You are on page 1of 12

RINGKASAN MATERI STUDI KEPEMIMPINAN ISLAM

Disusun Oleh Asep Setiawan, S.Th.I, M.A.

I. ORGANISASI
A. Definisi Organisasi
Ada beberapa definisi organisasi dari beberapa tokoh. Menurut Stoner, organisasi
adalah suatu pola hubungan-hubungan orang-orang di bawah pengarahan seorang
pemimpin untuk mengejar tujuan bersama. Adapun menurut James D. Mooney,
organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
Sedangkan Chester I. Bernard mendefinisikan organisasi sebagai suatu sistem aktivitas
kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Dari beberapa pengertian organisasi
dari para tokoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara umum, yang dimaksud dengan
organisasi adalah sekumpulan orang (dua orang atau lebih) yang tersusun dalam sebuah
sistem struktur pembagian kerja dan tata hubungan kerja tertentu yang bekerjasama untuk
mencapai tujuan bersama.

B. Organisasi Informal dan Organisasi Formal
1. Organisasi Formal
Organisasi formal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang mengikatkan diri
dengan suatu tujuan bersama secara sadar, serta dengan hubungan kerja yang rasional.
Misalnya; Perseroan Terbatas, sekolah, negara, dan lain sebagainya.
2. Organisasi Informal
Organisasi informal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang telibat pada
suatu aktifitas serta tujuan bersama yang tidak disadari. Contoh; arisan ibu-ibu
sekampung, belajar bersama anak-anak SD dan lain-lain.

C. Ciri – Ciri Organisasi
Kalau kita memperhatikan penjelasan di atas tentang pengertian organisasi maka
dapatlah dikatakan bahwa setiap bentuk organisasi akan mempunyai ciri-ciri tertentu,
diantaranya sebagai berikut:
1. Sebagai wadah atau tempat untuk bekerjasama
Organisasi merupakan suatu wadah atau tempat dimana orang-orang dapat
bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Tanpa adanya
organisasi, menjadi sulit bagi orang-orang untuk melaksanakan suatu kerja sama, sebab
setiap orang tidak mengetahui bagaiman cara bekerja sama tersebut akan dilaksanakan.
Pengertian tempat di sini, bukan dalam arti yang konkrit, akan tetapi dalam arti yang
abstrak. Sehingga dengan demikian, yang dimaksud tempat di sini adalah dalam arti
fungsi, yaitu menampung atau mewadai keinginan kerja sama beberapa orang untuk
mencapai tujuan tertentu. Dalam pengertian umum, maka organisasi dapat beruba wadah

1
sekumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan tertentu misalnya organisasi buruh,
organisasi wanita, organisasi mahasiswa dan sebagainya.
2. Proses kerja sama sedikitnya antar dua orang
Suatu organisasi, selain merupakan tempat kerja sama, juga merupakan proses
kerja sama sedikitnya antar dua orang. Dalam praktek, jika kerjasama tersebut dilakukan
dengan banyak orang, maka organisasi itu disusun harus lebih sempurna. Dengan kata
lain, proses kerja sama yang dilakukan dalam suatu organisasi, mempunyai kemungkinan
untuk dilaksanakan dengan lebih baik. Hal ini berarti tanpa suatu organisasi maka proses
kerjasama itu hanya bersifat sementara, dimana hubungan kerjasama antara pihak-pihak
bersangkutan kurang dapat diatur dengan sebaik-baiknya.
3. Jelas tugas kedudukannya masing-masing
Dengan adanya organisasi maka tugas dan kedudukan masing-masing orang atau
pihak hubungan satu dengan yang lain akan dapat lebih jelas. Dengan demikian, istilah
doubel pekerjaan dan sebagainya akan dapat dihindarkan. Tanpa pembagian tugas dan
kedudukan yang jelas, anggota organisasi akan bingung tentang apa tugas-tugasnya dan
bagaimana hubungan antara yang satu dengan yang lain.
4. Ada tujuan tertentu
Betapa pentingnya kemampuan mengorganisasi bagi seorang pemimpin. Suatu
perencanaan yang kurang baik tetapi organisasinya baik akan cendrung lebih baik
hasilnya dari pada perencanaan yang baik tetapi organisasinya tidak baik.

