You are on page 1of 13

RESUME KEBIJAKAN NASIONAL TENTANG PERAWATAN PALIATIF

DISUSUN OLEH :

IKRIMAH SYAM

(70300116033)

KEPERAWATAN B

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

2018
A. Perkembangan kebijakan nasional paliative care di Indonesia hingga

saat ini

Sejarah perkembangan palliative care di Indonesia bermula dari adanya

perubahan secara terus menerus setiap rapat kerja untuk membahas sistem

penanggulangan penyakit kanker pada tahun 1989, sehingga penanggulangan

penyakit kanker ini harus dilaksanakan secara paripurna dan mengerjakan

berbagai intervensi mulai dari pencegahan, deteksi dini, terapi, dan perawatan

paliatif. Akhirnya Departemen Kesehatan Republik Indonesia menerbitkan

surat keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor. 812/Menkes/SK/VIII/2007

pada tanggal 19 Juli 2007 yang berisi keputusan Menkes tentang palliative

care. Dengan terbitnya surat keputusan tersebut diharapkan bisa menjadi

pedoman pelaksanaan palliative care di seluruh Indonesia serta mendorong

laju perkembangan palliative care secara kualitas dan kuantitas.

Di indonesia paliiative care dimulai pada tanggal 19 Februari 1992 di RS

Dr. Soetomo (Surabaya), disusul RS Cipto Mangunkusumo (Jakarta), RS

kanker Dharmais (Jakarta), RS Wahidin Sudirohusodo (Makassar), RS Dr.

Sardjito (Yogyakarta), dan RS Sanglah (Denpasar). Dari tahun 1992-2010

pelayanan palliative care baru ada di 6 kota besar dan kebanyakan terdapat di

rumah sakit pemerintah. (Najmah,Dkk. 2014)

Betapa pentingnya perawatan paliatif untuk pasien-ppasien yang telah

memasukifase terminal dari penyakit yang diderita. Menkes sampai perlu

menerbitkan sebuah Kepmenker No. 812/Menkes/SK/VII/2007 yang isinya

agar setiap rumah sakit menyediakanperawatan paliatif di masing-masimg

rumah sakit untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Tetapi pada

kenyataannya, perawatan paliatif hanyadi terapkan secara optimal di RS dr.

Soetomo di Surabaya, sedangkan di Rumah Sakit lainnya belum efektif.
Padahal, perawatan paliative sangat di perlukan untuk pasien dalam kondisi

terminal. Ketika doter telah memgvonis bahwa umur pasien sudah tidak lama

lagi, penerapam perawatan paliatif dibutuhkan dalam kondisi tersebut agar

pasien bisa meninggal dengan damaidan sejahtera. (Najmah,Dkk. 2014)

Palliative home care adalah pelayanan perawatan paliatif yang dilakukan

di rumah pasien, oleh tenaga paliatif dan atau keluarga atas bimbingan/

pengawasan tenaga paliatif.

Hospis adalah tempat dimana pasien dengan penyakit stadium terminal

yang tidak dapat dirawat di rumah namun tidak melakukan tindakan yang

harus dilakukan di rumah sakit Pelayanan yang diberikan tidak seperti di

rumah sakit, tetapi dapat memberikan pelayaan untuk mengendalikan gejala-

gejala yang ada, dengan keadaan seperti di rumah pasien sendiri.

National Institute for Health and Clineal Excellence (NICE), inggris,

dalam Buckley,2008. Mendefinisikan sebagai berikut :

“ palliative care is the active holistic care of patients with advance

progressive illness. Management of pain and other symptoms and the

provision of psychological,social, and spiritual support is paramount. The

goals of palliative care is the best possible quality of life for patients and their

families”. (Buckley, 2008)

1. Tujuan Dan Sasaran Kebijakan

a. Tujuan kebijakan

Tujuan umum: Sebagai payung hukum dan arahan bagi perawatan

paliatif di Indonesia

b. Tujuan khusus:

1) Terlaksananya perawatan paliatif yang bermutu sesuai standar yang

berlaku di seluruh Indonesia
2) Tersusunnya pedoman-pedoman pelaksanaan/juklak perawatan paliatif

3) Tersedianya tenaga medis dan non medis yang terlatih.

