You are on page 1of 14

Ukuran Morbiditas

A. Angka insidensi Rate
1. Angka insiden yaitu jumlah kasus baru suatu penyakit yang timbul atau dilaporkan
selama periode tertentu di suatu wilayah untuk tiap 1000 penduduk pada pertengahan
yang sama.
Indikator Angka Insdiensi Rate
Rumus

Pembilang (X) = Jumlah kasus baru penyakit
tertentu disuatu wilayah dalam periode tertentu
Penyebut (Y) = jumlah penduduk di wilayah dan
periode waktu yang sama
Konstanta (K) = 100, 1000, 10 000, 100 000
Manfaat Pengamatan dan rencana penanggulangan
penyakit dengan melihat:
1. Potret masalah penyakit tertentu
2. Angka dari beberapa periode dapat
digunakan untuk melihat kecenderungan
fluktuasi penyakit
3. Pemantauan dan evaluasi upaya
pencegahan danpenanggulangan penyakit
4. Perbandingan angka indsidensi antar
wilayah dan antar waktu
Interpretasi Makin besar angka insiden si berarti makin
maslah penyakit tersebut
Contoh Selama tahun 1980 dilaporkan sebanyak 126
kasus penyakit DHF dari suatu populasi sebesar
20 000. Maka angka insidensi penyakit tersebut =
126 / 20 000 X 1000 = 126 / 20 = 6,3 kasus /
1000 populasi

2. Angka prevalens selang, yaitu jumlah penderita penyakit tertentu yang ada selama
satu periode (waktu tertentu) di suatu wilayah untuk tiap 1000 penduduk pada
pertengahan periode yang sama.
3. Angka prevalens titik, yaitu jumlah penderita penyakit tertentu yang ada pada saat
tertentu di suatu wilayah, untuk tiap 1000 penduduk pada saat itu juga.
4. Angka prevalens rata rata, yaitu jumlah semua prevalens titik selama satu periode
untuk tiap lama titik prevalens tersebut (biasanya dalam hari).
5. Rata – rata lama sakit, yaitu jumlah semua lamanya penyakit tertentu berlangsung
untuk tiap peristiwa penyakit tertentu.
6. Hubungan antara prevalens suatu periode tertentu berbanding lurus dengan perkalian
anatara insidens pada periode yang sama dan lamanya sakit yang dinyatakan dalam
suatu periode yang dimaksud.
P= Prevalens
I =Insidens
D= Lamanya penyakit
7. Rasio immaturitas, yaitu jumlah bayi yang dilahirkan hidup dengan berbadan kurang
dari 2500 gram selama satu periode disuatu wilayah untuk tiap 100 kelahiran hidup
pada periode yang sama.
8. Angka serangan kedua (Secondary attack rate) yaitu jumlah kasus tambahan karena
kontak dnegan sumber primer dengan masa inkubasi maksimum untuk tiap 100
jumlah kasus yang bisa menular.
B. Angka pertumbuhan penduduk
Indikator Angka pertumbuhan penduduk
Rumus

Manfaat Mengetahui tingkat pertumbuhan penduduk suatu
negara / daerah tertentu.
Interpretasi Angka pertumbuhan penduduk yang makin tinggi
menunjukkan tingkat pertambahan penduduk
yang makin cepat.
Contoh Jumlah penduduk tahun 1987= 165 juta
Jumlah penduduk 1989 = 172, 6725 juta
P2= P1 (1+r) n
N= 1989 – 1987 = 2
172, 6725 = 165 (1+r) 2
R= 2,3 (angka pertumbuhan penduduk = 2,3% =
0,23)

Catatan Pt = banyaknya penduduk pada tahunakhir
P0 = jumlah penduduk pada tahun awal
r = angka pertumbuhan penduduk
n= lamanya waktu antar P0 dan Pt

C. Kepadatan penduduk

Indikator Angka kepadatan penduduk
Rumus

Pembilang (X) = Jumalah penduduk
Penyebut (Y)= Luas wilayah / negara yang dinyatakan dalam kilometer
persegi
Konstanta (K) = 100, 1000, 10 000, 100 000
Manfaat Mengetahui kepadatan penduduk suatu negara / daerah tertentu.
Interpreta Semakin tinggi kepdatan penduduk suatu daerah dapat menyebabkan
si kurangnya keseimbangan antara penduduk dan lingkungan sehingga
dapat mengakibatkan sanitasi lingkungan yang kurang baik dan
penularan penyakit bertambah cepat
Contoh Jumlah pendudu jakatra tahun 1989 adalah 9.199. 109 jiwa
Luas wilayah jakarta= 590 Km2
Maka kepadatan penduduk DKI Jakarta tahun 1989

