You are on page 1of 22

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan
puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami,
sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah tentang

Karya tulis ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan karya tulis ilmiah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi
susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala
saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga karya tulis ilmiah tentang ini dapat memberikan manfaat maupun
inpirasi terhadap pembaca.

Banjarbaru,Maret 2017

Kelompok 3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR .................................................................................. 1
DAFTAR ISI................................................................................................. 2
BAB I : Pendahuluan ................................................................................... 3
I.1 Latar Belakang ................................................................................... 4
I.2 RumusanMasalah................................................................................ 4
I.3 Tujuan Penulisan ...................................................................................... 5
BAB II : PEMBAHASAN ........................................................................... 3
II.1 Riwayat Hidup Soekarno ....................................................................... 3
II.1 Latar Belakang Sosial............................................................................. 5
II.2 Latar Belakang Intelektual ......................................................... 9
II.2 Pemikiran-Pemikiran Soekarno............................................................... 14
1 spiritualitas ............................................................................................... 14
1. Nasionalisme dan Demokrasi ........................................................................ 16
2. Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri) ....................................................... 17
3. Anti-kolonialisme .......................................................................................... 18
4. Anti-Elitisme ................................................................................................. 18
5. Persatuan Nasional ........................................................................................ 19
6. Marhaenisme ................................................................................................. 20
7. Pancasila ........................................................................................................ 20
BAB III :Penutup ......................................................................................... 22
III.1 Kesimpulan ............................................................................................ 22
III.2 Saran ...................................................................................................... 22
Daftar Pustaka ............................................................................................. 23
Lampiran ...................................................................................................... 24
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Soekarno adalah manusia luar bisa yang pernah di lahirkan oleh ibu pertiwi, dan
Soekarno adalah Fauding Father, orator ulang, berwibawa, karismatik, cendekiawan, ideolog,
dan bahkan sosok yang sempurna sebagai pemimpin bangsa. Sebagai sosok yang menjadi pujaan
dalam akhir perjalanan yang tidak menyenangkan bahkan ironis. Sebagai bapak pendiri bangsa,
Soekarno harus menghadapi realitas dan rivalitas politik yang sangat menyakitkan, dan harus
berakhir pada ironi kehidupan yang sangat menyesahkan. Di buang, di peras, di tendang dan di
campakkan begitu saja oleh penguasa orde baru harus ia terima hingga akhir menjelang. Tidak
ada penghormatan selayaknya pada sisi manusiawi Soekarno yang tengah di landa penyakit yang
begitu takut hingga ajal menjemputnya; tidak ada penghormatan terhadap sisi perjuangan dan
sumbang sihnya yang teramat basar bagi kemerdekaan negeri ini dari kolonialisme dan
imperialisme dan kenyataannya Soekarno harus jatuh kelobang kehinaan akibat intrik politik
yang sangat terdensius hingga akhir hayatnya pun harus berpulang ketiadaan respek terhadap
bapak pendiri bangsa.
Oleh karena itu sangat sayang kiranya kita sebagai putra-putri bangsa Indonesia sang
penerus bangsa tidak mengetahui sosok pendiri bangsa ini yang begitu di puja, dicinta, dan di
rindukan oleh bangsa. Karena kegigihannya, keuletannya, demi mempertahankan dan
memerdekakan bangsa Indonesia.

I.2 Pembatasan dan Perumusan Masalah
Sesuai dengan judul makalah ini, penulis membatasi dan mengkaji beberapa rumusan
masalah yang akan di bahas dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah kehidupan Soekarno?
2. Bagaimanakah pemikiran-pemikiran Soekarno pada masa perjuangan?
3. Tragedi wafatnya Soekarno?

I.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan karya tulis ini, penulis mempunyai beberapa tujuan
sebagaimana judul yang telah di tentukan dalam penulisan makalah, demikian tujuan penulis
sebagai berikut:
1. Untuk lebih mengetahui betapa pentingnya sejarah tentang Sorkarno.
2. Untuk mengetahui betapa banyaknya sejarah di Indonesia.
3. Untuk membangkitkan generasi muda Indonesia agar bisa mempertahankan Indonesia
selayaknya Bung Karno.
4. Untuk mencari muda berbakat Indonesia agar berprilaku, bersikap, bersosial dan memiliki jiwa
kepemimpinan seperti Bung Karno
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Riwayat hidup Soekarno
1. Latar Belakang Sosial
Soekarno lahir di Lawang Seketeng, Surabaya, Jawa timur, pada 6 juni 1901. Ejaan nama
Soekarno tak penah di ubah olehnya. Dia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda
tangannya yang tercantum dalam teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di beberapa negara
barat, nama Soekarno kadang-kadang di tulis Ahmad Soekarno. Hal ini terjadi karena ketika dia
pertama kali berkunjung ke Amerika serikat (AS), sejumlah wartawan bertanya “siapa nama
kecil Soekarno?” pertanyaan itu muncul karena mereka tidak mengerti kebiasan sebagian
masyarakat di Indonesia yang hanya menggunakan satu nama atau tidak memiliki nama
keluarga. Entah bagai mana, seorang lalu menambahkan nama Ahmad di depan nama Soekarno.
Semula namanya adalah Kusno Sosradiharjo. Tapi, karena kusno kecil sering sakit-
sakitan, maka namanya di ganti menjadi Soekarno. Ayahnya adalah Raden Soekemi
Sosradiharjo, seorang guru kelahiran probolinggo, jawa timur, dan ibunya adalah Ida Ayu
Nyoman Rai yang lahir serta merupakan kerabat seorang bangsawan di singa raja, Bali.
Menurut ibunya, kelahiran Soekarno di waktu fajar memiliki makna khusus. Kata
Soekarno, ibunya pernah mengatakan: “kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, enngkau
akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di
saat fajar mulai menyingsing. Kita orang jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa orang yang
di lahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah di takdirkan terlebih dulu. Jangan lupakan itu,
jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa engkau ini putra dari sang fajar.”
