You are on page 1of 30

Referat

TERAPI CAIRAN, ELEKTROLIT DAN DARAH

Oleh :

Rizki Amanda Putra

Septian Hady Putra

Pembimbing :

dr. Lasmaria Flora, Sp.An

KEPANITRAAN KLINIK SENIOR
BAGIAN ILMU ANASTESI RSUD BANGKINANG
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ABDURRAB
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul “Terapi Cairan Dan Darah”.
Referat ini diajukan sebagai persyaratan untuk mengikuti KKS pada ilmu anastesi di RSUD
Bangkinang.

Selain itu saya juga mengucapkan Terima kasih kepada dr, Lasmaria Flora, Sp.An
dan segenap staff bagian anestesi RSUD Bangkinang atas bimbingan dan pertolongannya
selama menjalani kepanitraan klinik bagian anestesi dan dapat menyelasaikan penulisan
dan pembahasan referat ini.

Dalam penulisan ini, penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari
kesempurnaan, penulis mohon maaf atas segala kesalahan, sehingga kritik dan saran dari
pembaca yang bersifat membangun sangat dibutuhkan untuk kesempurnaan penulisan
referat berikutnya.

Bangkinang, 15 November 2017

Penulis

2
BAB I
PENDAHULUAN

Sebagian besar tubuh manusia terdiri dari cairan, yang berfungsi menjadi
pengangkut zat makanan ke seluruh sel tubuh dan mengeluarkan bahan sisa dari hasil
metabolisme sel untuk menunjang berlangsungnya kehidupan. Jumlah cairan tubuh
berbeda-beda tergantung dari usia, jenis kelamin, dan banyak atau sedikitnya lemak tubuh.
Pada bayi prematur jumlahnya sebesar 80% dari berat badan, bayi normal sebesar
70-75% dari berat badan, sebelum pubertas 65-70% dari berat badan, orang dewasa normal
sekitar 50-60% dari berat badan. Kandungan air di dalam sel lemak lebih rendah dari pada
kandungan air di dalam sel otot, sehingga cairan total pada orang gemuk lebih rendah dari
pada mereka yang tidak gemuk.
Cairan dalam tubuh dibagi dalam dua kompartemen utama yaitu cairan ekstrasel
dan intra sel. Dalam dua kompartemen cairan tubuh ini terdapat solute berupa kation dan
anion (elektrolit) yang penting dalam mengatur keseimbangan cairan dan fungsi sel.
Tubuh memiliki kemampuan untuk mempertahankan atau memelihara
keseimbangan tubuh yang dikenal dengan homeostasis. Jika masukan cairan kedalam tubuh
berkurang, tubuh membutuhkan terapi cairan untuk mengembalikan keseimbangan tubuh.
Sebagai contoh, pada pasien koma, anoreksia berat, perdarahan banyak, syok hipovolemik,
mual muntah yang hebat, puasa, dan pembedahan. Selain itu dalam keadaan tertentu, terapi
cairan dapat digunakan sebagai tambahan untuk memasukkan obat dan zat makanan.
Gangguan keseimbangan cairan adalah adanya ketidakseimbangan antara air yang
masuk dan keluar dari tubuh, ketidakseimbangan antara cairan intra dan ekstrasel serta
ketidakseimbangan antara cairan interstisium dan intravaskular.
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit merupakan hal yang umum terjadi
pada pasien bedah karena kombinasi dari faktor-faktor preoperatif, perioperative dan
postoperatif.
Pada saat melakukan terapi cairan, perlu diperhatikan pula jenis cairan yang
digunakan untuk penggantinya. Cairan tersebut dapat berupa kristaloid atau koloid yang
masing-masing mempunyai keuntungan tersendiri yang diberikan sesuai dengan kondisi

3
pasien. Dalam keadaan tertentu adanya terapi cairan dapat pula digunakan sebagai
tambahan untuk memasukkan obat dan zat makanan secara rutin atau dapat juga untuk
menjaga keseimbangan asam basa.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Terapi cairan

A. Komposisi cairan tubuh 1,2
Sebagian besar tubuh manusia terdiri dari cairan, pada bayi prematur
jumlahnya sebesar 80% dari berat badan, bayi normal sebesar 70-75% dari berat
badan, sebelum pubertas 65-70% dari berat badan, orang dewasa normal sekitar
50-60% dari berat badan. Kandungan air di dalam sel lemak lebih rendah dari
pada kandungan air di dalam sel otot, sehingga cairan total pada orang gemuk
lebih rendah dari pada mereka yang tidak gemuk.
Cairan dalam tubuh dibagi dalam dua kompartemen utama yaitu cairan
ekstrasel dan intrasel. Volume cairan intrasel sebesar 60% dari cairan tubuh total
atau sebesar 36% dari berat badan pada orang dewasa. Volume cairan ektrasel
sebesar 40% dari cairan tubuh total atau sebesar 24% dari berat badan pada
orang dewasa. Cairan ekstrasel dibagi dalam dua subkompartemen yaitu cairan
interstisium sebesar 30% dari cairan tubuh total atau 18% dari berat badan pada
orang dewasa dan cairan intravascular (plasma) sebesar 10% dari cairan tubuh
total atau sebesar 6% dari berat badan pada orang dewasa.

Kandungan air dalam tiap organ tidak seragam seperti terlihat pada tabel
dibawah ini:

5
Jaringan Persentase Air
Otak 84
Ginjal 83
Otot lurik 76
Kulit 72
Hati 68
Tulang 22
Lemak 10


Komponen Intraselular 5
Komponen intraseluler merupakan cadangan cairan tubuh yang terbesar, dan
berhubungan dengan cairan dalam sel. Komposisi ionnya berbeda dengan
komponen ekstraseluler karena mengandung ion kalium dalam konsentrasi tinggi
(140-150 mmol/liter) dan ion natrium dalam konsentrasi rendah (8-10 mmol/liter)
dan ion klorida (3mmol/liter). Jadi jika air diberikan bersama natrium dan klorida,
maka cenderung mengisi komponen ekstraseluler. Air yang diperlukan dalam
bentuk larutan glukosa akan didistribusikan kesemua bagian tubuh dan glukosa
akan dimetabolisme. Air murni tidak pernah diberikan secara intravena karena dapat
menyebabkan hemolisis masif.

