You are on page 1of 35

TUGAS MATA KULIAH CRUSTACEA

Manajemen Dan Teknologi Persiapan Lahan Budidaya Udang
Galah (Macrobrachium rosenbergii)

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 4

Yuliana 26010215120002
Bagus Nugroho A. 26010215120003
Putri Natalia Sari S. 26010215120004
Shelfiya Fany 26010215120009
Ariska Nur Oktavia 26010215120015
Ana Rosyida 26010215120028
Jerry Meilana D. 26010215120043
Fikih Rosalina P. 26010215120044
Fadillaisyia Riandani P. 26010215120045
Tyas Hertanti 26010215120044
Mamluatul Lailiyah 26010215130053
Dhimas Andreyan 26010215140051

DOSEN PENGAMPU :

Dr. Vivi Endar Herawati, S.Pi., M.Si.
19810623 200312 2 001

DEPARTEMEN AKUAKULTUR

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi
dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.Harapan kami
semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca agar ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi. Kami yakin masih banyak kekurangan
dalam makalah ini karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami.
Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Semarang, Mei 2017

Penyusun

2

2
I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Udang galah merupakan komoditas perikanan air tawar yang sangat
potensial untuk dibudidayakan secara komersial (New 2002). Pertumbuhan yang
cepat, ukuran yang besar, tingkat prevalensi penyakit yang rendah, dan
permintaan pasar yang luas, baik pasar domestik maupun ekspor, merupakan
potensi yang menjadikan komoditas ini memegang peran penting dalam usaha
budidaya perikanan air tawar di Indonesia.
Sosialisasi prospek dan teknologi budidaya melalui berbagai media ternyata
cukup efektif dalam mendorong perkembangan komoditas yang mendapat sebutan
“Babby Lobster” ini. Perkembangan yang sangat menggembirakan adalah dengan
dibukanya kawasan budidaya dalam luasan yang besar mencapai 500 Ha di Muara
Enim (Palembang) dan kepulauan Riau yang diharapkan dapat mendongkrak citra
udang tawar hingga mampu sejajar dengan komoditas udang payau, seperti udang
vaname dan udang windu. Selain usaha pembesaran dalam skala besar oleh
pengusaha dengan teknologi dan modal memadai, ternyata budidaya udang galah
juga mulai menjadi alternatif pilihan bagi para petani ikan skala pedesaan di
beberapa daerah.
Keterbatasan pengetahuan mengenai bagaimana teknologi budidaya yang
efektif dan ekonomis merupakan salah satu permasalahan yang perlu segera
dipecahkan sehingga kegiatan budidaya yang sudah ada dapat lebih berkembang.
Rangkaian langkah berikut merupakan solusi untuk menuju keberhasilan usaha
pembesaran udang galah, yaitu: optimalisasi kondisi kolam, penggunaan benih
unggul, penggunaan naungan (shelter), monitoring kualitas air secara periodik,
penyeragaman ukuran benih, pemeliharaan benih tunggal kelamin, penggunaan
jenis pakan dan sistem pemberian yang tepat, serta pengembangan sentra
budidaya.

3

3
1.2 Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui klasifikasi dari udang galah (Macrobrachium
rosenbergii).
2. Untuk mengetahui biologi dan morfologi udang galah (Macrobrachium
rosenbergii).
3. Untuk mengetahui cara dan manfaat optimalisasi kondisi kolam budidaya
udang galah (Macrobrachium rosenbergii).
4. Untuk mengetahui cara dan fungsi penggunaan substrat buatan pada kolam
budidaya udang galah (Macrobrachium rosenbergii).
5. Untuk mengetahui konstruksi dan fungsi dari lahan untuk pemijahan
udang galah (Macrobrachium rosenbergii).
6. Untuk mengetahui konstruksi dan fungsi dari lahan untuk pembenihan
udang galah (Macrobrachium rosenbergii).
7. Untuk mengetahui konstruksi dan fungsi dari lahan untuk pembenihan
udang galah (Macrobrachium rosenbergii).

4

4
II. PEMBAHASAN

2.1. Klasifikasi Udang Galah

Menurut Ali (2009), klasifikasi udang galah (Macrobrachium rosenbergii)
adalah termasuk kingdom animalia, filum artrhopoda, subfilum crustacean, kelas
malascostraca, subkelas eumalacostraca, superordo eucarida, ordo decapoda,
subordo pleocyemata, infraordo caridea, superfamili palaemonoidea, family
palaemonidae, subfamili palaemoninae, genus macrobrachium dan spesies
macrobrachium rosenbergii.

Gambar. Udang Galah
Sumber: http://www.jitunews.com/read/18979/penting-ini-peran-daun-
ketapang-dalam-Budidaya-udang-galah-siratu

2.2. Biologi Udang Galah ( Macrobranchium rosenbergeii)

Menurut Murtidjo (1992), ciri khas udang galah yang dapat kita kenali
adalah kepalanya berbentuk kerucut, rostum melebar pada bagian ujungnya,
bentuknya memanjang dan menlengkung ke atas. Pada bagian atas terdapat gigi
seperti gergaji berjumlah 12 buah dan bagian bawah 11 buah. Ciri khas udang
galah jantan antara lain sebagai berikut :

5

5
- Ciri yang paling mencolok adalah pada pasangan kaki jalan kedua
dari udang galah jantan, yakni tumbuh sangat besar, kuat, bercapit besar
dan panjang.
- Bagian perutnya lebih ramping dari pada udang galah betina.
- Kepala udang galah jantan ukurannya nampak lebih besar daripada
udang galah betina.
- Tubuh udang galah jantan langsing dan keadaan ruang dibagian
bawah perut sempit.
- Alat kelamin udnag galah jantan terletak pada pangkal kaki jalan
yang kelima.

Ciri khas udang galah betina antara lain sebagai berikut :

- Pasangan kaki jalan yang kedua dari udang galah betina, tubuh
kecil, capit yang kedua lebih pendek dan mungil.
- Bagian perutnya nampak gemuk dan melebar.
- Kepala udang galah betina lebih kecil dari pada udang galah jantan.
- Tubuh udang galah betina terlihat gemuk dan ruang bagian bawah
perut membesar sesuai dengan kegunaannya untuk mengerami telur.
- Alat kelamin udang galah betina terletak pada pangkal kaki jalan
yang ke tiga.

6

6
Gambar. Udang Galah Betina dan Jantan
Sumber: www.djpb.kkp.go.id

Udang galah (Macrobrachium roosenbergii de Man) merupakan udang air
tawar yang memiliki ukuran tubuh lebih besar dibandingkan udang jenis konsumsi
lainnya. Pada individu jantan, ukuran kaki jalan kedua berukuran panjang dan
besar menyerupai galah, sedangkan pada betina perbedaan ukuran tersebut tidak
terlalu mencolok. Ukuran panjang total udang galah dapat mencapai 320 mm pada
jantan dan 250 mm pada udang galah betina. Menurut Khairuman dan Amri,
(2006), tubuh udang galah terdiri atas ruas-ruas yang tertutup oleh kulit yang
keras yang disebut dengan karapaks. Karapaks tersusun dari zat kitin.
Di Indonesia banyak terdapat jenis-jenis udang air tawar, namun yang
dapat mencapai ukuran besar hanya jenis Macrobrachium saja, khusunya
Macrobrachium rosenbergii atau yang biasa dikenal udang galah. Udang galah
umunya terpusat di daerah-daerah perairan tawar, seperti kolam-kolam air tawar.
Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan lahan-lahan berupa sawah
tambak atau darat yang sumber airnya berkadar 0%-10% dapat digunakan sebagai
lahan budidaya udang galah. Bahkan perairan berkadar garam 10% masih
potensial untuk budidaya udang galah (Wahyudi dan Abdul, 2013).

7

7
Menurut Murtidjo (1992), udang galah hidup pada dua habitat, pada stadia
larva hidup di air payau dan kembali ke air tawar pada stadia benih, pendederan
hingga dewasa. Pada saat dewasa kelamin dan menetas menjadi plankton sampai
larva stadium 11, udang galah senang hidup di air payau, tetapi setelah menjadi
juvenil sampai usia dewasa, udang galah lebih senang hidup dalam air tawar. Hal
ini berkaitan dengan telur hasil perkawinan setelah menetas hanya dapat hidup di
lingkugan air payau.

