You are on page 1of 22

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manajemen pada dasarnya berfokus pada perilaku manusia untuk mencapai


tingkat tertinggi dari produktivitas pada pelayanan di suatu kegiatan. Pada suatu
instansi membutuhkan seorang manajer yang terdidik dalam pengetahuan dan
keterampilan tentang perilaku manusia untuk mengelola kegiatan. Manajemen
merupakan serangkaian aktivitas (termasuk perencanaan, pengambilan keputusan,
pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian) yang diarahkan pada sumber-
sumber daya organisasi (manusia, financial, fisik dan informasi) dengan maksud
mencapai tujuan organisasi secara efisien dan efektif (Griffin, 2004).

Rumah sakit merupakan sebuah institusi perawatan kesehatan profesional


yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, dan tenaga ahli kesehatan
lainnya (Sabarguna, 2008). Suatu rumah sakit memerlukan pengorganisasian untuk
melancarkan jalan sukses. Organisasi rumah sakit memiliki pemimpin dan staf-staf
yang bergerak dibidangnya agar organisasi di rumah sakit mampu mejalankan
pelayanan yang optimal. Pengorganisasian dalam manajemen keperawatan
mempunyai banyak aktifitas penting, antara lain bagaimana asuhan keperawatan
dikelola secara efektif dan efisien untuk sejumlah pasien di rumah sakit dengan
jumlah staf keperawatan dan fasilitas yang ada. Untuk diperlukan pembagian tugas,
kerja sama, dan koordinasi sehingga semua pasien mendapatkan pelayanan yang
optimal. Oleh karena itu menejer keperawatan perlu menetapkan kerangka kerja,
yaitu dengan cara: mengelompokan dan membagi kegitan yang harus dilakukan,
menentukan jalinan hubungan kerja antara tenaga dan menciptakan hubungan antara
kepala-staf melalui penugasan, delegasi dan wewenang.

1
Dalam model pengembangan praktik keperawatan profesional peran dan
fungsi kepala ruang merupakan hal yang sangat penting sehingga kompetensi
kepemimpinan dan manajemen yang mutlak dibutuhkan karena kemampuan itu
manajer kepala ruang akan diuji untuk menata pengorganisasian staf dan menentukan
sistem pemberian asuhan keperawatan kepada pasien sebagai refleksi pelaksanaan
praktik keperawatan profesional.

Peran dan fungsi kepala ruang sangatlah penting dalam melakukan pengaturan
organisasi dalam sebuah bangsal di suatu rumah sakit. Peran dan fungsi kepala ruang
antara lain mengidentifikasi masalah, merencanakan fungsi ketenagaan,
merencanakan pengorganisasian, melakukan pengarahan dan melakukan
pengendalian organisasi. Sedangkan menajer sendiri yang berarti seseorang yang
tanggung jawab utamanya adalah melakukan proses manajemen dalam suatu
organisasi memiliki tugas dan fungsi antara lain peran interpersonal, peran pemberi
informasi serta peran pengambilan keputusan.

Begitupun dengan Rumah Sakit Pelabuhan Palembang, dalam


memberikan asuhan keperawatan terhadap klien menerapkan metode tim, dimana
setiap ruangan dibagi menjadi beberapa tim dan setiap tim terdiri dari beberapa
perawat pelaksana, setiap perawat pelaksana mempunyai tanggung jawab
terhadap beberapa pasien. Dengan metode tersebut Rumah Sakit Pelabuhan
Palembang dapat memberikan pelayanan yang maksimal.

1.2 Tujuan Praktik


1.2.1 Tujuan Umum

Setelah melakukan pratik manajemen keperawatan mahasiswa mampu


mengelola sistem pelayanan keperawatan dalam satu unit ruang rawat dalam lingkup
tanggung jawabnya.