D. Unsur – Unsur Organisasi
Secara sederhana organisasi memiliki tiga unsur, yaitu ada orang, ada kerjasama,
dan ada tujuan bersama. Tiga unsur organisasi itu tidak berdiri sendiri-sendiri, akan tetapi
saling terkait atau saling berhubungan sehingga merupakan suatu kesatuan yang utuh.
Adapun unsur-unsur organisasi secara terperinci adalah sebagai berikut:
1. Man
Man (orang-orang), dalam kehidupan organisasi atau ketatalembagaan sering disebut
dengan istilah personnel. Personnel terdiri dari semua anggota atau warga organisasi
menurut fungsi dan tingkatannya masing-masing. Mereka terdiri dari ketua atau
pemimpin sebagai unsur pimpinan tertinggi dalam organisasi, para kordinator atau ketua
bagian yang memimpin suatu unit satuan kerja sesuai dengan fungsinya masing-masing
dan para anggota (nonmanagement).
2. Kerjasama
Kerjasama merupakan suatu perbuatan saling bantu-membantu akan suatu pekerjaan
yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu,
semua anggota atau semua warga organisasi menurut tingkatan dan fungsinya masing-
masing bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.
3. Tujuan Bersama
Tujuan merupakan arah atau sasaran yang dicapai. Tujuan menggambarkan tentang
apa yang akan dicapai atau yang diharapkan. Tujuan merupakan titik akhir tentang apa
2
yang harus dikerjakan. Tujuan juga menggambarkan tentang apa yang harus dicapai
melalui prosedur, program, pola (network), kebijaksanaan (policy), strategi, anggaran
(budgeting), dan peraturan-peraturan (regulation) yang telah ditetapkan.
4. Peralatan (Equipment)
Unsur yang keempat adalah peralatan atau equipment yang terdiri dari semua sarana,
berupa materi, mesin-mesin, uang, dan barang modal lainnya (tanah,
gedung/bangunan/kantor).
5. Lingkungan (Environment)
Faktor lingkungan misalnya keadaan sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi.
Termasuk dalam unsur lingkungan, antara lain :
a. Kondisi atau situasi yang secara langsung maupun secara tidak langsung
berpengaruh terhadap daya gerak kehidupan organisasi, karena kondisi atau
situasi akan selalu mengalami perubahan.
b. Tempat atau lokasi, sangat erat hubungannya dengan masalah komunikasi
dan transportasi yang harus dilakukan oleh organisasi.
c. Wilayah operasi yang dijadikan sasaran kegiatan organisasi. Wilayah
operasi dibedakan menjadi : a). Wilayah kegiatan, yang menyangkut jenis
kegiatan atau macam kegiatan apa saja yang boleh dilakukan sesuai dengan
tujuan organisasi b). Wilayah jangkauan, atau wilayah geografis atau wilayah
teritorial, menyangkut wilayah atau daerah operasi organisasi. c). Wilayah
personil, menyangkut semua pihak (orang-orang, badan-badan) yang
mempunyai hubungan dan kepentingan dengan organisasi. d). Wilayah
kewenangan atau kekuasaan, menyangkut semua urusan, persoalan, kewajiban,
tugas, tanggung jawab dan kebijaksanaan yang harus dilakukan dalam batas-
batas tertentu yang tidak boleh dilampaui sesuai dengan aturan main yang telah
ditetapkan dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
6. Kekayaan Alam
Yang termasuk dalam kekayaan alam ini misalnya keadaan iklim, udara, air, cuaca
(geografi, hidrografi, geologi, klimatologi), flora dan fauna.

II.KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI
A. Pengertian Komunikasi
Secara sederhana, yang dimaksud dengan komunikasi adalah suatu proses
penyampaian pesan atau informasi dari suatu pihak ke pihak yang lain dengan tujuan
tercapainya persepsi atau pengertian yang sama. Komunikasi dalam organisasi sangat
penting karena dengan adanya komunikasi maka seseorang bisa berhubungan dengan
orang lain dan saling bertukar pikiran yang bisa menambah wawasan seseorang dalam
bekerja atau menjalani kehidupan sehari-hari. Maka untuk membina hubungan kerja antar
pegawai maupun antar atasan bawahan perlulah membicarakan komunikasi secara lebih
terperinci.

