You are on page 1of 21

Case Report Session

PNEUMOTORAKS

Oleh :

M Tohib Habib 1840312271
Pritasa Muthia Ulfa 1840312462
Diah Ernita 1840312469

Preseptor:
dr. Russilawati, Sp.P

BAGIAN PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRAI
RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2018
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pneumotoraks merupakan adanya udara pada rongga pleura. Udara
biasanya masuk ke rongga pleura karena adanya kebocoran pada lubang paru yang
terkena namun jarang pada kasus trauma dada penetrasi.1 Pneumotoraks spontan
merupakan tipe pneumotoraks yang terjadi tanpa adanya trauma. Pneumotoraks
spontan kemudian diklasifikasikan menjadi pneumotoraks spontan primer dan
pneumotoraks spontan sekunder. Pneumotoraks spontan primer terjadi pada
pasien yang secara klinis tidak terdapat adanya kelainan pada paru, sedangkan
pneumotoraks spontan sekunder terkait dengan adanya kelainan pada paru, yang
paling sering disebabkan oleh penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).2
Pneumotoraks spontan merupakan masalah kesehatan yang sangat penting
dengan insiden per tahun sekitar 18-28 dan 1,2-6 kasus per 100.000 laki-laki dan
perempuan, berturut-turut. Insiden per tahun dari pneumotoraks spontan primer
pada laki-laki dan perempuan adalah sekitar 7,4-18 dan 1,2-6 kasus per 100.000
populasi, berturut-turut; insiden per tahun daru pneumotoraks spontan sekunder
hampir sama yaitu sekitar 6,3 dan 2 kasus per 100.000 laki-laki dan perempuan,
berturut-turut.2
Faktor-faktor risiko untuk pneumotoraks spontan primer termasuk bentuk
badan yang tinggi dan kurus, laki-laki, dan merokok. Pada pneumotoraks spontan
sekunder berupa banyak kelainan respirasi berupa PPOK dengan emfisema,
fibrosis kistik, tuberkulosis, kanker paru, pneumonitis interstisial, pneumonia
yang disebabkan Pneumocystis carinii pada penderita HIV. Pneumotoraks
spontan primer biasanya terjadi pada usia 10-30 tahun dan pneumotoraks spontan
sekunder terjadi pada usia-usia lanjut 60-64 tahun tergantung dari penyebab
dasarnya.2
Walaupun guideline manajemen untuk pneumotoraks tersedia bervariasi
pada setiap praktik klinis di semua negara namun tetap dibutuhkan pengetahuan
lebih lanjut dalam presentasi klinis, manajemen praktis, dan efek yang
ditimbulkan dari penyakit secara menyeluruh sehingga pneumotoraks tidak
mengancam nyawa manusia.
1.2 Tujuan Penulisan
Penulisan case report session ini bertujuan untuk memahami dan
menambah pengetahuan tentang pneumotoraks.
1.3 Batasan Masalah
Case report session ini akan membahas mengenai kasus pneumotoraks
1.4 Metode Penulisan
Metode yang dipakai dalam penulisan studi kasus ini berupa hasil
pemeriksaan pasien, rekam medis pasien, tinjauan kepustakaan yang mengacu
pada berbagai literature, termasuk buku teks, dan artikel ilmiah mengenai
pneumotoraks.
BAB 2
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas pasien
1. Nama : Tn. Z
2. Umur/tgl lahir : 66 tahun
3. Jenis kelamin : Laki-laki
4. Pekerjaan : Buruh
5. Nomor RM : 01.02.91.59
6. Alamat : Jl. Ampang Karang, Ampang
7. Status perkawinan : Kawin
8. Negeri Asal : Indonesia
9. Tanggal Masuk : 4 Oktober 2018

3.2 Anamnesis
Keluhan utama:
Sesak napas meningkat sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit
Riwayat Penyakit Sekarang :
 Sesak napas meningkat sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, tidak
menciut, meningkat dengan aktifitas. Sesak sudah dirasakan sejak 2
minggu sebelum masuk rumah sakit dan karena sesak pasien berobat ke
RSUD Rasidin Padang dan dilakukan Rontgen toraks, kemudian pasien
dirujuk ke RSUP Dr. M Djamil Padang untuk tatalaksana selanjutnya.
