servikalis Laring terdiri dari 9 tulang rawan yaitu tiroid,
krikoid, epiglotis, sepasang aritenoid, kornikulata dan kuneiformis. Epiglotis memiliki lapisan
membran mukus, merupakan lipatan glosoepiglotis pada permukaan faring dan lidah. Pada
bagian tertekan disebut valecula. Valecula ini merupakan tempat diletakkannya ujung blade
laringoskop.

Gambar 2. Anatomi laring

Gambar 3. Anatomi plica


Persarafan sensoris disuplai ke jalan napas atas dari nervus kranialis. Membran mukosa
hidung diinervasi oleh divisi oftalmikus saraf trigeminus anterior dan oleh divisi maksilaris ke
bagian permukaan superior dan inferior palatum molle dan palatum durum. Nervus lingualis
yang merupakan cabang divisi mandibula nervus trigeminus dan nervus glossopharyngeal yang
memberikan sensasi umum ke duapertiga anterior dan sepertiga posterior lidah. Cabang nervus
fasialis dan nervus glossopharyngeal menginervasi superior faring, tonsil dan bagian bawah
palatum molle. Nervus vagus memberikan sensi pada jalan napas dibawah epiglotis. Cabang
laringeal superior nervus vagus dibagi kedalam nervus eksternal (motorik) dan internal
(sensoris) nervus laringeal memberikan suplai ke laring diantara epiglotis dan pita suara.
Cabang lain vagus, nervus laringeal rekuren menginervasi laring yang berada dibawah pita
suara dan trakea.1,2
Muskulus krikoaritenoid posterior berfungsi untuk abduksi pita suara, sedangkan
muskulus krikoaritenoid lateral merupakan abduktor yang penting. Ponasi meliputi kerja
simultan yang komplek oleh muskulus laringea. Kerusakan nervus motorik yang menginervasi
laring dapat menyebabkan gangguan bicara luas. Denervasi unilatera muskulus krikotiroid
menyebabkan temuan klinis yang bermakna. Bilateral palsy nervus laringeal superior dapat
menyebabkan suara serak atau cepat lelah jika berbicara meskipun kontrol jalan napas tidak
terganggu. Paralisis unilateral rekuren nervus laringeal dapat menyebabkan paralisis ipsiateral
pita suara sehingga menyebabkan gangguan kualitas suara.1
Suplai darah laring berasal dari cabang arteri tiroid. Arteri krikotiroid berasal dari arteri
tiroid yang merupakan cabang pertama dari arteri karotis eksterna dan berjalan menyilang
diatas membran krikotiroid. Arteri tiroid superior berada di sisi lateral membran krikotiroid.
Ketika merencanakan krikotiroidotomi, anatomi dari arteri krikoid dan arteri tiroid harus
dipertimbangkan, tetapi jarang berefek pada praktek klinis. Teknik paling baik adalah untuk
tetap pada garis tengah, antara kartilago krikoid dan tiroid.2 Daerah yang sering mengalami
sumbatan jalan napas adalah hipofaring, terjadi pada pasien koma ketika otot lidah dan leher
Trakea adalah sebuah struktur berbentuk tubulus yang mulai setinggi Cervikal 6
columna vertebaralis pada level kartilago tiroid. Trakea mendatar pada bagian posterior,
panjang sekitar 10 – 15 cm, didukung oleh 16 – 20 tulang rawan yang berbentuk tapal kuda
sampai bercabang menjadi dua atau bifurkasio menjadi brokus kanan dan kiri pada thorakal 5
kolumna vertebaralis. Luas penampang melintang lebih besar dari glotis, antara 150 – 300
mm2.

Beberapa tipe reseptor pada trakea, sensitip terhadap stimulus mekanik dan kimia.
Penyesuaian lambat reseptor regang yang berlokasi pada otot-otot dinding posterior, membantu
mengatur rate dan dalamnya pernafasan, tetapi juga menimbulkan dilatasi pada bronkus
melalui penurunan aktivitas afferen nervus vagus. Respon cepat resptor iritan yang berada pada
seluruh permukaan trakea berfungsi sebagai reseptor batuk dan mengandung reflek
bronkokontriksi.