4) Tersedianya sarana dan prasarana yang diperlukan. (KEMENKES,

2007)

c. Sasaran kebijakan pelayanan paliatif

1) Seluruh pasien (dewasa dan anak) dan anggota keluarga, lingkungan

yang memerlukan perawatan paliatif di mana pun pasien berada di

seluruh Indonesia.

2) Pelaksana perawatan paliatif : dokter, perawat, tenaga kesehatan

lainnya dan tenaga terkait lainnya.

3) Institusi-institusi terkait, misalnya:

a) Dinas kesehatan propinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota

b) Rumah Sakit pemerintah dan swasta

c) Puskesmas

d) Rumah perawatan/hospis

e) Fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta lain. (KEMENKES,

2007)

2. Lingkup Kegiatan Perawatan Paliatif

a. Jenis kegiatan perawatan paliatif meliputi :

1) Penatalaksanaan nyeri.

2) Penatalaksanaan keluhan fisik lain.

3) Asuhan keperawatan

4) Dukungan psikologis

5) Dukungan sosial Dukungan kultural dan spiritual

6) Dukungan persiapan dan selama masa dukacita (bereavement).
b. Perawatan paliatif dilakukan melalui rawat inap, rawat jalan, dan

kunjungan/rawat rumah. (KEMENKES, 2007)

3. Aspek Medikolegal Dalam Perawatan Paliatif

a. Persetujuan tindakan medis/informed consent untuk pasien paliatif.\

1) Pasien harus memahami pengertian, tujuan dan pelaksanaan

perawatan paliatif melalui komunikasi yang intensif dan

berkesinambungan antara tim perawatan paliatif dengan pasien dan

keluarganya.

2) Pelaksanaan informed consent atau persetujuan tindakan kedokteran

pada dasarnya dilakukan sebagaimana telah diatur dalam peraturan

perundang-undangan.

3) Meskipun pada umumnya hanya tindakan kedokteran (medis) yang

membutuhkan informed consent, tetapi pada perawatan paliatif

sebaiknya setiap tindakan yang berisiko dilakukan informed consent.

4) Baik penerima informasi maupun pemberi persetujuan diutamakan

pasien sendiri apabila ia masih kompeten, dengan saksi anggota

keluarga terdekatnya. Waktu yang cukup agar diberikan kepada

pasien untuk berkomunikasi dengan keluarga terdekatnya. Dalam hal

pasien telah tidak kompeten, maka keluarga terdekatnya
melakukannya atas nama pasien.

5) Tim perawatan paliatif sebaiknya mengusahakan untuk memperoleh

pesan atau pernyataan pasien pada saat ia sedang kompeten tentang

apa yang harus atau boleh atau tidak boleh dilakukan terhadapnya

apabila kompetensinya kemudian menurun (advanced directive).

Pesan dapat memuat secara eksplisit tindakan apa yang boleh atau
tidak boleh dilakukan, atau dapat pula hanya menunjuk seseorang
yang nantinya akan mewakilinya dalam membuat keputusan pada saat

ia tidak kompeten. Pernyataan tersebut dibuat tertulis dan akan

dijadikan panduan utama bagi tim perawatan paliatif.

6) Pada keadaan darurat, untuk kepentingan terbaik pasien, tim

perawatan paliatif dapat melakukan tindakan kedokteran yang

diperlukan, dan informasi dapat diberikan pada kesempatan pertama.

b. Resusitasi/Tidak resusitasi pada pasien paliatif

1) Keputusan dilakukan atau tidak dilakukannya tindakan resusitasi

dapat dibuat oleh pasien yang kompeten atau oleh Tim Perawatan

paliatif.