 Komponen Ekstraselular 5
Komponen ekstraseluler dapat dibagi menjadi intravaskuler dan intertitial.
 Komponen Intravaskuler
Volume darah normal kira-kira 70 ml/kgbb pada dewasa dan 85-90
ml/kgbb pada neonatus. Selain darah, komponen intravskuler juga terdiri
dari protein plasma dan ion, terutama natrium (138-145 mmol/liter), klorida
(97-105 mmol/liter) dan ion bikrbonat. Hanya sebagian kecil kalium tubuh
berada di dalam plasma (3,5-4,5 mmol/liter), tetapi konsentrasi kalium ini
mempunyai pengaruh besar terhadap fungsi jantung dan neuromuskuler.

6
 Komponen Interstitial
Komponen interstitial lebih besar dari pada komponen intravaskuler.
Jumlah total cairan ekstraseluler (intravaskuler ditambah interstitial)
bervariasi antara 20-35% dari berat badan dewasa dan 40-45% pada
neonatus. Air dan elektolit dapat bergerak bebas di antara darah dan ruang
interstitial, yang mempunyai komposisi ion yang sama, tetapi protein plasma
tidak dapat bergerak bebas keluar dari ruang intravaskuler kecuali bila
terdapat cedera kapiler misalnya pada luka bakar atau syok septik.
Jika terdapat kekurangan cairan dalam darah atau volume darah yang
menurun dengan cepat, maka air dan elektrolit akan ditarik dari komponen
interstitial ke dalam darah untuk mengatasi kekurangan volume
intravaskuler, yang diprioritaskan secara fisiologis. Pemberian cairan
intravena yang terutama mengandung ion natrium dan klorida, seperti NaCl
fisiologis (9 g/liter atau 0,9%) atau larutan Hartman (larutan ringer laktat),
dapat bergerak bebas kedalam ruang intertitial sehingga efektif untuk
meningkatkan volume intervaskuler dalam waktu singkat.
Larutan yang mengandung molekur yang lebih besar, misalnya
plasma, darah lengkap, dekstran, poligelin, hidroksietil, gelatin, lebih efektif
untuk mempertahankan sirkulasi jika diberikan secara intravena karena
komponen ini lebih lama berada dalam komponen intravaskuler. Cairan ini
biasanya disebut sebagai plasma ex-panders.

 Cairan transseluler 3
Merupakan cairan yang terkandung di dalam rongga khusus dari tubuh. Contoh
(CTS) meliputi cairan serebrospinal, perikardial, pleural, sinovial, dan cairan
intraokular serta sekresi lambung dengan jumlah hamper mendekati angka 1 L,
namun sejumlah besar cairan bergerak kedalam dan keluar ruang transelular setiap
harinya. Sebagai contoh, saluran gastro-intestinal (GI) secara normal mensekresi
dan mereabsorbsi sampai 6-8 L per-hari.

7
Dalam dua kompartemen cairan tubuh ini terdapat solute berupa kation dan
anion (elektrolit) yang penting dalam mengatur keseimbangan cairan dan fungsi sel.
Ada dua kation yang penting yaitu natrium dan kalium. Keduanya mempengaruhi
tekanan osmotik cairan ektrasel dan intrasel serta langsung berhubungan dengan
fungsi sel. Kation dalam cairan ekstrasel adalah natrium (kation utama) dan kalium,
kalsium, magnesium. Untuk menjaga netralitas (elektronetral) didalam cairan
ekstrasel terdapat anion-anion seperti klorida, bikarbonat dan albumin. Kation
utama dalam cairan intrasel adalah kalium dan anion utama adalah fosfat.
Jumlah dan jenis kation dan anion dalam tiap kompartemen sesuai dengan
tabel dibawah ini : 4

(mEq/L) Plasma Interstitial Interseluler
Kation Na 142 114 15
K 4 4 150
Ca 5 2,5 2
Mg 3 1,5 27
Total 154 152 194
Anion Cl 103 114 8
HCO3 27 30 10
HPO4 2 2 100
SO4 1 1 20
Asam 5 5 0
Organik
Protein 16 0 63
Total 154 152 194

B. Definisi terapi cairan 6
Terapi cairan ialah tindakan untuk memelihara ataupun mengganti cairan
tubuh dengan pemberian cairan infus kristaloid (elektrolit) atau koloid (plasma
ekspander) secara intravena untuk mengatasi berbagai masalah gangguan

8
keseimbangan cairan dan elektrolit, meliputi mengantikan volume cairan yang
hilang akibat perdarahan, dehidrasi atau syok.
Terapi cairan perioperative meliputi tindakan terapi yang dilakukan pada
masa pra-bedah, selama pembedahan, dan pasca bedah. Dalam pembedahan
dengan anestesia yang memerlukan puasa sebelum dan sesudah pembedahan,
maka terapi cairan berfungsi untuk mengganti cairan saat puasa sebelum dan
sesudah pembedahan, mengganti kebutuhan rutin saat pembedahan, mengganti
perdarahan yang terjadi, dan mengganti cairan yang pindah ke rongga ketiga.

C. Etiologi kehilangan cairan 1
Secara garis besar dikenal 3 macam kehilangan cairan tubuh, yaitu :
a) Kehilangan cairan sebagai akibat kehilangan air dari badan baik karena
kekurangan pemasukan air atau kehilangan air berlebihan melalui paru,
kulit, ginjal atau saluran cerna. Keadaan ini sering disebut dengan pure
dehydration atau dehydration hypertonic atau water deficit atau water
deficiency atau pure water depletion. Kehilangan cairan tipe ini biasa
terjadi karena :
 Pemasukan air tidak mencukupi (kehabisan air minum dipadang
pasir, disfagia, koma, rangsangan haus yang hilang pada penyakit
kerusakan otak seperti tumor, meningitis, poliomeilitis tipe
bulbar)
 Kehilangan cairan karena pengeluaran melalui ginjal berlebihan
(diabetes insipidus)
 Kehilangan cairan karena sebab lain seperti terlalu lama terkena
sinar matahari tanpa minum, hiperventilasi, demam, luka bakar,
gastroenteritis akut)
b) Kehilangan cairan karena kelebihan elektrolit (solute loading
hypertonicity). Kehilagan cairan karena ekstresi urin yang mengandung
banyak elektrolit.

