You are on page 1of 14

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA
1.1 . Definisi
Urolithiasis adalah suatu kondisi dimana dalam saluran kemih individu
terbentuk batu berupa kristal yang mengendap dari urin (Mehmed Ender, 2015).
Urolithiasis merupakan kumpulan batu saluran kemih, namun secara rinci ada
beberapa penyebutannya. Berikut ini adalah istilah penyakit batu bedasarkan letak
batu antara lain: (Prabawa & Pranata, 2014):
1. Nefrolithiasis disebut sebagai batu pada ginjal
2. Ureterolithiasis disebut batu pada ureter
3. Vesikolithiasis disebut sebagai batu pada vesika urinaria/ batu buli
4. Uretrolithisai disebut sebagai abtu ureter

1.2 Anatomi
Ureter adalah suatu saluran muskuler berbentuk silinder yang menghantarkan urin
dari ginjal menuju kandung kemih. Panjang ureter adalah sekitar 20-30 cm dengan
diameter maksimum sekitar 1,7 cm di dekat kandung kemih dan berjalan dari hilus
ginjal menuju kandung kemih. Ureter dibagi menjadi pars abdominalis, pelvis, dan
intravesikalis. Dindingnya terdiri atas mukosa yang dilapisi oleh sel-sel transisional,
otot-otot polos sirkuler dan longitudinal yang dapat melakukan gerakan peristaltik
(berkontraksi) guna mengeluarkan urine ke buli-buli. Secara anatomis terdapat
beberapa tempat yang ukuran diameternya relative lebih sempit daripada di tempat lain
Sehingga batu atau benda-benda lain yang berasal dari ginjal seringkali tersangkut.
Tempat-tempat penyempitan itu antara lain adalah :
a. Pada perbatasan antara pelvis renalis dan ureter atau pelvi-ureter junction
b. Tempat ureter menyilang arteri iliaka di rongga pelvis
c. Pada saat ureter masuk ke buli-buli
Sistem perdarahan ureter bersifat segmental dan berasal dari pembuluh arteri ginjal,
gonad, dan buli-buli dengan hubungan kolateral kaya sehingaa umumnya perdarahan
tidak terancam pada tindak bedah ureter. Persyarafan ureter bersifat otonom .
1.3 ETIOLOGI
Berikut ini beberapa teori pembentukan batu ginjal:
a. Teori Pembentukan Inti Teori ini mengatakan bahwa pemebentukan batu berasal
dari kristal atau benda asing yang berada dalam urin yang pekat. Teori ini ditentang
oleh beberapa argumen, dimana dikatakan bahwa batu tidak selalu terbentuk pada
pasien dengan hipereksresi atau mereka dengan resiko dehidrasi. Teori inti matrik
dimana pembentukan batu saluran kemih membutuhkan adanya substansi organik
terutama muko protein A mukopolisakarida yang akan mempermudah kristalisasi
dan agregasi substansi pembentuk batu.
b. Teori Supersaturasi Peningkatan dan kejenuhan substansi pembentukan batu dalam
urin seperti sistin, xastin, asam urat, kalsium oksalat mempermudah terbentuknya
batu. Kejenuhan ini juga sangat dipengaruhi oelh pH dan kekuatan ion.
c. Teori Presipitasi-kristalisasi Perubahan pH urin akan mempengaruhi solubilitas
susbstansi dalam urin. Di dalam urin yang asam akan mengendap sistin, zastin, asam
urat, sedangkan didalam urin yang basa akan mengendap garam-garam fosfat.
d. Teori Berkurangnya Faktor Penghambat Tidak adanya atau berkurangnya substansi
penghambat pembentukan batu seperti fosfopeptida, pirofosfat, polifosfat, asam
mukopolisakarida dalam urin akan mempermudah pembentukan batu urin. Akan
tetapi teori ini tidaklah benar secara absolut, karena banyak orang yang kekurangan
zat penghambat tak pernah menderita batu, dan sebaliknya mereka yang memiliki
faktor penghambat malah membentuk batu.
e. Teori Lain Berkurangnya volume urin. Dimana kekurangan cairan akan
menyebabkan peningkatan konsentrasi zat terlarut (misal kalsium, natrium, oksalat
dan protein) yang mana ini dapat menimbulkan pembentukan kristal urin.
