You are on page 1of 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Teori medan kristal adalah model yang hampir secara menyeluruh

menggantikan teori ikatan valensi, pertama kali dimunculkan oleh Hans Bethe pada

1929. Pada mulanya merupakan model yang hanya didasari oleh interaksi

elektrostatik antara atom pusat dengan ligan. Pada 1935 J. H. Van Vleck

memasukkan ide tentang kovalensi pada interaksi dan menghasilkan teori medan

ligan. Diaplikasikan untuk senyawaan kompleks logam transisi pada 1950an. Teori

ini yang murni menyatakan bahwa satu-satunya interaksi antara atom pusat dengan

ligan adalah elektrostatik. Walaupun tidak realistis teori ini merupakan awal yang

baik bagi perkembangan teori kimia koordinasi. Secara teoritis hanya ada 5 orbital

d, tetapi ada 6 cara untuk menggambarkannya. dz2 merupakan kombinasi linear

dari dua cara yaitu dz2-x2 dan dz2-y2. Kelima orbital d pada atom ion dalam bentuk

gas adalah degenerate (setara). Bila pengaruh luar datang secara merata energinya

berubah tetapi tetap degenerate. Bila pengaruh datang dari ligan (mis. NH3, tidak

merata) maka akan terjadi pemisahan tingkat energi (Saito, 2004).

Teori medan Kristal (Crystal Field Theory) menyediakan beberapa pengetahuan

tentang ikatan logam ligan serta menjelaskan tentang pewarnaan dan sifat magnetik

secara jelas. Secara umum efek dari energy orbital d pada ion logam mendekati

ligan. Akibat dari orbital d diurai oleh medan ligan, peristiwa ini disebut uraian

medan ligan. Berhubungan dengan ini ligan dapat disusun dalam suatu

spectrochemical sesuai dengan kekuatan medannya.


BAB II

PEMBAHASAN

Teori medan kristal pertama kali dikembangkan oleh J.Bethe dan Vleek

pada tahun 1932. Teori ini mengasumsikan bahwa dalam senyawa kompleks, atom

pusat dan ligan-ligan dipandang sebagai titik-titik yang bermuatan listrik. Dengan

demikian prinsip interaksi elektrostatik, yaitu tolak menolak antara elektron-

elektron orbital d atom pusat dengan elektron-elektron atom donor dalam ligan

mengambil peran utama (Sugiyarto, 2012).

Teori medan kristal yang dikemukakan oleh Bethe dilandasi oleh 3 asumsi, yaitu

(Efendy,2007):

a. Ligan-ligan diperlakukan sebagai titik-titik bermuatan.

b. Interaksi antara ion logam dengan ligan-ligan dianggap sepenuhnya sebagai

interaksi elektrostatik (ionik).

c. Tidak terjadi interaksi antara orbital-orbital dari ion logam dengan orbital-

orbital dari ligan.

Pemisahan energi level berdampak pada sifat magnetic yang dipengaruhi

elektron yang tidak berpasangan pada orbital d. berdasarkan aturan Hund, elektron

harus diisi setengah penuh terlebih dahulu, kemudian bisa diisi kembali

setengahnya dan menghasilkan energy pasangan atau masukkan electron pada

orbital yang lebih tinggi menjadi medan Kristal pemisahan energy (crystal field

splitting energy) (Saito, 2004).


Crystal field splitting pada tetrahedral dan persegi planar. Orbital d dikelilingi

empat ligan, ukuran dan pola dari splitting ini bergantung pada ligannya pada

tetrahedral dan persegi planar (Saito, 2004):

 Tetrahedral, gaya tolak menolak pada akan mengecil saat antar ligan saling

mendekat.

 Persegi planar, persegi planar mempunyai energy yang sangat besar terhadap

ligan lainnya karena semua interaksi pada orbital d yang berhubungan dengan

sumbu z berkurang. Hasilnya persegi planar mempunyai pola diamagnetic,

dengan empat electron yang tidak saling berpasangan membentuk low-spin.


Aplikasi Crystal Field Theory

Crystal-field theory and its application on the example of rare-earth borates

and intermetallics (Kostyuchenko, 2017).

Dalam penelitian ini, teori medan kristal diterapkan untuk berbagai senyawa tanah

jarang, termasuk multiferroics dan magnetoelectrics. Analisis numerik tentang perilaku

listrik magnetik dan magneto pada borat besi langka, boray aluminium dan intermetalik

dalam berbagai medan magnet eksternal dan suhu dilakukan. Kumpulan baru dari medan

kristal dan parameter pertukaran diperoleh. Perilaku magnetisasi pada medan magnet tinggi

dijelaskan.

