You are on page 1of 28

TUGAS MAKALAH

PENGENDALIAN KUALITAS AIR TAMBAK

REKAYASA TAMBAK – KELAS A

DISUSUN OLEH :

HARPIAN SURYA – 1507117600

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS RIAU

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka kami
dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Permasalahan Erosi di Sungai ”.
Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan
tugas mata kuliah Rekaya Sungai.

Dalam penulisan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak
terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Kami juga
merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi,
mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak
sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Akhirnya kami berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada
mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai
ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.

Jatinangor, September 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i

DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1

1.1 LATAR BELAKANG ..................................................................................................... 1

1.2 TUJUAN .......................................................................................................................... 2

1.3 MANFAAT ...................................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................... 3

2.1 KONDISI FISIK AIR TAMBAK .................................................................................... 3

2.2 PARAMETER KUALITAS AIR .................................................................................... 4

2.1.1 PARAMETER FISIK ............................................................................................... 5

2.1.2 PARAMETER KIMIA ............................................................................................. 7

2.1.3 PARAMETER BIOLOGI ....................................................................................... 12

2.3 FAKTOR PENYEBAB KUALITAS AIR TAMBAK .................................................. 13

2.4 METODE PENGELOLAAN KUALITAS AIR TAMBAK ......................................... 16

2.4.1 SIRKULASI AIR TAMBAK ................................................................................. 17

2.4.2 PEMUPUKAN AIR TAMBAK ............................................................................. 18

2.4.3 INOKULASI AIR TAMBAK................................................................................. 19

2.4.4 PENGGUNAAN BAHAN KIMIA......................................................................... 21

BAB III PENUTUP ................................................................................................................. 23

3.1 KESIMPULAN .............................................................................................................. 23

3.2 SARAN .......................................................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan
suatu kegiatan atau keperluan tertentu Dengan demikian, kualitas air akan berbeda dari suatu
kegiatan ke kegiatan lain, sebagai contoh: kualitas air untuk keperluan irigasi berbeda dengan
kualitas air untuk keperluan air minum. Ikan hidup dalam lingkungan air dan melakukan
interaksi aktif antara keduanya. Ikan-air boleh dikatakan sebagai suatu sistem terbuka dimana
terjadi pertukaran materi (dan energi), seperti oksigen (O2), karbon dioksida (CO2), garam-
garaman, dan bahan buangan. Pertukaran materi ini terjadi pada antarmuka (Interface) ikan-air
pada bahan berupa membran semipermeabel yang terdapat pada ikan. Kehadiran bahan-bahan
tertentu dalam jumlah tertentu akan mengganggu mekanisme kerja dari membran tersebut,
sehingga ikan pada akhirnya akan terganggu dan bisa tewas.

Kualitas Air adalah istilah yang menggambarkan kesesuaian atau kecocokan air untuk
penggunaan tertentu, misalnya: air minum, perikanan, pengairan/irigasi, industri, rekreasi dan
sebagainya. Peduli kualitas air adalah mengetahui kondisi air untuk menjamin keamanan dan
kelestarian dalam penggunaannya. Kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian
tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang biasa dilakukan adalah uji kimia, fisik, biologi,
atau uji kenampakan (bau dan warna).

Pembenihan ikan adalah kegiatan pemeliharaan yang bertujuan untuk menghasilkan
benih dan selanjutnya benih yang dihasilkan menjadi komponen inputbagi kegiatan
pembesaran. Pembesaran ikan adalah kegiatan pemeliharaan yang bertujuan untuk
menghasilkan ikan ukuran konsumsi. pendederan adalah kegiatan pemeliharaan ikan untuk
menghasilkan benih yang siap ditebarkan di unit produksi pembesaran atau benih yang siap
dijual. Hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan diatas berkaitan erat dengan studi
penelitian yang dilaksanakan oleh mahasiswa yaitu penelitian terhadap pengukuran parameter
perairan. Mulai dari parameter fisik perairan, parameter kimia perairan, dan parameter biologis
perikanan.

1
1.2 TUJUAN
 Memahami dan mengetahui cara pengukuran parameter lingkungan perairan ,
parameter fisik, kimia dan biologi
 Mengetahui cara penggunaan alat-alat pengukuran parameter lingkungan perairan ,
parameter fisik, kimia dan biologi

1.3 MANFAAT
 Dapat melakukan pengukuran kualitas air di lingkungan perairan , yaitu parameter
fisik , kimia dan biologi
 Dapat mengetahui cara menggunakan alat-alat yang digunakan pada pengukuran
parameter lingkungan perairan , parameter fisik kimia dan biologi

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 KONDISI FISIK AIR TAMBAK
Secara garis besar kondisi fisik air tambak merupakan keadaan air tambak ditinjau dari
keberadaan dan penampakan partikel-partikel fisik yang dijumpai di dalam perairan tersebut.
Partikel-partikel tersebut muncul sebagai akibat proses yang terjadi di dalam ekosistem
perairan maupun karena faktor teknis budidaya sehingga secara tidak langsung ikut
mempengaruhi kehidupan organisme yang berada di dalamnya.
Kondisi fisik air tambak juga dapat dijadikan sebagai salah satu tolok ukur kualitas
perairan dengan dasar pemikiran sebagai berikut ini:
1. Pemunculan partikel tersebut dapat dijadikan isyarat bahwa telah terjadi proses
(biologi, kimia, fisika) di dalam perairan yang tidak sebagaimana mestinya.
2. Dalam jumlah yang besar dan jangka waktu lama dapat menyebabkan terganggunya
fungsi fisiologis udang dan organisme lainnya.
Ukuran partikel-partikel tersebut ada yang berukuran kecil dan ada yang relatif besar
karena proses akumulasi yang terjadi. Pemunculan partikel tersebut bisa berada di lapisan air
maupun muncul dipermukaan air tambak. Melalui pengamatan yang cermat maka
penampakannya akan dapat terlihat bahkan terdeteksi semenjak dini penyebab
permasalahannya. Beberap kondisi fisik perairan tambak yang biasa dijumpai antara lain:
1. Air tambak “berdebu”, kondisi ini untuk menggambarkan bahwa di dalam air tambak
muncul partikel-partikel sangat halus dan melayang-layang karena tidak terlarut atau
mengendap di dalam perairan tambak. Kondisi seperti ini dapat mengakibatkan gangguan pada
insang udang dan pada jangka waktu tertentu dapat mengakibatkan penyakit insang merah.
Alternatif perlakuan yang bisa diterapkan untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan
melakukan peningkatan sirkulasi air baik dari segi frekuensi maupun volumenya secara
kontinyu. Penggunaan saponin pada dosis tertentu diharapkan dapat mengikat partikel yang
ada di perairan tambak.
2. Air tambak ”berbusa/berbuih”, pada kondisi ini air dipermukaan tambak tampak
berbusa/berbuih dan akan lebih jelas kelihatan pada saat kincir air dioperasikan. Hal ini
menandakan bahwa di perairan tersebut telah terjadi mortalitas plankton secara massal yang
dapat menimbulkan keseimbangan ekosistem perairan colaps, kecerahan air tambak cenderung
tidak stabil, dasar tambak kotor karena endapan bangkai plankton. Perlakuan teknis yang dapat
digunakan untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan melakukan sirkulasi air secara kontinyu

