You are on page 1of 2

WAWASAN KEILMUAN

Tubuh pengetahuan yang dimiliki keperawatan adalah ilmu keperawatan (nursing science) yang
mencakup ilmu-ilmu dasar (alam, sosial, perilaku), ilmu biomedik, ilmu kesehatan masyarakat,
ilmu keperawatan dasar (basic nursing science), ilmu keperawatan klinis (clinical nursing science)
dan ilmu keperawatan komunitas.

Pada aplikasinya digunakan pendekatan dan metode pemecahan masalah secara ilmiah, yaitu
proses keperawatan yang ditujukan untuk mempertahankan, menopang, dan memelihara, serta
meningkatkan integritas seluruh kebutuhan dasar manusia. Ilmu keperawatan bertumpu pada
perkembangan beberapa ilmu lain yang terkait, yang terdiri dari ilmu alam dasar, ilmu perilaku,
ilmu sosial, ilmu biomedik, dan ilmu kesehatan publik.

Wawasan ilmu keperawatan mencakup ilmu-ilmu yang mempelajari bentuk dan sebab tidak
terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, melalui pengkajian mendasar tentang hal-hal yang melatar
belakangi, serta mempelajari berbagai bentuk upaya untuk mencapai kebutuhan dasar tersebut
melalui pemanfaatan semua sumber yang ada dan potensial. (Kusnanto, 2004:38)

D. BIDANG GARAP KEPERAWATAN

Mewujudkan keperawatan sebagai profesi di Indonesia bukan hanya sekedar perjuangan untuk
membela nasib para perawat yang sudah sejak lama kurang mendapat perhatian. Namun, lebih dari
itu yakni untuk mengupayakan pemenuhan hak masyarakat dalam mendapat asuhan keperawatan
yang profesional. Asuhan keperawatan profesional adalah cerminan serta bentuk perubahan yang
nyata untuk kemajuan profesi keperawatan di Indonesia khususnya.

Bidang garapan dan fenomena yang menjadi objek studi keperawatan adalah penyimpangan dan
tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia (bio-psiko-sosio-spiritual), mulai dari tingkat
individu yang utuh (mencakup seluruh siklus kehidupan), sampai pada tingkat masyarakat.
(Kusnanto, 2004:38)

Upaya-upaya bidang kesehatan selama ini seperti preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif
rupanya perlu mendapatkan refleksi dari perawat. Kritisi tersebut bukan untuk menggugat cakupan
pelayanan kesehatan, melainkan perawat perlu menciptakan model praktik pelayanan perawatan
yang khas dan berbeda, sehingga meskipun perannya tidak langsung berdampak terhadap
peningkatan indeks pembangunan manusia, namun tetap berarti (mengisi sektor yang kosong/tidak
tergarap) karena perannya tidak identik dengan profesi lain atau sebagai sub sistem tenaga
kesehatan lainnya.

Menurut Depkes RI (2002) mendefinisikan bahwa Home Care adalah pelayanan kesehatan yang
berkesinambungan dan komprehensif diberikan kepada individu, keluarga, di tempat tinggal
mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan, memulihkan
kesehatan/memaksimalkan kemandirian dan meminimalkan kecacatan akibat dari penyakit.
Layanan diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien/keluarga yang direncanakan, dikoordinir, oleh
pemberi layanan melalui staff yang diatur berdasarkan perjanjian bersama.

E. PERKEMBANGAN ILMU KEPERAWATAN

Pada perkembangannya, ilmu keperawatan selalu mengikuti perkembangan ilmu lain mengingat
ilmu keperawatan merupakan ilmu terapan yang selalu berubah menurut tuntutan zaman.

Untuk mencapai tingkat perkembangan yang diinginkan oleh komunitas profesional maka upaya
yang dapat dilakukan menurut Prof. Ma’rifin Husin adalah dengan menghasilkan masalah baru
dalam keperawatan melalui proses berkembangnya ilmu keperawatan melalui proses
berkelanjutan. Dalam proses berkembangnya ilmu keperawatan dituntut adanya riset dan
pengembangan ilmu keperawatan sehingga diharapkan perawat dapat melakukan penelitian.
Selain itu dilihat juga adanya pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan keperawatan,
adanya adaptasi teknologi keperawatan serta adanya pengembangan model pemberian asuhan
keperawatan. Untuk menjadi ilmuwan dalam bidang keperawatan, sangat diperlukan berbagai
persyaratan antara lain prosedur ilmiah atau kegiatan ilmiahnya diakui oleh para ilmuan lainnya,
metode ilmiahnya dapat dipergunakan oleh ilmuwan lainnya dalam bidang ilmu yang sejenis,
pendidikan formal yang ditempuh diakui secara akademis, memiliki kejujuran ilmiah sehingga
tidak akan mengklaim hasil temuan orang lain dianggap miliknya, dan harus memiliki rasa ingin
tahu yang tinggi. (Hidayat, 2009: 40)