You are on page 1of 8

PERTIMBANGAN TERAPI PADA PAK HASAN

Pak Hasan (61 tahun) diantar anaknya datang ke puskesmas dengan keluhan batuk darah sejak 3 jam yang lalu, jumlah sekitar 100 cc. Dari anamnesis juga diketahui Pak hasan adalah penderita TB dalam

 

gastritis

 

pengobatan fase intensif dan baru berlangsung selama satu bulan. selain itu Pak Hasan juga ada riwayat

. Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, tekanan darah

100/70mmHg, nadi 82 x/menit, nafas 20 x/ menit, suhu afebril. Dokter Puskesmas segera menganjurkan pemasangan cairan infus, dan meresepkan obat anti perdarahan untuk Pak Hasan. Dokter muda yang bertugas di IGD menghitung kebutuhan cairan infus. Obat anti perdarahan segera diinjeksikan kepada pasien. Selain obat antiperdarahan dokter juga meresepkan obat lain. Mengingat Pak hasan juga menderita gastritis dan juga dalam pengobatan TB, dokter harus memberikan obat

yang aman untuk gastritisnya dan juga diperkirakan tidak ada interaksi dengan

PERTIMBANGAN TERAPI PADA PAK HASAN Pak Hasan (61 tahun) diantar anaknya datang ke puskesmas dengan keluhan

tuberkulostatiknya, selain

harga obat juga harus dipertimbangkan. Dokter Puskesmas masih ingat bagaimana fase yang harus dilalui

suatu obat sehingga dinyatakan aman dan dapat diberikan kepada pasien, karena obat harus melalui berbagai

rangkaian

 

uji pra klinik pada binatang dan

uji klinik pada manusia.

uji klinik pada manusia.

 

Selama pemasangan infus dan pemberian obat-obatan kepada Pak Hasan, perlu juga dilakukan

monitoring terhadap efek samping obat (MESO)

yang mungkin timbul.

Obat indek terapi sempit

bila

diberikan

di

rumah

sakit

yang

punya

fasilitas

mungkin

perlu

dilakukan

TDM

(Therapeutic

Drug

Moinitoring)

. Anak Pak Hasan bertanya kepada dokter apakah pemberian tuberkulostatika sementara harus

dihentikan. Bagaimana anda menerangkan keadaan diatas ?

  • A. TERMINOLOGI

    • 1. pengobatan fase intensif = pengobatan tahap awal selama 2-3 bulan yang biasanya terdiri dari 4 obat

    • 2. Tuberkulostatik =Obat yang digunakan untuk tuberkulosis yang bersifat menahan perkembangan bakteri.

Sedangkan tuberkulosid (membunuh bakteri)

  • 3. uji pra klinik obat = Suatu senyawa yang baru ditemukan (hasil isolasi maupun sintesis) terlebih

dahulu diuji dengan serangkaian uji farmakologi pada

hewan.Sebelum calon obat baru ini dapat

dicobakan pada manusia, dibutuhkan waktu beberapa tahun untuk meneliti sifat farmakodinamik, farmakokinetik, dan efek toksiknya pada hewan coba.

  • 4. Uji klinik = Pada dasarnya uji klinik memastikan efikasi, keamanan, dan gambaran efek samping

yang sering timbul pada manusia akibat pemberian suatu obat. Uji klinik ini terdiri dari uji fase I sampai IV.

  • 5. monitoring efek samping obat (MESO) = SISTIM PELAPORAN EFEK SAMPING OBAT

BERSIFAT SPONTAN DAN SUKARELA OLEH TENAGA KESEHATAN DENGAN

MENGGUNAKAN FORMULIR KUNING YG DISEDIAAN OLEH BADAN POM

  • 6. efek samping obat = semua

efek

yang tidak dikehendaki yang membahayakan atau merugikan pasien

obat.

(adverse reactions) akhibat penggunaan

  • 7. Obat indek terapi sempit = dosis toksik letaknya dekat dosis terapi

  • 8. TDM (Therapeutic Drug Moinitoring) = yaitu

memonitor kadar obat dalam darah secara

kontinyu,Fungsi dari TDM untuk mengetahui, Apakah sudah mencapai kadar obat di dalam darah

sesuai yang diharapkan atau belum. TDM merupakan suatu pengawasan terhadap kadar obat di dalam darah , dengan cara mengambil darah pasien sehingga nanti didapatkan profil farmakokinetiknya. Spt waktu paruh obat, konsentrasi obat di dalam plasma, Cl dan Css.

