You are on page 1of 7

HIV HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus.

Virus ini menyerang sistem
kekebalan tubuh dan melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit. HIV
belum bisa disembuhkan, tapi ada pengobatan yang bisa digunakan untuk memperlambat
perkembangan penyakit

AIDS Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome
(disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena
rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV;[1] atau infeksi virus-virus lain
yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain

IO

2. PERSALINAN APA YANG BAGUS BUAT IBU AGAR BAYI TIDAK TERKENA HIV? & BERAPA
PERSEN BAYI TERKENA HIV

Bagaimana cara penularan virus HIV dari ibu ke bayi ?

Menurut WHO, hingga 30% bayi lahir dari ibu terinfeksi HIV akan tertular HIV jika ibu tidak
menggunakan terapi antiretroviral (ARV). Dan, jika ibu menderita HIV menyusui bayi, risiko
keseluruhan naik menjadi 30-50%. Jadi secara medis ibu hamil yang positif HIV akan
menularkan virus ke bayinya sebesar 30 %, artinya bayi masih punya 60 % untuk tidak tertular
virus HIV dari ibunya.

Lalu bagaimana cara penularannya?

Ketika janin berada di dalam kandungan, virus HIV akan menyerang langsung plasenta bayi,
meskipun plasenta ini sebenarnya berfungsi sebagai pertahanan tubuh bayi agar tidak terinfeksi
mikroorganisme, namun kenyataannya itu tidak berlaku pada virus HIV yang dapat dengan
mudah menginfeksi plasenta bayi. Selain melalui plasenta , Virus HIV juga bisa menular ke janin
melalui limfosit (sel darah putih) ibu yang terinfeksi, jika limfosit yang terinfeksi ini masuk ke
aliran darah janin maka janin akan terinfeksi HIV .
Kecepatan Penularan HIV dari ibu ke janin dipengaruhi beberapa faktor yaitu :

1. HIV si Ibu yang sudah memasuki tahap AIDS, artinya sudah masuk tahap AIDS adalah
apabila tubuh si ibu sudah terserang berbagai penyakit lain karena sistem kekebalan
tubuhnya sudah benar - benar hancur dan lemah akibat infeksi HIV yang dideritanya
tersebut.
2. Derajat infeksi HIV sudah terlalu parah atau kronis .
3. Adanya infeksi di plasenta janin

Setelah mengetahui bagaimana sistematika penularan HIV dari ibu ke bayi , maka pertanyaan
selanjuntya.

Bolehkah Wanita HIV positif hamil ? boleh, Namun harus dilakukan perawatan khusus pada
ibu HIV positif yang ingin hamil, karena mengingat resiko penularan yang cukup tinggi.

Ibu HIV positif harus melakukan perawatan semasa hamil yang berkualitas, cek kehamilan
secara teratur dan pemberian obat ARV (anti HIV) untuk mengurangi resiko penularan semasa
kehamilan. Ibu juga harus merencanakan kehamilan dengan baik bersama dokter sebelum
memutuskan untuk mempunyai momongan. Pertimbangkan juga kondisi tubuh Ibu , jika kondisi
fisik ibu dengan HIV positif cukup baik maka risiko penularan HIV dari ibu ke bayi lebih kecil.
Artinya ia berpeluang melahirkan anak dengan HIV negatif.

Apa terapi HIV/AIDS yang seharusnya didapatkan wanita hamil? Orang dengan HIV/AIDS
umumnya diterapi dengan kombinasi dari beberapa obat HIV. Kombinasi obat ini memperlambat
penyebaran HIV, menjaga kadar virus dalam darah agar tetap rendah (atau bahkan tidak
terdeteksi), dan membantu mencegah infeksi yang berhubungan dengan AIDS. Wanita hamil
direkomendasikan untuk tetap mendapat pengobatan ini selama kehamilannya. Obat-obatan
dapat dimodifikasi sehubungan dengan proses kehamilan.

Karena obat-obatan HIV masih baru, belum diketahui apakah menimbulkan risiko terhadap
janin. Tetapi obat-obatan HIV ini tidak menimbulkan risiko yang signifikan pada janin jika
digunakan selama kehamilan. Akan tetapi, beberapa obat terbaru seperti Efavirenz (Sustiva) dan
Delavirdine (Rescriptor) tidak direkomendasikan untuk digunakan pada wanita hamil karena
menimbulkan risiko kecacatan.

