You are on page 1of 8
20 BoestiH. 1994, Evaluasi pemakaian kolamby EVALUASI PEMAKAIAN KELAMBU BERINSEKTISIDA PERMETHRIN DALAM PEMBERANTASAN MALARIA DI PROPINS! LAMPUNG Hasan Boost Stasiun Peneliian Vektor Penyakit di Salatiga A study of permethrine impregnated bed nets against the malaria vector ‘Anopheles sundaicusare reportedanddiscussed. Fiald trial were carried outin Tarahan South Lampung. Houses were provided with 2 kinds of bed net made of cotton and nyllon impregnated with permethrine 25 EC at dosage of 0.50 g.a.ifm®. Entomological data which came from human-vector contact and resting ware collected during the trial (1986-1988). The results showes that vector densities were decrease for about 2-4 months. The bioassay test revealed that 75.5 and 56.0% mortalities were obtained from impregnated cotton bed net and nyllon bed net respectively after using for about 6 months. Key words: malaria, permethrine, bed nets, Pendahuluan Program pemberantasan malaria di Indonesia selain pengobatan penderita, dilaku- kan upaya pemberantasan vektor guna memutus rantai penularan. Kegiatan pokok dalam pemberantasan vektor adalah penyemprotan rumah dan telah dilakukan sejak puluhan tahun yang lalu, Banyak hambatan yang dihadapi baik teknis maupun non teknis. Program pemberantasan malaria di Indonesia, sesuai dengan anjuran WHO (World Health Organization), mulai dikembangkan metode alternatif pemberantasan vektor malaria yang lebih efisien dari penyemprotan rumah. Di Propinsi Lampungdilakukan uji pemakai- an kelambu berinsektisida permethrin (piretiyoid sintet is). Menurut Schreck dan Self (1985) permethrin adalah insektisida sintetik yang bekerja secara kontak langsung atau lewat saluran pencernaan. Pemakaian pada dosis rendah yang diresapkan pada kelambu baik untuk membunuh nyamuk dan tidak berbahaya bagi manusia. Tujuan perelitian ini adaiah untuk mengetahui efektivitas pemakaian kelambu katun dan nilon berinsektisida permethrin dalam menekan penyakit malaria dan populasi Anopheles sundaicus. : Daerah Perlakuan Uji pemakaian kelambu yang diresapi permethrin dilakukan di Desa Tarahan Lam- pung Selatan (Gambar 1). Pemilihan lokasi Dusun Sukamaju sebagai kontrol dan Dusun Sebalang sebagai daerah perlakuan didasarkan pada beberapa pertimbangan sebagai be- ISSN 0215-1936 Berita Kecokteran Masyarakat X{1) 1994 _— ‘BoestiH. 1994. Evaluasi pemakaian kelambu on rikut : (D berdasarkan survei maiariomatrik pada tahun 1985, kasus malaria dilokasi tersebut cukup tinggi, dengan slide positive rate sebesar 25%, (2) terdapat tempat perindukan ‘Anopeles sundaicus dengan tipe permanen yang memadai, sehingga Anopeles sudaicus ditemukan sepanjang tahun, (3) sejak tahun 1984 tidak dilakukan penyemprotan rumah dan upaya pengendalian lain, dan (4) keadaan sosial ekonomi penduduk rendah sehingga sebagian besar rumah penduduk tidak memenuhi syarat kesehatan. Bahan dan Cara Kelambu yang digunakan terdiri dari 120 buah kelambu dari bahan katun dan 80 buah kelambu dari bahan nilon berwarna biru. Seluruh kelambu diresapi permethrin 25 EC. Luas kelambu rata-rala 17 m? (lebar 1,75 m, panjang 2 m dan tinggi 2 m). Dosis yang dikehendaki 0,5 gr/m? dengan bahan pengencer adalah air. Perbandingan banyaknya air dengan permethrin yang diperlukan adalah sebagai berikut; untuk bahan katun permethrin diperlukan 1000/250 X 17 X 0,5 = 34 cc, sedangkan air 17 X 45 cc. Untuk bahan nilon permethrin diperlukan 100/250 X 17 X 0,5 = 34 cc sedangkan air yang diperhukan 17 X15 ce = 255 cc. : Cara peresapan, kelambu dimasukkan dalam kantong plastik kemudian suspensi permethyjn dituangkan ke dalam kantong yang telah ada kelambunya. Kemudian kantong, diremas-remas schingga cairan terserap oleh kelambu sampai merata. Setelah semua cairan terserap, maka kelambu dikeluarkan dan dibiarkan hingga kering tanpa di jemvur di sinar matahari. Setelah kering, kelambu dimasukkan kembali ke kantong plastik, selanjutnya dibagikan kepada penduduk. Tiap rumah dibagikan 1-3 kelambu (disesuaikan dengan jumlah keluarga), pada 100 rumah yang ada di Dusun Sebalang yang berpenduduk 669 jiwa. Evaluasi pemakaian kelambu ditekankan pada kepadatan nyamuk Airepheles sun- daicus, yang merapakan vektor malaria di Lampung (Anonim, 1990), dengan mengukur kepadatan nyamuk yang menggigit umpan badan, kepadatan nyamuk yang hinggap di dalam rumah pada malam dan pagi