2
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mengkaji prinsip dan konsep kepemimpinan dalam keperawatan
2. Mengkaji aplikasi kepemimpinan dalam keperawatan
3. Mengkaji aplikasi fungsi manajemen dalam keperawatan
4. Mengkaji struktur organisasi keperawatan (RS)
5. Mengkaji nursing care delivery system
6. Mengkaji sistem pengorganisasian asuhan keperawatan
7. Mengkaji aspek pendelegasian, prinsip dan teknik supervisi
8. Melakukan perhitungan jumlah tenaga perawat yang di butuhkan ruang perawatan
9. Menentukan masalah manajemen keperawatan dan prioritas masalah
10. Membuat analisa SWOT dan POA

3
BAB II

KAJIAN SITUASI MANAJEMEN KEPERAWATAN RUANG PERAWATAN


II

1.1 Kajian Situasi RS. Pelabuhan Palembang


1. Visi Rumah Sakit
“Menjadi Perusahaan Terbaik Dalam Industri Kesehatan Nasional Dengan
Layanan Profesional Kelas Dunia”
2. Misi Rumah Sakit
“Menjalankan Usaha Layanan Kesehatan Berkualitas, Berorientasi Pada
Sinerji Sumber Daya Dan Teknologi Terkini Serta Pertumbuhan Perusahaan
Yang Berkelanjutan”
3. Moto Rumah Sakit
“Ramah, Peduli, Dan Bersahabat”

1.2 Kajian Situasi Di Ruang


1.2.1 Karakteristik Unit
a. Visi Ruang
Tidak Ada
b. Misi Ruang
Tidak Ada
c. Metode Pemberian Asuhan Keperawatan yang diterapkan diruangan

Metode Pemberian Asuhan Keperawatan yang diterapkan diruangan


Perawatan II Rumah Sakit Pelabuhan Palembang menggunakan Metode TIM.

Metode TIM adalah pengorganisasian pelayanan keperawatan oleh


sekelompok perawat. Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan
berpengalaman serta memiliki pengetahuan dalam bidangnya.

4
Pembagian tugas di dalam kelompok dilakukan oleh pemimpin kelompok,

selain itu pemimpin kelompok bertanggung jawab dalam mengarahkan anggota tim.

Sebelum tugas dan menerima laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien serta
membantu anggota tim dalam menyelesaikan tugas apabila mengalami kesulitan.

Selanjutnya pemimpin tim yang melaporkan kepada kepala ruangan tentang

kemajuan pelayanan atau asuhan keperawatan klien. Metode team adalah metode

yang berdasarkan kelompok pada filosofi keperawatan. Terdapat sekitar 6-7 perawat

profesional dan perawat associate bekerja sebagai suatu tim, disupervisi oleh ketua

tim.

Metode ini menggunakan tim yang terdiri atas anggota yang berbeda beda
dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat

ruangan dibagi menjadi 2-3 tim/group yang terdiri atas tenaga profesional, teknikal,

dan pembantu dalam satu kelompok kecil yang saling membantu.

 Keuntungan metode Tim

a. Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh


b. Mendukung pelaksanaan proses keperawatan

c. Memungkinkan komunikasi antar tim, sehingga konflik mudah di atasi dan

memberikan kepuasaan pada anggota tim

d. Saling memberi pengalaman antar sesama tim

e. Pasien dilayani secara komfrehensif


f. Terciptanya kaderisasi kepemimpinan

g. Tercipta kerja sama yang baik

h. Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal

5
i. Memungkinkan menyatukan anggota tim yang berbeda-beda dengan aman dan

efektif.

 Kelemahan metode Tim

a. Tim yang satu tidak mengetahui mengenai pasien yang bukan menjadi tanggung

jawabnya
b. Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat tim

ditiadakan atau terburu-buru sehingga dapat mengakibatkan komunikasi dan

koordinasi antar anggota tim terganggu sehingga kelancaran tugas terhambat

c. Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu tergantung

atau berlindung kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim.

6
Struktur Pengorganisasian di Ruang Perawatan II

Manajer Keperawatan

Titin Handayani, S.Kep.,Ners.

Supervisor Perawatan II

Khristina Puji Rahayu, S.Kep.,Ners.

Dwi Sakti Indriani, AMK.

TIM I TIM II TIM III TIM IV

1. Yepi Ariyani 6. Heni 2. Yeti Yuniarti 1. Trianda


2. Septian 7. Lia Anggraini 3. Tati C.W. Oktariza
3. Nadia 8. Marlina 4. Agustin Sinarti
4. Yusrina 9. Lola 5. Siti Latifa
5. Nurhidayani

