You are on page 1of 75

Psikososial Dalam Praktik Keperawatan

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah

Psikososial dan Budaya Dalam Praktik Keperawatan


Dosen Pengampu: Ns. Duma Lumban Tobing, M.Kep, Sp.Kep.J

Disusun Oleh:
Kelompok 2

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAKARTA
2017
KONSEP DIRI

Risma Awalia Permana 1610711017

Nada Saskia 1610711028

A. Konsep Diri

1. Pengertian Konsep Diri

Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang

diketahui individu tentang dirinya dan mempen Konsep diri didefinisikan sebagai

semua pikiran, keyakinan, dan kepercayaan yang merupakan pengetahuan individu

dirinya dan memmengaruhi hubungan dengan orang lain. Konsep diri tidak terbentuk

waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil pengalaman unik seseorang dalam dirinya

sendiri, dengan orang terdekat, dan dengan realitas dunia. (Stuart, G.W, 2007).

Konsep diri adalah gambaran atau pandangan terhadap dirinya sendiri yang

mencangkup pemikiran, persepsi dan perbuatan (Potter & Perry, 2009).

Muntholi’ah (2002) mengungkapkan bahwa konsep diri dapat diartikan sebagai

gambaran mental seseorang terhadap dirinya, pandangan terhadap diri, serta usaha

untuk menyempurnakan dan mempertahankan diri.

Konsep diri merupakan sebuah konstruk psikologis yang telah lama menjadi

pembahasan dalam ranah ilmu-ilmu sosial (Marsh & Craven, 2008).

2. Aspek-Aspek Konsep Diri

Konsep diri pada hakekatnya meliputi empat aspek dasar yang terdiri dari:

a. Bagaimana orang mengamati dirinya sendiri.


b. Bagaimana orang berfikir tentang dirinya sendiri.

c. Bagaiamana orang menilai dirinya sendiri.

d. Bagaimana orang berusaha dengan berbagai cara untuk menyempurnakan dan

mempertahankan diri (Muntholi’ah 2002)).

Menurut Burns (1993) aspek dasar konsep diri secara global dibedakan menjadi

dua yaitu a) I (aku), diri sebagai pengenal/ proses/ pelaku, dan b) Me (aku) atau diri

sebagai dikenal yang dapat termasuk pula bermacam-macam sub diri misalnya fisik,

sosial, orang lain, dan cita-cita.

3. Komponen Konsep Diri

Konsep diri terbagi menjadi beberapa bagian. Pembagian konsep diri tersebut

dikemukakan oleh Stuart & Sudeen, yang terdiri dari:

a. Identitas diri

Identitas diri adalah kesadaran tentang diri sendiri yang dapat diperoleh

individu dari observasi dan penilaian terhadap dirinya, menyadari individu bahwa

dirinya berbeda dengan orang lain. Identitas diri merupakan sintesis dari semua

aspek konsep diri sebagai suatu kesatuan yang utuh, tidak dipengaruhi oleh

pencapaian tujuan, atribut atau jabatan dan peran. Seseorang yang mempunyai

perasaan identitas diri yang kuat akan memandang dirinya berbeda dengan orang

lain, dan tidak ada duanya. Kemandirian timbul dari perasaan berharga (respek

pada diri sendiri), kemampuan dan penguasaan diri. Identitas berkembang sejak

masa kanak-kanak bersamaan dengan perkembangan konsep diri. Dalam identitas

diri ada otonomi yaitu


mengerti dan percaya diri, respek terhadap diri, mampu menguasai diri,

mengatur diri dan menerima diri.

Ciri individu dengan identitas diri yang positif:

1) Mengenal diri sebagai organisme yang utuh terpisah dari orang lain.

2) Mengakui jenis kelamin sendiri.

3) Memandang berbagai aspek dalam dirinya sebagai suatu

keselarasan.

4) Menilai diri sendiri sesuai dengan penilaian masyarakat.

5) Menyadari hubungan masa lalu, sekarang dan yang akan datang.

6) Mempunyai tujuan yang bernilai yang dapat dicapai/

direalisasikan (Suliswati dkk, 2005).

b. Gambaran diri (body image)

Citra tubuh adalah sikap individu terhadap tubuhnya baik disadari atau tidak

disadari meliputi persepsi masa lalu atau sekarang mengenai ukuran dan bentuk,

fungsi, penampilan dan potensi tubuh. Citra tubuh sangat dinamis karena secara

konstan berubah seiring dengan persepsi dan pengalaman-pengalaman baru. Citra

tubuh harus harus realistis karena semakin dapat menerima dan menyukai

tubuhnya individu akan lebih bebas dan merasa aman dari kecemasan. Individu

yang menerima tubuhnya apa adanya biasanya memiliki harga diri tinggi dari pada

individu yang tidak menyukai tubuhnya.


Cara individu memandang diri mempunyai dampak yang penting pada

aspek psikologisnya. Individu yang stabil, realistis dan konsisten terhadap citra

tubuhnya akan memperlihatkan kemampuan mantap terhadap realisasi yang akan

memacu sukses di dalam kehidupan (Suliswati dkk, 2005).

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi gambaran diri seseorang, seperti,

munculnya Stresor yang dapat menggangu integrasi gambaran diri. Stresor-

stresor tersebut dapat berupa:

1) Operasi.

Seperti: mastektomi, amputsi, luka operasi yang semuanya mengubah

gambaran diri. Demikian pula tindakan koreksi seperti operasi plastik,

protesa dan lain – lain.

2) Kegagalan fungsi tubuh.

Seperti hemiplegi, buta, tuli dapat mengakibatkan depersonlisasi yaitu

tidak mengkui atau asing dengan bagian tubuh, sering berkaitan dengan

fungsi saraf.

3) Waham yang berkaitan dengan bentuk dan fngsi tubuh.

Seperti sering terjadi pada klien gangguan jiwa , klien mempersiapkan

penampilan dan pergerakan tubuh sangat berbeda dengan kenyataan.


4) Tergantung pada mesin.

Seperti: klien intensif care yang memandang imobilisasi sebagai

tantangan, akibatnya sukar mendapatkan informasi umpan balik engan

penggunaan lntensif care dipandang sebagai gangguan.

5) Perubahan tubuh berkaitan

Hal ini berkaitan dengan tumbuh kembang dimana seseorang akan

merasakan perubahan pada dirinya seiring dengan bertambahnya usia.

Tidak jarang seseorang menanggapinya dengan respon negatif dan positif.

6) Umpan balik interpersonal yang negatif

Umpan balik ini adanya tanggapan yang tidak baik berupa celaan, makian

sehingga dapat membuat seseorang menarik diri.

7) Standard sosial budaya

Hal ini berkaitan dengan kultur sosial budaya yang berbeda-setiap pada

setiap orang dan keterbatasannya serta keterbelakangan dari budaya

tersebut menyebabkan pengaruh pada gambaran diri individu, seperti

adanya perasaan minder.

Beberapa gangguan pada gambaran diri tersebut dapat menunjukan tanda dan

gejala, seperti:

1) Syok Psikologis

Syok Psikologis merupakan reaksi emosional terhadap dampak perubahan

dan dapat terjadi pada saat pertama tindakan. Syok psikologis digunakan

sebagai reaksi terhadap ansietas. Informasi


yang terlalu banyak dan kenyataan perubahan tubuh membuat klien

menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti mengingkari, menolak

dan proyeksi untuk mempertahankan keseimbangan diri.

2) Menarik diri

Klien menjadi sadar akan kenyataan, ingin lari dari kenyataan, tetapi

karena tidak mungkin maka klien lari atau menghindar secara emosional.

Klien menjadi pasif, tergantung, tidak ada motivasi dan keinginan untuk

berperan dalam perawatannya.

3) Penerimaan atau pengakuan secara bertahap

Setelah klien sadar akan kenyataan maka respon kehilangan atau berduka

muncul. Setelah fase ini klien mulai melakukan reintegrasi dengan

gambaran diri yang baru.

Tanda dan gejala dari gangguan gambaran diri di atas adalah proses yang adaptif,

jika tampak gejala dan tanda-tanda berikut secara menetap maka respon klien

dianggap maladaptif sehingga terjadi gangguan gambaran diri yaitu:

1) Menolak untuk melihat dan menyentuh bagian yang berubah.

2) Tidak dapat menerima perubahan struktur dan fungsi tubuh.

3) Mengurangi kontak sosial sehingga terjadi menarik diri.

4) Perasaan atau pandangan negatif terhadap tubuh.

5) Preokupasi dengan bagian tubuh atau fungsi tubuh yang hilang.

6) Mengungkapkan keputusasaan.

7) Menolak penjelasan tentang perubahan tubuh. (Salbiah, 2003).


c. Ideal diri

Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia seharusnya

bertingkah laku berdasarkan standar pribadi. Standar dapat berhubungan dengan

tipe orang yang diinginkan atau disukainya atau sejumlah aspirasi, tujuan, nilai

yang ingin diraih. Ideal diri akan mewujudkan cita-cita atau pengharapan diri

berdasarkan norma-norma sosial di masyarakat tempat individu tersebut

melahirkan penyesuaian diri. Pembentukan ideal diri dimulai pada masa kanak-

kanak dipengaruhi oleh orang yang penting pada dirinya yang memberikan

harapan atau tuntutan tertentu. Seiring dengan berjalannya waktu individu

menginternalisasikan harapan tersebut dan dan akan membentuk dasar dari ideal

diri. Pada usia remaja, ideal diri akan terbentuk melalui proses identifikasi pada

orang tua, guru dan teman. Pada usia yang lebih tua akan dilakukan penyesuaian

yang merefleksikan berkurangnya kekuatan fisik dan perubahan peran dan

tanggung jawab.

Individu cenderung menetapkan tujuan yang sesuai dengan kemampuannya,

kultur, realita, menghindari kegagalan dan rasa cemas. Ideal diri harus cukup

tinggi supaya mendukung respek terhadap diri, tetapi tidak terlalu tinggi, terlalu

menuntut, samar-samar atau kabur. Ideal diri berperan sebagai pengatur internal

dan membantu individu mempertahankan kemampuannya menghadapi


konflik atau kondisi yang membuat bingung. Ideal diri penting untuk

mempertahankan kesehatan dan keseimbangan mental.

Faktor-faktor yang mempengaruhi ideal diri:

1) Menetapkan ideal diri sebatas kemampuan.

2) Faktor kultur dibandingkan dengan standar orang lain.

3) Hasrat melebihi orang lain

4) Hasrat untuk berhasil.

5) Hasrat untuk memenuhi kebutuhan realistikhasrat menghindari

kegagalan.

6) Adanya perasaan cemas dan rendah diri. (Suliswati dkk, 2005)

d. Peran diri

Peran adalah serangkaian pola sikap perilaku, nilai dan tujuan yang

diharapkan oleh masyarakat dihubungkan dengan fungsi individu didalam

kelompok sosialnya. Peran memberikan sarana untuk berperan serta dalam

kehidupan sosial dan merupakan cara untuk menguji identitas dengan

memvalidasi pada orang yang berarti. Setiap orang disibukan oleh beberapa peran

yang berhubungan dengan posisi pada tiap waktu sepanjang daur kehidupan.

Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan

cocok dengan ideal diri (Suliswati dkk, 2005).


Faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri individu terhadap peran:

1) Kejelasan perilaku dan pengetahuan yang sesuai dengan peran.

2) Tanggapan yang konsisten dari orang-orang yang berarti terhadap

perannya.

3) Kecocokan dan keseimbangan antar peran yang diembannya.

4) Keselarasan norma budaya dan harapan individu terhadap perilaku.

5) Pemisahan situasi yang akan menciptakan penampilan peran yang tidak

sesuai.

e. Harga diri

Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan

menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri (Stuart & Sudeen, 1998).

Frekuensi tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang

tinggi. Jika individu sering gagal, maka cenderung harga diri rendah. Harga diri

diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Aspek utama adalah dicintai dan

menerima penghargaan dari orang lain (Keliat, 1992).

Karakteristik gangguan harga diri meliputi : tampak atau tersembunyi,

menyatakan kekurangan dirinya, mengekspresikan rasa malu atau bersalah,

menilai diri sebagai individu yang tidak memiliki kesempatan, ragu-ragu untuk

mencoba sesuatu/situasi yang baru, mengingkari masalah yang nyata pada orang

lain, melemparkan tanggung jawab terhadap masalah, mencari alasan untuk

kegagalan diri, sangat sensitive terhadp kritikan, merasa hebat (Stuart, 2007).
Perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah meliputi: mengkritik

diri sendiri atau orang lain, penurunan produktivitas, destruktif yang diarahkan

pada orang lain, gangguan dalam berhubungan, rasa diri penting yang berlebihan,

perasaan tidak mampu, mudah tersinggung atau marah yang berlebihan, perasaan

negative mengenai tubuhnya sendiri, pandangan hidup yang pesimis, kecemasan

(Stuart, 2007).

Harga diri ada 2 macam: harga diri rendah kronis dan harga diri rendah

situasi (Carpenito, 2001).

1) Harga diri rendah kronis adalah suatu kondisi penilaian diri yang negatif

berkepanjangan pada seseorang atas dirinya. Karakteristiknya antara

lain:

Mayor: untuk jangka waktu lama / kronis: Pernyataan negatif atas dirinya,

ekspresi rasa malu / bersalah, penilaian diri seakan-akan tidak mampu

menghadapi kejadian tertentu, ragu-ragu untuk mencoba sesuatu yang

baru.

Minor: Seringnya menemui kegagalan dalam pekerjaan, tergantung pada

pendapat orang lain, presentasi tubuh buruk, tidak asertif bimbang,dan

sangat ingin mencari ketentraman.

2) Harga diri rendah situasional suatu keadaan dimana seseorang memiliki

perasaan-perasaan yang negatif tentang dirinya dalam berespon terhadap

peristiwa (kehilangan, perubahan).


3) Karakteristiknya:

Mayor: Kejadian yang berulang / berkala dari penilaian diri yang negatif dalam

berespon terhadap peristiwa yang pernah dilihat secara positif, menyatakan

perasaan negatif tentang dirinya ( putus asa, tidak berguna).

Minor: Pernyataan negatif atas dirinya, mengekspresikan rasa

mal/bersalah, penilaian diri tidak mampu mengatasi peristiwa/situasi

kesulitan membuat keputusan, mengesolasi diri.

4. Rentang Respons Konsep Diri

Konsep diri terdiri atas lima komponen yaitu perubahan dalam Citra Tubuh,

Ideal Diri, Harga Diri, Peran dan Identitas. Rentang individu terdapat konsep diri

berfluktuasi sepanjang rentang respons konsep diri yaitu adaptif sampai maladaptif.

Rentang Respons Konsep Diri

Respon adaptif respon maladaptif

Aktualisasi Konsep diri Harga diri Kerancuan Depersonal Diri

positif rendah identitas lisasi

Gambar: 2.1 Rentang respon konsep diri (Stuart dan Sudden 1998) Keterangan

a. Aktualisasi diri: pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan

latar belakang pengalaman nyata yang sukses dan dapat diterima.


b. Konsep diri positif: apabila individu mempunyai pengalaman yang positif

dalam beraktualisasi diri dan menyadari hal –hal positif maupun yang

negative dari dirinya.

c. Harga diri rendah: individu cenderung untuk menilai dirinya negative dan

merasa lebih rendah dari orang lain.

d. Identitas kacau: kegagalan individu mengintegrasikan aspek – aspek

identitas masa kanak – kanak ke dalam kematangan aspek psikososial

kepribadian pada masa dewasa yang harmonis.

e. Depersonalisasi: perasaan yang tidak realistis dan asing terhadap diri

sendiri yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat

membedakan dirinya dengan orang lain.