 Batuk (+), batuk berdahak berwarna putih, hilang timbul sejak 6 bulan
yang lalu kemudaian di cek BTA hasil (+) dan diberikan OAT hunga saat
ini.
 Batuk darah (-)
 Nyeri dada (+), tidak menjalar,
 Demam (-)
 Keringat malam (-)
 Mual (-), muntah (-), nyeri ulu hati (-)
 Penurunan nafsu makan (+), Penurunan BB (+), pasien tidak tau berapa.
 BAK dan BAB positif tidak dikeluhkan.
Riwayat Penyakit Dahulu
 Riwayat DM (-)
 Riwayat hipertensi (-)
 Riwayat TB (-)
 Riwayat keganasan (-)
Riwayat Penyakit Keluarga
 Riwayat TB (-)
 Riwayat hipertensi (-)
 Riwayat DM (-)
 Riwayat keganasan (-)
Riwayat pekerjaan, sosial-ekonomi, kejiwaan dan kebiasaan
 Pasien dulunya bekerja sebagai kontraktor bangunan
 Perokok 20 batang sejak umur 15 tahun dan sudah berhenti sejak 2 tahun
yang lalu (Bekas perokok, IB : Berat)
Pemeriksaan umum
 Keadaan Umum : Sedang
 Kesadaran : CMC
 Tekanan darah : 110/70
 Nadi : 90x/menit
 Suhu : 37ºC
 Pernapasan : 22x/menit
 Sianosis : (-)
 Tinggi badan : 160 cm
 Berat badan : 50 kg
Kepala : bulat, simetris, normocephal
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Leher
 JVP : 5 - 2 cmH2O
 Deviasi trakea : (-)
 KGB : tidak terlihat dan tidak teraba pembesaran KGB
Jantung
 Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
 Palpasi : iktus kordis teraba 1 jarimedial LMCS RIC V
 Perkusi : Atas : RIC II
Kanan : LSD
Kiri : 1 jarimedial LMCS RIC V
 Auskultasi : Reguler, murmur (-), gallop (-)
Paru depan
 Inspeksi : Paru kanan lebih cembung dari kiri(statis)
Pergerakan paru kanan tertinggal dari kiri
(dinamis)
 Palpasi : fremitus kanan lebih lemah dari kiri
 Perkusi : kanan : hipersonor
kiri : sonor
 Auskultasi : Kanan : Suara napas melemah sampai RIC IV dan
menghilang dari RIC IV ke bawah
Kiri : Suara vesikuler

Paru belakang
 Inspeksi : bentuk kifosis, paru lebih cembung daripada
kiri(statis)
pergerakan kanan tertinggal dari kiri (dinamis)
 Palpasi : fremitus kanan lebih lemah dari kiri
 Perkusi : kanan : hipersonor
Kiri : sonor
 Auskultasi : Kanan : Suara napas melemah sampai RIC IV dan
menghilang dari RIC V ke bawah
Kiri : Suara vesikuler
Abdomen
 Inspeksi : tidak membuncit, distensi (-)
 Palpasi : supel, hepar dan lien tidak teraba
 Perkusi : timpani
 Auskultasi : BU (+) N
Alat kelamin : tidak diperiksa
Ekstremitas : edema -/-, clubbing finger -/-
3.3 Pemeriksaan Laboratorium

Hb : 11,0 gr/dL Total Protein : 6,6 g/dL
Leukosit : 16.490/mm3 Albumin : 3,9 g/dL
Ht : 33% Globulin : 2,7 g/dL
Trombosit : 309.000/ mm3 Bilirubin total : 0,5 mg/dL
PT/APTT : 11/37,5 detik Bilirubin direk : 0,2 mg/dL
Glukosa : 120 mg/dL Bilirubin indirek : 0,3 mg/dL
Ureum/Kreatinin : 19 / 1,2 mg/dL SGOT : 37 u/L
Na/K/Cl : 140/33/108 Mmol/L SGPT : 24 u/L
Kesan Laboratorium : leukositosis, kalium menurun

3.4 Pemeriksaan Foto Thorak
Kesan rontgen toraks : pneumotoraks
3.5 Diagnosis Kerja
Pneumotoraks sekunder ec. TB Paru dalam pengobatan OAT kategori I
fase lanjutan bulan ke-6
3.6 Diagnosis Banding
Pneumonia
