You are on page 1of 15

DAFTAR ISI

Table of Contents
DAFTAR ISI...............................................................................................................................................1
BAB I..........................................................................................................................................................2
PENDAHULUAN.......................................................................................................................................2
1.1 Latar Belakang..................................................................................................................................2
1.2 Tujuan................................................................................................................................................2
BAB II.........................................................................................................................................................3
PEMBAHASAN.........................................................................................................................................3
2.1Definisi...............................................................................................................................................3
2.2. Etiologi........................................................................................................................................3
2.3. Patofisiologi................................................................................................................................3
2.4. Macam-Macam Crista Ovarii......................................................................................................4
2.5. Tanda dan Gejala.....................................................................................................................5
2.6. Penatalaksanaan..........................................................................................................................6
2.7. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul...............................................................................6
2.8.Rencana Asuhan Keperawatan...........................................................................................................7
Managemen Nyeri.....................................................................................................................................7
Kelola terapi sesuai order........................................................................................................................12
BAB III......................................................................................................................................................13
PENUTUP.................................................................................................................................................13
3.1 Kesimpulan.....................................................................................................................................13
Daftar Pustaka...........................................................................................................................................14
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kanker epitel ovarium atau dikenal dengan kanker indung telur yang berasal dari sel
epitel merupakan 90% kasus dari seluruh kanker indung telur.Kanker indung telur
merupakan penyebab kematian ke-5 terbanyak di Amerika Serikat dan merupakan salah satu
dari 7 keganasan tersering di seluruh dunia. Kanker indung telur memiliki angka kematian
yang tinggi, dari 23.100 kasus baru kanker indung telur, sekitar 14.000 atau separuh lebih
wanita meninggal karena penyakit ini. Kanker epitel ovarium jarang didapatkan pada wanita
berusia < 40 tahun. Puncaknya terjadi pada wanita usia 60-64 tahun. Angka kejadian kanker
epitel ovarium rendah pada negara berkembang dan Jepang.
Diagnosis menderita kanker ovarium sudah memasuki 60% wanita ditahap lanjut dari
penyakit ini. Pada umumnya tidak didapatkan gejala dini pada kanker ini, seandainya ada
biasanya samar-samar.Gejala tersebut termasuk diantaranya nyeri pada panggul, kembung,
mudah lelah, penurunan berat badan, konstipasi (sembelit), perdarahan menstruasi yang
tidak teratur. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya suatu massa atau benjolan pada
panggul merupakan tanda yang perlu dicurigai.

1.2 Tujuan
a. Untuk mengetahui definisi kanker ovarium
b. Untuk mengetahui etiologi dari kanker ovarium
c. Untuk mengetahui patofisiologi dari kanker ovarium
d. Untuk mengetahui macam – macam dari kanker ovarium
e. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari kanker ovarium
f. Untuk mengethaui penatalaksanaan dari kanker ovarium
g. Untuk mengetahui diagnose dari kanker ovarium
h. Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari kanker ovarium
BAB II

PEMBAHASAN

2.1Definisi

Kanker induk telur atau kanker ovarium adalah tumor ganas pada ovarium (indung
telur) yang paling sering ditemukan pada wanita berusia 50-70 tahun. Kanker ovarium bisa
menyebar kebagian lain, panggul, dan perut melalui sistem getah bening dan melalui
pembuluh darah menyebar ke hati & paru-paru. Kanker ovarium sangat sulit di diagnosa dan
kemungkinan kanker ovarium ini merupakan awal dari banyak kanker primer.

2.2. Etiologi

· Pertumbuhan abnormal dari folikel ovarium, korpus luteum maupun sel telur.
· Faktor genetik
· Faktor diet dengan nilai gizi rendah
· Abses

2.3. Patofisiologi

Ovarium sebagai tempat berkembangnya kista yang paling sering terjadi.Hal ini
terjadi karena adanya pembesaran secara patologis yang sederhana dari unsur-unsur pokok
ovarium yang normal, folikel degraaf/corpus luteum, yang berasal dari pertumbuhan yang
tidak normal pada efitel ovarium.
Secara klinis, kista dimanifestasikan oleh sesuatu yang jelas seperti massa pada
ovarium, mungkin ada nyeri pada abdominal bagian bawah yang akut/kronis. Kista yang
lebih besar bisa mengakibatkan pembengkakan pada daerah abdominal dan menekan organ-
organ lain yang berdekatan dengan kista.
2.4. Macam-Macam Crista Ovarii

a. Cistoma Ovarii Non Neoplastik
Kista ini berasal dari folikel yang menjadi besar semasa proses afresia folliculi. Setiap
bulan, sejumlah besar folikel manjadi mati disertai kematian ovum, disusul dengan
degenerasi dan epitel folikel, pada masa ini tampak sebagai kista-kista kecil.Tidak jarang
ruangan folikel diisi dengan cairan yang banyak, sehingga terbentuklahkista yang besar.Pada
pemeriksaan klinis, biasanya besarnya tidak melebihi sebuah jeruk.