2.2 Masalah Pernapasan


A. Obstruksi jalan napas
Pada pasien yang tidak sadar atau dalam keadaan anestesia posisi terlentang, tonus otot
jalan napas otot genioglossus hilang, sehingga lidah akan menyumbat hipofaring dan
menyebabkan obstruksi jalan napas baik total atau parsial.
Tanda-tanda obstruksi partial:
1. Stridor , terdengar seperti ngorok, bunyi kumur-kumur atau melengking.
2. Retraksi otot dada kedalam didaerah supraclavicular, suprasternal, sela iga dan
epigastrium selama inspirasi
3. Nafas paradoksal (pada waktu inspirasi dinding dada menjadi cekung/datar bukannya
mengembang/ membesar).
4. Balon cadangan pada mesin anestesi kembang kempisnya melemah.
5. Sianosis, merupakan tanda hipoksemia akibat obstruksi jalan nafas yang lebih berat.
Tanda-tanda obstruksi total sama seperti dengan obstruksi partial, akan tetapi gejalanya
lebih hebat dan stridor justru menghilang. Keadaan ini sering terjadi dan harus cepat
diketahui dan dikoreksi dengan beberapa cara, misalnya manuver tripel jalan napas (triple
airway maneuver), pemasangan alat jalan napas.

B. Triple airway maneuver


A. Perasat kepala tengadah-dagu diangkat (head tilt-chin lift manuever)
Perasat ini dilakukan jika tidak ada trauma pada leher. Satu tangan penolong
mendorong dahi kebawah supaya kepala tengadah, tangan lain mendorong dagu dengan
hati-hati tengadah, sehingga hidung menghadap keatas dan epiglotis terbuka, sniffing
position, posisi hitup.

chin lift

Head-tilt
B. Perasat dorong rahang bawah (jaw thrust manuever)
Pada pasien dengan trauma leher, rahang bawah diangakat didorong kedepan pada
sendinya tanpa menggerakkan kepala leher. Karena lidah melekat pada rahang bawah,
maka lidah ikut tertarik dan jalan nafas terbuka.

C. Oral dan Nasal Airway


Oropharingeal airway adalah alat berbentuk pipa gepeng lengkung seperti huruf C
berlubang ditengahnya dengan salah satu ujungnya bertangkai dengan dinding lebih
keras untuk mencegah kalau pasien menggigit lubang tetap paten sehingga aliran
udara tetap terjamin. Untuk memilih ukuran OPA ,tempelkan OPA di samping
wajah, dengan ujung OPA pada sudut mulut, ujung yang lain pada sudut rahang
bawah.

Indikasi
- Mencegah lidah dari obstruksi glotis
- Pasien tidak sadar atau dengan tidak ada gag reflex
- Biasa digunakan bersamaan dengan ETT
Kontraindikasi
- Terdapat gag reflex
- Cedera orofaring
Terdapat 2cara pemasangan nasopharingeal airway

1. Menggunakan spatel lidah untuk menekan lidah dan menyisipkan airway tersebut ke
belakang
2. Masukkan pipa orofaring dengan sisi konkaf menghadap ke langit langit mulut
pasien. Segera putar pipa orofaring 180 derajat setelah mencapai palatum molle
sehingga sisi konkaf menghadap ke lidah,dorong pelan-pelan sehingga seluruh pipa
orofaring berada di dalam rongga mulut.