3
dan pada kondisi tertentu dapat dilakukan inokulasi bibit plankton secara kontinyu dari petakan
tambak lainnya disertai dengan peningkatan dosis penggunaan pupuk atau pemakaian bahan
organik.
3. Pemunculan klekap di permukaan air tambak. Klekap pada dasarnya merupakan
campuran antara kotoran dasar tambak dengan bangkai plankton yang terangkat ke permukaan
air karena adanya proses oksidasi dengan bantuan sinar matahari. Kondisi ini terjadi karena
dasar tambak yang kotor dan kecerahan air tambak yang relatif tinggi. Klekap bila telah
mengendap kembali di dasar tambak akan terjadi pembusukan dan dapat menyebabkan
peningkatan kandungan H2S, NH3 di dalam tambak yang berbahaya bagi udang. Pemunculan
klekap di permukaan tambak dapat diatasi dengan pengangkatan klekap dari permukaan
tambak dan pembersihan dasar tambak yang diimbangi dengan sirkulasi secara kontinyu dan
pembentukan kembali kualitas air tambak melalui regenerasi plankton yang telah mati dengan
cara inokulasi bibit plankton dan pemumpukan dengan dosis yang sesuai dengan kebutuhan.
4. Tumbuhnya lumut di dalam tambak. Kondisi ini terjadi karena kecerahan air tambak
yang relatif tinggi dan berlangsung dalam kondisi lama dan disertai dengan proses pemupukan
yang kontinyu. Lumut yang tumbuh di dalam tambak akan menghambat aktifitas dan gerak
udang serta proses penumbuhan plankton relatif lebih susah. Lumut akan hilang jika penetrasi
sinar matahari yang membantu pertumbuhan lumut terhalang oleh plankton pada kecerahan air
tertentu.
Ke empat kondisi tersebut di atas merupakan hal yang sering dijumpai pada petakan-
petakan tambak yang dalam pengamatan kualitas perairan kurang cermat ataupun pemberian
perlakuan teknis yang kurang tepat pada sasarannya. Perairan tambak dengan kualitas perairan
dan kondisi udang yang sesuai dengan keseimbangan ekosistem akan mempengaruhi rona dan
kualitas kondisi fisik perairan akan terjaga dengan sendirinya serta sangat tergantung pada
upaya untuk mempertahankan kondisi tersebut.

2.2 PARAMETER KUALITAS AIR
Kualitas air yaitu sifat air dan kandungan makhluk hidup, zat energi atau komponen
lain di dalam air. Dalam pengukuran kualitas air ada beberapa hal yang harus
diperhatikan diantaranya adalah Parameter Fisik, parameter kimia, dan parameter biologis.
a. Parameter fisik air terbagi atas beberapa bagian yaitu Suhu, Kecerahan, bau, dan Warna.
b. Parameter kimia air yaitu Oksigen Terlarut, pH, dan Salinitas.
c. Parameter biologs air yaitu Plankton.

4
2.1.1 PARAMETER FISIK
A. Suhu
Suhu udara adalah derajat panas dan dingin udara di atmofer. Berdasarkan penyebarannya
di muka bumi suhu udara dapat dibedakan menjadi dua, yakni sebaran secara horisontal dan
vertikal.air sebagai lingkungan hidup organisme air relatif tidak begitu banyak mengalami
fluktuasi suhu dibandingkan dengan udara, hal ini disebabkan panas jenis air lebih tinggi
daripada udara. Artinya untuk naik 1oC, setiap satuan Volume air memerlukan sejumlah panas
yang lebih banyak daripada udara. Pada perairan dangkal akan menunjukan fluktuasi suhu air
yang lebih besar daripada perairan yang dalam. Sedangkan organisme memerlukan suhu yang
stabil atau fluktuasi sushu yang rendah. Agar suhu air suatu perairan berfluktuasi rendah maka
perlu adanya penyebaran suhu. Hal tersebut tercapai secara sifat alam antara lain :
1. Penyerapan (Absorpsi) panas matahari pada bagian permukaan air.
2. Angin, sebagai penggerak pemindahan massa air.
3. Aliran vertikal dari air itu sendiri, terjadi bila disuatu perairan terdapat lapisan air yang
bersuhu rendah akan turun mendesak lapisan air yang bersuhu tinggi naik ke permukaan
perairan.
Suhu air yang ideal bagii organisme air yang dibudidayakan sebaiknya adalah tidak
terjadi perbedaan suhu yang tidak mencolok antara siang dan malam (tidak lebih dari 5 oC).
Pada perairan yang tergenang yag mempunyai kedalaman minimal 1,5 meter biasanya akan
terjadi pelapisan (strasifikasi) suhu. Pelapisan ini terjadi karena suhu permukaan air lebih tinggi
dibanding dengan suhu air dibagian bawahnya. Strasifikasi suhu terjadi karena masuknya panas
dari cahaya matahari kedalam kolam air yang mengakibatkan terjadinya gradien suhu yang
vertikal. Pada kolam yang kedalaman airnya kurang dari dua meter biasanya terjadi strasifikasi
suhu yang tidak stabil. Oleh karena itu bagi para pembudidaya ikan yang melakukan kegiatan
budidaya ikan kedalaman air tidak boleh lebiih dari 2 meter. Selain itu untuk memecah
strasifikasi suhu pada wadah budidaya ikan perlu iperhatikan dan harus menggunakan
alat bantu untuk pengukurannya.
B. Kecerahan
Gusriana, 2012, Sentra Edukasi, Budidaya Ikan (Jilid 1) Kecerahan air merupakan
ukuran transparansi perairan dan pengukuran cahaya sinar matahari didalam air dapat
dilakukan dengan menggunakan lempengan/kepingan Secchi disk. Satuan untuk nilai
kecerahan dari suatu perairan dengan alat tersebut adalah satuan meter. Jumlah cahaya yang
diterima oleh phytoplankton diperairan asli bergantung pada intensitas cahaya matahari yang
masuk kedalam permukaan air dan daya perambatan cahaya didalam air.
5
Masuknya cahaya matahari kedalam air dipengaruhi juga oleh kekeruhan air (turbidity).
Sedangkan kekeruhan air menggambarkan tentang sifat optik yang ditentukan berdasarkan
banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat didalam
perairan. Faktor-faktor kekeruhan air ditentukan oleh:
a. Benda-benda halus yang disuspensikan (seperti lumpur dsb)
b. Jasad-jasad renik yang merupakan plankton.
c. Warna air (yang antara lain ditimbulkan oleh zat-zat koloid berasal dari daun-daun tumbuhan
yang terektrak)
C. Bau
Pada kolam budidaya ikan, air pada kolam ikan harus selalu di buang atau diganti, agar
tidak akan menimbulkan bau yang menyengat pada air. Faktor yang menyebabkan air pada
kolam berbau tidak sedap yaitu diantaranya; Pakan ikan yang tidak sempat termakan oleh ikan,
menjadi racun bagi kolam dengan amoniak yang muncul, Feses dari kotoran ikan yang
dibudidayakan dan terjadi dekomposisi di air yang menghasilkan amoniak. Material dalam air
dapat berupa jumlah zat tersuspensi (TDS) (Pemuji dan Anthonius, 2010 dalam Suwondo,
2005).
D. Warna
Kriteria warna air tambak yang dapat dijadikan acuan standar dalam pengelolaan
kualitas air adalah seperti di bawah ini:
1. Warna air tambak hijau tua yang berarti menunjukkan adanya dominansi chlorophyceae
dengan sifat lebih stabil terhadap perubahan lingkungan dan cuaca karena mempunyai waktu
mortalitas yang relatif panjang. Tingkat pertumbuhan dan perkembangannya yang relatif cepat
sangat berpotensi terjadinya booming plankton di perairan tersebut.
2. Warna air tambak kecoklatan yang berarti menunjukkan adanya dominansi diatomae. Jenis
plankton ini merupakan salah satu penyuplai pakan alami bagi udang, sehingga tingkat
pertumbuhan dan perkembangan udang relatif lebih cepat. Tingkat kestabilan plankton ini
relatif kurang terutama pada kondisi musim dengan tingkat curah hujan yang tinggi, sehingga
berpotensi terjadinya plankton collaps dan jika pengelolaannya tidak cermat kestabilan kualitas
perairan akan bersifat fluktuatif dan akan mengganggu tingkat kenyamanan udang di dalam
tambak.
3. Warna air tambak hijau kecoklatan yang berarti menunjukkan dominansi yang terjadi
merupakan perpaduan antara chlorophyceae dan diatomae yang bersifat stabil yang didukung
dengan ketersediaan pakan alami bagi udang.

