You are on page 1of 16

MAKALAH BUDAYA LAHAN KERING DAN PARIWISATA

“SISTEM MATA PENCARIAN DI NTT”

OLEH :

NOFRIANI R W NDUN (1509010010)

PETRIZHIA E GANA (1509010011)

FEBRI CRISTE DE VIRGOLIA TAE (1509010018)

MARIA G MELY JO (1409010054)

ATIKA WINDA TOSI (1409010010)

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG

2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Nusa Tenggara Timur merupakan sebuah provinsi Indonesia yang terletak di tenggara
Indonesia. Provinsi ini terdiri dari beberapa pulau, antaralain Flores, Sumba, Timor, Alor,
Lembata, Rote, Sabu, Adonara, Solor, Komodo dan Palue. Ibukota provinsi Nusa Tenggara
Timur terletak di kupang, Timor Barat. Hal ini yang menjadikan NTT memiliki keragaman
budaya dan tradisi yang banyak. Salah satunya adalah adalah kekayaan budaya sistem mata
pencarian yang memanfaakan produk olahan ternak sebagai sumber mata pencarian yang
ditekuni oleh beberapa masyarakat pada daerah-daerah tertentu di provinsi Nusa Tenggara
Timur.
Menurut E.B. Taylor bahwa kebudayaan adalah kompleks yang mencakup
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain kemampuan-
kemanpuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota
masyarakat.Kebudayaan sebagai hasil cipta karya manusia selalu mencerminkan nilai moral,
norma, dan pandangan hidup yang dianuti kelompok manusia tertentu.
Tradisi dalam Bahasa Latin traditio yang artinya "diteruskan" atau kebiasaan, dalam
pengertian yang paling sederhana adalah suatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan
menjadi bagian dari bagian suatu kelompok masyarakat, biasanya drai suatu Negara,
kebudayaan, waktu, atau agama yang sama (Kayam, 2005).
Tradisi merupakan sinonim dari kata "budaya" yang keduanya merupakan hasil karya.
Tradisi adalah hasil karya masyarakat, begitupun dengan budaya. Keduanya saling
mempengaruhi. Kedua kata ini merupakan personafikasi dari sebuah makna hukum tidak
tertulis, dan hukum tak tertulis ini menjadi patokan norma dalam masyarakat yang dianggap
benar.
Sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur tidak memiliki tanah yang subur,
miskin sumber alam, dan memiliki iklim dengan intensitas hujan yang rendah. Dengan kata
lain Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi terkering, namun bukan berarti Nusa
Tenggara Timur tidak mempunyai potensi ekonomi yang memadai. Sebagian warga Nusat
Tenggara Timur mengolah tanaman perkebunan. Selain itu juga sebagian masyarakat juga
banyak yang beternak terutama sapi dan kerbau serta mengolah produk hasil olahan asal
hewan sebagai mata pencarian yang ditekuni oleh masyarakat di Nusa Tenggara Timur.
1.2 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari makalah ini yaitu untuk
mengetahui hubungan atau keterkaitan antara ilmu kedokteran hewan dengan tradisi sistem
mata pencarian di provinsi NTT.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sistem Mata Pencarian Masayarakat di Pulau Rote
Pulau Rote terletak di lepas pantai ujung barat daya Pulau Timor di Propinsi Nusa
Tenggara Timur (NTT). Sebagaimana kondisi alam NTT pada umumnya, Rote adalah sebuah
pulau yang gersang, tandus, dan miskin sumber daya alamnya dengan musim penghujan yang
pendek dan musim kemarau yang panjang. Mata pencaharian penduduknya cukup beragam,
mulai dari berkebun, beternak, dan nelayan lepas pantai.

Gambar 1. Peta pulau Rote

1. Pengrajin aksesoris dari cangkang penyu


Aksesoris dengan bahan baku cangkang penyu, berupa gelang, cincin, kalung, anting-
anting dan lainnya, tengah menjadi primadona bagi banyak kalangan di Kota Kupang dan
beberapa wilayah lain. Tidak hanya kelompok perempuan dewasa tetapi juga anak-anak dan
laki-laki. Motif yang cantik dan harga yang relatif lebih murah dibanding emas dan gading
menjadi alasan perhiasan ini diminati.

