You are on page 1of 119

LEMBAR PENGESAHAN

PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKTRIK

Disusun Oeh:

Nama: Josep V. H. Hulu
NIM: 14S16059
Kelas: 12 TE 2
Program Studi: S1-Teknik Elektro
Fakultas: FTIE
Tahun Ajaran: 2016

Diperiksa Oleh:

Asisten 1 Asisten 2
Asisten 3

Andy Hutauruk Pangeran Aritonang
Maredi Aritonang
(NIM: ) (NIM:14S15053 ) (NIM:
)

Asisten 4 Asisten 5

Jhonni Gultom Agus Sitinjak

(NIM: ) (NIM:
)

Diketahui Oleh

Dosen Pengampu

Charla Tri Selda Manik S.T , M.Eng (NIDN: )
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidaya-
Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga dapat menyelesaikan hasil laporan praktikum
rangkaian elektrik ini.

Dalam penyusunan, saya mengucapkan terimakasih kepada dosen rangkaian elektrik saya
yaitu Ibu Charla Manik dan asisten lab yang telah memberikan dukungan, kasih dan
kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua
ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.

Meskipun saya berharap isi dari laporan praktikum saya ini bebas dari kekurangan dan
kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan
saran yang membangun agar tugas makalah praktikum rangkaian elektrik ini dapat lebih baik
lagi.

Akhir kata saya mengucapkan terimakasih, semoga hasil laporan praktikum saya ini
bermanfaat.

Sitoluama, 21 Januari 2018

Penyusun
Percobaan I
PENGENALAN INSTRUMEN

LABORATORIUM
Josep Veri Harianto Hulu (14S16059)
Tanggal Percobaan : 06/10/2017
ELS 2102 Praktikum Rangkaian Elektrik
Laboratium Dasar Teknik Elektro –Teknik Elektro
Institut Teknologi Del

Abstrak— In conducting the experiment 1 introduction of
laboratory instrumentation is aimed to be expected to know the
multimeter as a voltage measurement (Voltmeter), as a current
meter (amperemeter) and as a resistance meter (Ohmmeter).
Praktikan also can use signal generator as source of various
waveform. Praktikan can also use oscilloscope as a voltage
meter and as a frequency meter of various waveforms, for
observing the characteristics of i-v components of two
terminals. The practice can also read the resistor value and
measure it. In conducting the experiment, praktikan conducted
several experiments, namely: Using a multimeter to measure
direct current, measure direct voltage, measure alternating
voltages, read and measure the value of resistance. Using
oscilloscope to perform calibration, measure direct voltage,
measure alternating voltage, measure phase difference. Use box
isolator to measure frequency. Use an oscilloscope and signal
generator to measure the reinforcement factor.

Kata Kunci— multimeter, oscilloscope, calibration, box oscillator, signal genrator.

A. I. PENDAHULUAN

Pengenalan Insturmen Laboratorium sebuah program untuk mengukur tegangan,
arus, resistansi, dan frekuensi dengan berbagai instrumentasi laboratorium sesuai dengan
tujuan dari praktikum. Adapun tujuan dari praktikum Modul 01, Pengenalan Instrumentasi
Laboratorium adalah sebagai berikut :

• Mengenal multimeter sebagai pengukuran tegangan (Voltmeter), sebagai
pengukur arus (Amperemeter) dan sebagai pengukur resistansi (Ohmmeter).
• Memahami keterbatasan alat ukur pada pengukuran tegangan jatuh DC dan AC
pada resistansi/ impedansi besar.
• Memahami keterbatasan alat ukur pada pengukuran tegangan AC dengan
frekuensi tinggi.
• Dapat mengunakan generator sinyal sebagai sumber berbagai bentuk gelombang
• Dapat menggunakan osiloskop sebagai pengukur tegangan dan sebagai pengukur
frekuensi dari berbagai bentuk gelombang.
• Dapat melakukan pengamatan karakteristik i-v komponen dua terminal dengan
osiloskop.
• Dapat membaca nilai resistor dan mengukurnya. Dalam praktikum ini, beberapa
alat dan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :
• Multimeter Analog
• Multimeter Digital
• Power Supply DC
• Generator Sinyal
• Osiloskop
• Kit Multimeter
• Kit Osiloskop & Generator Sinyal
• Kit Box Osilator
• Kabel 4 mm – 4 mm
• Kabel BNC – 4 mm
• Kabel BNC – BNC
• Konektor T BNC

B. II. LANDASAN TEORETIS

2.1 Multimeter

Multimeter atau multitester adalah alat ukur elektronik yang menggabungkan
beberapa fungsi pengukuran dalam satu unit. Multimeter khas dapat mengukur voltase,
arus, dan hambatan. Multimeter analog menggunakan microammeter dengan pointer
bergerak untuk menampilkan pembacaan. Digital multimeters (DMM, DVOM) memiliki
tampilan numerik, dan mungkin juga menampilkan bar grafis yang mewakili nilai yang
terukur. Multimeter digital sekarang jauh lebih umum karena biaya dan ketepatannya,
namun multimeter analog masih lebih baik dalam beberapa kasus, misalnya saat memonitor
nilai yang bervariasi secara cepat. Multimeter dapat menjadi perangkat genggam yang
berguna untuk menemukan kesalahan dasar dan pekerjaan lapangan, atau instrumen
bangku yang dapat mengukur tingkat keakuratan yang sangat tinggi. Mereka dapat
digunakan untuk memecahkan masalah listrik di berbagai perangkat industri dan rumah
tangga seperti peralatan elektronik , kontrol motor, peralatan rumah tangga , pasokan listrik
, dan sistem pengkabelan. 2.2 Osiloskop

Osiloskop adalah alat ukur elektronika yang berfungsi memproyeksikan bentuk
sinyal listrik agar dapat dilihat dan dipelajari. Osiloskop dilengkapi dengan tabung sinar
katode. Peranti pemancar elektron memproyeksikan sorotan elektron ke layar tabung sinar
katode. Sorotan elektron membekas pada layar. Suatu rangkaian khusus dalam osiloskop
menyebabkan sorotan bergerak berulang-ulang dari kiri ke kanan. Pengulangan ini
menyebabkan bentuk sinyal kontinyu sehingga dapat dipelajari.
Osiloskop biasanya digunakan untuk mengamati bentuk gelombang yang tepat dari
sinyal listrik. Selain amplitudo sinyal, osiloskop dapat menunjukkan distorsi, waktu antara
dua peristiwa (seperti lebar pulsa, periode, atau waktu naik) dan waktu relatif dari dua sinyal
terkait.

2.3 Generator Sinyal

Generator sinyal adalah perangkat elektronik yang menghasilkan sinyal elektronik
berulang atau tidak berulang baik dalam analog maupun dominan digital. Hal ini umumnya
digunakan dalam merancang, menguji mengatasi masalah, dan memperbaiki perangkat
elektronik atau elektroakustik, meskipun seringkali menggunakan kegunaan artistik.
Ada berbagai jenis generator sinyal dengan berbagai tujuan dan aplikasi dan pada
berbagai tingkat biaya. Jenis ini meliputi generator fungsi, generator sinyal RF dan
gelombang mikro, generator pitch, generator bentuk gelombang sewenang-wenang,
generator pola digital, dan generator frekuensi. Secara umum, tidak ada perangkat yang
cocok untuk semua aplikasi yang mungkin.

2.4 Power Supply DC

Power Supply DC atau Catu daya adalah perangkat elektronik yang memasok energi
listrik ke beban listrik. Fungsi utama catu daya adalah mengubah satu bentuk energi listrik ke
energi listrik lainnya. Akibatnya, pasokan listrik terkadang disebut sebagai konverter tenaga
listrik. Beberapa pasokan listrik adalah perangkat terpisah dan berdiri sendiri, sementara
yang lain dipasang ke perangkat yang lebih besar bersamaan dengan muatannya. Contoh
yang terakhir termasuk pasokan listrik yang ditemukan di komputer desktop dan perangkat
elektronik konsumen.

Setiap catu daya harus memperoleh energi yang disuplai ke bebannya, serta energi
yang dikonsumsinya saat melakukan tugas itu, dari sumber energi. Bergantung pada
disainnya, catu daya dapat memperoleh energi dari berbagai jenis sumber energi, termasuk
sistem transmisi energi listrik, perangkat penyimpan energi seperti baterai dan sel bahan
bakar, sistem elektromekanik seperti generator dan alternator, konverter tenaga surya, atau
tenaga lain.

2.5 Kit Elektronik

Kit elektronik adalah paket komponen listrik yang digunakan untuk membangun
perangkat elektronik . Umumnya, kit terdiri dari komponen elektronik, diagram rangkaian
(skematis), instruksi perakitan dan sering papan sirkuit cetak (PCB) atau jenis papan prototip
lainnya.

Ada 2 jenis kit yang berbeda, yang akan membangun satu proyek tunggal,
dan proyek yang dapat membangun berbagai proyek. Yang terakhir ini terutama ditujukan
untuk anak-anak, dan termasuk dewan konstruksi solderless dari beberapa tipe, seperti;

• Komponen dipasang di blok plastik dengan kontak samping, yang disatukan di
dasar, misalnya blok Denshi
• Springs di papan kartu, gagang kawat pegas mengarah atau komponen
mengarah, seperti kit percobaan elektronik Philips EE. [1] Ini adalah pilihan yang
murah dan fleksibel
• Papan prototyping jenis profesional, ( papan tempat memotong roti ) yang
menjadi komponen utama dimasukkan, mengikuti dokumentasi "kit".

Pada praktikum ini kit yang digunakan adalah kit multimeter, kit osiloskop dan
generator sinyal, kit box osilator.

2.6 Kabel

Kabel merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mentransmisikan sinyal
dari satu tempat ke tempat lain. Kabel seiring dengan perkembangannya dari
waktu ke waktu terdiri dari berbagai jenis dan ukuran yang membedakan satu
dengan lainnya. Berdasarkan jenisnya, kabel terbagi menjadi 3 yakni kabel tembaga
(copper), kabel koaksial, dan kabel serat optik.

Pada praktikum ini kabel yang digunakan adalah kabel 4 mm-4 mm, kabel
BNC-4mm, kabel BNC-BNC, konektor T BNC.

2.7 Percobaan

Pada praktikum ini praktikan akan melakukan beberapa percobaan, yaitu :
percobaan mengukur tegangan, percobaan mengukur beda fasa, percobaan
mengukur frekuensi, percobaan mengukur faktor penguatan, percobaan
mengamati karakteristik komponen dua terminal

2.7.1 Percobaan Mengukur Tegangan
Kesalahan yang mungkin timbul dalam pengukuran tegangan, dapat
disebabkan oleh osiloskopnya sendiri seperti kalibrasi osiloskop yang sudah
buruk dan kesalahan penggunaan-nya, misalnya pengaruh impendansi input,
kabel penghubung serta gangguan parasitik. Untuk mengurangi kesalahan yang
disebabkan oleh impedansi input,

dapat digunakan probe yang sesuai (dengan memperhitungkan maupun dengan
kalibrasi dari osiloskop).

Besar tegangan sinyal dapat langsung dilihat dari gambar pada layar dengan
mengetahui nilai volt/div yang digunakan. Gunakan skala tegangan
V/div yang terkecil yang masih memberikan gambar sinyal tidak melewati
ukuran layar osiloskop. Osiloskop mempunyai impedansi input yang relative besar (1
Mega ohm, 10-50 pF) jadi dalam mengukur rangkaian dengan impedansi rendah,
maka impedansi input osiloskop dapat dianggap open circuit (impedansi input
osiloskop tipe CRC 5401, 1 Mega ohm parallel dengan 30 pF).

2.7.2 Mengukur Beda Fasa

Pengukuran beda fasa antar dua buah sinyal dapat dilakukan dengan dua
cara, yaitu:

• dengan osiloskop “dual trace”, dan Petunjuk Praktikum Rangkaian Elektrik 3 
dengan metoda “lissajous”.
Pengukuran beda fasa hanya dapat dilakukan pada sinyal dengan
frekuensi yang tepat sama.

2.7.3 Mengukur Frekuensi

Pengukuran frekuensi suatu sinyal listrik dengan osiloskop dapat dil akukan
dengan beberapa cara, antara lain:

• Cara langsung,
• Dengan osiloskop dual trace,  Metoda Lissajous,  Metoda cincin
modulasi.

Beberapa osilokop yang dimiliki Lab. Dasar memiliki penghitung
frekuensi langsungnya. Hati-hati menggunakannya, karena frekuensi yang ditampilkan
tidak selalu benar bergantung setting pengukurannya.

2.7.4 Mengukur Faktor Penguatan

Ada beberapa cara pengukuran faktor penguatan antara lain:

• Cara langsung,
• Dengan osiloskop dual trace.

2.7.5 Mengamati Karakteristik Komponen Dua terminal

Osiloskop dapat digunakan untuk mengamati karakteristik tegangan
terhadap arus dari suatu komponen dua terminal.

Suatu sumber tegangan bolak-balik dihubungkan pada komponen dua
terminal ini.Tegangan pada komponen dua terminal dihubungkan pada input X
osiloskop, sedangkan tegangan pada resistor R, yang sebanding dengan besarnya arus
yang m elalui komponen dua terminal adalah I = - VR/R, dihubungkan pada input Y
osiloskop.

Pada layar osiloskop akan didapat grafik, dimana sumbu Y menyatakan
besarnya arus yang melalui komponen dua terminal dan sumbu X menyatakan
besarnya tegangan pada komponen dua terminal. Pada sumbu y, arus bernilai
terbalik sehingga untuk mendapatkan karakteristik tegangan terhadap arus
komponen yang baik, jangan lupa untuk menekan tombol invert.

C. III. HASIL DAN ANALISIS

Pada saat percobaan, praktikan akan melakukan bebrapa langkah dan menggunkan
bebrapa alat dan bahan yang telah disediakan untuk percobaan mengukur tegangan,
percobaan mengukur beda fasa, percobaan mengukur frekuensi, percobaan mengukur
faktor penguatan, percobaan mengamati karakteristik komponen dua terminal.
1) A. Tugas I : Memulai Percobaan
- Sebelum memulai percobaan, isi dan tanda tangani lembar penggunaan meja yang
tertempel pada masing-masing meja praktikum. Catat juga nomor meja dan Kit
Praktikum yang digunakan dalam Buku Catatan Laboratorium.
- Kumpulkan tugas pendahuluan pada asisten yang bertugas.

2) B. Tugas 2 : Mengumpulkan/ Mencari Spesifikasi Teknik 1
- Mencatat pada Buku Catatan Laboratorium (BCL) spesifikasi-teknik multimeter
analog dan digital yang akan dipergunakan! Buatlah dua tabel masingmasing untuk
multimeter analog dan untuk multimeter digital.

3) C. Tugas 3 : Mengukur Arus Searah
Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan

untuk mengukur arus searah menggunakan kit multimeter.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Membuat rangkaian seri seperti pada Gambar 1-10
2. dengan Vs=6 v dan R1 = R2 = 120 Ohm.
3. Menghitung I cara manual dengan harga-harga Vs dan
4. R1 = R2 = 120 ohm dan R1 = R2 = 1,5 k ohm.
5. Mengukur arus searah I dengan multimeter analog
6. dengan R1 = R2 = 120 ohm dan R1 = R2 = 1,5 k ohm.

Tabel 1-C Data pengukuran arus dengan multimeter
Parameter Multimeter Multimet
Rangkaian Yang Analog er Digital
digunakan Nilai
Vs R1 R2 Arus Bata Nilai Nilai
(Volt (Oh (Oh Terhitu s Arus Arus
) m) m) ng (A) Uku Teruk Terukur
r ur (mA)
(mA (mA)
)
6 120 120 0,025 0,25 0,024 0,027
6 1,5 k 1,5 k 0,002 250 0,0019 0,002075
0

Analisis : Setelah melakukan pengukuran arus searah menggunakan kit multimeter
dengan cara manual dan multimeter analog, dan multimeter analog ternyata nilainya
berbeda. Adapun rumus menghitung besar arus dengan cara manual adalah I = V/R dan
rumus menghitung besar arus dengan multimeter analog adalah I = (Angka yang ditunjuk
jarum/skala terbesar pada layar yang dipilh) x skala yang dipilih sakelar pemilih dan
mengukur besar arus pada multimeter digital dilakukan dengan cara otomatis terbaca
dimulmiter digital. Jadi pada percobaan ini praktikan harus merakit rangkaian pada kit
multimeter dengan secara benar agar tidak terjadi kerusakan pada kit multimeter. Skala yang
dipilih sakelar praktikan jangan lebih kecil dari nilai arus yang dihitung secara manual untuk
menghindari kerusakan pada multimeter.

