You are on page 1of 7

Determinan Aglomerasi Industri Manufaktur di Provinsi Jawa Barat

Zulfa Emalia

Jurusan Ekonomi Pembangunan
Universitas Lampung

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola persebaran aglomerasi industri manufaktur di
Provinsi Jawa Barat, pengaruh tenaga kerja sektor industri, upah minimum kabupaten/kota, serta kondisi
infrastruktur jalan terhadap aglomerasi industri manufaktur di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini
menggunakan data sekunder yang diperoleh langsung dari badan pusat statistik Jawa Barat dengan jumlah
cross-section sebanyak 26 kabupaten/kota selama periode 2008 – 2013 dan menggunakan alat analisis Indeks
Hoover Balassa. Hasil estimasi menunjukkan aglomerasi secara signifikan dipengaruhi oleh variabel tenaga
kerja sektor industri dan insfrastruktur jalan berpengaruh positif, sedangkan upah minimum kabupaten/kota
berpengaruh negatif terhadap aglomerasi di Provinsi Jawa Barat.
Key words: Aglomerasi, Fixed Effect Model, Indeks Hoover Balassa

83 . faktor dominan dalam memacu dan mengangkat pembangunan sektor lainnya.04 862 5.7 3 Cianjur 98 3. bahwa ekonomi aglomerasi merupakan karena sektor industri manufaktur dianggap sebagai suatu bentuk dari eksternalitas positif dalam sektor pemimpin (the leading sector) yang produksi yang merupakan salah satu faktor yang mendorong perkembangan sektor lainnya. seperti menyebabkan terjadinya pertumbuhan kota. 2002). para pekerja dan konsumen. Jumlah IBS dan Laju Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Kab/Kota 2008 – 2013 (Unit) dan persen (%) 2008 2010 2013 Kabupaten / Laju Laju Laju No Kota IBS pertumbuhan IBS pertumbuhan IBS Pertumbuhan (%) (%) (%) 1 Bogor 664 5. Pengalaman pertumbuhan Ekonomi aglomerasi diartikan sebagai penurunan ekonomi jangka panjang di negara industri dan biaya produksi karena kegiatan-kegiatan ekonomi negara sedang berkembang menunjukkan bahwa berlokasi pada tempat yang sama. konsep produktifitas industri manufaktur diharapkan dapat aglomerasi berkaitan dengan konsentrasi spasial memacu produktifitas dari sektor sektor yang lain dari penduduk dan kegiatan-kegiatan ekonomi. PENDAHULUAN Pembangunan sektor industri manufaktur (manufacturing industry) hampir selalu mendapat aglomerasi juga berkaitan dengan eksternalitas prioritas utama dalam rencana pembangunan kedekatan geografis dari kegiatan-kegiatan negara-negara sedang berkembang (NSB). Hal sehingga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.31 33 4.88 1012 5. Pengertian ekonomi Tabel 1.02 35 4.84 9 Cirebon 490 4.46 7 Ciamis 109 4.96 321 4. ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Berikut merupakan data jumlah IBS dan laju Montgomery (Kuncoro.58 648 5.96 5 Garut 140 5.53 96 4.95 447 4. adalah konsentrasi spasial dari aktivitas ekonomi di kawasan perkotaan karena penghematan akibat lokasi yang berdekatan (economies of proximity) yang diasosiasikan dengan kluster spasial dari perusahaan.92 90 4.09 8 Kuningan 41 4. sektor jasa dan pertanian.30 158 5. Gagasan ini sektor industri secara umum tumbuh lebih cepat merupakan sumbangan pemikiran Alfred Marshall dibandingkan sektor pertanian (Arsyad. Keuntungan-keuntungan dari konsentrasi spasial sebagai akibat dari ekonomi skala (scale economies) disebut dengan ekonomi aglomerasi (agglomeration economies). yang menggunakan istilah localized industri Berdasarkan kenyataan ini tidak mengherankan jika sebagai pengganti dari istilah ekonomi aglomerasi.90 267 4.02 254 4.67 4 Bandung 889 4. bahwa aglomerasi pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Barat. 1991).04 2 Sukabumi 272 3.09 697 6.07 84 5.27 53 4. peranan sektor industri manufaktur semakin penting dalam berkembangnya perekonomian suatu negara Perkembangan industri manufaktur merupakan termasuk juga Indonesia. hal ini ekonomi.34 184 4.69 94 5. Peningkatan Dalam konteks ekonomi geografi.82 6 Tasikmalaya 30 5.99 36 4.