Selain itu juga terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan batu
ureter, yaitu:
a. Genetik Anggota keluarga penderita batu urin lebih banyak kemungkinan
menderita penyakit yang sama dibanding dengan keluarga bukan penderita batu
urin. Lebih kurang 30% sampai 40% penderita batu kalsium oksalat mempunyai
riwayat famili yang positif menderita batu.
b. Jenis Kelamin Pria lebih banyak menderita batu saluran kemih dibanding wanita
(3-4:1). Disebabkan oleh anatomis saluran kemih pada laki-laki lebih panjang
dibandingkan perempuan, secara alamiah didalam air kemih laki-laki kadar
kalsium lebih tinggi dibanding perempuan. Dan pada air kemih perempuan
kadar sitrat (inhibitor) lebih tinggi, laki-laki memiliki hormon testosteron yang
dapat meningkatkan produksi oksalat endogen di hati, serta adanya hormon
estrogen pada perempuan mampu mencegah agregasi garam kalsium.
c. Pekerjaan Kejadian batu kemih lebih banyak terjadi pada orang-orang yang
banyak duduk dalam melakukan pekerjaannya.
d. Air Banyak minum air meningkatkan diuresis sehingga mencegah pembentukan
batu. Kurang minum dapat mengurangi diuresis, kadar substansi dalam urin
meningkat, mempermudah pembentukan batu.
e. Diet Konsumsi makanan tinggi protein yang akan meningkatkan resiko
terjadinya batu. Konsumsi makanan tinggi protein yang berlebihan dan garam
atau antasida yang mengandung kalsium, produk susu, makananan yang
mengandung oksalat (misalnya teh, kopi instan, coklat, kacang-kacang, bayam),
vitamin C, atau vitamin D akan meningkatkan pembentukan batu kalsium.
Pemakaian vitamin D akan meningkatkan absobsi kalsium diusus dan tubulus
ginjal sehingga dapat menyebabkan hiperkalsemia dan penumpukan kalsium di
ginjal dan untuk konsumsi vitamin D ini harus digunakan dengan perawatan.
Makan makanan dan minuman yang mengandung purin yang berlebihan
(kerangkerangan, anggur) akan menyebabkan pembentukan batu asam urat
Makanan makanan yang banyak mengandung serat dan protein nabati
mengurangi resiko batu urin, sebaliknya makanan yang mengandung lemak dan
protein hewani akan meningkatkan resiko batu urin.
f. Infeksi Hampir terbentuknya batu jenis struvit didahului oleh infeksi saluran
kemih yang disebabkan oleh bakteri pemecah urea, namun jenis batu lain tidak
jelas apakah batu sebagai penyebab infeksi atau infeksi sebagai penyebab batu.
g. Obat-obatan Penggunaan obat anti hipertensi (Dyazide) berhubungan dengan
peningkatan frekuensi batu urin, begitu juga penggunaan antasida yang
mengandung silica berhubungan dengan perkembangan batu silica.

1.4 TANDA GEJALA
Gejala klinis yang dirasakan yaitu:
a. Nyeri Batu yang berada di ureter dapat menyebabkan nyeri yang luar biasa, akut dan
kolik. Nyeri ini dapat menjalar hingga ke perut bagian depan, perut sebelah bawah,
daerah inguinal, dan sampai ke kemaluan. Penderita sering ingin merasa berkemih,
namun hanya sedikit urine yang keluar, dan biasanya air kemih disertai dengan darah,
maka penderita tersebut mengalami kolik ureter. Nyeri kolik juga karena adanya
aktivitas peristaltik otot polos sistem kalises ataupun ureter meningkat dalam usaha
untuk mengeluarkan batu pada saluran kemih. Peningkatan peristaltik itu
menyebabkan tekanan intraluminalnya meningkat sehingga terjadi peregangan pada
terminal saraf yang memberikan sensasi nyeri (Purnomo, 2012).