9
c) Kehilangan cairan karena hiperosmolaritas. Hal ini terjadi jika cairan
ekstraselular karena suatu sebab menjadi hiperosmoler, misalnya karena
hiperosmoler hiperglikemia.
o Dehidrasi
Dehidrasi merupakan keadaan dimana kurangnya cairan tubuh dari jumlah
normal akibat kehilangan cairan, asupan yang tidak mencukupi atau kombinasi
keduanya. Manifestasi klinis dehidrasi seperti pada tabel dibawah ini.
Klinis Dehidrasi Dehidrasi Dehidrasi
Ringan (5%) Sedang (5-10%) Berat (> 10%)
Keadaan Umum Baik, Compos Gelisah, rewel ,lesu Letargik, tak sadar
Mentis
Mata cekung, keing Normal Cekung Sangat cekung
Air mata Ada Kering Kering sekali
Mulut atau lidah Lembab Kering Sangat kering,
kering pecah-pecah
Haus Minum normal Haus Tak bisa minum
Turgor Baik Jelek Sangat jelek
Nadi Normal Cepat Cepat sekali
Tekanan darah Normal Turun Turun sekali
Air kemih Normal Kurang, oliguri Kurang sekali

Pemeriksaan laboratorium pada keadaan dehidrasi yang menunjukakan kelainan
antara lain:

 Hematokrit biasanya meningkat akibat hemokonsentrasi
 Peningkatan berat jenis plasma
 Peningkatan protein total
 Kelainan pada analisis gas darah (asidosis metabolik)
 Sel darah putih meningkat (karena hemokonsentrasi)
 Fosfatase alkali meningkat

10
 Natrium dan kalium masih normal, setelah rehidrasi kalium ion dalam serum
rendah.

D. Homeostasis1
Untuk keseimbangan cairan tubuh dan elektrolitnya, mekanisme
homeostasis diselenggarakan oleh:
 Ginjal, dengan mekanisme renin-angiotensin, mempengaruhi tekanan
darah.
 Kelenjar adrenal, dengan mekanisme aldosteronakan mempengaruhi
retensi natrium.
 Kelenjar hipofisis, dengan mekanisme ADH, akan mempengaruhi
reabsorbsi air.
 Paru-paru, dengan mekanisme asidosis-alkalosis untuk menjaga asam
basa.

E. Tujuan terapi cairan 6
Terapi cairan berfungsi untuk tujuan:
1. Mengganti kekurangan air dan elektrolit.
2. Untuk mengatasi syok.
3. Untuk mengatasi kelainan yang ditimbulkan karena terapi yang diberikan.
Terapi cairan preoperatif meliputi tindakan terapi yang dilakukan pada
masa pra-bedah, selama pembedahan dan pasca bedah. Pada penderita yang
menjalani operasi, baik karena penyakitnya itu sendiri atau karena adanya
trauma pembedahan, terjadi perubahan-perubahan fisiologi.

F. Jenis-jenis cairan yang digunakan 4,6,7,13
Penggolongan jenis cairan berdasarkan sifat osmolaritasnya :
a) Cairan hipotonik
Cairan hipotonik osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum
(konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut

11
dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan “ditarik”
dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan
berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya
mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel “mengalami”
dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik,
juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan
ketoasidosis diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan
tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps
kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada
beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.
b) Cairan Isotonik
Cairan Isotonik osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati
serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam
pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi
(kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki
risiko terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal
jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat
(RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).
c) Cairan hipertonik
Cairan hipertonik osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum,
sehingga “menarik” cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam
pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan
produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak). Penggunaannya
kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45%
hipertonik, Dextrose 5% + Ringer-Lactate, Dextrose 5% + NaCl 0,9%,
produk darah (darah), dan albumin.

12
Penggolongan Jenis Cairan Berdasarkan Kelompoknya

 Cairan Kristaloid
Cairan ini mempunyai komposisi mirip cairan ekstraseluler. Cairan
kristaloid bila diberikan dalam jumlah cukup (3-4 kali cairan koloid) ternyata sama
efektifnya seperti pemberian cairan koloid untuk mengatasi defisit volume
intravaskuler. Waktu paruh cairan kristaloid di ruang intravaskuler sekitar 20-30
menit.
Larutan Ringer Laktat merupakan cairan kristaloid yang paling banyak
digunakan untuk resusitasi cairan walau agak hipotonis dengan susunan yang
hampir menyerupai cairan intravaskuler. Laktat yang terkandung dalam cairan
tersebut akan mengalami metabolisme di hati menjadi bikarbonat. Cairan kristaloid
lainnya yang sering digunakan adalah NaCl 0,9%, tetapi bila diberikan berlebih
dapat mengakibatkan asidosis hiperkloremik (delutional hyperchloremic acidosis)
dan menurunnya kadar bikarbonat plasma akibat peningkatan klorida.
Karena perbedaan sifat antara koloid dan kristaloid dimana kristaloid akan
lebih banyak menyebar ke ruang interstitiel dibandingkan dengan koloid maka
kristaloid sebaiknya dipilih untuk resusitasi defisit cairan di ruang interstitiel.
Pada suatu penelitian mengemukakan bahwa walaupun dalam jumlah sedikit
larutan kristaloid akan masuk ruang interstitial sehingga timbul edema perifer dan
paru serta berakibat terganggunya oksigenasi jaringan dan edema jaringan luka,
apabila seseorang mendapat infus 1 liter NaCl 0,9. Selain itu, pemberian cairan
kristaloid berlebihan juga dapat menyebabkan edema otak dan meningkatnya
tekanan intra kranial.

 Cairan Koloid

Disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa disebut “plasma
substitute” atau “plasma expander”. Di dalam cairan koloid terdapat zat/bahan yang
mempunyai berat molekul tinggi dengan aktivitas osmotik yang menyebabkan

13
cairan ini cenderung bertahan agak lama (waktu paruh 3-6 jam) dalam ruang
intravaskuler.

