You are on page 1of 10

MODIFIKASI LINGKUNGAN TERHADAP Page | 1

PRODUKTIVITAS KAMBING

OLEH :

PUTU INDAH SARI RAHAYU

1603511072/ B

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS UDAYANA

2018
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat beliau lah penulis dapat menyelesaikan paper yang berjudul ” Modifikasi
Lingkungan Terhadap Produktivitas Kambing” dengan baik .
Semoga paper ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Penulis mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya paper ini, dan yang telah
memberikan banyak saran, petunjuk dan dorongan dalam menyelesaikan paper ini. Semoga
segala yang telah kita kerjakan merupakan bimbingan yang lurus dari Tuhan Yang Maha
Kuasa.
Penulis menyadari bahwa penyusunan paper ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, kritik dan saran sangat berguna bagi pembuatan dan penyempurnaan selanjutnya.
Sekian dan terima kasih.

Denpasar , 15 Mei 2018

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................……... i

DAFTAR ISI.............................................................................................................……... ii

BAB 1 PENDAHULUAN.........................................................................................…….. 1

1.1 LATAR BELAKANG..................................................................................…….. 1

1.2 TUJUAN......................................................................................................…….. 1

1.3 MANFAAT...................................................................................................…….. 1

BAB II. PEMBAHASAN.........................................................................................……... 2

2.1 TINJAUAN UMUM PERANAN AIR PADA UNGGAS……………………… 2

2.2 SUMBER DAN KUALITAS AIR BAGI UNGGAS……………………….… 3

2.3 FUNGSI AIR BAGI UNGGAS………………………………………………... 6

2.4 KEBUTUHAN AIR PADA UNGGAS………………………………………… 6

2.5 METABOLISME AIR PADA TUBUH UNGGAS……………………………. 7

2.6 PENGARUH DARI KEHILANGAN AIR PADA UNGGAS………………… 8

BAB III. PENUTUP.................................................................................................…….. 10

3.1 KESIMPULAN..........................................................................................…….. 10

DAFTAR PUSTAKA ……......................................................11

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Lingkungan adalah sesuatu yang sangat luas, mengacu pada semua faktor selain
genetik, yang mempengaruhi produktivitas dan kesehatan seekor ternak. Lingkungan
merupakan faktor yang memberikan pengaruh cukup besar terhadap tingkat produksi. Faktor
lingkungan yang langsung berpengaruh pada kehidupan ternak adalah Iklim. Iklim
merupakan faktor penentu ciri khas dan pola hidup dari suatu ternak. Faktor iklim juga
mempengaruhi jumlah konsumsi pakan dan minum, ketersediaan energi di dalam pakan
tercerna, system produksi energi hewan, serta energi neto yang akan dipakai untuk
pertumbuhan dan reproduksi. Pengaruh langsung iklim terhadap ternak adalah pada
produktivitasnya.

Pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor metabolisme, selain oleh faktor
lingkungan dan genetik. Pada umumnya lingkungan memiliki persentase yang lebih tinggi
dibanding Genetik, yaitu 70% untuk lingkungan sedang Genetiknya 30%.Sehingga
mengambil bagian yang sangat penting dalam membentuk karakter ternak. Faktor lingkungan
yang dapat menekan pertumbuhan pralahir, prasapih dan pascasapih adalah suhu,
kelembaban, angin (gerak udara) dan radiasi sinar matahari. Produktivitas ternak juga sangat
berpengaruh dari pemanasan global. Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya
temperatur rata-rata di atmosfer, laut dan daratan Bumi, hal ini terjadi akibat efek rumah kaca
yaitu yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2),
metana (CH4), dinitro oksida (N2O) dan CFC, sehingga sebagian panas ( berasal dari energy
matahari) terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca
tersebut. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang
dipancarkan Bumi dan akibat nya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi.Hal
tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan temperatur rata-rata tahunan bumi terus
meningkat.

1.2 Tujuan.

Tujuan penyusunan artikel ini adalah untuk membahas lebih lanjut tentang iklim yang
merupakan hal terpenting dalam penentuan kerja status fisiologi dari ternak terutama pada
produktivitasnya.

1.3 Manfaat
Manfaat dari penyusunan makalah ini adalah pembaca dapat memahami pengaruh
iklim dan unsur-unsur lain seperti suhu dan kelembaban yang dapat mempengaruhi fisiologis
ternak.

1
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Modifikasi Lingkungan Ternak.

