You are on page 1of 12

TUGAS KULIAH MANAJEMEN KLINIS

ISU KODE ETIK KASUS KESALAHAN DIAGNOSA DOKTER

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah manajemen klinis yang diampu
oleh: Arif Siswanto, SST.TW,. M.PH

Oleh:

Nama : Tri Rizki Rahmatun Nisak

NIM : P27229016126

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN SURAKARTA

JURUSAN TERAPI WICARA

T.A. 2018 / 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, karunia, serta taufik
dan hidayah-Nya. Saya dapat menyelesaikan tugas mata kuliah manajemen klinis tentang “Isu
Kode Etik pada Tenaga kesehatan” ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.

Pada penulisan tugas ini, saya berusaha menggunakan bahasa yang sesederhana dan mudah
dimengerti sehingga dapat dengan mudah dicerna dan di ambil inti sarinya dari setiap
pembahasan sesuai dengan kebutuhan. Dengan adanya tugas ini dapat diharapkan saya sendiri
maupun mahasiswa lain dapat memahami isu kode etik pada tenaga kesehatan.

Saya sangat berharap tugas ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai isu kode etik pada tenaga kesehatan. Saya juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh
sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan tugas yang telah kami
buat di masa yang akan datang. Saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan.

Surakarta, 14 Oktober 2018

Penulis
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Etika berasal dari bahasa Yunani ‘ethos’ yang artinya adat istiadat / kebiasaan
yang baik. Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, tentang hak dan
kewajiban moral. Etika juga dapaat diartikan sebagai kumpulan asas / nilai yang
berkenan dengan akhlak, nilai mengenai mana yang benar dan yang salah yang dianut
oelh sebagian masyarakat.
Profesi merupakan pekerjaan yang memerlukan atau menuntut keahlian
(expertise), menggunakan teknik-teknik ilmiah, serta dedikasi yang tinggi. Keahlian yang
diperoleh daro lembaga pendidikan khusus diperuntukkan, untuk itu dengan kurikulum
yang dapat dipertanggung jawabkan. Seseorang yang menekuni suatu profesi tertentu
disebut professional, sedangkan professional sendiri mempunyai makna yang mengacu
kepada sebuatan orang yang menyandang suatu profesi dan sebutan tentang penampilan
seseorang dalam mewujudkan unjuk kerja yang sesuai dengan profesinya.
Etika profesi menurut keiser dalam ( Suhrawardi Lubis, 1994:6-7 ) adalah sikap
hidup berupa keadilan untuk memberikan pelayanan professional terhadap masyarakat
dengan penuh ketertiban dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan
tugas berupa kewajiban terhadap masyarakat.
Kode etik profesi adalah system norma, nilai dan aturan professional tertulis yang
secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan tidak
baik bagi professional. Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah,
perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Tujuan kode etik yaitu
agar professional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya.
Dengan adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak professional.
Menurut Wikipedia, kode etik profesi merupakan suatu tatanan etika yang telah
disepakati oleh suatu kelompok masyarakat tertentu. Kode etik umumnya termasuk
dalam norma sosial, namun bila ada kode etik yang memiliki sanksi yang agak berat,
maka masuk dalam kategori norma hukum.
Kode Etik juga dapat diartikan sebagai pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis
dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Kode etik merupakan pola aturan atau
tata cara sebagai pedoman berperilaku. Tujuan kode etik agar profesional memberikan
jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi
perbuatan yang tidak profesional.
Jadi kalau pelanggaran kode etik profesi berarti pelanggaran atau penyelewengan
terhadap sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan
apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi suatu profesi
dalam masyarakat.

B. Fungsi Kode Etik Profesi
Kode etik profesi itu merupakan sarana untuk membantu para pelaksana sebagai
seseorang yang professional supaya tidak dapat merusak etika profesi. Ada tiga hal pokok
yang merupakan fungsi dari kode etik profesi:
1. Kode etik profesi memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi
tentang prinsip profesionalitas yang digariskan. Maksudnya bahwa dengan kode
etik profesi, pelaksana profesi mampu mengetahui suatu hal yang boleh dilakukan
dan yang tidak boleh dilakukan.
2. Kode etik profesi merupakan sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas
profesi yang bersangkutan. Maksudnya bahwa etika profesi dapat memberikan
suatu pengetahuan kepada masyarakat agar juga dapat memahami arti pentingnya
suatu profesi, sehingga memungkinkan pengontrolan terhadap para pelaksana di
lapangan kerja (kalangan sosial).
3. Kode etik profesi mencegah campur tangan pihak di luar organisasi
profesi tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi. Arti tersebut dapat
dijelaskan bahwa para pelaksana profesi pada suatu instansi atau perusahaan yang
lain tidak boleh mencampuri pelaksanaan profesi di lain instansi atau perusahaan.