Tanggal kelahiran Soekarno pun di pandangnya sebagai bertanda nasib baik. Dia mengatakan:
“hari lahirku di tandai oleh angka serba enam. Tanggal enam bulan enam adalah menjadi nasib
yang paling baik untuk di lahirkan dengan bintang Gemini, lambang kekembaran”. Soekarno
melihat dirinya yang terdiri dari dua sifat yang berlawanan sebagai satu kemungkinan bertanda
nasibnya di dunia politik." Karena aku terdiri dari dua belahan, aku dapat memperlihatkan segala
rupa; aku dapat mengerti segala pihak; aku memimpin semua orang. Boleh jadi ini secara
kebetualan bersamaan. Boleh juga pertanda lain, akan tetapi, kedua belahan dari waktuku itu
menjadikanku seorang yang merangkul semuanya.”
Kejadian lain yang di anggap bertanda nasib oleh Soekarno adalah meletusnya gunung
kelud ketika dia lahir. Mengenai hal ini, dia menyatakan: “orang yang percaya kepada takhayul
meramalkan, ‘ini adalah penyambutan terhadap bayi soekarno”. Selain itu penjelasan tentang
penggantian nama Kusno menjadi Karno pun memberi satu mitos lagi dalam diri soekarno kecil
tentang dirinya sebagai calon pejuang dan pahlawan bangsanya. Kepercayaan akan pertanda-
pertanda yang muncul di hari kelahirannya memberi semacam gambaran masa dalam benak
soekarno sejak masa kecilnya.
Pada masa kecil soekarno tinggal bersama kakeknya di Tulungagung pada usia 14 tahun,
seorang kawan ayahnya Haji Oemar Said Tjokroaminoto mengajaknya tinggal di surabaya dan di
sekolahkan ke Hoogere Burger School (HBS). Soekarno pada awal abad ke-20, ketika
kolonialisme- imperalisme Belanda memulai pembaruan politik etis di Hindia Belanda. Tak
heran jika dia bisa bersekolah dengan cukup baik. Di Surabaya, soekarno banyak bertemu
dengan para pemimpin sarekat Islam, organisasi yang di pimpin Tjokroaminoto saat itu.
Kemudian dia bergabung dengan organisasi Jong Java (pemuda jawa). Jong Java adalah
organisasi pemuda yang semula bernama Tri Koro Darmo.
Semasa sekolah di HBS, Soekarno mulai menulis artikel politik melawan kolonialisme
Belanda di Surat kabar pimpinan Tjokroaminoto yaitu Oetoesan Hindia. Karakter revolusioner
Soekarno terbentuk dari rangkaian penderitaan hidup yang di alaminya. Soekarno muda tumbuh
menjadi seorang yang penuh perasaan cinta kepada sesama, terutama kepada golongan yang
tertindas dan terhisap. Pada saat yang sama, dia juga menjadi orang yang membenci penindasan.
Hal ini terlihat jelas dalam penuturannya kepada Cindy Adams yang kemudian menuliskannya
dalam buku Soekarno penjambung Lidah Rakyat Indonesia. Riwayat hidup Soekarno sendiri
memperlihatkan bagaiman gambaran dirinya di masa depan dan persepsinya tentang Indonesia
yang kemudian menggerakannya untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.
Selamat HBS pada tahun 1920, Soekarno melanjutkan ke Fechnische Hoge School
(sekaran ITB) di Bandung, dan tanat pada tahun 1925. Ketika kuliah di Bandung, dia berinteraksi
dengan Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Dowes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin
organisasi National Indische Partij. Setamatnya di HBS, Soekarno menolak menjadi pegawai
pemerintah kolonial pada 4 juli 1927, dia bersama Mr. Sartono, Ir. Anwari, Mr. Sunaryo dan
lain-lain.
Sejak masih beliau, usia 15-an tahun, Soekarno sudah di gemleng dalam kawah candra di
mukanya nasionalisme. Dalam usianya masih “ijo” Soekarno sudah di masak di dapurnya
nasionalisme. H.O.S Cokroaminoto menempa Soekarno dengan wawasan nasionalisme wawasan
cinta tanah air. Cokropula yang membukakan matanya ihwal kemeralatan rakyat Indonesia.
Cokropula yang membuka hati dan otaknya untuk bisa melihat secara jernih kehidupan bangsa
Indonesia yang sudah dijajah Belanda ratusan tahun. Sebagai pelajar, Bung Karno harus bermain
cantik dalam setiap aksi dan kegiatan yang sekira dapat di anggap atau setidaknya patut di nilai
menentang pemerintah Hindia dan Belanda. Sebab, jika ketahuan melanggar, sanksinya jelas,
bukan saja sanksi hukuman fisik, tetapi yang lebih ia takutkan adalah larangan bersekolah alias
di –DO dari HBS, tempatnya menimba ilmu di Surabaya. Karenanya, dalam semua tulisannya
Soekarno menggunakan nama samaran Bima. Nama Bima di ambil dari tokoh pewayangan epos
Mahabharata. Bima adalah putra kedua pandu Dewanta. Dalam dunia wayang, Bima atau
Wrekodara adalah penegak pandawa. Kakaknya Yudistira sedangkan tiga adiknya adalah Arjuna,
dan Kembar Nakula-Sadewa. Bima adalah sosok kesatria pemberani, prajurit besar sekaligus
seorang pahlawan.
Dalam biografinya, Bung karno menyebutkan, tak kurang dari 500 artikel yang ia tulis dan di
terbitkan di majalah Oetoesan Hindia dengan nama samaran Bima. Tulisan-tulisan Bima cukup
menggemparkan kalangan rakyat pro kemerdekaan. Tulisan-tulisan Bima menjadi perbincangan
di seluruh pelosok negeri, utamanya jawa, dan lebih spesifik, jawa timur. Itu karena Bima dalam
setiap tulisannya mengangkat realita kehidupan rakyat yang terjajah di satu sisi, dan kerakusan
pemerintah Hindia Belanda di sisi lain dalam menguras sumber daya alam, tanpa sedikitpun
menyisakan bagi kesejahteraan rakyat, pewaris negri yang sah.
