You are on page 1of 17

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS ROPES

PADA MATA PELAJARAN FIQIH DI MADRASAH ALIYAH


NURUL ISLAM TENGARAN

Purwoko, Khozin
Program Pasca Sarjana IAIN Salatiga
Purwokonuris@yahoo.co.id

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan implementasi model rencana


pembelajaran ROPES serta respon peserta didik terhadap proses pembelajaran pada
mata pelajaran Fiqih di Madrasah Aliyah Nurul Islam Tengaran. Penelitian ini adalah
merupakan jenis penelitian study kasus karena peneliti mengamati secara langsung
terhadap suatu kasus pada proses pembelajaran pada obyek yang telah dipilih dari
awal perencanaan pembelajaran sampai akhir pelaksanaan dan pengambilan
kesimpulan. Teknik pengambilan data dengan cara pengamatan langsung
pembelajaran di kelas dan study dokumen dan wawancara terhadap rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP). Sedangkan yang menjadi obyek pengamatan adalah
kegiatan belajar mengajar guru Fiqih di kelas IX MA Nurul Islam Tengaran. Dari
analisis data yang dilakukan ditemukan, bahwa pembelajaran model ROPES
merupakan salah satu model pembelajaran Student Center, dimana dalam proses
kegiatan belajar peserta didik menjadi aktif dalam memperoleh pengetahuan dan
bahkan praktik langsung terhadap ilmu yang sedang mereka pelajari. Guru
memberikan penjelasan-penjelasan seperlunya untuk kemudian memposisikan diri
sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Selain itu, pembelajaran model ROPES
ini menjadikan proses pembelajaran menjadi aktif dan menyenangkan, karena peserta
didik mendapatkan pengalaman langsung terhadap obyek yang sedang dipelajari.
Dalam sebuah penelitian, ditemukan bahwa pembelajaran model ROPES ini dapat
meningkatkan aktifitas peserta didik dibandingkan sebelumnya.

Kata Kunci: model, recana, pembelajaran, ROPES

1
A. PENDAHULUAN

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana


belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.1
Berdasarkan undang-undang Sisdiknas di atas, bahwa untuk bisa
menghadirkan pendidikan yang bermutu, maka suasana dan proses pembelajaran
yang dirancang agar bisa tercipta suasana interaktif dan harus bisa mengaktifkan
peserta didik sehingga diharapkan dapat mengembangkan semua potensi mereka.
Dengan proses pembelajaran aktif dan interaktif, peserta didik dapat memperoleh
pengalaman belajar dan semua potensinya berkembang, baik kognitif, afektif
maupun psikomotoriknya. Pembelajaran interaktif, sebagaimana yang
dikemukakan Endang Komara adalah suatu cara atau teknik pembelajaran yang
digunakan oleh guru pada saat menyajikan bahan pelajaran dimana guru sebagai
pemeran utama dalam menciptakan situasi interaktif yang edukatif, yakni
interaksi antar guru dan siswa, siswa dengan siswa dan dengan sumber
pembelajaran dalam menunjang tercapainya tujuan belajar.2
Selanjutnya beliau mengutip pendapatnya Ahmad Sabri bahwa, syarat
model pembelajaran interaktif antara lain: (1) dapat membangkitkan motivasi,
minat atau gairah belajar siswa, (2) dapat merangsang keinginan siswa untuk
belajar lebih lanjut, (3) dapat memeberikan kesempatan bagi siswa untuk
memberikan tanggapannya terhadap materi yang disampaikan, (4) dapat
menjamin perkembangan kegiatan kepribadian siswa, (5) dapat mendidik siwa
dalam teknik belajar sendiri dan cara memperoleh pengetahuan melalui usaha
pribadi, (6) dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap siswa
dalam teknik belajar sendiri dalam kehidupan sehari-hari.3

1
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003
2
Endang Komara, Belajar dan Pembelajaran Interaktif, Bandung, Penerbit: PT Refika Aditama, Tahun
2016, hal. 42
3
Endang Komara, Belajar dan Pembelajaran Interaktif, Bandung, Penerbit: PT Refika Aditama, Tahun
2016, hal. 42