A. Pengaruh Lingkungan

A.1 Ketinggian tempat
Semakin tinggi tempat maka akan semakin rendah suhu udara dan semakin rendah
suatu tempat, maka suhu udara akan semakin tinggi. Kelembaban udara tidak dipengaruhi
oleh ketinggian tempat, melainkan oleh tekanan uap air. Konsumsi pakan juga dipengaruhi
oleh bobot badan, semakin besar bobot badan, maka konsumsi bahan kering semakin rendah.
Selain mendapat pengaruh dari ketinggian tempat, produksi susu juga dipengaruhi oleh tata
laksana pemeliharaan. Ketinggian suatu tempat mempengaruhi tinggi rendahnya suhu udara,
konsumsi pakan dan produksi susu. Ketinggian tempat tidak berpengaruh terhadap tinggi
rendahnya kelembaban udara, karena kelembaban lebih dipengaruhi oleh tekanan uap air di
udara. Dataran tinggi adalah suatu daerah berbentuk datar di permukaan bumi yang
mempunyai ketinggian lebih dari 450 meter di atas permukaan laut. Dataran tinggi biasanya
memiliki suhu udara yang sejuk sehingga dapat digunakan untuk pengembangan daerah
peternakan

A.2 Kelembaban lingkungan
Tingkat kelembaban dari lingkungan mempunyai dampak yang signifikan terhadap
pada rata-rata panas yang hilang dari ternak, terutama pada suhu lingkungan yang tinggi.
Dalam suhu psikometris hal tersebut memungkinkan penggambaran dari rasio kelembaban,
derajat kejenuhan, atau kelembaban absolut. Ketika lingkungan dan memberikan pengaruh
terhadap suhu sekeliling dari tubuh ternak, evaporasi hanyalah nilai rata-rata dari panas yang
hilang. Jika lingkungan tersebut seharusnya menjadi jenuh, kemudian sesuai dengan hukum
fisika terhadap transfer panas tidak akan menyebabkan hilangnya panas (Esmay. 1982).
Kelembaban nisbi suatu wilayah adalah penentu utama bagi tipe ruminansia kecil yang sesuai
dengan wilayah tersebut. Kambing cenderung untuk hidup lebih baik pada iklim yang lebih
kering sedangkan kambing yang dipelihara di wilayah basah cenderung lebih mudah mati
karena infeksi parasit atau oleh penyakit lain dari pada yang dipelihara di wilayah kering
(Wodzicka et al., 1993).

A.3 Temperatur udara
Aspek penanaman pohon-pohon peneduh di padang-padang penggembalaan terhadap
kemampuan berproduksi susu kambing perah yang digembalakan, akan meningkatkan
kecepatan pertumbuhan.

A.4 Arah dan kecepatan angin
Kecepatan angin selalu diukur pada ketinggian tempat ternak berada. Hal ini penting
karena transfer panas melalui konveksi dan evaporasi di antara ternak dan lingkungannya
dipengaruhi oleh kecepatan angin. Angin yang mempunyai kecepatan sekitar 8 km/jam-16
km/jam didaerah panas penting untuk menolong ternak yang tercekam panas. Angin yang
2
berhembus di malam hari dengan kecepatan sekitar 8 km/jam-16 km/jam kurang
menguntungkan bagi kehidupan ternak di daerah tropis.

A.5 Kebisingan
Ternak kambing tidak nyaman apabila berada dilokasi yang bising, oleh karena itu
perlu penempatan lokasi perkandangan yang jauh dari kebisingan.

B. Kondisi Kandang
Kandang berfungsi sebagai tempat tinggal ternak untuk melindungi dari pengaruh
buruk iklim (hujan, panas, angin, temperatur) dan gangguan lainnya seperti hewan liar dan
pencurian ternak.

B.1 Kondisi ventilasi
Lubang ventilasi berfungsi untuk keluar masuknya udara dalam kandang sehingga
dapat terjadi proses pertukaran udara kotor (CO2) di dalam kandang yang dapat digantikan
dengan udara bersih (O2). Selain itu lubang ventilasi juga berfungsi untu kemngurangi
kelembaban dan pengap di dalam kandang yang disebabkan oleh penguapan kotoran, air
kencing, dan pernafasan ternak itu sendiri.

B.2 Arah kandang
Kandang diposisikan agar mendapatkan cukup sinar matahari pagi secara langsung
dan menghindari teriknya matahari di waktu siang. Posisi yang disarankan menghadap arah
timur dan membujur atau memanjang dari arah timur ke barat. Dengan demikian sinar
matahari bisa digunakan sebagai desinfektan (pembunuh kuman).