Ayah-ibunya, Raden Soekemi dan Idayu pun turut memperbincangkan tulisan-tulisan
Bima. Akan tetapi, mereka sama sekali tidak mengira bahwa Bima sang penulis, tak lain adalah
putra kesayangan yang mereka idam-idamkan menjadi pemimpin kelak. Bung Karno sendiri
sadar, muncul pada usia dini dengan pemikiran-pemikiran radikal hanya akan memupus
kesempatannya menimba ilmu lebih lanjut. Sebab, pemerintahan penjajah Hindia Belanda tidak
akan segan-segan menyerang siapapun bahkan membunuh Inlader yang berani menyebarkan
benih-benih kebencian trerhadap pemerintahan kolonial itulah Bima sang penulis. “Bima” yang
berusia belasan tahun mampu merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi
paragraf, menjadi narasi politik yang menggemparkan.
Soekarno adalah sosok yang luar biasa. Tidak heran jika para pengamat mengatakan
bahwa selama 100 tahun belum tentu di Indonesia lahir seorang tokoh seperti Soekarno. Dia
adalah pemimpin besar, orator hebat, juga diplomat yang ulung. Dia telah memberikan asas,
metode, dan tujuan perjuangan kebangsaan selama kurun waktu tahun 1928-1929.
Seorang tokoh besar seperti Soekarno memang menjadi bahan kajian yang tidak pernah
habis dan membosankan. Selalu ada unsur dan polemik baru yang lahir dari tokoh ini di
sepanjang karier politiknya. Masa pendidikan politik, Soekarno di bentuk di dua Kota berbeda
yang mengenalkannya pada dua ideologi modern, yaitu sosialisme dan nasionalisme. Di
Surabaya, Soekarno mengaku pertama kali mengenal Marxisme melalui Alimin ketika dia
tinggal di asrama. Di asrama ini, dia juga mengenal Muso, Semaun dan Darsono. Mereka adalah
orang-orang kiri yang kelak mendirikan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Kepindahan Soekarno ke Bandung pada Juni 1921 untuk masuk ke Technische
Hoogeschool membawanya berkenalan dan menyerap nasionalisme radikal dari Tjipto
Mangunkusumo dan Douwes Dekker.
Sosok Soekarno menampakan cita dan citranya sebagai manusia yang menyimpan aneka
bakat, pengagum keindahan, pemerhati kesenian, dan pencipta seni. Minat dan bakatnya pada
duia seni sudah tampak sejak usia muda hingga akhir hayatnya. Soekarno memiliki sembilan
orang istri dan delapan orang anak putra maupun putri adapun salah satu istrinya yang bernama
Hartini. Dia adalah satu-satunya istri yang berada di samping ketika Soekarno menghembuskan
nafas terakhirnya. Soekarno wafat pada Selasa, 16 Juni 1970.
2. Latar Belakang Intelektual
Pada tahun 1930 Soekarno di tahan oleh pemerintah Kolonial Belanda dan kemudian di
jatuhi hukuman selama 4 tahun di penjara Sukamiskin, Bandung, pada 29 Desember 1929 karena
intensitas kegiatan politiknya. Delapan bulan kemudian, kasusnya di sidang. Dalam
pembelaannya di Landraad, Bandung yang berjudul “Indonesia Menggugat”, Soekarno
menegaskan perlawanannya terhadap kolonialisme Belanda. Pembelaannya itu membuat
Belanda semakin marah sehingga pada Juli 1930, PNI dibubarkan. Pidato pembelaannya
menggerakan dunia internasional. Akibatnya, pemerintah kolonial pada 31 Desember 1931
terpaksa membebaskan Soekarno sebelum Massa hukumannya selesai.
Setelah bebas dari penjara Sukamiskin, Soekarno masuk ke Pertindo (partai Indonesia),
dan memimpin majalah partai yang radikal yaitu Fikiran Rakyat. Akibat aktivitasnya itu, dia
kembali di tangkap Belanda dan di buang ke Ende, Flores, pada tahun 1933. Pada tahun 1938,
dia di pindahkan ke Bengkulu. Di Ende, Soekarno mendirikan perkumpulan sandiwara yang di
beri nama Kelimutu, dan sempat mementaskan cerita. Cerita karangannya, seperti Dr. Syetan dan
1945. Kegiatan itu di teruskan di Bengkulu. Bahkan di tempat pengasingan yang baru itu dia
aktif dalam kegiatan pendidikan lewat Muhammadiyah.
Dalam sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia). Pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara
yang di sebutnya “Pancasila”. Lalu pada 17 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Hasilnya, dalam sidang PPKI (Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia) pada 18 Agustus 1945, Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai
presiden Republik Indonesia yang pertama. Pada masa pemerintahannya, dia turut
mengusahakan persatuan Nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di
Asia, Afrika dan Amerika Latin dengan mengadakan Konperensi Asia Afrika di Bandung pada
1955 yang kemudian berkembang menjadi gerakan Non Blok.
Setelah G 30 S pada tahun 1956. Presiden Soekarno mengeluarkan surat perintah 11 Maret 1966
(Supersemart) yang kemudian di anggap kontroversi. Jabatan presiden berganti dari Soekarno
kepada Soeharto, Seorang Jendral Angkatan Darurat yang banyak berperan dalam penumpasan
PKI (Partai Komunis Indonesia).
Soekarno mengenal politik sejak usia balasan tahun, tepatnya ketika dia bersekolah HBS
di surabaya. Pada waktu itu, dia tinggal di rumah tokoh pergerakan nasional, yaitu H.O.S
Tjokroaminoto. Sejak lama, dia juga mengagumi gaya pidato K.H. Ahmat Dahlan, pendiri
Muhammadiyah, yang saat ini kerap berkunjung ke sana, kata Soekarno: “Dari pak Tjokro, aku
belajar Islam dan Sosialisme. Aku menghirup lebih banyak lagi persoalan politik dan
nasionalisme dari kawannya yang datang ke rumah itu”. Pada waktu itu, tokoh-tokoh pergerakan
nasional seperti Douwes Dekker, Tjicto mangunkusumo, Sneevliet, dan Husni Thamrin, sering
berkandang di rumah Tjokroaminoto di jalan Paneleh. Mereka mendiskusikan berbagai persoalan
kebangsaan. Di rumah itu pula, Soekarno bergaul dengan Alimin, Muso dan Kartosuwiryo.
Mereka adalah para pemuda yang kemudian menjadi pelaku-pelaku penting sejarah Indonesia.
