You are on page 1of 8

Analisis Efektivitas Seftriakson dan Sefotaksim pada Pasien Rawat Inap Demam Tifoid

Anak di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak


1
Gina Hamu Rizka, 2Esy Nansy, 2Ressi Susanti
1
Prodi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura Pontianak
2
Departemen Farmakologi dan Farmasi Klinis, Prodi Farmasi, Fakultas Kedokteran Universitas
Tanjungpura Pontianak
Jalan Prof.Dr.Handari Nawawi, Pontianak 78124
Email : Ginahamurizka@ymail.com

ABSTRACT

Preliminary: Typhoid fever is an infectious disease caused by Salmonella typhi bacteria in


small intestine which is transmitted through food and drink contaminated by Salmonella typhi.
Data from Republic Indonesia Health Department in 2010 stated that typhoid fever was ranked
third out of ten major diseases of hospitalized patients in Indonesia. Effectiveness analysis of
antibiotic usage can be seen based on the long of hospitalization day of patients in the hospital and
to ensure the effectiveness of the medication the medication should be done rationally. Purpose:
Examine the effectiveness of antibiotic on typhoid fever of pediatric patients in Sultan Mohammad
Alkadrie Regional Public Hospital Pontianak City. Methodology: This study was a research on
documents with descriptive and cross-sectional design. Data collection was done retrospectively
using medical records of pediatric patients hospitalized with typhoid fever in Sultan Mohammad
Alkadrie Regional Public Hospital Pontianak City during the period of August 2014 – August
2015. Data analysis was done descriptively. Result and conclusion: Average that the long of
hospitalization day of patients administered with ceftriaxone was 4,9 days and 4,7 days for
cefotaxime. Rationality percentages of antibiotic is 77,78% usage were 72.22% correct indication,
100% correct patient, and 50% correct dose.

Keywords : antibiotic effectiveness, typhoid fever, rationality, antibiotic

ABSTRAK

Pendahuluan: Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Salmonella typhi pada usus halus yang ditransmisikan melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi Salmonella typhi. Data Departemen Kesehata RI tahun 2010 menyatakan bahwa
demam tifoid termasuk dalam urutan ketiga dari 10 urutan penyakit utama pada pasien yang di
rawat di rumah sakit di Indonesia. Efektivitas penggunaan antibiotik dapat di lihat berdasarkan
lama hari rawat inap pasien di rumah sakit dan untuk menjamin efektivitasnya maka pemberian
obat harus dilakukan secara rasional. Tujuan: Menentukan efektivitas antibiotik pada pasien
demam tifoid anak di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak. Metodologi:
Penelitian ini merupakan penelitian dokumen dengan rancangan penelitian cross sectional yang
bersifat deskriftif. Pengambilan data secara retrospektif menggunakan data rekam medik pasien
rawat inap demam tifoid anak di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak periode
Agustus 2014 - Agustus 2015. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil dan kesimpulan:
Rata-rata lama hari rawat inap pasien yang menggunakan seftriakson adalah 4,9 hari dan
sefotaksim 4,7, hari. Persentase rasionalitas penggunaan antibiotik adalah 77,78% yang meliputi
parameter tepat indikasi 72,22%, tepat pasien 100%, dan tepat dosis 61,11%.