D. Persentase peduduk perkotaan
Indikator Angka penduduk perkotaan
Rumus

Pembilang (X) = Jumalah penduduk
Penyebut (Y)= Luas wilayah / negara yang
dinyatakan dalam kilometer persegi
Konstanta (K) = 100
Manfaat Mengetahui kepadatan penduduk yang tinggal
disuatu perkotaan.
Interpretasi Bila persentase penduduk perkotaan besar berarti
masalah kesehatan yang dihadapi adalah masalah
kesehatan daerah perkotaan.
Contoh Diketahu jumlah penduduk yang menetap di ibu
kota
Kabupaten A sebanyak 100 000 jiwa, jumlah
pendusuk seluruh
Kabuaten A = 250. 000 jiwa, persentase pendudk
perkotaan =

E. Angka buta huruf (Illeteracy Rate)
Indikator Angka buta huruf (Illeteracy Rate)
Rumus

Pembilang (X) = Jumalah penduduk usia 10
tahun keatas yang buat huruf
Penyebut (Y)=jumlah seluruh penduduk usia 10
tahun keatas
Konstanta (K) = 1000
Manfaat Untuk melihat komposisi penduduk menurit
tingkat pendidikan.
Interpretasi Angka ini menunjukkan tingkat kemajuan suatu
wilayah atau negara dalam bidang pendidikan.
Bila angka ini rendah menunjukkan pendidikan
pada wilayah atau negara tersebut maju.
Contoh Penduduk indonesia tahun 1971
Jumlah penduduk usia 10 tahun keatas
80.507.076
Jumlah penduduk usia 10 tahun keatas yang buta
huruf= 31.464.860
Angka buta huruf indonesia tahun 1971 adalah=

F. Umur Harapan hidup
Indikator Angka buta huruf (Illeteracy Rate)
Rumus

Pembilang (X) = Jumlah penduduk usia 10 tahun
keatas yang buat huruf
Penyebut (Y)=jumlah seluruh penduduk usia 10
tahun keatas
Konstanta (K) = 1000
Manfaat Untuk melihat komposisi penduduk menurit
tingkat pendidikan.
Interpretasi Angka ini menunjukkan tingkat kemajuan suatu
wilayah atau negara dalam bidang pendidikan.
Bila angka ini rendah menunjukkan pendidikan
pada wilayah atau negara tersebut maju.
Contoh Penduduk indonesia tahun 1971
Jumlah penduduk usia 10 tahun keatas
80.507.076
Jumlah penduduk usia 10 tahun keatas yang buta
huruf= 31.464.860
Angka buta huruf indonesia tahun 1971 adalah=

G. Umur Harapan Hidup (Life Ex[ectacy)
Indikator Umur Harapan Hidup (Life Ex[ectacy)
Rumus

Pembilang (X) = Jumlah kelahiran sampai pada kelompok umur
tertentu dalm tahun tertentu.
Penyebut (Y)=jumlah penduduk dari kelompok umur tersebut
pada pertengahan tahun.
Konstanta (K) = 1000
Manfaat Untuk mengatahui berapa lama orang dapat hidup sejak dari usia
tertentu.
Interpretasi Karena umur harapan hidup dianggap sebagai idikator umum bagi
taraf hidup suatu negara yang jga tinggi, begitu sebaliknya.
Contoh Diketahui jumalah tahun – tahun kehidupan setelah berumur 5
tahun dari kohort 100.000 kelahiran = 3.919.457 tahun (T5),
sedangkan jumlah orang orang yang masih hidup sari kohort
100.000 kelahiran tercatat 72.823 orang (L5)
Jumlah penduduk usia 10 tahun keatas 80.507.076