D. Tugas 4: Mengukur Tegangan Searah
Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan mengukur tegangan searah
menggunkan kit multimeter. Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Membuat rangkaian percobaan pengukuran tegangan seperti gambar 1-11.
2. Menghitung tegangan Vab dengan cara manual dengan harga-harga Vs dan R 1
= R2 = 120 ohm, 1,5 k ohm, 1,5 M ohm.
3. Mengukur tegangan Vab dengan multimeter analog dengan harga-harga Vs
dan R1 = R2 = 120 ohm, 1,5 k ohm, 1,5 M ohm.

Tabel 1-D Data Pengukuran tegangan dengan multimeter
Parameter yang Multimeter Analog Multimete
digunakan r Analog
Vs R1 R2 Bata Sensitivita Va Vab (V)
(V (Ohm (Ohm s s b

) ) ) Ukur (Ohm/V) (V
(V) )
6 120 120 10 2,5 6 6
6 1,5k 1,5k 10 2,5 6 5,62
6 1,5M 1,5M 10 2,5 6 5,9

Analisis :

Setelah melakukan pengukuran tegangan searah menggunakan multimeter analog
dan multimeter digital ternyata hasilnya berbeda. Rumus menghitung besar tegangan
dengan multimeter analog adalah V = (Angka yang ditunjuk jarum/skala terbesar pada layar
yang dipilh) x skala yang dipilih sakelar pemilih dan mengukur besar tegangan pada
multimeter digital dilakukan dengan cara otomatis terbaca dimulmiter digital. Jadi pada
percobaan ini praktikan harus merakit rangkaian pada kit multimeter dengan secara benar
agar tidak terjadi kerusakan pada kit multimeter. Skala yang dipilih sakelar praktikan jangan
lebih kecil dari nilai tegangan yang dihitung secara manual untuk menghindari kerusakan
pada multimeter.
E. Tugas 5: Mengukur Tegangan Bolak-Balik
Pada tugas ni, praktikan akan melakukan percobaan mengukur tegangan bolak-
balik menggunakan generator sinyal. Hasil yang didapatkan dari tugas ini :

1. Membuat rangkaian seperti pada gambar 1-12 pada modul.
2. Mengatur frekuensi generator sinyal pada 50 Hz dan mengatur amplitude
generator sinyal sebesar 6 V. 3. Memilih hambatan pada rangkain R1 = R2 =
1,5 k ohm.
4. Mengukur tegangan Vab menggunakan multimeter analog dan digital dengan
mengatur frekuensi generator sinyal sebesar 50 Hz,500 Hz.

Tabel 1-E Data pengukuran tegangan AC
Frekuensi Vab (V)
No. (Hz) Multimeter Multimeter
Analog Digital
1 50 6 6,021
2 500 56 60,21

Analisis :

Setelah melakukan percobaan ini praktikan akan mandapatkan nilai tegangan bolak-balik
menggunakan generator sinyal dengan mengubah frekuensi untuk mendapatakan tegangan
bolak-balik yang berbeda. Ternyata dengan mengubah-ubah nilai frekuensi pada generator
sinyal dpat mengubah nilai tegangan V ab. Semakin besar nilai frekuensi yang diberikan maka
nilai tegangannya semakin besar juga. Jadi pada percobaan ini praktikan harus merakit
rangkaian pada kit multimeter dengan secara benar agar tidak terjadi kerusakan pada
kit multimeter. Skala yang dipilih sakelar praktikan jangan lebih kecil dari nilai tegangan yang
dihitung secara manual untuk menghindari kerusakan pada multimeter.

4) F. Tugas 6: Membaca dan Mengukur Nilai Resistansi
Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan membaca dan
mengukur nilai resistansi menggunakan kit multimeter.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Mengukur resistansi R1, R2 ,R3 R4, dan R5 pada kit multimeter dengan menggunakan
Ohmmeter.
2. Menuliskan warna gelang masing-masing resistor dan menentukan nilai
toleransinya.
3. Mengukur nilai resistansi dengan menggunakan multimeter digital.
4. Membandingkan hasil pengukuran nilai resistansi dengan dua macam multimeter.

Tabel 1-F Hasil pengukuran resistansi dengan multimeter
Nilai Nilai Nilai Resistansi
R Resista Warna Toler Terukur (Ohm)
ns i Gelang an Multim Multim
Tertuli s ete r ete r
s (%) Analog Analog
(Ohm)
R 220k Merahmerahco 5 218 218,56
1 klata
-emas
R 33k Orange
2 -
Orange
5 440k 33,65k
-
Orange
-Emas
Merah-
R 2,2k Merah-
5 1k 2,23k
3 Merah-
Emas
Cokelat
R 10 -HitamHitam- 5 6,6 10,3
4
Emas
Cokelat
R 1,5 -HijauHitam- 5 0,98 1
5
Emas

Anilisis :

Setelah melakukan percobaan ini, praktikan akan mendapatkan nilai resistansi
dengan cara manual, multimeter analog, dan multimeter digital. Ternyata nilai resistansi
pada resistor akan berbeda-beda dengan menggunakan cara manual, multimeter
analog,dan multimeter digital.

Pada saat menghitung nilai resistansi secara manual praktikan harus teliti melihat
warnanya, karena setiap pada resistor berbeda nilainya dan niali toleransnya juga berbeda.
Skala yang dipilih sakelar praktikan jangan lebih kecil dari nilai resistansi yang dihitung secara
manual untuk menghindari kerusakan pada multimeter.
G. Tugas 7: Mengumpulkan/ Mencari Spesifikasi Teknik 2
Pada tugas ini, praktikan akan mengumpulkan/ mencari spesifikasi teknik 2
menggunakan osiloskop.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Melakukan kalibrasi pada osiloskop.
2. Menghubungkan output kalibrator dengan input X osiloskop.
3. Mengukur tegangan serta periodanya untuk dua harga “Volt/Div” dan “Time/Div”
untuk kanal 1 dan kanal 2.
4. Membandingkan hasil pengukuran dengan harga kalibrator sebenarnya.

Tabel 1-G Pemeriksaan Kondisi Kalibrasi Osiloskop
Harga Skala Hasil Pengukuran
Kalibrator Pembacaan
N Tegan Freku Vert. Hor Tegan Peri Freku
o. gan ensi (V/d s. gan oda ensi
(V) (Hz) iv) (s/di (V) (s) (Hz)
v)
500
1 3,04 1k 1V µ 3,04 10-3 1k
500 500
2 3 1k µ 3,00 10-3 1k
mV

Analisis :

Setelah melakukan percobaan ini, praktikan akan melakukan pengumpulan/ mencari
spesifikasi teknik 2 menggunakan osiloskop. Ternyata hasil pengukuran berbeda dengan
harga kalibrator sebenarnya. Pada saat mengumpulkan/ mencari spesifikasi teknik 2
praktikan harus melakukan kalibrasi terlebih dahulu pada osiloskop untuk memastikan
apakah output kalibartor terhubung baik dengan input X osiloskop.

H. Tugas 8: Mengukur Tegangan Searah
Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan mengukur tegangan searah
menggunakan power supply DC.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Mengatur tegangan output dari power supply DC sebesar 2 V.
2. Mengukur besar tegangan menggunakan osiloskop dan multimeter.
3. Menuliskan hasil pengukuran pada tabel.

Tabel 1-H Hasil pengukuran tegangan DC dengan multimeter dan osiloskop
Tegangan terukur (V)
Multimeter Osiloskop
2,101 2,2

Analisis :

Setelah melakukan percobaan ini, praktikan akan melakukan percobaan pengukuran
tegangan searah menggunakan power supply DC dengan cara multimeter dan osiloskop.
Ternyata hasil tegangan searah berbeda dengan cara multimeter dan osiloskop.
Pada saat percobaan praktikan menentukan Skala yang dipilih sakelar praktikan jangan lebih
kecil dari nilai tegangan yang dihitung secara manual untuk menghindari kerusakan pada
multimeter. Praktikan juga harus meyakinkan bahwa posisi source coupling pada DC.

I. Tugas 9: Mengukur Tegangan Bolak-Balik
Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan mengukur tegangan searah
menggunakan Generator sinyal.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Mengatur generator sinyal pada frekuensi 1 kHz gelombang sinus, dengan
tegangan sebasar 2 Vrms.
2. Mengukur tegangan dengan osiloskop dan multimeter dengan frekuensi 100 Hz
dan 10 kHz.
3. Menuliskan hasil pengukuran pada tabel.
Tabel 1-I Hasil pengukuran tegangan DC dengan multimeter dan osiloskop
Frekuensi (Hz) Tegangan Terukur (V)
Multimeter Osiloskop
100 1,9 1,4
1k 1,9 1,4
10k 1,9 1,4

Analisis :

Setelah melakukan percobaan ini, praktikan akan melakukan percobaan
pengukuran tegangan bolak-balik menggunakan generator sinyal dengan cara
multimeter dan osiloskop pada frekuensi 100 Hz dan 10 kHz. Ternyata hasil pengukuran
tegangan bolak-balik berbeda dengan cara multimeter dan osiloskop. Nilai frekuensi juga
mempengaruhi besarnya nilai tegangan. Pada saat percobaan praktikan menentukan Skala
yang dipilih sakelar praktikan jangan lebih kecil dar nilai tegangan yang dihitung
secara manual untuk menghindari kerusakan pada multimeter. Praktikan juga harus
meyakinkan bahwa posisi source coupling pada DC.

5) J. Tugas 10: Mengukur Beda Fasa
Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan mengukur beda fasa
menggunakan kit osiloskop dan generator sinyal.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Mengatur generator sinyal pada frekuensi 1 kHz gelombang sinus, dengan tegangan
sebesar 2 Vpp.
2. Menghubungkan generator sinyal dengan input rangkaina penggesar fasa pada kit
praktikum.
3. Mengukur beda fasa antar sinyal input dan output rangkaian penggeser fasa dengan
menggunakan cara membaca duel trace dan lissajous.
4. Mengamati untuk beberapa kedudukan potensio R.
5. Menuliskan hasil pengukuran pada tabel.

Tabel 1-J Hasil pengkuran beda fasa dengan osiloskop
Posisi Vinput Finput Pengukuran Beda Fasa
Nilai (Vpp) (kHz) Duel Trace Lissajous
Potensio R (gambarkan) (gambarkan)
Minimum
2 1 Ø= Ø=
Maksimum
Ø= Ø=

Analisis :

Setelah melakukan percobaan ini, praktikan akan melakukan percobaan pengukuran
beda fasa menggunakan kita osiloskop dan generator sinyal dengan cara osiloskop. Ternyata
pengukuran beda fasa berbeda dengan cara duel trace dan lissajous. Posisi nilai potensio R
dengan Vinput dan finput minimum dan maksimum juga mempengaruhi pengukuran beda fasa.
Pada saat melakukan percobaan mengukur beda fasa antar sinyal
input dan output rangkaian penggeser fasa dengan menggunakan cara membaca duel trace
dan lissajous praktikan harus meyakinkan source trigger bukan vertical.

6) K. Tugas 11: Mengukur Frekuensi
Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan mengukur frekuensi
menggunakan kit box osilator.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Menghubungkan kit box osilator dengan sumber tegangan DC 5 V.
2. Mengamati keluaran dari osilator.
3. Mengukur frekuensi osilator f1,f2,f3 dengan cara langsung dan cara lissajous.
4. Menuliskan hasil pengukuran pada tabel.

Tabel 1-K Hasil pengukuran frekuensi dengan osiloskop
Pengukuran Frekuensi
Posisi Cara Langsung Cara Lissajous
Selektor Tsinyal Fsiny f- Gamba f-
Frekuen (s) a l generat r siny
s (Hz) o r Tampila a l
i sinyal n (Hz)
(Hz)
f1 0,0016 600 51,02Hz
6
0,0000 6000
f2 6,25kHz
16 0
f3 11,90Hz

Analisi :

Setelah melakukan percobaan ini, praktikan akan melakukan percobaan pengukuran
frekuensi menggunakan kit box osilator dengan cara osiloskop. Ternyata pengkuran
frekuensi berbeda nilai dengan cara langsung dan cara lissajous.

Pada saat percobaan praktikan harus merangkai rangkaian pada kit box osilator
dengan benar untuk menghindari kerusakan pada kit box osilator.

L. Tugas 13: Mengukur Faktor Penguatan

Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan mengukur faktor
penguatan menggunakan kit osiloskop dan generator sinyal.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Mnggunakan gelombang sinus 1 kHz 2 V pp dari generator sinyal.
2. Mengukur penguatan (Vo/Vi) dari sinyal di input ke output menggunakan cara langsung
(mode xy) dan dengan dual trace.
3. Menuliskan hasil pengukuran pada tabel.

Tabel 1-L Hasil pengukuran faktor penguatan dengan osiloskop
Vinput Cara Cara Dual Trace
Langsung

Tegang Frekuen Faktor Vout Faktor
a n s i (kHz) Penguatan (Vpp Penguatan
(Vpp) )
2 1 Potensiomet 6,7 Potensiomet
er 2 er
Analisis :

Setelah melakukan percobaan ini, praktikan akan melakukan percobaan pengukuran
faktor penguatan menggunakan kit osiloskop dan generator sinyal dengan cara langsung dan
dengan cara dual trace. Ternyata nilai faktor penguatan berbeda dengan cara langsung dan
cara dual trace.

Pada saat percobaan pengukuran faktor penguatan praktikan jangan lupa
menghubungkan catu-daya nya ke jala-jala.

7) M. Tugas 14: Menggambar Karakteristik Komponen Dua Terminal
Pada tugas ini praktikan akan menggambar karakteristik koponen dua terminal
menggunakan kit osiloskop dan generator sinyal. Hasil yang didapatkan pada tugas ini
adalah :

1. Menghubungkan resitor sebagai komponen dua terminal dengan rangkaian pada gambar
1-16 pada modul. Dengan frekuensi 150 Hz, 2 V pp pada generator sinyal.
2. Mencatat kurva karakteristik i-v komponen.
3. Memodifikasi komponen dua terminal rangkaian untuk kapasitor dan dioda seperti yang
digambarkan pada gambar 1-17 dan 1-18 di modul.
Analisis :

Bentuk gelombang segitiga untuk ketiga rangkaian akan mengubah bentuk gambar dan
ukuran karakteristik komponen dua terminal.

8) N. Tugas 15: Mengakhiri Percobaan
- Sebelum keluar dari ruang praktikum, rapikan meja praktikum. Bereskan kabel dan
matikan osiloskop, generator sinyal, dan power supply DC. Cabut daya dari jala-jala
ke kit praktikum. Pastikan juga multimeter analog dan multimeter digital
ditinggalkan dalam keadaan mati (selector menunjuk ke pilihan off) dan tertutup
kover-nya.
- Periksa lagi lembar penggunaan meja. Praktikan yang tidak menandatangani lembar
penggunaan meja atau membereskan meja ketika praktikum berakhir akan men-
dapatkan potongan nilai sebesar minimal 10.
- Pastikan asisten telah menandatangani catatan percobaan kali ini pada pada Buku
Catatan Laboratorium anda. Catatan percobaan yang tidak ditandatangani oleh
asisten tidak akan dinilai.

-

IV. SIMPULAN

Melalui praktikum yang telah dilakukan sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan
bahwa kami telah dapat melakukan pengukuran menggunakan instrumen – instrumen
pengukuran seperti osiloskop, mulimeter analog, multimeter digital, merangkai rangkaian
yang telah ditentukan di dalam modul. Melalui praktikum ini juga kami dapat mengetahui
bahwa pengukuran arus, tegangan, resistansi, dan ferkuensi berbedabeda nilanyai setiap
cara yang kita lakukan, baik cara langsung, multimeter analog, multimeter digital, dan
osiloskop.

Merangkai rangkaian pada kit juga harus benar agar tidak terjadi kesalah/kerusakan
pada kit.

D. REFERENSI

[1] GIANCOLI.2001. FISIKA JILID 2. JAKARTA : ERLANGGA.

[2] HIKAM.2005. EKSPERIMEN FISIKA DASAR UNTUK PERGURUAN TINGGI. JAKARTA : KENCANA.

[3] LOG DATA MENGUTIP DARI, SABIQ FATONI. 10214082. SHIFT 02.
[4] Malvino, Albert, David J. Bates. 2007. Electronic Principle 7th ed. Singapore: McGraw-
Hill.