Gambar 2. Aksesoris dari sisik penyu


Usaha aksesoris cangkang penyu telah menjadi sumber ekonomi bagi mereka yang
bergelut di dalamnya. Di sisi lain, para pelaku usaha terancam pidana
perlindungan penyu sekaligus menjadi ancaman bagi tangkapan nelayan tradisional.
Aksesoris cangkang penyu yang diperjual belikan secara bebas umumnya berasal dari
cangkang jenis penyu sisik atau Eretmochelys imbricata.Cangkang penyu sisik dipilih karena
motif cangkangnya yang cantik, kombinasi warna hitam, coklat tua dan cokelat muda.Jika
dulu, pembuatan aksesoris ini berasal dari penyu yang mati karena tersangkut jala nelayan,
karena tingginya permintaan cangkang penyu, perburuan dilakukan pada penyusisik yang
hidup.
Pembuatan aksesoris daari penyu ini tidak sesuai dengan kedokteran hewan karena
penyu sisik merupakan satwa langka yang dilindungi. Tahun 2008, International Union for
the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) menetapkan penyu sisik sebagai
critically endangered dalam Red List Category.
Dasar penetapan ini disebabkan menurunnya populasi penyusisik sebanyak 80%
selama 10 tahun terakhir atau 3 generasi penyu sisik (IUCN, 2008). Menurunnya
populasi penyu sisik secara drastis mengakibatkan perdagangan penyu sisik, baik mati
maupun hidup merupakan tindakan pidana yang dilarang oleh hukum internasional maupun
nasional.
Perlindungan dan larangan perburuan serta jual beli terhadap penyu sisik telah diatur
oleh Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora
(CITES), khususnya pada Appendix I. Konvensi ini telah ditandatangani oleh Indonesia pada
3 Maret 1973 di Washington. Kelanjutan dari penandatanganan tersebut, 5 tahun kemudian
Pemerintah Indonesia melakukan ratifikasi melalui Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun
1978.
Sebagai kelanjutan ratifikasi CITES, terdapat beberapa peraturan perundangan-
undangan dalam negeri yang mengatur perlindungan penyu sisik. Peraturan tersebut antara
lain UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya, PP
No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan PP No. 8 Tahun 1999
tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Peraturan meliputi melarang setiap
orang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara,
mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup maupun mati
keadaan mati.
Selain itu termasuk melarang memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit,
tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari
bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat
lain di dalam atau di luar Indonesia. Ini berarti larangan tidak hanya ditujukan kepada pelaku
perburuan tetapi juga kepada pengepul, pengrajin aksesoris cangkang penyu sisik dan
konsumen aksesoris cangkang penyu sisik.
Pelanggaran dengan sengaja terhadap pasal di atas diancam pidana penjara hingga 5
tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000. Sedangkan pelanggaran karena kelalaian
diancam dengan pidana kurungan 1 tahun dan denda paling banyak Rp50.000.000. Selain
karena ancamana pidana, perlindungan penyu sisik merupakan hal yang penting karena
peran penyu sisik dalam menjaga ketersediaan pasokan ikan bagi masyarakat.