6
2.1.2 PARAMETER KIMIA
A. DO (Disolved Oxigent)
Semua makhluk hidup untuk hidup sangat membutuhkan oksigen sebagai faktor
penting bagi pernafasan. Ikan sebagai salah satu jenis organisme air juga membutuhkan
oksigen agar proses metabolisme dalam tubuhnya berlangsung. Oksigen yang dibutuhkan oleh
ikan disebut dengan oksigen terlarut. Oksigen terlarut adalah oksigen dalam bentuk terlarut
didalam air karena ikan tidak dapat mengambil oksigen dalam perairan dari difusi langsung
dengan udara. Satuan pengukuran oksigen terlarut adalah mg/l yang berarti jumlah mg/l gas
oksigen yang terlarut dalam air atau dalam satuan internasional dinyatakan ppm (part per
million). Air mengandung oksigen dalam jumlah yang tertentu, tergantung dari kondisi air itu
sendiri, beberapa proses yang menyebabkan masuknya oksigen ke dalam air yaitu:
1) Diffusi oksigen dari udara ke dalam air melalui permukannya, yang terjadi karena adanya
gerakan molekul-molekul udara yang tidak berurutan karena terjadi benturan dengan molekul
air sehingga O2 terikat didalam air.
2) Diperairan umum, pemasukan oksigen ke dalam air terjadi karena air yang masuk sudah
mengandung oksigen, kecuali itu dengan aliran air, mengakibatkan gerakan air yang mampu
mendorong terjadinya proses difusi oksigen dari udara ke dalam air.
3) Hujan yang jatuh,secara tidak langsung akan meningkatkan O2 di dalam air, pertama
suhu air akan turun, sehingga kemampuan air mengikat oksigen meningkat, selanjutnya bila
volume air bertambah dari gerakan air, akibat jatuhnya air hujan akan mampu meningkatkan
O2 di dalam air.
4) Proses Asimilasi tumbuhtumbuhan. Tanaman air yang seluruh batangnya ada didalam air
di waktu siang akan melakukan proses asimilasi, dan akan menambah O2 didalam
air. Sedangkan pada malam hari tanaman tersebut menggunakan O2 yang ada didalam air.

B. Ph
pH Air - pH (singkatan dari “ puisance negatif de H “ ), yaitu logaritma negatif dari
kepekatan ion-ion H yang terlepas dalam suatu perairan dan mempunyai pengaruh besar
terhadap kehidupan organisme perairan, sehingga pH perairan dipakai sebagai salah satu untuk
menyatakan baik buruknya sesuatu perairan. Pada perairan perkolaman pH air mempunyai arti
yang cukup penting untuk mendeteksi potensi produktifitas kolam. pH Air yang agak basa,
dapat mendorong proses pembongkaran bahan organik dalam air menjadi mineral-mineral
yang dapat diasimilasikan oleh tumbuh tumbuhan (garam amonia dan nitrat).