E. Lampiran

A. Lampiran Tugas 3
B. Lampran Tugas 4
C. Lampiran Tugas 5
D. Lampiran Tugas 6,7,8,9,10
,11,12
Percobaan II
RANGKAIAN ARUS SEARAH
DAN NILAI STATISTIK
RESISTANSI
Josep Veri Harianto Hulu (14S16059)
Tanggal Percobaan : 20/10/2017
[ELS 2102] [Praktikum Rangkaian Elektrik]
[Laboratium Dasar Teknik Elektro] –Teknik Elektro
Institut Teknologi Del
Abstrak— in conducting experiments 2 Direct current circuit and
resistance statistical values are aimed at allowing the
practitioner to understand the use of Thevenin theorem and
Norton's theorem in direct current circuit, praktikan
Understanding the Superposition Theorem and reciprocity,
praktikan Can design Voltage Distribution Circuits, praktikan
Understand series and parallel resistor circuit, praktikan
Understanding statistical value of resistance. In this
practice there are several theorems that we will know the
thevenin theorem, norton theorem, superposition theorem and
reciprocity theorem. Thevenin Theorem is one of the theories
of electronics or an analytical tool that simplifies a complex
circuit into a simple circuit by creating a successor circuit
in the form of a voltage source connected in series with an
equivalent resistance. The norton theorem is the value of the
replacement resistor can be calculated by turning off all
voltage and current sources and then calculating the
equivalent value of resistance between terminals A and B. The
superposition theorem for Electronic Circuits states for a
linear system that the response of (voltage or current) in
each branch of each circuit linear has more than one
independent source (independent source) whose results are
equal to the jumbah algebra of the response caused by the
independent source (independent source) itself, where all
other independent sources are replaced by the internal
impedance itself. The

superposition theorem states as follows: when a circuit
consists of more than one source and the linear or bilateral
impedances or impedances, of the currents caused by each
individual source with other sources in a non-working state. In
conducting experiments the practitioner will experiment the
thevenin theorem (circuit 1 and series 2), norton's theorem,
superposition theorem, reciprocity theorem, maximum power
transfer, series and parallel resistor circuits, statistical
behavior of resistance values. The tools used by praktikan are
thevenin and norton theorem kit, multimeter kit, oscilloscope
kit and signal generator, 1 kohm resistor, decade resistor, DC
power supply, multimeter, 4mm-4mm cable.

Kata Kunci— thevenin theorem, norton theorem, superposition theorem,
reciprocity theorem.

II. Pendahuluan
Percobaan 02 “ Rangkaian Arus Searah dan Nilai Statistik Resistansi “ sebuah
program untuk mencari nilai arus, tegangan, daya, resistansi, menggunakan beberapa
teorema sesuai dengan tujuan. Adapun tujuan dari praktikum Modul 02, Rangkaian Arus
Searah dan Nilai Statistik Resistansi adalah sebagai berikut :
 Memahami penggunaan teorema Thevenin dan teorema Norton pada rangkaian arus searah .
 Memahami Teorema Superposisi.
 Memahami Teorema Resiprositas.
 Dapat merancang Rangkaian Pembagi Tegangan.
 Memahami rangkaian resistor seri dan paralel.
 Memahami nilai statistik resistansi.
Dalam praktikum ini, beberapa alat dan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :
 Kit Teorema Thevenin dan Norton.
 Kit Multimeter.
 Kit Osiloskop dan Generator Sinyal.
 Resistor 1 k ohm.
 Resistor Dekade.
 Power Supply DC.
 Multimeter.
 Kabel 4mm – 4mm.

III. Landasan Teoretis
2.1 Teorema Thevenin

Teorema Thevenin adalah salah satu teori elektronika atau alat analisis yang
menyederhanakan suatu rangkaian rumit menjadi suatu rangkaian sederhana dengan cara
membuat suatu rangkaian pengganti yang berupa sumber tegangan yang dihubungkan
secara seri dengan sebuah resistansi yang ekivalen. Teorema Thevenin ini sangat bermanfaat
apabila diaplikasikan pada analisis rangkaian yang berkaitan dengan daya atau sistem baterai
dan rangkaian interkoneksi yang dapat mempengaruhi satu rangkaian dengan rangkaian
lainnya. Teorema Thevenin ini ditemukan oleh seorang insinyur yang berasal dari Perancis
yaitu M.L. Thevenin.Berikut dibawah ini contoh gambar rangkaian teorema thevenin.

Berikut ini adalah langkah-langkah untuk menganalisis dan menghitung suatu
rangkaian linear dengan menggunakan Teorema Thevenin.

1. Lepaskan Resistor Beban.

2. Hitung atau ukur tegangan rangkaian terbukanya. Tegangan inilah disebut dengan
Tegangan Thevenin atau Thevenin Voltage (V TH).

3. Lepaskan sumber arus listriknya dan hubungsingkatkan sumber tegangannya.

4. Hitung atau ukur tegangan Resistansi rangkaian terbuka tersebut. Resistansi ini
disebut dengan Resistansi Thevenin atau Thevenin Resistance (R TH).

5. Gambarkan lagi suatu rangkaian baru berdasarkan pengukuran yang dilakukan pada
langkah 2 yaitu tegangan rangkaian terbuka (VTH) sebagai tegangan sumber dan
Resistansi Thevenin (RTH) pada pengukuran di langkah 4 sebagai Resistor yang
dihubungkan secara seri. Hubungkan kembali Resistor Beban yang kita lepaskan di
langkah 1. Rangkaian inilah sebagai Rangkaian Ekivalen Thevanin atau rangkaian
rumit yang telah disederhanakan berdasarkan teorema Thevenin.

6. Langkah yang terakhir adalah temukan arus listrik yang melalui Resistor Beban
tersebut dengan menggunakan Hukum Ohm (I T = VTH/(RTH + RL)

2.2 Teorema Norton

Teorema Norton (Norton Theorem) adalah salah satu Teori atau alat analisis yang
dapat digunakan untuk menyerderhanakan suatu rangkaian linear yang rumit menjadi
rangkaian yang lebih sederhana. Berbeda dengan Teorema Thevenin yang
penyederhanaannya menggunakan sumber tegangan (Voltage Source) ekivalen dengan
merangkai resistor ekivalen secara seri, Teorema Norton menyederhanakannya dengan
menggunakan sumber Arus (Current Source) ekivalen dan perangkaian resistor ekivalen
secara paralel. Berikut dibawah ini contoh gambar teorema norton.

Berikut ini adalah langkah-langkah untuk menganalisis dan menghitung suatu
rangkaian linear dengan menggunakan Teorema Norton.

1. Hubung singkat Resistor Beban.

2. Hitung atau ukur arus pada rangkaian hubung singkat tersebut. Arus ini disebut
dengan Arus Norton (IN).

3. Buka Arus Sumber, Hubung singkat Tegangan sumber dan lepaskan Resistor Beban.

4. Hitung atau ukur Resistansi Rangkaian Terbuka. Resistansi ini dinamakan dengan
Resistansi Norton (RN).

5. Gambarkan kembali dengan memasukan nilai arus pada rangkaian yang
dihubungsingkat di langkah 2. Rangkaikan Arus sumber dan Resistansi pada
Rangkaian terbuka yang dilakukan pada langkah 5 secara paralel. Hubungkan
kembali Resistor Beban yang kita lepaskan pada langkah 3. Ini merupakan rangkaian
yang telah disederhanakan berdasarkan teorema Norton atau biasanya disebut
dengan Rangkaian Ekivalen Norton.

6. Carikan Arus Beban yang mengalir dan Tegangan Beban pada Resistor Beban
berdasarkan aturan Pembagi Arus listrik (Current Divider Rule).
IL = IN x (RN/(RN+RL).

2.3 Teorema Superposisi

Teorema superposisi berlaku untuk semua rangkaian linir dan bilateral, jadi berlaku
juga untuk semua rangkaian-rangkaian yang terdiri dari R,L, dan C asal saja elemen-elemen
ini linear dan bilateral. Suatu elemen dikatakan linear bila antara tegangan pada elemen itu
dan arus yang disebabkan oleh tegangan tersebut mempunyai hubungan yang linier bila di
hubungkan pada elemen itu. Dan dikatakn bilateral bila arus atau tegangan akan mengalir
pada sama besar untuk kedua arah. Teorema superposisi menyatakan sebagai berikut : bila
suatu rangkaian terdiri dari lebih dari satu sumber dan tahanan-tahanan atau impedansi-
impedansi linear dan bilateral, dari arus-arus yang disebabkan oleh tiap-tiap sumber
tersendiri dengan sumber-sumber lainnya dalam keadaan tidak bekerja.

Untuk menggunakan teorema tersebut ada dua aturan yang dapat digunakan,
sehingga diperoleh besaran yang diinginkan. Aturan-aturan tersebut adalah sebagai berikut :
 Aturan 1 : suatu sumber yang tidak bekerja memiliki tegangan nol. Ini berarti dapat diganti
dengan suatu hubungan singkat (cloced circuit).
 Aturan 2 : suatu sumber yang tidak bekerja dan memiliki arus nol berarti dapat diganti
dengan suatu hubungan terbuka (open circuit).
Berikut langkah-langkah teorema superposisi :
- yang pertama kita aktifkan sumbe arus 10Ampere nya, kemudia hubung singkat sumber
tegangan 8 voltnya (atau bahasa mudahnya, hilangkan sumber tegangan 8voltnya, Oke
mudeng).

- Setalah di aktifkan sumbe arus dan di hubung singkat sumber tegangannya, maka hasil
rangkaiannya menjadi seperti di bawah ini.

-Kemudian hitung arusnya, dengan rumus pembagi arus.

- Setelah itu, gantian, yang di aktifkan adalah sumber tegangannya, sedangkan sumber
arusnya di hubung open short circuit (bahasa mudahnya di buka). Caranya seperti yang tadi.

- Setelah sumber arus di open circuit, kemudian hitung arusnya.

- Sampai di sini sudah selesai, tinggal mengikuti perintah soalnya, dimana solanya menyuruh
carilah arus yang melewati rangkaian tersebut.

2.4 Teorema Resiprositas

Berikut penjelasan teorema resiprositas melalui gambar dibawah ini :
2.5 Transfer Daya Maksimum

Transfer daya maksimum terjadi jika nilai resistansi beban sama dengan nilai
resistansi sumber, baik dipasang seri dengan sumber tegangan ataupun dipasang paralel
dengan sumber arus.

Berikut pembuktian dengan penurunan rumus yang dijelaskan melalui gambar di
bawah ini :

IV. Hasil dan Analisis
Pada saat percobaan, praktikan akan melakukan bebrapa langkah dan
menggunkan bebrapa alat dan bahan yang telah disediakan untuk percobaan mengukur
arus, percobaan mengukur tegangan, percobaan mengukur daya, percobaan mengukur
resistansi menggunakan beberapa teorema.
A. Tugas 2 : Teorema Thevenin (Rangkaian 1)
Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan untuk mengukur arus
menggunakan teorema thevenin (rangkaian 1).

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Mencari arus pada beban R (R 1, R2, atau R3) pada cabang C-D secara tidak
langsung, dengan mengukur VT, RT dan R.

2. Membandingkan hasil dengan pengukuran arus melalui beban secara langsung
dengan membaca milli Ammeter.

3. Merangkai rangkaian menggunakan kit Thevenin dan Norton, seperti pada
gambar 2-6 di modul.

4. Mengukur tegangan open circuit C-D dengan Voltmeter Elektronik yang mempunyai
impedansi input tinggi, seperti pada gambar 2-7 di modul.

5. Mengukur RT resistansi yang “dilihat” pada terminal C-D ke arah kiri,
membuka/melepaskan sumber tegangan dari A- B dan hubung singkatkan A-B, seperti pada
gambar 2-8 di modul.

6. Mengukur resistansi R1 dari rumus : I = (VT/RT + RF).

7. Mengulangi percobaan Thevenin untuk harga R = R 2 dan R3.

8. Menuliskan hasil percobaan.

Tabel 1-A Data perbandingan pengukuran arus secara multimeter digital dan manual
dengan teorema thevenin (rangkaian 1)
Nilai Vsource I (mA) Vc-d RT I (mA)
Resistan (V) multimete = (KΩ Perhitunga
si r digital Ope ) n manual
n
(V)
R1 20 5 6,73 1301 5,2
=1,5Ω
R2 =10Ω 20 5 6,73 1301 5,1
R3=2,2k 20 0,45 6,73 1301 0,5

Analisis :

Setelah melakukan perbandingan pengukuran arus secara multimeter
digital dengan dan manual dengan teorema thevenin (rangkaian 1) ternyata nilainya
berbeda. Adapun rumus untuk menghitung nilai arus menggunakan teorema
thevenin secara manual adalah I = (VT/RT+RF) dan mengukur arus
menggunakan multimeter digital sudah secara otomatis nilainya terbaca. Berikut
perhitungan mencari I1, I2, dan I3 thevenin :

I1 = (6,73/ (1301+1,5) ohm) = 0,0052 A = 5,2 mA.

I2 = (6,73/ (1301+10) ohm) = 0,0051 A = 5,1 mA.
I3 = (6,73/ (1301+2200) ohm) = 0,0005 A = 0,5 mA.

Adapun nilai Vsource didapat dari power supply DC.

Nilai Vc-d diukur menggunakan multimeter digital.

Jadi pada percobaan ini praktikan harus merakit rangkaian pada kit
Thevenin dan Norton dengan benar agar tidak terjadi kerusakan pada kit tersebut.
Sebelum mencari nilai I thevenin praktikan harus terlebih dahulu mencari nilai Vt dan
RT.

B. Tugas 3 : Teorema Thevenin (Rangkaian 2)
Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan untuk mengukur arus
menggunakan teorema thevenin (rangkaian 2).

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Menyusun rangkaian seperti gambar 2-9 di modul dengan nilai V T = 6,73, RT = 1301
ohm dan resistor menggunakan resistor dekade atau potensiometer yang tersedia pada kit
praktikum.

2. Mengukur arus yang mengalir melalui R dengan mA-meter.

3.Mengulangi pengukuran dengan mengganti nilai R = R 2, R= R3 dan R=0.

4. Menulis hasil percobaan.

Tabel 1-B Data pengukuran arus secara multimeter analog teorema thevenin (rangkaian 2)
Nilai Vc-d = I (mA)
Resistansi Vsource (V) Open (V) RT (KΩ) multimete
r analog
R1 =10Ω 20 6,73 1301 5
R2=2,2kΩ 20 6,73 1301 0,5
R3=0 20 6,73 1301 5
Analisis :

Setelah melakukan pengukuran arus dengan multimeter analagog
ternyata nilainya berebeda dengan pengukuran arus menggunakan teorema thevenin yang
sudah di dapatkan nilainya pada percobaan 1- B. Adapun rumus untuk menghitung
besar arus dengan cara multimeter analog adalah I = (Angka yang ditunjuk jarum/skala
terbesar pada layar yang dipilih) x skala yang dipilih sakelar pemilih. Berikut
perhitungan nilai arus pada masing-masing resistor:

I1 = (50/250) x 25 mA = 5 mA

I2 = (5/250) x 25 mA = 0,5 mA

I3 = (50/250) x 25 mA = 5 mA

Pada R3 bernilai nol tetapi tetap memiliki nilai arus, dikarenakan masih ada nilai
RN sehingga R3 = RT.

Nilai Vsource, Vc-d, RT didapat dari percobaan sebelumnya

Jadi pada percobaan ini praktikan harus merakit rangkaian rangkaian pada
kit Thevenin dan Norton dengan benar agar tidak terjadi kerusakan pada kit
tersebut. Skala yang dipilih sakelar praktikan jangan lebih kecil dari nilai arus yang dihitung
secara manual untuk menghindari kerusakan pada multimeter.

C. Tugas 4: Teorema Norton
Pada tugas ini praktikan akan melakukan percobaan untuk mengukur arus
menggunakan teorema norton.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Mengganti rangkaian pada percobaan thevenin 1 dengan sebuah sumber
arus IN paralel dengan suatu resistansi RN yang besarnya sama dengan RT seperti pada
gambar 2-10 di modul.

2. Mencari besar arus norton hubung-singkat pada C – D menggunakan mA-meter
dengan R = R1, R2, dan RN.

3. Mencari nilai RN = RT.

4. Merangkai rangkaian teorema norton seperti gambar 2-11 di modul.

5. Mengukur nilai arus dengan mengubah resistor R N menggunakan resistor dekade.

6. Menulis hasil pengamatan.

Tabel 1-C Data pengukuran arus dengan kit multimeter dan resistor dekade menggunakan
teorema norton
I pada R (mA)
Nilai IN (mA) Vsource (V) Dengan Dengan
Resistansi kit resitor
multimete dekade
r
R1 =1,5Ω 0,46 20 5 5
R2=10Ω 0,46 20 5 5
R3=RN 0,46 20 5 5
Analisis :

Setelah melakukan pengukuran arus dengan kit multimeter dan resistor
dekade menggunakan teorema norton ternyata nilai arusnya sama seperti yang telah di
lampirkan pada tabel. Adapun rumus untuk menghitung besar arus dengan
cara manual menggunakan teorema norton adalah IL = IN x (RN/(RN+RL) sehingga didapat
perbandingan nilai arusnya. Adapun rumus untuk menghitung besar arus
dengan cara multimeter analog adalah I = (Angka yang ditunjuk jarum/skala terbesar pada
layar yang dipilih) x skala yang dipilih sakelar pemilih. Berikut perhitungan nilai
arus pada masing-masing resistor:

I1 = (50/250) x 25 mA = 5 mA

I2 = (5/250) x 25 mA = 5 mA

I3 = (50/250) x 25 mA = 5 mA

Pada R3 arus bernilai sama dengan nilai I1 dan nilai I2, karena R3 = RN.