2. Berternak
Selain petani dan nelayan, sebagian warga masyarakat Pulau Rote juga menghidupi suatu
usaha yang telah digeluti sejak dulu dengan beternak. Peternakan merupakan salah satu
sektor yang memiliki peluang usaha di Kabupaten Rote Ndao. Padang pengembalaan yang
tersedia sekitar 43.699 hektar di 8 kecamatan dan populasi ternak besar (sapi, kuda dan
kerbau) yang masih kurang memungkinkan untuk usaha pengembangan khususnya dalam
pembibitan baik kualitas maupun kuantitas dan industri pakan ternak. Jenis ternak besar yang
cukup menonjol di wilayah ini adalah kambing, kuda, domba, babi, sapi dan kerbau.
Sedangkan ternak kecilnya adalah ayam dan itik.
Untuk ternak sapi, daerah sentra produksi tersebar di Kecamatan Rote Timur, Pantai
Baru, Rote Tengah dan Lobalain. Kerbau banyak terdapat di Kecamatan Rote Tengah dan
Rote Barat Laut. Sedangkan kuda banyak terdapat di Kecamatan Rote Barat Daya dan Rote
Barat Laut. Populasi domba, kambing dan babi tersebar hampir merata di seluruh wilayah
Kabupaten Rote Ndao.
Pola pengusahaan hewan ternak ini masih mengandalkan pada potensi lahan untuk
menghasilkan bahan pakan. Ternak-ternak ini pada umumnya dilepas pada pagi hari untuk
mencari makan dan dikandangkan pada sore hari. Jika dilihat dari potensi lahan kering yang
ada di wilayah Kabupaten Rote Ndao, maka populasi ternak ini masih potensial untuk
dikembangkan lebih besar lagi.
Jenis ternak yang dipelihara oleh masyarakat Desa Limakoli antara lain babi, sapi,
ayam. Hewan ternak tidak dipelihara di dalam kandang, melainkan dibiarkan lepas. Jika
seseorang memelihara sapi, maka sapi tersebut dibiarkan lepas ke padang rumput untuk
mencari makan. Sapi baru akan dicari pemiliknya ketika akan dijual. Untuk membedakan
antara pemilik sapi yang satu dengan yang lain, pemilik menandainya dengan memberikan
cap nama pada kulit sapi atau menggunting telinga sapi dengan menggunakan pola tertentu
untuk menunjukkan kepemilikan seseorang terhadap sapi tersebut. Babi biasanya juga dilepas
pada pagi hari, dan akan kembali ke rumah pada sore hari untuk diberi makan. Putak atau isi
batang pohon gewang merupakan makanan babi yang biasa diberikan. Sedangkan ayam
biasanya dibiarkan di sekitar rumah dan memperoleh makan dari sisa makanan yang
diberikan oleh pemiliknya. (Khairunnisa,2014)

Gambar 3. Sistem pemeliharaan sapi dipulau Rote


Sistem pemeliharaan ternak desa limakoli tidak sesuai dengan kedoteran hewan
karena melanggar animal welfere yaitu bebas dari rasa lapar dan haus, ha ini dikarenan
hewan dilepas tanpa dipantau selain itu juga kondisi wilayah pulau rote sendiri dengan curah
hujan yang rendah sehingga membuat kurang ketersediaan pakan.

Gambar 4. Sistem pemeliharaan babi didesa limakoli(Sumber:


Dokumentasi Peneliti REK 2014)