Soekarno bahkan pernah menyebut Kartosuwiryo, kelak menjadi pemimpin DI/TII,
sebagai teman makan dan mimpinya. Sementara Alimin dan Muso di anggapnya sebagai guru
dalam bidang politik. Kedua orang itu kemudian pergi ke Rusia, belajar komunisme, lalu pulang
ke Indonesia dan, mendirikan PKI (Partai Komunis Indonesia).
Masa kembali ke tanah air beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan, dan
memimpin pemberantakan PKI di madiun pada tahun 1948. Dalam peristiwa tersebut, Alimin
tidak terlalu terlibat. Musa kemudian tewas, Soekarno sendiri kerap membesuk Alimin yang
sakit. Sakitan di hari tuanya, walau sikap baiknya itu mendapat ancaman dari lawan-lawan
politiknya. Soekarno mengaku memperdalam masalah nasionalisme dan ekonomi dari Sun Yat
Sen, tokoh gerakan nasionalis china yang menerbitkan buku Son Min Chu-I. Dia juga membaca
Karl Marx dan Thomas Jafferson. Mungkin hal itulah kata dia, yang menyebabkan dirinya
menjadi sasaran dari berbagai salah pengertian.
Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemeene Studie Club di Bandung. Organisasi
ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia (PNI) yang di dirikan setahun kemudian. Pada
tahun 1926 pula, terbit artikelnya yang terkenal yaitu “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme”
yang di muat dalam Suluh Indonesia Muda. Artikel ini di tulisnya sebagai bentuk keprihatinan
atas perseteruan si pimpinan Agus Salim dengan si merah (Serekat rakyat) pimpinan semaun dan
kawan-kawan. Dalam artikel tersebut, Soekarno mengatakan:
“Bukan kita mengharap yang nasionalis itu supaya berubah paham jadi Islamis atau marxis,
bukannya maksud kita menyuruh marxis dan islamis itu berbalik menjadi nasionalis, akan tetapi
impian kita adalah kerukunan, persatuan antara tiga golongan itu.”
Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkan di tangkap Belanda pada Desember 1929, dan
memunculkan pleidoinya yang fenomenal, yaitu Indonesia Menggugat. Dia lalu di bebaskan
pada 31 Desember 1931, Pada Juli 1932, Soekarno bergabung dengan pertinda, pecahan dan
PNI. Namun, dia kembali di tangkap pada Agustus 1933, lalu diasingkan ke Ende, Flores.
Soekarno baru kembali bebas semasa penjajahan Jepang pada tahun 1942.
PNI merupakan partai politik tertua di Indonesia, partai ini di dirikan pada 4 Juli 1927
dengan nama Perserikatan Nasional Indonesia dengan ketuanya pada saat itu adalah Dr. Tjipto
Mangunkusumo, Mr. Sartono, Mr. Isqak Tjokrohadisurjo, dan Mr. Sunario, Selain itu, para
pelajar yang tergabung dalam Algemeene Studie Club yang di ketuai oleh Soekarno, dia pun ikut
bergabung dengan partai ini.
Pada tahun 1928, Perserikatan Nasional Indonesia berganti nama menjadi Partai Nasional
Indonesia. Setahun kemudian, pemerintah kolonial Belanda menilai PNI sebagai organisasi yang
membahayakan, karena menyebarkan ajaran-ajaran pergerakan kemerdekaan. Pemerintah
kolonial lantas mengeluarkan perintah penangkapan pada 24 Desember 1929, Penangkapan baru
dilakukan pada Desember 1929 terhadap tokoh-tokoh PNI di Yogyakarta seperti Soekarno, Gatot
Mangkupraja, Soepriadinata, dan Maskun Sumadiredja. Sebelumnya, Soekarno berpidato di
depan peserta rapat permufakatan penghimpunan politik kebangsaan Indonesia di Solo. Diatas
mimbar Soekarno muda mmengepalkan tangannya. Suaranya menggelepar, mengorbankan
semangat:
“Imperialis, perhatikanlah! Dalam waktu yang tidak lama lagi, perang pasifik menggeledek,
memenyambar-menyambar membelah angkasa. Apabila Samudra Pasifik merah oleh darah, dan
bumi di sekelilingnya menggelegar oleh ledakan bom dan dinamit. Di saat itulah rakyat
Indonesia menjadi bangsa yang merdeka”.
Ramalan Soekarno kemudian terbukti benar. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
berkumandang 16 tahun kemudian setelah didahului perang pasifik yang amat dasyat, yang
membuat Belanda tetrdepak dari tanah Nusantara dan di susul dengan kekalahan Jepang oleh
sekutu. Perkiraan itu, kata Soekarno, bukan ucapan tukang tenung, bukan pula pantulan dari
harapan berdasarkan keinginan belaka. Di mata Soekarno, ramalan itu adalah hasil perhitungan
berdasarkan situasi revolusioner yang akan datang. Kata dia, “Aku melihat, Jepang pada waktu
itu terlalu agresif.”
Pemeritahan kolonial Belanda menilai Soekarno menyebarkan kabar bohong lewat
pidatonya. Dia di tuding menghasut rakyat untuk melawan pemerintah kolonial. Tak heran jika
Soekarno lantas di tangkap di Yogyakarta, beberapa jam sesuai berpidato di solo tersebut.
Esoknya, dengan kereta api, dia di bawa ke Bandung dan di jebloskan ke penjara. Soekarno
kemudian di adili di Landroad, Bandung, bersama tiga tokoh PNI lainnya, yaitu Gatot
Mangkupraja, Maskun Sumadiredja, dan Supriadinata. Sidang pengadilan terhadap para tokoh
yang di tangkap ini di lakukan pada 18 Agustus 1930. Dalam masa pengadilan inilah Soekarno
menulis Indonesia Menggugat dan membacakannya di depan pengadilan sebagai pleidoi.
Dalam sidang pengadilan, Soekarno tetap yaki bahwa perang pasifik akan terjadi.