Jadi pada percobaan ini praktikan harus merakit rangkaian pada kit
Thevenin dan Norton dengan benar agar tidak terjadi kerusakan pada kit tersebut. Skala
yang dipilih sakelar praktikan jangan lebih kecil dari nilai arus yang
dihitung secara manual untuk menghindari kerusakan pada multimeter.

D. Tugas 5: Teorema Superposisi
Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan untuk mengukur nilai arus
menggunakan teorema superposisi.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Merangkai rangkaian menggunakan kit multimeter seperti gambar 2-12 di
modul.

2. Mengukur arus yang melalui R4 dan beda potensial pada R1. Dan mencatat
hasilnya.

3. Mengubah rangkaian dengan V 1 = 12 V, V2 = 0 V dan V1 = 12 V, V2 = 6 V dan mencari nilai
I4 pada masing-masing perubahan V.

Tabel 1-D Data pengukuran Arus dan Tegangan pada Teorema Superposis
V1= 0 V ; V2 = 6 V V1=12V ; V2 = 0 V V1=12V ; V2 = 6 V
I4 (mA) VR4 (V) I4 (mA) VR4 (V) I4 (mA) VR4 (V)
1,123 -4,12 0,1037 11,07 1,224 7,54
Analisis :

Setelah melakukan pengukuran arus dan tegangan menggunakan kit
multimeter dengan teorema superposisi ternyata nilainya berbeda pada setiap
percobaan, karena nilai V1 dan V2 yang diubah-ubah. Dari data tabel di atas didapatkan
secara umum bahwa jumlah besar arus yang mengalir pada R4 dan jumlah besar
tegangan pada R1 saat salah satu pada masing-masing tegangan sumber dimatikan
sama dengan besar nilai arus dan tegangan ketika kedua sumber tegangan
dinyalakan sehingga berlaku aturan teorema superposisi yaitu :
 Aturan 1 : suatu sumber yang tidak bekerja memiliki tegangan nol. Ini berarti dapat diganti
dengan suatu hubungan singkat (cloced circuit).
 Aturan 2 : suatu sumber yang tidak bekerja dan memiliki arus nol berarti dapat diganti
dengan suatu hubungan terbuka (open circuit).
Data pada tabel tersebut diukur menggunakan multimeter digital sehingga
tidak diperlukan perhitungan menggunakan rumuss.

Jadi pada percobaan ini, praktikan harus merakit rangkaian pada kit
multimeter harus dengan cara benar agar tidak terjadi kerusakan pada kit tersebut.

E. Tugas 6: Teorema Resiprositas
Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan untuk mengukur arus dan
tegangan menggunakan teorema resiprositas.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Membuat rangkaian dengan R1 = 1,5 Ohm, R2 = 33 kOhm, R3 = 1,5 kOhm, R4 =
220 kOhm, R5 = 2,2 kOhm seperti pada gambar 2-13 di modul.

2. Mengukur nilai arus dan tegangan denga sumber teganngan V = 12 V
menggunakan milli Ammeter.

3. Memindahkan sumber tegangan 12 V tersebut ke c-d (V c-d = 12 V).

Tabel 1-E Data pengukuran Arus dan Tegangan pada Teorema Resiprositas
a-b c-d
V (V) - 12 12 -
I (mA) 2,25 - - 2,25
Analisis :

Setelah melakukan pengukuran arus dan tegangan menggunakan
teorema resiproositas ternyata menghasilkan arus yang sama dan tegangan yang sama
meskipun sumber tegangan yang awalnya berada di a - b kemudian dipindah ke
c – d sesuai dengan teorema resipsrositas. Data pada tabel kami dapat menggunakan
multimeter digital, sehingga tidak diperlukan perhitungan menggunakan rumus.

Jadi pada percobaan ini praktikan harus merakit rangkaian pada kit
multimeter harus benar agar tidak terjadi kerusakan pada kit tersebut.

F. Tugas 7:Transfer Daya Maksimum
Teori : Transfer daya maksimum terjadi jika nilai resistansi beban sam dengan nilai
resistansi sumber, baik dipasang seri dengan sumber tegangan ataupun dipasang paralel
dengan sumber arus.
Berikut pembuktian dengan penurunan rumus yang dijelaskan melalui gambar di
bawah ini :

Pada percobaan ini kami tidak dapat mengumpulkan data, karena waktu yang digunakan
untuk praktikum tidak mencukupkan sehingga kami hanya mendapat teori tentang transfer
daya maksimum.
G. Tugas 8: Rangkaian Resistor Seri dan Paralel
Pada percobaan ini kami tidak dapat mengumpulkan data, karena waktu yang
digunakan untuk praktikum tidak mencukupkan sehingga kami hanya mendapat teori
tentang rangkaian resistor sei dan paralel.

Teori :

- Rangkaian seri

Rangkaian yang disusun secara sejajar disebut rangkaian seri. Pada
rangkaian seri, arus yang lewat besarnya sama tiap elemen. Total hambatan resistor pada
rangkaian seri sama dengan jumlahan masing-masing hambatan. Konduktansi listrik dan
induktor berkebalikan dengan hambatan. Total kapasitansi yang dipasang seri sama dengan
dari jumlah kebalikan masing-masing elemen.

- Rangkaian paralel

Rangkaian yang disusun secara berderet disebut rangkaian paralel. Jumlah
kebalikan hambatan total rangkaian paralel sama dengan jumlah dari kebalikan hambatan
tiap- tiap komponen (resistor).
H. Tugas 9: Perilaku Statistik Nilai Resistansi
Pada percobaan ini kami tidak dapat mengumpulkan data, karena waktu yang
digunakan untuk praktikum tidak mencukupkan sehingga kami hanya mendapat teori
tentang perilaku statistik nilai resistansi.

V. Simpulan
 Teorema Thevenin pada rangkaian arus searah adalah benar. Dengan menggunakan teorema
ini kita dapat menghitung nilai arus dan tegangan.
 Teorema Norton pada rangkaian arus searah adalah benar. Dengan menggunakan teorema ini
kita dapat menghitung nilai arus dan tegangan.
 Teorema Superposisi benar jika mengikuti aturan :
Aturan 1 : suatu sumber yang tidak bekerja memiliki
tegangan nol. Ini berarti dapat diganti dengan suatu hubungan
singkat (cloced circuit).

Aturan 2 : suatu sumber yang tidak bekerja dan
memiliki arus nol berarti dapat diganti dengan suatu
hubungan terbuka (open circuit).
 Ternyata teorema Resiprositas menghasilkan arus yang sama dan tegangan yang
sama meskipun sumber tegangan yang awalnya berada di a - b kemudian dipindah ke c
– d.
 Rangkaian seri merupakan pembagi tegangan dan rangkaian paralel pembagi arus.
 Pada pengukuran nilai statistik resistansi hasilnya berbeda-beda, karena masing-masing
resistansi memiliki nilai berbeda-beda yang dapat dilihat dari warna gelangnya.

REFERENSI

[1] Giancoli. 2001. FISIKA JILID 2. Jakarta : Erlangga.

[2] Hikam. 2005. Eksperimen Fisika Dasa Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta : Kencana.
[3] Faulkenberry, Luces M.1982.An Introduction to Op-Amp, with Linear IC
Applications.

[4] Kleitz, William. 2011. Digital Electronics: A Practical Approach with VHDL,-9th
ed.

[5] McGrew-Hill Inc.1990. Penuntun Praktikum

Elektronika . All Rights Reserved.

VI.

VII.

VIII.

IX.

X.

XI.

XII.

XIII.

XIV.

XV.

XVI.

XVII.

XVIII.

Lampiran
A. Lampiran Tugas 1

B. Lampiran Tugas 2

C. Lampiran Tugas 3
D. Lampiran Tugas 4
Percobaan III
RANGKAIAN PENGUAT
OPERASIONAL
Josep Veri Harianto Hulu (14S16059)
Tanggal Percobaan : 10/11/2017
[ELS 2102][ Praktikum Rangkaian Elektrik]
[Laboratium Dasar Teknik Elektro] –Teknik Elektro
Institut Teknologi Del
Abstrak— In conducting the experiments, 3 Operational
Strengthening circuits aim to enable the practitioner to
arrange the circuit on breadboard, praktikan can understand
the operational amplifier usage, praktikan can use standard
operational amplifier circuits in simple analog computation.
Op Amp is an Operational Amplifier, often abbreviated as Op
Amp, an important component and widely used in low-power
electronic circuits. The term operational refers to the
usefulness of op amps in electronic circuits that provide
arithmetic operations at the input voltage (or input current)
given to the circuit. IC Op Amp 741 is a series of op amp is
packaged in the form of dual in-line package (DIP). The DIP
has a dotted or striped sign at one end to indicate the
correct direction of the circuit. At the top of the DIP
usually printed the standard number of ICs. Notice that pin
numbering is done anticularly, starting from the part close to
the split / dash. In this IC there are two input pins, two pin
power supply, one output pin, one NC pin (no connection), and
two pin offset null. The null offset pin allows us to do a bit
of regulation of the internal currents inside the IC to force
the output voltage to zero when both inputs are zero. IC op
amp has a behavior that is very similar to the ideal op amp
concept in circuit analysis. In conducting the experiment, the
practitioner will perform a non-inverting amplifier circuit,
inverting amplifier

circuit, summer series (integer), integrator circuit.
Kata Kunci— breadboard, Op Amp, IC, inverting, non-
inverting.

XIX. Pendahuluan
Percobaan 03 “Rangkaian Penguat Operasional“ sebuah program untuk mencari
nilai Vout , Vin, Frekuensi dan menganalisis sinyal gelombang pada Op Amp sesuai dengan
tujuan. Adapun tujuan dari praktikum Modul 03, Rangkaian Penguat Operasonal adalah
sebagai berikut :
 Dapat menyusun rangkaian pada breadboard.
 Memahami penggunaan operational amplifier.
 Dapat menggunakan rangkaian-rangkaian standar operational amplifier pada komputasi
analog sederhana.
Dalam praktikum ini, beberapa alat dan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :
 Power Supply DC
 Generator Sinyal
 Osiloskop
 Kabel BNC-probe jepit
 Kabel BNC-BNC
 Kabel 4mm-4mm
 Kabel 4mm-jepit buaya
 Multimeter Digital
 Breadboard
 Kabel jumper
 IC Op Amp 741
 Kapasitor 1 nF
 Resistor 1 kΩ, 1,1 kΩ, 2,2 kΩ, 3,3 kΩ

XX. Landasan Teoretis
2.1 Op Amp

Penguat operasional atau yang dikenal sebagai Op-Amp merupakan
suatu rangkaian terintegrasi atau IC yang memiliki fungsi sebagai
penguat sinyal, dengan beberapa konfigurasi. Secara ideal Op-Amp
memiliki impedansi masukan dan penguatan yang tak berhingga serta
impedansi keluaran sama dengan nol. Dalam prakteknya, Op-Amp
memiliki impedansi masukan dan penguatan yang besar serta impedansi
keluaran yang kecil. Op-amp memiliki simbol seperti yang terlihat pada
gambar (1).
Secara garis besar, terdapat 4 pin utama dari Op-Amp, yaitu masukan
inverting (tanda minus), masukan noninverting (tanda plus), masukan
tegangan positif, masukan tegangan negatif dan pin keluaran. Di samping
pin tersebut terdapat satu pin untuk adjustment.

2.2 Rangkaian Penguat Inverting

Rangkaian untuk penguat inverting adalah seperti yang ditunjukkan
gambar (2).

Penguat ini memiliki ciri khusus yaitu sinyal keluaran memiliki beda fasa
sebesar 180o. Pada rangkaian penguat yang ideal memiliki syarat bahwa
tegangan masukan sama dengan 0 dan impedansi masukan tak
terhingga. Sehingga dari rangkaian tersebut dapat diperoleh rumus
penguat adalah sebagai berikut :
iin + if = i_
dimana i- = 0, maka
Substitusi persamaan (2) dan (3) ke persamaan (1) sehingga diperoleh

Tanda (-) negatif menunjukkan terjadi pembalikan pada keluarannya atau
memiliki beda fasa sebesar 1800 dengan masukannya.

2.3 Rangkain Penguat Non-Inverting

Rangkaian untuk penguat non-inverting adalah seperti yang
ditunjukkan gambar (3).
Penguat tersebut dinamakan penguat non-inverting karena masukan dari
penguat tersebut adalah masukan non-inverting dari Op Amp. Tidak
seperti penguat inverting, sinyal keluaran penguat jenis ini sefasa dengan
sinyal masukannya. Seperti pada rangkaian penguat inverting syarat ideal
sebuah penguat adalah tegangan masukan sama dengan 0 dan
impedansi masukan tak terhingga. sehingga dari rangkaian tersebut
dapat diperoleh rumus penguat adalah sebagai berikut :

Substitusi persamaan (5) dan (6) ke persamaan (1) sehingga diperoleh

2.4 Rangkaian Penguat Penjumlah

Rangkaian penjumlah adalah konfigurasi op – amp sebagai penguat dengan
diberikan input lebih dari satu untuk menghasilkan sinyal output yang linier yang sesuai
dengan nilai penjumlahan sinyal input dan faktor penguat yang ada. Pada umumnya
rangkaian penjumlah adalah rangkaian penjumlah dasar yang disusun dengan penguat
inverting dan non inverting yang diberikan input 1 line.
Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa inputan yang berupa tegangan DC yang
diberikan ke line input penguat berturut – turut melalui R1, R2, dan Rn. Besarnya inputan
yang masuk akan dikuatkan dengan menggunakan op – amp yang diberikan dengan
penguatan ( Av ) tertentu. Tiap sinyal input mengikuti nilai perbandingan dari Rf dan resistor
input masing – masing ( R1, R2, dan Rn ).

2.4.1 Penguat Penjumlah Pembalik
Pada operasi adder/penjumlahan sinyal secara inverting, input yang berada pada
V1,V2,V3 di hubungkan dengan hambatan yaitu R1,R2, dan R3 setelah di hubungkan dengan
hambatan, lalu di hubungkan dengan masukan negatif pada op-amp. Besarnya penjumlahan
sinyal masukan tersebut bernilai negatif karena penguat operasional dioperasikan pada
mode membalik. Besarnya penguatan tegangan (Av) tiap sinyal input mengikuti nilai
perbandingan Rf dan resistor input masing-masing (R1,R2,R3).
2.4.2 Penguat Penjumlah Tak Pembalik
Rangkaian penjumlah non-inverting memiliki penguatan tegangan yang tidak
melibatkan nilai resistansi input yang digunakan. Oleh karena itu dalam rangkaian
penjumlah non-inverting nilai resistor input (R1, R2, R3) sebaiknya bernilai sama persis,
hal ini bertujuan untuk mendapatkan kestabilan dan akurasi penjumlahan sinyal yang
diberikan ke rangkaian. Pada rangkaian penjumlah non-inverting diatas sinyal input (V1, V2,
V3) diberikan ke jalur input melalui resitor input masing- masing (R1, R2, R3). Besarnya
penguatan tegangan (Av) pada rangkaian penguat penjumlah non-inverting diatas diatur
oleh Resistor feedback (Rf) dan resistor inverting (Ri).
2.5 Rangkain Integrator

Rangkaian Integrator ini memiliki fungsi dan biasanya sering menjadi alat untuk
melakukan komputasi sinyal analog. Dan rangkaian inegrator ini tidak jarang menjadi alat
untuk menyelesaikan persamaan integral yang terjadi. Untuk melakukan penyelesaian
persamaan integral, rangkaian integrator membutuhkan sumber tegangan DC yang kuat dan
stabil. Jika tegangan tidak stabil, kemungkinan proses tersebut akan hilang. Dan rangkaian
integrator ini berbeda dengan rangkaian lainnya jika terkena tegangan yang tidak stabil, bisa
diperkuat dengan penguatan lingkar terbuka.

Rangkaian Integrator aktif dengan op-amp merupakan rangkaian penguat inverting yang
menggunakan kapasitor untuk menggantikan komponen ketahanan umpan balik tegangan.
Dan anda bisa melihat skema rangkaian integrator seperti di bawah ini.