2) Informasi tentang hal ini sebaiknya telah diinformasikan pada saat

pasien memasuki atau memulai perawatan paliatif

3) Pasien yang kompeten memiliki hak untuk tidak menghendaki

resusitasi, sepanjang informasi adekuat yang dibutuhkannya untuk

membuat keputusan telah dipahaminya. Keputusan tersebut dapat

diberikan dalam bentuk pesan (advanced directive) atau dalam

informed consent menjelang ia kehilangan kompetensinya.

4) Keluarga terdekatnya pada dasarnya tidak boleh membuat keputusan

tidak resusitasi, kecuali telah dipesankan dalam advanced directive

tertulis. Namun demikian, dalam keadaan tertentu dan atas

pertimbangan tertentu yang layak dan patut, permintaan tertulis oleh

seluruh anggota keluarga terdekat dapat dimintakan penetapan

pengadilan untuk pengesahannya.

5) Tim perawatan paliatif dapat membuat keputusan untuk tidak

melakukan resusitasi sesuai dengan pedoman klinis di bidang ini,

yaitu apabila pasien berada dalam tahap terminal dan tindakan
resusitasi diketahui tidak akan menyembuhkan atau memperbaiki

kualitas hidupnya berdasarkan bukti ilmiah pada saat tersebut.

c. Perawatan pasien paliatif di ICU

1) Pada dasarnya perawatan paliatif pasien di ICU mengikuti ketentuan-

ketentuan umum yang berlaku sebagaimana diuraikan di atas.

2) Dalam menghadapi tahap terminal, Tim perawatan paliatif harus

mengikuti pedoman penentuan kematian batang otak dan penghentian

peralatan life-supporting.

d. Masalah medikolegal lainnya pada perawatan pasien paliatif

1) Tim Perawatan Paliatif bekerja berdasarkan kewenangan yang

diberikan oleh Pimpinan Rumah Sakit, termasuk pada saat melakukan

perawatan di rumah pasien.

2) Pada dasarnya tindakan yang bersifat kedokteran harus dikerjakan oleh

tenaga medis, tetapi dengan pertimbangan yang memperhatikan

keselamatan pasien tindakan-tindakan tertentu dapat didelegasikan

kepada tenaga kesehatan non medis yang terlatih. Komunikasi antara

pelaksana dengan pembuat kebijakan harus dipelihara. (KEMENKES,

2007)

4. Sumber Daya Manusia
a. Pelaksana perawatan paliatif adalah tenaga kesehatan, pekerja sosial,

rohaniawan, keluarga, relawan.

b. Kriteria pelaksana perawatan paliatif adalah telah mengikuti

pendidikan/pelatihan perawatan paliatif dan telah mendapat sertifikat.

c. Pelatihan

1) Modul pelatihan : Penyusunan modul pelatihan dilakukan dengan
kerjasama antara para pakar perawatan paliatif dengan Departemen
Kesehatan (Badan Pembinaan dan Pengembangan Sumber Daya

Manusia dan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik). Modul-

modul tersebut terdiri dari modul untuk dokter, modul untuk

perawat, modul untuk tenaga kesehatan lainnya, modul untuk tenaga

non medis.

2) Pelatih : Pakar perawatan paliatif dari RS Pendidikan dan Fakultas

Kedokteran.

3) Sertifikasi : dari Departemen Kesehatan c.q Pusat Pelatihan dan

Pendidikan Badan PPSDM. Pada tahap pertama dilakukan sertifikasi

pemutihan untuk pelaksana perawatan paliatif di 5 (lima) propinsi

yaitu : Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Makasar. Pada

tahap selanjutnya sertifikasi diberikan setelah mengikuti pelatihan.

d. Pendidikan Pendidikan formal spesialis paliatif (ilmu kedokteran

paliatif, ilmu keperawatan paliatif). (KEMENKES, 2007)

5. Tempat Dan Organisasi Perawatan Paliatif

Tempat untuk melakukan perawatan paliatif adalah:

a. Rumah sakit : Untuk pasien yang harus mendapatkan perawatan yang

memerlukan pengawasan ketat, tindakan khusus atau peralatan khusus.