Kata kunci : efektivitas antibiotik, demam tifoid, rasionalitas, .antibiotik


1. PENDAHULUAN dan anak, dan membuat demam cepat
turun, masa perawatan pendek, dan
Demam tifoid merupakan penyakit relaps berkurang.(2)
infeksi yang disebabkan oleh bakteri Efektivitas antibiotik dapat dilihat
Salmonella typhi pada usus halus yang berdasarkan lama hari rawat inap
di transmisikan melewati makanan dan pasien di rumah sakit dan untuk
minuman yang terkontaminasi oleh menjamin efektivitasnya maka
Salmonella typhi.(1) Dari telaah kasus pemberian obat harus rasional, yang
besar di Indonesia, kasus demam tifoid berarti perlu dilakukan diagnosis yang
menunjukkan kecendrungan meningkat akurat, memilih obat yang tepat dengan
dari tahun ke tahun dengan rata-rata dosis, cara pemberian, interval, serta
kesakitan 500/100.000 penduduk lama pemberian yang tepat. Penerapan
dengan kematian antara 0,6-5%.(2) rasionaitas obat digunakan Pedoman
Demam tifoid termasuk dalam urutan Pelayanan Medis (PPM) sebagai
ketiga dari 10 urutan penyakit utama panduan dalam pemilihan obat, dosis,
pada pasien yang di rawat di rumah dan interval. Pilihan antibiotik untuk
sakit di Indonesia pada tahun 2010. Di terapi demam tifoid berdasarkan PPM
Kalimantan Barat prevalensi pasien adalah kloramfenikol, amoksisilin,
dengan diagnosa dan gejala tifoid kotrimoksazol, seftriakson dan
sekitar 1,48%.(3) Secara umum sefiksim.
insidensi tifoid biasanya terjadi pada Penelitian ini bertujuan untuk
usia diatas 1 tahun dan paling banyak menganalisis efektivitas penggunaan
pada usia diatas 5 tahun, dan usia yang antibiotik berdasarkan lama hari rawat
lebih sering terjadi demam tifoid inap pasien di rumah sakit, dan
adalah pada usia 5-10 tahun. (2,4) rasionalitas penggunaan antibiotik pada
Tatalaksana demam tifoid meliputi pasien demam tifoid anak di RSUD
terapi suportif seperti istirahat, diet Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota
tinggi kalori dan tinggi protein, terapi Pontianak.
simptomatik untuk menurunkan
demam (antipiretik) dan mengurangi 2. METODOLOGI PENELITIAN
keluhan gastrointestinal dan terapi
definitif dengan pemberian antibiotik.(5) Penelitian ini merupakan penelitian
Antibiotik memiliki peran penting dokumen dengan rancangan penelitian
dalam pengobatan demam tifoid untuk potong lintang (cross sectional) yang
mencegah terjadinya komplikasi dan bersifat deskriptif. Pengumpulan data
mengurangi angka kematian. di lakukan secara retrospektif
Kloramfenikol merupakan antibiotik berdasarkan data rekam medis pasien
lini pertama dalam pengobatan demam demam tifoid anak yang di rawat inap
tifoid, namun dengan banyaknya di RSUD Sultan Syarif Mohamad
informasi mengenai timbulnya strain Alkadrie Kota Pontianak pada periode
Salmonella typhi yang resisten terhadap Agustus 2014–Agustus 2015.
kloramfenikol sehingga sefalosporin Penelitian ini untuk mengetahui
generasi III (seftriakson, sefotaksim, efektifitas seftriakson dan sefotaksim
sefiksim) merupakan antibiotik pada pasien demam tifoid anak yang di
alternatif yang merupakan antibiotik rawat inap di Rumah Sakit Umum
lini kedua yang aman untuk dewasa
Daerah Sultan Syarif Mohamad laki memiliki resiko lebih tinggi untuk
Alkadrie Kota Pontianak. terkena infeksi seperti demam
Sampel adalah pasien demam tifoid.(4,7,8)
tifoid anak yang menggunakan Persentase penderita paling banyak
antibiotik seftriakson dan sefotaksim terdapat pada kelompok usia 7-9 dan