Pada rangkaian tersebut, arus di i yang melewati simbol R akan terus menuju ke C akibat tidak
dibalikkan. Untuk penghitungan serta analisanya, maka didapatkan rumus :

ic : C * dvc / dt

Sementara untuk tegangan output pada rangkaian integrator dituliskan dengan rumus sebagai berikut :

Vo : -1/C ∫ idt : -1 / RC ∫ Vmdt

Pada gambar dan analisa diatas maka didapatkan nilai atau besaran tegangan Vo merupakan
integral dari input tegangan tersebut.Untuk mengetahui batas normal dari frekuensi yang
melalui kapasitor bisa menggunakan perhitungan :
Fo : 1 / 2π R1Cf

Untuk penggunaan normal, perlu dilakukan pemutusan dan penyambungan kembali atau
mereset dengan rentang waktu tertentu. Setelah mereset, proses integrasi sudah bisa
dilakukan kembali. Biasanya pula ditambahkan tahanan yang dirangkai paralel dengan
kapasitor feedback yang diberi nama RF pada rangkaian integrator tersebut. Dan skema
gambar di bawah ini menunjukkan rangakain integrator yang belum menggunakan
komponen tambahan dimana sering diparalel dengan kapasitor. Nilai ROM biasanya diantara
0 sampia nilai R1.

Pada gambar skema rangkaian tersebut, perhitungan nilai Rf berdasarkan kepada
komponen fa dab fb, dimana fa harusnya memiliki nilai lebih kecil dibandingkan
dengan fb. Untuk rumus dari fb sendiri adalah :

Fa : 1 / 2π RfCf

Sementara untuk mengetahui besaran fa adalah :

Fb : 1 / 2π R1Cf

2.6 Rangkaian Oscillator
Osilator atau Oscillator adalah suatu rangkaian elektronika yang menghasilkan sejumlah
getaran atau sinyal listrik secara periodik dengan amplitude yang konstan. Jadi sinyal arus DC
(searah) dari rangkaian alat pencatu daya atau Power Supply dikonversikan oleh rangkaian
osilator menjadi sinyal AC (bolak-balik) sehingga menghasilkan sinyal listrik pada periodik
yang memiliki amplitude konstan. Periodik yang dimaksud dalam pengertian osilator ini
adalah waktu yang dibutuhkan untuk menempuh satu kali getaran atau waktu yang
dibutuhkan pada satu siklus gelombang bolak-balik. Sedangkan amplitude adalah simpangan
terjauh yang diukur dari titik keseimbangan dalam suatu getaran. Gelombang yang
dihasilkan pada osilator adalah gelombang sinus (sinusoide wave), gelombang kotak (square
wave), dan gelombang gigi gergaji (saw tooth wave). Osilator dapat dikelompokkan dalam
beberapa kategori. Berdasarkan pembangkitannya osilator dibagi menjadi 2, yaitu osilator
self sustaining dan osilator nonself sustaining. Selanjutnya osilator juga dapat
dikelompokkan berdasarkan gelombang yang dibangkitkan, yaitu osilator sinusoidal atau
osilator harmonic dan osilator relaksasi. Osilator sinusoidal menghasilkan suatu bentuk
gelombang sinusoidal atau mendekati sinusoidal pada frekuensi tertentu. Sedangkan
osilator relaksasi menghasilkan suatu bentuk gelombang seperti segi empat dan gigi gergaji.
Kemudian osilator dapat pula dikelompokkan berdasarkan karakteristik frekuensi
keluarannya, yaitu:

Osilator frekuensi rendah atau low frequency oscillator: merupakan osilator yang dapat
membangkitkan frekuensi rendah di bawah 20 Hz. class="MsoNormal" style="line-height:
150%; text-align: justify;"> Osilator audio atau audio oscillator: merupakan osilator yang
dapat membangkitkan frekuensi audio di antara 16 Hz sampai 20 kHz. Osilator frekuensi
radio atau radio oscillator: merupakan osilator yang dapat membangkitkan frekuensi radio di
antara 100 kHz sampai 100 GHz.

2.7 IC Op Amp 741

IC Op Amp 741 merupakan Rangkaian op amp ini dikemas dalam bentuk dual in-line
package (DIP). DIP memiliki tanda bulatan atau strip pada salah satu ujungnya untuk
menandai arah yang benar dari rangkaian. Pada bagian atas DIP biasanya tercetak nomor
standar IC. Perhatikan bahwa penomoran pin dilakukan berla-wanan arah jarum jam,
dimulai dari bagian yang dekat dengan tanda bulatan/strip. Pada IC ini terdapat dua pin
input, dua pin power supply, satu pin output, satu pin NC (no connection), dan dua pin
offset null. Pin offset null memungkinkan kita untuk melakukan sedikit pengaturan terhadap
arus internal di dalam IC untuk memaksa tegangan output menjadi nol ketika kedua input
bernilai nol. IC op amp memiliki kelakukan yang sangat mirip dengan konsep op amp ideal
pada analisis rangkaian.
XXI. Hasil dan Analisis
Pada saat percobaan, praktikan akan melakukan bebrapa langkah dan menggunkan
bebrapa alat dan bahan yang telah disediakan untuk percobaan mengukur arus,
percobaan mengukur Vout, Vin, dan frekuensi pada Op Amp.

A. Tugas 1 : Rangkaian Penguat Non-Inverting
Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan untuk mengukur V in dan Vout
pada rangkaian penguat non-inverting.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Merangkai rangkaian penguat non-inverting seperti pada

modul.

2. Mengukur dan mencatat nilai aktual resitor 1 kΩ.

3. Menyambungka Vp ke titik A, B, C,dan D.

4. Mencatat nilai Vin dan Vo.

Tabel 1-A Data perbandingan pengukuran Vin dan Vout Rangkaian Non-Inverting secara
perhitungan dan Multimeter Digital
Titik Nilai Perhitungan Nilai Pengukuran
Vin (V) Vout (V) Vin (V) Vout (V)
A 9 18 8,5 17,62
B 7 14 6,39 13,72
C 5 10 4,46 9,06
D 3 6 2,75 5,00

Analisis :

Setelah melakukan perbandingan pengukuran V in dan Vout rangkaian non-inverting
ternyata nilainya berbeda, diakibatkan beberapa faktor yaitu nilai resitor yang tidak tepat 1
kΩ, tegangan input positif maupun negatif yang tidak tepat 12 volt dan tingkat tingkat
presesi setiap alat pengukur. Namun segala keterbatasan itu masih dalam nilai yang
dimaklumi sehingga hasil pengukuran masih dapat ditoleransi dan dikatakan percobaan
rangkaian Op-Amp non inverting berhasil (sesuai dengan teori). Pada percobaan tersebut
juga di dapat nilai aktual resistor 1 kΩ = 0,93 kΩ. Rangkaian resistor umpan balik = ( R f/Rin) +
1 = (1/1) + 1 = 2 (artinya keluaran tegangan output harus dua kali lipat tegangan input).
Adapun rumus untuk menghitung nilai Vin = (R/Rtotal) x Vsumber dan Vout = ( (Rf/Rin) + 1) x Vin.
Berikut perhitungan mencari Vin dan Vout pada masing masing titik:

titik A :> Vin = (9,9/13,2) x 12 = 9 Volt

Vout = ( (1/1) + 1) x 9 = 18 Volt

Titik B :> Vin = (7,7/13,2) x 12 = 7 Volt
Vout = ( (1/1) + 1) x 7 = 14 Volt

Titik C ;> Vin = (5,5/13,2) x 12 = 5 Volt

Vout = ( (1/1) + 1) x 5 = 10 Volt

Titik D :> Vin = (3,3/13,2) x 12 = 3 Volt

Vout = ( (1/1) + 1) x 3 = 6 Volt

Adapun nilai pengukuran diapat menggunakan multimeter digital sehingga tidak diperlukan
rumus untuk mencari nilai Vin dan Vout. Vsumber diperoleh dari power supply.

Jadi pada percobaan ini praktikan harus merakit rangkaian penguat non- inverting
dengan benar agar tidak terjadi kerusakan pada IC 471.

B. Tugas 2 : Rangkaian Penguat Inverting
Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan untuk mengukur V in dan Vout
pada rangkaian penguat inverting.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Merangkai rangkaian penguat inverting seperti pada gambar

di modul.

2. Mengukur dan mencatat nilai aktual resistor yang

digunakan.

3. Menyambngkan titik Vp ke titik A dan B.

4. Mencatat nilai Vin dan Vout.

5. Mengatur nilai keluaran generator sinyal untuk

menghasilkan output op-amp (V out) sebesar 4 Vpp dengan

frekuensi 500 Hz.

Tabel 1-B Data perbandingan pengukuran Vin dan Vout Rangkaian Inverting secara
perhitungan dan Multimeter Digital
Titik Nilai Perhitungan Nilai Pengukuran
Vin (V) Vout (V) Vin (V) Vout (V)
A 4 -8,8 3,94 -9,01
B 6 -13,2 6,04 -14,01

Tabel 2-B Data Vp dititik A
V Max (V) Min (V) volt
In 2,52 -2,28 4,80
Out -3,88 -8,44 4,76
Tabel 3-B Data Vp dititk B
V Max (V) Min (V) volt
In 2,44 -2,5 4,94
Out -4,12 -8,76 4,64
Analisis :

Setelah melakukan perbandingan pengukuran V in dan Vout rangkaian inverting
ternyata nilainya berbeda, diakibatkan beberapa faktor yaitu nilai resitor yang tidak tepat 1
kΩ, 2,2 kΩ, 3,3 kΩ tegangan input positif maupun negatif yang tidak tepat 12 volt dan
tingkat tingkat presesi setiap alat pengukur. Namun segala keterbatasan itu masih dalam
nilai yang dimaklumi sehingga hasil pengukuran masih dapat ditoleransi dan dikatakan
percobaan rangkaian Op-Amp inverting berhasil (sesuai dengan teori). Pada percobaan
tersebut juga di dapat nilai aktual resistor 1 kΩ = 0,93 kΩ, 2.2 kΩ = 2,17 kΩ, 3,3 kΩ = 3,40 kΩ.
Rangkaian resistor umpan balik = -R f/Rin = -2,2/1= -2,2 (artinya keluaran tegangan output
harus -2,2 kali lipat tegangan input). Adapun rumus untuk menghitung nilai V in = (R/Rtotal) x
Vsumber dan Vout = ( -Rf/Rin ) x Vin. Berikut perhitungan mencari V in dan Vout pada masing masing
titik:

titik A :> Vin = (2,2/6,6) x 12 = 4 volt

Vout = (-2,2/1) x 4 = -8,8 volt

titik B :> Vin = (3,3/6,6) x 12 = 6 volt

Vout = (-2,2/1) x 6 = -13,2 volt

Adapun nilai pengukuran diapat menggunakan multimeter digital sehingga tidak diperlukan
rumus untuk mencari nilai Vin dan Vout. Vsumber diperoleh dari power supply. Pada tabel 2 dan 3
diperoleh dari generator sinyal.

Jadi pada percobaan ini praktikan harus merakit rangkaian penguat inverting dengan
benar agar tidak terjadi kerusakan pada IC 471.

C. Tugas 3: Rangkaian Summer (Penjumlah)
Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan untuk mengukur V in dan Vout
pada rangkaian penguat summer (penjumlah).

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Memodifikasi rangkaian summer seperti gambar di modul.

2. Mengukur dan mencatat nilai aktual resistor.

3. Mengatur keluaran generator sinyal.

4. Menyambungkan Vp ke titik A dan B.

5. Mencatat nilai Vin dan Vout.
Tabel 1-C Perbandingan Nilai Vin dan Vout Rangkaian Summer di titik A dan B
Vp di titik A Vp di titik B
V Max(V Min(V (Volt) V Max(V Min(V (Volt)
) ) ) )
In 1,24 60 mv 1,18 In 1,26 80 mV 1,14
Ou -8,40 -1,90 1,06 Ou -600 -1,46 0,86
t mv t mv

Analisis :

Setelah melakukan percobaan ternyata nilai Vin dan Vout rangkaian summer di titik A
dan B ternyata berbeda. Pada praktikum ini didapat nilai aktual resistor 1 kΩ(pertama) =
0,99 kΩ, 1 kΩ(kedua) = 0,98 kΩ, 2,2 kΩ = 2,17 kΩ. Nilai V in dan Vout pada tabel didapat dari
osiloskop sehingga tidak diperluakan dicari nilainya dengan perhitungan rumus. Adapun
rumus untuk menghitung rangkaian summer pada gambar adalah
Jadi pada percobaan ini praktikan harus merakit rangkaian penguat summer dengan
benar agar tidak terjadi kerusakan pada IC 471. Osiloskop yang digunakan menggunakan DC
coupling.

D. Tugas 4: Rangkain Integrator
Pada tugas ini, praktikan akan mengamati gelombang output dengan menggunakan
osiloskop pada rangkaian integrator.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Menyusun rangkaian integrator seperti yang dimodul.

2. Merangkai Vs dengan sinyal kotak menggunakan generator

sinyal pada frekuensi 1kHz, 0,5 V pp.

3. Mengamati gelombang output menggunakan osiloskop.

4. Mengubah Amplitudo sebesar 0,1 V pp.

Tabel 1-D Gambar Sinyal Pada Osiloskop
Gambar Sinyal Pada Osiloskop
Vs (Vpp) Gelombang Input Gelombang Output

0,5

0,1

Tabel 2 D Perbandingan Nilai Vin dan Vout pada rangkaian Integrator
Amplitudo = o,5 Vpp Amplitudo = 0,1 Vpp
V Max Min (mV) V Max Min (mV)
(mV) (mV) (mV) (mV)
In 136 -422 560 In 144 -440 584
Out -672 - 490 Out -664 - 500
1160 1160

Analisis :

Rangkaian Integrator adalah rangkaian penguat yang berfungsi mengintegralkan
tagangan input terhadap waktu. Rangkaian ini juga berasal dari rangkaian inverting yang
tahanan baliknya diganti dengan menggunakan kapasitor. Secara umum, umpan balik positif
akan menghasilkan osilasi sedangkan umpan balik negatif menghasilkan penguatan yang
dapat terukur. Ketika inputnya berupa sinyal DC(frekuensi = 0), kapasitor akan berupa saklar
terbuka. Jika tanpa resistor feedback seketika itu juga outputnya akan saturasi sebab
rangkaian umpan balik Op-Amp menjadi open loop (penguatan open loop Op-Amp ideal t
idak berhingga atau sangat besar). Maka rangkaian feedback integrator harus diparalelkan
dengan sebuah resistor dengan nilai sebesar 10 kali. Secara teori rangkaian merupakan
penguat tidak linier yaitu penguat yang bentuk sinyal keluarannya tidak sama dengan
bentuk sinyal masukannya. Jika sinyal masukannya berbentuk sinusoidal maka gelombang
keluarannya berbentuk kotak, jika sinyal masukannya berbentuk kotak maka sinyal
keluarannya berbentuk segitiga, begitu pula jika sinyal masukannya berbentuk segitiga maka
sinyal keluarannya berbentuk sinusoidal. Ternyata pada Sinyal Osiloskop yang ada pada
tabel sesuai dengan teori yang telah di uraikan diatas, maka percobaan berhasil.

E. Tugas 5: Rangkaian Op-Amp Oscillator
Pada tugas ini, praktikan akan mengamati sinyal gelombang output dengan
menggunakan osiloskop pada rangkaian Oscillator.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :

1. Menyususun rangkaian Oscillator.

Mengamati sinyal gelombang output.
Analisis :

Dari gambar didapat nilai Vpp sebesara 5 v, gelombang berbentuk segitiga yang beraturan
yang berarti rangkaian yang kita rangkai benar. Sesuai dengan teori sebelumnya Jika sinyal
masukannya berbentuk sinusoidal maka gelombang keluarannya berbentuk kotak, jika
sinyal masukannya berbentuk kotak maka sinyal keluarannya berbentuk segitiga, begitu pula
jika sinyal masukannya berbentuk segitiga maka sinyal keluarannya berbentuk sinusoidal,
maka sinyal masukan pada percobaan ini adalah berbentuk kotak yang tertera sebelah
kanan gelombang pada gambar.

XXII. Simpulan
Melalui praktikum yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan bahwa
tegangan sebelum menggunakan Penguat Operasional berbeda dengan tegangan yang
dihasilkan setelah menggunakan Penguat Operasional baik itu Inverting maupun Non-
Inverting,summer maupun integrator.
Fungsi breadboard pada praktikum ini adalah suatu alat tempat kita untuk
merangkai rangkaian sesuai yang kita inginkan.