3
Dalam menyalurkan solusi dan ide melalui komunikasi harus ada si pengirim
berita (sender) maupun si penerima berita (receiver). Solusi-solusi yang diberikan pun
tidak diambil seenaknya saja, tetapi ada penyaringan dan seleksi, manakah solusi yang
terbaik yang akan diambil, dan yang akan dilaksanakan oleh organisasi tersebut agar
mencapai tujuan, serta visi, misi suatu organisasi.
Menyalurkan ide melalui komunikasi bisa secara lisan maupun tulisan. Salah satu
nya adalah dengan memberikan solusi yang tepat kepada orang lain yang membutuhkan
solusi untuk menyelesaikan masalahnya.

B. Prinsip-Prinsip Komunikasi dalam Islam
Islam memberikan perhatian yang signifikan terhadap persoalan komunikasi. Di
dalam Al-Qur'an telah dijelaskan sedemikian rupa bagiamana prinsip-prinsip komunikasi
yang baik dan benar. Ada 6 prinsip komunikasi dalam Islam, kesemuanya mesti
diterapkan agar komunikasi bisa berjalan dengan baik untuk mencapai tujuan yang
diharapkan. Secara singkat, prinsip-prinsip tersebut antara lain:
1. Qaulan sadida (perkataan yang benar).
Dalam berbicara kita harus jujur, sehingga kita menjadi orang yang bisa dipercaya.
Menjauhkan diri dari perkataan-perkataan bohong. Hal tersebut, sebagaimana firman
Allah SWT:
]70 :‫ويِاَ أويِتيوهاَ الذذيِون آومنلوُا اتلتلقوُا اللهو وولقوُلوُا قوتووُدل وسذديِددا ]الحأزاب‬
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah
perkataan yang benar.” (Q.S. Al-Ahzab: 7)
:‫ش الذذيِون لوووُ توتورلكوُا ذمون وخولذفذهوم ذلريِلةد ذضوعاَدفاَ وخاَفلوُا وعلوويْذهتوم فوتوليْوتَلتلقتوُا اللتهو وولويْوتلقوُلتوُا قوتووُدل وستذديِدد ]النستتاَء‬
‫وولويْووخ و‬
[9
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap
(kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah
dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. An-Nisa’: 9)

2. Qaulan Ma'rufa (perkataan yang baik).
Islam menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa bertutur kata yang baik
kepada siapapun, baik kepada yang lebih tua maupun kepada yang muda, baik kepada
atasan maupun bawahan. Allah SWT berfirman:
َ‫ووول تتلوؤتلتوُا اليستوفوهاَءو أوومتووُالولكلم الذتت وجوعتول اللتهل لولكتوم قذويْاَدمتتاَ وواورلزقتلتوُلهوم فذيْوهتتاَ وواوكلستتوُلهوم وولقوُلتوُا ولتلوم قو تووُدل وموعلروفتدتا‬
[5 : ‫]النساَء‬
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna
akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai

4
pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan
ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (Q.S. An-Nisa’: 5)

3. Qaulan Layyinan (perkataan
yang lemah lembut).
Dengan berkata lemah lembut akan membuat lawan bicara kita bersedia
mendengarkan kita. Orang lain akan merasa direngkuh dan dihargai. Apa yang ingin kita
sampaikan bisa lebih diterima oleh mereka. Hati kita pun bisa lebih lapang dalam
menyampaikan sesuatu. Sebagaimana firman Allah:
[44 : ‫فوتلقوُول لوهل قوتووُدل لويْرتدناَ لووعلهل يِتوتَووذلكلر أووو ويووشىَ ]طه‬
“Maka berbicalah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah
lembut, mudah-mudahan dia sadar dan takut” (Q.S. Thaha: 44)