H. Proporsi penyakit rawat jalan rumah sakit
Indikator Proporsi penyakit rawat jalan rumah sakit
Rumus

Pembilang (X) = Jumlah kasus baru penyakit
tertentu pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit
pada periode waktu tertentu.
Penyebut (Y)= jumlah seluruh kasus baru
penyakit pasien rawat jalan di Rumah Sakit pada
periode waktu yang sama.
Konstanta (K) = 100
Manfaat Untuk mengatahui pola penyakit rawat jalan
Rumah Sakit pada kurun waktu tertentu secara
cross sectional dan longitudinal, yang meliputi:
1. Potret pola penyakit rawat jalan di rumah
sakit
2. Perbandingan pola penyakit pasien rawat
jalan rumah sakit
3. Pemantauan pola penyakit pasien rawat
jalan rumah sakit
4. Perencanaan upaya pencegahan dan
penanggulangan
Interpretasi Penyakit – penyakit yang proporsinya menduduki
peringkat satu sampai dua puluh dianggap utama
pada pasien rawat jalan di rumah saki tersebut.
Contoh Kunjungan kasus baru Appendicitis penderita
rawat jalan di rumah sakit tahun 1980 tercatat 25
kasus. Kunjungan kasus baru penderita rawat
jalan seluruh penyakit.

I. Proporsi penyakit rawat inap di rumah sakit
Indikator Proporsi penyakit rawat inap rumah sakit
Rumus

Pembilang (X) = Jumlah kasus baru penyakit
tertentu pada pasien rawat inap di Rumah Sakit
pada periode waktu tertentu.
Penyebut (Y)= jumlah seluruh kasus baru
penyakit pasien rawat inap di Rumah Sakit pada
periode waktu yang sama.
Konstanta (K) = 100
Manfaat Untuk mengatahui pola penyakit rawat jalan
Rumah Sakit pada kurun waktu tertentu secara
cross sectional dan longitudinal, yang meliputi:
1. Potret pola penyakit rawat inap di rumah
sakit
2. Perbandingan pola penyakit pasien rawat
inap rumah sakit
3. Pemantauan pola penyakit pasien rawat
inap rumah sakit
4. Perencanaan upaya pencegahan dan
penanggulangan
Interpretasi Penyakit – penyakit yang proporsinya menduduki
peringkat satu sampai dua puluh dianggap utama
pada pasien rawat inap di rumah sakit tersebut.
Contoh Kunjungan kasus baru Typhoid penderita rawat
inap di rumah sakit tahun 1980 tercatat 50 kasus.
Kunjungan kasus baru penderita rawat inap
seluruh penyakit tercatat 2000.
Jadi proporsi penyakit Typhoid adalah 50/2000 X
100% = 2,5%

J. Proporsi penyebab *)kematian pasien rawat inap di rumah sakit
Indikator Proporsi penyakit rawat inap rumah sakit
Rumus

Pembilang (X) = Jumlah kematian penyakit
rawat inap penyakit tertentu pada pasien rawat
inap seluruh penyakit di rumah sakit pada periode
waktu tertentu
Penyebut (Y)= Jumlah kematian penyakit rawat
inap seluruh penyakit di rumah sakit pada
periode waktu yang sama
Konstanta (K) = 100
Manfaat Untuk mengatahui pola penyakit rawat jalan
Rumah Sakit pada kurun waktu tertentu secara
cross sectional dan longitudinal, yang meliputi:
1. Potret pola penyakit rawat inap di rumah
sakit
2. Pemantauan pola penyakit pasien rawat
inap rumah sakit
3. Perbandingan pola penyakit rawat inap
rumah sakit
Interpretasi Penyakit – penyakit yang proporsinya menduduki
peringkat satu sampai dua puluh dianggap utama
pada pasien rawat inap di rumah sakit tersebut.
Contoh Jumlah kematian pasien rawat inap penyakit
AIDS di rumah sakit tahun 1980 tercatat 50
orang. Jumlah kematian dari seluruh penderita
yang dirawat di rumah sakit itu tercatat 200
orang. Proporsi AIDS sebagai penyakit kematian
50/200 X 100% = 25%
*) Penyebab kematian yang dimasksud bukan penyebab kematian langsung

K. Attack Rate Penyakit wabahatau yang berpotensi wabah atau yang berpotensi wabah
atau yang dapat menimbulkan KLB
Indikator Attack Rate Penyakit wabahatau yang berpotensi
wabah atau yang berpotensi wabah atau yang
dapat menimbulkan KLB