Menurut Taqwa et al., (2012), habitat asli udang galah pada perairan di
wilayah Sumatera Selatan, udang galah dapat hidup pasa suhu 27-300C. Nilai pH
diperairan rawa Sumatera Selatan 6,5-7,7 dengan kadar alkalinitas 8-30 ppm.
Oksigen telarut atau DO sebesar 3,24 – 5,45 ppm, dengan kadar amonia yang
masih bisa untuk mendukung pertumbuhan udang galah adalah 0,1-0,3 mg/l
Kisaran mineral pada perairan di Sumatera Selatan yaitu Ca 1,73-1,82 ppm, MG
3,80-2,87 ppm, K 1,78-1,80 ppm, dan Na 1,473 ppm.

Udang galah termasuk ikan yang rakus, udang galah makan segala jenis
renik, baik cacing, plankton maupun zooplankton (Murtidjo2008). Udang
memakan pakan dengan cara menangkapnya lalu dimasukkan kedalam mulut
selanjutnya akan dicerna dalam saluran pencernaan. Periode makan udang terjadi
2 kali dalam sehari yaitu pada pagi dan sore atau malam hari. Intensitas makan
akan mengalami peningkatan pada ukuran udang yang semakin besar dan dewasa.
Pemberian makanan tambahan pada udang galah berupa pellet (25% protein)
dengan jumlah pakan 5% dari berat total biomasa populasi udang perhari (DKP
Prov. DIY 2007).

2.3. Optimalisasi Kondisi Kolam

Optimalisasi menurut kamus besar bahasa indonesia, memiliki definisi yaitu
suatu cara untuk mencapai tingkatan yang paling tinggi, kondisi yang paling
menguntungkan dan yang paling baik. Optimalisasi kondisi kolam merupakan
suatu cara untuk menjadikan kondisi kolam budidaya berada pada tingkatan dan
kondisi yang paling baik dan paling menguntungkan. Optimalisasi kondisi kolam

8

8
ini (pada makalah yang kami bahas) dilakukan khusus pada kolam budidaya
udang galah (Macrobrachium rosenbergii). Pada kegiatan budidaya tentunya
kondisi kolam sangat perlu untuk diperhatikan dan dijaga selalu agar berada pada
kondisi yang paling optimal, sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang
sebesar-besarnya. Terutama jika kultivan yang berada pada kolam tersebut
adalah udang galah (Macrobrachium rosenbergii). Udang galah atau yang
memiliki nama latin Macrobrachium rosenbergii, adalah salah satu species udang
air tawar asli Indonesia. Udang galah merupakan udang yang paling popular dari
keseluruhan udang air tawar dikarenakan ukuran tubuhnya yang besar dan
memiliki nilai ekonomi yang tinggi baik di pasar domestik maupun luar negeri.
Pada 2001, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) telah menetapkan udang
galah sebagai salah satu alternatif komoditas unggulan. Kebijakan ini diambil
bersamaan dengan dirilisnya varietas baru yang dikenal sebagai udang galah
GIMacro (Genetic Improvement of Macrobrachium rosenbergii) (Priyono et al.,
2011).

Kebutuhan kapur CaO (ton/ha) kolam air tawar
Tekstur tanah
pH
Lempung liat berat Pasir berlumpur Pasir
2,0-2 .5 7 3,50 2,00
2,6-3,0 6 3,00 1,50
3,1 -3,5 5 2,50 1,50
3,6-4,0 4 2,00 1 .25
4,1-4,5 2 1,25 1,25
4,6-5,0 1,50 1,00 1,00
5,1 -5,5 1 .00 0,50 0,50
5,6-6,0 0,50 0,25 0,25
6,1-6,5 0,50 0,25 0
Rohmana et.al., (2007)

Pengoptimalisasian terhadap kondisi kolam dilakukan sejak pertama kali
memulai kegiatan budidaya. Tahap awal adalah persiapan kolam. Persiapan dapat
berupa kegiatan pengeringan dan perbaikan kolam. Pengeringan dan perbaikan
kolam dapat dilakukan secara bersamaan. Pengeringan dasar kolam dimaksudkan
untuk menguraikan senyawa sulfida dan senyawa beracun lainnya, terjadinya

9

9
proses oksidasi dan membunuh benih-benih ikan liar. Perbaikan kolam dilakukan
terhadap kolam yang bocor, untuk kolam tanah dapat ditutup dengan
menggunakan plastik. Tanah yang masam (pH kurang dari 6,8) diperlukan kapur
untuk menetralkannya. Kebutuhan kapur untuk menetralisir keasaman kolam lalu
untuk meningkatkan kesuburan tanah dapat dilakukan pemupukan tanah dasar
dengan menggunakan pupuk organik komersial sebanyak I kg/ha. Pipa pemasukan
air dilengkapi dengan kain kasa supaya kotoran dan ikan liar dari sungai tidak
masuk ke dalam kolam budidaya. Setelah kolam dianggap siap, maka dilakukan
pengisian air dan dibiarkan menggenang selama seminggu sampai plankton
tumbuh dengan haik yang dicirikan dengan terjadinya perubahan warna air
menjadi kehijauan. Penebaran benih dilakukan pagi hari saat suhu masih dingin.
Benih diaklimatisasi dahulu terhadap suhu dan parameter kualitas air lainnya,
yaitu dengan meletakkan wadah yang berisi benih pada air kolam dan menambah
air kolam sedikit demi sedikit (Rohmana et al., 2007).

Kondisi kolam yang optimal perlu didukung dengan sarana dan prasarana
kegiatan budidaya udang galah itu senidri. Bentuk kolam untuk budidaya udang
galah sebaiknya memanjang sesuai aliran air masuk dan keluar. Hal ini akan
bermanfaat terhadap peng-gantian air yang sempurna sehingga kandungan
oksigen di dalam air akan tetap tinggi selama pemeliharaan. Ukuran kolam yang
ideal adalah lebar maksimum 20 m dan panjang 50 m atau luas maksimal 1000
m2. Ukuran lebar ideal akan memudahkan dalam pemberian pakan, karena pakan
udang dapat ditebar secara merata dari pinggir sampai ke tengah kolam. Hal
tersebut sangat penting agar pendistribusian pakan dapat optimal karena udang
galah hidup merayap dan tersebar ke seluruh dasar kolam. Selain itu, kolam
mudah dikeringkan pada saat pemanenan. Dasar kolam sebaiknya tanah berpasir
dan diusahakan agar jumlah lumpur sesedikit mungkin. Hal ini untuk mencegah
terjadinya pembusukan bahan organik sisa pakan atau kotoran udang yang dapat
menimbulkan racun dan menyebabkan udang yang dipelihara mabuk atau stress.
Pematang atau tanggul pembatas kolam harus dibuat kokoh dan kuat agar tidak
longsor dan bocor. Lebar bagian atas dari pematang sebaiknya tidak kurang dari 1
m. Untuk memudahkan pengelolaan kolam, maka perbandingan antara sisi tegak