7
d. Letak Ruang

8
e. Kapasitas Unit Ruang

1) Ruang Bangau I : 6 Bed

2) Ruang Bangau II : 6 Bed


3) Ruang Pipit II : 5 Bed

4) Ruang Rajawali 3 : 2 Bed

5) Ruang Rajawali 4 : 3 Bed

6) Ruang Merpati 1 : 1 Bed

7) Ruang Merpati 2 : 3 Bed


8) Ruang Merpati 3 : 3 Bed

9) Ruang Perinatal : 4 Bed

10) Ruang VK : 1 Bed

11) Ruang GYN : 1 Bed

Jumlah Bed : 36 Bed

f. Karakteristik perawat berdasarkan umur, jenis kelamin, masa kerja,

pelatihan yang pernah diikuti

No Nama Umur Jenis Masa Kerja Pelatihan yang


perawat Kelamin pernah diikuti
1. Khristina Puji 41 Th P 16 Th

Rahayu

2. Dwi Sakti 34 Th P 10 Th

3. Yepi Ariyani 40 Th P 12 Th - Pelatihan


Keperawatan
Intensive
Dasar
4. Septian 28 Th L - BCLS

- PPGD

5. Nadia 30 Th P -

9
6. Yusrina 30 Th P 5 Tahun - BTLS

7. Nurhidayani 30 Th P - Bantuan

Hidup Dasar

- PPGD

8. Heni S 37 Th P 10 Th - Resusitasi

- C1

9. Lia Anggraini 28 Th P 7 Th - Resusitasi

- Neonatus

- Midwife

Update

10. Marlina P - APN

11. Lola P - APN

12. Yeti Yuniarti 33 Th P 5 Th

13. Tati CW 31 Th P 7 Th

14. Agustin Sinarti 27 Th P

15. Siti Latifah 34 Th P 10 Th

16. Trianda 35 Th p 5 Th

Oktariza

1.2.2 Analisis Terhadap Klien (Tingkat Ketergantungan Klien perhari),


pasien yang dirawat sebanyak 23 orang

NAMA TINGKAT
NO NAMA PASIEN
RUANGAN KETERGANTUNGAN
1 Bangau 1 1. Ayu Andini Parsial Care
2. Apriyana Parsial Care
3. Siti Aisyah Total Care
4. Sunarti Parsial Care
5. Inka Self Care

10
2 Bangau 2 1. M. Amin Parsial Care
2. M. Indra Parsial Care
3. Jainuri Parsial Care
4. Anary Parsial Care
5. Ujang Effendi Parsial Care
6. Ade Ferdiansyah Parsial Care

3 Merpati 2 1. Leni Rarmila Parsial Care


2. Fenny Aryani Parsial Care
3. Hermina Parsial Care

Merpati 3 1. Rohani Total Care


2. Septi Parsial Care
3. Siti Fatimah Parsial Care
4. Dini Ardiani Total Care

4 Rajawali 4 1. Eka S Parsial Care

5 Rajawali 3 - -
6 Pipit 2 1. Abdillah Farid S. Total Care
2. Khairunnisa Total Care
3. Fadilah Khoirunisa Total Care
4. Adiba Shakilla A. Total Care

2.2.3 Perhitungan kebutuhan tenaga perawat dengan metode douglas dan


gilies

1. Metode Douglas

Douglas (1984 , dalam Swansburg & Swansburg, 1999) menetapkan


jumlah perawat yang dibutuhkan dalam suatu unit perawatan berdasarkan
klasifikasi klien, dimana masing-masing kategori mempunyai nilai standar per
shift nya.

11
Klasifikasi nilai standar per shift menurut douglas :

Klasifikasi Pasien
Jumlah
Minimal Care Parsial Care Total Care
Pasien
Pagi Sore Mlm Pagi Sore Mlm Pagi Sore Mlm

1. 0,17 0,14 0,07 0,27 0,15 0,10 0,36 0,30 0,20

2. 0,34 0,28 0,14 0,54 0,30 0,20 0,72 0,60 0,40

Dst..

