You are on page 1of 10

1.

Introduction
In 30% of children with urinary tract anomalies, urinary tract infection (UTI) can be the first sign [1]. If
we fail to identify patients at risk, damage to the upper urinary tract may occur. Up to 85% of infants and
children with febrile UTI have visible photon defects on technetium Tc 99- labelled dimercaptosuccinic acid
(DMSA) scanning, and 10–40% of these children have permanent renal scarring [2–4] that may lead to poor
renal growth, recurrent pyelonephritis, impaired glomerular function, early hypertension, endstage renal disease,
and preeclampsia [5–10].
Identifying children at risk of renal parenchymal damage and follow-up imaging after UTI is
controversial. In these guidelines, we provide recommendations for the diagnosis, treatment, and imaging of
children presenting with UTI based on evidence, and when this is lacking, based on expert consensus.

2. Background
UTI is the most common bacterial infection in childhood [11–14], and up to 30% of infants and children
experience recurrent infections during the first 6–12 mo after initial UTI [15,16]. In very young infants,
symptoms of UTI differ in many ways from those in older infants and children. The prevalence is higher in the
first age group, with a male predominance. Most infections are caused by Escherichia coli, although in the first
year of life Klebsiella pneumoniae, Enterobacter spp, Enterococcus spp, and Pseudomonas are more frequent
than later in life, and there is a higher risk of urosepsis compared with adulthood [17–19].
The incidence of UTIs depends on age and sex. In the first year of life, UTIs are more common in boys
(3.7%) than in girls (2%). This is even more pronounced in febrile infants in the first 2 mo of life, with an
incidence of 5% in girls and 20.3% in uncircumcised boys, as demonstrated in one prospective study of >1000
patients using urine specimens obtained by catheterisation [18]. Later, the incidence changes, and about 3% of
prepubertal girls and 1% of prepubertal boys are diagnosed with a UTI [17–19].

3. Methodology
Several guidelines on dealing with specific subgroups of UTI are currently available, some of which are driven
by economic and health care issues [20–22]. The recommendations in these guidelines were developed by the
European Association of Urology (EAU)/European Society for Paediatric Urology (ESPU) Paediatric
Guidelines Committee after a review of the literature and a search of PubMed and Embase for UTI and
newborn, infants, preschool, school, child, and adolescent. A consensus decision was adopted when evidence
was low. In these cases, all relevant papers and statements were discussed by all the authors until a consensus
was achieved. The same criteria for the levels of evidence and grades of recommendation as in the EAU
guidelines were used [23].

4. Classification
The four widely used infection classification systems depend on the site, episode, symptoms, and complicating
factors. For acute treatment, the site and severity are the most important.

4.1. Classification according to site


Cystitis (lower urinary tract) is inflammation of the urinary bladder mucosa with symptoms including
dysuria, stranguria, frequency, urgency, malodorous urine, incontinence, haematuria, and suprapubic
pain.However, in newborns and infants, these symptoms are rarely diagnosed accurately.
Pyelonephritis (upper urinary tract) is diffuse pyogenic infection of the renal pelvis and parenchyma with
symptoms including fever (_38 8C). But unlike adults, infants and young children may have nonspecific signs
such as poor appetite, failure to thrive, lethargy, irritability, vomiting, or diarrhoea.

4.2. Classification according to episode


Classifications are first infection and recurrent infection, which is subdivided into unresolved or
persistent and reinfection [24].

4.3. Classification according to symptoms


Asymptomatic bacteriuria (ABU) indicates attenuation of uropathogenic bacteria by the host or
colonisation of the bladder by nonvirulent bacteria that are incapable of activating a symptomatic response (no
leucocyturia or symptoms). In patients with significant bacteriuria, leucocyturia can be present without any
symptoms.
Symptomatic UTI includes irritative voiding symptoms, suprapubic pain (cystitis), fever, and malaise
(pyelonephritis). In patients with a neurogenic bladder and malodorous urine, it is difficult to distinguish
between ABU and symptomatic UTI.

4.4. Classification according to complicating factors


Uncomplicated UTI is an infection in a patient with a morphologic and functional normal upper and
lower urinary tract, normal renal function, and a competent immune system.
Complicated UTI occurs in newborns, in most patients with clinical evidence of pyelonephritis, and in
children with known mechanical or functional obstructions or problems of the upper or lower urinary tract [25].

