You are on page 1of 59

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lanjut usia (lansia) adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas.

Secara biologis lansia ialah orang yang mengalami proses penuaan, yang ditandai

dengan penurunan fungsi organ-organ, termasuk tulang dan otot. Penurunan

massa tulang dan otot akan menyebabkan penurunan kemampuan seseorang untuk

menjaga keseimbangan yang dapat menyebabkan seseorang bisa terjatuh (Wilson,

2017). Jatuh adalah suatu keadaan yang terjadi tiba-tiba dan tanpa disengaja yang

menyebab perubahan posisi seseorang berada di tempat lebih rendah dengan

posisi yang duduk atau terbaring (Darmodjo, 2011).

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang akan mengalami

ledakan jumlah penduduk lanjut usia dengan kelompok umur 50 sampai 64 tahun

dan 65 tahun keatas berdasarkan proyeksi 2010-2035 terus meningkat (Buletin

Lansia Depkes, 2013). Menurut hasil survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)

tahun 2014, jumlah lanjut usia terbanyak berada di DI Yogyakarta (13,05 persen),

Jawa Tengah (11,11 persen), Jawa Timur (10,96 persen) dan Bali (10,05 persen).

Notoatmodjo (2013) mengatakan meningkatnya jumlah penduduk lansia

menimbulkan masalah terutama dari segi kesehatan dan kesejahteraan lansia.

Masalah tersebut jika tidak ditangani akan berkembang menjadi masalah yang

1
2

lebih kompleks. Masalah yang kompleks pada lansia seperti perubahan fisik,

mental, dan sosial. Lansia memiliki ketakutan yang realistis untuk mengalami

jatuh. Meski hanya sekitar 5 sampai 6 % jatuh terjadi dalam suatu cedera yang

serius, tetapi konsekuensi dari jatuh mungkin lebih dari pada sekedar cedera yang

serius.

Jatuh merupakan salah satu penyebab utama dari kematian dan cedera pada

populasi lanjut usia. Dua puluh hingga tiga puluh persen dari lansia yang

memiliki derajat kecacatan tinggi terkait jatuh akan mengalami kehilangan

kebebasan akan ADL (aktivitas hidup sehari-hari), penurunan kualitas hidup dan

yang paling memprihatinkan adalah kematian (Jamebozorgi et al, 2013). Jatuh

pada lansia dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik

(Lemier & Silver, 2011). Faktor intrinsik seperti gender, kelemahan otot, defisit

sensorik, penyakit kronis, gangguan kognitif dan usia (Edelberg, 2009). Faktor

ekstrinsik seperti faktor lingkungan, kebanyakan mengkonsumsi alkohol,

ketidaktahuan prinsip keselamatan, penggunaan sepatu yang tidak tepat dan

desain rumah yang tidak rapi (Jamebozorgi et al, 2013). Jatuh pada lansia

menimbulkan komplikasi-komplikasi seperti rusaknya jaringan lunak yang terasa

sangat sakit berupa robek atau tertariknya jaringan otot, robeknya arteri/vena,

patah tulang, hematoma, disabilitas/kecacatan dan kematian. Berdasarkan Riset

Kesehatan Dasar (2013) di Indonesia didapat proporsi cedera akibat jatuh pada

lanjut usia 65-74 tahun 6,9%, dan 75 tahun keatas sebanyak 8,5%, dengan
3

proporsi jenis cedera lecet atau memar 70,9%, terkilir 27,5%, luka iris atau robek

23,2% patah tulang 5,8%, dan lainya 1,8%.

Dukungan dari keluarga merupakan unsur terpenting dalam membantu individu

untuk menyelesaikan masalah, apabila dengan adanya dukungan, rasa percaya diri

akan bertambah dan motivasi untuk menghadapi masalah yang terjadi akan

meningkat (Thamher, 2012). Sementara pada kenyataannya masih banyak

keluarga yang tidak berperan dalam upaya meningkatkan status kesehatan lansia.

Oleh karena itu, dalam upaya untuk mengurangi angka kejadian jatuh pada lansia,

keluarga harus memiliki pengetahuan tentang jatuh dan pencengahan sehingga

pengetahuan dapat dituangkan ke dalam bentuk sikap dan perilaku guna

mencengah kejadian jatuh. Melalui pengetahuan dan perilaku yang baik, maka

akan tercipta lingkungan yang aman bagi lansia. Hal yang bisa dilakukan adalah

memodifikasi lingkungan rumah seperti membuat lantai tidak licin, lantai yang

rata, tidak ada barang-barang yang berserakan di lantai, pencahayaan yang cukup

dan tidak menyilaukan serta mengurangi tangga yang ada dijalur lansia berjalan

(Kamel, Abdulmajeed & Ismail, 2013).

Kelurahan Bausasran Kecamatan Danurejan memiliki jumlah penduduk berkisar

7.279 jiwa yang terdiri dari lansia berumur 65 tahun keatas berjumlah 559 jiwa

dengan klasifikasi laki-laki berjumlah 207 dan perempuan berjumlah 352, baik

yang tinggal bersama keluarga maupun tidak tinggal bersama keluarga (Data
4

Lansia Puskesmas Danurejan II Yogyakarta, 2018). Berdasarkan survey awal

yang dilakukan oleh peneliti pada bulan Mei 2018 di Kelurahan Bausasran dari

hasil observasi dan wawancara 5 anggota keluarga yang memiliki lansia yang

tinggal serumah, didapatkan 4 dari 5 lansia tersebut tidak mendapat perhatian dari

keluarga di sebabkan oleh karena banyak kesibukan yang tidak bisa di tinggalkan

seperti harus berjualan untuk mencari nafkah, sehingga resiko jatuh bagi lansia

tersebut sangat tinggi, keadaan yang dimaksud misalnya keadaan rumah kurang

pencahayaan, lantai yang masih licin, barang yang tidak terpakai masih

berserahkan didalam rumah dan keadaan tangga rumah yang tinggi.

Selain itu, berdasarkan studi awal yang dilakukan, keluarga mengatakan tidak

mengetahui tentang resiko jatuh yang berdampak pada lansia sehingga keluarga

mengabaikan usaha pencengahan resiko jatuh. Berdasarkan 4 keluarga yang

mempunyai lansia terdapat 1 keluarga yang pernah mengalami jatuh dengan

cedera yang ringan. Melihat dari kurangnya perhatian keluarga terhadap lansia

dalam modifikasi lingkungan rumah sehingga peneliti tertarik untuk meneliti

pengetahuan, sikap dan pelaksanaan peran keluarga dalam memodifikasi

lingkungan rumah untuk pencegahan resiko jatuh pada lanjut usia di RW 10

kelurahan Bausasran Yogyakarta.
5

B. Rumusan Masalah Penelitian.

Dalam penelitian ini timbul suatu perumusan masalah yang ingin diketahui oleh

peneliti, yaitu “adakah hubungan pengetahuan, sikap dan pelaksana peran keluarga

dalam modifikasi lingkungan rumah dengan resiko jatuh pada lansia di RW 10

kelurahan Bausasran Tahun 2018?”.

C. Tujuan Penelitian

a. Tujuan Umum

mengetahui adanya hubungan pengetahuan, sikap dan peran keluarga dalam

modifikasi lingkungan rumah dengan resiko jatuh pada lansia serta faktor

yang berperan yang menyebabkan jatuh pada lansia.

b. Tujuan Khusus

a. Untuk mengidentifikasi karakteristuk responden sesuai dengan usia, jenis

kelamin, tingkat pendidikan dan pekerjaan.

b. Untuk mengetahui pengetahuan,sikap dan pelaksana peran keluarga

dalam pencengahan resiko jatuh pada lanjut usia kota Yogyakarta.

c. Untuk mengidentifikasi peran keluarga dalam modifikasi lingkungan

rumah untuk pencengahan resiko jatuh pada lansia di kota Yogyakarta.
6

D. Manfaat Penelitian.

a. Manfaat bagi Puskesmas Danurejan II Yogyakarta

Diharapkan dengan penelitian ini perawat dapat memberikan perhatian kepada

keluarga dan menganjurkan keluarga memodifikasi lingkungan agar lansia

tidak jatuh serta perawat tetap efektif dan aktif dalam memberikan pendidikan

dan penyuluhan kepada keluarga mengenai pengetahuan tentang pencegahan

kejadian jatuh.

b. Manfaat bagi Stikes Bethesda Yakkum Yogyakarta.