PERHITUNGAN METODE DOUGLAS DI RUANG PERAWATAN II :

Self Care Parsial Care Total Care Jumlah


Pagi 0,17 x 1 = 0,17 0,27x 15 = 4,05 0,36 x 7 = 2,52 6,74 (7)
Sore 0,14 x 1 = 0,14 0,15 x 15 = 2,25 0,3 x 7 = 2,1 4,49 ( 5)
Malam 0,07 x 1 = 0,07 0,10 x 15 = 1,5 0,2 x 7 = 1,4 2,97 (3)
Total Kebutuhan Tenaga Perawat Per Hari 15 Orang

2. Metode Gillies

Gillies (1994) menjelaskan rumus kebutuhan tenaga keperawatan di suatu


unit perawatan adalah sebagai berikut :

Jumlah jam perawatan yg dibutuhkan klien perhari x rata rata klien per hari x
jumlah hari pertahun

Jumlah hari/tahun - jumlah hari libur masing masing perawat x jumlah jam kerja
tiap perawat

= jumlah jam keperawatan yang dibutuhkan pertahun

12
Jumlah jam keperawatan yang diberikan perawat per tahun

= jumlah satu perawat disuatu unit

PRINSIP PERHITUNGAN RUMUS GILLIES

Jumlah Jam keperawatan yang dibutuhkan klien perhari adalah :

1.) waktu keperawatan langsung (rata rata 4 -5 jam/klien/hari) dengan


spesifikasi pembagian adalah : keperawatan mandiri (self care) = ¼ x 4 =
1 jam, keperawatan partial (partial care) = ¾ x 4 = 3 jam, keperawatan
total (total care) = 1-1.5 x 4 = 4-6 jam dan keperawatan intensif (intensive
care) = 2 x 4 jam = 8 jam.
2.) Waktu keperawatan tidak langsung menurut RS Detroit (Gillies, 1994) =
38 menit/klien/hari menurut Wolfe & Young ( Gillies, 1994) = 60
menit/klien/hari = 1 jam/klien/hari
3.) Waktu penyuluhan kesehatan lebih kurang 15 menit/hari/klien = 0,25
jam/hari/klien
4.) Rata rata klien per hari adalah jumlah klien yang dirawat di suatu unit
berdasarkan rata-rata biaya atau menurut Bed Occupancy Rate (BOR)
dengan rumus :
Jumlah hari perawatan RS dalam waktu tertentu x 100 %

Jumlah tempat tidur x 365 hari

 Jumlah hari pertahun yaitu : 365 hari.


 Hari libur masing-masing perawat per tahun, yaitu: 73hari (hari
minggu/libur= 52 hari) (untuk hari sabtu tergantung kebijakan rumah sakit
setempat, kalau ini merupakan hari libur maka harus diperhitungkan ,
begitu juga sebalikny ),
 hari libur nasional = 13 hari, dan cuti tahunan = 8 hari).

13
 Jumlah jam kerja tiap perawat adalah 40 jam per minggu ( kalau hari kerja
efektif 6 hari maka 40/6 = 6.6 = 7 jam per hari, kalau hari kerja efektif 5
hari maka 40/5 = 8 jam per hari)
 Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan disatu unit harus ditambah
20% (untuk antisipasi kekurangan /cadangan ).
 Perbandingan profesional berbanding dengan vocasional = 55% : 45 %

PERHITUNGAN METODE GILLIES DI RUANG PERAWATAN II :

a. Jumlah Jam Keperawatan Langsung


Ketergantungan Minimal : 1 orang x 1 jam = 1 jam
Ketergantungan Parsial : 15 orang x 3 jam = 45 jam
Ketergantungan Total : 7 orang x 6 jam = 42 jam
Jumlah jam = 1 jam + 45 jam + 42 jam = 88 jam

b. Jumlah Keperawatan Tidak Langsung


23 orang klien x 1 jam = 23 jam

c. Pendidikan Kesehatan = 23 orang klien x 0,25 = 5,75 jam


Sehingga jumlah total jam keperawatan per klien per hari :
88 jam + 23 jam + 5,75 jam = 5,07 (5 jam)
23 orang
Jumlah tenaga yang dibutuhkan :
5,07 x 23 x 365 = 42.562,65 = 18,22 (18 orang)
(365 – 73) x 8 2336

Untuk cadangan = 20% menjadi 18 x 20% = 3,6 (4 orang)

Jadi jumlah tenaga yang dibutuhkan secara keseluruhan : 18 + 4 = 22 orang/hari

Perbandingan professional berbanding dengan vocasional : 55% : 45% = 12 : 10

14
2.2.4 Kajian Indikator Mutu Ruangan (BOR, LOS, TOI, BTO)

Indikator-indikator pelayanan rumah sakit dapat dipakai untuk mengetahui


tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan rumah sakit. Indikator-
indikator berikut bersumber dari sensus harian rawat inap :

1. BOR (Bed Occupancy Ratio = Angka penggunaan tempat tidur

BOR menurut Huffman (1994) adalah “the ratio of patient service days to
inpatient bed count days in a period under consideration”. Sedangkan menurut
Depkes RI (2005), BOR adalah prosentase pemakaian tempat tidur pada satuan
waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat
pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Nilai parameter BOR yang ideal adalah
antara 60-85% (Depkes RI, 2005).