4. Qaulan maisura (perkataan
yang pantas)
Dalam berkomunikasi kita tidak boleh merendahkan orang lain. Terutama kepada
orang yang lebih tua, sekalipun dia adalah orang yang bekerja kepada kita. Tidak
tergantung pada status sosial seseorang, atau tinggi rendahnya pangkat seseorang. Allah
SWT berfirman:

‫ضلن وعونتلهلم ابوتَذوغاَءو وروحوةة ذمون وربر و‬
[28 : ‫ك توتورلجوُوهاَ فوتلقول وللوم قوتووُدل ومويْلسوُدر ]السراء‬ ‫ووإذلماَ تتلوعذر و‬
“Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu
yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.” (Q.S. al-
Isra’: 28)

5. Qaulan baligha (perkataan
yang efektif/membekas jiwa)
Kita berbicara tak perlu berbelit-belit. Kadang dengan begitu orang lain malah
tidak memahami yang ingin kita sampaikan. Terutama pada masyarakat awam.
Pemahaman mereka masih terbatas, kalau kita tidak efektif dalam menyampaikan pesan,
mereka malah bingung menangkapnya. Membiasakan berkata-kata efektif akan lebih
mengena pada sasaran dan membekas di hati mereka. Sebagaimana firman Allah:
: ‫ض وعونتلهوم ووذعظولهوم ووقلتول ولتلوم ذفت أونَوتلفذستذهوم قوتووُدل بولذيْغدتاَ ]النستاَء‬ ‫ذذ‬ ‫لأولوئذ ذ‬
‫ك الذيِون يِتووعلولم اللهل وماَ ذف قلتللوُبوم فوأووعذر و‬
‫و‬
[63
“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati
mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan
katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa pada jiwa seseorang.
Dalam keluarga komunikasi mereka.” (Q.S. An-Nisa’: 63)

5
6. Qaulan Karima (perkataan mulia dan penuh penghormatan)
Dalam berkomunikasi kita harus menghargai perasaan orang lain. Sekalipun kita
sedang membicarakan sebuah kesalahan, sampaikanlah dengan penuh pengertian. Allah
SWT berfirman:
‫هاَ أووو كذوللهتوتاَ فوول توتلقتول‬ ‫ذ‬ ‫ذ‬ ‫ذ‬
‫ك أولل توتوعبِلتلدوا إذلل إذيِلتاَهل ووذباَلوووُالتوديِوذن إذوحأوستتاَدنَاَ إذلمتتاَ يِتووبِت لغوتلن عونتودوك الوكبِو تور أووحأتلد لو‬ ‫ضتىَ وربتي و‬‫ووقو و‬
[23 : ‫هاَ ووقلول وللوماَ قوتووُدل وكذردياَ ]السراء‬ ‫ف ووول توتونتوهورلو‬ ‫وللوماَ أل ف‬
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain
Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika
salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia.” (Q.S. al-Isra’: 23)

III. NEGOSIASI
A. Definisi Negosiasi
Banyak cara untuk menyelesaikan konflik yang terjadi akibat pengambilan
keputusan yang tidak tepat, diantaranya dengan melakukan negosiasi. Sayangnya
pengetahuan dan pemahaman tentang negosiasi, tujuan maupun karakteristik negosiasi
tidak dimiliki oleh semua manager, pimpinan organisasi maupun individu yang terlibat
dalam kehidupan bermasyarakat. Padahal tanpa kita sadari, setiap hari sesungguhnya kita
telah melakukan negosiasi. Negosiasi adalah sesuatu yang dilakukan setiap saat dan
terjadi hampir di setiap aspek kehidupan.
Menurut Brian Finch kata negosiasi berasal dari bahasa latin yang berarti bisnis.
Kata ini mengandung makna, dimana pembelian atau tawar menawar merupakan bagian
dari kehidupan sehari-hari. Sedangkan pengertian negosiasi menurut Pierre Casse adalah:
1). Proses komunikasi dua pihak, 2). Persepsi/ asumsi, kebutuhan, motivasi/ harapan
berbeda, 3). Mencoba bersepakat demi kepentingan bersama. Sedangkan menurut
Stephen P. Robbins dan Timothy A. Judge, negosiasi adalah sebuah proses di mana dua
pihak atau lebih melakukan pertukaran barang atau jasa dan berupaya untuk menyepakati
nilai tukarnya. Dari beberapa definisi negosiasi di atas dapat disimpulkan bahwa
negosiasi adalah suatu cara untuk menetapkan keputusan yang dapat disepakati dan
diterima oleh dua pihak dan menyetujui apa dan bagaimana tindakan yang akan
dilakukan di masa mendatang.