28 433 4.57 80 4. 2006).58 159 5.24 92 6.87 11 Sumedang 84 4. faktor lain yang juga yang semakin meningkat di setiap tahun dari tahun berpengaruh terhadap terjadinya aglomerasi industri 2008 sebesar 5.34 Jumlah 6. Penetapan UMK yang mendorong Struktur perekonomian suatu yang terlalu tinggi di suatu daerah akan negara sebagai salah satu indikator dalam menilai menyebabkan peningkatan biaya produksi yang.1 14 Purwakarta 164 4.87 20 6.34 5.70 Tasikmalaya 62 5. merupakan biaya input yang harus dikeluarkan oleh perusahaan memiliki kebijakan yang telah Salah satu faktor yang menjadi penyebab terjadinya ditetapkan oleh Pemerintah untuk mendukung dan aglomerasi yaitu adanya tenaga kerja sektor industri melindungi kedua belah pihak.79 22 Kota Bekasi 194 6. Sehingga pembangunan jalan yang baik akan membuka .029 unit.03 81 3.87 21 Kota Cirebon 54 11. pada tahun 2013 upah sebagai balas jasa terhadap perusahaan. perubahan struktural menyatakan bahwa mekanisme Dampak dari terjadinya krisis global di tahun 2009 – yang memungkinkan negara-negara yang masih 2010 menngakibatkan penurunan jumlah industri terbelakang untuk mentransformasikan struktur pada tahun 2010.94 18 Kota Bogor 95 4. Meningkat kembali di tahun 2013 perekonomian dari pola perekonomian pertanian disebabkan kestabilan ekonomi pada tahun tersebut.10 48 3.195 unit.34 27 3. Berikut merupakan data kondisi rendah.6 %. tahun 2010 5.92 16 Bekasi 698 1. 2013).24 rata .73 65 5.39 15 Karawang 287 4.64 6.99 6. pada tahun 2010 mengalami struktur biaya usaha.82 20 5.18 Kota 25 107 5. 2013 Berdasarkan Tabel 1. 2008 2010 2013 Kabupaten / Laju Laju Laju No Kota IBS pertumbuhan IBS pertumbuhan IBS Pertumbuhan (%) (%) (%) 10 Majalengka 459 4. subsisten tradisional ke perekonomian yang lebih Hal itu mendorong meningkatnya kembali jumlah modern.77 161 7.45 476 8.47 170 5.66 802 6.457 143. lebih berorientasi perkotaan. karena perusahaan membayar penurunan sebesar 6. Tenaga kerja Provinsi Jawa Barat dimulai pada tahun 2008 merupakan salah satu faktor produksi penting dalam sebesar 6.029 143.3 139 5.57 26 4.28 21 5.59 413 4.11 17 Bandung Barat 166 4.92 24 Kota Cimahi 134 4.91 75 4.6 12 Indramayu 112 4.55 325 11.77 139 5.92 26 Kota Banjar 15 4.14 93 5. proses distribusi barang dan jasa akan mudah dilakukan.5 % dan tahun manufaktur di Provinsi Jawa Barat yaitu upah yang 2013 5. serta memiliki IBS di Provinsi Jawa Barat dan membuat sektor industri manufaktur yang lebih bervariasi dan perkembangan industri mendorong pertumbuhan sektor jasa yang tangguh (Todaro dan Smith.33 159 5. Pentingnya pembangunan jalan akan mempermudah akses kemajuan suatu daerah.81 23 Kota Depok 99 6. perkembangan industri di kinerja pembangunan ekonominya.84 680 8.1 231.07 186 5.Dengan jalan yang baik.26 5.42 89 6. Sehingg salah satu daya tarik keputusan berlokasi di peluang bagi kemajuan dan tumbuhnya berbagai suatu tempat adalah dengan tingkat upah yang kegiatan ekonomi. Keberadaan jalan dengan sendirinya akan menghidupkan berbagai aktivitas ekonomi suatu daerah.36 95 6.84 191 6. Infrastruktur jalan merupakan urat nadi Infrastruktur jalan di Indonesia perekonomian yang menghubungkan kegiatan ekonomi antar wilayah sehingga distribusi barang dan jasa dapat bergerak dengan lancar (Taryono dan Ekwarso. Teori mengalami peningkatan sebesar 6.rata 238.81 48 4.87 529 7.195 133.88 20 Kota Bandung 745 10.22 77 4.457 unit.11 20 4.86 19 Kota Sukabumi 22 4.5 248.33 13 Subang 27 4.1 %.88 5. ekonomi di Provinsi Jawa Barat ditunjukan dari data laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Barat Selain tenaga kerja.18 1114 6.6 Sumber : BPS Jawa Barat.