Nyeri non kolik terjadi akibat peregangan kapsul ginjal karena terjadi
hidronefrosis atau infeksi pada ginjal (Purnomo, 2012) sehingga menyebabkan nyeri
hebat dengan peningkatan produksi prostglandin E2 ginjal (O’Callaghan, 2009).
Rasa nyeri akan bertambah berat apabila batu bergerak turun dan menyebabkan
obstruksi. Pada ureter bagian distal (bawah) akan menyebabkan rasa nyeri di sekitar
testis pada pria dan labia mayora pada wanita. Nyeri kostovertebral menjadi ciri
khas dari urolithiasis, khsusnya nefrolithiasis (Brunner & Suddart, 2015).
b. Hematuri Penderita sering mengeluh hematuria atau urin berwarna seperti teh.
Namun lebih kurang 10-15% penderita batu saluran kemih tidak menderita
hematuria.
Batu yang terperangkap di dalam ureter (kolik ureter) sering mengalami
desakan berkemih, tetapi hanya sedikit urin yang keluar. Keadaan ini akan
menimbulkan gesekan yang disebabkan oleh batu sehingga urin yang dikeluarkan
bercampur dengan darah (hematuria) (Brunner & Suddart, 2015).
c. Infeksi Biasanya dengan gejala-gejala menggigil, demam, nyeri pinggang, nausea
serta muntah dan disuria. Secara umum infeksi pada batu struvit (batu
infeksi) berhubungan dengan infeksi dari Proteus sp, Pseudomonas sp, Klebsiella sp,
dan jarang dengan E.colli.
Demam Hubungan batu urin dengan demam adalah merupakan kedaruratan
medik relatif. Tanda-tanda klinik sepsis adalah bervariasi termasuk demam, takikardi,
hipotensi dan vasodilatasi perifer. Demam akibat obstruksi saluran kemih
memerlukan dekompresi segera. Demam terjadi karena adanya kuman yang
menyebar ke tempat lain. Tanda demam yang disertai dengan hipotensi, palpitasi,
vasodilatasi pembuluh darah di kulit merupakan tanda terjadinya urosepsis.
Urosepsis merupakan kedaruratan dibidang urologi, dalam hal ini
harus secepatnya ditentukan letak kelainan anatomik pada saluran kemih yang
mendasari timbulnya urosepsis dan segera dilakukan terapi berupa drainase dan
pemberian antibiotik (Purnomo, 2012).
d. Mual dan Muntah Obstruksi saluran kemih bagian atas (ginjal dan ureter) seringkali
menyebabkan mual dan muntah .

1.5 PATOFISIOLOGI
Komposisi batu saluran kemih yang dapat ditemukan adalah dari jenis urat,
asam urat, oksalat, fosfat, sistin, dan xantin. Batu oksalat kalsium kebanyakan
merupakan batu idiopatik. Batu campuran oksalat kalsium dan fosfat biasanya juga
idiopatik; di antaranya berkaitan dengan sindrom alkali atau kelebihan vitamin D.
Batu fosfat dan kalsium (hidroksiapatit) kadang disebabkan hiperkalsiuria (tanpa
hiperkalsemia). Batu fosfat amonium magnesium didapatkan pada infeksi kronik
yang disebabkan bakteria yang menghasilkan urease sehingga urin menjadi alkali
karena pemecahan ureum. Batu asam urin disebabkan hiperuremia pada artritis
urika. Batu urat pada anak terbentuk karena pH urin rendah (R. Sjamsuhidajat, 1998
Hal. 1027). Pada kebanyakan penderita batu kemih tidak ditemukan penyebab yang
jelas. Faktor predisposisi berupa stasis, infeksi, dan benda asing. Infeksi, stasis, dan
litiasis merupakan faktor yang saling memperkuat sehingga terbentuk lingkaran
setan atau sirkulus visiosus. Jaringan abnormal atau mati seperti pada nekrosis
papila di ginjal dan benda asing mudah menjadi nidus dan inti batu. Demikian pula
telor sistosoma kadang berupa nidus batu (R. Sjamsuhidajat, 1998 Hal. 1027).