Oleh karena itu koloid sering digunakan untuk resusitasi cairan secara cepat
terutama pada syok hipovolemik/hemorhagik atau pada penderita dengan
hipoalbuminemia berat dan kehilangan protein yang banyak (misal luka bakar).
Berdasarkan pembuatannya, terdapat 2 jenis larutan koloid:

o Koloid alami
Dibuat dengan cara memanaskan plasma atau plasenta 60°C selama
10 jam untuk membunuh virus hepatitis dan virus lainnya. Fraksi protein
plasma selain mengandung albumin (83%) juga mengandung alfa globulin
dan beta globulin.
o Koloid sintetis
1. Dextran
Dextran 40 dengan berat molekul 40.000 dan Dextran 70 dengan
berat molekul 60.000-70.000 diproduksi oleh bakteri Leuconostoc
mesenteroides B yang tumbuh dalam media sukrosa. Walaupun Dextran 70
merupakan volume expander yang lebih baik dibandingkan dengan Dextran
40, tetapi Dextran 40 mampu memperbaiki aliran darah lewat sirkulasi
mikro karena dapat menurunkan kekentalan (viskositas) darah.
Selain itu Dextran mempunyai efek anti trombotik yang dapat
mengurangi platelet adhesiveness, menekan aktivitas faktor VIII,
meningkatkan fibrinolisis dan melancarkan aliran darah. Pemberian Dextran
melebihi 20 ml/kgBB/hari dapat mengganggu cross match, waktu
perdarahan memanjang (Dextran 40) dan gagal ginjal. Dextran dapat
menimbulkan reaksi anafilaktik yang dapat dicegah yaitu dengan
memberikan Dextran 1 (Promit) terlebih dahulu.
2. Hydroxylethyl Starch (Heta starch)
Tersedia dalam larutan 6% dengan berat molekul 10.000 –
1.000.000, rata-rata 71.000, osmolaritas 310 mOsm/L dan tekanan onkotik

14
30 mmHg. Pemberian 500 ml larutan ini pada orang normal akan
dikeluarkan 46% lewat urin dalam waktu 2 hari dan sisanya 64% dalam
waktu 8 hari. Low molecullar weight Hydroxylethyl starch (Penta-Starch)
mirip Heta starch, mampu mengembangkan volume plasma hingga 1,5 kali
volume yang diberikan dan berlangsung selama 12 jam. Karena potensinya
sebagai plasma volume expander yang besar dengan toksisitas yang rendah
dan tidak mengganggu koagulasi maka Penta starch dipilih sebagai koloid
untuk resusitasi cairan pada penderita gawat.
3. Gelatin
Larutan koloid 3,5-4% dalam balanced electrolyte dengan berat
molekul rata-rata 35.000 dibuat dari hidrolisa kolagen binatang.

G. Tatalaksana terapi cairan 4,6
 Terapi cairan resusitasi
Terapi cairan resusitasi ditujukan untuk menggantikan kehilangan
akut cairan tubuh atau ekspansi cepat dari cairan intravaskuler untuk
memperbaiki perfusi jaringan. Misalnya pada keadaan syok dan luka
bakar. Terapi cairan resusitasi dapat dilakukan dengan pemberian infus
Normal Saline (NS), Ringer Asetat (RA), atau Ringer laktat (RL) sebanyak
20 ml/kg selama 30-60 menit. Pada syok hemoragik bisa diberikan 2-3 L
dalam 10 menit.
 Terapi rumatan
Terapi rumatan bertujuan memelihara keseimbangan cairan tubuh
dan nutrisi. Orang dewasa rata-rata membutuhkan cairan 30-35
ml/kgBB/hari dan elektrolit utama Na+ = 1-2 mmol/kgBB/hari dan K+ = 1
mmol/kgBB/hari. Kebutuhan tersebut merupakan pengganti cairan yang
hilang akibat pembentukan urine, sekresi gastrointestinal, keringat (lewat
kulit) dan pengeluaran lewat paru atau dikenal dengan insensible water
losses. Digunakan rumus Holiday Segar 4:2:1, yaitu:

15
Terapi rumatan dapat diberikan infus cairan elektrolit dengan
kandungan karbohidrat atau infus yang hanya mengandung karbohidrat saja.
Larutan elektrolit yang juga mengandung karbohidrat adalah larutan KA-
EN, dextran + saline, DGAA, Ringer's dextrose, dll. Sedangkan larutan
rumatan yang mengandung hanya karbohidrat adalah dextrose 5%. Tetapi
cairan tanpa elektrolit cepat keluar dari sirkulasi dan mengisi ruang antar sel
sehingga dextrose tidak berperan dalam hipovolemik.
Pada pembedahan akan menyebabkan cairan pindah ke ruang ketiga,
ke ruang peritoneum, ke luar tubuh. Untuk menggantinya tergantung besar
kecilnya pembedahan, yaitu :
 6-8 ml/kg untuk bedah besar.
 4-6 ml/kg untuk bedah sedang.
 2-4 ml/kg untuk bedah kecil.

H. Terapi Cairan Preoperatif 6
Defisit cairan dan elektrolit pra bedah dapat timbul akibat dipuasakannya
penderita terutama pada penderita bedah elektif ( sekitar 6-12 jam ), kehilangan
cairan abnormal yang seringkali menyertai penyakit bedahnya ( perdarahan,
muntah, diare, diuresis berlebihan, translokasi cairan pada penderita dengan
trauma ), kemungkinan meningkatnya insensible water loss akibat
hiperventilasi, demam dan berkeringat banyak. Sebaiknya kehilangan cairan pra
bedah ini harus segera diganti dengan rumus cairan rumatan sebelum dilakukan
pembedahan.

16
I. Terapi Cairan Intraoperatif 6
Jumlah penggantian cairan selama pembedahan dihitung berdasarkan
kebutuhan dasar ditambah dengan kehilangan cairan akibat pembedahan
(perdarahan, translokasi cairan dan penguapan atau evaporasi). Jenis cairan yang
diberikan tergantung kepada prosedur pembedahannya dan jumlah darah yang
hilang.
a. Pembedahan yang tergolong kecil dan tidak terlalu traumatis misalnya bedah
mata (ekstrasi, katarak) cukup hanya diberikan cairan rumatan saja selama
pembedahan.
b. Pembedahan dengan trauma ringan misalnya: appendektomi dapat diberikan
cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam untuk kebutuhan dasar ditambah 4
ml/kgBB/jam untuk pengganti akibat trauma pembedahan. Total yang
diberikan adalah 6 ml/kgBB/jam berupa cairan garam seimbang seperti
Ringer Laktat.
c. Pembedahan dengan trauma sedang diberikan cairan sebanyak 2
ml/kgBB/jam untuk kebutuhan dasar ditambah 8 ml/kgBB/jam untuk
pembedahannya. Total 10 ml/kgBB/jam.