2
Salah satu tantangan guru dalam melaksanakan tugas mengajar di era
sekarang ini adalah masalah yang berkaitan dengan kemampuan berkreasi dan
berinovasi dalam menciptakan proses pembelajaran yang mengedepankan
bagaimana anak belajar dan bukan apa yang dipelajari peserta didik.
Sebagaimana yang dikemukakan Rusman, bahwa tugas guru bukan semata-mata
mengajar (teacher centered), tetapi lebih kepada membelajarkan siswa (childen
centered).4
Orientasi proses pembelajaran dari teacher centered menuju student
centered diharapkan lebih mampu menghantarkan kepada hasil yang lebih
membekas menuju kepada perubahan yang kehendaki. Karena sebagaimana yang
dikemukakan Syaiful Bahri, bahwa proses belajar mengajar akan berhasil bila
hasilnya mampu membawa perubahan dalam pengetahuan, pemahaman,
ketrampilan dan nilai-nilai dalam diri anak didik.5Namun demikian, belum
sepenuhnya bahwa proses pembelajaran yang berpusat pada siswa (student
centered) ini menjadi sebuah pengetahuan, pemahaman dan dipraktikkan oleh
guru di negeri ini. Sehingga masih banyak guru-guru yang melaksanakan proses
pembelajaran konfensional. Bahkan masih banyak pula guru-guru yang
sebenarnya belum atau bahkan tidak layak mengajar.
Berdasarkan pada data statistik menunjukkan bahwa persentase guru layak
mengajar terhadap guru menurut status sekolah (Percentage of qualified teachers
to teachers by status of school) Tahun 2017/2018 adalah sebagai berikut:6
Tabel.1 ..............
Tingkat
& Jenis Negri Swasta Jumlah
Sekolah
Guru G. Layak % Guru G. Layak % Guru G. Layak %
SLB 9.668 8.645 89,42 14.666 12.931 88,17 24.334 21.576 88,67
SD 1.301.097 1.121.235 86,18 184.505 156.209 84,66 1.485.602 1.277.444 85,99
SMP 466.699 439.233 94,11 161.353 145.833 90,38 628.052 585.066 93,16
SM 364.283 356.298 97,81 235.680 219.712 93,22 599.963 576.010 96,01
SMA 222.470 218.635 98,28 85.281 81.082 95,08 307.751 299.212 97,39
SMK 141.813 137.663 97,07 150.399 138.630 92,17 292.12 276.293 94,55

4
Rusman, Pembelajaran Tematik Terpadu, Teori Praktek dan Penilaian, 2016, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 11
5
Syaiful Bahri Jamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, 2000, Jakarta: Rineka Cipta, 12
6
Pusat Data Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2017

3
Dengan memperhatikan tabel di atas terlihat, bahwa secara keseluruhan
persentase jumlah guru layak mengajar di atas 85 %. Hal ini artinya, bahwa masih
cukup menjadi keprihatinan kita bahwa ternyata masih ada sejumlah guru yang
dinyatakan tidak layak dalam mengajar. Kendatipun sudah mencapai 85% layak
mengajar, akan tetapi asumsinya bahwa seseorang menjadi guru itu seharusnya
orang yang memang telah dinyatakan secara legal formal terbukti dengan
sertifikasi layak mengajar. Walau di satu sisi pelaksanaan dan hasil sertifikasi
masih terus dievaluasi.
Atas dasar latar belakang ini, perlu kiranya memperbanyak peneltian di
bidang pendidikan dan pembelajaran guna memperkaya literasi sebagai upaya
memberikan sumbang sih di dunia pendidikan yang akan bermanfaat bagi guru
utamanya dalam meningkatkan kompetensinya.
Maka dari itu, penulis mencoba mengangkat salah satu model
pembelajaran aktif, yaitu model pembelajaran ROPES, study kasus terhadap
pembelajaran Fiqh di Madrasah Aliyah Nurul Islam Tengaran tentang pengurusan
jenazah.

B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka penulis membatasi dan
merumuskan maslah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran ?
2. Bagaimana model pembelajaran ROPES ?
3. Bagaimana implementasi model pembelajaran ROPES dalam
pembelajaran Fiqh di Madrasah Aliyah Nurul Islam Tengaran ?