Therapeutic Drug Monitoring

atau TDM itu adalah pengukuran kadar obat di dalam tubuh sebagai sarana

monitoring untuk mencapai tujuan terapi. Hal yang melatarbelakangi TDM ini adalah adanya variasi

individu yang dapat mempengaruhi dosis

obat.TDM

berguna dalam pengaturan dosis obat secara individual

dan memprediksi perubahan dosis. Ini penting dilakukan khususnya untuk obat-obat yang mempunyai rentang terapeutik yang sempit. Selain itu TDM juga digunakan untuk antisipasi kejadian ketoksikan dengan memonitor kadar obat dalam tubuh.

  • B. RUMUSAN MASALAH

  • 1. Bagaimana cara pengobatan fase intensif pasien tb?

  • 2. Apakah ada hubungan riwayat gastritis dengan keluhan batu darah yang dialami pak hasan ?

  • 3. Apakah ada pengaruh riwayat gastritis dengan pengobatan intensif TB yang pak hasan?

5. Kenapa dr puskesmas segera menganjurkan pemasangan cairan infus dan apa obat anti perdarahan yang diresepkan untuk pak Hasan? 6. Bagaimana cara menghitung kebutuhan cairan infus ? 7. Kenapa diberikan obat anti perdarahan secara injeksi? 8. Bagaimana cara dokter memilih obat yang aman untuk gastritis agar tidak berinteraksi dengan tuberkulostatiknya? (bagaimana prinsip pemilihan obat)? 9. Kenapa harga obat dipertimbangkan?(Apa saja pertimbangan memilih obat)

  • 10. Bagaimana interaksi obat diluar dan dalam tubuh

  • 11. Bagaimana fase yang harus dilalui suatu obat sehingga dinyatakan aman dan dapat diberikan kepada pasien?

  • 12. Bagaimana dan apa tujuan dilakukan uji praklinik dan uji klinik?

  • 13. Bagaiman melalukan monitoring terhadap efek samping obat (MESO)?

  • 14. Apa tujuan dilakukan TDM pada obat indeks erapi sempit?

  • 15. Apakagh pemberian tuberkulostatika sementara harus dihentikan? C. BRAINSTORMING

    • 1. Bagaimana cara pengobatan fase intensif pasien tb?

PRINSIP PENGOBATAN

Sesuai dengan sifat kuman TB, untuk memperoleh efektifitas pengobatan, maka prinsip-prinsip yang dipakai adalah :

1) Menghindari penggunaan monoterapi. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Hal ini untuk mencegah timbulnya kekebalan terhadap OAT.

2) Untuk menjamin kepatuhan penderita dalam menelan obat, pengobatan dilakukan dengan

3)

pengawasan langsung (DOT = (PMO).

Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat

Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif selama 2 bulan dan fase lanjutan selama 4-6 bulan.

Tahap Intensif

  • Selama fase intensif yang biasanya terdiri dari 4 obat, diharapkan terjadi pengurangan kuman disertai perbaikan klinis.

jumlah

  • Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan obat.

  • Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat,Pasien yang berpotensi menularkan infeksi menjadi noninfeksi dalam waktu 2 minggu.

  • Sebagian besar pasien dengan sputum BTA positif akan menjadi negatif dalam waktu 2 bulan.

Tahap Lanjutan

  • Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama

5. Kenapa dr puskesmas segera menganjurkan pemasangan cairan infus dan apa obat anti perdarahan yang diresepkan
  • Efek sterilisasi obat pada fase ini bertujuan untuk membersihkan sisa-sisa kuman dan mencegah kekambuhan.

Penggunaan 4 obat selama fase intensif dan 2 obat selama fase lanjutan akan mengurangi risiko resistensi selektif.

Keterangan:

E=Etambutol; H=Isoniazid; R=Rifampisin; Z=Pirazinamid; S=Streptomisin.

Kategori

Kasus

Fase intensif

Fase

lanjutan

 

tiap hari

3 x seminggu

I

Kasus baru BTA positif; BTA negatif/rontgen positif dengan kelainan parenkim luas; Kasus TB ekstra paru berat

2HRZE

4H3R3

II

Relaps BTA positif; gagal BTA

2HRZES

5H3R3E3

positif; Pengobatan terputus

1HRZE

III

Kasus baru BTA negatif/rontgen positif sakit ringan; TB ekstra paru ringan

2 HRZ

4H3R3

Sisipan

Bila pada ahir fase intensif, pengobatan pasien baru BTA positif dengan kategori 1 atau pasien BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2, hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif.