3.7 Rencana Pengobatan
- IVFD NaCl 0,9 % 12 jam/kolf
- Kultur sputum dan sensitivitas kumal banal
- TCM Sputum
- BTA Sputum dan sensitivitis kuman banal
- BTA sputum I, II
- Pemasangan WSD (5/10/2018)
3.8 Follow-up
1. 10-10-2018 pkl 16:30
S/ sesak napas (+) berkurang
Batuk (+) berdahak (+) berkurang
Demam (-)
O/ Keadaan umum : sedang
Kesadaran : CMC
Tekanan darah : 110/70
Nadi : 90 x/menit
Frekuensi Nafas : 22 x/menit
Suhu : 36◦C
Kulit : Krepitasi (+)
Paru : Inspeksi : paru kanan lebih cembung dari kiri(statis)
Pergerakan paru kanan tertinggal dari kiri (dinamis)
Palpasi : fremitus kanan lebih lemah dari kiri
Perkusi : kanan : hipersonor
Kiri : sonor
Auskultasi : Suara napas ekspirasi memanjang, Rh -/-, Wh
-/- (intensitas kanan lebih lemah dari kiri)
WSD : Undulasi (+)
Bubble (+)
Cairan (-)
Kesan : WSD lancar
A/ - Pneumotoraks spontan sekunder dextra ec PPOK terpasang WSD hari ke 5
- TB Paru dalam pengobatan OAT kategori I fase lanjutan bulan ke-6
- Emfisema subkutis
- Community Acquired Pneumonia
P/- O23-4 L/menit nasal kanul
- IVFD NaCl 0,9 % 12 jam/kolf + Drip Aminofilin 1 amp
- Injeksi Ceftriaxone 1x 2 gr
- Fortison 2x100 mg
- Nebu Combivent 4x1
- Nebu flumucyl 2 x 1
- Manajemen emfisema subkutis
2. 11-10-2018 pkl 07.00
S/ - sesak napas (+)
- Batuk (+) hilang timbul
- Demam (-)
O/ Keadaan umum : Sedang
Kesadaran : CMC
Tekanan darah : 110/80
Nadi : 88 x/menit
Frekuensi Nafas : 24 x/menit
Suhu : 36o C
Kulit : Krepitasi (+) leher dan leher
Paru: Inspeksi : Paru kanan lebih cembung dari kiri(statis)
Pergerakan paru kanan tertinggal dari kiri (dinamis)
Palpasi : fremitus kanan lebih lemah dari kiri
Perkusi : kanan : hipersonor
Kiri : sonor
Auskultasi : Suara napas ekspirasi memanjang, Rh -/-, Wh -
/- (intensitas kanan lebih lemah dari kiri)
WSD : Undulasi (+)
Bubble (+)
Cairan (-)
Kesan : WSD lancar
A/ - Pneumotoraks spontan sekunder dextra ec PPOK terpasang WSD hari ke 6
- TB Paru dalam pengobatan OAT kategori I fase lanjutan bulan ke-6
- Emfisema subkutis
- Community Acquired Pneumonia (perbaikan)
P/ - Terapi O2
- Massage Subkutis
- IVFD NaCl 0,9 % 12 jam/kolf
- Cefixime 2 x 200 mg (p.o)
- Metilprednisolon 2 x 8 mg (p.o)
- Aminophyllin 3 x 150 mg (p.o)
- Nebu Combivent 4x1
- Nebu flumucyl 2 x 1
- Spiriva

3. 12-10-2018 pkl 06.50
S/ - sesak napas (-)
- Batuk (+) hilang timbul
- Demam (-)
O/ Keadaan umum : Sedang
Kesadaran : CMC
Tekanan darah : 110/70
Nadi : 84 x/menit
Frekuensi Nafas : 24 x/menit
Suhu : 36,3o C
Kulit : Krepitasi (+) disekitar dada dan leher
Paru: Inspeksi : Paru kanan lebih cembung dari kiri(statis)
Pergerakan paru kanan tertinggal dari kiri (dinamis)
Palpasi : fremitus kanan lebih lemah dari kiri
Perkusi : kanan : hipersonor
Kiri : sonor
Auskultasi : Suara napas ekspirasi memanjang, Rh -/-, Wh
-/- (intensitas kanan lebih lemah dari kiri)
WSD : Undulasi (+)
Bubble (+)
Cairan (-)
Kesan : WSD lancar
A/ - Pneumotoraks spontan sekunder dextra ec PPOK terpasang WSD hari ke 7