Sebagai sumber informasi dan pengembangan pengetahuan mengenai pelaksana

peran keluarga dalam modifikasi lingkungan rumah untuk pencengahan resiko

jatuh pada lanjut usia.

c. Manfaat bagi masyarakat

Sebagai informasi untuk ikut berpartisipasi dalam memodifikasi lingkungan

rumah terhadap pencengan resiko jatuh pada lanjut usia.

d. Manfaat bagi peneliti

Mendapatkan pengalaman langsung untuk mengembangkan peran perawat

khusus dibidang peneliti serta menambah wawasan pengetahuan peneliti

mengenai pengetahuan, sikap dan peran keluarga dalam memodifikasi

lingkungan rumah untuk pencengahan resiko jatuh pada lanjut usia di

Yogyakarta tahun 2018.
7

e. Teoritis

Pengembangan ilmu dan pengetahuan di bidang keperawatan komunitas dan

keperawatan gerontik khususnya yang berkaitan dengan Lanjut usia dan peran

keluarga dalam memodifikasi lingkungan rumah untuk pencengahan resiko

jatuh pada lansia.

E. Keaslian Penelitian
8

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Landasan Teori

1. Pengetahuan

a. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil yang didapat setelah orang melakukan

penginderaan terhadap objek tertentu. Sebagian besar pengetahuan

diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan merupakan pedoman

dalam membentuk tindakan seseorang. Berdasarkan pengalaman yang

dapat diperoleh bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan lebih

langgeng daripada perilaku yang di tidak didasari pengetahuan.

b. Tingkat Pengetahuan

Berkaitan dengan tingkat pengetahuan dalam domain kognitif, ada enam

tingkatan di dalamnya, yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis,

dan evaluasi

1) Tahu (know)

Tahu yang artinya adalah mengingat suatu materi yang telah

dipelajari atau rangsangan yang telah diterima sebelumnya. Tahu

menjadi tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk

meukur bahwa seseorang itu tahu adlah ia dapat menyebutkan,

menguraikan, mendefenusikan, dan menyatakan.

2) Memahami (Comperhention)
9

Memahami maksudnya adlah kemampuan untuk menjelaskan

secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat

mengintrepretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang

paham dapat menyebutkan contohnya, menyimpulkan, dan

meramalkan atau memprediksi.

3) Aplikasi (Application)

Aplikasi atau penerapan aplikasi ini artinya kemampuan

menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi

riil atau sebenarnya. Aplikasi dsini dapat diartikan sebagai

penggunaan hokum- hokum, rumus,metode, dan prinsip dalam

konteks atau situasi nyata.

4) Analisis (Analysis)

analisis yang memiliki arti kemampuan menjabarkan materi atau

objek ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil tetapi masih dalan

satu struktur organisasi dan adanya kaitannya satu sama lain.

Kemampuan analisis dapat diliohat dari penggunaan kata kerja ,

seperti menggambarkan ,membuat bagan, membedakan ,

memisahkan dan mengelompokkan.

5) Sintesis (Syntesis)

Sintesis yaitu kemampuan meletakkan atau menghubungkan

bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau

kemampuan menyusun formulasi baru dari formulasi yang sudah
10

ada. Contohnya antara lain dapat meyusun, merencanakan,

meringkis, n menyesuaiakan terhadap sesuatu teori atau rumusan

yang telah ada.

6) Evaluasi (Evalution)

Evaluasi yang dapat diartikan krmampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap sesuatu materi atau objek.

Evaluasi dilakukan dengan menggunakan kriteria sendiri atau

kriteria yang telah ada.

c. Manfaat Pengetahuan

Dalam Notoatmodjo (2012), menyebutkan bahwa pengetahuan atau

kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya

tindakan seseorang (overt behavior). Dari pengalaman dan penelitian

terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih

langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.

Sebelum orang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri seseorang

terjadi proses yang berurutan yakni:

1) Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam diri

mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (obyek).

2) Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau obyek tersebut.

Disini sikap subyek sudah mulai timbul.
11

3) Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya

stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah

lebih baik lagi.

4) Trial sikap dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai

dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.

5) Adaption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan

pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus. Apabila

penerimaan perilaku baru atau diadopsi perilaku melalui proses

seperti ini, dimana didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap

yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng.

d. Cara Mengukur Pengetahuan

Menurut Wawan dan Dewi (2010), pengetahuan seseorang dapat diukur

secara kuantitatif dengan interpretasi sebagai berikut:

1) Baik : hasil persentase 76% - 100%

2) Cukup : hasil persentase 56% - 75%

3) Kurang : hasil persentase < 56

2. Sikap

a. Pengertian Sikap

Sikap adalah suatu respon atau reaksi yang masih tertutup terhadap sutu

stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat dilihat, tetapi hanya

bisa ditafsirkan. Sikap adalah kecenderungan yang berasal dari dalam
12

individu untuk berkelakuan dengan pola – pola tertentu terhadap objek

tersebut ( Koentjaraningrat dalam Maulana 2013). Sikap tidak dapat

dilihat tetapi dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup.

Sikap ialah reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial.

Sarwono via Maulana (2009) mengatakan bahwa sikap adalah

kecenderungan untuk merespons, baik secara positif maupun secara

negative, terhadap seseorang, situasi, ataupun objek tertentu. Sikap dapat

diartikan sebagai sesuatu penilaian emosional atau efektif (berupa

perasaan senang, benci, dan sedih), kognitif atau pengetuan tentang suatu

objek, dan konatif atau kecenderungan bertindak.

Masyarakat memiliki pola pikir tertentu dan pola berpikir diharapkan

dapat berubah dengan diperolehnya pengalaman, pendidikan, dan

pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungan. Sikap dapat terbentuk

dari adanya interaksi social yang dialami individu. Interaksi di sini tidak

hanya berupa kontak social tetapi meliputi pula hubungan dengan

lingkungan fisik ataupun lingkungan psikologis sekitarnya.

Notoatmodjo (2010) mengatakan bahwa perwujudan sikap tidak dapat

dilihat langsung, namun terlebih dahulu dapat ditafsirkan dari perilaku

yang tertutup. Sikap dianggap belum berupa suatu aktivitas atau tindakan,

tetapi kecenderungan atas tindakan dari sebuah perilaku. Sikap masih

menjadi suatu reaksi tertutup terhadap perilaku-perilaku kesehatan yang
13

dikenalkan. Sikap juga dapat berupa kesiapan untuk melakukan reaksi

terhadap perilaku kesehatan.

1) Komponen pokok sikap

Notoatmodjo, 2009 mengatakan bahwa ada tiga komponen pokok

sikap, yaitu (1) kepercayaan / keyakinan, ide, konsep terhadap

suatu objek, (2) kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu

objek, dan (3) kecenderungan untuk bertindak. Ketiga komponen

tersebut membentuk sikap yang utuh secara bersama- sama. Mulai

dari pengetahuan, pikiran, keyakinan,dan emosi yang memegang

peranan penting dalam upaya penentu sikap yang utuh.