J. Terapi Cairan Postoperatif 6
Terapi cairan pasca bedah ditujukan terutama pada hal-hal di bawah ini:
a. Pemenuhan kebutuhan dasar/harian air, elektrolit dan kalori/nutrisi.
Kebutuhan air untuk penderita di daerah tropis dalam keadaan basal sekitar
± 50 ml/kgBB/24 jam. Penderita dengan keadaan umum baik dan trauma
pembedahan minimum, pemberian karbohidrat 100-150 mg/hari cukup
memadai untuk memenuhi kebutuhan kalori dan dapat menekan pemecahan
protein sampai 50% kadar albumin harus dipertahankan melebihi 3,5 gr%.
Penggantian cairan pasca bedah cukup dengan cairan hipotonis dan bila
perlu larutan garamisotonis. Terapi cairan ini berlangsung sampai penderita
dapat minum dan makan.

17
b. Mengganti kehilangan cairan pada masa pasca bedah:
 Akibat demam, kebutuhan cairan meningkat sekitar 12% setiap kenaikan
1°C suhu tubuh.
 Adanya pengeluaran cairan lambung melalui sonde lambung atau
muntah.
 Penderita dengan hiperventilasi atau pernapasan melalui trakeostomi dan
humidifikasi.
c. Melanjutkan penggantian defisit cairan pembedahan dan selama
pembedahan yang belum selesai. Bila kadar hemoglobin kurang dari 10 gr%,
sebaiknya diberikan transfusi darah untuk memperbaiki daya angkut
oksigen.
Koreksi terhadap gangguan keseimbangan yang disebabkan terapi cairan
tersebut. Monitoring organ-organ vital dilanjutkan secara seksama meliputi
tekanan darah, frekuensi nadi, diuresis, tingkat kesadaran, diameter pupil,
jalan nafas, frekuensi nafas, suhu tubuh dan warna kulit.

K. Prognosis terapi cairan 1
Pada umumnya baik, terutama jika pendapat penanganan cepat dan adekuat.
Kematian terjadi jika mempunyai penyakit dasar yang berat dan penanganan
yang tidak adekuat.

2.2. Tranfusi darah
A. Definisi tranfusi darah 1,11
Tranfusi darah pada hakekatnya adalah pemberian darah atau komponen
darah dari satu individu (donor) ke individu lainnya (resipien), dimana dapat
menjadi penyelamat nyawa, tetapi dapat pula berbahaya dengan berbagai
komplikasi yang akan terjadi sehingga tranfusi darah hendaklah dilakukan
dengan indikasi yang jelas dan tepat sehingga diperoleh manfaat yang jauh lebih
besar dari pada risiko yang mungkin terjadi.

18
B. Komponen darah 1,8
Komponen darah ialah bagian darah yang dipisahkan dengan cara
fisik/mekanik misalnya dengan cara sentrifugasi. Meliputi :
Selular
 Darah utuh (whole blood)
 Sel darah merah pekat (packed red blood cell)
 Sel darah merah pekat dengan sedikit leukosit (packed red blood cell
leukocytes reduced)
 Sel darah merah pekat cuci (packed red blood cell washed)
 Sel darah merah pekat beku (packed red blood cell washed)
 Trombosit konsentrat (concentrate platelets)
 Granulosit feresis (granulocytes pheresis)
Non selular
 Plasma sangat beku (fresh frozen plasma)
 Plasma donor tunggal (single donor plasma)
 Kriopresipitat faktor anti hemophilia (cryoprecipitale AHF)

C. Indikasi tranfusi darah 1,9,11
Oleh karena tranfusi mempunyai risiko yang cukup besar, maka
pertimbangan risiko dan manfaat benar-benar harus dilakukan dengan cermat
sebelum memutuskan pemberian tranfusi. Secara umum dari beberapa panduan
yang telah dipublikasikan, tidak direkomendasikan untuk melakukan tranfusi
profilaksis, dan ambang batas untuk melakukan tranfusi adalah kadar
hemoglobin dibawah 7,0 atau 8,0 g/dl, kecuali untuk pasien dengan penyakit
kritis.
Walaupun sebuah studi dengan 383 pasien dengan penyakit kritis
melaporkan bahwa tidak ada perbedaan mortalitas pada kelompok yang di
tranfusi dengan batasan kadar hemoglobin dibawah 10,0 g/dl dan 7,0 g/dl,
namun penelitian dengan jumlah pasien yang lebih besar masih perlu dilakukan.

19
Kadar hemoglobin 8,0 g/dl adalah ambang batas tranfusi untuk yang
dioperasi yang tidak memiliki faktor risiko iskemia, sementara untuk pasien
dengan risiko iskemia, ambang batasnya dapat dinaikkan sampao 10,0 g/dl,
namun tranfusi profilaksis tetap tidak dianjukan.
Pada bayi dan anak dengan kadar hemoglobin normal, kehilangan darah
sebanyak 10-15% volume darah, karena tidak memberatkan kompensasi tubuh
maka cukup diberi cairan koloid atau kristaloid, sedangkan diatas 15% perlu
tranfusi darah karena adanya gangguan pegangkutan oksigen. Sedangkan untuk
orang dewasa dengan kadar Hb normal angka patokannya ialah 20%.
Kehilangan darah sampai 20% dengan gangguan faktor pembekuan maka diberi
cairan kristaloid sebanyak 3 kali lipat jumlah darah yang hilang, sedangkan
koloid diberikan dengan jumlah sama.
Tranfusi darah >50% diberikan pada saat perioperasi dengan tujuan untuk
menaikkan kapasitas pengangkut oksigen dan volume intravascular. Kalau
hanya kenaikan volume intravascular saja cukup dengan koloid dan kristaloid.

