You are on page 1of 10

SKRIPSI

PENGARUH SENAM DISMENOR TERHADAH TINGKAT NYERI


DISMENOR PADA REMAJA DI SMK NU 01 SLAWI

Disusun Oleh:
Wulan suci R
C1014065
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia yang
sangat penting. Pada masa ini akan banyak perubahan atau kejadian yang akan di
alami remaja. Masa remaja merupakan suatu masa peralihan dari masa anak- anak
menuju masa dewasa yang berjalan antar umur 12- 21 tahun dan ditandai dengan
adanya perubahan aspek fisik, psikis dan psikosoial (Dewi, 2012).
Setiap bulan seorang wanita normal akan mengalami yang namanya menstruasi,
pristiwa itu begitu wajar dan dapat di pastikan semua wanita akan mengalami
proses itu. Menstruasi dimulai saat pubertas dan kemampuan seorang wanita
untuk mengandung anak atau masa reproduksi. Menstruasi adalah perdarahan
periodik normal uterus dan merupakan fungsi fisiologis yang hanya terjadi pada
wanita. Pada dasarnya haid merupakan proses katabolisme dan terjadi di bawah
pengaruh hormon hipofisis dan ovarium (Benson, 2009).
Menstruasi merupakan proses pelepasan dinding rahim yang disertai dengan
pendarahan yang terjadi secara berulang setiap bulan, kecuali pada saat terjadi
kehamilan. Hari pertama terjadinya menstruasi dihitung sebagai awal setiap
siklus menstruasi (hari ke – 1). Menstruasi akan terjadi 3 – 7 hari. Hari terakhir
menstruasi adalah waktu berakhir sebelum mulai siklus menstruasi berikutnya.
Rata – rata perempuan mengalami siklus menstruasi selama 21 – 40 hari. Hanya
sekitar 15 % perempuan yang mengalami siklus menstruasi selama 28 hari
(Anurogo dan Wulandari, 2011).
Dismenore dalam bahasa Indonesia adalah nyeri menstruasi, sifat dan derajat rasa
nyeri ini bervariasi. Mulai dari yang ringan sampai yang berat. Keadaan yang
hebat dapat mengganggu aktivitas seharihari,sehingga memaksa penderita untuk
istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau cara hidup sehari-hari untuk beberapa
jam atau beberapa hari. Hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak pada
perut bagian bawah saat menstruasi. Uterus atau rahim terdiri atas otot yang juga
berkontraksi dan relaksasi. Umumnya, kontraksi otot uterus tidak dirasakan,
namun kontraksi yang hebat dan sering menyebabkan aliran darah ke uterus
terganggu sehingga timbul rasa nyeri (Aulia, 2009).
Angka kejadian nyeri menstruasi di dunia sangat besar. Rata – rata lebih dari 50%
perempuan di setiap negara mengalami nyeri mentruasi. Angka prosentasenya di
Amerika sekitar 60% dan di Swedia sekitar 72%. Sementara di Indonesia
angkanya diperkirakan 55% perempuan usia produktif yang tersiksa oleh nyeri
selama menstruasi. Angka kejadian (prevalensi) nyeri menstruasi berkisar 45 –
95% di kalangan wanita usia produktif.
Rasa tidak nyaman karena dysmenorhea jika tidak diatasi akan mempengaruhi
fungsi mental dan fisik individu seperti lemah, gelisah, depresi, bendungan haid di
rongga panggul, kram hebat, gangguan di rongga panggul (Prawirohardjo, 2009).
Dismenore dapat diatasi dengan terapi farmakologi dan non farmakologi. Terapi
farmakologi antara lain, pemberian obat analgetik, terapi hormonal, obat
nonsteroid prostaglandin, dan dilatasi kanalis servikalis (Prawirohardjo, 2009).
Terapi non farmakologi antara lain, kompres hangat, olahraga, terapi mozart,
dan relaksasi. Latihan olahraga mampu meningkatkan produksi endorphin
(pembunuh rasa sakit alami tubuh), dapat meningkatkan kadar serotonin.
Selain itu pencegahan yang lebih aman dengan cara melakukan senam atau yang
biasa disebut dengan senam dismenore. Latihan – latihan olahraga yang ringan
sangat dianjurkan untuk mengurangi dismenore. Olahraga/senam merupakan salah
satu teknik relaksasi yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri karena saat
melakukan olahraga/senam, otak dan susunan saraf tulang belakang akan
menghasilkan endorphin, hormon yang berfungsi sebagai obat penenang alami
dan menimbulkan rasa nyaman (Harry, 2005).
Berdasarkan studi pendahuluan yang di lakukan peneliti pada tanggal 13 Maret
2018 pada kelas 2 Responden Remaja Putri di SMK NU 01 SLAWI, Kbupaten
TEGAL ilakukan dengan wawancara terdapat 50 diantaranya yang mengalami
nyeri saat menstruasi/ dismenore. Responden menangani tersebut dengan dengan
menggunakan beberapa cara diantaranya, minum obat pereda nyeri 15. Tidur
sebanyak 4. Mengoles minyak kyau putih sebanyak 21. Dan tidak melakukan apa
apa sebanyak 10. Berdasarkan dengan fenomena di atas saya tertarik untuk
mengambil masalah penelitian “ Pengaruh Senam Disminore Terhadap Tingkat
Nyeri Dismenore Pada Remaja