C. Prinsip-Prinsip Etika Profesi

Dalam menjalankan profesi, seseorang perlu memiliki dasar-dasar yang perlu
diperhatikan, diantaranya: (Bertens.K. 2007. Etika. Jakarta: PT. Gramediref)
1. Prinsip Tanggung Jawab. Seorang yang memiliki profesi harus mampu
bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan dari profesi tersebut, khususnya
bagi orang-orang di sekitarnya.

2. Prinsip Keadilan. Prinsip ini menuntut agar seseorang mampu menjalankan
profesinya tanpa merugikan orang lain, khususnya orang yang berkaitan dengan
profesi tersebut.

3. Prinsip Otonomi. Prinsip ini didasari dari kebutuhan seorang profesional untuk
diberikan kebebasan sepenuhnya untuk menjalankan profesinya.

4. Prinsip Integritas Moral. Seorang profesional juga dituntut untuk memiliki
komitmen pribadi untuk menjaga kepentingan profesinya, dirinya, dan masyarakat.

ISI

A. Isu Kasus Kode Etik Kasus Malapraktek
Ada juga beberapa penyebab terjadinya pelanggaran kode etik profesi yang dapat kita
jumpai dalam kehidupn sehari-harinya seperti halnya sekitaran kita.
1. Bisa terjadi karena pengaruh dari sifat kekeluargaannya.
Misalnya, yang melakukan pelanggaran adalah keluarga atau dekat
hubungan kekerabatannya dengan pihak yang berwenang memberikan sangsi
terhadap pelanggaran kode etik pada suatu profesi, maka ia akan cendrung untuk
tidak memberikan sangsi kepada kerabatnya yang telah melakukan pelanggaran
kode etik tersebut.
2. Bisa terjadi karena pengaruh dari jabatan yang dimiliki.
Misalnya yang melaukan pelanggaran kode etik profesi itu adalah
pimpinan atau orang yang memiliki kekuasaan yang tinggi pada profesi tersebut,
maka bisa jadi orang lain yang posisi dan kedudukannya berada di bawah orang
tersebut, akan enggan untuk melaporkan kepada pihak yang berwenang
memberikan sangsi, karena kekhawatiran akan berpengaruh kepada jabatan dan
posisinya pada profesi tersebut.
3. Bisa terjadi karena faktor masih lemahnya penegakan hukum di Indonesia,
sehingga menyebabkan pelaku pelanggaran kode etik profesi tidak merasa
khawatir apabila telah melakukan pelanggaran.
4. Tidak berjalannya kontrol dan pengawasan dari masyarakat
5. Organisasi profesi tidak dilengkapi denga sarana dan mekanisme bagi
masyarakat untuk menyampaikan keluhan
6. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai substansi kode etik profesi,
karena buruknya pelayanan sosialisasi dari pihak profesi sendiri
7. Belum terbentuknya kultur dan kesadaran dari para pengemban profesi
untuk menjaga martabat luhur profesinya.
8. Tidak adanya kesadaran etis da moralitas diantara para pengemban profesi
untuk menjaga martabat luhur profesinya.