Keyakinan itu jelas dia ungkapkan dalam Indonesia Menggugat. Dalam ramalannya: “Perang
pasifik bukan perang kecil-kecilan. Tetapi suatu peperangan untuk soal to be or not to be. Soal
hidup dan mati.” Ramalan akan meletusnya pasifik itu, kata Soekarno, buakn di pungut dari
tukang ramal jalanan, melainkan buah analisis sarjana Barat terkemuka. Dia memaparkan teori-
teori perang pasifik akan pecah akibat ulah Jepang yang bermaksud melancarkan revolusi di
Asia.
Soekarno juga menguraikan teori perang pasifik yang di sodorkan oleh Karl Haushofer dari
Universitas Munchen, Jerman, dalam bukunya yang berjudul Geopolitik des Pazifischan
Ozeanss. Ramalan senada di ungkapkan oleh Ernest Reinhard, penyelidik dari Swiss, dalam
buku Imperialistische Politik im Fernen Oste. Soekarno menulis dalam Indonesia Menggugat,
pleidoi setebal 188 halaman itu: “Kami perlu memberitahu rakyat kami, akan adanya perang
pasifik. Untuk menggugah keyakinan rakyat Indonesia akan perlu lekas-lekas menjadi bangsa
yang merdeka.
Lewat pleidoinya, Soekarno menohok praktik kebobrokan kapitalisme dan imperialisme.
Menurutnya, kapitalisme adalah sistem pergaulan hidup yang timbul dari Cara produksi yang
memisahkan kaum buruh dengan alat-alat produksinya. Kapitalisme telah menyerat rakyat pada
kemiskinan. Oleh karena itulah, dia menolak sistem kapitalisme yang di anggapnya sebagai
eksploitasi manusia terhadap manusia. Soekarno jelas mengecam imperialisme yang indentik
dengan kolonialisme: “Imperialisme adalah suatu paham, ia buka ambtenar, bukan pula badan
apapun. Ia adalah nafsu, suatu sistem menguasai atau memengaruhi ekonomi bangsa lain. Nafsu
imperialisme telah mengubah tanah-tanah Indonesia yang subur menjadi perkebunan-perkebunan
yang di kuasai Belanda”.
Meski anti- kapitalisme, Soekarno tak sampai menjadi komunis. Jal itu ia katakan dalam
berbagai kesempatan: “dalam bidang politik, Soekarno adalah nasionalis. Dalam bidang ideologi,
aku menjadi sosialis. Aku katakan, aku bukanlah komunis. Aku seorang sosialis. Aku seorang
kiri.” Menurutnya, orang-orang kiri adalah mereka yang menghendaki perubahan kekuasaan
kapitalis dan imperialis. Nasionalisme tanpa keadilan sosial menjadi nihilisme. Soekarno
menyatakan bahwa dirinya bisa menarik persamaan sosialismenya dengan Declaration of
Indepedence-nya AS. Dia juga menarik persamaan spiritual dari Islam dan Kristen, dan
persamaan ilmiah dari Karl Marx. Kemudian dia memercikkan unsur gotong royong sebagai jiwa
idolologinya. Percampuran semua itulah yang menurutnya akan menghasilkan Sosialisme
Indonesia. Pleidoi Soekarno itu tetap saja membuatnya masuk penjara. Setelah di adili di
pengadilan Belanda, dia dan para tokoh PNI lainnya di masukan ke dalam pemjara Sukamiskin,
Bandung. Pada tahun 1931, kepemimpinan PNI berubah dari Ir. Soekarno kepada Mr. Sartono.
Sartono kemudian membubarkan PNI dan membentuk partindo akhirnya membentuk PNI baru.
Soekarno sendiri memilih bergabung dengan partindo.
II.2 Pemikiran-Pemikiran Soekarno
1. Spiritualitas
Sebagai sosok yang memiliki prinsip tegas, Soekarno kerap dianggap sebagai tokoh
kontroversal. Di mata lawan-lawan politoknya di tanah air, dia dianggap mewakili sosok politisi
abangan yang “kurang islami”.bahkan menggolongkannya sebagai pemimpin “Nasionalis
sekuler”.
Menurut Cliffor Geertz, Gaya religius Soekarno adalah gaya Soekarno sendiri. Kepada
Louise Fischer, Soekarno pernah mengaku bahwa ia sekaligus Muslim, Kristen, Hindu. Di mata
pengamat, seperti Geertz, pengakuan semacam itu dianggap sebagai “bergaya ekspansif seolah-
olah hendak merangkul seluruh dunia”. Sebaliknya, ungkapan semacam itu, kata B. J. Baland,
hanya merupakan perwujudan dari perasaan keagamaan sebagian besar rakyat Indonesia,
khususnya Jawa. Bagi penghayatan spritual Timur, ucapan itu justru “merupakan keberanian
untuk menyeruakan berbagai pikiran yang mungkin bisa di tuduh para agamawan formalis
sebagai bid’ah”.
Latar belakang kejawen. Hindu dan Buddhisme sangat kuat mendasari spiritualitas
Soekarno. Sehingga dia jauh dari sifat “Ortodoksdogmatis” dalam pemikiran keagamaannya, dan
tidak bercorak formal santri dalam ke islamannya. Soekarno menyenangi bentuk sufisme yang
bebas, agama yang di perlikan sebagai “Bahasa kasih sayang”. Bahkan agama yang penuh
passion. Posisi keagamaan Soekarno berbeda misalnya dengan Haji Agus Salim, A. Hassan, dan
Mohammad natsir, yang dikenal sebagai pemiir-pemikir Islam yang bercocok Ortodoks
(Nasional dan Doktriner). Dalam bayangan Bernard Dahm, Soekarno total menjadi seorang
tokoh dalam sebuah epos. Bagi Soekarno. Nasionalisme, agama, dan marxisme seolah-olah
merupakan doktin trinitas dalam agama Kristen yang tak bakal ditinggalkan sampai kapan pun
dunia akan berakhir.
Soekarno adalah seorang Muslim dan bahkan di timur tengah di akui sebagai seorang
pemimpin Muslim. Sayangnya, di Indonesia, Soekarno lebih sering dipandang sebagai seorang
pemimpin nasionalis dari pada seorang pemimpin Muslim.