Apakah terapi HIV pada ibu hamil membantu mencegah HIV/AIDS pada bayi? Terapi
dengan kombinasi obat HIV bersama dengan operasi caesar dalam beberapa kasus dapat
menurunkan risiko penularan HIV dari ibu ke bayinya menjadi 2% atau kurang, dibanding pada
yang tidak mendapat terapi yaitu sebesar 25%. Ibu hamil harus memulai pengobatan pada awal
trimester kedua dan melanjutkan pengobatan selama kehamilan dan persalinan. Bayi yang lahir
dari ibu yang terinfeksi HIV harus menjalani terapi selama 6 minggu pertama kehidupannya
untuk mencegah transmisi virus. Dosis pertama diberikan 12 jam setelah bayi lahir. Ibu hamil
terinfeksi HIV yang tidak mendapat terapi apapun sebelum persalinan harus diterapi dengan obat
anti HIV selama persalinan. Bayinya harus diterapi dengan mengkonsumsi obat selama 6 minggu
setelah lahir. Terapi ini dapat mengurangi risiko infeksi pada bayi sekitar 60%.
Dapatkah Bayi Bebas HIV/AIDS dari Ibu Penderita HIV/AIDS? tentu dapat memiliki bayi
bebas HIV/AIDS

Selalu konsultasikan dengan dokter kandungan selama ibu hamil menderita HIV/AIDS. Pastikan
minum ARV teratur dan tingkatkan kekebalan tubuh dengan makan makanan yang bergizi agar
terhindar dari berbagai infeksi, karena penggunaan obat ARV selama hamil dapat menurunkan
jumlah virus dalam darah ibu sehingga mengurangi paparan HIV dari ibu ke bayi. Walau bayi di
dalam kandungan rentan terkena infeksi, namun tidak sebesar penularannya pada proses
melahirkan. Dengan kata lain, proses melahirkan yang lama dapat meningkatkan risiko bayi
tertular HIV.

Menurut dr. Ilhamy, SpOG dari Direktorat Bina Kesehatan Ibu, Depkes RI, rekomendasi ARV
profilaksis untuk PMCT mengacu pada rekomendasi WHO, yaitu menggunakan Highly Active
Anti-Retroviral Therapy (HAART). Ibu yang ingin melahirkan secara normal harus minum ARV
secara teratur dan VL mereka tidak terdeteksi. Saat ini, rekomendasi yang digunakan untuk
pertimbangan cara persalinan adalah pada kadar VL seseorang (Ibu yang memiliki Viral
Load (VL) tinggi lebih dapat menularkan infeksi pada bayinya.)

Bagaimana cara melahirkannya apakah secara normal atau caesar?

Apabila perencanaan kehamilan dilakukan secara baik dengan bimbingan dokter atau bidan ,
serta menjalani terapi ARV secara tepat maka langkah selanjutnya adalah mempersiapkan
persalinan. Pilihan yang tepat adalah dengan operasi caesar, Apa alasanya ? Apa tidak boleh
secara normal ? Tentu operasi caesar ini dilakukan atas dasar pilihan bukan karena tindakan
darurat .

Langkah ini akan menghindarkan bayi dari kontak dengan darah dan lendir Ibu positif HIV yang
tentunya menjadi perantara penularan HIV . Berdasarkan penelitian operasi caesar akan
mengurangi resiko penularan HIV dari ibu ke bayi yang dikandungnya sebesar 50 - 65 %.

Bagaimana dengan kasus saat seorang ibu yang terkena HIV/AIDS menyusui bayinya?
bisakah HIV/AIDS menular lewat air susu? bisa.

Mengingat adanya resiko penularan HIV melalui cairan ASI (air susu ibu), maka dianjurkan ibu
dengan HIV postif untuk tidak menyusui bayinya dan sebaiknya digantikan dengan susu formula
(pengganti asi ). Namun jika ibu menginginkan memberi ASI eksklusif pada bayinya, sebaiknya
pertimbangkan risiko penularannya bersama dengan dokter atau bidan .

Diikutip dari situs Ikatan Dokter Anak Indonesia, air susu ibu tetap mengandung virus HIV
dan kemungkinan para bayi untuk tertular virus ini lewat ASI sangat besar sekali. Menanggapi
hal ini, maka organisasi kesehatan dunia atau WHO pun menerapkan beberapa hal yang wajib
dilakukan para ibu dengan HIV untuk menyusui. Beberapa peraturan tersebut adalah dengan
peraturan untuk memberikan ASI secara eksklusif hanya selama 6 bulan pertama, kemudian
ketika dirasa si bayi sudah memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik, maka untuk selanjutnya
akan diberikan susu formula berikut makanan pendamping ASI. Kemudian untuk 'menjinakkan'
virus tersebut, para ibu dengan HIV juga harus selalu mengonsumsi obat ARV atau anti
retroviral virus. Pemberian ARV ini pun bahkan diwajibkan untuk dikonsumsi semenjak masa
kehamilan

4. TANDA DAN GEJALA ORANG TERKENA IO?

1. Demam

Salah satu tanda-tanda pertama ARS adalah demam ringan, sampai sekitar 39 derajat C
(102 derajat F). Demam sering disertai dengan gejala ringan lainnya, seperti kelelahan,
pembengkakan pada kelenjar getah bening, dan sakit tenggorokan.