2. 2010). menunjukkan jumlah lintas individu (cross section) METODOLOGI t = 1.n.2.686123 0.0000 Pembilang dari indeks ini menyajikan bagian LN_JLN 0. εt = Error term i = 1.. Analisis Data Panel Regresi data panel digunakan untuk menjawab tujuan kedua dari penelitian ini yaitu mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi aglomerasi Tabel 2 merupakan kondisi infrastruktur Indonesia industri manufaktur di Jawa Barat.. Aglomerasi dikatakan kuat bila angka indeks balassa diatas 4. yang memiliki industri manufaktur besar dan sedang paling tinggi di Kawasan Barat Indonesia (KBI). sedangkan nilai 0 sampai satu berarti tidak terjadi aglomerasi atau wilayah tersebut tidak memiliki keunggulan komparatif untuk terjadinya aglomerasi. β1.559669 0. Indeks Hoover Balassa. (Sbergami.607 Km. Dimana : Statistic i = Sektor C 0. Hal Adapun rumus indeks Balassa sebagai berikut : itu didasari oleh perhitungan dengan menggunakan indeks balassa untuk mengetahui terjadinya aglomerasi industri manufaktur di Provinsi Jawa Indeks Balassa = Variable Coefficient Std. pada Tahun 2013 panjang jalan sebesar 496.0000 J = Provinsi LN_UMK - -0. merupakan unit-unit individu yang sama yang selama kurun waktu 3 tahun mengalami peningkatan diamati dalam kurun waktu tertentu. Panjang jalan beraspal yang kondisinya baik dan sedang. semakin besar indeks Balassanya.967980 F-statistics 136.. Data panel periode Tahun 2008 – 2013 panjang jalan provinsi. sehingga Ag = Aglomerasi kabupaten/kota i panjang jalan yang digunakan dalam penelitian ini pada tahun t tidak memasukkan jalan yang rusak.. dan kabupaten). 2.0942 E = Tenaga Kerja j = Kabupaten LN_TKSI 0. Kondisi jalan yang baik dan sedang diharapkan lebih menentukan kelancaran kegiatan Dimana : ekonomi dibandingkan jalan yang rusak. lemah bila nilainya diantara 1 sampai 2. upah Kabupaten/Kota i pada tahun t minimum kota/kabupaten dan insfrastruktur jalan lnJLN = ln Panjang Jalan Kabupaten/Kota i pada terhadap aglomerasi industri manufaktur di Provinsi tahun t Jawa Barat.135575 0..502821 0. manufaktur.269344 0.0068 wilayah dari total tenaga kerja di sektor industri 0. = Koefisien slope atau kemiringan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah lnTKSI = log natural Tenaga Kerja Sektor Industri terjadi aglomerasi industri manufaktur di Provinsi kabupaten/kota i pada tahun t Jawa Barat serta untuk menganalisis bagaimana lnUMK = log natural Upah Minimum pengaruh tenaga kerja sektor industri.. Dengan kata lain.0357 . Indeks Balassa digunakan untuk menghitung aglomerasi..014267 9.β3. Error t. baik jalan negara.331927 1. sebagai β0 = Koefisien intersep yang pendorong peningkatan mobilitas dan aksesibilitas merupakan skala suatu industri. data panel kewenangan (negara.083760 0.019619 4. menunjukkan dimensi runtun waktu (time series) Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data time series dari tahun 2008-2013 serta data 1.. untuk menganalisis titik konsentrasi spasial industri manufaktur. rata – rata atau sedang bila nilainya antara 2 dan 4.t. kekhususan indeks ini adalah dapat PEMBAHASAN digunakan untuk membedakan faktor spesialisasi Provinsi Jawab Barat merupakan salah satu Provinsi dimana disini diwakili oleh tenaga kerja. (panel data) merupakan gabungan data cross section Infrastruktur panjang jalan menurut tingkat dan data time series. jalan propinsi maupun Adapun spesifikasi model yang digunakan dalam jalan kabupaten/kota di masing masing penelitian ini adalah sebagai berikut : kabupaten/kota.010855 2. Semakin terpusat suatu industri. provinsi.β2. Prob.029896 0.753955 0.