Rumus

Pembilang (X) = Jumlah kasus penyakit sejak
ditemukanya kasus penyakit pertama sampai
dengan berakirnya masa inkubasinya kelompok
masyarakat terancam di wialayah tertentu
Penyebut (Y)= Jumlah penduduk yang terancam
di wilayah pada periode waktu yang sama
Konstanta (K) = 100
Manfaat 1. Untuk mengetahui kecepatan dan
jangkauan penyebaran suatu penyakit di
suatu wilayah pada suatu wabah
2. Untuk mengetahui keberhasilan upaya
pencegahan dan penanggulangan wabah.
Interpretasi Bila suatu penyakit tinggi, berarti kecepatan dan
jangkauan penyebaranpenyakit tersebut tinggi.
Contoh Dalam suatu kejadian luar biasa (outbreak) yang
mengenai 26 kasus dari suatu penyakit “X”, 7
dari kasus adalah wanita, sedangkan 19 adalah
pria. KLB tersebut muncul pada masyarakat yang
terdiri dari 9 wanita dan 87 pria
Attack rate pada pria =19/87 X 100 = 21,8
Attack rate pada wanita = 7/9 X 100 = 77,8
Attack rate pada keseluruhan =26/96 X 100 =
27,1
L. Case Fatality Rate (CFR)
Indikator Case Fatality Rate (CFR)
Rumus

Pembilang (X) = Jumlah kematian karena
penyakit tertentu di suatu wilayah pada periode
waktu tertentu.
Penyebut (Y)= Jumlah kasus penyakit yang sama
di wilayahdan pada periode waktu yang sama.
Konstanta (K) = 100
Manfaat 1. Untuk mengetahui tingkat keganasan
suatu penyakit
2. Untuk mengetahui efektivit supaya –
upaya penanggulangan suatu penyakit
tertentu
Interpretasi CFR suatu penyakit yang tinggi menunjukkan
bahwa penyakit tersebut ganas dan atau upaya
penanggulanganya kurang efektif.
Contoh Jumlah anak yang menderita penyakit campak
(morbili) tercatat sebesar 1000 anak dan 50
diantaranya meninggal (oleh kerena campak).
Maka CFR penyakit campak adalah

M. Persentase bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR)
Indikator Persentase bayi lahir dengan berat badan rendah
(BBLR)
Rumus

Pembilang (X) = Jumlah bayi lahir hidup dengan
berat badan <2500 gram di suatu wilayah dalam
periode waktu tertentu.
Penyebut (Y)= Jumlah bayi lahir hidup dalam
suatu wilayah dan periode yang sama.
Konstanta (K) = 100
Manfaat 1. Untuk mengetahui faktor – faktor yang
berpengaruh terhadap berat bayi lahir
rendah antara lain umur dan paritas ibu
serta umur kehamilan.
2. Mencerminkan tingkat pelayanan KIA,
khususnya palayanan antenatal care
3. Untuk mengetahui tingkat sosial ekonomi
suatu masyarakat
Interpretasi Persentase BBLR tinggi menunjukkan rendahnya
status kesehatan para ibu hamil, jarak kelahiran
yang terlalu rapat, pelayanan kehamilan yang
kurang memadai, dan kebutuhan pelayanan yang
lebih baik bagi bayi baru lahir
Contoh Jumlah bayi baru lahir hidup dengan BBLR di
wilayah X pada tahun 1985 tercatat sebesar 7
orang, sedangkan jumlah semua bayi baru lahir
hidup pada tahun tersebut = 100 orang. Angka
BBLR = 7/100 X 100% = 7%

N. Angka penggunaan tempat tidur / BED OCCUPANCY RATE (BOR)
Indikator Angka penggunaan tempat tidur / BED
OCCUPANCY RATE (BOR)
Rumus

Pembilang (X) = Jumlah hari perawatan dirumah
sakit pada suatu periode waktu tertentu
Penyebut (Y)= Jumlah tempat tidur (X) jumlah
hari dalam periode waktu yang sama.
Konstanta (K) = 100
Manfaat Untuk mengetahui tingkat pemanfaatan tempat
tidur rumah sakit sehingga perlu pengembangan
rumah sakit atau penambahan tempat tidur.