2) Berbagai tingkat sikap

Ada empat hal dalam tingkatan sikap, seperti tercantum dalam

buku karya Notoatmodjo (2009), yaitu menerima,merespons,

menghargai dan bertanggung jawab. Berikut ini adalah penjelasan

mengenai empat tingkatan sikap diatas.

a) Menerima (receiving)

Sikap menerima merupakan sikap seseorang yang mau

dalam memperhatikan stimulus yang diberikan oleh para

petugas kesehatan saat melakukan penyuluhan program

kesehatan. Contohnya adalah kesedian warga untuk dating

dan mendengarkan penyuluhan yang dilakukan oleh

petugas kesehatan.
14

b) Merespons (responding)

Merespons sikap memberikan tanggapan atau respon

apabila petugas kesehatan melemparkan pertanyaan,

meminta bantuan dan kerjasamanya untuk melakuakan

suatu pekerjaan atau tugas yang diberikan oleh petugas

kesehatan.

c) Menghargai (valuing)

Menghargai adalah tindakan menghormati dan memandang

penting suatu hal.kaitannya dengan

d) Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah

dipilihnya dengan segala resiko adalah mempunyai sikap

paling tinggi.

b. Sifat Sikap

Menurut Heri Purwanto (1998) dalam Wawan dan Dewi (2010), sifat

dapat pula bersifat positif dan dapat pula bersifat negative :

1) Sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi,

mengharapkan obyek tertentu.

2) Sikap negative terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari,

membenci, tidak menyukai objek tertentu.
15

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap

Menurut Wawan dan Dewi (2010): faktor-faktor yang mempengaruhi

sikap keluarga terhadap objek sikap antara lain :

1) Pengalaman pribadi

Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi

haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Sikap akan lebih mudah

terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi

yang melibatkan faktor emosional.

2) Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang searah

dengan sikap orang yang dianggap penting. Kecenderungan ini antara

lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keiginan untuk

menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.

3) Pengaruh Kebudayaan

Kebudayaan telah menanam garis pengarah sikap kita terhadap

berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota

masyarakatnya, karena kebudayaanlah yang memberi corak

pengalaman individu-individu masyarakat asuhannya.

4) Media massa

Dalam pemberitaan surat kabr maupun radio atau media komunikasi

laiinya, berita yang seharusnya factual disampaikan secara objektif
16

cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisnya, akibat berpengaruh

terhadap sikap konsumennya.

5) Lembaga Pendidikan Dan Lembaga Agama

Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga agama

sangat menetukan sistem kepercayaan tidaklah mengheran jika kalau

pada gilirannya konsep tersebut mempengaruhi sikap

6) Faktor emosional

Kadangkala, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari

emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustrasi atau

pengalihan bentuk mekanisme pertahan ego (Aswar, 2015).

d. Ciri-Ciri Sikap

Menurut Heri Purwanto (1998) dalam Wawan dan Dewi (2010), ciri-ciri

sikap adalah:

1) Sikap bukan dibawa sehak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari

sepanjang perkembangan itu dalam hubungan dengan obyeknya. Sifat

ini membedakannya dengan sifat motif- morif biogenesis seperti

lapar, haus, kebutuhan akan istrahat.

2) Sikap dapat berubah karena itu sikap dapat dipelajari dan sikap dapat

berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat

tertentu yang mempermudah sikap pada orang itu
17

3) Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan

tertentu terhadap suatu objek dengan kata lain, sikap iru terbentuk,

dipelajari atau berubah senantiasa berkenan dengan suatu objek

tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas.

4) Objek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga

merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut.

5) Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat

alamiah yang membedakan sikap dan kecakapan atau pengetahuan-

pengetahuan yang dimiliki orang.

e. Alat ukur sikap

Menurut Heri Purwanto dalam Wawan (2010) sikap adalah rangkaian

kalimat yang berasal dari ungkapan perasaan berdasarkan apa yang

dirasakan atau tentang obejek yang dilihat. Rangkaian tersebut dapat

bersifat positif dan dapat bersifat negatif tentang objek tersebut dan dapat

diukur dengan kuesioner dalam skala ordinal (skala yang memiliki

tingkatan) dengan sikap positif dan negative dengan rincian sebagai

berikut

1) Tingkat sikap positif, jika jawaban benar sebesar ≥ mean

2) Tingkat sikap negatif, jika jawaban benar sebesar ≤ mean
18

3. Keluarga

a. Pengertian Keluarga

Keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena hubungan

darah, perkawinan, dan adopsi dalam satu rumah tangga yang berinteraksi

satu dengan yang lainnya (Ali, 2009).

Keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh

perkawinan, adopsi dan kelahiran yang bertujuan menciptakan dan

mempertahankan budaya yang umum, menungkatkan perkembangan fisik,

mental, emosional dan sosial individu-individu yang ada didalamnya

terlihat dari pola interaksi yang saling ketergantungan untuk mencapai

tujuan bersama (Achjar, 2010).

b. Tipe-tipe keluarga

Tipe keluarga dibagi menjadi beberapa, sebagai berikut (Mubarak, 2010) :

1) Traditional Nuclear adalah keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu,

dan anak yang tinggal dalam satu rumah dalam suatu ikatan

perkawinan, satu atau keluarganya dapat bekerja diluar rumah

2) Extended Family adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara,

misalnya nenek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi, dan

sebagainya.
19

3) Reconstituted Nuclear adalah pembentukan baru dari keluarga inti

melalui perkawinan kembali suami atau istri, tinggal satu rumah

dengan anak-anaknya.

4) Middle Age atau Aging Couple adalah suami mencari uang atau

kedua-duanya anak meninggalkan rumah karena kerja, sekolah atau

perkawinan.

5) Dyadic Nuclear adalah suami istri yang tanpa anak.

6) Single parent adalah satu orang tua sebagai akibat perceraian atau

kematian anak-anaknya dapat tinggal satu rumah.

7) Carrier adalah keduanya bekerja dan tidak mempunyai anak.

8) Commuter Married adalah kedua bekerja namun tinggal terpisah pada

jarak tertentu, dan keduanya saling mencari pada waktu-waktu

tertentu.

9) Single Adult adalah wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dan

tidak adanya keinginan untuk menikah.

10) Three Generation adalah tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu

rumah.

11) Institional adalah anak-anak atau orang dewasa tinggal dalam satu

panti.

12) Comunal adalah satu rumah terdiri dari dua atau lebih pasangan

monogamy dengan anaknya dan menggunakan fasilitas bersama.
20

13) Group Marriage adalah terdiri dari orang tua dan keturunannya di

dalam keluarga dan tisp individu menikah dengan orang yang lain dan

semuanya adalah orang tua dari anak.

14) Unmeride parent and Child adalah dimana perkawinan tidak

dikehendaki, anaknya diadopsi.

15) Cohibing Couple adalah pasangan yang tinggal tanpa pernikahan.

c. Fungsi Keluarga

Menurut Achjar (2010) di dalam keluarga mempunyai beberapa fungsi,

yaitu :

1) Fungsi Afektif merupakan fungsi keluarga dalam memenuhi

kebutuhan pemeliharaan kepribadian. Respon keluarga terhadap

kondisi dan situasi yang dialami tiap anggota keluarga baik senang,

maupun sedih dengan melihat keluarga mengekspresikan kasih saying.

2) Fungsi sosialisasi adalah bagaimana keluarga produktif terhadap sosial

dan bagaimana keluarga memperkenalkan anaknya dengan dunia luar

dengan belajar disiplin, mengenal budaya dan norma melalui

hubungan interaksi dalam keluarga sehingga mampu berperan dalam

masyarakat.

3) Fungsi perawatan keluarga merupakan fungsi keluarga dalam

melindungi keamanan dan kesehatan seluruh anggota keluarga serta

menjamin pemenuhan kebutuhan perkembangan fisik, mental dan
21

spiritual, dengan cara memelihara dan merawat anggota keluarga serta

mengenali kondosi sakit setiap anggota keluarga.

4) Fungsi ekonomi, untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti sandang,

pangan, papan, dan kebutuhan lainnya melalui keefektifan melalui

sumber dana keluarga.

5) Fungsi biologis, untuk meneruskan ketrunan tetapi juga untuk

memelihara dan membesarkan anak untuk kelanjutan generasi

selanjutnya.

