You are on page 1of 5

1.

Patofisiologi

Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang belum

cukup bulan atau prematur, disamping itu juga disebabkan dismaturitas. Artinya, bayi

lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi BB lahirnya lebih kecil ketimbang

kehamilannya, yaitu tidak mencapai 2500 gram. Biasanya hal ini terjadi karena adanya

gangguan pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit

ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi, dan keadaan-keadaan lain yang

menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi berkurang.Gizi yang baik diperlukan

seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin tidak mengalami hambatan dan selanjutnya

akan melahirkan bayi dengan berat normal. Dengan kondisi kesehatan yang baik,

sistem reproduksi normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa

prahamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar daripada ibu dengan

kondisi kehamilan yang sebailknya, ibu dengan kondisi kurang gizi kronis pada masa

hamil sering melahirkan bayi BBLR, vitalitas yang rendah dan kematian yang tinggi,

terlebih lagi bila ibu menderita anemia. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan

gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak.

Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin di dalam kandungan, abortus, cacat

bawaan, BBLR, anemia pada bayi yang dilahirkan, hal ini dapat mengakibatkan

morbiditas dan mortilitas ibu dan kematian perinatal secara bermakna lebih tinggi.

Pada ibu hamil yang menderita anemia berat dapat meningkatkan resiko morbiditas

ibu dan bayi, kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan prematur juga lebih besar

2. Pathways

Faktor ibu:

Gizi, usia, penyakit,


Faktor janin: Faktor lingkungan:

Hidramnion Tempat tinggal di


daratan tinggi,
Kehamilan ganda radiasi, zat-zat racun

Kelainan kromosom

BBLR

Sindrom aspirasi Imaturitas hepar Bayi tampak kurus

Asfiksia intra uterin Relatif lebih panjang


janin
Kulit longgar,
Cairan amnion Ganguan koagulasi Deficit jaringan lemak
bercampur dg hepar albumin sedikit
mekonium dan Resiko perubahan
lengket diparu janin suhu.

Hiperbilirubinemia Resiko kerusakan


integritas kulit.

Masalah kolaborasi
hipoglikemia:
Bilirubin indirek > 20
mg/dl Prematur KDG <
20 mg/dl.

Matur KGD < 30


mg/dl.
Tanda:
Kern ikterus:
Pucat, tdk mau
Letargi, kejang, minum, lemah,
tonus otot apatis, kejang.
meningkat, leher
kaku, kemampuan
hisap menurun.
3. Penatalaksanaan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah)

a. Penanganan bayi

Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi, maka semakin besar perawatan yang

diperlukan, karena kemungkinan terjadi serangan sianosis lebih besar. Semua

perawatan bayi harus dilakukan didalam incubator

b. Pelestarian suhu tubuh

Bayi dengan berat lahir rendah, mempunyai kesulitan dalam mempertahankan suhu

tubuh. Bayi akan berkembang secara memuaskan, asal suhu rectal dipertahankan

antara 35,50 C s/d 37,0 C. Bayi berat rendah harus diasuh dalam suatu suhu

lingkungan dimana suhu normal tubuhnya dipertahankan dengan usaha metabolic

yang minimal.Bayi berat rendah yang dirawat dalam suatu tempat tidur terbuka, juga

memerlukan pengendalian lingkungan secara seksama. Suhu perawatan harus diatas

25 0 C, bagi bayi yang berat sekitar 2000 gram, dan sampai 300 C untuk bayi dengan

berat kurang dari 2000 gram

c. Inkubator

Bayi dengan berat badan lahir rendah, dirawat didalam incubator. Prosedur perawatan

dapat dilakukan melalui “jendela“ atau “lengan baju“. Sebelum memasukkan bayi
kedalam incubator, incubator terlebih dahulu dihangatkan, sampai sekitar 29,4 0 C,

untuk bayi dengan berat 1,7 kg dan 32,20C untuk bayi yang lebih kecil. Bayi dirawat

dalam keadaan telanjang, hal ini memungkinkan pernafasan yang adekuat, bayi dapat

bergerak tanpa dibatasi pakaian, observasi terhadap pernafasan lebih mudah.

d. Pemberian oksigen

Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi preterm BBLR, akibat

tidak adanya alveoli dan surfaktan. Konsentrasi O2 yang diberikan sekitar 30- 35 %

dengan menggunakan head box, konsentrasi O2 yang tinggi dalam masa yang panjang

akan menyebabkan kerusakan pada jaringan retina bayi yang dapat menimbulkan

kebutaan

e. Pencegahan infeksi

Bayi preterm dengan berat rendah, mempunyai system imunologi yang kurang

berkembang, ia mempunyai sedikit atau tidak memiliki ketahanan terhadap infeksi.

Untuk mencegah infeksi, perawat harus menggunakan gaun khusus, cuci tangan

sebelum dan sesudah merawat bayi, memakai masker, gunakan gaun/jas, lepaskan

semua asessoris dan tidak boleh masuk kekamar bayi dalam keadaan infeksi dan sakit

kulit.

f. Pemberian makanan

Pemberian makanan secara dini dianjurkan untuk membantu mencegah terjadinya

hipoglikemia dan hiperbillirubin. ASI merupakan pilihan pertama, dapat diberikan

melalui kateter ( sonde ), terutama pada bayi yang reflek hisap dan menelannya lemah.
Bayi berat lahir rendah secara relative memerlukan lebih banyak kalori, dibandingkan

dengan bayi preterm.

g. Memulangkan Bayi

Sebelum pulang bayi sudah harus mampu minum sendiri, baik dengan botol maupum

putting susu ibu. Selain itu kenaikan berat badan berkisar antara 10 – 30 gram / hari

dan suhu tubuh tetap normal diruang biasa. Biasanya bayi dipulangkan dengan berat

badan lebih dari 2000 gram dan semua masalah berat sudah teratasi.