Berdasarkan kriteria tersebut yang memenuhi syarat Hal ini berarti setiap meningkatnya kondisi terjadinya aglomerasi industri manufaktur di insfrastuktur jalan sebesar 1% maka akan Provinsi Jawa Barat dalam tingkatan > 4 adalah berdampak pada terjadinya aglomerasi di Jawa Barat Kota Cimahi 4. Hal ini sesuai dengan hipotesis penelitian bahwa insfrastruktur Setelah model persamaan regresi dinyatakan lolos jalan Kabupaten/kota berpengaruh positif dan uji identifikasi. Hal ini sesuai 7 Ciamis 0. izin mendirikan usaha. Pendekatan Fixed Effect Model Tabel 4.579094 ini sejalan dengan penelitian (Purnomo. penanggulangan limbah industri.670178 menyatakan bahwa Pemusatan industri dapat terjadi 12 Indramayu 0. bahan – bahan mentah. Sesuai dengan penting dalam kegiatan perekonomian.628213 kabupaten/kota berpengaruh negatif dan signifikan Sumber : data diolah terhadap terjadinya aglomerasi di Jawa Barat.135575 dengan tingkat 3 Cianjur 0.517545 terhadap terjadinya aglomerasi di Jawa Barat.722455 19 Kota Sukabumi 0. Indeks Ballasa Kabupaten/kota Di Provinsi Sumber: data diolah Jawa Barat (%) Tahun 2008 -2013 Berdasarkan hasil estimasi pada Tabel 8. Distribusi hasil uji spesifikasi Chow dan Hausman. mobilitas manusia (FEM). 17 Bandung Barat 0.122.029896 lnJLNt.385204 Nilai koefisien regresi upah minimum 20 Kota Bandung 1. proses selanjutnya adalah melakukan signifikan terhadap Aglomerasi di Jawa Barat.162. tenaga 15 Karawang 2.311 kerja.287 adalah sebesar 0.i + 0.169464 kepercayaan 99%.710.344919 faktor yang dibutuhkan dalam kegiatan 14 Purwakarta 2.577669 Kabupaten/kota sebesar 1% maka akan berdampak 24 Kota Cimahi 4. Hal 10 Majalengka 0.107 pada menurunnya aglomerasi di Jawa Barat sebesar Kota 0.i 1 Bogor 1.Barat.220905 maka akan meningkatkan Aglomerasi di Jawa Barat 6 Tasikmalaya 0.925.029896 dengan tingkat kepercayaan 99%.135575 lnTKSIt.273 Kabupaten/kota adalah sebesar -0. menempatkan faktor biaya tenaga kerja sebagai Berikut merupakan kriteria terjadi atau tidaknya faktor dominan dalam penentuan lokasi industri di suatu aglomerasi: samping biaya transportasi.67.633 yang lebih murah.13 % ceteris paribus.559669+ 0.  