C. PEMBAHASAN MASALAH

1. Model Pembelajaran
1.1. Model
Dorrin, dkk sebagaimana dikutip Ela Yulaelawati mengemukakan,
bahwa model merupakan gambaran mental yang membantu kita untuk
menjelaskan sesuatu dengan lebih jelas terhadap sesuatu yang tidak dapat

4
dilihat atau dialami secara langsung.7 Lebih lanjut ia katakan bahwa
model dapat membantu melihat kejelasan keterkaitan secara lebih cepat,
utuh, konsisten dan menyeluruh. Dengan mencermati model, kita dapat
membaca uraian tentang banyak hal dalam sebuah pola yang
mencerminkan alur pikir dan pola tindakan. Sedangkan menurut Sagala,
model adalah suatu kerangka konseptual yang digunakan sebagai
pedoman dalam melakukan kegiatan.8
Model dapat dipahami juga sebagai: (1) suatu tipe atau desain, (2)
suatu deskripsi atau analogi yang dipergunakan untuk membantu proses
visualisasi sesuatu yang tidak dapat dengan langsung diamati, (3) suatu
sistem asumsi-asumsi data-data dan inferensi-inferensi yang digunakan
menggambarkan secara sistematis suatu objek atau peristiwa, (4) suatu
desain yang disederhanakan dari suatu sistem kerja, suatu terjemahan
realitas yang disederhanakan, (5) suatu diskripsi dari suatu sistem yang
mungkin atau imajener, dan (6) penyajian yang diperkecil agar dapat
menjelaskan dan menunjukkan sifat bentuk aslinya.9
Endang Komara menyatakan, bahwa model merupakan suatu
bentuk tiruan (replika) dari suatu benda yang sesungguhnya atau suatu
contoh konseptuaal atau prosedur dari suatu program, sistem atau proses
yang dapat dijadikan acuan atau pedoman dalam mencapai tujuan.10
Dari beberapa definisi model yang dikemukakan di atas, bisa kita
simpulkan secara sederhana, bahwa model adalah sebuah desain,
deskripsi, prosedur, konsep, sistem kerja yang disusun dalam kerangka
menjadikan pedoman dalam melakukan kegiatan.

1.2. Pembelajaran
Banyak sekali definisi pembelajaran yang disampaikan oleh para
pakar, diantaranya yang dinyatakan oleh Yunus Abidin, bahwa
pembelajaran merupakan serangkaian aktifitas terencana yang dilakukan

7
Ela Yulaelawati, Kurikulum dan Pembelajaran, Filosofi Teori dan Aplikasi. 2007, Jakarta: Pakar Raya,
60
8
Muhammad Fathurrohman, Paradigma Pembelajaran Kurikulum 2013 Strategi Alternatif
Pembelajaran di Era Global, 2015, Yogjakarta: Kalimedia, 194
9
Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, 200, Jakarta: Bumi Aksara, 152
10
Endang Komara, Belajar dan Pembelajaran Interaktif, Bandung, Penerbit: PT Refika Aditama, Tahun
2016, hal. 106

5
siswa untuk mencapai tujuan tertentu di bawah bimbingan, arahan dan
motivasi guru.11 Endang Komara menyatakan, bahwa pembelajaran adalah
proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar.12 Pandangan senada dikemukakan oleh Abdul
Majid, bahwa pembelajaran adalah suatu proses interaksi antara anak
dengan anak, anak dengan sumber belajar, dan anak dengan pendidik.13
Rusman menyatakan, bahwa pembelajaran merupakan suatu sistem yang
terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang
lain. Komponen tersebut meliputi; tujuan, materi, metode dan evaluasi.14
Fathurrohman juga menyatakan, bahwa pembelajaran secara sederhana
diartikan sebagai sebuah usaha mempengaruhi emosi, intelektual, dan
spiritual seseorang agar mau belajar dengan kehendaknya sendiri.15
Sedangkan menurut Undang-undang Sikdiknas dinyatakan bahwa
pembelajaran ialah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.16
Memerhatikan berbagai pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa
unsur-unsur yang ada dalam pembelajaran yaitu; tujuan, usaha sadar,
interkasi, siswa, guru, sumber belajar, sistem yang saling terkait dalam
sebuah proses pada suatu lingkungan belajar.

1.3. Model Pembelajaran


Menurut Muhammad Fathurrohman, istilah “model” dalam
perspektif yang dangkal hampir sama dengan strategi. Jadi model
pembelajaran hampir sama dengan strategi pembelajaran.17 Hal ini sejalan
dengan apa yang disampaikan oleh Endang Komara, bahwa dalam model