Interpretasi Angka BOR yang rendah menunjukkan kurangya
pemanfaatan fasilitas perawatan rumah sakit oleh
masyarakat. Angka BOR yang tinggi (85%)
menunjukkan tingkat pemanfaatan tempat tidur
yang tinggi sehingga perlu pengembangan rumah
sakit atau penambahan tempat tidur.
Contoh Pada tahun 1988 di rumah sakit Melati diketahui
jumlah hari perawatan sebesar 16.425 hari.
Jumlah tempat tidur rumah sakit tersebut yaitu 60
buah.maka angka penggunaan tempat tidur
(BOR) pada rumah sakit tersebut yaitu
16.425 / (60x365) X 100% = 75%

O. Frekuensi penggunaan tempat tidur (BTO)
Indikator Frekuensi penggunaan tempat tidur (BTO)

Rumus
Pembilang (X) = Jumlah prnderita rawat inap
yang keluar (hidup dan mati ) di rumah sakit
Penyebut (Y)= Jumlah tempat tidur di rumah
sakit pada tahun yang sama

Manfaat Bersama indikator TOI dan LOS dapat digunakan
untuk mengetahui tingkat efisiensi penggunaan
tempat tidur rumah sakit.

Interpretasi Dilakukan bersama – sama dengan TOI dan LOS
misalnya BTO 40-50, TOI 1-3, TOI 6-9 berarti
tempat tidur rumah sakit tersebut efisien.
Contoh Di wilayah A pada tahun 1986 terdapat rumah
sakit yang mempunyai jumlah tempat tidur 125
buah. Pada tahun itu terdapat jumlah pasien rawat
inap di rumah sakit tersebut 6150 orang.
Dari jumlah penderita tersebut yang keluar rumah
sakit dalam keadaan hidup 5800 orang dan
jumlah penderita keluar mati 350 orang. Maka
frekuensi penggunaan tempat tidur (BTO) =
(5800 + 350) /125 = 49

P. AvLos (Average Length Of Stay)
Indikator AvLos (Average Length Of Stay)

Rumus

Pembilang (X) = Jumlah hari perawatan pasien
rawat inap (hidup + mati) di rumah sakit
Penyebut (Y)= Jumlah hari perawatan di rumah
sakit pada tahun yang sama

Manfaat Untuk mengukur efisiensi pelayanan, untuk
mengukur mutu pelayananan rumah sakit apabila
diterapkan pada diagnostic tracer

Interpretasi Tidak dapat dilakukan sendiri tetai harus bersama
TOI dan BTO
Contoh Disuatu rumah sakit A jumlah hari perawatan
pasien rawat inap yang keluar hidup dan mati
sebanyak 5400 hari perawatan, sedangkan jumlah
pasien rawat inap yang keluar hidup dan mati
sebanyak 600 orang. Maka rata – rata lamanya
dirawat = 5400/600 X 1 hari = 9 hari
Q. TOI (turn of Interval)
Indikator TOI (turn of Interval)
Rumus

Pembilang (X) = Jumlah tempat tidur X jumlah
hari dalam 1 tahun dikurangi jumlah hari
perawatan dalam satu tahun
Penyebut (Y)= Jumlah pasien keluar (hidup +
mati )
Konstanta (K) = 100
Manfaat Semakin besar TOI maka efisiensi penggunaan
tempat tidur semakin jelek. Ini bisa dimulai bila
bersama dengan LOS dan BTO.

Interpretasi Semakin besar TOI maka efisiensi penggunaan
tempat tidur semakin jelek. Ini bisa idmulai bila
bersama dengan LOS dan BTO.
Contoh Siduatau rumah sakit jumlah tempat tidur 100
dengan jul=mlah hari perawatan dalam 1 tahun
30.000 dengan jumlah pasien yang keluar hidup +
mati sebesar 3.250, maka TOI adalah ((100 X
365) – 30.000) / 3250 = 2,0

A. GDR (Gross Death Rate)
Indikator GDR (Gross Death Rate)

Rumus

Pembilang (X) = Jumlah seluruh kematian pasien
di rumah sakit dalam sati periode waktu tertentu
Penyebut (Y)= jumlah seluruh pasien keluar
(hidup +mati) rumah sakit pada periode waktu
yang sama
Konstanta (K) = 100
Manfaat Untuk mengetahui mutu pelayanan / perawatan
rumah sakit

Interpretasi 1. Semakin rendah GDR berarti mutu
pelayanan rumah sakit semakin baik
2. Angka ini biasa untuk menilai mutu
pelayanan jika angka kematian kurang
dari 48 jam tinggi
Contoh Jumlah seluruh kematian penderita di rumah sakit
Mandiri pada tahun 1975 tercatat sebanyak 95
orang. Sedangkan jumlah pasien yang keluar
sebanyak 3200 orang. Maka GDR di rumah sakit
Mandiri tahun 1975 = 95/3200 X 100 = 29,7 ‰