Indeks ballasa 0 = aglomerasi tidak terjadi Nilai koefisien regresi insfrastuktur jalan adalah sebesar 0.332. Bila Berdasarkan Tabel 4 menyatakan bahwa aglomerasi dipandang melalui teori lokasi Weber yang terjadi di Kota Cimahi di Provinsi Jawa Barat. estimasi model panel data dengan metode Panjang jalan mempunyai peranan yang cukup Generalized Least Square (GLS). energi.258 produksi.100259 dengan hipotesis penelitian bahwa tenaga kerja 8 Kuningan 0.083760 dengan 21 Kota Cirebon 0.788234 Sehingga hal ini juga sesuai pada teori lokasi 18 Kota Bogor 0.332857 hipotesis penelitian bahwa upah minimum Tasikmalaya 26 Kota Banjar 0.032.115 Nilail koefisien regresi tenaga kerja sektor industri 2 Sukabumi 1. 2011).054179 sebesar 0.670. Hal ini berarti setiap kenaikan 4 Bandung 1. 2014) yang 11 Sumedang 0.742923 meningkatnya tingkat upah minimum 23 Kota Depok 0. Hasil Estimasi Panel Data dengan menggunakan Indeks Ballasaa. Secara spasial. Hasil yang diperoleh  Indeks ballasa > 4 = aglomerasi dikatakan kuat juga sesuai dengan teori lokasi.Misalnya. pasar.4 = aglomerasi dikatakan menyatakan bahwa sebuah pabrik akan memilih sedang berlokasi di daerah dengan tingkat upah yang rendah  Indeks ballasa 1-2 = aglomerasi dikatakan untuk meminimumkan biaya produksi lemah (Purwaningsih. pajak 16 Bekasi 2.227.i -0083760 Aglomerasi lnUMK t.624 penyerapan tenaga kerja sektor industri sebesar 1% 5 Garut 0. sebesar 0. Hal ini sesuai dengan 25 0. dalam faktor produksi maupun barang dan jasa hasil penelitian ini persamaan regresi dilakukan dengan produksi sangat tergantung dari keberadaan menggunakan pendekatan Fixed Effect Model infrastruktur jalan.029% ceteris paribus. dan hasil produksi ini menentukan kemajuan suatu wilayah karena interaksi dan keterbukaan dengan wilayah lain meningkatkan pangsa pasar baik faktor . Berikut merupakan hasil dari perhitungan Tabel 5.514808 tingkat kepercayaan 99%. Hal ini berarti setiap 22 Kota Bekasi 0.083 % ceteris paribus.07307 sektor industri berpengaruh positif dan signifikan 9 Cirebon 0.112127 di suatu lokasi karena terkonsentrasinya beberapa 13 Subang 0. hipotesis teori lokasi  Indeks ballasa 2. maka dapat Ting ditulis persamaan regresi: No Kabupaten/kota kat Agti = 0.