11
Yunus Abidin, Desain Sistem Pembelajarandalam Konteks Kurikulum 2013. 2016, Bandung: PT Refika
Aditama, 39
12
Endang Komara, Belajar dan Pembelajaran Interaktif, Bandung, Penerbit: PT Refika Aditama, Tahun
2016, hal. 106
13
Abdul Majid, Pembelajarn Tematik Terpadu. 2017, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 15
14
Rusman, Pembelajaran Tematik Terpadu, Teori Praktek dan Penilaian, 2016, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 21
15
Muhammad Fathurrohman, Paradigma Pembelajaran Kurikulum 2013 Strategi Alternatif
Pembelajaran di Era Global, 2015, Yogjakarta: Kalimedia, 6
16
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 ayat 20
17
Muhammad Fathurrohman, Paradigma Pembelajaran Kurikulum 2013 Strategi Alternatif
Pembelajaran di Era Global, 2015, Yogjakarta: Kalimedia, 194

6
pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan
pendekatan, metode dan teknik pembelajaran.18
Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Mulyasa,
bahwa model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar
dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Model
pembelajaran merupakan pola penerapan suatu pendekatan, metode, dan
teknik pembelajaran.19
Sedangkan model dengan pengertian sebagai pola, maka pola
pembelajaran yang efektif sebagaimana yang dikemukakan Sholeh
Hidayat, adalah pola pembelajaran yang di dalamnya terjadi interaksi dua
arah antara guru dan siswa, artinya guru tidak harus selalu menjadi pihak
yang lebih dominan. Pada pola pembelajaran ini guru tidak boleh hanya
berperan sebagai pemberi informasi tetapi juga bertugas dan bertanggung
jawab sebagai pelaksana yang harus menciptakan situasi memimpin,
merangsang an menggerakkan siswa secara aktif.20
Endang Komara juga mengemukakan, bahwa model pembelajaran
merupakan contoh pola atau struktur pembelajaran siswa yang didesain,
diterapkan dan dievaluasi secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan,
atau suatu contoh bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai
akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas.21 Sedangkan Areds
sebagaimana dikutip Trianto menyatakan , bahwa model pembelajaran
adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai
pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran
tutorial. Model pembelejaran mengacu padapendekatan pembelajaran
yang akan digunakan, termasuk di dalamnyatujuan-tujuan pengajaran,
tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan
lingkungan kelas.22

18
Endang Komara, Belajar dan Pembelajaran Interaktif, Bandung, Penerbit: PT Refika Aditama, Tahun
2016, hal. 106
19
H.E Mulyasa, Guru Dalam Implementasi Kurikulum 2013. 2017, Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
142
20
Sholeh Hidayat, Pengembangan Kurikulum Baru, 2017, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 118
21
Endang Komara, Belajar dan Pembelajaran Interaktif, Bandung, Penerbit: PT Refika Aditama, Tahun
2016, hal. 106
22
Trianto, Model Pembelajaran Terpadu, 2015, Jakarta: PT Bumi Aksara, 51

7
Dari beberapa pengertian di atas bisa disimpulkan bahwa model
pembelajaran adalah sebuah prosedur, sistem kerja yang disusun secara
sistematis yang tergambar dalam keseluruhan proses pembelajaran yang
meliputi kegiatan siswa dalam hubungannya dengan guru dan sumber
belajar dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

2. Model Pembelajaran ROPES

Pada dasarnya tidak ada format baku yang harus dipedomani


sehubungan dengan penyusunan perencanaan pembelajaran. Justru guru
dituntut untuk melakukan pengembangan dalam menyusun rencana
pembelajaran, tentang langkah-langkahnya, strategi, metode, media serta
sumber belajar bagi siswa.
Banyak model yang bisa jadi rujukan dan pengayaan guru dalam
menyusun rencana pembelajaran. Salah satu diantaranya adalah yang
dikemukakan oleh Hunt. Menurut Hunt, sebagaimana dikutip Abdul Majid
menyebut rencana prosedur pembelajaran sebagai persiapan mengajar yang
disebut dengan ROPES (Review, Overview, Presentation, Exercise, Summary)
dengan langkah-langkah sebagai berikut:

APPERSEPSI KEGIATAN INTI REFLEKSI

Review Overview Presentation Exercise Summary

Gambar 1. Langakah-langkah pembelajaran model ROPES

a. Review, kegiatan ini membutuhkan waktu antara satu sampai lima menit,
yaitu kegiatan yang bertujuan untuk mengukur kesiapan siswa untuk
mempelajari materi ajar yang akan disampaikan dengan melihat
pengalaman sebelumnya yang sudah dimiliki siswa sebagai prasyarat
untuk memahami materi ajar yang disampaikan.