1 HRZE

 

Angka sebelum regimen menunjukkan lamanya pengobatan dalam bulan. Angka indeks menunjukkan frekuensi pemberian per minggu. Bila tidak ada angka indeks sesudah obat berarti obat diberikan tiap hari.Contoh : 2HRZE/4H3R3, artinya : Tahap awal/intensif adalah 2HRZE : Lama pengobatan 2 bulan, masing masing OAT (HRZE) diberikan setiap hari. Tahap lanjutan adalah 4H3R3 : Lama pengobatan 4 bulan, masing masing OAT (HR) diberikan 3 kali seminggu.

  • 2. Apakah ada hubungan riwayat gastritis dengan keluhan batu darah yang dialami pak hasan ? Selain penyakit pada paru-paru ,penyakit pada lambung juga dapat menyebabkan batuk darah.Gastritis/peradangan lambung yang sudah berlangsung lama dapat menyebabkan lambung menjadi luka atau menjadi tukak lambung bisa menjadi penyebab batuk berdarah.Hal ini disebabkan bagian lambung terluka karena sering sering terpapar asam lambung bisa mengeluarkan darah dan ketika batuk darah yang ada pada luka lambung dapat ikut terbawa naik ke atas ketika batuk.

  • 3. Apakah ada Pengaruh riwayat gastritis dengan pengobatan intensif TB yang pak hasan?

Kejadian paling umum setelah penggunaan obat tuberkulosis lini kedua yaitu keluhan gangguan gastrointestinal seperti dispepsia, gastritis dan abdominal discomfort. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Yang et al., (2017) di Korea dengan hasil yang menunjukkan bahwa terdapat 47 dari 256 pasien (18,4%) yang mengalami gangguan gastrointestinal setelah mendapatkan pengobatan dengan OAT lini kedua. Gangguan gastrointestinal paling terasa setelah diobati dengan etambutol. Sebagian besar efek samping gastrointestinal dapat dikelola tanpa menghentikan obat, jika keluhan ringan maka diberikan penghambat reseptor H2 atau agen antiemetik lainnya ke rejimen (Yang et al., 2017). Kandungan Rifampisin dan Isoniazid pada obat TB memang sering mengakibatkan gejala peningkatan asam lambung seperti nyeri/panas pada ulu hati, mual, dan lain-lain. Untuk mensiasati kondisi ini, sebaiknya mengkonsumsi obat TB dekat dengan waktu makan dan jangan banyak minum air putih untuk menjaga hidrasi tubuh. Hindari makanan yang berpotensi memperparah asam lambung, misalnya kopi, teh, soda, alkohol, makanan yang pedas, terlalu asam dan sebagainya. Penggunaan obat-obatan yang dapat

menetralkan asam lambung seperti antasida (promag, acitral, dll) diperbolehkan asalkan diberikan selang 1-2 jam dengan minum obat karena dapat mengganggu penyerapan obat di dalam lambung.

4.

5.

6.

Rumus kebutuhan cairan per hari

 

Pada Bayi dan Anak-Anak:

 
 

Berat Badan

Kebutuhan Air /Hari

 

10 Kg

100 ml/KgBB/Hari

 

11-20 Kg

1000

ml + 50 ml/KgBB

 

(untuk

tiap

Kg diatas

diatas 10kg)

 

>20 Kg

1500

ml + 20 ml/Kg/BB

 

(untuk tiap kg diatas 20

kg)

Pada orang dewasa kebutuhannya yaitu:

1.

2.

Hiperventilasi

3.

Suhu lingkungan yang tinggi

 

4.

Aktivitas yang ekstrim/berlebihan

5.

Bagaimana Interpretasi pemeriksaan fisik pak hasan? keadaan umum = tampak sakit sedang tekanan darah 100/70mmHg = sedikit menurun nadi 82 x/menit = normal nafas 20 x/ menit = normal suhu afebril = tidak demam