salah satunya tenaga kerja Berdasarkan Tabel 5. perbedaan biaya Bekasi 1. Terdapat 1 Kota yang memenuhi kriteria perhitungan Kota Depok -0.163.042589 aglomerasi Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat Purwakarta 1.661718 2.66831 1.692006 -6. mendapatkan pengaruh sebesar 4.25846 manufaktur di Provinsi Jawa Barat. Bandung 0.009366 0.318 Cimahi Insfrastruktur di Provinsi Jawa Barat Kota berpengaruh positif dan signifikan terhadap -0.343964 Kota Simpulan -0. Berikut merupakan analisis intersep model 2011).083524 0.592154 -0.643193 Sukabumi 0. terkecil.454148 0. umk. Kota 2.590654 1. maka dapat disimpulkan Bandung sebagai berikut: Kota 1. -0. umk. dan jalan baik antar daerah Fixed maupun antar waktu. Nilai Koefisien Fixed Effect Pada Masing.1 % terhadap Masing kabupaten/kota di Povinsi Jawa aglomerasi Provinsi Jawa Barat. Majalengka -0.227. Jika ada perubahan tenaga kerja sektor industri. Sesuai dengan hipotesis dan teori lokasi yaitu bahwa Pemusatan industri dapat Sumber : data diolah terjadi di suatu lokasi karena terkonsentrasinya beberapa faktor yang dibutuhkan dalam kegiatan produksi. Sesuai dengan hipotesis dan teori lokasi yang dikemukakan oleh weber.280482 0.153739 Sedangkan daerah yang memiliki koefisien intersep yang negatif memiliki aglomerasi yang lebih rendah Sumedang -0.103180 1.500816 0. Tenaga Kerja Sektor Industri dan 3.589 Adanya perbedaan nilai koefisien intersep tersebut dimungkinkan karena daerah yang diteliti memiliki Garut -0.105521 Tasikmalaya aglomerasi industri manufaktur di Provinsi Kota Banjar -0.180824 indeks balassa yaitu Kota Cimahi. maupun antar waktu.produksi maupun hasil produksi (purwaningsih. maka Kota Cimahi akan Tabel 6.569035 yang telah dilakukan.122854 menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki nilai Cirebon -0. Daerah yang memiliki koefisien intersep yang positif Kuningan -0.060809 0.453 masing-masing Kabupaten/kota.682523 -0.301209 0. Bogor 0. maka dengan individual Individual effect yang paling rendah dan berarti tidak Effect Koefisien Effect terjadinya aglomerasi industri manufaktur di (Cross) Kabupaten Bogor.330527 Cirebon menyatakan bahwa terjadi aglomerasi industri Kota Bekasi -0.042.229142 0.084125 koefisien intersep ini menunjukkan perbedaan Ciamis -0. Hasil Indeks Ballasaa tahun 2008 – 2013 -0.375668 Barat PENUTUP Kota Bogor -0.603649 4.662. Upah Minimum pada masing-masing kabupaten/kota di Povinsi Jawa Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Barat.163481 karakteristik yang berbeda satu sama lain.279187 dibanding daerah lain.378845 0.122854 perilaku dari masing-masing daerah.184001 0. dan jalan baik antar daerah terjadinya aglomerasi industri.276474 Sukabumi Kota Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan 0. terdapat nilai individual effect dan insfrastruktur.811784 1.72315 -0.40593 0.132337 ada di Provinsi Jawa Barat memiliki nilai berbeda.622747 Berdasarkan hasil estimasi dapat dilihat bahwa nilai koefisien intersep aglomerasi dari setiap daerah yang Cianjur -0.371. Kota Cimahi merupakan kabupaten dengan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap individual effect terbesar dan Kabupaten Cianjur aglomerasi industri manufaktur di Provinsi merupakan kabupaten dengan individual effect Jawa Barat. Barat 2.643794 -0.058853 aglomerasi lebih tinggi dibanding daerah lain.849 dibandingkan Kabupaten/kota lainnya di Provinsi Jawa Barat adalah masih terbatasnya infrastruktur di Karawang 0. Jika ada perubahan tenaga kerja sektor ini kondisi jalan sangat berpengaruh terhadap industri. Teori Weber menyatakan bahwa lokasi setiap regresi fixed effect : industri tergantung pada biaya transportasi dalam hal 1.221.215705 0.482920 1. Secara .49886 Jawa Barat.387 upah dan terbatasnya tenaga kerja di masing-masing Bandung Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat.063078 0. Indramayu -0.979 Faktor yang mempengaruhi bahwa relatif rendahnya Subang -0. Nilai Tasikmalaya -0.283195 0.