B. Tujuan Negosiasi
Adapun tujuan dari negosiasi adalah sebagai berikut:
1. Mengatasi atau menyesuaikan perbedaan;
2. Memperoleh sesuatu dari pihak lain (yang tidak dapat dipaksakan)

6
3. Mencapai kesepakatan yang dapat diterima kedua belah pihak dalam
rangka suatu transaksi atau menyelesaikan sengketa.

C. Konsep Negosiasi
Negosiasi terjadi ketika kita melihat bahwa orang lain memiliki atau menguasai
sesuatu yang kita inginkan. Tetapi hanya sekedar menginginkan saja tidaklah cukup. Kita
harus melakukan negosiasi untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dari pihak lain
yang memilikinya dan yang juga mempunyai keinginan atas sesuatu yang kita miliki.
Sedangkan agar negosiasi dapat terjadi dengan sukses, kita harus juga bersiap untuk
memberikan atau merelakan sesuatu yang bernilai yang dapat kita tukar dengan sesuatu
yang kita inginkan tersebut.
Negosiasi memiliki sejumlah karakterisik utama, diantaranya adalah :
1. Senantiasa melibatkan orang, baik sebagai individual, perwakilan
organisasi atau perusahaan, sendiri atau dalam kelompok.
2. Menggunakan cara-cara pertukaran sesuatu, baik berupa tawar menawar
(bargain) maupun menukar (barter).
3. Hampir selalu berbentuk tatap muka yang menggunakan bahasa lisan,
gerak tubuh maupun ekspresi wajah.
4. Negosiasi biasanya menyangkut hal-hal di masa yang akan datang atau
yang belum terjadi dan kita inginkan terjadi.
5. Ujung dari negosiasi adalah adanya kesepakatan yang diambil kedua belah
pihak.
Sementara itu dalam negosiasi perlu diperhatikan panduan-panduan tertentu, yaitu
sebagai berikut:
1. Pelajari dahulu isu-isu yang dihadapi secara objektif
2. Kemudian, tentukanlah batasan luasnya masalah yang dibahas dan
ditangani.
3. Biarkan saja bila ada pihak lain berpendapat setuju atau tidak setuju
terhadap pendapat kita menganai isu yang dihadapi.
4. Cermati pihak lain terutama perhatikan hal-hal yang diungkapkan bahasa
tubuhnya, seperti sebagai berikut:
a. Bahasa tubuh di antaranya mimik dan sikap badan
b. Sikap konflik tanpa alasan
c. Sikap defensif atau tegang
Dalam konteks organisasi, negosiasi dapat terjadi :
1. Antara dua orang, misalnya pada saat manajer dan bawahannya
memutuskan tanggal penyelesaian proyek yang harus diselesaikan oleh
bawahannya.
2. Di dalam kelompok, misalnya untuk mengambil keputusan kelompok atas
suatu kasus
3. Antar kelompok, misalnya bagian pembelian dengan pemasok dalam
kesepakatan harga, kualitas atau tanggal penyerahan barang.