· Gejala-gejala
Kista ini tidak memberikan yang karakteristik, bahkan kadang-kadang terjadi ruptur
secara spontan.
· Diagnosa Medis
Diagnosa hanya dapat ditentukan palpasi, tetapi dapat ditentukan dengan hanya sekali
pemeriksaan.Kecuali bila ukurannya sangat besar.Sebaiknya dilakukan observasi
beberapa minggu lagi dan tidak jarang kista tersebut mengecil lagi.
· Tatalaksana Therapi
Bila kista kecil bisa dilakukan dengan punksi/eksisi dan bila besar sebaiknya dioperasi
dengan meninggalkan jaringan ovarium yang normal.
b. Cistoma Ovarii Neoplastik
Jenis ini dapat mencapai ukuran besar
 Gejala-gejala
Tidak ada yang bersifat khas, terhadap siklus haid tidak ada pengaruh yang
jelas.Kadang terjadi hypomenorhoe bila kedua ovarium itu membesar.Hal ini
disebabkan rusaknya kedua jaringan ovarium.Bila tumor agak besar terasa perasaan
berat dan sakit.

 Diagnosa Medis
Walaupun pada umumnya diagnosa tumor ovarii mudah, tetapi ada kasus-kasus
yang sukar dibedakan dengan keadaan atau penyakit lain, misalnya :
- Kehamilan
Dapat dibedakan dengan reaksi biologis, rontgen, auskultasi.
- Ascites
Pada tumor ovarium akan ditemukan daerah pekak didepan dan tympani
disamping, sedang pada ascites sebaliknya.
- Myoma Uteri
Bila tumor masih kecil, kadang-kadang sukar dibedakan antara
keduanya.Perbedaannya jika pada tumor ovarium dapat dirasakan bahwa tumor
tersebut dapat dipisahkan dari uterus.
- Perut Gemuk
Dapat dibedakan dengan perkusi dan pemeriksaan dalam.

 Tatalaksana Therapi
Penanganan terdiri atas pengangkatan tumor.Jika pada operasi tumor sudah cukup
besar, sehingga tidak tampak banyak sisa ovarium yang normal.Biasanya dilakukan
pengangkatan ovarium bersama tuba.

2.5. Tanda dan Gejala
1. Akibat pertumbuhan
 Menimbulkan rasa berat di abdomen
 Mengganggu miksi dan defekasi
 Gangguan sirkulasi → oedema tungkai
 Bila kista besar, sesak dan anoreksia
2. Akibat perubahan hormonal
 Aminorea
 Oligominorea
 Infertilities

3. Akibat komplikasi pada tumor
 Perdarahan intrakista
 Hipertermi, dolor, fungsiolesa
 Ascites

2.6. Penatalaksanaan
1. Operasi
Pengangkatan kista dengan reaksi pada bagian ovarium yang mengandung kista.Bila
kista terlalu besar dilakukan salpingooforektomi. Operasi konservatif bagi wanita
yang masih ingin mempunyai keturunan dapat dilakukan dengan syarat :
o Kapsul utuh tidak ada perlekatan
o Sistologi perineum negatif, biopsy ovarium sisi lain negatif
o Pelvis normal
2. Kemoterapi
3. Radiasi

2.7. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (insisi pembedahan).
2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan darah yang berlebihan
selama tindakan pembedahan.
3. Kerusakan mobilitas di tempat tidur berhubungan dengan kelemahan fisik
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik.
5. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif, insisi post pembedahan.
6. PK Perdarahan