Nasopharingeal airway berbentuk pipa bulat berlubang tengahnya dibuat dari bahan
karet lateks lembut. Pemasangan harus hati-hati dan untuk menghindari trauma mukosa
hidung pipa diolesi dengan jeli. Panjang nasal airway dapat diperkirakan sebagai jarak
antara lubang hidung ke lubang telinga, dan kira-kira dan kira-kira lebih panjang 2-4
cm lebih panjang dari oral airway. Disebabkan karena risiko epistaksis, nasal airway
tidak boleh digunakan pada pasien yang diberikan antikoagulan atau anak dengan
adenoid. Nasal airway juga jangan digunakan pada pasien dengan fraktur basis cranii.

D. Face mask (Sungkup muka)


Penggunaan face mask (sungkup muka) dapat memfasilitasi pengaliran oksigen
atau gas anestetis dari sistem pernapasan mesin anestesi ke pasien dengan membuat
kedap udara (airtight seal) dengan wajah pasien. Bentuk sungkup muka sangat beragam
bergantung usia.Ukuran 03 untuk bayi baru lahir 02, 01, 1 untuk anak kecil 2,3 untuk
anak besar dan 4,5 untuk dewasa

Face mask yang transparan dapat mengobservasi uap gas ekspirasi dan
muntahan. Facemask yang dibuat dari karet berwarna hitam cukup lunak untuk
menyesuaikan dengan bentuk muka yang tidak umum. Retaining hook dipakai untuk
mengkaitkan head scrap sehingga face mask tidak perlu terus dipegang. Beberapa
macam mask untuk pediatrik di disain untuk mengurangi dead space. Ventilasi yang
efektif memerlukan jalan nafas yang bebas dan face mask yang rapat/tidak bocor.
Teknik pemasangan face mask yang tidak tepat dapat menyebabkan reservoir bag
kempis walaupun klepnya ditutup, hal ini menunjukkan adanya kebocoran sekeliling
face mask. Sebaliknya, tekanan sirkuit breathing yang tinggi dengan pergerakan dada
dan suara pernafasan yang minimal menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.

Bila face mask dipegang dengan tangan kiri, tangan kanan digunakan untuk melakukan
ventilasi dengan tekanan positif dengan memeras breathing bag. Face mask dipasang
dimuka pasien dan sedikit ditekan pada badan face mask dengan ibu jari dan telunjuk.
Jari tengah dan jari manis menarik mandibula untuk ekstensi joint atlantooccipital.
Tekanan jari-jari harus pada mandibula, jangan pada jaringan lunak yang menopang
dasar lidah karena dapat terjadi obstruksi jalan nafas. Jari kelingking ditempatkan
dibawah sudut jaw dan digunakan untuk jaw thrust manuver yang paling penting untuk
dapat melakukan ventilasi pasien.

Pada situasi yang sulit, diperlukan dua tangan untuk mendapatkan jaw thrust yang adekuat dan
face mask yang rapat. Karena itu diperlukan seorang asisten untuk memompa bag.
E. laryngeal mask airway
Sungkup laring (LMA, laryngeal mask airway) ialah alat jalan napas berbentuk
sendok terdiri dari pipa besar berhubung dengan tujuan menyerupai sendok yang
pinggirnya dapat dikembang-kempiskan seperti balon pada pipa trakea. Tangkai LMA
dapat berupa pipa keras atau dari polivinil atau lembek dengan spiral untuk menjaga
supaya tetap paten.3 ada 4 tipe LMA yang biasa digunakan: LMA yang dapat dipakai
ulang, proseal LMA yang memiliki lubang untuk memasukan pipa nasogastrik dan
dapat digunakan ventilasi tekanan positif, dan fastrach LMA yang dapat memfasilitasi
intubasi bagi pasien dengan jalan napas yang sulit.
LMA terdiri dari pipa dengan lubang yang besar, yang diakhir bagian proksimal
dihubungkan dengan sirkuit napas dengan konektor berukuran 15 mm, dan di bagian
distal terdapat balon berbentuk elips yang dapat dikembangkan lewat pipa. Balon
dikempiskan dulu, kemudian diberi pelumas dan masukan ke hipofaring, kemudian
dikembangkan.