Kenapa dr puskesmas segera menganjurkan pemasangan cairan infus dan apa obat anti perdarahan yang

diresepkan untuk pak Hasan? Cairan infus = Pemasangan infus dilakukan untuk penggantian cairan , menstabilkan keadaan hemodinamiknya maupun jalur pemberian obat parenteral dan tranfusi bila diperlukan. Obat anti perdarahan untuk mengurangi batuk darah : Vitamin K dan asam traneksamat Asam Traneksamat (Kalnex, Transamin). Bekerja dengan menghambat fibrinolisis. Asam traneksamat merupakan analog asam aminokaproat, dapat diberikan per oral, bekerja dengan cara memblok tempat ikatan pada lisin yang biasanya berinteraksi dengan plasmin, menghambat secara kompetitif terhadap aktivator plasminogen. Biasanya dipakai dalam kasus paru, THT, interna dan bedah. Dosis untuk dewasa adalah 1 tab 3-4 x/hari atau 1-2 amp/hari IV atau 1-2 dosis terbagi IM atau 2-10 amp dengan infus drip. Sediaan berupa tablet 250 mg dan 500 mg. Yang berupa ampul kandungannya 50 mg/ml dan 100 mg/ml (5 ml).

Vitamin K. Merupakan ko-faktor pembekuan darah. Faktor pembeku darah yang dipengaruhi oleh vitamin K adalah faktor II, VII, IX dan X. Vitamin K diperlukan oleh pasien dengan gangguan fungsi hati. Dosis untuk dewasa adalah 1 drag 3x/hari atau injeksi 5-10 mg dosis tunggal IM. Sediaan berupa drag 10 mg. Yang berupa ampul kandungannya 10 mg/ml (1 ml).

Bagaimana cara menghitung kebutuhan cairan infus ?

kebutuhan kalium 2,5 mEq/kgBB/hari

Kebutuhan natrium 2-4 mEq/kgBB/hari

  • Kebutuhan air sebanyak 30-50 ml/kgBB/hari

  • Kebutuhan kalium 1-2 mEq/kgBB/hari

  • Kebutuhan natrum 2-3 mEq/kgBB/hari

Faktor yang mempengaruhi peningkatan kebutuhan cairan yakni

Demam (kebutuhan menignkat 12% setiap 10C, jika suhu > 370C

Setiap kehilangan yang abnormal seperti diare atau poliuria

Faktor yang mempengrauhi penurunan terhadap kebutuhan cairan yakni

1.

Hipotermi (kebutuhan menurun 12% setiap 10C, jika suhu <370C)

1. Hipotermi (kebutuhan menurun 12% setiap 10C, jika suhu <370C)
1. Hipotermi (kebutuhan menurun 12% setiap 10C, jika suhu <370C)
1. Hipotermi (kebutuhan menurun 12% setiap 10C, jika suhu <370C)
  • 2. Kelembaban lingkungan yang sangat tinggi

  • 3. Oliguria atau anuria

  • 4. Hampir tidak ada aktivitas

  • 5. Retensi cairan misal gagal jantung.

Gangguan / masalah pemenuhan kebutuhan cairan

Dehidrasi adalah kekurangan cairan eksternal dapat terjadi karena penurunan asupan cairan dan kelebihan pengeluaran cairan. Dehidrasi dapat menyebabkan pengeluaran cairan 4-6 L (Dehidrasi Berat) atau kehilangan 2-4 L (dehidrasi sedang), mata cekung, turgor kulit buruk, serum natrium 159-166 mEq/L (dehidrasi berat) dan serum natrium 152-158 mEq/L (untuk dehidrasi sedang).

Rumus / cara menghitung tetesan infus.

Salah satu cara pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit menggunakan IVFD (Intravenoes Fluid Drops). Pemberian IVFD disesuiakan dengan kebutuhan cairan pasien. Berikut cara menghitus tetesan infus

1. Hipotermi (kebutuhan menurun 12% setiap 10C, jika suhu <370C) 2. Kelembaban lingkungan yang sangat tinggi
  • 7. Kenapa diberikan obat anti perdarahan secara injeksi? Supaya efek kerja obat lebih cepat untuk menghentikan perdarahan.

  • 8. Bagaimana cara dokter memilih obat yang aman untuk gastritis agar tidak berinteraksi dengan tuberkulostatiknya? (bagaimana prinsip pemilihan obat)?