WOC terlampir

1.6 PENATALAKSANAAN
Tujuan dalam panatalaksanaan medis pada urolithiasis adalah untuk
menyingkirkan batu, menentukan jenis batu, mencegah penghancuran nefron,
mengontrol infeksi, dan mengatasi obstruksi yang mungkin terjadi (Brunner &
Suddart, 2015; Rahardjo & Hamid, 2004).
Batu yang sudah menimbulkan masalah pada saluran kemih secepatnya harus
dikeluarkan agar tidak menimbulkan penyulit yang lebih berat. Indikasi untuk
melakukan tindakan/ terapi pada batu saluran kemih adalah jika batu telah
menimbulkan obstruksi dan infeksi. Beberapa tindakan untuk mengatasi penyakit
urolithiasis adalah dengan melakukan observasi konservatif (batu ureter yang kecil
dapat melewati saluran kemih tanpa intervensi), agen disolusi (larutan atau bahan
untuk memecahkan batu), mengurangi obstruksi (DJ stent dan nefrostomi), terapi
non invasif Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), terapi invasif
minimal: ureterorenoscopy (URS), Percutaneous Nephrolithotomy,
Cystolithotripsi/ ystolothopalaxy, terapi bedah seperti nefrolithotomi, nefrektomi,
pyelolithotomi, uretrolithotomi, sistolithotomi (Brunner & Suddart, 2015; Gamal, et
al., 2010; Purnomo, 2012; Rahardjo & Hamid, 2004).
a. Medikamentosa Ditujukan untuk batu yang ukurannya < 5 mm, karena batu
diharapkan dapat keluar spontan. Terapi yang diberikan bertujuan mengurangi nyeri,
memperlancar aliran urine dengan pemberian diuretikum, dan minum banyak supaya
dapat mendorong batu keluar.
b. ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsi) Alat ESWL adalah pemecah batu
yang diperkenalkan pertama kali oleh Caussy pada tahun 1980. Alat ini dapat
memecah batu ginjal, batu ureter proksimal, atau batu buli-buli tanpa melalui
tindakan invasif atau pembiusan. Batu dipecah menjadi fragmen-fragmen kecil
dengan menggunakan gelombang kejut sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran
kemih. Terdapat 3 teknik yang digunakan untuk membangkitkan gelombang kejut,
yaitu elektrohidrolik, pizoelektrik dan energi elektromagnetik.
1) Energi elektrohidrolik. Teknik ini paling sering digunakan untuk membangkitkan
gelombang kejut. Pengisian arus listrik voltase tinggi terjadi melintasi sebuah
elektroda spark-gap yang terletak dalam kontainer berisi air. Pengisian ini
menghasilkan gelembung uap, yang membesar dan kemudian pecah,
membangkitkan gelombang energi bertekanan tinggi.
2) Energi pizoelektrik. Pada teknik ini, ratusan sampai ribuan keramik atau
kristal pizo dirangsang dengan denyut listrik energi tinggi. Ini menyebabkan
vibrasi atau perpindahan cepat dari kristal sehingga menghasilkan gelombang
kejut.
3) Energi elektromagnetik. Aliran listrik di alirkan ke koil elektromagnet pada
silinder berisi air. Lapangan magnetik menyebabkan membran metalik di
dekatnya bergetar sehingga menyebabkan pergerakan cepat dari membran yang
menghasilkan gelombang kejut.