10. Conclusions
Figure 1 and Table 6 summarise the general recommendations:
_ Classification of a UTI is made according to the site, episode, symptoms, and complicating factors. For acute
treatment, the site and severity are of the most importance.
_ Immediate US of the kidney and bladder are necessary in patients with febrile UTI to exclude underlying
uropathy.
_ Treatment of patients with febrile UTIs should be initiated after urine analysis and culture to confirm the
diagnosis.
_ SPA and catheterisation have the lowest contamination rate for urine sampling. Using a plastic bag (most
commonly used in daily practice), UTI can be excluded if the dipstick is negative for both leukocyte esterase
and nitrite or microscopic analysis is negative for both pyuria and bacteriuria.
_ Prophylaxis has been shown to be beneficial in preventing new renal scars in infant girls with dilating reflux
III and IV. Reflux should be excluded in patients with febrile UTIs.
_ In toilet-trained children, BBD should be excluded.
1. Perkenalan
Pada 30% anak-anak mengalami ISK. Jika kita gagal mengidentifikasi pasien yang berisiko
tinggi, kerusakan pada saluran kemih bagian atas dapat terjadi. 85% bayi dan anak-anak dengan
demam karena ISK memiliki kelainan foto yang terlihat pada pemindaian asam
dimercaptosuccinic technetium Tc 99, dan 10-40% anak-anak ini memiliki jaringan parut
permanen, yang dapat menyebabkan pertumbuhan ginjal terganggu, pielonefritis rekuren,
fungsi glomerulus yang terganggu, hipertensi dini, penyakit ginjal stadium akhir, dan
preeklampsia.
Mengidentifikasi anak-anak yang berisiko mengalami kerusakan parenkim ginjal berdasarkan
pencitraan setelah terkena ISK masih kontroversial. Dalam panduan ini, kami memberikan
rekomendasi untuk diagnosis, perawatan, dan pencitraan pada anak-anak yang mengalami ISK
berdasarkan bukti, dan bila hal ini kurang, berdasarkan konsensus ahli.

2. Latar belakang
ISK adalah infeksi bakteri yang paling sering terjadi di masa kanak-kanak, dan sampai 30%
bayi dan anak-anak mengalami infeksi berulang selama 6-12 bulan pertama setelah ISK awal.
Pada bayi yang sangat muda, gejala ISK berbeda dari bayi dan anak yang lebih tua.
Prevalensinya lebih tinggi pada kelompok usia pertama dan laki-laki. Sebagian besar infeksi
disebabkan oleh Escherichia coli, walaupun pada tahun pertama kehidupan Klebsiella
pneumoniae, Enterobacter spp, Enterococcus spp, dan Pseudomonas lebih sering terjadi di umur
selanjutnya, dan ada risiko lebih tinggi dari urosepsis dibandingkan dengan usia dewasa.
Kejadian ISK tergantung pada usia dan jenis kelamin. Pada tahun pertama kehidupan, ISK lebih
sering terjadi pada anak laki-laki (3,7%) dibandingkan anak perempuan (2%). Ini lebih sering
terjadi pada demam dalam 2 bulan pertama kehidupan, dengan kejadian (insidensi) 5% pada
anak perempuan dan 20,3% pada anak laki-laki yang tidak disunat, seperti yang ditunjukkan
pada satu penelitian prospektif terhadap >1000 pasien yang menggunakan spesimen urin yang
diperoleh dengan kateterisasi. Kemudian, kejadian berubah, dan sekitar 3% dari anak
perempuan prepubertal dan 1% dari Anak laki-laki prepubertal didiagnosis menderita ISK.

3. Metodologi
Ada Beberapa Guidelines yang membahas tentangISK. Guideline yang di rekomendasi adalah
European Bureau of Urology (EAU) / European Society for Pediatric Urology (ESPU) Komite
Pedoman Pediatrik setelah meninjau literatur dan penelusuran PubMed and Embase untuk UTI
dan bayi baru lahir, bayi, prasekolah, sekolah, anak, dan remaja. Keputusan konsensus diadopsi
saat bukti rendah. Dalam kasus ini, semua makalah dan pernyataan yang relevan dibahas oleh
semua penulis sampai sebuah konsensus tercapai. Kriteria yang sama untuk tingkat bukti dan
nilai rekomendasi seperti di EAU pedoman digunakan [23].