Langkah pengambilan keputusan terapi 1.Menetapkan masalah yang dihadapi

dapat berupa gejala/diagnosis -> perlu mendapat tindakan saat itu 2.Menentukan tujuan pengobatan yang spesifik 3.Pemilihan obat 4.Penulisan resep 5.Memberikan informasi dan instruksi 6.Pemantauan pengobatan/follow up PRINSIP PEMILIHAN OBAT = 6 BENAR

  • - Benar Pasien

  • - Benar Obat

  • - Benar Dosis

  • - Benar Cara/Rute

  • - Benar Waktu

  • - Benar Dokumentasi

    • 9. Kenapa harga obat dipertimbangkan?(Apa saja pertimbangan memilih obat)

Perlu Dipertimbangkan :

  • Obat mutlak yang diperlukan? -> R Cardinale

  • Manfaat (benefit) -> clinical efficacy

  • Risiko yang ditimbulkan (risk) -> ESO

  • Kelas obat yang spesifik diperlukan

  • Jenis obat yang paling sesuai

  • Keamanan obat & sesuai dgn informasi ilmiah

  • Dosis, kontra indikasi & cara pemberian yang paling sesuai

  • Biaya & harga obat (cost effective)

  • Sifat fisika kimia obat (oral? parenteral?)

  • Bentuk Sediaan obat (BSO)  slow release

  • Frekwensi, apakah obat diberikan terus menerus atau tidak.

  • Kondisi pasien secara individual

  • Penyakit hepar, Ginjal dll.

  • Kelompok khusus farmakoterapi

  • Obat indek terapi sempit dll.

10. Bagaimana interaksi obat diluar dan dalam tubuh? Interaksi obat adalah Suatu keadaan/peristiwa yang ditandai dengan berubahnya efek klinis suatu obat akibat pengaruh obat lain/makanan/minuman/ yang digunakan secara bersamaan Akibat interaksi obat :

  • Efikasi klinis ↓

  • Efikasi klinis ↑

  • Efek samping ↑  serius/fatal

Faktor yg mempermudah terjadinya Interaksi Obat

  • 1. Usia > sering pada usia lanjut (penyakit >1, multidrugs, pe↓ fungsi organ)

  • 2. Genetik (polimorfisme genetik)

  • 3. Penggunaan obat bebas, antasida, tembakau, obat herbal  interaksi dgn banyak obat

  • 4. Penyakit yang diderita:

- Peny. Ginjal  me↓ ekskresi /sekresi /reabsorbsi obat

Interaksi yang Menguntungkan

1. Efek Sinergistik Kombinasi antihipertensi Captopril + tiazid

  • 2. Kombinasi antidiabetik Metformin + glibenklamid

  • 3. Efek antagonistik Nalokson (antagonis kompetitif) -> overdosis opiod Adrenalin untuk syok anafilaktik

Mekanisme Interaksi Obat 1) Interaksi Farmaseutikal (Inkompatibilitas) = Interaksi yang terjadi di luar tubuh (sebelum obat

2)

diberikan) antar obat yang tidak dapat dicampur (inkompatibel) Interaksi Farmakokinetik = terjadi jika salah satu obat mempengaruhi ADME obat lainnya --> kadar plasma obat yang dipengaruhi : ↑ atau ↓

  • A. Interaksi dalam Absorbsi di Saluran Cerna

    • - Perubahan pH cairan saluran cerna

    • - Perubahan waktu pengosongan lambung & waktu transit dalam usus (motilitas saluran cerna)

Obat yg memperpendek waktu pengosongan lambung (metoclopramid) akan :

mempercepat absorbsi obat lainnya misalnya parasetamol, diazepam, propanolol

Obat yg memperpanjang waktu pengosongan lambung akan memperlambat absorbsi obat ,misal Analgetik narkotik (petidin, morfin) : absorbsi parasetamol lambat

  • - Perubahan Flora Usus

    • B. Interaksi dalam Distribusi Obat Interaksi pd ikatan protein plasma

    • C. Interaksi pada Metabolisme Inhibisi metabolisme obat

lainnya

Induksi metabolisme obat Perubahan aliran darah hepar Gangguan sekresi empedu & sirkulasi enterohepatik D. Interaksi pada Ekskresi Ginjal Gangguan ekskresi ginjal akibat kerusakan ginjal oleh obat Kompetisi untuk sekresi aktif di Tubulus Ginjal 3) Interaksi farmakodinamik = Interaksi antara obat yang bekerja pada sistem reseptor, tempat kerja, atau sistem fisiologik yang sama, sehingga terjadi efek yang aditif, sinergistik, atau antagonistik, tanpa terjadi perubahan kadar obat dalam plasma.

  • 11. Bagaimana fase yang harus dilalui suatu obat sehingga dinyatakan aman dan dapat diberikan kepada pasien?