Gambar 6. Teknik pemasangan LMA


Sungkup laring terdiri dari 2 jenis yaitu:
- Sungkup laring standar dengan satu pipa napas
- Sungkup laring dengan dua pipa yaitu satu pipa napas standar dan lainnya pipa
tambahan yang ujung distalnya berhubungan dengan esofagus.
Cara pemasangan LMA dapat dilakukan dengan atau tanpa bantuan laringoskop.
Sebenarnya alat ini dibuat dengan tujuan diantaranya supaya dapat dipasang langsung
tanpa bantuan alat dan dapat digunakan jika intubasi trakea diramalkan bakal
mendapat kesulitan. LMA memang tidak dapat mengganti kedudukan ntubasi trakea,
tapi LMA merupakan alternatif untuk ventilasi diantara sungkup muka dan intubasi
trakea. Pemasangan hendaknya menunggu anestesia cukup dalam atau menggunakan
pelumpuh otot untuk menghindari trauma rongga mulut, faring-laring. Setelah alat
terpasang, untuk menghindari pipa napasnya tergigit, maka dapat dipasang pipa
gulungan kain kasa (bite block) atau pipa napas aring (OPA).
Kontraindikasi LMA adalah pasien dengan patologi faring (contoh: abses),
obstruksi faring, lambung penuh (contoh: kehamilan, hernia hiatal) atau low
pulmonary compliance (contoh: restriction airways disease) yang membutuhkan
tekanan inspirasi puncak lebih besar dari 30 cmH2O. Biasanya, LMA harus dihindari
pada pasien dengan bronkospasme atau resistensi jalan napas tinggi, namun bukti baru
menunjukkan bahwa angka kejadian bronkospasme pada penggunaan LMA lebih
sedikit dibandingkan dengan TT karena LMA tidak diletakkan di dalam trakea.

F. Esophageal – Tracheal Combitube (ETC)

Combitube adalah alat jalan napas supraglotis, dapat digunakan sebagai alat untuk
memberikan jalan napas ketika baantuan alat konvensional tidak efektif atau tidak
mungkin. Pipa kombinasi esophagus – tracheal (ETC) terbuat dari gabungan 2 pipa,
masing-masing dengan konektor 15 mm pada ujung proksimalnya. Pipa biru yang
lebih panjang ujung distalnya ditutup. Pipa yang tranparant berukuran yang lebih
pendek punya ujung distal terbuka dan tidak ada sisi yang perporasi. ETC ini biasanya
dipasangkan melalui mulut dan dimasukkan sampai 2 lingkaran hitam pada batang
batas antara gigi atas dan bawah. ETC mempunyai 2 balon untuk digembungkan, 100
ml untuk balon prosikmal dan 15 ml untuk balon distal. Perhatian harus diberikan
untuk menghindari penempatan yang terlalu dalam pada esofagus yang dapat
menyumbat pembukaan glotis. Combitube di kontraindikasikan pada pasien yang
tingginya kurang dari 5 feet, gag flek yang intak, penyakit esofagus.
2.3 Intubasi Endotrakeal

Intubasi endotrakeal adalah tindakan memasukkan pipa trakea ke dalam trakea melalui
rima glottidis dengan mengembangkan cuff, sehingga ujung distalnya berada kira-kira
dipertengahan trakea antara pita suara dan bifurkasio trakea.
A. Indikasi
Indikasi anastesi dan operasi
1. Operasi-operasi yang menggunakan muscle relaxant seperti operasi abdomen
2. Operasi pada mulut,hidung,tenggorokan
3. Posisi pasien saat operasi yang mengakibatkan jalan napas terbatas (miring,
telungkup)
4. Resiko aspirasi isi lambung atau darah misalnya pada obstruksi saluran pencernaan
bagian atas.
5. Operasi lama
6. Penggunaan teknik bantuan jalan napas yang lain tidak efektif