yang berusia 1-15 tahun yang di rawat 10-12 tahun dengan jumlah pasien
inap di RSUD Sultan Syarif Mohamad yang sama yaitu masing-masing
Alkadrie Kota Pontianak. terdapat 6 pasien dengan persentasi
Analisis data dimulai dengan (33,33%). Jumlah kelompok terbanyak
analisis karakteristik pasien meliputi kedua terdapat di kelompok usia 4-6
jenis kelamin, usia, berat badan dan tahun dengan jumlah 4 pasien
lama hari rawat inap pasien di rumah (22,22%). Jumlah paling sedikit adalah
sakit. selanjutnya dilakukan analisis kelompok usia 1-3 tahun dan kelompok
efektivitas penggunaan antibiotik usia 13-15 tahun yang masing-masing
terhadap lama hari rawat inap pasien di kelompok hanya terdapat 1 pasien
rumah sakit dan rasionalitas dengan masing-masing persentase
penggunaan antibiotik. Selanjutnya (5,56%). Insidensi terbesar terjadi pada
data di olah secara deskriptif yaitu data usia 7-12 tahun, dimana usia ini
disajikan dengan apa adanya, jumlah merupakan usia anak sekolah.
masing-masing kelompok dihitung Berdasarkan karakteristik berat
persentasenya terhadap jumlah badan sebanyak 5 pasien (27,78%)
keseluruhan. memiliki berat badan antara 30-35 kg
dan jumlah tersebut merupakan jumlah
3. HASIL DAN PEMBAHASAN terbanyak. Sebanyak 3 kelompok yang
memiliki persentase yang sama dimana
Karakteristik Pasien masing-masing kelompok terdiri dari 3
Pasien demam tifoid anak di pasien yang memiliki persentase
RSUD Sultan Syarif Mohamad 16,67% yaitu pasien yang memiliki
Alkadrie Kota Pontianak periode berat badan 10-14 kg, 15-19 kg dan
Agustus 2014-Agustus 2015 sebanyak >35 kg. Sedangkan jumlah terendah
41 pasien. Dari 41 pasien yang terdapat pada kelompok pasien yang
digunakan sebagai sampel adalah 18 memiliki berat badan 20-24 kg dan 25-
pasien yang memenuhi kriteria inklusi 29 kg yaitu 2 pasien (11,11%).
dan eksklusi. Menurut catatan medik pasien
Persentase anak laki-laki menunjukkan bahwa kebanyakan
berjumlah 11 anak (61,11%) dan pasien telah mengalami demam
perempuan 7 anak (38,89%). Anak berhari-hari sebelum di bawa ke rumah
laki-laki lebih banyak terinfeksi demam sakit. Persentase lama perawatan
tifoid dibanding anak perempuan. Hal pasien demam tifoid paling banyak
ini di karenakan anak laki-laki lebih adalah pada pasien yang di rawat
sering melakukan aktivitas di luar selama 3-4 hari sebanyak 11 pasien
rumah, kebiasaan laki-laki yang kurang (61,11%),selanutnya 4 pasien (22,22%)
memperhatikan kesehatannya dan dengan rentang lama rawat inap 5-6
lebih sering mengkonsumsi makanan hari dan 3 pasien (16,67%) dengan
yang kurang higienisnya. Sehingga rentang lama rawat di rumah sakit 7-8
kebiasaan ini menyebabkan anak laki- hari. Lama perawatan pasien yang
bervariasi dapat dikarenakan oleh resistensi seftriakson yang lebih rendah
penggunaan antibiotik yang berbeda dibanding sefotaksim.(6) Dosis terapi
dan keadaan pasien setiap orang seftriakson untuk demam tifoid anak
berbeda-beda sehingga dokter adalah 50-80 mg/kgBB dengan dosis
memperbolehkan pasien untuk pulang tunggal dalam sekali pemberian.(9)
dan menjalani pengobatan rawat jalan. Proses pengobatan pada pasien
Pasien dapat dipulangkan apabila rawat inap anak demam tifoid di RSUD
kondisi pasien tidak demam selama 24 Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota
jam tanpa antipiretik, nafsu makan Pontianak selain menggunakan
membaik,, klinis perbaikan, dan tidak antibiotik juga menggunakan obat