Rumus :

BOR = (Jumlah hari perawatan rumah sakit / (Jumlah tempat tidur X Jumlah hari dalam
satu periode)) X 100%

2. AVLOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)

AVLOS menurut Huffman (1994) adalah “The average hospitalization stay of


inpatient discharged during the period under consideration”. AVLOS menurut
Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini
disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan
gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat
dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. Secara umum nilai
AVLOS yang ideal antara 6-9 hari (Depkes, 2005).

Rumus :

AVLOS = Jumlah lama dirawat / Jumlah pasien keluar (hidup + mati)

15
3. TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran)

TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak
ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini memberikan
gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong
tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.

Rumus :

TOI = ((Jumlah tempat tidur X Periode) – Hari perawatan) / Jumlah pasien keluar
(hidup + mati)

4. BTO (Bed Turn Over = Angka perputaran tempat tidur)

BTO menurut Huffman (1994) adalah “...the net effect of changed in


occupancy rate and length of stay”. BTO menurut Depkes RI (2005) adalah
frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur
dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Idealnya dalam satu tahun, satu tempat
tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.

Rumus :

BTO = Jumlah pasien keluar (hidup + mati) / Jumlah tempat tidur

5. GDR (Gross Death Rate)

GDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian umum untuk setiap
1000 penderita keluar.

Rumus :

GDR = ( Jumlah pasien mati seluruhnya / Jumlah pasien keluar (hidup + mati)) X
1000 ‰

16
PERHITUNGAN INDIKATOR MUTU LAYANAN PERAWATAN II

Keterangan :

- Jumlah hari perawatan dalam 1 bulan Oktober 2018 = 769 hari


- Jumlah bed perawatan II = 36 Bed
- Jumlah dalam satu periode = 30
- Jumlah pasien keluar dalam 1 bulan Oktober 2018 = 195 orang

1. BOR

BOR = 769 / (36 x 30) X 100% = 769 / 1.080 X 100% = 7.900 / 1.080 = 71,2%

(Nilai BOR ideal menurut Depkes RI, 2005)

2. AVLOS

AVLOS = 769 / 195 = 3,9 (4 hari)

(Nilai AVLOS masih dibawah ideal menurut Depkes RI,2005)

3. TOI

TOI = (36 x 30) – 769 / 195 = 1.080 – 769 / 195 = 311 / 195 = 1,59 = 2 hari

(Nilai TOI Ideal menurut Depkes RI, 2005)

4. BTO

BTO = 195 / 36 = 5,4 = 5 kali dalam 1 bulan

Jika dijadikan dalam 1 tahun, maka : 5 x 12 bulan = 60x / tahun

(Nilai BTO dalam 1 tahun melebihi nilai pemakaian ideal menurut Depkes
RI, 2005)

5. GDR

Tidak ada pasien mati dalam 1 bulan oktober 2018

17
2.2.5 Hasil Kajian Situasional di Ruangan Perawatan II (berdasarkan
kuisioner)

1. Kuisioner untuk Perawat


 Kuisioner Motivasi Kerja Perawat

No. Motivasi Kerja Perawat Frekuensi Persentase


1. Tinggi 4 orang 25%
2. Rendah 12 orang 75%
Interprestasi:

“ Berdasarkan hasil data kuisioner di perawatan II bahwa nilai motivasi


kerja tinggi sebanyak 4 orang atau 25%, sedangkan motivasi kerja rendah
sebanyak 12 orang atau 75%”

 Kuisioner Pendokumentasian Askep

No. Pendokumentasian Askep Frekuensi Persentase


1. Baik 13 orang 81 %
2. Kurang Baik 3 orang 19 %
Interprestasi:

“ Berdasarkan hasil data kuisioner di perawatan II bahwa nilai


pendokumentasian askep yang baik sebanyak 13 orang atau 81%, sedangkan
penokumentasian kurang baik sebanyak 3 orang atau 19%”