D. Jenis tranfusi darah 1,8,12
a) Darah lengkap (whole blood)
Darah lengkap ini berisi sel darah merah, leukosit, trombosit, dan
plasma. Satu unit kantong darah lengkap berisi 450 mL darah dan 63 mL
antikoagulan. Di Indonesia, satu kantong darah lengkap berisi 250 mL darah
dengan 37 mL antikoagulan, ada juga yang satu kantong darah lengkap
berisi 350 mL darah dengan 49 mL antikoagulan. Suhu simpan antara 1-6o
Celcius.
Lama simpan dari darah lengkap ini tergantung dari antikoagulan
yang dipakai pada kantong darah, pada pemakaian sitrat fosfat dekstrose
(CPD) lama simpan adalah 21 hari, sedangkan dengan CPD adenine
(CPDA) adalah 35 hari. Menurut masa simpan invitro ada 2 macam darah
lengkap, yaitu darah segar dan darah baru. Darah segar yaitu darah yang

20
disimpan sampai 48 jam, sedangkan darah baru yaitu darah yang disimpan
sampai dengan 5 hari.
Indikasi
Kehilangan darah lebih dari 25-30% volume darah total.
Kontraindikasi
Sebaiknya tidak diberikan pada pasien dengan anemia kronik yang
normovolemik atau yang bertujuan meningkatkan sel darah merah.
Dosis dan cara pemberian
- Dewasa : 1 unit darah lengkap akan meningkatkan Hb 1 gr/dl atau
hematokrit 3-4%.
- Anak : 8 mL/kg darah lengkap akan meningkatkan Hb sekitar 1
g/dl.
Unit kantong darah yang dipakai yaitu antara lain 250 ml, 350 ml, 450
ml. Setiap unit darah lengkap diberikan dalam 4 jam dengan tetesan sesuai
keadaan klinis.

Rumus kebutuhan whole blood
6 x ∆Hb (Hb normal -Hb pasien) x BB

Keterangan :

 Hb normal : Hb yang diharapkan atau Hb normal
 Hb pasien : Hb pasien saat ini
b) Sel darah merah pekat (packed red blood cell)
Sel darah merah pekat terdiri eritrosit, trombosit, leukosit dan sedikit
plasma. Sel darah merah ini didapat dengan memisahkan sebagian besar
plasma dari darah lengkap, sehingga diperoleh sel darah merah dengan nilai
hematokrit 60-70%. Volume nya diperkirakan 150-300 mL tergantung
besarnya kantung darah yang dipakai, dengan massa sel darah merah 100-
200 mL.

21
Sel darah merah disimpan dalam suhu 1-6o Celcius. Bila
menggunakan antikoagulan CPDA maka masa simpanan dari sel darah
merah ini 35 hari dengan nilai hematokrit 70-80 %, sedangkan bila
menggunakan antikoagulan CPD masa simpan dari sel darah merah ini 21
hari. Komponen sel darah merah yang disimpan dalam larutan tambahan
(buffer, dekstrosa, adenine, manitol) memiliki nilai hematokrit 52-60% dan
masa simpan 42 hari. Sediaan ini bukan merupakan sumber trombosit dan
granulosit, namun memiliki kemampuan oksigenasi seperti darah langkap.
Indikasi
Meningkatkan jumlah sel darah merah pada pasien yang
menunjukkan gejala anemia, yang hanya memerlukan massa sel darh merah
pembawa oksigen saja misalnya pada pasien dengan gagal ginjal atau
anemia karena keganasan.
Kontraindikasi
Dapat menyebabkan hipervolemi jika diberikan dalm jumlah banyak
dalam waktu singkat.
Dosis dan cara pemberian
Untuk menaikkan kadar Hb sebanyak 1 gr/dl diperlukan 4 ml/kgBB
atau 1 unit dapat menaikkan kadar hematokrit 3-5 %. Diberikan selama 2
sampai 4 jam dengan kecepatan 1-2 mL/menit, dengan golongan darah ABO
dan Rh yang diketahui.

Kebutuhan darah (ml) :
3 x ∆Hb (Hb normal -Hb pasien) x BB
Ket :
-Hb normal : Hb yang diharapkan atau Hb normal
-Hb pasien : Hb pasien saat ini

22
c) Trombosit pekat ( concentrate platelets)
Berisi trombosit, beberapa leukosit dan sel darah merah serta plasma.
Trombosit pekat ini dapat diperoleh dengan cara pemutaran (centrifugasi)
darah lengkap segar atau dengan cara tromboferesis.
1 kantong trombosit pekat yang berasal dari 450 mL darah lengkap
seorang donor berisi kira-kira 5,5x1010 trombosit dengan volume sekitar 50
mL. 1 kantong trombosit pekat yang diperoleh dengan cara trpmoferesis
seorang donor dapat berisi sekitar 3x1011 trombosit, setara dengan 6 kantong
trombosit yang berasal dari donor darah biasa.
Trombosit pekat ini dapat disimpan dalam suhu 20-24o celcius
dengan kantong darah biasa yang diletakkan pada rotator atau agitator yang
selalu berputar atau bergoyang, trombosit dapat disimpan selama 3 hari,
sedangkan dengan kantong darah khusus dengan cara penyimpanan yang
sama trombosit dapat disimpan selama 5 hari. Produk ini daya hemostatik
nya kurang sedangkan viability pasca tranfusi nya lebih baik. Pada suhu 1-6o
celcius, trombosit ini dapat disimpan selama 3 hari. Produk ini daya
hemostatik nya lebih baik sedangkan viability pasca tranfusi nya kurang.
Indikasi
Setiap perdarahan spontan atau suatu operasi besar dengan jumlah
trombositnya kurang dari 50.000/mm3. Misalnya perdarahan pada
trombocytopenic purpura, leukemia, anemia aplastik, demam berdarah, DIC
dan aplasia sumsum tulang karena pemberian sitostatika terhadap tumor
ganas.
Splenektomi pada hipersplenisme penderita talasemia maupun hipertensi
portal juga memerlukan pemberian suspensi trombosit prabedah.

Rumus Transfusi Trombosit
BB x 1/13 x 0.3

23
d) Granulosit feresis (granulocytes pheresis)
Diperoleh dengan cara sitaferesis dari donor tunggal,berisi
granulosit, limfosit, trombosit beberapa sel darah merah dan sedikit plasma.
Setiap unit mengandung sekitar 1,0 x1010 granulosit, sejumlah limfosit,
trombosit, 25-50 mL sel darah merah, dan mungkin sedikit hidroksietil
starch (HES) dengan volume 200-300 mL. suhu simpan dari sediaan ini 20-
40 o celcius dan harus segera ditranfusikan.
Indikasi
Komponen ini dipakai untuk meningkatkan jumlah granulosit pada
pasien sepsis dengan leucopenia yang tidak menunjukkan perbaikan dengan
pemberian antibiotik.