6) Fungsi psikologis, bagaimana keluarga memberi kasih saying dan rasa

aman, memberikan perhatian diantara anggota keluarga, membina

pendewasaan kepribadian anggota keluarga dam memberikan identitas

keluarga.

7) Fungsi pendidikan, diberikan keluarga untuk memberikan

ppengetahuan, ketrampilan, membentuk perilaku anak mempersiapkan

anak sesuai dengan tingkat perkembangan.

d. Tugas keluarga

Tugas-tugas keluarga dalam pemeliharaan kesehatan adalah (Ali, 2009):

1) Mengenal masalah

Bagaimana persepsi keluarga terhadap tingkat keparahan penyakit

hipertensi, pengertian, tanda dan gejala, faktor penyebab dan

persepsi keluarga terhadap masalah yang dialami keluarga.
22

2) Mengambil keputusan sejauh mana keluarga mengerti mengenai

sifat dan luasnya masalah, bagaimana masalah dirasakan oleh

keluarga, keluarga menyerah atau tidak terhadap masalah yang

dihadapi, adakah rasa takut terhadap akibat atau adakah sikap

negatif dari keluarga terhadap masalah kesehatan, bagaimana sistem

pengambilan keputusan yang dilakukan keluarga anggota keluarga

yang sakit.

3) Merawat anggota keluarga yang sakit Bagaimana keluarga

mengetahui keadaan sakitnya, sifat dan perkembangan perawatan

yang diperlukan, sumber-sumber yang ada dalam keluarga serta

sikap keluarga terhadap yang sakit.

4) Memodifikasi lingkungan Seperti pentingnya hygien sanitasi bagi

keluarga, upaya pencegahan penyakit yang dilakukan keluarga,

upaya pemeliharaan lingkungan yang dilakukan keluarga,

kekompakan anggota keluarga dalam menata lingkungan dalam dan

luar rumah yang berdampak terhadap kesehatan keluarga.

5) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan Tingkat kepercayaan

keluarga terhadap petugas kesehatan dan fasilitas pelayanan

kesehatan, keberadaan fasilitas kesehatan yang ada, keuntungan

keluarga terhadap penggunaan fasilitas kesehatan, apakah fasilitas

kesehatan terjangkau oleh keluarga, adakah pengalaman yang

kurang baik yang dipersepsikan keluarg
23

4. Peran keluarga

a. Pengertian Peran

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain

terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu system. Peran

menunjukkan kepada beberapa perilaku yang kurang lebih bersifat

homogeny yang didefenisikan dan diharapakan secara normative dari

seorang dan dalam situasi social tertentu peran di dasarkan atas preskripsi

dan harapan peran yang menerangkan apa yang di individu harus

dilakukan dalam situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan orang lain

mencangkup peran tersebut ( Marlyn M. Friedman, (1998) dalam Priyoto

2015)

b. Pengaruh peran terhadap pembentukan perilaku

Menurut Lawrence Green (1980) dalam Priyoto (2015) pembentukan

perilaku ditentukan oleh tiga faktor, yaitu faktor predisposisi, faktor

pendukung, dan faktor pendorong.

1) Faktor predisposisi

Faktor predisposisi (predisposising factors) adalah faktor – faktor yang

melatarbelakangi atau merupakan suatu motivasi bagi perilaku.

Termasuk di dalamnya adalah pengetahuan, tingkat pendidikan, serta

kepercayaan, nilai dan sikap.

a) Pengetahuan
24

Meskipun pengetahuan tidak selalu menyebabkan perubahan

perilaku, namun pengetahuan tentang kesehatan kadang diperlukan

sebelum usaha pribadi dilakukan. Usaha kesehatan yang diharapkan

mungkin tidak terlaksana, kecuali seseorang menerima isyarat yang

kuat berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya sehingga

mendorong untuk berbuat atau berperilaku.

b) Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang akan memberikan dampak terhadap

pengetahuan dan tindakan atau sikap. Menurut Wahid Iqbal

Mubarak (2007) dalam Priyoto (2015) pendidikan berarti

membimbing yang diberikan seseorang pada orang lain terhadap

sesuatu hal agar mereka dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri

bahwa semakin muda pula mereka menerima informasi, dan

akhirnya semakin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya.

Sebaliknya jika seseorang tingkat pendidikannya rendah, akan

menghambat perkembangan sikap seorang terhadap penerimaan,

informasi, dan nilai – nilai yang baru dikenalkan.

c) Kepercayaan, nilai dan sikap.

Kepercayaan, nilai dan sikap merupakan unsur yang tidak

tergantung, sampai sekarang perbedaan antara beberapa unsur

tersebut masih ada dan bersikap kompleks. Hubungan antara

perilaku dan struktur seperti kepercayaan, nilai, dan sikap tidak
25

dapat dipahami secara menyeluruh. Namun demikian, sikap

merupakan suatu faktor penting atau komponen utama dari perilaku.

Hal ini merupakan alas an untuk melanjutkan analisis terhadap

kepercayaan, nilai, dan sikap sebagai faktor predisposisi.

2) Faktor Pendukung.

Faktor pendukung (enabling factors) adalah faktor yang

memungkinkan terealisasinya motivasi atau cita – cita, termasuk di

dalamnya adalah kemampuan individu dan sumber daya seperti halnya

sumber daya masyarakat. Sumber daya tersebut antara lain fasilitas

pelayanan kesehatan, tenaga atau petugas, institusi dan sebagainya.

Faktor pendukung juga termasuk daya jangkau berbagai sumber daya,

biaya, jarak, transportasi yang tersedia, dan ketrampilan.

3) Faktor Pendorong.

Faktor pendorong (reinforcing factors) adalah faktor yang menentukan

apakah suatu kegiatan perilaku kesehatan mendapat dukungann dan

apakah penguat itu positif atau negative akan tergantung pada sikap

dan tindakan. Tidak hanya berdasarkan latar belakang tetapi juga

tingkat pertumbuhan dan perkembangan karena perilaku merupakan

fenomena atau gejala yang sifatnya beragam.
26

5. Lanjut Usia (Lansia)

a. Pengertian

Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan sesorang untuk

mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis.

Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup

serta peningkatan kepekaan secara individual (Efendi, 2012).

b. Batasan umur lanjut usia.

Batasan lanjut usia berdasarkan Undang – Undang No. 13 tahun 1998

adalah 60 tahun keatas.

Menurut Depkes RI (2013) pengelompokan usia lanjut dibagi atas :

a. Kelompok pertengahan umur : 45 – 54 tahun

b. Kelompok lanjut usia dini : 55 – 64 tahun

c. Kelompok lanjut usia : 65 tahun keatas

d. Kelompok lanjut usia dengan resiko tinggi : 70 tahun keatas atau kelompok

lanjut usia yang hidup sediri, terpencil, menderita penyakit berat atau cacat.

Sedangkan menurut WHO (World Health Organization) kategori lanjut usia

meliputi :

1) Usia pertengahan (middle age) : 45-59 tahun

2) Usia lanjut (elderly) : 60 -74 tahun

3) Usia tua (old) : 75 – 90 tahun
27

4) Usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun.

Menurut Budi Anna Keliat (1999) dalam Nugroho, 2012, lansia memiliki

karakteristik sebagai berikut :

1) Berusia lebih dari 60 tahun (sesuai dengan pasal 1 ayat (2) UU No.13

tentang kesehatan).

2) Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai

sakit, dari kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi

adaptif hingga kondisi maladaptif.

3) Lingkungan tempat tinggal bervariasi.