Penguat operasional atau yang dikenal sebagai Op-Amp merupakan
suatu rangkaian terintegrasi atau IC yang memiliki fungsi sebagai
penguat sinyal, dengan beberapa konfigurasi. Rangkaian Op-Amp terdiri
dari rangkaian inverting, non-inverting, summer,integrator dan oscillator.

rumus untuk menghitung rangkaian non-inverting nilai V in = (R/Rtotal) x Vsumber dan
Vout = ( (Rf/Rin) + 1) x Vin. Adapun rumus untuk menghitung nilai rangkaian inverting V in =
(R/Rtotal) x Vsumber dan Vout = ( -Rf/Rin ) x Vin.

REFERENSI

[1] Giancoli. 2001. FISIKA JILID 2. Jakarta : Erlangga.

[2] Hikam. 2005. Eksperimen Fisika Dasar Untuk Perguruan

Tinggi. Jakarta : Kencana.

[3] Faulkenberry, Luces M.1982.An Introduction to Op-

Amp, with Linear IC Applications.

[4] http://elektronik-dasar.web.id/karakteristik-penguat-

membalik-inverting-amplifier/,22-09-2016,19.40.

[5] McGrew-Hill Inc.1990. Penuntun Praktikum

Elektronika . All Rights Reserved.
Lampiran

A. Lampiran Tugas 1

B. Lampiran Tugas 2
C. Lampiran Tugas 3
D. Lampiran Tugas 4

E. Lampiran Tugas 5
Percobaan IV Gejala Transien
Josep V. H. Hulu (14S16059)
Tanggal Percobaan : 24/11/2017
[Els2102] [Praktikum Rangkaian Elektrik]
[Laboratorium Dasar Teknik Elektro ] – Teknik Elektro

Institut Teknologi Del

Abstrak— in this practicum the students will recognice the natural response of the forced response and the
commg1plete response of a circuit containing energy storage and at this practicum or in this lab the students
will calculate the time constant of the rc circuit of the time response of the circuit then the students wiil
hoping understand the effect of the transient voltage source in the ac circuit.

Key word- ,Complete respons, Forced response, Natural response.

XXIII. I. PENDAHULUAN
• Latar Belakang
Ada praktikum kali ini kita akan melakuan percobaan untuk menganalisis dan
mengamati gejala transien yang memiliki komponen penyimpanan energy seperti
inductor dan kaspasitor dan kita akan melakukan pengamatan meggunakan sinyal yang
akan ditamoilkan pada osiloskop.
• Tujuan
1. Mengenali adanya respon nautral,respon paksa, dan respon lengkap yang di dapat
dari suatu rangkaian yang mengandung komponen penyimpan tenaga.
2. Memahami dan akan menghitung konstanta waktu rangkaian RC dari respons waktu
rangkaian
3. Memahami dan menghitung konstanta dari waktu rangkaian RC dari respons waktu
rangkaian.

II. LANDASAN TEORETIS  Gejala Transien.
Gejala transien terjadi pada rangkaian-rangkaian yang mengandung
komponen penyimpan energi seperti induktor dan/atau kapasitor. Gejala
ini timbul karena energi yang diterima atau dilepaskan oleh komponen
tersebut tidak dapat berubah seketika (arus pada induktor dan tegangan
pada kapasitor).
Pada rangkaian tersebut terjadi suatu respon rangkaian yang disebut
dengan respon lengkap. Respon lengkap terdiri dari respon alami
(natural response) dan respon paksa (forced response), dimana hal
tersebut dapat dinyatakan dalam persamaan berikut:

�𝑡 =�𝑛 +��

Ket: Vt = Respon Lengkap
Vn = Respon Natural
Vf = Respon Paksa

Pada kapasitor terdapat dua kejadian yang berpengaruh pada gejala
transien, yaitu pengisian energy (charging) dan pengosongan energy
(discharging).

Gambar di atas menggambarkan tentang perubahan tegangan terhadap
waktu pada saat pengisian tegangan kapasitor, hal tersebut dapat
dirumuskan sbb:

�𝑡 =�𝑠𝑠(1−�−𝑡/τ)

Sedangkan pada pengosongan tegangan pada kapasitor ditunjukkan
pada gambar di bawah.

Keadaan tersebut dapat dinyatakan dalam persamaan sbb:

�𝑡 =�𝑠𝑠 +(�0 −�𝑠𝑠)�−𝑡/τ

 Respon Natural,Paksa,dan Lengkap
Respon natural ialah respon yang terjadi ketika terdapat sebuah rangkaian dengan
komponen penyimpan tegangan dan tanpa sumber eksternal seperti sumber arus dan
sumber tegangan.

Vc (t) = Vc(t0) x e – t / RC τ = R x c

Respon paksa ialah merupakan respon yang terjadi ketika suatu komponen
kapasitor/induktor dengan sumber tegangan bebas telah mencapai keadaan steady state
(mapan).

Respon lengkap ialah merupakan respon gabungan dari respon natural dan juga respon
lengkap ketika terdapat sumer tegangan bebas pada rangkaian mengandung komponen
kapasitor/induktor.

XXIV. III. HASIL DAN
ANALISIS
1. Percobaan 1
Hasil dalam osiloskop:

CH Vmax Frekuensi Vpk-pk
CH1 6,87V 1kHz 3,33V
CH2 5,29V 975Hz 384mV

Analisa :

Pada percobaan yang pertama terdapat sebuah kit yang mengenai gejala transien dimana
terdapat 3 buah switch dan dua buah kapasitor. Rangkaian ini akan mentrasfer tegangan
dari sumber kepada 2 buah kapasitor tersebut. Untuk selang waktu yang pertama kapasitor
pertama akan diisi hingga penuh. Selanjutnya untuk selang waktu yang kedua energy dari
kapastior pertama akan dialihkan ke kapasitor kedua. Ini terlihat dari nilai tegangan
kapasitor pertama yang menurun dan kemudian tegangan kapasitor yang bertambah.
Selanjutnya kapasitor akan dikosongkan kembali. Perisitiwa ini dapat kita amati seperti pada
gambar hasil percobaan diatas. Dimana untuk selang waktu pertama kapasitor pertama
akan diisi. Selanjutnya sebagian tegangan dari kapasitor pertama akan dialihkan ke kapasitor
kedua dan kemudian akan dikosongkan kembali kedua kapasitor tersebut.
2. Percobaan 2
• R1 = 1kΩ
Hasil dalam osiloskop:

CH Vmax Frekuensi Vpk-pk
CH1 7.99V 1kHz 5,69V
CH2 5.44V 977Hz 623mV

• R1 = 4,7kΩ
Hasil dalam osiloskop:
CH Vmax Frekuensi Vpk-pk
τ CH1 6,04V 1kHz 1,76V = 220.10-9 x 4,7.103 = 1034.10-6
C1
-9 3 -6
τ CH2 5,17V 866Hz 202mV C2 = 470.10 x 4,7.10 = 2209.10
 R2 = 2,2kΩ
Hasil dalam osiloskop:
CH Vmax Frekuensi Vpk-pk
τ CH1 6,65V 1kHz 2,97V C1 = 220.10-9 x 2,2.103 = 484.10-6
-9 3 -6
τ CH2 5,47V 975Hz 671mV C2 = 470.10 x 2,2.10 = 1034.10
 R2 = 10kΩ
Hasil dalam osiloskop:
CH Vmax Frekuensi Vpk-pk
τ CH1 7,01V 1kHz 3,53V C1 = 220.10-9 x 2,2.103 = 484.10-6
-9 3 -6
τ CH2 5,16V 978Hz 186mV C2 = 470.10 x 10.10 = 4700.10
• C1 = 100nF
Hasil dalam osiloskop:
CH Vmax Frekuensi Vpk-pk
τ CH1 7,66V 1kHz 5,11V = 100.10-9 x 2,2.103 = 220.10-6
C1
-9 3 -6
τ CH2 5,38V 978Hz 546mV C2 = 470.10 x 4,7.10 = 2209.10
• C1 = 470nF
Hasil dalam osiloskop:
CH Vmax Frekuensi Vpk-pk
τ CH1 6,14V 1,01kHz 1,88V C1 = 470.10-9 x 2,2.103 = 1034.10-6
-9 3 -6
τ CH2 5,2V 725Hz 239mV C2 = 470.10 x 4,7.10 = 2209.10
• C2 = 100nF
Hasil dalam osiloskop:
CH Vmax Frekuensi Vpk-pk
τ CH1 6,92V 1kHz 3,35V C1 = 220.10-9 x 2,2.103 = 484.10-6
-9 3 -6
τ CH2 5,97V 1,02kHz 1,43V C2 = 100.10 x 4,7.10 = 470.10
 C2 = 220nF
Hasil dalam osiloskop:

CH Vmax Frekuensi Vpk-pk
CH1 6,89V 1kHz 3,34V
CH2 5,55V 973Hz 774mV

τC1 = 220.10-9 x 2,2.103 = 484.10-6 τC2 = 220.10-9 x 4,7.103 = 1034.10-6
Analisis:

percobaan ini terjadi beberapa nilai penyimpangan antara hasil
perhitungan dengan hasil pengamatan. Penyimpangan ini terjadi karena
beberapa faktor diantaranya pengaturan time/div yang terlalu besar,
sehingga skala yang terbaca kurang presisi, selain itu penyimpangan
tersebut terjadi disebabkan karena terkadang kapasitor yang digunakan
tidak dihubungsingkatkan terlebih dahulu, sehingga data yang
didapatkan kurang presisi.Namun pada umumnya dari percobaan ini
dapat diambil kesimpulan bahwa semakin kecil nilai resistor maupun
kapasitor, semakin kecil juga time respon, sehingga konstanta waktu
semakin kecil

Percobaan 3

• V = 2 Volt
Hasil dalam osiloskop:

CH Vmax Frekuensi Vpk-pk
CH1 2,59V 999Hz 1,18V
CH2 2,05V 998Hz 88,4mV

τC1 = 220.10-9 x 2,2.103 = 484.10-6 τC2 = 470.10-9 x 4,7.103 = 2209.10-6

• V = 4 Volt
Hasil dalam osiloskop:

CH Vmax Frekuensi Vpk-pk
CH1 5,5V 1kHz 2,67V
CH2 4,23V 1,04kHz 307mV

τC1 = 220.10-9 x 2,2.103 = 484.10-6 τC2 = 470.10-9 x 4,7.103 = 2209.10-6

Analisis

Dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa besarnya V tidak
berpengaruh terhadap besar τ.
karena beberapa kesalahan, hal tersebut tidak dapat dibuktikn pada
percobaan ini, hal ini karena sebelum digunakan kapasitor tidak
dihubung-singkatkan terlebih dahulu sehingga hal tersebut berpengaruh
pada hasil data yang didapatkan.

3. Percobaan 4 Hasil dalam osiloskop:

CH Vmax Frekuensi Vpk-pk
CH1 4,89V 1kHz 2,96V
CH2 2,14mV 1kHz 4,04mV

Analisis :

Rangkaian yang digunakan merupakan rangkaian seri R-L-C dengan menggunakan sumber
tegangan AC. Sehingga ini merupakan rangkaian dengan orde 2 yang merupakan bentuk
rangkaian osilasi. Namun nilai osilasinya merupakan osilasi yang teredam sesuai dengan
sifat kapasitor dan induktor pada umumnya yang menyimpan energy. Faktor peredamnya
bergantung pada nilai masing-masing komponen yang digunakan. Semakin besar nilai
komponen yang digunakan

maka akan semakin cepat juga osilasinya untuk

IV. Kesimpulan

• Gejala transien yang terjadi sangat dipengaruhi oleh konstanta waktu dari rangkaian
tersebut. Semakin kecil respon konstanta waktunya maka akan semakin cepat suatu
respon gejala transien akan terjadi
• ada gejala transien terdapat respon natural, respon paksa, dan respon lengkap. Respon
natural ialah keadaan dimana tidak terdapat sumber tegangan pada keadaan bebas.
Respon paksa ialah respon yang terjadi ketika sudah mencapai keadaan mapan.
Sedangkan respon lengkap ialah penjumlahan dari respon natural dan respon paksa.
• Semakin kecil nikai resisitor dan kapasitor , maka semakin kecil juga time respon sehigga
konstanta waktu semakin kecil
XXV. REFERENSI

[1] Alexander, Charles K.,and Sadiku,
Matthew N.O. Fundamentals of
Electric Circuit. New York: The
McGraw
Hill Companies, 2007.

[2] Mervin T.Hutabarat,
dkk ,Petunjuk Pratikum
Rangkaian Elektrik, 37-41,
Laboratorium Dasar Teknik
Elektro STEI
- ITB, 2009.

[3]
Siagian,Pandapotan
dkk.2015.Praktikum
Rangkaian
Elektrik.Sitoluama.

[4] Sadiku, Matthew O., Fundamentals of Electric Circuits,

Mc Graw Hill, New York, 2013
XXVI. Lampiran

1.

Percobaan 1


C1=1 00n
F

2.

Percobaan 2

• R1=1kΩ
• C1=470nF

• R1=4,7kΩ

• C2=100nF

• R2=2,2kΩ

• C2=220nF

• R2=10kΩ

3. Percobaan 3
• Vsumber = 4 V
• Vsumber = 2 V

4. Percobaan 4
• Hasil pada osiloskop tektronik

• Hasil pada Signal Analyzer

• Hasil pada Signal Analyzer ketika R dan C diperbesar
5. Rangkaian 1(Untuk percobaan 1, 2, dan 3)

6. Rangkaian 2(Untuk percobaan 4)
Rangkaian percobaan
Percobaan V
RANGKAIAN AC
Josep Veri Harianto Hulu (14S16059)
Tanggal Percobaan : 08/12/2017
[ELS 2102][ Praktikum Rangkaian Elektrik]
[Laboratium Dasar Teknik Elektro] –Teknik Elektro
Institut Teknologi Del
Abstrak— In conducting the experiment 5 The AC circuit
aims to enable the practitioner to understand the concept of
impedence in a physical sense, to understand the relationship
between resistance impedence and reactance in series RC and RL
series, to understand the relationship of voltage and current
in series RC and RL series, measuring at the voltage and
current phases at series of RC and RL series, understand the
response to frequency in series RC and RL series. Components
often associated with an AC circuit include resistors,
inductors, and capacitors. A resistor connected to an
alternating voltage source will be fed by alternating current
as well. Given Ohm's law in a direct current circuit, this
potential difference value will be equal to the current
multiplied by the resistance of the resistor. An inductor
connected to an alternating voltage source will have a
resistance called inductive rectification. This resistance
depends on the frequency of the current angle or voltage in
the circuit. A capacitor connected to an alternating voltage
source will have the same characteristics when connected to a
DC voltage that is storing energy in the form of an electrical
charge. In conducting this experiment, the practitioner will
assemble the RC circuit, RL circuit, differentiator circuit,
integrator circuit and observe the effect of frequency on the
frequency domain.

Kata Kunci— AC circuit, RC circuit, RL circuit, Differentiator
circuit, Integrator circuit.

XXVII. Pendahuluan
Percobaan 05 “Rangkaian AC” sebuah program untuk mencari V R, VC,Vi,beda fasa dan
konstanta waktu. Adapun tujuan dari praktikum modul 05 “Rangkaian AC” adalah sebagai
berikut :
 Memahami konsep impedensi dalam arti fisik.
 Memahami hubungan antara impedensi resistansi dan reaktansi pada rangkaian seri RC dan
RL.
 Memahami hubungan tegangan dan arus pada rangkaian seri RC dan RL.
 Mengukur pada fasa tegangan dan arus pada rangkaian seri RC dan RL.
 Memahami “response” terhadap frekuensi pada rangkaian seri RC dan RL.
Dalam praktikum ini, beberapa alat dan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :
 Kit Rangkaian RC & RL.
 Generator sinyal.
 Osiloskop.
 Multimeter.
 Resistor : 1 KΩ, 10 KΩ, 100 KΩ, 1MΩ.
 Kapasitor.
 Inductor : 2,5 mH.

XXVIII. Landasan Teoretis
2.1 Rangkaian AC
Rangkaian AC merupakan rangkaian yang sumber arus maupun tegangannya
merupakan fungsi periodik terhadap waktu atau berubah-ubah terhadap waktu.
Rangkaian AC memiliki perbedaan fasa antara arus dan tegangannya selain itu juga
komponen-komponen penyusun

rangkaiannya bisa ditinjau sebagai vektor. Bentuk gelombang dari listrik arus bolak-balik
biasanya berbentuk gelombang sinusoida, karena gelombang sinusoidal yang paling
memungkin kan pengalir an energi secara efisien.

2.1.1 Resistor Pada Rangkaian Arus Bolak-Balik

Rangkaian resistif adalah rangkaian yang hanya mengandung hambatan (R) saja.
Perhatikan gambar berikut.

Pada rangkaian ini V dan i memiliki fase yang sama, artinya i dan V mencapai harga 0 dan
maksimum bersama-sama.
Diagram fasor pada rangkaian resistif ditunjukkan pada gambar diatas. Besarnya kuat arus yang
melalui hambatan dapat dinyatakan dari hukum Ohm yaitu :

, maka I= Imax sin ωt.