7
pH Air Pada perairan yang tidak mengandung bahan organik dengan cukup, maka
mineral dalam air tidak akan ditemukan. Andaikata kedalam kolam itu kemudian kita bubuhkan
bahan organik seperti pupuk kandang, pupuk hijau dsb dengan cukup, tetapi kurang
mengandung garam-garam bikarbonat yang dapat melepaskan kationnya, maka mineral-
mineral yang mungkin terlepas juga tidak akan lama berada didalam air itu. Untuk menciptakan
lingkungan air yang bagus, pH air itu sendiri harus mantap dulu (tidak banyak terjadi
pergoncangan pH air). Ikan rawa seperti sepat siam (Tricogaster pectoralis), sepat jawa
(Tricogaster tericopterus ) dan ikan gabus dapat hidup pada lingkungan pH air 4-9, untuk ikan
lunjar kesan pH 5-8 ,ikan karper (Cyprinus carpio) dan gurami, tidak dapat hidup pada pH 4-
6, tapi pH idealnya 7,2.
Derajat keasaman pH Air suatu kolam ikan sangat dipengaruhi oleh keadaan
tanahnya yang dapat menentukan kesuburan suatu perairan. Nilai pH air asam tidak baik untuk
budidaya ikan dimana produksi ikan dalam suatu perairan akan rendah. Pada pH air netral
sangat baik untuk kegiatan budidaya ikan, biasanya berkisar antara 7 – 8, sedangkan pada pH
air basa juga tidak baik untuk kegiatan budidaya. Pengaruh pH air pada perairan dapat berakibat
terhadap komunitas biologi perairan.
C. Salinitas
Salinitas dapat didefinisikan sebagai total konsentrasi ion-ion terlarut dalam air. Dalam
budidaya perairan, salinitas dinyatakan dalam permil (°/oo) atau ppt (part perthousand) atau
gram/liter. Tujuh ion utama yaitu : sodium, potasium, kalium, magnesium, klorida, sulfat dan
bikarbonat mempunyai kontribusi besar terhadap besarnya salinitas, sedangkan yang lain
dianggap kecil (Boyd, 1990). Sedangkan menurut Davis et al. (2004), ion calsium (Ca),
potasium (K), dan magnesium (Mg) merupakan ion yang paling penting dalam menopang
tingkat kelulushidupan udang. Salinitas suatu perairan dapat ditentukan dengan menghitung
jumlah kadar klor yang ada dalam suatu sampel (klorinitas). Sebagian besar petambak
membudidayakan udang dalam air payau (15-30 ppt). Meskipun demikian, udang laut mampu
hidup pada salinitas dibawah 2 ppt dan di atas 40 ppt.
D. Alkalinitas
Alkalinitas merupakan kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa
menurunkan pH larutan. Alkalinitas merupakan buffer terhadap pengaruh pengasaman. Dalam
budidaya perairan, alkalinitas dinyatakan dalam mg/l CaCO3. Penyusun utama alkalinitas
adalah anion bikarbonat (HC03 -), karbonat (CO3 2- ), hidroksida (OH-) dan juga ion-ion yang
jumlahnya kecil seperti borat (BO3 -), fosfat (P04 3-), silikat (SiO4 4-) dan sebagainya (boyd,
1990). Peranan penting alkalinitas dalam tambak udang antara lain menekan fluktuasi pH pagi
8
dan siang dan penentu kesuburan alami perairan. Tambak dengan alkalinitas tinggi akan
mengalami fluktuasi pH harian yang lebih rendah jika dibandingkan dengan tambak dengan
nilai alkalinitas rendah (Boyd, 2002). Menurut Davis et al. (2004), penambahan kapur dapat
meningkatkan nilai alkalinitas terutama tambak dengan nilai total alkalinitas dibawah 75 ppm.
E. Biological Oxygen Demand (BOD)
Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang
diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan organik pada kondisi aerobik.
Pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan organik ini digunakan oleh organisme
sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi (Pescod dalam Salmin,
2005). Waktu yang diperlukan untuk proses oksidasi bahan organik secara sempurna menjadi
CO2 dan H2O adalah tidak terbatas. Penghitungan nilai BOD biasanya dilakukan pada hari ke
5 karena pada saat itu persentase reaksi cukup besar, yaitu 70-80% dari nilai BOD total (Sawyer
dan MC Carty, 1978 dalam Salmin, 2005).
F. Produktivitas primer
Dalam kolam budidaya, tumbuhan air baik macrophyta maupun plankton merupakan
produsen primer sebagai sumber utama bahan organik. Melalui proses fotosintetis, tanaman
menggunakan karbon dioksida, air, cahaya matahari dan nutrien untuk menghasilkan bahan
organik dan oksigen seperti dalam reaksi :
6CO2 + 6H2O C6H12O6 + 6O2
Fotosintesis merupakan proses fundamental dalam kolam budidaya. Oksigen terlarut
yang diproduksi melalui fotosintesis merupakan sumber utama oksigen bagi semua organisme
dalam ekosistem kolam (Howerton, 2001). Glukosa atau bahan organik yang dihasilkan
merupakan penyusun utama material organik yang lebih besar dan kompleks. Hewan yang
lebih tinggi tingkatannya dalam rantai makanan menggunakan material organik ini baik secara
langsung dengan mengkonsumsi tanaman atau mengkonsumsi organisme yang memakan
tanaman tersebut (Ghosal et al. 2000).
Proses biologi lainnya yang sangat penting dalam budidaya perairan adalah respirasi,
dengan reaksi :
C6H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H2O
Dalam respirasi, bahan organik dioksidasi dengan menghasilkan air, karbon dioksida
dan energi. Pada waktu siang hari proses fotosintesis dan respirasi berjalan secara bersama-
sama. Pada malam hari hanya proses respirasi yang berlangsung, sehingga konsentrasi oksigen
terlarut dalam air turun sedangkan konsentrasi karbon dioksida naik. Kedua proses tersebut
mempunyai pengaruh langsung dalam budidaya perairan. Oksigen terlarut dibutuhkan
9
organisme untuk hidup sedangkan fitoplankton merupakan sumber utama oksigen terlarut
disamping sebagai penyusun utama rantai makanan dalam ekosistem kolam budidaya. Salah
satu cara untuk menentukan status suatu ekosistem pada sedimen adalah dengan menghitung
fotosintesis/respirasi rasio (P/R ratio). Jika P/R ratio lebih kecil dari satu (1) maka sedimen
tersebut termasuk heterotropik, dimana karbon lebih banyak digunakan untuk respirasi
dibandingkan yang dihasilkan dari fotosintesis. Sedangkan jika P/R ratio lebih besar dari satu
(1) menunjukkan sedimen tersebut termasuk autotofik, dimana karbon lebih banyak diproduksi
dari pada digunakan untuk respirasi (Eyre dan Ferguson, 2002).
G. Sedimen
Managemen dasar tambak atau sedimen masih kurang diperhatikan jika dibandingkan
dengan managemen kualitas air tambak budidaya. Banyak bukti yang mengindikasikan adanya
pengaruh yang kuat pertukaran nutrien antara sedimen dengan air terhadap kualitas air (Boyd,
2002).
H. Oxidized Layer
Oxidized layer merupakan lapisan sedimen yang berada paling atas yang mengandung
oksigen. Lapisan ini sangat bermanfaat dan harus dipelihara keberadaannya selama siklus
budidaya (Boyd, 2002). Pada lapisan tersebut terjadi dekomposisi aerobik yang menghasilkan
antara lain : CO2, air, amonia, dan nutrien yang lainnya. Pada sedimen anaerobik, beberapa
mikroorganisme menguraikan material organik dengan reaksi fermentasi yang menghasilkan
alkohol, keton, aldehida, dan senyawa organik lainnya sebagai hasil metabolisme. Menurut
Blackburn (1987) dalam Boyd (2002), beberapa mikroorganisme anaerobik dapat
memanfaatkan O2 dari nitrat, nitrit,ferro, sulfat, dan karbon dioksida untuk menguraikan bahan
organik dengan mengeluarkan gas nitrogen, amonia, H2S, dan metan sebagai hasil
metabolisme.
Beberapa produk metabolisme, khususnya H2S, nitrit, dan amonia berpotensi toksik
terhadap ikan atau udang. Lapisan oksigen yang ada pada permukaan sedimen dapat mencegah
difusi sebagian besar senyawa beracun menjadi bentuk yang tidak beracun melalui proses
kimiawi dan biologi ketika melalui permukaan yang beroksigen. Nitrit diokdidasi menjadi
nitrat, ferro dioksidasi menjadi ferri, dan H2S menjadi sulfat (Boyd, 2004c). Selanjutnya
dikatakan bahwa kehilangan oksigen pada sedimen dapat disebabkan oleh akumulasi bahan
organik yang tinggi sehingga oksigen terlarut terpakai sebelum mencapai permukaan tanah.
Tingkat pemberian pakan yang tinggi dan blooming plankton dapat menyebabkan penurunan
oksigen terlarut.
I. Bahan organik
10
Tanah dasar tambak yang mengandung karbon organik 15-20% atau 30- 40% bahan
organik tidak baik untuk budidaya perairan. Kandungan bahan organik yang baik untuk
budidaya udang sekitar 10% atau 20% kandungan karbon organik (Boyd, 2002). Kandungan
bahan organik yang tinggi akan meningkatkan kebutuhan oksigen untuk menguraikan bahan
organik tersebut menjadi molekul yang lebih sederhana sehingga akan terjadi persaingan
penggunaan oksigen dengan biota yang ada dalam tambak. Peningkatan kandungan bahan
organik pada tanah dasar tambak akan terjadi dengan cepat terutama pada tambak yang
menggunakan sistem budidaya secara semi intensif maupun intensif dengan tingkat pemberian
pakan (feeding rate) dan pemupukan yang tinggi (Howerton, 2001). Disamping mengendap di
dasar tambak, limbah organik juga tersuspensi dalam air sehingga menghambat penetrasi
cahaya matahari ke dasar tambak.
Limbah tambak yang terdiri dari sisa pakan (uneaten feed), kotoran udang (feces), dan
pemupukan terakumulasi di dasar tambak maupun tersuspensi dalam air. Limbah ini
terdegradasi melalui proses mikrobiologi dengan menghasilkan amonia, nitrit, nitrat, dan fosfat
(Zelaya et al., 2001). Nutrien ini merangsang tumbuhnya algae/plankton yang dapat
menimbulkan blooming. Sementara itu beberapa hasil degradasi limbah organik bersifat toksik
terhadap udang pada level tertentu. Terjadinya die off plankton dapat juga menyebabkan udang
stress dan kematian karena turunnya kadar oksigen terlarut. Limbah tambak udang
mengandung lebih banyak bahan organik, nitrogen, dan fosfor dibanding tanah biasa serta
mempunyai nilai BOD dan COD yang lebih tinggi (Latt, 2002)
J. Nutrien
Dua nutrien yang paling penting di tambak adalah nitrogen dan fosfor, karena kedua
nutrien tersebut keberadaannya terbatas dan dibutuhkan untuk pertumbuhan fitoplankton
(Boyd, 2000). Keberadaan kedua nutrien tersebut di tambak berasal dari pemupukan dan pakan
yang diberikan.
K. Nitrogen
Nitrogen biasanya diaplikasikan sebagai pupuk dalam bentuk urea atau amonium. Di
dalam air, urea secara cepat terhidrolisis menjadi amonium yang dapat langsung dimanfaatkan
oleh fitoplankton. Melalui rantai makanan, nitrogen pada fitoplankton akan dikonversi menjadi
nitrogen protein pada ikan. Sedangkan nitrogen dari pakan yang diberikan pada ikan, hanya
20-40% yang dirubah menjadi protein ikan, sisanya tersuspensi dalam air dan mengendap di
dasar tambak (Boyd, 2002). Amonium dapat juga teroksidasi menjadi nitrat oleh bakteri
nitrifikasi yang dapat dimanfaatkan langsung oleh fitoplankton. Nitrogen organik pada
plankton yang mati dan kotoran hewan air (feces) akan mengendap di dasar menjadi nitrogen
11
organik tanah. Nitrogen pada material organik tanah akan dimineralisasi menjadi amonia dan
kembali ke air sehingga dapat dimanfaatkan kembali oleh fitoplankton (Durborow, 1997).
L. Fosfor
Fosfor yang ada yang ada dalam tambak budidaya berasal dari pupuk seperti
ammoniumfosfat dan calsiumfosfat serta dari pakan. Fosfor yang ada dalam pakan tidak semua
dikonversi menjadi daging ikan/udang. Menurut Boyd (2002), dua pertiga fosfor dalam pakan
terakumulasi di tanah dasar. Sebagian besar diikat oleh tanah dan sebagian kecil larut dalam
air. Fosfor dimanfaatkan oleh fitoplankton dalam bentuk ortofosfat (PO4 3-) dan terakumulasi
dalam tubuh ikan/udang melalui rantai makanan. Phosphat yang tidak diserap oleh fitoplankton
akan didikat oleh tanah. Kemampuan mengikat tanah dipengaruhi oleh kandungan liat (clay)
tanah. Semakin tinggi kandungan liat pada tanah, semakin meningkat kemampuan tanah
mengikat fosfat.