Menurut Soekarno, umat Islam memang berpegang pada ajaran al-Qur’an dan hadist. Tapi bukan
nyalanya, bukan apinya, debunya, asbesnya. Abunya yang berupa celak mata dan sorban. Tetapi
bukan apinya, yang menyala-nyala dari ujung zaman yang asatu ke zaman yang lain. Oleh karena
itu, dia sering melontarkan kritik terhadap model pendidikan pesantren sebagai lembaga
pendidikan yang dikenal umat Islam saat itu, kuno dan tidak sesuai dengan semangat zaman.
Lantaran ia hanya terpaku pada sistem pengajaran yang cenderung memisahkan antara aspek
keagamaan dengan aspek ilmu pengetahuan umum. Ringkasnya, pendidikan Islam yang di pabdu
dengan pendidikan ilmu pengetahuan umum itulah yang di kehendaki Soekarno.
Dalam di Bawah Bendera Revolusi. Soekarnio mengatakan:
“Saya tahu, Tuan punya pesantren, bukan universitas. Tapi alangkah baiknya kalau Toch
Washern Science. Disitu di tambah banyaknya. Demi Allah, ‘islam Science’ bukan hanya
pengetahuan Qur’an dan hadist sahaya: “ialam science” adalah pengetahuan Qur’an dan hadist
plus pengetahuan umum! Orang tidak dapat memahami betul Qur’an dan hadist, kalau tak
berpengetahuan umum...”
Dalam pandangan Soekarno, untuk membangkitkan kembali dunia Islam yang sedang tertidur
lelap ini. Maka tidak ada Cara lain, kecuali membangun para akal, serta memfungsikan kembali
akal dan rasio secara perlahan-lahan tapi pasti. Umat islam harus berani melepaskan diri dari
kungkungan masa lalu. Mengeluarkan diri dari “penjara taqlid”, dan memberanikan diri untuk
menatap masa depan yang serat dengan kopetensi dan kompleksitaskultur dan ilmu penetahuan.
Pada asas ini, Soekarno pernah mengatakan:
“Mariah kita memerdekakan kita punya roch, kita punya akal, kita punya pengetahuan dari
ikatan-ikatannya kedjumudan, hanya dengan roch, akal,dan pengetahuan sang merdekalah kita
bias mengerdjakan penyelidikan kembali, her-orientation, zelfcorretie yang sempurna…”.
Soekarno menyakini al-Qur’an adalah wahyu ilahi, kitab keramat, penuh teka-teki, nilai sacral,
dan karena itu harus di jungjung tinggi oleh umat islam. Bagi Soekarno, Al-Qur’an telah
memberikan kontribusi bagi perubahan kehidupan yang revolusioner, bukan saja di tanah Arab,
melainkan di seluruh dunia. Menurutnya.
“Satu revolusi yang bukan lagi sebagai kita punya revolusi. Satu revolusi pancamuka, lima
macam, tetapi mungkin ini revolusi yang di adakan oleh tuha via quran itu adalah revolusi
dasamuka. Sebagaimana revolusi yang ia macam sekaligus”.
Sebagai fajar sehabis malam yang gelap-gulita, sebagai penutup abad-abad kegelapan.
Maka di dalam abad 19 berkilau. Kilauanlah di dalam dunia ke islaman sinarnya dua pendekar,
yang namanya tak akan hilang tertulis dalam buku riwayat muslim : Sheikh Mohammad Abdouh.
Rector sekolah tinggi Azhar, dan Seyid Djamaludin el afghani dua penglima pengislamisme
yang telah membangunkan dan menjunjung rakyat-rakyat islam di seluruh benua asia dari pada
kegelapan dan kemunduran. Walaupun pada sikapnya dua pahlawan ini ada perbedaan sedikit
satu sama lain – Sayid Djamaluddin el afghani ada lebih redikal dari Sheikh Mohammad Abdouh
– maka merekalah yang membangunkan lagi kenyataan –kenyataan islam tentang politik,
terutama Syaid Djamaluddin, yang pertama-tama membangunkan rasa pahlawanan dihati
sanubari rakyat-rakyat muslim terhadap pada bahaya inperialisme Barat, merekalah terutama
Syaid Djamaluddin pula, yang mula-mula mengutbahkan suatu barisan rakyat islam yang kokoh,
guna melawan bahaya inperialisme Barat itu.
2. Nasionalisme dan Demokrasi
Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan titik pusat dan keberhasilan penggalang nasionalisme
sejak dia masih menjadi mahasiswa. Soekarno sudah mengingatkan ancaman imperialisme dan
kolonialisme ekonomi dalam tulisan yang dibuat pada tahun 1933 yang berjudul Di bawah
Bendera Revolusi. Nasionaliisme adalah sosio- nasionalisme, yang berarti nasionalisme Marhaen
yang menolak borjuisme. Sedangkan demokrasi adalah sosio- demokrasi yang artinya demokrasi
politik dan demokrasi ekonomi. Kata Soekarno dalam pidato 17 Agustus 1964, “Firman Tuhan,
inilah gitaku”. Firman Tuhan inilah harus menjadi pula gitamu: Innallaha la yu ghaiyiru ma
biqaumin, hatta yu ghaiyiru ma bianfusihim”.
Sementara dalam pidato 17 Agustus 1965, Soekarno menyatakan : “Asal kita setia pada hukum
sejarah dan asal kita bersatu dan memiliki tekad baja, kita bisa memindahkan Gunung Semeru
Gunung Kinibalu sekalipun. “Dalam pidato lahirnya pancasila, 1 Juni 1945, dia mengatakan:
“tetapi tanah Air kita Indonesia hanya satu bagian kecil saja dari pada dunia! Ingatlah akan hal
ini! Gandhi berkata: “Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah peri kemanusiaan”.
Menurut Soekarno, internasional (peri kamanusiaan) hanya akan tumbuh subur jika
berakar di dalam bumi nasionalisme. Nasionalisme demikian adalah nasionalisme yang
chauvinis atau sempit seperti terjadi di Jerman pada masa Adolf Hitler yang meyakini
“Deutschland Uber Alles”. Nasionalisme Indonesia harus tumbuh di atas kekeluargaan bangsa-
bangsa yang mampu mempersatukan keragaman suku, budaya, dan agama dalam horozon
persatuan umat manusia yang hakiki.