Lanjut usia (lansia) adalah sesorang yang berusia 60 tahun atau lebih

(UU no 13 tahun 1998). Departemen sosial tahun 1999 mendefinisikan

bahwa lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun

keatas. Berdasarkan definisi diatas peneliti dapat menyimpulkan

bahwa seseorang dikatakan lanjut usia apabila usianya 60 tahun ke

atas. Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari

suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan

tubuh untuk beradaptasi dengan stress lingkungan.

c. Karakteristik Lansia

Terdapat beberapa karakteristik lansia yang perlu diketahui keberadaan

masalah kesehatan lansia adalah :
28

1) Jenis kelamin

Lansia lebih banyak pada wanita. Terdapat perbedaan dan kebutuhan dan

masalah kesehatan yang berbeda-beda antar lansia laki-laki dan wanita.

2) Status perkawinan

Status pesangan lengkap, sudah janda atau duda akan mempengaruhi

keadaan kesehatan lansia baik fisik maupun psikologis

3) Living arragment

Misalnya keadaan pasangan, tinggal sendiri atau bersama istri, anak atau

keluarga lainnya.

a) Tanggungan keluarga, masih menanggung anak atau anggota

keluarga.

b) Tempat tinggal, rumah sendiri, tinggal dengan anak. Kebanyakan

lansia masih hidup sebagai bagian keluarganya, baik lansia sebagai

kepala keluarga anaknya. Lansia akan tinggalkan oleh keturunannya

dalam rumah yang berbeda.

4) Kondisi kesehatan

a) Kondisi umum, kemampuan umum untuk tidak tergantung kepada

orang lain dalam kegiatan sehari-hari, seperti mandi, buang air kecil

dan besar.

b) Frekuensi sakit, frekuensi sakit yang tinggi menyebabkan menjadi

tidak produktif lagi bahkan mulai tergantung pada orang lain,

karena penyakit kroniknya sudah memerlukan perawatan khusus.
29

c) Keadaan ekonomi

(1) Sumber pendapatan keluarga, ada tidaknya bantuan keuangan

dari anak atau keluarga lainnya, atau bahkan masih ada anggota

keluarga yang masih tergantung pada lansia.

(2) Kemampuan pendapatan, lansia memerlukan biaya yang lebih

tinggi, semakin pendapatan menurun, sampai seberapa besar

pendapatan lansia dapat memenuhi kebutuhan.

d. Perubahan-perubahan yang terjadi pada lanjut usia

1) Perubahan kondisi fisik

Perubahan kondisi fisik pada lansia meliputi perubahan dari tingkat sel

sampai ke semua sistem organ tubuh, diantaranya :

a) Sistem persyarafan

Struktur dan fungsi saraf berubah dengan bertambahnya usia.

Berkurangnya massa otak progresif akibat berkurangnya sel saraf yang

tidak bisa diganti. Terjadi penurunan sintesis dan metabolisme

neurotransmiter utama. Impuls saraf dihantarkan lebih lambat

sehingga lansia memerlukan waktu yang lebih lama untuk merespon

dan bereaksi (Nugroho, 2012).

2) Sistem kardiovaskuler

Perubahan struktural yang normal dari penuaan yang terjadi pada

jantung dan sistem vaskuler mengakibatkan kemampuannya untuk

berfungsi secara efisien menurun. Katup jantung menjadi lebih tebal
30

dan kaku, jantung serta arteri kehilangan elastistasnya. Pada lansia

terjadi perubuhan ukuran jantung yaitu hipertrofi dan atrofi pada usia

30 – 70 tahun. Sistem aorta dan arteri perifer menjadi kaku dan tidak

lurus karena peningkatan serat kolagen dan hilangnya serat elastis

dalam lapisan medial arteri. Implikasi dari hal ini adalah penumpulan

respon baroreseptor dan penumpulan respon terhadap panas dan dingin

(Nugroho, 2012).

3) Sistem pernafasan

Perubahan sistem respirasi yang berhubungan dengan usia yang

mempengaruhi kapasitas dan fungsi paru meliputi peningkatan

diameter anterioposterior dada, kolaps osteoporotik vertebra yang

mengakibatkan kifosis (peningkatan kurvatura konveks tulang

belakang), penurunan efisiensi otot polos, dan penururnan luas

permukaan alveoli (Nugroho, 2012)

4) Sistem pencernaan

Fungsi sistem pencernaan biasanya masih tetap adekuat sepanjang

hidup. Namun demikian beberapa orang lansia mengalami

ketidaknyamanan akibat lambatnya perjalanan makanan atau motilitas

yang melambat. Peristaltik di esofagus kurang efisen pada lansia.

Selain itu sfingter gastro esofagus gagal berelaksasi mengakibatkan

pengosongan esofagus terlambat. Keluhan utama biasanya berpusat

pada perasaan penuh, nyeri ulu hati, dan gangguan pencernaan
31

(Smeltzer dan Bare, 2011). Dilatasi esofagus, kehilangan tonus sfingter

jantung, dan penurunan refleks muntah. Implikasi dari hal ini adalah

peningkatan terjadinya resiko aspirasi (Nugroho, 2012).

5) Sistem genitourinaria

Perubahan fungsi ginjal meliputi penurunan laju filtrasi, penurunan

fungsi tubuler

dengan penurunan efisiensi dalam resorbsi dan pemekatan urin. Ureter,

kandung kemih, dan uretra kehilangan tonus ototnya. Kapasitas

kandung kemih menurun dan indivudu lansia tidak mampu lagi

mengosngkan kandung kemihnya dengan sempurna (Nugroho, 2012).

Penurunan massa otot yang tidak berlemak, peningkatan total lemak

tubuh, penurunan cairan intra sel, penurunan sensasi haus, penurunan

kemampuan untuk memekatkan urine. Implikasi dari hal ini adalah

penurunan total cairan tubuh dan risiko dehidrasi (Stanley, et all 2011).

6) Sistem muskuloskeletal

Penurunan progresif massa tulang terjadi sebelum usia 40 tahun.

Kehilangan densitas tulang yang masif akan mengakibatkan

osteoporosis. Kondisi ini kebanyakan terjadi pada wanita pasca

menepause yang berhubungan dengan inaktifitas, masukan kalsium

yang tidak adekuat, dan kehilangan estrogen (Smeltzer & Bare, 2010).

Otot mengalami atrofi sebagai akibat dari berkurangnya aktivitas,

gangguan metabolik, atau denervasi saraf. Bertambahnya usia,
32

perusakan dan pembentukan tulang melambat. Hal ini terjadi karena

penurunan hormon esterogen pada wanita, vitamin D, dan beberapa

hormon lain. Tulang trabekulae menjadi lebih berongga, mikro-

arsitektur berubah dan sering patah baik akibat benturan ringan

maupun spontan (Setiabudi, 2013). Perubahan yang terjadi pada

sistem skeletal, penurunan tinggi badan secara progresif karena

penyempitan diktus intervertebral dan penekanan pada kolumna

vertebralis. Implikasi dari hal ini adalah postur tubuh menjadi lebih

bungkuk dengan penampilan barrel-chest. Perubahan yang terjadi pada

sistem muskular, perubahan kolumna vertebralis, akilosis atau

kekakuan ligamen dan sendi, penyusutan dan sklerosis tendon dan

otot, dan perubahan degeneratif ekstrapiramidal. Implikasi dari hal ini

adalah peningkatan fleksi. Perubahan yang terjadi pada sendi akibat

proses menua yaitu pecahnya komponen kapsul sendi dan kolagen.

Implikasi dari hal ini adalah nyeri, inflamasi, penurunan mobilitas

sendi dan deformitas (Nugroho, 2012). Hal ini terkait dengan teori

medis (Medical Theories) dari Miller, mengatakan perubahan biologis

yang berhubungan dengan proses penuaan mempengaruhi fungsi

fisiologis tubuh manusia.

b. Perubahan kondisi mental (Mubarak, et al 2011)

Pada umumnya lansia mengalami penurunan fungsi kognitif dan

psikomotor. Perubahan-perubahan ini erat sekali hubungannya dengan
33

perubahan fisik, keadaan kesehatan, tingkat pendidikan atau

pengetahuan, dan situasi lingkungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi

perubahan kondisi mental diantaranya :

1) Perubahan fungsi fisik, khususnya organ perasa.