2.1.3 PARAMETER BIOLOGI
A.Plankton
Kelimpahan plankton yang terdiri dari phytoplankton dan zooplankton sangat
diperlukan untuk mengetahui kesuburan suatu perairan yang akan dipergunakan untuk kegiatan
budidaya. Plankton sebagai organisme perairan tingkat rendah yang melayang-layang di air
dalam waktu yang relatif lama mengikuti pergerakan air. Plankton pada umumnya sangat peka
terhadap perubahan lingkungan hidupnya (suhu, pH, salinitas, gerakan air, cahaya matahari dll)
baik untuk mempercepat perkembangan atau yang mematikan.
Berdasarkan ukurannya, plankton dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Macroplankton (masih dapat dilihat dengan mata telanjang/ biasa/tanpa pertolongan
mikroskop).
2. Netplankton atau mesoplankton (yang masih dapat disaring oleh plankton net yang mata
netnya 0,03 - 0,04 mm).
3. Nannoplankton atau microplankton (dapat lolos dengan plankton net diatas).
Berdasarkan tempat hidupnya dan daerah penyebarannya, plankton dapat merupakan :
1. Limnoplankton (plankton air tawar/danau).
2. Haliplankton (hidup dalam air asin)
3. Hypalmyroplankton (khusus hidup di air payau)
4. Heleoplankton (khusus hidup dalam kolam-kolam)
5. Petamoplankton atau rheoplankton (hidup dalam air mengalir, sungai).

12
2.3 FAKTOR PENYEBAB KUALITAS AIR TAMBAK
Perairan tambak merupakan jenis perairan tertutup yang menggenang dan dibatasi oleh
petakan tambak, sehingga ditinjau dari dinamika perairan relatif bersifat statis dan kualitas
perairannya sangat tergantung dari pengaruh/perlakuan dari luar.

Ekosistem yang terbentuk di dalamnya dapat dikatakan bukan suatu ekosistem yang
dapat mengontrol keseimbangan dan kestabilan perairan tersebut dengan sendirinya seperti
pada ekosistem perairan yang bersifat alami dan terbuka. Suatu ekosistem perairan yang selalu
terjaga dalam keseimbangan dan kestabilannya merupakan suatu area yang dapat memberikan
rasa aman dan nyaman bagi komunitas organisme yang hidup di dalamnya.

Keseimbangan ekosistem perairan dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu unsur-unsur
penyusunnya terdiri atas komposisi yang ideal ditinjau dari segi jenis dan fungsinya yang
membentuk suatu rantai makanan di dalam perairan tersebut. Faktor lainnya yang menentukan
keseimbangan ekosistem perairan adalah proses-proses yang terjadi di dalamnya baik yang
bersifat biologi, kimia dan fisika berlangsung dalam kondisi yang ideal pula dan membawa
pengaruh yang tidak membahayakan bagi kehidupan di dalam perairan tersebut.

Kestabilan ekosistem perairan berarti kemampuan ekosistem tersebut mempertahankan
keseimbangannya dalam menghadapi perubahan atau guncangan yang disebabkan oleh
pengaruh dari luar. Suatu ekosistem perairan dengan tingkat keseimbangan yang bersifat
fluktuatif akan memberikan dampak yang cukup nyata bagi kehidupan yang berada di
dalamnya, sehingga dengan sendirinya akan menjadi suatu tempat yang tidak kondusif bagi
organisme yang hidup di dalam ekosistem perairan tersebut.

Berdasarkan pada uraian di atas maka ekosistem perairan tambak yang merupakan
ekosistem tertutup sangat rentan terhadap timbulnya permasalahan baik yang menyangkut
kualitas perairan tambak maupun kondisi dan kualitas udangnya. Permasalahan kualitas
perairan tambak secara garis besar dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu antara lain:

1. Faktor internal, yaitu permasalahan yang disebabkan oleh kondisi dari dalam perairan
tambak itu sendiri. Pada kondisi ini terjadi karena proses-proses yang berlangsung di dalamnya
cenderung tidak terkendali dan tidak dapat dikontrol oleh mekanisme keseimbangan yang
bersifat alami.

13
2. Faktor eksternal, yaitu permasalahan yang disebabkan oleh pengaruh dari luar tambak
dan biasanya karena adanya perubahan cuaca.

3. Faktor treatment error, yaitu permasalahan kualitas perairan yang disebabkan oleh
kesalahan teknis budidaya yang diterapkan. Kondisi ini terjadi karena pengambilan keputusan
yang tidak berdasarkan pengamatan dan analisis yang cermat sesuai dengan kondisi yang ada
di lapangan
Permasalahan kualitas perairan tambak sebaiknya dapat diketahui dan diidentifikasi
secara dini agar guncangan yang terjadi didalam perairan tersebut tidak menimbulkan masalah
yang lebih serius bagi udang. Mengacu pada pengamatan kondisi dan kualitas udang di dalam
perairan tambak, maka tingkat permasalahan kualitas air tambak dapat digolongkan ke dalam
tiga kategori yaitu :
1. Ringan. Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak belum mempengaruhi
kondisi, kualitas, sifat/behaviour dan aktifitas udang di dalam perairan. Permasalahan yang
timbul baru sebatas pada perubahan kondisi lingkungan perairan tambak.

2. Sedang. Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak belum mempengaruhi
kondisi dan kualitas udang, tetapi sudah berpengaruh nyata pada sifat/behaviour dan aktifitas
udang di dalam perairan tersebut seperti udang melakukan konvoi, nafsu makan menurun dan
cenderung pasif.

3. Berat. Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak sudah berpengaruh nyata
pada kondisi, kualitas, sifat/behaviour dan aktifitas udang di dalam perairan, seperti udang
mulai terinfeksi penyakit, melayang-layang di permukaan air, banyak menempel di dinding
petakan tambak, pemunculan di ancho sangat banyak dan gerakannya sangat pasif.

4. Sangat Berat. Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak sudah
mengakibatkan kematian massal bagi udang, sehingga pengambilan keputusan yang lebih
mengarah pada pemanenan.
Tingkat permasalahan kualitas air bisa dikatakan memiliki korelasi dengan pengelolaan
kualitas perairan yang dilakukan sebelum perairan terkena masalah terutama yang menyangkut
tingkat ketelitian pengamatan kondisi perairan dan udang, metode pengelolaan air, treatmen
yang telah digunakan, serta jangka waktu penanganan masalah tersebut. Suatu permasalahan
kualitas yang tidak teridentifikasi dan terindikasi sejak dini akan memperberat tingkat
permasalahan tersebut, karena terjadi akumulasi permasalahan yang semakin berkembang serta

14
dapat menjalar ke permasalahan aspek lainnya. Jika kondisi ini terjadi maka tingkat
permasalahan tersebut tidak hanya bertambah berat tapi juga akan semakin rumit dalam proses
pengambilan keputusannya.
Adapun faktor penyebab lainnya adalah sebagai berikut:

