You are on page 1of 5

A.

Quantum Learning

Menurut (Bobbi DePorter & Mike Hernacki, 2011:16 ) Pembelajaran kuantum merupakan
terjemahan dari bahasa asing yaitu quantum learning. Quantum Learning adalah kiat, petunjuk,
strategi dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta
membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat”.

Quantum learning adalah strategi, usaha, metode dan proses belajar yang dapat mempertajam
pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan
dan bermanfaat. Sasaran akhirnya ditujukan untuk membantu para siswa menjadi responsif dan
aktif dalam menghadapi tantangan dan perubahan realitas.

Quantum learning memiliki prinsip untuk mensugesti bahwa materi yang diajarkan tidak
serumit yang dipikirkan siswa dan mempunya manfaat untuk kedepannya dengan hal ini
diharapkan siswa menjadi semangat untuk belajar.

B. Karakteristik Pembelajaran Quantum Learning

Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:30) mengungkapkan mengenai karakterisitik dari
pembelajaran kuantum (Quantum Learning) yaitu sebagai berikut :

1. Quantum Learning berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika kuantum meskipun
serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai. Oleh karena itu, pandangan tentang
pembelajaran, belajar, dan pembelajar diturunkan, ditransformasikan, dan
dikembangkan dari berbagai teori psikologi kognitif, bukan teori fisika kuantum.
2. Quantum Learning lebih bersifat humanistis, manusia selaku pembelajar menjadi pusat
perhatiannya. Potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi, dan sebagainya dari
pembelajar diyakini dapat berkembang secara maksimal atau optimal.
3. Quantum Learning lebih bersifat konstruktivistis, nuansa konstruktivisme dalam
Quantum Learning relatif kuat. Dapat dikatakan di sini bahwa Quantum Learning
merupakan salah satu cerminan filsafat konstruktivisme kognitif, bukan konstruktivisme
sosial.
4. Quantum Learning berupaya memadukan (mengintegrasikan), menyinergikan, dan
mengolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan
(fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran. Atau lebih tepat dikatakan di sini
bahwa Quantum Learning tidak memisahkan dan tidak membedakan antara apa yang di
dalam dan apa yang di luar.
5. Quantum Learning memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna,
bukan sekadar transaksi makna. Dapat dikatakan bahwa interaksi telah menjadi kata
kunci dan konsep sentral dalam Quantum Learning.
6. Quantum Learning sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf
keberhasilan tinggi. Di sini pemercepatan pembelajaran diandaikan sebagai lompatan
kuantum. Pendeknya, menurut Quantum Learning, proses pembelajaran harus
berlangsung cepat dengan keberhasilan tinggi. Untuk itu, segala hambatan dan halangan
yang dapat melambatkan proses pembelajaran harus disingkirkan, dihilangkan, atau
dieliminasi.
7. Quantum Learning sangat menekankan kealamiahan dan kewajaran proses
pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat. Kealamiahan dan
kewajaran menimbulkan suasana nyaman, segar, sehat, rileks, santai, dan
menyenangkan, sedang keartifisialan dan kepura-puraan menimbulkan suasana tegang,
kaku, dan membosankan. Karena itu, pembelajaran harus dirancang, disajikan, dikelola,
dan difasilitasi sedemikian rupa sehingga dapat diciptakan atau diwujudkan proses
pembelajaran yang alamiah dan wajar.
8. Quantum Learning sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses
pembelajaran. Proses pembelajaran yang tidak bermakna dan tidak bermutu
membuahkan kegagalan, dalam arti tujuan pembelajaran tidak tercapai.
9. Quantum Learning memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran.
Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh,
lingkungan yang menggairahkan atau mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis.
Isi pembelajaran meliputi penyajian yang prima, pemfasilitasan yang lentur,
keterampilan belajar untuk belajar, dan keterampilan hidup.
10. Quantum Learning memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis,
keterampilan hidup, dan prestasi fisikal atau material. Ketiganya harus diperhatikan,
diperlakukan, dan dikelola secara seimbang dan relatif sama dalam proses
pembelajaran, tidak bisa hanya salah satu di antaranya.
11. Quantum Learning menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses
pembelajaran. Tanpa nilai dan keyakinan tertentu, proses pembelajaran kurang
bermakna. Nilai dan keyakinan negatif akan membuahkan kegagalan proses
pembelajaran.
12. Quantum Learning mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman
dan ketertiban. Keberagaman dan kebebasan dapat dikatakan sebagai kata kunci selain
interaksi.
13. Quantum Learning mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses
pembelajaran. Aktivitas total antara tubuh dan pikiran membuat pembelajaran bisa
berlangsung lebih nyaman dan hasilnya lebih optimal.