b. Puskesmas : Untuk pasien yang memerlukan pelayanan rawat jalan.
c. Rumah singgah/panti (hospis) : Untuk pasien yang tidak memerlukan

pengawasan ketat, tindakan khusus atau peralatan khusus, tetapi belum

dapat dirawat di rumah karena masih memerlukan pengawasan tenaga

kesehatan.

d. Rumah pasien : Untuk pasien yang tidak memerlukan pengawasan ketat,

tindakan khusus atau peralatan khusus atau ketrampilan perawatan yang
tidak mungkin dilakukan oleh keluarga.
Organisasi perawatan paliatif, menurut tempat pelayanan/sarana

kesehatannya adalah :

a. Kelompok Perawatan Paliatif dibentuk di tingkat puskesmas.

b. Unit Perawatan Paliatif dibentuk di rumah sakit kelas D, kelas C dan kelas

B non pendidikan.

c. Instalasi Perawatan Paliatif dibentuk di Rumah sakit kelas B Pendidikan

dan kelas A.

d. Tata kerja organisasi perawatan paliatif bersifat koordinatif dan

melibatkan semua unsur terkait (KEMENKES, 2007)

6. Pembinaan Dan Pengawasan

Pembinaan dan pengawasan dilakukan melalui sistem berjenjang dengan

melibatkan perhimpunan profesi/keseminatan terkait. Pembinaan dan

pengawasan tertinggi dilakukan oleh Departemen Kesehatan. (KEMENKES,

2007)

7. Pengembangan Dan Peningkatan Mutu Perawatan Paliatif

Untuk pengembangan dan peningkatan mutu perawatan paliatif

diperlukan:

a. Pemenuhan sarana, prasarana dan peralatan kesehatan dan non kesehatan.

b. Pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan/Continuing Professional

Development untuk perawatan paliatif (SDM) untuk jumlah, jenis dan

kualitas pelayanan.

c. Menjalankan program keselamatan pasien/patient safety. (KEMENKES,

2007)
8. Pendanaan

Pendanaan yang diperlukan untuk:

a. pengembangan sarana dan prasarana

b. peningkatan kualitas SDM/pelatihan

c. pembinaan dan pengawasan

d. peningkatan mutu pelayanan.

Sumber pendanaan dapat dibebankan pada APBN/APBD dan sumber-

sumber lain yang tidak mengikat. Untuk perawatan pasien miskin dan PNS

dapat dimasukan dalam skema Askeskin dan Askes. (KEMENKES, 2007)

B. Kebijakan paliative care yang sudah terlaksana dan yang belum

terlaksana

Perkembangan paliative care di indonesia belum terlaksana secara

optimal. Perawatan paliatif di Indonesia dimulai sejak dibukanya poliklinik

Perawatan Paliatif & Bebas Nyeri RSUD Dr. Soetomo pada 19 Februari

1992. Akan tetapi sampai saat ini baru lima rumah sakit yang dinilai mampu

memberikan perawatan paliatif di Indonesia tetapi belum optimal. Kelima

rumah sakit ini berada di Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Denpasar, dan

Makassar. (Najmah,Dkk. 2014)

Pada saat ini penerapan konsep paliative care (Perawatan Paliatif) belum

bnyak di Indonesia karena salah satu tantangannya adalah terkait

bagaimana para tenaga kesehatan memandang persoalan kematian pasien.