5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri

Faktor-faktor yang mempengaruhi Konsep Diri adalah (Tarwoto & Wartonah, 2003):

a. Tingkat perkembangan dan kematangan

Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan

seseorang manusia dari kecil hingga dewasa. Pengalaman, pola asuh serta

perlakuan orang tua serta lingkunganya turut memberikan pengaruh terhadap

pembentukan Konsep diri. Sikap atau respon dari orang tua dan lingkunganya

akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya.
b. Budaya

Pada usia anak-anak nilai akan diadopsi dari orang tua, kelompok dan

lingkungannya. Orang tua yang bekerja seharian akan membawa anak lebih

dekat pada lingkungannya.

c. Sumber eksternal dan internal

Kekuatan dan perkembangan pada individu sangat berpengaruh terhadap

Konsep Diri. Pada sumber internal misalnya, orang yang humoris koping

individunya lebih efektif. Sumber eksternal misalnya adanya dukungan dari

masyarakat, dan ekonomi yang kuat.

d. Pengalaman sukses dan gagal

Ada kecenderungan bahwa riwayat sukses akan meningkatkan Konsep Diri,

demikian pula sebaliknya.

e. Stresor

Stresor dalam kehidupan misalnya perkawinan, pekerjaan baru, ujian dan

ketakutan. Jika koping individu tidak adekuat maka akan menimbulkan

Depresi, menarik diri, dan kecemasan.

f. Usia, dan trauma

Usia tua akan mempengaruhi persepsi seseorang terhadap dirinya. Semakin

cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang

dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang

lebih dewasa akan lebih mudah percaya dari orang yang belum cukup tinggi

kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan

jiwanya. Makin tua umur


seseorang rnakin konstruktif dalam menggunakan koping terhadap masalah

yang dihadapi. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan akan

merubah perilaku seseorang dalam menghadapi lingkungan disekitarnya,

seseorang akan cenderung tertutup dan koping terhadap masalah tidak efektif

dikarenakan kurangnya komunikasi dengan orang lain.

g. Pendidikan

Faktor pendidikan seseorang sangat menentukan kecemasan, klien dengan

pendidikan tinggi akan lebih mampu mengatasinya dan menggunakan koping

yang efektif serta konstruktif dari pada seseorang dengan pendidikan rendah.

Pendidikan adalah salah satu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan

kemampuan di dalam dan luar sekolah serta berlangsung seumur hidup.

h. Pekerjaan

Seseorang yang mempunyai pekerjaan yang penting dan memerlukan

aktifitas, maka akan merasa sangat terganggu apabila kehilangan kegiatan

pekerjaan, hal ini penyebab timbulnya kecemasan dan akan mempengaruhi

perannya di masyarakat.

i. Status perkawinan

Seseorang yang telah menikah akan lebih mempunyai rasa percaya diri dan

ketenangan dalam melakukan kegiatan, karena mereka pernah mengalami

menjadi bagian dari keluarga, maupun sebagai anggota masyarakat, sehingga

diharapkan dapat memahami keberadaannya.


6. Faktor Resiko Gangguan Konsep Diri

Faktor resiko yang menyebabkan gangguan Konsep Diri (Tarwoto & Wartonah):

a. Gangguan Identitas Diri: perubahan perkembangan, trauma, jenis kelamin

dan budaya.

b. Gangguan Citra Tubuh (body image) hilangnya bagian tubuh, perubahan

perkembangan dan kecacatan.

c. Gangguan Harga Diri: hubungan interpersonal yang tidak harmonis,

kegagalan perkembangan, kegagalan mencapai tujuan hidup dan kegagalan

dalam mengikuti aturan moral.

d. Gangguan Peran: kehilangan peran, peran ganda dan ketidakmampuan dalam

mengikuti aturan moral.

e. Gangguan Ideal Diri: kehilangan harapan, keinginan dan cita-cita.

Daftar Pustaka

Nursalam (2003). Konsep & Penerapan Metodologi Ilmu Keperawatan.Medika Salemba:


Jakarta
Stuart dan Sudden. (1995). Buku Saku Keperawatan Jiwa (Edisi 3)”Terjemahan oleh Achir
Yani S Hamid. 1998, EGC. Jakarta
http://eprints.ums.ac.id/20503/20/NASKAH_PUBLIKASI.pdf
KESEHATAN SPIRITUAL

Indah Nopiyanti 1610711023


Tia Amelia Agustin 1610711031

A. Kebutuhan Spiritualitas
1. Konsep Spiritual
a. Definisi
Spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Yang Maha Kuasa
dan Maha Pencipta, sebagai contoh seseorang yang percaya kepada Allah
sebagai Pencipta atau sebagai Maha Kuasa. Spiritualitas mengandung
pengertian hubungan manusia dengan Tuhannya dengan menggunakan
instrumen (medium) sholat, puasa, zakat, haji, doa dan sebagainya (Hawari,
2002).
b. Aspek spiritualitas
Menurut Burkhardt (dalam Hamid, 2000) spiritualitas meliputi aspek sebagai
berikut:
1) Berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidakpastian
dalam kehidupan
2) Menemukan arti dan tujuan hidup
3) Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan
dalam diri sendiri
4) Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan Yang
Maha Tinggi.
c. Dimensi spiritual
Dimensi spiritual merupakan salah satu dimensi penting yang perlu
diperhatikan oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada
seorang klien. Keimanan atau keyakinan religius adalah sangat penting dalam
kehidupan personal individu. Keyakinan tersebut diketahui sebagai suatu faktor
yang kuat dalam penyembuhan dan pemulihan fisik (Hamid, 2000).
Oleh karena itu, menjadi suatu hal penting bagi perawat untuk
meningkatkan pemahaman tentang konsep spiritual agar dapat memberikan
asuhan spiritual dengan baik kepada klien. Setiap individu memiliki definisi dan
konsep yang berbeda mengenai spiritualitas. Kata-kata yang digunakan untuk
menjabarkan spiritualitas termasuk makna, transenden, harapan, cinta, kualitas,
hubungan, dan eksistensi (Potter & Perry, 2005).
Spiritualitas sebagai konsep dua dimensi. Dimensi vertikal adalah
hubungan dengan Tuhan atau Yang Maha Tinggi yang menuntun kehidupan
seseorang, sedangkan dimensi horizontal adalah hubungan seseorang dengan
diri sendiri, dengan orang lain dan dengan lingkungan. Terdapat hubungan yang
terus menerus antara dua dimensi tersebut (Hawari, 2002).

2. Kebutuhan spiritual
Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau mengembalikan
keyakinan dan rnemenuhi kewajiban agamas serta kebutuhan untuk mendapatkan
maaf atau pengampunan, mencintai, menjalin hubungan penuh rasa percaya dengan
Tuhan. Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan mencari arti dan tujuan hidup,
kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, serta kebutuhan untuk memberikan dan
mendapatkan maaf (Kozier, 2004). Menginventarisasi 10 butir kebutuhan dasar
spiritual manusia (Clinebell dalam Hawari, 2002), yaitu :
a. Kebutuhan akan kepercayaan dasar (basic trust), kebutuhan ini secara terus-
menerus diulang guna membangkitkan kesadaran bahwa hidup ini adalah
ibadah.
b. Kebutuhan akan makna dan tujuan hidup, kebutuhan untuk menemukan makna
hidup dalam membangun hubungan yang selaras dengan Tuhannya (vertikal)
dan sesama manusia (horisontat) serta alam sekitarnya
c. Kebutuhan akan komitmen peribadatan dan hubungannya dengan keseharian,
pengalaman agama integratif antara ritual peribadatan dengan pengalaman
dalam kehidupan sehari-hari.
d. Kebutuhan akan pengisian keimanan dengan secara teratur mengadakan
hubungan dengan Tuhan, tujuannya agar keimanan seseorang tidak melemah.
e. Kebutuhan akan bebas dari rasa bersalah dan dosa. rasa bersaiah dan berdosa
ini merupakan beban mental bagi seseorang dan tidak baik bagi kesehatan jiwa
seseorang.
f. Kebutuhan akan penerimaan diri dan harga diri {self acceptance dan self
esteem), setiap orang ingin dihargai, diterima, dan diakui oleh lingkungannya.
g. Kebutuhan akan rasa aman, terjamin dan keselamatan terhadap harapan masa
depan.
h. Kebutuhan akan dicapainya derajat dan martabat yang makin tinggi sebagai
pribadi yang utuh. Di hadapan Tuhan, derajat atau kedudukan manusia
didasarkan pada tingkat keimanan seseorang. Apabila seseorang ingin agar
derajatnya lebih tinggi dihadapan Tuhan maka dia senantiasa menjaga dan
meningkatkan keimanannya.
i. Kebutuhan akan terpeliharanya interaksi dengan alam dan sesama manusia.
Manusia hidup saling bergantung satu sama lain. Oleh karena itu, hubungan
dengan orang disekitarnya senantiasa dijaga. Manusia juga tidak dapat
dipisahkan dari lingkungan alamnya sebagai tempat hidupnya. Oleh karena itu
manusia mempunyai kewajiban untuk menjaga dan melestarikan alam ini.
j. Kebutuhan akan kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan nilainilai
religius. Komunitas keagamaan diperlukan oleh seseorang dengan sering
berkumpul dengan orang yang beriman akan mampu meningkatkan iman orang
tersebut.

3. Pola normal spiritual


Pola normal spiritual sangat erat hubungannya dengan kesehatan, Karena
dari pola tersebut dapat menciptakan suatu bentuk perilaku adaptif ataupun
maladaptif berhubungan dengan penerimaan kondisi diri. Carson (2002)
menyatakan bahwa keimanan atau keyakinan religius adalah sangat penting
dalam kehidupan personal individu. Lebih lanjut dikatakannya bahwa keimanan
diketahui sebagai suatu faktor yang sangat kuat (powerful) dalam penyembuhan
dan pemulihan fisik, yang tidak dapat diukur. Mengingat pentingnya peranan
spiritual dalam penyembuhan dan pemulihan kesehatan maka penting bagi
perawat untuk meningkatkan pemahaman tentang konsep spiritual agar dapat
memberikan asuhan spiritual dengan baik kepada semua klien.

4. Perkembangan Aspek Spiritual


Perawat yang bekerja di garis terdepan harus mampu memenuhi semua kebutuhan
manusia termasuk juga kebutuhan spiritual klien. Berbagai cara dilakukan perawat
untuk memenuhi kebutuhan klien mulai dari pemenuhan makna dan tujuan spiritual
sampai dengan memfasilitasi klien untuk mengekspresikan agama dan
keyakinannya. Pemenuhan aspek spiritual pada klien tidak terlepas dari pandangan
terhadap lima dimensi manusia yang harus dintegrasikan dalam kehidupan. Lima
dimensi tersebut yaitu dimensi fisik, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual.
Dimensi-dimensi tersebut berada dalam suatu sistem yang saling berinterksi,
interrelasi, dan interdepensi, sehingga adanya gangguan pada suatu dimensi dapat
mengganggu dimensi lainnya (Carson, 2002) Perawat harus mengetahui tahap
perkembangan spiritual dari manusia, sehingga perawat dapat memberikan asuhan
keperawatan dengan tepat dalam rangka memenuhi kebutuhan spiritual klien.
Tahap perkembangan klien dimulai dari lahir sampai klien meninggal dunia.

B. Peran Perawat Dalam Pemenuhan Kebutuhan Spiritual


Menurut Undang-undang Kesehatan No.23 tahun 1992 bahwa Perawat adalah
mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan
berdasarkan ilmu yang dimilikinya yang diperoleh melalui pendidikan keperawatan.
Perawat dapat melakukan beberapa hal yang dapat membantu kemampuan
untuk memenuhi kebutuhan klien, diantaranya : Menciptakan rasa kekeluargaan dengan
klien, berusaha mengerti maksud klien, berusaha untuk selalu peka terhadap ekspresi
non verbal, berusaha mendorong klien untuk mengekspresikan perasaannya, berusaha
mengenal dan menghargai klien.
Menurut Andrew dan Boyle (2002) pemenuhan kebutuhan spiritual
memerlukan hubungan interpersonal, oleh karena itu perawat sebagai satu-satunya
petugas kesehatan yang berinteraksi dengan pasien selama 24 jam maka perawat adalah
orang yang tepat untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien.
Peran perawat dalam pemenuhan kebutuhan spiritual pasien merupakan bagian
dari peran dan fungsi perawat dalam pemberian asuhan keperawatan. Untuk itu
diperlukan sebuah metode ilmiah untuk menyelesaikan masalah keperawatan, yang
dilakukan secara sitematis yaitu dengan pendekatan proses keperawatan yang diawali
dari pengkajian data, penetapan diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi.
Berikut ini akan diuraikan mengenai proses keperawatan pada aspek spiritual (Hamid,
2000):
1. Pengkajian
Ketepatan waktu pengkajian merupakan hal yang penting yaitu dilakukan
setelah pengkajian aspek psikososial pasien. Pengkajian aspek spiritual
memerlukan hubungan interpersonal yang baik dengan pasien. Oleh karena itu
pengkajian sebaiknya dilakukan setelah perawat dapat membentuk hubungan yang
baik dengan pasien atau dengan orang terdekat dengan pasien, atau perawat telah
merasa nyaman untuk membicarakannya. Pengkajian yang perlu dilakukan
meliputi:
a. Pengkajian data subjektif
Pedoman pengkajian yang disusun oleh Stoll (dalam Kozier, 2005) mencakup
(a) konsep tentang ketuhanan, (b) sumber kekuatan dan harapan, (c) praktik
agama dan ritual, dan (d) hubungan antara keyakinan spiritual dan kondisi
kesehatan.
b. Pengkajian data objektif
Pengkajian data objektif dilakukan melalui pengkajian klinik yang meliputi
pengkajian afek dan sikap, perilaku, verbalisasi, hubungan interpersonal dan
lingkungan. Pengkajian data objektif terutama dilakukan melalui observasi,
Pengkajian tersebut meliputi:
1) Afek dan sikap
Apakah pasien tampak kesepian, depresi, marah, cemas, agitasi, apatis atau
preokupasi?
2) Perilaku
Apakah pasien tampak berdoa sebelum makan, membaca kitab suci atau
buku keagamaan? dan apakah pasien seringkali mengeluh, tidak dapat tidur,
bermimpi buruk dan berbagai bentuk gangguan tidur lainnya, serta bercanda
yang tidak sesuai atau mengekspresikan kemarahannya terhadap agama?
3) Verbalisasi
Apakah pasien menyebut Tuhan, doa, rumah ibadah atau topik
keagamaan lainnya?, apakah pasien pernah minta dikunjungi oleh pemuka
agama? dan apakah pasien mengekspresikan rasa takutnya terhadap
kematian?
4) Hubungan interpersonal
Siapa pengunjung pasien? bagaimana pasien berespon terhadap
pengunjung? apakah pemuka agama datang mengunjungi pasien? Dan
bagaimana pasien berhubungan dengan pasien yang lain dan juga dengan
perawat?
5) Lingkungan
Apakah pasien membawa kitab suci atau perlengkapan ibadah lainnya?
apakah pasien menerima kiriman tanda simpati dari unsur keagamaan dan
apakah pasien memakai tanda keagamaan (misalnya memakai jilbab?).

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang berkaitan dengan masalah spiritual menurut North
American Nursing Diagnosis Association adalah distres spiritual (NANDA, 2006).
Menurut North American Nursing Diagnosis Association (NANDA, 2006) batasan
karakteristik dari diagnosa keperawatan distres spiritual adalah
1) berhubungan dengan diri, meliputi; pertama mengekspresikan kurang dalam
harapan, arti dan tujuan hidup, kedamaian, penerimaan, cinta, memaafkan
diri, dan keberanian. Kedua marah, ketiga rasa bersalah, dan keempat
koping buruk.
2) Berhubungan dengan orang lain, meliputi; menolak berinteraksi dengan
pemimpin agama, menolak berinteraksi dengan teman dan keluarga,
mengungkapkan terpisah dari sistem dukungan, mengekspresikan terasing.
3) Berhubungan dengan seni, musik, literatur dan alam, meliputi; tidak mampu
mengekspresikan kondisi kreatif (bernyanyi, mendengar / menulis musik),
tidak ada ketertarikan kepada alam, dan tidak ada ketertarikan kepada
bacaan agama.
4) Berhubungan dengan kekuatan yang melebihi dirinya, meliputi; tidak
mampu ibadah, tidak mampu berpartisipasi 'alam aktifitas agama,
mengekspresikan ditinggalkan atau marah kepada Tuhan, tidak mampu
untuk mengalami transenden, meminta untuk bertemu pemimpin agama,
perubahan mendadak dalam praktek keagamaan, tidak mampu introspeksi
dan mengalami penderitaan tanpa harapan.
Menurut North American Nursing Diagnosis Association (NANDA, 2006) faktor yang
berhubungan dari diagnosa keperawatan distress spiritual adalah; mengasingkan diri,
kesendirian atau pengasingan sosial, cemas, deprivasi/kurang sosiokultural, kematian dan
sekarat diri atau orang lain, nyeri, perubahan hidup, dan penyakit kronis diri atau orang lain.
3. Perencanaan
Setelah diagnosa keperawatan dan faktor yang berhubungan teridentifikasi,
selanjutnya perawat dan pasien menyusun kriteria hasil dan rencana intervensi.
Tujuan asuhan keperawatan pada pasien dengan distres spiritual difokuskan pada
menciptakan lingkungan yang mendukung praktek keagamaan dan kepercayaan
yang biasanya dilakukan. Tujuan ditetapkan secara individual dengan
mempertimbangkan riwayat pasien, area beresiko, dan tanda-tanda disfungsi serta
data objektif yang relevan.
Menurut (Kozier, 2005) perencanaan pada pasien dengan distres spiritual
dirancang untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien dengan:
1) membantu pasien memenuhi kewajiban agamanya,
2) membantu pasien menggunakan sumber dari dalam dirinya dengan cara
yang lebih efektif untuk mengatasi situasi yang sedang dialami,
3) membantu pasien mempertahankan atau membina hubungan personal yang
dinamik dengan Maha Pencipta ketika sedang menghadapi peristiwa yang
kurang menyenangkan,
4) membantu pasien mencari arti keberadaannya dan situasi yang sedang
dihadapinya,
5) meningkatkan perasaan penuh harapan, dan
6) memberikan sumber spiritual atau cara lain yang relevan.