2) Kesehatan umum.

3) Tingkat pendidikan

4) Keturunan

5) Lingkungan

6) Gangguan syaraf panca indra

7) Gangguan konsep diri akibat kehilangan

8) Rangkaian kehilangan, yaitu kehulangan hubungan dengan teman

dan keluarga

9) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap

gambaran diri dan konsep diri.

6. Konsep Jatuh pada Lansia

a. Pengertian jatuh

Jatuh merupakan suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi

mata, yang melihat kejadian mengakibatkan seseorang mendadak

terbaring/terduduk di lantai/tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa

kehilangan kesadaran atau luka (Darmojo, 2011). Jatuh merupakan suatu

kejadian yang menyebabkan subyek yang sadar menjadi berada di
34

permukaan tanah tanpa disengaja. Tidak termasuk jatuh akibat pukulan

keras, kehilangan kesadaran, atau kejang. Kejadian jatuh tersebut adalah

dari penyebab yang spesifik yang jenis dan konsekuensinya berbeda dari

mereka yang dalam keadaan sadar mengalami jatuh (Stanley, 2011).

b. Faktor Resiko

1) Faktor instrinsik

Faktor instrinsik adalah variabel-variabel yang menentukan mengapa

seseorang dapat jatuh pada waktu tertentu dan orang lain dalam

kondisi yang sama mungkin tidak jatuh (Stanley, 2011). Faktor

intrinsik tersebut antara lain adalah gangguan muskuloskeletal

misalnya menyebabkan gangguan gaya berjalan, kelemahan

ekstremitas bawah, kekakuan sendi, sinkope yaitu kehilangan

kesadaran secara tiba-tiba yang disebabkan oleh berkurangnya aliran

darah ke otak dengan gejala lemah, penglihatan gelap, keringat dingin,

pucat dan pusing (Lumbantobing, 2011).

2) Faktor ekstrinsik

Faktor-faktor ekstrinsik tersebut antara lain lingkungan yang tidak

mendukung meliputi cahaya ruangan yang kurang terang, lantai yang

licin, tempat berpegangan yang tidak kuat, tidak stabil, atau tergeletak

di bawah, tempat tidur atau WC yang rendah atau jongkok, obat-

obatan yang diminum dan alat-alat bantu berjalan (Azizah, 2011).

c. Penyebab Jatuh dari lingkungan Rumah
35

Faktor-faktor lingkungan yang menyebabkan jatuh adalah penerangan

yang tidak baik (kurang atau menyilaukan), lantai yang licin dan basah,

tempat berpegangan yang tidak kuat/tidak mudah dipegang dan alat-alat

atau perlengkapan rumah tangga yang tidak stabil dan tergeletak di

bawah. (Azizah, 2011). Menurut Friedman, 1998 dalam Darmojo (2011)

adalah kondisi interior rumah meliputi bagaimana ruangan-ruangan

tersebut dilengkapi oleh perabot , kelayakan perabot, penerangan yang

tidak memadai dan eksterior rumah meliputi lantai, tangga, jeruji dalam

keadaan buruk, tempat obat-obatan tidak terjangkau dan pintu masuk dan

pintu keluar ke rumah tidak terdapat penerangan dan ruang gerak yang

cukup untuk keluar dari rumah, kabel listrik telanjang di lantai, kolam

renang yang tidak di pagari secara memadai.

d. Akibat Jatuh

Jatuh dapat mengakibatkan berbagai jenis cedera, kerusakan fisik dan

psikologis. Kerusakan fisik yang paling ditakuti dari kejadian jatuh

adalah patah tulang panggul. Jenis fraktur lain yang sering terjadi akibat

jatuh adalah fraktur pergelangan tangan, lengan atas dan pelvis serta

kerusakan jaringan lunak. Dampak psikologis adalah walaupun cedera

fisik tidak terjadi, syok setelah jatuh dan rasa takut akan jatuh lagi dapat

memiliki banyak konsekuensi termasuk ansietas, hilangnya rasa percaya

diri, penbatasan dalam aktivitas sehari-hari, falafobia atau fobia jatuh

(Stanley, 2011).
36

e. Komplikasi

Menurut Kane (1996), yang dikutip oleh Darmojo (2011),

komplikasi-komplikasi jatuh adalah :

1) Perlukaan (injury)

Perlukaan (injury) mengakibatkan rusaknya jaringan lunak yang

terasa sangat sakit berupa robek atau tertariknya jaringan otot,

robeknya arteri/vena, patah tulang atau fraktur misalnya fraktur

pelvis, femur, humerus, lengan bawah, tungkai atas.

2) Disabilitas

Disabilitas mengakibatkan penurunan mobilitas yang berhubungan

dengan perlukaan fisik dan penurunan mobilitas akibat jatuh yaitu

kehilangan kepercayaan diri dan pembatasan gerak.

3) Mati/ meninggal

f. Pencengahan

Menurut Tinetti (1992), yang dikutip dari Darmojo (2011), ada 3 usaha

pokok untuk pencegahan jatuh yaitu :

1) Identifikasi faktor resiko

Pada setiap lanjut usia perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari

adanya faktor instrinsik risiko jatuh, perlu dilakukan assessment
37

keadaan sensorik, neurologis, muskuloskeletal dan penyakit sistemik

yang sering menyebabkan jatuh. Keadaan lingkungan rumah yang

berbahaya dan dapat menyebabkan jatuh harus dihilangkan.

Penerangan rumah harus cukup tetapi tidak menyilaukan. Lantai

rumah datar, tidak licin, bersih dari benda-benda kecil yang susah

dilihat, peralatan rumah tangga yang sudah tidak aman (lapuk, dapat

bergerser sendiri) sebaiknya diganti, peralatan rumah ini sebaiknya

diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu jalan/tempat

aktivitas lanjut usia. Kamar mandi dibuat tidak licin sebaiknya diberi

pegangan pada dindingnya, pintu yang mudah dibuka. WC sebaiknya

dengan kloset duduk dan diberi pegangan di dinding.

2) Penilaian keseimbangan dan gaya berjalan (gait)

Setiap lanjut usia harus dievaluasi bagaimana keseimbangan badannya

dalam melakukan gerakan pindah tempat, pindah posisi. Bila goyangan

badan pada saat berjalan sangat berisiko jatuh, maka diperlukan

bantuan latihan oleh rehabilitasi medis. Penilaian gaya berjalan juga

harus dilakukan dengan cermat, apakah kakinya menapak dengan baik,

tidak mudah goyah, apakah penderita mengangkat kaki dengan benar

pada saat berjalan, apakah kekuatan otot ekstremitas bawah penderita

cukup untuk berjalan tanpa bantuan. Kesemuanya itu harus dikoreksi

bila terdapat kelainan/penurunan.

3) Mengatur/ mengatasi faktor situasional.
38

Faktor situasional yang bersifat serangan akut yang diderita lanjut usia

dapat dicegah dengan pemeriksaan rutin kesehatan lanjut usia secara

periodik. Faktor situasional bahaya lingkungan dapat dicegah dengan

mengusahakan perbaikan lingkungan , faktor situasional yang berupa

aktifitas fisik dapat dibatasi sesuai dengan kondisi kesehatan lanjut

usia. Aktifitas tersebut tidak boleh melampaui batasan yang

diperbolehgkan baginya sesuai hasil pemeriksaan kondisi fisik. Maka

di anjurkan lanjut usia tidak melakukan aktifitas fisik yang sangat

melelahkan atau berisiko tinggi untuk terjadinya jatuh.

B. Kerangka Teori

Kerangka teori merupakan rangkaian teori yang mendasari topik penelitian

(Saryono, 2010)
39

Skema 3. Kerangka Teori

(Sumber : Wawan dan Dwi (2010), Notoadmojo (2010), Padila (2013), Priyoto

(2015)

C. Kerangka konsep

Kerangka konsep merupakan kerangka hubungan antara konsep-konsep yang

ingin diamati atau diukur melalui pendidikan yang akan dilakukan. Kerangka

konsep ini dikembangkan kepada tujuan penelitian yang telah dirumuskan,

serta didasari oleh kerangka teori yang telah disajikan dalam tinjauan

kepustakaan sebelumnya (Notoatmodjo, 2010).