4. Klasifikasi
Klasifikasi infeksi yang banyak digunakan bergantung pada tempat, episode, gejala, dan faktor
komplikasi. Untuk perawatan akut, situs dan tingkat keparahannya adalah yang terpenting.

4.1. Klasifikasi menurut tempat (lokasi)


 Sistitis (saluran kencing bagian bawah) adalah inflamasi mukosa kandung kemih
dengan gejala yaitu disuria, stranguria, frekuensi, urgensi, urin berbau busuk
(malodorous), inkontinensia, hematuria, dan nyeri suprapubik. Namun, pada bayi
baru lahir dan bayi, gejala ini sulit didiagnosis secara akurat.
 Pyelonefritis (saluran kemih bagian atas) adalah infeksi piogenik difus pada pelvis
ginjal dan parenkim dengan gejala termasuk demam (38,8C). Tapi tidak seperti
orang dewasa, bayi dan anak kecil mungkin memiliki gejala nonspesifik seperti
nafsu makan yang buruk, kegagalan untuk berkembang, kelelahan (lethargy),
mudah tersinggung, muntah, atau diare.

4.2. Klasifikasi menurut episode


 Klasifikasi adalah infeksi pertama dan infeksi berulang, yang terbagi menjadi tidak
terselesaikan atau persisten dan reinfeksi. (CARI DEFINISI DAN BEDANYA)

4.3. Klasifikasi menurut gejala


 Bakteriuria asimtomatik (ABU) menunjukkan pelemahan bakteri uropatogen oleh
inang (host) atau kolonisasi bakteri pada kandung kemih yang tidak mampu
mengaktifkan respons simtomatik (tidak ada leukositosis atau gejala). Pada pasien
dengan bakteriuria yang signifikan, leukositosis dapat terjadi tanpa gejala apapun.
 ISK simtomatik mencakup gejala nyeri suprapubik (sistitis), demam, dan malaise
(pielonefritis). Pada pasien dengan kandung kemih neurogenik dan urin berbau
busuk, sulit untuk membedakan antara ABU dan ISK simtomatik.

4.4. Klasifikasi menurut factor komplikasi


 ISK yang tidak terkomplikasi adalah infeksi pada pasien dengan saluran kemih
normal atas dan bawah normal, fungsi ginjal normal, dan sistem kekebalan tubuh
yang kompeten.
 ISK yang komplikasi terjadi pada bayi baru lahir, pada kebanyakan pasien dengan
klinis pielonefritis, dan pada anak-anak dengan obstruksi mekanis atau fungsional
yang diketahui atau masalah pada saluran kemih bagian atas atau bawah.
Diagnosis Kerja