Indikasi:
- Ukuran batu antara 1-3 cm atau 5-10 mm dengan gejala yang mengganggu
- Lokasi batu di ginjal atau ureter
- Tidak adanya obstruksi ginjal distal dari batu
- Kondisi kesehatan pasien memenuhi syarat
Kontraindikasi Absolut: Kontraindikasinya adalah infeksi saluran kemih akut,
gangguan perdarahan yang tidak terkoreksi, kehamilan, sepsis serta obstruksi
batu distal. Kontraindikasi Relatif:
- Status mental : Meliputi kemampuan untuk kerja sama dan mengerti prosedur
- Berat badan : >150 kg tidak memungkinkan gelombang kejut mencapai batu,
karena jarak antara F1 dan F2 melebihi spesifikasi lothotriptor. Pada penderita
seperti ini sebaiknya dilakukan simulasi lithotriptor terlebih dahulu
- Penderita dengan deformitas spinal atau orthopedik, ginjal ektopik dan atau
malformasi ginjal (meliputi ginjal tapal kuda) mungkin mengalami kesulitan
dalam pengaturan posisi yanng sesuai untuk ESWL. Selain itu, abnormalitas
drainase intrarenal dapat menghambat pengeluaran fragmen yang dihasilkan
oleh eSwl
- Masalah paru dan jantung yang sudah ada sebelumnya dan dapat diatasi
dengan anastesi
- Pasien dengan pacemaker (alat pacu jantung) aman diterapi dengan ESWL,
tetapi dengan perhatian dan pertimbangan khusus.
- Pasien dengan riwayat hipertensi, karena telah ditemukan peningkatan insidens
hematom perirenal pasca terapi.
- Pasien dengan gangguan gastrointestinal, karena dapat mengalami
eksaserbasi pasca terapi walaupun jarang terjadi
Persiapan sebelum ESWL:
- harus melalui serangkaian pemeriksaan laboratorium baik darah maupun urin
untuk melihat fungsi ginjal, jenis batu, dan kesiapan fisik pasien
- Pemeriksaan yang paling penting adalah rontgen atau USG untuk menentukan
lokasi batu dan kemungkinan jenisnya.
- meminum antibiotik untuk mencegah infeksi dan puasa minimal 4 jam
sebelumnya.
- hidrasi yang baik untuk memperlancar keluarnya batu yaitu minimal 2 liter air
sehari.
c. Endourologi Tindakan Endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk
mengeluarkan batu saluran kemih yang terdiri atas memecah batu, dan kemudian
mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang dimasukkan langsung ke
dalam saluran kemih. Alat itu dimasukkan melalui uretra atau melalui insisi kecil
pada kulit (perkutan). Proses pemecahan batu dapat dilakukan secara mekanik,
dengan memakai energi hidraulik, energi gelombang suara, atau dengan energi
laser. Beberapa tindakan endourologi antara lain:
1). PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) : mengeluarkan batu yang berada di
saluran ginjal dengan cara memasukkan alat endoskopi ke sistem kaliks
melalui insisi kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu.
2). Litotripsi : memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan memasukkan
alat pemecah batu (litotriptor) ke dalam buli-buli. Pecahan batu dikeluarkan
dengan evakuator Ellik.
3). Ureteroskopi atau uretero-renoskopi : memasukkan alat ureteroskopi per
uretram guna melihat keadaan ureter atau sistem pielokaliks ginjal. Dengan
memakai energi tertentu, batu yang berada di dalam ureter maupun sistem
pelvikalises dapat dipecah melalui tuntunan ureteroskopi atau uretero-
renoskopi ini.
4). Ekstraksi Dormia : mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya dengan
keranjang Dormia.
d. Bedah Laparoskopi Pembedahan laparoskopi untuk mengambil batu saluran kemih
saat ini sedang berkembang. Cara ini banyak dipakai untuk mengambil batu ureter.