8
b. Overview, Kegiatan berlangsung sekitar lima menit, yaitu guru
menjelaskan program pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan
menyampaikan pokok materi secara singkat dan strategi yang akan
digunakan dalam pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menyampaiakan pendapatnya terhadap
langkah-langkah pembelajaran yang akan dilakukan guru, sehingga
peserta didik merasa senang dan dihargai keberadaannya.
c. Presentation, yaitu dalam tahapan ini guru melakukan proses telling,
showing, dan doing. Proses ini sangat diperlukan dalm upaya
meningkatkan daya serap dan daya ingat siswa tentang pelajaran yang
mereka pelajari selama kegiatan belajar mengajar. Semakin bervariasi
strategi dan metode pembelajaran yang digunakan, maka akan semakin
baik proses dan hasil yang dicapai, karena tidak menjadikan siswa bosan,
melainkan menjadikan mereka menikmati pembelajaran dengan suasana
yang menyenangkan.
d. Exercise, yaitu merupakan proses untuk memberikan kesempatan kepada
peserta didik mempraktekkan materi yang telah mereka pahami dan
pelajari agar memberikan pengalaman langsung kepada siswa sehingga
hasil yang dicapai lebih bermakna dan masuk dalam memori jangka
panjangnya.
e. Summary, yaitu merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan
maksud untuk memperkuat apa yang telah siswa pahami selama proses
pembelajaran yang mereka ikuti.23
Kalu kita cermati, bahwa langkah review dan overview adalah langkah
awal pembelajaran sebelum memasuki inti yang biasa disebut dengan
appersepsi. Adapun kegiatan inti ada pada langkah presentation dan exercise.
Pembelajaran model ROPES ini diakhiri dengan refleksi yaitu berupa
memperkuat pengetahuan dari apa yang dipelajari.
Salah satu kelemahan dari model ini adalah tidak menampakkan
evaluasi dalam langkah kegiatannya, sehingga terkesan mengesampingkan
sisi evaluasi pembelajarannya. Padahal alat ukur untuk mengetahui ketuntasan
belajar siswa, salah satunya adalah dengan melakukan evaluasi.

23
Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, Bandung, Penerbit: PT Remaja Rosdakarya, Tahun2008,
hal 99

9
D. IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS ROPES PADA
MATA PELAJARAN FIQH

Berdasarkan definisi dan langkah-langkah pada model pembelajaran


ROPES di atas maka sebenarnya model ROPES sangat cocok diterapkan di mata
pelajaran fiqih, terutama pada materi-materi yang membutuhkan praktik langsung
sebagai betuk penerapan konsep-konsep yang dipelajari. Hal ini dilakukan dalam
kerangka memberikan pengalaman langsung, sehingga diharapkan dapat benar-
benar membekas dalam ingatan jangka panjang (long time memories) bagi siswa.
Keterlibatan langsung siswa dalam proses pembelajaran sangat penting.
Sebagaimana yang dikemukakan John Dewey yang dikutip Endang Komara,
bahwa dengan konsep “ learning by doing” belajar sebaiknya dialami melalui
perbuatan langsung dan harus dilakukan oleh siswa secara aktif. Prinsip ini
didasarkan pada asusmsi bahwa para siswa dapat memperoleh lebih banyak
pengalaman dengan cara keterlibatan secara aktif dan proporsional, dibandingkan
dengan bila mereka hanya melihat materi atau konsep. Modus pengalaman belajar
bisa digambarkan sebagai berikut:

Dari apa yang dibaca


10%
Dari apa yang didengar
20%
Dari apa yang dilihat
30%
Dari apa yang dilihat & didengar
50%
Dari apa yang dikatakan
70%
Dari apa yang dikatakan & dilakukan
90%

Gambar 2. Modus Pengalama Belajar John Dewey

Hal ini menunjukkan bahwa jika guru mengajar dengan banyak ceramah,
maka peserta didik akan mengngat hanya 20% karena mereka hanya