Indikasi pada penyakit kritis

1. Ketidakmampuan mempertahankan jalan napas agar tetap paten


2. Gangguan fungsi pernapasan (Hipoksia,hiperkapnia)
B. Kontraindikasi
1. trauma jalan napas atau obstruksi yang tidak memungkinkan untuk dilakukannya
intubasi
2. Trauma servikal
C. Kesulitan Intubasi
Sehubungan dengan manajemen saluran nafas, riwayat sebelum intubasi seperti

riwayat anestesi, alergi obat, dan penyakit lain yang dapat menghalangi akses jalan

napas. Pemeriksaan jalan napas melibatkan pemeriksaan keadaan gigi; gigi terutama

ompong, gigi seri atas dan juga gigi seri menonjol. Visualisasi dari orofaring yang

paling sering diklasifikasikan oleh sistem klasifikasi Mallampati Modifikasi. Sistem ini

didasarkan pada visualisasi orofaring. Pasien duduk membuka mulutnya dan

menjulurkan lidah.
Klasifikasi Mallampati :

Mallampati 1 : Palatum mole, uvula, dinding posterior oropharing, pilar tonsil

Mallampati 2 : Palatum mole, sebagian uvula, dinding posterior uvula

Mallampati 3 : Palatum mole, dasar uvula

Mallampati 4 : Palatum durum saja

Dalam sistem klasifikasi, Kelas I dan II saluran nafas umumnya diperkirakan mudah

intubasi, sedangkan kelas III dan IV terkadang sulit.10

Faktor lain yang digunakan untuk memprediksi kesulitan intubasi meliputi :


 Gerak sendi temporo-mandibular terbatas
 Leher Pendek
 Mobilitas leher terbatas
 Pertumbuhan gigi tidak lengkap
 Langit-langit mulut sempit
 Pembukaan mulut kecil
 Jarak dari permukaan dalam mandibula ke tulang hyoid selama leher ekstensi
kurang dari 2 jari
 Jarak tyromental kurang dari 3 jari

D. Persiapan intubasi
Persiapan untuk intubasi termasuk mempersiapkan alat‐alat dan memposisikan
pasien. ETT sebaiknya dipilih yang sesuai. Pengisian cuff ETT sebaiknya di tes terlebih
dahulu dengan spuit 10 milliliter. Jika menggunakan stylet sebaiknya dimasukkan ke
ETT. Berhasilnya intubasi sangat tergantung dari posisi pasien, kepala pasien harus
sejajar dengan pinggang anestesiologis atau lebih tinggi untuk mencegah ketegangan
pinggang selama laringoskopi. Persiapan untuk induksi dan intubasi juga melibatkan
preoksigenasi rutin.

Persiapan alat untuk intubasi antara lain


Static

Scope
Yang dimaksud scope di sini adalah stetoskop dan laringoskop. Stestoskop untuk
mendengarkan suara paru dan jantung serta laringoskop untuk melihat laring secara
langsung sehingga bisa memasukkan pipa trake dengan baik dan benar. Secara garis
besar, dikenal dua macam laringoskop:
a. Bilah/daun/blade lurus (Miller, Magill) untuk bayi-anak-dewasa.
b. Bilah lengkung (Macintosh) untuk anak besar-dewasa.
Perlu diperhatikan adalah lampu pada laringoskop harus cukup terang sehingga
laring jelas terlihat.
c