"Pada titik ini virus bergerak ke dalam aliran darah dan mulai mereplikasi dalam jumlah
besar. Sehingga akan ada reaksi inflamasi oleh sistem kekebalan tubuh," kata Carlos
Malvestutto, MD, instruktur penyakit menular dan imunologi dari department of
medicine di NYU School of Medicine, New York.

2. Kelelahan

Respon inflamasi yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh juga dapat menyebabkan
lelah dan lesu. Kelelahan dapat menjadi tanda awal dan tanda lanjutan dari HIV.

3. Pegal, nyeri otot dan sendi, pembengkakan kelenjar getah bening

ARS sering menyerupai gejala flu, mononucleosis, infeksi virus atau yang lain, bahkan
sifilis atau hepatitis. Hal tersebut memang tidak mengherankan. Banyak gejala penyakit
yang mirip bahkan sama, termasuk nyeri pada persendian dan nyeri otot, serta
pembengkakan kelenjar getah bening.

Kelenjar getah bening merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh dan cenderung
akan meradang bila ada infeksi. Kelenjar getah bening berada di pangkal paha leher
ketiak, dan lain-lain.

4. Sakit tenggorokan dan sakit kepala

"Seperti gejala penyakit lain, sakit tenggorokan, dan sakit kepala sering dapat merupakan
ARS," kata Dr. Horberg. Jika memiliki risiko tinggi HIV, maka melakukan tes HIV
adalah ide yang baik. Karena HIV paling menular pada tahap awal.

5. Ruam kulit

Ruam kulit dapat terjadi lebih awal atau terlambat dalam perkembangan HIV/AIDS.
6. Mual, muntah dan diare

Sekitar 30 hingga 60 persen dari orang dengan HIV memiliki gejala jangka pendek
seperti mual, muntah, atau diare pada tahap awal HIV, kata Dr. Malvestutto. Gejala
tersebut juga dapat muncul sebagai akibat dari terapi antiretroviral, biasanya sebagai
akibat dari infeksi oportunistik.

"Diare yang tak henti-hentinya dan tidak merespon obat mungkin merupakan indikasi.
Atau gejala dapat disebabkan oleh organisme yang biasanya tidak terlihat pada orang
dengan sistem kekebalan tubuh yang baik," kata Dr. Horberg.

7. Penurunan berat badan

"Jika penderita HIV sudah kehilangan berat badan, berarti sistem kekebalan tubuh
biasanya sedang menurun," kata Dr. Malvestutto.

8. Batuk kering

Batuk kering dapat merupakan tanda pertama seseorang terkena infeksi HIV. Batuk
tersebut dapat berlangsung selama 1 tahun dan terus semakin parah.

9. Pneumonia

Batuk dan penurunan berat badan juga mungkin pertanda infeksi serius yang disebabkan
oleh kuman yang tidak akan mengganggu jika sistem kekebalan tubuh bekerja dengan
baik. "Ada banyak infeksi oportunistik yang berbeda dan masing-masing dapat datang
dengan waktu yang berbeda," kata Dr. Malvestutto.

Pneumonia merupakan salah satu infeksi oportunistik, sedangkan yang lainnya termasuk
toksoplasmosis, infeksi parasit yang mempengaruhi otak, cytomegalovirus, dan infeksi
jamur di rongga mulut.

10. Keringat malam

Sekitar setengah dari orang yang terinfeksi HIV akan berkeringat di malam hari selama
tahap awal infeksi HIV, kata Dr. Malvestutto. Keringat malam terjadi bahkan saat tidak
sedang melakukan aktivitas fisik apapun.

11. Perubahan pada kuku

Tanda lain dari infeksi HIV akhir adalah perubahan kuku, seperti membelah, penebalan
dan kuku yang melengkung, atau perubahan warna (hitam atau coklat berupa garis
vertikal maupun horizontal). Seringkali hal tersebut disebabkan infeksi jamur, seperti
kandida.
"Pasien dengan sistem kekebalan yang menurun akan lebih rentan terhadap infeksi
jamur," kata Dr. Malvestutto.