7
Kelebihan dari negosiasi yaitu mempunyai kesempatan untuk mengutarakan
pikiran atau isi hati dengan didengarkan oleh pihak lawan, memungkinkan penyelesaian
masalah secara bersama-sama (joint problem solving), mengupayakan solusi terbaik yang
dapat dipercayai, diterima, dan dijalankan kedua belah pihak. Sedangkan kekurangannya
yaitu tidak dapat berjalan baik tanpa kemauan dan itikad baik para pihak untuk
bernegosiasi, tidak akan efektif apabila tidak dilakukan oleh pihak-pihak yang
mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan, sulit berjalan baik apabila para
pihak berada dalam situasi atau posisi yang tidak seimbang atau berat sebelah (misalnya
jika salah satu pihak mempunyai kedudukan atau kekuatan yang jauh lebih besar).
Untuk menjamin terjadinya keamanan dan kelancaran dalam bernegosiasi maka
negosiator yang ditunjuk untuk melakukan negosiasi harus memilki pengetahuan, sikap
dan keterampilan sebagai berikut.
1. Otoritas akan kewenangan untuk mengambil keputusan.
2. Memiliki wawasan dan keterampilan yang baik dalam bidang yang akan
dirundingkan
3. Kemampuan berbicara dan bahasa yang baik.
4. Kemampuan untuk mengekspresikan substansi permasalahan, yang
dibuktikan dengan dapat menyampaikan ide dan dapat dicerna oleh pihak lain
dengan mudah.
5. Kepercayaan diri yang kuat tetapi tidak berlebihan dan selalu menghargai
orang lain.
6. Sikap dan penampilan yang baik, di antaranya bersikap sopan, simpati dan
empati.

Langkah-Langkah Negosiasi
Langkah-langkah dalam melakukan negosiasi adalah sebagai berikut:
1. Persiapan
Langkah pertama dalam melakukan negosiasi adalah langkah persiapan. Persiapan
yang baik merupakan fondasi yang kokoh bagi negosiasi yang akan kita lakukan. Hal
tersebut akan memberikan rasa percaya diri yang kita butuhkan dalam melakukan
negosiasi. Yang pertama harus kita lakukan dalam langkah persiapan adalah menentukan
secara jelas apa yang ingin kita capai dalam negosiasi. Tujuan ini harus jelas dan terukur,
sehingga kita bisa membangun ruang untuk bernegosiasi. Tanpa tujuan yang terukur, kita
tidak memiliki pegangan untuk melakukan tawar-menawar atau berkompromi dengan
pihak lainnya. Hal kedua dalam persiapan negosiasi adalah kesiapan mental. Usahakan
kita dalam kondisi relaks dan tidak tegang.
2. Pembukaan
Mengawali sebuah negosiasi tidaklah semudah yang kita bayangkan. Kita harus
mampu menciptakan atmosfir atau suasana yang tepat sebelum proses negosiasi dimulai.
Untuk mengawali sebuah negosiasi dengan baik dan benar, kita perlu memiliki rasa
percaya diri, ketenangan, dan kejelasan dari tujuan kita melakukan negosiasi. Ada tiga

8
sikap yang perlu kita kembangkan dalam mengawali negosiasi yaitu: pleasant
(menyenangkan), assertive (tegas, tidak plin-plan), dan firm (teguh dalam pendirian).
Selanjutnya dalam pembicaraan awal, mulailah dengan membangun common ground,
yaitu sesuatu yang menjadi kesamaan antar kedua pihak dan dapat dijadikan landasan
bahwa pada dasarnya selain memiliki perbedaan, kedua pihak memiliki beberapa
kesamaan yang dapat dijadikan dasar untuk membangun rasa percaya.
3. Memulai proses negosiasi
Langkah pertama dalam memulai proses negosiasi adalah menyampaikan apa
yang menjadi keinginan atau tuntutan kita. Kemudian dengarkan dengan efektif apa yang
ditawarkan atau yang menjadi tuntutan pihak lain. Mendengar dengan efektif
memerlukan kebiasaan dan teknik-teknik tertentu. Seperti misalnya bagaimana
mengartikan gerakan tubuh dan ekspresi wajah pembicara. Usahakan selalu membangun
kontak mata dengan pembicara dan berada dalam kondisi yang relaks namun penuh
perhatian.
4. Zona Tawar Menawar (The Bargaining Zone)
Dalam proses inti dari negosiasi, yaitu proses tawar menawar, kita perlu
mengetahui apa itu The Bargaining Zone (TBZ). TBZ adalah suatu wilayah ruang yang
dibatasi oleh harga penawaran pihak penjual dan tawaran awal oleh pembeli.
Kesepakatan kedua belah pihak yang paling baik adalah terjadi di dalam wilayah yang
disebut Final Offer Zone. Biasanya kesepakatan terjadi ketika terdapat suatu overlap
antara pembeli dan penjual dalam wilayah Final Offer Zone.
5. Membangun Kesepakatan
Babak terakhir dalam proses negosiasi adalah membangun kesepakatan dan
menutup negosiasi. Ketika tercapai kesepakatan biasanya kedua pihak melakukan jabat
tangan sebagai tanda bahwa kesepakatan (deal or agreement) telah dicapai dan kedua
pihak memiliki komitmen untuk melaksanakannya.
Yang perlu kita ketahui dalam negosiasi yaitu tidak akan pernah tercapai
kesepakatan kalau sejak awal masing-masing atau salah satu pihak tidak memiliki niat
untuk mencapai kesepakatan. Kesepakatan harus dibangun dari keinginan atau niat dari
kedua belah pihak, sehingga tidak bertepuk sebelah tangan. Karena itu, penting sekali
dalam awal-awal negosiasi memahami dan mengetahui sikap dari pihak lain, melalui apa
yang disampaikan secara lisan, bahasa gerak tubuh maupun ekspresi wajah.