1.2. Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh cerita
boneka tentang perlindungan diri anak terhadap pengetahuan
pencegahan kekerasan seksual pada anak usia prasekolah.
1.2.2 Tujuan Khusus
1.2.2.1 Menganalisa pengaruh cerita boneka tentang perlindungan diri
Pada anak prasekolah di TK PERTIWI.
1.2.2.2Menganalisa pengetahuan pencegahan kekerasan seksual pada
Anak usia prasekolah.
1.2.2.3 Menganalisa pengaruh cerita boneka tentang perlindungan diri
anak terhadap pengetahuan pencegahan kekerasan seksual pada
anak usia prasekolah.

1.3. Manfaat Penelitian


Penelitian ini di harapkan dapat bermanfaat bagi
1.3.1 Aplikatif
Hasil penelian ini diharapkan dapat memeberikan manfaat bagi anak
usia prasekolah dan orang tua untuk menerapka perlindungan diri pada
anak.
1.3.2 Keilmuan
Mengembangkan pengetahuan terhadap pencegahan seksual pada anak
sebagai pedoman untuk melindungi diri dari kejahatan.
1.3.3 Metodelogi
Untuk memberikan informasi dan referensi untuk penelitian selanjutnya
khusnya tentang pengaruh cerita boneka tentang pencegahan diri anak
terhadap pengetahuan pencegahan kekerasan seksual pada anak
prasekolah.

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Anak merupakan harapan penerus dari suatu bangsa yang berhak mendapatkan
perlindungan untuk hidup secara sehat, bahagia serta sejahtera. Apabila anak
tidak mendapatkan hak-hak tersebut, maka anak akan mengalami masalah
kesehatan. Salah satu bentuk masalah kesehatan pada anak yaitu tentang
kekerasan. Jenis kekerasan meliputi fisik, psikologis maupun seks.
Kasus kekerasan seksual pada anak di indonesia yang tercatat oleh komisi
perlindungan anak indonesia (KPAI) pada tahun 2013 dengan jumlah 590 kasus
dan meningkat 100% pada tahun 2014 dengan jumlah 1217 kasus dan 342
kekeraan seksual pada anak, pada 2015 menunjukan 1.726 kasus pelecehan
seksual yang terjadi sekitar 58 persennya di alami anak-anak, 120 kasus pada
2016, Sementara pada 2017 tercatat 116 kasus kekerasan seksual pada anak
(Fahmi Alaydroes dalam KPAI, 2017). Sedangkan kasus kekerasan pada anak di
wilayah jawa tengah yang terdiri dri kekersan fisik, dan kekerasan seksual,
kekerasan fisik pada anak tahun 2011 mencapai 1.153 anak, pada tahun 2012
mencapai 1.107, tahun 2013 mencapai 739, tahun 2014 mencapai 686, tahun 2015
mencapai 836, tahun 2016 mencapai 263 anak, sedangkan kasus kekerasan
seksual pada anak pada aun 2011 mencapai 854 anak, tahun 2012 mencapai 990,
tahun 2013 mencapai 742, tahun 2014 mencapai 799, tahun 2015 mencapai 757
anak. (BPPENAS, 2016).

Anak merupakan sosok yang akan meneruskan perjuangan bangsa yang harus di
lindungi sebagai penerus generasi bangsa. Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak pasal 1 ayat 1, anak adalah
individu yang berusia kurang dari 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam
kandungan (KPAI, 2014). Anak usia prasekolah adalah usia perkembangan anak
dari usia tiga tahun sampai dengan lima tahun. Pada anak dalam usia tiga sampai
dengan lima tahun terjadi perubahan yang signifikan terhadap perkembangan
biologis, psikososial, kognitif, spiritual, dan sosialnya (Hockenberry & Wilson,
2009). Anak Pra Sekolah adalah anak yang berumur antara 3-6 tahun, pada masa
ini anak-anak senang berimajinasi dan percaya bahwa mereka memiliki kekuatan.
Pertumbuhan anak usia pra sekolah cenderung lambat, tetapi pada usia ini
kemampuan kognitif dan sosial yang terjadi selama masa toddler mengalamii
penyempurnaan. Pada usia pra sekolah, anak membangun kontrol sistem tubuh
seperti kemampuan ke toilet, berakaian, dan makan sendiri Anak pra sekolah juga
dapat berjauhan lebih lama dengan orang tua dan dapat berinteraksi dengan orang
lain (Potts & Mandeleco, 2012).