4. Implementasi
Pada tahap implementasi, perawat menerapkan rencana intervensi dengan
melakukan prinsip-prinsip kegiatan asuhan keperawatan sebagai berikut :
1) periksa keyakinan spiritual pribadi perawat,
2) fokuskan perhatian pada persepsi pasien terhadap kebutuhan spiritualnya,
3) jangan beranggapan pasien tidak mempunyai kebutuhan spiritual,
4) mengetahui pesan non verbal tentang kebutuhan spiritual pasien,
5) berespon secara singkat, spesifik, dan aktual,
6) mendengarkan secara aktif dan menunjukkan empati yang berarti
menghayati masalah pasien,
7) membantu memfasilitasi pasien agar dapat memenuhi kewajiban agama,
8) memberitahu pelayanan spiritual yang tersedia di rumah sakit.
Pada tahap implementasi ini, perawat juga harus memperhatikan 10 butir kebutuhan
dasar spiritual manusia seperti yang disampaikan oleh Clinebell (Hawari, 2002) yang
meliputi:
1) kebutuhan akan kepercayaan dasar,
2) kebutuhan akan makna dan tujuan hidup,
3) kebutuhan akan komitmen peribadatan dan hubungannya dengan keseharian,
4) kebutuhan akan pengisian keimanan dengan secara teratur mengadakan hubungan
dengan Tuhan
5) kebutuhan akan bebas dari rasa bersalah dan dosa,
6) kebutuhan akan penerimaan diri dan harga diri,
7) kebutuhan akan rasa aman terjamin dan keselamatan terhadap harapan masa depan,
8) kebutuhan akan dicapainya derajat dan martabat yang makin. tinggi sebagai pribadl
yang utuh,
9) kebutuhan akan terpeliharanya interaksi dengan alam dan sesama manusia,
10) kebutuhan akan kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan nilainilai religius.
Perawat berperan sebagai communicator bila pasien menginginkan untuk bertemu
dengan petugas rohaniawan atau bila menurut perawat memerlukan bantuan rohaniawan
dalam mengatasi masalah spirituahiya. Menurut McCloskey dan Bulechek (2006) dalam
Nursing Interventions Classification (NIC), intervensi keperawatan dari diagnosa distres
spiritual salah satunya adalah support spiritual. Definisi support spiritual adalah membantu
pasien untuk merasa seimbang dan berhubungan dengan kekuatan Maha Besar. Adapun
aktivitasnya meliputi :
1) buka ekspresi pasien terhadap kesendirian dan ketidakberdayaan,
2) beri semangat untuk menggunakan sumber-sumber spiritual, jika diperlukan,
3) siapkan artikel tentang spiritual, sesuai pilihan pasien,
4) tunjuk penasihat spiritual pilihan pasien,
5) gunakan teknik klarifikasi nilai untuk membantu pasien mengklarifikasi
kepercayaan dan nilai, jika diperlukan,
6) mampu untuk mendengar perasaan pasien,
7) berekspersi empati dengan perasaan pasien,
8) fasilitasi pasien dalam meditasi, berdo'a dan ritual keagamaan lainnya,
9) dengarkan dengan baik-baik komunikasi pasien, dan kembangkan rasa
pemanfaatan waktu untuk berdo'a atau ritual keagamaan,
10) yakinkan kepada pasien bahwa perawat akan dapat mensupport pasien ketika
sedang menderita, (McCloskey dan Bulechek, 2006).

5. Evaluasi
Untuk mengetahui apakah pasien telah mencapai kriteria hasil yang ditetapkan pada fase
perencanaan, perawat perlu mengumpulkan data terkait dengan pencapaian tujuan asuhan
keperawatan. Tujuan asuhan keperawatan tercapai apabila secara umum pasien :
1) mampu beristirahat dengan tenang,
2) mengekspresikan rasa damai berhubungan dengan Tuhan,
3) menunjukkan hubungan yang hangat dan terbuka dengan pemuka agama,
4) mengekspresikan arti positif terhadap situasi dan keberadaannya, dan
5) menunjukkan afek positif, tanpa rasa bersalah dan kecemasan.
KONSEP SEKSUALITAS

Ziya Daturrahmah 1610711013


Noer Aeni Zam Zam Mia 1610711016

Seks adalah topik yang sudah lama dianggap tabu untuk diperbincangkan dengan orang
dewasa. secara bertahap lebih dari 30 sampai 50 tahun pengetahuan tentang seks dan
pembicaraan tentang masalah seksualitas telah dikenal sebagai hal yang penting dan perlu bagi
perkembangan manusia. Sejak pertengahan tahun 1960-an tenaga perawatan kesehatan telah
mengenali keerkaitan kesehatan seksual sebagai komponen kesejahteraan. Meskipun demikian,
banyak klien dewasa yang kurang memiliki pengetahuan tentang seksualitas atau enggan
mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan seksualitas. Misalnya, kekhawatiran
mencakup hal tentang melakukan kembali hubungan seksual setelah melahirkan, kenormalan
perkembangan dan ansietas terhadap efek medikasi antihipertensif pada fungsi seksual.
Mengawali diskusi tentang topik seksual yang relevan dalam perkembangan dan status
kesehatan terakhir klien adalah bagian dari peran pembantu dan fungsi pengajaran pelatihan
perawat. Permulaan seperti ini dapat membantu klien merasa lebih nyaman dan
mengungkapkan perhatiannya. Namun demikian, banyak pemberi perawatan kesehatan kurang
mengetahui, merasa nyaman, dan kurang percaya diri dalam mengemukakan masalah seksual.
Untuk mendiskusikan masalah seksualitas dalam praktik, pemberi perawatan harus mempunyai
dasar pengetahuan yang diperlukan, keterampilan dalam pengkajian dan komunikasi dan sikap
merawat yang sensitif.
Penting juga bahwa pemberi perawatan mengenali bahwa masalah seksual mempunyai
nilai. pengaruh penyuluhan keagamaan, peran jender yang diharuskan secara kultural,
keyakinan tentang orientasi seksual, pengaruh sosial dan lingkungan masa lalu dan saat ini
memperaruhi sistem nilai baik dari pihak pemberi perawatan maupun klien. Mengenali nilai
dan bias seksual serta mendapatkan pengetahuan tentang masalah seksual dapat memperluas
pemahaman tentang batas normal perilaku seksual dan memberdayakan pemberi perawatan
kesehatan untuk lebih efektif dan memperhatikan dalam bekerja dengan klien.

Konsep Tentang Seksualitas


Seksualitas sulit untuk di definisikan karena seksualitas memiliki banyak aspek
kehidupan kita dan diekspresikan melalui beragam perilaku. Seksualitas bukan semata-mata
bagian intrinsik dari seseorang tetapi juga meluas sampai berhubungan dengan orang lain.
Keintiman dan kebersamaan fisik merupakan kebutuhan sosial dan biologis sepanjang
kehidupan. Kesehatan seksual telah didefinisikan sebagai perintregrasian aspek somatik
emosional intelektual dan social dari kehidupan seksual dengan cara yang positif memperkaya
dan meningkatkan kepribadian, komunikasi, dan cinta.
Banyak orang salah berpikir tentang seksualitas hanya dalam istilah seks. Seksualitas
dan seks bagaimanapun adalah sesuatu hal yang berbeda seks sering digunakan dalam 2 cara.
Paling umum seks digunakan untuk mengacu pada bagian fisik dari berhubungan, yaitu
aktivitas seksual genital. Seks juga digunakan untuk memberlebel jender, baik sesorang itu pria
atau wanita. Seksualitas dilain pihak adalah istilah yang lebih luas seksualitas diekspresikan
melalui interaksi dan hubungan dengan individu dari jenis kelamin yang berbeda dan atau sama
dan mencakup pikiran, pengalaman, pelajaran, ideal, nilai, fantasi, dan emosi. Seksualitas
berhubungan dengan bagaimana seorang merasa tentang diri mereka dan bagaimana mereka
mengomunikasikan perasaan tersebut kepada orang lain melalui tindakan yang dilakukannya,
seperti sentuhan, ciuman, pelukan, dan senggama seksual dan perilaku yang lebih halus, seperti
isyarat gerak tubuh, etiket berpakaian, dan perbendaharaan kata. Seksualitas mempengaruhi
dan dipengaruhi oleh pengalaman hidup ini sering berbeda antara pria dan wanita (Denney dan
Quadagno, 1992; Zawid, 1994).

Dimensi Seksualitas
1. Dimensi Sosiokultural
Seksualitas dipengaruhi oleh norma dan peraturan kultural yang menentukan
apakah perilaku yang diterima di dalam kultur. Keragaman kultural secara
global menciptakan variabilitas yang sangat luas dalam norma seksual dan
menghadirkan spektrum tentang keyakinan dan nilai yang luas. Misalnya
termasuk cara dan perilaku yang diperbolehkan selama berpacaran, apa yang
di anggap merangsang, tipe aktivitas seksual, sanksi dan larangan dalam
perilaku seksual, dengan siapa seseorang menikah dan siapa yang izinkan
untuk menikah. Sirkumsisi adalah contoh tradisi seksual kultural. Sirkumsisi
pria adalah pengangkatan prepusium atau kulup diatas glans penis.
Sirkumsisi pada wanita adalah suatu warisan tradisi yang sangat lekat dalam
budaya pada beberapa negara. Tindakan ini sering disebut sebagai mutilasi
genital wanita.
Perilaku seksual sangat serupa dengan perilaku sosial lainnya, yaitu, seseorang
akan berperilaku sesuai dengan mereka dihargai untuk berperilaku. Mereka cenderung
“bermain sesuai aturan” ketika memilih seseorang untuk dinikahi. Bagaimana
seseorang memahami aspek dunia mereka bergantung pada siapa mereka secara sosial
dan dalam lingkungan sosial seperti apa mereka tinggal. Lingkungan atau masyarakat
dan agama tertentu mendorong atau melarang pola seksualitas tertentu. Kehidupan
seksualitas melekat erat dalam kehidupan sosial yang memberikan kesempatan dan
batasan. Misalnya, pasangan hidup bisa diterima oleh orang terdekat. Sebagai akibat
orang tersebut cenderung menikah dengan orang yang usia, pendidikan, ras, agama, dan
status sosialnya hampir sama. Tampaknya kebebasan untuk menemukan seseorang
yang menjadi impian hanya mitos; dalam kenyataannya, sebagian besar orang
“menemukan” hanya kelompok yang sudah diharuskan yaitu kelompok sosiokultural
mereka sendiri (Michael etal, 1994).
Secara ringkas, setiap masyarakat memainkan peran yang sangat kuat dalam
membentuk nilai dan sikap seksual, juga dalam membentuk atau menghambat
perkembangan dan ekspresi seksual anggotanya. Setiap kelompok sosial mempunyai
aturan dan norma sendiri yang memandu perilaku anggotanya. Peraturan ini menjadi
bagian integral dari cara berpikir individu yang menggarisbawahi perilaku seksual,
termasuk, misalnya saja, bagaimana seseorang menemukan pasangan hidupnya,
seberapa sering merekamelakukan hubungan seks, dan apa yang mereka lakukan ketika
mereka berhubungan seks.
2. Dimensi Agama dan Etik
Seksualitas juga berkaitan dengan standar pelaksanaan agama dan etik. Ide
tentang pelaksanaan seksual etik dan emosi yang berhubungan dengan
seksualitas membentuk dasar untuk pembuatan keputusan seksual. Spektrum
sikap yang ditunjukan pada seksualitas direntang dari pandangan tradisional
tentang hubungan seks yang hanya dalam perkawinan sampai sikap yang
memperbolehkan individu menentukan apa yang benar bagi dirinya.
Keputusan seksual yang melewati batas kode etik individu dapat
mengakibatkan konflik internal.
3. Dimensi Psikologis
Seksualitas bagaimana pun mengandung perilaku yang dipelajari. Apa yang
sesuai dan dihargai dipelajari sejak dini dalam kehidupan dengan mengamati
perilaku orangtua. Orangtua biasanya mempunyai pengaruh signifikan
pertama pada anak-anaknya. Mereka sering mengajarkan tentang seksualitas
melalui komunikasi yang halus dan nonverbal. Seseorang memandang diri
mereka sebagai makhluk seksual berhubungan dengan apa yang telah
orangtua mereka tunjukan kepada mereka tentang tubuh dan tindakan
mereka. Orangtua memperlakukan anak laki-laki dan perempuan secara
berbeda berdasarkan jender.
4. Dimensi Biologis
Seksualitas berkaitan dengan pebedaan biologis antara laki-laki dan
perempuan yang ditentukan pada masa konsepsi. Material genetic dalam
telur yang telah dibuahi terorganisir dalam kromosom yang menjadikan
perbedaan seksual. Ketika hormon seks mulai mempengaruhi jaringan janin,
genitalia membentuk karakteristik laki-laki dan perempuan. Hormon
mempengaruhi individu kembali saat pubertas, dimana anak perempuan
mengalami menstruasi dan perkembangan karakteristik seks sekunder, dan
anak laki-laki mengalami pembentukan spermatozoa (sperma) yang relatif
konstan dan perkembangan karakteristik seks sekunder.

Sikap Terhadap Kesehatan Seksual


1. Sikap Seksual Klien
Semua orang mempunyai keyakinan pribadi dan keinginan yang berkaitan
dengan seksualitas yang didapat sepanjang hidupnya. Pengalaman ini dapat
membuat mudah bagi klien untuk berhadapan dengan masalah seksual dalam
ligkungannya perawatan kesehatan atau dapat menghambat klien untuk
mengekspresikannya. Beberapa klien mungkin binggung tentang sistem nilai
seksual mereka dan karenanya mengalami perasaan ambigu atau
menegangkan ketika menghadapi seksualitas mereka sendiri.
Mereka mungkin menganggap perawat sebagai seseorang dengan
kedisiplinan, kesucian, kebersihan. Karena perawat mempunyai hak unuk
menyentuh tubuh klien yang dirawat di rumah sakit. Klien mungkin khawatir
tentang efek intervensi keperawatan terhadap kemampuan perawatan diri
dan aktivitas seksual mereka. Suatu cedera atau penyakit dapat menyebabkan
perubahan dalam cara seseorang mengekspresikan diri mereka secara
seksual.
2. Sikap Perawat Terhadap Seksualitas
Perawat dapat menghadapi sikap personal dengan menerima keberadaan
mereka, menggali sumber mereka dan menemukan cara untuk bekerja
dengan mereka. Perawat mungkin menemukan kesulitan untuk tidak
menghakimi seksualitas klien ketika orientasi/nilai seksual klien berbeda.
Dengan berupaya untuk mengubah sikap dan perilaku seksual klien akan
mengabaikan perbedaan mendasar dalam sikap diantara manusia.