E. Komplikasi yang dapat timbul 9.10
a) Reaksi Transfusi Hemolitik

Reaksi transfusi hemolitik merupakan reaksi yang jarang terjadi tetapi serius
dan terdapat pada satu diantara dua puluh ribu penderita yang mendapat
transfusi. Lisis sel darah donor oleh antibodi resipien. Hal ini bisa terjadi dengan
cara reaksi transfusi hemolitik segera dan reaksi transfusi hemolitik lambat

Reaksi ini sering terjadi akibat kesalahan manusia sebagai pelaksana,
misalnya salah memasang label atau membaca label pada botol darah.
Tanda-tanda reaksi hemolitik lain ialah menggigil, panas, kemerahan pada
muka, bendungan vena leher , nyeri kepala, nyeri dada, mual, muntah, nafas
cepat dan dangkal, takhikardi, hipotensi, hemoglobinuri, oliguri, perdarahan
yang tidak bisa diterangkan asalnya, dan ikterus. Pada penderita yang teranestesi
hal ini sukar untuk dideteksi dan memerlukan perhatian khusus dari ahli
anestesi, ahli bedah dan lain-lain.
Tanda-tanda yang dapat dikenal ialah takhikardi, hemoglobinuri, hipotensi,
perdarahan yang tiba-tiba meningkat, selanjutnya terjadi ikterus dan oliguri.

24
Terapi reaksi transfusi hemolitik : pemberian cairan intravena dan diuretika.
Cairan digunakan untuk mempertahankan jumlah urine yang keluar. Diuretika
yang digunakan ialah :
2.1 Manitol 25 %
Sebanyak 25 gr diberikan secara intravena kemudian diikuti pemberian 40
mEq Natrium bikarbonat.

2.2 Furosemid
Bila terjadi hipotensi penderita dapat diberi larutan Ringer laktat, albumin
dan darah yang cocok. Bila volume darah sudah mencapai normal penderita
dapat diberi vasopressor. Selain itu penderita perlu diberi oksigen. Bila terjadi
anuria yang menetap perlu tindakan dialysis.

b) Reaksi Transfusi Non Hemilitik
1. Reaksi transfusi “febrile”
Tanda-tandanya adalah sebagai berikut : Menggigil, panas, nyeri kepala,
nyeri otot, mual.
2. Reaksi alergi
 Anafilaksis : Keadaan ini terjadi bila terdapat protein asing pada darah
transfusi.
 Urtikaria, paling sering terjadi dan penderita merasa gatal-gatal. Biasanya
muka penderita sembab.
Terapi yang perlu diberikan ialah antihistamin, dan transfusi harus distop.

c) Reaksi Non Imunologi
1. Reaksi yang disebabkan oleh volume yang berlebihan
2. Reaksi karena darah transfusi terkontaminasi
3. Virus hepatitis, Malaria, sifilis, virus CMG dan virus Epstein-Barr parasit
serta bakteri

25
4. AIDS, untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya reaksi selama
transfusi, dilakukan beberapa tindakan pencegahan. Setelah diperiksa ulang
bahwa darah yang akan diberikan memang ditujukan untuk resipien yang akan
menerima darah tersebut, petugas secara perlahan memberikan darah kepada
resipien, biasanya selama 2 jam atau lebih untuk setiap unit darah.
Karena sebagian besar reaksi ketidakcocokan terjadi dalam15 menit
pertama, maka pada awal prosedur, resipien harus diawasi secaraketat. Setelah
itu, petugas dapat memeriksa setiap 30- 45 menit dan jika terjadi reaksi
ketidakcocokan, maka transfusi harus dihentikan.

2.3 ELEKTROLIT

Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis zat yaitu elektrolit dan non elektrolit
yang sangat penting bagi tubuh.

2.3.1 Definisi elektrolit
Merupakan zat yang terdisosiasi dalam cairan dan menghantarkan arus listrik.
Elektrolit dibedakan menjadi ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Jumlah kation
dan anion dalam larutan selalu sama.
1. Anion
Anion utama dalam cairan ekstraselular adalah klorida (Cl-) dan bikarbonat
(HCO3-), sedangkan anion utama dalam cairan intraselular adalah ion fosfat (PO43-),
asam organik dan protein.
2. Kation
Kation utama dalam cairan ekstraselular adalah sodium (Na+), sedangkan
kation utama dalam cairan intraselular adalah potassium (K+). Suatu sistem pompa
terdapat di dinding sel tubuh yang memompa keluar sodium dan potassium ini,
diantaranya:

26
a. Natrium
Natrium sebagai kation utama didalam cairan ekstraseluler dan paling
berperan dalam mengatur keseimbangan cairan. Kadar natrium plasma: 135-
145mEq/liter. Kadar natrium dalam plasma diatur lewat beberapa mekanisme:
 Left atrial stretch reseptor
 Central baroreseptor
 Renal afferent baroreseptor
 Aldosterone (reabsorpsi di ginjal)
 Atrial natriuretic factor
 Sistem renin angiotensin
 Sekresi ADH
 Perubahan yang terjadi pada air tubuh total (TBW=Total Body Water)
Kadar natrium dalam tubuh 58,5mEq/kgBB. Ekresi natrium dalam urine
100-180mEq/liter, feses 35mEq/liter dan keringat 58mEq/liter. Kebutuhan setiap
hari = 100mEq (6-15 gram NaCl). Natrium dapat bergerak cepat antara ruang
intravaskuler dan interstitial maupun ke dalam dan keluar sel. Apabila tubuh banyak
mengeluarkan natrium (muntah, diare) sedangkan pemasukkan terbatas maka akan
terjadi keadaan dehidrasi disertai kekurangan natrium. Kekurangan air dan natrium
dalam plasma akan diganti dengan air dan natrium dari cairan interstitial. Apabila
kehilangan cairan terus berlangsung, air akan ditarik dari dalam sehingga volume
plasma tetap tidak dapat dipertahankan maka akan terjadi kegagalan sirkulasi.
b. Kalium
Kalium merupakan kation utama (99%) di dalam cairan intraseluler berperan
penting di dalam terapi gangguan keseimbangan air dan elektrolit. Jumlah kalium
dalam tubuh sekitar 53 mEq/kgBB dimana 99% dapat berubah-ubah sedangkan
yang tidak dapat berpindah adalah kalium yang terikat dengan protein didalam sel.
Kadar kalium plasma 3,5-5,0 mEq/liter, kebutuhan setiap hari 1-3 mEq/kgBB.
Keseimbangan kalium sangat berhubungan dengan konsentrasi H+ ekstraseluler.
Ekskresi kalium lewat urine 60-90 mEq/liter, feces 72 mEq/liter dan keringat 10
mEq/liter.