2.8.Rencana Asuhan Keperawatan

No Diagnosa NOC NIC
Keperawatan
1 Nyeri akut NOC : Managemen Nyeri
berhubungan  Pain Level
Kaji nyeri secara
dengan agen  Pain control
komprehensif termasuk
injuri (insisi  Comfort level
lokasi, karakteristik,
pembedahan)
durasi, frekuensi, kualitas
dan faktor presipitasi
Kriteria Hasil : Observasi reaksi nonverbal
 Mampu mengontrol nyeri dari ketidaknyamanan
(tahu penyebab nyeri, Ajarkan tentang teknik non
mampu menggunakan farmakologi, tehnik
tehnik nonfarmakologi relaksasi
untuk mengurangi nyeri, Berikan analgetik untuk
mencari bantuan) mengurangi nyeri
 Melaporkan bahwa nyeri Tingkatkan istirahat
berkurang dengan Kolaborasikan dengan
menggunakan manajemen dokter jika ada keluhan
nyeri dan tindakan nyeri tidak
 Wajah rileks berhasil
 Menyatakan rasa nyaman Monitor penerimaan
setelah nyeri berkurang pasien tentang manajemen
 Tanda vital dalam rentang nyeri
normal
Managemen lingkungan
Batasi pengunjung
Sediakan tempat tidur yang
nyaman dan bersih
Perhatikan hygiene pasien
untuk menjaga
kenyamanan
Atur posisi pasien yang
nyaman
2 Resiko defisit NOC: Fluid management
volume cairan  Fluid balance Monitor status hidrasi
berhubungan  Hydration (kelembaban membran
dengan  Nutritional Status : mukosa, nadi adekuat,
kehilangan Food and Fluid Intake tekanan darah ortostatik),
darah yang jika diperlukan
berlebihan Kriteria Hasil : Monitor hasil lab yang
selama tindakan  Mempertahankan urine sesuai dengan retensi
pembedahan. output sesuai dengan usia cairan (BUN, Hmt,

dan BB, BJ urine normal, osmolalitas urin)

HT normal Monitor vital sign
Monitor masukan
 Tekanan darah, nadi, suhu
makanan/cairan dan
tubuh dalam batas normal
hitung intake kalori harian
 Tidak ada tanda tanda
Monitor status nutrisi
dehidrasi, Elastisitas
Berikan cairan
turgor kulit baik,
Berikan diuretik sesuai
membran mukosa
interuksi
lembab, tidak ada rasa
Dorong masukan oral
haus yang berlebihan
Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan
Kolaborasi dokter jika
tanda cairan berlebih
muncul meburuk
Atur kemungkinan tranfusi
Persiapan untuk tranfusi
3 Kerusakan NOC : Tingkat Mobilitas
mobilitas di  Mobility level Kaji tingkat mobilitas klien
tempat tidur secara terus menerus
berhubungan Kriteria Hasil : Kaji kekuatan otot dan
dengan  Melakukan rentang mobilitas sendi
kelemahan fisik pergerakan penuh seluruh Latih rentang pergerakan

sendi aktif/pasif untuk

 Klien dapat miring kanan memperbaiki kekuatan

maupun miring kiri dan daya tahan otot
Latih tehnik membalik dan
 Berbalik sendiri di tempat
tidur memperbaiki kesejajaran
 Klien dapat duduk tubuh
4 Defisit NOC : Self Care assistane :
perawatan diri  Self care : Activity of ADLs
berhubungan Daily Living (ADLs) Monitor kemempuan klien
dengan untuk perawatan diri yang
kelemahan fisik. Kriteria Hasil : mandiri.

 Klien terbebas dari bau Monitor kebutuhan klien

badan untuk alat-alat bantu

 Menyatakan kenyamanan untuk kebersihan diri,

terhadap kemampuan berpakaian, berhias,

untuk melakukan ADLs toileting dan makan.

 Dapat melakukan ADLS Sediakan bantuan sampai

dengan bantuan klien mampu secara utuh
untuk melakukan self-
care.
Dorong klien untuk
melakukan aktivitas
sehari-hari yang normal
sesuai kemampuan yang
dimiliki.
Dorong untuk melakukan
secara mandiri, tapi beri
bantuan ketika klien tidak
mampu melakukannya.
Ajarkan klien/ keluarga
untuk mendorong
kemandirian, untuk
memberikan bantuan
hanya jika pasien tidak
mampu untuk
melakukannya.
Berikan aktivitas rutin
sehari- hari sesuai
kemampuan.
Pertimbangkan usia klien
jika mendorong
pelaksanaan aktivitas
sehari-hari.
5 Resiko infeksi NOC : Kontrol infeksi
berhubungan  Immune Status Bersihkan lingkungan
dengan tindakan  Knowledge : Infection setelah dipakai pasien lain
invasif, insisi control Pertahankan teknik isolasi
post  Risk control Batasi pengunjung bila
pembedahan. perlu