Perkembangan Seksualitas
1. Masa Bayi
Baik bayi perempuan maupun bayi laki-laki dilahirkan dengan kapasitas
untuk kesenangan dan respons seksual. Genitalia bayi sensitif terhadap
sentuhan sejak lahir. Dengan stimulasi bayi laki-laki berespons dengan
ereksi penis dan bayi perempuan dengan lubrikasi vaginal. Anak laki-laki
juga mengalami ereksi noktural spontan melalui stimulasi. Perilaku
danrespons ini tidak berhubungan dengan kontak psikologis erotik seperti
pada masa pubertas atau masa dewasa tetapi lebih pada perilaku
pembelajaran normal dalam membentuk rasa diri. Respons orang tua
terhadap perilaku eksploratori ini dapat membentuk arah dari perkembangan
seksual, edukasi, dan kenyamanan dalam menghadapi seksualitas di rumah.
Orang tua harus mau menerima perilaku eksplorasi bayi sebagai langkah
perkembangan identitas diri yang positif. Dengan memberikan bentuk stimulasi taktil
lainnya melalui menyusu, memeluk, dan menyentuh atau membuai, membantu bayi
dalam mendefinisikan pengalaman kesenangan dan kenyamanan melalui interaksi
manusia dan dari kontak tubuh. Sentuhan dan tubuh manusia mulai mendapat definisi
sebagai hal yang “baik”.
2. Masa Usia Bermain dan Prasekolah
Anak dari usia 1 sampai 5 atau 6 tahun menguatkan rasa identitas jender
dan mulai membedakan perilaku sesuai jender yang didefinisika secara
sosial. Proses pembelajaran ini terjadi dalam perjalanan interaksi normal
orang dewasa-anak dari boneka yang diberikan kepada anak, pakaian yang
dikenakan, permainan yang dimainkan, dan respons yang dihargai. Anak
juga mengamati perilaku orang dewasa, mulai untuk menirukan tindakan
orang tua yang berjenis kelamin sama, dan mempertahankan atau
memodifikasi perilaku yang didasarkan pada umpan balik orang tua.
Eksplorasi tubuh terus berlanjut dalam kelompok usia ini. Eksplorasi dapat
mencakup mengelus diri sendiri, manipulasi genital; memeluk boneka, hewan
peliharaan, atau orang di sekitar mereka; dan percobaan sensual lainnya. Sementara
mempelajari bahwa tubuh itu baik dan bahwa stimulasi tertentu itu menyenangkan,
anak dapat juga diajarkan tentang perbedaan perilaku yang bersifat pribadi versus
publik. Permainan dengan pasangan jenis kelamin dapat ditangani dengan cara seperti
apa adanya. Orang tua dapat menginterpretasi rasa keingintahuan yang ditunjukan
sebagai suatu indikasi yang menandakan bahwa anak telah siap untuk belajar tentang
perbedaan dan nama-nama yang sesuai untuk genitalia perempuan dan lak-laki.
Pertanyaan tentang dari mana bayi berasal atau perilaku seksual yang diamati
oleh anak harus dijelaskan dengan terbuka, jujur, dan sederhana. Bahkan jika
pertanyaan tidak dijawab, kesempatan pembelajaran harus tetap diberikan melalui
menunjuk pada wanita yang sedang hamil atau perilaku hewan di kebun binatang atau
melaui diskusi tentang seksualitas sebagai tindak lanjut dari cerita atau program televisi
yang melibatkan topik ini.
3. Masa Usia Sekolah
Bagi anak-anak dari usia 6 sampai 10 tahun, edukasi dan penekanan tentang
seksualitas datang dari orang tua dan gurunya tetapi lebih signifikan dari
kelompok teman sebayanya. Masyarakat Amerika Utara mendefinisikan
rentang yang luas tentang perilaku yang diterima bagi anak gadis dan anak
laki-laki (mis. kedua jenis kelamin ikut serta dalam aktifitas memasak dan
kerajinan kayu). Orang tua dan tenaga perawatan kesehatan dapat
mendorong perilaku yang diterima secara sosial tanpa menerapakan label
maskulin atau feminin.
Anak-anak usia sekolah sepertinya akan terus melanjutkan perilaku stimulasi
diri. Orang tua dan anak-anak dapat diinformasikan bahwa masturbasi tidak
mempunyai efek fisik atau emosional yang membahayakan. Penjelasan
tentang waktu, tempat, dan hubungan yang sesuai untuk ekspresi seksual
juga dapat juga diberikan dalam konteks nilai dan rasional yang mendasari
keyakinan.
Anak-anak dalam kelompok usia ini akan terus mengajukan pertanyaan
tentang seks dan menunjukkan kemandirian mereka dengan menguji
perilaku yang sesuai. Batas pengujian mungkin ditunjukkan dengan
menggunakan kata-kata kotor atau menceritakan guyonan dengan konotasi
seksual sambil mengamati orang dewasa. Pengujian batas seksual juga
berarti mengidentifikasi ekspresi yang sesuai tentang seksualitas dan
kesempatan yang dapat digunakan orang tua untuk mengeksplorasi
pertanyaan dan perhatian anak.
Anak-anak juga mempunyai keinginan dan kebutuhan privasi. Sampai usia
10 tahun, banyak anak gadis dan sebagian anak laki-laki sudah mulai
mengalami sebagian dari perubahan pubertas. Sebagaimana anak memasuki
pubertas, tubuh mereka berubah dan mereka mengalami peningkatan
kesopanan. Mereka membutuhkan informasi yang akurat dari rumah dan
sekolah tentang perubahan tubuh selama periode ini. Hal ini memungkinkan
anak-anak untuk mendapatkan informasi dan mengajukan pertanyaan
sebelum mereka mempunyai kekuatiran pribadi mengenai kenormalan dan
oleh karenanya mereka tidak merasa mempunyai ancaman untuk bertanya.
Pengetahuan dapat juga menurunkan ansietas tentang pubertas ketika
seorang anak yang tidak diinformasikan mungkin takut tentang menstruasi
atau emisi noktural dan menganggap kejadian tersebut sebagai penyakit yang
menakutkan.
Sampai usia sekolah dini, anak harus juga diberi informasi untuk berhati-hati
terhaadap potensial penganiayaan seksual. Banyak sekolah yang sudah mulai
memasukkan pokok bahasan ini ke dalam kurikulum mereka. Orang tua
harus didorong untuk menelaah materi ini untuk mendapatkan kebenarannya
dan memberikan tindakan lanjut. Anak-anak yang sangat kecil dapat
diajarkan tentang perbedaan antara sentuhan yang baik dan sentuhan yang
buruk dan tentang bagian tubuh tertentu biasannya tidak disentuh oleh orang
dewasa kecuali saat mandi atau selama pemeriksaan fisik. Anak-anak harus
diberi tahu bahwa jika mereka merasa tidak nyaman tentang cara mereka
disentuh, mereka harus mengatakan tidak dan menceritakan kepada orang
dewasa yang mereka percaya tentang kejadian ini. Cara lain untuk
membatasi potensi penyiksaan seksual adalah termasuk menyuluh anak-anak
bahwa keluarga tidak harus merahasiakan (kecuali kejutan pada hari ulang
tahun atau kejadian lain yang waktunya terbatas), bahwa orang dewasa tidak
selalu benar, dan bahwa semua orang harus mempunyai kontrol terhadap
tubuh mereka dan dapat memutuskan siapa yang boleh memeluk mereka.
Jika terjadi penganiayaan seksual, anak yang merasa leluasa menceritakan
tentang tubuhnya akan dengan akurat menggambarkan kejadian yang
dialami. Pada saat tersebut anak harus diyakinkan bahwa orang dewasa yang
melakukannya adalah orang yang salah atau melakukan sesuatu yang buruk
dan bahwa anak tersebut tidak bersalah. Respons orang tua juga dapat
menjadi hal yang sangat penting untuk bagaimana anak mengatasi efek
sesudah penganiayaan seksual. Orang tua harus didorong untuk berupaya
mengontrol ekspresi emosional di depan anak dan, yang juga perlu adalah
menyalurkan marah dan frustasi dan mencari dukungan dari orang dewasa
lainnya.
4. Pubertas dan Masa Remaja
Kaitan pubertas pada anak gadis biasanya ditandai dengan perkembangan
payudara. Setelah pertumbuhan awal jaringan payudara, puting dan areola
ukurannya meningkat. Proses ini yang sebagian dikontrol oleh hereditas,
mulai pada paling muda usia 8 tahun dan mungkin tidak komplet sampai
akhir usia 10 tahunan. Kadar estrogen yang meningkat juga mulai
mempengaruhi genital. Uterus mulai membesar, dan terjadi peningkatan
lubrikasi vaginal, hal tersebut dapat terjadi secara spontan atau akibat
perangsangan eksual. Vagina memanjang, dan rambut pubis dan aksila mulai
tumbuh. Menarke sangat bervariasi. Menarke dapat terjadi secepatnya pada
usia 8 tahun dan tidak sampai usia 16 tahun atau lebih. Meskipun siklus
menstruasi pada awalnya tidak teratur dan ovulasi mungkin tidak terjadi saat
menstruasi pertama, fertilitas harus selalu diwaspadai kecuali dilakukan hal
lain.
Kadar testosteron yang meningkat pada anak laki-laki selama pubertas
ditandai dengan peningkatan ukuran penis, testit, prostat, dan
vesikulaseminalis. Anak laki-laki dan anak gadis mungkin mengalami
orgasmus sebelum masa pubertas, tetapi ejakulasi pada anak laki-laki tidak
terjadi sampai organ seksnya matur, yaitu sekitar usia 12 atau 14 tahun.
Ejakulasi mungkin terjadi pertama kali selama tidur (emisi nokturnal). Hal
ini dapat diinterpretasikan sebagai suatu episode mimpi basah dan bahkan
bagi anak laki-laki yang berpengetahuan mungkin sangat memalukan. Anak
laki-laki harus mengetahui bahwa, meski mereka tidak menghasilkan sperma
saat pertama ejakulasi, mereka segera menjadi subur. Pada saatnya terjadi
perkembangan genital, rambut pubis, wajah, dan tubuh mulai tumbuh.
Perubahan emosi selama pubertas dan masa remaja sama dramatisnya seperti
perubahan fisik. Masa ini adalah periode yang ditandai oleh mulainya
tanggung jawab dan asimilasi pengharapan masyarakat. Remaja dihadapkan
pada keputusan dan dengan demikian membutuhkan informasi yang akurat
tentang perubahan tubuh, hubungan dan aktivitas seksual, penyakit yang
ditularkan melalui hubungan seksual, dan kehamilan. Informasi faktual ini
dapat datang dari rumah, sekolah,, buku-buku , atau teman sebaya. Bahkan
dengan informasi seperti ini pun, remaja mungkin tidak mengintegrasikan
pengetahuan ini ke dalam gaya hidupnya. Mereka mempunyai orientasi saat
ini dan rasa tidak rentan. Karakteristik ini dapat menyebabkan mereka
percaya bahwa kehamilan atau penyakit tidak akan terjadi pada mereka, dan
karenanya tindak kewaspadaan tidak diperlukan. Penyuluhan kesehatan
harus diberikan dalam konteks perkembangan ini.
Yang lebih penting dari hal faktual adalah pedoman dalam menetapkan
sistem nilai atau keyakinan pribadi untuk digunakan sebagai karangan kerja
pembuatan keputusan. Sebagian besar dari pedoman ini sudah ditunjukkan
oleh orang tua baik secara verbal maupun nonverbal. Sikap-sikap orang tua
mengenai peran dan perilaku sesuai jender mempengaruhi karier dan pilihan
keluarga remaja dan dapat juga mempengaruhi keputusan mengenai aktivitas
seksual dan pilihan menjadi orang tua dan pasangan.
Masa ini mungkin merupakan usia dalam mengidentifikasi orientasi seksual.
Banyak remaja mempunyai setidaknya satu pengalaman homoseksual
dengan seorang individu atau dalam kelompok. Remaja mungkin takut
bahwa pengalaman ini mendefinisikan seksualitas total mereka. Ini tidak
benar; banyak individu terus berorientasi heteroseksual secara ketat setelah
pengalaman demikian. Namun demikian, beberapa remaja mungkin
mengenali preferensi mereka sebagai homoseksual yang jelas. Hal ini dapat
sangat menakutkan dan pengenalan yang membingungkan bagi remaja dan
keluarga serta membutuhkan banyak dukungan. Dukungan dapat datang dari
berbagai sumber seperti konselor di sekolah, penasihat spiritual, keluarga,
dan profesional kesehatan mental.
Pada masa remaja mungkin pertama kalinya bagi anak mencari perawatan
kesehatan tanpa ditemani oleh orang tua. Agar dapat efektif dalam intervensi
dengan kelompok usia ini, pemberi perawatan kesehatan harus menciptakan
suatu lingkungan yang menyayangi dan saling percaya dan keinginan untuk
mendengarkan. Masalah kerahasiaan harus diklarifikasi dan dihormati.
Perawat harus dapat memisahkan nilai pribadi mengenai seksualitas remaja
sebelum mereka dapat bertindak efektif. Mendapatkan kontraseptif atau
melakukan suatu aborsi tanpa izin dari orang tua mungkin merupakan hal
yang legal pada beberapa negara bagian di Amerika Serikat, tetapi hal
tersebut selalu merupakan masalah etik. Mereka yang memberikan
perawatan kesehatan pada remaja atau perawatan kesehatan reproduktif
harus menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan etik dan hukun yang
mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang perkembangan remaja.
5. Masa Dewasa
Dewasa telah mencapai maturasi tetapi terus untuk mengeksplorasi dan
menemukan maturasi emosional dalam hubungan. Dewasa muda secara
tradisional dipandang sebagai berperan dalam melahirkan anak.
Model ini menggambarkan sebagian besar orang dewasa. Keintiman dan
seksualitas juga merupakan masalah bagi orang dewasa yang memilih untuk
tidak melakukan hubungan seks, tetap melajang karena pilihan sendiri atau
karena situasi tertentu tetap menginginkan aktivitas seksual, yaitu mereka
yang melajang setelah memutuskan hubungan, mereka yang homoseksual,
mereka yang tidak mempunyai anak berdasarkan pilihan, atau mereka yang
tidak mampu melahirkan anak.
Sambil mengembangkan hubungan yang intim, semua orang dewasa secara
seksual aktif harus belajar teknik stimulasi dan respons seksual yang
memuaskan bagi pasangan mereka. Beberapa orang dewasa mungkin hanya
memerlukan izin untuk bereksperimen dengan perilaku pilihan atau
keyakinan bahwa ekspresi seksual selain dari senggama penis-vagina adalah
normal. Orang dewasa dapat di dorong untuk mengungkapkan kepada
pasangan mereka tipe stimuli dan seksual atau kasih sayang yang dianggap
sebagai memuaskan. Pengenalan secara mutual tentang keinginan dan
preferensi dan negosiasi praktik seksual mencetuskan ekspresi seksual yang
positif. Penyuluhan keagamaan, nilai keluarga, dan sikap keluarga
mempengaruhi penerimaan terhadap sebagian bentuk stimulasi atau
mungkin akan mempunyai efek emosional residual seperti rasa bersalah atau
ansietas dan disfungsi seksual.
Pada akhir masa dewasa, individu menyesuaikan diri terhadap perubahan
sosial dan emosi sejalan dengan anak-anak mereka meninggalkan rumah.
Pembaruan kembali keintiman dapat memungkinkan atau diperlukan
diantara pasangan. Namun demikian, salah satu atau kedua pasangan dapat
mengalami ancaman terhadap gambaran diri karena tubuh telah menua dan
mungkin berupaya untuk mencapai kemudaan melalui hubungan seksual
dengan pasangan yang jauh lebih muda. Jika diinginkan pasangan dapat
dibantu untuk menemukan sesuatu yang baru atau kegairahan baru dalam
hubungan monogami yang langgeng melalui percobaan posisi, teknik,
seksual, dan penggunaan fantasi.
6. Masa Dewasa Tua
Seksualitas dalam usia tua beralih dari penekanan pada prokreasi menjadi
penekanan pada pertemanan, kedekatan fisik, komunikasi intim, dan
hubungan fisik mencari kesenangan. Tidak ada alasan bagi individu tidak
dapat tetap aktif secara seksual sepanjang mereka memilihnya. Hal ini dapat
secara efektif dipenuhi dengan mempertahankan aktivitas secara teratur
sepanjang hidup. Terutama sekali bagi wanita, hubungan senggama teratur
membantu mempertahankan elastisitas vagina, mencegah atrofi, dan
mempertahankan kemampuan untuk lubrikasi. Namun demikian, proses
penuaan mempengaruhi perilaku seksual. Perubahan fisik yang terjadi
bersama proses penuaan harus dijelaskan kepada klien lansia. Lansia
mungkin juga menghadapi kekhawatiran kesehatan yang membuat sulit bagi
mereka untuk melanjutkan aktivitas seksual. Dewasa yang menua mungkin
harus menyesuaikan tindakan seksual dan berespons terhadap penyakit
kronis, medikasi, sakit dan nyeri, atau masalah kesehatan lainnya.