10

10
dan sisi mendatar adalah 1 : 2 untuk tanah lempung dan minimal 1 : 1 untuk tanah
berpasir. Shelter, udang galah selama hidupnya mengalami beberapa kali molting,
dan pada saat itu udang galah berada pada kondisi yang paling lemah. Di sisi lain
udang galah juga mempunyai sifat kanibal, dengan demikian udang galah yang
sedang molting perlu shelter yang diberikan merata di sekeliling kolam, agar
udang galah terhindar dari kejaran udang yang sehat yang dapat memangsanya.
Luas shelter sebaiknya kurang lebih 20% dari luas kolam. Shelter dapat dibuat
dari pelepah daun kelapa atau pucuk pohon bambu yang telah dibuang daunnya
atau anyaman bambu. Shelter diambangkan di dalam kolam, diikatkan pada patok
bambu/kayu dengan kedalaman 40 cm dari dasar kolam. Lubang penangkapan,
pada saat panen, udang harus dapat ditangkap dengan mudah, sehingga perlu
dibuat lubang penangkapan yang disambung dengan selokan kecil (caren)
memanjang di tengah kolam. Ukuran lubang penangkapan adalah panjang 2 m,
lebar 3 m dan tinggi 0,75 m, sedangkan lebar caren adalah 0,5 m dengan
kedalaman 0,4 m. Adanya lubang penangkapan ini, udang yang akan dipanen akan
terkumpul di dalamnya melalui caren. Kemudian aerasi adalah upaya untuk
menambah oksigen terlarut di dalam air. Kebutuhan oksigen untuk udang galah
relatif lebih tinggi dibandingkan dengan ikan. Semakin padat udang galah yang
dibudidayakan di kolam, semakin tinggi kelarutan oksigen yang diperlukan.
Apabila debit air kurang mencukupi maka untuk memperkaya kelarutan oksigen,
dilakukan aerasi dengan menggunakan kincir air. Apabila debit air cukup maka
aerasi dilakukan dengan sistem air kolam yang mengalir. Peluap diperlukan untuk
mengatur tinggi permukaan air di kolam agar kedalamannya sesuai dengan yang
diharapkan dan juga tidak terjadi over topping yang dapat merusak pematang.
Lubang drainase digunakan untuk membuang kelebihan air di kolam, karena
kolam yang ideal adalah yang selalu ada aliran masuk dan keluar selama 24 jam.
Lubang drainase ini dapat dibuat dari pipa tanah liat (hong) yang menembus
pematang menuju saluran drainase, kemudian disambung dengan pipa PVC
vertical sebagai peluap dengan sambungan berbentuk “L” (siku) yang sewaktu-
waktu dapat dilepas untuk mengurangi atau mengeringkan air saat udang dipanen.

11

11
Sumber : Saputra (2005)

Upaya lainnya untuk mengoptimalkan kondisi kolam setelah perbaikan
kolam adalah pengapuran atau pemupukan. Pengapuran dan pemupukan
dilakukan pada saat persiapan kolam. Pengapuran dilakukan jika tanah dasar
kolam bereaksi masam (pH < 6,0) dengan cara dan dosis yang tepat agar tidak
merugikan kehidupan udang galah. Pengapuran dimaksudkan untuk meningkatkan
pH tanah dasar kolam menjadi netral (pH 7,0) dan dapat berfungsi sebagai
desinfektan. Dosis pengapuran harus disesuaikan dengan kondisi pH tanah dasar
dan jenis kapur yang digunakan. Jenis kapur yang digunakan dapat berupa kapur
sirih, kapur tohor, kapur tembok dan kapur karbonat/kapur giling. Pemupukan
bertujuan untuk menambah unsur hara yang larut dalam air guna mendorong
pertumbuhan fitoplankton yang merupakan pakan alami udang galah, dan
pelindung udang dari terik sinar matahari. Pupuk yang digunakan adalah pupuk
organik (kompos) dan pupuk anorganik (urea dan TSP). Penggunaan pupuk
organik lebih baik daripada pupuk anorganik karena dapat terhindar dari efek
samping bahan-bahan kimia; aman bagi lingkungan, dan menjaga kesuburan dasar
kolam dalam jangka waktu lama. Pengisian air secara bertahap untuk disesuaikan
dengan tahap pertumbuhan udang (tahap pendederan: 30-60 cm, pembesaran: 1-
1,5 m). Setelah kondisi warna air stabil benur dapat ditebarkan.

12

12
Sumber : fredikurniawan.com

Persiapan mulai dari konstruksi kolam pengapuran/pemupukan,
pemasangan pipa, pengisian air, hingga penebaran benih yang telah dilakukan
pelu diimbangi dengan pengoptimalan kondisi media budidaya yang digunakan,
yaitu air. Air pada kegiatan budidaya udang galah memiliki kondisi optimalnya
pda setiap parameter dan variabel-variabel dari setiap parameternya. Parameter
fisika, seperti variabel suhu, parameter kimia misalnya variabel oksigen terlarut,
dan parameter biologinya. Hal ini diperlukan untuk dapat menghasilkan
keuntungan sebesar-besarnya dan mendapatkan kondisi yang baik selama kegiatan
budidaya.

Menurut Saputra (2005), udang galah dapat hidup pada suhu 22-32 ºC dan
suhu idealnya adalah 26-30 ºC. Suhu berhubungan dengan kadar oksigen terlarut
di dalam air, apabila suhu semakin meningkat maka kadar oksigen terlarut akan
berkurang karena dengan peningkatan suhu maka metabolisme udang galah dan
ikan tambakan akan meningkat sehingga tingkat konsumsi oksigennya semakin
tinggi. Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk organisme akuatik
dalam bentuk gas yang terlarut dalam perairan. Kisaran optimum oksigen terlarut
udang galah yaitu 3-7 mg/L dengan batas lethal kurang dari 1 mg/L. Oksigen
terlarut dalam perairan dapat bersumber dari difusi oksigen yang terdapat di
atmosfer dan aktivitas fotosintesis dari fitoplankton. Nilai pH merupakan
parameter kualitas kimia air yang sangat penting bagi kehidupan organisme
akuatik. Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH, kisaran
optimum pH yaitu sekitar 7-8,5. Nilai pH tersebut masih dapat ditoleransi oleh
udang galah dan ikan tambakan karena titik lethal asam dan basa untuk organisme
13

13
budidaya adalah pH 4 dan 11. Selama penelitian, nilai pH cenderung konstan
hingga akhir pemeliharaan, pH meningkat pada hari ke-20 akan tetapi masih
berada dalam kisaran yang baik bagi udang galah dan ikan tambakan. Amonia
merupakan salah satu bentuk senyawa nitrogen dalam air yang sangat penting
dalam kegiatan pembesaran terutama dalam sistem intensif. Peningkatan kadar
amonia dapat disebabkan oleh sisa metabolisme ikan (feses) dan pakan yang tidak
termakan sehingga tersuspensi di dasar kolam. Kadar amonia ideal bagi udang
galah berkisar antara 0,1-0,3 mg/L. Alkalinitas adalah gambaran konsentrasi total
alkalin (basa terlarut) dalam air dan kapasitas penyangga terhadap pH perairan.
Nilai alkalinitas optimum bagi udang galah adalah 20-60 mg/L CaCO 3. Selain itu,
alkalinitas yang direkomendasikan pada budidaya ikan intensif adalah 100-150
mg/L CaCO3 untuk mencegah fluktuasi pH yang lebar.

2.4. Penggunaan Substrat Buatan
Berbeda dengan memelihara ikan, pemeliharaan udang galah memerlukan
lingkungan yang spesifik untuk tempat hidupnya. Kolam perlu didesain dengan
dasar dan sedimen yang cocok dan sehat karena udang galah (Macrobrachium
rosenbergii) adalah hewan yang bersifat bentik. Kedalaman air, pemberian shelter
sebagai tempat berlindung udang, sarana caren di dasar kolam, sirkulasi air masuk
dan keluar harus mendapat perhatian khusus untuk meningkatkan produksi dan
kemudahan dalam pemeliharaan. Udang galah (Macrobrachium rosenbergii)
selama hidupnya mengalami beberapa kali molting, dan pada saat itu udang galah
berada pada kondisi yang paling lemah. Di sisi lain udang galah (Macrobrachium
rosenbergii) juga mempunyai sifat kanibal. Dengan demikian udang galah yang
sedang molting perlu shelter yang diberikan merata di sekeliling kolam, agar
udang galah terhindar dari kejaran udang yang sehat yang dapat memangsanya.
Luas shelter sebaiknya kurang lebih 20% dari luas kolam. Shelter pada budidaya
udang galah (Macrobrachium rosenbergii) dapat dibuat dari pelepah daun kelapa
atau pucuk pohon bambu yang telah dibuang daunnya atau anyaman bambu.
Shelter diambangkan di dalam kolam, diikatkan pada patok bambu/kayu dengan
kedalaman 40 cm dari dasar kolam. Hal ini diperkuat oleh Priyono et. al., (2011)

14

14
yang menyatakan bahwa Efek positif shelter bertingkat tersebut berkaitan erat
dengan karakteristik udang galah sebagai hewan penghuni dasar, sehingga
pemberian shelter memiliki peran penting dalam memperluas media hidup udang
dan sebagai tempat berlindung dari serangan sesame jenis udang tersebut dan
predator lain. pemberian shelter secara tidak langsung juga dapat meningkatkan
ketersediaan pakan alami berupa periphyton, serta meningkatkan kualitas air
karena shelter mampu menjebak partikel tersuspensi dan rombakan bahan
organik.