Contoh nyatanya adalah kasus Drs. Irwanto PhD, peneliti dari Universitas
Atmajaya, Jakarta, yang lumpuh akibat dokter salah mendiagnosis dan kasus Fellina
Azzahra (16 bulan ), bocah yang ususnya bocor setelah dioperasi di Rumah Sakit Karya
Medika, Cibitung, Bekasi. Terhadap tindakan medical errors yang diduga malapraktek itu
tidak ada pertanggungjawaban, baik secara profesi maupun hukum.
Kasus dari Drs. Irwanto PhD terjadi karena adanya kesalahan diagnosis yang
menyebabkan salahnya penegambilan tindakan yang berakibat fatal terhadap dirinya.
Awalnya hanya merasa tidak enak badan karena kelelahan. Dokter di Rumah Sakit
Internasional Bintaro, Tangerang, Banten, mendiagnosa Irwanto menderita gangguan
jantung. Dokter pun segera menangani Irwanto. Anehnya, alih-alih pulih, kondisi Irwanto
memburuk, hingga lumpuh dari bagian dada ke bawah.
Irwanto baru menyadari mengalami malapraktek ketika memeriksakan kesehatan
ke sebuah rumah sakit di Singapura. Tim dokter di Negeri Singa tersebut menyatakan
bahwa jantung Irwanto normal. Mereka juga menduga, Irwanto lumpuh lantaran
kesalahan pengobatan akibat diagnosa keliru dokter dari dokter RS Internasional Bintaro.
Diduga keras karena sesuatu yang dikasih di hari pertama itu di RS Internasional Bintaro.
Karena kesalahan tersebut, Irwannto menjadi lumpuh. Irwanto pun menempuh
jalur hukum untuk menyelesaikan kasus ini. Di luar masalah itu, Irwanto menyesalkan
IDI yang dinilai tidak proaktif menyikapi maraknya malapraktek di Tanah Air.
Di republik ini, kesalahan pengobatan oleh dokter tidak teratur secara khusus,
malah dalam Rancangan Undang-undang Praktik Kedokteran yang disetujui Komisi VII
DPR, Rabu (25/8) lalu, kasus malapraktek sama sekali tidak disinggung. Dalam kasus
malapraktek dokter, sebenarnya ada dua pelanggaran profesi dan pelanggaran hukum.
Namun, selama ini dalam setiap kasus malapraktek, dokter selalu berada di pihak yang
benar. Keluhan yang secara lansung diajukan pasien selalu ditolak dan dan dimentahkan
dengan berbagai argumentasi medis dan alasan teknis. Akibatnya, kerugian kesehatan dan
material selalu melekat dalam diri pasien, sedangkan dokter tidak sedikitpun tersentuh
tanggung jawab dan nurani kemanusiaannya.

Semua ini disebabkan tidak ada payung hukum yang bisa dijadikan dasar
penyelesaian kasus itu. Undang-undang (UU) Kesehatan nomor 23 Tahun 1992 pun tak
dapat digunakan untuk menangani pelanggaran atau kelalaian dokter. UU ini hanya di
desain untuk diperjelas lebih lanjut dengan 29 peraturan pemerintah (PP) yang hingga
kini baru terbentuk enam PP. Aturan lebih lanjut yang tidak ada itu antara lain
menyangkut standar pelayanan medis dan standar profesi. Ketiadaan aturan itu membuat
bangsa ini tidak dapat mendifinisikan mana yang disebut malapraktek, kegagalan,
kelalaian, atau kecelakaan.
Selama ini masyarakat yang menggugat dokter kepengadilan karena merasa
tindakan dokter itu merugikan atau mencelakakan pasiennya, sekedar menggunakan
pasal-pasal Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Terhadap pelanggaran yang
sifatnya hukum, ada pendapat apakah pelanggaran profesi itu tidak diarahkan kepada
ganti rugi saja. Apakah harus dipidana. Itu harus ditimbang-timbang manakah yang
paling cocok bagi kepentingan korban. Mestinya, dalam menyikapi persoalan
malapraktek harus berorentasi kepada korban. Bagaimana memulihkan korban dan apa
yang dilakukan jika korban meninggal dunia. Sayang, sistem hukum dinegeri ini pada
umumnya belum memperhatikan persoalan itu. ”Walaupun belum ada standar, tetapi
praktik standar profesi sudah ada sejak dahulu. Semisal sekolah profesi hukum atau
dokter sudah mengenalkan hal itu seperti sumpah Socrates” ungkap Bagir Manan saat
mempersoalkan belum adanya standar pelayanan medis dan rumah sakit.
Dominasi kehendak untuk melakukan tindakan selamat-tidaknya seorang pasien
yang di tangani ada ditangan dokter. Namun malapraktek dalam profesi kedokteran agak
sulit dicabut.Begitu juga dari sisi kompetensi peradilan, mungkin hanya memperpanjang
birokrasi bila ditangani bukan oleh peradilan umum. Jika terbukti adanya malapraktek,
kasus itu bisa dilanjutkan ke perkara perdata. Akan tetapi, kelalaian yang terjadi dalam
kegiatan pemberian terapi yang dilakukan dokter bukan kelalaian atau kesalahan yang
bersifat organisatoris. Artinya, bukan tertuju kepada pribadi yang berkaitan dengan
disiplin. Kelalaian itu bersifat pelayanan publik sehingga implikasinya adalah implikasi
publik alias tindakan pidana umum. Jika bersifat pidana, kelalaian itu merupakan
kompetensi peradilan umum. Misalnya seorang dokter yang salah mendiagnosis seoarang
pasien, lalu obat yang diberikan adalah berdasarkan hasil diagnosis yang salah itu, maka
dapat dipastikan bahwa yang menjadi korban adalah pasien. Sesungguhnya kelalaian ini
masuk katagori tindak pidana sebagaimana diatur dalam pasal 359 KUHP. Atau
meninggalkan seorang pasien yang memerlukan pertolongan seperti diatur dalam pasal
304 KUHP. Tindakan itu adalah malapraktek yang tentu menjadi kompetensi peradilan
umum.
Dalam perkembangannya, seluruh aspek kehidupan di dunia ini mengalami
perubahan paradigma, termasuk dalam profesi kedokteran. Akibatnya, terjadi pula
perubahan orieantasi dan motivasi pengabdian pada diri sebagian dokter. Sebagai dampak
perubahan yang semakin global, individualistik, materialistik, dan hedonistik, maka
perilaku dan sikap tindak profesioanal di sebagian kalangan dokter juga berubah.
Masyarakat kemudian memandang negatif profesi kedokteran setelah menyaksikan
maraknya praktik-praktikyang semakin jauh dari nilai-nilai luhur sumpah dokter dan
kedokteran.