dijumpai komplikasi. Sehingga simptomatik untuk meringankan atau
pengobatan dapat dilakukan di menghilangkan keluhan ataupun
rumah.(9) gejala-gejala yang dialami oleh pasien
demam tifoid. Pengobatan simptomatik
Penggunaan Antibiotik yang diberikan seperti pemberian
cairan infus, antipiretik, kortikosteroid,
Tabel 1. Penggunaan Antibiotik obat gastroinestinal, antiemetik, dan
Golongan Nama Jumlah % vitamin. Umumnya terapi simptomatik
antibiotik Antibiotik (N) untuk pasien demam tifoid adalah
Sefalosporin Seftriakson 15 83,33
roboransia/vitamin, antipiretik, dan
Sefotaksim 3 16,67
antiemetik.(2)
Ada dua jenis antibiotik yang
menjadi pilihan dokter untuk terapi
Efektivitas Antibiotik
demam tifoid anak di RSUD Sultan
Syarif Mohamad Alkadrie Kota
Efektivitas antibiotik dapat dilihat
Pontianak yaitu 15 pasien (83,33%)
berdasarkan lama hari rawat inap
menggunakan seftriakson dan
pasien di rumah sakit dan untuk
sefotaksim 3 pasien (16,67%).
menjamin efektivitas antibiotik maka
Keduanya merupakan antibiotik
penggunaan obat harus dilakukan
golongan sefalosporin generasi ketiga.
secara rasional.
Seftriakson menjadi pilihan utama
a. Lama hari rawat inap
dalam pengobatan demam tifoid di
RSUD Sultan Syarif Mohamad
Tabel 2. Rata-rata lama hari rawat
Alkadrie Kota Pontianak. Hal tersebut
dikarenakan seftriakson memiliki inap pasien berdasarkan antibiotik
yang digunakan.
waktu paruh lebih lama didalam tubuh
yaitu sekitar 8 jam sedangkan
sefotaksim hanya sekitar 1 jam, Jenis Rata-rata lama hari
sehingga aktivitas antimikrobanya Antibiotik rawat inap (hari)
lebih lama dibanding sefotaksim. Seftriakson ± 4.9 (5)
Selain itu seftriakson merupakan Sefotaksim ± 4,7 (5)
antibiotik yang memiliki efektivitas Berdasarkan jenis antibiotik yang
tinggi terhadap bakteri gram negatif, digunakan rata-rata lama rawat inap
sehingga kemampuannya dalam pasien yang menggunakan seftriakson
menghambat sintesis dinding sel dan sefotaksim tidak jauh bebeda
bakteri (Salmonella typhi) akan lebih dimana perbedaan lama hari rawat inap
kuat dibanding sefotaksim serta angka antara kedua antibiotik dapat
dikarenakan oleh jumlah sampel untuk dan muntah, serta hasil tes
sefotaksim yang lebih sedikit dibanding laboratorium pasien berupa uji Widal
seftriakson yaitu pasien yang dan serologi imun yang menyatakan
menggunakan seftriakson adalah pasien positif mengalami demam tifoid.
83,33% dan pasien yang menggunakan Sehingga diagnosis dan pilihan obat
sefotaksim adalah 16,67. Lama hari sesuai untuk terapi demam tifoid dan
rawat inap pasien juga dipengaruhi obat yang dipilih sesuai dengan
oleh tingkat keparahan penyakit pasien, pedoman .yang digunakan.
kondisi pasien, serta penggunaan
antibiotik yang tidak rasional yaitu
penggunaan antibiotik yang tidak tepat Tepat Indikasi
indikasi, tidak tepat pasien dan tidak
tepat dosis. Rata-rata lama rawat inap Tepat
28% Indikasi
pasien yang menggunakan seftriakson
adalah 4,9 hari dan sefotaksim adalah 72% Tidak Tepat
4,7 hari. Lama rawat inap seftriakson Indikasi
relatif pendek meski tak secepat pasien
yang menggunakan sefotaksim yaitu Gambar 1. Parameter tepat
4,7 hari. Lama rawat inap 4,7 hari indikasi
tersebut tidak dapat dikatakan lebih
efektif karena sefotaksim hanya Parameter tepat indikasi di RSUD
terdapat 3 kasus sehingga tidak dapat Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota
ditentukan perbedaan efektivitas antara Pontianak sebesar 72,22 (13 pasien)