Independen Dependen

Pengetahuan terhadap
resiko jatuh pada lansia
dengan skala :
- Baik Peran keluarga dalam
- Cukup modifikasi lingkungan
- Kurang rumah dalam
Faktor yang mempengaruhi pencengahan resiko
pengetahuan jatuh pada lanjut usia
1. Internal
a. Pendidikan
b. Pekerjaan
c. Umur Faktor mempengaruhi
2. Eksternal peran keluarga
a. Lingkungan
a. Sosial
Sikap keluarga terhadap 1. Faktor predisposisi
resiko jatuh dengan skala - Pendidikan
: - Tingkat pengetahuan
- Positif - serta kepercayaan,
- Negatif nilai dan sikap.
2. Faktor pendukung
3. Faktor pendorong
40

Faktor yang mempengaruhi sikap
1. Pengalaman pribadi
2. Pengaruh orang yang dianggap penting
3. Pengaruh budayaMedia massa
4. Lembaga pendidikan dan agama.
5. Faktor emosional

Keterangan :

Teliti

Tidak diteliti
41

D. Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan penelitian adalah suatu pertanyaan yang diajukan oleh peneliti

tentang apa yang ingin diketahui dari suatu penelitian dan akan terjawab

melalui kesimpulan hasil penelitian (Kelana, 2011).

“ Bagaimana gambaran pengetahuan, sikap dan pelaksana peran keluarga

dalam modifikasi lingkungan rumah untuk pencengahan resiko jatuh pada

Lansia?”.

E. Variabel Penelitian

1. Variabel konseptual

a. Variabel dependen

1) Pengetahuan menurut Notoadmojo (2010) merupakan hasil

penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek

melalui indera yang dimilikinya ( mata, hidung, telinga dan

sebagainya).

2) Sikap merupakan suatu pola perilaku untuk merespon suatu objek

atau situasi baik positif atau negative dengan cara yang
42

mendukung atau memihak pada satu kondisi tertentu (Saifuddin

Azwar, 2013).

b. Variable Independen

Peran keluarga dalam modifikasi lingkungan rumah dalam

pencengahan resiko jatuh pada lanjut usia
2. Definisi operasional

Tabel 2

Definisi Operasional

Variable Definisi Operasional Cara ukur dan alat ukur Hasil ukur Skala
Pengetahuan Pengetahuan adalah Angket berupa kuesioner dengan skala Hasil ukur Ordinal
terhadap respon dalam guttman yang terdiri dari 10 butir soal pengetahuan
resiko jatuh memahami dan pertanyaan pilihan ganda dengan pilihan dengan kategori
pada lansia mengetahui serta jawaban “Benar” dan “salah” rentang skor
menjawab pertanyaan. jika pertanyaan positif: mengguna rumus
a. Jawaban benar bernilai :1 sturges :
b. Jawaban salah bernilai : 0 Skor tertinggi
kurang skor
Pertanyaan negatif : terendah di bagi
jumlah kategori.
c. Jawaban benar bernilai : 0 Rumus :
d. Jawaban salah bernilai : 1 10 - 3
3
a. Baik : dengan
jumlah skor 7-
10.
b. Cukup :
dengan jumlah
skor 3-6
c. Kurang :
dengan jumlah
skor 0-3

43
44

Sikap keluarga Sikap adalah reaksi Angket berupa kuesioner dengan 9 butir Hasil ukur sikap Ordinal
terhadap atau respon dari soal pertanyaan menggunakan skala Likert, dengan
pencengahan responden tetang dengan 4 pilihan jawaban yaitu : positif menggunakan
resiko jumlah pencengahan resiko dengan nilai jawaban = 1 rumus sturges
jatuh pada jatuh pada lansia. Sikap Pada pertanyaan negative dengan nilai-nilai meliputi rumus :
lansia tersebut dapat dilihat jawaban:
dari beberapa - Sangat setuju (SS) = 4 36 – 9 9
komponen kognitif - Setuju (S) =3 3
adalah suatu - Tidak Setuju =2 a. Baik : dengan
kepercayaan/pandangan - Sangat Tidak Setuju = 1 jumlah skor 27-
keluarga dalam Pada pertanyaan negative dengan nilai – 36
modifikasi lingkungan nilai jawaban. b. cukup : dengan
rumah untuk - sangat setuju =1 jumlah skor 18
pencengahan jatuh pada - setuju =2 -26
lansia. Komponen - tidak setuju =3 c. kurang dengan
konatif adalah perilaku - Sangat tidak setuju = 4 jumlah skor 9-
atau sikap keluarga 17
tetang modifikasi
lingkungan rumah a. a
dalam pencengahan a
resiko jatuh pada lansia
di wilayah kerja
puskesmas Danurejan
Yogyakarta 2018
Peran Keterlibatan keluarga Angket berupa kuesioner dengan 18 butir Hasil ukur peran Ordinal
keluarga dalam memodifikasi soal pertanyaan menggunakan skala Likert, keluarga upaya
dalam lingkungan rumah dengan 4 pilihan jawaban yaitu : positif pencengahan
modifikasi dalam upaya dengan nilai jawaban = 1 resiko jatuh pada
lingkungan pencengahan resiko Pada pertanyaan negative dengan nilai-nilai lanjut usia
45

rumah dalam jatuh pada lansia jawaban:
pencengahan - Sangat setuju (SS) = 4
resiko jatuh - Setuju (S) =3 36 – 9 9
pada lanjut - Tidak Setuju =2 3 9
usia - Sangat Tidak Setuju = 1
Pada pertanyaan negative dengan nilai – a. Baik : dengan
nilai jawaban. jumlah skor
- sangat setuju =1 27-36
- setuju =2 b. cukup :
- tidak setuju =3 dengan
- Sangat tidak setuju = 4 jumlah skor
18 -26
c. kurang
dengan
jumlah skor 9-
17
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Jenis penelitian yang peneliti gunakan adalah studi deskripsi yang bertujuan

untuk menggambarkan pengetahuan, sikap dan pelaksana peran keluarga dalam

modifikasi lingkungan rumah untuk pencengahan resiko jatuh pada lansia di RW

10 Kelurahan Bausasran Yogyakarta tahun 2018.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Lokasi penelitian dilaksanakan di Wilayah kerja Puskesmas Danurejan II,

kelurahan Bausasran RW 10 Yogyakarta. Penelitian ini di lakukan selama 1

bulan pada bulan Agustus 2018.

C. Populasi dan sampel

Menurut Arikunto (2013) apabila populasi kurang dari 100 lebih baik diambil

semua tetapi jika jumlah jumlah populasi lebih dari 100 maka pengambilan

sampel 10-15% atau 20-25%. Berdasarkan data dari Puskesmas Danurejan II

bahwa Kelurahan Bausasran jumlah lansia yang tinggal di Kelurahan Bausasran

tersebut berjumlah 559 orang. Besarnya jumlah sampel pada penelitian ini

adalah sampel diambil 10% dari total populasi sehingga sampel penelitian ini

berjumlah 56 orang. Penggambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive

sampling yaitu responden dijadikan sampel sesuai dengan karakterikstik ysng

46
47

telah dikenal dan telah memenuhi kriteria sampel yang telah ditentukan terlebih

dahulu (Nursalam, 2013).

Adapun kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu :

2. Kriteria inklusi

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek pene;itian dari suatu

populasi target yang terjangkau dan akan diteliti (Nursalam 2013).

Kriteria tersebut adalah :

a) Keluarga yang mempunyai lansia umur 65 ke atas

b) Keluarga yang dapat membaca dan menulis

c) Keluarga yang tidak bisa membaca akan dibaca oleh peneliti

d) Bersedia menjadi responden

e) Keluarga yang saat dikunjung ada di rumah.