Bentuk dan bahan shelter cukup beragam. Umumnya petani menggunakan
pelepah daun kelapa atau pohon palem sebagai shelter. Namun demikian,
penggunaan shelter dari daun kelapa dan palem dirasa kurang bagus. Bahan
tersebut cepat busuk sehingga berpotensi mengotori kolam, mudah tenggelam
sampai dasar kolam sehingga akan tertimbun oleh endapan lumpur, serta kurang
efektif dalam menyediakan ruang yang nyaman bagi udang yang berganti kulit.
Semakin berkembangnya teknologi sekarang telah diperoleh tipe shelter yang
optimal dalam pemeliharaan udang galah, yaitu shelter tipe bertingkat atau dikenal
sebagai ”appartement shelter”. Shelter tipe bertingkat ini biasa dibuat dengan
bahan utama bilah bamboo yang dianyam dan kemudian dipasang bertingkat.

Gambar. Appartement shelter

15

15
Sifat kanibalisme udang galah dapat diminimalkan dengan penggunaan
pelindung (shelter) pada wadah budidaya. Penggunaan shelter yang tepat dapat
melindungi udang-udang yang lemah saat terjadi molting. Shelter udang
galah berupa teknologi “apartemen udang galah” telah teruji mampu
mengurangi tingkat kanibalisme dan meningkatkan produksi. ingkat
kelangsungan hidup yang tinggi diduga dipengaruhi oleh kualitas air yang
baik, keberadaan shelter, kecukupan kebutuhan makanan yang diperlukan
oleh tiap-tiap individu, dan pertumbuhan yang seragam yang membantu
meminimalisir kanibalisme.

Pemasangan shelter pada bak fiberglass berukuran 100x100x100 cm
dengan kedalaman air 80 cm. Kedalam bak tersebut dipasang 1 panel shelter
bertingkat yang terdiri dari 3 lapis anyaman bambu. Setiap lapis anyaman bambu
memiliki ukuran 100x50 cm, dengan bukaan anyaman (mesh-size) 15x15 cm.
Panel shelter bertingkat tersebut dipasang 15 cm di atas dasar bak. Sedangkan
pada tambak shelter yang digunakan adalah shelter bertingkat 2 yang terbuat dari
anyaman bambu dengan mesh-size 15x15 cm dan jarak antar tingkat 15 cm.
Setiap lapis anyaman bambu memiliki ukuran 2x1 m. Shelter bertingkat ini
selanjutnya diaplikasikan pada pembesaran udang galah pada kolam berukuran 20
m2. Shelter bertingkat tersebut dipasang pada posisi 20 cm di atas dasar kolam.
Bahan yang dapat digunakan sebagai shelter adalah pipa paralon, bilah bamboo,
dan daun kelapa , pemasangan shelter pada area kolam atau tambak biasanya
digunakan pada budidaya polikultur. Pemasangan shelter sangat membantu untuk
menekan tingkat moralitas pada saat udang galah melakukan moulting.
Pemasangan shelter pada kolam atau tambak biasanya berkisar 60% dari luasan
kolam atau tambak.

Secara umum, beberapa tipe tambak di Indonesia dibagi ke dalam
beberapa bentuk di antaranya :

a. Tambak tanah, merupakan tambak yang umum di Indonesia,
berteknologi konstruksi sederhana, terdapat di daerah pasang surut untuk
memudahkan pengambilan dan pembuangan air.

16

16
b. Tambak semi plastik, merupakan modifikasi dari tambak tanah,
diberikan penambahan plastik pada pematang untuk alasan operasional
(bocor) atau tekstur tanah yang tidak stabil (berpasir).
c. Tambak beton, seperti halnya tambak semi plastik, diberikan
penambahan konstruksi pematang beton untuk alasan operasional (bocor)
atau tekstur tanah yang tidak stabil (berpasir).
d. Tambak biocrete, merupakan modifikasi dari tambak beton, hanya
saja menggunakan bahan-bahan penguat (serabut atau ijuk aren) dan
plastik.

Beberapa manfaat penggunaan shelter dalam kegiatan budidaya yaitu :

a. Menekan tingkat mortalitas
b. Sebagai tempat berlindung bagi udang yang sedang melakukan
proses moulting
c. Melindungi organisme dari pengaruh langsung penetrasi intensitas
cahaya matahari yang dapat mengakibatkan meningkatnya suhu
permukaan perairan tempat hidup

Beberapa kekurangan dari penggunaan shelter dalam kegiatan budidaya :

a. Jenis shelter yang tidak sesuai dapat menyebabkan air budidaya
menjadi kotor . contohnya adalah penggunaan shelter berupa daun kelapa
b. Jenis shelter yang tidak sesuai juga tidak efektif dalam
menyediakan ruang yang nyaman bagi udang yang berganti kulit.

2.5. Lahan Untuk Pemijahan

Udang galah secara alami siap memijah sepanjang tahun dan biasanya
terjadi pada malam hari. Udang galah yang siap pijah terlihat dari warna merah
oranye gonad yang menyebar ke seluruh bagian hingga bagian cephalotorax.
Pemijahan biasanya diawali dengan pergantian kulit pada udang galah betina.
Proses perkawinan induk baru dimulai saat udang galah betina sudah kembali ke
keadaan semula. Hal ini diperkuat oleh Afrianto dan Muqsith (2014), menyatakan
bahwa proses perkawinan atau pemijahan pada udang vaname (Litopenaeus
vannamei) di IPU Gelung, dilakukan setelah proses sampling induk betina yang

17

17
matang gonad dimasukan ke dalam bak jantan. Hasil pengamatan selama
penelitian, pemijahan berlangsung dengan melihat tingkah laku induk jantan yang
berenang di belakang, mengikuti induk betina. Kedua induk tersebut tampak
seperti berkejar-kejaran. Kemudian berenang sejajar dengan induk betina dan
melepaskan sperma yang ditempelkan pada thellycum betina. Proses ini terjadi 2-
6 detik. Induk jantan mengikuti induk betina dikarenakan pada saat itu induk
betina mengeluarkan feromone pada saat udang betina matang gonad
mengeluarkan feromone sehingga menarik pejantan. Selanjutnya induk jantan
berenang sejajar di bawah induk betina. Kemudian induk jantan membalikkan
badannya menghadap perpendeculer induk betina, mensejajarkan badannya secara
berlawanan dengan tubuh induk betina serta menyentakkan kepala dan ekor untuk
melepaskan kantung sperma dan menempelkan ke thellycum, selanjutnya
melepaskan diri dari induk betina. Kegagalan yang sering terjadi pada saat
perkawinan ialah penempelan yang kurang sempurna serta tidak semua induk
betina ditempeli sperma. Kegagalan perkawinan disebabkan kurang matangnya
induk betina atau rusaknya spermatophore. Induk betina yang tidak dikawin
dikembalikan ke dalam bak pemeliharaan seperti semula. Proses perkawinan
udang vaname (Litopenaeus vannamei) dapat dilihat pada Gambar 10.

18

18
Proses pemijahan dilakukan dalam kolam pemijahan dari tanah, bak beton,
serat kaca, maupun akuarium dengan kepadatan empat ekor setiap meter
perseginya dengan komposisi jantan dan betina 1:3. Hal ini diperkuat Ernawati
dan Chrisbiyantoro (2010) yang menyatakan bahwa selanjutnya dilakukan seleksi
induk, dan pemijahan induk pada kolam. Proses pemijahan berlangsung selama
10-15 hari. Induk yang telah bertelur ditangkap menggunakan tangan dan di
masukkan dalam akuarium pengeraman (60 x 40 x 60 cm) secara individu. Lama
waktu pengeraman berkisar 35-45 hari.