Respon Seksualitas
Siklus respon seksual normal terdiri dari empat tahap yang terjadi berturut-turut.
Normal pada umumnya mengacu pada panjang siklus masing-masing fase, dan hasil bercinta
yang memuaskan. Empat tahapan siklus respon seksual:
1. Fase Kegembiraan
Tahap pertama, yang dapat berlangsung dari beberapa menitsampai beberapa jam.
Beberapa karakteristik dari fase kegembiraan meliputi:
a. Peningkatan ketegangan otot
b. Peningkatan denyut jantung
c. Perubahan warna kulit
d. Aliran darah ke daerah genital
e. Mulainya pelumasan Vagina
f. Testis membengkak dan skrotum mengencang
2. Fase Plateau
Fase yang meluas ke ambang orgasme. Beberapa perubahan yang terjadi dalam
fase ini meliputi :
a. Fase kegembiraan meningkat
b. Peningkatan pembengkakan dan perubahan warna vagina
c. Klitoris menjadi sangat sensitive
d. Testis naik ke dalam skrotum
e. Adanya peningkatan dalam tingkat pernapasan, denyut jantung, dan tekanan
darah
f. Meningkatnya ketegangan otot dan terjadi kejang otot
3. Fase orgasme
Puncak dari siklus respons seksual, dan merupakan faseterpendek, hanya
berlangsung beberapa detik. Fase ini memiliki karakteristik seperti berikut:
a. Kontraksi otot tak sadar.
b. Memuncaknya denyut jantung, tekanan darah, dan tingkat pernapasan
c. Pada wanita, kontraksi otot vagina menguat dan kontraksi rahim berirama
d. Pada pria, kontraksi otot panggul berirama dengan bantuan kekuatan ejakulasi
e. Perubahan warna kulit ekstrem dapat terjadi di seluruh tubuh
4. Fase Resolusi
Tahap terakhir, yang disebut fase resolusi, adalah ketika tubuh secara
perlahankembali ke tingkat fisiologis normal.
Fase resolusi ditandai dengan relaksasi,keintiman,dan seringkali kelelahan.
Sering kali perempuan tidak memerlukan faseresolusi sebelum kembali ke
aktivitas seksual dan kemudian orgasme, sedangkan laki-laki memerlukan
waktu pemulihan sebelum orgasme selanjutnya. Seiring pertambahan usia
laki-laki, panjang dari fase refraktori akan sering meningkat.
Disfungsi seksual yang paling umum pada pria adalah ejakulasi dini.
Masalahini terjadi ketika ada pemendekkan fase kegembiraan dan fase
plateau. Dalam rangkauntuk mencegah ejakulasi dini, seorang pria harus
belajar bagaimana memperlambatfase kegembiraan dan fase plateau, yang
dapat dicapai hanya dengan teknik yang benar dan latihan.

Masalah yang Berhubungan dengan Seksualitas


Potensial fertilisasi adalah suatu masalah bagi wanita premenopause yang melakukan
hubungan seksual. Sering kali kekuatirannya adalah dalam pencegahan konsepsi. Suatu ketika
pilihannya adalah untuk tidak menggunakan kontrasepsi. Dalam kasus ini, pasangan dapat
mengalami ansietas sampai terjadi periode menstruasi berikutnya. Pada persentasi pasangan
yang lebih kecil, masalahnya mungkin infertilitas ketika kehadiran anak-anak menjadi
keinginan pasangan.
Masalah lain bagi individu yang secara seksual aktif adalah melakukan hubungan seks
yang aman. Melakukan hubungan seks yang aman telah mendapat pengakuan yang meningkat
akibat ketakutan tentang AIDS. Risiko dan konsekuensi dari PMS harus selalu menjadi
pertimbangan.
Senggama dan manipulasi seksual, meskipun dimaksud untuk memberikan kesenangan
bagi yang melakukannya, mungkin menjadi penyiksaan dalam situasi disfungsi. Penganiayaan
seksual dapat mencakup tidak kekerasan pada wanit, pelecehan seksual, perkosaan, pedofilia
(aktifitas seksual pada anak-anak), pornografi anak, dan inses ( hubungan seksual yang
dilakukan ayah kepada anak perempuannya).
Peran utama perawat berkaitan dengan masalah ini adalah pelaporan, penyuluhan dan
dukungan. Perawat juga dapat terlibat dalam pemberian terapi dan medikasi, memberikan
pengkajian dan evaluasi tentang keekfetifan, dan memberi pendidikan mengenai fakta, fiksi
dan pentingnya mengatasi masalah ini dalam keluarga, sekolah dan komunitas.
1. Kontrasepsi
Kemampuan untuk mencegah kehamilan atau merencanakan waktu diantara
kehamilan harus menjadi bagian dari rencana perawatan kesehatan klien.
Suatu kehamilan yang tidak diinginkan dapat mempengaruhi kesehatan pada
banyak jenjang. Kesehatan orang tua, anak, dan akhirnya komunitas
bergantung pada adekuatnya sumber daya fisik, emosional, dan financial
untuk merawat anak klien yang merasa terganggu dengan kehadiran anak
yang tidak diinginkan seringkali memasuki system perawatan kesehatan
dengan keluhan yang berhubungan dengan stress.
Ada cara untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan. Cara ini
tampak sebagai proses yang sederhana untuk mengontrol kehamilan dengan
metoda kontrasepsi yang sesuai. Namun jumlah kehamilan diantara remaja,
aborsi dalam semua kelompok usia, dan anak – anak yang tidak diinginkan
kehadirannya menunjukkan bahwa keputusan untuk menggunakan
kontraseptif jauh lebih rumit.

2. Infertilitas
keluarga berencana secara umum adalah pemikiran dalam hal pencegahan
kehamilan. Satu kelompok dengan kehamilan khusus yang mendapat sedikit
perhatian masyarakat adalah orang dewasa yang ingin mempunyai anak
tetapi tidak bisa
Infertilitas secara umum dianggap sebagai masalah wanita. Dalam
kenyamanannya suatu presentase yang sama dari wanita dan pria mempunyai
masalah yang menunjang terhadap kesulitan untuk mempunyai anak.
Evaluasi tentang fertilitas harus melibatkan kedua pasangan. Evaluasi
perawatan kesehatan biasanya direkomendasikan jika kehamilan tidak terjadi
setelah 1 tahun melakukan hubungn seks yang teratur dengan pasangan yang
sama. Pada pasangan yang berusia lebih dari 30 tahun, evaluasi ini mungkin
dianjurkan jika kehamilan tidak terjadi selama 6 bulan.
Penyebab fertilitas mungkin perubahan tingkat motilitas sperma dan
penurunan kualitas atau pembentukan sperma yang abnormal. Wanita
mungkin mengalami penurunan kepatenan tuba karena endometriosis atau
infeksi pelviks, anatomi uterus yang abnormal atau perubahan hormonal
yang mempengaruhi perubahan endometrium selama siklus menstruasi atau
kualitas mucus servikal. Bergantung pada penyebab infertilitas,
pengobatannya mungkin hormonal untuk menstimulasi ovulasi atau
pemulihan kepatenan tuba melalui bedah mikro. Bentuk pengobatan lain
yang tersedia tetapi bersifat controversial termasuk inseminasi buatan
dengan menggunakan sperma suami atau sperma donor, vertilisasi in vitro,
dan wali inu dan transfer embrio.
3. Aborsi
Aborsi adalah masalah yang menstimulus diskusi sengit tentang moralitas,
hak-hak wanita untuk mengontrol tubuh dan reproduksi mereka, dan awal
kehidupan. Aborsi. Alasan untuk aborsi beragam dan dapat mencakup
keputusan untuk mengakhiri kehamilan atau memilih untuk mengaborsi
janin yang mempunyai kecacatan. Klien yang memutuskan untuk
mengaborsi kehamilan mungkin mengalami rasa bersalah dan berduka. Rasa
bersalah dapat timbul dengan segera setelah prosedur atau mungkin lebih
dalam dan bermanifestasi sebagai disfungsi seksual atau keditaksesuaian
persepsi.
4. Penyakit Menular Seks (PMS)
Telah menjadi kekhawatiran pada setiap individu terliabat dalam melakukan
hubungan seksual. Orang yang hamper pasti terinfeksi mempunyai satu
karakteristik yang sama yaitu hubungan seks yang tidak terlindungi dengan
banyak pasangan. Masalah utama dalam menghadapi PMS adalah
menemukan dan mengobati orang yang mengalaminya. Kadang seseorang
tidak mencari pengobatan karena mereka merasa sangat malu. Mereka
mungkin juga enggan untuk membicarakan perilaku seksual mereka.
5. Penganiayaan Seksual
Tindak kekerasan terhadap wanita adalah masalah kesehatan yang
menyebabkan trauma pada wanita. Jika diketahui adanya penganiayaan,
dukungan harus dikerahkan bagi korban dan keluarga. Pelaku penganiayaan
harus dilaporkan kepada pihak yang berwenang. Fasilitas perawatan
kesehatan harus mempunyai prosedur untuk pelaporan kejadian tersangka
penganiayaan anak.
Semua anggota keluarga mungkin membutuhkan terapi jangka panjang
untuk meningkatkan interaksi dan hubungan yang sehat. Korban mungkin
harus melewati krisis sebelum merasa nyaman dengan pengekspresian intim
dari kasih saying. Pasangan mungkin membutuhkan dukungan dalam
memahami dan mengubah proses penganiayaan dan tindak kekerasan. Anak-
anak dan wanita yang telah mengalami penyiksaan secara seksual atau
penganiayaan harus memahami bahwa mereka bukan pihak yang
dipersalahkan untuk kejadinan tersebut. Perawat yang kontak dengan klien
yang dianiaya harus mewaspadai sumber untuk rujukan dan dukungan dalam
komunitas. Pemberi perawatan kesehatan harus memahami pentingnya
respon mereka terhadap reaksi dan adaptasi korban dan menahan diri untuk
tidak menerapkan nilai pribadi dan stereotip pada korban dan keluarga
mereka.
6. Disfungsi Sosial
Penyebab disfungsi seksual mungkin fisiologis atau psikologis. Kadang
penyebab disfungsi mungkin tidak teridentifikasi atau penyebabnya
merupakan kombinasi dari beberapa faktor. Pada sebagian besar kasus
pengkajian seksual harus mencakup pemeriksaan fisik komplet untuk
mengidentifikasi atau menyingkirkan kondisi fisiologis yang mungkin
menunjang terjadinya disfungsi seksual.
Faktor - faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Seksualitas
1. Faktor Fisik
Klien dapat mengalami penurunan keinginan seksual karena alasan
fisik. Aktivitas seksual dapat menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan.
Bahkan hanya membayangkan bahwa seks dapat menyakitkan sudah
menurunkan keinginan seks. Penyakit minor dan keletihan adalah alasan
seseorang untuk tidak merasakan seksual. Medikasi dapat mempengaruhi
keinginan seksual. Citra tubuh yang buruk, terutama ketika diperburuk oleh
perasaan penolakan atau pembedahan yang mengubah bentuk tubuh, dapat
menyebabkan klien kehilangan perasaan secara seksual.
2. Faktor Hubungan
Masalah dalam berhubungan dapat mengalihkan perhatian seseorang cari keiginan
seks. Setelah kemesraan hubungan telah memudar, pasangan mungkin didapati
bahwa mereka dihadapkan pada perbedaan yang sangat besar dalam nilai atau gaya
hidup mereka. Tingkat seberapa jauh mereka masih merasa dekat satu sama lain
dan berinteraksi pada tingkat intim bergantung pada kemampuan mereka untuk
bernegosiasi atau berkompromi. Keterampilan seperti ini memaikan peran yang
sangat penting ketika menghadapi keinginan seksual dalam berhubungan.
penurunan minat dalam aktivitas seksual dapat mengakibatkan ansietas hanya
karena harus mengatakan kepada pasangan perilaku seksual apa yang diterima atau
menyenangkan.
3. Faktor Gaya Hidup
Faktor gaya hidup seperti penggunaan atau penyalahgunaan alkohol atau tidak
punya waktu untuk mencurahkan perasaan dalam berhubungan, dapat
mempengaruhi keinginan seksual. Dahulu perilaku seksual yang dikiatkan dengan,
terutama dalam periklanan, alkohol dapat menyebabkan rasa sejahtera atau gairah
palsu dalam tahap awal seks. Namun demikian, banyak bukti sekarang ini
menunjukkan bahwa efek negatif alkohol terhadap seksualitas jauh melebihi euforia
yang mungkin dihasilkan pada awalnya.
Menemukan waktu yang tepat untuk aktivitas seksual adalah faktor gaya hidup yang
lain. Sebagian klien tidak mengetahui bagaimana menetapkan waktu bekerja dan
dirumah untuk mencakup perilaku seksual. Klien sering mengungkapkan bahwa
mereka membutuhkan waktu untuk menyendiri untuk berpikir dan istirahat sebagai
hal yang lebih penting dari seks. Individu yang lain mungkin tidak mempunyai
pasangan seksual.

4. Faktor Harga Diri


Tingkat harga diri klien juga dapat menyebabkan konflik yang melibatkan
seksualitas. jika harga diri seksual tidak dapat dipelihara dengan mengembangkan
perasaan yang kuat tentang seksual diri dan dengan mempelajari keterampilan
seksual, seksualitas mugkin menyebabkan perasaan negatif atau menyebabkan
tekanan perasaan seksual. harga diri seksual dapat menurun dalam banyak cara.
perkosaan inses dan penganiayaan fisik atau emosi meninggalkan duka yang dalam.
rendahnya harga diri seksual dapat juga diakibatkan oleh kurang adekuatnya
pendidikan seks, model peran yang negatif dan upaya untuk hidup dalam
pengharapan pribadi atau kultural yang tidak realistik.

MODEL STRES ADAPTASI DALAM KEPERAWATAN JIWA

Yesi Lamria Sitanggang 1610711014


Kris Prihatin 1610711020

Model ini pertama kali dikembangkan oleh Gail Stuart pada tahun 1983. Fakta
menunjukkan bahwa banyak pasien mengalami gangguan jiwa karena kegagalan beradaptasi.
Keperawatan kesehatan jiwa menggunakan model stres adaptasi dalam
mengidentifikasi penyimpangan perilaku. Model ini mengidentifikasi sehat sakit sebagai hasil
berbagai karakteristik individu yang berinteraksi dengan faktor lingkungan. Model ini
mengintegrasikan komponen biologis, psikologis, serta sosial dalam pengkajian dan
penyelesaian masalahnya. Apabila masalah disebabkan karena fisik, maka pengobatan dengan
fisik atau kimiawi. Apabila masalah psikologis, maka harus diselesaikan secara psikologis.
Demikian pula jika masalah sosial, maka lebih sering dapat diselesaikan dengan pendekatan
sosial melalui penguatan psikologis.
Beberapa hal yang harus diamati dalam model stres adaptasi adalah faktor predisposisi,
faktor presipitasi, penilaian terhadap stresor, sumber koping, dan mekanisme koping yang
digunakan. Ada dua kemungkinan koping terpilih yaitu berada antara adaptif dan maladaptif.
Koping ini bersifat dinamis, bukan statis pada satu titik. Dengan demikian, perilaku manusia
juga selalu dinamis, yakni sesuai berbagai faktor yang memengaruhi koping terpilih.
Secara lengkap komponen pengkajian model stress adaptasi dalam keperawatan
kesehatan jiwa adalah sebagai berikut.
Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi adalah faktor risiko yang menjadi sumber terjadinya stres yang
memengaruhi tipe dan sumber dari individu untuk menghadapi stres baik yang biologis,
psikososial, dan sosiokultural. Secara bersama-sama, faktor ini akan memengaruhi seseorang
dalam memberikan arti dan nilai terhadap stres pengalaman stres yang dialaminya. Adapun
macam-macam faktor predisposisi meliputi hal sebagai berikut.
1. Biologi: latar belakang genetik, status nutrisi, kepekaan biologis, kesehatan umum, dan
terpapar racun.
2. Psikologis: kecerdasan, keterampilan verbal, moral, personal, pengalaman masa lalu,
konsep diri, motivasi, pertahanan psikologis, dan kontrol.
3. Sosiokultural: usia, gender, pendidikan, pendapatan, okupasi, posisi sosial, latar belakang
budaya, keyakinan, politik, pengalaman sosial, dan tingkatan sosial.
Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi adalah stimulus yang mengancam individu. Faktor presipitasi memerlukan
energi yang besar dalam menghadapi stres atau tekanan hidup. Faktor presipitasi ini dapat
bersifat biologis, psikologis, dan sosiokultural. Waktu merupakan dimensi yang juga
memengaruhi terjadinya stres, yaitu berapa lama terpapar dan berapa frekuensi terjadinya stres.
Adapun faktor presipitasi yang sering terjadi adalah sebagai berikut.
1. Kejadian yang menekan (stressful)
Ada tiga cara mengategorikan kejadian yang menekan kehidupan, yaitu
aktivitas sosial, lingkungan sosial, dan keinginan sosial. Aktivitas sosial
meliputi keluarga, pekerjaan, pendidikan, sosial, kesehatan, keuangan, aspek
legal, dan krisis komunitas. Lingkungan sosial adalah kejadian yang
dijelaskan sebagai jalan masuk dan jalan keluar. Jalan masuk adalah
seseorang yang baru memasuki lingkungan sosial. Keinginan sosial adalah
keinginan secara umum seperti pernikahan.
2. Ketegangan hidup
Stres dapat meningkat karena kondisi kronis yang meliputi ketegangan
keluarga yang terus-menerus, ketidakpuasan kerja, dan kesendirian.
Beberapa ketegangan hidup yang umum terjadi adalah perselisihan yang
dihubungkan dengan hubungan perkawinan, perubahan orang tua yang
dihubungkan dengan remaja dan anak-anak, ketegangan yang dihubungkan
dengan ekonomi keluarga, serta overload yang dihubungkan dengan peran.