12. Infeksi Jamur

Infeksi jamur yang umum pada tahap lanjut adalah thrush, infeksi mulut yang disebabkan
oleh Candida, yang merupakan suatu jenis jamur. "Candida merupakan jamur yang
sangat umum dan salah satu yang menyebabkan infeksi jamur pada wanita.

"Candida cenderung muncul di rongga mulut atau kerongkongan, sehingga akan sulit
untuk menelan," kata Dr. Malvestutto.

13. Kebingungan atau kesulitan berkonsentrasi

Masalah kognitif dapat menjadi tanda demensia terkait HIV, yang biasanya terjadi lambat
dalam perjalanan penyakit. Selain kebingungan dan kesulitan berkonsentrasi, demensia
terkait AIDS mungkin juga melibatkan masalah memori dan masalah perilaku seperti
marah atau mudah tersinggung.

Bahkan mungkin termasuk perubahan motorik seperti, menjadi ceroboh, kurangnya
koordinasi, dan masalah dengan tugas yang membutuhkan keterampilan motorik halus
seperti menulis dengan tangan.

14. Herpes mulut dan herpes kelamin

Cold sores (herpes mulut) dan herpes kelamin (herpes genital) dapat menjadi tanda dari
ARS dan stadium infeksi HIV. Herpes tersebut juga dapat menjadi faktor risiko untuk
tertular HIV.

Karena herpes kelamin dapat menyebabkan borok yang memudahkan virus HIV masuk
ke dalam tubuh selama hubungan seksual. Orang-orang yang terinfeksi HIV juga
cenderung memiliki risiko tinggi terkena herpes karena HIV melemahkan sistem
kekebalan tubuh.

15. Kesemutan dan kelemahan

Akhir HIV juga dapat menyebabkan mati rasa dan kesemutan di tangan dan kaki. Hal ini
disebut neuropati perifer, yang juga terjadi pada orang dengan diabetes yang tidak
terkontrol. "Hal tersebut menunjukkan kerusakan pada saraf," kata Dr. Malvestutto.

Gejala tersebut dapat diobati dengan obat-obatan penghilang rasa sakit yang dijual bebas
dan antikejang seperti gabapentin.
16. Ketidakteraturan menstruasi

Penyakit HIV tahap lanjut tampaknya dapat meningkatkan risiko mengalami
ketidakteraturan menstruasi, seperti periode yang lebih sedikit dan lebih jarang.
Perubahan tersebut mungkin lebih berkaitan dengan penurunan berat badan dan
kesehatan yang buruk dari wanita dengan tahap akhir infeksi HIV.

Infeksi HIV juga telah dikaitkan dengan usia menopause yang lebih dini, yaitu sekitar 47-
48 tahun bagi perempuan yang terinfeksi HIV dibandingkan dengan perempuan yang
tidak terinfeksi sekitar usia 49-51 tahun.

New

Ketika seseorang terkena virus HIV, ia tidak langsung tertekan AIDS. HIV merupakan virus
yang dapat menyerang kekebalan tubuh manusia, sedangkan AIDS adalah penyakitnya. Virus
HIV memerlukan waktu untuk menjadi AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya dengan
jangka waktu beberapa tahun.

Ada empat tahapan ketika seseorang mulai terinfeksi virus HIV sampai timbul gejala
AIDS.

Tahap pertama, HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibody terhadap HIV dalam
darah. Dalam fase ini, tidak ada tanda-tanda khusus karena penderita HIV tampak sehat dan
merasa sehat. Tahap ini disebut periode jendala umumnya berkisar dua minggu hingga enam
bulan, dan test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini.

Tahap kedua, HIV mulai berkembang biak dalam tubuh. Sama seperti periode jendala, tidak ada
tanda-tanda khusus seseorang dinyatakan HIV. Namun test HIV sudah dapat mendeteksi apakah
sudah terinfeksi HIV atau belum, karena telah terbentuk antibody terhadap HIV dalam darah.
Rata-rata tahap kedua ini berlangsung antara lima sampai 10 tahun tergantung daya tahan tubuh.

Tahap ketiga, sistem kekebalan tubuh semakin menurun. Hal ini ditandai dengan munculnya
gejala infeksi oportunistik seperti pembengkakan kelenjar limfa di seluruh tubuh, diare terus
menerus, flu, dan lainnya. Tahapan ini umumnya berlangsung selama lebih dari satu bulan.

Tahap terakhir, keempat, kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah. Berbagai penyakit lain
bermunculan dan semakin parah