You are on page 1of 3

PENCEGAHAN

Pencegahan Pencegahan/Skrining adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk menurunkan angka
morbiditas dan mortalitas akibat kanker serviks. Pencegahan terdiri dari beberapa tahap yaitu
pencegahan primer, pencegahan sekunder, pencegahan tersier.

A. Pencegahan primer
Pencegahan primer adalah mencegah masuknya karsinogen kedalam tubuh atau sel tubuh.
Pencegahan primer kanker serviks adalah mencegah terjadinya infeksi HPV onkogenik karena
infeksi onkogenik berpotensi menjadi infeksi HPV persisten yang merupakan salah satu faktor
terjadinya karsinogenesis kanker serviks. Pencegahan primer meliputi pendidikan kehidupan
yang higienis, asupan gizi yang baik untuk meningkatkan daya imun, pola kehidupan seksual
yang normal, menghindari faktor-faktor risiko HPV onkogenik (infeksi HPV nononkogenik).
 Menunda onset aktivitas seksual
Menunda aktivitas seksual sampai usia 20 tahun dan berhubungan secara monogami
akan mengurangi risiko kanker servikssecara signifikan
• Penggunaan kontrasepsi barier
Pemilihan kontrasepsi yang meningkatkan dayaproteksi serviks terhadap infeksi HPV
onkogenik ataupun meningkatkan regresi spontan infeksi HPV. Dokter
merekomendasikan kontrasepsi metode barier (kondom, diafragma, dan spermisida)
yang berperan untuk proteksi terhadap agen virus.
• Penggunaan vaksinasi HPV
Vaksinasi HPV yang diberikan kepada pasien dapat mengurangi infeksi Human
Papilloma virus, karena mempunyai kemampuan proteksi > 90%.

B. Pencegahan skunder
Pencegahan sekunder adalah menemukan kelainan sel dalam tahap infeksi HPV ataupun
lesi prakanker. Penemuan infeksi HPV merupakan salah satu pencegahan sekunder yang
penting, karena infeksi HPV persisten merupakan faktor infeksi yang dapat berkembang
menjadi lesi prakanker. Upaya pengamatan yang terencana dan terlaksana dengan baik akan
mengidentifikasi infeksi HPV yang berpotensi menjadi infeksi HPV persisten serta selanjutnya
berpotensi berkembang menjadi lesi prakanker. Penemuan lesi prakanker harus dilanjutkan
dengan tatalaksana yang tepat dan baik sehingga lesi prakanker tidak berkembang menjadi
kanker serviks. Deteksi dini penyakit kanker dengan program skrining, dimana dengan
program skrining dapat memperoleh beberapa keuntungan yaitu : memperbaiki prognosis pada
sebagian penderita sehingga terhindar dari kematian akibat kanker, tidak diperlukan
pengobatan radikal untuk mencapai kesembuhan, adanya perasaan tentram bagi mereka yang
menunjukkan hasil negatif dan penghematan biaya karena pengobatan yang relatif murah.
 Pencegahan sekunder-pasien dengan risiko sedang

Hasil pap smear yang negatif sebanyak tiga kali berturut-turut dengan selisih waktu
antar pemeriksaan satu tahun dan atas petunjuk dokter sangat dianjurkan. Untuk
pasien (atau partner) hubungan seksual yang level aktivitasnya tidak diketahui,
dianjurkan untuk melakukan pap smear tiap tahun.
 Pencegahan sekunder-pasien dengan risiko tinggi