2.1.2 Induktor Pada Rangkaian Arus Bolak-Balik

Rangkaian induktif adalah rangkaian yang hanya terdiri atas induktor (kumparan)
dengan mengabaikan hambatan pada kawat kumparan. Bagan rangkaian induktif
ditunjukkan pada gambar berikut.

Besarnya tegangan pada ujung-ujung induktor sama dengan tegangan sumber, sehingga
berlaku :

VL = V = Vmax sin ωt

IL = sin (ωt – )

jika sin (ωt – )=±1 maka = Imax
IL = Imax sin (ωt – ) atau IL = Imax sin (ωt – 90o)

Apabila kita lihat antara persamaan IL (kuat arus dalam induktor) dengan V (tegangan
sumber) terlihat bahwa arus listrik dengan tegangan listrik terjadi selisih sudut fase sebesar
90o atau 3,44/2 di mana kuat arus ketinggalan terhadap tegangan dengan selisih sudut fase
90o.

Perbedaan fase antara kuat arus dan tegangan pada induktor dapat digambarkan dengan
diagram fasor sebagai berikut :

Apabila kita perhatikan persamaan = Imax identik dengan I = pada hukum Ohm, di
mana ωL merupakan suatu hambatan yang disebut dengan reaktansi induktif yang diberi
lambang XL yang besarnya dinyatakan :

XL = ωL = 2πƒL

di mana :

XL = reaktansi induktif (Ohm = Ω)
L = induktansi diri induktor (Henry = H)
ω = frekuensi anguler/sudut (rad/s)
f = frekuensi linier (Hertz = Hz)

Dalam rangkaian induktor jika I menyatakan kuat arus yang mengalir pada induktor, XL
menyatakan reaktansi induktif, Vmax menyatakan tegangan maksimum, dan Vef menyatakan
tegangan efektif tegangan sumber arus AC berlaku hubungan :
2.1.3 Kapasitor Pada Rangkaian Arus Bolak-Balik

Dalam suatu rangkaian arus AC yang terdiri atas kapasitor mempunyai sifat bahwa
antara tegangan dan arus memiliki beda fase, di mana arus mendahului tegangan dengan
beda sudut fase sebesar 90o atau 3,14/2.

Besarnya kuat arus listrik yang mengalir dalam kapasitor dapat dinyatakan dengan laju
perpindahan muatan listrik pada keping kapasitor tersebut yang dinyatakan :

I= di mana q = CV, sehingga

I= = CVmax = cos ωt = CVmax cos ωt
Di mana cos ωt = sin (ωt + 90o) = sin (ωt + )

Maka I = wC Vmax sin (ωt + )= sin (ωt + )

Jika sin (ωt + ) = ± 1 maka Imax = . Hal ini identik dengan hukum Ohm bahwa I = .

Di mana identik dengan sebuah hambatan yang disebut dengan reaktansi kapasitif yang
dilambangkan XC yang besarnya dinyatakan :

di mana :

XC = reaktansi induktif (Ohm = Ω)
C = kapasitas kapasitor (Farad = F)
ω = frekuensi anguler/sudut (rad/s)
f = frekuensi linier (Hertz = Hz)

Dalam rangkaian kapasitor pada arus AC mempunyai sifat bahwa arus mendahului tegangan

dengan beda sudut fase sebesar 90o atau dan berlaku hubungan :

Imax =
2.2 Impedensi

Impedansi merupakan nilai dari hambatan total pada rangkaian listrik arus AC, maka
nilai dari impedansi selalu berbanding terbalik dengan besarnya arus listrik. Karena,
impedansi bersifat menghambat arus yang lewat sehingga menyebabkan arus yang mengalir
menjadi semakin kecil. Secara matematis, hal ini dapat dituliskan sebagai berikut :

Dengan :
I = Arus listrik (Ampere)
V = Tegangan listrik (Volt)
Z = Impedansi (Ohm)

impedansi pada rangkaian R-L-C :

Keterangan :
Z = Impedansi (Ohm)
R = Hambatan rangkaian (Ohm)
XL = Reaktansi induktif (Ohm)
XC = Reaktansi Kapasitif (Ohm)

2.3 Resistansi

Resistansi (Resistance) atau lebih tepatnya disebut dengan Resistansi Listrik
(Electrical Resistance) adalah kemampuan suatu bahan benda untuk menghambat atau
mencegah aliran arus listrik. Seperti yang kita ketahui bahwa arus listrik adalah banyaknya
muatan listrik yang mengalir dalam suatu rangkaian listrik dalam tiap satuan waktu yang
dikarenakan oleh adanya pergerakan elektron-elektron pada konduktor. Maka Resistansi
Listrik yang biasanya dalam bahasa Indonesia disebut dengan Hambatan Listrik ini juga
diartikan sebagai penghambat aliran elektron dalam konduktor tersebut. Nilai Resistansi
atau nilai hambatan dalam suatu rangkaian listrik diukur dengan satuan Ohm atau
dilambangkan dengan simbol Omega “Ω”. Sedangkan prefix atau awalan SI (Standar
Internasional) yang digunakan untuk menandakan kelipatan pada satuan resistansi tersebut
adalah kilo Ohm, Mega Ohm dan Giga Ohm. Hubungan antara Resistansi (Resistance) atau
Hambatan Listrik dengan Tegangan (Voltage) dan Arus Listrik (Current) dapat dijelaskan
dengan Hukum Ohm yang dikemukan oleh seorang fisikawan Jerman yang bernama Georg
Simon Ohm (1789-1854) pada tahun 1825. Berikut ini adalah persamaan Hukum Ohm :

V=IxR

Dimana:
V= Tegangan Listrik (Voltage), diukur dalam satuan Volt
I= Arus Listrik (Current), diukur dalam satuan Ampere
R= Hambatan Listrik atau Resistansi (Resistance), diukur

dalam satuan Ohm

2.4 Reaktansi

2.4.1 Reaktansi Induktif

Reaktansi induktif berbanding dengan nilai frekuensi dan nilai induktansi.

Sebuah induktor terdiri dari suatu kumparan.Pada hukum Faraday tentang induksi
elektromagnetik menyatakan bahwa induksi elektromagnetik menimbulkan Gaya Gerak
Listrik (GGL).Ini disebabkan oleh adanya perubahan fluksi yang terbentuk yang berpotongan
dengan jalur arus listrik.Adapun hukum faraday berbunyi,yaitu :

 "Jika sebuah penghantar memotong garis gaya dari suatu medan magnet (fluks)
yang konstan,maka pada penghantar tersebut akan timbul tegangan induksi".

 "Perubahan fluks medan magnetik didalam suatu rangkaian bahan penghantar,akan
menimbulkan tegangan induksi pada rangkaian tersebut".

GGL ini bersifat seperti menahan laju arus listrik.Pada sumber DC induktor tidak akan
menimbulkan reaktansi,sehingga seperti konduktor biasa,tetapi pada sumber AC maka
induktor akan menghasilkan nilai reaktansi.
2.4.2 Reaktansi Kapasitif

Reaktansi kapasitif berbanding terbalik dengan nilai frekuensi dan nilai kapasitif.

Kapasitor terdiri dari sepasang konduktor yang dipisahkan oleh dielektrik.Intinya adalah
adanya perbedaan potensial antara dua titik dan diantaranya adalah dielektrik.Jika kapasitor
dialiri sumber DC maka salah satu konduktornya akan bermuatan positif dan salah satu
konduktor lainnya akan bersifat bermuatan negatif dan ketika mencapai keseimbangan
antara keduanya maka arus listrik akan berhenti mengalir,sedangkan jika kapasitor dialiri
sumber AC muatan pada tiap konduktornya tidak akan mencapai keseimbangan (belum
penuh muatan maka harus dilepaskan) sehingga arus akan tetap mengalir.Semakin tinggi
frekuensi semakin sedikit juga muatan yang terisi pada kapasitor sehingga semakin kecil pula
hambatannya.

2.5 Rangkaian RC

Rangkaian RC adalah suatu rangkaian seri yang tersusun oleh resistor atau
penghambat / hambatan dan kapasitor yang terhubung oleh suatu sumber arus atau
sumber tegangan. Disini kita memasukkan kapasitor sebagai sebuah elemen
rangkaian yang akan menghantarkan kita ke konsep arus-arusyang berubah
terhadap waktu. Jika sebuah hambatan dimasukkan didalam rangkaian maka
pertambahan muatan dari kapasitor per satuan waktu menuju nilai
kesetimbangannya. Sifat rangkaian RCdidalam selama pemuatan dan pelucutan
dapat dipelajari dengan sebuah osciloskop. Yang dapat mempertunjukkan pada
layar floresensinyagrafik-grafik variasi potensialdengan waktu. Sehingga dapat
terlihat perbedaan potensial V terhadap kapasitor dan perbedaan potensial V
melalui hambatan sebagai fungsi-fungsi dari waktu.Membandingifasa tegangan di
setiap elemen terhadap arus I.

Rumus Rangkaian RC gambar
2.6 Rangkaian RL

Rangkaian RL adalah sebuah rangkaian yang terdiri dari resistor atau
hambatan dan inductor, yang terhubung secara langsung terhadap simber arus atau
sumber tegangan. Bila kontak saklar ditutup maka arus didalam hambatan mulai
naik. Seandainya inductor tersebut tidak ada , maka arus akan naiak dengan cepat.
Akantetapi, karena adanya inductor, maka sebuah tegangan yang muncul didalam
rangkaian tersebut, dari hkum Lenz, maka tegangan gerak elektrik ini menentang
kenaikan arus, yang berarti polaritas tegangan gerak elktik baterai.Jika terminal –
terminal osciloskop dihubungkan melalui hambatan, maka bentuk gelombang yang
dipertunjukkan akan membentuk gelombang dari arus di dalam rangkaian tersebut
karena penurunan potensial melalui R yang menentukan penyimpangan osciloskop,
adalah di berikan oleh V=IR.

Rumus Rangkaian RL gambar
XXIX. Hasil dan Analisis
Pada saat percobaan, praktikan akan melakukan beberapa langkah dan menggunkan
beberapa alat dan bahan yang telah disediakan untuk mencari V R, VC,Vi,beda fasa dan
konstanta waktu.

A. Tugas 1 : Rangkaian RC
Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan untuk menghitung, mengukur
dan mengamati Vi, VR, dan VC dan mencari beda fasa antara Vi dan VR juga VC dan VR.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :
1. Membuat rangkaian seperti pada gambar 5-3 di modul.
2. Menghitung VR dan VC
3. Mengukur VR dan VC dengan multimeter digital.
4. Mengamati Vi, VR dan VC dengan osiloskop.
5. Mencari beda fasa antara Vi dan VR, VC dan VR.
6. Mencatat Hasil.

Berikut gambar hasil gelombang tegangan di resistor, induktor dan Vi yang ditampilkan
osiloskop.
Tabel 1-A Hasil Perhitungan dan Pengukuran VR, VC, dan Vi
V Hasil Perhitungan Hasil Pengukuran
(Volt) (Volt)
VR 1,766 1,766
VC 0,937 0,910
Vi 2 1,999

Analisis :
Pada percobaan rangkaian RC dibuat dalam senuah kit ‘RL dan RC’ yang sudah
tersedia dengan input tegangan dan nilai komponen sebagai berikut: Vi = 2 Vrms, R = 10 kΩ,
C = 0,1 µF, f = 300 Hz. Dapat dilihat dari hasil percobaan di atas bahwa fasa tegangan pada
resistor sama dengan fasa tegangan Vi yang berarti VR dan Vi adalah satu fasa. Sedangkan
fasa pada tegangan kapasitor (VC) tertinggal sejauh 90˚ dibanding Vi, hal ini membuktikan
bahwa Vc lagging terhadap Vi. Sehingga dapat disimpulkan teori benar terbukti dalam
praktikum. Kemudian selain mengetahui beda fasa tegangan pada masing-masing
komponen dicari pula nilai tegangannya, untuk VR dapat dicari dengan pembagi tegangan
dengan rumus sebagai berikut:

|VR| = |(100 kΩ/(10kΩ + 1/jw0,1µF)) X 2 Vrms| = 1,77 Volt

|VC| = |((1/jw0,1µF)/(10kΩ + 1/jw0,1µF)) X 2 Vrms = 0,937 V

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa nilai perhitungan dan pengukuran tidak jauh
berbeda sehingga dikatakan percobaan ini berhasil. Data pada tabel Vi tidak sama dengan
nilai VR + VC, karena Vi bukan merupakan penjumlahan biasa antara VR dan VC melainkan
penjumlahan geometris VR dan VC dengan rumus Vi = √ ( VR ) 2+(VC )2 sehingga
didapat nilai Vi = 1,999.

B. Tugas 2 : Rangkain RL
Pada tugas, praktikan akan melakukan percobaan untuk menghitung VR dan VL,
mengamati Vi dengan osiloskop dan mencari beda fasa antara Vi dan VR dengan osiloskop.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :
1. Membuat rangkaian seperti gambar 5-4 di modul.
2. Menghitung nilai VR dan VL.
3. Mengamati nilai Vi dengan osiloskop.
4. Mencari beda fasa antara Vi dan VR.
5. Mencatat hasil

Berikut gambar hasil gelombang tegangan di resistor, induktor dan Vi yang ditampilkan
osiloskop.
Tabel 1-B Hasil Perhitungan dan Pengukuran VR, VC, dan Vi
V Hasil Perhitungan Hasil Pengukuran
(Volt) (Volt)
VR 1,99 1,50
VC 1,37 1,16
Vi 2 1,95

Analisis :

Pada percobaan rangkaian RC dibuat dalam senuah kit ‘RL dan RC’ yang sudah
tersedia dengan input tegangan dan nilai komponen sebagai berikut: Vi = 2 Vrms, R = 1 kΩ, L
= 2,5 mH, f 60 kHz. Beda fasa pada tegangan induktor/ VL mendahului arusnya sejauh 90 o
atau dikatakan VL lagging terhadap Vi. . Kemudian selain mengetahui beda fasa tegangan
pada masing-masing komponen dicari pula nilai tegangannya, untuk VR dapat dicari dengan
pembagi tegangan dengan rumus sebagai berikut:

|VR| = |(1kΩ / (1kΩ + jw2,5mH)) X 2 Vrms| = 1.99 Volt

|VC| = |(jw2,5mH/(10kΩ + jw2,5mH)) X 2 Vrms| = 0,,94 Volt.

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa nilai perhitungan dan pengukuran tidak jauh
berbeda sehingga dikatakan percobaan ini berhasil. Data pada tabel Vi tidak sama dengan
nilai VR + VL, karena Vi bukan merupakan penjumlahan biasa antara VR dan VL melainkan
penjumlahan geometris VR dan VL dengan rumus Vi = √ ( VR ) 2+(VL)2 sehingga
didapat nilai Vi = 1,95.

C. Tugas 3: Rangkaian Diferensiator
Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan untuk menghitung konstanta
waktu RC dan mengukur bentuk gelombang output.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :
1. Membuat rangkaian seperti gambar 5-5 di modul.
2. Mengatur input dengan bentuk gelombang.
3. Menghitung konstanta waktu RC.
4. Menggambar bentuk gelombang output.
5. Mencatat hasil.

Berikut gambar hasil gelombang yang di tampilkan osiloskop.

Tabel 1-C Perhitungan Konstanta Waktu
C (µF) R (kΩ) τ = RC
0,1 1 kΩ 0,1
10 kΩ 1
100 kΩ 10

Analisis :

Pada percobaan rangkaian diferensiator dibuat dalam sebuah kit ‘RL dan RC’ yang
sudah tersedia. Untuk harga komponennya pada C = 0,1 µF dilakukan tiga kali percobaan
dengan pasangan R yang berbeda-beda mulai dengan nilai 1kΩ, 10 kΩ dan 100 kΩ. Setelah
dilihat dari hasil gelombang osiloskop pada channel 2 di atas (gelombang biru)
menggunakan C = 0,1 µF, semakin besar R yang diberikan maka semakin gelombang
perlahan berubah menjadi gelombang kotak sempurna seperti gelombang input sehingga
dapat dikatakan percobaan ini berhasil. Selain dilakukan pengamatan pada gelombang di
channel 2, praktikan juga diminta untuk menghitung konstanta waktu (τ). Seperti yang
diketahui selama ini bahwa = RC sehingga dengan rumus tersebut berikut ditampilkan hasil τ
dalam bentuk tabel yang di atas. Dari hasil di atas disimpulkan bahwa semakin besar R yang
diberikan maka semakin besar τ nya. Sehingga dapat dikatakan bahwa nilai R berbanding
lurus dengan τ.