2.6. Lahan Untuk Pembenihan

Larva adalah fase kehidupan setelah telur. kondisi tubuhnya masih lemah,
bahkan bisa dikatakan sebagai masa kritis. Meski kondisi tubuhnya lemah, bukan
berarti larva ini tidak mampu bertahan hidup. Pemeliharaan sebaiknya dilakukan
pada bak pemeliharaan larva. Persiapan bak pemeliharaan larva sama dengan
persiapan sarana dan prasarana pembenihan lainnya. Bak pemeliharaan larva
dapat berupa fiberglass atau bak beton. Jika bak sudah ada, segera isi dengan air
(yang telah didisinfeksi) bersalinitas 12 ppt, lalu diberi daun ketapang 100-200
gram/m3. Satu hal yang harus diperhatikan adalah kepadatan. Jangan sampai
kepadatannya terlalu tinggi atau terlalu rendah. Kepadatan didasarkan pada
volume satu liter. Bak pemeliharaan larva berupa fiber kapasitas 1-2 ton. Hal yang
perlu diperhatikan dalam pemeliharaan tersebut antara lain kualitas air dan
pemberian pakan. Ukuran pakan harus disesuaikan dengan bukaan mulut larva.
Pada hari ketiga setelah menetas diberi pakan nauplii " Artemia " dengan
frekuensi 3 jam sekali kemudian pada hari kesebelas diberi pakan Artemia
diselingi pakan buatan sampai menjadi post larva dengan frekuensi pemberian
pakan tiga jam sekali. Air pemeliharaan larva dengan salinitas 5 ppt dan di
naikkan setiap hari hingga salinitas pemeliharaan antara 10-15ppt. Pergantian air
dilakukan setiap hari sebanyak 25 - 50 % dan sebelumnya kotoran dibersihkan
dengan cara disipon, salinitas media pemeliharaan larva dipertahankan 10 - 12
ppt. Distribusi air menggunakan sistem resirkulasi, hal ini untuk efisiensi
penggunaan air selama pemeliharaan larva. Air bekas pergantian dimasukkan bak
19

19
resirkulasi yang terlebih dahulu diradiasi dengan alat ultra violet, sedangkan air
untuk penambahan disiapkan sehari sebelumnya. Air tersebut berasal dari bak
resirkulasi yang telah diradiasi dengan alat ultra violet. Kisaran parameter kualitas
air selama pemeliharaan larva adalah sebagai berikut: suhu 29,3-32,3 0C, pH 7,53-
8,6, dan DO 6,01-7,93 ppm. Pemasangan heater dan aerasi. Aerasi tersebut diatur
dengan tekanan penuh. Permasalahan yang terjadi selama pemeliharaan larva
adalah serangan Epistylis dan kematian karena penurunan suhu yang drastis. Hal
ini diperkuat oleh (Taqwa, et al., 2014) yang menyatakan bahwa tingkat konsumsi
oksigen terbaik pada pasca larva udang galah selama masa adaptasi pergantian
media hidup dari media bersalinitas 12 ppt ke media air rawa 0 ppt, selama 10 hari
mulai dari udang galah stadia PL1 hingga PL11 dengan penurunan salinitas secara
gradual dan persentase volume. Masalah yang dihadapi sehubungan perubahan
salinitas tersebut sangat berkaitan dengan tekanan osmotik dan ionik air, baik air
sebagai media internal maupun eksternal. Senyawa kimia perairan, penyakit
mikrobial, dan rendahnya kemampuan regulasi ionik terhadap perubahan salinitas
media dapat menyebabkan mortalitas yang tinggi pada pembenihan udang galah.
Larva yang telah di hitung di masukkan ke dalam bak pemeliharaan
dengan cara di adaptasikan perlahan-lahan. Kepadatan larva dalam bak
pemeliharaan yaitu 50-75 ekor/liter. Perkembangan larva terdiri dari 11 stadia
sebelum bermetamorfosis menjadi post larva. Sifat larva umumnya planktonis,
aktif berenang dan tertarik oleh sinar tetapi menjauhi sinar matahari yang kuat.
Pada fase larva cenderung bersifat kelompok, namun semakin lanjut umurnya
akan semakin menyebar dan individual bersifat bentik/ larva stadia I dengan
panjang ukuran kurang dari 2 mm (dari ujung eostrum sampai ujung telson). Pada
stadia XI mencapai panjang sekitar 7 mm.
Pakan dan pemberian pakan merupakan salah satu faktor penting dalam
budidaya perairan/perikanan. Ikan atau biota budidaya lainnya membutuhkan
pakan untuk hidup, tumbuh dan berbagai aktivitasnya, seperti berenang,
memelihara jaringan tubuh, kekebalan, berkembang biak, dan lain-lain. Pakan
untuk ikan budidaya harus berkualitas (kebutuhan gizi ikan terpenuhi), tersedia
dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu serta terus menerus (kontinu). Karena
itu pembudidaya ikan perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang
20

20
faktor-faktor yang terkait dengan penyediaan dan pemberian pakan. Pemilihan
pakan yang tidak tepat baik jumlah maupun kualitasnya akan mengakibatkan
pertumbuhan terhambat, selain itu kesehatan dan proses reproduksinya juga
terganggu. Oleh karena itu perlu diketahui jenis dan jumlah pakan yang akan
digunakan. Pemberian pakan dalam jumlah dan frekuensinya perlu diperhatikan,
mengingat pemberian pakan yang berlebihan dan tidak tepat waktunya akan
mengakibatkan penurunan kualitas air, peningkatan BOD, dan kesehatan ikan
terganggu.
Minimal ada empat hal yang harus mendapatkan perhatian dalam pemberian
pakan udang galah yaitu tepat mutu, tepat jumlah, tepat ukuran dan tepat frekuensi
pemberian pakan. Tepat mutu memiliki makna terkait dengan unsur gizi yang
terkandung di dalam pakan. Pakan yang diberikan pada udang galah harus
memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan oleh udang galah untuk hidup
pokok, reproduksi, dan pertumbuhan. Tepat jumlah menuntut pemakaian pakan
yang sesuai dengan kebutuhan udang galah yang dipelihara. Hal ini terkait dengan
seberapa banyak pakan alami yang tersedia di dalam kolam seperti plankton,
bentos, dan hewan-hewan renik lainnya yang mampu dikonsumsi udang. Tepat
ukuran pakan adalah pemberian pakan dengan ukuran yang disesuaikan dengan
ukuran dan umur udang galah yang dipelihara. Udang kecil lebih cenderung
memilih pakan yang berukuran kecil pula. Bila yang diberikan hanya pakan
dengan ukuran besar, tentu udang galah kecil memerlukan usaha keras dan
mengeluarkan energi ekstra untuk menggerus dan membawa-bawa pakan tersebut.
Sebaliknya secara alamiah, udang yang besar cenderung mengambil pakan yang
juga berukuran besar. Bila yang diberikan pakan kecil, waktu yang diperlukan
udang galah untuk mengais pakan akan lebih lama. Selain itu juga pakan akan
hancur bila terlalu lama di air, akhirnya pakan tersebut tidak dikonsumsi oleh
udang. Tepat frekuensi pemberian pakan adalah tingkat keseringan memberi
pakan udang galah dalam sehari. Pada saat berumur 10 – 25 hari, larva diberikan
pakan buatan dengan dosis 2 – 4 gram/ekor dengan frekuensi pemberian 2 kali
sehari, dan mulai ditingkatkan menjadi 4 – 6 gram /ekor pada saat larva telah
berumur 25 – 40 hari. Pakan diberikan secara ad satiation sebanyak 5 kali sehari
yaitu pada jam 08.00, 10.00, 12.00, 14.00 dan 16.00. Pemberian pakan buatan
21

21
dilakukan dengan cara mematikan aerasi dan menyebarkan secara sedikit demi
sedikit pada air hingga merata. Tujuan pemberian pakan secara sedikit demi
sedikit dimaksudkan agar pakan tidak segera tenggelam dan dapat dipegang oleh
larva. Pakan yang tenggelam biasanya tidak dimakan oleh larva dan mengendap di
dasar menjadi kotoran. Pemberian pakan dihentikan jika larva dalam bak
pemeliharaan secara sekilas telah memegang pakan buatan sendiri tanpa ada yang
saling berebut dan aerasi dihidupkan kembali.
Larva yang baru menetas belum memerlukan makanan tambahan karena
masih mempunyai persediaan makanan dalam kuning telurnya. Pakan tambahan
diberikan setelah larva berumur 2-3hari. Jenis makanan yang cocok untuk larva
yaitu naupli artemia. Naupli artemia ditetaskan dalm wadah terpisah berupa
wadah khusus dengan bentuk bulat kerucut. Media penetasan menggunakan air
laut dengan salinitas 25-30 ppt dan elama penetasan diberikan perlakuan aerasi.
Lama penetasan kista artemia 24-30 jam. Pemanenan artemia dilakukan dengan
cara mematikan aerasi dan didiamlam selama 30-60 menit.supaya naupli
berkumpul di bawah. Setelah naupli terkumpul di bawah kran dibuka dan naupli
disaring dengan menggunakan saringan micron 200 mikron. Naupli yang telah
dipanen dicuci dengan air tawar dan di tamping dalam wadah. Naupli artemia
diberikan mulai hari kedua sampai post larva. Selain naupli artemia, larva
memerlukan pakan buatan yang diberikan pada umur 8 hari sampai post larva.
Jumlah pakan buatan yang dibutuhkan untuk siklus pemeliharaan yaitu 7,5 kg
dalam 5 ton bak pemeliharaan dengan padat tebar 50 ekor/liter.