kedua antibiotik. Berdasarkan dan 27,78% (5 pasien) tidak tepat
penelitian di puskesmas Bancak indikasi. Ketidaktepatan indikasi
Kabupaten Semarang pada tahun 2014 dikarenakan gejala yang di rasakan
rata-rata lama perawatan pasien yang pasien dan hasil laboratorium pasien
mendapatan terapi seftriakson adalah kurang mendukung untuk dikatakan
3,45 hari dan pasien yang demam tifoid yaitu pada hasil tes widal
menggunakan sefotaksim adalah 3,64 pasien yang hanya terdapat titer
hari.(10) aglutinin H 1/100 dimana peningkatan
titer aglutinin H saja tanpa disertai
b. Rasionalitas Antibiotik peningkatan aglutinin O tidak dapat
dipakai untuk mendiagnosis penyakit
Tepat Indikasi demam tifoid, hal tersebut dapat
Tepat Indikasi merupakan disebabkan oleh 3 faktor yaitu pasien
pemberian obat yang sesuai dengan pernah terinfeksi atau sering terinfeksi
ketepatan diagnosis dan keluhan S.typhi dengan dosis rendah (<105),
pasien. Tepat indikasi dalam penderita berada dalam masa
pengobatan demam tifoid yaitu penyembuhan demam tifoid, dan
ketepatan dalam penggunaan obat pernah mendapat imunisasi demam
antibiotik yang disesuaikan dengan tifoid.(11) Ketidaktepatan indikasi juga
hasil diagnosis dengan melihat gejala dapat dikarenakan oleh pemilihan
yang dikeluhkan pasien seperti demam antibiotik yang tidak sesuai dengan
tinggi di malam hari, gangguan saluran pedoman yang digunakan oleh rumah
pencernaan seperti nyeri perut, diare,
sakit yaitu masih terdapat penggunaan pemberian, frekuensi dan aturan dosis
sefotaksim. obat yaitu dosis tidah dibawah dosis
terapi dan tidak diatas dosis terapi.
Tepat Pasien Pemberian dosis suatu obat disesuaikan
dengan kondisi klinis pasien karena
Tabel 3. Tepat Pasien setiap pasien belum tentu dapat
Parameter Hasil menerima dosis yang sama.
Jumlah Persentase Berdasarkan hasil penelitian yang
pasien dilakukan di RSUD Sultan Syarif
Tepat 18 100 % Mohamad Alkadrie Kota Pontianak
Tidak tepat 0 0% pada periode Agustus 2014 hingga
Tepat pasien adalah antibiotik Agustus 2015 diperoleh persentase
yang diberikan untuk pasien tidak ada ketepatan dosis sebesar 61,11% dan
kontraindikasi dengan kondisi pasien. 38,89% tidak tepat dosis.
Penentuan pasien yang diberikan terapi Ketidaktepatan dosis dikarenakan dosis
adalah tepat sebagai penderita demam yang diterima pasien di bawah dosis
tifoid dengan melihat keluhan pasien terapi dan di atas dosis terapi. (dosis
dan gejala yang ditimbulkan pasien terapi 50-80 mg/kgbb untuk seftriakson
seperti demam tinggi terutama malam dan 40-80 mg/kgbb untuk sefotaksim).
hari, gangguan saluran pencernaan Penggunaan obat yang berlebih dapat
seperti nyeri perut, sembelit, diare, dan meningkatkan efek samping,
muntah kemudian dilakukan tes mengakibatkan kegagalan terapi,
laboratorium berupa uji widal, tes MDRST, dan efek fisiologi pada
darah dan imun serologi. Berdasarkan pasien. Penggunaan obat yang di
hasil tersebut ketepatan pasien sebesar bawah dosis terapi dapat membuat obat
100%. Meski antibiotik yang tidak mencapai efek terapi sehingga
digunakan memiliki efek samping merugikan pasien serta biaya yang
seperti mual, muntah, rasa tidak enak dikeluarkan untuk terapi akan semakin
pada saluran cerna, sakit kepala dan mahal.(12)
diare namun dokter memberikan obat
simptomatik untuk mengurangi efek 4. KESIMPULAN
samping obat dan keluhan pasien. Efektivitas antibiotik di di RSUD
Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota
Tepat Dosis Pontianak adalah :
1. Seftriakson memiliki nilai rata-rata
lama hari rawat inap 4,9 hari dan
Tepat Dosis sefotaksim 4,7 hari.
2. Berdasarkan rasionalitas
39% penggunaan antibiotik didapatkan
tepat
61% hasil ketepatan pengobatan dengan
tidak tepat parameter yang meliputi
a. Parameter tepat indikasi 72,22%
Gambar 2. Parameter Tepat Dosis b. Parameter tepat pasien 100%
c. Parameter tepat dosis 61,11%
Tepat dosis adalah pemberian obat d. Persentase rasionalitas
yang telah sesuai dengan cara penggunaan antibiotik 77,78%.
5. SARAN Hari Turun Demam pada Anak
Demam Tifoid. Prosiding
1. Bagi RSUD Sultan Syarif Mohamad Pendidikan Dokter.2015: 914-919.
Alkadrie Kota Pontianak dalam hal 5. Departemen Kesehatan Republik
ini perlu dilakukan adanya Indonesia. Peraturan Mentri
perbaikan oleh tenaga medis terkait Kesehatan Republik Indonesia no 5
dengan penulisan pada dokumen tahun 2014: Panduan Praktik Klinis
rekam medik agar lebih lengkap dan Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan
jelas. Diharapkan tim dokter dapat Kesehatan Primer. Jakarta:
meningkatkan kepedulian terhadap Departemen Kesehatan Republik
pentingnya penggunaan antibiotik Indonesia. 2014.
yang efektif dan rasional untuk 6. Musnelina L, Afdhal AF, Gani A,
menekan terjadinya komplikasi dan Andayani P. Pola Pemberian
kejadian MDRST. Antibiotik Pengobatan Demam
2. Bagi masyarakat diharapkan agar Tifoid Anak di Rumah Sakit
meningkatkan kepatuhan selama Fatmawati Jakarta Tahun 2001-
menjalankan terapi antibiotik hingga 2002. Makara Kesehatan. 2004
tuntas untuk menekan kejadian Desember;8(2):59-64
komplikasi dan MDRST. 7. Ayaz Ayesha, Khalid Muhammad P,
3. Bagi peneliti selanjutnya perlu Din M Azad, et al. Risk factor of
dilakukan penelitian analisis enteric fever in children less than 15
efektivitas antibiotik berdasarkan years of age. Journal of Statistic
lama hari rawat inap pasien dan volume 13.2006; ISSN 1684-8403
penggunaan obat yang rasional di 8. Herawati MH, Ghani L, Pramono D.
rumah sakit lain sebagai Hubungan factor determinan dengan
pembanding. kejadian demam tifoid di Indonesia
tahun 2007. Media Peneliti dan
DAFTAR PUSTAKA Pengembang Kesehatan.2009;
1. Padila. Asuhan Keperawatan 19(4):165-173
Penyakit Dalam. Bengkulu: Nuha 9. Pudjadi AH, Hegar B, Handryastuti
Medika; 2013.hal.186-199. A, dkk. Pedoman Pelayanan Medis.
2. Departemen kesehatan Republik Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Indonesia.Keputusan Menteri 2009. Hal 47-50
kesehatan republik indonesia No. 10. Fithria RF, Damayanti K, Fauziah
364 : Pedoman pengendalian RP. Perbedaan Efektivitas
demam tifoid. Jakarta: Departemen Antibiotik pada Terapi Demam
Kesehatan Republik Indonesia; Tifoid di Puskesmas Bancak
2006. Kabupaten Semarang tahun 2014.
3. Badan Penelitian dan ISBN: 978-602-19556-2-8.
Pengembangan Kesehatan. Riset 11. Wardhani P, Prihatini,
Kesehatan Dasar. Jakarta: Probohoesodo MY. Kemampuan
Departemen Kesehatan Republik uji tabung widal menggunakan
Indonesia; 2007 antigen import dan antigen lokal.
4. Nuraini FA, Garna H, Respati P. Indonesian Journal of Clinical and
Perbandingan Kloramfenikol Medical Laboratory. Nov 2005;
dengan Seftriakson Terhadap Lama 12(1):31-37
12. Rifa’i MA, Sudarso, Anjar MK.
Evaluasi Penggunaan Antibiotik
Terhadap Pasien Anak Penderita
Demam Tifoid di Rumah Sakit
Wijayakusuma Purwokerto Tahun
2009. Pharmacy.2011 April;
08(01): ISSN 1693-3591