Tube

Yang dimaksud tubes adalah pipa trakea. Pada tindakan anestesia, pipa trakea
mengantar gas anestetik langsung ke dalam trakea dan biasanya dibuat dari bahan standar
polivinil klorida. Ukuran diameter pipa trakea dalam ukuran milimeter. Bentuk penampang
pipa trakea untuk bayi, anak kecil, dan dewasa berbeda. Untuk bayi dan anak kecil di bawah
usia lima tahun, bentuk penampang melintang trakea hampir bulat, sedangkan untuk dewasa
seperti huruf D. Oleh karena itu pada bayi dan anak di bawah lima tahun tidak menggunakan
kaf (cuff) sedangkan untuk anak besar-dewasa menggunakan kaf supaya tidak bocor. Alasan
lain adalah penggunaan kaf pada bayi-anak kecil dapat membuat trauma selaput lendir trakea
dan postintubation croup.
Airway
Airway yang dimaksud adalah alat untuk menjaga terbukanya jalan napas yaitu pipa
mulut-faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa hidung-faring (naso-tracheal airway).
Pipa ini berfungsi untuk menahan lidah saat pasien tidak sadar agar lidah tidak menyumbat
jalan napas.

Tape
Tape yang dimaksud adalah plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong
atau tercabut.
Introducer
Introducer yang dimaksud adalah mandrin atau stilet dari kawat yang dibungkus
plastik (kabel) yang mudah dibengkokkan untuk pemandu supaya pipa trakea mudah
dimasukkan.

Connector
Connector yang dimaksud adalah penyambung antara pipa dengan bag valve
mask ataupun peralatan anesthesia.

Suction
Suction yang dimaksud adalah penyedot lender, ludah dan cairan lainnya.

E. Cara Intubasi
Intubasi Endotrakeal
Sebelum dilakukan intubasi terlebih dahulu dilakukan oksigenasi dengan menggunakan
orotracheal tube atau nasotracheal tube dan bag valve kurang lebih selama 30 detik.
Mulut pasien dibuka dengan tangan kanan dan gagang laringoskop dipegang
dengan tangan kiri. Daun laringoskop dimasukkan dari sudut kanan dan lapangan
pandang akan terbuka. Daun laringoskop didorong ke dalam rongga mulut. Gagang
diangkat ke atas dengan lengan kiri dan akan terlihat uvula, faring serta epiglotis.
Ekstensi kepala dipertahankan dengan tangan kanan. Epiglotis diangkat
sehingga tampak aritenoid dan pita suara yang tampak keputihan berbentuk huruf V.
Tracheal tube diambil dengan tangan kanan dan ujungnya dimasukkan melewati pita
suara sampai balon pipa tepat melewati pita suara. Bila perlu, sebelum memasukkan
pipa asisten diminta untuk menekan laring ke posterior sehingga pita suara akan dapat
tampak dengan jelas. Bila mengganggu, stylet dapat dicabut. Ventilasi atau oksigenasi
diberikan dengan tangan kanan memompa balon dan tangan kiri memfiksasi. Balon
pipa dikembangkan dan daun laringoskop dikeluarkan selanjutnya pipa difiksasi
dengan plester.
Dada dipastikan mengembang saat diberikan ventilasi. Sewaktu ventilasi,
dilakukan auskultasi dada dengan stetoskop, diharapkan suara nafas kanan dan kiri
sama. Bila dada ditekan terasa ada aliran udara di pipa endotrakeal. Bila terjadi intubasi
endotrakeal yang terlalu dalam akan terdapat tanda‐tanda berupa suara nafas kanan
berbeda dengan suara nafas kiri, kadang‐kadang timbul suara wheezing, sekret lebih
banyak dan tahanan jalan nafas terasa lebih berat. Jika ada ventilasi ke satu sisi seperti
ini, pipa ditarik sedikit sampai ventilasi kedua paru sama. Sedangkan bila terjadi
intubasi ke daerah esofagus maka daerah epigastrium atau gaster akan mengembang,
terdengar suara saat ventilasi (dengan stetoskop), kadang‐kadang keluar cairan
lambung, dan makin lama pasien akan nampak semakin membiru. Untuk hal tersebut
pipa dicabut dan intubasi dilakukan kembali setelah diberikan oksigenasi yang cukup.