Tahapan pemeliharaan larva meliputi:
1) Penyiapan kolam dan air media pemeliharaan larva
Tahapan:

a) Bak dicuci bersih;
b) Disuci-hamakan, bisa dengan dijemur dibawah terik Matahari atau
dengan desinfektan (misalnya kaporit 50-100 mg/liter air (50-100 ppm);
c) Dibilas dengan air sabun kemudian dicuci bersih;
d) Air bersih dari tandon dimasukkan ke dalam bak dengan disaring
menggunakan filterbag, hingga tinggi air 70-80 cm,

22

22
e) Diaerasi.
2) Penebaran naupli
Setelah satu hingga dua hari di bak penetasan, larva dipindahkan ke dalam
bak pemeliharaan larva. Padat penebaran larva antara 100–150 ekor/liter. Kualitas
air dipertahankan pada kondisi optimum, yaitu pada suhu 29 - 31°C, pH 7,5 – 8,
salinitas 5 – 6 ppt dan oksigen terlarut 5 – 6 ppm.
Wadah pemeliharaan larva udang galah dapat menggunakan wadah
berbahan fiberglass yang berbentuk kerucut. Volume yang digunakan yaitu sekitar
60 liter. Hal ini diperkuat oleh Sopian et al, (2013) yang menyatakan bahwa Larva
udang galah sebagai hewan uji diperoleh dengan menetaskan induk yang sedang
mengerami telur dengan warna telur cokelat keabu-abuan pada bak fi berglass
kerucut bervolume 60 liter air. Larva yang diperoleh disterilkan dengan cara
perendaman dalam larutan formaldehide 200 ppm selama 30 detik. Selanjutnya
larva dipelihara menggunakan bak fi berglass kerucut bervolume 60 liter yang
diisi dengan air payau steril bersalinitas 10 ppt sebanyak 50 liter. Sebelum
digunakan, wadah pemeliharaan larva dan air media disucihamakan secara
bersamaan dengan cara merendam dalam larutan kaporit dengan dosis 30 ppm.
Guna mereduksi klorin secara kuat, ditambahkan vitamin C dengan dosis 60 ppm
ke dalam air media pemeliharaan. Suplai oksigen dilakukan dengan memasang
instalasi aerasi dengan blower sehingga kadar oksigen terlarut optimal (> 5 mg/l).
Hal ini juga diperkuat oleh Ipandri, (2017) yang menyatakan bahwa Corong fiber
dengan volume 60 L disiapkan sebagai wadah pemeliharaan larva. Air sebanyak
60 liter kemudian dimasukkan kedalam masing-masing corong pemeliharaan.
Wadah pemeliharaan dipasang aerasi dan heater, setelah itu larva udang galah
asahan dimasukkan ke dalam wadah pemeliharaan dengan kepadatan 3000 ekor
pada setiap wadah pemeliharaan

2.7. Lahan Untuk Pembesaran
Berdasarkan penelitian yang dilakukan dinas di DIY, ditetapkan luas tanah
yang diperlukan untuk pola usaha budidaya udang galah adalah 11.000 m2. Lahan
tersebut digunakan untuk kolam seluas 8.500 m2 dan sisanya 2.500 m2 digunakan
untuk pematang dan daratan tempat kegiatan lainnya. Dari luas kolam tersebut,
23

23
2.200 m2 digunakan sebagai kolam pendederan dan 6.300 m2 sebagai kolam
pembesaran (Wahyudi dan Abdul, 2013).

Menurut Hadie et al. (2009), udang galah dapat dipelihara di dalam bak
beton berukuran 60 cm x 60 cm. Bak beton dilengkapi dengan sistem aerasi dan
tinggi air dalam bak adalah 35 cm. Padat tebar udang galah untuk setiap bak
adalah 20 ekor dan udang galah telah melalui proses diaklimatisasi selama 24 jam
sebelum dimasukan kedalam bak.

Berdasarkan KKP tahun 2011, pembesaran udang galah membutuhkan
kolam budidaya air tawar (freshwater pond). Luas kolam air tawar (freshwater
pond) di Indonesia pada tahun 2009 baru terealisasikan 146.557 ha dari potensi
luas lahan yang ada yaitu 541.100 ha. Luas ini masih jauh di bawah luas tambak
(brackishwater pond) di Indonesia yang sudah mencapai angka 682.857 ha dari
potensi lahan yang ada yaitu 2.963.717 ha. Udang galah mempunyai kemampuan
untuk hidup di air pada kisaran kadar garam yang luas (euryhaline). Sifat
euryhaline yang dimiliki udang galah memungkinkan udang mampu tumbuh dan
beradaptasi pada kondisi air berkadar garam. Sifat inilah yang memungkinkan
udang galah dapat dipelihara pada tambak-tambak (brackishwater pond). Untuk
mendapatkan tingkat kelangsungan hidup yang optimal, media salinitas yang
digunakan tidak lebih dari 3,85 ppt. Untuk pertumbuhannya, udang galah tumbuh
dengan bobot optimal pada salinitas 0 ppt, sedangkan pertumbuhan panjangnya
optimal pada salinitas 2,7 ppt (Ali dan Agus, 2015).

Suksesnya usaha budidaya udang galah tidak terlepas dari kegiatan teknis
seperti konstruksi kolam, mecakup kegiatan perencanaan dan pembuatan kulam
yang sesuai dengan stadar supaya memudahkan pengelolaan, baik dalam
melakukan pengeringan kolam maupun pengisian pembuangan air. Pangaturan air,
mencakup kegiatan pengelolaan air seperti tersedianya air sepanjang tahun jengan
jumlah yang cukup, kualitas air yang baik dan bebas dari pencemaran,
pembuangan air dapat dilakukan dengan lancar. Saluran yang memiliki kegunan
sendiri-sendiri, akan menghindarkan air buangan masuk kembali ke kolam.
Pengelolaan, mencakup kegiatan seperti pengolahan tanah, pemupukan dan

24

24
pemberian makanan tambahan. Pengolahan tanah, khususnya dasar kolam, sangat
penting karena dengan adanyan pengolahan menjadikan dasar tanah kolam
terbebas dari gas-gas beracun yang berdampak negatif bagi udang. Selain itu perlu
dilakukan pemupukan, baik penggunaan pupuk organik maupun nonorganik, agar
tanah dasar kolam tetap subur sehingga berbagai jenis makanan alami yang
disukai udang dapat tumbuh dengan subur pula (Murtidjo, 1992).

Menurut Zepriana (2010), sebelum melakukan usaha budidaya udang
galah, perlu persiapan atau perencanaan terlebih dahulu. Pemilihan lokasi usaha
sangat penting karena akan menunjang pada kelangsungan usaha yang dilakukan.
Lokasi budidaya udang galah di usahakan dekat dengan sumber air, supaya air
mengalir secara teratur. Berikut merupakan tahapan teknis usaha budidaya udang
galah :

1. Persiapan Kolam Jenis tanah kolam yang baik untuk usaha budidaya udang
galah yaitu tanah yang tidak berlumpur dan berpasir. Dasar kolam harus rata
dan dibuat kemalir (caren) secara diagonal dari saluran pemasukan dan
pembuangan air. Hal ini dilakukan supaya memudahkan dalam pemanenan.
Selain itu air yang masuk ke kolam harus baik dan bebas dari hama atau
predator. Oleh karena itu saluran pemasukan dan pembuangan air diusahakan
menggunakan penyaring. Jika telah melakukan pemanenan, maka dilakukan
pengeringan kolam selama kurang lebih 1 – 2 minggu, supaya terjadi proses
mineralisasi bahan organik baik berupa sisa-sisa bahan organik yang ada di
kolam dan membunuh hama, seperti benih-benih ikan liar yang merugikan
kehidupan udang galah. Selain itu pengeringan kolam juga berfungsi untuk
menguraikan senyawa sulfida dan senyawa beracun lainnya akibat dari proses
perendaman selama musim tanam. Tanah dasar kolam jangan terlalu kering,
cukup terlihat sudah retak-retak dan bila terinjak masih melesak. Pengeringan
yang tidak sempurna akan memudahkan kolam tercermar setelah diisi oleh air.