Penilaian terhadap Stresor


Penilaian terhadap stresor meliputi penentuan arti dan pemahaman terhadap pengaruh situasi
yang penuh dengan stres bagi individu. Penilaian terhadap stresor ini meliputi respons kognitif,
afektif, fisiologis, perilaku, dan respons sosial. Penilaian adalah dihubungkan dengan evaluasi
terhadap pentingnya sustu kejadian yang berhubungan dengan kondisi sehat.
1. Respons kognitif
Respons kognitif merupakan bagian kritis dari model ini. Faktor kognitif
memainkan peran sentral dalam adaptasi. Faktor kognitif mencatat kejadian
yang menekan, memilih pola koping yang digunakan, serta emosional,
fisiologis, perilaku, dan reaksi sosial seseorang. Penilaian kognitif
merupakan jembatan psikologis antara seseorang dengan lingkungannya
dalam menghadapi kerusakan dan potensial kerusakan. Terdapat tiga tipe
penilaian stresor primer dari stres yaitu kehilangan, ancaman, dan tantangan.
2. Respons afektif
Respons afektif adalah membangun perasaan. Dalam penilaian terhadap stresor
respons afektif utama adalah reaksi tidak spesifik atau umumnya merupakan
reaksi kecemasan, yang hal ini diekpresikan dalam bentuk emosi. Respons
afektif meliputi sedih, takut, marah, menerima, tidak percaya, antisipasi, atau
kaget. Emosi juga menggambarkan tipe, durasi, dan karakter yang berubah
sebagai hasil dari suatu kejadian.

3. Respons fisiologis
Respons fisiologis merefleksikan interaksi beberapa neuroendokrin yang
meliputi hormon, prolaktin, hormon adrenokortikotropik (ACTH),
vasopresin, oksitosin, insulin, epineprin morepineprin, dan neurotransmiter
lain di otak. Respons fisiologis melawan atau menghindar (the fight-or-fligh)
menstimulasi divisi simpatik dari sistem saraf autonomi dan meningkatkan
aktivitas kelenjar adrenal. Sebagai tambahan, stres dapat memengaruhi
sistem imun dan memengaruhi kemampuan seseorang untuk melawan
penyakit.

4. Respons perilaku
Respons perilaku hasil dari respons emosional dan fisiologis.

5. Respons sosial
Respons ini didasarkan pada tiga aktivitas, yaitu mencari arti, atribut sosial, dan
perbandingan sosial.
Sumber Koping
Sumber koping meliputi aset ekonomi, kemampuan dan keterampilan, teknik pertahanan,
dukungan sosial, serta motivasi.
Mekanisme Koping
Koping mekanisme adalah suatu usaha langsung dalam manajemen stres. Ada tiga tipe
mekanisme koping, yaitu sebagai berikut.
1. Mekanisme koping problem focus
Mekanisme ini terdiri atas tugas dan usaha langsung untuk mengatasi ancaman diri.
Contoh: negosiasi, konfrontasi, dan mencari nasihat.
2. Mekanisme koping cognitively focus
Mekanisme ini berupa seseorang dapat mengontrol masalah dan menetralisasinya.
Contoh: perbandingan positif, selective ignorance, substitution of reward, dan
devaluation of desired objects.
3. Mekanisme koping emotion focus
Pasien menyesuaikan diri terhadap distres emosional secara tidak berlebihan.
Contoh: menggunakan mekanisme pertahanan ego seperti denial, supresi, atau
proyeksi.
Mekanisme koping dapat bersifat konstruktif dan destruktif. Mekanisme konstruktif
terjadi ketika kecemasan diperlakukan sebagai sinyal peringatan dan individu menerima
sebagai tantangan untuk menyelesaikan masalah. Mekanisme koping destruktif menghindari
kecemasan tanpa menyelasaikan konflik.
Selain dapat dikategorikan dalam tiga tipe di atas, mekanisme koping dapat
dikategorikan sebagai task oriented reaction dan ego oriented reaction. Task oriented reaction
adalah berpikir serta mencoba berhati-hati untuk menyelesaikan masalah, menyelesaikan
konflik, dan memberikan kepuasan. Task oriented reaction berorientasi dengan kesadaran
secara langsung dan tindakan. Sementara, ego ariented reaction sering digunakan untuk
melindungi diri. Reaksi ini sering disebut sebagai mekanisme pertahanan. Setiap orang
menggunakan mekanisme pertahanan dan membantu seseorang mengatasi kecemasan dalam
tingkat ringan sampai dengan sedang. Ego oriented reaction dilakukan pada tingkat tidak sadar.
Tabel 2.2 Mekanisme Pertahanan
Mekanisme Koping Keterangan
Fantasi Keinginan yang tidak terkabul dipuaskan
dalam imajinasi, mengkhayal seolaholah
menjadi seperti yang diinginkan.
Penyangkalan (denial) Melindungi diri terhadap kenyataan yang tak
menyenangkan dengan menolak menghadapi
hal itu, yang sering dilakukan dengan cara
melarikan diri seperti menjadi “sakit” atau
kesibukan lain. Tidak berani melihat dan
mengakui kenyataan yang menakutkan.
Contoh:
• Tutup mata karena takut terhadap sesuatu
yang mengerikan.
• Tidak mau mengakui atau mengerti bahwa
ia mempunyai penyakit menakutkan.

Rasionalisasi Berusaha membuktikan bahwa perbuatannya


(yang sebenarnya tidak baik) rasional
adanya, sehingga dapat disetujui dan
diterima oleh diri sendiri dan masyarakat.
Contoh:
• Tidak mau bermain bulu tangkis karena
“badan kurang enak“ atau “besok ada ujian”
padahal sebenarnya takut kalah.
Identifikasi Menambah harga diri dengan menyamakan
dirinya dengan seorang atau suatu hal yang
dikaguminya.
Contoh:
• Anak merokok atau membaca koran seperti
kebiasaan ayahnya.
• Anak bersolek seperti ibunya.
• Bergaya “pahlawan” seperi bintang film,
atlet, penyanyi, dan sebagainya.
Introyeksi Identifikasi yang berbentuk primitif.
Menyatukan nilai dan norma luar dengan
struktur egonya sehingga individu tidak
bergantung pada belas kasihan tentang hal-
hal yang dirasakan sebagai ancaman.
Contoh:
Memasukkan aspek kepercayaan ke dalam
pendiriannya dalam menghadapi keadaan
yang
mengancamnya.
Represi Secara tidak sadar menekan pikiran yang
berbahaya dan menyedihkan dari alam sadar
ke alam tidak sadar, semacam penyingkiran.
Contoh:
Melihat temannya meninggal. Perilaku
seolah-olah lupa kejadian tersebut.
Supresi Individu secara sadar menolak pikirannya
keluar dari alam sadarnya dan memikirkan
hal yang lain. Supresi tidak begitu berbahaya
karena dilakukan secara sengaja dan
individu mengetahui apa yang dibuatnya.
Regresi Mundur ke tingkat perkembangan yang lebih
rendah, dengan respons yang kurang matang
dan biasanya dengan aspirasi yang kurang.
Contoh:
• Anak yang punya adik lagi. Perilaku
kakaknya menjadi isap jempol atau ngompol
untuk menarik perhatian.
• Orang dewasa bila ingin sesuatu harus
segera terpenuhi, bila tidak akan marah-
marah seperti anak kecil.
• Pengantin baru bila ada kesukaran sedikit
saja dalam keluarga maka lari ke ibu atau
orang tua.
Proyeksi Menyalahkan orang lain mengenai
kesulitannya sendiri atau melemparkan
kepada orang lain keinginannya yang tidak
baik.
Contoh:
• Anak tidak lulus karena guru sentimen.
• Suami berzina karena wanita lain
menggodanya.
• Pemain tidak baik permainannya melihat
raketnya.
Penyusunan reaksi (reaksi formasi) Mencegah keinginan yang berbahaya bila
diekspresikan, dengan melebihlebihkan
sikap dan perilaku yang berlawanan dan
menggunakannya sebagai rintangan.
Contoh:
Fanatik dalam mengutuk perjudian agar
dapat menindas kecenderungan diri ke arah
itu.
Sublimasi Mencari pemuasan atau menghilangkan
keinginan seksual dalam kegiatan
nonseksual. Nafsu yang tidak terpenuhi
(terutama seksual) disalurkan kepada
kegiatan lain yang dapat diterima oleh
masyarakat
Contoh:
Individu yang belum atau tidak kawin,
berusaha mementingkan dan mengejar karier
untuk mendapat kepuasan.
Kompensasi Menutupi kelemahan dengan menonjolkan
sifat yang baik atau frustasi terhadap satu
bidang, bisa juga mencari kepuasan secara
berlebihan dalam bidang lain.
Contoh:
Individu tidak pintar, dia berusaha dirinya
menjadi jagoan.
Pemindahan (displacement) Emosi atau fantasi terhadap seseorang atau
benda dicurahkan kepada seseorang/benda
lain yang biasanya lebih kurang berbahaya
dari semula.
Contoh:
Anak dimarahi ibu, maka anak ganti
memukul adik.
Pelepasan atau penebusan (undoing) Meniadakan atau membatalkan suatu
pikiran. Kecenderungan atau tindakan yang
tidak disetujui/tidak bermoral. Bentuk
pelepasan/penebusan antara lain meminta
maaf, menyesalkan, memberi pilihan, atau
melakukan penitensi dan menjalani
hukuman
Contoh:
• Suami tidak setia memberi bermacam
hadiah pada istri.
• Pedagang/pegawai yang berbuat tidak
sesuai dengan etika, maka memberi
sumbangan besar untuk kegiatan sosial.
Penyekatan emosional Mengurangi keterlibatan ego dan menarik
diri menjadi pasif untuk melindungi diri
sendiri dari kesakitan atau kekecewaan.
Contoh:
Tidak menaruh harapan terlalu tinggi.
Isolasi (intelektualisasi, disosiasi) Suatu bentuk penyekatan emosional karena
beban emosi dalam suatu keadaan yang
menyakitkan, diputuskan, atau diubah
(distorsi). Contoh:
• Rasa sedih karena kematian orang dekat,
maka mengatakan “sudah nasibnya” atau
“sekarang ia sudah tidak menderita lagi”.
• Dalam keadaan menyakitkan berkata,
“Biarlah tidak apa-apa”.
• Seorang pedagang yang kasar bisa menjadi
seorang ayah yang lemah lembut.
Simpatisme Berusaha mendapatkan simpati dengan cara
menceritakan berbagai kesukarannya,
misalnya penyakit atau kesusahan yang lain.
Oleh karena bila orang simpati maka harga
diri meningkat walaupun ada kegagalan.
Memberontak (acting out) Mengurangi kecemasan yang dibangkitkan
oleh berbagai keinginan yang terlarang
dengan membiarkan ekspresinya dan
melakukannya.
KONSEP PEIKOSOSIAL DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN
MENCAKUP KONSEP KEHILANGAN

Luigisha Uugusti (1610711012)


Mei Diana Arminiati (1610711033)
Rustiani Ayu (16107110)

Kehilangan dan kematian adalah realitas yang terjadi dalam lingkungan asuhan
keperawatan. Sebagian besar perawat berinteraksi dengan klien dan keluarga pada saat
kehilangan dan dukacita. Penting bagi perawat memahami kehilangan dan dukacita. Ketika
merawat klien dan keluarganya, perawat juga mengalami kehilangan pribadi ketika hubunga
klien-keluarga-perawat berakhir dengan perpindahan, pemulangan, penyembuhan, atau
kematian.
A. KEHILANGAN

Kehilangan pribadi adalah segala kehilangan signifikan yang membuthkan


adaptasi melalui proses duka. Kehilangan terjadi ketika sesuatu atau
seseorang tidak dapa ditemui, diraba, didengar, diketahui, atau dialami. Tipe
dari kehilangan mempengaruhi tingkat stress. Misalnya, kehilangan benda
tidak akan menimbulkan stress seperti kehilangan karena kematian. Namun
demikian, setiap individu merespon kehilangan dengan berbeda-beda. Tipe
kehilangan penting artinya untuk proses berduka, namun perawat harus
mengenali bahwa setiap interpretasi seseorang tentang kehilangan sangat
bersifat individulistis.

Kehilangan dapat bersifat actual atau dirasakan. Kehilangan yang bersifat actual
dapat dengan mudah diidentifikasikan. Kehilangan yang dirasakan kurang
nyata dan dapat disalah artikan, seperti kehilangan kepercayaan diri atau
prestise. Makin dalam makna dari apa yang hilang, makin besar perasaan
kehilangan tersebut. Klien mungkin mengalami kehilangan maturasional
(kehilangan yang diakibatkan oleh transisi kehidupan normal untuk pertama
kalinya), kehilangan situasional (kehilangan yang terjadi secara tiba-tiba
dalam merespon kejadian eksternal spesifik seperti kematian mendadak
orang yang dicintai).

Kehilangan dikelompokkan menjadi 5 kategori : kehilangan benda eksternal,


kehilangan lingkungan yang telah dikenal, kehilangan orang yang dicintai,
kehilangan aspek diri, dan kehilangan kehidupan. Perawat merawata klien
yang mengalami banyak tipe kehilangan, seperti kehilangan kesehatan,
kemandirian, control terhadap lingkungannya, dan keamanan finansial.
Kehilangan mengancam konsep-diri, harga-diri, keamanan dan rasa makna-
diri. Perawat harus mengenali dari setiap kehilangan bagi klien dan
dampaknya pada fungsi fisik dan psikologis.

1. Kehilangan Objek Eksternal

Kehilangan benda eksternal mencakup segala kepemilikan yang telah usang,


berpindah tempat, dirusak, atau dicuri karena bencana alam. Kedalaman duka yang dirasakan
sesorang terhadap benda yang hilang tergantung pada nilai yang dimiliki orang tersebut
terhadap benda yang dimiliki, dan kegunaan dari benda tersebut.

2. Kehilangan Lingkungan yang Telah Dikenal

Kehilangan yang berkaitan dengan perpisahan dari lingkungan yang telah dikenal
mencakup meninggalkan lingkungan yang telah dikenal selama periode tertentu atau
kepindahan secara permanen. Kehilangan melalui perpisahan dari lingkungan yang telah
dikenal dapat terjadi melalui situasi maturasional atau situasi situasional.

3. Kehilangan Orang Terdekat

Orang terdekat mencakup orangtua, pasngan, anak-anak, saudara kandung, guru,


pendeta, teman, tetangga, dan rekan kerja. Artis atau atlet yang terkenal mungkin menjadi
orang terdejat bagi orang muda. Riset telah membuktikan kalua hewan peliharaan termasuk
orang terdekat. Kehilangan dapat terjadi karena perpisahan, pindah, melarikan diri, promosi
di tempat kerja, dan kematian.
4. Kehilangan aspek diri
Kehilangan aspek dalam diri dapat mencakup bagian tubuh. Fungsi fisiologis atau
psikologis. Kehilangan bagian tubuh dapat mencakup anggota gerak, mata,rambut, gigi atau
payudara. Kehilangan fungsi fisoligis mencakup kehilangan control kandung kemih atau
usus,mobilitas, kekuatan atau fungsi sensoris. Kehilangan aspek diri ini dapat terjadi akibat
penyakit,cedera, atau perubahan perkembangan atau situasi. Kehilangan seperti ini dapat
menurunkan kesejahteraan individu. Orang tersebut tidak hanya mengalami kedukaan akibat
kehilangan tetapi juga dapat mengalami perubahan permanen dalam citra tubuh dan konsep
diri.