 Kepadatan penebaran
Padat penebaran yang tinggi dapat mempercepat laju penurunan kualitas air kolam.
Dengan padatnya “penghuni” kolam maka akan didapati sisa metabolisme ikan yang lebih
banyak. Hal tersebut dapat menyebabkan oksigen terlarut rendah. Oleh karenanya,
pembudidaya ikan yang menggunakan padat tebar yang tinggi sebaiknya harus lebih
memperhatikan pengelolaan kualitas air di kolamnya.
 Pakan yang berlebihan
Pengelolaan pakan menjadi hal yang substansial dalam usaha budidaya ikan.
Pemberian pakan yang kurang akan mempengaruhi pertumbuhan ikan, namun sebaliknya
pemberian pakan yang berlebih, selain tidak ekonomis, juga mempengaruhi penurunan
kualitas airnya. Secara tidak langsung akan menghambat pertumbuhan ikan.
 Akumulasi Bahan Organik
Bahan organik dapat berasal dari akumulasi sisa pakan ikan dan hasil metabolisme
ikan. Keduanya akan didekomposisi oleh bakteri dalam air yang mana dalam prosesnya
menggunakan oksigen dan menghasilkan amonia. Di alam, daur ulang nutrien (bahan
organik) sebenarnya telah berlangsung alami. Namun dalam kondisi kualitas air yang tidak
optimal, dimana konsentrasi oksigen untuk dekomposisi kurang, maka proses dekomposisi
akan berlangsung secara anaerob. Hal tersebut memiliki efek mematikan bagi ikan yang
hidup di kolam tersebut.
 Perubahan Cuaca
Perubahan cuaca perlu diwaspadai dalam budidaya ikan. Beberapa parameter
kualitas air yang mudah dipengaruhi perubahan cuaca (hujan) adalah salinitas, kadar pH,
dan kecerahan. Kecerahan dipengaruhi oleh kurangnya sinar matahari pada saat hari
mendung. Hal tersebut berpengaruh terhadap laju fotosintesa dari fitoplankton yang dapat
menyebabkan kadar DO menjadi turun. Berkurangnya fitoplankton dalam rantai makanan
akan secara efektif menyebabkan kematian massal ikan yang dapat meningkatkan bahan
organik di kolam itu sendiri. Kematian masal ikan menyebabkan bertambahnya akumulasi
bahan organik dan akibatnya sebagaimana dijelaskan pada poin sebelumnya.

15
Turunnya hujan memuat air sadah yang mengandung unsur CO2, H2S, dan Fe yang
membuat air menjadi lebih asam. Untuk kolam tanah, keberadaan air hujan akan mengikis
pematang kolam dan menyebabkan substrat lumpur didasar kolam meningkat. Antisipasi
penyakit ikan sangat dibutuhkan apabila kondisi terjadi.

2.4 METODE PENGELOLAAN KUALITAS AIR TAMBAK
Kegiatan pengelolaan kualitas air tambak pada dasarnya berupa program kegiatan yang
mengarahkan perairan tambak pada keseimbangan ekosistem perairan dalam suatu petakan
terbatas agar tercipta suatu kondisi perairan yang menyerupai habitat alami udang baik dari
segi sifat, behaviour maupun secara ekologinya.
Penerapan program pengelolaan kualitas air tambak membutuhkan kemampuan teknis
budidaya yang memadai dari para pelakunya melalui metode yang digunakan dengan beberapa
aspek yang perlu dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam penerapannya, yaitu antara lain:
1. Metode yang digunakan harus mengacu pada tujuan pengelolaan air tambak. Secara
garis besar tujuan dari kegiatan ini terbagi dalam 3 kelompok yaitu : (a) Menjaga atau
mempertahankan kualitas air yang sudah sesuai dengan tolok ukur berlaku berdasarkan
pengamatan lapangan maupun teori; (b) Memperbaiki kualitas perairan yang kurang sesuai
ke arah yang lebih baik; (c) Mengganti perairan tambak yang dapat membahayakan bagi
udang dengan perairan yang baru untuk menciptakan lingkungan perairan yang lebih sesuai
dengan kondisi dan kualitas udang.

2. Metode yang digunakan harus tepat sasaran sesuai dengan parameter yang akan
dikelola yaitu kecerahan air, warna air tambak, kondisi fisik air tambak dan kondisi dasar
tambak. Parameter tersebut membutuhkan pendekatan metode tersendiri yang tetap mengacu
pada keterkaitan satu sama lain.

3. Metode yang digunakan harus dapat menyentuh akar permasalahan kualitas air yang
sebenarnya. Permasalahan kualitas air tambak dapat terjadi antara lain karena :(a) Faktor
internal tambak, yaitu permasalahan yang terjadi karena terganggunya salah satu unsur
penyusun ekosistem perairan tambak;( b) Faktor eksternal tambak, yaitu permasalahan yang
diakibatkan oleh adanya pengaruh dari luar tambak seperti perubahan cuaca yang
menyebabkan kestabilan perairan terguncang;(c) Faktor treatment erroryaitu permasalahan
yang terjadi akibat kesalahan perlakuan teknis budidaya
` Dasar pertimbangan seperti yang telah diuraikan di atas bertujuan agar penerapan
metode yang digunakan dalam pengelolaan kualitas air tambak dapat berjalan efektif dan

16
efisien baik secara teknis budidaya maupun perhitungan finansial. Beberapa metode yang biasa
digunakan dalam pengelolaan kualitas air tambak antara lain :
1. Sirkulasi air
2. Pemupukan air
3. Inokulasi air, and
4. Penggunaan bahan kimia dan obat-obatan (tidak direkomendasikan).
Metode tersebut di atas dalam penerapannya tidak dapat berdiri sendiri dan mempunyai
keterkaitan satu sama lain tergantung pada tingkat urgency dan skala prioritas dari perlakuan
teknis budidaya yang akan diberikan berdasarkan pengamatan dan identifikasi keperluan yang
ditemukan di lapangan. Metode pengelolaan kualitas air tambak yang dilakukan secara terpisah
akan mengakibatkan keseimbangan ekosistem perairan tersebut terganggu sehingga dapat
menyebabkan suatu permasalahan yang baru yang lebih kompleks.

2.4.1 SIRKULASI AIR TAMBAK
Perairan yang terbentuk di dalam petakan tambak dapat dikatakan merupakan perairan
yang menggenang dalam suatu wadah yang terbatas, sehingga memerlukan suplai air dari luar
untuk meregenerasi perairan dan proses-proses yang terjadi didalamnya agar bersifat lebih
dinamis dan memberikan suasana nyaman bagi udang dan organisme lainnya yang hidup di
perairan tersebut.

Sirkulasi air tambak dapat diartikan sebagai proses penggantian air di dalam tambak
dengan jalan membuang sebagian air tambak melalui saluran pembuangan untuk digantikan
dengan air baru yang dimasukkan melalui saluran pemasukkan. Pada tambak-tambak
tradisional proses sirkulasi air ini sepenuhnya mengandalkan pasang surut air laut, sedangkan
pada tambak intesive sudah menggunakan pompa air sebagai alat bantu untuk memasukan air
laut ke dalam tambak. Meski demikian secara garis besar sirkulasi air tambak tetap mengacu
pada kondisi pasang surut yang terjadi di wilayah tersebut, sehingga kualitas air yang ke dalam
tambak tidak terkontaminasi dengan dasar perairan. Beberapa faktor sumber air tambak lainnya
yang perlu dipertimbangkan sebelum melakukan sirkulasi air adalah :

1. Kualitas sumber perairan yang meliputi : (i) Biologi : ketersediaan bibit plankton,
keberadaan predator dan competitor bagi udang, ketersediaan pakan alami udang, dsb,
(ii) Kimia : kandungan H2S, NH3, tingkat keasaman (pH), dsb; (iii) Fisika : pasang surut,
salinitas, kekeruhan air, dsb.

17
2. Kondisi fisik air yang meliputi, dasar perairan, dan kandungan partikel yang melayang-
layang di air, dsb.

3. Aktifitas kegiatan manusia seperti alur pelayaran, penangkapan ikan, dsb.

4. Pencemaran perairan dari lingkungans ekitarnya dan merugikan bagi kegiatan budidaya.
Berdasarkan pemikiran bahwa proses sirkulasi air adalah untuk memperbaiki atau
mempertahankan kualitas air, maka ke empat faktor di atas harus benar-benar diperhatikan agar
jangan sampai dengan melakukan sirkulasi air, kualitas perairan di dalam tambak mengalami
degradasi atau bertambah rusak.