Kriteria Hasil : Instruksikan pada
pengunjung untuk
 Klien bebas dari tanda
mencuci tangan saat
dan gejala infeksi
berkunjung dan setelah
 Mendeskripsikan proses
berkunjung meninggalkan
penularan penyakit, factor
pasien
yang mempengaruhi
Gunakan sabun
penularan serta
antimikrobia untuk cuci
penatalaksanaannya,
tangan
 Menunjukkan
Cuci tangan setiap sebelum
kemampuan untuk
dan sesudah tindakan
mencegah timbulnya
keperawatan
infeksi
Gunakan sarung tangan
 Jumlah leukosit dalam
sebagai alat pelindung
batas normal
Pertahankan lingkungan
 Menunjukkan perilaku
aseptik selama perawatan
hidup sehat
Tingkatkan intake nutrisi
Berikan terapi antibiotik
bila perlu

Proteksi terhadap
infeksi
Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal
Monitor kerentanan
terhadap infeksi
Batasi pengunjung
Pertahankan teknik isolasi
k/p
Inspeksi kulit dan
membran mukosa
terhadap kemerahan,
panas, drainase
Inspeksi kondisi luka /
insisi bedah
Dorong masukkan nutrisi
yang cukup
Dorong istirahat
Instruksikan pasien untuk
minum antibiotik sesuai
resep
Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan gejala
infeksi
Ajarkan cara menghindari
infeksi
Laporkan kecurigaan
infeksi
Laporkan kultur positif
6 PK Perdarahan NOC: Pencegahan sirkulasi
Perdarahan berhenti Lakukan penilaian
menyeluruh tentang
Kriteria hasil : sirkulasi
 Luka sembuh kering, Lakukan perawatan luka
bebas pus, tidak meluas dengan hati-hati dengan

 HB tidak kurang dari 10 menekan daerah luka

gr dl dengan kassa steril dan
tutup dengan tehnik
aseptik
Kelola terapi sesuai order
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Tidak didapatkan gejala dini pada kanker ini, seandainya ada biasanya samar-
samar.Gejala tersebut termasuk diantaranya nyeri pada panggul, kembung, mudah lelah,
penurunan berat badan, konstipasi (sembelit), perdarahan menstruasi yang tidak teratur. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan adanya suatu massa atau benjolan pada panggul merupakan
tanda yang perlu dicurigai.
Gejala yang menekan kandung kemih atau rektum, misalnya frekuensi urin dan
konstipasi, dapat menyebabkan pasien pergi ke dokter.Kadang-kadang pasien mengeluh
suatu “rasa penuh” pada perut bagian bawah atau pelvis atau dispareunia.Jarang sekali pasien
mengalami gejala akut, misalnya nyeri akibat torsi, ruktura, atau perdarahan intrakistik.Pada
stadium penyakit yang parah, pasien merasakan nyeri atau pembengkakan perut.Yang
belakanagan ini dapat diakibatakan oleh tumor itu sendiri atau akibat asites yang
menyertainya.
Pemeriksaan pelvis bersifat kritis bagi diagnosis kanker ovarium.Penyakit itu sering salah
didiagnosis selama beberapa bulan karena pasien dengan gejala perut yang nonspesifik tidak
mendapat pemeriksaan vagina dan rektum. Suatu massa pelvis yang padat, tidak teratur dan
menetap sangat mendukung adanya kanker ovarium, dan jika dikombinasi dengan massa
perut bagian atas, asites atau keduanya, diagnosis hampir dapat dipastikan. Pada seorang
wanita setelah dua tahun atau lebih pasca menopause, setiap masa ovarium yang teraba perlu
dicurigai, karena ovarium akan mengalami atrofi dan secara klinik tidak teraba. Keadaan ini
disebut sebagai sindroma ovarium yang teraba pasca menopause.
Daftar Pustaka

Arif, M (et al.), (2000), Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Cet 1, Jakarta : Media Aesculapius

Johnson [et al.], (2000), Nursing Outcomes Classification, second edition, By Mosby0Year
book. Inc, New York

Manuaba, (1998), Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & KB, Jakarta : EGC

Mc Closkey & Buleheck, (1996), Nursing Interventions Classification, second edition, By
Mosby0Year book. Inc, New York

Mochtar, R. (1998), Sinopsis Obstetri, Jilid 1, Jakarta : EGC

Nanda, 2001-2002, Nursing Diagnosis : Definitions and Classification, Philadelphia, USA