You are on page 1of 7

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP

)
MANAJEMEN NYERI

Pokok bahasan : Manajemen Nyeri
Sasaran : Keluarga dan pasien
Tempat : Ruang Bedah G (Gladiol) RSUD Dr. Soetomo Surabaya
Hari/Tanggal : Rabu, 17 Oktober 2018
Waktu : 08.30-09.00 (30 menit)

I. Latar Belakang
Nyeri merupakan alasan utama seseorang untuk mencari bantuan kesehatan.
Nyeri merupakan pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan
yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial digambarkan
dalam hal kerusakan sedemikian rupa (Nanda, 2015). Nyeri terjadi bersama proses
penyakit atau bersamaan dengan pemeriksaan diagnostik dan pengobatan.
Manajemen nyeri adalah tindakan keperawatan yang dilakukan baik secara
kolaboratif ataupun secara mandiri oleh perawat. Tindakan mandiri perawat yang
dapat dilakukan meliputi tekhnik relaksasi, distraksi, berpikir positif, serta
hipnoterapi.
II. Tujuan
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan proses penyuluhan atau pendidikan kesehatan selama ±
30 menit, diharapkan pasien dan keluarga dapat memahami tentang manajemen
nyeri.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, diharapkan pasien dan
keluarga dapat :
a. Menjelaskan pengertian nyeri.
b. Menyebutkan faktor yang mempengaruhi nyeri.
c. Menyebutkan cara mengkaji persepsi nyeri.
d. Menyebutkan dan mempraktekan cara mengatasi nyeri.
III. Materi Penyuluhan
1. Pengertian nyeri.
2. Faktor yang mempengaruhi nyeri.
3. Mengkaji persepsi nyeri.
4. Cara mengatasi nyeri.
IV. Metode
Ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi.
V. Media
Leaflet.
VI. Kegiatan Penyuluhan Kesehatan
Sasaran
No Waktu Kegiatan Metode
Penyaji Keluarga
1. 5 menit Pembukaan : Menyampaikan a. Pasien dan Ceramah
a. Memberi salam dengan keluarga
dan perkenalan. komunikasi menjawab
b. Menjelaskan terapeutik yang salam serta
tujuan baik dan benar. menerima
penyuluhan. kehadiran
c. Menjelaskan mahasiswa
pokok dengan baik.
penyuluhan b. Pasien dan
yang akan keluarga
dibahas. memperhatikan
d. Menjelaskan dan
kontrak waktu. mendengarkan.
c. Pasien dan
keluarga
berpartisipasi
dalam diskusi
awal.
2. 20 Kegiatan Inti : a. Menyampaikan a. Pasien dan Ceramah
menit Penyampaian materi dengan keluarga dan tanya
materi, menjalskan jelas dan benar menyimak dan jawab
tentang : b. Interaktif memperhatikan
- Pengertian nyeri dengan keluarga penyuluhan
- Faktor yang b. Pasien dan
mempengaruhi keluarga
nyeri menanyakan
- Cara mengkaji hal-hal yang
persepsi nyeri belum jelas
- Cara mengatasi
nyeri.
3. 5 menit Penutup : a. Mengevaluasi a. Pasien dan Ceramah
a. Melakukan tujuan keluarga dapat
evaluasi penyuluhan mengulang
penyuluhan kesehatan. kembali apa
b. Mengakhiri b. Menyampaikan yang sudah
kegiatan dengan salam penutup dijelaskan
salam dan b. Pasien dan
terimakasih keluarga
atas perhatian menjawab
yang diberikan. salam

VII. Kriteria Evaluasi
a. Kesiapan materi
b. Kesiapan SAP
c. Kesiapan media leaflet
d. Kontrak waktu H-1 sebelum penyuluhan
Evaluasi Proses
a. Fase dimulai sesuai dengan waktu yang direncanakan.
b. Keluarga antusias terhadap materi penyuluhan.
c. Keluarga mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar.
MATERI PENYULUHAN