B.3 Tinggi dan luas kandang
Ruang kandang adalah tempat dimana ternak dapat leluasa bergerak dan berbaring.
Untuk menghindari persaingan yang tidak seimbang, kambing perlu dipisah menurut umur
dan jenis kelaminnya, misalnya: kandang betina bunting, menyusui dara, cempe (anak
kambing) lepas sapih, pejantan dan lain-lain. Menurut Balai Pengkajian T:eknologi Pertanian
Jawa Tengah (2007) ukuran ruang kandang yang ideal adalah sebagai berikut :

NO. STATUS FISIOLOGI TERNAK UKURAN
UMUR (BULAN) (EKOR/CM2)
1. Jantan dewasa > 12 100 cm x 120
2. Betina dewasa > 12 100 cm x 100 cm
3. Induk menyusui + jumlah anak (0-3 100 cm x 100 cm +
bln/ekor) > 12 (jumlah anak x 50 cm
x 100 cm)

4. Anak sapihan 3 – 7 bulan 50 cm x 100 cm
5. Jantan/betina muda 7 – 12 bulan 75 cm x 100 cm
6. Jantan bakalan untuk penggemukan 50 cm x 120 cm
± 12
Catatan:

3
 Ukuran kandang menyesuaikan jumlah ternak yang dipelihara berdasarkan status
fisiologis.
 Bila memungkinkan kandang pembibitan sebaiknya dibuatkan halaman berpagar
untuk penggembalaan.

B.4 Bahan atap dan dinding kandang
Atap kandang berfungsi sebagai pelindung ternak dari panas matahari, hujan, dan
udara dingin di waktu malam hari. Bahan atap yang dapat digunakan adalah daun rumbia,
alang-alang, seng, asbes atau genteng. Menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa
Tengah (2007) penggunaan genteng lebih baik karena sirkulasi udara lebih terjamin. Hal
serupa diungkapkan oleh Cahyono (1998) bahan yang paling baik adalah dari bahan genteng
dan asbes karena bahan ini tidak menimbulkan panas dalam kandang dan tahan lama.
Cahyono menambahkan kelemahan dari penggunaan bahan atap yang lain seperti daun
rumbia dan alang-alang mudah terbakar, mudah rusak, seringkali bocor, dan tidak tahan lama.
Sedangkan atap dari seng dapat menyebabkan suhu dalam kandang menjadi sangat
panas dan ketika hujan menimbulkan suara gasuh yang dapat menyebabkan ternak stress.
Kerangka kandang berfungsi membentuk bangunan kandang secara utuh. Kerangka dapat
dibuat dari bahan bambu atau kayu. Kerangka kandang harus dibuat menggunakan bahan
yang kuat dan tahan lama

B.5 Kondisi pencahayaan
Periode cahaya dalam satu hari dinamakan foto periode dan didefenisikan sebagai
waktu matahari terbit dan terbenam. Cahaya sinar matahari secara fisiologis mempengaruhi
tubuh ternak, cahaya yang diterima oleh mata ternak disalurkan ke hipotalamus yang dapat
mensekresi hormon yang dapat berfungsi untuk melestarikan hormon-hormon lain yang di
keluarkan oleh targetorgan. Lampu penerang : dapat dari neon atau lampu lain yang berfungsi
memberikan penerangan kambing dan mejaga keamanan serta memudahkan kambing makan
minum di waktu malam hari. Pemberian lampu bagi peternak yang usahanya sudah posisi
menengah keatas serta sebagian kecil kelas rendah/tradisional menggunakan lampu. B.6
Drainase kandang Mendirikan kandang sebaiknya ditempat yang strukturnya padat kering
dan tidak becek pada musim hujan. Dengan kondisi seperti ini lingkungan kandang akan
kering dan sehat untuk pertumbuhan kambing.

C. Intensitas Lalu Lintas Ternak

C.1 Ternak
Keberadaan ternak lain sangat mempengaruhi kenyaman ternak kambing, kambing
akan lari apabila didekati ternak lain.
C.2 Manusia
Begitu pula dengan keberadaan manusia dilingkungan dimana kambing berada,
kambing akan menghindar atau menjauh apabila didekati oleh manusia, sekalipun pemiliknya
sendiri.