5.1. Riwayat kesehatan


Letak, episode, gejala, dan komplikasi dapat diidentifikasi dengan menggali riwayat pasien. Ini termasuk
pertanyaan tentang infeksi primer (pertama) atau sekunder (berulang), demam, malformasi saluran
kemih, operasi sebelumnya, kebiasaan minum, dan kebiasaan buang air kecil, riwayat keluarga, adanya
gejala nyeri saluran kemih bawah, dan riwayat seksual pada remaja.
5.2. Tanda dan gejala klinis
Demam mungkin satu-satunya gejala pada infeksi saluran kemih, terutama pada anak kecil. Bayi yang
baru lahir dengan pielonefritis atau urosepsis (PENYEBAB UROSEPSIS PADA BAYI BARU LAHIR) dapat
hadir dengan gejala nonspesifik (gagal berkembang, sakit kuning, muntah, hipereksitabilitas, kelesuan,
hipotermia, dan terkadang tanpa demam).
Pada anak yang lebih tua, gejala infeksi saluran kemih bawah meliputi disuria, stranguria, frekuensi,
urgensi, urin berbau busuk, inkontinensia, hematuria, dan nyeri suprapubik, dan untuk saluran kemih
bagian atas, demam dan nyeri panggul.
ISK pada masa bayi juga dapat disertai dengan pseudohypoaldosteronisme sementara dengan
hiponatremia berat dengan atau tanpa hiperkalemia
5.3. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pediatrik lengkap diperlukan untuk menyingkirkan penyebab lain dari demam, dan
terutama jika demam tidak memiliki penyebab yang jelas, ISK harus dikesampingkan. (PEMERIKSAAN
FISIK LENGKAP ITU SEPERTI APA)
Pemeriksaan fisik harus mencari tanda-tanda sembelit, nyeri pada palpasi ginjal, kandung kemih teraba,
kelainan kelamin (phimosis, adhesi labial, postcircumcision meatal stenosis, pertemuan urogenital
abnormal, malformasi kloaka, vulvitis, epididymoorchitis), dan mengukur suhu.
5.4. Urine sampling, analisis, dan kultur
Sebelum agen antimikroba diberikan, pengambilan sampel urin harus dilakukan. Teknik yang digunakan
untuk mendapatkan urine untuk urinalisis atau kultur mempengaruhi tingkat kontaminasi yang pada
gilirannya mempengaruhi interpretasi hasil, terutama pada awal masa anak-anak.
5.4.1. Urin sampling
5.4.1.1. Bayi yang baru lahir, bayi, dan anak-anak yang tidak dilatih toilet.
Pada bayi yang baru lahir, bayi, dan anak-anak yang tidak dilatih toilet, ada empat metode utama untuk
mendapatkan urin dengan tingkat kontaminasi dan invasi yang bervariasi.
1. Kantong plastik yang menempel pada genital yang dibersihkan adalah teknik yang paling sering
digunakan dalam praktik sehari-hari. Hal ini sangat membantu bila hasil kultur negative (KOK
BISA ?). ISK dapat dieksklusi tanpa memerlukan konfirmasi kultur jika tes dipstick negatif untuk
leukosit esterase dan nitrit, atau analisis mikroskopis negatif untuk pyuria dan bakteriuria. Akibat
tingginya tingkat kontaminasi dan tingginya hasil positif palsu, kultur kantong urin saja tidak cukup
dapat diandalkan untuk mendiagnosis ISK.
2. Untuk pengumpulan urin bersih, bayi ditempatkan di pangkuan orang tua atau perawat yang
memegang mangkuk foil steril di bawah alat kelamin bayi. Ini memakan waktu dan membutuhkan
instruksi hati-hati kepada orang tua. Tampaknya ada korelasi yang baik antara hasil kultur urin yang
diperoleh dengan metode ini dan aspirasi kandung kemih suprapubik (SPA). Namun, tingkat
kontaminasi adalah 26% pada urine bersih-bersih dibandingkan dengan 1% pada kelompok SPA
dalam studi tahun 2012.
3. Kateterisasi kandung kemih mungkin merupakan alternatif untuk SPA, meskipun tingkat
kontaminasi lebih tinggi. Faktor risiko untuk tingkat kontaminasi yang tinggi dengan menggunakan
teknik ini adalah pasien <6 bulan, kateterisasi yang sulit, dan anak laki-laki yang tidak disunat.

 Oleh karena itu, pada anak-anak usia 6 bulan dan anak laki-laki yang tidak disunat, menggunakan
kateter steril baru pada setiap upaya pemasangan sehingga diharapkan dapat mengurangi kontaminasi.
Jika tidak, SPA harus menjadi metode pilihan. Kateterisasi lebih disukai pada anak-anak dengan
urosepsis bila kateter permanen dapat dipertimbangkan pada fase akut.
4. SPA adalah metode yang paling sensitif untuk mendapatkan sampel urin yang tidak terkontaminasi.
Bladder puncture menyebabkan lebih banyak rasa sakit daripada kateterisasi pada bayi <2 bulan.
Campuran anestetik Lokal, emulsi yang mengandung campuran 1: 1 lidokain dan prilokain, dapat digunakan
secara topikal untuk mengurangi rasa sakit.

 4.1.2. Anak-anak yang dilatih toilet.


 Pada anak-anak yang dilatih toilet, sampel urin midstream yang bersih memiliki tingkat akurasi yang
baik. Penting untuk membersihkan alat kelamin terlebih dahulu untuk mengurangi tingkat kontaminasi.
Pada kelompok usia ini, sample midstream, memiliki sensitivitas 75-100% dan spesifisitas 57-100%,
seperti yang ditunjukkan pada lima penelitian menggunakan sampel urin SPA sebagai standar acuan.