I. Definisi Nyeri
Nyeri merupakan suatu perasaan menderita secara fisik dan mental atau
perasaan yang bisa menimbulkan ketegangan (Alimul Azis, 2006). Nyeri
merupakan pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang
muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial digambarkan dalam
hal kerusakan sedemikian rupa (Nanda, 2015).
II. Faktor-Faktor Yang Mempengearuhi Nyeri
1. Usia
Usia merupakan variabel yang penting yang mempengaruhi nyeri khususnya
anak-anak dan lansia. Pada kognitif tidak mampu mengingat penjelasan tentang
nyeri atau mengasosiakan nyeri sebagai pengalaman yang dapat terjadi di
berbagai situasi. Nyeri bukan merupakan bagian dari proses penuanaan yang tidak
dapat dihindari karena lansia telah hidup lebih lama mereka kemungkinan lebih
tinggi untuk mengalami kondisi patologis yang menyertai nyeri.
2. Jenis Kelamin
Secara umum laki-laki dan wanita tidak berbeda secara bermakna dalam
berespon terhadap nyeri. Toleransi nyeri sejak lama telah menjadi subjek
penelitian yang melibatkan laki-laki dan wanita, akan tetapi toleransi terhadap
nyeri dipengaruhi oleh faktor biokimia dan merupakan hal yang unik pada setiap
individu tanpa memperhatikan jenis kelamin.
3. Kebudayaan
Keyakinan dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara individu mengatasi
nyeri. Ada perbedaan makna dan sikap yang dikaitkan dengan nyeri di berbagai
kelompok budaya. Suatu pemahaman tentang nyeri dari segi makna budaya akan
membantu perawat dalam merancang asuhan keperawatan yang relevan untuk
klien yang mengalami nyeri.
4. Ansietas/cemas
Ansietas sering kali meningkatkan persepsi nyeri, tetapi nyeri juga dapat
menimbulkan perasaan ansietas. Individu yang sehat secara emosional biasanya
lebih mampu mentoleransi nyeri sedang hingga berat daripada individu yang
memiliki status emosional yang kurang stabil. Nyeri yang tidak kunjung hilang
sering kali menyebabkan psikosis dan gangguan kepribadian.
5. Koping individu
Pengalaman nyeri dapat menjadi suatu pengalaman yang membuat merasa
kesepian. Apabila pasien mengalami nyeri di keadaan kesehatan seperti di rumah
sakit klien akan merasa tidak berdaya dengan rasa sepi itu. Hal yang sering terjadi
adalah pasien merasa kehilangan kontrol terhadap lingkungan atau kehilangan
kontrol terhadap hasil akhir dari peristiwa yang terjadi. Nyeri dapat menyababkan
baik keseluruhan maupun ketidakmampuan.
III. Mengkaji Persepsi Nyeri
Deskripsi variabel tentang nyeri merupakan penilaian terbaik dari nyeri yang
dialami. Informasi yang diperlukan untuk menggambarkan nyeri individual dalam
beberapa cara antara lain :
1. Intensitas nyeri
Individu diminta untuk membuat tigkatan nyeri pada skala verbal (misalnya
tidak nyeri, sedikit nyeri, nyeri hebat atau sangat hebat, atau 0-10 (0 berarti
tidak nyeri dan 10 berarti nyeri sangat hebat).
2. Karakteristik nyeri, termasuk letak (area dimana nyeri pada berbagai organ),
durasi (menit, jam), irama (terus menerus, hilang timbul), dan kualitas
(seperti ditusuk-tusuk, nyeri seperti digencet).
3. Faktor yang meredakan nyeri (misalnya gerakan, kurang bergerak, istirahat,
dan obat-obatan).
4. Efek nyeri terhadap aktivitas sehari-hari (misalnya tidur, nafsu makan,
gerakan fisik, bekerja, dan aktivitas santai).
IV. Cara Mengatasi Nyeri
1. Mengurangi faktor yang dapat menambah nyeri
a. Ketidakpercayaan
Pengakuan perawat akan rasa nyeri yang diderita pasien dapat
mengurangi. Hal in dapat dilakukan melalui pernyataan verbal,
mendengarkan dengan penuh perhatian mengenai keluhan nyeri pasien
dan mengatakan kepada pasien bahwa perawat mengkaji rasa nyeri pasien
agar dapat lebih memahami tentang nyeri.
b. Ketakutan
Memberikan informasi yang tepat dapat mengurangi ketakutan pasien
dengan menganjurkan pasien untuk mengekspresikan bagaimana mereka
menangani nyeri.
c. Kelelahan
Kelelahan dapat memperberat nyeri untuk mengatasinya kembangkan
pola aktvitas yang dapat memberikan istirahat yang cukup.
2. Memodifikasi stimulus nyeri dengan menggunakan tekhnik-tekhnik seperti :
a. Tekhnik relaksasi
- Menganjurkan pasien menarik napas dalam melalui hidung lalu
menghembuskannya secara perlahan melalui mulut. Sebaiknya
mengulangi hal yang sama dengan berkonsentrasi sehingga mendapat
rasa nyaman, tenang, dan rileksasi
a. Tekhnik latihan pengalihan/distraksi
Menonton tv
Membaca koran
Mendengarkan musik
Berdoa
Bermain hp
Sholat dengan posisi tidur, berzhikir ( sesuai agama masing -masing)

a. Stimulasi kulit
- Menggosok secara halus pada daerah nyeri
- Menggosok punggung
b. Kompres
Kompres dapat dilakukan dengan menggunakan kompres air hangat atau
air dingin untuk mengurangi nyeri.
- Kompres air hangat
kompres air hangat dapat diberikan menggunakan handuk yang telah di
rendam dalam air hangat dan botol yang berisi air hangat. Suhu yang
digunakan tidak terlalu panas (hangat) dan mengompres tidak boleh lebih
dari 20 menit serta tidak langsung meletakkan sumber panas ke kulit
karena dapat menyebabkan luka bakat atau iritasi. Kompres hangat dapat
digunakan untuk meredakan nyeri otot atau sendiri yang sudah
berlangsung lama atau kronik. Kompres hangat tidak dianjurkan
digunakan pada luka yang baru atau kurang dari 48 jam, luka terbuka dan
luka yang masih terlihat luka karena akan memperburuk kondisi luka
akibat penumpukan cairan pada lokasi cedera dan meningkatkan nyeri.
- kompres air dingin
Kompres air dingin dapat digunakan pada daerah yang bengkak dan
memar. Kompres dingin digunakan 24jam hingga 48jam, setelah
terjadinya cidera dengn tujuan meminimalisir terjadinya inflamasi.
Metode ini baik digunakan untuk cidera olahraga seperti terkilir,
terbentur, atau memar. Dengan cara es batu dibungkus dengan handuk
lalu kompres pada luka nyeri dengan tidak menyentuh kulit secara
langsung. Kompres air dingin tidak dilakukan lebih dari 20menit.

Posisi nyaman
Posisi nyaman yang mengurangi nyeri

c. Hipnoterapi
Hipnoterapi merupakan tipe terapi yang menggunakan hipnosis dimana
kesadaran seseorang pun berubah, dapat dilakukan dengan h