10
mendengarkan. Sebaliknya, jika guru meminta peserta didik untuk melakukan
sesuatu dan melaporkannya, maka mereka akan mengingat sebanyak 90%.24
Berdasar pada konsep tersebut maka, perlu kiranya mengembangkan
pembelajaran model ROPES ini dalam materi-materi pelajaran yang utamanya
memerlukan praktik langsung terhadap penerapan konsep yang dipelajari.
Salah satu contoh tema/pokok bahasan yang dengannya dilakukan study
kasus dalam penelitian ini adalah tentang perawatan jenazah pada pelajaran Fiqh
di kelas IX di Madrasah Aliayh Nurul Islam Tengaran.
Study kasus yang dilakukan, meliputi tiga langkah, yaitu; pengamatan
terhadap: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), proses pembelajaran, dan
refleksi/evaluasi.
Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru membuat
perencanaan pembelajaran. Hal ini dilakukan agar proses pembelajaran tersusun
dan terstruktur dengan rapi dan bisa berjalan secara efektif dan efisien menuju
tercapainya tujuan pembelajaran.
Perencanaan pembelajaran menurut Rusman, meliputi penyusunan
rencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP), penyiapan media dan sumber
belajar, perangkat penilaian pembelajaran dan skenario pembelajaran.25
Sebenarnya sebelum melakukan perencanaan pembelajaran seorang guru dituntut
untuk menganalisa kebutuhan proses pembelajaran dan kesiapan siswa. Langkah
ini penting, karena suatu rencana pembelajaran disusun berdasarkan pada
kesiapan siswa dan ketersediaan alat dan bahan serta sumber belajar yang
diperlukan.
Berdasarkan pada langkah-langkah model pembelajaran ROPES tersebut
di atas, maka untuk memberi gambaran secara lebih sederhana terhadap
pembelajaran Fiqh dengan pokok bahasan merawat jenazah, digambarkan dan
dikembangkan dalam sebuah model pembelajaran sebagai berikut:

24
Endang Komara, Belajar dan Pembelajaran Interaktif, Bandung, Penerbit: PT Refika Aditama, Tahun
2016, hal. 106
25
Rusman, Pembelajaran Tematik Terpadu, Teori Praktek dan Penilaian, 2016, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 75

11
PERSIAPAN PEMBELAJARAN

PENETAPAN TUJUAN ANALISA KEBUTUHAN


PEMBELAJARAN

LANGKAH-LANGKAH
PEMBELAJARAN

Langkah 1. REVIEW
Langkah 2. OVERVIEW
Langkah 3. PRESENTATION
Langkah 4. EXERCISE
Langkah 5. SUMMARY

EVALUASI PEMBELAJARAN

OUT PUT

OUT COME

Gambar 3. Bagan tentang Implementasi Model Pembelajaran ROPES pada


mata pelajaran Fiqh

Dari bagan tersebut dapat dijelaskan, bahwa sebelum melakukan


perencanaan pembelajaran, guru melakukan penetapan tujuan dan analisis
kebutuhan dan ketersediaan segala sesuatu yang terkait dengan proses
pembelajaran. Penetapan tujuan di awal dimaksudkan agar apa yang hendak
dicapai setelah selesai proses pembelajaran menjadi jelas. Demikian halnya
dengan menganalisis kebutuhan yang terkait dengan pembelajaran, karena hal ini
menyangkut strategi, metode, alat, bahan, media, sumber belajar yang diperlukan
dan direncanakan.

12
Selanjutnya, guru menyusun langkah-langkah pembelajaran menurut
model ROPES sebagai berikut:
1. Review (5 menit)
a. Merefresh pelajaran sebelumnya dan mengkaitkan pelajaran
sebelumnya dengan pelajaran yang akan dipelajari.
b. Guru menanyakan tentang pengalaman siswa berkaitan dengan
pengurusan jenazah, urutan perawatan jenazah, adab kepada jenazah
dan semua hal ikhwal yang berkaitan dengan jenazah.
2. Overview (5 menit)
a. Guru memberikan penjelasan sinkat dan global tentang pokok-pokok
materi materi perawatan jenazah. (dengan peta konsep)
b. Guru menjelaskan langkah-langkah pembelajaran yang akan
dilkaaukan bersama siswa
c. Guru meminta tanggapan untuk memberikan masukan dan
pandangannya terhadap strategi pembelajaran yang akan diterapkan
dalam proses pembelajaran.
3. Presentation; proses telling, showing and doing
a. Guru menampilkan vidio tentang proses perwatan jenazah
b. Sambil vidio berjalan, guru memotong step by step untuk
memberikan keterangan dan penjelasan untuk memperkuat
pengetahuan siswa.
c. Selain itu guru juga menyiapkan peralatan dan menunjukkan benda
/alat/bahan yang digunakan seperti; boneka, kain kafan, kapas,
gunting dan sebagainya untuk memberi contoh langsung perawatan
jenazah.
4. Exercise
a. Siswa dibagi kelompok untuk menyiapkan bahan-bahan perawatan
jenazah
b. Siswa dengan bimbingan dan pengawasan guru mempraktekkan cara
perawatan jenazah
c. Siswa praktek menyolatkan jenazah beserta bacaan dan doa kepada
jenazah

13
5. Summary
 Bersama-sama siswa memberikan kesimpulan dan refleksi terhadap
proses kegiatan belajar mengajar yang baru saja diselesaikan.