Masih banyak runah sakit dan instansi kesehatan seperti Puskesmas yang

belum memahami bahwa seharusnya pasieen diberikan perawatan paliatif,

terutama untuk pasien dengan stadium lanjut. Perawaran paliatif tehadap

pasien yang berada padaa stadium lanjut atau biasa disebut kondisi
“terminal” seperti kanker, HIV/AIDS, dan Stroke di Indonesia belum

optimal. Perawat yang memerankan posisinenting dalam perawatan paliatif

masih terkendala baik dari segi pengetahuan maupun kebijakan. Akibatnya,

perawatan paliatif yang sebenarnya melibatkan peran keluarga yang cukup

besar belum bisa berjalan dengan baik. (Najmah,Dkk. 2014)

Perawatan paliatif sebenarnya telah diatur dalam keputusan menteri

kesehatan tahu 2007. Namun pada praktik di lapangan perawatan paliatif

tersebut belum menyentuh kebutuhan pasien dengan penyakit yang sulit

disembuhkan, terutama pada stadium laanjut. Pada pasien-pasien dengan

stadim lanjut yang dibutuhkan bukan hanya penyembuhan tetapi peraatan

yang optimal dan akhirnya jika pasien meninggal pada kondisi dignity atau

bermartabat. (Najmah,Dkk. 2014)

C. Rekomendasi yang dapat meningkatkan paliative care di Indonesia

menjadi lebih maksimal

1. Kementrian kesehatan seharusnya menerapkan sistem monitoring dan

evaluasi. Dimana memonitoring yang dimaksud adalah memonitor

pelayanan perawatan paliatif secara berkala dan mewajibkan setiap

instansi kesehatan membuka ruangan khusus perawatan paliatif. Dan

setelah dilakukan monitoring maka dilakukan evaluasi agar semua

kekurangan dari sistem yang diterapkan bisa di maksimalkan secara

efektif. Namun semua ini membutuhkan dukungan dan kerjasama.

2. Instansi kesehatan ( Puskesmas, Rumah sakit, Hospis, dll) harus segera

menetapkan perawatan paliatif secara maksimal. Instansi kesehatan

seharusnyamampu menjalankan regulasi yang telah ditetapkan oleh

kemenkes, karena Instansi kesehatan merupakan wadah yang menaungi

perawatan paliatif.
3. Partisipasi aktif dari tenaga kerja kesehatan/ medis karena dialah yang

melakukan pengobatan dan perawatan khususnya dalam perawatan

paliatif. Semakin banayak yang sadar akan pentingnya perawatan

paliatif pada pasien stadium lanjut, maka paliatif care akan terlaksana
secara maksimal.

Mengacu kepada konsep perawatan paliatif dengan terapi suportif,

dimana terapi tersebut memberi kepada pasien yaitu pasien dapat menerima

keadaanya saat ini dan lebih percaya diri menjalankan hidup. Terapi suportif

tersebut berisi dukungan, perawatan, maupun berbagi cerita antar petugas

perawatan paliatif dengan pasien, sehinggga pasien akanmeras memilki

perhatian lebih dari orang-orang disekelilingnya. Jika pasien sedang dalam
keadaan nyeri hebat, baru diberikan terapi famakologi.

Dengan adanaya penerapan pelatihan maupun perawatan paliatif pada

setiap instansi pelayanan kesehatan di Indonesia akan membuat kualitas

hidup pasien dengan penyakit terminal lebih memiliki perawatan khusus

yang sesuai dengan kebutuha perawatan paliatif. Melalui penerapan

perawatan paliatif, secara tidak langsung manfaatnya juga dirasakan oleh

instansi pelayan kesehatan lainnya seperti rumah sakit dan puskesmas,

karena dengan adanya perawatan paliatif akan menjadikan pelayanan

kesehatan tersebut berfungsi secara efektif dalam segi aspek secara

menyeluruh. Dan juga, manfaat lain yaitu akan membantu pasien maupun
keluarga dalam segi psikologis.
DAFTAR PUSTAKA

Buckley, J. J. (2008). Palliative care : An Interated Approach. Chichester.

KEMENKES. (2007). Kebijakan Perawatan Paliatif.

Najmah, dkk. (2014). Penerapan Konsep Duratif (Peduli Perawatan Paliatif)

Dengan Konsep Promotif, Kuratif, Preventif Da Rehabilitatif Sebagai Perwujudan

Indonesi Bebas Nyeri Pada Pasien Stadium Lanjut. Universitas Esa Unggul Jakarta.