  • - fase pra klinik Obat di tes pada hewan coba Jika ditemukan suatu aktivitas farmakologik yang mungkin bermanfaat, maka senyawa yang lolos penyaringan ini akan diteliti lebih lanjut.

    • - fase klinik Fase 1 = keamanan dan tolerabilitas obat, Tujuan pertama fase ini ialah menentukan besarnya dosis maksimal yang dapat ditoleransi Fase II = pengujian efek terapi obat, studi kisaran dosis (dose-ranging study) untuk menetapkan dosis optimal yang akan digunakan selanjutnya, Fase III = untuk memastikan efikasi terapi Fase IV = post-marketing drug surveillance karena merupakan pengamatan terhadap obat yang telah dipasarkan. Fase ini bertujuan menentukan pola penggunaan obat di masayarakat serta pola efektivitas dan keamanannya pada penggunaan yang sebenarnya.

    • 12. Bagaimana dan apa tujuan dilakukan uji praklinik dan uji klinik? Uji praklinik = Sebelum calon obat baru ini dapat dicobakan pada manusia, dibutuhkan

waktu

beberapa tahun untuk meneliti sifat farmakodinamik, farmakokinetik, dan efek hewan coba.

toksiknya

pada

Uji klinik = memastikan efikasi, keamanan, dan gambaran efek samping yang sering manusia akibat pemberian suatu obat.

timbul

pada

  • 13. Bagaiman melalukan monitoring terhadap efek samping obat (MESO)?

Monitoring Efek Samping Obat (MESO) merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap obat yang merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis lazim yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosa, dan terapi. Efek Samping Obat/ESO (Adverse Drug Reactions/ADR) adalah respon terhadap suatu obat yang merugikan dan tidak diinginkan dan yang terjadi pada dosis yang biasanya digunakan pada manusia untuk pencegahan, diagnosis, atau terapi penyakit atau untuk modifikasi fungsi fisiologik

 

Tujuan

MESO

a.

Memberikan kesempatan untuk mengenali suatu obat dengan baik dan untuk mengenali respon orang

terhadap

obat.

b.

Membantu meningkatkan pengetahuan tentang obat, manusia atau penyakit dari waktu ke waktu.

c.

Menerima info terkini tentang efek samping obat (Purwantyastuti, 2010).

d.

Menemukan efek samping obat (ESO) sedini mungkin terutama yang berat, tidak dikenal, frekuensinya

jarang.

e.

Menentukan frekuensi dan insidensi efek samping obat yang sudah dikenal dan yang baru saja ditemukan.

Mengenal semua faktor yang mungkin dapat menimbulkan/mempengaruhi angka kejadian dan hebatnya efek samping obat.

f.

g.

Meminimalkan resiko kejadian reaksi obat yang tidak dikehendaki.

h.

Mencegah terulangnya kejadian reaksi obat yang tidak dikehendaki

Monitoring Efek Samping Obat (MESO) oleh tenaga kesehatan di Indonesia masih bersifat sukarela (voluntary reporting) dengan formulir pelaporan ESO berwarna kuning, yang dikenal sebagai Form Kuning (Lampiran 1). Monitoring tersebut dilakukan terhadap seluruh obat beredar dan digunakan dalam pelayanan

kesehatan

di

Indonesia.

  • 14. Apa tujuan dilakukan TDM pada obat indeks erapi sempit?

Pemantauan kadar obat di dalam darah adalah suatu teknik yang digunakan klinisi untuk mengoptimalkan dosis obat dengan memberikan dosis yang ditetapkan berdasarkan konsentrasi target (C target) dengan cara mengukur kadar obat dalam darah dan bila perlu melakukan penyesuaian dosis. Pemantauan kadar obat dalam darah ini bertujuan untuk mem-bantu meningkatkan penggunaan obat yang lebih rasional baik keamanan dan efektifitas dosis pada individu penderita.

  • 15. Apakah pemberian tuberkulostatika sementara harus dihentikan?

Pada dasarnya obat-obatan anti-tuberkulosis memiliki beberapa efek samping dari mulai ringan hingga cukup berat, dan tergantung pada masing-masing orang. Namun karena pengobatan TB sangat penting dan harus dilakukan secara tuntas, efek samping ini tidak menjadi persoalan dibandingkan manfaat yang

diberikan untuk penyembuhan TB. Ingat, pengobatan TB yang memiliki jangka panjang (6-8 bulan) dan tidak boleh terputus karena akan mengakibatkan kuman resisten sehingga tidak mempan lagi bila diberikan obat yang sama.