The MIT Press. Journal Lembaga Pendidikan Tinggi di Pulau of Development Economics.BPS Provinsi Jawa Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah Tahun Barat. Mudrajad.JohnWi lley&Sons.BasicEconometric. 2002. Mudrajat. M. Analisis pengaruh Faktor industri manufaktur di Provinsi Jawa Barat.2007. tumbuh dengan banyaknya tenaga kerja yang UPP AMP YKPN. Upah Spasial dan Regional: Studi Aglomerasi minimum kabupaten/kota di . Jurnal Ekonomi International Economics.2002. M.Widyah.2013. 2006. Yogyakarta. Econometric Analysis of Panel McCann. Mudrajad. Aglomerasi Dan Pertumbuhan Thisse. Jawa. Oxford Inc. 2007. and T. 1994-2007.F.22 No. dan Insfrastruktur Jalan (JLN) Pembangunan berpengaruh terhadap terjadinya aglomerasi Jannifer. P. UPP AMP Barat. London. Dengan demikian diharapkan Kuncoro. pertumbuhan ekonominya juga dapat meningkatkan 12(2): 161-174.1. 1998. Jurnal Ekonomi Kabupaten/Kota. New York. 2008-2013. dan Kawasan. Nuryadin. Krugman. Dinamika Aglomerasi lebih baik dibandingkan jika terpusat.2000 Hayter. Jogjakarta. the Firm and The Production System.Fourth Edition.Shandy. 2012. 1999.2010. Analisis Dinas Ketenagakerjaan Jawa Barat 2013. Venables.2004. Routledge. Dalam rangka Kuncoro. Vol. pemerataan fasilitas infrastruktur dan pendirian Kota. Chichester : John Wiley & Sons Hilmiyah. 1996. Analisis Aglomerasi di Industri (TKSI). Dalam jangka panjang Kuncoro. The Spasial Economics: Cities. dan J. pusat aglomerasi karena selain dapat meningkatkan Journal of Economic Perspectives. John Wiley & Sons LTD. Aglomerasi Industri Manufaktur terhadap Pertumbuhan dengan Ketimpangan.2014.Gilang. Matitaputty. 2005. Jurnal Ekonomi Pembangunan. “The Economics of Ekonomi : Peran Karakteristik Regional Agglomeration. M. Jurnal Ekonomi Pembangunan Baltagi.2002 Kuncoro.Vol. 2002. P. Urban and Regional Economics. provinsi Jawa dan Kluster Industri Indonesia. Jakarta: Salemba industri industri baru di daerah-daerah yang Empat. York. Analisis Aglomerasi dan Faktor yang Making of Major Cities: Self Mempengaruhi Terkonsentrasi Agglomeration and Hub-Effect. Analisis Spasial dan Regional: perekonomian daerah sekitarnya juga bisa ikut Studi Aglomerasi dan Kluster Industri. Mori. New York. The Role of Ports in Sakti.R. Vol. The Dynamic of industrial Location: The Factory. di Jawa. Analisis Pengaruh Faktor DAFTAR PUSTKA Aglomerasi Industri Manufaktur Terhadap Hubungan Antara Pertumbuhan Dengan Badan Pusat Statistika. Jawa Barat Ketimpangan Regional Antar Dalam Angka 2013.1996 Fujita. Hayter. R.1996.DamodarN. Oxford University Press. Regional Economics. dan A. Upah Minimum Kabupaten Banyumas. B. Yogyakarta.2010.2000. meluas akan memberikan potensi pertumbuhan yang Martin dan octavianno 2001. bersama-sama variabel Tenaga Kerja Sektor Jabal. YKPN. Cambridge and London. Jurnal Ekonomi Pembangunan Indikator Tenaga KerjaProvinsi Jawa Barat 2013.J. Jurnal Ekonomi dan Bisnis 120 Indonesia.AnalisisKonsentrasi spasial & pengembangan kawasan industri di Kab. Pembangunan Fujita. pemerataan pembangunan maka perlu adanya Bagaimana Membangun Ekonomi Lokal.H. M. Data.Mudrajad.Yogyakarta Fujita. New Capello. Analisis Spasial Dan interkoneksi berbagai infrastruktur tersebut secara Regional. diserap khususnya sektor industri. Jurnal Saran Ekonomi Pembangunan Pentingnya bagi suatu daerah untuk dapat menjadi Krugman. Gresik. 49 : 93. Tahun 2000.F thisse.. Fujita dan J.2007. kesempatan kerja.” Journal of Japanese and Di Indonesia. . Regional and International Trade. Space: the Final Frontier. BPS Provinsi Jawa Barat. P. Perencanaan Daerah. UPP STIM YKPN. memiliki potensi.. Gujarati.