1.7 KOMPLIKASI
Batu mungkin dapat memenuhi seluruh pelvis renalis sehingga dapat
menyebabkan obstruksi total pada ginjal, pasien yang berada pada tahap ini dapat
mengalami retensi urin sehingga pada fase lanjut ini dapat menyebabkan
hidronefrosis dan akhirnya jika terus berlanjut maka dapat menyebabkan gagal
ginjal yang akan menunjukkan gejala-gejala gagal ginjal seperti sesak, hipertensi,
dan anemia (Colella, et al., 2005; Purnomo, 2012). Selain itu stagnansi batu pada
saluran kemih juga dapat menyebabkan infeksi ginjal yang akan berlanjut menjadi
urosepsis dan merupakan kedaruratan urologi, keseimbangan asam basa, bahkan
mempengaruhi beban kerja jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh
(Colella, et al., 2005; Portis & Sundaram, 2001; Prabowo & Pranata, 2014).
BAB 2
ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 PENGKAJIAN
Pengkajian keperawatan pada ureterolithiasis tergantung pada ukuran, lokasi, dan
etiologi kalkulus (Doenges, 1999 Hal 672).
a. Aktivitas / istirahat
Gejala : pekerjaan monoton, pekerjaan di mana klien terpajan pada lingkungan
bersuhu tinggi, keterbatasan aktivitas / mobilitas sehubungan kondisi sebelumnya.
b. Sirkulasi
Tanda : peningkatan TD / nadi, (nyeri, obstruksi oleh kalkulus) kulit hangat dan
kemerahan, pucat.
c. Eliminasi
Gejala : riwayat adanya ISK kronis, penurunan haluaran urine, distensi vesica
urinaria, rasa terbakar, dorongan berkemih, diare.
Tanda : oliguria, hematuria, piuruia, perubahan pola berkemih
d. Makanan / cairan
Gejala : mual / muntah, nyeri tekan abdomen, diet tinggi purin, kalsium oksalat /
fosfat, ketidakcukupan intake cairan
Tanda : Distensi abdominal, penurunan / tidak ada bising usus , muntah
e. Nyeri / kenyamanan
Gejala : episode akut nyeri berat, lokasi tergantung pada lokasi batu, nyeri dapat
digambarkan sebagai akut, hebat, tidak hilang dengan perubahan posisi atau tindakan
lain
Tanda : melindungi, prilaku distraksi, nyeri tekan pada area abdomen
f. Keamanan
Gejala : pengguna alkohol, demam, menggigil
g. Penyuluhan dan Pembelajaran
Gejala : riwayat kalkulus dalam keluarga, penyakit ginjal, ISK, paratiroidisme,
hipertensi, pengguna antibiotik, antihipertensi, natrium bikarbonat, allopurinol,
fosfat, tiazid, pemasukan berlebihan kalsium dan vitamin h.
h. Pemeriksaan diagnostik Urinalisis, urine 24 jam, kultur urine, survey biokimia, foto
Rontgen, IVP, sistoureteroskopi, scan CT, USG
2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri akut
b. Gangguan Eliminasi Urin
c. Defisit pengetahuan
d. Ansietas

2.3 INTERVENSI
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1 Nyeri Akut Tujuan: Setelah dilakukan 1. Catat lokasi, karakteristik,
tindakan keperawatan durasi, frekuensi, kualitas,
selama 1x24 jam skala skala nyeri (0-
nyeri pasien menurun 10), penyebaran dan
Kriteria Hasil: faktor presipitasi.
 Nadi 60-100x/menit, Perhatikan tanda non
RR 16-20 x/menit verbal,
 skala nyeri 1-3 contoh peninggian TD
 pasien tampak rileks dan nadi, gelisah, merintih

 keluhan pasien tentang 2. Jelaskan penyebab nyeri

nyeri menurun dan pentingnya
melaporkan ke staf
terhadap perubahan
karakteristik nyeri
3. Bantu atau dorong
penggunaan
napas berfokus,
bimbingan imajinasi, dan
aktivitas terapeutik
4. Tingkatkan istirahat
5. Kolaborasi: -berikan obat
sesuai indikasi: Narkotik,
contoh meperidin
(Demerol), morfin
Antispasmodik, contoh
flavoksat (Uripas);
oksibutin (Ditropan)
Kortikosteroid
2 Gangguan Eliminasi Tujuan: Setelah dilakukan 1. Awasi pemasukan dan
Urin tindakan keperawatan pengeluaran serta
selama 1x24 jam skala karakteristik urin
nyeri pasien menurun 2. Dorong meningkatkan
Criteria hasil: pemasukan cairan
 Tidak mengalami tanda 3. Periksa semua urin. Catat
obstruksi adanya keluaran batu dan
 Jumlah dan konsistensi kirim ke laboratorium
urin normal untuk dianalisa
 Tidak ada peningkatan 4. Selidiki kandung kemih
kalsium pada urin penuh: palpasi untuk
distensi suprapubik.