Langkah berikutnya, dalam rangka mengetahui tingkat ketercapaian dan


ketuntasan siswa dalam pembelajaran ini maka diadakan evaluasi. Sehingga
dengan evaluasi tergambar baik output maupun out camenya.
Hasil refleksi penulis bersama ust As’ad Mahmud, Lc, beliau
menyampaikan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran ROPES banyak
hal yang bisa diambil kemanfaatannya, diantaranya adalah bisa membuat asiswa
aktif, praktek langsung, dan belajar menjadi sangat menyenangkan. Disisi lain
guru merasa melihat hasil secara langsung tingkat kefahaman siswa terhadap
materi yang disampaikan.

E. STATE OF THE ART

Berikut ini adalah beberapa penelitian terdahulu yang memiliki tema dan
garis besar sama dengan makalah yang berkaitan dengan pembelajaran model
ROPES.
Diantara penelitian tersebut yaitu penelitian yang dilakukan oleh Yoko
Masna Rivan26. Dalam hasil analisisnya menyimpulkan bahwa pembelajaran
model ROPES, dari berbagai penelitiannya di sekolah (SMP dan SMA) pada
bidang studi matematika, dan perguruan tinggi pada mata kuliah fisika dasar dan
kimia dasar, model ROPES mampu meningkatkan aktifitas peserta didik selama
pembelajaran.
Penelitian yang dilakukan oleh Dina dan Rizka Nurul27 menemukan
bahwa pembelajaran model ROPES berpengaruh terhadap aktifitas guru dan
siswa, meningkatkan ketrampilan guru dalam mengelola pembelajaran,

26
Yoko Masna Rivan, Penelitian Model Ropes dalam Proses Pembelajaran, Jurnal Kesehatan STIKes
Prima Nusantara Bukit Tinggi, Vol.7 No 2 Juli 2016.
27
Dina, Rizka Nurul, Penerapan Model Pembelajaran Ropes (Review, Overview, Presentation, Exercise,
Summary) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Pada Materi Alat-Alat Optik Di Kelas X Ia-1 Sma Negeri 4
Banda Aceh, 2016

14
peningkatan ketertarikan siswa dalam belajar dan hasil belajar siswa secara
individual meningkat.
Dame Yanti C. Silitonga28 dan Gusnita Betaria Sinaga, Usler Simarmata29,
dalam peneltiannya menemukan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan dari
Model Pembelajaran Ropes Terhadap Kemampuan Menulis Cerpen Siswa Kelas
SMA Negeri 14 Medan Tahun Pembelajaran 2013/2014
Sementara dalam study kasus yang penulis angkat adalah model
implementasi pembelajaran ROPES dalam pembelajran Fiqh Islam.

F. KESIMPULAN

Berdasarkan pada hasil study kasus pada pelaksanaan pembelajaran


dengan model ROPES disimpulkan sebagai berikut:
1. Pembelajaran model ROPES merupakan salah satu model pembelajaran yang
berpusat pada siswa (student centered) yang mampu mengaktifkan siswa
dalam keseluruhan proses pembelajaran. Dengan model ini siswa dapat
secara langsung mempraktikkan pengetahuan, konsep-konsep yang mereka
pelajari sehingga menjadi lebih membekas dan terekam dalam memory
jangka panjangnya (long time memories).
2. Pembelajaran model ROPES juga menjadikan proses pembelajarannya
menjadi interaktif dan menyenangkan atau tidak membosankan. Siswa
merasa memiliki kegiatan sehingga muncul rasa tanggung jawab dan
amanahnya. Mereka benar-benar belajar bagaimana mereka belajar. (learning
by doing)
3. Dua langkah pertama dari pembelajaran model ROPES menunjukkan bahwa
model ini memberi perhatian secara serius pentingnya appersepsi dalam
rangka menyiapkan siswa agar benar-benar siap mengikuti pelajaran. Karena
pada hakekatnya kesiapan siswa di awal proses pembelajarannya akan sangat
menentukan keberhasilan keseluruhan proses pembelajaran.