R. NDR (Net Death Rate)
Indikator NDR (Net Death Rate)

Rumus

Pembilang (X) = Jumlah kematian pasien di
rumah sakit yang meninggal kurang dari 48 jam
Penyebut (Y)= jumlah seluruh pasien keluar
(hidup +mati) rumah sakit pada periode waktu
yang sama
Konstanta (K) = 100
Manfaat Untuk mengetahui mutu pelayanan / perawatan
rumah sakit

Interpretasi Semakin rendah NDR rumah sakit berarti mutu
pelayanan rumah sakit semakin baik

Contoh Jumlah kematian penderita di rumah sakit
Mandiri yang meninggal lebih dari besar atau
sama dengan 48 jam pada tahun 1986 tercatat
sebanyak 80 orang. Sedangkan jumlah pasien
yang keluar hidup dan mati sebanyak 6000
orang. Maka NDR di rumah sakit Mandiri tahun
1986 yaitu 80/6000 X 100% = 1,33%

S. Persentase kematian kurang dari 48 jam
Indikator Persentase kematuan kurang dari 48 jam

Rumus

Pembilang (X) = Jumlah kematian pasien di
rumah sakit yang meninggal kurang dari 48
jampada periode waktu tertentu
Penyebut (Y)= jumlah kematian pasien rumah
sakit pada periode waktu yang sama
Konstanta (K) = 100
Manfaat Untuk mengetahui mutu pelayanan / perawatan di
unit gawat darurat

Interpretasi Semakin rendah angka ini rumah sakit berarti
mutu pelayanan rumah sakit semakin baik
Contoh Jumlah kematian kurang dari 48 jam di rumah
sakit pada tahun 1987 sebesar 40. Sedngkan
jumlah seluruh kematian di rumah sakit tersebut
pada tahun yang sama sebesar 70. Maka
oersebtase kematian <48 jam adalah 40/70 X
100= 57%

T. Rata – rata kunjungan rawat jalan rumah sakit per hari

Indikator Rata – rata kunjungan rawat jalan rumah sakit per
hari

Rumus

Pembilang (X) = Jumlah kunjungan rawat jalan
(baru + lama) rumah sakit dalam suatu periode
waktu tertentu
Penyebut (Y)= jumlah hari kerja pada periode
waktu yang sama
Konstanta (K) = -
Manfaat 1. Untuk mengetahui beban kerja rumah
sakit (poliklinik rawat jalan)
2. Untuk mengetahui pemanfaatan rumah
sakit
Interpretasi Semakin tinggi rata rata kunjungan rawat jalan di
rumah sakit, maka semakin besar beban kerja
rumah sakit tersebut

Contoh Jumlah kunjungan rawat jalan baru + lama di
rumah sakit A pada tahun 1985 sebesar 1500
orang. Jumlah hari kerja pada rumah sakit
tersebut 300 hari. Maka rata – rata kunjungan
rawat jalan pada rumah sakit per hari tanun 1985
adalah 1500/300 = 5 orang

U. Rata – rata penderita dirawat / 1000 penduduk
Indikator Rata – rata penderita dirawat / 1000 penduduk

Rumus

Pembilang (X) = Jumlah penderita keluar rumah
sakit (hidup dan mati) pada periode waktu yang
sama
Penyebut (Y)= jumlah seluruh pasien keluar
(hidup +mati) rumah sakit pada periode waktu
yang sama
Konstanta (K) = 100,000
Manfaat Untuk mengetahui pemanfaatan rumah sakit oleh
penduduk

Interpretasi Semakin tinggi angka rata – rata penderita
dirawat semakin tinggi pemanfaatan rumah sakit
Contoh Diketahui jumlah penduduk kabupaten A pada
tahun 1988 = 200.000 jiwa. Jumlah penderita
keluar rumah sakit (hidup+mati) sebesar 7500
orang. Maka rata – rata penderita dirawat
dirumah sakit tersebut adalah 7500/200.000 X
100.000 = 3750 per 100.000 penduduk

Daftar Pustaka
1. Pangemanan D, F. Kasim. 2008. Metode Penelitian Biomedis Edisi 2.Bandung:
Danamartha Sejahtera Utama.