Pasien yang memulai hubungan seksual saat usia < 18 tahun dan wanita yang
mempunyai banyak partner (multipel partner) seharusnya melakukan pap smear tiap
tahun, dimulai dari onset seksual intercourse aktif. Interval sekarang ini dapat
diturunkan menjadi setiap 6 bulan untuk pasien dengan risiko khusus, seperti mereka
yang mempunyai riwayat penyakit seksual berulang.
a) Pap Smear
Pap smear (test pap) adalah suatu tindakan medis yang mana mengambil sampel sel
dari serviks seorang wanita (serviks merupakan bagian ujung dari uterus yang masuk ke
dalam vagina), kemudian dioleskan pada slide. Sel tersebut diperiksa dengan mikroskop
untuk mencari lesi prakanker atau perubahan keganasan. Pada tahun 1928, Tes ini
ditemukan pertama kali oleh Dr. George Papanicoloau sehingga dinamakan Pap Smear
Test. Pap Smear dapat mendeteksi dini kanker serviks dengan melihat penemuan
perkembangan sel-sel abnormal serviks. Tindakan pap smear sangat mudah, cepat, dan
tidak atau relatif kurang nyerinya. Pemeriksaan ini spesifisitas dan sensitifitasnya tidak
terlalu tinggi, sehingga ada beberapa wanita berkembang menjadi karsinoma serviks
meskipun secara teratur melakukan pemeriksaan pap smear. Di negara maju, angka
kejadian kanker serviks menurun berkat adanya program deteksi dini melalui pap smear.
Pap smear yang pertama dilakukan ketika wanita menjadi aktif secara seksual atau
mencapai usia 18 tahun. Karena tes ini mempunyai risiko false negatif sebesar 5-6%, pap
smear yang kedua seharusnya dilakukan satu tahun dari pemeriksaan yang pertama. Pada
akhir tahun 1987, American Cancer Society mengubah kebijakan mengenai interval
pemeriksaan pap smear tiap tiga tahun setelah dua kali hasil negatif. Saat ini, sesuai
dengan American College of Obstetry and Gynecology dan National Cancer Institute,
dianjurkan pemeriksaan pap smear dan panggul setiap tahun terhadap semua wanita yang
aktif secara seksual atau yang telah berusia 18 tahun. Setelah wanita tersebut mendapatkan
tiga atau lebih pap smear normal, tes dapat dilakukan dengan frekuensi yang lebih jarang
sesuai dengan yang dianjurkan dokter. Menurut NCCN Guidelines ver1.2011 Cervical
Cancer Screening, deteksi dini kanker serviks dengan sitologi Pap Smear dimulai saat
wanita berumur 21 sampai 29 tahun dengan frekuensi pemeriksaan setiap 2 tahun. Bagi
wanita umur 30 tahun atau lebih, selain sitologi,juga disarankan untuk menjalani
pemeriksaan DNA HPV. Apabila ditemukan hasil negatif pada pemeriksaan sitologi dan
DNA HPV, pemeriksaan dapat kembali dilakukan setelah 3 tahun. Penyakit neoplastik
serviks biasanya berkembang dari displasia menjadi karsinoma insitu kemudian menjadi
karsinoma invasif. Perkembangan dari awal sampai akhir ini biasanya membutuhkan
waktu 8 sampai 30 tahun. Oleh karena itu, dokter akan mendeteksi dan menghentikan
penyakit ini dengan mengikuti jadwal pap smear yang dianjurkan. Penurunan insiden dan
kematian akibat kanker serviks berkaitan dengan skrining. Diperkirakan sebanyak 40%
kanker serviks invasif dapat dicegah dengan skrining pap smear interval 3 tahun. Semakin
besar jumlah hasil negatif yang didapat, maka akan semakin kecil risiko berkembangnya
tumor serviks invasif.
Manfaat Pap Smear dapat dijabarkan secara rinci sebagai berikut:
a. Diagnosis dini keganasan

Pap Smear berguna dalam mendeteksi kanker serviks, kanker korpus
endometrium, keganasan tuba fallopi, dan mungkin keganasan ovarium.
b. Perawatan ikutan dari keganasan
Pap Smear berguna sebagai perawatan ikutan setelah operasi dan setelah
mendapatkan kemoterapi dan radiasi.
c. Interpretasi hormonal wanita
Pap Smear bertujuan untuk mengikuti siklus menstruasi dengan ovulasi atau tanpa
ovulasi, menentukan maturitas kehamilan, dan menentukan kemungkinan
keguguran pada hamil muda.
d. Menentukan proses peradangan
Pap Smear berguna untuk menentukan proses peradangan pada berbagai infeksi
bakteri atau jamur
b) Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA)

IVA merupakan tes visual menggunakan larutan asam cuka (asam asetat 3-5%) dan larutan
iodium lugol pada serviks dan melihat perubahan warna yang terjadi setelah dilakukan
olesan. Tujuannya untuk melihat adanya sel yang mengalami displasia sebagai salah satu
metode skrining kanker serviks. IVA tidak direkomendasikan pada wanita pasca
menopause, karena daerah zona transisional seringkali terletak kanalis servikalis dan tidak
tampak dengan pemeriksaan inspekulo. Interpretasi IVA positif bila ditemukan adanya
area berwarna putih dan permukaannya meninggi dengan batas yang jelas di sekitar zona
transformasi.

C. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier termasuk komponen natural atau sintetik untuk menekan atau melawan
proses terjadinya kanker. Pencegahan tersier meliputi pelayanan di rumah sakit (diagnosa dan
pengobatan) dan perawatan paliatif. Pencegahan tersier biasanya diarahkan pada individu yang
telah positif menderita kanker serviks. Penderita yang menjadi cacat karena komplikasi
penyakitnya atau karena pengobatan perlu direhabilitasi untuk mengembalikan bentuk
dan/atau fungsi organ yang cacat itu supaya penderita dapat hidup dengan layak dan wajar di
masyarakat. Rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk penderita kanker serviks yang baru
menjalani operasi contohnya seperti melakukan gerakan-gerakan untuk membantu
mengembalikan fungsi gerak dan untuk mengurangi pembengkakan, bagi penderita yang
mengalami alopesia (rambut gugur) akibat khemoterapi dan radioterapi bisa diatasi dengan
memakai wig untuk sementara karena umumnya rambut akan tumbuh kembali.