2.2 Sistem Mata Pencarian Masyarakat Lamera, Lembata Flores


Perburuan Paus
Lamalera merupakan sebuah kampung yang terletak di Kabupaten Lembata Nusa
Tenggara Timur (NTT). Secara terminologi kata ”Lamalera” menurut bahasa Lamaholot
yaitu bahasa daerah di kawasan Flores Timur, berasal dari kata lama berarti piringan atau
cakram dan lera berarti matahari, sehingga Lamalera berarti pinggiran/cakram matahari.
Haryadi pun mengungkapkan bahwa dari tiga puluh jenis cetacean (nama kolektif paus dan
lumba-lumba di Indonesia, empat belas diantaranya bermigrasi melewati Sawu. Penduduk
Lamalera terkenal di seluruh dunia sebagai pemburu paus (koteklema) yang unik, karena
berburu hanya dengan menggunakan peralatan yang serba tradisional. Tidak hanya
peralatannya saja yang spesifik, namun norma-norma yang dilakukan menjelang perburuan,
pada saat perburuan dan setelah memperoleh hasil buruan sangat unik. (Kurniasari,2011)
Tradisi penangkapan paus oleh masyarakat di Desa Lamalera, Kecamatan Wulandoni,
Kabupaten Lembata ini telah berlangsung sejak lama sejak nenek moyang suku lamalera
menempati daerah tersebut. Bahkan katanya tradisi ini sudah ada sejak abad 16.
Perburuan ikan paus ini dilakukan oleh penduduk Pria Lamalera yang sudah dewasa
serta dianggap memiliki kemampuan (biasanya setiap keluarga mewakilkan satu anggota
keluarganya). Sebelum berburu, mereka semua memanjatkan doa-doa kepada Tuhan agar
diberi keberhasilah dalam perburuan Ikan paus. Presentasi keberhasilan penangkapan ikan
paus ini tidak bisa dibilang tinggi, karna metode perburuan yang dilakukan memang
menggunakan cara tradisional. Yaitu dengan menancapkan tombak ke badan ikan paus.
Masyarakat Lamalera merupakan masyarakat dengan tradisi yang dipengaruhi oleh
ajaran Katolik. Hal ini dimungkinkan karena daerah Lamalera termasuk salah satu daerah
penyebaran Katolik pertama di Indonesia yang dibawa oleh bangsa Portugis pada abad ke 16
Masehi. mengungkapkan bahwa masyarakat melakukan berbagai ritual yang berkaitan
dengan penangkapan paus, diantaranya adalah perayaan misa arwah yang dilaksanakan di
pantai depan Kapel Santo Petrus yang dipimpin oleh seorang Pastor. Misa dilanjutkan
keesokan harinya dengan misa lefa dan pemercikan air suci ke perahu-perahu. Sedangkan
upacara ceremoti dihadiri oleh seluruh komponen kampung Lamalera untuk membicarakan
seluruh persoalan kampung terutama persoalan perburuan dengan berbagai tahapan yang
mesti dilaksanakan dalam perburuan itu. (Kurniasari,2011)
Perburuan paus biasanya dimulai pada bulan Mei, perburuan dilakukan menggunakan
perahu yang terbuat dari kayu yang disebut "Paledang" . Orang yang bertugas menikam paus
disebut "Lama fa", Lama fa nantinya akan berdiri diujung perahu dan untuk menikam paus
lama fa akan melompat dan menikamkan tombak "tempuling" pada paus.
Selain teknik penangkapan, masyarakat pun mengatur jenis dan kondisi paus yang
dapat ditangkap yaitu paus sperm yang dalam kondisi tidak hamil. Paus biru yang dilindungi
bukan menjadi sasaran mereka. Berdasarkan mitologi yang mereka yakini secara turun
temurun, paus biru pernah berjasa menolong orang Lamalera yang mengalami kecelakaan di
laut. Oleh karenanya, paus biru harus dihormati dan tidak boleh ditangkap, tubuh koteklema
sudah mempunyai peta khusus untuk pembagian, misalnya selain daging dan lemaknya, para
pemilik kapal berhak mendapatkan bagian dari jantung, sayatan bagian ekor juga diberikan
kepada matros yang ikut membunuh paus. Semua warga mengetahui bagian mana yang
sudah menjadi haknya, dan hak itu diatur berdasarkan perannya dalam perburuan paus
tersebut serta perannya dalam hubungan sosial. (Kurniasari,2011)

Gambar 5. Proses perburuan paus


Nelayan mengenal beberapa batasan jarak dalam melaut yang disebut kajo. Area
penangkapan nelayan Lamalera ditandai dengan:
1. Koli buka, tanda di bagian barat dengan melihat tanjung sebelah Folofutu
2. Penutu buka, tanda di bagian timur dengan melihat tanjung setelah Atadei.
3. Kebili bela buka, tanda di bagian timur
4. Bobu buka, tanda dibagian timur
5. Lambote buka dan,
6. Suba duk, batas terluar melaut ke sebelah barat.
Semua tanda tersebut menentukan jarak perjalanan yang boleh dilalui selama melaut
dilihat dari kampung. Nelayan tidak akan melaut melebihi batas-batas yang ada atau tanda
alam yang masih terlihat dan membantu mereka dalam mengenali arah dimana kampung
mereka berada. Hingga saat penelitian dilakukan, meskipun sudah menggunakan mesin tetapi
jarak melaut dengan tetap mempertimbangkan jarak dengan lefo Lamalera.

Gambar 6. Paus sperm(Physeter macrocephalus)(sumber: infobinatanglaut - WordPress.com)


Bentuk kearifan lain yaitu penetapan musim. Khusus penangkapan mamalia dan ikan
besar dibatasi dengan menetapkan masa resmi turun ke laut dan masa selingan. Lefa
merupakan saat dimana mereka memang bersama-sama keluar untuk mencari tangkapan yang
besar. Di musim lefa juga terdapat masa khusus yang disebut blelagering yaitu saat dimana
koteklema dibiarkan dan tidak diburu karena ketika itu ikan pari sedang naik/banyak.
Memilih pari lebih diutamakan untuk menghindari kecelakaan dan resiko yang lebih besar
ketika berburu koteklema.
Perburuan paus di lamera sebenarnya tidak sesuai dengan kedotekteran hewan karena
paus sperma sendiri merupakan mamalia laut yang dilindungi, Sebagai jenis yang dilindungi
berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 tentang Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa,
penangkapan paus untuk dimanfaatkan dagingnya, baik dalam keadaan hidup maupun mati
serta dalam bentuk bagian-bagiannya, sama sekali tidak diperbolehkan, dan dapat
dikenakan sanksi berdasarkan Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber
Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.
Nilai yang dapat diambil.
Ritual penangkapan paus ini memiliki nilai religius di setiap aspeknya. Mulai dari
persiapan, pembuatan kapal, pengangkatan layar, sampai pelemparan tombak, semuanya
mengucap doa terlebih dahulu. Menjelang perburuan, diadakan upacara adat sekaligus misa
untuk memohon berkah dari sang leluhur serta mengenang para Arwah nenek moyang
mereka yang gugur di medan Bahari bergelut dengan sang paus.