- TB Paru dalam pengobatan OAT kategori I fase lanjutan bulan ke-6
- Emfisema subkutis
- Community Acquired Pneumonia (perbaikan)
P/- Massage Subkutis
- IVFD NaCl 0,9 % 12 jam/kolf
- Cefixime 2 x 200 mg (p.o)
- IVFD NaCl 0,9 % 12 jam/kolf
- Cefixime 2 x 200 mg (p.o)
- Metilprednisolon 2 x 8 mg (p.o)
- Aminophyllin 3 x 150 mg (p.o)
- Nebu Combivent 4x1
- Nebu flumucyl 2 x 1
- Spiriva 1x
4. 15-10-2018 pkl 07.00
S/ - sesak napas (-)
- Batuk (-)
- Bengkak pada daerah dada, leher, dan lengan (+) berkurang
- Demam (-)
O/ Keadaan umum : Sedang
Kesadaran : CMC
Tekanan darah : 120/70
Nadi : 78 x/menit
Frekuensi Nafas : 22 x/menit
Suhu : 36o C
Kulit : Krepitasi (+) disekitar dada, leher, dan lengan berkurang
Paru: Auskultasi : Suara napas ekspirasi memanjang, Rh -/-, Wh -/- (intensitas
kanan lebih lemah dari kiri)
WSD : Undulasi (+)
Bubble (+)
Cairan (-)
Kesan : WSD lancar
A/ - Pneumotoraks spontan sekunder dextra ec PPOK terpasang WSD hari ke 10
- TB Paru dalam pengobatan OAT kategori I fase lanjutan bulan ke-6
- Emfisema subkutis
- Community Acquired Pneumonia (perbaikan)
P/
- Massage Subkutis
- IVFD NaCl 0,9 % 12 jam/kolf
- Cefixime 2 x 200 mg (p.o)
- Metilprednisolon 2 x 8 mg (p.o)
- Aminophyllin 3 x 150 mg (p.o)
- Nebu Combivent 4x1
- N. Asetil sistein 2 x 1200 mg
- Spiriva 1x
5. 16-10-2018 pkl 06.43
S/ - sesak napas (-)
- Batuk (-)
- Bengkak pada daerah dada, punggung, leher, dan lengan (+)
- Demam (-)
O/ Keadaan umum : Sedang
Kesadaran : CMC
Tekanan darah : 120/70
Nadi : 90 x/menit
Frekuensi Nafas : 22 x/menit
Suhu : 36o C
Kulit : Krepitasi (+) disekitar dada, leher, punggung dan lengan
Paru: Auskultasi : Suara napas ekspirasi memanjang, Rh -/-, Wh -/- (intensitas
kanan lebih lemah dari kiri)
WSD : Undulasi (+)
Bubble (+)
Cairan (-)
Kesan : WSD lancar
A/ - Pneumotoraks spontan sekunder dextra ec PPOK terpasang WSD hari ke 11
- TB Paru dalam pengobatan OAT kategori I fase lanjutan bulan ke-6
- Emfisema subkutis
- Community Acquired Pneumonia (perbaikan)
P/
- Massage Subkutis
- IVFD NaCl 0,9 % 12 jam/kolf
- Metilprednisolon 2 x 8 mg (p.o)
- Aminophyllin 3 x 150 mg (p.o)
- Nebu Combivent 4x1
- N. Asetil sistein 2 x 1200 mg
- Spiriva 1x
6. 17-10-2018 pkl 07.00
S/ - sesak napas (-)
- Batuk (-)
- Bengkak pada daerah dada, punggung, leher, dan lengan (+)
- Demam (-)
O/ Keadaan umum : Sedang
Kesadaran : CMC
Tekanan darah : 120/80
Nadi : 90 x/menit
Frekuensi Nafas : 21 x/menit
Suhu : 36,5o C
Kulit : Krepitasi (+) disekitar dada, leher, punggung dan lengan
Paru: Auskultasi : Suara napas ekspirasi memanjang, Rh -/-, Wh -/- (intensitas
kanan lebih lemah dari kiri)
WSD : Undulasi (+)
Bubble (+)
Cairan (-)
Kesan : WSD lancar
A/ - Pneumotoraks spontan sekunder dextra ec PPOK terpasang WSD hari ke 12
- TB Paru dalam pengobatan OAT kategori I fase lanjutan bulan ke-6
- Emfisema subkutis
- Community Acquired Pneumonia (perbaikan)
P/
- Massage Subkutis
- IVFD NaCl 0,9 % 12 jam/kolf
- Metilprednisolon 2 x 8 mg (p.o)