 Jika ada kecurigaan kuat ISK bagian atas dan untuk diagnosis diferensial sepsis, adalah tepat untuk
mendapatkan sampel urin yang cukup dengan kateterisasi atau SPA. Pada bayi, penggunaan tas hanya
bisa diandalkan jika dipstick negatif; Jika tidak, urine harus diperoleh melalui kateterisasi atau SPA. Ini
juga dianjurkan untuk pengecualian atau konfirmasi ISK pada anak yang lebih tua yang sakit parah.

 5.4.2. Analisa urin


 Dipstik dan pemeriksaan mikroskop biasanya digunakan untuk urinalisis.
 Kebanyakan tes dipsticks untuk nitrit, leukocyte esterase, protein, glukosa, dan darah. Uji dipstick yang
positif untuk esterase leukosit dan nitrit sangat sensitif untuk ISK. Sebuah tes yang negatif untuk
esterase leukosit dan nitrit sangat spesifik untuk mengesampingkan ISK. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa glukosa juga merupakan penanda yang berguna. Hanya satu penelitian yang
melihat keakuratan diagnostik tes dipstick untuk darah. Ditemukan bahwa darah menunjukkan
sensitivitas yang buruk (25%) dan spesifisitas tinggi (85%)

 Mikroskopi digunakan untuk mendeteksi pyuria dan bakteriuria. Bakteriuria saja memiliki kepekaan
yang lebih tinggi daripada pyuria saja, walaupun jika keduanya positif, ada kemungkinan tinggi ISK.

 Teknologi analisis pencitraan arus semakin banyak digunakan untuk mengklasifikasikan partikel dalam
spesimen urin yang tidak disentrifugasi. Jumlah sel darah putih, sel epitel skuamosa, dan sel darah
merah berkorelasi baik dengan yang ditemukan dengan metode manual.

 (ada table)

 5.4.3. Kultur urin


 Pada pasien dengan hasil negatif pada dipstick, mikroskopik, atau urinalisis otomatis, kultur urin tidak
diperlukan jika ada penyebab penyebab demam atau tanda inflamasi. Namun, jika dipstick dan / atau
urinalisis positif, konfirmasi UTI oleh kultur urine adalah wajib.

 Definisi klasik> 105 CFU / ml urin masih digunakan untuk mendefinisikan ISK yang signifikan pada
wanita dewasa. Namun, jumlahnya bisa bervariasi dan terkait dengan metode pengumpulan spesimen,
diuresis, dan durasi dan suhu penyimpanan antara pengumpulan dan kultivasi. Panduan American
Academy of Pediatrics (AAP) Amerika baru-baru ini tentang ISK menunjukkan bahwa diagnosis harus
didasarkan pada keberadaan pyuria dan setidaknya 50.000 CFU / ml dalam sampel SPA. Namun,
beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa dalam spesimen yang tidak jelas, 10.000 organisme
mungkin mengindikasikan ISK yang signifikan.

 Jika urine diperoleh dengan kateterisasi, 1000-50.000 CFU / ml dianggap positif, dan setiap hitungan
yang didapat setelah SPA harus dianggap signifikan. (Tabel 1).

 5.5. Tes darah


 Elektrolit serum dan hitung sel darah harus dilakukan untuk memantau pasien yang sakit dengan ISK
demam. Protein C-reaktif memiliki spesifitas yang lebih rendah untuk mengidentifikasi pasien dengan
keterlibatan parenkim ginjal, sedangkan serum procalcitonin (> 0,5 ng / ml) dapat digunakan sebagai
penanda serum yang andal. Pada anak yang sakit parah, kultur darah harus dilakukan sebaik pencitraan
USG mengenai saluran kemih.

 5.6. Ultrasound
 Pemeriksaan awal dengan USG ditunjukkan pada anak-anak dengan ISK demam dan urosepsis untuk
membedakan awalnya antara ISK dengan komplikasi atau tanpa komplikasi. Hal ini juga ditunjukkan jika
ISK dikaitkan dengan nyeri atau hematuria, atau sesuai dengan preferensi dokter / ahli bedah yang
merawat.