Perhatikan penurunan
keluaran urin, adanya
edema periorbital/tergant
ung
5. Observasi perubahan
status mental, perilaku
atau tingkat kesadaran
6. Kolaborasi:
-Awasi pemeriksaan
laboratorium, contoh
elektrolit, BUN, kretinin
-Ambil urine untuk kultur
dan sensitivitas
-Pielolitotomi terbuka
atau perkutaneus,
nefrolitotomi,
ureterolitotomi
-ESWL
3 Defisit Pengetahuan Tujuan: Setelah dilakukan 1. Berikan penilaian tentang
tindakan keperawatan tingkat pengetahuan
selama 1x24 jam pasien tentang
gangguan eliminasi pasien proses penyakit yang
dapat teratasi spesifik
Criteria hasil: 2. Jelaskan patofisiologi
 Pasien mampu dari penyakit dan
mengenali tanda dan bagaiman hal ini
gejala penyakit dan berhubungan dengan
faktor penyebabnya, anatomi dan fisiologi
 Pasien mampu 3. Gambarkan tanda dan
mengetahui faktor gejala yang biasa
resiko dan yang muncul pada penyakit
memperberat penyakit 4. Identifikasi kemungkinan
nya penyebab dengan cara
 Pasien mampu yang tepat
mengetahui tindakan 5. Diskusikan pilihan terapi
pencegahan terhadap 6. Diskusikan perubahan
kondisi buruk gaya hidup (tidak
penyakitnya konsumsi vit D terlalu
sering dan tidak minum
air terlalu sedikit) untuk
mencegah komplikasi di
masa yang akan datang
dan atau
proses pengontrolan
penyakit
4 Ansietas Tujuan: setelah dilakukan 1. Kaji tingkat kecemasan
tindakan keperawatan pasien baik ringan
selama 3x 24jam cemas sampai berat
pasien akan menurun, 2. Berikan kenyaman dan
pasien mempunyai koping ketentraman hati
yang adaptif dalam 3. Kaji intervensi yang
menghadapi kecemasan dapat menurunkan
Kriteria hasil: ansietas.
 Pasien mampu 4. Berikan aktivitas yang
mengidentifikasi dan dapat mengurangi
mengungkapkan gejala kecemasan/ ketegangan.
cemas 5. Dorong percakapan
 Pasien mampu untuk mengetahui
mengidentifikasi dan perasaan dan tingkat
menunjukkan tekhnik kecemasan pasien
untuk mengontrol terhadap kondisinya
cemas 6. Dorong pasien untuk
 Ekspresi wajah mengakui masalah dan
pasienmenunjukkan mengekspresikan
berkurangnya perasaan.
kecemasan. 7. Identifikasi sumber /
 Vital sign dalam batas orang yang dekat dengan
normal: klien.
 TD: 120/80 mmHg
 RR: 20 x/mnt
 Nadi:86 x/mnt
 Suhu : 370 C
DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidajat, R. & Jong, Wim de. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC Susanne, C
Smelzer. 2005.

Nursalam, DR. M.Nurs,dkk.(2006). System Perkemihan. Jakarta : salemba medika

Keperawatan Medikal Bedah (Brunner &Suddart) , Edisi VIII, Volume 2, Jakarta, EGC, Pramod PR,
Barrieras DJ, Bagli DJ, et al. 2005.

Rencana Asuhan keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan
Pasien, Jakarta. EGC