- Aminophyllin 3 x 150 mg (p.o)
- Nebu Combivent 4x1
- N. Asetil sistein 2 x 1200 mg
- Spiriva 1x
7. 18-10-2018 pkl 06.50
S/ - sesak napas (+) meningkat bila beraktifitas
- Batuk (-)
- Bengkak pada daerah dada, punggung, leher, dan lengan (+)
- Demam (-)
O/ Keadaan umum : Sedang
Kesadaran : CMC
Tekanan darah : 120/80
Nadi : 88 x/menit
Frekuensi Nafas : 20 x/menit
Suhu : 36,8o C
Kulit : Krepitasi (+) disekitar dada, leher, punggung dan lengan
Paru: Auskultasi : Suara napas ekspirasi memanjang, Rh -/-, Wh -/- (intensitas
kanan lebih lemah dari kiri)
WSD : Undulasi (+)
Bubble (+)
Cairan (-)
Kesan : WSD lancar
A/ - Pneumotoraks spontan sekunder dextra ec PPOK terpasang WSD hari ke 13
- TB Paru dalam pengobatan OAT kategori I fase lanjutan bulan ke-6
- Emfisema subkutis
- Community Acquired Pneumonia (perbaikan)
P/
- Massage Subkutis
- IVFD NaCl 0,9 % 12 jam/kolf
- Metilprednisolon 2 x 8 mg (p.o)
- Aminophyllin 3 x 150 mg (p.o)
- Nebu Combivent 4x1
- N. Asetil sistein 2 x 1200 mg
- Spiriva 1x
8. 19-10-2018 pkl 07.00
S/ - sesak napas (+) berkurang
- Batuk (-)
- Bengkak pada daerah dada, punggung, leher, dan lengan (+)
- Demam (-)
O/ Keadaan umum : Sedang
Kesadaran : CMC
Tekanan darah : 120/70
Nadi : 90 x/menit
Frekuensi Nafas : 22 x/menit
Suhu : 36o C
Kulit : Krepitasi (+) disekitar dada, leher, punggung dan lengan
Paru: Auskultasi : Suara napas ekspirasi memanjang, Rh -/-, Wh -/- (intensitas
kanan lebih lemah dari kiri)
WSD : Undulasi (+)
Bubble (+)
Cairan (-)
Kesan : WSD lancar
A/ - Pneumotoraks spontan sekunder dextra ec PPOK terpasang WSD hari ke 14
- TB Paru dalam pengobatan OAT kategori I fase lanjutan bulan ke-6
- Emfisema subkutis
- Community Acquired Pneumonia (perbaikan)
P/ - Massage Subkutis
- Telah dilakukan repair WSD dan insersi IV cath no.14 atas indikasi
emfisema subkutis
- Konsul bedah toraks
- IVFD NaCl 0,9 % 12 jam/kolf
- Metilprednisolon 2 x 8 mg (p.o)
- Aminophyllin 3 x 150 mg (p.o)
- Nebu Combivent 4x1
- N. Asetil sistein 2 x 1200 mg
- Spiriva 1x
BAB 3
DISKUSI
Pasien mengeluhkan sesak napas sejak 2 minggu yang lalu dan meningkat
sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Sesak napas tidak menciut, dan
meningkat dengan aktifitas. Pasien juga mengeluhkan adanya nyeri dada yang
memberat saat pasien batuk. Pasien kemudian berobat ke RSUD Rasidin Padang
dan dilakukan rontgen toraks, kemudian pasien dirujuk ke RSUP Dr. M Djamil
Padang untuk tatalaksana selanjutnya. Pasien juga mengeluhkan batuk berdahak
berwarna putih yang hilang timbul sejak 6 bulan yang lalu. Tidak ada riwayat
batuk darah. Tidak ada mual muntah dan nyeri ulu hati. Pasien mengalami
penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan, tetapi tidak diketahui berapa
penurunannya. Pada pasien di lakukan cek BTA sputum dengan hasil positif (+)
dan pasien diberikan OAT hingga saat ini. Pasien mempunyai riwayat merokok
sebanyak 20 batang/hari sejak usia 15 tahun dan mengaku sudah berhenti
merokok sejak 2 tahun yang lalu.