28
Dame Yanti C. Silitonga, “Pengaruh Model Pembelajaran Ropes Terhadap Kemampuan Menulis
Cerpen Siswa Kelas SMA Negeri 14 Medan Tahun Pembelajaran 2013/2014”,
http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/ajs/article/view/1468 , Asas: Jurnal Sastra Vol 2, No 4, 2013
29
Gusnita Betaria Sinaga dan Usler Simarmata, Pengaruh Model Pembelajaran Ropes (Review,
Overview, Presentation, Exercise, Summary) Berbantu Audio Visual Terhadaphasil Belajar Siswa Pada
Materikalor di Kelas X Semester II SMA N 11 Medan T.P. 2013/2014, Jurnal Inpafi Vol. 2, No. 3, Agustus 2014

15
4. Pada dasarnya tidak ada format baku yang harus dipedomani sehubungan
dengan penyusunan perencanaan pembelajaran. Justru guru dituntut untuk
melakukan pengembangan dalam menyusun rencana pembelajaran, tentang
langkah-langkahnya, strategi, metode, media serta sumber belajar bagi siswa.
Pembelajaran model ROPES sendiri berlaku pada tema-tema atau pokok
bahasan yang berhubungan dengan praktik, dan tidak bisa dipaksakan untuk
pokok bahasan yang memang hanya membahas tentang konsep-konsep,
teori-teori dan yang tidak memerlukan praktik langsung.
5. Kelemahan pembelajaran model ROPES ini adalah:
a. Membutuhkan persiapan yang matang karena berkaitan dengan
prosedur dan penyiapan alat, bahan dan media dalam proses
pembelajarannya.
b. Dalam langkah-langkah pembelajarannya tidak diikut sertakan
langkah evaluasi hasil belajarnya yang justru merupakan langkah
untuk mengukur tingkat serapan dan ketuntasan siswa dalam
pembelajarannya.

G. DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid, Pembelajarn Tematik Terpadu. 2017, Bandung: PT Remaja


Rosdakarya

Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, Bandung, Penerbit: PT Remaja


Rosdakarya, Tahun2008

Dame Yanti C. Silitonga, “Pengaruh Model Pembelajaran Ropes Terhadap


Kemampuan Menulis Cerpen Siswa Kelas SMA Negeri 14 Medan
Tahun Pembelajaran 2013/2014”,
http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/ajs/article/view/1468 , Asas:
Jurnal Sastra Vol 2, No 4, 2013

Dina, Rizka Nurul, Penerapan Model Pembelajaran Ropes (Review, Overview,


Presentation, Exercise, Summary) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Fisika Pada Materi Alat-Alat Optik Di Kelas X Ia-1 Sma Negeri 4 Banda
Aceh, 2016

Ela Yulaelawati, Kurikulum dan Pembelajaran, Filosofi Teori dan Aplikasi.


2007, Jakarta: Pakar Raya

16
Endang Komara, Belajar dan Pembelajaran Interaktif, Bandung, Penerbit: PT
Refika Aditama, Tahun 2016

Gusnita Betaria Sinaga dan Usler Simarmata, Pengaruh Model Pembelajaran


Ropes (Review, Overview, Presentation, Exercise, Summary) Berbantu
Audio Visual Terhadaphasil Belajar Siswa Pada Materikalor di Kelas X
Semester II SMA N 11 Medan T.P. 2013/2014, Jurnal Inpafi Vol. 2, No.
3, Agustus 2014

Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, 200, Jakarta: Bumi Aksara

Muhammad Fathurrohman, Paradigma Pembelajaran Kurikulum 2013 Strategi


Alternatif Pembelajaran di Era Global, 2015, Yogjakarta: Kalimedia

Mulyasa, Guru Dalam Implementasi Kurikulum 2013. 2017, Bandung: PT


Remaja Rosdakarya

Pusat Data Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2017

Rusman, Pembelajaran Tematik Terpadu, Teori Praktek dan Penilaian, 2016,


Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Sholeh Hidayat, Pengembangan Kurikulum Baru, 2017, Bandung: PT Remaja


Rosdakarya

Syaiful Bahri Jamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, 2000,
Jakarta: Rineka Cipta

Trianto, Model Pembelajaran Terpadu, 2015, Jakarta: PT Bumi Aksara, 51

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Yoko Masna Rivan, Penelitian Model Ropes dalam Proses Pembelajaran, Jurnal
Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukit Tinggi, Vol.7 No 2 Juli 2016.

Yunus Abidin, Desain Sistem Pembelajarandalam Konteks Kurikulum 2013.


2016, Bandung: PT Refika Aditama

17