MANAJEMEN KONFLIK DALAM ORGANISASI
Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan.
Bahkan sepanjang kehidupan, manusia senantiasa dihadapkan dan bergelut dengan
konflik. Demikian halnya dengan kehidupan organisasi. Anggota organisasi senantiasa
dihadapkan pada konflik. Perubahan atau inovasi baru sangat rentan menimbulkan
konflik (destruktif), apalagi jika tidak disertai pemahaman yang memadai terhadap ide-
ide yang berkembang.

9
Organisasi terdiri dari berbagai macam komponen yang berbeda dan saling
memiliki ketergantungan dalam proses kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu.
Perbedaan yang terdapat dalam organisasi seringkali menyebabkan terjadinya
ketidakcocokan yang akhirnya menimbulkan konflik. Hal ini disebabkan karena pada
dasarnya ketika terjadi suatu organisasi, maka sesungguhnya terdapat banyak
kemungkinan timbulnya konflik. Konflik dapat menjadi masalah yang serius dalam setiap
organisasi, tanpa peduli apapun bentuk dan tingkat kompleksitas organisasi tersebut, jika
konflik tersebut dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian. Karena itu keahlian untuk
mengelola konflik sangat diperlukan bagi setiap pimpinan atau manajer organisasi.

Definisi Konflik

Terdapat banyak definisi mengenai konflik yang bisa jadi disebabkan oleh
perbedaan pandangan dan setting dimana konflik terjadi. Dibawah ini bisa terlihat
perbedaan definisi tersebut:
Conflict is a process in which one party perceives that its interests are being
opposed ora negatively affected by another party. Konflik merupakan suatu bentuk
interaksi diantara beberapa pihak yang berbeda dalam kepentingan, persepsi dan tujuan.
Konflik adalah perbedaan pendapat antara dua atau lebih banyak anggota organisasi atau
kelompok, karena harus membagi sumber daya yang langka, atau aktivitas kerja dan atau
karena mereka mempunyai status, tujuan, penelitian, atau pandangan yang berbeda. Para
anggota organisasi atau sub-unit yang sedang berselisih akan berusaha agar kepentingan
atau pandangan mereka mengungguli yang lainnya. Konflik merupakan sebuah situasi
dimana dua orang atau lebih menginginkan tujuan-tujuan yang menurut persepsi mereka
dapat dicapai oleh salah seorang diantara mereka, tetapi hal itu tidak mungkin dicapai
oleh kedua belah pihak. Konflik adalah perilaku anggota organisasi yang dicurahkan
untuk beroposisi terhadap anggota yang lain, prosesnya dimulai jika satu pihak merasa
bahwa pihak lain telah menghalangi atau akan menghalangi sesuatu yang ada kaitan
dengan dirinya atau hanya jika ada kegiatan yang tidak cocok .
Di antara definisi yang berbeda itu nampak ada suatu kesepakatan, bahwa konflik
dilatarbelakangi oleh adanya ketidakcocokan atau perbedaan dalam hal nilai, tujuan,
status, dan lain sebagainya. Terlepas dari faktor yang melatarbelakangi terjadinya suatu
konflik, gejala yang mengemuka dalam suatu organisasi saat terjadi konflik adalah saat
individu atau kelompok menunjukkan sikap “bermusuhan” dengan individu atau
kelompok lain yang berpengaruh terhadap kinerja dalam melakukan aktivitas organisasi.