2.3 Sistem Mata Pencaharian Masyarakat Nagekeo


Kabupaten Nagekeo adalah pemekaran dari Kabupaten Ngada Ibukotanya Bajawa.
Kabupaten Nagekeo terletak di Pulau Flores Nusa Tenggara Timur dengan luas wilayah
1.416,96 km2 dan berpenduduk 132.458 jiwa (tahun 2008). Kabupaten Nagekeo terletak di
sebelah barat dari Pulau Flores dengan ibukota kabupaten adalah Mbay. Kabupaten Nagekeo
dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2007. Wilayah
Kabupaten Nagekeo terdiri dari 7 kecamatan yang meliputi 78 desa dan 15 kelurahan (data
tahun 2008). Kecamatan- kecamatan yang terdapat di wilayah Kabupaten Nagekeo meliputi
Kecamatan Mauponggo, Kecamatan Keo Tengah, Kecamatan Nangaroro, Kecamatan
Boawae, Kecamatan Aesesa, Kecamatan Aesesa Selatan, dan Kecamatan Wolowae.
Kabupaten Nagekeo tergolong daerah yang beriklim tropis dan terbentang hampir sebagian
besar padang rumput, juga ditumbuhi pepohonan seperti kemiri, asam, kayu manis, lontar dan
sebagainya serta kaya dengan fauna, antara lain hewan- hewan besar, hewan-hewan kecil,
unggas, binatang menjalar, dan binatang liar (BPS Kabupaten Nagekeo, 2009).
Potensi ekonomi kabupaten Nagekeo terdapat dalam bidang Pertanian, Peternakan,
Perikanan juga Pertambangan. Namun mayoritas masyarakat Nagekeo bermata pencaharian
sebagai petani, dimana dari 24.331 kk (kepala keluarga), sebanyak 18.945 kk (kepala
keluarga) bermata pencaharian sebagai petani. Di bidang pertanian, Nagekeo menyimpan
potensi luar biasa. Dari luas wilayah Nagekeo 1.416,99 km2, terdapat 69.581,4 ha lahan
pertanian yang terindikasi berpotensi. Namun lahan yang fungsional hanya seluas 30.720,99
ha atau seluas 38.860,41 ha lahan masih berupa lahan tidur. Khusus di Mbay sendiri, dari
50.325 ha luas wilayah, terdapat 8.664,26 ha lahan yang berpotensi, sementara 8.126,8 ha
lahan yang fungsional. Lahan sawah di Mbay yang berpotensi sebanyak 4.272,67 ha, yang
fungsional 3.735,21 ha. Sementara lahan kering di Mbay seluas 4.391,59 ha semuanya sudah
difungsikan (Bimas Ketahanan Pangan Ngada,2005).

Tabel.1 Peruntukan Potensi Lahan

Areal Potensi (ha) Fungsional (ha)


Sawah 6.459,11 5.116,87
Lahan kering 63.122,29 65.204,12

Hasil pertanian/perkebunan petani di Kabupaten Nagekeo, menurut data Bimas


Ketahanan Pangan Ngada tahun 2005 lalu, tujuh kecamatan di kabupaten ini baru
menghasilkan beberapa komoditi pertanian.
Tabel 2. Produktivitas Lahan
Komoditas Luas Lahan (ha) Fungsional (ha)
Padi sawah 5.766 28.877
Padi lading 1.678 3.319
Jagung 4.207 11.046
Kedelai 64 55
Kacang tanah 254 182
Kacang hijau 187 152
Ubi kayu 1.515 16.476
Ubi jalar 455 2.758
Berdasarkan data diatas diketahui bahwa sebagian besar wilayah Nagekeo merupakan
lahan kering. Lahan kering mempunyai potensi yang lebih besar dibandingkan lahan sawah
karena di samping sebagai penghasil pangan juga produk pertanian lainnya dalam arti luas
seperti perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan darat. Namun. kondisi iklim yang
kering dan topografi berbukit membuat pengembangan pertanian di Nagekeo mengalami
hambatan yang berdampak pada perekonomian yang kurang menggembirakan(Fatima,2006).
Kualitas tanah dan produktivitas lahan yang menurun tersebut disebabkan oleh hilangnya
partikel liat yang halus dari lapisan olah yang kaya akan bahan organik dan unsur hara
terbawa erosi (Utomo, 2002).