2. Pengapuran dan pemupukan. Setelah kolam dikeringkan maka dilakukan
pembajakan atau membalikan tanah kolam supaya mempercepat proses
mineralisasi bahan organik dan melancarkan sirkulasi oksigen serta

25

25
mengeluarkan gas-gas beracun. Lalu tanah dasar kolam di taburi dengan kapur
kurang lebih 500 kg/ha. Penaburan kapur dilakukan untuk menetralkan
keasaman kolam. Jika udang galah dipelihara 16 di kolam asam maka akan
menghambat pertumbuhannya. Udang akan mengeluarkan lendir sebagai usaha
untuk melindungi cangkangnya dari asam. Lapisan lendir itu bisa menghambat
pertukaran gas dalam udang, akibatnya udang akan mati karena tidak mampu
mengikat oksigen. Jika telah selesai melakukan pengapuran maka dilakukan
pemupukan secara merata ke seluruh permukaan dasar kolam dengan
menggunakan pupukorganik atau pupuk kandang kurang lebih 1000 kg/ha.
Setelah itu kolam dialiri air dengan ketinggian 3-5cm, lalu dibiarkan
menggenang selama 2-3 hari. Hal ini dilakukan supaya terjadi proses
pembentukan pakan alami. Setelah penggenangan air, maka dilakukan
pemupukan dengan menggunakan pupuk non organik. Pupuk yang digunakan
adalah pupuk urea dan TSP. Pupuk urea merupakan sumber nitrogen,
sedangkan pupuk TSP merupakan sumber fosfat. Maka penggunaan pupuk urea
lebih sedikit daripada pupuk TSP.Dosis penggunaan pupuk urea sebanyak 25
kg/ha sedangkan pupuk TSP 100 kg/ha.

Menurut PPUK Bank Indonesia (2012), pengapuran dan pemupukan
dilakukan pada saat persiapan kolam. Pengapuran dilakukan jika tanah dasar
kolam bereaksi masam (pH < 6,0) dengan cara dan dosis yang tepat agar tidak
merugikan kehidupan udang galah. Pengapuran dimaksudkan untuk meningkatkan
pH tanah dasar kolam menjadi netral (pH 7,0) dan dapat berfungsi sebagai
desinfektan. Dosis pengapuran harus disesuaikan dengan kondisi pH tanah dasar
dan jenis kapur yang digunakan. Jenis kapur yang digunakan dapat berupa kapur
sirih, kapur tohor, kapur tembok dan kapur karbonat/kapur giling. Pemupukan
bertujuan untuk menambah unsur hara yang larut dalam air guna mendorong
pertumbuhan fitoplankton yang merupakan pakan alami udang galah, dan
pelindung udang dari terik sinar matahari. Pupuk yang digunakan adalah pupuk
organik (kompos) dan pupuk anorganik (urea dan TSP). Penggunaan pupuk
organik lebih baik daripada pupuk anorganik karena dapat terhindar dari efek
samping bahan-bahan kimia; aman bagi lingkungan, dan menjaga kesuburan dasar

26

26
kolam dalam jangka waktu lama. Jumlah pupuk yang digunakan tergantung pada
tingkat kesuburan kolam. Pemupukan dilakukan pada air kolam, bukan dasar
kolam karena dapat membahayakan kehidupan udang yang dipelihara. Dosis
pemupukan awal untuk penyuburan dasar kolam adalah 100 kg/1.000m2 kolam.
Untuk pupuk organik pemupukan dilakukan dengan melarutkan pupuk dalam
ember, kemudian air yang telah mengandung pupuk di-percikkan secara merata di
permukaan air kolam. Sedangkan untuk pupuk anorganik pemupukan dapat
dilakukan dengan: a) ditebarkan ke seluruh permukaan dasar kolam ketika kolam
diairi setinggi sekitar 10 cm atau b) dimasukkan ke dalam kantong plastik yang
berlubang halus dan dicelupkan ke dalam air kolam di dekat

Menurut PPUK Bank Indonesia (2012), pembesaran udang galah dapat
dilakukan dengan sistem monokultur atau polikultur, dengan teknologi antara lain
sebagai berikut :

1. Teknologi pembesaran di kolam dengan persyaratan teknis tertentu.

2. Teknologi pembesaran di sawah tambak yang merupakan perairan pasang surut
(contoh di wilayah Bengawan Solo, Jawa Tengah).Dengan teknologi ini udang
galah dapat dibudidayakan secara polikultur dengan ikan lain misalnya tawes dan
bandeng.

3. Teknologi pembesaran di tambak darat yang mempunyai kadar garam kurang
dari 10 permil. Persyaratan teknisnya hampir sama dengan pembesaran udang
galah di kolam, namun yang perlu diperhatikan adalah proses aklimatisasi benih
udang dari air tawar ke sedikit payau.

Udang galah merupakan komoditas perikanan air tawar yang dalam
pembudidayaannya memerlukan beberapa persyaratan dalam hal pemilihan lokasi
kolam dan lingkungannya. Untuk lokasi, persyaratan utamanya adalah ketinggian,
jenis tanah dan adanya air mengalir. Secara lengkap persyaratannya adalah
sebagai berikut:

a. Syarat lokasi:
- Ideal di dataran rendah dengan ketinggian 400 M Dpl
27

27
- Tanah lumpur berpasir
- Terdapat sumber air mengalir
- Bebas banjir
- Bebas dari pencemaran
- Keamanan terjamin
- Mudah dijangkau

b. Syarat lingkungan:
- pH : 7-8
- Salinitas : 0-5 permil (namun sebaiknya air tawar)
- Tinggi genangan : 80-120 cm
- Temperatur air : 26°C-30°C
- Kecerahan air : 25-45 cm
- Oksigen terlarut : 5-7 ppm
- Karbondioksida : 2-12 ppm
- Amoniak (NH3) : < 2 ppm

Fasilitas Produksi dan Peralatan

1. Kolam Bentuk kolam untuk budidaya udang galah sebaiknya memanjang sesuai
aliran air masuk dan keluar. Hal ini akan bermanfaat terhadap peng-gantian air
yang sempurna sehingga kandungan oksigen di dalam air akan tetap tinggi
selama pemeliharaan. Ukuran kolam yang ideal adalah lebar maksimum 20 m
dan panjang 50 m atau luas maksimal 1000 m2 . Ukuran lebar ideal akan
memudahkan dalam pemberian pakan, karena pakan udang dapat ditebar secara
merata dari pinggir sampai ke tengah kolam. Hal tersebut sangat penting agar
pendistribusian pakan dapat optimal karena udang galah hidup merayap dan
tersebar ke seluruh dasar kolam. Selain itu, kolam mudah dikeringkan pada
saat pemanenan. Dasar kolam sebaiknya tanah berpasir dan diusahakan agar
jumlah lumpur sesedikit mungkin. Hal ini untuk mencegah terjadinya
pembusukan bahan organik sisa pakan atau kotoran udang yang dapat
menimbulkan racun dan menyebabkan udang yang dipelihara mabuk atau
stress.

2. Pematang Pematang atau tanggul pembatas kolam harus dibuat kokoh dan kuat
agar tidak longsor dan bocor. Lebar bagian atas dari pematang sebaiknya tidak
kurang dari 1 m. Untuk memudahkan pengelolaan kolam, maka perbandingan
28

28
antara sisi tegak dan sisi mendatar adalah 1 : 2 untuk tanah lempung dan
minimal 1 : 1 untuk tanah berpasir.