hari. Uji hayati (Bioassay) menggunakan bahan nyamuk Aedes aegypti hasil koloni di laboratorium, hal ini karena mencari bahan Avoplieles sundaicus sulit didapatkan. Survei malariometrik dilakukan tiap 6 bulan sckali untuk mengetahui perubahan derajatkesehatan dan penurunan kepadatan Anoplieles suudaicusakibat pemakaian kelambu berinsektisida permethrin di analisa dengan rumus Mollineaux (1979). Hasil dan Pembahasan 1. Penilaian kepadatan populasi Anopheles sundaicus Sebelum penduduk dibagikan kelambu berinsektisida, di Dusun Sukamaju (daerah kontrol) rata-rata padat populasi Anopheles sundaicus hasil penangkapan dengan umpan ba- dan di luar rumah pada malam hari sebesar 0,011 ekor per orang per jamn ( Tabel 5), yang hinggap di dalam rumah pada malam hari sebesar 0,009 ekor per orang per jam (Tabel 3) dan yang istirahat di dalam rumah pada pagi hari sebesar 0,001 ekor per orang per jam (abel 4). Di Dusun Sebalang (daerah perlakuan), rata-rata padat populasi Auophelessundaicus Borita Kedokteran Masyarakat X(1) 1994 ISSN 0215-1936 22 Boesri Hl. 1994. Evaluasi pemakaian kelamby hasil penangkapan dengan umpan badan di luar rumah pada malam hari sebesar 0,0012 ckor per orang per jam (Tabel 5), yang hinggap di dalam rumah pada malam hari sebesar 0,045 ekor per orang per jam (Tabel 3) dan yang istirahat di dalam rumah pada siang hari sobesar 0,004 ekor per orang per jam (Tabel 4), Berdasarkan kepadatan nyamuk Awopheles stridaicus yang ditangkap di Dusun Sebalang dan Sukamaju, sebclum penduduk dibagikan kelambu, masih memungkinkan Auopheles sundaicus berperan sebagai penular malaria, karena masih di atas kepadatan minimum nyamuk yang dapat menularkan malaria yaitu 0,025 ekor per malam atau 0,002 ekor per orang per jam (Bruce-Chwatt, 1981). Setelah penduduk di Dusun Sebalang dibagikan kelambu berinsektisida permethrin (agar penduduk tidur menggunakan kelambu). Dari hasil penangkapan nyamuk dengan umpan badan pada malam hari dan penangkapan nyamuk yang istirahat di dalam rumah pada pagi hari menunjukkan kepadatan populasi Anoplieles sundaicus di daerah perlakuan (Dusun Sebatang) dapat ditekan populasinya selama 4 bulan atau 120 hari (Tabel 4), sedangkan nyamuk yang istirahat di dalam rumah pada malam hari hanya menurun kepadatannya selama 2 bulan atau 60 hari (Tabel 3). Hal ini sesuai dengan pendapat Jeffrey et al,, (1987) di Sabah Malaysia Timur, menyatakan bahwa penangkapan nyamuk di daerah yang penduduknya memakai kelambu yang diresapi permethrin, kepadatan nyamuk dapat ditekan selama 217 hari. Demikian juga menurut Schreck dan Self (1985) dosis permethrin sebesar 0,2 gr sampai 0,8 gr perm’ pada kelambu tetap efektif terhadap nyamuk selama tiga sampai enam bulan. Hasil uji hayati langsung (Bioassay) pada kelambu katun dan nilon terhadap nyamuk Aedes aegypti yang dikontakkan sclama 60 menit, setelah dipelihara selama 24 jam menun- jukkan daya bunuh residu permethrin cukup baik, selama 3 bulan pemakaian kelambu katun, tingkat kematian Aedes acgypti 93,7% sedangkan pada kelambu nilon sebeser 75,7%. Setelah 6 bulan pemakaian kelambu katun, tingkat kematian Acdes aegypti 75,5% dan pada kelambu nilon hanya 56,0% (Tabel 1). Angka kematian nyamuk dalam uji hayati menunjuk- kan bahwa kelamtbu berinsektisida permethrin sangat efektif membunuh nyamuk selama 6 bulan. 2.Evaluasi terhadap penderita malaria ” Sebelum pembagian kelambu, telah dilakukan survei malariometrik di Dusun Scbalang (dacrah perlakuan), ditemukan angka parasit sebesar 44,1% dan di Dusun Suka- maju sebesar 21,9% (pada bulan Nopember 1986). Setelah 6 bulan dari pembagian kelambu berinsektisida di Dusun Sebalang dilakukan survei matariometrik ditemukan angka parasit sebesar 23,1% dan di Dusun Sukamaju sebesar 37,9% (pada bulan April 1988). Kemudian setclah 12 bulan dari pembagian kelambu, dilakukan lagi survei malario- metrik di Dusun Sebalang ditemukan angka parasit sebesar 16,5% dan di Sukamaju sebesar 20,5% pada bulan Nopember 1988 (Tabel 2).. Penilaian efck pemakaian kelambu yang diresapi permethrin terhadap kasus malaria di Dusun Sebalang dapat dilihat dari kasil survei malariometrik di Dusun Scbalang. Penu- runan angka parasit dari 44,1% menjadi 16,5%, dapat diasumsikan bahwa pemakaian kelambu berinsektisida dapat menekan peningkatan kasus malaria sebesar 374%, ISSN 0215-1996 Berita Kedoktetan Masyarakat X(1) 1994