10
Sumber Konflik

Terdapat beberapa hal yang melatarbelakangi terjadinya konflik. Agus M.
Hardjana mengemukakan sepuluh penyebab munculnya konflik , yaitu:
a. Salah pengertian atau salah paham karena kegagalan komunikasi
b. Perbedaan tujuan kerja karena perbedaan nilai hidup yang dipegang
c. Rebutan dan persaingan dalam hal yang terbatas seperti fasilitas kerja dan jabatan
d. Masalah wewenang dan tanggung jawab
e. Penafsiran yang berbeda atas satu hal, perkara dan peristiwa yang sama
f. Kurangnya kerja sama
g. Tidak mentaati tata tertib dan peraturan kerja yang ada
h. Ada usaha untuk menguasai dan merugikan
i. Pelecehan pribadi dan kedudukan
j. Perubahan dalam sasaran dan prosedur kerja sehingga orang menjadi merasa tidak
jelas tentang apa yang diharapkan darinya

Mengelola dan Mengatasi Konflik

Upaya penanganan konflik sangat penting dilakukan, hal ini disebabkan karena
setiap jenis perubahan dalam suatu organisasi cenderung mendatangkan konflik.
Perubahan institusional yang terjadi, baik direncanakan atau tidak, tidak hanya
berdampak pada perubahan struktur dan personalia, tetapi juga berdampak pada
terciptanya hubungan pribadi dan organisasional yang berpotensi menimbulkan konflik.
Di samping itu, jika konflik tidak ditangani secara baik dan tuntas, maka akan
mengganggu keseimbangan sumberdaya, dan menegangkan hubungan antara orang-orang
yang terlibat. Untuk itulah diperlukan upaya untuk mengelola konflik secara serius agar
keberlangsungan suatu organisasi tidak terganggu.
Menurut Stevenin, terdapat lima langkah meraih kedamaian dalam konflik. Apa
pun sumber masalahnya, lima langkah berikut ini bersifat mendasar dalam mengatasi
kesulitan:
1. Pengenalan
Kesenjangan antara keadaan yang ada diidentifikasi dan bagaimana keadaan yang
seharusnya. Satu-satunya yang menjadi perangkap adalah kesalahan dalam mendeteksi
(tidak mempedulikan masalah atau menganggap ada masalah padahal sebenarnya tidak
ada).
2. Diagnosis
Inilah langkah yang terpenting. Metode yang benar dan telah diuji mengenai
siapa, apa, mengapa, dimana, dan bagaimana berhasil dengan sempurna. Pusatkan
perhatian pada masalah utama dan bukan pada hal-hal sepele.
3. Menyepakati suatu solusi

11
Kumpulkanlah masukan mengenai jalan keluar yang memungkinkan dari orang-
orang yang terlibat di dalamnya. Saringlah penyelesaian yang tidak dapat diterapkan atau
tidak praktis. Jangan sekali-kali menyelesaikan dengan cara yang tidak terlalu baik.
Carilah yang terbaik.
4. Pelaksanaan
Ingatlah bahwa akan selalu ada keuntungan dan kerugian. Hati-hati, jangan
biarkan pertimbangan ini terlalu mempengaruhi pilihan dan arah kelompok.
5. Evaluasi
Penyelesaian itu sendiri dapat melahirkan serangkaian masalah baru. Jika
penyelesaiannya tampak tidak berhasil, kembalilah ke langkah-langkah sebelumnya dan
cobalah lagi.

12