You are on page 1of 3

Tak Semuanya Enak, Ini 5 Tantangan

OJK di Era Revolusi Industri 4.0

Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Ahmad Hidayat (Foto: Pantau.com/Ratih Prastika)
HTTPS://WWW.PANTAU.COM/BERITA/TAK-SEMUANYA-ENAK-INI-5-TANTANGAN-OJK-DI-ERA-REVOLUSI-
INDUSTRI-40
07112018

PENULIS

Nani Suherni
REPORTER

Ratih Prastika
CATEGORY

Ekonomi
TAG

#OJK, #Perbankan, #Revolusi 4.0

SELASA, 31 JULI 2018 11:15:03


Pantau.com -Otoritas Jasa Keuangan mengungkap masih ada tantangan bagi industri
perbankan untuk menjalankan pengelolaan perusahaan yang baik atau Good Corporate
Governance (GCG). Khususnya di era transformasi digital yang terus berkembang saat
ini.
Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Ahmad Hidayat mengungkapkan
setidaknya 5 tantangan yang harus dihadapi di era transformasi digital.
1. Leadership yang Kuat dan Agile (Tangkas)
Ahmad mengungkapkan, implementasi GCG di Sektor Jasa Keuangan membutuhkan
kepemimpinan yang tidak hanya kuat dan berintegritas, namun juga agile dan adaptif
terhadap disruptive innovation.
"Pemimpin yang harus berubah dengan cepat, proaktif, jika ingin tetap berada
sebagai the head of the market. They need to be hungry for change, jika tidak ingin
menjadi fosil dalam ekosistem transformasi digital," ujarnya saat menjadi pembicara
kunci dalam acara Tantangan Pelaksanaan GCG di Era Revolusi Industri 4.0, di Hotel
Pullman, Jakarta Pusat, Selasa (31/7/2018).
Menurutnya, organisasi perlu membangun generasi baru pemimpin yang digital ready
leaders dengan tetap menerapkan GCG. Lebih dari itu, pemimpin organisasi harus
mampu membentuk kultur agar seluruh karyawan bergerak bersama beradaptasi dalam
revolusi industri 4.0.
Baca juga: Pinknik' ke Negara Tetangga, Produk Makanan Asli Indonesia Ini
Mahal Abis....
2. IT Governance
Berbicara GCG di era revolusi industri 4.0, Ahmad menilai tak Iepas dari berbicara
tentang IT governance karena teknologi informasi menjadi tulang punggungnya.
"Kami perlu menekankan hal ini karena dimungkinkan ada perusahaan yang kurang
memberikan perhatian serius pada sisi teknologi informasi. Saat ini teknologi bukan
sebagai sebuah prioritas lagi, namun kebutuhan dalam menjaga kelangsungan bisnis
yang tidak lagi bisa ditawar," ungkapnya.
Pemimpin organisasi juga dinilainya membutuhkan mentalitas perbaikan terus menerus
serta responsif terhadap lingkungan yang dinamis. Strategi teknologi informasi harus
sejalan dengan strategi bisnis organisasi.
"IT Governance mengawal prinsip GCG yang penerapannya disesuaikan dengan
kebutuhan spesifik organisasi," kata dia.
SELASA, 31 JULI 2018 11:15:03
3. Penyesuaian Governance Process
Menurutnya, perlu melihat kembali governance process apakah sudah beradaptasi
dengan perubahan proses bisnis dan model bisnis yang terus berubah.
"Proses dan mekanisme pengambilan keputusan perlu ditata ulang. Teknologi informasi
menjadi faktor penting dalam men supply data/informasi untuk pengambilan keputusan
yang cepat dan akurat dengan mempertimbangkan suarabstakeholders dan
pengambilan keputusan yang sesuai dengan kaidah governance," paparnya.
4. Manajemen Risiko yang On Going
Kemudian tantangan lainnya yakni menguatkan manajemen risiko di tengah bisnis yang
sifatnya bergejolak (volatility), tidak pasti (uncertainty), rumit (complexity), dan kabur
(ambiguity).
"Manajemen risiko diIakukan secara melekat pada setiap proses bisnis dan monitoring
dilakukan daily basis yang tidak lagi membutuhkan laporan berkala dan rapat yang
lama karena setiap hari dimonitor," tambahnya.
Baca juga: Berani Palsukan Dokumen PNBP? Awas Ini Sanksinya
Dalam konteks manajemen risiko menurutnya, hal yang tidak kalah penting adalah
risiko keamanan data (cybersecurity). Cybersecurity bukanlah sebuah technical issue.
Cybersecurity adalah management dan leadership issue, yakni harus menjadi perhatian
dari level manajemen karena peran dan dampaknya yang strategis.
5. Fungsi Assurance
Ia menambahkan, dari sisi assurance, baik yang dilakukan oleh audit internal maupun
OJK, cara pandang dan pendekatan audit yang dilakukan memerlukan adaptasi
terhadap dinamika yang ada.
"Hal ini akan berdampak tidak hanya pada jenis dan model audit yang dilaksanakan,
namun juga membutuhkan skills dan metodologi tersendiri," paparnya.
Ahman mengungkapkan, Survey The Institute of Internal Audit (IIA) Global, 2017,
menyatakan critical thinking, communication, collaboration, persuasion, professional
ethics, dan understanding the audit process adalah skills utama audit di era
transformasi digital yang seharusnya dimiliki oleh para penyedia asuransi.