3. Shelter Udang galah selama hidupnya mengalami beberapa kali molting, dan
pada saat itu udang galah berada pada kondisi yang paling lemah. Di sisi lain
udang galah juga mempunyai sifat kanibal. Dengan demikian udang galah yang
sedang molting perlu shelter yang diberikan merata di sekeliling kolam, agar
udang galah terhindar dari kejaran udang yang sehat yang dapat memangsanya.
Luas shelter sebaiknya kurang lebih 20% dari luas kolam. Shelter dapat dibuat
dari pelepah daun kelapa atau pucuk pohon bambu yang telah dibuang daunnya
atau anyaman bambu. Shelter diambangkan di dalam kolam, diikatkan pada
patok bambu/kayu dengan kedalaman 40 cm dari dasar kolam.

29

29
III. PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Berdasarkan makalah mengenai manajemen dan teknologi persiapan lahan
budidaya udang galah (macrobrachium rosenbergii) didapatkan kesimpulan yaitu
sebagai berikut:

1. Udang galah merupakan bagian dari filum arthropoda, subfilum crustacea,
ordo decapoda, genus macrobrachium dan spesies Macrobrachium rosenbergii.
2. Udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man) merupakan udang air
tawar yang memiliki ukuran tubuh lebih besar dibandingkan udang jenis
konsumsi lainnya.
3. Optimalisasi kondisi kolam yang dilakukan khusus pada kolam budidaya
udang galah (Macrobrachium rosenbergii) adalah untuk diperhatikan dan dijaga
selalu agar berada pada kondisi yang paling optimal, sehingga dapat
menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya.
4. Pemberian shelter memiliki peran penting yaitu memperluas media hidup
udang dan sebagai tempat berlindung dari serangan sesame jenis udang tersebut
dan predator lain. Shelter dapat terbuat dari pipa paralon, daun kelapa maupun
bambu.
5. Lahan untuk pemijahan yaitu berupa bak fiber, bak beton maupun
akuarium dengan kepadatan 4 ekor setiap meter persegi dengan komposisi
jantan dan betina 1:3.
6. Bak pemeliharaan larva dapat berupa fiberglass atau bak beton. Pada hari
ketiga setelah menetas diberi pakan nauplii Artemia kemudian pada hari
kesebelas diberi pakan Artemia diselingi pakan buatan sampai menjadi post
larva dengan frekuensi pemberian pakan tiga jam sekali. Pergantian air
dilakukan setiap hari sebanyak 25 - 50 %, salinitas media pemeliharaan larva
dipertahankan 10-12 ppt, suhu 29,3-32,30C, pH 7,53-8,6, dan DO 6,01-7,93
ppm.

30

30
7. Syarat lokasi pembesaran udang galah (Macrobrachium rosenbergii):
Ideal di dataran rendah dengan ketinggian 400 M Dpl, Tanah lumpur berpasir,
Bebas dari pencemaran, Keamanan terjamin, Mudah dijangkau. Sedangkan
syarat lingkungan untuk lokasi pembesaran udang galah (Macrobrachium
rosenbergii) adalah: pH : 7-8, Salinitas : 0-5 permil (namun sebaiknya air
tawar), Temperatur air 26°C-30°C, Kecerahan air : 25-45 cm, Oksigen terlarut :
5-7 ppm, dan Karbondioksida : 2-12 ppm

3.2. Saran
Sebaiknya penulis lebih menggunakan referensi yang lebih banyak untuk
menunjang dan mendukung isi makalah sehingga pembaca dapat mengambil
informasi yang akurat.

31

31
DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, S dan A. Muqsith. 2014. Manajemen Produksi Nauplius Udang Vaname
(Litopenaeus Vannamei) di Instalasi Pembenihan Udang Balai Perikanan
Budidaya Air Payau, Gelung, Situbondo, Jawa Timur. 5(2): 53-64.

Ali, F. Dan A. Waluyo. 2015. Tingkat Kelangsungan Hidup Dan Pertumbuhan
Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii De Man) Pada Media
Bersalinitas. J.Limnotek. 22(1): 42-51.

Ernawati dan Chrisbiantotro. 2010. Teknik Pembenihan Lobster Air Tawar Red
Claw (Cherax Quadricarinatus) di Unit Pembenihan Budidaya Air Tawar
(Upbat) Punten Kota Batu Jawa Timur. 65-71.

Hadie, L.E., W.Hadie dan T.H. Prihadi. 2009. Efektivitas Mineral
KalsiumTerhadap Pertumbuhan Yuwana Udang Galah (Macrobranchium
rosenbergii). J.Ris. Akuakultur. 4(1): 65-72.

Ipandri, Yogi. 2017. Kelangsungan Hidup Dan Perkembangan Larva Udang Galah
(Macrobrachium Rosenbergii) Asahan Pada Salinitas Berbeda. Skripsi.

Khairuman dan Amri, K. 2006. Budidaya Udang Galah Secara Intensif.
Agromedia pustaka. Jakarta.

Murtidjo, B.A. 1992. Budidaya Udang Galah Sistem Monokultur. Kanisius.
Yogyakarta.

PPUK Bank Indonesia. 2012. Budidaya Pendederan Dan Pembesaran Udang
Galah (Pola Pembiayaan Konvensional). Hal. 1-39

Priyono, Susilo B., Sukardi, B. S.M. Harianja. 2011. Pengaruh Shelter terhadap
Perilaku dan Pertumbuhan Udang Galah (Macrobrachium Rosenbergii).
Jurnal Perikanan (J. Fish. Sci.) XIII (2) : 78-85 ISSN: 0853-6384 78.

Rohmana, Dasu, C. H. Adi, A. J. Pamungkas, S. Rosellia. 2007. Polikultur Udang
Galah (Macrobrachium rosenbergii) dan Ikan Gurami (Osphronemus
goramy) Sistem Ekstensif. Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII.
32

32
Dukungan Teknologi untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani dalam
Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat.

Saputra, Muhammad Angga. 2015. Perbaikan Kualitas Air pada Pembesaran
Udang Galah dengan Kepadatan Berbeda Berbasis Integrated Multi Trophic
Aquaculture. Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sopian, A., I. Khasani, Dan F. Anggraeni. 2013. Pemanfaatan Bioflok Dari Media
Pendederan Untuk Pemeliharaan Larva Udang Galah (Macrobrachium
Rosenbergii). Widyariset. 16 ( 2): 277–232

Taqwa, F.H., A.D.Sasanti, A.K.Gaffar dan Tanbiyaskur. 2012. Kajian Biologi
Udang Galah (Macrobranchium rosenbergii) Di Habitat Rawa Sumatera
Selatan. Prosiding. Seminar Nasional Bioteknologi Kelauta dan Perikanan.
Hal.138-148.

Taqwa, F. H., A. D. Sasanti., K. Haramain., E. Kusrini dan A. K. Gaffar. 2014
Penambahan Kalsium Pada Air Rawa Sebagai Pengencer Salinitas Media
Pemeliharaan Pascalarva Udang Galah Terhadap Sintasan, Tingkat Kerja
Osmotik, Dan Konsumsi Oksigen. Jurnal Akuakultur. 9(2) : 229-236

Wahyudi, M.J. dan A. Fadlil. 2013. Sistem Pakar Untuk Mengidentifikasi
Penyakit Udang Galah Dengan Metode Theorema Baye.Jurnal Sarjana
Teknik Informatika. 1(1): 11-20.

Zepriana, D. 2010. Analisis Faktor-Faktor Produksi Dan Pendapatan Usaha
Budidaya Udang Galah Di Kabupaten Ciamis. [SKRIPSI]. Institut Pertanian
Bogor.

33

33
34

34
Pertanyaan
1. Shelter yang digunakan bentuknya seperti apa dan penggunaannya?
(Sugeng Riyadi)
Shelter dapat dibuat dari pelepah daun kelapa atau pucuk pohon bambu yang
telah dibuang daunnya atau anyaman bambu. Shelter diambangkan di dalam
kolam. Penggunaan shelter yang tepat dapat melindungi udang-udang yang
lemah saat terjadi molting. Shelter udang galah berupa teknologi “apartemen
udang galah” telah teruji mampu mengurangi tingkat kanibalisme dan
meningkatkan produksi. ingkat kelangsungan hidup yang tinggi diduga
dipengaruhi oleh kualitas air yang baik, keberadaan shelter, kecukupan
kebutuhan makanan yang diperlukan oleh tiap-tiap individu, dan
pertumbuhan yang seragam yang membantu meminimalisir kanibalisme
(Yuliana).

35

35