Dari keluhan sesak napas tidak menciut, pasien diduga mengalami
gangguan pada pengembangan paru. Tidak terjadinya pengembangan paru
(kolaps) menyebabkan tidak terjadinya ventilasi pada paru tersebut, sehingga
penderita akan mengeluhkan sesak napas. Terjadinya kolaps pada paru dapat
disebabkan oleh dua hal, yaitu adanya akumulasi cairan atau akumulasi udara di
dalam rongga pleura.3
Akumulasi jumlah cairan di dalam rongga pleura dapat terjadi jika terdapat
peningkatan tekanan hidrostatik kapiler darah seperti pada gagal jantung, atau jika
terjadi penurunan tekanan osmotik cairan darah seperti pada pasien dengan
hipoalbuminemia. Sedangkan akumulasi udara di dalam rongga pleura
menyebabkan tekanan di dalam rongga pleura tidak lagi negatif (dalam keadaan
normal, tekanannya adalah -5 cmH2O). Paru menjadi kempis, sehingga penderita
akan mengeluhkan sesak napas karena tidak terjadi ventilasi pada paru yang
kolaps.3
Untuk menentukan penyebab terganggunya pengembangan paru, maka
perlu dilakukan pemeriksaan fisik paru pada pasien. Hasil pemeriksaan fisik paru
pasien terutama pada perkusi menunjukkan bahwa paru kanan hipersonor dan
paru kiri sonor, sehingga kemungkinan penyebab kolapsnya paru pada pasien
disebabkan oleh adanya akumulasi udara di rongga pleura, atau disebut dengan
Pneumothorak. Dari anamnesis yang didapatkan diatas, keluhan yang dialami
pasien juga mendukung kecurigaan sebagai kasus pneumotorak. Hal ini sesuai
dengan keluhan berupa sesak napas, nyeri dada, dan batuk yang dimiliki pasien
tanpa adanya trauma pada paru pasien sebelumnya.
Pneumotorak adalah suatu keadaan terdapatnya akumulasi udara di rongga
pleura yang dapat menyebabkan kolaps paru. Pneumotoraks terjadi karena
pecahnya belb atau bula pada paru sehingga menimbulkan hubungan antara
rongga pleura dengan alveolius. Alveolii disangga oleh kapiler yang mempunyai
dinding lemah dan mudah robek, apabila alveolii tersebut melebar dan tekanan di
dalam alveolii meningkat maka udara dengan mudah menuju ke jaringan
peribronkovaskular. Gerakan nafas yang kuat, infeksi dan obstruksi endobronkial
merupakan beberapa faktor presipitasi yang memudahkan terjadinya robekan.
Selanjutnya udara yang terbebas dari alveolii dapat mengoyak jaringan fibrotik
peribronkovaskular. Robekan pleura ke arah yang berlawanan dengan hilus akan
menimbulkan pneumotorak sedangkan robekan yang mengarah ke hilus dapat
menimbulkan pneumomediastinum. Dari mediastinum udara mencari jalan
menuju ke atas, ke jaringan ikat yang longgar sehingga mudah ditembus oleh
udara. Dari leher udara menyebar merata ke bawah kulit leher dan dada yang
akhirnya menimbulkan emfisema subkutis.4,5
Pneumotorak diklasifikasikan menjadi pneumotorak spontan dan
pneumotorak traumatik. Pneumotorak spontan dikelompokkan menjadi
pneumotorak spontan primer dan pneumotorak spontan sekunder. Pneumotorak
spontan primer terjadi tanpa adanya faktor pencetus pada pasien yang tidak
menunjukkan klinis kelainan pada paru. Sebagian besar dari pasien ini terdapat
kelainan berupa pecahnya alveolus subpleura yang tampak pada CT scan.