Soekarno memercayai persatuan, bukan kesatuan. Itulah sebabnya dia memilih Bhineka
Tunggal Ika sebagai semboyan. Secara filosofis, Soekarno meyakini bahwa ke-ika-an merupakan
tali persaudaraan yang menjadi pengikat umat manusia di dunia untuk hidup rukun, damai, dan
sejahtera.
Dasar demokrasi Soekarno adalah permufakatan atau permusyawaratan. Semangat Soekarno
adalah refleksi jiwa Nusantara. Semangatnya merupakan pohon kesadaran di tanam ratusan,
bahkan ribuan tahun yang lalu, oleh para wali, empu, resi, dan begawan bijak yang pernah lahir
mengisi kehidupan di Nusantara.
3. Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri)
Hal menonjol dari pribadi Soekarno adalah sikap politik yang mandiri melalui ajaran
Trisakti yaitu:
1. Berdaulat dalam politik
2. Berdiri di atas kaki sendiri (Berdikari) dalam ekonomi
3. Berkepribadian di bidang budaya.
Soekarno memang menganut ideologi pembangunan berdikari. Dia pernah dengan gagah
mengejek AS dan negara-negara kapitalis lainnya : “Go to hell with your aid.” Persetan dengan
bantuanmu. Soekarno mengajak Negara-negara berkembang untuk bersatu. Dia juga
menggelorakan semangat revolusi bagi bangsa Indonesia serta menjaga keutuhan NKRI (Negara
Kesatuan Republik Indonesia).
Soekarno memiliki selogan yang kuat untuk menggantungkan cita-cita setinggi bintang demi
membawa rakyat Indonesia menuju kehidupan sejahtera, adil dan makmur. Soekarno berhasil
menggelorakan semangat revolusi dan mengajak bangsa Indonesia untuk berdiri di atas kala
sendiri walaupun dia belum berhasil membawa rakyat ke dalam kehidupang yang sejahtera.
Konsep “berdiri di atas kaki sendiri” memang belum sampai tujuan, tetapi setidaknya berhasil
memberikan kebanggaan pada eksistensi bangsa. Dari pada berdiri di atas utang luar negeri yang
terbukti menghadirkan ketergantungan dan ketidakberdayaan (neo-kolonialisme).
4. Anti-kolonialisme
Pada 17 Mei 1956, presiden Soekarno mendapat kehormatan untuk menyampaikan pidato di
depan Kongres Amerika Serikat dalam rangka kunjungan resminya ke negri tersebut. Meskipun
pidato itu dengan keras menentang kolonialisme dan imperialism namun Soekarno mendapat
sambutan luar biasa di AS. Menurut Soekarno, yang pertama-tama perlu di sadari adalah bahwa
alasan utama kenapa para kolonialis Eropa datang ke Asia bukanlah untuk menjalankan suatu
kewajiban luhur. Mereka datang terutama “untuk mengisi perutnya yang keroncong belaka.”
Artinya, motivasi pokok dari kolonialisme itu adalah ekonomi.
Soekarno muda menentang kolonialisme dan kapitalisme itu. Keduanya melahirkan
struktruk masyarakat yang eksploitatif. Sebagai suatu sistem yang eksploitasi, kapitalisme itu
mendorong imperialism, baik imperialism politik maupun imperialism ekonomi. Soekarno
mengibaratkan imperialism sebagai “Nyai Blorong” alias ular naga. Kepala naga itu, menurut
dia, berada di Asia dan sibuk menyerap kekayaan alam Negara-negara terjajah. Sementara itu
tubuh dari ekor naga itu ada di Eropa, menikmati hasil sarapan tersebut. Bersama dengan
kolonialisme dan kapitalisme, imperialism. Merupakan tantangan besar bagi setiap orang
Indonesia yang menghendaki kemerdekaan.
5. Anti-Elitisme
Selain kolonialisme dan imperialisme, di mata Soekarno muda ada tantangan besar lain
yang tak kalah pentimgnya untuk di lawan, yakni elitisme. Elitisme mendorong sekelompok
orang merasa diri memiliki status sosial-politik yang lebih tinggi dari pada orang-orang lain,
terutama rakyat kebanyakan. Elitisme ini tak kalah bahayanya, menurut Soekarno, karena
melalui sistem Feodal yang ada ia bisa praktikkan oleh tokoh-tokoh pribumi terhadap rakyat
negara sendiri, elitisme bisa menjadi penghambat sikap-sikap demokratis dalam masyarakat
modern yang di cita-citakan bagi Indonesia Merdeka.
Soekarno muda melihat bahwa kecenderungan elitisme itu tercermin kuat dalam struktur
bahasa Jawa dengan pola “Kromo” dan “Ngoko”-nya mendukung adanya stratifikasi sosial
dalam masyarakat
Dalam kaitan dengan usaha mengatasi elitisme itu di tegaskan bahwa Marhaenisme
“menolak tiap tindak borjuisme” bagi Soekarno, merupakan sumber dari kepincangan yang ada
dalam masyarakat. Ia berpandangan bahwa orang tidak seharusnya berpandangan rendah
terhadap rakyat. Sebagaimana di katakan oleh Ruth McVey, bagi Soekarno rakyat merupakan
“pandangan mesianik dari proletariat dalam pemikiran Marx”, dalam arti bahwa mereka ini
merupakan “kelompok yang sekarang ini lemah dan terampas hak-haknya, tetapi yang nantinya,
ketika di gerakan dalam gelora revolusi, akan mampu mengubah dunia”.
6. Persatuan Nasional
Persatuan Indonesia adalah cita-cita paling mendasar yang di perjuangkan oleh Soekarno.
Bagi Soekarno sistem politik yang paling cocok dengan “kepribadian” dan “budaya” khas bangsa
Indonesia adalah sistem yang mementingkan kerja sama, gotong royong, dan keselarasan. Dia
mengancam “Individualisme” yang menurutnya lahir dari Liberalisme Barat. Individualisme itu
melahirkan egoisme, dan terutama dicerminkan oleh pertarungan antar-partai.
Bagi Soekarno, gerakan islam, nasionalis, dan Marxis mempunyai tujuan yang sama, yaitu
melawan kapitalisme dan imperialisme. Pada tahun 1960, Presiden Soekarno mendeklarasikan
Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunis). Ini merupakan tiga kekuatan politik yang di
wakili oleh PNI, Nahdiatul Ulama sebagai kelompok agama, dan Partai Komunis Indonesia
(PKI).
