You are on page 1of 3

Variabel bebas Hipertensi pulmonal Endokarditis infektif

Variabel terikat (komplikasi) P P
1. Stroke Pasca Operasi 0.61 0.448
2. Gagal ginjal akut 0.002 0.222
3. Pemanjangan ventilator (>24) 0.514 0.313
4. Infeksi luka operasi 0.131 0.313
5. Kelainan Jantung Pasca Operasi 0.271 0.044
6. Lama Perawatan ICU 0.140 0.005
7. Operasi ulang 0.097 0.554
8 Efusi Pleura 0.074 0.005
9. Kematian 0.004 0.554

Pada tabel di atas terdapat hasil uji statistika chi-square yang menunjukkan hubungan
hipertensi pulmonal dan endokarditis infektif dengan kejadian-kejadian yang merupakan
komplikasi dari operasi penggantian katup mitral. Komplikasi yang dipaparkan pada tabel di atas
adalah kejadian stroke pasca operasi, gagal ginjal akut, pemanjangan penggunaan ventilator,
infeksi luka operasi, perawatan pasien yang lama di ICU, operasi ulang, efusi pleura dan kematian.

Dari hasil di atas didapatkan suatu hubungan signifikan antara kejadian hipertensi
pulmonal dengan kejadian gagal ginjal akut (P=0,002). Sedangkan endokarditis infektif tidak
didapatkan hubungan dengan gagal ginjal akut (P=0,222). Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh (Kandler, 2014) dimana gagal ginjal akut merupakan salah satu faktor independen
predisposisi terhadap mortalitas pasien post operasi jantung. Gagal ginjal akut merupakan
komplikasi yang umumnya dialami pasien-pasien yang dirawat dengan gagal jantung kanan akut
dengan hipertensi pulmonal. Gagal ginjal akut juga dikaitkan dengan angka kejadian pasien
meninggal dalam 30 hari perawatan rumah sakit. Sehingga dapat menjadi prediktor kuat kejadian
meninggal dini (Haddad et al, 2011). Dikatakan bahwa dari faktor-faktor hemodinamik yang
mempengaruhi, penyebab hipertensi pulmonal akut adalah tingginya tekanan vena sentral dan
takikardia. Takikardia merupakan respon kompensatorik dari cardiac output yang rendah pada
gagal jantung kanan, merefleksikan aktivasi sistem saraf simpatik atau peningkatan kebutuhan
metabolik.
Tabel di atas juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kelainan
jantung pasca operasi dengan endokarditis infektif (P=0,044). Rostagno et al (2017) dalam
studinya membahas mengenai luaran yang lebih baik pada operasi perbaikan katup mitral (MV
repair) dibandingkan dengan operasi penggantian katup mitral (MV replacement). Di mana pada
pada MV repair berhubungan dengan komplikasi yang lebih ringan di mana pasien memiliki
waktu rawat lebih singkat dan angka kematian pasca operasi lebih rendah. Penggunaan prosthesis
meningkatkan pengawasan pasca operasi akibat adanya risiko infeksi dan kelainan fungsi
anatomik. Perbaikan katup mitral (apabila masih memungkinkan) juga disebutkan memiliki
perbaikan signifikan untuk kapasitas fungsional jantung pasca operasi dan angka infeksi yang
rendah bila dibandingkan dengan penggantian katup mitral. Kelainan pasca operasi yang umum
terjadi pada MV replacement pada kejadian endokarditis infektif antara lain adalah regurgitasi
katup yang berat. Namun teknik repair hanya akan dilakukan pada pasien yang memang
kondisinya memungkinkan untuk dilakukan preservasi katup mitral.
Lamanya perawatan di ICU memiliki keterkaitan signifikan dengan kejadian endokarditis
infektif (P=0,005). Perawatan ICU pasca operasi penggantian katup mitral maupun pasien yang
menjalani terapi konservatif (manajemen non operatif) pada endocarditis infektif merupakan
prosedur yang secara rutin sudah dijalani selama ini. Endokarditis infektif yang merupakan infeksi
dengan risiko penularan secara bloodstream tidak hanya dapat melibatkan katup-katup jantung,
namun juga septum kardiak, dinding-dinding ventrikel hingga alat yang diimplantasikanseperti
defibrillator cardioverter dan pacemaker. Sebagai suatu faktor prognostik pada penggantian katup
mitral, endokarditis infektif memiliki risiko tinggi sebagai pemicu sepsis. Kebutuhan ruang ICU
sebagai wadah stabilisasi dan pengawasan ketat pasien pasca operasi sangat dibutuhkan. Kejadian
kegagalan organ hingga risiko tinggi kematian menjadi indikasi kuat perawatan intensif. Lamanya
perawatan di ICU sendiri terkait dengan stabilisasi pasien praoperasi hingga pascaoperasi. Adanya
faktor komorbid lainnya seperti Diabetes mellitus, penggunaan katup prostetik, dan komplikasi
yang muncul seperti gagal ginjal akut, stroke dan gagal jantung, hingga syok sepsis turut
mempengaruhi prognosis pasien yang menjalani operasi penggantian katup mitral dan
memperpanjang lama perawatan di ICU (Samol et al, 2015).
Efusi pleura merupakan komplikasi yang sering dan umumnya terjadi pada pasien-pasien
menjalani operasi jantung, baik itu operasi CABG hingga penggantian dan perbaikan katup. Pada
studi oleh Labidi et al (2009) disebutkan bahwa banyak faktor yang menjadi penyebab efusi pleura
pada pasien pasca operasi jantung. Penyebab yang mungkin antara lain kelebihan cairan, trauma
pleura saat prosedur hingga perluasan infeksi yang sebelumnya sudah dialami pasien seperti
misalnya endokarditis. Dari tabel diperoleh keterangan bahwa efusi pleura memiliki keterkaitan
signifikan dengan endokarditis infektif sebagai faktor prognostik pada pasien yang menjalani
operasi penggantian katup (P=0,005).
Adanya hubungan signifikan antara kejadian kematian pasca operasi MV replacement
dengan dengan hipertensi pulmonal (P=0,004) jauh melebihi keterkaitannya dengan endokarditis
infektif yang tidak signifikan (P=0,554) hal ini disebabkan pada hipertensi pulmonal erat
hubungannya dengan kegagalan jantung kanan secara anatomik. Sementara penyebab kematian
pada endokarditis infektif yang merupakan infeksi bloodstream lebih kepada kejadian sepsis yang
proses patofisiologisnya menuju kepada kegagalan organ jauh lebih panjang. Meskipun hasil
operasi MV replacement pada pasien dengan hipertensi pulmonal disebutkan lebih baik (Song et
al, 2015), namun angka kematian yang tinggi dibandingkan endokarditis infektif disebabkan
karena faktor seleksi pasien dan angka ketahanan yang lebih rendah pada pasien dengan hipertensi
pulmonal.