2.4.2 PEMUPUKAN AIR TAMBAK
Keberadaan plankton terutama dari jenis phytoplankton di dalam ekosistem perairan
tambak mempunyai peran yang sangat besar terhadap kestabilan dan produktifitas perairan
yang sangat dibutuhkan oleh organisme yang berada di dalamnya dalam melakukan aktifitas
kehidupannya.
Peran dan fungsi utama plankton (phytoplankton) di dalam perairan yang dapat
dijadikan sebagai dasar pertimbangan pengelolaan kualitas air antara lain :
1. Phytoplankton merupakan produsen utama dalam rantai makanan yang terdapat di
dalam ekosistem perairan tersebut, sehingga tingkat produktivitasnya akan berpengaruh pada
produktifitas perairan;

2. Phytoplankton merupakan salah satu penyuplai oksigen melalui proses fotosintesa
dengan bantuan sinar matahari yang dibutuhkan organisme lainnya untuk melakukan respirasi
di dalam perairan;

3. Oksigen (O2) yang dihasilkan phytoplankton dapat menekan terjadinya proses kimiawi
perairan yang bersifat racun dan membahayakan bagi udang dan organisme lainnya;

4. Phytoplankton merupakan shelter bagi udang yang bersifat nocturnal dan phototaksis
negatif;
Seperti telah disebutkan pada uraian di atas sebagai jenis tanaman phytoplankton
mempunyai chlorophyl (zat hijau daun) yang berperan dalam proses fotosintesa di dalam
perairan dengan bantuan sinar matahari. Tingkat produktifitas phytoplankton ditentukan oleh
ketersediaan unsur hara yang tersedia di dalam tambak baik yang berasal dari tanah maupun

18
perairan setempat. Pada kondisi tertentu phytoplankton membutuhkan suplai unsur hara dan
zat lainnya baik yang bersifat organik maupun an organik untuk memacu peningkatan
produktifitasnya di dalam perairan.
Pemupukan air tambak pada dasarnya merupakan salah satu perlakuan teknis budidaya
yang berupa pemberian pupuk organik maupun an organik untuk menyuplai zat-zat yang
dibutuhkan phytoplankton di dalam tambak dengan dosis sesuai dengan tingkat keperluan.
Kegiatan pemupukan air tambak bertujuan antara lain:
1. Mengatur dan mengontrol tingkat kecerahan air tambak agar sesuai dengan tingkat
kebutuhan udang.

2. Mengatur dan mengontrol kestabilan plankton di dalam tambak agar sesuai dengan
tingkat kebutuhan udang.

3. Memacu pertumbuhan bibit plankton pada perairan yang sedang diperbaiki kualitasnya.
Syarat utama melakukan kegiatan pemupukan air tambak adalah ketersediaan bibit
plankton dan adanya sinar matahari. Pemupukan yang dilakukan pada perairan tambak yang
tingkat ketersediaan bibit planktonnya sangat minim/tidak ada sama sekali dapat menimbulkan
tumbuhnya lumut di dalam tambak atau munculnya kamuflase color yang sangat berpengaruh
terhadap kondisi udang atau teknis budidaya.
Sinar matahari sangat dibutuhkan dalam kegiatan pemupukan air tambak yaitu untuk
membantu proses fotosintesa plankton sehingga suplai unsur-unsur dalam pupuk yang
diperairan dapat diserap oleh plankton dan memacu pertumbuhan dan perkembangannya.
Berlandaskan pada dasar pemikiran tersebut maka sebaiknya pemupukan air tambak dilakukan
pagi hari pada saat cuaca cerah. Pada kondisi cuaca tidak cerah/musim hujan kegiatan
pemupukan sebaiknya dilakukan secara rutin dengan dosis yang sesuai agar tidak terjadi
mortalitas plankton secara massal yang disebabkan karena curah hujan yang tinggi, sehingga
kestabilan perairan tambak akan tetap terjaga dari kondisi collaps.

2.4.3 INOKULASI AIR TAMBAK
Seperti telah diuraikan dalam pembahasan sebelumnya bahwa keseimbangan ekosistem
perairan tambak sangat tergantung pada tingkat kestabilan plankton yang berada di dalam
perairan tersebut. Proses pengelolaan kualitas perairan tambak pada kondisi tertentu
mengalami kendala dalam proses penumbuhan plankton yang disebabkan terlalu kurangnya

19
bibit plankton yang tersedia di perairan tambak maupun pada sumber pemasukan air yang
digunakan.
Pada kondisi ini jika tidak segera diantisipasi dapat menimbulkan masalah yang cukup
serius bagi kegiatan budidaya yang dilakukan. Salah satu metode alternatif yang dapat
digunakan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan melakukan proses inokulasi air ke
dalam tambak.
Inokulasi air dapat diartikan sebagai kegiatan pemindahan bibit plankton dari petakan
tambak yang diidentifikasi memiliki kualitas plankton yang sesuai dengan tingkat kebutuhan
teknis budidaya dan kondisi udang ke dalam petakan tambak yang tingkat ketersediaan
planktonnya sangat kurang atau tidak ada sama sekali. Proses pemindahan dapat dilakukan
dengan menggunakan alat bantu selang spiral dan pompa air, metode ini digunakan jika
petakan tambak yang digunakan saling berdekatan. Cara lain untuk melakukan inokulasi air
adalah mengambil bibit plankton dengan menggunakan wadah khusus dari petakan tambak lain
yang letaknya relatif jauh yang kemudian dimasukkan kedalam petakan tambak yang
memerlukan bibit plankton.
Kegiatan inokulasi air dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa kondisi/syarat
sebagai berikut:
1. Petakan tambak yang hendak diambil bibit planktonnya bukanlah petakan tambak
dengan udang yang bermasalah/penyakit. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari
terinfeksinya udang dari petakan tambak yang hendak diinokulasi oleh masalah/penyakit
tersebut.

2. Petakan tambak yang hendak diambil bibit planktonnya bukanlah petakan tambak
dengan kondisi perairan yang bermasalah. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari timbulnya
masalah bagi udang karena kondisi perairan tersebut.

3. Proses pengambilan / pemindahan bibit plankton tidak menimbulkan guncangan pada
kestabilan perairan dari petakan tambak yang diambil bibit planktonnya.

4. Jenis plankton dari petakan tambak yang diambil plakthonnya bukan dari jenis yang
merugikan.

5. Petakan tambak yang hendak diinokulasi harus bersih dari lumut dan biota sebagai
plankton feeder. Keberadaan biota ini akan mempersulit proses penumbuhan plankton di dalam
tambak karena keduanya merupakan competitor dan predator bagi plankton.

20
6. Kondisi cuaca dan musim sangat pada saat itu mendukung penumbuhan plankton di
dalam tambak. Pada cuaca/musim dengan curah hujan cukup tinggi merupakan kondisi yang
tidak kondusif bagi kegiatan inokulasi air

2.4.4 PENGGUNAAN BAHAN KIMIA
Pada kondisi tertentu pengelolaan kualitas perairan tambak mengalami kendala yaitu
tidak dapat diterapkannya teknis budidaya secara optimal untuk menghasilkan kondisi dan
kualitas perairan seperti yang diharapkan karena berbagai faktor sehingga memerlukan
treatment yang berupa penggunaan bahan-bahan kimia dan obat-obatan kedalam perairan
tersebut.
Pada dasarnya fungsi dari bahan kimia dan obat-obatan yang digunakan tersebut seperti
di bawah ini, yaitu:
1. Sebagai katalisator dan pemacu proses pembentukan air, yang termasuk dalam
kategori ini adalah argon, dan berbagai jenis bakteri yang bersifat menguntungkan dan telah
diproduksi secara industri. Bahan-bahan ini digunakan pada perairan tambak dengan kondisi
udang yang relatif bagus, tetapi proses pembentukan kualitas air sangat susah dilakukan
sehingga jika tidak segera ditangani dapat menimbulkan masalah yang serius bagi udang.
Selain itu bahan-bahan ini juga dapat digunakan pada perairan tambak dengan kandungan bibit
planktonnya relatif kurang serta tidak memungkinkan untuk dilakukan inokulasi bibit plankton
karena kondisi tertentu.