6. Terapi
Sebelum terapi antibiotik dimulai, spesimen urin harus diperoleh untuk urinalisis dan kultur urin. Pada anak
demam dengan tanda UTI/ISK (tanda klinis, positif dipstik dan/atau positif mikroskopi), pengobatan antibiotik
harus segera dimulai untuk menghilangkan infeksi, mencegah bakteriemia, memperbaiki hasil klinis,
mengurangi kemungkinan keterlibatan ginjal selama fase akut infeksi, dan mengurangi risiko jaringan parut
pada ginjal. Pada anak dengan ISK demam dan pemeriksaan urin normal sebelumnya, pemeriksaan urin dalam
waktu 24 jam disarankan untuk mengurangi obstruksi uropati, tergantung keadaan klinis.
6.1 Bakteriuria asimtomatik
Pada bakteriuria asimtomatik tanpa leukositosis, pengobatan antibiotik harus dihindaari kecuali ISK
menyebabkan masalah atau rencana untuk prosedur operasi. Dalam studi skrining dari Swedia, 2,5% laki-laki
dan 0,9% perempuan umur <1 tahun mengalami bakteriuria asimtomatik diperiksa dengan aspirasi suprapubik
(SPA). Diantara semua bayi itu, 1 perempuan dan 1 laki-laki gejala berkembang ke arah pielonefritis saat dekat
dengan waktu deteks, yang lain tetap tanpa gejala. Median bakteriuria persisten adalah 2 bulan pada perempuan
dan 1,5 bulan pada laki-laki. Sehingga skrining dan pengobatan pada bakteriuria asimtomatik dilarang, terlepas
dari metode pengambilan sampel urin.
6.2 Sisititis pada anak usia >3 bulan
Terdapat data yang bertentangan mengenai durasi pengobatan antibiotik dalam skenario ini, meskipun
nampaknya ada keuntungan dalam merawat anak-anak 1 – 2 hari. Sehingga pasien dengan sistitik tanpa
komplikasi, diberikan antibiotik minimal 3-4 hari.
6.3 Anak demam:rute administrasi
Saat memilih antara terapi oral dan parenteral, faktor yang harus dipertimbangakan adalah usia pasien,
kecurigaan klinis ke urosepsis, keparahan penyakit, penolakan cairan, makanan, dan atau obat oral, muntah,
diare, ketidakpatuhan, dan demam ISK kompleks (seperti dilatasi saluran atas).
Akibat peningkatan kejadian urosepsis dan pielonefritis berat pada bayi baru lahir dan bayi < 2 bulan,
dianjurkan terapi antibiotik parenteral. Gangguan elektrolit dengan hiponatremia yang mengancam jiwa dan
hiperkalemia berdasarkan pseudohypoaldosternois dapat terjadi pada beberapa kasus. Terapi kombinasi
ampisilin dan aminoglikosida (seperti tobramycin atau gentamisin) atau sefalosporin generasi ketiga mencapai
hasil terapeutik yang sangat baik. Dosis tunggal harian aminoglikosida aman dan sama efektifnya dengan dosis
2 kali sehari.
Prevalensi resistensi antibiotik pada uropatogenik E coli sangat berbeda antar negara, dengan resisten tertinggi di Iran
dan Vietnam. Terdapat laporan ISK yang disebabkan spektrum luas b –laktase (ESBL) – memproduksi
enterobacteriaceae pada anak-anak. Pada penelitian dari Turki, 49% anak <1 tahun dan 38% anak > 1 tahun
mengalami ESBL- produksi bakteri. Dalam kelompok ini 83% resisten terhadap trimetoprim
/sulfamethoxazole, 18% sampai nitrofurantoin, 47% sampai kuinolon, dan 40% untuk aminoglikosida. Hasilnya
tampak sama dengan anak tanpa ESBL-penghasil bakteri, terlepas dari fakta bahwa terapi empiris antibiotik
intravena awal tidak tepat dalam suatu penelitian.
Pola kepekaan harus untuk pengujian sensitivitas uropathogen terisolasi
Pola kepekaan dan harus disesuaikan nantinya sesuai. Tidak semua antibiotik yang tersedia disetujui oleh
national health untuk digunakan pada anak-anak, terutama pada bayi.
6.4 Durasi terapi pada demam ISK
Durasi terapi parenteral masih kontroversi. Konsensus dan pedoman (guideline) serta rekomendasi AAP, terapi
antibiotik parenteral dilanjutkan sampai anak tidak demam, setelah itu diberikan antibiotik oral selama 7-14