C. Tujuan Pembelajaran Quantum Learning

Menurut Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:12) adapun tujuan dari pembelajaran kuantum
(Quantum Learning) adalah sebagai berikut :
a. Untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif.
b. Untuk menciptakan proses belajar yang menyenangkan.
c. Untuk menyesuaikan kemampuan otak dengan apa yang dibutuhkan oleh otak.
d. Untuk membantu meningkatkan keberhasilan hidup dan karir.
e. Untuk membantu mempercepat dalam pembelajaran

Tujuan di atas, mengindikasikan bahwa pembelajaran kuantum mengharapkan perubahan dari
berbagai bidang mulai dari lingkungan belajar yaitu kelas, materi pembelajaran yang
menyenangkan, menyeimbangkan kemampuan otak kiri dan otak kanan, serta mengefisienkan
waktu pembelajaran.

Menurut Kompasiana (2010) Lingkungan belajar dalam pembelajaran kuantum terdiri dari
lingkungan mikro dan lingkungan makro yaitu :

a. Lingkungan mikro

Dalam kaitan pengajaran umumnya di ruang-ruang pendidikan lebih baik memfokuskan
perhatian kepada penataan lingkungan formal dan terstruktur, seprti meja, kursi, tempat
khusus, dan tempat belajar teratur. Target penataannya ialah menciptakan suasana yang
menimbulkan kenyamanan dan rasa santai.

b. Lingkungan makro

Setiap siswa diminta berhubungan aktif dan mendapat rangsangan baru dari lingkungan
masyarakat agar mereka mendapat pengalaman untuk membangun pengetahuan pribadi.
Selain itu, berinteraksi dengan masyarakat juga berarti mengambil peluang-peluang yang akan
datang dengan catatan terlibat aktif dalam proses interaksi.

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari pembelajaran kuantum (quantum learning) menurut
Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:13) diantaranya:

1. Sikap positif
2. Motivasi
3. Keterampilan belajar seumur hidup
4. Kepercayaan diri
5. Sukses

D. Kelebihan dan Kekurangan Quantum Learning

1. Kelebihan.

Pembelajaran kuantum menekankan perkembangan akademis dan keterampilan. Dalam
pendekatan pembelajaran kuantum, pendidik mampu menyatu dan membaur pada dunia
peserta didik sehingga pendidik bisa lebih memahami peserta didik dan ini menjadi modal
utama yang luar biasa untuk mewujudkan metode yang lebih efektif yaitu metode belajar-
mengajar yang lebih menyenangkan.

Model pembelajarannyapun lebih santai dan menyenangkan karena ketika belajar sambil
diiringi musik. Quantum learning sebagai salah satu metode belajar dapat memadukan antara
berbagai sugesti positif dan interaksinya dengan lingkungan yang dapat mempengaruhi proses
dan hasil belajar seseorang.

2. Kelemahan

a. Memerlukan dan menuntut keahlian dan keterampilan guru lebih khusus.
b. Memerlukan proses perancangan dan persiapan pembelajaran yang cukup matang dan
terencana dengan cara yang lebih baik.
c. Adanya keterbatasan sumber belajar, alat belajar, dan menuntut situasi dan kondisi serta
waktu yang lebih banyak.

E. Model-Model Pembelajaran Quantum Learning

1. Peta konsep

Peta konsep sebagai teknik belajar efektif. Peta konsep disini lebih menunjukkan pada keuangan
ide-ide pikiran sebagai catatan dalam grafis sebagai salah satu teknik belajar efektif. Peta konsep
berupa ide pemikiran yang di tuangkan dalam bentuk gambaran atau grafik. Menurut Nacy
Murgilulier yang dikutip Rose dan Nicholl sebelum belajar kita memvisualisasikan gambar
dengan pikiran kita dan mengkaitkannya dengan konsep-konsep.

2. Teknik Memori

Teknik memori adalah teknik memasukkan informasi ke dalam otak sesuai dengan cara kerja
otak (brain-based technique). Dalam teknik ini perlu meningkatkan efektifitas dan efisiensi otak
dalam menyerap dan menyimpan informasi.

3. Teknik Plesetan Kata

Teknik plesetan kata yaitu menggantikan kata sulit yang ingin kita hafal dengan kata lain yang
bunyinya mirip atau lucu.

4. Sistem Pasak Lokasi

Sistem pasak lokasi yaitu teknik mengakses dan mengaktifkan memori semantik dan episodik.
Saat kita berusaha menghafal, kita mengaktifkan memori semantik. Informasi yang kita dapat
kemudian dicantolkan pada lokasi yang berarti mengaktifkan memori episodik. Dalam memilih
lokasi seharusnya lokasinya sudah kita kenal agar kita tidak salah mengingat apa yang masuk
dalam memasukkan memori.

5. Teknik Akrostik (Jembatan Keledai)

Teknik akrostik adalah teknik menghafal dengan mengambil huruf depan dari materi yang ingin
diingat dan kemudian digabungkan hingga menjadi singkatan atau kata/kalimat lucu.

Daftar Pustaka

DePorter, Bobbi dan Mike Hernacki. 2011. Quantum Learning. Bandung : Kaifa

DePorter, Bobbi & Hernacki, Mike. 2006. Quantum Learning: Membiaasakan Belajar Nyaman &
Menyenangkan. Bandung: PT.Mizah Pustaka