 Kuisioner Penilaian Tentang Gaya Kepemimpinan Kepala Ruang

No. Gaya Kepemimpinan Karu Frekuensi Persentase


1. Partisipatif tinggi 15 orang 94 %
2. Partisipatif rendah 1 orang 6%
Interpretasi:

“ Berdasarkan hasil data kuisioner di perawatan II bahwa nilai gaya


kepemimpinan kepala ruangan partisipatif tinggi sebanyak 15 orang atau

18
94%, sedangkan gaya kepemimpinan kepala ruangan partisipatif rendah
sebanyak 1 orang atau 6%”

 Kuisioner Perawat Tentang Kepuasan Kerja

No. Kepuasan Kerja Frekuensi Persentase


1. Puas 12 orang 25 %
2. Kurang puas 4 orang 75%
Interprestasi:

“ Berdasarkan hasil data kuisioner di perawatan II bahwa nilai kepuasan


kerja perawat yang puas sebanyak 12 orang atau 75%, sedangkan kepuasan
kerja perawat yang kurang puas sebanyak 4 orang atau 25%”

2. Kuisioner untuk Pasien


 Kuisioner Kepuasan Pasien Terhadap Layanan

No. Kepuasan Pasien Frekuensi Persentase


1. Puas 23 orang 100 %
2. Kurang puas 0 orang 0%
Interprestasi:

“ Berdasarkan hasil data kuisioner di perawatan II bahwa nilai kepuasan


pasien terhadap layanan yang puas sebanyak 23 orang atau 100%,
sedangkan kepuasan pasien terhadap layanan yang kurang puas sebanyak 0
orang atau 0%”

 Kuisioner Kinerja Perawat

No. Kinerja Perawat Frekuensi Persentase


1. Perawat baik 20 orang 87 %
2. Perawat kurang baik 3 orang 13 %

19
Interprestasi:

“ Berdasarkan hasil data kuisioner di perawatan II bahwa nilai kinerja


perawat baik sebanyak 20 orang atau 87%, sedangkan kinerja perawat
kurang baik sebanyak 3 orang atau 13%”

3. Kuisioner untuk Mahasiswa


 Kuisioner Observasi Pelaksanaan Timbang Terima

No. Pelaksanaan Timbang Terima Frekuensi Persentase


1. Sesuai prosedur 1 orang 11 %
2. Tidak sesuai prosedur 8 orang 89 %
Interprestasi:

“ Berdasarkan hasil data kuisioner di perawatan II bahwa yang menilai


pelaksanaan timbang terima sesuai prosedur sebanyak 1 orang atau 11%,
sedangkan pelaksanaan timbang terima tidak sesuai prosedur sebanya 8
orang atau 89%”

20
BAB III

ANALISIS DATA DAN PERENCANAAN

3.1 Analisis Data

PRIORITAS MASALAH

Manage Nursing Afford


Magnitude Saverity
No. Masalah Ability Consent Ability Total
(MG) (SV)
(MA) (NS) (AF)
1. Belum memiliki
visi dan misi 5 3 4 3 2 17
ruang
2. Masih kurangnya
pelatihan-
pelatihan yang 3 5 5 5 3 21
diikuti oleh
perawat
3. Indikator mutu
ruangan (AVLOS
& BTO) yang
4 5 5 5 3 22
tidak ideal
berdasarkan
Depkes RI, 2005
4. Kajian
Situasional
mengenai
motivasi kerja
4 5 5 5 3 22
perawat masih
banyak yang
rendah.

21
5. Pelaksanaan
timbang terima
belum maksimal,
yakni perawat
shift sebelumnya 5 4 5 5 2 21
tidak
memperkenalkan
perawat pengganti
kepada pasien.

KETERANGAN :

1. MAGNITUDE (MG) : Sering terjadinya masalah tersebut


2. SAVERITY (SV) : Besarnya kerugian yang ditimbulkan dari
masalah tersebut jika tidak diatasi
3. MANAGE ABILITY (MA) : Seberapa besar masalah tersebut berfokus pada
keperawatan
4. NURSING CONSENT (NS) : Seberapa besar masalah tersebut melibatkan
pertimbangan dan perhatian keperawatan
5. AFFORD ABILITY : Ketersediaan SDM untukmengatasi masalah
terebut

SKOR PENILAIAN :

1. : Sangat lemah
2. : Lemah
3. : Sedang
4. : Kuat
5. : Sangat kuat

22