Selain sektor pertanian, Kabupaten Nagekeo juga unggul dalam sektor Peternakan.
Berdasarkan hasil sensus pertanian 2013, Populasi sapi dan kerbau hasil PSPK di Kabupaten
Nagekeo mencapai 30.697 ekor. Sementara itu, dari hasil sensus pertanian 2013, populasi
sapi dan kerbau mencapai 32.862 ekor. Apabila dirinci menurut wilayah, kecamatan yang
memiliki sapi dan kerbau paling banyak adalah Kecamatan Aesesa dengan jumlah populasi
sebanyak 9.030 ekor, kemudian Boawae (8.246 ekor), dan Wolowae (4.918 ekor).
Sedangkan kecamatan yang memiliki sapi dan kerbau paling sedikit adalah Keo Tengah
dengan jumlah populasi sebanyak 552 ekor (BPS Kabupaten Nagekeo, 2013).
Jumlah populasi sapi dan kerbau di Kabupaten Nagekeo yang mencapai 30.697 ekor
dengan kondisi iklim yang kering dan tingkat curah hujan yang rendah akan berdampak
terhadap ketersediaan hijauan ternak (HNT) yang mengakibatkan ternak mengalami
kekurangan pakan pada musim kemarau. Oleh karena itu, dapat dilakukan pengelolaan lahan
kering dengan Sistem Tiga Strata (STS). Sistem Tiga Strata (STS) adalah suatu tata cara
penanaman dan pemangkasan rumput, leguminosa sebagai stratum 1, semak sebagai stratum
2, dan pohon sebagai stratum 3, sehingga tersedia pakan hijauan yang bermutu sepanjang
tahun (Nitis et al, 1989).

Adapun manfaat penerapan STS yaitu

1. Lahan yang diintegrasikan dengan STS adalah lahan yang kurang subur.
Kusuburan tanah dapat ditingkatkan dengan bintil-bintil nitrogen dari nodulasi
akar tanaman leguminosa, pupuk hijau, dan pupuk kandang. Karenanya, lahan
yang subur dipakai untuk tanaman pangan dan tanaman perkebunan;
2. Petani yang mempunyai lahan sempit tidak akan mau menanam rumput, semak,
dan pohon untuk makanan ternak. Karena itu, rumput, semak, dan pohon
ditanam sebagai pagar dari tanaman palawija ataupun tanaman perkebunan
3. Integrasi dengan ternak
4. STS dapat mengurangi erosi dan memperpanjang masa produktivitas lahan
tersebut dengan daya penyangganya untuk menahan erosi oleh air hujan, sinar
matahari, dan angin; dan
5. Dengan STS, petani mempunyai waktu senggang untuk kegiatan diluar
pertanian, sehingga pendapatan peternakan dan pendapatan petani meningkat
(Partama et al, 2013).
Pakan merupakan faktor penting dalam pertumbuhan dan perkembangan ternak, dimana
pakan merupakan sumber nutrizi bagi ternak. Kurangnya pakan dapat mempengaruhi
produktivitas dari ternak. Menurut Rodes, et al., 2003, penampilan reproduksi pada sapi
potong dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kualitas pakan, menyusui dan penyakit
peripartum. Ciccioli and Wettemann (2000) melaporkan anestrus post partum dapat mencapai
146 hari pada sapi potong dengan kualitas pakan yang rendah. Perbaikan pakan dan
manajemen dapat mempercepat munculnya estrus post partum pada sapi Brahman Cross.
Pada kondisi pakan yang baik, akan memicu pelepasan hormon gonadotrophin (FsH dan LH)
di hipofisa anterior dan menyebabkan folikel ovarium berkembang dan hewan menjadi estrus.