B. Solusi dari Permasalahan

Seperti yang masyarakat umum ketahui tentang masalah malapraktek. Tentu saja
hal itu amat sangat merugikan pasien serta beberapa anggota keluarga lainnya yang
menjadi sasaran empuk si pelaku malapraktek. Dan tentu saja, kejadian tersebut juga
dapat berdampak pada kepercayaan masyarakat umum untuk mendatangi fasilitas-
fasilitas yang telah disediakan menjadi berkurang.
Karena tidak adanya peraturan khusus yang mengatur tentang malapraktek maka
seakan-akan dokter tidak bersalah jika terjadi malapraktek tersebut dan seakan-akan
masyarakatlah yang menjadi pihak yang bersalah karena tidak ada payung hukum yang
melindungi pasien atas kasus ini. Ketiadaan aturan itu membuat bangsa ini tidak dapat
mendifinisikan mana yang disebut malapraktek, kegagalan, kelalaian, atau kecelakaan.
Padahal secara etika, tindakan malapraktek ini telah merugikan para korban baik secara
materiil maupun nonmateril.

Didalam kasus ini, dokter di Rs Internasional Bintaro telah melanggar Kode Etik
Kedokteran Indonesia yang terdiri dari Pasal 5 dan Pasal 7a. Dimana dalam hal
malapraktek ini, dokter tersebut telah melemahkan kondisi fisik pasien tanpa dilakukan
suatu persetujuan terlebih dahulu dari pasien yang bersangkutan dan ini telah melanggar
Kode Etik Kedokteran Indonesia Pasal 5. Dan juga, dokter tersebut telah salah
mendiagnosa sehingga bisa dikatakan bahwa dokter itu tidak kompeten dalam bidangnya,
maka itu telah melanggar Kode Etik Kedokteran Indonesia Pasal 7a.

Pasal 5 sendiri berisikan tentang “Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin
melemahkan daya tahan psikis maupun fisik hanya diberikan untuk kepentingandan
kebaikan pasien, setelah memperoleh persetujuan pasien”. Sedangkan Pasal 7a berisi
“Seorang dokter harus, dalam setiap praktek medisnya, memberikan pelayanan medis
yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih
sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia”.