27
c. Kalsium
Kalsium dapat dikeluarkan lewat feses dan sekitar 20 lewat urine. Jumlah
pengeluaran ini tergantung pada intake, besarnya tulang, keadaan endokrin.
Metabolisme kalsium sangat dipengaruhi oleh kelenjar-kelenjar paratiroid, tiroid,
testis, ovarium, da hipofisis. Sebagian besar (99%) ditemukan didalam gigi dan +
1% dalam cairan ekstraseluler dan tidak terdapat dalam sel.
d. Magnesium
Magnesium ditemukan di semua jenis makanan. Kebutuhan unruk
pertumbuhan +10 mg/hari. Dikeluarkan lewat urine dan faeces.
e. Karbonat
Asam karbonat dan karbohidrat terdapat dalam tubuh sebagai salah satu
hasil akhir dari pada metabolisme. Kadar bikarbonat dikontrol oleh ginjal. Sedikit
sekali bikarbonat yang akan dikeluarkan urine. Asam bikarbonat dikontrol oleh
paru-paru dan sangat penting peranannya dalam keseimbangan asam basa.

(mEq/L) Plasma Interstitial Interseluler
Kation Na 142 114 15
K 4 4 150
Ca 5 2,5 2
Mg 3 1,5 27
Total 154 152 194
Anion Cl 103 114 8
HCO3 27 30 10
HPO4 2 2 100
SO4 1 1 20
As Organik 5 5 0
Protein 16 0 63
Total 154 152 194

Non elektrolit
Merupakan zat seperti glukosa dan urea yang tidak terdisosiasi dalam cairan. Zat
lainya termasuk penting adalah kreatinin dan bilirubin.

28
BAB III

PENUTUP

Terapi cairan ialah tindakan untuk memelihara ataupun mengganti cairan tubuh dengan
pemberian cairan infus kristaloid (elektrolit) atau koloid (plasma ekspander) secara
intravena untuk mengatasi berbagai masalah gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit,
meliputi mengantikan volume cairan yang hilang akibat perdarahan, dehidrasi atau syok.
Terapi cairan perioperative meliputi tindakan terapi yang dilakukan pada masa pra-
bedah, selama pembedahan, dan pasca bedah. Dalam pembedahan dengan anestesia yang
memerlukan puasa sebelum dan sesudah pembedahan, maka terapi cairan berfungsi untuk
mengganti cairan saat puasa sebelum dan sesudah pembedahan, mengganti kebutuhan rutin
saat pembedahan, mengganti perdarahan yang terjadi, dan mengganti cairan yang pindah ke
rongga ketiga.
Sedangkan Tranfusi darah pada hakekatnya adalah pemberian darah atau komponen
darah dari satu individu (donor) ke individu lainnya (resipien), dimana dapat menjadi
penyelamat nyawa, tetapi dapat pula berbahaya dengan berbagai komplikasi yang akan
terjadi sehingga tranfusi darah hendaklah dilakukan dengan indikasi yang jelas dan tepat
sehingga diperoleh manfaat yang jauh lebih besar dari pada risiko yang mungkin terjadi.
Transfusi darah dapat berupa darah lengkap atau hanya komponen-komponen darah
yang dibutuhkan saja misalkan preparat sel darah merah atau trombosit, tergantung
indikasi resipien.

29
DAFTAR PUSTAKA

1. Sudoyo W. A., Setiyohadi.B., dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Ed.5. Jilid 1.
Internal Publishing: Jakarta
2. Guyton AC dan Hell JE. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed.11. Jakarta : EGC.
3. Sherwood L .2009. Fisiologi manusia dari sel ke sistem edisi ke 6. Jakarta:EGC
4. Latief AS, dkk. 2001 petunjuk praktis anestesiologi : terapi cairan pada pembedahan,
ed.2 bagian anestesiologi dan terapi intensif, FK UI.
5. Dobson, Michel B. 2012. Penuntun praktis Anestesi. Prinsip terapi cairan dan
elektrolit. Jakarta : EGC.
6. Kaswiyan U. 2010. Terapi cairan perioperatif. Bagian Anestesiologi dan
Reanimasi.Fakultas Kedokteran Universitas padjajaran.
7. Mulyono, I. 2009. Jenis-jenis Cairan, dalam Symposium of Fluid and Nutrition Therapy
in Traumatic Patients, Bagian Anestesiologi FK UI/RSCM, Jakarta.
8. Grethlein, Sara J. 2012. Blood Substitutes . journal of emedicine medscape.
9. Kardon, Eric M . 2014. Transfusion Reactions In Emergency Medicine. journal of
emedicine medscape.
10. Adriansyah, Rizky dkk. 2009. Reaksi Hemolitik Akibat Transfusi. Majalah Kedokteran
Indonesia, Vol: 59, No: 8. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara.
11. Hanafie, Achsanuddin. 2009. Anemia dan Transfusi Sel Darah Merah pada Pasien
Kritis. Majalah Kedokteran Nusantara Vol. 39, No. 3. SMF-Anestesi dan Reanimasi FK-
USU/RSUP Hají Adam Malik, Medan, RSU Dr. Pirngadi Medan
12. WHO. 2013. the clinical use of blood in general medicine obstetric pediatrics surgery &
anaesthasia trauma and Bums.
13. Ario, Dewangga dkk. 2011. Kebutuhan Optimal Cairan Ringer Laktat untuk Resusitasi
Terbatas (Permissive Hypotension) pada Syok Perdarahan Berat yang Menimbulkan
Kenaikan Laktat Darah Paling Minimal. Journal of Emergency Vol. 1. No. 1.
Departemen/SMF Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RSUD Dr.
Soetomo Surabaya

30