Kata Soekarno, “Nasakom adalah jiwa yang berisi tiga kekuatan tempat kami berdiri
tegak, Soekarno juga gandrung terhadap persatuan Indonesia. Baginya, Persatuan Indonesia
adalah conditio sine qua non (syarat mutlak) bagi tegak dan jayanya Indonesia. Hal ini di
tegaskan dalam pidato lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945.
7. Marhaenisme
Marhaenisme merupakan ajaran Soekarno. Marhaenisme berasal dari kata Marhaen, orang yang
di temui oleh Soekarno saat ia masih muda dulu. Konon Soekarno bertemu dengan Marhaen
secara kebetulan ketika sedang berjalan-jalan di daerah Cigelereng Bandung. Dia melihat
seorang petani yang sedang menggarap sawah dan kemudian menghampirinya serta
mengajaknya bicara. Setelah lama kemudian berbincang-bincang di situlah berkembangnya
paham Marhaenisme.
Ketika itu Soekarno heran, mengapa seorang memiliki alat prodoksi sendiri malah
miskin. Petani itulah gambaran masyarakat Indonesia. Jadi, Marhaenisme adalah ajaran
Soekarno tentang masyarakat Indonesia yang seutuhnya.
Marhaeniusme merupakan sebuah pemikiran ideology yang membela kaum Marhaen
atau kaum yang di miskinkan oleh system. Marhaenisme bukanlah suatu perlawanan terhadap
ideology Indonesia. Marhaenisme juga bukan suatu asas pemberontakan, tetapi merupakn cara
berfikir rakyat dalam berkehidupan di Indonesia.
Soekarno adalah penganut tradisi pemikiran Marxis, karena cara berpikirnya
menunjukkan cirri-ciri tradisi pemikiran Marxis, yaitu dengan mrlihat sesuatu melalui titik
pandang cara produksi (made of production). Marhaenisme merupakan antithesis dari praktik-
praktik Imperialisme yang dengan serakah mengurus kekayaan dari Indonesia. Marhaen adalah
kaum melarat di Indonesia, yang berbeda dengan proletar, yang masih memiliki alat-alat
produksi, walau dalm skala kecil.
8. Pancasila
Suatu Ideology atau Filsafah hidup (kita lihatlah pancasila sebagai ini) tidak di
kompakkan kepada seseorang tanpa memperhatikan kondisi dirinya, apalagi kalau Ideologi atau
Filsafah hidup itu di kenal ketika ia sudah besar. Soekarno mengatakan bahwa Pancasila adalah
dasar Negara skaligus arah tujuan Negara Indonesia. Pancasila di gali oleh Soekarno dari saf-saf
kebudayaan peradaban Nusantara sejak masa pra-Hindu, masa Hindu, masa kedatangan islam,
dan masa kontak dengan imperialism Eropa Barat. Artinya, Pancasila dalam pandangan
Soekarno dan pendiri bangsa sudah menyatu dengan hakikat alam pikir, karakter, kepribadian,
dan sifat tanh air Indonesia dengan segala kekhasannya.
Soekarno menandaskan bahwa kelima sila merupakan kesatuan tak terpisahkan. Perisai
pancasila yang tergantung di leher lambing Negara burung Garuda yang menggenggam erat
semboyan “Bhineka Tunggal Ika” adalah semboyan kesatuan. Ruh pancasila terangkum
menggerakkan bangsa ke cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945 yang tergambar pada jumlah
bulu-bulu pada sayap, leher dan kaki burung Garuda. Kesatuan sila-sila dalam perlambangan
burung Garuda itu ia jelaskan dalam kursus-kursus tentang pancasila. Dia yakin jika lambing
Negara ini di ubah, niscaya sebagian besar rakyat akan menentangnya, karena cinta rakyat akan
lambing Negaratelah terpaku sedalam-dalamnya di kalbu bangsa.
III
PENUTUP
III.1. Kesimpulan
Dengan mengucap Alhamdilillah penulis menyimpulkan sebuah Judul yang telah
tertera di dalam karya tulis ini :
Sejarah Soekarno merupakan sejarah yang perlu kita ketahui di mana sejarah
Soekarno ini perlu kita ketahui kelatar belakangan Sosialnya maupun Intelektualnya. Di
dalam sejarah ini keteguhan dan keuletan jelas terlihat dalam kegigihannya untuk mencapai
Indonesia Merdeka. Soekarno adalah Presiden pertama di Indonesia, di dalam masa
perjuangan atau pemerintahannya banyak sekali peristiwa-peristiwa yang terjadi seperti
peristiwa Wafatnya Soekarno, konon ia meninggal dengan perawatan tim medis yang kurang
professional atas adanya masa orde baru, Soekarno lahir pada 6 Juni 1901 dan Wafat pada 16
Juni 1970.
III.2. Saran
Dalam penulisan makalah ini penulis ingin menyampaikan beberapa saran kepada
pembaca agar jang pernah bosan untuk mengetahui sebuah sejarah, dalam hal sejarah apapun,
sebab sejarah dapat mencerminkan diri untuk menjadi kaca perbandingan di masa yang akan
datang. Kepada para pembaca agar jangan pernah bosan untuk membaca, menbaca dan terus
membaca karena dengan membaca kita akan lebih mengetahui dari apa yang belum di
ketahui dan wawasan pun semakin luas dan dengan membaca kita bisa menjadi lebih
berkarya dengan ilmu yang telah klita dapati.

DAFTAR PUSTAKA
Wawan Tunggul Alam SH. 2002. Pertentangan Soekarno vs Hatta Jogjakarta:Garasi

Christianto Wibisono. 2012. Wawancara Imajiner Dengan Bung Karno. Depok: Imania

Bob Herling. 2003. Biografi Soekarno 1901-1945. jakarta: Panitya

Pamoe Rahardjo,Islah Gusmian. 2002. Bung Karno Dan Pancasila. Jakarta:Hasta Mitra

Bob Hering. 2012. Soekarno:Arsitek Bangsa. Jakarta: Yayasan Perkhidmatan.