hari.
Jika terapi rawat jalan dipilih untuk bayi pada perkembangan masa akhir (bayi menuju balita), pengawasan yang
adekuat (memadai), pengobatan yang terpantau, jika diperlukan pengaturan terapi harus dijamin. Pada tahap
awal terapi, harus membangun hubungan yang kuat dengan pihak keluarga snagat dianjurkan.
Pada ISK komplikasi dengan uropatogen selain E.coli, lebih baik terapi parenteral dengan antibiotik spektrum
luas. Pengalihan urin sementara terjadi jika terdapat obstruksi uropati, tergantung pada kondisi klinis dan atau
respon terhadap antibiotik.
6.5 Agen antimikroba
Tabel 2-4 daftar terapi antibakteri yang direkomendasikan untuk infeksi urogenital yang berbeda
6.6 Profilaksis
Beberapa penelitian prospektif acak meneliti efikasi profilaksis antibakteri. Tetapi sebuah subkelompok pasien,
hilang pada sebuah penelitian randomisasi yang besar, yang mendapat keuntungan dari profilaksis. Penelitian
Swedia menunjukkan kemoprofilaksis efektif mencegah jaringan parut pada bayi perempuan dengan refluks III
dan IV. Tidak ada pasien dalam kelompok profilaksis yang memiliki jaringan parut pada ginjal, sedangkan 8
dari 43 perempuan di kelompok surveilans dan 5 dari 42 dari kelompok yang diobati dengan endoskopi
memiliki jaringan parut (luka) pada kelompok dengan scan DMSA (dimercaptosuccinic acid) setelah 2 tahun.
Dari 75 laki-laki, tidak ada yang memiliki luka baru pada ginjal.
Sebuah studi baur membandingkan anak-anak dengan refluks vesikoureteral bayi dengan ISK rekuren (33 laki-
laki, 11 perempuan, rata-rata umur:3,2 bulan), dan tanpa ISK rekuren (40 laki-laki, 7 perempuan, rata-rata
umur:4,8 bulan). Mereka menunjukkan bahwa selama 1 tahun pertama kehidupan, ISK pertama kali terjadi,
semakin tinggi kemungkinan rekuren. Derajat refluks yang tinggi, VUR bilateral, dan infeksi pertama yang
tidak disebabkan E.coli meningkatkan risiko ISK rekuren. Ada keuntungan pada perempuan dengan dilatasi
refluks, dan profilaksis antibiotik jangka panjang harus dipertimbangkan dalam kasus kerentangan tinggi untuk
ISK dan risiko kerusakan ginjal yang diakibatkan.
Penelitian baru intervensi randomisasi untuk anak dengan refluks vesikoureteral yang diterbitkan dengan 607
anak (280 dengan refluks I atau II dan 322 dengan refluks III atau IV) kenunjukkan profilaksis antimikroba
trimethoprim/sulfametoksazol mengurangi risiko rekuren hingga 50%. Secara khusus, anak dengan demam
tanda infeksi, disfungsi kandung kemih dan usus (BBD) atau dilatasi refluks diuntungkan dari profilaksis.
Jumlah luka ginjal baru tidak berbeda dalam penelitian ini.

10. Kesimpulan
 Klasifikasi ISK dibuat sesuai dengan lokasi, gejala, dan faktor yang menyulitkan. Untuk
perawatan akut, lokasi dan tingkat keparahannya paling penting.
 Pemeriksaan Ultra Sonography pada ginjal dan kandung kemih diperlukan pada pasien
ISK dengan demam, untuk menyingkirkan diagnosis lain.
 Pengobatan pasien dengan ISK demam harus dimulai setelah analisis urin dan kultur
untuk memastikan diagnosis.
 SPA (Aspirasi Supra Pubik) dan kateterisasi memiliki tingkat kontaminasi terendah untuk
sampling urin.
 Menggunakan kantong plastik (paling sering digunakan dalam latihan sehari-hari), ISK
dapat dikecualikan jika dipstick negatif untuk analisis esterase leukosit dan nitrit atau
mikroskopis negatif untuk kedua pyuria dan bakteriuria.
 Profilaksis terbukti bermanfaat dalam mencegah bekas luka ginjal baru pada bayi
perempuan dengan dilatasi refluks III dan IV. Refluks harus dikecualikan pada pasien
ISK demam.
 Pada anak-anak yang dilatih toilet, BBD (Blader and Bowel Disfungsi) harus
dikecualikan.