2.4 Sistem Mata Pencarian Masyarakat Di Kabupaten Malaka Yang Berkaitan Dengan
Dunia Kedokteran Hewan.

Tarian Likurai merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari desa
Kereana,Kecamatan Botin Leobele, Kabupaten Malaka yang lahir sekitar tahun 1800. Dan
mulai menyebar luas ke seluruh daerah di Nusa Tenggara Timur. Pada zaman dahulu di
daerah Malaka terdapat sebuah tradisi memenggal kepala musuh saat berhasil mengalahkan
musuhnya. Sepulangnya dari medan perang, para pejuang dari daerah Malaka selalu
membawa kepala musuh yang dikalahkan sebagai simbol keperkasaan dan kemenangan.
Dalam pementasan tarian likurai peralatan dan atribut yang digunakan para penari
adalah bibiliku (tihar atau tambur) dan aksesoris lainnya yang digunakan pada saat
pementasan. Untuk memenuhi serta menjaga agar tradisi tersebut tidak lenyap dan tidak
dilupakan maka sebagian dari masyarakat di Kabupaten Malaka berprofesi sebagai pengrajin
bibiliki atau tihar.
Proses pembuatannya menggunakan kulit kambing maupun kulit dari sapi. Teknik
pengeringannya adalah dengan cara menjemur begitu saja dibawah sinar matahari atau
langusung disimpan di atas jalanan yang aspal, karena menurut pengrajin jalanan tersebut
dirasa cukup panas sampai kulit tersebut mengeras dan siap digunakan. Kaitannya dengan
dunia kedokteran hewan adalah dilihat dari teknik penjemurannya yang tidak higienis dan
bisa ada cemaran mikroba yang ada pada kulit tersebut kemudian digunakan lagi oleh
pengguna.

Gambar 7. Alat musik Tihar yang digunakan untuk tarian likurai(sumber: Wikipedia )
BAB III

PENUTUP

Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa mata pencarian dari masyarakat yang ada di
provinsi NTT beraneka ragam dan semua mata pencarian tersebut tidak memenuhi kaidah
dari kedokteran hewan. Hal tersebut meliputi perburuan ikan paus, pengrajin cangkang
penyu, dan pengrajin alat kesenian yang terbuat dari produk asal hewan.
Daftar Pustaka

http://kupang.tribunnews.com/2017/05/26/keindahan-yang-ilegal-catatan-memperingati-hari-
penyu-23-mei-2017. Diakses tanggal 17 oktober 2018 Badan Pusat Statistika.2009.
Statistiak Kabupaten Nagekeo: BPS Nagekeo
Badan Pusat Statistika.2013. Statistiak Kabupaten Nagekeo: BPS Nagekeo
Bimas Ketahanan Pangan Ngada.2005 (https://tanagekeo.wordpress.com/2008/04/08/nagekeo-
dalam-kilas/)
Ciccioli N.H. and Wettemann, r.P. 2000. Nutritional effects on estrus and Ovarian Activity of
spring Calving FirstCalf Heifers. Animal science research report.;160-163
Fatima,Imakulata. 2010. Nagekeo: Antara Kenytaan dan Harapan Menuju Pertanian yang
Berkelanjutan. Fakultas Pertanian Universitas Flores Ende NTT
Haryadi, R. 2007. Cakram Matahari Memburu Kotekelema. Gatra Nomor 28. Jakarta.
Khairunnisa Marizka, dkk. 2014. Perempuan Rote Meniti Tradisi. Pusat Humaniora,
Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
Nitis, iM., lana, k., suarna, M., sukanten, W., Putra s., and Arga, W. 1989. three strata system.
For cattle feeds and feeding in dryland farming area in Bali. Final report to
iDrC.Canada.352pp.
Rhodes, F.M., McDougall, s., Burke, C.r., verkerk , G.A., and Macmillan, k.l. 2003. invited
review: treatment of Cows with an Extended Postpartum Anestrous Interval
Partama,Gaga.,Candrawati.,Sudiastra.I.W.,Kusumawati Candraasih., dan Kayana.2013.
Penerapan Sistem Tiga Strata (Sts) Untuk Mengatasi Masalah Hijauan Makanan
Ternak Pada Petani Ternak Sapi Di Desa Pengotan, Kabupaten Bangli. Jurnal
Udayana Mengabdi 12 (2): 73 - 76