5. Kehilangan hidup

Seseorang yang menghadapi kematian menjalani hidup, merasakan, berfikir dan


merespon, terhadap kejadian dan orang sekitarnya sampai terjadinya kematian. Meskipun
sebagian besar orang takut tentang kematian dan gelisah mengenai kematian.
Setiap orang berespons secara berbeda terhadap kematian. Orang yang telah hidup sendiri
dan menderita penyakit kronis lama dapat mengalami kematian sebagai satu peredaan.
Sebagian menganggap kematian sebagai jalan masuk kedalam kehidupan setelah kematian.
Ketakutan terhadap kematian sering menyebabkan individu menjadi lebih bergantung.
Keputusan dan rasa malu karena ketergantungan yang dialami oleh sebagian klien
menimbulkan tantangan bagi perawat.
Doka (1993) menggambarkan respon terhadap penyakit yang mengancam hidup ke
dalam empat fase. Fase prediagnosik terjadi ketika diketahui ada gejala klien atau factor resiko
penyakit. Fase akut berpusat pada krisi diagnosis. Klien dihadapkan pada serangkaian
keputusan termasuk medis, interpersonal, psikologis seperti halnya cara menghadapi awal krisi
penyakit. Dalam fase kronis klien bertempur dengan penyakit dan pengobatannya, yang sering
melibatkan serangkaian serangkaian krisi yang diakibatkan, akhirnya terdapat pemulihan atau
fase terminal. Kadang dalam fase akut dan kronis seseorang dapat mengalami pemulihan.

6. Duka cita , berkabung dan kehilangan karena kematian

Kehilangan karena kematian adalah suatu keadaan pikiran, perasaan, dan aktivitas yang
mengikuti kehilangan. K
Keadaan ini mencakup dukacita dan berkabung. Proses duka cita dan berkabung bersifat
mendalam, internal, menyedihkan dan berkepanjangan. Tujuan duka cita adalah untuk
mencapai fungsi yang lebih efektif dengan mengintegrasikan kehilangan kedalam pengalaman
hidup klien. Pencapaian ini membutuhkan waktu dan upaya. Orang yang mengalami dukacita
mencoba berbagi strategi umtuk menghadapinya. Worden (1982) menggaris bawahi empat
tugas dukacita yang memudahkan penyesuaian yang sehat terhadap kehilangan dan Harper
(1987) merancang tugas dalam akronim “TEAR”
1. T - untung menerima realitas dalam kehilangan
2. E - mengalami kepedihan akibat kehilangan
3. A -menyesuaikan lingkungan yang tidak lagi mencakup orang, benda atau aspek
diri yang hilang
4. R- memberdayakan kembali energy emosional kedalam hubungan yang baru.

Tugas ini tidak terjadi dalam urutan yang khusus. Perawat dapat membantu klien dan
keluarganya dalam memahami dan berupaya melewati tugas ini ketika tugas tersebut sesuai
dengan situasi untuk mereka. Masyarakat sering tidak mendorong keterbukaan selama duka
cita atau kehilangan. Namun demikian banyak tetap ragu untuk menunjukan pemikiran, rasa
takut dan perasaan mereka tentang duka cita. Berduka dapat mengarah padanpemahaman baru
yang meningkatkan pengalaman kehilangan melalui keterbukaan, dorongan dari orang lain dan
dukungan yg adekuat.

TAHAPAN PROSES KEHILANGAN DAN BERDUKA

Kehilangan meliputi fase akut dan jangka panjang.


 Fase akut
Berlangsung selama 4 sampai 8 minggu setelah kematian, yang terdiri atas tiga
proses, yaitu syok dan tidak percaya, perkembangan kesadaran, serta restitusi.
1. Syok dan tidak percaya
Respons awal berupa penyangkalan, secara emosional tidak dapat
menerima pedihnya kehilangan. Akan tetapi, proses ini
sesungguhnya memang dibutuhkan untuk menoleransi
ketidakmampuan menghadapi kepedihan dan secara perlahan untuk
menerima kenyataan kematian.
2. Perkembangan kesadaran
Gejala yang muncul adalah kemarahan dengan menyalahkan orang
lain, perasaan bersalah dengan menyalahkan diri sendiri melalui
berbagai cara, dan menangis untuk menurunkan tekanan dalam
perasaan yang dalam.
3. Restitusi
Merupakan proses yang formal dan ritual bersama teman dan
keluarga membantu menurunkan sisa perasaan tidak menerima
kenyataan kehilangan.

 Fase jangka panjang


1. Berlangsung selama satu sampai dua tahun atau lebih lama.
2. Reaksi berduka yang tidak terselesaikan akan menjadi penyakit yang
tersembunyi dan termanifestasi dalam berbagai gejala fisik. Pada
beberapa individu berkembang menjadi keinginan bunuh diri, sedangkan
yang lainnya mengabaikan diri dengan menolak makan dan
menggunakan alkohol
Menurut Schulz (1978), proses berduka meliputi tiga tahapan, yaitu
fase awal, pertengahan, dan pemulihan.

Fase awal
Pada fase awal seseoarang menunjukkan reaksi syok, tidak yakin, tidak
percaya, perasaan dingin, perasaan kebal, dan bingung. Perasan tersebut
berlangsung selama beberapa hari, kemudian individu kembali pada
perasaan berduka berlebihan. Selanjutnya, individu merasakan konflik
dan mengekspresikannya dengan menangis dan ketakutan. Fase ini akan
berlangsung selama beberapa minggu.

Fase pertengahan
Fase kedua dimulai pada minggu ketiga dan ditandai dengan adanya
perilaku obsesif. Sebuah perilaku yang yang terus mengulang-ulang
peristiwa kehilangan yang terjadi.

Fase pemulihan
Fase terakhir dialami setelah tahun pertama kehilangan. Individu
memutuskan untuk tidak mengenang masa lalu dan memilih untuk
melanjutkan kehidupan. Pada fase ini individu sudah mulai
berpartisipasi kembali dalam kegiatan sosial.

Tahapan Proses Kehilangan


Proses kehilangan terdiri atas lima tahapan, yaitu penyangkalan (denial), marah (anger),
penawaran (bargaining), depresi (depression), dan penerimaan (acceptance) atau sering
disebut dengan DABDA. Setiap individu akan melalui setiap tahapan tersebut, tetapi cepat atau
lamanya sesorang melalui bergantung pada koping individu dan sistem dukungan sosial yang
tersedia, bahkan ada stagnasi pada satu fase marah atau depresi.

Tahap Penyangkalan (Denial)


Reaksi awal seorang individu ketika mengalami kehilangan adalah tidak percaya, syok,
diam, terpaku, gelisah, bingung, mengingkari kenyataan, mengisolasi diri terhadap kenyataan,
serta berperilaku seperti tidak terjadi apa-apa dan pura-pura senang. Manifestasi yang mungkin
muncul antara lain sebagai berikut.
 “Tidak, tidak mungkin terjadi padaku.”
 “Diagnosis dokter itu salah.”
 Fisik ditunjukkan dengan otot-otot lemas, tremor, menarik napas dalam, panas/dingin
dan kulit lembap, berkeringat banyak, anoreksia, serta merasa tak nyaman.
 Penyangkalan merupakan pertahanan sementara atau mekanisme pertahanan (defense
mechanism) terhadap rasa cemas.
 Pasien perlu waktu beradaptasi.
 Pasien secara bertahap akan meninggalkan penyangkalannya dan menggunakan
pertahanan yang tidak radikal.

Secara intelektual seseorang dapat menerima hal-hal yang berkaitan dengan


kematian, tapi tidak demikian dengan emosional.
Suatu contoh kasus, saat seseorang mengalami kehilangan akibat kematian orang yang
dicintai. Pada tahap ini individu akan beranggapan bahwa orang yang dicintainya masih hidup,
sehingga sering berhalusinasi melihat atau mendengar suara seperti biasanya. Secara fisik akan
tampak letih, lemah, pucat, mual, diare, sesak napas, detak jantung cepat, menangis, dan
gelisah. Tahap ini membutuhkan waktu yang panjang, beberapa menit sampai beberapa tahun
setelah kehilangan.

Tahap Marah (Anger)


Tahap kedua seseorang akan mulai menyadari tentang kenyataan kehilangan. Perasaan
marah yang timbul terus meningkat, yang diproyeksikan kepada orang lain atau benda di
sekitarnya. Reaksi fisik menunjukkan wajah memerah, nadi cepat, gelisah, susah tidur, dan
tangan mengepal. Respons pasien dapat mengalami hal seperti berikut.
 Emosional tak terkontrol. “Mengapa aku?”
“Apa yang telah saya perbuat sehingga Tuhan menghukum saya?”
 Kemarahan terjadi pada Sang Pencipta, yang diproyeksikan terhadap orang atau
lingkungan.
 Kadang pasien menjadi sangat rewel dan mengkritik. “Peraturan RS terlalu
keras/kaku.” “Perawat tidak becus!”
 Tahap marah sangat sulit dihadapi pasien dan sangat sulit diatasi dari sisi pandang
keluarga dan staf rumah sakit.
 Perlu diingat bahwa wajar bila pasien marah untuk mengutarakan perasaan yang akan
mengurangi tekanan emosi dan menurunkan stres.

Tahap Penawaran (Bargaining)


Setelah perasaan marah dapat tersalurkan, individu akan memasuki tahap tawar-menawar.
 Ungkapan yang sering diucapkan adalah “....seandainya saya tidak melakukan hal
tersebut.
 mungkin semua tidak akan terjadi ......” atau “misalkan dia tidak memilih pergi ke
tempat itu”... pasti semua akan baik-baik saja”, dan sebagainya. Respons pasien
dapat berupa hal sebagai berikut.
 Pasien mencoba menawar, menunda realitas dengan merasa bersalah pada masa
hidupnya sehingga kemarahan dapat mereda.
 Ada beberapa permintaan, seperti kesembuhan total, perpanjangan waktu hidup,
terhindar dari rasa kesakitan secara fisik, atau bertobot.
 Pasien berupaya membuat perjanjian pada Tuhan. Hampir semua tawar-menawar
dibuat dengan Tuhan dan biasanya dirahasiakan atau diungkapkan secara tersirat atau
diungkapkan di ruang kerja pribadi pendeta.
 “Bila Tuhan memutuskan untuk mengambil saya dari dunia ini dan tidak menanggapi
permintaan yang diajukan dengan marah, Ia mungkin akan lebih berkenan bila aku
ajukan permintaan itu dengan cara yang lebih baik.”
 “Bila saya sembuh, saya akan…….”
 Pasien mulai dapat memecahkan masalah dengan berdoa, menyesali perbuatannya,
dan menangis mencari pendapat orang lain.

Tahap Depresi
Tahap depresi merupakan tahap diam pada fase kehilangan. Pasien sadar akan
penyakitnya yang sebenarnya tidak dapat ditunda lagi. Individu menarik diri, tidak mau
berbicara dengan orang lain, dan tampak putus asa. Secara fisik, individu menolak makan,
susah tidur, letih, dan penurunan libido.
 Fokus pikiran ditujukan pada orang-orang yang dicintai, misalnya
“Apa yang terjadi pada anak-anak bila saya tidak ada?” atau
“Dapatkah keluarga saya mengatasi permasalahannya tanpa
kehadiran saya?”
 Depresi adalah tahap menuju orientasi realitas yang merupakan tahap
yang penting dan bermanfaat agar pasien dapat meninggal dalam
tahap penerimaan dan damai. Tahap penerimaan terjadi hanya pada
pasien yang dapat mengatasi kesedihan dan kegelisahannya.

Tahap Penerimaan (Acceptance)


Tahap akhir merupakan organisasi ulang perasaan kehilangan. Fokus pemikiran terhadap
sesuatu yang hilang mulai berkurang. Penerimaan terhadap kenyataan kehilangan mulai
dirasakan, sehingga sesuatu yang hilang tersebut mulai dilepaskan secara bertahap dan
dialihkan kepada objek lain yang baru. Individu akan mengungkapkan, “Saya sangat mencintai
anak saya yang telah pergi, tetapi dia lebih bahagia di alam yang sekarang dan saya pun harus
berkonsentrasi kepada pekerjaan saya.........”
Seorang individu yang telah mencapai tahap penerimaan akan
mengakhiri proses berdukanya dengan baik. Jika individu tetap berada di
satu tahap dalam waktu yang sangat lama dan tidak mencapai tahap
penerimaan, disitulah awal terjadinya gangguan jiwa. Suatu saat apabila
terjadi kehilangan kembali, maka akan sulit bagi individu untuk mencapai
tahap penerimaan dan kemungkinan akan menjadi sebuah proses yang
disfungsional.

BENTUK KEHILANGAN
 Kehilangan orang bermakna, misalnya seseorang yang dicintai meninggal atau
dipenjara.
 Kehilangan kesehatan bio-psiko-sosial, misalnya menderita suatu penyakit, amputasi
bagian tubuh, kehilangan pendapatan, kehilangan perasaan tentang diri, kehilangan
pekerjaan, kehilangan kedudukan, dan kehilangan kemampuan seksual.
 Kehilangan milik pribadi, misalnya benda yang berharga, uang, atau perhiasan.
Ihza Handika
Ulpa Susanti
Haniah Rahmawati

KEMATIAN DAN BERDUKA

A. PENGERTIAN
Penyakit terminal adalah suatu penyakit yag tidak bisa disembuhkan lagi. Kematian
adalah tahap akhir kehidupan. Kematian bisa datang tiba-tiba tanpa peringatan atau mengikuti
priode sakit yang panjang . Terkadang kematian menyerang usia muda tetapi selalu menunggu
yang tua.

1. Definisi berduka

Berduka merupakan reaksi terhadap kehilangan yang merupakan respon emosional


yang normal (Suliswati, 2005). Definisi lain menyebutkan bahwa berduka, dalam hal ini
dukacita adalah proses kompleks yang normal yang mencakup respon dan perilaku emosi, fisik,
spiritual, sosial, dan intelektual ketika individu, keluarga, dan komunitas menghadapi
kehilangan aktual, kehilangan yang diantisipasi, atau persepsi kehilangan ke dalam kehidupan
pasien sehari-hari (NANDA, 2011).
Dari berbagai definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa berduka merupakan suatu reaksi
psikologis sebagai respon kehilangan sesuatu yang dimiliki yang berpengaruh terhadap
perilaku emosi, fisik, spiritual, sosial, maupun intelektual seseorang. Berduka sendiri
merupakan respon yang normal yang dihadapi setiap orang dalam menghadapi kehilangan yang
dirasakan.

B. TAHAP-TAHAP BERDUKA

Dr.Elisabeth Kublerr-Ross telah mengidentifikasi lima tahap berduka yang dapat


terjadi pada pasien menjelang ajal :

a. Denial ( pengingkaran )
Dimulai ketika orang disadarkan bahwa ia akan meninggal dan dia tidak dapat
menerima informasi ini sebagai kebenaran dan bahkan mungkin mengingkarinya
b. Anger ( Marah )
Terjadi ketika pasien tidak dapat lagi mengingkari kenyataan bahwa ia akan
meninggal
c. Bergaining ( tawar-menawar )
Merupakan tahapan proses berduka dimana pasien mencoba menawar waktu untuk
hidup
d. Depetion ( depresi )
Tahap dimana pasien datang dengan kesadaran penuh bahwa ia akan
segera mati.ia sangat sedih karna memikirkan bahwa ia tidak akan lama lagi
bersama keluarga dan teman-teman.
e. Acceptance ( penerimaan)
Merupakan tahap selama pasien memahami dan menerima kenyataan bahwa ia
akan meninggal. Ia akan berusaha keras untuk menyelesaikan tugas-tugasnya
yang belum terselesaikan.