2. Sebagai disinfectant and sterilisator perairan, yang termasuk dalam kategori ini
adalah kalium permanganat (KMNO3), chlorine/kaporit (kalsium hipoklorit), dsb. Bahan-
bahan ini biasa digunakan pada perairan tambak dengan kondisi udang yang sudah terindikasi
telah terinfeksi suatu penyakit, sehingga treatment ini diharapkan dapat menyelamatkan udang
yang belum terinfeksi sekaligus melakukan sterilisasi perairan dari sumber masalah. Selain itu
bahan ini juga dapat digunakan untuk menciptakan plankton mortality secara massal pada
perairan yang mengalami booming plankton yang sangat pesat dan susah untuk dikendalikan.
Penggunaan bahan-bahan kimia dan obat-obatan di atas dalam penerapannya perlu
mempertimbangkan kondisi perairan tambak dan hubungan sebab akibat yang akan
ditimbulkan karena treatment tersebut. Pengambilan keputusan harus berdasarkan pemikiran
bahwa, selain dasar pemikiran tersebut beberapa aspek yang juga perlu diperhatikan sebagai
bahan pertimbangan penggunaan bahan-bahan kimia dan obat-obatan tersebut dalam
pengelolaan kualitas perairan adalah sebagai berikut:
21
1. Treatment ini dapat menimbulkan guncangan terhadap perairan tambak, sehingga jika
tujuan, sasaran, dosis dan timing yang tidak tepat dapat memperburuk keadaan.

2. Treatment ini lebih mengarah pada shock therapy untuk perbaikan kualitas perairan dan
udang dalam jangka pendek.

3. Secara finansial treatment ini memerlukan biaya produksi yang relatif tinggi untuk jenis
bahan-bahan kimia dan obat-obatan tertentu.

4. Treatment ini sedapat mungkin merupakan alternatif terakhir, jika secara teknis
budidaya kualitas perairan tidak mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dan kalau
ditangani secara cepat dapat menimbulkan masalah serius bagi udang.

22
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN

Dalam setiap kegiatan yang berhubungan denagn Aquakultur banyak hal yang harus
diperhatikan, mulai dari hal-hal yang bersifat eksternal maupun internal. Beberapa hal yang
harus diperhatikan adalah, parameter Fisik air, parameter Kimia air, dan parameter Biologis
air semua hal yang bersangkutan dengan hal yang telah disebutkan diatas memiliki kaitan erat
dengan Semakin Maksimalnya tingkat Kegiatan Aquakultur yang dikelola. Dan keberadaan
Organisme budidaya yang dikelola akan memiliki Pertumbuhan dan perkembangan yang baik
sehingga Pengelola akan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.
Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
Kualitas air diperairan tersebut seperti suhu, DO, pH, Kecerahan,salinitas, plankton, warna
serta bau, itu sangat mempengaruhi kelangsungan hidup organisme yang ada diperairan itu dan
untuk kadar kualitas air diperairan harus baik dan memenuhi syarat untuk dapat melakukan
aktivitas budidaya.
Berdasarkan hasil yang didapatkan maka kolam tersebut tergolong dalam keadaan baik
artinya kolam tersebut masih dapat mendukung kehidupan organisme didalamnya.

3.2 SARAN

Dalam menyelesaikan laporan praktikum ini, tentunya penyusun tidak lepas dari kesalahan-
kesalahan dan kekurangan dan penyusun menyadari bahwa laporan praktikum ini, masih sangat
jauh dari kesempurnaan, oleh karenanya penyusun sangat mengharapkan kritik serta saran yang
membangun guna dalam kesempurnaan dalam pembuatan laporan praktikum selanjutnya.

23
DAFTAR PUSTAKA

Almeida, S.F.P. 2001. Use of Diatom for Freshwater Quality Evaluation in Portugal. Limnetica,
20(2) : 205-213. Asociation Espanola de Limnologia, Madrid, Spain

Boyd, C.E. 1990. Water Quality in Pond for Aquaculture. Department of Fisheries and Allied
Aquacultures. Auburn University, Alabama, USA

Boyd, C.E., Wood, C.W., Thunjai T. 2002. Aquaculture Pond Bottom Soil Quality
Management. Pond Dynamic/ Aquaculture Collaborative Research Support Programe,
Oregon State university, Corvallis, Oregon.

Basmi, J. 1999. Planktonologi : Chrysophyta-Diatom Penuntun Identifikasi.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
________. 2000. Planktonologi : Plankton sebagai Bioindikator Kualitas
Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Barbour, M.T., Gerritsen, J., Snyder, B.D., Stribling, J.B. 1999. Rapid Bioassessment Protocols
for se in Stream and Wadeable Rivers : Periphyton, Benthic Macroinvertebrates and Fish,
Second Edition. EPA 841-B-99-002. U.S. Environmental Protection Agency ; Office of Water;
Washington D.C.

Eyre,B.D. dan Ferguson, A.J.P. 2002. Comparison of Carbon Production and Decomposition,
Benthic Nutrient Fluxes and Denitrification an Seagrass, Phytoplankton, Benthic Microalgae
and Macroalgae Dominated Warm Temperate Australian Lagoons. Marine Ecology Progress
Series, 229:43-59. Australia

Gould, D.M and Gallagher E.D. 1990. Field Measurement of Specific rate, biomass, and
Primary production of benthic diatoms of Salvin hill Cove, Boston. Limnology and
Oceanography, 35 (8) : 1757-1770.

Ghosal, S. Rogers, M. and Wray, A. 2000. Turbulent Life of Phytoplankton. Proceeding of The
Summer Program 2000, Centre for Turbulence Research, pp. 1-45.
Hendrarto, B.1994. Struktur Komunitas Diatom Dasar di Ekosistem Hutan Mangrove Tropika,
North Queensland, Australia. Majalah Ilmiah Perikanan, II (1).

Hargreaves, John A. 1999. Control of Clay Turbidity in Ponds. Southern Regional Aquaculture
Center (SRAC), Publication No.460. May

Howerton, R. 2001. Best Management Practices for Hawaiian Aquaculture. Centre for
Tropical and Subtropical Aquaculture, Publication No. 148, August.

Harding, W.R., Archibald C.M., Taylorb, J.C. 2005. The Relevance of Diatom for Water
Quality Assessment in South Africa : A position paper. Water SA, 31 (1), January

http://.Gusrina.blogdetik.com/tag/parameter-air.html
http://airlanggastudyclub.com/menganalisis-kualitas-air-suatu-kolam-atau-tambak-part-1/
http://dedisafrizal.blogdetik.com/tag/kualitas-air.html
http://marindro-ina.blogspot.com/2008/02/metode-pengelolaan-kualitas-air-tambak.html

24
http://muhammadasarydevin.blogspot.com/2011/04/- limnologi.html

Jackson, C.J. and Wang, Y.G. 1998. Modelling Growth Rate of Penaeus monodon Fabricus in
Intensive Managed Pond : Effect of Temperature, Pond Age, and Stocking Density.
Aquaculture Research, 29 :27-36.

Latt, U.W. 2002. Shrimp Pond Waste Management. Aquaculture Consultant.
July-September. 7 (3) : 11-16.
Picinska-Faltynowicz, J. 2007. Ecological Status of The River Nysa Luzycka (Lausitzer
Neisse) Assessed by Epilithic Diatoms. Proceeding of The 1st Central European Diatom
meeting. Berlin. Page : 129-134.

Reynolds, C.S. 1990. The Ecology of Freshwater Phytoplankton. Third Edition.
Cambridge University Press, New York.
Stevenson, J. R. 2002. Rapid Bioassessment Protocols for Use in Sterams and Wadeable Rivers
:Periphyton Protocols, Second edition. U.S. Environmental Protection Agency Policy.
Washington DC.

Sukran, D., Nurhayat, D., Didem, Elmaci. 2006. Relationships Among Epipelic Diatom Taxa,
Bacterial Abundances and Water Quality in a Highly Polluted Stream Catchment, Bursa –
Turkey. Environmental Monitoring and Assessment, 112 ( 1-3) : 1-22.
Wasielesky, W, Bianchini, A, Sanchez, C.C, Poersch, L.H. 2003. The effect of Temperature,
Salinity and Nitrogen Products on Food Consumtion of Pink Fartantepenaeus paulensis.
Brazilian Archives of Biology and Technology. 46 : 135-141

25