Sedangkan pneumotorak spontan sekunder terjadi akibat komplikasi dari penyakit
paru yang mendasari, yang paling sering adalah PPOK. Pneumotorak traumatik
terjadi akibat trauma tumpul atau trauma tembus yang merusak paru , bronkus,
atau esofagus.6,7
Pada pasien juga dilakukan cek BTA sputum dengan hasil positif (+) dan
pasien diberikan OAT hingga saat ini. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien
adalah penderita TB aktif. Pasien juga seorang buruh bangunan dan memiliki
riwayat merokok 20 batang/hari sejak usia 15 tahun, dan berhenti 2 tahun lalu.
Derajat perokok dengan Indeks Brinkman (IB) adalah jumlah rata-rata batang
rokok yang dihisap sehari dikalikan lama merokok dalam tahun. Ringan: 0-200,
sedang: 201-600, berat: >600.8 Penghitungan Indeks Brinkman menunjukkan
pasien tergolong sebagai Perokok Berat, sehingga kita dapat mencurigai pasien
juga mengalami PPOK.Rokok merupakan faktor yang berperan meningkatkan
penyakit PPOK. Risiko PPOK pada perokok tergantung pada dosis rokok yang
dihisap, usia mulai merokok, jumlah batang rokok pertahun, dan lamanya
merokok. Semakin banyak jumlah batang rokok yang dihisap, semakin lama
kebiasaan merokok dilakukan, dan semakin muda usia mulai merokok, semakin
tinggi risiko untuk menderita PPOK.
TB Paru dan PPOK merupakan penyakit yang dapat menimbulkan
pneumothorak sebagai salah satu komplikasinya. Inflamasi saluran napas akibat
merokok berkontribusi dalam menyebabkan munculnya bleb subpleura.
Bronkiolitis pada perokok juga berkontribusi dalam menyebabkan terjadinya
Pneumotorak spontan primer (PSP). Pneumotorak spontan sekunder (PSS) dapat
disebabkan oleh berbagai penyakit paru, namun yang paling sering adalah
PPOK.6,7
Pada pemeriksaan fisik paru pasien ini didapatkan paru asimetris, kanan
lebih cembung dari kiri (statis), pergerakan dada kanan tertinggal dari kiri
(dinamis). Hasil pemeriksaan taktil fremitus paru kanan lebih lemah dari kiri.
Perkusi paru kanan hipersonor, kiri sonor pada seluruh lapangan paru. Suara nafas
kanan melemah, suara nafas kiri vesikuler, terdengar rongki di seluruh lapangan
paru, wheezing (-). Pemeriksaan fisik kulit terdapat krepitasi.Pemeriksaan
penunjang yang telah dilakukan pada pasien ini meliputi USG thorax, foto thorax,
dan laboratorium. USG thorax dilakukan sebagai guiding tindakan pemasangan
WSD untuk mengetahui seberapa banyak udara yang akan dikeluarkan. Hasil foto
thorax didapatkan adanya area hiperlusen pada hemithorax kanan dan paru kanan
kolaps. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan kesan leukositosis yang
menandakan adanya infeksi pada pasien.
Pasien ini kemungkinan mengalami Pneumotoraks spontan sekunder
dextra ec PPOK ditambah Emfisema Subkutis ditambah TB Paru dalam
pengobatan OAT kategori I fase lanjutan. Hal tersebut berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisikdan diperkuat dengan riwayat kebiasaan pasien merokok dengan
Indeks Brinkman berat. Pneumotoraks spontan sekunder (PSS) berkaitan dengan
penyakit paru yang mendasari, paling banyak terjadi akibat PPOK. Sementara
pneumotorak spontan sekunder akibat TB lebih banyak terjadi bila terdapatnya
cavitas, namun sedikit terjadi pada TB aktif.6,7
Tujuan utama penatalaksanaan pneumothorak adalah untuk mengeluarkan
udara dari rongga pleura dan menurunkan kecenderungan untuk kambuh lagi.