D. Alat ukur Penelitian

Instrument penelitian atau alat ukur penelitian adalah alat-alat yang akan

digunakan untuk pengumpulan data. Istrumen dalam penelitian ini berupa

kuesioner (daftar pertanyaan) yang berarti semua jawaban sudah disediakan dan

responden tinggal memilih jawaban yang ada. Kuesioner berisi daftar pertanyaan

untuk mengetahui tingkat pendidikan, sikap keluarga dan peran keluarga dalam

modifikasi lingkungan rumah untuk pencengahan jatuh pada lansia.

Pengetahuan melalui kuesioner dimana menjawab benar maka mendapat nilai 1

(satu) sedangkan salah mendapatkan nilai 0 (nol). Kemudian alternative jawaban

benar pada setiap item soal dijumlahkan.
48

Table 1. Instrument pengetahuan

Aspek Jenis pertanyaan Jumlah pertanyaan

Penyebab

- Karakteristik lingkungan 7,12 2

- Karekteristik Situasional 8,9 2

Pencengahan

-Mengidentifikasi faktor resiko 1,15,16 3

- Penilaian keseimbangan gaya 10 1

berjalan

- Mengatur / mengatasi factor 3,6,11,13,14 5

situasional

Nurwahyuni (2010) mengemukakan bahwa untuk menghindari jawaban subyek

kelompok tengah maka pilihan jawaban dipergunakan jawaban genap yaitu :

sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju maksud kategori

jawaban tersebut terutama untuk melihat kecenderungan responden kearah

setuju atau tidak setuju. Kuesioner yang digunakan untuk mengukur sikap

menggunakan skala likert yang dimodifikasi . subyek hanya dapat memilih

alternative jawaban dari 4 alternatif jawaban yang mendukung, butir yang

favorable dan unfavorebel dengan penilaian sebagai berikut :

1. Item yang favorabel, responden yang menjawab :
49

a) Sangat setuju : dinilai 4

b) Setuju : dinilai 3

c) Tidak setuju : dinilai 2

d) Sangat tidak setuju : dinilai 1

2. Item yang unfavorebel, responden yang menjawab :

a) Sangat setuju : dinilai 1

b) Setuju : dinilai 2

c) Tidak setuju : dinilai 3

d) Sangat tidak setuju : dinilai 4

Tabel 2: instrument Sikap

Aspek Jenis pertanyaan Jumlah
Favorebel unfavorebel pertanyaan
- Karakteristik lingkungan No. 4,5,6,7 No 8 5

- Karekterikstik situasional No. 2 1,9,10 4

- Penilaian keseimbangan No. 11 1
dan gaya berjalan

Tabel 3 instrument peran keluarga
50

No Aspek Jenis pertanyaan Jumlah
pertanyaan

1 Mengenal Masalah kesehatan 1,2,3,7,8,9,10,17,18 9

2 Modifikasi lingkungan rumah 14,15,16 3

3 Mengentahui penilaian keseimbangan 4,5,6,7 4

berjalan

4 Pencengahan resiko Jatuh 7,11,12 3

Dari penelitian tersebut kemudian di kategorikan ke dalam skor (Arikunto 2006)

, yaitu tentang skor katengori yang membagi sama besar. Cara perhitungan

adalah jawaban atau skor minimum dan maksimum (range) dibagi menurut

kategori sehingga diperoleh skor kategori sikap dan pengetahuan adalah; baik,

cukup dan kurang.

E. Etika Penelitian

Setelah mendapat ijin dari Stikes Bethesda Yakkum Yogyakarta peneliti

melakukan penelitian dengan menekankan pada masalah etika penelitian

meliputi:
51

1. Lembar persetujuan (Informed consent)

Lembar persetujuan diberikan kepada subjek yang diteliti, peneliti

menjelaskan maksud dan tujuan penelitian yang dilaksanakan serta dampak

yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data responden.

Responden yang bersedia diteliti harus menandatangani lembar persetujuan

yang disediakan, responden menolak atau tidak bersedia maka peneliti tidak

memaksakan dan menghormati hak – hak mereka.

2. Tanpa nama (anomanity)

Tanpa nama atau anomanity merupakan hak untuk dijaga kerahasiaannya

(Nursalam, 2013). Peneliti menyadari benar akan hak kerahasiaan dari

responden sehingga segala rahasianya akan dijamin dengan tidak

mencantumkan nama pasien pada format pengumpulan data tetapi cukup

dengan memberi nomor kode pada masing – masing lembar tersebut.

3. Hak untuk ikut atau tidak menjadi responden (right to self determination)

Subjek diperlakukan secara manusiawi. Subjek mempunyai hak memutuskan

apakah mereka bersedia menjadi responden tanpa adanya sangsi apapun

(Nursalam, 2013).

F. Prosedur pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data pada penelitian ini dengan menggunakan

kuesioner. Adapun langkah – langkah dalam mengumpulkan data yaitu :
52

1. Peneliti mengurus surat ijin penelitian di STIKES Bethesda Yakkum

Yogyakarta dan setelah mendapat surat ijin tersebut peneliti ke Badan

Kesatuan Bangsa dan Politik untuk ditindak lanjuti ijin penelitiannya

2. Penelitian ini dibantu oleh dua orang asisten yaitu mahasiswa S1

keperawatan program B semester tiga, bisa berbahasa jawa, dan memahami

prosedur pengumpulan data

3. Setelah mendapat ijin peneliti segera melakukan penelitian dengan terlebih

dahulu mengenalkan diri kepada responden dan menjelaskan maksud dan

tujuan penelitian.

4. Peneliti menunjukkan surat ijin penelitian dari STIKES Bethesda Yakkum

Yogyakarta, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan Puskesmas Danurejan

II

5. Peneliti meminta persetujuan dari responden yang akan diteliti dan bila

setuju meminta tanda tangan (surat persetujuan terlampir pada lampiran 3).

6. Peneliti menjelaskan cara pengisian kuesioner yang telah disediakan,

masing-masing berjumlah 18 pernyataan untuk pengetahuan keluarga dan

sikap keluarga dengan jawaban “ya” atau “tidak”, sedangkan peran

keluarga keluarga tentang modifikasi lingkungan rumah pencengahan

resiko jatuh dengan cara mengisinya dengan memberikan centang “√”,

apabila ingin dirubah diberikan tanda “X”. Selain itu responden juga

dianjurkan untuk membaca petunjuk cara pengisian kuesioner.
53

Memberikan waktu kepada responden untuk mengisi kuesioner hingga

selesai, kurang lebih waktu yang digunakan 20-30 menit.

7. Setelah kuesioner selesai diisi, dikumpulkan untuk dilakukan pengecekan.

Jawaban yang diisi oleh responden belum terisi secara lengkap peneliti

meminta kembali responden untuk mengisinya secara lengkap.

8. Setelah selesai dan lengkap pengisiannya, kuesioner dikumpulkan untuk

dilakukan pengolahan data.

G. Analisis Data

Analisis data peneliti menggunakan beberapa cara yaitu :

1. Pengolahan data

Setelah data – data dikumpulkan maka selanjutnya peneliti melakukan:

a) Editting

Melihat apakah data yang diperoleh sudah lengkap atau kurang.

Penulis akan melakukan pengecekan kembali dari data – data yang

sudah terkumpul.

b) Entry data

Memasukan data yang sudah berupa kode-kode untuk di proses dalam

pengolahan data.

c) Tabulasi
54

Memasukan data ke dalam tabel-tabel dan mengatur angka-angka

sehingga dapat dihitung jumlah berapa yang memiliki pengetahuan

dan sikap baik, cukup dan kurang

d) Scoring

Pada tahap ini peneliti memberi nilai pada data sesuai dengan skor

yang telah ditentukan berdasarkan kuesioner yang telah diisi oleh

responden.
55
56
57
58
73