Dapat kita usahakan beberapa upaya untuk mencegah terjadi lagi pelanggaran
kode etik profesi yang kesekian kalinya.
1. Klausul penundukan pada undang-undang
a. Setiap undang-undang mencantumkan dengan tegas sanksi yang
diancamkan kepada pelanggarnya. Dengan demikian, menjadi pertimbangan
bagi warga, tidak ada jalan lain kecuali taat, jika terjadi pelanggaran berarti
warga yang bersangkutan bersedia dikenai sanksi yang cukup memberatkan
atau merepotkan baginya. Ketegasan sanksi undang-undang ini lalu
diproyeksikan dalam rumusan kode etik profesi yang memberlakukan sanksi
undang-undang kepada pelanggarnya.
b. Dalam kode etik profesi dicantumkan ketentuan: “Pelanggar kode etik
dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan undang- undang yang berlaku”.
2. Legalisasi kode etik profesi
a. Dalam rumusan kode etik dinyatakan, apabila terjadi pelanggaran,
kewajiban mana yang cukup diselesaikan oleh Dewan Kehormatan, dan
kewajiban mana yang harus diselesaikan oleh pengadilan.
b. Untuk memperoleh legalisasi, ketua kelompok profesi yang bersangkutan
mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat agar kode
etik itu disahkan dengan akta penetapan pengadilan yang berisi perintah
penghukuman kepada setiap anggota untuk mematuhi kode etik itu.
c. Jadi, kekuatan berlaku dan mengikat kode etik mirip dengan akta
perdamaian yang dibuat oleh hakim. Apabila ada yang melanggar kode etik,
maka dengan surat perintah, pengadilan memaksakan pemulihan itu.
3. Sanksi Pelanggaran Kode Etik Profesi:
Sanksi dapat diberikan kepada profesi yang telah melanggar kode etik tersebut,
baik sifatnya individu maupun kelomok dan membuatnya sedikit jera untuk tidak
lagi menggunakan kewenangannya dalam membantu orang lain menjadi
kesalahan.
a. Sanksi moral
b. Sanksi dikeluarkan dari organisasi

Walaupun dilihat dari segi ketidaksengajaan maupun sengaja, setidaknya si pelaku
pelanggar kode etik mendapat ganjaran yang sepantasnya. Agar dikemudian hari ia tak
mengulangi kejadian yang sama. Dan juga untuk pihak yang menganggap kejadian
malapraktek bukanlah sebuah kesalahan hendaklah untuk bersikap adil. Kita tidak tahu
kehidupan yang berjalan kedepannya seperti apa. Berikan hak-hak mereka sebagai
seorang pasien yang telah mendapat perlakuan yang tidak adil. Kita tidak tahu akan jadi
seperti apa pasien tersebut jika hak-haknya yang mereka miliki itu tidak terpenuhi.

KESIMPULAN

Setiap profesi pasti memiliki kode etik dalam menjalankan sebuah perkerjaan. Hal
itu dilakukan agar profesi itu sendiri dapat melaksanakan kewajiban pekerjaannya dengan
sebaik mungkin. Kode etik profesi adalah system norma, nilai dan aturan professional
tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar
dan tidak baik bagi professional. Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau
salah, perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Tujuan kode etik
yaitu agar professional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau
nasabahnya. Dengan adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak
professional.
Jadi kalau pelanggaran kode etik profesi berarti pelanggaran atau penyelewengan
terhadap sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan
apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi suatu profesi
dalam masyarakat.
Walaupun dilihat dari segi ketidaksengajaan maupun sengaja, setidaknya si pelaku
pelanggar kode etik mendapat ganjaran yang sepantasnya. Agar dikemudian hari ia tak
mengulangi kejadian yang sama. Dan juga untuk pihak yang menganggap kejadian
malapraktek bukanlah sebuah kesalahan hendaklah untuk bersikap adil. Kita tidak tahu
kehidupan yang berjalan kedepannya seperti apa. Berikan hak-hak mereka sebagai
seorang pasien yang telah mendapat perlakuan yang tidak adil. Kita tidak tahu akan jadi
seperti apa pasien tersebut jika hak-haknya yang mereka miliki itu tidak terpenuhi.

DAFTAR PUSTAKA

Yulfa, F. (2009). Tugas Pelanggaran Kode Etik Profesi.
http://blogfityu.blogspot.com/2009/04/tugas-pelanggaran-kode-etik-profesi.html
diakses pada tanggal 14 Oktober 2018
https://id.wikipedia.org/wiki/Kode_etik_profesi diakses pada tanggal 14 Oktober 2018
Nurbaiti, D. (2013). Pengertian Etika, Kode Etik dan Fungsi Kode Etik Profesi.
http://cyberlawncrime.blogspot.com/2013/03/pengertian-etika-kode-etik-dan-
fungsi.html diakses pada tanggal 14 Oktober 2018