Selama usia pra sekolah, anak mulai penasaran tentang tubuhnya dan mulai
belajar tentang perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan. Freud
mendeskripsikan masa ini sebagai masa Phallic. Saat masa ini anak mengalami
konflik bawah sadar dan lebih tertarik dan mencintai orangtua yang berbeda jenis
kelamin. Karena hal tersebut anak-anak merasa ada kompetisi dengan orangtua
yang sama jenis kelamin dalam mendapatkan perhatian dan cinta dari orangtua
beda jenis kelamin (Potts & Mandleco 2012).

Pada masa ini orangtua dapat diyakin bahwa masalah tersebut normal, tetapi perlu
dibantu dalam mengatasi kecemburuan anak. Selama masa ini, anak-anak dapat
membedakan jenis kelaminya laki atau perempuan dan mulai mencontoh perilaku
orangtua yang berjenis kelamin sama. Saat ini anak-anak mulai penasaran dengan
perbedaan tubuhh antara jenis kelamin. Saat usia ini anak juga suka bermain peran
dan bertanya banyak hal, Jika tidak dijawab mereka akan menemukan jawaban
seniri yang biasnaya salah. Saat usia ini orangtua diharapkan mulai mengajarkan
tentang bagian tubuh dan juga berusaha untuk menjawab semua pertanyaan, pada
masa ini lah anak perlu di berikan pendidikan untuk melindungi diri dari perilaku
sekual (Potts & Mandleco 2012).

Keingin tahuan anak pada usia prasekolah terhadap seksualitas mulai berkembang
seperti anak mulai mengenali jenis kelamin nya dan anak mulai penasaran dengan
perbedaan tubuh antara jenis kelamin. Keingintahuan ini dapat digunakan dalam
proses pembelajaran salah satu nya yaitu pembelajaran tentang pendidikan seksual
(Potts & Mandleco 2012). (Anugrah Sulistyowati 2018) dalam penelitian nya
bahwa pendidikan seksual pada anak prasekolah perlu dan penting di berikan
untuk meningkatkan ilmu pengetahuan tentang pencegahan seksual. Oleh karena
itu mengajarkan anak tentang perlindungan diri anak diperlukan untuk
mengembangkan kemampuan anak untuk mendeteksi dan menangani situasi yang
mengancam bagi mereka (James at al., 2013).

(Esya Asnesty Mashudi 2015) dalam penelitian nya bahwa Salah satu upaya
pencegahan dapat dilakukan melalui pengajaran perlindungan diri anak atau
keterampilan keselamatan pribadi pada anak. Evaluasi terhadap program
pencegahan kekerasan seksual yang berbasis pengajaran personal safety skills
menunjukkan bahwa baik anak usia sekolah maupun pra-sekolah
mendemonstrasikan peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam menjaga
keselamatan diri dari tindakan kekerasan seksual. (James At All., 2013)
menyebutkan dasar dari perlindungan diri anak dalah mengajarkan anak untuk
bekata “Tidak, Pergi” dan menceritkan kejadian tersebut kepada orang dewasa.
Selain itu pendidikan seksual yang dapt diberikan pada anak usia prasekolah yaitu
dengan pendidikan tentang area privasi yang di miliki anak (Kliegman 2011).

Metode pembelajaran dan pendidikan dalam pencegahan seksual pada anak


prasekolah harus semenarik mungkin dan menggunakan bahasa dan cara
sederhana misal nya dengan mengajak anak untuk menonton video, gambar dan
cerita dengan menggunakan alat praga seperti boneka sehingga anak dengan
mudah memahami materi yang diberikan (Noto Atmodjo 2007). Metode
pendidikan yang efektif untuk anak usia prasekolah adalah menggunakan metode
bermain agar anak dapat memahami isi dari pendidikan tersbut karena dengan
bermain dapat menigkatkan imajinasi anak (Kliegman at al., 2011).
1.2. Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh cerita
boneka tentang perlindungan diri anak terhadap pengetahuan
pencegahan kekerasan seksual pada anak usia prasekolah.
1.2.2 Tujuan Khusus
1.2.2.1 Menganalisa pengaruh cerita boneka tentang perlindungan diri
Pada anak prasekolah di TK PERTIWI.
1.2.2.2Menganalisa pengetahuan pencegahan kekerasan seksual pada
Anak usia prasekolah.
1.2.2.3 Menganalisa pengaruh cerita boneka tentang perlindungan diri
anak terhadap pengetahuan pencegahan kekerasan seksual pada
anak usia prasekolah.

1.3. Manfaat Penelitian


Penelitian ini di harapkan dapat bermanfaat bagi
1.3.1 Aplikatif
Hasil penelian ini diharapkan dapat memeberikan manfaat bagi anak
usia prasekolah dan orang tua untuk menerapka perlindungan diri pada
anak.
1.3.2 Keilmuan
Mengembangkan pengetahuan terhadap pencegahan seksual pada anak
sebagai pedoman untuk melindungi diri dari kejahatan.
1.3.3 Metodelogi
Untuk memberikan informasi dan referensi untuk penelitian selanjutnya
khusnya tentang pengaruh cerita boneka tentang pencegahan diri anak
terhadap pengetahuan pencegahan kekerasan seksual pada anak
prasekolah.