Gambar 1: (a) Ketergantungan magnetisasi pada PrFe3 (BO3) 4 pada medan magnet

eksternal yang diarahkan sepanjang sumbu c pada suhu yang berbeda (T = 4.2; 15; 25; 30

K). Kurva padat adalah hasil teoritis, dan kurva putus-putus adalah data eksperimen [1].

Hal ini menunjukkan bahwa transisi dari fase antiferomagnetik ke dalam sudut adalah

transisi spin-fl op (orde kedua). (b) Kurva magnetisasi teoritis linier yang diplot dengan

menggunakan parameter medan kristal terapung untuk (Nd0.5Ho0.5) 2Fe14B. Kurva padat

adalah hasil teoritis, dan titik adalah data eksperimen.

Study of Co2+ in Different Crystal Field Environments


(Barberis dan Foglio, 2005)

Co2+ dalam simetri oktahedral diharapkan mengalami deformasi Jahn-Teller yang

statis, karena istilah dasar 4F memiliki degenerasi orbital yang agak besar, namun ia

mempertahankan simetri kubiknya. Disini akan membahas asal usul efek ini, dan tunjukkan

bagaimana bidang kristal Jahn-Teller mempengaruhi sifat-sifat sistem. Dalam simetri yang

berbeda, maka akan menggunakan mode normal oktahedron yang dibentuk oleh tetangga

terdekat Co2+ di NH4NiPO4.6H2O untuk mempelajari bagaimana medan kristal

mempengaruhi ESR kristal tunggal senyawa ini. Co2+ di lingkungan bipiramid trigonal

muncul di Co2 (OH) PO4 dan Co2 (OH) AsO4, dan telah dikembangkan sebuah studi tentang

pengaruh medan kristal pada ESR-nya yang serupa dengan yang digunakan untuk

deformasi oktahedron di NH4NiPO4.6H2O.

Conclusion:

Bahasan ESR ion Co2+ dalam sistem yang berbeda: Co2+ dalam kristal MgO, Co2+

dalam sampel kristal dan bubuk tunggal NH4NiPO4.6H2O dan Co2+ dalam serbuk Co2(OH)

PO4 dan Co2(OH ) AsO4. Co2+ dalam kristal MgO berada dalam simetri oktahedral

diharapkan mengalami deformasi Jahn-Teller yang statis, karena istilah dasar 4F memiliki

degenerasi orbital yang agak besar. Bila Co2+ menggantikan Ni2+ dalam kristal tunggal

NH4NiPO4.6H2O maka O yang terdekat membentuk oktahedron yang cacat. Ada dua jenis

situs Co2+ pada senyawa Co2(OH) PO4 dan Co2(OH) AsO4 dari tipe adamite: oktahedron

cacat dan bipyramid trigonal yang cacat, dan telah menganalisis ESR pengotor Co2+ pada

kristal sintetis dari Zn2(OH) PO4, Mg2(OH) AsO4 dalam bentuk bubuk. Teori medan kristal

telah digunakan untuk mencoba dan memahami hasil ESR eksperimental untuk dua

kompleks Co2+ dengan koordinasi lima dan enam yang ada dalam struktur.

Analysis of the off-center effect of Cu+ in alkali halides using crystal-field

theory (Payne, 1987).


Telah ditemukan bahwa intensitas relatif dari komponen medan kristal 'A & g ~

Eg dan A] g ~ T2g dari transisi 3d' ~ 3d 4s Cu+ pada logam alkali halida memberikan

ukuran keadaan ground-state Cu+ mengalami perpindahan sepanjang sumbu. Hal ini

ditunjukkan dengan menurunkan potensi medan kristal yang menggambarkan indeks Cu+

di luar pusat, dan kemudian menghitung momen transisi ke keadaan akhir 'Eg dan' Tzg.

Dengan menganalisis spektrum Cu+ di banyak halida alkali, ditemukan bahwa tingkat

perpindahan off-center meningkat dengan konstanta kisi dari alkali halida.

Conclusion:

Ion Cu+ dalam kristal alkali halida menyajikan kesempatan unik untuk

penyelidikan efek off-center ground-state dari sistem inang pengotor. Kesederhanaan

pemahaman fisik yang dikembangkan ini didasarkan pada karakter arus d - + s, atau I = 2

~ 1 = 0, karena, sebagai hasilnya, hanya operator dengan peringkat L = 2 yang dapat

menginduksi osilator. Selain itu, karena operator foton berubah sebagai Y & o, maka hanya

perlu mempertimbangkan perturbasi medan kristal dengan peringkat L =1 dan L = 3.