C. FASE-FASE BERDUKA
Menurut Schulz (1978), proses berduka meliputi tiga tahapan, yaitu fase awal, pertengahan,
dan pemulihan.
a. Fase awal
Pada fase awal seseoarang menunjukkan reaksi syok, tidak yakin, tidak percaya, perasaan
dingin, perasaan kebal, dan bingung. Perasan tersebut berlangsung selama beberapa
hari, kemudian individu kembali pada perasaan berduka berlebihan. Selanjutnya,
individu merasakan konflik dan mengekspresikannya dengan menangis dan ketakutan.
Fase ini akan berlangsung selama beberapa minggu.
b. Fase pertengahan
Fase kedua dimulai pada minggu ketiga dan ditandai dengan adanya perilaku obsesif.
Sebuah perilaku yang yang terus mengulang-ulang peristiwa kehilangan yang terjadi.
c. Fase pemulihan
Fase terakhir dialami setelah tahun pertama kehilangan. Individu memutuskan untuk tidak
mengenang masa lalu dan memilih untuk melanjutkan kehidupan. Pada fase ini individu
sudah mulai berpartisipasi kembali dalam kegiatan sosial.
D. JENIS-JENIS BERDUKA

Ada 5 jenis konsep berduka, yaitu :

1) Berduka Normal
Terdiri atas perasaan, perilaku, dan reaksi yang normal terhadap kehilangan. Misal :
kesedihan, kemarahan, menangis, kesepian, dan menarik diri dari aktivitas untuk
sementara.
2) Berduka Antisipatif
Proses melepaskan diri yang muncul sebelum kehilangan atau kematian yang
sesungguhnya terjadi. Misal : ketika menerima diagnosis terminal, seseorang akan
memulai proses perpisahan dan menyesuaikan diri dengan berbagai urusan dunia
sebelum ajalnya tiba.
3) Berduka yang Rumit
Dialami oleh seseorang yang sulit untuk maju ke tahap berikutnya, yaitu tahap
kedukaan normal. Masa berkabung seolah-olah tidak kunjung berakhir dan dapat
mengancam hubungan orang yang bersangkutan dengan orang lain.
4) Berduka Tertutup
Kedudukan akibat kehilangan yang tidak dapat diakui secara terbuka. Misal :
kehilangan pasangan karena AIDS, anak mengalami kematian orang tua, ibu yang
kehilangan anaknya di kandungan atau ketika bersalin.
5) Berduka Disfungsional
Suatu status yang merupakan pengalaman individu yang responnya dibesar-besarkan
saat individu kehilangan secara aktual maupun potensial. Tipe ini kadang-kadang
menjurus ke tipikal, abnormal, atau kesalahan/ kekacauan.

E. FAKTOR PENYEBAB BERDUKA

Banyak situasi yang dapat menimbulkan kehilangan dan dapat menimbulkan respon
berduka pada diri seseorang (Carpenito, 2006). Situasi yang paling sering ditemui adalah
sebagai berikut:
 Patofisiologis

Berhubungan dengan kehilangan fungsi atau kemandirian yang bersifat sekunder akibat
kehilangan fungsi neurologis, kardiovaskuler, sensori, muskuloskeletal, digestif, pernapasan,
ginjal dan trauma.
 Terkait pengobatan

Berhubungan dengan peristiwa kehilangan akibat dialisis dalam jangka waktu yang
lama dan prosedur pembedahan (mastektomi, kolostomi, histerektomi).
 Situasional (Personal, Lingkungan)

Berhubungan dengan efek negatif serta peristiwa kehilangan sekunder akibat nyeri
kronis, penyakit terminal, dan kematian; berhubungan dengan kehilangan gaya hidup akibat
melahirkan, perkawinan, perpisahan, anak meninggalkan rumah, dan perceraian; dan
berhubungan dengan kehilangan normalitas sekunder akibat keadaan cacat, bekas luka, dan
penyakit.
 Maturasional

Berhubungan dengan perubahan akibat penuaan seperti temanteman, pekerjaan, fungsi,


dan rumah dan berhubungan dengan kehilangan harapan dan impian. Rasa berduka yang
muncul pada setiap individu dipengaruhi oleh bagaimana cara individu merespon terhadap
terjadinya peristiwa kehilangan. Miller (1999 dalam Carpenito, 2006) menyatakan bahwa
dalam menghadapi kehilangan individu dipengaruhi oleh dukungan sosial (Support System),
keyakinan religius yang kuat, kesehatan mental yang baik, dan banyaknya sumber yang
tersedia terkait disfungsi fisik atau psikososial yang dialami.
F. TANDA DAN GEJALA BERDUKA

Terdapat beberapa sumber yang menjelaskan mengenai tanda dan gejala yang sering
terlihat pada individu yang sedang berduka. Buglass (2010) menyatakan bahwa tanda dan
gejala berduka melibatkan empat jenis reaksi, meliputi:
 Reaksi perasaan, misalnya kesedihan, kemarahan, rasa bersalah, kecemasan,
menyalahkan diri sendiri, ketidakberdayaan, mati rasa, kerinduan.
 Reaksi fisik, misalnya sesak, mual, hipersensitivitas terhadap suara dan cahaya, mulut
kering, kelemahan.
 Reaksi kognisi, misalnya ketidakpercayaan, kebingungan, mudah lupa, tidak sabar,
ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, ketidaktegasan.
 Reaksi perilaku, misalnya, gangguan tidur, penurunan nafsu makan, penarikan sosial,
mimpi buruk, hiperaktif, menangis.

Tanda dan gejala berduka juga dikemukan oleh Videbeck (2008), yang mencakup ke
dalam lima respon, yaitu respon kognitif, emosional, spiritual, perilaku, dan fisiologis yang
akan dijelaskan dalam tabel dibawah ini:
Tabel 2.1 Tanda dan Gejala Berduka Berdasarkan Respon yang Muncul
Respon Berduka Tanda dan Gejala Respon
Kognitif  Gangguan asumsi dan keyakinan;
 Mempertanyakan dan berupaya
menemukan makna kehilangan;
 Berupaya mempertahankan keberadaan
orang yang meninggal atau sesuatu yang
hilang;
 Percaya pada kehidupan akhirat dan
seolah
 olah orang yang meninggal adalah
pembimbing.
Respon Emosional  Marah, sedih, cemas;
 Kebencian;
 Merasa bersalah dan kesepian;
 Perasaan mati rasa;
 Emosi tidak stabil;
 Keinginan kuat untuk mengembalikan
ikatan dengan individu atau benda yang
hilang;
 Depresi, apatis, putus asa selama fase
disorganisasi dan keputusasaan.
Respon Spiritual  Kecewa dan marah pada Tuhan;
 Penderitaan karena ditinggalkan atau
merasa ditinggalkan atau kehilangan;
 Tidak memiliki harapan, kehilangan
makna.

Respon Perilaku  Menangis terisak atau tidak terkontrol;


 Gelisah;
 Iritabilitas atau perilaku bermusuhan;
 Mencari atau menghindar tempat dan
aktivitas yang dilakukan bersama orang
yang telah meninggal;
 Kemungkinan menyalahgunakan obat
atau alkohol;
 Kemungkinan melakukan upaya bunuh
diri atau pembunuhan.
Respon Fisiologis  Sakit kepala, insomnia;
 Gangguan nafsu makan;
 Tidak bertenaga;
 Gangguan pencernaan;
 - Perubahan sistem imun dan endokrin.

G. AKIBAT BERDUKA

Setiap orang merespon peristiwa kehilangan dengan cara yang sangat berbeda. Tanpa
melihat tingkat keparahannya, tidak ada respon yang bisa dikatakan maladaptif pada saat
menghadapi peristiwa kehilangan akut. Apabila proses berduka yang dialami individu bersifat
maladaptif, maka akan menimbulkan respon detrimental (cenderung merusak) yang
berkelanjutan dan berlangsung lama (Carpenito, 2006). Proses berduka yang maladaptif
tersebut akan menyebabkan berbagai masalah sebagai akibat munculnya emosi negatif dalam
diri individu. Dampak yang muncul diantaranya perasaan ketidakberdayaan, harga diri rendah,
hingga isolasi sosial.

H. TEORI PROSES BERDUKA

Tidak ada cara yang paling tepat dan cepat untuk menjalani proses berduka. Konsep
dan teori berduka hanyalah alat yang dapat digunakan untuk mengantisipasi kebutuhan
emosional seseorang dan keluarganya, serta rencana intervensi untuk membantu mereka
memahami kesedihan dan cara mengatasinya. Berikut penjelasan teori proses berduka dari
beberapa pakar.
1. Teori Engels
Menurut Engels (1964) proses berduka mempunyai beberapa fase yang dapat diaplikasikan
pada seseorang yang sedang berduka maupun menjelang ajal. Berikut beberapa fase yang
dilalui.

 Fase I (shock dan tidak percaya)


Seseorang menolak kenyataan atau kehilangan dan mungkin menarik diri, duduk malas, atau
pergi tanpa tujuan. Reaksi secara fisik termasuk pingsan, diaporesis, mual, diare, detak jantung
cepat, tidak bisa istirahat, insomnia dan kelelahan.

 Fase II (berkembangnya kesadaran)


Seseoarang mulai merasakan kehilangan secara nyata/ akut dan mungkin mengalami putus asa.
Kemarahan, perasaan bersalah, frustasi, depresi, dan kekosongan jiwa tiba-tiba terjadi.

 Fase III (restitusi)


Berusaha mencoba untuk sepakat/ damai dengan perasaan yang hampa/ kosong, karena
kehilangan masih tetap tidak dapat menerima perhatian yang baru dari seseorang yang
bertujuan untuk mengalihkan kehilangan seseorang.

 Fase IV
Menekan seluruh perasaan yang negatif dan bermusuhan terhadap almarhum. Bisa merasa
bersalah dan sangat menyesal tentang kurang perhatiannya di masa lalu terhadap almarhum.

 Fase V
Kehilangan yang tak dapat dihindari harus mulai diketahui/ disadari. Sehingga pada fase ini
diharapkan seseorang sudah dapat menerima kondisinya. Kesadaran baru telah berkembang.

2. Teori Kubler-Ross
Kerangka kerja yang ditawarkan oleh Kubler-Ross (1969) adalah berorientasi pada perilaku
dan menyangkut 5 tahap, yaitu sebagai berikut.

 Penyangkalan (Denial)
Individu bertindak seperti seolah tidak terjadi apa-apa dan dapat menolak untuk mempercayai
bahwa telah terjadi kehilangan. Pernyataan seperti “tidak, tidak mungkin seperti itu!” atau
“tidak akan terjadi pada saya!” sangat umum dilontarkan.

 Kemarahan (Anger)
Individu mempertahankan kehilangan dan mungkin “bertindak lebih” pada setiap orang dan
segala sesuatu yang berhubungan dengan lingkungan. Pada fase ini orang akan lebih sensitif
sehingga mudah sekali tersinggung dan marah. Hal ini merupakan koping individu untuk
menutupi rasa kecewa dan merupakan menifestasi dari kecemasannya menghadapi kehilangan.

 Penawaran (Bargaining)
Individu berupaya untuk membuat perjanjian dengan cara yang halus atau jelas untuk
mencegah kehilangan. Pada tahap ini, klien sering kali mencari pendapat orang lain.

 Depresi (Depression)
Terjadi ketika kehilangan disadari dan timbul dampak nyata dari makna kehilangan tersebut.
Tahap depresi ini memberi kesempatan untuk berupaya melewati kehilangan dan mulai
memecahkan masalah.

 Penerimaan (Acceptance)
Reaksi fisiologi menurun dan interaksi sosial berlanjut. Kubler-Ross mendefinisikan sikap
penerimaan ada bila seseorang mampu menghadapi kenyataan dari pada hanya menyerah pada
pengunduran diri atau berputus asa.

3. Teori Martocchio
Martocchio (1985) menggambarkan 5 fase kesedihan yang mempunyai lingkup yang tumpang
tindih dan tidak dapat diharapkan. Durasi kesedihan bervariasi dan bergantung pada faktor
yang mempengaruhi respon kesedihan itu sendiri. Berikut penjelasannya.

 Lahir sampai usia 2 tahun


Tidak punya konsep tentang kematian. dapat mengalami rasa kehilangan dan dukacita.
Pengalaman ini menjadi dasar untuk berkembangnya konsep tentang kehilangan dan dukacita.

 Usia 2 sampai 5 tahun


Menyangkal kematian sebagai suatu proses yang normal. Melihat kematian sebagai sesuatu
dapat hidup kembali. Mempunyai kepercayaan tidak terbatas dalam kemampuannya untuk
membuat suatu hal terjadi.

 Usia 5 sampai 8 tahun


Melihat kematian sebagai akhir, tidak melihat bahwa kematian akan terjadi pada dirinya.
Melihat kematian sebagai hal yang menakutkan. Mencari penyebab kematian.

 Usia 8 sampai 12 tahun


Memandang kematian sebagai akhir hayat dan tidak dapat dihindari. Mungkin tak mampu
menerima sifat akhir dari kehilangan. Dapat mengalami rasa takut akan kematian sendiri.

 Usia remaja
Memahami seputar kematian, serupa dengan orang dewasa. Harus menghadapi implikasi
personel tentang kematian. menunjukkan perilaku berisiko. Dengan serius mencari makna
tentang hidup lebih sadar dan tentang masa depan.

4. Teori Rando
Rando (1993) mendefinisikan respon berduka menjadi 3 kategori seperti penjelasan berikut.

 Penghindaran
Pada tahap ini terjadi shock, menyangkal dan tidak percaya.

 Konfrontasi
Pada tahap ini terjadi luapan emosi yang sangat tinggi ketika klien secara berulang-ulang
melawan kehilangan mereka dan kedukaan mereka paling dalam dan dirasakan paling akut.

 Akomodasi
Pada tahap ini terjadi secara bertahap penurunan kedukaan akut dan mulai memasuki kembali
secara emosional dan sosial dunia sehari-hari dimana klien belajar untuk menjalani hidup
dengan kehidupan mereka.

I. RESPON BERDUKA

Terdapat beberapa teori mengenai respon berduka terhadap kehilangan. Teori yang
dikemukan Kubler-Ross (1969 dalam Hidayat, 2009) mengenai tahapan berduka akibat
kehilangan berorientasi pada perilaku dan menyangkut lima tahap, yaitu sebagai berikut:
 Fase penyangkalan (Denial)

Reaksi pertama individu yang mengalami kehilangan adalah syok, tidak percaya, atau
mengingkari kenyataan bahwa kehilangan benar-benar terjadi. Sebagai contoh, orang atau
keluarga dari orang yang menerima diagnosis terminal akan terus berupaya mencari informasi
tambahan.
Reaksi fisik yang terjadi pada tahap ini adalah letih, lemah, pucat, mual, diare,
gangguan pernapasan, detak jantung cepat, menangis, gelisah, dan sering kali individu tidak
tahu harus berbuat apa. Reaksi ini dapat berlangsung beberapa menit hingga beberapa tahun.
 Fase marah (Anger)

Pada fase ini individu menolak kehilangan. Kemarahan yang timbul sering
diproyeksikan kepada orang lain atau dirinya sendiri. Orang yang mengalami kehilangan juga
tidak jarang menunjukkan perilaku agresif, berbicara kasar, menyerang orang lain, menolak
pengobatan, bahkan menuduh dokter atau perawat tidak kompeten. Respon fisik yang sering
terjadi, antara lain muka merah, deyut nadi cepat, gelisah, susah tidur, tangan menggepal, dan
seterusnya.
 Fase tawar menawar (Bargaining)

Pada fase ini terjadi penundaan kesadaran atas kenyataan terjadinya kehilangan dan
dapat mencoba untuk membuat kesepakatan secara halus atau terang-terangan seolah
kehilangan tersebut dapat dicegah. Individu mungkin berupaya untuk melakukan tawar-
menawar dengan memohon kemurahan Tuhan.
 Fase depresi (Depression)

Pada fase ini pasien sering menunjukkan sikap menarik diri, kadang-kadang bersikap
sangat penurut, tidak mau berbicara menyatakan keputusasaan, rasa tidak berharga, bahkan
bisa muncul keinginan bunuh diri. Gejala fisik yang ditunjukkan, antara lain, menolak makan,
susah tidur, letih, turunnya dorongan libido, dan lain-lain.
 Fase penerimaan (Acceptance)

Pada fase ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan, pikiran yang selalu
berpusat pada objek yang hilang mulai berkurang atau hilang. Individu telah menerima
kenyataan kehilangan yang dialaminya dan mulai memandang kedepan. Gambaran tentang
objek yang hilang akan mulai dilepaskan secara bertahap. Perhatiannya akan beralih pada objek
yang baru. Apabila individu dapat memulai tahap tersebut dan menerima dengan perasaan
damai, maka dia dapat mengakhiri proses berduka serta dapat mengatasi perasaan kehilangan
secara tuntas. Kegagalan untuk masuk ke tahap penerimaan akan mempengaruhi kemampuan
individu tersebut dalam mengatasi perasaan kehilangan selanjutnya.

Daftar pustaka
Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa Ah. Yusuf, Rizky Fitryasari PK, Hanik Endang
Nihayati
http://www.ners.unair.ac.id/materikuliah/buku%20ajar%20keperawatan%20kesehatan%20ji
wa.pdf
Sumber: Videbeck, 2008
https://herdylover.wordpress.com/2009/10/08/asuhan-keperawatan-pada-pasien-terminal/