C.3 Kendaraan

4
Kambing sangat terusik apabila disekitar mereka terdapat kendaraan yang lalu lalang.

D. Keberadaan Insekta, Rodensia Dan Hewan Lain Yang Dapat Menjadi Transmitter
Penyakit.
Pencegahan Dengan Cara Sanitasi, yaitu dengan membersihkan rumput liar sekeling
kandang agar tidak menjadi sarang nyamuk dan lalat. Pada daerah bebas penyakit: Kontrol
perpindahan /transportasi hewan, karantina dan survey serologis

E. Kondisi Sanitasi Kandang Dan Lingkungannya Serta Tata Laksana Pemeliharaannya
Termasuk Jenis Pakan Dan Cara Pemberiannya.
Hendaknya ditekankan pada pencegahan penyakit melalui sanitasi kandang yang baik,
makanan yang cukup gizi, dan vaksinasi. Pakan berguna untuk memenuhi kebutuhan hidup
pokok, seperti produksi (tumbuh besar, gemuk, dan susu) dan untuk bereproduksi (kawin,
bunting, beranak, dan menyusui). Pemberian pakan harus sesuai dengan kebutuhannya dan
jumlahnya di sesuaikan dengan status fisiologis ternaknya. Sebagai patokan umum yaitu 10%
bahan kering dari bobot badan.Contoh : bila bobot hidup kambing 25 kg maka pemberian
hijauan sekitar 2,5 kg kering atau 5 kg basah.
Pakan untuk kambing dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu sumber energi,
sumber protein, dan sumber mineral. Sumber energy Antara lain jagung, sorgum, dedak padi,
dedak gandum, dedak jagung, ketela rambat, singkong, onggok, rumput-rumputan dan jerami
padi. Bahan pakan yang merupakan sumber protein antara lain jenis leguminosa glirisidia,
turi, lamtoro, centrocema, dan sisa pertanian seperti : daun kacang, daun singkong, bungkil
kedelai, biji kapas, ampas tahu, ampas kecap dan lain-lain. Sebagai sumber mineral misalnya
air minum yang harus selalu tersedia di dalam kandang.
Hijauan dapat disediakan dengan cara mencari di alam atau dapat pula dibudidayakan.
Penanaman dapat dilakukan di areal yang tidak dimanfaatkan untuk tanaman pertanian,
seperti di galengan/pematang sawah, pinggir jalan, tanah desa, di lereng atau bahkan dapat di
tanam sebagai pagar hidup, atau di areal tanam sebagai monokultur. Berbagai jenis hijauan
yang dapat digunakan adalah rumput-rumputan (rumput alam, rumput gajah, setaria, rumput
benggala, rumput raja dan lain sebagainya) dan leguminosa (daun kacang-kacangan, lamtoro,
turi, glirisida, kaliandra, albasia dan lain-lain).
Hijauan yang berasal dari sisa hasil panen seperti daun ubi, daun nangka, daun kacang
tanah, daun kacang kedelai, dan daun pisang juga dapat digunakan sebagai pakan kambing.
Dalam pemberian pakan hijauan, perlu diperhatikan imbangan Antara rumput dan daun
leguminosa dikaitkan dengan kondisi fisiologis ternak.Pada kambing dewasa, pemberian
pakan rumput dan leguminosa dapat diberikan dengan perbandingan 3:4.Namun bila ternak
dalam keadaan bunting, sebaiknya perbandingan rumput dan daun leguminosa adalah
3:2.Lain halnya bila kambing sedang menyusui, perbandingan sebaiknya 1:1.Anak kambing
lepas sapih diberikan rumput dan daun leguminosa dengan perbandingan 3:2.Hindari
pemberian hijauan yang masih muda. Jika terpaksa digunakan hendaknya di angin-anginkan
selama minimal 12 jam untuk menghindari terjadinya bloat (kembung) pada kambing.

BAB III

5
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Penampilan seekor ternak merupakan pengaruh dari faktor genetik yangdidukung oleh
faktor lingkungan serta interaksi antara faktor lingkungan dan genetik. Seekor ternak
menampilkan produktivitas yang tinggi itu merupakan dukungan dari setiap unsur secara
maksimal. Lingkungan selalu ikut dimanapun ternak itu berada dan ternak selalu berusaha
untuk membentuk lingkungan yang baik atau nyaman agar dapat berprestasi.Lingkungan fisik
mempengaruhi ternak secara langsung yaitu melalui unsur-unsur lingkungannya baik sendiri
maupun interaksi diantaranya dan secara tidak langsung melaui pakan dan penyakit.
Pengembangan peternakan dengan memperhatikan unsur-unsur lingkungan merupakan salah
satu cara untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan.

DAFTAR PUSTAKA

6
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/52233

http://rioadhityacesart.blogspot.com/2014/01/makalah-tentang-kandangkambing.html

. Diakses pada 15 Maret 2018.

Budiharto, Bambang dan Ernawati. 2007. Kandang Panggung Ternak Kambing/Domba.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah: Ungaran
http://wahanacorp.blogspot.com/2012/02/belajar-budidaya-kambing-dari-nol.html . Diakses
pada 15 Maret 2018.

7