F. Ekstubasi Perioperatif

Setelah operasi berakhir, pasien memasuki prosedur pemulihan yaitu pengembalian


fungsi respirasi pasien dari nafas kendali menjadi nafas spontan. Sesaat setelah obat
bius dihentikan segeralah berikan oksigen 100% disertai penilaian apakan pemulihan
nafas spontan telah terjadi dan apakah ada hambatan nafas yang mungkin menjadi
komplikasi. Bila dijumpai hambatan nafas, tentukaan apakah hambatan pada central
atau perifer. Teknik ekstubasi pasien dengan membuat pasien sadar betul atau pilihan
lainnya pasien tidak sadar (tidur dalam), jangan lakukan dalam keadaan setengah sadar
ditakutkan adanya vagal refleks. Bila ekstubasi pasien sadar, segera hentikan obat-obat
anastesi hipnotik maka pasien berangsu-angsur akan sadar. Evaluasi tanda-tanda
kesadaran pasien mulai dari gerakan motorik otot-otot tangan, gerak dinding dada,
bahkan sampai kemampuan membuka mata spontan. Yakinkan pasien sudah bernafas
spontan dengan jalan nafas yang lapang dan saat inspirasi maksimal. Pada ekstubasi
pasien tidak sadar diperlukan dosis pelumpuh otot dalam jumlah yang cukup banyak,
dan setelahnya pasien menggunakan alat untuk memastikan jalan nafas tetap lapang
berupa pipa orofaring atau nasofaring dan disertai pula dengan triple airway manuver
standar.
Syarat-syarat ekstubasi :
1. Vital capacity 6 – 8 ml/kg BB.
2. Tekanan inspirasi diatas 20 cm H2O.
3. PaO2 diatas 80 mm Hg.
4. Kardiovaskuler dan metabolic stabil.
5. Tidak ada efek sisa dari obat pelemas otot.
6. Reflek jalan napas sudah kembali dan penderita sudah sadar penuh.

Komplikasi intubasi
Selama laringoskopi dan intubasi
Malposisi (intubasi esofagus, intubasi
bronkial dan posisi cuf f pasien)
Trauma jalan napas (kerusakan gigi,
laserasi bibir, lidah atau mukosa,
nyeri tenggorokan, dislokasi
mandibula, diseksi retrofaringeal)
Refleks fisiologis (hipoksia,
hiperkarbia, hipertensi, takikardi,
hipertensi intrakranial, hipertensi
intraokular, laringospasme)
Malfungsi pipa (perforasi cuff)
Setelah pipa terpasang
Malposisi (ekstubasi unintentional, intubasi bronkial, posisi
cuff laring)
Trauma jalan napas (ulserasi dan inflamasi mukosa)
Malfungsi pipa (meledak, obstruksi)
Setelah ekstubasi
Trauma jalan napas (edema & stenosis glotis, subglotis, trakea
suara serak akibat granuloma pita suara atau paralisis;
malfungsi laring dan aspirasi)
Laringospasme
Edema pulmo tekanan negatif

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Airway merupakan komponen terpenting dalam menjaga keadaan vital pasien,
sehingga dalam keadaaan gawat darurat komponen inilah yang pertama kali dipertahankan.
Definisi Airway Management adalah memastikan jalan napas tetap terbuka . Airway
management dapat dilakukan dengan tripel airway manuver ataupun menggunakan alat
seperti oropharyngeal airway, nasopharyngeal airway, face mask, laryngeal airway mask
atapun intubasi endotrakeal.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1. Morgan GE, Mikhail MS, Murray MJ. Clinical Anesthesiology. 4th edition. 2006. USA:
McGraw-Hill Companies, Inc.
2. Longnecker DE, Brown DL, Newman MF, Zapol WM. Anesthesiology. 2008. USA: The
McGraw-Hill Companies, Inc. p 685-717.
3. Miller DR.2010. Anasthesia.United States of America: Library of Congress Cataloging-in-
Publication Data
4. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi kedua. 2001.
Jakarta: FKUI.