D. Tugas 4: Rangkaian Integrator
Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan untuk menghitung konstanta
waktu, menggambar bentuk gelombang, mengamati dan mengukur bentuk gelombang.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :
1. Membuat rangkaian seperti gambar 5-6 di modul.
2. Mengatur input dengan bentuk gelombang segi empat.
3. Menghitung konstanta waktu RC.
4. Menggambar bentuk gelombang output.
5. Mengamati dan mengukur bentuk gelombang output.
6. Mencatat hasil perhitungan.

Berikut gambar hasil gelombang input kotak dengan R 10kΩ dan 100kΩ.
Berikut gambar hasil gelombang input segitiga dengan R 10kΩ dan 100kΩ.
Analisis :

Pada percobaan rangkaian integrator dibuat dalam sebuah kit ‘RL dan RC’ yang
sudah disediakan. Dengan harga komponenya pada C = 0,1 µF dan nilai R adalah 10kΩ dan
100kΩ. Dari data gelombang input kotak menunjukkan bahwa semakin besar nilai resistansi
yang diberikan maka semakin gelombang output pada kapasitor mendekati garis lurus.
Dapat juga disimpulkan rangkaian Integrator berkebalikan dari rangkaian diferensiator yang
semakin besar resistor yang diberikan gelombang tegangan VR justru semakin membentuk
gelombang tegangan input. Dari data gelombang input segitiga menunjukkan Sama seperti
halnya pada rangkaian integrator dengan input kotak. Pada rangkaian integrator dengan
input gelombang berbentuk segitiga juga semakin besar nilai resistansi yang diberikan maka
gelombang tegangan output yang ditunjukkan gelombang biru/kanal dua juga semakin
melandai atau semakin mendekati bentuk garis lurus. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
pada rangkaian integrator apapun bentuk gelombangnya, gelombang output VC akan
membentuk garis lurus bila diberi resistor yang semakin besar.

E. Tugas 5: Pengaruh Frekuensi Diamati pada Domain Frekuensi
Pada tugas ini, praktikan akan melakukan percobaan menghitung konstanta waktu,
mengatur input, mengukur dan menggambar bentuk gelombang output.

Hasil yang didapatkan pada tugas ini :
1. Membuat rangkaian RC.
2. Menghitung konstanta waktu.
3. Mengatur input dengan bentuk gelombang segi empat.
4. Mengukur dan menggambar bentuk gelombang output.
5. Mencatat hasil.

Berikut hasil gambar gelombang diferensiator 500Hz dan 50Hz.

Berikut hasil gambar gelombang diferensiator 500Hz dan 50Hz.
Analisis :

Pada percobaan ini, percobaan dilakukan dengan rangkaian diferensiator dan
rangkaian integrator dimana masing-masing rangkaian akan diberikan masukan frekuensi
yang beragam yaitu 500Hz dan 50Hz. Pada rangkaian diferensiator semakin besar diberikan
frekuensi maka semakin gelombang tegangan pada resistor (VR) membentuk bentuk ideal
dari gelombang inputnya. Sedangkan pada rangkaian integrator semakin besar frekuensi
yang diberikan maka apabila input berbentuk gelombang kotak, output gelombang tegangan
pada VC akan semakin membentuk gelombang segitiga seiring membesarnya frekuensi yang
diberikan. Hal ini sesuai teori dimana pada rangkaian integrator gelombang kotak akan
diubah menjadi gelombang segitiga, gelombang segitiga akan diubah menjadi gelombang
sinus, dan gelombang sinus akan diubah menjadi sinyal kotak. Untuk hasil praktikum
mengenai bode plot dari frekuensi transfer (Vo/Vi) tidak dapat di kerjakan, karena waktu
praktikum yang tidak memadai.

XXX. SIMPULAN
Sinyal tegangan sinusoidal pada R akan sefasa dengan arusnya, pada C
tegangan mendahului 90˚ terhadap arusnya dan pada L tegangan tertinggal 90˚ dari
arusnya. Rangkaian Integrator dan Diferensiator dapat dibuat dari rangkaian RL dan
RC.

Vi tidak sama dengan VR+VC ataupun

VR+VL tapi merupakan penjumlahan
nilai geometrisnya.

Konstanta waktu berbanding lurus dengan nilai resistor.

Semakin besar frekuensi yang diberikan pada rangkaian diferensiator gelombang
input yang kotak akan diubah menjadi gelombang garis lurus seiring membesarnya
frekuensi yang diberikan. Pada rangkaian integrator bila input berupa sinyal gelombang
kotak akan diubah output-nya

menjadi gelombang berbentuk segitiga seiring membesarnya frekuensi yang diberikan.

REFERENSI

[1] Dorf C. Richard, James A. Svoboda, 1996, Introduction to

Electric Circuits, 3rd Edition, John Wiley & Son,

Singapore

[2] Giancoli. 2001. FISIKA JILID 2. Jakarta : Erlangga.

[3] Harmonyati B.K, 1981, Rangkaian Listrik I, Institut

Teknologi Bandung, Bandung.

[4] Hikam. 2005. Eksperimen Fisika Dasar Untuk Perguruan

Tinggi. Jakarta : Kencana.
[5] Hyat, William, 1972, Engineering Circuit Analysis, Mc
Graw Hill., Singapore.
[6] McGrew-Hill Inc.1990. Penuntun Praktikum

Elektronika . All Rights Reserved.

Lampiran

A. A. Lampiran Tugas 1
B. Lampiran Tugas 2

C. Lampiran Tugas 3
D. Lampiran Tugas 4
E. Lampiran Tugas 5
Percobaan VI
RANGKAIAN RSESONANSI

Josep Veri Harianto Hulu (14S16059)
Tanggal Percobaan : 12/01/2018
[ELS 2102][ Praktikum Rangkaian Elektrik]
[Laboratium Dasar Teknik Elektro] –Teknik Elektro
Institut Teknologi Del
Abstrak— In experimenting 6 'Resonance Circuit' aims to know the
serial RLC sequence, can recognize series resonance, parallel
resonance, parallel series resonance, can distinguish serial
and parallel resonance properties, can calculate / estimate
resonance frequency of RLC circuit. RLC circuits are
electrical circuits that contain resistors, capacitors, and
inductors that are connected to each other in parallel or in
series. Serial resonance occurs when the inductive reactance
is equal to the capacitive reactance, XL = XC. Parallel
resonance occurs when the inductive suseptance of a branch is
equal to the capacitive suseptance of the other branch, BL =
BC. Resonance frequency is the process of vibrating an object
because there are other objects that vibrate, this happens
because an object vibrates at the same frequency with the
frequency of the affected object. In this experiment, the pact
will assemble series R, L, C, assemble a series of parallel L
with L and C series, assembling a series of C series with
parallel C and L, applying a resonance circuit in a filter.

Keywords: resonance circuit, series circuit, parallel circuit, inductive reactance, capacitive
reactance.
XXXI. Pendahuluan
Pada praktikum ini kita akan melakukan pengujian pada teorema-teorema yang kita ketahui
tentang rangkaian bolak-balik. Tujuan dari praktikum yang akan dilakukan adalah :
 Mengenal sifat rangkaian RLC
 Mengenal resonansi seri, resonansi paralel, resonansi seri paralel
 Dapat membedakan sifat resonansi seri dan paralel
 Dapat menghitung dan/ atau memperkirakan frekuensi resonansi rangkaian RLC
Dalam praktikum ini, peralatan yang akan digunakan adalah sebagai berikut:
1. Generator Sinyal (1 buah)
2. Osiloskop (1 buah)
3. Kabel BNC – probe jepit (2 buah)
4. Kabel 4mm – jepit buaya (max. 5 buah)
5. Multimeter Digital (2 buah)
6. Breadboard (1 buah)
7. Kabel jumper (1 meter)
8. Induktor 2,5 mH (2 buah)
9. Kapasitor 470 pF (5 buah)
10. Resistor 47Ω (4 buah)

XXXII. Landasan Teoretis
2.1 Rangkaian RLC

Rangkaian R-L-C merupakan rangkaian sederhana yang terdiri atas resistor,
kapasitor, inductor yan g dapat disusun secara seri maupun secara paralel. Rangkaian ini
dapat

membentuk suatu system osilator harmonik. Oleh karena itu rangkaian ini dikatakan
sebagai rangkaian resonansi. Rangkaian R-L-C banyak digunakan dalam perangkat-perangkat
osilator harmonic dan pesawat radio penerima. Rangkaian R-L-C berfungsi untuk memilikh
suatu rentang frekuensi yang cukup sempit dari spectrum total gelombang radio yang
sangat lebar.

Dalam rangkaian seri RLC impedansi total rangkaian dapat dituliskan sebagai berikut:
Ztot = R + j(XL – Xc)
Dari hubungan ini akan terlihat bahwa reaktansi induktif dan kapasitif selalu akan
saling mengurangi. Bila kedua komponen ini sama besar, maka akan saling meniadakan, dan
dikatakan bahwa rangkaian dalam keadaan resonansi. Resonansinya adalah resonansi seri.
Demikian pula halnya pada rangkaian paralel RLC admitansi total rangkaian dapat dituliskan
sebagai:
Ytot = G + j(Bc – BXL)
dimana G adalah konduktansi dan B adalah suseptansi Dari hubungan ini juga akan terlihat
bahwa suseptansi kapasitif dan induktif akan selalu saling mengurangi. Pada keadaan
resonansi, kedua suseptansi tersebut akan saling meniadakan. Resonansinya adalah
resonansi paralel. Dari kedua pembahasan di atas, jelas bahwa jenis resonansi tergantung
dari macam hubungan L dan C (seri/paralel).

2.2 Resonansi Seri
Dari hubungan Ztot = R + j(XL – Xc) terlihat bahwa pada waktu resonansi dimana XL
= XC maka Ztot = R merupakan Zmi nimum,sehingga akan diperoleh arus yang
maksimum. Dalam keadaan ini rangkaian hanya bersifat resistif sehingga fasa arus sama
dengan fasa tegangan yang terpasang. Saat XL = Xc terjadi, maka mengingat XL = wL dan
Xc=1/wC dapat diperoleh wL = 1/wC atau wo = w resonansi =1/(LC) ½ atau fo=1/2 π √(LC).
Disini O atau fO adalah frekuensi yang membuat rangkaian bersifat resistif dan
terjadi arus maksimum atau tegangan maksimum pada R. Bila dilihat dari impedansi
rangkaian Ztot, maka pada f<fo rangkaian akan bersifat kapasitif dan pada f>fo
rangkaian akan bersifat induktif.

2.3 Resonansi Paralel

Saat BC = BL,, maka dapat dituliskan sebagai berikut

Disini ωO adalah frekuensi yang membuat rangkaian bersifat resistif dan
terjadi arus maksimum atau tegangan maksimum pada R.
XXXIII. Hasil dan Analisis
Tugas 1 : : Rangkaian Seri R,L,C(Resonansi Seri)
Berdasarkan perhitungan manual kita dapat mengidentifikasikan fo: fo = 1/(2 π
√(LC) = 1/(1/(2*3,14√(470*10-12*2,5*10-3)) = 146,825 kHz

F Vo(Vpp)
Pegukuran (kHZ) Perhitungan (kHz)
150 146,825 0,22

V(Volt) Vo(Volt)
VAB=VL VBO=Vc
3mV 14mV 3mV

Jika kita mengukur Vo dengan satuan volt biasa maka tegang annya akan selalu sama
di setiap frekuensi yaitu 3mV dan perbedaan fo hasil pengukuran dan perhitungan dapat
disebabkan oleh nilai actual dari si kapasitor dan inductor.
Tugas 2 : Rangkaian Pararel R,L,C(Resonansi Pararel)
Berdasarkan perhitungan manual kita dapat mengidentifikasikan fo:

Fo=1/(2 π √((LC))

=1/(1/(2*3,14√(470*10-12*2,5*10-3))

=146,825 kHz

F Vo(Vpp)
Pegukuran (kHZ) Perhitungan (kHz)
150 146,825 0

V(Volt) Vo(Volt)
VL Vc
3mV 3mV 3mV
Jika kita mengukur Vo dengan satuan volt biasa maka tegangannya akan selalu sama di
setiap frekuensi yaitu 3mV dan perbedaan fo hasil pengukuran dan perhitungan dapat
disebabkan oleh nilai actual dari si kapasitor dan inductor.
Tugas 3: Rangkaian Pararel L dengan Seri L dan C
Berdasarkan perhitungan manual kita dapat mengidentifikasikan fo:

Fo =1/(2 π √((L1+L2)*C))

=1/(1/(2*3,14√(470*10-12*2*(2,5*10-3)))

=103,821 kHz

F Vo(Vpp)
Pegukuran (kHZ) Perhitungan (kHz)
121 103,821 24

V(Volt) Vo(Volt)
VL1 Vl2 Vvc
4mV 8mV 14mV 3mV

Jika kita mengukur Vo dengan satuan volt biasa maka tegangannya akan selalu sama di
setiap frekuensi yaitu 3mV dan perbedaan fo hasil pengukuran dan perhitungan dapat
disebabkan oleh nilai actual dari si kapasitor dan inductor.
Tugas 4: Rangkaian Seri C dengan pararel C dan L
Berdasarkan perhitungan manual kita dapat mengidentifikasikan fo:

fo =1/(2 π √(((C1*C2/(C1+C2))*L))

=1/(1/(2*3,14√(470*10-12*0,5*2,5*10-3))

=207,642 kHz

F Vo(Vpp)
Pegukuran (kHZ) Perhitungan (kHz)
196 207,642 1m

V(Volt) Vo(Volt)
VL1 Vl2 Vvc
9mV 3mV 3mV 3mV

Jika kita mengukur Vo dengan satuan volt biasa maka tegangannya akan selalu sama di
setiap frekuensi yaitu 3mV dan perbedaan fo hasil pengukuran dan perhitungan dapat
disebabkan oleh nilai actual dari sikapasitor dan inductor.
Tugas 5: Aplikasi Rangkaian Resonansi dalam Filter
Pada bagian ini kami tidak mendapatkan hasil.
XXXIV. Simpulan
 Karakteristik dalam rangkaian seri R,L,C adalah Bandpass Filter.
 Ketika mengamati perilaku VR (resistor) pada rangkaian RLC seri seperti pada gambar 3-1,
dapat teramati bahwa rangkaian RLC tersebut mempunyai sifat Bandpass Filter.
 Ketika mengamati perilaku VR (resistor) pada rangkaian RLC paralel seperti pada gambar 3-
2, dapat teramati bahwa rangkaian RLC tersebut riymempunyai sifat Bandstop Filter.
 Ketika mengamati perilaku VR (resistor) pada rangkaian RLC seri-paralel seperti pada
gambar 3-3 ataupun 3-4, dapat teramati bahwa rangkaian RLC tersebut mempunyai sifat
Bandpass Filter sekaligus sifat Bandstop Filter.
 Karakteristik dalam rangkaian seri R,L,C adalah Bandstop Filter.
 Karakteristik dalam rangkaian seri R,L,C adalah Bandstop Filter dan Bandpass Filter.
 Bila yang diamati adalah tegangan pada resistornya maka karakteristik rangkaian resonansi
seri R,L,C adalah Bandpass Filter sedangkan rangkaian resonansi pararel R,L,C adalah
Bandstop Filter.

REFERENSI

[1] Bernard, H.C. 1995. Laboratory Experiments In College Physics, . New York: John Wiley &
Sons, Inc.
[2] Malvino, A.P. 2003. Prinsip-Prinsip Elektronika, Buku 1. Jakarta: Salemba Teknika.
[3] Sutrisno. 1986. Elektronika, Teori dan Penerapannya, Jilid 1. Bandung : Penerbit ITB.
[4] Giancoli. 2001. FISIKA JILID 2. Jakarta : Erlangga.
[5] Hikam. 2005. Eksperimen Fisika Dasar Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta : Kencana.
Lampiran

Tugas 1
F Vo(Vpp)
Pegukuran (kHZ) Perhitungan (kHz)
150 146,825 0,22

V(Volt) Vo(Volt)
VAB=VL VBO=Vc
3mV 14mV 3mV

Tugas 2

F Vo(Vpp)
Pegukuran (kHZ) Perhitungan (kHz)
150 146,825 0

V(Volt) Vo(Volt)
VL Vc
3mV 3mV 3mV

Tugas 3

F Vo(Vpp)
Pegukuran (kHZ) Perhitungan (kHz)
121 103,821 24

V(Volt) Vo(Volt)
VL1 Vl2 Vvc
4mV 8mV 14mV 3mV

Tugas 3

F Vo(Vpp)
Pegukuran (kHZ) Perhitungan (kHz)
196 207,642 1m

V(Volt) Vo(Volt)
VL1 Vl2 Vvc
9mV 3mV 3mV 3mV