Tindakan dekompresi sebaiknya dilakukan seawal mungkin pada kasus
pneumothorak yang luasnya >20%. Pada intinya, tindakan ini bertujuan untuk
mengurangi tekanan intrapleura dengan membuat hubungan antara cavum pleura
dengan udara luar. Penatalaksanaan pada kasus ini sesuai dengan prinsip
penatalaksanaan pneumothorak, pasien dilakukan tindakan dekompresi
menggunakan pipa water seal drainage (WSD).9
Terapi oksigen merupakan hal pertama dan utama yang bertujuan untuk
memperbaiki hipoksemia dan mencegah keadaan yang dapat mengancam jiwa.
Diberikan untuk mempertahankan PaO2> 60 mmHg atau Sat O2> 90%. Pada
pasien ini diberikan O2 3-4 liter/menit. Pemberian antibiotik profilaksis setelah
setelah tindakan bedah dapat dipertimbangkan, untuk mengurangi insidensi
komplikasi, infeksi. Pada pasien ini diberikan injeksi Ceftriaxone 1x2 gr.Pada
pasien juga diberikan IVFD NaCl 0,9% 12 jam/kolf + Drip aminofilin 1
ampul,injeksi fortison 2x100 mg, nebu combivent 4 x 1, dan nebu flumucyl 2 x 1.
Obat-obat tersebut digunakan untuk melapangkan saluran pernapasan pasien
sehinga proses respirasi bisa berjalan dengan baik.10 Pada pasien juga
dilakukanpemasangan IV kateter dan massase subkutis untuk tatalaksana
emfisema subkutis sehingga udara bebas yang terdapat dibawah jaringan subkutis
bisa dikeluarkan.11
DAFTAR PUSTAKA
1. Bourke SJ and Burns GP. Respiratory Medicine Lecture Notes. Ninth
Edition. United Kingdom: John Wiley and Sons, Ltd. 2015; 206.
2. Onuki Y, Ueda S, Yamaoka M, Sekiya Y, Yamada H, Kawakami N, et.al.
Primary and Secondary Spontaneous Pneumothorax: Prevalence, Clinical
Features, and In-Hospital Mortality. Canadian Respiratory Journal. 2017;
2017: 6014967.
3. Djojodibroto, D. Respirologi (Respiratory Medicine). Jakarta: EGC; 2014
4. Sudoyo, Aru, W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. K, Marcellus,
Simadibrata. Setiati, Siti. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi IV.
Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2006. p. 1063.
5. Price S A, Wilson L M.Patofisiologi. Ed ke-2.Jakarta: EGC;2014.
6. Fishman AP, Elias JA, Fishman JA, Grippi MA, Senior RM,Pack AI.
Fishman’s Pulmonary Diseases and Disorder. Volume 2. Fourth ed. Mc Graw
Hill. New York. 2008.
7. Bourke SJ. Lecture Note On Respiratory Medicine. 6th ed. Black Well. USA.
2003. Albert RK, Spiro SG, Jett JR. Clinical Respiratory Medicine. Third ed.
Mosby Elsevier. China. 2008.
8. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Berhenti merokok, Pedoman
Penatalaksanaan untuk dokter di Indonesia. PDPI. Jakarta 2011.
9. Levine DJ, Sako EY, Peters J. Pneumothorax. Dalam: Fishman AP, Elias JA,
Fishman JA, Grippi MA, Senior RM. Pulmonary Disease and disorders. Edisi
ke 4. McGraw Hill Medical. 2008;1517-1533.
10. Bowman, Jeffrey, Glenn. Pneumothorax, Tension and Traumatic. Cited 2018
October. Available from http://emedicine.medscape.com/article/827551
11. Khairsyaf O, Medison I. Penggunaan IV Kateter pada Penatalaksanaan
Emfisema Subkutis (Laporan Kasus). Majalah Kedokteran Andalas.
2009;33(1):99-102.